Nagabumi Eps 186: Siapa Membunuh Bhiksu Kepala?

Eps 186: Siapa Membunuh Bhiksu Kepala?

Senja semakin menggelap, tanpa harus bertarung dengan kecepatan tinggi pun segala sesuatunya telah menjadi sulit dilihat dengan tegas. Namun sembari berkelebat dalam Jurus Bayangan Cermin yang serbamemancing, dengan sendirinya telah kuserap jurus-jurus dasar Shaolin yang terlacak dari jurus-jurus yang dimainkan Cadas Kembar.

Pada tingkat gung fu yang dikuasa i Cadas Kembar lawanku ini, dalam kecepatan tinggi telah dikeluarkannya 360 jurus yang umum dikuasai pendekar Negeri Atap Langit seperti pernah kubaca di Kuil Pengabdian Sejati, sehingga yang belum kukenal tentulah merupakan jurus-jurus Shaolin. Setiap aliran di sungai telaga dunia persilatan mengembangkan jurus- jurusnya sendiri dan merahasiakannya, tetapi dengan Jurus Bayangan Cermin, tanpa harus berguru, jurus-jurus rahas ia macam apapun selama diterapkan untuk menghadapiku akan dapat kuserap sekaligus kuma inkan tanpa perlu latihan lagi. Delapanbelas Latihan yang diwariskan Ta Mo sebagai bagian dasar yang termainkan secara tidak langsung dalam serangan Cadas Kembar, mengalir ke dalam diriku seperti a ir dari talang bambu memasuki pasu.

JURUS Bayangan Cermin menyerap ilmu silat lawan bukan seperti meniru jurus-jurusnya, melainkan mencerap kunci- kuncinya, dan karena yang kukuasai adalah kunci-kuncinya itulah maka diriku dapat mengembangkannya, sampai ke bentuk jurus-jurusnya yang serbaterbalik, sehingga membingungkan lawan yang menghadapiku. Dari gerak dalam Delapan Belas Latihan warisan Ta Mo, kupilih Latihan Kelima, Angsa Liar Mengepakkan Sayap untuk kukembangkan dan kuputarbalikkan untuk menghadapi Cadas Kembar, karena watak cara latihan yang tenang dan justru mengistirahatkan tubuh ini meredam ch'i atau tenaga dalam, sehingga tidak akan mencelakakan Cadas Kembar.

"Hah?"

Terdengar nada terkejut Cadas Kembar, karena jika dikenalinya gerak dasar Angsa Liar Mengepakkan Sayap, tentu itu dikenalinya sebagai gerak latihan olah kesehatan, berbentuk perapatan tangan pada kaki untuk menarik tenaga dari ketiak, pundak rata seperti sayap angsa liar terbuka, sementara tumit naik turun bersama terbuka dan tertutupnya lengan. Jika gerak yang sama berkembang menjadi jurus serangan tanpa bisa ditangkisnya, wajarlah jika dianggapnya sangat mengejutkan.

Aku berkelebat dengan gerak angsa terbang berputar balik, seolah terbangnya mundur, tetapi dengan kecepatan yang melebihi pusaran angin puting beliung Cadas Kembar itu. Jurus yang dikuasa i Cadas Kembar, meski seluruhnya berlandaskan gung fu Shaolin murni, tertitik beratkan kepada Latihan Ketiga, Mendorong Gunung, yang terdiri dari empat gerakan, merenggangkan jarak antara kaki, mendorongkan telapak tangan ke depan, sehingga tenaga terpusatkan ke pusat telapak tangan dan chii tenggelam ke pusar. Tampaknya karena Cadas Kembar memang cenderung mengandalkan kekuatan tenaga daripada kelincahan gerakan. Padahal dalam perkembangan gung fu keduanya semakin terleburkan, seperti yang kulakukan. Setiap kali pertahanannya kutembus, aku hanya menyentuhnya. Pada punggung, dada, pinggang, bahu, lengan. Kadang bahkan memijitnya agak keras sampai Cadas Kembar berteriak keras-keras.

