-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 21

Jilid 21

Jin-kun terpaku. Lamkiong Ho tertawa lepas:

“Thian benar-benar menyayangi keluarga Lamkiong!”

“Baik atau tidak baik jangan bicara terlalu awal!” Jin-kun tertawa. Tongkat kepala naga tiba-tiba keluar, dia melemparkannya ke arah Lamkiong Ho.

Lemparan ini dilakukan sekuat tenaga dan secara tiba-tiba. Wan Fei-yang yang menyambutnya pun tidak sempat menahan, jadi tongkat kepala naga itu terus melaju menembus dada Lamkiong Ho dan membunuhnya.

Cia Soh-ciu sangat sedih. Dia meloncat ke atas. Dengan kedua telapaknya menyerang Jin-kun. Dia menyuruh Bwe Au-siang jangan emosi tapi melihat Lamkiong Ho terbunuh, dia tidak bisa menahan emosinya lagi.

Jin-kun sepertinya tidak memiliki masalah apa pun. Dia menyambut dengan kedua telapaknya. Ter dengar suara seperti petir, Cia Soh-ciu terlempar keluar sejauh 3 tombak. Dia muntah darah dan terguling.

Beng-cu berteriak. Tubuh Siau Cu bergerak. Beng-cu memapah Cia Soh-ciu. “Ibu sudah melakukan banyak kesalahan...” Cia Soh-ciu seperti banyak hal yang ingin dibicarakan tapi hanya satu kata yang dia keluarkan. Darah menyembur keluar, dia berhenti bernafas.

Beng-cu sangat sedih. Dia melihat Jin-kun dan ingin menyerangnya tapi dihalangi oleh Wan Fei-yang, Toan Hong-cu, Keng-su thay, Su Yan-hong, dan Bu-wie Taysu.

Terdengar suara peluit. Diiringi suara peluit datang Lu Tan dengan keadaan terbang dan menyerang semua orang.

Keng-suthay menyambut 1 jurus. Dia tergetar hingga mundur selangkah. Giok-sik menatapnya segera berteriak:

“Lu Tan...”

Tapi Lu Tan tidak bereaksi apa-apa. Sorot matanya terlihat sangat kejam. Dia mencabut pedang dan menyerang Toan Hong-cu.

Toan Hong-cu menyambut secara berturut-turut sebanyak 13 jurus. Dia mundur 3 langkah. 2 murid Bu-tong datang dengan cepat mencegat Lu Tan mereka malah tergetar hingga ke pinggir. Lu Tan menyerang lagi, menepis murid Bu-tong yang terlambat menghindar, ingin membelahnya menjadi 2 bagian.

Sewaktu Lu Tan masih mengejar seorang yang melarikan diri, Wan Fei-yang sudah tiba. Dengan ilmu Thian-can-kang dia menekan pedang Lu Tan sebelah tangannya menyambut serangan telapak tangan Lu Tan.

Lu Tan tidak bisa menarik pedangnya, menarik tangannya pun tidak bisa karena menempel oleh Thian-can-kang. Bu-wie Taysu segera datang menghampiri. Dia menotok di 7 titik nadi bagian punggung Lu Tan. Wan Fei-yang tidak lamban, dia juga menotok di 7 nadi bagian dada Lu Tan. Mereka bekerja sama dengan sangat tepat. Toan Hong-cu segera membentak:

“Bunuh pembunuh ini!”

Bu-wie Taysu mencegatnya dengan mengangkat tangan:

“Bila ingin membunuh, bunuh Jin-kun dari Pek-Iian-kau yang pantas untuk mati!”

Kata-katanya baru selesai, terdengar suara peluit lagi. Semua orang melihat ke arah itu, terlihat Hen-lo-sat datang seperti terbang!

Keng-suthay langsung mencegat. Dengan pedang dia menepis tapi Hen-lo-sat dengan kedua telapaknya mendorong dengan tenaga dalam yang kuat. Dia bisa memaksa pedang Keng-suthay bergeser ke samping dengan telapak tangannya memasuki celah.

Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu dari kiri dan kanan berusaha ingin menyelamatkan tapi tidak sempat lagi. Telapak kiri Keng- suthay tidak sempat menahan, dadanya terkena pukulan telapak. Terdengar teriakan memilukan. Dia terlempar sejauh 3 depa dan muntah darah. Di sana dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Keng-suthay seorang pesilat tangguh tapi tidak sanggup menahan serangan Hen-lo-sat satu jurus pun. Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu sangat terkejut.

Wan Fei-yang segera berteriak:

“Semua orang hati-hati!”

Hen-lo-sat sudah datang. Wan Fei-yang dengan kedua tangannya segera menyerang, bersamaan waktu kedua telapak Bu-wie Taysu keluar menyerang.

Dengan tenaga dalamnya, mereka berdua bergabung untuk bertarung. Orang yang sanggup menahan serangan sepertinya tidak ada terlihat Hen-lo-sat satu-satunya yang bisa. Dia tidak hanya bisa menyambut dan bisa menggetarkan mereka hingga mundur setengah langkah.

Wajah Bu-wie Taysu berubah. Walaupun Wan Fei-yang di Han- tan pernah menerima serangan Hen-lo-sat tapi sekarang ini menerima serangannya lagi merasa kalau Hen-lo-sat bertambah lihai. Wajahnya terus berubah.

Hen-lo-sat terus menyerang. Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu menerima serangannya. Mereka tergetar hingga mundur selangkah lagi. Hen-lo-sat terus maju tanpa berhenti. Dia seperti sebuah anak panah yang mengarah ke dalam kerumunan orang-orang, kedua telapaknya terus menepis.

Ada murid Kun-lun-san yang menyambut. Satu per satu ditepis mati oleh Hen-lo-sat.

Su Yan-hong dan Wan-tianglo dengan cepat menolong. Wan Fei- yang dan Bu-wie Taysu pun tidak bergerak lambat, sepasang golok Hen-lo-sat sudah keluar dari sarungnya. Cahaya terang seperti kilat melesat ke arah semua orang.

Liong-im-kiam milik Su Yan-hong berusaha menahan tapi hanya bisa bertahan 3 jurus. Wan Fei-yang mengambil pedang yang tergelertak di bawah untuk menyambut serangan itu dan tongkat hweesio milik Bu-wie Taysu sudah dikeluarkan. Wan-tianglo tidak mau kalah, dia mengambil sebilah pedang dan mengejar Hen-lo-sat.

4 orang pesilat ini adalah pesilat yang bisa dihitung keberadaannya dengan jari tapi mengepung seorang Hen-lo-sat tetap bisa tergetar hingga ke samping.

Jin-kun tertawa dingin. Dia segera mengayunkan tangan. Thian- te-siang-kun dan utusan lampu hijau serta murid-murid Pek-lian- kau sudah muncul di sana dan mereka datang mengepung.

Melihat keadaan seperti itu, Wan Fei-yang tahu kalau Jin-kun sudah melakukan persiapan. Dia bermaksud dalam rapat Pek-hoa- couvv ini menjala habis semua pesilat tangguh. Dia segera mengambil keputusan dan membentak:

“Semua tinggalkan tempat ini! Hou-ya, Siau Cu, Siau Sam Kongcu, Toan Hong-cu Cianpwee bertugas melindungi. Aku dan VVan-tianglo serta Bu-wieTaysu yang berada paling belakang...”

“Jarang ada kesempatan bisa bertarung begitu senang. Kalian mundur, aku tidak akan mundur!” Kata Wan-tiangio. Dia begitu bersemangat mengeluarkan ilmu silat yang dia pclajari seumur hidupnya untuk melilit Hen-lo-sat.

Wan Fei-yang baru ada waktu untuk bicara. Dia masih menahan serangan yang baru saja datang dari Thian-te-siang-kun.

Melihat lawan sudah melakukan persiapan, Su Yan-hong tidak tahu pembunuh seperti Hen-lo-sat entah ada berapa orang. Kalau masih tinggal di Pek-hoa-couw, hanya akan bertambah korban dan akan mengganggu Wan Fei-yang. Setelah menyapa Siau Sam Kongcu, dia segera memimpin semua orang mundur.

Orang-orang persilatan yang datang menonton keramaian ada beberapa yang mati dan terluka. Melihat keadaan ini, secara naluri mereka bergabung sambil bertarung mundur.

Siau Cu dan Su Ceng-cau melindungi Bwe Au-siang dan Beng-cu untuk terus mundur. Beng-cu melihat ayah dan ibunya meninggal membuatnya benar-benar bersedih. Setelah dinasehati oleh Bwe Au-siang, Siau Cu, dan Su Ceng-cau kesedihannya bisa disimpan dulu. Sambil bertarung mundur.

18 orang hweesio Siauw-lim yang ikut segera memasang barisan Lo-han untuk menahan murid-murid Pek-lian-kau yang datang menyerang.

Barisan Siauw-lim, Cap-pwe-lo-han sangat ter kenal di dunia persilatan. Kekuatannya memang sangat besar tapi sayang murid- murid Pek-lian-kau pun sangat banyak. Diserang dari luar dan dalam ditambah diserang oleh Jin-kun secara tiba-tiba, barisan ini jadi berantakan. Mereka berusaha tetap melawan dengan gagah berani.

Siau Sam Kongcu, Su Yan-hong, dan Toan Hong-cu melayani 5 orang utusan lampu. Itu sangat mudah. Giok-sik dan Toan Hong-cu bahu membahu dalam bertarung.

Dilindungi oleh mereka, Siau Cu dan kelompok berhasil keluar kemudian disusul kelompok Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu.

Mereka mundur dengan susah payah, Jin-kun tiba-tiba menyerang. Giok-sik tidak berhati-hati dia terkena pukulan hingga tewas olehnya. Toan Hong-cu yang tadinya marah semakin emosi, pedang diayunkan ke arah Jin-kun, memaksa Jin-kun terus mundur.

Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu tidak sempat menghadang, 5 utusan lampu sudah datang. Wan Fei-yang membentak, sambil mundur terus melawan. Dengan begitu mereka baru bisa menjaga stamina. Musuh lebih banyak dan kekuatan mereka berjarak. Bila terus di sana akan banyak korban.

Saat mereka mundur ke tempat yang lebih aman, Toan Hong-cu terluka karena terkena pukulan Jin-kun. Dia tetap berusaha melawan dan juga menghadang 5 utusan lampu. Tapi itu hanya berlangsung beberapa jurus saja dan dia pun tewas.

Wan-tianglo meloncat ke sana sini untuk melilit Hen-lo-sat. Bu- wie Taysu ingin membantu pun sulit. Wan Fei-yang dihadang oleh Thian-te-siang-kun. Walaupun Thian-can-kang sudah dikeluarkan dan Pek-kut-mo-kang dari Thian-te-siang-kun tidak bisa menahan tapi gabungan mereka, ditambah dengan Wan Fei-yang tidak mau terus bertarung maka mereka masih bisa ditahan.

