-->

Nagabumi Eps 190: Rahasia Penjaga Langit

Eps 190: Rahasia Penjaga Langit

SARAPAN bersama ini tampaknya juga dimaksudkan sebagai acara perpisahan, tetapi sekaligus menguji kemampuan, bukan demi maksud menantang, melainkan kebiasaan dunia persilatan. Pertama, meskipun disebut makan bubur, mangkuk yang tiba di tanganku hanya berisi kuah beras yang cair tanpa sendok. Namun belum lagi aku membuka mulut, melesatlah sepasang sumpit dengan kecepatan kilat, langsung terarah ke jantungku!

''Ah, maaf! Kami lupa menyertakan sumpitnya!''

Terdengar teriakan bhiksu yang tadi membagi mangkuk. Tidak kuketahui kapan ia me lesatkan sumpit itu, yang berarti ilmu silatnya memang sangat tinggi, tetapi kedua sumpit ternyata bisa kutangkap juga.

''Terima kasih,'' kataku dengan tenang.

Namun ketika akan kugunakan, kutahu itulah uji kemampuan kedua, karena tak mungkin menggunakan sumpit bagi kuah yang cair. Maka kusalurkan ch'i kepada mangkuk yang kupegang, sehingga kuah itu mengeras, bukan hanya seperti bubur, tetapi lebih keras lagi seperti nasi!

''Wah, rupanya di Perguruan Shaolin bubur bisa dikembalikan jadi nasi,'' kataku sambil makan nasi yang agak lengket itu dengan sumpit, yang nyaris tidak ada rasanya sama sekali.

''Tapi nasi itu hambar bukan? Silakan ambil garamnya!'' ujar sang bhiksu pula.

Tanpa terlihat oleh mata orang awam dilemparkan segenggam garam ke arahku, yang segera semburat menyebar dengan kecepatan kilat. Tentulah ini tantangan untuk tidak membiarkan sebutir pun garam terbuang percuma. Maka aku pun melesat lebih cepat dari kilat, setelah menelan nasi yang tersisa aku melompat untuk menyambut dan menampung setiap butir garam itu dengan mangkukku, langsung mengembalikannya ke atas baki yang dipegang sang bhiksu, lengkap dengan sumpit berjajar rapi di atasnya. Tak lupa kutotok pula jalan darahnya sehingga ia hanya bisa berdiri mematung saja. Dengan kecepatan begitu tinggi, tak seorang pun mengetahui urutan kejadian ini, tetapi mangkuk itu bagaikan tiba-tiba saja kembali ke baki.

"TERLALU banyak garam ini, jadinya terlalu as in nanti, lagipula buburnya sudah tidak ada lagi, jadi tolong diterima kembali mangkuknya," kataku.

Semua orang di bangsal itu terhenyak dan bergumam tertahan, Penjaga Langit menatap bhiksu yang masih kaku itu. Jika bhiksu itu sendiri maupun Penjaga Langit tak bisa melepaskan dirinya dari totokan, Perguruan Shaolin tentu akan mendapat malu dan peristiwa ini akan menjadi pembicaraan dari kedai ke kedai sebagai arang yang mencoreng di wajah. Pantaslah Penjaga Langit menjadi sangat tegang.

Namun keadaan itu tentu juga tidak kuinginkan. Maka kujentikkan sebutir garam yang sengaja masih kusisakan untuk membuka totokan jalan darah itu. Bhiksu itu pun bergerak kembali tanpa seorang pun menyadari betapa ia sempat berdiri kaku seperti arca.

"Sekali lagi terima kasih banyak," kataku.

Bhiksu itu, yang mungkin belum mengalami perlakuan seperti itu, seperti mau melakukan sesuatu, tetapi Penjaga Langit sempat kulihat mencegahnya. Memang lebih baik begitu, karena basa-basi uji kemampuan ini sering kudengar berkembang menjadi pertarungan yang menumpahkan darah.

