Nagabumi Eps 191: Peti Mati yang Digantungkan

Eps 191: Peti Mati yang Digantungkan

"APA perlunya mereka digantung? Tidakkah cukup membunuhnya dan meninggalkannya pergi jika ia ingin menghindari orang-orang ini? Mengapa harus menggantungnya?" Yan Zi Si Walet bertanya-tanya.

Dapat kubayangkan bagaimana menggantung masing- masing dari sepuluh bhiksu itu merupakan pekerjaan tambahan. Namun kukira Harimau Perang me lakukannya karena bermaksud mengirim suatu pesan.

"Sepuluh bhiksu itu mungkin menyerangnya satu persatu, karena mencarinya ke dalam kelam secara tersebar, dan setiap kali berhasil membunuhnya ia menggantung mayatnya, mungkin untuk memperingatkan yang lain," ujar Elang Merah, "tetapi bukannya para bhiksu menjadi takut, melainkan justru maju karena yang dicari oleh masing-masingnya telah ditemukan."

Semula aku berpikir bahwa Elang Merah akan mengatakan para bhiksu bukannya mundur, melainkan maju untuk membalaskan dendam, tetapi rupanya sudah diterima sebagai kenyataan betapa seorang bhiksu tidak akan melakukan tindakan karena dendam. Maka Elang Merah menyebutkan, bahwa mayat-mayat para bhiksu yang tergantung bagi yang belum tewas dan menemukannya dimaknai sebagai jejak ke arah sang buronan. KUKIRA Harimau Perang pun tahu, para bhiksu tidak akan mundur menyaksikan mayat-mayat kawannya yang tergantung, melainkan terpancing maju ke suatu arah, bukan karena dendam membara, melainkan sekadar sebagai petunjuk.

Di sinilah justru dapat dikenali kecerdikan Harimau Perang yang mengesankan! Ia tidak bermaksud mengancam atau menakut-nakuti. Dari mayat ke mayat yang tergantung dari pohon yangliu yang satu ke pohon yangliu yang lain ia bermaksud menunjukkan arah, justru agar diikuti, padahal ia tentu sudah tidak berada di arah itu! Artinya para bhiksu Shaolin yang mengejarnya susul menyusul itu, bukanlah sasaran utama pesannya yang menyesatkan sebagai mayat- mayat yang tergantung, melainkan siapa pun yang telah berusaha membuntutinya, agar ia mengira berada di arah yang tertunjukkan oleh urutan sepuluh penggantungan tersebut. Ia telah pergi ke arah lain! Ke mana?

''Jika memang pergi ke Chang'an, kita bisa mendahuluinya,'' kata Yan Zi setelah kusampaikan pendapatku, ''tapi siapa sekarang yang bertanggung jawab atas tubuh Yang Mulia Kepala Bhiksu Penyangga Langit?''

Aku telah mengambil simpulan, tubuh Penyangga Langit dilenyapkan untuk menghilangkan jejak racun di tubuhnya, yang akan menunjukkan kemungkinan segala cara dan asal- usul pembunuhannya. Disebutkan bahwa kematiannya disebabkan oleh asap beracun dari hio yang dipegangnya ketika memimpin upacara, dan kejadian itu telah mengorbankan pula sejumlah bhiksu yang berdiri di dekatnya, setidaknya bhiksu-bhiksu baris terdepanlah yang bergelimpangan ketika melakukan pradhaksina. Namun Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit seorang yang tewas. Karena hio diambil dari gudang perbekalan alat-alat sembahyang, tentu hio berasap racun yang dipegangnya dise lundupkan dari luar, dan itu berarti terdapat kerja sama orang dalam, yang berarti juga terdapatnya suatu komplotan.

Setelah mendengar cerita Yan Zi, kedudukannya mungkin terbalik, bukannya terdapat komplotan yang bekerja secara rahasia, melainkan terdapat sejumlah bhiksu saja yang tidak menyetujui pembunuhan bersama itu. Setidaknya terdapat para bhiksu yang pendapatnya tidak diketahui atau tidak terlalu jelas atau cukup meragukan, dan karenanya harus dilenyapkan. Sepasang Cadas Kembar yang lugu mungkin berterus terang, dan itulah sebetulnya alasan mereka ditempatkan di luar, bukan karena berewoknya. Sedangkan sepuluh bhiksu yang ditugaskan memburu Harimau Perang adalah mereka yang kemungkinan diragukan ketegasannya untuk mendukung rencana Penjaga Langit.

