-->

Nagabumi Eps 184: Golongan Murni

Eps 184: Golongan Murni

SUARA air terjun begitu gemuruh, tetapi masih kudengar suara Elang Merah yang lantang.

"Bicara! Atau kulempar setelah kupotong kepalamu yang bermata tiga itu!"

Elang Merah tampak sungguh-sungguh dengan ancamannya, dan dugaanku betapa tidak semua pasukan Golongan Murni bertugas dengan semangat pengabdian terbukti.

"Jangan bunuh sahaya! Tolong! Jangan bunuh sahaya!" "Kamu akan bicara?"

"Ya, ya, ya! Akan sahaya sampaikan semua yang sahaya tahu!"

Demikianlah Elang Merah menyendal kaki orang Golongan Murni itu sehingga ia tersentak ke atas dan membentur tebing batu. Sebelum ia terpental ke jurang segera Elang Merah mendorongnya kembali. Perempuan pendekar itu seperti akan menghajarnya lagi, tetapi aku berkelebat menempatkan diriku di antara keduanya, sehingga Elang Merah menahan kaki bersepatu merah yang siap menendang itu.

"Sabarlah pendekar," kataku, "biarkanlah dia berbicara tanpa perasaan tertindas, daripada dia menutup mulutnya dan memilih kematian."

Kulirik Yan Zi mendengus dengan kesal, tak bisa dimengertinya tentu, bagaimana Elang Merah yang semula bermaksud membunuhku kini menjadi sekubu karena menghadapi musuh bersama.

Kutepuk bahu orang itu, sambil menyalurkan tenaga prana supaya ia mendapatkan ketenangannya.

"Jangan takut," kataku, "dikau aman sekarang, ceritakanlah apa yang dikau ketahui." Dia pun mulai bercerita. Namun untuk menyingkat yang panjang menjadi pendek, lebih baik kuceritakan kembali seperti berikut.

Dia mengaku sebagai guru silat di Chang'an yang melatih anak-anak kecil dengan bayaran sukarela. Suatu hari seseorang menawarinya pekerjaan sebagai anggota suatu pasukan dengan bayaran tinggi, dengan syarat harus merahasiakan segala kegiatannya. Dia mengaku menerimanya karena tergiur dengan bayaran tail emas yang tinggi. Baginya tidaklah terlalu berat merahasiakan segenap kegiatannya kepada keluarganya, karena sejak lama selain melatih silat pekerjaannya hanyalah bertarung, sehingga mereka memang tidak pernah bertanya-tanya lagi.

Dijelaskan kepadanya bahwa tugas ini datang dari kelompok pembela negara yang disebut Golongan Murni. Membela negara maksudnya adalah menjaga keutuhan bangsa Negeri Atap Langit dari rongrongan unsur-unsur as ing, sehingga segala sesuatu yang berbau asing dianggap berbahaya, dan karena itu harus segera dimusnahkan begitu ditemukan. Adapun tugas yang diberikannya selama ini adalah memusnahkan unsur-unsur as ing tersebut, yang apabila berwujud manusia maka harus dibunuhnya.

Pembunuhan itu sendiri bukanlah tujuan Golongan Murni, melainkan cara untuk menyebarkan ketakutan agar banyak orang menjadi sadar, bahwa kejayaan bangsa Negeri Atap Langit demi bangsa Negeri Atap Langit itu sendirilah yang merupakan keadaan terbaik. Demi tujuan semacam ini, tindak penghilangan nyawa orang-orang yang pikirannya dianggap membahayakan dibenarkan.

SEMULA dia mengira bahwa Golongan Murni dibentuk secara resmi oleh pihak istana, tetapi kemudian dia mengetahui betapa ternyata tidak ada yang besifat resmi, serba ditutupi, meskipun memang melibatkan sejumlah bangsawan, pejabat tinggi, panglima pasukan, maupun pedagang besar sebagai sumber keuangan mereka.

Dia berkata bahwa segenap tugasnya selama ini dirahasiakan, dan sebagai anggota pasukan pembunuh pilihan, mereka dianggap tidak perlu tahu latar belakang tugasnya. Mereka hanya perlu melakukan pembunuhan itu tanpa perlu mempertanyakan apapun. Dia tidak mengingkari, bahwa memang banyak di antara anggota pasukan yang menjalankan tugas karena pengabdian, tetapi dengan bayaran yang besar tidaklah menjadi jelas lagi baginya siapa yang bekerja demi tujuan Golongan Murni dan siapa yang bekerja hanya demi uang seperti dirinya.

