Nagabumi Eps 185: Perguruan Shaolin

Eps 185: Perguruan Shaolin

DARI jauh terlihat Perguruan Shaolin itu bagaikan benteng yang kokoh. Tembok perguruan itu seperti tumbuh dari bebatuan yang mendukungnya sampai begitu menjulang. Gerbang raksasanya tertutup, dan bagaikan hanya tenaga seratus gajah saja yang mampu membuka dan menutupnya kembali. Di belakang benteng itu hanyalah gunung batu, tetapi dengan pepohonan yang tumbuh di sela bebatuan yang membuat Perguruan Shaolin itu menjadi tampak rimbun. Tidak seorangpun tampak di luar tembok. Tentu, para bhiksu maupun murid-murid perguruan itu sedang melakukan segala kegiatannya di balik tembok raksasa tersebut, yang barangkali dimaksudkan agar terlindungi dari segenap ketergodaan duniawi.

Jika sesekali kusebut istilah Kuil Shaolin dan lain kali Perguruan Shaolin, maka memang maksudnya tidaklah sama. Di Kuil Shaolin, berkumpul para bhiksu dan bhiksuni yang amat mahir bersilat, dan silat menjadi keistimewaan mereka, tetapi tidak lebih dari itu, karena betapapun tingginya ilmu silat yang dim iliki seorang bhiksu atau bhiksuni, pada awal dan akhirnya mereka adalah tetap bhiksu atau bhiksuni, bukan seorang pendekar. Adapun di Perguruan Shaolin, meski upacara keagamaan tidak pernah menjadi takpenting, ilmu silat menjadi tujuan berdirinya perguruan, karena ke sinilah para bhiksu dan bhiksuni yang berdasarkan bakatnya dikirim untuk mempelajari ilmu s ilat, dan setelah masa belajarnya usai ditempatkan di Kuil Shaolin.

DENGAN kata lain, Perguruan Shaolin adalah tempat ilmu silat dihimpun, diteliti, dan diuji, untuk kemudian diterapkan dan disebarkan, tetapi hanya di antara para bhiksu dan bhiksuni dari Kuil Shaolin. Namun karena di Perguruan Shaolin upacara keagamaan yang harus dijalani para bhiksu dan bhiksuni sama sekali tiada berkurang, maka sepintas lalu pembedaan ini tidak ada artinya. Sementara itu, meski sejak tadi disebutkan bhiksu dan bhiksuni, pada dasarnya kuil mereka terpisah dan hanya sedikit dari para bhiksuni yang mengerti ilmu silat; tetapi justru dari yang sedikit itulah terdapat para bhiksuni yang ilmu s ilatnya tidak terkalahkan.

Kuil para bhiksu dan bhiksuni terpisah, artinya para bhiksu takbisa memasuki kuil para bhiksuni dan sebaliknya, tetapi di Perguruan Shaolin kedua-duanya ada. Yan Zi dapat belajar ilmu silat di Perguruan Shaolin, padahal tidak saja Yan Zi bukan seorang bhiksuni, ia juga bukan seorang lelaki. Sudah kuceritakan betapa Yan Zi dapat diterima belajar di sana karena alasan tertentu. Lagipula, meskipun di Negeri Atap Langit perbedaan lelaki dan perempuan sangat ditegaskan dalam perilaku dan ungkapan kebudayaan, dalam dunia persilatan justru perbedaan itu tidak menjadi penghalang apapun untuk mencapai ilmu yang tinggi. Seperti yang telah kualami sendiri, bahkan ketika baru menjelajahi wilayah perbatasannya saja, perempuan-perempuan pendekar Negeri Atap Langit yang bersimpang jalan denganku ilmu silatnya luar biasa tinggi.

Setelah meninggalnya Ta Mo pada 557, ilmu silat atau gung fu Shaolin mulai berkembang menjadi seni pertarungan dengan cirinya sendiri. Iblis Suci Peremuk Tulang pernah bercerita kepadaku, bahwa sejak awal berdirinya Wangsa Tang pada 705, para bhiksu Kuil Shaolin dim inta ikut serta dalam berbagai pertempuran. Tugas ini dijalankan dengan sangat baik, sehingga mereka mendadak sontak menjadi tersohor karena kemampuan bertarungnya di seluruh Negeri Atap Langit.

Seorang bhiksu, Sze Hungpey, menemukan jurus Pukulan Pura-pura yang mengenalkan seni gerak tipu dalam gung fu Shaolin. Bentuk tipudaya penglihatan itu semakin mengangkat jurus-jurus Shaolin, membuatnya jadi yang paling menonjol di Negeri Atap Langit. Dengan segala cerita itu, tentu aku menjadi penasaran untuk melihat sendiri seperti apa kehidupan di dalam Kuil Shaolin, yang tampaknya juga sangat dimaklumi oleh Yan Zi.

