-->

Nagabumi Eps 193: Mahaguru Kupu- Kupu

Eps 193: Mahaguru  Kupu- Kupu

PENDENGARAN Elang Merah sungguh tajam. Kami berada di tepi sungai tiada jauh dari hutan cemara ketika matahari bersinar cerah. Angin berembus dari dalam hutan cemara itu dan bersama angin itulah agaknya Elang Merah telah menangkap gerakan seseorang yang melangkah dan melesat di dalam angin. Ini membuatku teringat kata-kata Zhuangzi:

di antara mereka

yang mencapai kebahagiaan orang seperti ini langka

meskipun ia bisa berjalan tanpa kaki

ia tetap harus tergantung kepada sesuatu sesuatu ini adalah angin

dan karena tergantung kepada angin kebahagiaannya serba tergantung

ADAPUN ingatan kepada Zhuangzi dengan filsafat kupu- kupunya membuatku teringat Pendekar Kupu-Kupu, dengan Jurus Impian Kupu-Kupu yang nyaris membunuhku jika tidak kukeluarkan Jurus Naga Kembar Tujuh waktu itu.

Seseorang yang berjalan di dalam angin itu tiba tanpa terlihat sosoknya, karena telah meleburkan tubuhnya ke dalam angin itu sendiri. Terdengar suatu suara di balik angin. Yan Zi dan Elang Merah serentak mencabut pedangnya karena meski belum terlihat kepekaan mereka merasakan datangnya bahaya!

Seolah datang dari balik angin berhamburanlah ratusan kupu-kupu, ribuan kupu-kupu, ratusanribu kupu-kupu beracun yang menyerang dengan cepat dan tajam ke arah kami, m irip seperti pemberitahuan datangnya Pendekar Kupu-Kupu dahulu, tetapi jelas digerakkan daya batin yang jauh lebih besar dan lebih matang. Kupu-kupu berwarna-warni yang sebetulnya indah itu sebenarnyalah merupakan bahaya yang besar, karena dalam tingkat ilmu yang digunakan untuk menyerang sekarang, cukup setitik dari serbuk racun yang dihamburkan sayap ratusanribu kupu-kupu yang kini te lah jadi selaksa itu sudah cukup untuk menerbangkan nyawa!

Selaksa kupu-kupu aneka warna berhamburan menyergap kami, tetapi bersama itu pula Yan Zi telah me lenting dengan Ilmu Pedang Mata Cahaya yang tidak kalah ajaibnya itu. Ia berguling-guling di udara dengan lingkaran cahaya pantulan pedang yang melindunginya, karena cahaya yang kemudian memadat terarah untuk membelah segala kupu-kupu itu tepat menjadi dua. Rupanya Yan Zi juga telah membaca Kitab Perbendaharaan Ilmu-ilmu Silat Ajaib dari Negeri Atap Langit yang tidak setiap perguruan memilikinya. Sementara itu dalam waktu yang sama Elang Merah pun telah berkelebat lebih cepat dari kilat, dan berada di atas semua kupu-kupu yang berhamburan itu, bahkan tanpa harus turun kembali dengan Ilmu Pedang Cakar Elang yang mengubah pedangnya menjadi selaksa dibasminya kupu-kupu itu dalam waktu s ingkat.

Namun tanpa ampun dari dalam angin kupu-kupu itu berhamburan, berhamburan, dan berhamburan lagi. Bahkan kemudian warna kupu-kupu itu tidak lagi berwarna-warni melainkan hanya hitam! Segalanya menjadi hitam mengerikan dengan bunyi desis sayap-sayap tipisnya yang kini hanya terasa sebagai desis ular senduk yang amat sangat berbisa! Yan Zi dan Elang Merah belum melepaskan jurus-jurusnya ilmu pedangnya. Sungai yang mengalir menghanyutkan ratusan ribu kupu-kupu warna-warni yang sudah terbelah dua. Jurus Kupu-Kupu Hitam ini tidak terdapat dalam Kitab Perbendaharaan Ilmu-ilmu Silat Ajaib dari Negeri Atap Langit, tetapi pernah kudengar diperbincangkan di sebuah kedai, bahwa kupu-kupu hitam itu, meskipun merupakan bayangan yang menipu, tetap saja beracun dan keberacunannya sungguh berlipat ganda dibanding kupu-kupu warna-warni.

