-->

Nagabumi Eps 199: Tiga Sungai dan Tiga Puncak

Eps 199: Tiga Sungai dan Tiga Puncak

PEDANG Kilat melesat secepat kilat dengan ujung pedang terarah langsung ke tenggorokanku, tetapi dengan kemampuanku bergerak bukan hanya lebih cepat dari kilat, tetapi juga lebih cepat dari pikiran, bahkan lebih cepat dari cepat, maka aku dapat melihatnya sebagai gerakan yang sangat lambat dan sangat mudah dihindari, sehingga memberiku kesempatan untuk berpikir panjang.

Pertama, sudah jelas aku tidak ingin menyakiti perasaan Golok Karat sekarang ini, dengan mengungkap kenyataan betapa aku telah mengelabuinya, yang tentu saja membuat diriku harus tetap berada dalam peranku semula; lagipula, terutama, bersama Golok Karat ini pula mendadak kutemukan jalan terbaik mendekati Mahaguru Kupu-kupu Hitam. Pernyataan Pedang Kilat yang menyatakan bahwa Mahaguru Kupu-kupu Hitam selalu membunuh siapapun yang melamar untuk jadi muridnya tidak dapat kujadikan pegangan, meskipun nama Mahaguru Kupu-kupu Hitam diambil saja dari nama gurunya. Setidaknya boleh dianggap kami berdua memberanikan diri untuk menjadi dua muridnya yang pertama!

Kedua, betapapun Pedang Kilat tidak dapat kuanggap mengetahui siapa diriku sesungguhnya. Dia jelas belum menyingkap penyamaranku, baik ketika melihatku di kedai, maupum di sini ketika melihat sekilas gerakanku menghadapi para penyamun terbang, yang betapapun memang kubatasi; dan hanya terpengaruh oleh cerita tentang Pendekar Tanpa Nama itulah maka keunggulan siasatku seperti membenarkan dugaannya bahwa diriku yang tanpa nama tentulah berarti diriku adalah Pendekar Tanpa Nama.

NAMUN itu bukanlah bukti yang cukup, dan karena itu ia tidaklah memberiku kesempatan meneruskan penyamaran dengan membiarkan diriku teringkus jala liat para penyamun terbang. Pedang Kilat membebaskan kami terutama karena ingin menguji diriku lebih lanjut, dan aku tidak boleh membiarkan percobaannya itu terbukti. Aku harus tetap diam seperti pesilat awam, yang tidak akan mungkin mampu menangkap kecepatan kilat suatu gerakan.

Pedang Kilat masih me lesat tetapi yang dimataku tetaplah terlihat lamban sekali. Jika ingin berubah pikiran, aku masih memiliki kesempatan, karena aku menghadapi suatu keadaan dengan pertaruhan: kutempuh penyamaran penuh kesulitan ini demi pembebasan Yan Zi dan Elang Merah; termasuk dalam penyamaran itulah aku harus bersikap tiada berdaya menghadapi serangan secepat kilat ini, tetapi jika Pedang Kilat yakin diriku memang diriku seperti yang didengarnya, dan meneruskan tusukannya, tentu aku akan tewas dengan darah menyembur, dan tetap tidak bisa membebas Yan Zi dan Elang Merah.

Ujung pedang jian yang dibuat hanya demi ilmu pedang itu tinggal sedepa dari tenggorokanku dan aku masih tetap diam!

Ujung pedang itu berhenti tepat di depan tenggorokanku hanya dalam jarak satu jari!

Pedang Kilat berhenti dengan tubuh masih mengambang seperti ketika meluncur dengan pedang terhunus ke depan.

"Hah?"

Aku pura-pura terperanjat dan melangkah mundur. "Puan Pendekar sungguh mau membunuhku?" Golok Karat tertahan nafasnya.

Pedang Kilat mengubah kedudukannya dan menurunkan kedua kakinya menginjak salju.

"Pendekar Tanpa Nama pun kukira tidak akan dan tidak perlu menyamar sampai seperti ini," katanya sambil menyimpan pedangnya ke sarung di punggung, "barangkali jika kalian tidak dibunuh oleh Mahaguru Kupu-kupu Hitam dan mampu menamatkan pelajaran, kita bisa melakukan pertarungan."

