Nagabumi Eps 197: Sandhyabhasa atau Bahasa Senja

Eps 197: Sandhyabhasa atau Bahasa Senja

Akhirnya Golok Karat yang tinggi besar menjadi teman seperjalananku. Kami tidur di kedai itu karena Golok Karat minum arak begitu banyak sampai tidak bisa bangun lagi. Pemilik kedai membolehkan kami bermalam di kedai itu dengan bayaran. Aku membayarnya dengan matauang Negeri Atap Langit dari bekal yang diberikan oleh para bhiksu Kuil Pengabdian Sejati. Jadi meskipun tidak mengerti bahasa Negeri Atap Langit, pemilik kedai bersedia menerima mata uang Negeri Atap Langit.

Kudengar sebentar pemilik kedai itu bicara dengan Golok Karat sebelum kami berangkat. Mereka berbicara dengan bahasa Tibet. Kutangkap pandangan mata pemilik kedai itu yang mengamati wajahku, yang tentu terlihat jelas karena sejak semalam telah kubuka capingku.

''Dikau memang tidak mempunyai nama, bukan?'' Golok Karat bertanya setelah kami berada di jalan. ''Betul.''

''Pemilik kedai itu bertanya siapakah dikau, kukatakan kepadanya dirimu tidak bernama, lantas ketika dia bertanya dari mana asalmu dan kujawab seperti dikau katakan kepadaku bahwa dikau berasal dari Ho-ling. Ketika dia bertanya tentang tujuan perjalananmu, kujawab kita berdua ternyata searah, ingin berguru ilmu silat kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam.''

Dalam dunia persilatan, pengakuan ingin berguru atau mencari guru bukanlah sesuatu yang mengherankan, dan mengucapkannya di depan orang lain tidak dianggap sebagai kesombongan melainkan kerendahan hati. Bahkan juga bagi orang awam, pengakuan semacam itu dihargai tinggi, apalagi jika diketahui seseorang telah me lakukan perjalanan yang sangat jauh untuk menambah pengetahuan. Termasuk untuk belajar ilmu silat. Namun perasaanku tentang pemilik kedai ini tidak seperti itu. Aku ingat kembali, bagaimana pemilik kedai itu segera berbicara kepada anak perempuannya setelah berbicara dengan Golok Karat, dengan cara berbisik cepat, sebelum akhirnya anak perempuannya itu menghilang. Aku memang mengerahkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sehingga meski berbisik suara keduanya dapat kutangkap dengan jelas, yang tentu saja tiada berguna karena aku tidak mahir herbahasa Tibet.

Mungkinkah aku terlalu dipengaruhi pengalaman, bahwa kedai merupakan tempat terbaik bagi seorang mata-mata untuk menjaring keterangan, terutama dengan menyamar sebagai pemiliknya? Jika aku sendiri juga mengandalkan kedai sebagai salah satu tempat menjaring keterangan, mengapakah aku tidak harus berpikir bahwa pemilik kedai ini sama seperti pemilik kedai Si Cerpelai di lautan kelabu gunung batu, yang ternyata memang bukan sembarang pemilik kedai?

Pikiran ini hanya menggangguku selintas sepuluh hari yang lalu, karena setelah itu perhatianku tersita oleh cerita Golok Karat yang rupanya dengan atau tanpa arak, sangat suka berbicara. Ini menguntungkan untuk mengurangi kebosanan dalam perjalanan, tetapi sangat melelahkan dalam perjalanan naik turun gunung yang terjal. Betapapun aku merasa beruntung, karena sedikit demi sedikit aku diajarinya bahasa Tibet.

''Orang Tibet selalu menganggap Negeri Atap Langit sebagai musuhnya. Di daerah perbatasan, meski berada di wilayah Negeri Atap Langit, orang Tibet tidak mengakui kekuasaan Negeri Atap Langit, antara lain dengan tidak sudi menggunakan bahasanya,'' kata Golok Karat, ''jadi akan sulitlah bagi dikau jika hanya mengandalkan bahasa Negeri Atap Langit.''

Golok Karat juga t idak lupa menjelaskan perihal bagaimana ajaran Buddha telah ditafsirkan oleh aliran T ibet. ''SEKITAR 747,'' katanya, ''jadi 52 tahun lalu masuklah Guru Padma-Sambhava dari Jambhudvipa, tepatnya dari Benggala, dan mengajarkan Tantrayana kepada khalayak menghendaki bimbingan kesukmaan, dan menurut ajaran ini jiwa dan dunia tidak terpisahkan, sehingga seseorang hanya perlu melihat ke dalam diri jika ingin menemukan kebenaran.

