Nagabumi Eps 200: Korban Manusia bagi Parambrahma

Eps 200: Korban Manusia bagi Parambrahma

Pembaca, izinkan aku berhenti sebentar. Untuk seorang tua yang sudah memasuki umur 101 tahun dan belum mati juga, usaha mengingat secara runtut ternyata bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Kadang ingatanku kuat akan suatu peristiwa sampai kepada pernik-pernik rincian yang sekecil- kecilnya, tetapi lupa sama sekali akan suatu peristiwa lain yang tidak dapat kuketahui sekarang ini sebetulnya penting atau tidak penting, karena jika teringat pun bagaikan hanya berupa gambar samar-samar dari masa lalu, kadang tampak dan kadang tidak terlihat sama sekali, bahkan kadang seperti semesta gelap yang hanya tetap dan akan tetap tinggal gelap untuk se lama-lamanya. Bagaimana jika ternyata peristiwa yang kulupakan itu penting untuk memecahkan masalahku sekarang?

Ada kalanya suatu peristiwa teringat kembali karena berlangsungnya peristiwa lain yang seperti tidak ada hubungannya sama sekali.

Pengepungan atas pondok Rangga Tua itu m isalnya, yang telah membuatku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri untuk kali pertama bentuk pengungkapan Jurus Naga Api oleh sosok yang berkelebat tak terlihat itu, justru mengingatkan diriku atas suatu peristiwa yang berhubungan dengan Sivagrha atau Rumah Siva yang sebagai Tanah Suci dipersembahkan kepada Parambrahman atau Yang Mutlak di bagian selatan sana.

Setelah peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar pada tahun 821, aku menghilang dari dunia persilatan dan melebur ke dunia ramai, dunia kehidupan orang-orang awam yang meskipun jauh dari kesaktian dan kedahsyatan para pendekar yang bagaikan tidak masuk akal, tidak kalah menariknya dari dunia persilatan itu sendiri. Aku akan terus berada di dunia awam itu selama 25 tahun, dengan segala pengalaman yang dimungkinkan oleh kehidupan, dan pada masa itulah, pada tahun 832, kudengar dimulainya pembangunan Rumah Siva yang luar biasa itu.

SIVAGRA dibangun dengan mengerahkan tenaga manusia yang sangat banyak, sehingga selesai hanya dalam waktu 24 tahun, dan diresmikan pada 856, yang juga menjadi penanda jatiningrat Rakai Pikatan, yang telah mangkat setahun sebelumnya.

Sivagrha itu sendiri mulai dibangun pada masa pemerintahan Dyah Gula atau Rakai Garung, yang terus berlanjut pada masa Rakai Pikatan, yang berarti mendapat dukungan sepenuhnya dari Wangsa Syailendra, yang telah membangun Kamulan Bhumisambhara, dengan rancangan dan awal pembangunan tahun 755. Saat itu usiaku masih lima atau enam tahun, dan hidup terpencil bersama pasangan pendekar yang mengasuhku di Celah Kledung. Adapun ketika Sivagrha hampir lengkap berdiri, aku sudah tenggelam dalam samadhi di sebuah gua, dan Wangsa Sanjaya telah mengusir Wangsa Sailendra ke Samudradvipa, sehingga Balaputra bisa membangun Sriv ijaya sebagai raja. Namanya bahkan pernah kudengar dibicarakan sebagai tercatat dalam sebuah prasasti pada 860 di Nalanda, Jambhudvipa bagian utara, ketika meminta kepada Raja Benggala Dewapaladewa untuk membangun sebuah wihara, tentunya bagi para bhiksu yang datang belajar dari Suvarnadvipa.

Dengan kehidupanku yang selalu mengembara, menyamar, bersembunyi, dan hanya mendapat keterangan tidak selalu dari sumber pertama, bahkan kadang berupa kabar angin dari kedai ke kedai, aku tidak selalu merasa pasti akan pengetahuanku sendiri akan permainan kekuasaan di istana. Rakai Pikatan misalnya yang jelas memuja Siva, memang disebut dalam prasasti permaisurinya beragama Buddha, tetapi Sri Kahulunan yang meresmikan Kamulan Bhumisambhara pada 842, dan memang kudengar ketika menyamar di dunia awam, mungkin justru adalah ibundanya. Aku memang menganggap kerincian adalah penting, tetapi berita simpang siur lebih sering membingungkanku, yang betapapun memang tidak menguasai ilmu surat sebaik ilmu silat.

