Nagabumi Eps 201: Kitab yang Diperebutkan

Eps 201: Kitab yang Diperebutkan

DARI puncak tebing di sisi barat Sungai Nu, tampaklah ketiga puncak yang gemilang dalam cahaya matahari. Dipandang dalam kesejajarannya, ketiga puncak itu bagaikan tiada berjarak, tetapi sebenarnyalah di antara puncak satu dengan puncak lain, dari arah barat ini terdapatlah di bawahnya berturut-turut Sungai Nu, Sungai Lancang, dan Sungai Jinsha, yang terhampar di bawah sana bagaikan tiga naga malas yang bergolek dan mendesis, kadang meraung dan mengaum hanya untuk mendesis kembali.

Kami berdua, aku dan Golok Karat, saling berpandangan. Benarkah penduduk setempat menyeberang dari puncak ke puncak dalam kegiatan sehari-hari? Aku tidak bertanya tentang orang-orang rimba hijau dan sungai telaga yang mampu berkelebat menunggang angin, dan tentu aku tidak bertanya tentang para manusia terbang yang dengan peralatan dan perlengkapannya mampu memanfaatkan daya angin, yang bertiup kencang tanpa hentinya di puncak-puncak tebing pada T iga Sungai Sejajar ini.

Langit biru bagaikan tenda raksasa yang tiada melingkupi melainkan membebaskan, mega-mega terserak, bertebaran di segala sudut bagaikan bunga a lang-alang berhamburan. Tiada manusia lain se lain kami di puncak. Angin dingin terus menerus bertiup tanpa henti. Bertiup, berembus, bertiup, bagaikan makhkluk pengembara semesta raya tak berwujud tetapi kudengar mendesir dan berlalu melewati kami. Kulihat tebing-tebing curam yang tergerus angin. Dunia tanpa manusia bergerak, beredar, berdetak, berdenyut, dan lalu seperti angin itu, mengeluarkan suara-suara yang seperti berkisah...

Ya, dunia tanpa manusia, hidup dalam kehidupannya sendiri. Namun kami lihat juga titik-titik kecil para peziarah di Gunung Kawagebo. Sebagian di antara mereka datang dan pergi melewati tiga puncak menjulang ini, yang memang dapat menjadi jalan pintas menuju jalur peziarahan dari Shangri-La di se latan, sementara Gunung Kawagebo terletak di utara, yang masih harus dicapai me lalui Degen yang berlanjut dengan dua pilihan, apakah melalui Terusan Do Khel ataukah melalui Terusan Shu. Semua itu masih merupakan jalan yang berat, tetapi lebih memungkinkan daripada turun ke bawah dari tempat kami sekarang, dan menuju Gunung Kawagebo dengan menyusuri Sungai Nu, karena meski jaraknya tampak dekat, belum tentu ada jalan yang dapat dilalui para peziarah itu.

Gunung Kawagebo terletak di utara, tetapi tujuan kami terletak di se latan setelah menyeberangi Tiga Sungai Sejajar ini. Tampaknya masih sehari lagi sebelum kami dapat sampai ke Shangri-La, itu pun jika segala rintangan dapat kami atasi. Padahal kami telah menghabiskan waktu dua hari sejak dari sumber air panas itu menuju kemari, karena merayapi sisi tebing sampai di puncak ini tanpa ilmu meringankan tubuh, betapapun memang membutuhkan waktu. Tebing itu begitu curam, sehingga kami nyaris hanya dapat mengandalkan pegangan jari tangan sahaja.

TIDAK mungkin bagiku memperagakan ilmu cicak di depan Golok Karat, apalagi melenting-lenting dengan ilmu meringankan tubuh agar segera sampai ke puncak, karena itu jelas akan membuka penyamaran. Kepadanya dengan sangat hati-hati telah berusaha kujelaskan, betapa dengan sejumlah keberuntungan dan kebetulan, telah kudengar perbincangan kedua petugas rahasia yang disewa Golongan Murni itu, dan mendapatkan suatu gambaran bahwa keempat suku di wilayah Tiga Sungai Sejajar ini sengaja diadu domba, agar perhatiannya teralihkan dari pengepungan Mahaguru Kupu- kupu Hitam.