Selama ini ia menyembunyikan pikirannya sendiri yang sebetulnya tidak sejalan dengan begitu rapat, sehingga lolos dari para pengawas pikiran, dan kemungkinan terdapat pula anggota pasukan lain yang berlaku serupa dengan dirinya itu. Namun setelah bekerja cukup lama, kemudian diketahuinya pula siapa saja yang berpikiran seperti dirinya meski sama- sama belum terbuka, karena setiap penyelewengan pikiran hanyalah hukuman mati bayarannya.

Adapun tugasnya yang terakhir ini, meskipun juga sangat dirahasiakan, ia ketahui pula se luk beluk persoalannya, meski ia tak tahu pasti bagaimana harus mempertimbangkannya. Begitulah didengarnya bahwa mereka sedang melaksanakan tugas besar, sehubungan dengan lolosnya seorang kebiri yang memiliki jabatan tinggi di istana Chang'an. Lolosnya orang kebiri yang memegang rahasia negara ini adalah yang kedua, setelah menghilangnya orang kebiri lain beberapa hari sebelumnya, yang juga menggelisahkan banyak orang karena banyaknya rahasia di benaknya.

"Seorang kebiri lain yang menyamar sebagai tukang kedai seharusnya bertemu dengan masing-masing orang kebiri itu, bahkan mempertemukan keduanya untuk menggabungkan tiga rahasia," kata anggota Golongan Murni dengan rajah Mata Ketiga di dahinya itu.

"Tiga rahasia?"

Elang Merah tampak seperti tidak mengerti, tetapi mataku yang justru terbuka. Yan Zi memberi tanda agar diriku mendekatinya. Ia berbisik ke telingaku.

"Serigala Merah dan Serigala Hitam memberitahu daku sebelum berangkat, hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa lelaki tua berbaju ungu itu adalah orang kebiri. Mungkin dialah yang sedang mereka kejar, tetapi yang dikejar menghilang bersama dikau ke Kampung Jembatan Gantung yang tersembunyi. Tidak jelas dengan dua orang kebiri lainnya itu."

Namun terdapat sesuatu yang makin jelas bagiku! "Tiga rahasia apa? Lekas katakan!"

Elang Merah yang sebagai orang Tibet tampak begitu jauh dari persoalan ini sudah sangat tidak sabar. Namun segala sesuatu yang gelap menjadi berpijar bagiku sebetulnya hanya karena kebetulan.

"Sahaya juga tidak terlalu memahaminya Puan Pendekar," jawab bekas guru silat untuk anak kecil ini pula, "tetapi rahasia itu baru akan berbunyi jika setiap rahasia yang diketahui oleh setiap orang kebiri ini digabungkan."

"Rahasia tentang apakah ini? Ilmu silat? Senjata mestika?

Pengkhianatan? Penyerbuan? Jaringan mata-mata?"

"Sahaya tidak mengetahuinya Puan Pendekar, sahaya telah mengatakan segalanya yang saya ketahui sehubungan dengan perburuan orang kebiri ini."

Elang Merah kembali menekankan ujung pedangnya ke leher anggota pasukan pembunuh Golongan Murni itu. "Jadi kenapa dengan tugas memburu orang kebiri kalian justru berusaha membunuh kami hah?!"

Ujung pedang itu menekan bagian bawah dagu begitu rupa sehingga orang ini susah menggerakkan mulutnya.

"Bagaimana kamu akan membuatnya bicara Elang Merah, jika pedangmu membuatnya tidak bisa bicara!" Yan Zi berujar dengan kesal.

Elang Merah menoleh ke arah Yan Zi dengan tatapan menusuk. Aku tersadar Yan Zi dalam bahasa Negeri Atap Langit menyebutnya kamu dan bukan dikau, untuk mereka yang baru bertarung dengan semangat saling membunuh, perbedaan itu bisa bermakna banyak. Serangan Golongan Murni telah membuat keduanya berada di pihak yang sama, bahkan Elang Merah menyebut kata kami, tetapi ucapan Yan Zi Si Walet telah membuat kami itu saling berjarak kembali.

Elang Merah masih menatap Si Wa let ketika menurunkan ujung pedangnya.

BICARALAH...'' katanya sambil tetap menatap Yan Zi.

Aku terkesiap melihat permusuhan mereka yang mendadak kembali meruncing. Namun orang bayaran Golongan Murni itu bicara.

''Selain memburu orang kebiri yang disebut Si Musang itu sebagai tugas utama, kami juga mendapat tugas sampingan menyerang dan membunuh Pendekar Elang Merah di mana pun kami berjumpa.''