"Yan Zi," ujar Penjaga Langit mengalihkan perhatian, "jadi bagaimana kabarnya dengan sahabatku Angin Mendesau Berwajah Hijau? Sudah lama ia tak pernah berkunjung kemari. Mau mencari ke tempatnya sama sekali tidak mungkin bukan?"

Saat itu kurasa aku mengerutkan keningku. Dalam pengalihan perhatian itu tanpa disadarinya Penjaga Langit secara tidak langsung telah membuka rahasianya sendiri. Sangat penting bagiku untuk menyadari, Angin Mendesau Berwajah Hijau tidak mempercayai Penjaga Langit sama sekali! Memang benar jalan masuk menuju Kampung Jembatan Gantung tidak dapat diberitahukan kepada sembarang orang, tetapi jika kepada seorang tokoh Perguruan Shaolin yang mengaku sebagai sahabat, bahkan perguruan itu bersedia menerima dan mendidik Yan Zi Si Walet sampai dua puluh tahun, pastilah terdapat bukan sembarang penyebab.

Aku menduga tentunya Penyangga Langit yang dulu telah memutuskan untuk menerima Yan Zi, dan mungkin saja justru Penjaga Langit tidak sepenuhnya setuju, bukan karena Yan Zi seorang perempuan, melainkan karena Yan Zi adalah anak Wu Zetian dari An Lushan, yang pemberontakannya masih menyebabkan kesengsaraan dalam kemiskinan sampai hari ini.

Selama Yan Zi berbasa basi aku terus berpikir-pikir, tidakkah para bhiksu ini, set idaknya Penjaga Langit sendiri, telah bersikap terlalu tenang dengan hilangnya tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit dengan cara seperti itu? Kuingat saat tubuh mereka masih mengambang saat tubuh itu menghilang. Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Dari sosok yang diceritakan Yan Zi dan Elang Merah, aku hampir yakin pencuri tubuh Penyangga Langit adalah Harimau Perang. Jadi perjalanan Harimau Perang sebetulnya memang sudah terencana arahnya, bahwa dalam perjalanan menuju Chang'an dia akan melewati Perguruan Shaolin. Betapapun, usaha pembunuhan Yang Mulia Bhiksu Kepala Pemangku Langit di Kuil Pengabdian Sejati bukannya tidak diketahui, tetapi sangat kuat dugaan merupakan bagian dari rencana Harimau Perang untuk menyamarkan perjalanan rahasianya.

Apakah yang menjadi tujuan Harimau Perang kali ini? Namun pertanyaan yang lebih mengganggu bagiku, betapapun tingginya ilmu halimunan demi kepentingan penyusupan yang dim iliki Harimau Perang, mungkinkah para bhiksu Shaolin pilihan, yang bahkan mampu sembahyang dengan tubuh mengambang, tidak akan memergoki pencurian di depan mata seperti itu? Setidak-tidaknya ilmu silat Penyangga Langit sendiri tentu begitu tingginya, terbukti aku pun tidak melihat kedatangannya ketika berhadapan dengan Cadas Kembar.

Sekarang aku mengerti kenapa pikiranku masih ruwet menjelang tidur semalam. Pikiranku tertutup oleh kepercayaan tanpa penalaran, menjadi kebenaran yang sulit dihapuskan. Bagai tidak ada gunanya telah kupelajari Nagasena maupun Nagarjuna.

Bukankah Nagasena yang berkata:

Bentuk, o Raja!

Tak dapat diuraikan oleh kiasan! Namun isinya bisa!

Sementara Nagarjuna berujar:

suatu akibat yang dibuat

oleh keadaan atau bukan-keadaan bukanlah bukti

karena ketidakhadiran akibat bagaimana mungkin

keadaan atau bukan-keadaan menjadi bukti?