Sepuluh bhiksu itu memang tinggi ilmu silatnya, yang tentu saja mendukung nyali yang mereka miliki untuk menghadapi barisan bhiksu di belakang Penjaga Langit, tetapi mereka terjebak oleh kesetiaan terhadap Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit. Tentu mereka segera berangkat tanpa berpikir dua kali ketika diperintahkan memburu pencuri tubuh tersebut, tidak tahu betapa tujuannya justru untuk melenyapkan diri mereka sendiri. Kubayangkan dengan ilmunya yang tinggi mereka menembus ke balik tabir dan memasuki dunia yang kelam, tetapi mereka belum paham betapa bisa licik dan curangnya ilmu-ilmu hitam dan itulah penyebab tumbangnya mereka satu persatu tanpa sempat mencabut senjata untuk menyerang dan memberikan perlawanan.

''Tubuh itu tidak akan dibawa tentunya,'' kataku, ''ia masih harus naik kuda ke Chang'an dengan segala urusannya.''

''Apakah itu berarti dibuangnya begitu saja ke dalam jurang?'' Elang Merah menatapku.

''Daku tidak bisa memastikan, benarkah kalian lihat ia membawa tubuh keluar perguruan?'' ''Itu pasti!'' Yan Zi yang menjawab sambil menghentakkan kaki, ''Menyesal juga daku, kenapa tidak sempat kita mencegatnya sebelum menghilang!''

''Kalian beruntung tidak terus mengejarnya,'' kataku, ''karena ilmu halimunan memang sangat membingungkan.''

''Jadi di manakah tubuh Penyangga Langit itu sekarang?'' Yan Zi bertanya-tanya sendiri.

Seperti dikatakan Angin Mendesau Berwajah Hijau kepadaku, ia belum pernah pergi keluar dari Kampung Jembatan Gantung lebih jauh daripada Perguruan Shaolin. Jadi jalan ini pun tentu belum diketahuinya. Sementara Elang Merah datang dari Tibet dan juga belum pernah ke Chang'an. Artinya ia juga belum pernah melalui jalan ini. Adapun tentang diriku, sejak awal perjalanan telah diperhitungkan akan dapat mengandalkan Harimau Perang untuk dibuntuti, sebagai tujuan perjalananku ini sendiri.

KINI terdapat dua pilihan, jika tidak tahu ke mana harus mencari Harimau Perang yang telah mencuri tubuh itu, kami kemungkinan akan menjumpainya lagi di Chang'an, yang menurut jaringan mata-mata para bhiksu di Thang-long, menjadi tujuan perjalanan rahasia Harimau Perang. Namun lantas bagaimanakah nasib tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit, yang jika diperiksa secara langsung mungkin saja memberikan beberapa petunjuk yang bisa mengungkap siapa pembunuhnya?

Saat itulah di ujung jalan di belakang kami muncul seorang lelaki tua dengan setumpuk ranting dan dahan kayu di punggungnya. Ia menuruni jalan setapak pada tebing di atas kami yang sangat curam dan sangat sempit bagaikan melangkah di jalan mendatar, padahal kecuramannya membuat ia nyaris menapak dengan tumit sahaja. Jika lelaki tua itu tidak berjalan dengan cara seperti itu di sana, kukira aku pun tidak akan pernah tahu apakah di sana ada jalan setapak, karena bagi mataku dinding itu sungguh hanya licin saja, licin dan hitam agak keabu-abuan dan hanya makhluk yang lahir dan hidup di gunung saja akan bisa menganggapnya sebagai jalan setapak. Sama seperti kambing-kambing gunung yang bisa lari dalam kecuraman dengan badan sejajar tebing itu sendiri. Manusia yang lahir dan hidup di gunung, tentunya bisa juga hidup sebagai makhluk gunung bukan?

"Permisi," katanya seperti tidak terjadi sesuatu yang luar biasa dengan caranya menuruni tebing, "bolehkah kiranya orang tua ini lewat?"

Masih di atas kuda, di jalan sesempit itu kami memang memenuhi jalanan, dan kami semua segera melompat turun, membiarkannya lewat dengan kayu bakar di punggungnya. Busananya bertambal-tambal dan sudah usang, bahkan alas kakinya yang disebut sepatu pun bertambal-tambal meski tampak kuat sekali. Ia tidak mengenakan fu tou di kepalanya, rambut putihnya digelung dan diikat di atas serta kumis dan janggutnya sudah putih. Sebagai orang tua, ia tampak tegap dan lincah.