Setelah kata-kata ini, dengan secepat kilat Elang Merah menusukkan pedangnya ke dada orang Golongan Murni itu, tetapi aku bergerak lebih cepat dari kilat untuk memegang lengannya, sehingga tusukannya terhenti. Ujung pedangnya hanya menggores sedikit kulit dada orang itu, yang sudah tampak menyeringai siap menerima kematian. Aku masih memegang lengannya ketika kukatakan kepadanya.

''Janganlah pendekar yang gagah membunuh mereka yang sudah lemah dan tidak berdaya, meskipun semula mereka bermaksud membunuh kita.''

Elang Merah menatapku dengan tajam. Ada sesuatu dalam pandangan matanya itu yang tak dapat kubahasakan sekarang ini, tetapi dapat kusebutkan betapa hatiku berdesir ketika kurasakan tangan kirinya mengelus punggung tanganku yang memegang lengannya itu. Sentuhan itu, meski sekejap mata, terasa segenap tekanannya, terbaca sebagai suatu pesan dan kehendak, tetapi yang belum dapat kubahasakan juga.

Hanya saja, ketika melepaskan lengannya, aku seperti merasa bersalah kepada Amrita.

''Aku masih ingin bertanya,'' kataku di antara gemuruh air terjun yang seperti baru terdengar kembali.

Di jalan setapak seperti ini, di bawah atap tebing yang mengalirkan air terjun, sebetulnya sangat sulit melakukan tanya jawab untuk menggali keterangan dengan tenang, tetapi peristiwa demi peristiwa yang kualam i se lama menjelajahi lautan kelabu gunung batu memberiku pelajaran betapa segala kepentingan sebaiknya dilakukan tanpa harus ditunda-tunda lagi. Maut bertebaran di dunia persilatan tanpa pandang bulu, dan membungkam rahasia dengan pembunuhan sama sekali bukanlah tabu.

Dengan pisau terbang bergagang gading yang masih saja kupegang ini kusingkapkan bajunya di dada sebelah kiri, dan memang terlihat rajah dua pedang bersilang, tanda keanggotaan Golongan Murni yang lain se lain Mata Ketiga.

''Dikau memiliki dua tanda, sedangkan yang kutemui di Thang-long hanya satu,'' kataku, ''apakah karena ilmu silatmu lebih tinggi dari yang tidak berajah Mata Ketiga?'' ''Rajah Mata Ketiga di dahi memang diberikan kepada mereka yang berilmu tinggi, tetapi kepadaku tidak diberikan karena itu.''

''Jadi kenapa mereka memberikannya kepada dikau?'' ''Karena daku juga melatih para anggota baru.

Aku tersentak mendengar kenyataan seperti ini. Golongan Murni tidak lagi sekadar ingin membeli pengabdian dengan uangnya, melainkan mencetak para pengabdi, yang tentu akan menjadi lebih mengerikan karena disuapi pikiran-pikiran tidak bersahabat sejak kanak-kanak dan remaja. Orang ini memberi pelajaran ilmu silat, tetapi diakuinya pula bahwa terdapat juga guru-guru yang berbagai pelajaran ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu perang, ilmu sastra, ilmu pemerintahan, dan ilmu filsafat. Perihal ketiga ilmu yang lain, kutahu merupakan bagian dari usaha mendapatkan kedudukan dalam jaringan kekuasaan. Namun tentang ilmu filsafat, dalam hal pendidikan Golongan Murni kuyakini bukanlah ilmu pengetahuan untuk membuka pemikiran dalam usaha mengembangkan kebijaksanaan, melainkan sebaliknya menutup dan mengunci segala pemikiran, hanya kepada pembenaran tujuan Golongan Murni sahaja.

Itulah menurutku suatu peracunan pikiran yang menjijikkan dan sangat memuakkan, terutama karena diarahkan kepada kanak-kanak dan remaja yang masih terbata-bata mempelajari dunia dan kehidupan, sehingga belum mampu menyusun penalaran untuk membangun perbantahan. Sebagai usaha memperkuat barisan hal itu memang dibutuhkan Golongan Murni, karena mengandalkan uang untuk mencapai tujuan betapapun terlalu rapuh dalam perjuangan panjang. Seperti terjadi dengan guru silat ini, yang sama sekali tidak sudi mati demi mempertahankan keyakinan.