Pedang Kilat berujar sambil menatapku penuh pandangan selidik. Ia tampak masih ragu, tetapi memang hanya pesilat awamlah yang akan diam dan tiada tahu betapa ujung pedang lawan sudah sampai sedekat itu. Dengan sedikit senyum seperti melihat sesuatu yang lucu, tetapi juga antara menghina dan merendahkan, Pedang Kilat berkelebat menghilang.

Golok Karat datang berlari memelukku. Aku bagaikan tenggelam ke dalam tubuhnya yang tinggi besar itu.

"Saudaraku! Untunglah Pedang Kilat itu pendekar yang masih menganggap membunuh orang tidak berdaya dan tidak melawan adalah tabu!"

Aku sungguh terharu dengan kebaikan hatinya itu. Belum terbayang apa yang harus kukatakan kelak jika aku berhasil mencuri Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam itu.

(Oo-dwkz-oO)

Masih dua hari lagi kami berdua berjalan dan merayap sepanjang Pegunungan Hengduan sebelum akhirnya pada hari kesepuluh tiba di sumber air panas di kaki Gunung Gaoligong. Golok Karat mewajibkan dirinya untuk mandi di sana sebelum meneruskan perjalanan, tetapi ketika kami tiba di sana sumber air panas itu dipenuhi oleh perempuan-perempuan muda. Mereka sedang merayakan datangnya musim panas, yang dalam ketinggian seperti ini, betapapun memang tidak akan pernah terasa sebagai panas.

Namun sumber air panas itu hangat airnya. Golok Karat harus menunggu hari berakhir jika ingin tetap mandi di situ. Aku membayangkan perjalanan berat yang masih harus ditempuh.

"Kita adalah pengembara yang menuruti ke mana pun kaki kita melangkah," kata Golok Karat, "kita tidak pernah tahu kapan lagi akan melewati tempat ini, dan juga daku tidak akan melewatkan kesempatan untuk mandi."

Betapapun kami memang tidak pernah mandi dalam udara yang begini dingin, dan juga belum tahu kapan akan pernah mandi jika melewatkan kesempatan mandi a ir panas sekarang ini.

Kami berada di wilayah orang-orang Lisu dan kami tidak ingin membuat kekeliruan yang tidak kami pahami jika ikut bergabung mandi begitu saja bersama perempuan-perempuan muda itu. Kampung mereka tentu tidak jauh dari s ini dan kami tidak ingin perjalanan kami tertunda-tunda lagi.

"Kalau perlu kita tunggu sampai malam tiba," kata Golok Karat, "dan biarlah kalau perlu kita mandi dalam gelap."

Dan begitulah kami menunggu. Kami duduk pada sebuah ketinggian yang memperlihatkan puncak-puncak Pegunungan Hengduan menutupi garis cakrawala di kejauhan sambil bercakap-cakap.

Kami sempat membeli daging bakar dan arak panas dalam guci dari sebuah kedai di dekat pemandian, dan kami menikmatinya sambil menatap pemandangan.

Golok Karat mengutip sebuah pepatah Tibet:

jika lembah dicapai sebuah celah yang tinggi kawan-kawan terbaik

atau musuh-musuh terjahat sajalah

akan jadi pengunjung

"Coba dikau lihat bagaimana alam seperti ini membentuk cara berpikir mereka,i katanya, isegalanya hanya dilihat sebagai kawan atau lawan, dalam rangka permusuhan."

"Tetapi daku kira itu bukan satu-satunya pepatah Tibet,i kataku, itentu ada yang lain, yang tidak berhubungan dengan kawan-lawan atau permusuhan." Maka sambil menuang kembali arak ke dalam cawan dan menenggaknya, meluncurlah berturut-turut tiga pepatah T ibet lainnya:

di mana ada hidup, di s itu ada maut

"Lihat bagaimana kita tidak bisa bernapas sedikit lega,"katanya.

waspadailah madu dihidangkan pada pisau tajam

"Perhatikanlah bagaimana mereka selalu hidup dalam keadaan curiga mencurigai," katanya lagi.

kata-kata adalah gelembung air perbuatan tetesan emas atau darah

"Lihat saja perumpamaannya," kata Golok Karat, "kenapa harus darah jika tidak ada hubungan dengan penumpahannya?"