''Di antara semua aliran, Tantrayana termasuk yang paling sulit dimengerti dan paling sering salah ditanggapi, terutama bukan hanya karena penerapan yang salah, dalam dugaan maupun kenyataan, yang berasal dari bentuk tanpa budi adat Hindu akhir, tetapi juga karena kitab-kitabnya, seperti Hevajra Tantra, tidak bisa dipahami kecuali dari sudut pandang pengalaman yoga.

''Apalagi kitab-kitabnya juga tertulis dengan istilah tersendiri, bahasa dengan makna ganda, dan kesepakatan rahasia, bersama dengan gambar-gambar dan lambang seperti mandala, atau lingkaran kemenangan, yang menampilkan kembali, antara lain, keseimbangan daya lelaki dan perempuan.''

Saat itu, sedikit banyak aku sudah mendengar tentang Hevajra Tantra disebut-sebut para bhiksu di Mataram, tetapi belum pernah sempat mempelajarinya. Golok Karat menjelaskan semua itu sambil mendaki gunung dengan cepat, membuatku tergeleng-geleng dengan tenaga kasarnya yang luar biasa.

''Dengan tergolong sebagai Mahayana, Tantrayana terbagi menjadi dua aliran, yakni Tangan Kanan dan Tangan Kiri,'' katanya lagi, ''jika yang pertama mengandalkan filsafat pengembangan Iddhis atau daya jiwa adiwajar, maka yang kedua disebut menekankan penerapan sanggama sebagai sesuatu yang penting.

''Namun hati-hati menafsirkan Tantrayana, karena bahasanya adalah Bahasa Senja atau Sandhyabhasa, yang maksudnya selain melindungi ajaran dari pengintaian kelompok-kelompok tertutup lain maupun penyalahgunaan yoga, juga justru diciptakan karena bahasa biasa diandaikan tak mampu menyatakan pengalaman kesukmaan. Sanggama dalam Tantrayana menggantikan keberlangsungan pencerahan, penyatuan lelaki dan perempuan, yang merupakan unsur upaya, yakni kebertindakan lelaki dan prajna, yakni penerimaan perempuan, menyarankan keberlangsungan yang mengetahui atau Buddha yang menyatu dengan pengetahuannya.

''Jadi sosok lelaki dan perempuan di sini jangan dilihat sebagai sosok manusia, melainkan perlambangan yang mewujudkan pengalaman dan pandangan dalam dhyana.''

Namun seperti yang terjadi di Yavabhumipala, banyak orang berlindung di balik kesalahan menafsirkan Tantrayana, untuk memuaskan kehendak berahinya sendiri. Antara sa lah mengerti, tidak ingin mengerti, dan sengaja tidak mengerti, dikaburkan oleh tujuan dan kehendak serbaduniawi. Di berbagai tempat sejumlah kelompok berhasil mengumpulkan banyak orang yang menjadikan sanggama sebagai tujuan hidupnya, yang merasa mendapat pembenaran oleh ajaran tentang peleburan daya upaya dan prajna, yang sebetulnya menjadikan sanggama hanya sebagai perlambangan sahaja. Kesalahan yang dinikmati dan tersebar sebagai kabar angin, yang sungguh memberi gambaran keliru tentang Tantrayana.

Menurut Golok Karat, Padma-Sambhava mendirikan aliran Nyingma dalam Buddha, yang sebetulnya merujuk kepada aliran Yogacara di Jambhudvipa. Hmm. Yogacara lagi, aliran yang pernah kuduga, karena tidak memiliki bukti apapun, sama-sama dipelajari Penjaga Langit dari Perguruan Shaolin dan Pemangku Langit dari Kuil Pengabdian Sejati, ketika keduanya berguru di Nalanda. Tentu aku belum lupa betapa pendekatan para bhiksu yang bersilat, dengan acuan kepada pengalaman langsung dalam mencapai pencerahan, yang disebut Chan, sangatlah berbeda dengan pendekatan Yogacara yang mengandalkan ketenangan dan penglihatan dalam dhyana.