Kami saling berpandangan dengan pengertian yang sama.

Di dekat tempat ini terdapat sebuah permukiman.

Lelaki tua itu tertegun melihat bhiksu tergantung dalam tiupan angin.

"Hah? Siapa yang tergantung ini?"

"Itu para bhiksu dari Perguruan Shaolin, apakah Bapak berasal dari sekitar ini?"

"Hah! Satu lagi?" Ia tidak langsung menjawab, "Beberapa hari yang lalu seseorang juga menyerahkan tubuh seorang bhiksu kepada kami, meminta kami menguburkannya sesuai adat di kampung kami."

Tentu kami saling berpandangan lagi. "Di mana?" "Kampung kami, Kampung Orang Bo yang tak seberapa jauh lagi," katanya.

"Orang Bo?" Yan Zi menyela, "Orang Bo yang menggantungkan peti mati di dinding tebing?"

"Ya, dia juga meminta agar tubuh bhiksu yang dibawanya diletakkan di dalam peti seperti Orang Bo dan digantungkan di tempat yang tertinggi."

Yan Zi mengangguk-angguk.

"Kami diutus Perguruan Shaolin untuk mencari tubuh itu Bapak, kami harus membawanya kembali," katanya, "bersediakah Bapak menunjukkan tempatnya?"

"Tapi tubuh bhiksu itu tabu untuk diambil kembali," jawab orang tua itu, "kami sudah mengadakan upacara untuk menguburkannya, dan mengambilnya kembali bisa dianggap menghina adat dan menimbulkan pertumpahan darah.'

Aku tidak mengerti arah perbincangan ini. Namun Yan Zi terus mendesak.

"Kami setidak-tidaknya harus memeriksa tubuh bhiksu itu, bahkan kami sebenarnya akan minta tolong untuk menyempurnakan tubuh yang tergantung ini bersama dengan sembilan tubuh lain sepanjang jalan ini. Bisakah?"

Orang tua itu memandang Yan Zi, lantas Elang Merah, lantas diriku. Ketika memandangku matanya naik turun dari atas ke bawah.

"Darimanakah asal Anak?"

Aku tentu sebaiknya memberi jawaban singkat, sesingkat- singkatnya.

"Dari Huang-tse, Bapak."

"Itu hanya suatu arah, Anak." "Mungkinkah K'oun-loun lebih jelas?" "Itu wilayah yang luas, Anak." "Bagaimana kalau Ho-ling?" "Ah! Ho-ling!"

SEBENARNYA dia juga akan tahu jika kusebut Ho-ling sebagai Ka-ling. Antara 766 dan 779 catatan Wangsa Tang menyebutkan setidak-tidaknya tiga kali utusan dari Ka-ling tiba di Negeri Atap Langit. Namun aku tidak mengetahui apakah itu berarti sebagai utusan Rakai Panangkaran yang berkuasa di Mataram dari 746 sampai 784, dan sekarang telah digantikan oleh Rakai Panunggalan.

''Kami orang-orang Bo memang terasing dan terpencil,'' kata orang tua itu, ''tapi bukan berarti kami tidak mengikuti perkembangan.''

Orang-orang Bo? Siapakah mereka? Dari perbincangan Yan Zi dengan orang tua itu setidaknya aku mengetahui terdapatnya adat mereka untuk menggantung peti mati di dinding-dinding tebing. Agaknya betapapun Harimau Perang masih menghormati Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit dan karena itu tidak sembarang membuang tubuhnya agar dimakan binatang buas. Jika Yan Zi bisa mendapat perkenan kepala adat mereka untuk membuka peti dan menengok tubuh Penyangga Langit, barangkali kami bisa mendapatkan sesuatu, yang juga akan memutuskan kami tetap mencari jejak Harimau Perang atau langsung menuju Chang'an.

''Ikutilah saja Bapak,'' kata orang tua itu, ''kampung kami hanyalah beberapa gunung lagi. Nanti Bapak minta mereka yang masih muda mengambil tubuh tergantung para bhiksu ini kemari.''