Wan-tianglo melawan dengan keras. Dia terus menyambut serangan Hen-lo-sat hingga lelah dan kehabisan tenaga. Akhirnya dipukul hingga roboh oleh Hen-lo-sat, 7 inderanya mengeluarkan darah. Dia masih sempat menahan 3 kali hantaman, masih bisa berteriak:

“Puas...”

Dia berteriak 3 kali, sudah terpukul hingga hancur. Bu-wie Taysu dengan tongkat hweesionya menghadang Hen-lo-sat dan berteriak:

“Fei-yang, cepat pergi dari sini...”

Wan Fei-yang malah berbalik ke sisi Bu-wie Taysu: “Taysu yang pergi dulu...”

Bu-wie Taysu menggelengkan kepala:

“Kalau kau tidak pergi dan mati di sini, apa gunanya semua ini?” “Semua tidak akan bisa pergi...” Jin-kun sudah datang bersama

dengan Thian-te-siang-kun dan utusan 5 lampu. 18 hweesio Siauvv-Iim sudah tiada. Utusan lampu ingin mengejar tapi dibentak Jin-kun supaya kembali.

Asalkan bisa membunuh Wan Fei-yang, yang lain kabur pun tidak apa-apa. Ciu-ci Lojin dan Kiang Hong-sim juga datang.

Jin-kun memberi isyarat agar peluit jangan ditiup supaya Hen- lo-sat berhenti menyerang. Sambil tertawa berkata kepada Wan Fei- yang:

“Nasibmu selalu bagus tapi hanya sampai di sini saja. Walaupun ada jurang yang terjal di depanmu tapi aku ingin kau mati di depanku!”

Wan Fei-yang tertawa dingin:

“Bila aku roboh, aku tidak akan roboh dengan sendirinya!” “Bila seorang Hen-lo-sat mati, aku masih bisa membuat satu lagi

yang lain. Murid Bu-tong yang bisa Thian-can-kang selain kau

apakah masih ada lagi?”

Hati Wan Fei-yang menjadi dingin. Orang seperti dia mempunyai kesempatan tidak perlu ber-susah payah dan kebetulan bisa menguasai Thian-can-kang, sepertinya memang tidak pernah ada.

Jin-kun seperti bisa membaca pikiran Wan Fei-yang: “Walaupun tidak ada Hen-lo-sat, bila Sam-cun bersatu, siapa

yang bisa melawan mereka?”

Wan Fei-yang masih ingin mengatakan sesuatu. tapi Bu-wie Taysu sudah berbisik:

“Ambil kesempatan ini, cepat pergi...”

Jin-kun melihatnya, dia segera melayangkan tangan. Ciu-si Lojin dan Kiang Hong-sim segera meniup peluit.

Bu-wie Taysu segera mengeluarkan 'Say-cu- houw'.

Auman ini sungguh membuat langit dan bumi bergoyang. Tubuh Hen-lo-sat bergetar terpaku. Thian, Te, Jin-kun, 5 utusan lampu, Kiang Hong-sim, dan Ciu-ci Lojin merasa lebih-lebih bergetar. Wan Fei-yang pun tidak terkecuali, mengambil kesempatan dia segera lari.

Sam-cun pertama bereaksi dan ingin mengejar. Bu-wie Taysu bersiap meraung kembali. Sam-cun segera mengerahkan tenaga dalam untuk menahan auman singa itu. Mereka khawatir Wan Fei- yang mengambil kesempatan ini menyerang mereka dari belakang, tapi auman singa milik Bu-wie Taysu tidak jadi keluar.

Karena auman tadi sudah menghabiskan semua tenaga dalamnya. Tenggorokannya pecah dan darah keluar dari sudut mulutnya.

Jin-kun segera ingat kalau Bu-wie Taysu harus 3 kali mengeluarkan Say-cu-houw baru bisa menggetarkan Bwe, Lan, Ju, Tiok sampai mati. Dengan Hen-lo-sat dan Sam-cun, Bu-wie Taysu pasti sudah mengeluarkan semua tenaga dalamnya.

Tidak perlu dia memerintah, Hen-lo-sat sudah tiba. 3 kali menghantam Bu-wie Taysu langsung roboh.

Tapi Wan Fei-yang sudah pergi entah ke mana.

Thian-te-siang-kun ingin mengejar tapi Jin-kun melarang mereka:

“Jangan dikejar lagi! Dengan kemampuan ilmu silatnya walaupun bisa terkejar bila tidak berhati-hati tidak akan ada kebaikannya!”

Kata Thian-kun:

“Kalau begitu, suruh Hen-lo-sat mengejarnya!” Jin-kun menggelengkan kepala:

“Hen-lo-sat memang sangat lihai tapi dia tidak bisa lepas dari suara peluit dan jarak. Jika hilang kendali, dia akan sembnrangan membunuh paling takut dia akan pergi lalu tidak kembali!”

Te-kun mengangguk:

“Kalau begitu, jangan dicoba lagi. Kalau Hen-lo-sat menghilang ingin melatih orang baru bukan hal mudah!” “Itu tidak mungkin sama sekali, karena obat yang ditinggalkan Ling-ong tidak banyak!”

“Kalau begitu, kita harus menggunakannya dengan baik-baik!” Jin-kun mengawasi sekeliling:

“Hari ini memang banyak yang lolos kita juga mendapat hasilnya. Setelah melalui pertarungan ini, orang dunia persilatan tidak akan meremehkan Pek-lian-kau lagi. Kun-lun, Hoa-san, dan Bu-tong-pai tidak perlu ditakuti. Siauw-lim sudah kehilangan Bu- wie kita tidak perlu takut kepada Siauw-lim lagi!”

“Bukankah hari-hari di mana kita akan mengu asai dunia persilatan sudah ada di tangan?” Thian-kun tertawa.

Jin-kun melihat Thian-kun kemudian melihat Te-kunn: “Menurutmu, apakah kita akan segera melakukan ini?” Te-kun berkata dengan senang:

“Bisa segera pergi, itu lebih baik...”

Jin-kun menggelengkan kepala dan menarik nafas. Thian-te- siang-kun saling lihat. Thian-kun segera bertanya:

“Apakah ada yang salah?” Te-kun juga bertanya:

“Apakah dengan kekuatan kita sekarang ini tidak cukup menyelesaikan masalah sulit ini?”

Jin-kun menggelengkan kepala:

“Kalian benar-benar tidak punya cita-cita tinggi, untuk apa hanya menguasai dunia persilatan saja?”

“Bukankah ini memang tujuan Pek-lian-kau dari dulu?” Thian- te-siang-kun menatap Jin-kun.

“Itu tujuan Pek-lian-kau bukan tujuanku!” Jin-kun balik bertanya, “benarkah kalian tidak bisa merasakan keinginanku?”

“Di luar dunia persilatan... apakah kau ingin menguasai dunia?” Tanya Thian-kun. Jin-kun tertawa. Te-kun melihatnya:

“Pantas kau bersandar pada Ling-ong tapi pemberontakan Ling- ong ternyata gagal!”

“Hal ini memang di luar dugaan tapi tidak membuatku kecewa. Jika bukan karena dia yang membantu, Hen-lo-sat tidak akan berhasil!”

Jin-kun menggelengkan kepala dan berkata lagi:

“Tapi sebenarnya dia tidak terlalu bisa bekerja sama. Jika tidak, selain Bvve, Lan, Ju, Tiok masih bisa menambali banyak pembunuh lainnya. Hari ini di Pek-hoa-couw kita bisa menjala mereka semua.”

“Kalau tujuan kalian bukan dunia persilatan..”

“Kalangan dunia persilatan seperti mereka kalau tidak dibasmi akan selalu menjadi musibah!” Jin-kun tertawa, “apalagi ada seperti Su Yan-hong!”

“Ling-ong sudah dibunuh, kau ingin membawa mereka bersandar pada pihak mana?” Tanya Thian-kun.

Jin-kun balik bertanya:

“Selain Ling-ong, di dunia ini selain bersaing dengan Kaisar itu, memangnya siapa lagi?”

“Dulu ada Liu Kun, seharusnya saat ini tidak ada siapa pun!” Ucap Thian-kun.

Te-kun menyambung:

“Kami dua bersaudara tidak banyak tahu soal ini, menurutmu...” “Aku pun tidak bisa melihat siapa lagi!” Thian-te-siang-kun

bicara dengan jujur.

“Benarkah kalian tidak mengerti?” Tanya Jin- kun.

Tiba-tiba Thian-te-siang-kun seperti tersadar dan berteriak: “Apakah Kaisar sekarang ini?”

Jin-kun tertawa. Setelah selesai tertawa, Tekun baru dengan penuh curiga bertanya: “Itu bukan hal mudah!”

“Aku sudah menempatkan semuanya. Setelah rapat Pek-hoa- couw ini selesai segera bawa Cu Kun-cau ke ibukota!”

“Cu Kun-cau?”

“Orang itu adalah putra Ling-ong. Dia rela menjadi boneka kita asalkan bisa hidup enak!” Jin-kun tertawa, “dia yang mengantarkan dirinya sendiri kepadaku jadi aku bisa berinspirasi seperti sekarang ini!”

“Tapi aku lihat orang itu tidak berguna dan tidak berarti!” “Ditambah satu orang lagi lumayan!”

“Ditambah dengan siapa?” Tanya Thian-te-siang-kun.

“Thian-ho Sangjin...” Pelan-pelan tapi kuat Jin-kun menjawab. “Apakah dia orang aneh berilmu dari perkum pulan rahasia?”

Thian-te-siang-kun berteriak. Terhadap Thian-ho Sangjin mereka

tidak asing.

Jin-kun mengangguk sambil tertawa:

“Sekarang dia sangat dipercaya oleh Kaisar dan diangkat menjadi Koksu. Dia yang menjadi jembatan dan jika ingin kontak dengan Kaisar bukan hal yang sulit!”

Thian-te-siang-kun sangat setuju. Jin-kun berkata lagi: “Asalkan kita bisa kontak dengan Kaisar, hal lainnya akan

menjadi sangat sederhana!”

“Kapan kita akan berangkat?”

“Pastinya sekarang. Kalian mengira keluarga Lamkiorig masih berguna bagi kita?” Jin-kun tertawa terbahak-bahak. Thian-te- siang-kun juga tertawa. Sampai saat ini mereka mengagumi Jin- kun. Jangankan cara berpikir, dari sudut mana pun terlihat Jin-kun berada di atas mereka. Mereka tidak akan ragu bila kaisar jatuh di tangan mereka dan akan mendengar perintah darinya.

Jika dunia bisa digenggam oleh mereka, bukankah itu adalah hal yang membanggakan? Mereka tertawa dengan senang. Kiang Hong-sim juga tertawa. Sebenarnya dia adalah utusan lampu merah dari Pek-lian-kau. Pastinya dia sudah tidak peduli pada posisi utusan. Mengikuti Jin-kun sejak lama membuatnya menjadi serakah.