Aku mengangguk-angguk mengerti, karena aku pun pernah mendengar pepatah Tibet seperti ini:

belang harimau jadi pakaian dan pengenalnya sedang jubah hanya pakaian manusia

Artinya kepercayaan kepada ketulusan seorang bhiksu pun mereka tunda, dengan tidak sekadar mempercayai seseorang karena pakaiannya.

"Pepatah muncul dari pengalaman bersama," kataku sekadar menimpali.

Dalam hatiku kuhitung hari yang masih kumiliki untuk menyelamatkan Yan Zi dan Elang Merah. Mahaguru Kupu- kupu memberiku waktu 30 hari untuk mengambil Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam, belum termasuk menunggunya ketika menamatkan kitab itu dan bertarung menghadapinya dalam waktu seminggu, sebelum kedua perempuan itu dibebaskan, siapapun yang akan menang dalam pertarungan. Sudah 12 hari kulalui semenjak meninggalkan lautan kelabu gunung batu dan itu berarti aku tinggal memiliki 18 hari lagi. Cukupkah itu untuk menempuh sisa perjalanan yang masih penuh kesulitan, yakni menyeberangi Tiga Sungai Sejajar melalui puncak-puncak tebing yang membatasinya, untuk turun ke Shangri-La dan mencari Mahaguru Kupu-kupu Hitam?

Dari puncak tebing di atas Sungai Nu, secara berturut-turut kami akan menyeberangi Sungai Nu, Sungai Lancang, dan Sungai Jinsha melalui puncak-puncak tebingnya yang curam dan turun ke kaki Gunung Merah. Dari sini kami harus berjalan lagi menuju Shangri-La yang diapit Gunung Q ianhu, Gunung Salju Haba, Danau Bita, dan Gunung Merah itu sendiri. Ini semua kuketahui dari Elang Merah maupun Golok Karat yang telah mempelajarinya, tetapi tiada seorang pun dari kami berdua pernah menempuhnya. Padahal, sekali tersesat, bisa berakibat terbuangnya waktu berhari-hari lamanya, sementara sebelum kitab itu berada di tangan, aku tidak dapat berkelebat secepat kilat atau melesat di dalam angin seenaknya, karena dalam penyamaran ini diriku harus menjalani hari demi hari dengan ruang dan waktu orang awam.

Arak membuat Golok Karat bicara makin lancar, dan tidak penting lagi baginya apakah perbincangannya akan ditanggapi atau tidak ditanggapi, karena sebagai pesilat kurasa ia memang kurang peduli terhadap dirinya sendiri. Ia terlalu ramah dan terlalu baik hatinya, sehingga kurasa ia telah dan masih akan sering tertipu. Namun sebagai pesilat, meski hanya memiliki tenaga kasar, dengan tubuhnya yang tinggi besar itu betapapun harus kukatakan betapa ia sangat trampil. Selain itu pun ia se lalu menggunakan akalnya dengan baik sekali dalam pertarungan, seperti yang telah kusaksikan sendiri, sehingga meski tidak memiliki tenaga dalam, belum tentu siapapun yang memiliki tenaga dalam dengan sendirinya akan mampu mengalahkan Golok Karat. Seperti dikatakan pepatah tua tentang gung fu dari Negeri Atap Langit:

bukanlah kepalan dahsyat yang bertarung atau kata-kata bertuah yang mengutuk

Sampai mendadak seperti tiba-tiba saja gelap. Pemandian

m

enjadi senyap dari tawa para gadis dan hanya terdengar

desis aliran air panas dengan uapnya yang mengepul. Tanpa menunggu lebih lama lagi Golok Karat bergegas menuju kolam tempat pemandian air panas itu.

"Marilah!" Golok Karat mengajakku.

Namun aku melihat bayangan berkelebat, seperti sedang mengintai kami.