Penyebutan kembali Yogacara membuatku merasa wajib menuntaskan tanda tanya di kepalaku, sehububungan dengan bisikan Pemangku Langit waktu itu kepadaku sebelum berpura-pura mati. Ya, aku pernah membaca perihal Yogacara dari salah kitab salinan berbahasa Jawa dari peti kayu yang kutinggalkan di Desa Balingawan itu. Disebutkan bahwa Asanga dan Vasubandhu semula termasuk dalam suatu keluarga Brahmana dari Purusapura di Gandhara sekitar empat ratus tahun lalu, yang berasal dari aliran Sarvastivada. Asanga, yang merupakan murid Maitreyanatha, pendiri aliran Yogacara atau Vijnanavada, menjadi pemikir utama aliran itu dan mengajak adiknya bergabung.

YOGACARA, meski berhaluan Mahayana, dalam beberapa hal berbeda dari pendekatan Jalan Tengah atau Madhyamika, yang membedakan bukan adanya dua kebenaran atau pengetahuan seperti Nagarjuna, melainkan tiga, dan yang ketiga itu disebut Kesalahan yang Baik. Dapat dikatakan jika Madhyamika itu tidak merasa ada yang kurang jika tidak ada kebenaran, maka bagi Yogacara kebenaran itu harus dimutlakkan dalam pikiran, karena mengandalkan yang disebut pikiran langit atau alaya-vijnana, yang berisi segenap gejala semesta dalam pengungkapan berlangsungnya perubahan terus menerus yang abadi. Dunia teramati dipikirkan sebagai diisi seluruhnya oleh berkas pikiran, dan khayalannya, yang disebabkan oleh pengabaian, yang menggambarkan semesta luar.

Dengan penjelasan semacam ini, Tantrayana yang bahasa penjelasannya serba rahasia, memang tampak membedakan diri dengan berbagai aliran Buddha lain yang justru menggunakan bahasa penalaran untuk memperkenalkan pemikiran masing-masing sejelas-jelasnya. Maka bagaimana caranya aliran Tibet yang disebut terujukkan kepada Yogacara itu kemudian menjadi Tantrayana yang diselimuti bahasa rahasia?

(Oo-dwkz-oO)

KAMI mendaki dan kami menurun, dan setelah menurun kami mendaki lagi. Masih lama lagi mencapai sumber air panas di kaki Gunung Gaoligong, karena Gongshan saja belum kami lewati. Perjalanan kami sungguh mengharukan sebagai orang yang mencari ilmu, karena memanglah dari sudut pandang awam pastilah berat sekali. Sedemikian pentingnyakah ilmu itu, sehingga segala derita dan marabahaya harus ditempuh untuk mendapatkannya?

Benarkah ilmu itu berada di atas segalanya? Mahaguru Kupu-kupu Hitam telah mendapatkan ilmunya dengan jalan mencuri, dan karena itu meski belum terkalahkan sampai sekarang, sebetulnya telah mempelajari K itab I lmu Silat Kupu- Kupu Hitam dengan semangat keliru, yakni hanya ingin menguasai tanpa menghayati, sehingga tidak diperhatikannya betapa kitab itu tidak mungkin dipelajari dengan sempurna tanpa dilengkapi Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam. Bahkan, meski tanda-tandanya belum kelihatan, berdasarkan peringatan yang terdapat pada Kitab Ilmu Silat Kupu-Kupu Hitam maka tanpa pengantar ilmu itu akan berbalik menghantam yang belajar itu sendiri. Setidak- tidaknya menjadi gila, dan karena itu akan membingungkan murid-muridnya. Bukan tidak mungkin murid-murid itu akan menjadi gila pula seperti gurunya. Setidak-tidaknya itulah cerita Mahaguru Kupu-kupu yang kuingat kembali.

Tahukah Golok Karat soal ini? Tentu tidak. Namun bagaimana cara memberitahukan? Di satu pihak diriku berperan sebagai seorang pencari ilmu yang datang dari jauh untuk berguru, di pihak lain aku adalah seorang penyusup yang datang dengan tujuan mencuri kitab dengan segala cara, dan bilamana perlu membunuhnya, karena aku datang atas dasar penyanderaan. Seandainya hanya soal Mahaguru Kupu- kupu Hitam yang menjadi masalah, menantangnya bertarung adalah cara terbaik bagiku, tetapi yang dibutuhkan adalah mencuri Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam, dan dalam hal itu pertarungan bukanlah jalan keluar. Dalam dunia persilatan, kitab ilmu silat dianggap lebih penting daripada nyawa manusia. Nyawa boleh hilang, tetapi kitab ilmu silat tidak boleh jatuh ke pihak lawan. Akan sangat sulit kedudukanku jika Mahaguru Kupu-kupu Hitam terbunuh olehku, tetapi K itab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam tidak bisa ditemukan.