Kedua pemikir itu berfilsafat tentang dunia sebagaimana manusia berusaha memberi makna, mengada dan menafsirkannya, di dalamnya. Kutahu mestinya memancing perbincangan yang jauh lebih rum it. Namun bagi kepentinganku sekarang, cukuplah aku melepaskan Shaolin dari Shaolin, melepaskan bhiksu dari bhiksu, dan sekaligus juga berarti melepaskan kebenaran dari kebenaran. Pertimbanganku tentang semua kejadian ini telah dibutakan oleh pemahamanku sendiri, seolah-olah aku mengetahui kebenaran. Padahal yang terjadi adalah diriku dipermainkan oleh kebenaran. Dengan menghapuskan ini, apa yang seharusnya memang mudah menjadi suatu kemudahan kembali. Jika Shaolin bukanlah Shaolin, bhiksu bukanlah bhiksu, dan kebenaran bukanlah kebenaran, aku bisa mempertimbangkan betapa Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit telah dibunuh dan tubuhnya dibawa pergi dengan sepengetahuan para bhiksu itu, termasuk Penjaga Langit yang merupakan tangan kanannya sendiri!

Bahkan Perguruan Shaolin, sebagai benteng keagamaan dalam dunia persilatan, tidak luput dari jaringan rahas ia kejahatan...

(Oo-dwkz-oO)

DARI Perguruan Shaolin kami berhasil mendapatkan seekor kuda bagi Elang Merah dan hari itu juga kami bertiga sudah melanjutkan perjalanan. Aku menatap dinding-dinding raksasa dengan air terjun gemuruh yang bintik-bintik airnya membiaskan cahaya pelangi. Di atasnya hutan lebat sampai ke kaki gunung batu berikutnya, tetapi daerah ini akan segera kami tinggalkan. Meskipun jalanan di sana-sini masih curam, dengan lambat tetapi pasti kami semakin mendekati peradaban, meski janganlah dahulu membayangkan betapa aku akan segera tiba di Chang'an.

Aku berpikir keras tentang segala peristiwa yang kualami, sayang sekali nyaris tanpa segala bukti. Namun jika bukti bisa menipu dan membawa kita ke arah yang keliru, kepekaan naluri dan ketajaman pikiran menjadi sangat penting dan berarti. Betapapun, tidakkah dunia ini masih menarik hanya karena masih ada rahasia yang menantang dibuka? Bagi manusia tampaknya bahkan tidak terlalu penting suatu rahasia itu akan menjadi terbuka atau tidak terbuka, karena yang penting adalah usaha tanpa akhir untuk berusaha membongkar rahasia itu, meski tiada jawaban yang akan bisa memuaskannya, seperti pertanyaan tentang kenapa dunia ini harus ada.

Namun ini bukanlah rahasia filsafat, melainkan permainan kerahasiaan dalam pertarungan kekuasaan di dunia persilatan, kenegaraan, maupun keagamaan. Jadi kurasa aku harus mampu membukanya, karena secara samar-samar kulihat jaringan halus yang menghubungkannya. Perkara dua bhiksu kepala di Kuil Pengabdian Sejati dan Perguruan Shaolin misalnya, jelas terhubungkan oleh perjalanan rahasia Harimau Perang ke Chang'an. Sementara perjalananku untuk membuntuti Harimau Perang itu sendiri, tanpa disengaja telah membongkar banyak keterangan tentang jaringan rahas ia di dalam istana, setidaknya seperti diperlihatkan jaringan orang- orang kebiri.

Mengingat jaringan orang kebiri ini berkait kelindan dan bersilang sengkarut di dalam istana Chang'an, yang juga menjadi tujuan Harimau Perang, jika keterangan jaringan mata-mata para bhiksu Kuil Pengabdian Sejati bukan keterangan palsu, maka tugas baruku untuk mengawal Yan Zi menyusup ke istana Chang'an guna mengambil kembali Pedang Mata Cahaya untuk tangan kiri, kuharap bukan menjauhkan tetapi justru mendekatkanku kepada kunci-kunci pemecahan masalah yang selama ini bagaikan serbagelap.

Penjaga Langit itu, kenapa Angin Mendesau Berwajah Hijau tdak mempercayainya untuk masuk ke Kampung Jembatan Gantung? Maka aku pun bertanya kepada Yan Zi seandainya ia tahu sesuatu tentang hal itu.