Kami saling berpandangan. Beberapa gunung lagi? Apakah tidak terlalu jauh bagi seorang tua seperti itu mencari kayu bakar sampai ke tempat ini? Ketika ia mulai melangkah, aku pun berkata. ''Naiklah kudaku saja Bapak, supaya lebih cepat.''

''Biarlah Bapak berjalan kaki saja, Anak, mudah-mudahan tidak akan terlalu menghambat.''

Lelaki tua yang memang tampak masih sigap itu segera berjalan dan kuda-kuda kami tanpa disuruh pun mengikutinya. Meskipun gunung-gunung batu te lah menjadi lebih hijau, lebih banyak dataran berumput, banyak pepohonan, dan hutan- hutan kecil, jalan sempit yang naik dan turun di tepi jurang nan curam masih juga tiada habisnya. Namun ternyata orang tua itu melangkah tidaklah se lambat tampaknya. Bagi kakek tua dari Kampung Orang Bo itu jalan mendaki, menurun, maupun mendatar sama saja, dengan kecepatan yang membuat kamilah yang justru menghambat perjalanannya. Berkali-kali ia tampak dengan penuh pengertian harus menanti di berbagai tikungan, seperti takut kami tersesat dalam perjalanan.

Bahkan juga di jalan mendatar, ketika kuda bisa dipacu laju, ia hanya tampak melangkah pelahan saja, agak terbungkuk karena beban kayu bakar di punggungnya, tetapi betapa tiada pernah kuda-kuda kami bisa menyusulnya. Kami saling berpandangan sekilas dan tahu bahwa tentu orang tua ini bukanlah sembarang orang tua dari sebuah kampung terasing yang menghabiskan sisa hidupnya dengan mencari kayu bakar. Apakah orang tua itu tertawa dalam hati? Sudah jelas ilmu meringankan tubuh yang dikuasainya sangat tinggi, karena dengan langkahnya yang pelan tetapi lebih cepat dari laju terpacu kuda kami, sebenarnya ia telah melangkah bagaikan tidak menginjak tanah sama sekali. Dalam dunia persilatan, memang sangat dimungkinkan seorang pendekar dari peringkat para suhu, muncul dari berbagai sudut yang tiada terduga. Betapapun, bagiku sudah bagus ia bersedia menunjukkan kampungnya untuk memeriksa tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit. Apabila kemudian kecepatan harus diturunkan karena jalan menyempit di tepi jurang curam, Yan Zi bercerita dengan ringkas tentang Orang-orang Bo, seperti yang pernah didengarnya ketika menjadi murid Perguruan Shaolin.

''Orang-orang Bo sebetulnya berasal dari wilayah Sichuan, dan hanya sampai ke daerah lautan kelabu gunung batu di wilayah Yunnan ini nyaris sama seperti yang lain, yakni sebagai pelarian yang dikejar-kejar untuk dimusnahkan hanya karena perbedaan. Dahulu kala para leluhurnya mendukung Wangsa Zhou Barat menggulingkan Wangsa Shang hampir 1800 tahun yang lalu.

MEREKA telah mengembara dan berpindah-pindah tempat di Negeri Atap Langit ini, sejak sekitar 1500 tahun lalu di wilayah Tiga Ngarai yang terkenal semasa pemerintahan Wangsa Zhou Masa Musim Semi dan Musim Gugur.

"Orang-orang Bo terutama berbeda dari suku lain dalam adat penguburan. Mereka menempatkan orang mati dalam peti mati kayu. Pada zaman purba cara seperti itu tersebar di seluruh barat lau Negeri Atap Langit yang memang takbertanah dan hanya bergunung batu, tetapi kini hanya dilakukan Orang-orang Bo saja yang rupa-rupanya memang memiliki alasannya sendiri. Peti mati yang digantungkan tinggi-tinggi dianggap mendatangkan tuah. Semakin tinggi peti mati itu semakin menguntungkan bagi yang mati. Adapun siapa pun yang peti matinya segera jatuh ke bawah dianggap lebih beruntung lagi.

"Orang-orang Bo, meskipun masih bisa ditemukan sekarang ini, sebetulnya makin lama sudah semakin sedikit, karena bagi mereka yang berminat hidup berdampingan dengan suku lain akan pindah dari kampungnya, bahkan melebur antara lain dengan cara berganti nama. Jumlah mereka telah semakin berkurang." Yan Zi bicara tanpa merasa harus memelankan suaranya, sehingga kurasa Orang Bo tua yang membawa kayu bakar itu mendengarnya.