Golok Karat masih melangkah dengan gagah. Tanpa ilmu meringankan tubuh, harus kuakui tenaga kasarnya besar sekali. Dalam hal itu Golok Karat tergolong orang awam, tetapi yang di antara orang awam pastilah luar biasa. Kami melangkah di puncak-puncak Pegunungan Hengduan dan tidak pernah turun kembali semenjak naik ke puncak Gunung Laowo sampai nanti ke puncak Gunung Gaoligong. Artinya kami turun hanya karena puncaknya merendah, dan naik lagi karena puncak berikutnya memang lebih tinggi.

Di atas kami hanya langit, dan selalu berada di tempat tertinggi, seolah mega-mega bisa disentuh jika kami angkat tangan kami.

"Lihat, kita berada di tempat tertinggi di dunia," kata Golok Karat sambil mengangkat kedua tangannya.

Lantas ia menangkupkan tangan di depan mulut dan berteriak.

"Hoooooooiiiiiiiiiiiiiiii!"

Cuaca terang, matahari bersinar terang, dipantulkan oleh lapisan-lapisan salju tipis. Suara itu pasti sampai ke mana- mana dan siapapun yang mencari arah suaranya pasti akan melihat kami. Berteriak seperti itu, dalam dunia persilatan, sebetulnya merupakan tindakan yang gegabah. Namun tidak kuingkari betapa suasananya memang membuat siapa pun ingin berteriak bebas. Golok Karat melihat kepadaku sambil tersenyum lebar. Di balik bulu-bulu wajahnya yang lebat dan tubuhnya yang tinggi besar, tampak betapa sebetulnya ia masih cukup kekanak- kanakan. Ia tidak lagi membawa buntalan goloknya dalam buntalan, melainkan menyorenkannya seperti seorang anak bermain pendekar. Golok itu besar, mungkin golok paling besar yang pernah kulihat, dan golok itu pun tanpa sarung dan memang berkarat, hanya dikunci ujung dan gagangnya oleh sebuah cincin bertali kulit, sehingga tampak seperti besi tua diselempangkan. Agaknya dari sanalah ia mendapatkan namanya, atau ia namakan dirinya sendiri seperti itu. Betapapun, usahanya mencari guru sampai bersusah payah seperti ini, mengingat di Changian pun sudah banyak perguruan gong fu terkenal, telah menimbulkan kekagumanku. Orang awam menikmati dunia persilatan sebagai dongeng, tetapi kenyataan yang sungguh-sungguh berat dijalani Golok Karat dengan hati riang.

Bila siang kami melangkah tanpa henti, bila malam kami mencari gua untuk beristirahat. Dengan cara awam, aku tidak bisa melenting dengan ilmu meringankan tubuh dan berkelebat mendahului angin, sehingga ini menjadi tantanganku yang lain dalam penyamaran. Seperti ketika berlangsung kejadian berikut, ketika setelah sepuluh hari kami sampai juga ke puncak Gunung Gaoligong. Saat itulah menukik berbagai sosok dari angkasa menyambar kami berdua.

"Awas! Penyamun terbang!"

Golok Karat berteriak sambil menghunus senjatanya. Aku menengok ke atas dan tanpa kami ketahui darimana datangnya ternyata langit sudah penuh dengan para penyamun terbang. Aku teringat bagaimana Golok Karat te lah berteriak mengungkapkan keriangannya mencapai puncak dan kini kami harus menerima akibatnya. Seperti di puncak tiang kapal se lalu ada pengawas cakrawala, maka kemudian akan kuketahui betapa di kalangan gerombolan penyamun terbang selalu terdapat seorang pembaca angin, yang dapat mengetahui apakah dari segala tempat yang dilewati angin itu, dalam jarak tertentu, terdapat sesuatu yang dapat mereka mangsa. Rombongan pengangkut beban barang-barang adalah sasaran empuk yang mereka nanti-nantikan.