''GURU Angin Mendesau Berwajah Hijau sebetulnya tidak bersahabat dengan Penjaga Langit, melainkan dengan Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit. Kepada beliaulah Guru berbicara tentang diriku, dan sesungguhnyalah waktu itu Penjaga Langit pun belum mendapat namanya. Hanya setelah latihan keras dan ketabahan menerima ujian-ujian Perguruan Shaolin yang berat, selain penguasaannya atas segala sutra maka ia bisa menjadi orang kedua setelah Penyangga Langit di Perguruan Shaolin, dengan gelar Penjaga Langit. Seharusnya kedudukan orang kedua itu dipegang adik seperguruan Penyangga Langit, tetapi rupanya ia seorang bhiksu yang lebih suka mengembara, mula-mula mempelajari aliran Yogacara seperti diajarkan Dignaga, yang dianut sejumlah bhiksu di Nalanda, Jambhudvipa, lantas ia berlayar dari sana dan mendarat di Daerah Perlindungan An Nam, dan sampai sekarang takpernah kembali.

''Menurut Guru, Penjaga Langit se lalu khawatir adik seperguruan Penyangga Langit itu kembali, karena jika demikian yang terjadi, maka Perguruan Shaolin tidak akan dipimpin olehnya setelah Penyangga Langit meninggal, melainkan oleh adik seperguruannya yang katanya telah mendirikan Kuil Pengabdian Sejati di Daerah Perlindungan An Nam dan bergelar Pemangku Langit. Kini setelah Penyangga Langit terbunuh, tentu Penjaga Langit yang akan memimpin Perguruan Shaolin, sesuai dengan c ita-citanya. Penjaga Langit pada dasarnya bukan hanya ingin menjadi bhiksu kepala Perguruan Shaolin, tetapi memendam kehendak menjadi bhiksu kepala agung yang menguasai Kuil Shaolin di se luruh Negeri Atap Langit.

''Memang benar Penjaga Langit tinggi ilmu silatnya, karena jika tidak tak mungkinlah ia menjadi orang kedua sete lah Penyangga Langit di Perguruan Shaolin, tetapi Shaolin betapapun adalah tetap kuil keagamaan, tempat ukuran yang diterapkan bukan sekedar kekayaan pengetahuan tetapi justru kedalaman jiwa dalam penghayatan dan pencapaian pencerahannya. Dalam hal ini, meski sutra dan ilmu silat dikuasai Penjaga Langit, ia tidak mungkin mencapai tingkat kejiwaan yang tinggi jika tujuan hidupnya masih duniawi. Adapun yang dikhawatirkan, seperti pernah dibisikkan Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit kepada Angin Mendesau Berwajah Hijau, jika Perguruan Shaolin yang merupakan pusat pendalaman ilmu silat para bhiksu terpilih dari berbagai penjuru Negeri Atap Langit, berada di bawah pimpinan Penjaga Langit, maka justru akan diarahkan berdasarkan kepentingan pribadinya sendiri.

''Dalam hal Kampung Jembatan Gantung, sebagai tetangga terdekat yang tersembunyi begitu rapi, dan berpenduduk keturunan pemberontak yang keselamatannya belum terjamin sama sekali, Penyangga Langit telah mempunyai suatu firasat dengan Penjaga Langit ketika diriku semula ditolaknya belajar di Perguruan Shaolin karena bukan bhiksuni. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Penyangga Langit menerima permintaan Guru untuk melatihku I lmu Pedang Mata Cahaya yang rumit itu. Ia bahkan juga sangat tidak suka bahwa dalam kenyataannya hanya dirikulah yang akan menguasai ilmu pedang itu, karena memang hanya diriku yang memiliki Pedang Mata Cahaya, meski baru yang untuk tangan kanan.