"Mungkin kita juga bisa membeli kuda di sana," kata Yan

Zi.

Meskipun hidup dipandang sebagai perjalanan jiwa, para

bhiksu ini bukan tidak mengerti bagaimana memperlakukan raga, bahkan melalui gung fu yang menyehatkan dan membugarkan badanlah maka pencapaian kejiwaan diandaikan sebagai sesuatu yang pasti. Dengan kata lain, kehidupan duniawi bukanlah tabu bagi para bhiksu, termasuk beternak dan mengembangkan kuda, lantas menjualnya. Dengan kuil merangkap perguruan di tengah hutan seperti ini, tiada khalayak yang bisa mereka datangi untuk mengemis. Maka tentu saja mereka harus mampu menghidupi diri mereka sendiri, dengan berkebun dan beternak, meski memang ada kalanya datang juga kiriman perbekalan dari pemerintah, tetapi yang tidak bisa dipastikan kedatangannya karena tempat mereka yang sangat terpencil itu.

Kami sudah dua hari dalam perjalanan dan masih melalui banyak air terjun, besar maupun kecil, sampai Perguruan Shaolin itu semakin lama semakin dekat. Perjalanan menjadi lebih lambat, karena kuda putih Yan Zi ditunggangi dua orang, Yan Zi dan Elang Merah. 

Harus kuceritakan betapa segala peristiwa yang telah berlangsung, bahwa Elang Merah telah beberapa kali menyerangku dengan maksud membunuh, tetapi beberapa kali pula diriku telah memperpanjang masa hidupnya, telah membuat Elang Merah bertekad mengikuti jejakku ke mana pun aku melangkah.

"Hanya itulah tebusan terbaik atas semua kesalahan daku, wahai Tuan Pendekar, mulai saat ini daku akan mengabdikan sisa hidupku kepada Tuan Pendekar, mengikuti diri Tuan Pendekar ke mana pun kaki Tuan Pendekar pergi."

Aku tertegun ketika Elang Merah menyatakan hal itu. Jika ia menyerangku sama seperti Pendekar Kupu-Kupu atau dahulu Pendekar Cahaya Senja juga menyerangku, yakni serangan seperti yang berlaku dalam dunia sungai telaga, tempat pencapaian kesempurnaan diuji dengan pertaruhan kematian, maka sebetulnya serangan dengan tujuan membunuh itu bukanlah kebersalahan yang memerlukan penebusan. Namun masalah yang dibawa Elang Merah rupanya memang lebih dari itu.

PUAN Pendekar, itu bukanlah sesuatu yang Puan Pendekar harus lakukan kepada pengembara yang bahkan sekadar nama pun tidak memilikinya. Ikutilah jalan Puan Pendekar yang semula, jalan seorang pendekar yang dibutuhkan orang- orang tertindas. Mengikutiku adalah kesia-siaan belaka, karena daku hidup hanya untuk diriku sendiri sahaja," kataku. Kupikirkan betapa tugasku sendiri rasanya sudah begitu mustahil. Selain membongkar masalah kematian Amrita, yang membuatku harus membuntuti Harimau Perang sampai ke Negeri Atap Langit, kini ditambah kewajiban membantu dan melindungi Yan Zi ketika menyusup ke dalam istana Changian mengambil Pedang Mata Cahaya untuk tangan kiri. Harimau Perang melakukan perjalanan panjang juga karena panggilan istana, tetapi kukira urusan Harimau Perang dan Yan Zi Si Walet berbeda, masihkah harus ditambah dengan masalah Elang Merah pula?

"Hanya kematianlah kiranya yang dapat membuat daku tidak mengikuti dikau Tuan Pendekar, dikau harus membunuhku jika tidak ingin daku mengikuti dikau, dan jika dikau tetap tidak bersedia diriku mengikuti ke mana pun, daku tidak akan merasa terlalu bersa lah menyelesaikan riwayat hidupku sendiri."