"Aaaaaahh!"

Seperti itu pula yang terjadi ketika gadanya terlepas, kusambar, dan bersama dengan itu kutotok beberapa bagian tubuhnya. Seperti saudara kembarnya, Cadas Kembar yang ini pun berdiri mematung seperti arca.

Yan Zi tertawa menutupi mulutnya.

"Hihihihihihi! Sekarang betul-betul mereka jadi Cadas Kembar, pantas ditaruh di samping kanan pintu gerbang!"

Namun tentu saja aku tidak setuju terhadap lawan terkalahkan dilakukan penghinaan seperti itu. Baik Elang Merah maupun diriku hanya menotok keduanya agar takbergerak-gerak hanya sepenanakan nasi lamanya.

Seperti muncul begitu saja dari balik kelam, tiba-tiba sudah muncul seorang bhiksu berjubah kuning yang langsung menjura.

"Tidak heran jika Yan Zi Si Walet berteman seperjalanan dengan para pendekar perkasa seperti Puan dan Tuan, tiada lagi yang lebih menggembirakan selain mempelajari ilmu-ilmu silat dari tempat yang jauh, dari Kerajaan Tibet maupun Suvarnadvipa, tempat segala pembelajar agama maupun persilatan dari Negeri Atap Langit juga telah menuntut ilmu. Siapakah kiranya yang bisa memainkan I lmu Pedang Cakar Elang dengan sempurna, selain Pendekar Elang Merah yang namanya telah dibawa angin dari lembah ke lembah sepanjang Negeri Atap Langit karena ilmu silatnya yang mengagumkan? Siapa pula yang tiada lain hanya bisa disebut hebat, jika segenap geraknya mampu menyerap segenap jurus yang dimiliki lawan, dan mengembalikannya dalam segala cara kebalikan berdasarkan kunci-kunci jurus lawan itu sendiri, meski mengaku bahkan tiada memiliki meski hanya sebuah nama? Sahaya mewakili para bhiksu Perguruan Shaolin mengucapkan selamat datang dan mohon maaf atas penyambutan yang tidak semestinya ini," katanya sepanjang ini sambil menjura lagi berkali-kali.

Meskipun penguasaan bahasaku sangat terbatas, kurasa kalimatnya yang panjang itu dapat kutangkap. Aku tertegun karena meskipun tampaknya merendahkan diri, ilmu silat bhiksu ini pasti tinggi sekali. Tidak sembarang manusia di muka bumi ini apat membaca terdapatnya Jurus Bayangan Cermin, lengkap dengan cara bekerja seperti yang telah dikatakannya. Aku pun segera menjura.

"Pengembara rendah dan hina yang tidak memiliki nama ini telah disanjung, tetapi semakin merasa rendah diri ketika mengetahui seseorang yang sangat tinggi ilmunya telah dapat membaca segenap gerakannya yang terlalu sederhana, sehingga ia tidak lagi memiliki jurus rahas ia yang bisa diandalkan melawan siapapun dalam peringkat seperti itu. Pengembara rendah dari wilayah yang di Negeri Atap Langit disebut sebagai K'oun-loun mohon maaf untuk menjadi semakin tidak tahu diri, dengan memohon agar diperkenankan serba sedikit mempelajari ilmu Shaolin supaya matanya yang selama ini buta agak sedikit bisa melihat secercah cahaya." DALAM keremangan, sebetulnya bhiksu itu tidak dapat kulihat dengan jelas, tetapi suara tertawanya memastikan betapa dirinya seorang yang ramah.

''Huahahahahahaha! Yan Zi! Bagaimana bisa kau dapatkan makhluk yang pandai bermain kata-kata seperti ini? Dengan jurus seperti itu tahukah dikau betapa setidak-tidaknya sepertiga gung fu Shaolin telah diserapnya?''