"Itulah yang menjadi masalah dengan kekuasaan, Anak," katanya, "segala sesuatu yang tidak sesuai dengan se leranya mesti dihapuskan, seperti dunia ini menjadi miliknya sendiri saja."

Bagiku tidak menjadi aneh jika sejarah kekuasaan itu juga selalu berarti sejarah perlawanan terhadap kekuasaan itu, siapapun yang berkuasa dan apapun bentuk kekuasaannya. Bahkan juga jika kekuasaan itu begitu adil dan begitu berhasil memakmurkan penduduknya, karena betapapun perbedaan akan tetap ada. Dalam bentuknya yang purba perlawanan menjadi pemberontakan dan penindasan menjadi pembantaian. Meski berlangsung di kalangan beradab, menjadi biadab dalam tindakan bukanlah tabu dalam permainan kekuasaan. Apakah lagi yang bisa lebih mengerikan, jika pembunuhan hanyalah bagian dari suatu permainan, meskipun itu permainan kekuasaan?

Kuselusuri lagi mayat-mayat bergelimpangan dalam permainan kekuasaan itu. Para pengawal rahas ia istana yang dibunuh Harimau Perang, orang-orang kebiri termasuk yang terpotong-potong, pasukan kerajaan yang menyamar jadi penyamun, dan para anggota Golongan Murni yang melayang jatuh ke dalam jurang untuk ditelan gemuruh air terjun bergulung mengerikan. Bahkan para penyamun yang merupakan orang-orang tersingkir yang harus bersembunyi tujuh turunan, sebagai pihak yang kalah dalam pemberontakan. Tidakkah mereka semua hanyalah dikorbankan?

Benarkah begitu? Aku tahu betapa diriku bukanlah orang yang terlalu layak untuk mengerti masalah ini, betapapun dalam kebisuan perjalanan aku mencoba merenungkannya, dan teringat ujaran Nagarjuna dalam suratnya kepada Raja Gautamiputra :

janganlah berbuat dosa demi kepentingan brahmana, bhiksu, dewa, tamu, orangtua, anak, ratu, atau anakbuah karena takseorang pun akan berbagi hasil

dari neraka

ADA di manakah kami? Tempat-tempat tersembunyi seperti Kampung Jembatan Gantung maupun yang tidak terlalu disembunyikan, tetapi cukup terasing seperti Kampung Orang- orang Bo boleh diandaikan tidak terdapat dalam peta mana pun. Bahkan seluruh lautan kelabu gunung batu yang penuh dengan sarang penyamun, permukiman tersembunyi, serta jalan-jalan rahas ia, niscaya terhampar dalam gambar tanpa rincian apa pun jua.

Namun kucoba mengurutkan kembali jalan resmi pemerintah yang hanya satu jalur dari Thang-long sampai Celah Dinding Berlian, untuk bercabang menjadi dua belas dan kutempuh salah satu lorong yang dimasuki Harimau Perang, yang kembali muncul di jurusan menuju Perguruan Shaolin setelah melewati wilayah Seribu Air Terjun. Dengan catatan Kampung Jembatan Gantung dirahasiakan, maka percabangan memang terdapat setelah Perguruan Shaolin dan ternyata Harimau Perang menuju Kampung Orang-orang Bo untuk menyerahkan tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit agar dimasukkan dalam peti mati dan digantungkan setinggi-tingginya di dinding tebing.

Ini berarti kami berada di dekat Y uxi, tempat terdapat dua danau, yang tidak jauh lagi dari Kunm ing. Dari Kunm ing, meski sudah jelas, tetapi masih panjang jalan ke Chang'an. Masalahnya, selain Harimau Perang bisa menghilang dalam penyamaran, itu pun melalui jalan mana pun, tentu saja kami masih harus menentukan ke mana kami akan me langkah, hanya setelah memeriksa tubuh, tepatnya penyebab kematian Penyangga Langit.

Lelaki tua dengan kayu bakar di punggungnya itu ternyata berjalan sangat cepat, sehingga bahkan di tempat yang datar pun kuda-kuda kami takpernah bisa menyusulnya. Kami bertiga hanya bisa saling melirik tanpa kata-kata. Lelaki tua yang seolah-olah berjalan sangat lambat tetapi dalam kenyataanya cepat sekali itu seperti sedang mempermainkan kami, tetapi kami harus bertahan mengikutinya sampai Kampung Orang-orang Bo. Pemandangan sedikit berubah, tidak lagi begitu tandus dan kelabu, melainkan sudah semakin banyak pepohonan, bahkan hutan cemara, yang kami rayapi naik turun tanpa terlalu banyak lagi jurang.