Dengan kalimat seperti itu, Elang Merah mungkin saja hanya mencari jalan untuk mencapai tujuannya, tetapi aku dapat dibuatnya merasa terlalu angkuh jika tetap juga menolaknya. Lagipula, aku belum merasa diriku begitu layak menolak permintaan yang bagi seorang perempuan pendekar perkasa seperti Elang Merah adalah mengiba-iba. Jadi tiada jalan lain bagiku selain mengikuti kemauannya, meski barangkali ini memang siasatnya sahaja. Namun aku juga sebetulnya masih penasaran, benarkah Elang Merah muncul tiba-tiba seperti terjadi di jalan setapak di bawah atap tebing yang menjorok dan dilalui air terjun di atasnya itu, hanya karena bermaksud meminta kembali pisau terbang atau memang sedang gentayangan mencari lawan?

"Keduanya tidak," ujar Elang Merah, "aku sebenarnya ditugaskan Kerajaan Tibet untuk menemui ketiga orang kebiri itu, justru pada saat mereka bertemu, karena rahasia yang akan terungkap dari penggabungan ketiga potongan rahas ia itu disebut berhubungan dengan kepentingan Kerajaan Tibet." Elang Merah bercerita, bahwa ia memasuki Negeri Atap Langit dari Kerajaan Tibet yang juga disebut Tufan itu, dan mencari-cari ketiga orang kebiri di sepanjang wilayah yang berbatasan dengan Daerah Perlindungan An Nam, melalui Terusan Shu dan Terusan Do Khel, lantas dari sana ia menuju wilayah lautan kelabu gunung batu di perbatasan ini dengan mengikuti Sungai Nu yang berbatasan dengan wilayah orang- orang Pagan, menyusuri tempat-tempat yang paling terpencil dari Negeri Atap Langit, seperti Wull, Bingzhongluo, Gongshan, Fugong, Chenggan, Lushui, dan Liuku, sebelum berbelok ke Baoshan dan menyeberangi Celah Dinding Berlian, sehingga aku pun melihatnya bentrok dengan seorang pendekar yang dibunuhnya di udara saat itu.

"Dia bukan seorang pendekar," kisah Elang Merah, "melainkan petugas rahasia istana Chang'an yang ditugaskan mencari dan menyuap daku, agar rahasia yang kudapat nanti disampaikan kepada Kerajaan Tibet dengan isi yang menyesatkan. Jaringan mata-mata Negeri Atap Langit di Kerajaan Tibet agaknya telah mengendus tugasku tidak lama setelah perkara terdapatnya suatu rahasia yang terbagi di antara ketiga orang kebiri ini terlacak. Para petinggi istana yang sudah hampir putus asa dengan rahasia yang sulit dibongkar ini, mencoba dengan segala cara, melalui sumber apa pun, untuk berusaha mendapatkannya.

"Agaknya petugas rahasia yang ilmu silatnya sangat tinggi dan diambil dari pasukan pengawal rahas ia istana ini juga mendapat perintah, bahwa jika diriku tidak dapat disuap, maka ia harus membunuh daku. Tentu mereka berpikir, jika mereka gagal membongkar, maka siapapun juga tidak boleh mengetahuinya, karena memang belum dapat dipastikan jenis bahaya macam apa yang akan datang, jika rahasia ini terungkap ke pihak siapapun yang berkepentingan dengan runtuhnya Kemaharajaan Negeri Atap Langit. "Daku datang hanya dengan pengetahuan mengenai orang kebiri yang menjadi tukang kedai, yang kedainya disebut akan menjadi tempat pertemuan. Rupanya daku telah melewatinya, karena daku tidak menggunakan kuda dan juga tidak berjalan kaki, melainkan melayang di udara dengan ilmu meringankan tubuh Elang Melayang Tanpa Gerakan. Namun dengan kabut seperti itu, dan ketajaman mata yang tidak sebanding dengan ketajaman mata elang, rupanya aku telah me layang terlalu jauh, ketika petugas rahasia yang ternyata mampu melacak jejak di udara itu menyusulku.

MAKA setelah membunuhnya, pikiranku hanyalah terarah kepada kedai tersebut, tidak kupedulikan betapa seharusnya pisau terbang itu hanyalah dilemparkan untuk mematikan, karena jika tertangkap seperti dikau lakukan, sebetulnya terdapat jurus lanjutan yang akan membuat penangkap pisau terbang itu dapat dilumpuhkan. Demikianlah, karena masih terus melayang, diriku tersesat kian kemari, sembari masih harus melayani tantangan para pendekar yang setiap saat menyambar-nyambar tanpa sesumbar, maka kedai itu tidak dapat segera kutemukan. Apalagi kemudian memang tiada cara lain se lain berjalan kaki, menyusuri jalan sempit sepanjang dinding tebing yang berkelak-kelok itu, untuk mendapat kepastian tempat kedai mata-mata tersebut, karena disebutkan terletak pada satu-satunya jalan menuju Celah Dinding Berlian dari selatan.