Yan Zi dan Elang Merah sepintas saling berpandangan.

Lantas ia kembali menjura, kini kepada kami semua.

''Perguruan Shaolin terbuka bagi semua pengembara yang membutuhkan sekadar air untuk m inum atau selembar tikar untuk tidur, maafkanlah sambutan kedua bhiksu yang memang sedang kami hukum untuk terus berjaga di luar itu, semoga sudilah kiranya Puan-puan dan Tuan memaklumi, betapa kami sedang berkabung dengan meninggalnya bhiksu kepala kami, karena seseorang telah membunuhnya secara licik dan kejam sekali, sehingga kini segala sesuatu dengan terpaksa kami curigai. Selain bhiksu kepala, beberapa bhiksu dengan jabatan penting di Perguruan Shaolin kini masih terbaring karena ikut menghisap dan terkena asap hio tersebut. Mohon maklum, silakan masuk, dan selamat datang!''

Dengan begitu upacara selesai. Kukira bahwa kami datang bersama Yan Zi sangat menjadi pertimbangannya, karena Yan Zi tidak akan membawa siapa pun yang tak bisa dipastikan dapat dipercayainya ke Perguruan Shaolin yang te lah bersedia mendidiknya dalam kerahasiaan pula. Ia memberi tanda agar kami mengikutinya, tetapi sebelum itu ia membungkuk dan mengambil kerikil dari tanah, untuk segera dijentikkannya masing-masing ke arah sepasang Cadas Kembar yang berdiri kaku seperti arca. Itulah cara sang bhiksu membebaskan keduanya dari totokan jalan darah.

Cadas Kembar pun langsung berlutut dan tangannya menjura. ''Maafkan Cadas Kembar yang bodoh ini, wahai Penjaga Langit, kami menantikan hukuman!''

Lantas mereka mengetuk-ngetukkan kepalanya ke bumi tiga kali. Bhiksu yang disebut Penjaga Langit itu menoleh pun tidak ketika melangkah ke gerbang sambil menjawab.

''Cukur saja berewok kalian,'' katanya, ''sampai licin tandas tanpa sisa!''

Cadas Kembar kembali mengetuk-ngetukkan kepalanya ke bumi.

''Terima kasih, Penjaga Langit! Terima kasih! Terima kasih!

Terima kasih!''

Sebelum mengikuti langkah Penjaga Langit, kukembalikan juga gada yang tadi kupegang, yang diterima Cadas Kembar dengan kepala tertunduk. Dalam hati aku merasa iba, dan mengerti artinya mengapa seorang pendekar memilih mati daripada hidup dalam kekalahan.

Pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya ketika Penjaga Langit yang melangkah naik tangga tiba di hadapannya. Dari balik pintu yang tebal dan berat itu rupanya terdapat cara untuk mengawasi apa pun yang terjadi di luarnya. Segera kulihat bhiksu-bhiksu remaja berkepala gundul yang menarik pintu itu beramai-ramai, dan segera kulihat betapa di balik tembok tinggi ini suatu kehidupan jiwa dapat diwujudkan.

(Oo-dwkz-oO)

LAUTAN lilin dan dengung para bhiksu yang berdoa mengingatkan diriku kepada Kuil Pengabdian Sejati, ketika bhiksu kepala yang diserang anggota Golongan Murni itu berpura-pura mati dalam yoga langit yang membuatnya dapat bernapas melalui pori-pori. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya saat itu? Kuraba rambutku yang mulai memenuhi kepala, dan juga segala bulu wajah yang mengubah wajahku sepenuhnya. Sebetulnya belum lama aku meninggalkan Kuil Pengabdian Sejati, bahkan tujuan keberangkatanku dari sana sama sekali belum tercapai, tetapi rasanya sudah begitu lama diriku berada dalam perjalanan. Mungkinkah karena banyaknya peristiwa yang kualami ketika menyeberangi perbatasan ini?