Jadi memang kuikuti langkah Golok Karat, tetapi kuberi isyarat agar mandi sendiri saja karena aku harus menyelidiki sesuatu. Untunglah ia cepat mengerti. Bahkan langsung mandi sambil bernyanyi-nyanyi, sementara aku menyelinap dalam gelap dengan sangat lambat, karena tidak mungkin berkelebat dalam pandangan mata Golok Karat.

Lepas dari pandangannya barulah aku berkelebat. Dengan segera aku berada di belakang dua sosok manusia yang berbicara dengan bahasa Negeri Atap Langit. Dari suaranya segera kukenali kembali dua orang sewaan Golongan Murni yang bermaksud mengadu domba Suku Naxi dan Suku Lisu itu. K ini mereka berada di wilayah Suku Lisu, mungkinkah ada sesuatu yang berhubungan dengan adu domba itu?

"Mengapa Kakak tiba-tiba berhenti?"

Sosok yang dipanggil Kakak mengangkat tangannya, tanda agar kawannya itu diam. Suasana sunyi senyap. Suara angin gemuruh di antara tebing sepanjang sungai terdengar di kejauhan. Hanya nyanyian Golok Karat di pemandian terdengar jelas sekali.

Terlihat ia menggeleng-geleng.

"Orang itu ceroboh sekali," katanya, "dia pikir seperti sedang mandi di kampungnya sendiri saja." "Jadi kenapa Kakak berhenti?"

Kakak ini menoleh dengan agak gusar, meski ia bisa menjaga dirinya dengan tetap berbisik-bisik.

"Tidak usah Adik pertanyakan lagilah kenapa daku berhenti," katanya, "sudah pasti karena ada sesuatu yang kuanggap penting."

"Tapi Kakak, kita sudah ditunggu."

"Biar saja mereka menunggu, Adik, kita sudah menjalankan semua tugas kita dengan baik, tidak ada salahnya mereka menunggu kita agak sedikit lama lagi, apalagi berhasil tidaknya pengepungan itu sangat ditentukan oleh keterangan yang akan kita berikan. Biarlah mereka menunggu!"

Aku terhenyak. Pengepungan? Pengepungan oleh pihak mana kepada pihak mana? Aku merasa sangat penasaran dan untunglah yang disebut Adik itu juga masih penasaran akan sesuatu.

"Kakak, kalau aku boleh bertanya, apa sebetulnya kesalahan Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu, sehingga begitu banyak orang dikerahkan untuk mengepungnya ke Shangri- La?"

Sekali lagi yang disebut Kakak itu mengangkat tangannya, dan yang disebut Adik itu diam lagi.

"Aneh," katanya sambil mendengarkan nyanyian Golok Karat, "kenapa hanya ada satu orang? Aku percaya telah melihat dua orang, dan aku merasa salah seorang di antaranya bersosok seperti bayangan berkelebat yang tidak bisa kukenali waktu itu."

"Begitukah, Kakak? Kenapa tidak tengok saja ke pemandian itu? Bahkan kita bisa berpura-pura mandi jugaO"

Sosok yang disebut Kakak kembali menukas. "Adik, kalau Adik bermaksud jadi petugas rahasia yang baik, Adik harus lebih sering menggunakan akal Adik," katanya, masih tetap berbisik, dengan nada mengajari, "misalnya kita harus tahu pasti apakah orang yang kita selidiki ilmu silatnya lebih rendah atau lebih tinggi daripada ilmu silat kita."

Adik itu diam mendengarkan.

"Kalau ilmu s ilatnya lebih rendah, boleh diandaikan ia tidak akan mengetahui kehadiran kita," ia melanjutkan, "tetapi jika ilmu silatnya lebih tinggi, kita harus bersikap sangat berhati- hati dan lebih baik menunggu, karena jika kita gegabah, bukan kita yang akan mengawasinya, melainkan dialah yang mengawasi dan menyelidiki kita!"

"Dan Kakak merasa sosok yang berkelebat itu ilmu s ilatnya lebih tinggi dari ilmu s ilat kita?"

"Sebetulnya jika seseorang berkelebat dan kita tidak dapat mengikutinya, itulah tanda kecepatan bergerak kita ada di bawahnya, jika tidak dalam ilmu silat, setidaknya dalam ilmu penyusupan."