Cu Kun-cau diatur oleh Jin-kun untuk menggantikan kedudukan Kaisar. Walaupun dia boneka tapi jika bisa menjadi raja boneka itu merupakan hal yang bisa dibanggakan.

Jin-kun sepertinya sudah melihat itu, tiba-tiba dia bertanya: “Apakah kau masih tertarik menjadi utusan lampu merah?” Kiang Hong-sim tertawa:

“Utusan lampu merah sudah lama diberikan pada orang lain, untuk apa membuat orang itu sulit?”

“Akhirnya kau pun bisa memikirkan orang lain!” Jin-kun tertawa.

“Tenanglah, aku tidak akan merebut Cu Kun-cau darimu!”

Kiang Hong-sim hanya bisa tertawa. Pandangan Jin-kun tajam dan teliti. Di sisi Jin-kun dia tidak mempunyai niat serakah.

Tapi Jin-kun memang berhati serakah, apalagi ada Thian-ho Sangjin yang menjadi orang dalam. Ingin menjalankan rencana itu tidak terlalu sulit. Apalagi sampai saat ini dari Su Yan-hong tidak ada kabar.

200-200-200.

Saat ini Su Yan-hong masih mengira ini hanyalah musibah dunia persilatan.

Setelah meninggalkan Pek-hoa-couw dan mundur beberapa li, Su Yan-hong dan yang lain baru berhenti. Mereka tiba di sebuah kuil kuno yang sudah tidak digunakan lagi.

Sepanjang jalan mereka meninggalkan tanda tapi setelah menunggu, Wan Fei-yang belum datang juga. Mereka mulai merasa khawatir. Pertama Siau Cu yang tidak sabar ingin kembali melihat keadaan. Su Yan-hong tidak melarangnya. Baru saja Siau Cu bersiap akan pergi, Wan Fei-yang sudah tiba di sana. Melihat yang datang hanya Wan Fei-yang dan terlihat sedih. Semua orang tahu telah terjadi sesuatu pada Bu-wie Taysu dan Wan-tianglo.

“Wan-toako,...” Siau Cu dan Fu Hiong-kun datang menyambutnya, “bagaimana dengan Wan-tianglo?”

“Kalian sangat mengenal sifatnya!” Wan Fei-yang menarik nafas, “bertemu lawan yang belum jelas siapa yang menang atau kalah mana mungkin dia mau berhenti!”

Siau Cu mengomel:

“Orang itu selalu begitu, sekarang keinginannya bisa terlaksana!”

“Dia memang sambil tertawa roboh dan mati. Kalau bukan karena dia, bagaimana mungkin kita bisa menahan serangan Hen- lo-sat?”

“Ini hal yang baik, kita tidak perlu melayaninya lagi dan tidak perlu ke Sian-tho-kok!” Walaupun mengomel tapi air mata Siau Cu terus mengalir.

“Kamilah yang memancingnya ke Pek-hoa-couw!” Fu Hiong-kun menangis.

“Bagaimana dengan Bu-wie Taysu?” Tanya Su Yan-hong.

“Satu kali sekuat tenaga dia mengeluarkan Say-cu-houw nya membantuku kabur!” Wan Fei-yang duduk dengan sedih.

“Apakah Hen-lo-sat sanggup menahannya?” Su Yan-hong tidak lupa kekuatan auman singa:

“Sebenarnya kau bisa mengambil kesempatan menyingkirkan dia!”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Hen-lo-sat hanya terganggu sebentar. Aku melihat reaksinya. Dia kembali pulih. Thian-te-siang-kun pun seperti itu. Kulihat Bu- wie Taysu tahu hal ini jadi menyuruhku mengambil kesempatan meninggalkan tempat.” Su Yan-hong menarik nafas. Fu Hiong-kun segera bertanya: “Mengapa mereka tidak mengejar hingga ke sini?”

Wan Fei-yang tampak berpikir sebentar:

“Kurasa masalah yang terpenting adalah jarak nya terlalu jauh untuk menguasai Hen-lo-sat!”

Fu Hiong-kun mengangguk:

“Memang dia harus memakai peluit untuk menguasai jalan pikirannya dan menggunakan obat pun ada batas waktunya!”

“Aku rasa mereka pasti mempunyai rencana penting yang akan mereka lakukan!” Kata Wan Fei-yang.

“Hasil pertarungan seperti sekarang ini seharusnya membuat mereka merasa puas!” Kata Fu Hiong-kun.

“Kalau mereka mengejar, kita harus melawan mereka habis- habisan!” Ucap Siau Cu.

“Itu sudah pasti!” Balas Wan Fei-yang.

“Menurutmu ilmu silat Hen-lo-sat sudah men capai tahap mana?” Tanya Fu Hiong-kun.

“Seharusnya dengan kekuatan Bu-wie Taysu dan aku, bisa mengalahkan dia!” Kata Wan Fei-yang.

“Aku dan Siau Sam Kongcu bisa menghadang Thian-te-siang- kun, sedangkan yang lainnya meng hadapi Jin-kun dan 5 utusan lampu!”

“Semua orang bekerja sama tapi begitu Wan-tianglo turun, aku, dan Bu-wie Taysu sama sekali tidak memiliki kesempatan bekerja sama!” Kata Wan Fei-yang.

Fu Hiong-kun mengeluh:

“Seperti itulah sifatnya. Dia menganggap Hen-lo-sat miliknya jadi orang lain tidak boleh ikut campur dan Bu-wie Taysu terlalu baik hati. Dia pengikut agama Budha, tidak mau orang lain yang berada dalam bahaya dan dibunuh. Akhirnya memberi kesempatan pada Hen-lo-sat membunuh satu per satu!” “Apakah selain Hen-lo-sat masih ada pembunuh seperti itu? Kita harus memikirkannya dulu!” Su Yan-hong tertawa kecut, “Jin-kun adalah orang yang berpikir panjang, dia tidak akan menonjolkan semua kekuatannya. Kecuali kalau dia mempunyai kesempatan menjala kita semua!”

Wan Fei-yang mengangguk:

“Caranya memang seperti itu!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Siau Sam Kongcu.

Tanpa berpikir Su Yan-hong segera menjawab:

“Menurutku, lebih baik kita ke ibukota untuk bersembunyi, dan melihat perubahan yang terjadi sambil memberitahu semua perkumpulan agar berhati-hati dan waspada!”

Wan Fei-yang mengeluh:

“Bu-tong, Kun-lun, Heng-san, dan keluarga Lamkiong terluka dan yang meninggal sangat banyak...”

“Di Hoa-san-pai sudah tidak ada orang lagi!” Kata Siau Sam Kongcu.

“Pondasi Siauw-lim lebih kuat dan murid-muridnya lebih banyak. Jika Pek-lian-kau ingin memusnahkan Siauw-iim-pai, dia akan ke Siong-san Siauw-Iim-si!” Su Yan-hong mengerutkan kedua alisnya:

“Kalau begitu di mana dia berada?”

“Sebenarnya dengan kekuatan mereka sekarang ini, cukup untuk menguasai dunia persilatan!” Wan Fei-yang menatap Su Yan-hong, “karena itu memberitahu semua perkumpulan sudah tidak diperlukan lagi. Tujuan mereka adalah menguasai dunia persilatan, dalam waktu 1-2 hari ini pasti ada kabar dari mereka!” dia berkata lagi, “semua orang masuk ibukota untuk bersembunyi itu adalah ide yang bagus!”

Wajah Su Yan-hong tampak berubah: “Kau khawatir mereka akan pergi ke kerajaan membuat masalah?”

“Sebenarnya kau pun mengkhawatirkan itu bukan!” Kata Wan Fei-yang.

Su Yan-hong tertawa kecut:

“Ada sedikit perasaan khawatir, tidak sengaja mengeluarkan berpendapat ingin semua orang masuk ibukota!”

“Sebenarnya Thian-te-siang-kun bersekongkol dengan Liu Kun. Jin-kun bersandar pada Ling-ong. Kalau kita menyebut tujuan mereka hanya dunia persilatan benar-benar membuat orang sulit percaya!” Pendapat Wan Fei-yang, “di kerajaan masih ada siapa yang mau bersekongkol dengan mereka?”

Su Yan-hong tampak berpikir sebentar dan menggelengkan kepala:

“Aku rasa tidak ada!”

“Apapun yang terjadi, semua orang harus ikut Hou-ya masuk ke ibukota!” Wan Fei-yang melihat Bwe Au-siang, Beng-cu, dan Siau Cu.

Beng-cu dan Siau Cu belum membuka mulut. Tiong Bok-lan sudah berkata:

“Demi mempertahankan keturunan keluarga Lamkiong, kami pasti akan berjuang mati-matian!”

Beng-cu mengangguk. Kata Siau Cu:

“Wan-toako tidak perlu merasa khawatir!”

Dia bicara seakan dia menantu keluarga Lamkiong. Beng-cu mengerti maksudnya, dia tidak mengatakan apa-apa.

Bwe Au-siang melihat mereka. Air matanya terus menetes. Beng- cu dan Tiong Bok-lan memapah mereka, 3 orang perempuan ini menangis tersedu-sedu.

Wan Fei-yang melihat Su Yan-hong:

“Hou-ya, semua kuserahkan padamu mengurus mereka!” “Lote mau ke mana?” Tanya Su Yan-hong.

“Aku ingin kembali ke keluarga Lamkiong dan mencari tahu apa tujuan mereka? Jika ada kesempatan aku akan membunuh mereka!”

“Ide bagus...” Su Yan-hong menepuk pundak Wan Fei-yang, “harus dengan cara mereka beraksi membalas mereka. Jangan berbaik hati seperti perempuan!”

“Aku tahu harus melakukan apa!” Tanggap Wan Fei-yang.

201-201-201

Malam hari, diam-diam Wan Fei-yang masuk ke keluarga Lamkiong. Dia tidak bisa menyamar. Walaupun dia bisa melakukannya dengan menyamar menjadi orang-orang utusan 5 lampu. Jika tidak ingin masuk ke tempat rahasia keluarga Lamkiong tidak mungkin bisa melakukannya.

Dengan ilmu silat yang dia kuasai, malam-malam masuk ke keluarga Lamkiong adalah hal mudah. Tapi begitu masuk, dia mulai merasa tidak semudah perkiraannya.

Sorot matanya sangat tajam. Pendengarannya lebih kuat dibanding orang biasa. Memang belum mencapai tahap bisa melihat langit dan mendengar bumi, tapi dalam jarak 10 tombak kecuali lawan mempunyai ilmu silat sekuatnya, dia bisa tahu. Kalau tidak ketika dia sedang berkonsentrasi dan berhati-hati mencari, tetap tidak akan ada hasilnya. Sepertinya tidak mungkin.