Dengan langkahnya yang cepat, aku takterlalu sempat menikmati pemandangan. Namun aku merasa puisi Li Bai tentang Puncak Xianglu di Gunung Lu di Jiangx i Utara, yang pernah kubaca di Kuil Pengabdian Sejati, meski tentang tempat lain, seperti menggambarkannya juga:

matahari bersinar di Puncak Xianglu lantas mengendap kabut ungu

dari jauh kami saksikan air terjun seperti sungai yang tergantung di tengah angkasa

melayang tigaribu kaki sehingga daku ternganga tidakkah ini sungai semesta yang turun dari surga? Memang tampak air terjun semacam itu, di kejauhan dan mungkin bukan arah yang akan kami lewati, karena mendekati Kampung Orang-orang Bo, jalanan kembali menjadi amat sangat sempit, bahkan segala pemandangan menghilang karena setelah mendaki suatu bukit, begitu menurun kami segera ditelan celah dengan dinding batu menjulang di kiri dan kanan yang hanya cukup untuk satu penunggang kuda, itu pun berakhir di sebuah terowongan yang gelap. Justru karena terowongan ini tidak terlalu panjang, siapa pun belum akan sempat menyesuaikan matanya ketika keluar lagi. Sebagai jalan masuk satu-satunya ke Kampung Orang-orang Bo, pihak manapun yang berusaha masuk dan menyerbu, akan terlalu mudah dibantai di terowongan tersebut.

"Selamat datang di Kampung Orang-orang Bo!"

Lelaki tua itu berbalik menghadap kami yang terpaksa turun dari kuda ketika merayap ke atas untuk keluar dari terowongan. Di belakangnya, di balik batu-batu besar sudah siap sekitar dua puluh orang muda, lelaki maupun perempuan, yang membidikkan panah dengan busur silangnya masing- masing. Aku telah mengenal kedahsyatan busur-busur silang itu ketika terlibat berbagai pertempuran di Daerah Perlindungan An Nam.

JIKA panah yang dilepaskan busur biasa memang mampu menancap dalam-dalam di tempat yang tepat, maka panah yang dilepaskan busur silang takhanya akan menancap dalam- dalam melainkan juga mematahkan tulang. Penunggang kuda yang berlari menjauh bisa patah tulang punggungnya apabila panah yang menancapnya diluncurkan oleh busur silang dari belakang.

"Kakek! Darimana saja, Kakek? Seseorang telah mencuri tubuh bhiksu yang diserahkan kepada kita waktu itu!"

Tentu saja ucapan itu seperti membuat kepala kami meledak. Apakah Harimau Perang yang kami sangka sudah pergi jauh ternyata kembali, dan mencuri lagi tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit? Mungkinkah ternyata ia belum pergi ke mana pun dan membayangi kami sehingga didengarnya rencana kami untuk memeriksa tubuh bhiksu kepala itu?

Kami semua telah berada di luar terowongan, dan segera kulihat ratusan peti mati yang bergelantungan pada dinding tebing. Belum kulihat sesuatu yang tampak seperti pemukiman, yang menandakan tempat ratusan peti mati yang tergantung adalah bagian terluar dari Kampung Orang-orang Bo tersebut.

"Seseorang?"

Orang tua yang dipanggil Kakek itu bertanya dengan kening berkerut.

"Sebetulnya enam orang, Kek, tetapi yang lima orang berhasil kami bunuh."

"Bunuh?"

"Sebetulnya kami juga tidak ingin membunuhnya Kek, tetapi mereka ini sangat berbahaya, karena seperti bermaksud pula membunuh perempuan dan kanak-kanak. Mereka melesat dan melayang dari rumah ke rumah dengan cepat sekali. Kami harus membunuhnya sebelum mereka membacok bayi-bayi."

Kakek tua itu manggut-manggut sambil mengelus janggut putihnya. Ia segera memberi perintah agar kuda-kuda kami diurus, dan juga menugaskan sepuluh orang untuk mengambil tubuh-tubuh para bhiksu Shaolin yang masih tergantung di pohon-pohon itu.

(Oo-dwkz-oO)