Meskipun perbincangan kedai tiada bisa dijadikan pegangan, aku tidak mungkin berjudi dengan nyawa kami. Bagiku, jika kupu-kupu hitam hanya merupakan bayangan, berarti terdapat sesuatu yang lain, yang tentunya jauh lebih mengancam! Secepat pikiran aku masuk ke dalam angin dengan membuat tubuhku berputar seperti pusaran dalam kedudukan mendatar, begitu cepatnya sehingga dari tubuhku muncul udara panas yang segera berubah menjadi api, yang dengan begitu sembari menembus masuk ke dalam angin membakar segenap kupu-kupu hitam itu menjadi abu. Bahkan kemudian angin itu sendiri menyala dan nyaris membakar hutan cemara. Inilah Jurus Naga Mandi Api yang meskipun sudah pernah kucoba dalam latihan, baru kali ini kuterapkan menghadapi lawan dalam pertarungan.

Dengan Jurus Naga Mandi Api siapa pun yang berada di dalam lorong angin ini akan tewas tertambus menjadi arang. Namun lawan yang kuhadapi kali ini ternyata memang tingkat ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari lawan manapun yang pernah kuhadapi. Segala kupu-kupu sudah habis kuperabukan, tetapi bersama daya dorong angin yang sangat amat dahsyat melesatlah suatu serangan tangan kosong yang juga kupapak dengan tangan kosong, artinya yang menjadi merah karena kusalurkan ch'i yang menjadikannya sebagai Telapak Darah.

Sepintas kulihat wajah seorang tua gagah berambut putih dengan berewok yang juga serba putih, tetapi hanya itu yang sempat kuingat, karena setelah itu suatu ledakan dahsyat mementalkan kami masing-masing begitu jauhnya sampai saling takbisa melihat lagi. Aku terpental begitu jauh, sampai ke jurang yang bahkan takterlihat dari sungai itu. Tubuhku melayang jatuh ke bawah bagai takbisa dihentikan lagi, tetapi aku membentangkan tangan, dan menegakkan tubuh dengan kaki ke bawah, maka laju jatuhku pun berkurang kecepatannya, sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Untuk naik lagi kugerakkan kakiku dengan gerakan mendaki, tetapi dengan gerakan seperti ini sekali sebelah kaki melangkah aku melesat sepuluhribu kaki ke atas. Hanya dengan tiga kali gerakan kaki maka aku pun sudah muncul melampaui permukaan jurang.

KURANG dari sekejap, aku telah kembali ke sungai yang kelihatan dasarnya itu dengan kecepatan serangan, tetapi tidak kulihat lagi Yan Zi dan Elang Merah!

Apakah yang telah terjadi?

Sungai itu telah menghanyutkan seluruh kupu-kupu yang terbelah dua dan jatuh di atasnya, sementara di lapangan rumput yang tidak lagi hijau warnanya masih berserakan s isa- sisa sayap yang hitam maupun warna-warni, setelah hampir semuanya diterbangkan angin yang kencang.

Ke mana mereka?

"Dikau mencari kedua temanmu, wahai pendekar yang disebut tidak memiliki nama, tetapi menguasai jurus-jurus naga yang tiada duanya?"

Aku menoleh ke belakang. Kulihat lelaki tua gagah yang berewok dan kum isnya serba putih memenuhi wajah itu, yang rambutnya juga putih, tebal dan panjang, tetapi jubahnya hitam legam, sedang muncul ke atas hutan dari bawah sambil bersila. Ia berhenti di atas pucuk-pucuk cemara.

Aku tidak segera menjawab. Ia mengetahui perihal jurus- jurus naga. Padahal tidak set iap pendekar dalam dunia persilatan dapat mengenali, apalagi mempelajari dan menguasainya. Aku pun mendapatkannya tentu hanya karena ilmu silatku bersumber dari Sepasang Naga dari Celah Kledung, yang karena tingkat ilmu silatnya telah dim inta bergabung dengan Pahoman Sembilan Naga di Javadvipa sebagai naga kesepuluh, tetapi mereka menolaknya. Meskipun ilmu silat dari pasangan pendekar yang mengasuhku itu telah melebur ke dalam berbagai jurus yang kukembangkan sendiri, rupanya masih terbaca juga, terutama oleh mereka yang mengetahui keberadaannya, atau penguasaan ilmu silatnya memang berada pada tingkat naga itu sendiri! "Di mana mereka?"

Tentu saja dengan ilmu silat setinggi yang dimiliki Yan Zi Si Walet dan Elang Merah, aku tidak berharap sesuatu yang buruk telah terjadi dengan keduanya. Namun terbukti betapa dugaanku keliru.