Meski begitu memang banyak tanda-tanda pada Sivagrha yang bisa kubaca, sejauh pernah kulihat ketika juga menyamar sebagai pekerja pada masa pembangunannya. Sesuai namanya, Sivagrha adalah percandian dengan Siva sebagai dewa utamanya, tetapi di sana dibangun pula dewa- dewa lain dalam Hindu seperti V isnu dan Brahma.

BEGITULAH arca Siva bukan hanya ditempatkan di candi tengah yang ukurannya lebih besar daripada kedua candi yang mengapitnya, yang berisi arca kedua dewa Trimurti yang lain itu, tetapi dalam candinya sendiri ia didampingi arca Durga Mahisasuramardini, Ganesha, dan Agastya yang masing- masing ditempatkan di ruang tersendiri. Kedua dewa lain itu tidak diberi pendamping.

Dari pengembaraanku pada masa muda yang masih akan kuceritakan nanti, kuketahui bahwa sejak beberapa ratus tahun lalu di Jambhudv ipa para penganut Hindu terbagi dalam berbagai aliran yang bersaingan. Adapun yang merupakan aliran besar adalah Saiva, yakni mereka yang mengunggulkan pemujaan kepada Siva; Vaisnava, yakni mereka yang memilih untuk lebih memuja Visnu; dan Sakta, yakni mereka yang menganggap Sakti, yaitu Devi pasangan dewa utama, adalah lambang kekuasaan Yang Tertinggi. Terutama antara kaum Saiva dan kaum Vaisnava, di Jambhudvipa berlangsung persaingan ketat, tetapi di dalam Sivagrha yang puncak candi utamanya menjulang ke langit di Javadvipa ini, jelas bukan hanya Visnu, melainkan juga dewa-dewa lain diberi tempat. Bahkan gambar pahatan sekeliling ketiga bangunan utama bercerita tentang Rama dan Krishna, yang jelas merupakan avatara Visnu.

Namun sebetulnya bukan hanya kebersamaan dewa-dewa Hindu itu saja tanda-tanda yang terbaca pada Sivagrha, melainkan persamaan ragam seni dan cara pemahatannya yang sama dengan candi-candi Buddha. Dalam bangunannya pun pembuatan relung pada dinding candi, dan penyematan hiasan yang terpahat di atas pintu dan relung, yang sering disertai penggambaran awan dan makhluk-makhluk kahyangan di atasnya, memperlihatkan betapa cara memandang dunia dari kedua agama itu sama. Pernah kudengar istilah Siva-Buddha Tattwa yang mempertemukan keduanya, yang tampaknya menampung berbagai upacara yoga-tantra yang pernah kulihat pula. Justru upacara itulah yang teringat olehku ketika para raja pariraksa bermaksud menangkap, dan nyaris membantai, Rangga Tua, karena mengingatkanku kepada kegemparan yang ditimbulkan para pengelola Sivagrha tersebut, saat sebagai persembahan kepada dewa, ternyata mereka disebut- sebut mengorbankan manusia!

(Oo-dwkz-oO)

MAAFKANLAH diriku wahai Pembaca, bahwa aku tidak meletakkan bagian cerita ini dalam urutan semestinya, karena cerita ini berlangsung pada hari-hari akhirku di dunia ramai antara 846 dan 847, jadi menjelang Rakai Pikatan tampil dan kemudian mulai memerintah di Mataram, sekitar limabelas tahun dari awal pembangunan Sivagrha, dan sepuluh tahun sebelum diresmikan pada 856, tiada lebih dan tiada kurang karena diriku yang sudah tua ini takut menjadi lupa dan bagian cerita ini hilang untuk selama-lamanya.

Kupikir Pembaca juga dapat mengurutkan sendiri nanti, ketika riwayat hidupku sampai kepada tahun-tahun itu, ketika Parambhrahma atau Jiwa Alam Semesta di Sivagrha diwartakan mendapat persembahan jiwa manusia selain binatang-binatang korban lainnya. Betapapun, pengepungan pondok Rangga Tua itu tanpa bisa kujelaskan ternyata mengingatkan diriku kepada cerita seseorang di masa lalu pada sebuah kedai, tentang apa yang berlangsung di Sivagrgha tersebut, percandian indah dengan 224 candi perwara yang mewakili 224 dunia dalam tatacara semesta Saiva Siddhanta sesuai dengan Bhuvanakosha itu, yang bahkan jika candi-candi perwara ini dipadankan dengan gunung Chakravada, maka delapan candi di halaman dalamnya terbandingkan juga dengan delapan puncak pegunungan Manasa di Jambhudvipa.