Ribuan lilin bergerak-gerak seperti menari, bagaikan makhluk hidup yang menanggapi puja para bhiksu yang membubung ke langit. Lilin tidak hanya menyala di balairung tempat bhiksu kepala yang terbunuh oleh hio racun itu disemayamkan, melainkan menyala di mana-mana. Jika di luar gelap telah turun sepenuhnya, di dalam ini tembok mengurung cahaya lilin, sehingga dunia yang remang menjadi serba kekuning-kuningan. Cahaya ribuan lilin yang bergerak- gerak serempak sesuai arah angin yang tiada pernah berhasil mematikan api, menjadi latar yang tidak bisa lebih sesuai lagi bagi para bhiksu yang berdoa bersama-sama. Dengung ratusan bhiksu memberikan gambaran perahu melayari lautan lilin dengan bhiksu kepala yang terbaring tenang di atasnya. Jubah para bhiksu yang kuning membiaskan cahaya lilin yang kuning, kekuningan jubah dan kekuningan lilin melebur menyatu dalam kekuningan yang remang, muram, dan tampaknya sungguh begitu rawan...

KUIL Shaolin ini adalah kuil perguruan, tempat para bhiksu dikirim dari berbagai Kuil Shaolin di seluruh Negeri Atap Langit, dan itu berarti bhiksu yang dikirim justru merupakan bhiksu pilihan yang tertinggi ilmu silatnya di antara bhiksu- bhiksu lain di sebuah Kuil Shaolin. Jika mereka semua berkumpul di Perguruan Shaolin ini, yang penghuninya merupakan para suhu ilmu s ilat Shaolin terhebat di bidangnya masing-masing, tidak terbayangkan nyali macam apa dan ketinggian ilmu silat seperti apa yang dibutuhkan untuk menembus kepekaan dan kewaspadaan tingkat tinggi para suhu ini.

Aku jadi mengerti, jika seorang penyusup mengira sete lah melumpuhkan penjaga gerbang seperti Cadas Kembar segalanya akan menjadi lebih mudah, artinya ia te lah terkecoh dan akan segera terperangkap, karena dugaan itu cenderung akan membuatnya gegabah. Mungkin ia akan terbang begitu saja melewati tembok dan begitu melayang turun sudah pasti penyusup itu tidak akan pernah keluar lagi.

Jika kini seseorang telah menyelundupkan hio beracun, tidak ada kemungkinan lain betapa seorang pembunuh berada di antara para bhiksu ini. Pantas lah di antara wajah-wajah muram dan kepala tertunduk itu, terkadang menyambar pandangan mata menusuk tajam penuh kecurigaan.

Kepada Penjaga Langit kuceritakan apa yang terjadi di Kuil Pengabdian Sejati, meski tidaklah kubuka rahasia bahwa bhiksu kepala di sana hanyalah berpura-pura saja mati, karena bagiku persamaan incaran korbannya barangkali mengungkapkan sesuatu.

Saat itu Penjaga Langit telah memerintahkan seorang bhiksu pengurus kuda membawa kuda kami, dan seorang bhiksu membawa Elang Merah dan Yan Zi ke tempat tersembunyi, karena meskipun Perguruan Shaolin melatih pula para bhiksuni, menerima perempuan awam dalam kuil tanpa alasan mendesak tidak dibenarkan. Elang Merah dan Yan Zi adalah perempuan pendekar, tetapi dalam keagamaan tentu keduanya dianggap awam.

Aku menceritakannya ketika Penjaga Langit sendiri akan menunjukkan sendiri bilik tempatku bisa beristirahat. Ia sangat terkejut.

''Maksud Anak, bhiksu kepala Kuil Pengabdian Sejati di Thang-long?''

Di luar tadi aku dipanggil Tuan, itulah sebutan menghormat tapi berjarak, dengan menyebut Anak, artinya kehadiranku diterima oleh Perguruan Shaolin yang berisi sekitar 500 bhiksu terpilih ini.