Namun para penyamun terbang melakukan pembacaan angin, sebetulnya juga untuk menghadapi ancaman yang mungkin saja datang membasmi mereka, yang bisa datang dari para pemukim dari suku Lisu, Naxi, Han, dan Y i, maupun pasukan Negeri Atap Langit yang bertugas membersihkan perbatasan dari para pengacau liar seperti para penyamun terbang ini. Adapun karena dengan pasukan yang besar pun tugas mereka tidak pernah berhasil di daerah pegunungan salju ini, maka pemerintah Negeri Atap Langit kemudian lebih sering mengutus kelompok kecil pengawal rahasia yang hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang, atau bahkan menyewa orang-orang bayaran, untuk memusnahkan atau setidaknya membakar pemukiman para penyamun itu.

Memang pernah terjadi betapa para penyusup dalam kelompok kecil ini berhasil mengacaubalau, mengobrakabrik, dan membakar pemukiman para penyamun terbang ini, bahkan terutama membakar dan menghancurkan segenap peralatan serta perlengkapan terbangnya, meskipun para penyusup itu sendiri pada akhirnya juga ditewaskan. Pengalaman ini membuat para penyamun mengatur penjagaan dan pengawasan wilayahnya setiap saat, juga pada saat matahari terang benderang seperti ini, dalam lingkup wilayah yang sangat luas, yang hanya bisa dilakukan me lalui pembacaan angin. Kukira kami berdua, dan terutama karena Golok Karat menyoren pedang telanjang seperti itu, dicurigai sebagai penyusup yang jika dugaannya keliru pun tidak masalah untuk tetap dimusnahkan. Maka mereka pun datang beterbangan dalam jumlah besar, tentu karena pengalaman mengajarkan, betapa kelompok kecil yang dikirimkan jauh lebih berbahaya dari kepungan pasukan berjumlah besar. Pengawal rahasia istana ataupun orang- orang bayaran dari perkumpulan rahasia dengan ilmu s ilat dan kemampuan tempur yang tinggi jelas lebih lincah daripada pasukan besar di wilayah yang alamnya berat seperti ini.

"Awas!"

Aku berteriak sambil menangkiskan timpukan gada yang datang dari atas dan hampir saja meremukkan kepala Golok Karat dengan tongkat kayu siong itu. Dalam waktu singkat para penyamun itu berlesatan dari atas menyambar-nyambar.

KEPAK perlengkapan terbang mereka terdengar mengerikan, tetapi bahaya yang sebenarnya justru akan datang dari mereka yang berselancar di atas angin tanpa suara dan melesat dengan kecepatan luar biasa. Kami menangkis sebisa-bisanya, tetapi kemudian hanya bisa berguling dan bertiarap, sementara para penyamun terbang menyambar dari angkasa silih berganti dengan senjata-senjata terhunus mereka.

Dalam keadaan biasa aku bisa melenting-lenting di atas tubuh mereka, bahkan bergerak lebih cepat dari cepat untuk mendahului mereka, tetapi kuingatkan diriku terus menerus bahwa aku sedang berada dalam kedudukan menyamar. Jika aku menunjukkan tanda-tanda yang hanya terdapat dalam dunia persilatan, seperti menggunakan ilmu meringankan tubuh, menghantam dengan tenaga dalam, atau berkelebat lebih cepat dari kilat, maka jelas penyamaranku akan terbuka. Kepada Golok Karat aku terlanjur mengaku sebagai pengembara awam, yang datang jauh-jauh dari suatu tempat bernama Ho-ling hanya untuk belajar ilmu silat kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam. Artinya aku harus bersikap seperti itu pula menghadapi serangan para penyamun terbang. Jika aku berkelebat ke atas punggung-punggung mereka misalnya, dan mendorongkan pukulan Telapak Darah, bukan saja Golok Karat akan menjadi bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya diriku, yang sudah cukup menimbulkan pertanyaan dengan tidak memiliki nama, tetapi juga beritanya akan segera tersebar ke mana-mana, sebagaimana setiap persilatan yang menjadi dongeng di dunia awam. Apabila beritanya sampai pula kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam, maka akan gagal pula diriku masuk ke dalam perguruannya sebagai murid, dan pupus pula harapanku untuk mencuri K itab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam sebagai syarat pembebasan Yan Zi dan Elang Merah.