Saat itu seseorang bercerita di sebuah kedai, tentang seorang pemuda tampan yang telah hilang diculik pada suatu malam, ketika sedang memeriksa pengairan sawahnya setelah hujan, oleh suatu gerombolan berkuda yang wajahnya ditutup kerudung hitam. Diceritakannya bahwa kejadian itu sebetulnya diketahui juga oleh sejumlah saksi mata, dan meskipun gerombolan berkuda itu mengetahui betapa diri mereka terpergok melakukan penculikan tersebut, tindakan itu mereka lanjutkan juga. Disebutkan bahwa para saksi mata lain, yang juga sedang berada di sawah untuk memeriksa pengairannya sehabis hujan lebat yang kadang merusak pembatasnya itu, mengenali gerombolan tersebut dari kuda yang mereka tunggangi.

"MEREKA mengenalinya sebagai s isa-sisa paksha Kapalika," katanya, "mereka juga memburu anjing dan trenggiling."

"Untuk persembahan mereka?" tanya orang-orang di kedai lainnya.

Orang yang bercerita itu mengangguk sambil menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah menyiratkan ketakutan.

"Bahkan di Jambhudvipa katanya mereka sudah punah," seseorang berkata, "tetapi di sini pengaruhnya masih terasa."

Aku berada di antara mereka sebagai pendengar saja, tidaklah perlu kukatakan kepada mereka bagaimana aku mengenali keberadaan penganut Kapalika di Jambhudv ipa dan penganut Kalamukha di Nepal, yang juga disebut kaum Kapalika Saiva, yang seharusnyalah sudah punah dan tidak menjalankan peribadatannya yang kejam itu lagi.

Namun yang berlangsung di Yavabhumipala dengan lomba pembangunan candi-candi besar Mahayana maupun Siva saat itu keadaannya memang berbeda. Di sini Mahayana dan Siva tidak bersaing apalagi bermusuhan, melainkan hidup bersama, bahkan nyaris saling menyerupa, tetapi yang hanya dapat berlangsung dengan suatu cara.

"Mereka yang belajar begitu jauh sampai Nalanda," ujar seseorang yang lain pula, "kembali hanya untuk membuat Buddha sama dengan Siva." Saat itu aku teringat pembacaanku di ruang pustaka Kuil Pengabdian Sejati di Thang-long, tentang bagaimana Xuan Zang menceritakan kembali keberatan para bhiksu Hinayana di Orissa tentang ajaran Mahayana yang dianggap sebagai aliran sesat atau viparita-drsti.

"Ya, mereka yang kembali dari Nalanda tiada bedanya dalam hal apapun dari kaum Kapalika!"

Kedai itu menjadi ramai, ketika semua orang bicara tentang agama, padahal semuanya tidak paham agama, dan kukira tidak banyak pula yang bisa membaca. Bahkan bagiku, yang bisa dan cukup banyak membaca di banding orang-orang awam yang berdebat di kedai itu, betapapun terbukti tiada cukup cendekia untuk memahami segenap tanda yang tertera di Kamulan Bhum isambhara maupun Sivagrha, ketika dalam candi Buddha terdapat pengaruh Hindu, dan pada candi Hindu terdapat unsur-unsur Buddha --yang rupanya juga menjadi bahan perdebatan orang-orang awam semasaku ini.

"Cangkir-cangkir tengkorak!" Seseorang berkata.

"Kenapa? Itu disebut-sebut jatuh tanpa sengaja dari beban bawaan yang tutupnya terbuka itu bukan?"

Aku pun pernah melihatnya, meski bukan di Mataram ini, melainkan pada sebuah kuil Tantrayana di perbatasan Negeri Atap Langit dan Kerajaan Tibet. Cangkir tengkorak yang terbuat dari perunggu. Rupanya memang pengaruh Kapalika terdapat di sini!