"Mereka berada di belakangmu," kata orang tua gagah yang bersila sembari mengambang di udara itu.

Aku melihat ke belakang. Kedua perempuan pendekar itu tergeletak di atas tanah tanpa sadarkan diri dengan tangan, kaki, dan mulut terikat! Kedua pedang mereka tergeletak di sisunya masing-masing. Berarti orang tua gagah ini telah menyerang ketika mereka masih memegang pedangnya, dan itu berarti dalam suatu pertarungan terbuka yang adil, kecuali betapapun orang tua berambut putih sekali tetapi berjubah hitam legam itu telah menggunakan jurus yang mendekati sihir...

Apakah akan kuserang orang tua itu untuk membebaskan mereka berdua?

Barangkali dikau bisa membunuhku sekarang juga,i ujarnya seperti bisa membaca pikiranku, itetapi jika aku mati dikau tidak akan pernah bisa menyelamatkan kedua kekasihmu itu. Mantra yang mengikat mereka telah kukunci, dan hanya diriku seorang yang bisa membukanya.i

Kuperhatikan lagi kedua perempuan pendekar yang tergeletak tanpa daya itu. Mereka memang tidak terikat oleh tali, me lainkan oleh ular hitam legam yang tentunya sangat amat berbisa. Ular-ular yang membelit kaki, tangan, dan mulut kedua perempuan itu hidup, tetapi daya cengkeram maupun nalurinya berada di bawah pengaruh orang tua tersebut.

Namun mengapa ia menyebutkan keduanya sebagai dua kekasih? "Hahahahahahaha! Daku telah mengamati kalian se lama ini tanpa kalian ketahui! Perempuan berbaju putih itu memang mendua hatinya, jiwanya menantikan cintamu, tetapi tubuhnya menghendaki perempuan yang berbaju merah; sedangkan perempuan yang berbaju merah itu jiwanya sungguh ingin menerkam dirimu, tetapi tubuhnya bisa juga melayani perempuan berbaju putih; keduanya mencintaimu wahai pendekar yang mengaku takbernama dari Ka-ling, tetapi rupanya dikau menahan diri untuk tidak mengucapkan apapun yang berhubungan dengan cinta, bukan sekadar karena dikau tidak mengetahui siapa di antara kedua perempuan ini yang lebih dikau cintai, tetapi karena ada sesuatu dalam dirimu yang menghalangimu, dan itulah yang tidak dan memang tidak perlu kuketahui!"

Apa yang dikatakannya seperti mengungkapkan apa yang kupikirkan selama ini.

"Bapak yang Terhormat, siapakah kiranya dikau yang begitu perkasa, dan mengapa pula masih merasa perlu memperlakukan dua perempuan dengan cara seperti itu?"

"Hahahahahahaha! Tidak segala kupu-kupu itu mengingatkan dikau kepada sesuatu, wahai Pendekar Tanpa Nama dari Javadvipa?"

ITULAH yang kupikirkan juga sejak tadi. Aku telah membunuh Pendekar Kupu-kupu, dan aku juga telah membunuh seribu murid Perguruan Kupu-kupu yang menyerbuku dengan kecepatan cahaya itu.

"Diriku memang tidak berada di tempat saat itu, jika dikau sudah ingat kembali," katanya dengan yakin betapa aku memang sudah ingat kembali.

Aku tidak menjawab, memikirkan cara membebaskan Elang Merah dan Yan Zi, tetapi belum juga bisa memecahkannya. Aku tidak menyesal te lah melepaskan segenap daya sihir yang diwariskan kepadaku oleh Raja Pembantai dari Selatan, sebagai ganti pemahaman filsafat Nagarjuna, karena pengetahuan tentang sihir itu sendiri tidak akan hilang sampai aku mati. Makanya aku pun tahu, betapa mantra yang telah membuat ular-ular hitam legam itu dapat mengikat Yan Zi dan Elang Merah hanya dapat ditawar oleh mantra kunci pembuka, sehingga jika kupaksakan mengambil atau membunuh ular- ular itu, bukannya mereka akan lepas melainkan mencengkeram semakin erat, begitu rupa eratnya seperti lintah, bahkan masuk menembus kulit sambil merembeskan segenap bisa.