''Penyangga Langit dengan sengaja tidak pernah bertanya kepada Guru Angin Mendesau Berwajah Hijau tentang letak Kampung Jembatan Gantung, karena jika dirinya tidak bertanya maka Penjaga Langit juga tidak dianggap perlu bertanya. Betapapun, dari Perguruan Shaolin inilah para bhiksu diminta membantu berbagai pertempuran di perbatasan, sehingga jika menyadari kampung itu menyembunyikan para pelarian dan keturunan pemberontak, sangat berbahaya jika rahasia persembunyiannya dibuka kepada sembarang orang. Penyangga Langit memiliki kebijakannya sendiri untuk membuka Perguruan Shaolin bagiku, tetapi Penjaga Langit sampai hari ini masih tidak bersedia membuka diri tentang apa yang dipikirkannya mengenai kebijakan itu.''

Setelah berjalan berhari-hari mencari jejak Harimau Perang aku semakin disadarkan betapa telah tertipunya diriku oleh penampilan para bhiksu, dengan jubah kuning, kepala gundul, dan dengung lebah dalam upacara mereka, maupun nama besar Shaolin yang sudah lama kudengar, takmasuk di akalku bahwa kekuasaan bukanlah daya tarik yang tabu bagi siapapun. Dengan cara dan bahasanya sendiri, para bhiksu juga memiliki kepentingan untuk ikut meramaikan permainan kekuasaan.

Pantaslah Penjaga Langit memberi kesan tidak mau dibantu, dan ingin agar urusan hilangnya tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit menjadi urusan mereka saja.

AKU telah mengira alangkah sabar dan tenangnya para bhiksu, sejak aku diberitahu tentang tewasnya bhiksu kepala itu, diserang Partai Pengemis, dan akhirnya bahkan tubuh bhiksu kepala itu hilang. Ternyata perkiraanku sangat mungkin keliru. Sekarang ini apa salahnya jika kuperkirakan, betapa ketenangan itu bersumber dari kenyataan bahwa pembunuhan dan pelenyapan tubuh bhiksu kepala dilakukan sepengetahuan Penjaga Langit itu sendiri?

"Itulah yang juga kupikirkan," ujar Elang Merah, "hanya tidak jelas mengapa tubuh itu harus dilenyapkan pula."

Elang Merah setuju bahwa sejauh bisa diketahui berdasarkan pemikiran Penjaga Langit, bisa diterima bahwa Penjaga Langit berusaha menyingkirkan Penyangga Langit, karena cita-citanya atas kekuasaan itu; tetapi masih belum jelas kenapa tubuhnya harus juga disingkirkan.

Elang Merah menegaskan, "Bahkan sangat mungkin orang- orang Partai Pengemis itu sebetulnya diundang oleh Penjaga Langit, dan tidak mendapat perlawanan karena Penjaga Langit telah memengaruhi hampir semua bhiksu Perguruan Shaolin!"

Aku masih ragu, apakah benar hampir semua, dan bukan hanya sebuah komplotan yang terlibat perebutan kekuasaan diam-diam ini?

"Cadas Kembar!" Elang Merah berteriak tiba-tiba. "Mereka tentu tidak termasuk ke dalam komplotan! Bukankah mereka katanya sedang dihukum ! Keduanya tampak seperti orang jujur!"

"Ya, mereka orang jujur," kataku pula.

"Mereka sengaja ditugaskan berjaga di luar dan rencananya dikorbankan jika barisan penyusup dari Partai Pengemis itu tiba, tetapi kita telah datang tanpa diduga dan mengacaukan rencana," Elang Merah terus berbicara, "memang mereka akhirnya tetap mati, tetapi tidak dibayangkan tentunya kehadiran kita saat itu, yang akhirnya mengorbankan ratusan pengemis juga. Pantas mereka tidak melakukan tindakan apa- apa ketika barisan itu tiba. Kedatangan kita dan kejadian selanjutnya terlalu cepat untuk membuat mereka mengubah rencana! Partai Pengemis itu terlalu mudah masuk ke sana!'