"Barangkali dikau dapat menebaknya wahai Pendekar Tanpa Nama, ketika daku akhirnya sampai ke kedai itu, orang kebiri tukang kedai yang bernama sandi Si Cerpelai itu sudah hilang lenyap tidak tentu rimbanya. Adapun orang kebiri dari istana Chang'an yang disebut Si Tupai, ternyata bukan hanya sudah tiba dengan tubuh terpotong-potong, melainkan saat daku tiba sudah dibakarlah tubuhnya yang terpotong-potong itu, yang dibakar bersama delapan mayat lagi yang baru saja ditewaskan Pendekar Kupu-Kupu, juga bersama mayat Pendekar Kupu-kupu itu sendiri. Semua ini kudapatkan dari pengintaian atas perbincangan, karena sebagai anak buah Si Cerpelai daku yakin mereka tidak akan bercerita jika kutanya.

"Dari perbincangan mereka pula kudengar sepak terjang seorang pendekar yang jurus-jurusnya sama sekali tidak dikenal, bahkan seperti tidak mungkin dilihat sama sekali. Mereka selalu menyebutkannya sebagai orang as ing yang tidak jelas namanya. Lantas daku teringat tentang pisau terbangku, dan kupikir mungkin saja orang itu dirimu. Nah, sepak terjang semacam itu pula yang dapat kubaca dari jejak- jejak pertarungan di tempat dikau berhadapan dengan para pemanah pemerintah yang menyamar sebagai orang-orang biasa itu, dan daku tiada punya dugaan lain yang lebih baik selain bahwa mereka tentunya memburu seseorang yang sangat penting, sepenting orang kebiri seperti Si Musang yang sampai perlu dipotong lidahnya tetapi tidak dibunuh itu, karena mengetahui rahasia negara yang rupanya amat sangat penting.

"Siapa yang tidak akan kesal jika jejak sedekat ini ternyata kemudian hilang lenyap bagaikan menguap begitu saja? Maafkanlah daku telah menumpahkan kekesalan dengan langsung menyerangmu Tuan Pendekar Tanpa Nama. Pencarian tanpa kepastian telah membuat jiwaku lelah..."

Kupandang Elang Merah yang duduk di atas kuda di belakang Yan Zi. Dua perempuan yang sebelumnya nyaris saling berbunuhan ini kini lengket di atas satu kuda. Apakah yang bisa kuceritakan dari sini?

Yan Zi yang telah lama mendengar sepak terjang Elang Merah, karena meski tersembunyi Kampung Jembatan Gantung tidaklah terasing dari perkembangan di luarnya, semula memang tampaknya sangat membencinya karena perempuan pendekar dari T ibet itu menyerangku dengan jurus mematikan bagai tanpa alasan. Namun perkembangan peristiwa membuktikan, adalah Yan Zi jua yang menyentuhkan tendangan mautnya kepada anggota Golongan Murni itu, ketika melemparkan pisau terbang ke arah Elang Merah dari belakang.

Segenap cerita Elang Merah agaknya mengena di hati Yan Zi, dan ketika kami melanjutkan perjalanan, memang seperti tidak ada kemungkinan lain bahwa Elang Merah akan berada di punggung kuda yang sama dengan Yan Zi.

"Dikau bersamaku saja Elang Merah," katanya, "sampai kita mendapatkan kuda untukmu."

Sepanjang perjalanan kedua perempuan pendekar itu bercakap-cakap di atas kuda dengan akrab. Kuda tidak berlari karena jalanan semakin sempit menyelusuri tepian tebing, tetapi pemandangan semakin lama memang semakin indah, meski keduanya seperti hanya peduli kepada diri mereka sendiri. Dari belakang, bisa kulihat tangan Yan Zi bergerak ke belakang meraih tangan Elang Merah agar memeluknya, dan Elang Merah menurut saja, meski setiap kali ada kesempatan tampaknya ia selalu mencuri pandang atau melirikku.

Memandang Elang Merah membuatku berpikir, jika ia telah menyatakan bertekad untuk mengikuti diriku ke mana pun aku pergi, bagaimanakah caranya ia menjalankan tugas Kerajaan Tibet yang telah dibebankan kepadanya itu? Apakah ia dengan begitu telah melepaskan tugas membongkar rahasia yang disebutkan terbagi di antara ketiga orang kebiri? Sebegitu jauh, Elang Merah hanya tahu bahwa Si Tupai memang telah tewas terpotong-potong, tetapi ia belum mengetahui betapa Si Cerpelai yang menyamar sebagai tukang kedai juga sudah meninggalkan dunia ini, bahkan juga bahwa Si Musang membunuh dirinya dengan racun.