Aku masih menggali sejumlah keterangan lain, sampai kuketahui jika orang kebiri berbaju ungu yang membunuh dirinya sendiri itu disebut sebagai Si Musang, maka orang kebiri lain yang kiranya sudah tewas terpotong-potong dalam karung itu disebut Si Tupai, sedang orang kebiri yang menyamar sebagai tukang kedai adalah Si Cerpelai.

MEREKA yang memburu orang kebiri ini tidak mengetahui betapa ketiganya sudah tewas, sementara diriku yang tidak berkepentingan sama sekali terhadap rahasia yang terbagi tiga itu tanpa sengaja telah bertemu dengan ketiganya.

Namun aku juga tidak mengendus rahasia apap un kecuali sejumlah tanda tanya. Aku hanyalah orang asing di Negeri Atap Langit ini, penguasaan bahasaku masih sangat terbata- bata, sehingga jangankan yang bersifat rahasia, melainkan yang terbuka sahaja tiadalah dengan mudah dapat kuterima sejelas maksudnya.

Betapapun menjadi terbuka bagiku sekarang, bapak kedai yang telah menyelamatkan jiwaku adalah Si Cerpelai yang dimaksudkan itu, sedangkan orang kebiri yang terpotong- potong itu adalah Si Tupai. Apakah yang terjadi sehingga ia tiba di kedai di tengah-tengah lautan kelabu gunung batu sudah dalam keadaan terpotong-potong mengenaskan seperti itu? Aku menduga-duga akan terdapatnya suatu pertarungan rahasia yang amat sangat sengitnya.

Anggota Golongan Murni ini mendengar, artinya suatu rahasia sudah bocor, bahwa Si Tupai dan Si Musang akan menemui Si Cerpelai di lautan kelabu gunung batu untuk menggabungkan ketiga rahasia yang mereka ketahui. Masuk akal bagiku jika Si Tupai dan Si Musang saling mengenal, sebagai sesama orang kebiri yang bekerja di istana, tetapi tidaklah dapat kupastikan apakah masing-masing saling mengetahui bahwa mereka sama-sama menyimpan rahasia negara.

Namun ternyata ada pihak lain yang mengetahuinya. Maka Si Tupai dibunuh dan dicincang, mungkin karena rahas ianya sudah berhasil dibongkar; sementara Si Musang hanya dipotong lidahnya dan tidak dibunuh, supaya rahasia tidak disampaikan kepada sembarang orang, tetapi masih bisa tersampaikan kepada yang berkepentingan. Namun jika diperhatikan, bahwa sebelum Golongan Murni bisa menyusul Si Musang, pasukan pemerintah telah lebih dulu nyaris membunuhnya, maka ternyata lebih dari satu pihak pula yang berkepentingan agar dalam keadaan yang terburuk rahasia itu tetap tinggal rahasia, dengan cara membunuhnya.

Akan halnya bapak kedai yang disebut sebagai Si Cerpelai, menjadi terjawab mengapa ia begitu peduli kepada mayat terpotong-potong yang ternyata memang orang kebiri, karena sangat mungkin ia memang sedang menunggu Si Tupai itu. Setidaknya ia tahu, dirinya sendiri menyimpan sepertiga rahasia, yang baru mungkin terungkap jika terhubungkan dengan duapertiga rahasia lain. Mengingat betapa sudah lama Si Cerpelai tinggal bersama kedainya di lautan kelabu gunung batu, aku menduga selama itu pula rahasia tersebut berada bersamanya. Memang dia orang yang setia, tetapi setia kepada siapa?

Apakah ini rahasia di antara orang kebiri? Dari ceritanya maupun gulungan kitab yang diberikan kepadaku, sampailah suatu pengetahuan betapa jaringan orang kebiri ini sangat erat, tertutup, dan sangat sulit ditembus; kecuali justru oleh sesama orang kebiri itu sendiri. Dari riwayat orang-orang kebiri tersebut, meskipun dari luar tampaknya orang-orang kebiri itu merupakan suatu kesatuan, ternyata di dalamnya pun terdapat berbagai bentuk perpecahan, apakah itu antarpribadi ataukah antarkelompok, karena permainan kekuasaan rupanya memang merupakan kecenderungan manusia, untuk menguasai maupun menolak dikuasai, di mana pun ia berada.