"Tidak banyak yang tahu," ujar Yan Zi menyambung, "Penyangga Langit menemukan Penjaga Langit sebagai bayi pengemis yang diletakkan di depan pintu Kuil Shaolin. Penyangga Langit masih sempat melihat sepasang pengemis yang meletakkannya berkelebat menghilang, ketika sebagai bhiksu muda Shaolin ia bertugas meronda kuil. Sedangkan pengemis yang bisa berkelebat seperti itu tentulah bukan pengemis sembarang pengemis, melainkan pengemis anggota Partai Pengemis. Kelakuan para pengemis itu sama saja, katanya mereka bergaul lebih buruk dari binatang, karena anaknya hampir selalu mereka buang. Meletakkan bayi di depan kuil tidak terlalu sering dilakukan, makanya Penyangga Langit berpikir betapa sepasang pengemis yang berkelebat itu masih memiliki harapan bagi anak mereka itu.

"Sejak kecil Penjaga Langit sudah diberitahu asal-usulnya, yang membuatnya di segala kesempatan berusaha mencari manusia jantan dan manusia betina yang perilakunya telah membuat dirinya ada di dunia dengan cara seperti itu. Tampaknya ia tidak pernah menemukan manusia jantan dan manusia betina yang dimaksudnya, barangkali mereka bahkan sudah mati bergelimpangan begitu saja, sebagai mayat-mayat terlantar yang dibakar. Namun pencariannya itu, sebagai bhiksu yang juga pernah mengalami masa-masa harus selalu mengemis untuk makanannya hari itu, membuatnya terhubungkan dengan Partai Pengemis, yang karena juga akhirnya mengetahui riwayat Penjaga Langit maka menganggap sang bhiksu sebagai bagian, bahkan keluarga, dari Partai Pengemis."

Dengan banyak keterangan tambahan. Memang yang semula kabur menjadi lebih jelas. Namun bukti tentu tetap diperlukan demi kepastian. Peristiwa bunuh dirinya orang kebiri Si Musang di Kampung Jembatan Gantung bisa dipastikan hanya karena terdapatnya bukti, bahwa ia telah minum teh beracun seperti yang telah ditemukan dalam kantong bajunya, dan bahwa racun semacam itu hanya mungkin didapat dari kalangan istana.

Aku dan Yan Zi saling memandang, kami berpikir tentang perkara yang sama rupanya, bahwa seperti yang terjadi dengan Si Musang, kami hanya bisa mendapat kemajuan dalam penyelidikan jika sempat memeriksa tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit yang lenyap tersebut. Namun setidak-tidaknya kami tidak mungkin menyangkutkan masalah ini dengan orang kebiri Si Musang, karena kami betapapun masih menyembunyikan kematian Si Musang dari pengetahuan Elang Merah.

NAMUN pemikiran Elang Merah ternyata tetap sejalan.

"Jika kita bisa menemukan sosok yang dikau sebutkan sebagai Harimau Perang itu lebih dulu dari sepuluh murid Perguruan Shaolin yang mereka kirim, wahai Pendekar Tanpa Nama, tentu kita bisa menyidik dengan lebih baik," katanya, "artinya jika tubuh bhiksu kepala itu masih dibawanya."

"Tapi kita sudah berjalan beberapa hari tanpa menemukan jejak apapun Elang Merah," kata Yan Zi, "apakah mungkin tubuh itu masih dibawanya terus?" Elang Merah tidak menjawab. Aku pun tidak. Kami kesal karena sempat bersikap betapa sebenarnya kejadian di Perguruan Shaolin itu bukan urusan kami, seperti terarahkan oleh pernyataan Penjaga Langit, bahwa masalah ini merupakan tanggungjawab mereka dan bukan kami. Bahkan aku pun sampai seperti melupakan, bahwa tujuan utama perjalananku sebetulnya adalah membuntuti Harimau Perang!

Aku jadi merasa amat bersalah kepada Amrita! Adakah ini disebabkan karena diriku melakukan perjalanan bersama dua perempuan, yang dalam kenyataannya memang bukan sembarang perempuan? Namun janganlah dahulu keliru dengan apa yang kumaksudkan sebagai bukan sembarang perempuan.