MESKIPUN Yan Zi kini tampak sangat menyukai Elang Merah, dengan saling menatap saja kami sudah saling mengerti, betapa pendekar dari T ibet itu sebaiknya tidak diberi tahu. Pengakuannya yang terus terang tentang tugas membongkar rahasia mungkin saja memang jujur, tetapi Yan Zi yang dibesarkan dalam kerahasiaan keturunan para pemberontak di Kampung Jembatan Gantung tentu juga mengerti, tiada rahas ia yang akan dibagi begitu saja tanpa mengharapkan suatu keuntungan di baliknya. Maka dalam hati aku pun menghela napas panjang, mengingat dunia persilatan yang begitu penuh dengan tuntutan kewaspadaan. Kuingat nasihat yang kubawa dari Yavabhumipala, bahwa hanya perlu titik lemah sebesar ujung jarum dan kelengahan sekejap untuk membuat nyawa kita terpisah dari badan.

Namun kedua perempuan pendekar itu berpelukan jika bermalam di gua dengan tirai air terjun di luarnya, dan kini mereka saling berbisik dan tertawa-tawa, tanpa kuketahui apa pun yang sedang dibicarakannya. Bahkan kadang-kadang mereka tertawa-tawa kecil sambil menutupi mulutnya, meski tidak juga terlalu menyembunyikan suara tawanya, tetapi sembari menoleh ke belakang melihat kepadaku dengan sekilas pula. Mereka berbicara dengan bahasa Negeri Atap Langit yang selain terdengar sangat lemah karena berbisik- bisik, juga diucapkan dengan luar biasa cepat, sedangkan kemampuanku dengan bahasa itu memang masih sangat terbatas, sehingga di kepalaku hilir mudik berbagai dugaan yang tidak dapat kupastikan.

Yan Zi meskipun sepintas lalu berwajah seperti gadis remaja sudah berumur 41 tahun, dan Elang Merah kuduga berusia 35 tahun. Apakah kiranya yang dibicarakan dua perempuan dengan usia seperti itu, sambil memandang lelaki 26 tahun seperti diriku sambil tertawa-tawa?

Aku berusaha untuk tidak memikirkannya.

(Oo-dwkz-oO)

PERGURUAN Shaolin itu akhirnya berada di hadapan mata. Hari telah senja dan kami telah berada di luar wilayah Seribu Air Terjun. Setelah dekat barulah menjadi jelas terdapatnya petak-petak perkebunan yang cukup luas di sekeliling tembok perguruan yang tampak kokoh tersebut. Disebut luas bukan karena lebarnya, melainkan karena sangat panjang mengikuti sisi tebing batu, antara lain karena memang hanya itulah tanah subur yang bisa diolah dan ditanami di situ.

Pintu gerbang kokoh yang seolah-olah hanya bisa digerakkan jika ditarik atau didorong seratus gajah itu memang luar biasa tinggi dan tampak berat. Di luarnya dua bhiksu tinggi besar berjubah kuning yang gundul dan berewokan tampak berjaga dengan penggada di tangannya. Mereka tidak duduk, tidak berdiri dengan diam seperti arca penjaga, dan tentu tidak pula tidur-tiduran dengan mata terpejam, melainkan terus berjalan saling bersilang di depan gerbang tanpa henti-hentinya seperti kera di dalam kurungan.

Di jalan setapak yang menurun ke arah Perguruan Shaolin itu Yan Zi tertegun.

''Ini tidak seperti biasanya,'' ujar Yan Zi, ''tapi sebaiknya kita tenang saja, karena sudah kukenal mereka semua.''

Kedua bhiksu yang mondar-mandir saling bersilang itu langsung berhenti ketika Yan Zi muncul di atas kuda yang ditungganginya berdua dengan Elang Merah, dan mereka tampak semakin waspada melihat diriku yang menunggang kuda Uighur di belakangnya.

''Yan Zi Si Walet!'' ujar salah satu bhiksu yang tiada bisa kubedakan itu, yang ternyata memang kembar adanya, ''lama sekali dikau tiada pernah muncul, sekarang tiba-tiba datang dengan orang-orang asing! Darima na mereka?''

''Cadas Kembar! Janganlah memandang kami dengan curiga! Daku datang bersama para sahabat yang datang dari jauh hanya untuk berkenalan dengan para bhiksu Perguruan Shaolin dan mempelajari gung fu Shaolin yang terkenal di seluruh dunia.''