''ITULAH! Itulah bukti mereka berasal dari paksha Kapalika! Bagaimana mungkin adhikara dapat membiarkan mereka dengan peribadatannya yang kejam itu merajalela?''

''Karena Tantrayana membiarkannya!''

''Urusan Tantrayana adalah candi Mahayana, Kamulan Bhumisambhara, bukan candi pemuja Barambhahna seperti Sivagrha!'' ''Begitukah kata dikau? Tetapi tidakkah dikau dengar cerita para pemahat tentang tugas mereka dalam pembangunan Sivagrha itu?''

''Apa yang dikau dengar?''

''Mereka harus memahatkan gambar-gambar tarian Tandava!''

''Hah!''

''Tarian mabuk Tantrayana di Candi Siva!'' ''Hah!''

''Dan tahukah saudara-saudaraku apalagi?'' ''Masih ada?''

''Ini belum dilakukan, tetapi sudah direncanakan.''

''Katakan!''

''Gambar pahatan para brahmana makan ikan!'' ''Hah!''

''Mungkinkah ejekan untuk orang Hindu dibuat orang Hindu?''

''Hah!''

"Tantrayana   di mana-mana! Mempengaruhi Mahayana!

Mempengaruhi Siva!"

Semua suara tinggi nadanya, sahut menyahut seperti burung berkicau, sampai terdengar nada yang rendah, tetapi terdengar jelas dan penuh wibawa.

"Sabar dahulu saudara-saudaraku," katanya, "sabarlah dan berpikirlah dengan jernih dan tenang..."

Saat itu aku pun mencoba berpikir tenang, karena tidak semua hal dari yang kudengar bisa kucerna dengan baik. Sejauh yang kuketahui, di dalam kitab ajaran Sang Hyang Kamahayanikan tiada disebutkan bahwa masalah yang kemudian akan dijelaskan orang itu merupakan bagian yang disebut sebagai Tantrayana. Namun karena sebelumnya ia membicarakan sepuluh paramita dan karena itu disebut Paramitayana, yang empat bagian terakhirnya tidak diuraikan sesusai dengan Mahayana Sutra, tetapi lebih cenderung kepada Tantrayana, maka dapatlah kuanggap bagian itu diungkapkan sebagai bagian yang mengantar peralihan dari ajaran Paramitayana ke ajaran Tantrayana.

"Setelah menghayati dengan baik sepuluh paramita sebagai jalan yang agung atau maha-marga, hayatilah sekarang rahasia yang agung dan yang utama," orang itu masih terus berbicara.

Orang-orang mengerutkan kening, aku juga mengerutkan kening. Kami tidak berada di sebuah wihara, kami semua berada di sebuah kedai yang ramai. Apakah dia bersungguh- sunggguh dalam maksudnya menjelaskan suatu ajaran rahasia atau guhya?

mahaguhya merupakan karana atau sebab

dari perpaduan dengan bharala yang terdiri dari yoga dan bhavana

Sementara ia terus berbicara, kuingat lagi betapa Tantrayana memang selalu dikaitkan dengan kerahasiaan, dalam arti dirahasiakan kepada mereka yang belum dipersiapkan untuk menerima ajaran itu. Kerahasiaan itu dipertahankan bukan karena mengandung keajaiban maupun sihir, melainkan justru dimaksudkan agar mencapai Kebuddhaan, supaya dapat menolong orang lain, dan bukan menanggung akibat buruk karena tidak siap menjalankan ajaran dan tenggelam dalam samsara. yoga terdiri dari empat jenis menurut ajaran

Hang Acarya Sri Dignaga yang terhormat yaitu

mula-yoga, madhyayoga, vasana-yoga, anta-yoga

ANAK! Janganlah berlebihan! Upacara Kapalika jangan disamakan dengan upacara Tantrayana! Yang terjadi sebetulnya adalah..."

"Janganlah berkilah Bapak! Cirinya sudah jelas sama!" "Berarti kalian gegabah dan kurang periksa!"

"Ah kita semua tahu Bapak, tidak semua yang mengaku pengikut Tantrayana memahami ajaran rahasia!"