Tanpa menunjukkan kecurigaan apapun Golok Karat tampak mengerti, dan kami sepakat bahwa sebagai orang yang bermaksud untuk berguru, adalah sepantasnya kami menunjukkan bakti dengan memberi tahu Mahaguru Kupu- kupu Hitam atas rencana pengepungan, dan barangkali juga pembunuhan, yang akan dilakukan golongan hitam dan para pendekar yang bersedia dibayar. Kami sebut rencana, karena memang telah mendengar akan terdapatnya suatu rencana, tetapi kurasa kini kami berlomba dengan waktu untuk memberitahukannya kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam.

"Kedua orang yang dikau dengar percakapannya itu, wahai saudaraku yang takbernama, mungkinkah memiliki yang disebut sebagai ilmu meringankan tubuh, sehingga barangkali kini mereka telah bersua dengan orang-orang yang menunggunya?"

"Mereka bisa berkelebat, Golok Karat, jadi tentunya mereka miliki ilm u meringankan tubuh, set idaknya yang tentu sangat mereka butuhkan untuk mengendap-endap tanpa suara dalam tugas rahasia mereka. Mungkin mereka sehari lebih cepat."

"Apakah itu berarti kita terlambat?"

"Belum tentu Golok Karat, karena mengepung dan apalagi membunuh seseorang yang memiliki Jurus Impian Kupu-kupu dan tamat mempelajari Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam tidaklah mungkin dilakukan tanpa rencana yang matang." Aku terkejut dengan kata-kataku sendiri. Mengapa aku harus mengatakan soal tamatnya Mahaguru Kupu-kupu Hitam mempelajari Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam seperti yang diberitahukan Mahaguru Kupu-kupu kakaknya itu? Aku bahkan menyebut-nyebut tentang Jurus Impian Kupu-kupu!

Ia menoleh kepadaku. Aku sudah waswas, tapi agaknya bukan itulah yang menjadi perhatiannya.

"Jadi apakah kita akan menyeberang sekarang sebelum angin menjadi besar, ataukah menunggu para peziarah itu sampai di sini?"

Dari puncak tebing yang satu ke puncak tebing yang lain sebetulnya terdapat tali tambang dengan roda-roda bertali yang dapat digelayuti dan membawa seseorang menyeberang. Roda-roda bertali yang sama itu juga membawa barang- barang dan binatang peliharaan seperti babi, kambing, dan sapi; dan tentu juga para ibu dengan bayi. Para ibu yang anaknya banyak juga menggantungkan anak-anak mereka pada roda-roda bertali itu, ada kalanya yang masih bayi berada di dalam keranjang dan bayi-bayi itu tertawa-tawa dengan tangan menunjuk mega-mega di langit ketika keranjangnya meluncur bersama roda-roda bertali itu yang ketika sampai di tengah akan bergoyang-goyang.

Seharusnya terdapat sepasang tali tambang penyeberangan dari tebing ke tebing, artinya sepasang tali tambang penyeberangan untuk pergi dan pulang, tetapi hanya tali tambang yang menyeberangi Sungai Jinsha saja yang masih lengkap. Tali tambang yang menyeberangi Sungai Lancang, dan kemudian yang menyeberangi Sungai Nu sampai di tempat kami berdiri sekarang, masing-masing tinggal satu, sehingga untuk pergi dan pulang harus dipakai secara bergantian. Para peziarah yang masih berupa titik-titik baru mulai menyeberangi Sungai Jinsha, jadi kami bisa menyeberangi Sungai Nu sekarang. Siapa yang lebih dulu sampai ke tebing barat atau tebing timur Sungai Lancang, dialah yang berhak lebih dahulu menggunakan roda-roda bertali untuk menyeberang dengan satunya tali tambang.

Kami segera menempatkan dan mengikatkan diri pada tali roda-roda itu dan membuang tubuh kami sendiri agar roda- roda itu me luncur dan roda-roda itu memang segera meluncur kencang sekali. Pada ketinggian 12.000 kaki janganlah ditanya lagi rasanya menggelantung dan meluncur pada sebuah tali tambang seperti itu, meskipun tali tambang itu memang kuat sekali. Roda-roda itu me luncur cepat sekali, karena pada awalnya tali tambang itu memang menurun, sehingga tangan yang berada di belakang harus bisa mengendalikan kecepatannya dengan selalu siap berada pada tali tambang, untuk memperlambat maupun membiarkannya kencang.