Dengan memuji-muji seperti itu, tampaknya Yan Zi ingin jalan masuknya dipermudah, tetapi meskipun sepasang bhiksu Cadas Kembar itu memang mengenali Yan Zi, mereka merasa lebih baik curiga kepada siapa pun yang tidak mereka kenali dengan pasti.

''Hmmh! Bisa kukenali perempuan berwajah Tubo yang bersamamu itu,i ujar salah seorang dari Cadas Kembar, itetapi siapakah anak muda di atas kuda Uighur itu?''

Tampaknya Yan Zi memang terus mencari akal, bukan hanya agar kami diperbolehkan masuk ke dalam, tetapi juga agar dapat membeli kuda bagi Elang Merah yang sangat kami butuhkan.

Cadas Kembar! Apakah kalian belum pernah mendengar nama perempuan pendekar Elang Merah dari Tibet , yang sejak dulu sampai sekarang belum terkalahkan oleh pendekar Negeri Atap Langit mana pun? Adapun sahabatku yang muda itu tiada bernama, tetapi semenjak datang jauh-jauh dari wilayah Kioun-loun telah mendapatkan gelar Pendekar Tanpa Nama karena ketinggian ilmunya."

"Hmm, Yan Zi, sejak kapan dikau belajar menggunakan bahasa murahan seperti itu? Apakah dikau lupa bahwa bahasa terbaik dalam dunia persilatan adalah penerapan jurus-jurus itu sendiri? Jadi janganlah berkata ingin mengenal jurus-jurus Shaolin tanpa siap bertarung me lawan jurus-jurus Shaolin itu sendiri!"

Yan Zi tersenyum, karena tampaknya justru tantangan seperti itu yang diharapkannya agar pintu terbuka bagi kami. Si Walet t idak akan mengeluarkan kata-kata semacam itu, jika tidak diketahuinya apakah diriku dan Elang Merah bisa mengalahkan kedua bhiksu yang disebutnya Cadas Kembar tersebut. Namun tampaknya ia masih penasaran untuk mengetahui, apakah kiranya yang telah membuat Cadas Kembar mondar-mandir saling bersilang tanpa henti-hentinya di depan gerbang perguruan. "Tidak biasanya gerbang seberat itu harus dijaga," bisiknya, ilebih baik kita mengetahuinya dahulu sebelum masuk ke dalam sana ."

Maka ia pun melompat turun dari kuda, sementara Elang Merah dan diriku mengikutinya pula.

"Jadi katakanlah wahai Cadas Kembar, sebelum kalian bersenang-senang dengan kedua sahabatku ini, mengapa kalian harus menjaga pintu gerbang perguruan silat yang paling diakui di Negeri Atap Langit ini?"

Salah seorang Cadas Kembar itu menjawab dengan wajah yang tiba-tiba sedih.

"Justru itulah sebabnya kami berjaga di sini, bhiksu kepala telah dibunuh ketika sedang memimpin sembahyang bersama kemarin," jawabnya, yang tentu saja membuat kami terkejut, mengingat betapa besar nama Shaolin dari negeri ke negeri.

"Hio yang dipegangnya ternyata beracun," sambung Cadas Kembar yang lain, iasapnya menyebarkan bebauan yang sama, tetapi itulah racun yang terhisap masuk ke dalam paru- paru. Bhiksu tabib kami tidak dapat mengenali jenis racun tersebut, jadi datangnya pasti dari luar wilayah Negeri Atap Langit."

"Karena kami berada di wilayah perbatasan, jadi kami harus meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap segala sesuatu yang datang dari luar perbatasan," Cadas Kembar yang lain menyambung pula, imeskipun pembunuhan ini bisa saja dilakukan melalui tangan orang dalam."

Aku tahu, mereka semua tidak terbiasa dengan ketegangan. Berpuluh-puluh tahun hidup tenang di tempat terpencil, dengan samadi yang bagaikan tidak mungkin mengalami gangguan, tiba-tiba saja berlangsung pembunuhan. Memang dapat dikatakan gung fu para bhiksu Shaolin setinggi langit, tetapi belum tentu berarti dapat mengatasi seluk beluk tipu daya kejahatan golongan hitam. Lantas tiba-tiba mereka berdua mengangkat gadanya. "Ayolah perkenalan ini kita lakukan sekarang, agar kami

berdua pun bisa belajar bagaimana anak muda yang dikau sebut datang dari Kioun-loun ini memainkan gung fu," kata salah seorang, itapi ingat, hanya jika kami kalah maka anak muda yang juga dikau sebut takbernama ini boleh memasuki kuil."