Sempat kuceritakan tentang sesuatu yang tidak kukenali pada diri Yan Zi Si Walet, dan itu secara samar baru kudapatkan jawabannya. Bukankah sudah kuceritakan pula betapa ketika Elang Merah masih menunggang kuda di belakang Yan Zi keduanya yang semula nyaris saling berbunuhan itu terlihat bercanda dengan akrab sambil berbisik-bisik takterdengar olehku? Bahwa dua perempuan yang bersahabat kalau berbicara tubuhnya bisa begitu berdekatan, sampai saling menempel, ketika berbisik-bisik seperti itu bukanlah pemandangan asing bagiku. Namun itu tidak berarti pandangan Yan Zi ketika Elang Merah berada di dekatku harus menjadi amat tajam seperti itu bukan?

Kuingat pula usapan tangan Elang Merah di punggung tanganku waktu itu, yang meski sekilas, tetapi karena dalam waktu bersamaan terhirup pula olehku harum tubuhnya yang meruap, memberikan makna yang sedikit banyak berarti. Mengingat bagaimana pisau terbang bergurat gambar naga indah pada kedua sisi yang menyambar dengan maksud membunuhku dulu itu, kuhela napas panjang menyadari perubahan kedudukan dalam dunia persilatan, dari lawan yang nyaris saling berbunuhan, menjadi sepasang kekasih takterpisahkan --tetapi meskipun kurasa diriku dan Elang Merah bukan sepasang kekasih, pandangan Yan Zi Si Walet jelas menunjukkan pandangan seseorang yang takut kehilangan miliknya!

Dalam perjalanan ini, setiap kali menemukan tempat bermalam, mereka berdua selalu tidur dalam satu selimut. Pengetahuanku tentang hubungan antarperempuan sangatlah kurang, jadi tentu saja bagiku semula kuanggap wajar jika dalam udara yang dingin itu keduanya saling berpelukan, bahkan juga bila terlihat begitu ketatnya bagai takbisa lagi dilepaskan. Dengan perjalanan mengarungi wilayah hutan dan masih saja kadang-kadang menyisir tepian jurang yang curam, dalam kelelahan waktu istirahat malam segala sesuatu tentang perilaku mereka tidaklah kuperhatikan. Namun suatu malam ketika mataku terbuka dan menghadap ke samping, hanya kulihat selimut itu bagaikan suatu gundukan yang bergerak- gerak.

Dari dalam selimut itulah kudengar suara-suara dari kedua perempuan pendekar tersebut. Suara-suara itu tidak membentuk kata, tetapi jelas meski bagiku agak aneh terdengar mesra. Kadang-kadang pula mereka saling menyebut nama. Pada malam sunyi seperti itu tentu saja terdengar jelas sekali. Aku baru mengerti bilamana kemudian kulihat busana mereka ternyata terserak di atas selimut.

Aku segera membalikkan tubuh dan me lanjutkan tidurku dan pada malam-malam berikutnya menjadi semakin terbiasa dengan suara-suara seperti itu, meski apabila kemudian bertemu pandangan mata Elang Merah masih kurasakan bahasa tatapan yang sama. Pada suatu malam bahkan terjadi, ketika suara-suara di balik selimut itu telah usai, dan tanpa sengaja aku di bawah selimut juga memiringkan tubuh dan membuka mata ke arah mereka, ternyata Elang Merah sedang menatapku. Yan Zi memeluknya dengan erat dari belakang dengan mata yang sudah tertutup. Lengan Yan Zi tampak terbuka merengkuh keluar selimut, sementara lengan Elang Merah yang juga terbuka tampak mendekapnya. Matanya menatapku dan aku pun menatapnya. Tanpa suara.

Mungkinkah tatapan mata dibahasakan? Apakah yang dikatakannya kepadaku dan kata-kata apakah kiranya yang dibacanya dalam tatapanku? Yan Zi sendiri, meski kemudian tampak mengeratkan pelukannya, tidak pernah membuka matanya. Hanya lengannya yang bergerak sebentar, seperti memberi isyarat minta dielus, dan memang Elang Merah, perempuan pendekar dari Tibet itu, lantas mengelus-elus lengan putih yang memeluknya, sambil terus menatapku.