DEMIKIANLAH kami berdua meluncur dan bersama itu juga ditelan pemandangan. Kami seperti terbang di antara jurang, meluncur dan meluncur menembus angin, memburu waktu untuk menemukan Mahaguru Kupu-kupu Hitam yang tentu tidak menyangka sama sekali akan terdapatnya suatu rencana untuk mengepungnya. Namun tali tambang itu tidak selamanya menurun, sehingga roda-roda bertali itu pun tidak selamanya meluncur. Ketika sampai di tengah, tali tambang itu menjadi lurus, yang para penyeberang harus menggunakan tangannya untuk menghela dirinya sendiri, sementara kakinya menjepit roda bertali yang membawa bawaan mereka, apakah itu memang barang atau sapi atau bay i, agar terhela pula mengikuti mereka. Apabila tali itu kemudian naik menuju tebing di seberangnya, maka terlihatlah betapa penyeberangan Tiga Sungai Sejajar dapat menjadi berat.

Namun aku dan Golok Karat tidak membawa apa pun. Golok Karat hanya membawa senjata golok karatnya yang menyilang telanjang di punggung, sedangkan aku terpaksa membuang tongkat pengembaraku dan menyilangkan buntalan bekal itu ke punggung, dari kiri ke kanan, dengan simpul ikatan berada di dada. Golok Karat yang meluncur di depanku, karena tubuhnya lebih besar dan lebih berat, kecepatannya jauh lebih tinggi daripadaku. Golok Karat memanfaatkan daya dorong saat roda bertali meluncur dengan kecepatan tinggi ke bawah, untuk tetap meluncur pada bagian tali tambang penyeberangan di tengah yang lurus. Rentangan tali tambang dari tebing ke tebing itu jaraknya sangat jauh, begitu rupa sehingga tali tambang yang tebal itu di ujungnya bisa tampak setipis benang lantas menghilang.

Berada di tengah-tengah tali tambang penyeberangan, pemandangan terbentang dengan cara amat sangat berbeda. Sungai memantulkan langit, berkilat dan berkilat, tetapi juga menampakkan mega. Di atas langit biru, di bawah langit biru, dan kami di tengah-tengah alam raya bergantung dan tergantung kepada seutas tali, yang berbelat dan berbelit di sekujur tubuh kami, digulirkan roda-roda nasib menuju penemuan dan kehilangan silih berganti.

Segalanya penuh pesona bagi mata, punggung-punggung pegunungan dalam keunguan di kejauhan, elang gunung yang berbulu kelabu mengincar kelinci putih di balik salju ketika sayapnya yang membentang diam selalu dan selalu merupakan pesona segala pesona bagiku. Dalam cuaca yang cerah, penyeberangan itu bisa berubah jadi tamasya, sebelum akhirnya tali tambang yang lurus itu mulai menaik, sehingga penyeberangan hanya bisa dise lesaikan dengan bantuan tangan yang menarik tubuh sendiri. Kulihat Golok Karat dengan sigap tangannya mencekal tali tambang silih berganti yang membuat mencapai tebing dalam waktu. Aku pun menyusulnya tanpa kesulitan, karena dengan mencuri-curi kubantu tenaga otot lenganku dengan tenaga dalam.

Kini kami berada di tebing timur Sungai Nu yang sudah kami belakangi, tetapi yang merupakan tebing barat Sungai Lancang. Di sini, tali tambang penyeberangan juga hanya satu, dan para peziarah yang paling depan pun belum usai menyeberangi Sungai Jinsha, yang berarti kami bisa segera menyeberangi Sungai Lancang ini. Golok Karat sendiri tidak membuang waktu lagi. Langsung diraihnya tali pada roda dan membelitkannya ke badan dalam kedudukan berbaring dan segera menjejakkan kaki meluncur. Tentu aku pun segera menyusulnya sahaja.

Namun pada saat itulah, ketika dengan roda-roda bertali itu kami meluncur dengan lancar sampai ke tengah, angin mendesak tiba-tiba, bertiup begitu kencang sampai tali tambang itu miring ke samping. Dalam kejadian seperti inilah tali tambang itu biasanya putus, dan apabila saat itu terdapat penyeberang di tengah-tengahnya, jika tidak lepas terpental tentu ikut jatuh ke samping bersama tali dan tewas setelah membentur dinding yang bertonjolan dengan batu-batu tajam.

Angin yang bertiup di tempat terbuka seperti ini memiliki daya dorong dengan kekuatan yang luar biasa, dan apabila datangnya pun menyentak dan tiba-tiba akan terasa sebagai pukulan raksasa. Tali tambang mendadak miring ditarik angin dan Golok Karat nyaris terpental.