Memang inilah Perguruan Shaolin, tempat para bhiksu terpilih dilatih gung fu, tetapi memang juga benar bahwa di tempat ini pula berlangsung segala kegiatan seperti di sebuah kuil.

"Nah, bagaimana dengan Puan Elang Merah dari Tibet itu?

Apakah di T ibet juga ada gung fu ?"

Tentu saja ucapan Cadas Kembar yang lainnya itu setengah menghina, karena meskipun Kemaharajaan Negeri Atap Langit di bawah kepemimpinan Maharaja Dezong telah membuat perjanjian damai dan persekutuan dengan Kerajaan Tibet, kebiasaan untuk menganggap orang Tibet sebagai musuh bebuyutan masih belum terhapuskan, meskipun juga telah menjadi bhiksu seperti Cadas Kembar ini.

Namun jawaban Elang Merah sungguh luar biasa. Begitu Cadas Kembar itu menutup mulutnya, ia berkelebat lebih cepat dari kilat. Namun aku masih dapat melihat betapa dengan pedangnya ia te lah mencongkel gada dari genggaman bhiksu berewokan itu ke udara, dan sebelum hilang rasa terkejut bhiksu tersebut, kedua jari tangan kiri Elang Merah telah menotok jalan darah di kaki, pinggang,maupun tengkuknya, sehingga bhiksu itu tetap saja berdiri seperti arca.

ADAPUN ketika gada itu akhirnya turun kembali disambutnya dengan pembabatan, bagai juru masak piawai mengiris bawang, yang membuat gada itu berantakan di tanah menjadi dua belas bagian. Cadas Kembar satunya tertegun. Aku pun tersenyum- senyum. Dengan begitu saja kukira ia sudah tergentar. Namun aku sungguh ingin mengenal yang disebut gung fu Shaolin itu. Maka aku pun berkata kepadanya.

''Sahaya hanya seorang pengembara tak bernama dari sebuah wilayah K'oun-loun yang di Negeri Atap Langit ini disebut Ka-ling, meski ada yang lebih tepat menyebutnya Ja- pa. Tidak sedikit warga Negeri Atap Langit yang mengembara ke sana, memasuki sungai jauh sampai pedalaman, dan penduduk Kerajaan Mataram di Yavabhumipala menyambutnya dengan baik, wahai Tuan Bhiksu yang Mulia; dan mereka peragakan pula gung fu di sana, yang membuat sahaya ingin belajar langsung di lingkungan alam aslinya.''

Ia tertegun dengan penjelasan yang barangkali takpernah didengarnya. Para bhiksu memang mampu membaca, tetapi tentu yang dibacanya adalah sutra, sementara bidang pengabdian bhiksu Shaolin adalah ilmu silat atau gung fu dan bukannya ilmu pengetahuan tentang kota dan negeri di bumi yang di Negeri Atap Langit ini juga terdapat para bhiksu yang ahli.

Namun siapakah mereka yang begitu rela kekurangannya terbuka? Dengan gadanya ia segera menyerbuku seperti angin puting beliung, dan aku pun menyambutnya dengan gembira. Sudah jelas aku akan melayaninya dengan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap jurus-jurusnya. Cadas Kembar yang kuhadapi ini pasti tenaganya kuat luar biasa, dan itu menjelaskan pilihan senjatanya yang berat, yakni penggada yang begitu siap menghancurleburkan tubuhku. Aku juga tidak membayangkan betapa penggada bisa menjadi senjata gung fu yang jurus-jurusnya terungkap sebagai seni permainan yang indah, tetapi Cadas Kembar ini telah melakukannya. Senjata gada yang selama ini seperti hanya mampu digunakan untuk perkelahian yang purba, yakni hanya menggebuk sekeras-kerasnya demi penghancuran tulang atau tengkorak kepala, ternyata dalam jurus-jurus Shaolin menjadi sangat tertata.

Sejauh kuketahui, gung fu Shaolin menjadikan senjata sebagai perpanjangan tangan, bahkan latihan bagi gerakan- gerakan tangan itu sendiri, sehingga tentu saja gada yang berat ini sesuai bagi sang bhiksu raksasa yang bertenaga sangat besar, membuat gada ini bagaikan mainan yang ringan saja baginya. Padahal gada ini terbuat dari besi padat yang mampu menghancurkan apapun yang menghalanginya. Bahkan batu gunung pun langsung menjadi tepung jika digebuknya. Dengan senjata seberat itu, gerakan Cadas Kembar tidak menjadi lamban, melainkan begitu cepatnya sampai tidak terlihat.