Memang bisa saja ilmu penyusupan seseorang sangat tinggi, tetapi ilmu silatnya tidak seimbang dengan ilmu penyusupannya itu; dan sebaliknya ilmu s ilat yang tinggi tidak menjamin kemampuan dalam penyusupan yang juga tinggi. Jelas lah dalam keduanya kemampuan berkelebat tanpa terlihat menjadi andalan utama.

Adik itu tampak mengangguk-angguk.

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang, Kakak? Permusuhan Suku Lisu dan Suku Naxi sudah berhasil Kakak kobarkan, begitu pula permusuhan antara Suku Yi dan Suku Han, sehingga tidak akan mengganggu rencana penangkapan Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu" BANYAKLAH tanda tanya belum terjawab dalam berbagai peristiwa itu, meski aku sendiri pun tidak merasa perlu mewajibkan diri mencari segenap jawabannya. Betapapun aku hanyalah pengembara yang selalu melakukan perjalanan mencari daerah baru dan sepertinya tidak akan pernah kembali.

Ketika memutuskan untuk bergabung dengan kapal Srivijaya, yang ternyata adalah kapal bajak laut budiman Naga Laut yang justru selalu mengganggu armada Sriv ijaya, diriku dipenuhi semangat petualangan melihat dunia, tanpa berpikir betapa dalam setiap langkah dan tindakan terdapatlah jaringan peristiwa yang akan mengikutinya. Adapun dalam setiap peristiwa dalam jaringan itu akan terlibatlah manusia dengan siapa kita bersua, sedangkan hubungan antarmanusia itu jika di satu pihak bisa hanya berlalu seperti debu diterbangkan angin menderu, di pihak lain dapat mengikat erat seperti ular naga yang melibat dan melekat.

Maka ternyata aku tidak dapat sepenuhnya bersikap sebagai pengembara, yang meninggalkan set iap peristiwa berkecamuk di wilayahnya sahaja, tanpa harus bertanggung jawab sebagaimana orang asing yang akan menghindarkan dirinya untuk terlibat, karena berbagai peristiwa itu sendiri seperti dengan sengaja bukan hanya melibatkan tetapi bahkan menjebakku untuk berada dan berperan di dalamnya. Lagipula, kemudian manusia di daerah manapun tidak akan pernah menjadi terlalu as ing bagiku. Setiap manusia sebetulnya bersaudara di atas bumi yang sama.

Tentu tidak bisa kutinggalkan tanggung jawabku atas tanda tanya gugurnya Amrita yang berada di tangan Harimau Perang. Ke mana pun ia pergi, ke ujung dunia sekali pun, ke seberang benua maupun ke puncak gunung, aku akan selalu mencarinya, bukan hanya atas nama segala makna yang telah kudapatkan dari Amrita; tetapi juga atas gagalnya pengepungan dan perebutan Kota Thang-long, yang hanya mungkin terjadi karena pengkhianatan, yang telah mengakibatkan banyak korban jiwa kawan-kawan seperjuangan para pemberontak gabungan.

Tidak bisa dilupakan tentu utang budiku kepada orang kebiri yang telah menyelamatkan jiwaku itu, yang menyamar sebagai pemilik kedai di lautan kelabu gunung batu, yang disebut Si Cerpelai dan menyimpan sepertiga dari rahas ia penting yang berhubungan keamanan Kemaharajaan Negeri Atap Langit. Segala keterangan yang telah diberikannya kepadaku, sebagai cerita lisan maupun tertulis dalam gulungan kitab, tentang seluk beluk kehidupan orang kebiri di istana dalam sejarah Negeri Atap Langit, haruslah kuanggap mengandung suatu pesan, bahwa aku akan terlibat memecahkan persoalan. Untuk itu bahkan telah dikorbankannya nyawa sendiri agar diriku tetap hidup, dengan menghadapi para pembunuh kelompok racun Kalakuta. Ini hanya terjadi setelah ia menyaksikan sikapku terhadap orang- orang Uighur yang memintaku jadi guru itu dan bagaimana aku bertarung melawan Pendekar Kupu-kupu.