Mereka berdebat sampai lama, sampai lupa berpikir tentang bagaimana korban penculikan itu mungkin   masih   bisa dise lamatkan. Saat itulah aku berkelebat menghilang. Memang tidak jelas bagiku, apakah cerita tentang kelompok atau aliran atau paksha Kapalika di Kerajaan Mataram ini hanyalah dugaan tanpa dasar, sekadar kabar angin simpang siur, ataukah memang ada hubungannya dengan sisa-sisa paksha yang nyaris punah itu di Jambhudvipa; tetapi betapapun sudah jelas seseorang telah diculik dan meskipun berada dalam penyamaran dan peleburan dalam kehidupan awam, bukan berarti diriku tidak harus mencari jalan untuk membebaskannya.

Pembaca, kejadian itulah yang teringat olehku dari peristiwa ini. Seseorang yang seperti akan ditangkap telah mengingatkanku kepada suatu penculikan di masa lalu. Namun sekali lagi maafkanlah aku wahai Pembaca, lanjutan cerita ini lebih baiklah kuceritakan pada saatnya, yang tiada lebih dan tiada kurang berarti sesuai dengan urutannya, karena jika tidak, aku khawatir hanya kebingunganlah yang akan didapatkan Pembaca!

(Oo-dwkz-oO)

MANTYASIH, tempatku tinggal sekarang ini, dihuni para penganut Siva maupun Mahayana, dengan segala paksha yang terkaitkan kepada keduanya. Pada masa aku menuliskan riwayat hidupku ini, kaum Saiva sedang mengalami kebangkitan kembali di mana-mana, bersama dengan kembalinya Wangsa Sanjaya yang berhasil mendesak Wangsa Syailendra, tetapi para penganut Mahayana, termasuk paksha Tantrayana yang perwujudannya tampak sebagai Kamulan Bhumisambhara, secara umum tetap aman tenteram dalam kehidupan bersama. Namun justru kedamaian itulah yang tidak diinginkan oleh mereka yang memiliki kepentingan atas suatu keadaan penuh kekacauan. Demi kepentingan terciptanya kekacauan itulah segala perbedaan harus dimanfaatkan, dengan cara membuatnya saling bersa ingan, bermusuhan, dan diharapkan saling menghancurkan!

Aku tersentak menyadari terdapatnya gejala ini. Dalam keadaan seperti ini, patutkah diriku hanya bersembunyi dan menghilang dari dunia ramai, dan hanya sibuk menuliskan riwayat hidupku sendiri?

Akhirnya malam tiba. Bhiksu yang didatangkan dari sebuah wihara di dekat Kamulan Bhumisambhara untuk mengajar di balai pertemuan pada halaman itu kata-katanya terdengar jelas, dan semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, seperti telah me lupakan kegemparan yang ditimbulkan para raja pariraksa dan pemilik Jurus Naga Api itu.

virya-paramita berarti mengarahkan kaya, vak, dan citta

kepada pelaksanaan kusala-karma atau perbuatan yang berguna tanpa airmata tanpa keluhan

siang maupun malam

"Pekerjaan yang berguna sebaiknya dikerjakan siang hari," katanya menjelaskan, "seperti menyalin saddharma, memuja, mengajarkan agama, menulis aksara Pallava, meminta derma, membaca Sang Hyang Dharma dari pustaka, memelihara Sang Hyang Stupa yang berisi patung Tathagata, melaksanakan segala macam upacara, menyalakan homa atau api suci, serta melayani tamu sebagaimana layaknya seorang penganut agama Buddha. Demikianlah jenis-jenis kebaikan yang sebaiknya dilaksanakan oleh badan, ucapan, dan pikiran, pada siang hari."

SAMBIL mendengarkan dari jauh aku berpikir, apakah yang dimaksudnya dengan menulis aksara Pallava? Tidakkah para kawi akhirnya bersepakat membuat dan menggunakan aksara Jawa, dan menyalin dan menerjemahkan kembali segala kitab dalam bahasa dan aksara Jawa, memang supaya Kerajaan Mataram, siapapun yang memerintah, dari Wangsa Syailendra atau Wangsa Sanjaya, memiliki aksara dan bahasanya sendiri, yang tentu berarti tidak menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallava? Aku pun tahu, bait-bait Sanskerta dalam Sang Hyang Kamahayanikan pun dalam penyalinan saddharma telah dialihkan ke bahasa Jawa, sehingga anjurannya itu memang tiada jelas maksudnya.