''Begitulah Bapak,'' kataku. ''Jadi Pemangku Langit sudah pergi,'' ia mendesis, seperti berbicara untuk dirinya sendiri.

Aku sendiri baru tahu sekarang nama bhiksu kepala Kuil Pengabdian Sejati adalah Pemangku Langit. Dengan keterbatasan bahasa Viet yang kukuasai saat itu, segala penjelasan tentang Kuil Pengabdian Sejati nyaris hanya kudapatkan dari Iblis Suci Peremuk Tulang. Jika ia tidak menyampaikan apa pun tentang sesuatu kepadaku, aku pun tidak akan mengetahui apa pun tentang sesuatu itu.

Api ribuan cahaya lilin bagai bersujud ke arah yang sama. Penjaga Langit kuduga berusia sekitar 50 tahun, dan tentu saja terlatih menahan perasaan. Namun dalam remang kekuningan kulihat matanya berkaca-kaca.

''Pemangku Langit mengajariku banyak hal,'' katanya, ''kami pernah berada di kuil yang sama, ketika belajar di Nalanda.''

Ah, jadi nama yang sejenis, Pemangku Langit dan Penjaga Langit, mungkinkah mewakili pembelajaran Mahayana dengan penafsiran tertentu, mengingat kuil yang sama itu? Sejauh kuingat dari berbagai percakapan yang kudengar sewaktu kecil, ketika sepasang pendekar yang mengasuhku berbincang dengan guru-guru agama, dalam Kitab Sang Hyang Kamahayanikan disebutkan nama Dignaga, yang mengembangkan pemikiran dalam aliran Yogacara, dan ajaran disebarkan juga di Nalanda, kuil pembelajaran Mahayana terkenal di Jambhudvipa, tepatnya di bagian wilayah Teluk Benggala. Setidaknya terdapat tiga garis ajaran Yogacara selain garis Dignaga, karena masih terdapat nama tokoh-tokoh lain seperti Agotra dan Dharmapala. Adapun Dharmapala, sepertiu juga nama Dharmakirti, bahkan pernah juga mengajar di Suvarnadvipa. Disebutkan, betapa Silabadhra dan muridnya, Hiuen Tsang, juga menuntut ilmu di Nalanda.

Namun bukanlah karena masuk akalnya Penjaga Langit bertemu Pemangku Langit di Nalanda yang menjadi tujuan pertimbanganku. Melainkan karena mungkin saja sesama sasaran pembunuhan ini mempelajari garis ajaran yang sama!

Apakah aku perlu menyampaikan kepadanya bahwa Pemangku Langit sebetulnya masih hidup? Namun kuingat kata-kata yang dibisikkan Pemangku Langit, bhiksu kepala Kuil Pengabdian Sejati itu, sementara korban yang jatuh di Perguruan Shaolin adalah juga bhiksu yang menjabat sebagai kepala kuil.

ADAKAH hubungan antara pembunuhan gelap bhiksu kepala pada kedua kuil ini? Meskipun saat itu tersidik bahwa pelaku pembunuhan berasal dari Golongan Murni, tetapi sebagian dari pesan yang dibisikkan Pemangku Langit adalah kecurigaan bahwa sebetulnya terdapat peranan orang dalam.

Akhir cerita di Kuil Pengabdian Sejati tidak kuketahui, karena aku harus segera meninggalkan kuil itu untuk mendahului rombongan Harimau Perang ke perbatasan. Kini seorang bhiksu kepala juga terbunuh. Peristiwa yang bermiripan seperti ini tidak mungkin tak mengundang siapa pun untuk menghubungkannya.