"Daku berada jauh dari sini, ketika angin yang berembus menyampaikan jeritan kematian murid-muridku yang dikau bantai sampai habis tuntas tanpa sisa. Daku memang berada di tempat yang jauh, dan meskipun segera kutinggalkan apa yang seharusnya kulakukan, segalanya sudah terlambat. Rumah perguruanku tinggal bangunan dan tanah yang kosong tempat angin lewat tanpa seorangpun menghayatinya lagi, menimbulkan kekosongan luar biasa yang tidak akan pernah bisa dikau bayangkan. Melihat umur dikau, kiranya dikau belum memiliki murid, jadi tidaklah dikau dapat rasakan bagaimana keadaanku saat itu, setelah membangunnya dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun..."

Kiranya inilah mahaguru Perguruan Kupu-kupu yang pernah juga kupikirkan itu. Namun apalah yang bisa kulakukan jika Pendekar Kupu-kupu yang merupakan murid utamanya memperkenalkan diri kepadaku, dengan cara membantai tujuh penyoren pedang yang sedang menyembahku agar diriku sudi menjadi guru? Cara kematiannya pun kukira setimpal dengan penghinaan yang dilakukannya untuk memancing pertarungan. Sedangkan seribu murid Perguruan Kupu-Kupu yang menyerangku dengan kecepatan cahaya dan bermacam- macam senjata itu, apalagikah yang bisa diharapkan dalam dunia persilatan jika seseorang sudah menyerang dengan jurus-jurus mematikan? Betapapun kepada mereka semua telah kuberikan kematian pada puncak kesempurnaan. Apalagikah yang sekarang diharapkan sang mahaguru Perguruan Kupu-Kupu, yang tentunya lebih dari mengerti tatacara dunia persilatan ini?

Adapun Yan Zi dan Elang Merah telah dijadikan sandera! Kedua perempuan pendekar itu kini telah sadar kembali dan tidak bisa berkutik. Hanya mata mereka menatapku, sementara ular-ular hitam legam itu, begitu merasakan terdapatnya gerakan, langsung mempererat belitannya pada kaki, tangan, maupun mulut itu. Meskipun ketabahan kedua perempuan pendekar itu kupercaya, betapapun melihat keadaan mereka yang seperti itu, diriku tidaklah tega! Apalagi mereka berdua setiap saat bisa dibunuh oleh sang mahaguru tua itu!

"Mahaguru Kupu-kupu, begitulah dunia persilatan di Negeri Atap Langit menyebutku karena Jurus Impian Kupu-Kupu yang sulit ditandingi itu," katanya lagi, "kini bahwa dirimu telah mengatasi jurus itu, tidak ada gunanya juga menantangmu bertarung hari ini, karena bahkan diriku yang sebetulnya telah mengundurkan diri dari dunia persilatan kiranya memang masih harus belajar lagi."

Ia masih mengambang di udara sambil bersila, menandakan tingkat ilmu silat yang sangat tinggi, tetapi dikatakannya betapa dirinya masih mau belajar kembali!

"Apakah yang Bapak inginkan dari sahaya agar kedua teman sahaya itu dapat Bapak bebaskan kembali?"

Mahaguru Kupu-kupu itu terkekeh-kekeh mendengar jawabanku.

"Daku tahu dikau akan mengatakan itu Pendekar Tanpa Nama! Meskipun dikau tampaknya telah membunuh ratusanribu orang tanpa perasaan, dikau tampak terlalu menyayangi kedua perempuan pendekar teman seperjalananmu ini. Bagaimana rasanya melakukan perjalanan ditemani dua perempuan cantik jelita seperti ini?" Aku tidak menjawab. Mahaguru Kupu-kupu tertawa terbahak-bahak.

"Dikau tidak berselibat bukan? Huahahahahahaha!"

Kiranya aku harus bersabar, mengingat Yan Zi dan Elang Merah yang kini dapat dibunuhnya setiap saat. Kuingat bagaimana Elang Merah yang telah menyerahkan hidupnya untuk mengikuti perjalananku, dan belum kulupakan pula betapa Angin Mendesau Berwajah Hijau telah menyerahkan Yan Zi Si Walet dalam pengawalanku. Tidaklah mungkin bagiku meninggalkan mereka berdua begitu saja dalam cengkeraman maut.

SEANDAINYA pun Mahaguru Kupu-kupu ini mampu kutempur sampai mati, mantra yang telah dirapalnya untuk mengunci ular-ular hitam legam yang menjerat kedua perempuan itu akan tetap hidup, tetapi kali ini tanpa mantra kunci pembukanya lagi, sehingga pasti akan tewas lah Yan Zi dan Elang Merah.