Telah diketahui betapa tertutupnya jaringan orang-orang kebiri, sehingga kukira memang hanya sesama orang kebirilah yang berani membunuh orang kebiri lain di dalam istana, memotong-motongnya, dan menyelundupkannya keluar melalui jalur resmi pula. Aku berusaha mengingat segala barang untuk menyamarkan keberadaan mayat tersebut. Tembikar serba halus dan mahal hasil pembakaran tungku- tungku tercanggih di Hunan, yang biasanya dikirim melalui laut dari pelabuhan Guangzhou, bukan jalan sempit berbatu- batu yang sebentar mendaki dan sebentar menurun ke arah Daerah Perlindungan An Nam ini. Apakah sepertiga rahasia itu hilang bersama kematiannya yang mengenaskan, ataukah menjadi bagian dari barang-barang yang datang bersamanya itu?

Jika rahasia ini bentuknya kata-kata, aku teringat sekarung kertas bertulisan yang penuh kutipan puisi-puisi para penyair seperti Li Ba i, Du Fu, Wang Wei, dan banyak lagi, yang sangat sulit ditandai bagaimana puisi yang satu dapat menjadi bagian dari bahasa sandi, sedangkan yang lain tidak.

Aku menggelengkan kepalaku, seperti mengusir segala kemungkinan yang mendadak saja seperti meruyak. Kuingat, bahkan ada piring yang juga bertuliskan sebuah puisi. Sayang sekali saat itu aku menganggapnya bukan sesuatu yang menjadi urusanku, padahal sudah jelas bapak kedai yang benar juga bukan sekadar tukang kedai, melainkan Si Cerpelai berilmu silat sangat tinggi, seperti berusaha membuat urusan tersebut menjadi urusanku. Dengan kenyataan betapa ia te lah mengorbankan dirinya sendiri, untuk menyelamatkan jiwaku, seolah-olah memang sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi permintaannya itu.

''APA yang harus kita lakukan dengan manusia ini sekarang?''

Elang Merah bertanya dengan pedang yang masih terhunus. Kupikir persoalanku dengannya juga belum jelas. Apakah cukup kuat alasan untuk membunuhku, hanya karena seperti katanya, bahwa pisau terbangnya yang ia lempar sendiri ke arahku dan bukannya kucuri, belum kukembalikan? ''Tidakkah orang ini bebas untuk pergi, wahai pendekar yang gagah?''

Sengaja kuucapkan kata-kata yang meninggikannya, agar tanpa kesulitan segeralah dilepaskannya orang ini, tetapi rupanya ia tersinggung dan membabatku secepat kilat dengan pedangnya.

''Gagah! Sudah beberapa kali kata itu ditujukan kepadaku!

Apakah diriku memang tampak seperti lelaki?!''

Apakah karena ini pun Elang Merah bermaksud membunuhku? Dalam sekejap pedangnya telah menetak leherku seratus kali. Ia sangat cepat! Namun untuk menyelamatkan nyawa aku bergerak lebih cepat dari kilat. Sehingga bukan hanya diriku bisa tiba-tiba saja sudah melayang jungkir balik ke atas, melainkan juga dapat kumasukkan pisau terbang yang kupegang ke balik bajunya tanpa diketahuinya.

Aku hinggap di atap tebing yang menjorok itu, punggungku menempel di sana dengan ilmu cicak.

''Maafkan daku pendekar yang cantik! Apakah dikau bersungguh-sungguh betapa diriku harus mati karena sa lah ucap seperti itu? Maafkan hina kelana tiada bernama ini, bukanlah maksud daku menganggap dirimu seorang lelaki.''

Elang Merah ternyata sudah melesat pula ke atas menyerangku!

Saat itu kudengar teriakan Yan Zi yang mengatasi gemuruh air terjun.

''Awaaaaassss!!''

Ternyata anggota Golongan Murni itu telah melemparkan pisau terbang ke punggung Elang Merah! Dalam keadaan melesat ke atas dengan pemusatan perhatian ke arahku seperti ini, tidak mungkinlah bagi Elang Merah berkelit apalagi berbalik menangkis pisau terbang yang melesat dengan kecepatan pikiran itu. Maka akulah yang berkelebat lebih cepat dari pikiran menampel kembali pisau terbang ke arah pelemparnya. Pada saat yang sama, kaki Yan Zi yang melayang dengan tendangan maut telah mengenai tengkuk orang itu, tepat ketika pisau terbangnya sendiri telah tertancap tepat pada Mata Ketiga di dahinya saat memandang ke atas.

Ia terpental ke atas tanpa suara, dengan darah terciprat dari mulutnya, ke arah air terjun yang bagai telah menantikannya dengan bergemuruh. Namun peristiwa ini belum berakhir, karena suatu bayangan merah berkelebat pula membabatkan pedang, yang membuat orang itu terseret air terjun ke bawah dengan kepala yang sudah terlepas dari badannya.

(Oo-dwkz-oO)