"Awas!"

Ia memperingatkan diriku. Semangat melindunginya sungguh mengharukan bagiku.

Sebetulnyalah tubuh Golok Karat sudah hampir lepas, karena tali pada roda telah terurai dari tubuhnya yang seperti disedot angin, dan hanya kedua tangan sajalah yang masih berpegang pada tali tambang.

"Jangan lepaskan!" Aku berteriak di antara deru angin.

Sebenarnyalah keadaan sungguh gawat. Golok Karat tidak menguasai ilmu meringankan tubuh, karena itu jika pegangan tangannya lepas, ia akan jatuh ke bumi seperti karung dari ketinggian sekitar 12.000 kaki ini. KALAU saja tali pada roda itu tidak terurai lain soalnya, tetapi kini hidupnya tergantung kepada sepasang tangannya yang menggenggam tali tambang itu saja, sementara angin terus menyentak-nyentak dan menyedotnya, bagaikan di ujung sana terdapat mulut naga raksasa menganga. Aku harus menolongnya, tapi bagaimana caranya tanpa mempergunakan tenaga dalam atau ilmu meringankan tubuh, dan hanya mengandalkan akal sahaja?

Aku sendiri berada dalam sedotan angin yang sama, tubuh miring bersama tali tambang penyeberangan yang tersedot ke samping. Tali tambang itu sampai melengkung sejajar dengan tubuh-tubuh kami di ujungnya. Apa yang harus kulakukan? Tubuhku masih terikat tali pada roda. Jadi meski pegangan tangan dan kakiku sudah terlepas sama sekali dari tali tambang, aku tidak terpental melayang karena tubuhku masih terjerat tali pada roda. Melalui tali itulah aku mulai merayap, berusaha membawa kembali tubuhku menuju tali tambang penyebarangan itu, sementara pegangan Golok Karat sudah merenggang! Aku harus cepat!

Wajah Golok Karat sudah merah karena mengejan. "Hhhhhhhhh!!!!"

Ia mengerahkan seluruh kekuatannya.

"Tahan Golok Karat! Tahan!"

Aku pun mengerahkan seluruh tenaga otot lenganku agar dapat mencapai tali tambang yang sebetulnya berada di atasku, tetapi sekarang karena sedotan angin menjadi m iring dan sejajar itu. Aku harus berteri makasih untuk dapat menggunakan tenaga dalam secara sembunyi-sembunyi di sini, meski dengan itu pun perayapan tidak menjadi lebih mudah. Sedepa demi sedepa aku merayapi tali me lawan daya alam yang luar biasa.

Betapapun akhirnya kucapai juga tali tambang itu, baik dengan tangan maupun dengan kaki, sama seperti kedudukan semula, hanya saja dengan kedudukan miring karena tiupan angin yang tanpa ampun dan tanpa pandang bulu sungguh seperti ingin membunuh itu.

"Tanpa Nama!"

Golok Karat berteriak bagai sudah sampai tenaga terakhirnya.

Kupadukan tenaga dalam untuk melawan angin dan ilmu cicak untuk

menjamin lengketnya tubuh pada tali. Aku merayap bersama roda-roda bertali itu mendekati tangan-tangan terkepal Golok Karat yang bukan hanya mulai merenggang tetapi sebentar lagi terlepas!

Tangan dan kepalaku sudah sangat dekat kepada tangan Golok Karat, wajahnya merah padam karena pengerahan tenaga pada puncak kemampuan. Pegangan tangannya lepas! Namun saat itu tangan kananku sudah menyambar tangan kanannya!

Hap!

"Tahan Golok Karat! Tahan!"

Bagaikan sebuah permainan, tiupan angin mendadak reda, sehingga tali tambang yang miring sejajar kini berayun turun dengan tubuh Golok Karat yang tinggi besar sebagai pemberatnya!