"Golongan Murni itu ada di mana-mana sekarang," keluh Penjaga Langit sambil menggeleng-gelengkan kepala, "jumlah mereka tidak banyak, tetapi pikiran yang mereka sebarkan sangat berbahaya. Jika pesannya dituruti, Negeri Atap Langit akan terkucil dari pergaulan dunia. Ini sangat mengerikan, karena pikiran ini juga sudah merasuki kalangan istana. Jika maharaja sampai terpengaruh, pelabuhan dan perbatasan akan ditutup, sementara orang-orang asing mungkin saja akan dibunuh. Negeri Atap Langit akan hidup sebagai bangsa dengan kebudayaan yang kerdil."

Itulah memang yang pernah kudengar dari Amrita. Dengan pengaruh yang merasuk di kalangan istana, dan para pejabat dapat mengumpulkan biaya dari uang suap, akan sangat cukup untuk menyewa para pembunuh bayaran dari perkumpulan rahasia untuk melenyapkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Masalah menjadi lebih rum it, karena selain orang-orang bayaran yang tidak akan bergerak tanpa kepingan emas, ternyata lebih banyak lagi orang-orang sungai telaga yang melaksanakan permintaan menyusup dan membunuh dengan suka rela, karena setuju dengan gagasan Golongan Murni, bahwa bangsa mereka yang sempurna harus dilindungi kemurniannya dari racun kebodohan bangsa-bangsa lain di dunia.

"Pikiran mereka sungguh beracun," kata Penjaga Langit lagi, "jika tidak bisa disadarkan, justru mereka itulah yang harus dibasmi."

Angin yang bertiup pelahan mengubah arah tertunduknya api. Aku terkejut mendengar kata-kata itu, yang tidak seperti tampil dari seorang bhiksu. Tentu saja jalan untuk menjadi Bodhisattva bukanlah jalan yang mudah

Seorang Bodhisattva mencoba alihkan tiga jenis perasaan

menjadi rasa iba terhadap semua makhluk

perasaan direnungkan dengan hasil dua memupuk rasa iba mendalam

dan meningkatkan kepribadian melalui pengalihan

raga, dvesa, dan moha perenungan atas perasaan dimanfaatkan mencapai tujuan yang tertinggi dalam perjalanan seorang Bodhisattva

Saat itu seorang bhiksu muda mendekat, memberitahukan akan segera berlangsungnya upacara yang harus dipimpinnya.

"Tinggallah di sini sebentar, Anak, barangkali Anak bisa melihat sesuatu," ujarnya. Aku terkesiap, tidakkah segenap bhiksu di s ini memiliki ilm u silat yang sangat tinggi, begitu rupa sehingga penyusupan ke Perguruan Shaolin ini merupakan kemustahilan? Namun dengan begitu aku pun segera mengerti, Penjaga Langit tidak mempercayai siapa pun di dalam kuil! Memang benar hio yang asapnya beracun itu datang dari luar, tetapi bahwa yang beracun hanya terdapat di tangan bhiksu kepala, tentu bukanlah peristiwa kebetulan.

Ia lebih mempercayaiku sebagai orang yang tidak memiliki kepentingan sama sekali, tetapi yang baginya kebetulan menyaksikan peristiwa terbunuhnya Pemangku Langit.

AKU dapat mengerti jika Penjaga Langit berpikir begitu, karena sebagai bhiksu terpelajar dalam ilmu agama maupun sebagai suhu di Perguruan Shaolin yang pernah menuntut ilmu di Nalanda, tentu dipelajarinya pula Arthasastra yang menyatakan bahwa jaringan mata-mata melibatkan udhasita atau pendeta yang ingkar, tapasa atau pertapa suci, satri yang merupakan petugas rahasia itu sendiri, maupun rasada sang pemberi racun. Dalam diri seorang pembunuh bayaran yang disebut tikshna, semua itu bukan tak mungkin menjadi satu.