Belum selesai dengan semua itu, aku terlibat pula dengan urusan Yan Zi yang meski sama sekali tiada kum inta, jelas tiada mungkin kutinggalkan pula. Menyusup masuk ke dalam istana di kotaraja Chang'an untuk mengambil Pedang Mata Cahaya untuk tangan kiri jelas bukan sembarang tugas yang dapat dilakukan, tetapi Angin Mendesau Berwajah Hijau seperti juga Si Cerpelai itu agaknya menangkap sesuatu dalam gerakanku, yang membuat mereka berpikir aku dapat menyelesaikan masalah mereka yang takterpecahkan oleh mereka sendiri itu. Seingatku aku tidak pernah memperagakan Jurus Tanpa Bentuk di hadapan Si Cerpelai maupun Angin Mendesau Berwajah Hijau, tetapi agaknya jejak-jejaknya tertangkap juga oleh orang yang berilmu tinggi. Kuketahui inilah jurus impian para pendekar untuk dikuasai, tetapi meskipun aku masih mengolahnya telah kuyakini bahwa tiada seorang pun akan bisa menguasainya, selama masih memikirkannya sebagai suatu bentuk.

Kini, di sini, meski bercak salju masih terdapat di sana-sini, bahkan masih pula membentang bagaikan padang memutih, sebenarnyalah sekarang ini sudah memasuki musim panas. Aku masih berada di tahun 796, tetapi sudah memasuki bulan Caitra. Hanya karena berada di dataran yang amat tinggi sajalah maka salju bagaikan enggan mencair. Dahan dan ranting masih berselimutkan embun membeku, yang ketika sedang bergerak menetes ternyata menjadi kaku. Betapapun belum lama aku meninggalkan Daerah Perlindungan An Nam, tetapi rasanya sudah banyak peristiwa yang kualami dalam waktu singkat.

Di antara semua itu yang terakhir ini sangatlah rawan. Urusan Harimau Perang dan rahasia yang dipegang orang- orang kebiri masih bisa ditunda tanpa pertaruhan nyawa, tetapi kini jika Mahaguru Kupu-kupu Hitam terbunuh dalam pengepungan golongan hitam dan para pendekar yang telah menjual jiwanya sebagai pembunuh bayaran, kecil peluangku mendapatkan Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam sebagai jaminan agar Yan Zi dan Elang Merah tetap hidup. Dengan menyamar sebagai pesilat awam dengan jurus-jurus sederhana untuk berguru kepada mahaguru yang akan dikepung itu, apakah kiranya yang bisa kulakukan? Perjalanan yang tersisa saja belum kuketahui apakah bisa kutempuh dengan sedikit kecepatan.

PARA pendekar tinggal me lenting dari puncak ke puncak atau berselancar di atas angin, tetapi pendatang yang awam dan tidak mengenal perlengkapan terbang harus bergelantung pada tali dan merayapinya dengan bantuan roda. Penduduk setempat membawa barang-barang dan binatang piaraannya melalui tali itu juga, dan ke sana jugalah para penyamun terbang seperti pernah kudengar biasa mencari mangsanya. Akibat penyamaranku sebagai pesilat awam, aku tidak mungkin mengatasi semua ini tanpa tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh dengan mudah.

Kami berdua masih bernyanyi-nyanyi di dalam kolam, tetapi Golok Karat memberi isyarat kepadaku bahwa ia melihat dua sosok manusia berkelebat pergi. Berhasil kami kelabui kedua petugas rahasia itu, untuk mengira betapa kami bukanlah orang yang patut dicurigai. Aku segera berhenti bernyanyi dan melompat keluar kolam. Segera kukeringkan tubuh dengan bagian luar busana yang itu juga.

''Marilah kita segera berangkat Golok Karat,'' kataku, ''banyak sekali yang masih harus kita kerjakan.''

''Apakah kiranya itu, saudaraku yang tidak bernama?''

Aku diam sejenak sebelum menjawab, tidak tahu jawaban apa yang paling tepat.

''Marilah! Kujelaskan semuanya dalam perjalanan!''

(Oo-dwkz-oO)