Tali tambang itu kini berayun bagai bandul. Kedudukan Golok Karat sama sekali belum aman, karena meski tanganku sudah memegangnya, masih sangat mungkin untuk kemudian terlepas. Sedikit banyak ayunan ini mengurangi beban tubuhnya pada tanganku, tetapi jika ayunan ke utara dan ke selatan ini nanti berhenti, bebannya akan menjadi sangat nyata, dan belum tentu pula kekuatan tanganku tanpa tenaga dalam mampu melakukan sesuatu. Namun itu tidaklah berarti demi penyamaran aku akan tega mengorbankan jiwa Golok Karat, sementara Golok Karat itu sendiri sangatlah penting bagi penyamaranku untuk berpura- pura menjadi murid Mahaguru Kupu-kupu Hitam. Maka segera kukerahkan ilmu cicak ke telapak tangan kananku untuk menjamin rekatnya tangan kanan Golok Hitam ke tangan kananku itu, bahkan kemudian dalam keterayunan tali tambang itu ke se latan dan ke utara, tangan kiriku pun kulepaskan untuk meraih tangan kanan Golok Karat dengan kedua tangan, dan dengan hanya bergantung pada kaki, memanfaatkan daya dorong keberayunan untuk mengayunkan seluruh tubuh kami berdua sampai ke atas tali tambang itu!

Dalam keberayunan bandul, terdapat saat dan titik ketika bandul tidak bergerak sama sekali pada titik tertinggi sebelum berayun kembali -saat itulah kusentak dan kutarik Golok Karat ke arah tali tambang, sehingga Golok Karat justru dapat melepaskan pegangannya dan dengan kedua tangan meraih tali tambang itu kembali!

Ketika bandul kembali berayun, Golok Karat dengan sigap sudah berada pada tali tambang dalam kedudukan semestinya: telentang dengan kepala menghadap langit, dengan tangan dan kaki pada tali tambang, sementara tubuhnya berada pada tali dari roda, yang kini ikut me luncur bersamanya melanjutkan penyeberangan, sebelum angin ganas itu datang kembali!

KAMI masih setengah jalan, tepat berada di tengah-tengah tali tambang penyeberangan di atas Sungai Lancang. Dari kejauhan terdengar seperti siulan yang makin lama makin mendekat, yang tampaknya bagaikan suatu janji betapa angin yang jauh lebih kencang akan datang lagi.

"Tanpa Nama! Cepat! Jangan sampai kita diterbangkan melayang tak tahu sampai ke mana!"

Golok Karat bergerak cepat. Aku menyusul di belakangnya. Tanpa daya dorong dari peluncuran sebelumnya karena terpotong angin, otot-otot lengan kami mesti bekerja keras sepenuhnya agar segera sampai ke tepi tebing sebelum angin yang masih terdengar hanya sebagai siulan kembali menguji kekuatan tali tambang ini. Konon, tali tambang ini tinggal satu karena yang lain putus oleh angin semacam ini, dan ketika berlangsung memang telah menghamburkan para penyeberang ke udara, hanya untuk jatuh ke Sungai Lancang yang berbatu-batu besar dengan kederasan arus yang mengerikan.

Begitulah kami bergerak secepat-cepatnya dengan mengandalkan otot lengan, dan meski angin keras dan kencang itu tiba sebelum kami mencapai tepi timur, kedudukan kami sudah cukup aman untuk tetap merayap menyelesaikan penyeberangan. Adapun karena ujung tali tambang penyeberangan ini tidak berakhir tepat di puncak, kami masih harus merayapi tebing yang masih saja curam ini sampai ke puncak.

Tiba di atas Golok Karat langsung memelukku.

"Terima kasih saudaraku! Dikau telah menyelamatkan nyawaku! Daku berutang budi kepadamu!"

"Itu sudah kewajibanku Golok Karat! Kita adalah teman seperjalanan!"

Bukankah pernah kusampaikan, betapa dalam kehidupan para pengembara kedekatan teman seperjalanan dapat melebihi kedekatan persaudaraan, terutama apabila mendapatkan pengalaman menghadapi marabahaya bersama? Aku sendiri merasa sedih dengan kenyataan betapa pengalaman ini kudapatkan demi kepentingan penyamaran. Tiada dapat kubayangkan kehidupan petugas rahasia yang tenggelam dalam penyamaran sampai ajal merenggutnya.

Namun Golok Karat tidak bisa lebih lama lagi mengumbar perasaannya, karena kami betapapun harus bergerak cepat secepat-cepatnya dalam keterbatasan gerak kami, dan karena tali tambang penyeberangan dengan roda-roda bertali di atas Sungai Jinsha ini masih lengkap, kami tidak usah menunggu para peziarah yang masih sampai di tengah, melainkan langsung meluncur setelah kedudukan sempurna pada tali yang bergantung kepada roda-roda itu.