Dalam gung fu di Negeri Atap Langit pada umumnya, latihan dengan berbagai macam senjata selalu diwajibkan oleh perguruan-perguruan ternama. Kewajiban ini alasannya bermacam-macam, sebagaimana sejarah Negeri Atap Langit itu sendiri. Dalam ketentaraan misalnya, kemampuan memainkan senjata jelas diperlukan untuk kenaikan pangkat, selain tentu saja untuk tetap bertahan hidupodan karena setiap orang dari jenis kelam in jantan diwajibkan bergabung dengan ketentaraan setidaknya dua tahun, lelaki yang telah, sedang, maupun belum bergabung seperti mewajibkan dirinya menguasai setidaknya jurus-jurus dasar memainkan senjata. Di sebuah negeri tempat kekerasan selalu terjadi, tidak memiliki kemampuan dengan senjata akan membuat seseorang tidak dihargai.

Penyamun dan perompak di Negeri Atap Langit sebetulnya tidak hanya berada di tempat-tempat sepi, mereka berada di mana pun untuk melanggar hukum, selama masih ada rombongan pedagang gemuk dan petani kaya untuk dijarah. Para pemangsa ini bersenjata bahkan sampai kepada gigi- giginya, sehingga para pendekar yang hanya mengandalkan tangan kosong, jika bukan seorang suhu atau guru terkemuka pastilah orang yang kurang menggunakan otaknya.

DEMIKIANLAH para murid perguruan gung fu ini memanfaatkan masa-masa yang penuh bahaya demi kemajuan mereka sendiri. Dengan dise wa sebagai pengawal rombongan pedagang maupun petani, mereka tidak hanya bisa hidup dengan penghasilan cukup, tetapi juga tetap bisa mengasah keterampilan bersenjata dan menggali jurus-jurus baru.

Adapun para suhu, dalam hal persenjataan dalam gung fu, akan menghadapi masalah yang lain lagi, karena setiap saat ia harus siap me layani tantangan untuk bertarung. Tantangan tentu berdatangan dari para pendekar muda yang ingin mencari nama, tetapi yang harus dihadapi dengan perhatian penuh justru tantangan suhu lain, yang biasanya ingin membuktikan betapa gung fu perguruannya lebih unggul. Jika penantang ini menang, tidak saja namanya akan semakin tersohor, melainkan akan menjadi semakin kaya karena murid- murid perguruan lawan yang dikalahkan berpindah ke perguruannya. Demikianlah segala tantangan dalam persaingan maupun kecemburuan sering berlangsung, dan pertaruhannya yang tinggi membuat kemampuan memainkan senjata menjadi mutlak, karena menghadapi lawan bersenjata dengan tangan kosong berarti harus siap menerima kekalahan.

Senjata bagi gung fu Negeri Atap Langit memang hanya alat untuk melatih kekuatan tangan demi jurus-jurus tangan kosong, tetapi tidak bisa dimungkiri betapa permainan senjata itu juga berkembang sebagai seni gung fu tersendiri. Tak kurang dari Kong Fuzi sekitar 1200 tahun lalu menganjurkan murid-muridnya belajar memanah, sementara penyair Li Bai yang menjadi kebanggaan Wangsa Tang mengaku, dirinya tekun dan giat bermain pedang pada usia 15 tahun. Bahkan Du Fu, penyair semasanya, disebut sangat pandai memanah, dan pernah menulis puisi tentang permainan pedang perempuan pendekar Kung Sun yang begitu indahnya.

Langit telah menjadi semakin gelap. Dalam keremangan tidaklah mudah melihat Cadas Kembar yang bergerak secepat- cepatnya, bahkan lebih cepat dari cepat, sehingga tiada jalan lain selain mengimbanginya dengan kecepatan yang sama. Maka dengan segera pusaran angin puting beliung sebagai akibatnya pun menerbangkan segala-galanya. Setiap kali gebukan gada Cadas Kembar luput, terdengar suara berdebum dari batu yang meledak dan hancur menjadi tepung, yang segera buyar dan ikut berpudar dalam pusaran angin yang terbentuk oleh pertarungan kami.

Jika Elang Merah telah menyelesaikan pertarungan secepat- cepatnya, maka aku justru perlu bertarung se lama mungkin, karena Jurus Bayangan Cermin yang sedang kuterapkan menuntut jaminan bahwa segala jurus lawan telah dikeluarkan sebelum akhirnya nanti dikembalikan dalam bentuk serbaterbalik, sehingga lawan yang menjadi sumber jurus- jurus itu pun tidak mengenalinya lagi.

(Oo-dwkz-oO)