Sepanjang jalan masuk ke sini dia seperti masuk ke tempat yang tidak ada orangnya, membuatnya menaruh curiga. Apakah ini merupakan suatu jebakan? Dia berputar di daerah Ciu-ci-tong, baru pelan-pelan masuk.

Kediaman keluarga Lamkiong seperti kota setan, tidak ada lampu. Termasuk Ciu-ci-tong. Wan Fei-yang dengan berhati-hati masuk ke sana. Setelah yakin di dalam tidak ada seorang pun, dia baru pelan-pelan masuk ke tempat rahasia.

Baginya itu bukan hal sulit. Di dalam Siau-hun-lo (penjara) tidak ada lampu yang bersinar, tapi menurut perasaan Wan Fei-yang ada seseorang di sana. Dia tidak bergerak dengan berkonsentrasi melihat apakah ada orang di sana atau tidak.

Dia merasa ada orang dan orang itu terluka sulit bergeser dari tempatnya.

Dia tetap tidak tahu orang itu ada di mana. Terpaksa Wan Fei- yang menyalakan korek api, menyalakan lampu penjara. Dia melihat ada beberapa peti mati kosong. Seorang orang tua sepasang tangan nya memegang pedang. Dia bersandar di sisi peti mati dan terduduk di bawah. Tubuhnya terus gemetar.

Yang Wan Fei-yang lihat hanya orang ini.

Pedang ditusuk dari dada depan dan menem bus hingga punggung dan. Darah yang mengalir sudah membeku, tapi sangat aneh dan suatu mujizat dia masih hidup.

Wan Fei-yang mendekatinya. Orang itu masih memiliki perasaan. Tiba-tiba dia membuka matanya dan melihat Wan Fei- yang.

“Siapa Tuan?” Wan Fei-yang bertanya. “Sai-gwa-sam-sian...”

“Kau adalah It-sian” Dari Su Yan-hong, Wan Fei-yang tahu kalau Yauw-sian dan Tok-sian sudah meninggal.

“Baik, kau sudah tahu aku It-sian. Dari sini bisa tahu kalau kau orang baik. Akhirnya aku berhasil menunggu!” It-sian tersenyum.

Wan Fei-yang melihat pegangan pedang. Dia ingin mencabut pedang itu tapi setelah dipikir-pikir akhirnya dia tidak melakukannya.

It-sian melihat gerak geriknya. Wajahnya terlihat tegang lalu melihat Wan Fei-yang tidak mencabut pedangnya. Dia bernafas lega. Dengan terengah-engah berkata:

“Baik sekali kau tidak mencabut pedang. Kalau tidak, aku akan mati seketika!” “Aku bisa melihatnya!” Tanggap Wan Fei- yang.

“Dalam situasi seperti ini kau masih bisa terlihat tenang, benar- benar sulit dipercaya!” Kata It-sian, “apakah kau berniat mencari Jin-kun dan yang lain?”

“Apakah mereka sudah melarikan diri dari sini?”

“Orang yang berguna bagi mereka sudah di bawa kabur oleh mereka. Orang yang tidak ada gunanya seperti aku, sulit menghindari kematian!” It-sian terus batuk.

“Aku akan membantumu dengan tenaga dalamku!” Tawar Wan Fei-yang.

“Tidak perlu, aku sudah minum 3 kali su-beng-kin-tan, itu sudah cukup!” It-sian menggelengkan kepala.

“Su-beng-kin-tan?”

“Jin-kun menculikku dan di bawa kemari karena ingin aku membuatkan obat sejenis itu. Aku tahu dengan obat ini mereka berniat melatih sekelompok pembunuh, tapi nadi 3 Sim ditotok mereka, aku hidup tidak bisa mati pun tidak bisa. Terpaksa aku membuatkan obat untuk mereka.”

“Apa gunanya obat itu?”

“Jin-kun menemukan sejenis obat di mana dia bisa menguasai akal sehat manusia dan bisa membuat kekuatan orang tersebut yang belum keluar bisa keluar. Obat ini terlalu hebat, bila tenaga sudah keluar tidak bisa dihentikan. Orang itu akan kelelahan dan bisa mati!”

Wan Fei-yang segera teringat:

“Hen-lo-sat...”

“Karena memakan obat itu Hen-lo-sat berubah lihai tapi kalau tidak dibantu Su-beng-kin-tan tidak hanya tenaga yang tersimpan tidak bisa keluar, dia akan...”

“Karena ingin mendapatkan Su-beng-kin-tan jadi Jin-kun menculikmu dibawa kemari. Hen-lo-sat sekarang begitu lihai, pasti berhasil dan sukses!” It-sian menggelengkan kepala:

“Memang Jin-kun sangat hafal dengan obat-obatan, tapi dia belum mencapai tahap seperti diriku. Dia sangat pintar, tidak perlu waktu 3 bulan dia sudah bisa menyatukan Su-beng-kin-tan dengan obat nya. Saat itu Hen-lo-sat akan lebih lihai lagi!”

“Apakah sekarang belum mencapai puncak kelihaiannya?” “Belum...” It-sian menarik nafas, “bila sudah tiba saat itu, tidak

ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Waktu itu dunia

persilatan entah akan menjadi apa!”

“Sekarang ingin menghentikan dia, sudah tidak mudah!” “Tidak seperti itu juga...” Suara It-sian semakin melemah.

“Apakah Lo-cianpwee ada caranya?” Wan Fei-yang bertanya dengan cemas.

“Obat dari Jin-kun adalah milik Pek-lian-kau...” Suara It-sian bertambah lemah.

“Cara mengatasinya?” Dengan tenaga dalamnya Wan Fei-yang memasukkannya ke pernafasan It-sian.

“Orang yang menurunkan lonceng harus orang yang mengikatnya...” Nafas It-sian sudah berhenti karena khasiat obat sudah habis.

Sekali lagi Wan Fei-yang memasukkan tenaga dalam ke pernafasan tapi sudah tidak ada reaksi apa- apa. Dia mencoba nadi It-sian dan menarik nafas panjang.

“Orang yang menurunkan lonceng harus orang yang mengikal lonceng!” Tapi Wan Fei-yang benar-benar tidak mengerti. Dia hanya ingat saat di Siauw-lim-si untuk beristirahat menyembuhkan lukanya, dia pernah mendengar ucapan Bu-wie Taysu bahwa kakek guru murid Pek-lian-kau adalah Pheng-hweesio. Pheng-hweesio lahir di Siauw-lim. Jika obat Jin-kun didapatkan dari Pek-lian-kau, apakah ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai?

Ingin mengetahui Pheng-hweesio terpaksa harus pergi ke Siauw- lim-si. Wan Fei-yang bersiap pergi ke Siauw-lim-si. Tapi setelah meninggalkan Siau-hun-lo dan melihat sekeliling, dia berubah pikiran.

Di keluarga Lamkiong tidak ada seorang pun yang hidup. Wan Fei-yang melihat semua hanya ada mayat. Tidak diragukan lagi mereka adalah orang-orang keluarga Lamkiong. Setelah Jin-kun meninggalkan tempat ini, dia ingin membasmi sampai ke akar- akarnya, satu pun tidak ada yang tersisa.

Murid-murid Pek-lian-kau pergi begitu cepat tidak ada yang tersisa di sana. Pastinya sudah ada rencana tersendiri. Apakah mereka akan pergi ke ibukota?

Karena menaruh curiga seperti itu, Wan Fei-yang pun jadi ingin pergi ke ibukota dan berkumpul dengan Su Yan-hong, lalu membuat rencana baru.

202-202-202

Saat Su Yan-hong dan yang lainnya tiba di ibukota, bisa dikatakan berlangsung cepat, tapi tetap lebih lambat dari Jin-kun. Saat mereka mendekati ibukota, Jin-kun bisa kontak dengan Thian- ho Sangjin dan menyusun rencana serta menjalankan langkah pertama.

Pertama dengan ilmu sesat mereka membuat Kaisar bingung dan menurunkan perintah menggeledah rumah Su Yan-hong. Kesalahan Su Yan-hong adalah bersekongkol dengan Ling-ong menyusun rencana memberontak.

Membuat seorang Kaisar menjadi sesat pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang. Demi menghindari kecurigaan orang- orang, mereka melakukannya dengan tidak menyolok tapi Kaisar memang bermaksud menyingkirkan Su Yan-hong jadi dia pun terpikir cara ini. Tidak perlu Thian-ho Sangjin banyak bercerita, Kaisar segera menurunkan perintah untuk menggeledah rumah Su Yan-hong.

Sebenarnya setelah Liu Kun dibunuh, kekuatan Ling-ong sudah hancur. Bagi Kaisar Su Yan-hong sudah tidak ada harganya lagi. Untung begitu Kao Sen dan Kang Pin mendapat kabar, diam- diam segera memberitahu keluarga Su Yan-hong agar keluar dari sana dan juga membawa Ih-lan pergi.

Kabar didapat dari Han Tau. Han Tau sudah dibeli oleh Thian-ho Sangjin dan rela diperalat. Untung Kao Sen dan Kang Pin cekatan dan tidak terlihat celah oleh Han Tau.

Su Yan-hong terkejut. Tapi begitu tahu putrinya tidak apa-apa, baru menarik nafas lega.

Pek-lian-kau akan memperalat kerajaan, itu sudah berada dalam perkiraannya, tapi Jin-kun bersekongkol dengan Thian-ho Sangjin, itu di luar dugaannya.

Semua sudah terjadi seperti ini, Su Yan-hong tidak mempunyai akal lagi, terpaksa menyerahkan Ih-lan kepada Su Ceng-cau yang memang bertugas mengurusnya. Kemudian bersama dengan yang lain tinggal di sebuah rumah.

Rumah itu adalah rumah Su Yan-hong, jarang dipakai tapi selalu diurus dan dirawat oleh 2 orang pembantu tua dan setia.

Su Yan-hong dan Siau Cu malam-malam masuk ke istana. Karena telah hafal dengan lingkungan kerajaan dengan mudah mereka bisa menemukan tempat tinggal Kaisar. Mereka melihat Kaisar seperti tidak sadar, hanya tahu makan obat .dan main perempuan. Melihat sorot matanya, mirip dengan Hen-lo-sat, mereka tahu Kaisar sudah terkena ilmu sesat Jin-kun dan ilmu ini mereka tidak sanggup mencairkannya. Maka mereka mundur diam- diam.

Saat mereka masuk, tidak diketahui oleh siapa pun tapi saat mundur ketahuan oleh Thian-ho Sangjin. Dia membawa sekelompok Lhama mengejar mereka.

Mereka berdua bertarung sambil mundur, ber sembunyi ke sana- kemari tapi tetap saja tidak bisa terlepas dari kejaran hweesio- hweesio Tibet itu. Thian-ho Sangjin mendapat kabar dan dia segera berlari ke tempat itu. Memang dengan tenaga mereka berdua, mereka tidak takut tapi ingin lari dari sana rasanya tidak mungkin lagi. Apalagi bila Sam-cun dan murid-murid Pek-lian-kau mendapatkan kabar ini, mereka pasti akan segera datang. Akibatnya sulit dipikirkan lagi.