Para peziarah masih berada di tengah, bukan sekadar karena tenaga mereka adalah tenaga awam, melainkan karena tenaga awam mereka yang bukan pesilat itu memang terkuras oleh perjalanan peziarahan yang pada berbagai upacara juga menuntut mereka untuk berpuasa, setidak-tidaknya tak makan daging, sengaja melemaskan badan. Maka dengan segera kami yang meluncur turun, bahkan dengan tangan dan kaki terlepas dari tali tambang, hanya badan bergantung pada tali roda, segera berpapasan dengan mereka yang berada pada tali tambang lainnya.

Kepala kami menengadah langit, tetapi bisa menengok ke kiri, ke arah mereka ketika berpapasan. Aku memperhatikan mereka baik-baik. Wajah mereka yang merah itu tentu karena udara yang dingin di dataran tinggi, tetapi ketulusan dan penyerahan atas jalan yang ditempuhnya untuk berz iarah mengagumkan aku. Meskipun arak-arakan perz iarahan mengalir menuju Gunung Kawagebo, pada saat berangkat dan pada saat kembali banyaklah kuil, besar maupun kecil, yang juga akan mereka ziarahi. Berbagai macam dewa dalam berbagai macam menerima pemujaan dan persembahan masing-masing, meski semuanya berakhir tetap dengan Kebuddhaan tertinggi.

Mereka merayap seperti kami, wajah telentang ke langit dengan tangan bergerak pada tali tambang menyeret tubuh yang berbaring pada tali roda, tetapi kadang dengan kaki menyeret roda di belakangnya yang tali-talinya digelantungi atau keranjang bayi. Lelaki perempuan tua muda dan kanak- kanak lewat satu persatu menuruti kecepatan roda di hadapanku yang menengok ke kiri. Aku kagum dengan kehidupan perz iarahan. Mereka melakukannya setiap tahun, bertahun-tahun tanpa putus, setiap kali pulang hanya untuk berangkat kembali. Berjalan, berdoa, dan berjalan lagi, dan kini menyeberangi Sungai Jinsha yang arusnya menggaung dengan wajah menatap langit bagaikan bagian dari upacara itu sendiri.

Bukan hanya satu atau dua orang menyeberang pada tali tambang dengan wajah menatap langit, karena rombongan demi rombongan muncul pada ujung tali tambang penyeberangan itu.

KAMI masih setengah jalan, tepat berada di tengah-tengah tali tambang penyeberangan di atas Sungai Lancang. Dari kejauhan terdengar seperti siulan yang makin lama makin mendekat, yang tampaknya bagaikan suatu janji betapa angin yang jauh lebih kencang akan datang lagi.

"Tanpa Nama! Cepat! Jangan sampai kita diterbangkan melayang tak tahu sampai ke mana!"

Golok Karat bergerak cepat. Aku menyusul di belakangnya. Tanpa daya dorong dari peluncuran sebelumnya karena terpotong angin, otot-otot lengan kami mesti bekerja keras sepenuhnya agar segera sampai ke tepi tebing sebelum angin yang masih terdengar hanya sebagai siulan kembali menguji kekuatan tali tambang ini. Konon, tali tambang ini tinggal satu karena yang lain putus oleh angin semacam ini, dan ketika berlangsung memang telah menghamburkan para penyeberang ke udara, hanya untuk jatuh ke Sungai Lancang yang berbatu-batu besar dengan kederasan arus yang mengerikan.

Begitulah kami bergerak secepat-cepatnya dengan mengandalkan otot lengan, dan meski angin keras dan kencang itu tiba sebelum kami mencapai tepi timur, kedudukan kami sudah cukup aman untuk tetap merayap menyelesaikan penyeberangan. Adapun karena ujung tali tambang penyeberangan ini tidak berakhir tepat di puncak, kami masih harus merayapi tebing yang masih saja curam ini sampai ke puncak.

Tiba di atas Golok Karat langsung memelukku.

"Terima kasih saudaraku! Dikau telah menyelamatkan nyawaku! Daku berutang budi kepadamu!"

"Itu sudah kewajibanku Golok Karat! Kita adalah teman seperjalanan!"

Bukankah pernah kusampaikan, betapa dalam kehidupan para pengembara kedekatan teman seperjalanan dapat melebihi kedekatan persaudaraan, terutama apabila mendapatkan pengalaman menghadapi marabahaya bersama? Aku sendiri merasa sedih dengan kenyataan betapa pengalaman ini kudapatkan demi kepentingan penyamaran. Tiada dapat kubayangkan kehidupan petugas rahasia yang tenggelam dalam penyamaran sampai ajal merenggutnya.