CAHAYA bulan yang menembus kabut, memperlihatkan lengan putih kedua perempuan itu samar-samar bagaikan pualam, bahkan juga pundak kedua perempuan yang terbuka itu tampak dengan jelas, karena selimut hanya menutup mulai dari dada ke bawah. Memang baru kali ini kulihat lengan dan pundak keduanya dengan jelas, yang tampak lebih lemah gemulai seperti lengan penari daripada lengan seorang pendekar yang dengan pedangnya takterhitung lagi telah menamatkan riwayat berapa ratus orang.

Elang Merah masih sempat kulihat tersenyum, bukan kepadaku, tetapi atas keadaanku yang tidak punya pilihan lain selain membalikkan tubuh dan masih mencoba meneruskan tidur itu.

Perempuan dari Tibet itu, pikirku, mengapa tidak menolak Yan Zi padahal tampak menyambut tatapanku?

(Oo-dwkz-oO)

KE manakah mencari jejak Harimau Perang? Sejak dari Perguruan Shaolin arah yang kami ikuti adalah arah tempat Yan Zi dan Elang Merah telah melihat sosok yang kusimpulkan sebagai Harimau Perang itu menghilang ke balik kelam. Menurut Penjaga Langit waktu itu, sepuluh murid Shaolin terpilih yang mengejarnya ke arah yang lain, tentu akhirnya juga akan memburu jejaknya di dalam kelam. Waktu itu pun aku sebetulnya sudah heran, karena dengan dugaan betapa pencuri tubuh itu ilm u silatnya tinggi sekali, semestinyalah yang mengejar adalah Penjaga Langit sendiri.

Kiranya, seperti yang tidak kupahami dengan pertunjukan tubuh mengambang mereka, ternyata itu semua memang patut dicurigai, apalagi jika setelah sebelumnya memintaku berjaga-jaga, kemudian mengambil alihnya sebagai urusan Shaolin sendiri. Rupanya perhatiankulah yang dialihkan, agar tubuh Penyangga Langit bisa dibawa pergi, sementara para bhiksu itu jika bukan sudah menjadi komplotan, mungkin sudah ditipu, yang belum kuketahui bagaimana caranya.

Meski belum jelas bagaimana bisa dihubungkan, jejak pertama bagai memunculkan dirinya sendiri, tetapi betapa mengerikan!

Kuda Yan Zi yang berjalan paling depan mendadak berhenti. Di depannya, seorang bhiksu Shaolin tergantung pada pohon yangliu dengan tali perlengkapan busana silatnya sendiri. Rupanya satu dari sepuluh bhiksu yang telah diperintahkan Penjaga Langit untuk mengejar Harimau Perang itu. Dari bawah pun sudah terlihat dengan jelas, dadanya merekah merah oleh sayatan bersilang, yang tentunya berasal dari sabetan dua pedang menyilang dengan kecepatan setan. Sudah jelas Harimau Perang ilmu s ilatnya tinggi sekali. Bahkan bhiksu terpilih ini belum memegang senjata ruyungnya sama sekali. Memang tidak mudah mengejar seseorang dari ke balik kelam seseorang siap menyergap siapapun yang mengejarnya dan belum siap sama sekali.

Para bhiksu Shaolin itu agaknya masih terlalu lugu menghadapi ilmu halimunan yang digemari golongan hitam dan kaum penyusup seperti ini. Ketika kami melanjutkan perjalanan tanpa harus menurunkan mayat bhiksu itu, ternyata memang satu persatu kami jumpai mayat bhiksu Shaolin tergantung pada pohon yangliu. Tergantung dan bergoyang-goyang karena angin yang menderu dari celah- celah gunung batu, memperdengarkan suara bersiut-siut yang terasa pedih mengiringi nasib para bhiksu itu. Dada mereka semuanya tersayat sabetan pedang menyilang, merekah merah dan menetes-neteskan darah.

(Oo-dwkz-oO)