Siau Cu melihat situasi sudah tidak benar lagi, dia sudah siap mati agar Su Yan-hong mempunyai kesempatan keluar dari sana dengan jalan melewati dinding dan kabur dari sana. Waktu itu Wan Fei-yang tiba-tiba muncul di sana.

Dia melewati dinding. Thian-can-kang mulai dikeluarkan, seperti ada benang tidak terlihat keluar dari tubuhnya, membuatnya dan dinding menyambung menjadi satu. Dia berjalan seperti di dataran rendah. Turun dari dinding tinggi, seperti berjalan turun. Kedua tangannya segera memegang Siau Cu dan Su Yan-hong kemudian meloncat ke atas dinding.

Hweesio-hweesio Tibet itu terpaku. Karena dengan ilmu silat yang mereka miliki tidak ada satu pun yang bisa naik ke dinding yang begitu tinggi.

Terkecuali Thian-ho Sangjin, sewaktu dia naik ke atas dinding, Wan Fei-yang sudah menaruh Su Yan-hong dan Siau Cu, lalu mengeluarkan kedua telapaknya dan menyerang.

Dia ingin membunuh Thian-ho Sangjin tapi ilmu Tai-jiu-im sudah dikeluarkan. Dia menyambut sepasang telapak tangan Wan Fei-yang.

Tadinya Wan Fei-yang ingin dengan Thian-can-kang melilit sepasang telapaknya kemudian dengan semua tenaga dalamnya dia ingin menggetarkan organ dalamnya. Tapi baru saja kedua telapaknya akan menyambut, malah bersalto keluar dari sana.

Thian-ho Sangjin sangat berpengalaman. Begitu terkena serangan, tahu kalau dia bukan lawan Wan Fei-yang karena itu dia segera mengambil keputusan menghindar.

Walaupun begitu, dia tetap tergetar sampai organ dalamnya seperti meloncat. Dia terhuyung-huyung mundur 3 langkah baru bisa berdiri tenang.

Su Yan-hong melihat dengan jelas dari sisi. Dia menarik nafas: “Sayang...”

Dia menyayangkan tidak ada kesempatan membunuh Thian-ho Sangjin. Maka segera pergi bersama dengan Wan Fei-yang dan Siau Cu.

203-203-203

Yang pasti Sam-cun dengan cepat mendapat kabar. Thian-te- siang-kun ingin segera ke sana, tapi dicegat oleh Jin-kun. Alasan Jin- kun sangat sederhana. Jika Thian-ho Sangjin bisa menangkap mereka, tidak perlu mereka yang ke sana. Jika tidak bisa menangkap, walaupun ke sana lawan pasti sudah pergi saat ini.

Hal yang sebenarnya terjadi memang seperti itu. Thian-ho Sangjin sudah kembali Thian-te-siang-kun semakin kagum kepada Jin-kun mereka rela men-dengar perintah dari Jin-kun. ' Mengetahui Wan Fei-yang sudah datang, Jin-kun sama sekali tidak terlihat takut. Dia hanya tertawa.

“Orang itu sangat terkenal, benar-benar bukan orang biasa!” Thian-ho Sangjin biasanya jarang memuji.

Jin-kun menjawab dengan santai:

“Thian-can-kang adalah ilmu silat nomor satu di dunia ini. Kalau satu lawan satu, kita bukan lawannya!”

“Apakah Hen-lo-sat juga seperti itu?” Tanya Thian-ho Sangjin penuh dengan kekhawatiran.

Jin-kun tertawa:

“Kalau Wan Fei-yang benar-benar berperang, Hen-lo-sat tidak sanggup melawannya. Bila khasiat obatnyanya habis, dia menjadi orang tidak berguna, seperti orang cacat. Kita harus mengatur Hen- lo-sat dengan baik. Pada akhirnya nanti Wan Fei-yang yang akan mati olehnya!”

Thian-ho Sangjin menggelengkan kepala:

“Aku tidak mengerti!”

“Karena kau tidak mengetahui keadaan Hen-lo-sat, keadaan dunia persilatan pun kau tidak tahu banyak!” “Apakah bisa menjelaskannya dengan lebih detil?” Tanya Thian- ho Sangjin.

“Apakah kau tahu siapa sebenarnya Hen-Io- sat?”

“Tidak tahu! Apakah ada hubungannya dengan Wan Fei-yang?” “Hubungan mereka sangat erat. Nama Hen-lo-sat aslinya adalah

Tokko Hong. Dia adalah putri Tokko Bu-ti,” jelas Jin-kun.

“Aku tahu siapa Tokko Bu-ti, dia dari perkum pulan Bu-ti-bun!”

“Ilmu silat yan Tokko Bu-ti latih bernama Pit-coat-mo-kang (ilmu sesat). Dia berlatih ilmu Pit-coat-mo-kang, dia adalah Ciat-ci- coat-sun (tidak punya keturunan) jadi Tokko Hong sebenarnya adalah anak haram dari istri Tokko Bu-ti. Sen Man-cing yang berselingkuh dengan ketua Bu-tong-pai yang bernama Ceng-siong Tojin!”

“Wan Fei-yang adalah orang Bu-tong-pai...” “Dia juga anak haram dari Ceng-siong.”

“Berarti Tokko Hong dan Wan Fei-yang adalah saudara kandung?”

“Benar, tapi Wan Fei-yang mengira kalau Tokko Hong sudah meninggal. Dia tidak tahu Tokko Hong jatuh ke dalam jurang tapi tidak mati karena diselamatkan olehku!” Jelas Jin-kun.

D.ia tertawa lagi dan bertanya:

“Bila tiba-tiba Tokko Hong muncul di depannya, apa reaksi Wan Fei-yang?”

Thian-ho Sangjin mengangguk:

“Pasti tidak menyangka, semua ini di luar dugaannya. Karena Tokko Hong masih kau kuasai. Bila dia tiba-tiba muncul, Wan Fei- yang tidak akan bisa menghindar lagi!”

“Betul! Sebenarnya kali ini Wan Fei-yang datang hanya mencari kematiannya sendiri!” Ucap Jin-kun.

Saat Thian-ho Sangjin melihat sorot matanya, dia gemetar hatinya merasa dingin. Thian-te-siang-kun juga seperti itu. Mereka selalu merasa diri mereka sendiri galak dan kejam tapi bila dibandingkan dengan Jin-kun, mereka merasa masih di bawah Jin- kun.

Jin-kun menatap mereka. Dia tertawa lepas.

*** Mimpi sekalipun Wan Fei-yang tidak mengira kalau Hen-lo-sat adalah Tokko Hong. Dia juga tidak membayangkan Jin-kun akan menggunakan cara yang begitu keji dan licik. Berturut-turut dua kali bertarung dengan Hen-lo-sat, Wan Fei-yang selalu punya perasaan aneh tapi dengan cepat perasaan ini hilang. Kesadisan Hen-lo-sat membuat Wan Fei-yang merasa dia adalah lawan paling menakutkan seumur hidupnya. Tapi dia belum pernah berpikir siapa Hen-lo-sat itu.

Su Yan-hong dan lain-lain juga seperti itu. Dalam bayangan mereka, Hen-lo-sat adalah seorang pembunuh yang Jin-kun latih dengan obat-obatan. Yang pasti Hen-lo-sat adalah orang yang sangat kejam dari dunia gelap. Bahkan Fu Hiong-kun juga tidak merasakan keberadaan Tokko Hong di dunia ini, apalagi orang lain.

Dari Wan Fei-yang mengetahui keadaan It-sian, Su Yan-hong baru ingat dulu dia dan Tiong Toa-sianseng pernah berkumpul di tempat Sam-sian dan menemukan beberapa jejak-jejak tertinggal yang menunjukkan bahwa dalam waktu yang singkat ini Jin-kun sangat mungkin bisa mencampurkan dua jenis obat menjadi satu. Maka pada waktu itu Hen-lo-sat akan menjadi lebih kuat dan lebih lihai dari seka rang. Hal ini membuat semua orang terkejut dan bergetar.

Setelah berunding, Wan Fei-yang mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sini membantu Su Yan-hong, biar Siau Cu yang pergi ke Siauw-Iim-si untuk mencari tahu rahasia orang yang menurunkan lonceng,.yaitu dengan mencari orang yang mengikat lonceng seperti yang dikatakan It-sian.

Siau Cu dalam situasi yang sangat berbahaya ini mendapat tugas, apalagi Bi-giok-leng berada di tangannya. Tidak diragukan lagi sekarang dia sebenarnya adalah ketua Pek-lian-kau. Tugas ini benar-benar sangat pantas diberikan padanya.

Setelah Siau Cu pergi, Wan Fei-yang dan lain-lain tidak punya pekerjaan lain. Melihat Lu Tan yang seperti orang bodoh, mereka benar-benar terkejut. Dengan ilmu 'Bi-hun-tay-hoat' (Menyesatkan roh) semua orang berharap bisa mendapat mengembalikan Lu Tan kembali ke normal.

Kalau cara ini berguna untuk Lu Tan, pasti ada cara juga untuk kaisar. Bila kaisar kembali normal, setidaknya bisa mengusir Pek- lian-kau dari ibukota. Jika bisa membuat Hen-lo-sat sadar, itu lebih bagus lagi. Walaupun tidak bisa memusnahkan semua ilmu silat Hen-lo-sat, sedikit juga lumayan. Dengan demikian dia akan lebih mudah dihadapi.

Pertama-tama, Fu Hiong-kun menggunakan cara tusuk jarum. Dia menguasai ilmu tusuk jarum dengan baik, maka tidak akan sembarangan menusuk nadi Lu Tan. Dia pasti akan mencari nadi dengan tepat. Tapi Lu Tan sama sekali tidak ada reaksi apapun.

Puluhan cara sudah digunakan, tapi tetap tidak berkhasiat. Fu Hiong-kun terpaksa harus menga ku gagal.

Ada satu cara lagi, yaitu dengan mengerahkan semua tenaga dalam untuk melancarkan jalan darah Lu Tan dan kemudian memaksa obat keluar dari tubuhnya.

Dari semua orang ini, yang mempunyai tenaga dalam paling kuat adalah Wan Fei-yang. Wan Fei-yang bermaksud melakukannya tapi begitu tenaga dalam dimasukkan Lu Tan langsung bereaksi. Dia seperti orang gila, tubuhnya tiba-tiba meloncat ke atas, dia menabrak dan memecahkan atap rumah lalu lari keluar.

Tidak ada orang yang sempat menghadangnya. Mereka berusaha mengejar tapi Lu Tan sudah menghilang di dalam kegelapan, maka semua orang berpencar untuk mencarinya. Mereka berjanji untuk berkumpul kembali di sini besok pagi.