Namun Golok Karat tidak bisa lebih lama lagi mengumbar perasaannya, karena kami betapapun harus bergerak cepat secepat-cepatnya dalam keterbatasan gerak kami, dan karena tali tambang penyeberangan dengan roda-roda bertali di atas Sungai Jinsha ini masih lengkap, kami tidak usah menunggu para peziarah yang masih sampai di tengah, melainkan langsung meluncur setelah kedudukan sempurna pada tali yang bergantung kepada roda-roda itu.

Para peziarah masih berada di tengah, bukan sekadar karena tenaga mereka adalah tenaga awam, melainkan karena tenaga awam mereka yang bukan pesilat itu memang terkuras oleh perjalanan peziarahan yang pada berbagai upacara juga menuntut mereka untuk berpuasa, setidak-tidaknya tak makan daging, sengaja melemaskan badan. Maka dengan segera kami yang meluncur turun, bahkan dengan tangan dan kaki terlepas dari tali tambang, hanya badan bergantung pada tali roda, segera berpapasan dengan mereka yang berada pada tali tambang lainnya. Kepala kami menengadah langit, tetapi bisa menengok ke kiri, ke arah mereka ketika berpapasan. Aku memperhatikan mereka baik-baik. Wajah mereka yang merah itu tentu karena udara yang dingin di dataran tinggi, tetapi ketulusan dan penyerahan atas jalan yang ditempuhnya untuk berz iarah mengagumkan aku. Meskipun arak-arakan perz iarahan mengalir menuju Gunung Kawagebo, pada saat berangkat dan pada saat kembali banyaklah kuil, besar maupun kecil, yang juga akan mereka ziarahi. Berbagai macam dewa dalam berbagai macam menerima pemujaan dan persembahan masing-masing, meski semuanya berakhir tetap dengan Kebuddhaan tertinggi.

Mereka merayap seperti kami, wajah telentang ke langit dengan tangan bergerak pada tali tambang menyeret tubuh yang berbaring pada tali roda, tetapi kadang dengan kaki menyeret roda di belakangnya yang tali-talinya digelantungi atau keranjang bayi. Lelaki perempuan tua muda dan kanak- kanak lewat satu persatu menuruti kecepatan roda di hadapanku yang menengok ke kiri. Aku kagum dengan kehidupan perz iarahan. Mereka melakukannya setiap tahun, bertahun-tahun tanpa putus, setiap kali pulang hanya untuk berangkat kembali. Berjalan, berdoa, dan berjalan lagi, dan kini menyeberangi Sungai Jinsha yang arusnya menggaung dengan wajah menatap langit bagaikan bagian dari upacara itu sendiri.

Bukan hanya satu atau dua orang menyeberang pada tali tambang dengan wajah menatap langit, karena rombongan demi rombongan muncul pada ujung tali tambang penyeberangan itu.

LIMA, tujuh, dua belas, dua puluh, tiga puluh, mereka meluncur pelahan dengan roda-roda bertali itu, sesuai kekuatan tangan seadanya, dengan wajah menatap langit dan kepasrahan takterhingga, sehingga meski membawa keranjang bayi yang terikat di punggungnya, tidak tampak sama sekali kekhawatiran akan mati. Mengingatkanku kepada suatu bagian dalam Kitab Kematian Tibet.

O sekarang inilah saat-saat kematian dengan melampaui kematian ini

aku juga akan bertindak

demi kebaikan segenap makhluk yang peka menempatkan ketakterbatasan ruang langit seperti meraih Kebuddhaan Sempurna dengan penetapan atas cinta dan keharuan menuju Kesempurnaan Tunggal

Aku pun menatap langit, mencoba menatap seperti mereka menatap dan melihat apakah kiranya yang dapat mereka tatap dan adalah mega-mega yang lewat tertatap, dengan segala bentuk yang tidak menunjuk apa pun bahkan tidak menunjukkan mega-mega itu sendiri.

Menatap mega, meluncur tanpa hambatan, tenggelam dhyana, langit menjadi bagian dalam diri dan diri menjadi bagian dari langit.

Namun betapa mendadak langit bagaikan terkuak, dan seorang penyamun terbang datang berkepak langsung membacokku!

(Oo-dwkz-oO)