Maka dengan membatasi diri pura-pura berilmu silat tak lebih dari Golok Karat, menghadapi para penyamun terbang yang sangat mahir melakukan sambar menyambar dari angkasa itu, kami menjadi sangat terdesak. Mereka berkelebat dengan penuh perhitungan, bahwa jika kami menghindari atau menangkis suatu serangan, akan terdapat serangan lain pada saat yang sama dari arah berbeda. Jika mengikuti aturan, yakni bahwa hanya bisa mengandalkan ilmu silat Golok Karat, kurasa kami tidak akan dapat bertahan. Sepintas lalu sempat kupikirkan, bahwa aku bisa saja bergerak secepat kilat tanpa terlihat, tetapi lantas bersikap seperti tidak tahu menahu betapa lawan sudah bergelimpangan, tetapi segera kusadari betapapun itu berarti membuka samaran sendiri.

Bukan berarti dengan ilmu silat tanpa tenaga dalam kami tidak bisa melakukan perlawanan. Golok Karat yang tinggi besar dan golok berkaratnya sungguh besar itu sangat pandai membuat gerak tipu. Sepertinya ia menyerang dan ditangkis, tetapi saat lawan menangkis sambil me layang di udara ternyata tiada apapun yang ditangkisnya, karena golok berkarat itu telah membelah tubuhnya. Darah berhamburan di mana-mana di atas hamparan salju. Tenaga kasar Golok Karat sangatlah besar. Bagaikan jagal ia membabat ke sana kemari membuat hamparan salju putih menjadi merah. Begitu besar tenaga kasarnya, sehingga bahkan ketika tertangkis pun maka penyamun terbang itu bisa terpental ke angkasa lagi, dan jatuh terjerembab dengan peralatan terbang yang rusak. Akulah yang akan menyambut mereka yang jatuh dengan ayunan dahan siong yang kupegang dua tangan, agar ketika mengenai kepala mereka yang berada di bawah dalam kejatuhannya dan mengakibatkan kematian, tiada akan menimbulkan keheranan.

Para penyamun ini rupanya sudah sangat menguasai peralatan terbang mereka, sama seperti seekor burung yang memiliki sayapnya. Papan luncur mereka bagaikan menyatu sebagai bagian telapak kakinya, dan mereka mampu berselancar di udara bagaikan hatinya mampu mengendalikan segala arah gerak mereka. Setiap kali serangannya gagal, para peselancar angin ini bisa berbalik lagi seperti papan luncurnya itu berada di atas puncak ombak, untuk kembali meluncur dan menyerang. Demikianlah kami membabat dan membabat, darah terus menciprat, dan sesekali sempat pula diriku tersambar dan terbawa ke udara, dengan maksud dilemparkan dari udara, tetapi segera kulicinkan kulit tanganku dengan ilmu belut, supaya pegangannya seperti terlepas tanpa sengaja dan aku melayang jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi.

Namun para penyamun terbang ini tidaklah terus menerus menghantarkan nyawa. Setelah saling memberi tanda, sekitar tiga puluh orang yang masih hidup dari limapuluh penyamun hanya terbang berputar-putar tanpa menyerang, sebelum turun mengepung kami. Aku dan Golok Karat berdiri dengan beradu punggung ketika mereka semua akhirnya mendarat, melingkari kami, dan maju perlahan-lahan.

GOLOK berkarat yang dipegang Golok Karat itu tampak menghitam karena bersimbah darah, aku memegang tongkat pengembara dahan siong itu sewajar-wajarnya, agar tidak tampak seperti memiliki tenaga dalam. Maklumlah, biasanya ch'i itu mengalir sendiri sesuai dengan kebutuhannya, tetapi kali ini aku justru harus menahan-nahannya, termasuk pada saat bahaya mengancam dan sangat membutuhkannya.

Mereka tidak juga maju menyerang, padahal kami telah terkepung. Namun kedudukan kami yang berada di puncak, dalam terang matahari seperti ini, sebetulnya cukup bagus. Mengingatkan diriku kepada Sun Tzu:

di medan yang curam

jika kita lebih dulu mendudukinya dudukilah tempat yang tinggi letaknya banyak sinar mataharinya

dan nantikanlah kedatangan musuh; jika musuh lebih dahulu mendudukinya, janganlah kita kejar,

melainkan tinggalkan dan jauhilah dia

Jadi meskipun kedudukan kami terkepung, memang benar kami sulit diserang, bahkan setiap penyerang seperti mengantarkan nyawa. Meskipun begitu kedudukan kami hanya bagus jika diserang. Begitulah kami tidak diserang dan kami juga tidak menyerang.

(Oo-dwkz-oO)