Ketika mereka meninggalkan tempat, Thian-ho Sangjin mengirim orang untuk menggeladah kediaman keluarga Su.

Karena belum tahu di mana Su Yan-hong berada dan takut mereka kabur, maka Thian-ho Sangjin hanya membawa beberapa pesilat tangguh, satu baris pasukan bersenjata dan Hen-lo-sat. Setelah masuk ke dalam kebun, mereka tidak menemukan seorangpun di sana, tapi ada jejak yang menunjukkan ada orang pernah berada di sana. Thian-ho Sangjin mengira Su Yan-hong dan lain-lain sudah pergi maka mereka meninggalkan tempat. Tapi baru setengah jalan, dia berubah pikiran. Dia meninggalkan Hen-lo-sat di sana semalam. Bila tidak ada yang bisa mereka temukan, mereka baru akan membawa Hen-lo-sat pulang.

Sebenarnya ini adalah ide Kiang Hong-sim. Dia ingin menonjolkan diri maka tidak melepaskan sedikit kesempatan pun. Dia dan Hen-lo-sat tinggal di sana.

Yang pasti Thian-ho Sangjin menyetujuinya.

Tadinya Kiang Hong-sim tidak terlalu berharap akan berhasil, hanya saja dia juga sedang tidak ada kerjaan, siapa tahu dia benar- benar bertemu dengan mereka.

Subuh hari, orang-orang yang pergi mencari Lu Tan mulai kembali. Yang pertama kembali adalah Siau Sam Kongcu, Tiong Bok-lan dan Beng-cu bertiga.

Melihat Tiong Bok-lan dan Beng-cu, Kiang Hong-sim sangat marah. Waktu di keluarga Lam-kiong dia tidak pernah akrab dengan dua orang ini. Bila bisa membunuh dua orang ini dan Siau Sam Kongcu, dia akan bisa mendapatkan jasa besar. Kesempatan ini, mana mungkin dia lepaskan?

Karena ilmu silat Beng-cu dan Tiong Bok-lan agak rendah maka mereka tidak merasakan apa-apa.

Tapi begitu Siau Sam Kongcu mendekati Hen-lo-sat, dia mulai merasakan aura pembunuh, maka dia segera mencegat mereka berdua, “Ada apa?” Tiong Bok-lan bertanya, tapi dia siap menggunakan kecapi besi.

Beng-cu melihat, dia segera mencabut pedang. Tapi pada waktu yang bersamaan Siau Sam Kongcu sudah membentak:

“Cepat pergi dari sini...”

Karena dia sudah merasakan datangnya aura membunuh yang begitu tinggi.

Belum selesai Siau Sam Kongcu berucap, dari balik sekat rumah Hen-lo-sat sudah muncul seperti angin ribut.

Siau Sam Kongcu sudah mencabut Toan-cang-kiam, dia menghadang di depan Tiong Bok-lan dan Beng-cu. Begitu jurus keluar segera Toan-cang-kiam muncul. Dia tidak berharap bisa membunuh Hen-lo-sat, hanya berharap bisa menghadangnya agar Tiong Bok-lan dan Beng-cu punya kesempatan kabur.

“Cepat pergi...” Dia membentak lagi.

Tiong Bok-lan membentak kepada Beng-cu:

“Cepat kau pergi dari sini...”

Yang pasti Beng-cu tidak mau pergi. Waktu kecapi besi dikeluarkan, bersamaan pedang Beng-cu juga dicabut.

Siau Sam Kongcu membentak lagi:

“Hen-Io-sat ada di sini, kita tidak akan selamat. Cepat kalian pergi berilahu Hou-ya dan lain-lain atau semua akan mati di sini, cepat pergi...”

Beng-cu mengerti maksud Tiong Bok-lan, dia cepat mundur. Waktu mereka baru meloncat keluar melewati dinding tinggi,

Siau Sam Kongcu sudah didesak Hen-Io-sat. Toan-cang-kiam di

bawah paksaan tenaga dalam Hen-lo-sat, akhirnya terlepas dari tangan Siau Sam Kongcu dan terbang ke atas. Di tengah-tengah udara Toan-cang-kiam terputus menjadi dua bagian.

Sepasang telapak Hen-lo-sat segera datang menyerang. Siau Sam Kongcu tidak ada jalan untuk mundur lagi. Dia juga  tidak ada tempat untuk menghindar. Terpaksa menyambut serangan dengan dua telapak tangannya.

Seperti suara petir beradu tubuh Siau Sam Kongcu terpental ke dinding, membuat lubang di dinding yang berbentuk tubuh. Dia berteriak memilukan, kemudian tubuhnya jatuh melewati lubang dinding yang berbentuk tubuh itu.

Dinding itu segera hancur dan roboh.

Hen-lo-sat melangkah melalui dinding yang roboh dan mengejar Beng-cu dan Tiong Bok-lan.

Siau Sam Kongcu jatuh terlentang, dari ke tujuh inderanya darah terus mengalir. Sepasang mata nya membelalak. Organ tubuhnya sudah hancur oleh tenaga dalam Hen-lo-sat, dia langsung meninggal di tempat.

Tiong Bok-lan dan Beng-cu mendengar suara teriakan Siau Sam Kongcu. Air mata Tiong Bok-lan terus menetes. Dia ingin mati bersama Siau Sam Kongcu, tapi demi semua orang dia tetap berlari.

Hati Beng-cu juga sedih. Melihat Tiong Bok-lan berlari cepat, dia ikut berlari cepat juga.

Kemudian mereka merasakan aura membunuh yang datang dari belakang. Begitu menoleh ke belakang, Hen-lo-sat sudah sangat dekat.

“Beng-cu, kau cepat lari...” Dua tangan Tiong Bok-lan mencengkram kecapi besi. Dia menyambut Hen-lo-sat dan siap melawan dengan nyawanya.

“Bibi kelima, kita tidak bisa menghindar!” Ini adalah perkataan jujur Beng-cu. Siau Sam Kongcu yang sudah dengan sekuat tenaga juga tidak sanggup melawan Hen-lo-sat, apalagi Tiong Bok-lan.

Waktu mereka berbicara, Hen-lo-sat sudah mendekat, sepasang telapaknya mengeluarkan serang an untuk mencabut nyawa. Tenaga dalam terus keluar bergulung-gulung. Pukulan belum sampai, Tiong Bok-lan dan Beng-cu sudah merasa sesak. Belum sempat kedua belah pihak beradu. Wan Fei-yang sudah tiba. Dengan sepasang, telapak, Wan Fei-yang menyambut serangan Hen-lo-sat dengan sekuat tenaga.

Saat itu Wan Fei-yang kebetulan pulang. Dari jauh dia mendengar suara teriakan Siau Sam Kongcu dan tahu sudah terjadi sesuatu, maka dengan cepat dia datang.

Hen-lo-sat hanya tahu membunuh. Wan Fei-yang atau siapapun akan dilawan sekuat tenaga.

Pada waktu itu Su Yan-hong seperti datang dari langit. Dia menyerang punggung Hen-lo-sat. Reaksi Hen-lo-sat sangat lincah. Dengan sebelah tangan dia menyambut serangan Su Yan-hong. Hen-lo-sat menghadapi dua pesilat tangguh seorang diri, tapi dia terlihat tenang.

Waktu itu terdengar bunyi peluit, Hen-lo-sat segera mundur dan menghilang dalam kegelapan.

Ketika Kiang Hong-sim melihat Wan Fei-yang, dia sudah terkejut. Lalu melihat Su Yan-hong juga datang, dia bertambah takut. Karena takut Hen-lo-sat akan membuat kesalahan maka dia segera menyuruh Hen-lo-sat kembali dan meninggalkan tempat.

Bisa membunuh seorang Siau Sam Kongcu, dia sudah merasa puas.

Melihat Hen-lo-sat pergi, Tiong Bok-lan dan Beng-cu tahu di dalam ramah sudah tidak ada orang. Walaupun tadi mereka tinggal bersama dengan Siau Sam Kongcu untuk melawan Hen-lo-sat, tetap tidak ada gunanya.

Menghadapi ilmu silat Hen-lo-sat, Siau Sam Kongcu ditambah mereka berdua tidak akan memberi hasil yang berarti.

Su Yan-hong dan Wan Fei-yang tidak tahu mengapa Hen-lo-sat bisa tiba-tiba muncul di sini, padahal mereka sudah yakin rumah ini tidak bisa ditinggali lagi. Fu Hiong-kun kembali. Dia membawa Lu Tan dengan kereta kayu, menimpa barang-barang di atas tubuh Lu Tan. Kereta ditarik oleh dua orang murid Bu-tong.

Lu Tan seperti orang bodoh. Semua orang merasa sedih. Jika bukan pergi mencari dia dan semua orang tinggal di dalam rumah ini, entah apa yang akan terjadi.

Mereka segera pergi sambil membawa mayat Siau Sam Kongcu ke tempat yang aman.

Di tengah jalan, karena sedang sedih, tidak ada yang memperhatikan Tiong Bok-lan dan Beng-cu yang diam-diam meninggalkan mereka. Begitu mereka ingat dan mencari, Tiong Bok-lan dan Beng-cu sudah menghilang.

Yang mau berpisah dengan mereka sebenarnya adalah Tiong Bok-lan. Karena ketahuan oleh Beng-cu dan dia ingin ikut, terpaksa Tiong Bok-lan membawanya.

Setelah keadaan bahaya berlalu, Tiong Bok-lan mulai terpikir ingin membalas dendam Siau Sam Kongcu. Dia tahu bila diungkapkan, semua orang pasti akan menghadang. Maka sepatah katapun tidak dia katakan, lalu diam-diam meninggalkan mereka.

Sebelumnya dia sudah mendapat kabar bahwa istana sedang mencari koki yang bisa memasak masakan Kang-lam. Waktu itu dia sudah terpikir itu pasti ide Jin-kun.

Jin-kun aslinya adalah orang Kang-lam. Dia merias wajah dengan terampil untuk menyamar menjadi Lo-taikun selama beberapa tahun, dia jarang meninggalkan Kang-lam, Biasanya dia sangat mengikuti kebiasaan orang sana, tapi terhadap masakan dia sangat cerewet, bila ada sedikit ketidakcocokan dia langsung minta diganti.

Inilah sifat Jin-kun yang paling mirip dengan Lo-taikun. Masakan Kang-lam harus benar-benar di masak oleh orang

Kang-lam baru enak. Yang pasti harus berjodoh. Dalam hal masak-memasak Tiong Bok-lan boleh dikatakan sangat mahir. Waktu Jin-kun menyamar menjadi Lo-taikun, masakan selalu disiapkan Tiong Bok-lan. Setiap kali masakannya selalu mendapat pujian Jin-kun. Beberapa tahun ini, Tiong Bok-lan sangat memahami selera Jin-kun. Bila Tiong Bok-lan melamar menjadi koki, saat mencoba masakan Tiong Bok-lan, Jin-kun pasti akan menerimanya. Sebagai koki, bila dia memberi sesuatu di lauk atau nasi Jin-kun, seharusnya bukan hal yang sulit. Tapi untuk masuk menjadi koki bukan hal yang mudah.