Adapun pemeliharaan stupa bagiku sudah jelas, dan bagi penduduk di sekitar Kamulan Bhumisambhara juga jelas. Di samping menempatkan patung-patung lima Tathagata pada terasnya yang persegi, juga terdapat Tathagata dalam dharmacakramudra di dalam stupa-stupa berongga pada teras yang lonjong. Tampaknya kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang dirujuk bhiksu itu memang menunjuk langsung kepada Kamulan Bhumisambhara, karena memang hanya  Kamulan Bhumisambhara itulah di Javabhumipala ini candi Buddha yang memiliki stupa-stupa dengan arca Tathagata di dalamnya.

Namun memang penyalinan saddharma itulah bagiku candi budaya yang tiada kalah mengesankan, ketika teringat kembali olehku suasana di sekitar Kamulan Bhum isambhara yang kini menjadi pemukiman ramai itu, suasana pembelajaran agama yang penuh perdebatan mencerahkan dengan peserta dari berbagai paksha, dari pihak Mahayana maupun Saiva, yang didukung perpustakaan dengan kitab- kitab nyaris lengkap.

Lantas apakah yang harus dilakukan pada ma lam hari seperti ini? Kudengar sang bhiksu membacakan isi Sang Hyang Kamahayanikan.

''Mengucapkan mantra-mantra dan berlatih yoga, membaca kitab suci, memuja semua Sang Hyang Tathagata dan semua Dewi dengan mantra-mantra pujaan, mendoakan untuk kepentingan semua makhluk, agar mereka sehat, lepas dari khayalan, terangkat dari belenggu kelahiran, dapat mencapai kebuddhaan, serta memperoleh kebahagiaan yang abadi. Demikianlah perbuatan yang baik, yang sebaiknya dilaksanakan pada malam hari oleh kaya, vak, citta, tanpa mengeluarkan airmata, secara terus menerus, tanpa memperdulikan kesukaran. Perbuatan yang sedemikian itulah yang disebut sebagai virya-paramita.''

Semua ini adalah upaya mengatasi kemalasan, dalam rangkaian usaha-usaha menata diri demi tercapainya pencerahan, yang kemudian memang mengingatkan diriku kepada kemalasanku sendiri. Ya, memang tiada hari berlalu dalam hari-hari yang telah memasuki tahun ketiga ini yang kulalui tanpa menuliskan riwayat hidupku itu, demi tercapainya suatu kejelasan memuaskan, apakah kiranya yang telah menjadi sebab, mengapa diriku diburu sebagai satruraja atau musuh negara. NAMUN jika kusebutkan kemalasan, maka sungguh mati bukanlah menulis itu sendiri yang telah membuat diriku menjadi malas dalam arti seperti biasanya; melainkan karena aku pada dasarnya bukan seorang penulis atau juru cerita yang dapat diandalkan dan sungguh mengetahui apa yang harus dilakukan, maka menulis bagiku menjadi pekerjaan yang nyaris membuatku mengerahkan segala kemampuan. Dengan kata lain ada kalanya otakku mengalami kelelahan begitu rupa dalam kerja penulisan, sehingga ketika seharusnya diriku menulis sepanjang-panjangnya dan secepat-cepatnya dalam hari yang terasa pendek, yang lebih sering terjadi kemudian adalah diriku menulis begitu pendek dengan amat sangat lambat dalam hari yang kadang terasa amat sangat panjangnya.

Keadaan seperti ini akan memberikan kepadaku rasa kantuk yang luar biasa, yang kuharapkan tidak datang dari penolakan di bawah sadar, yang kemudian membuatku tertidur begitu saja dalam keadaan duduk, dengan kepala menimpa meja tempat lempir-lempir lontar bertebaran. Tiada lebih dan tiada kurang memang bagaikan orang tua yang sudah mulai menjadi pikun.

Saat itulah kemudian kudengar sesuatu di balik pintu. Aku tersentak. Apakah kewaspadaanku memang sudah semakin mundur? Jika aku sejak tadi memang tertidur, sosok di balik pintu itu dapat membunuhku dengan begitu mudah, semudah membalik telapak tangan...Namun ia tidak melakukannya, berarti di tangankulah kini kesempatan terbuka untuk membunuhnya.

Ia sudah begitu dekat, jika aku tidak membunuhnya sekarang, pada kesempatan lain mungkin diriku yang terbunuh olehnya.

Aku berkelebat.