Dalam hati aku menghela napas panjang, apakah yang diinginkannya? Meskipun sekarang aku sangat ingin membunuhnya, betapapun kelanjutan hidup Yan Zi dan Elang Merah sekarang jauh lebih penting.

Setelah tawanya usai, wajah Mahaguru Kupu-kupu itu sekarang lebih bersungguh-sungguh.

''Pendekar Tanpa Nama, dengarkanlah baik-baik apa yang akan daku katakan ini, karena jiwa kedua perempuan pendekar ini sekarang tergangtung di tanganmu. Saat dikau membantai murid-muridku sebetulnya sedang berada di suatu tempat yang jauh dari sini dan disebut Shangri-La. Tujuanku pergi ke sana adalah merebut kembali Kitab I lmu Silat Kupu- kupu Hitam yang diwariskan guruku Mahaguru Kupu-kupu Hitam kepadaku, tetapi kemudian dicuri oleh adik seperguruanku, yang kemudian menghilang taktentu rimbanya. ''Sebetulnya ketika mewariskan kitab itu, guruku juga menyertakan Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum mempelajari K itab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam itu sendiri. Jika tidak, kitab itu tidak akan bisa dimengerti, dan jika dipaksakan juga, maka orang yang tetap mempelajarinya akan tersesat dalam berbagai jebakan dalam kitab tersebut, yang rupanya memang dibuat untuk menghadapi pencurian kitab-kitab ilmu silat yang semakin merajalela. Adik seperguruanku, yang sebetulnya juga adik kandungku sendiri, tidak mengetahui terdapatnya Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam tersebut, karena keberadaannya memang dirahasiakan.

''Daku baru sempat mempelajari bagian awal saja dari kitab tersebut, ketika adikku yang memang ingin segera menguasai dunia persilatan, tidak bisa menahan kehendak untuk segera mempelajarinya. Guruku pernah berkata bahwa adikku sebenarnya jauh lebih berbakat daripada diriku untuk menerima dan mengembangkan Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam, tetapi katanya pula terdapat masalah kematangan dalam diri adikku, yang membuat guruku merasa sebaiknya adikku itu mendapatkan Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam dariku saja, tentu setelah daku mempelajari dan menguasainya dari kedua kitab itu secara tuntas.

''Namun begitulah kejadiannya. Setelah menghilang sampai 30 tahun lamanya, terdengar lagi nama Mahaguru Kupu-kupu Hitam dari Shangri-la, padahal guruku itu sudah lama meninggal dunia. Setelah kupelajari dari berbagai cerita yang sampai ke telingaku, tidak sa lah lagi pastilah adikku itu, yang menggunakan nama guruku setelah mempelajari Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam tanpa kitab pengantar dan cara membacanya, yang membuatnya tersesat dalam pembelajaran, dan akhirnya merusak jiwanya. Disebutkan betapa dengan Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam ia membunuh orang semaunya, dengan cara sekejam-kejamnya, tidak peduli berasal dari golongan putih, golongan hitam, atau golongan merdeka. Kadang-kadang bahkan pasukan kerajaan pun tanpa sebab diserangnya begitu rupa sehingga menimbulkan kekacauan luar biasa.

''Untuk membersihkan nama guruku Mahaguru Kupu-kupu Hitam aku menuju Shangri-La, dan aku sudah hampir berhasil mendapatkan kitab itu tanpa harus menempurnya, ketika angin membawa kabar kematian murid-muridku, dan ketertegunan sejenak itu lebih dari cukup untuk membuat pintu rahasia tempat penyimpanan Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam itu tertutup kembali. Kini tempat itu tentu dijaga dengan ketat, dan kuragukan diriku akan dapat mencurinya kembali, kecuali jika dapat menempurnya dan menang. Persoalannya, aku ingin mendapatkan kembali kitab itu secara utuh. Sedangkan ketika ia sempat melihatku berkelebat menghilang, ia berteriak dan menyampaikan lewat angin, bahwa jika dilihatnya diriku kembali ke tempat itu lagi, kitab itu akan dihancurkannya menjadi abu agar bisa dikuasainya sendiri.

''Jadi dikaulah, Pendekar Tanpa Nama, yang harus mencurinya ke Shangri-La, sanggupkah? Jika tidak, kedua teman perempuanmu ini kubunuh di sini sekarang juga!''

(Oo-dwkz-oO)