Tentang racun itu sendiri, yang berhubungan dengan asap, tak bisa lain selain kuingat bagian Arthasastra yang dalam hal peracunan menyatakan:

arang yang dibakar oleh petir atau nyala yang disebabkannya ditangkap dan diberi kayu

yang dibakar petir api ini

dengan sajian

yang dibuat ke dalamnya

di bawah Krttika atau Brharani dalam upacara penghormatan Rudra membakar bila ditujukan kepada musuh tanpa ada obatnya

Meskipun cara-cara pembunuhan rahasia itu berada di alam Hindu, sangat mudah mengalihkannya ke alam Mahayana bukan?

Penjaga Langit adalah wakil bhiksu kepala, sedangkan bhiksu kepala yang tewas itu disebut Penyangga Langit. Ilmu silat Penjaga Langit tentu lebih tinggi daripada yang telah kuduga, karena sejak kami tiba di luar tembok perguruan, segala sesuatu tidak lepas dari perhatiannya, padahal ia sedang memimpin doa bersama!

Ketika Penjaga Langit menghilang karena mendengar Cadas Kembar bicara keras, para bhiksu yang waspada tidak merasa perlu menjadi gempar dan tetap melanjutkan doa mereka yang mendengung seperti lebah itu, sementara Penjaga Langit dapat mengawasi pertarungan kami bahkan tanpa kuketahui. Kini Penjaga Langit sudah kembali berada di depan, tenggelam dalam dengungan gumam yang kudengar sebagai pengalihan tangisan, membuat nyala ribuan lilin terlihat suram.

Aku berada di barisan paling belakang, tenggelam dalam gelombang jubah kuning di bawah cahaya lilin yang bergerak- gerak pelan dengan kepala-kepala licin gundul di permukaannya. Siapa mengira para bhiksu yang tiada lain memang para pendeta Mahayana ini adalah juga para pendekar terpilih yang serbatinggi ilmu silatnya? Namun betapa di antara para bhiksu ini juga terdapat seorang pembunuh, dan aku terkesiap menyadari betapa mungkin saja bukan hanya seorang, melainkan beberapa pembunuh bersekongkol untuk menghabisi riwayat Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit!

Diriku sama sekali tidak bisa menyatu dalam perkabungan ini, karena tanggung jawab yang dengan begitu mendadak dibebankan telah membuat aku sibuk berpikir dan mengawasi. Pikiranku juga terpecah belah antara pemusatan perhatian kepada masalah Harimau Perang, masalah Yan Zi, Si Walet, dan kini masalah para pembunuh yang di balik keremangan Perguruan Shaolin.

Dalam keremangan diriku berpikir, jika berdasarkan kemiripan gelar Pemangku Langit dan Penjaga Langit, maka boleh kusimpulkan bahwa Penyangga Langit juga belajar di Nalanda, dan setidaknya mereka bertiga pernah berkenalan dengan garis ajaran Yogacara. Namun jika kuingat bagaimana Pemangku Langit mengembalikan jarum-jarum beracun yang diluncurkan penyusup anggota Golongan Murni itu, tentunya kebuddhaan mereka lebih memberi kepada pencapaian kejiwaan me lalui latihan raga, yang di Negeri Atap Langit dikenal sebagai Chan. Bagiku ini membingungkan, karena jika kebuddhaan dalam pendekatan Chan, dengan pengaruh Dao, percaya betapa pencerahan dapat tercapai melalui pengalaman langsung atas kenyataan ; maka aliran Yogacara menekankan pentingnya ketenangan dan penglihatan dalam dhyana sebagai jalan ke arah pencerahan itu, dan ini tentu saja sangat berbeda.

APAKAH mesti kusingkirkan unsur Nalanda di sini? Betapapun aku tidak memiliki bukti apapun bahwa ketiga bhiksu itu menganut garis ajaran Yogacara. Apakah usaha pembunuhan masing-masing tidak berhubungan sama sekali? Betapapun sangat mungkin ketiganya pernah belajar bersama di Nalanda. Mungkinkah justru urusan di luar agama yang menjadi sumber masalahnya?

(Oo-dwkz-oO)