Tiong Bok-lan bertekad akan mati bersama Jin-kun. Maka ketika Beng-cu tidak tahu, diam-diam dia menelan arak merah untuk merusak pita suara, kemudian dengan obat merusak kulit wajah dan tangannya. Tiong Bok-lan berpenampilan menjadi seorang laki- laki.

Waktu Beng-cu bangun dan melihat Tiong Bok-lan sudah seperti itu, dia sangat sedih. Tapi itu sudah menjadi kenyataan terpaksa, Beng-cu menerimanya. Kemudian mereka mengaku sebagai ayah dan anak untuk melamar kerja.

Mereka berdua mengerti harus menyuap penanggung jawab dengan uang besar karena orang yang melamar menjadi koki terlalu banyak.

204-204-204

Siau Cu sampai di Siauw-Iim-si. Karena membawa barang tanda Su Yan-hong dan Wan Fei-yang, ditambah dengan mempunyai musuh yang sama, maka semua hweesio-hweesio di Siauw-lim-si turut membantu dia mencari data-data Pheng-hweesio.

Di perpustakaan Siauw-lim-si tersimpan banyak buku, tapi karena begitu banyak orang yang membantu mencari, maka tidak sulit. Semua buku sudah dibaca tapi tidak mendapatkan hasil. Waktu semua orang merasa bingung, seorang tua di Siauw-lim tiba- tiba ingat. Dia membawa Siau Cu ke bagian Tui-si-tong di Siauw- lim-si. Ruangan Tui-si adalah ruangan tempat hwee-sio Siauw-lim merenungkan kesalahan yang sudah mereka lakukan. Di sana tersimpan surat-surat penye salan yang ditulis hweesio Siauw-lim turun-temurun.

Pheng-hweesio bernama lengkap Pheng Seng-giok. Dia adalah guru dari kaisar Tai-cu. Dulu dia adalah murid Siauw-lim, kemudian dia merasa terlalu banyak aturan di dalam Siauw-lim-si, maka dia meninggalkan Siauw-lim-si, lalu dia mendirikan Pek-lian-kau untuk membantu kaisar Tai-cu menguasai negara. Ketika kaisar Tai-cu memimpin negara dengan kekerasan, dia sadar menggunakan kekerasan untuk mengatasi kekerasan bukanlah cara yang benar. Maka dia kembali lagi ke Siauw-lim-si. Tapi waktu itu dia sudah berumur 79 tahun. Di depan Budha dia berlutut tujuh hari tujuh malam. Di sana dia mencatat tentang asal mula pendirian Pek-lian- kau juga semua tentang Pek-lian-kau.

Dalam surat penyesalan ini dia mencatat semua ilmu silat Pek- lian-kau. Suara kecapi Jit-sat dan Bi-hun-tay-hoat juga tercatat pada surat ini. Yang paling di luar dugaan orang adalah ternyata ada cara untuk memecahkan dan menghancurkan Bi-hun-tay-hoat dan Jit- sat-kim-im.

Sepertinya It-sian sudah mengetahui ini, maka sebelum meninggal dia berpesan kepada Wan Fei-yang, untuk menurunkan lonceng harus mencari orang yang mengikat lonceng!

Setelah mengetahui rahasia ini, semua hwee-sio segera membacanya sampai bisa dihafal. Kemudian mereka menggali kuburan Put-lo-sin-sian untuk mengambil kecapi maut yang bernama Jit-sat yang dikubur bersama Put-lo-sin-sian.

Senar-senar kecapi memang sudah putus tapi memasang senar kembali bukan hal yang sulit. Setelah itu, Siau Cu segera membawa buku musik dan kecapi. Malam itu juga dia kembali ke ibukota.

205-205-205

Kaisar di bawah pengaruh Thian-ho Sangjin dan Jin-kun selalu dalam keadaan setengah sadar. Dia tidak hilang akal sehat secara total. Bila kaisar ingin mengemukakan kewibawaan seorang kaisar, Jin-kun dan Thian-ho Sangjin pasti membiarkan dia melaku- kannya.

Mereka tahu posisi kaisar tidak bisa digantikan oleh orang lain. Yang penting harus berusaha memperbesar kekuatan diri dan pada waktu yang tepat bisa mengangkat Cu Kun-cau, lalu memerintahkan kaisar untuk menurunkan kekaisaran kepada Cu Kun-cau.

Dalam keadaan setengah sadar, kaisar hanya tahu menikmati hidupnya. Dengan segala upaya Jin-kun berusaha memberi obat perangsang kepada kaisar, agar kaisar bermain gila-gilaan sampai tujuh hari tujuh malam.

Bagi kaisar kehidupan seperti ini belum pernah dia lakukan. Walaupun sudah tujuh hari tuuh malam bermain perempuan, tapi dia tetap tidak merasa lelah, tetap kuat seperti naga hidup dan harimau hidup. Dia sangat senang, maka menu runkan perintah agar semua orang untuk memanggil Jin-kun dengan panggilan Seng-bo (bunda suci) dan membangun vihara Seng-bo.

Sekarang Su Yan-hong dan lain-lain sudah bisa menghubungi Tliio Gong. Mereka siap berhubungan dari luar dan dalam, mengambil kesempatan ketika Sam-cun pergi ke kuil Seng-bo untuk menerima persembahan rakyat, kemudian mereka diam-diam masuk ke istana untuk menyelamatkan kaisar.

Mereka tidak tahu Thio Gong sudah dibeli Jin-kun. Dalam situasi seperti itu, dia harus mengabdi kepada Jin-kun. Semua ini adalah ide Jin-kun. Dia sudah mengatur barisan senjata api, hanya menunggu Su Yan-hong dan lain-lain masuk perangkap.

Pada waktu yang bersamaan, lauk dan nasi yang dimasak oleh Tiong Bok-lan sudah dicoba oleh Jin-kun. Begitu mencicipi, Jin-kun terus memuji. Dia merasa masakan koki ini begitu pas dengan seleranya. Selain merasa aneh, dia juga memerintahkan untuk dimasak lagi. Kali ini harus diantar oleh koki ini sendiri. Dia ingin tahu siapa koki ini sebenarnya. Jin-kun tahu yang memasak lauk ini adalah seorang laki-laki, tapi dia harus melihat sendiri dengan jelas, baru bisa membuat hatinnya tenang. Dia adalah seorang perempuan yang penuh curiga. Begitu merasa curiga, dia akan bertanya sampai jelas.

Inilah kesempatan yang ditunggu Tiong Bok-lan. Dengan wajah dan perawakan dia sekarang ini, Jin-kun pasti tidak bisa mengenalinya. Maka dia memasukkan racun ke dalam nasi dan lauk yang dimasaknya.

Asal Jin-kun tidak mengenali Tiong Bok-lan, dia pasti akan memakan semua lauk dan nasi. Itulah kebiasaan Jin-kun. Racun dibuat dengan sangat tepat. Bila Jin-kun makan sedikit demi sedikit, akan sulit mengetahui kalau masakan mengandung racun. Bila sudah memakan semua dan merasa tubuh tidak nyaman, pada waktu itu racun sudah tidak bisa dikeluarkan lagi. Walaupun hanya makan separuh dan dia sudah merasakan, untuk mengeluarkan racun juga bukan hal yang mudah. Jika Jin-kun tidak mati, dia pasti cacat.

Membuat racun sedemikian rupa tidak mudah. Tiong Bok-lan belajar dari Fu Hiong-kun di sepanjang jalan. Waktu itu Fu Hiong- kun merasa tidak ada pekerjaan dan dia ingin semua orang tahu cara mencampur obat racun, mungkin sewaktu-waktu bisa digunakan.

Waktu itu Tiong Bok-lan sama sekali tidak terpikir akan ada kesempatan baginya untuk mencampur obat racun. Apa yang Fu Hiong-kun katakan sudah dia ingat semua. Mungkin orang yang pandai memasak selalu mempunyai kelebihan ini.

Begitu Jin-kun mengeluarkan perintah untuk mencari koki, Tiong Bok-lan sudah merencanakan ini. Tapi karena teringat Jin- kun pasti mengenalinya, dia tidak memberitahu Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong.

Dia juga tidak menyangka akan menghancurkan wajahnya dan menelan arak. Benar Jin-kun tidak mengenali dia. Saat itu Tiong Bok-lan mendengar pembicaraan mungkin Su Yan-hong tidak harus mati dan terjebak di barisan senjata api yang dibuat Thian-te-siang-kun.

Begitu mendengar kabar ini, Tiong Bok-lan terkejut. Melihat Jin- kun tidak memperhatikan dia, diam-diam Tiong Bok-lan kabur. Setelah Jin-kun bercanda dengan Thian-te-siang-kun, dia baru ingat untuk berbicara dengan koki. Begitu bertanya, baru tahu koki sudah pergi. Yang pasti Jin-kun merasa curiga. Maka makanan diperiksa dengan jarum perak dengan teliti. Akhirnya dia menemukan lauk dan nasi mengandung racun. Dia segera menurunkan perintah untuk menangkap koki.

206-206-206

Su Yan-hong berdiri di sana, melihat tiga tandu digotong dan dijaga ketat oleh pengawal sudah keluar dari istana menuju kuil Seng-bo. Awalnya Su Yan-hong tidak yakin, sampai orang kepercayaan Thio Gong datang memberitahu bahwa Sam-cun sudah meninggalkan istana, Su Yan-hong baru tenang. Dia dan Wan Fei-yang, Fu Hiong-kun, Kao Sen dan sekelompok pengawal istana yang setia dan berilmu silat tinggi langsung masuk istana.

Untung Beng-cu dan Tiong Bok-lan datang tepat waktu. Saat Su Yan-hong dan lain-lain hampir masuk ke dalam jebakan, mereka muncul menghadang.

Begitu barisan senjata api melihat ada orang yang memberitahukan rahasia, mereka segera menem bak. Tiong Bok- lan keluar sambil berteriak, dia menghadang di depan Su Yan-hong. sehingga dia mati tertembak.

Dengan penampilan seorang laki-laki. Su Yan-hong, Wan Fei- yang dan Fu Hiong-kun sama sekali tidak mengenalinya. Diiringi rasa terkejut, mereka merasa aneh. Sampai Beng-cu muncul dan memanggil bibi kelima, mereka baru mengerti apa yang telah terjadi.

Mereka juga sadar mereka sudah dikhianati Thio Gong, maka segera mundur. Tapi Thian-ho Sangjin dan sekelompok hweesio Tibet sudah datang. Wan Fei-yang segera maju menghadang mereka.

Wan Fei-yang segera menyuruh Su Yan-hong dan lain-lain meninggalkan tempat.

Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tahu tinggal di tempat tidak ada guna, malah akan menjadi beban Wan Fei-yang. Mereka juga tahu, dengan ilmu silat Wan Fei-yang ingin melepaskan diri dari Thian- ho Sangjin sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan. Maka mereka segera mundur.

Begitu Thian-ho Sangjin melihat ternyata Wan Fei-yang yang datang, segera menyuruh anak buah nya mengepung Wan Fei-yang, sambil memerintahkan untuk melapor pada Sam-cun untuk datang.

Mungkin Su Yan-hong dan lain-lain tidak harus mati karena Jin- kun sama sekali tidak meng-ganggap Thio Gong, dan tidak percaya Su Yan-hong akan mudah terpancing. Karena belum sampai waktu nya untuk pergi ke kuil Seng-bo maka dia sedang bersantai di dalam istana.

Setelah mendapat kabar bahwa Su Yan-hong memang sudah tertipu, dia segera keluar untuk melihat. Pada waktu itu dia pasti mendapat kabar dari Thian-ho Sangjin maka dia cepat meniup peluit untuk mendatangkan Hen-lo-sat.

Wan Fei-yang tidak tahu bahaya sudah mendekat. Setelah membunuh 8 Hweesio Tibet, dia siap mundur dan pergi, tapi dicegat oleh Thian-ho Sangjin.

Thian-ho Sangjin tahu Wan Fei-yang sangat lihai, tapi mereka belum pernah bertarung. Dia ingin mencoba, baru rela menerima kalah. Dia tidak berani meremehkan musuh. Begitu bertarung, sepasang telapaknya segera menggunakan Tai-jiu-im, dua tangannya menjadi besar.

Setelah menerima beberapa serangan, Wan Fei-yang terus mundur. Dari dinding dia meloncat ke atap istana.

Thian-ho Sangjin terus mengejar, berusaha membuat Wan Fei- yang lengah lalu membunuhnya. Wan Fei-yang melihat keinginan Thian-ho Sangjin, dalam hati diapun mempunyai ide. Dia mulai mengeluarkan Thian-can-kang. Tenaga dalam yang tidak berwujud seperti berubah menjadi berwujud. Seikat demi seikat benang terus terjatuh di dua telapak Thian-ho Sangjin, kemudian mengikat dua telapak Thian-ho Sangjin.

Saat Thian-ho Sangjin merasa ada yang tidak beres, kedua tangannya sudah tidak sempat ditarik. Sekali tidak ditarik maka tidak bisa ditarik lagi. Telapak kanan Wan Fei-yang sudah menghantam kepalanya.

Thian-ho Sangjin tidak merasa sesak nafas, dia hanya merasa kepalanya seakan mau meledak. Inilah perasaannya yang terakhir.

Wan Fei-yang menurunkan telapak kanannya. Tubuh Thian-ho Sangjin seperti disambar petir, tubuh nya bergetar dan terlempar jauh. Dia terlempar sejauh 3 tombak, ketujuh inderanya mengeluarkan darah, kemudian dia roboh di atas genteng.

Wan Fei-yang menghembuskan nafas. Waktu dia siap meninggalkan tempat, dia merasakan aura membunuh yang kuat datang. Perasaan ini bukan pertama kali dia rasakan. Dia ingat Hen- lo-sat.

Saat dia membalikkan tubuh, Hen-lo-sat sudah berdiri di belakangnya dengan aura membunuh yang kuat.

“Kau lagi...” Wan Fei-yang tahu Hen-lo-sat sudah kehilangan akal sehat, tapi dia tetap berkata begitu.

Yang pasti Hen-lo-sat tidak menunjukkan reaksi apapun. Begitu mendengar suara peluit, dia segera maju dengan tubuh penuh kekuatan.

Wan Fei-yang ingin menghadapi dia dengan menggunakan cara yang sama ketika menghadapi Thian-ho Sangjin. Thian-can-kang mulai digunakan, dia segera mengikat dua telapak Hen-lo-sat.

Ilmu silat Hen-lo-sat berada di atas Thian-ho Sangjin. Setelah tangannya terikat, dia segera menarik keluar tangannya. Thian-can-kang terus dikeluarkan. Tenaga dalam Hen-lo-sat juga terus keluar. Gerakan mereka berdua memang sangat pelan tapi tenaga dalam terus keluar bergelombang. Bila orang yang berilmu silat rendah mendekat, mereka akan tergetar mati oleh tenaga dalam mereka berdua. Orang yang berilmu tinggi juga akan tergetar sampai terluka.

Genting-genting di sekeliling satu persatu terbang seperti daun beterbangan dalam angin besar.

Thian-can-kang milik Wan Fei-yang tetap lebih unggul. Telapak kirinya walaupun seperti direkat, tapi tangan kanannya pelan-pelan ditarik keluar dan pelan-pelan diangkat, dan turun di atas kepala Hen-lo-sat.

Jika telapak Wan Fei-yang turun, maka kepala Hen-lo-sat akan hancur.

Mata Hen-lo-sat tetap dingin dan kejam. Dia sama sekali tidak takut. Sebenarnya dia sama sekali tidak berperasaan.

Pada waktu itu Jin-kun muncul. Dia tertawa dan berkata kepada Wan Fei-yang:

“Jika telapakmu dipukulkan ke kepala Hen-lo-sat, kau pasti akan menyesal!”

“Mengapa?” tanya Wan Fei-yang. Jin-kun malah balik bertanya:

“Mengapa kau tidak membuka penutup wajahnya dulu dan melihat siapa dia sebenarnya?”

“Siapa dia?” Sambil bertanya, telapak Wan Fei-yang tetap memukul, dan tenaganya membuka penutup wajah Hen-lo-sat.

Hen-lo-sat adalah adik perempuan Wan Fei-yang, Tokko Hong. Ini bukan rahasia bagi Jin-kun dan lain-lain, tapi Wan Fei-yang baru mengetahuinya sekarang.

Mimpipun Wan Fei-yang tidak menyangka. Begitu Wan Fei-yang melihat, dia terpaku, berteriak:

“Hong...” Tapi Tokko Hong tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya berusaha lepas dari ikatan Thian-can-kang. Wan Fei-yang melihat Jin-kun:

“Apakah kalian tidak merasa keji melakukan hal ini?”

Jin-kun tertawa. Yang keluar bukan suara tawa, tapi suara peluit.

Mendengar suara peluit, mulut Tokko Hong membuka. Sebuah jarum beracun sudah melesat keluar, masuk ke tenggorokan Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melihat, dia segera mengatur nafas, mengalirkan tenaga dalam ke tempat jarum beracun berada. Tapi jarum beracun ini adalah jarum khusus untuk memecahkan tenaga dalam. Jarum beracun segera diikat tenaga dalam agar tidak bisa menyebar.

Wan Fei-yang terus mengatur agar jarum beracun itu bisa keluar, tapi pada waktu itu Jin-kun sudah datang seperti angin.

Wan Fei-yang segera mengambil keputusan. Telapak kanan di majukan ke depan, telapak kiri menggurat. Tadinya dia ingin memotong tenaga dalam yang mengikat dua tangan Tokko Hong dan pada waktu bersamaan meloncat ke atas.

Tenaga dalamnya kebanyakan dialirkan untuk menghadapi Tokko Hong tapi karena tenggorokannya terkena jarum beracun maka mengganggu garakannya. Yang membuat dia terganggu tentu saja kenyataan bahwa Hen-lo-sat ternyata adalah adiknya, Tokko Hong.

Dia terkejut juga senang. Perasaannya seperti gelombang terus bergejolak. Kemudian jarum beracun itu menerobos masuk ke jantungnya.

Waktu dia sadar bahwa Tokko Hong sama sekali sudah kehilangan akal sehat, dia sudah tidak sempat menghindari jarum beracun yang dilepaskan Tokko Hong.

Karena bertindak sedikit lambat, maka dia terkena. Itulah luka yang membuat dia tewas. Jin-kun sudah datang. Thian-te-siang-kun juga datang pada waktu bersamaan.

Ketika Wan Fei-yang sedang tidak berkonsentrasi, Te-kun sudah berlari di bawah genting tempat Wan Fei-yang berdiri. Waktu Jin- kun mulai menyerang, dua tangan Te-kun menembus genting dan mencengkram dua kaki Wan Fei-yang.

Thian-kun datang seperti seekor burung besar, dua tangan segera menyerang kepala Wan Fei-yang.

Karena pergelangan kakinya dicengkram, gerakan Wan Fei-yang terganggu. Dua telapak Jin-kun datang mencengkram dua tangan Wan Fei-yang juga. Dua telapak Thian-kun yang datang tanpa hambatan langsung memukul kepala Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang berteriak memilukan. Tubuhnya terus naik ke atas memecahkan genting. Tubuh Te-kun terbawa melewati pecahan genting dan terlempar.

Jin-kun, Te-kun dan Hen-lo-sat ikut terlempar setinggi 2 tombak dan baru turun.

“Hong...” dengan sedih Wan Fei-yang melihat Tokko Hong dan memanggilnya.

Ini adalah suara panggilan dia yang'terakhir. Pukulan di kepalanya membuat tenaga Wan Fei-yang habis. Tenaga dalam Sam-cun sudah kembali datang menyerang, menggetarkan organ dalam Wan Fei-yang sampai hancur. Sekalipun Hoa-to hidup kembali, sudah tidak bisa menyelamatkan dia lagi.

Tapi Wan Fei-yang tetap berdiri di atas genteng. Dia tidak roboh.

Tokko Hong tetap tidak ada reaksi apa-apa. Sebenarnya dia seorang yang masih hidup tapi sudah mati rasa.

Sam-cun sama-sama melepaskan tangannya. Mereka'tertawa terbahak-bahak.

207-207-207

Su Yan-hong dan lain-lain sudah kembali ke tempat persembunyian mereka. Siau Cu sudah datang. Mengetahui Siau Cu sudah mendapatkan cara untuk mengatasi Bi-hun-tay-hoat, apalagi Jit-sat-kim sudah berada di tangan, mereka sangat senang. Lama menunggu Wan Fei-yang tidak datang, mereka mulai khawatir. Tapi semua orang berpikir dengan ilmu silat Wan Fei-yang, dia pasti bisa meninggalkan tempat itu.

Sampai hari terang Wan Fei-yang belum muncul. Semua orang mulai merasa ada yang tidak beres.

Su Ceng-cau membawa Ih-lan datang. Tadinya dia ingin membawa Ih-lan pergi ke Hoa-san untuk bersembunyi sementara. Karena tidak tenang maka di tengah jalan dia kembali mengikuti tanda, akhirnya dia juga datang.

Sebenarnya Ih-lan tidak menyukai dia, tapi setelah melihat sifatnya berubah, dia malah menjadi akrab dengannya. Yang pasti Ih-lan sangat setuju dengan ide Su Ceng-cau untuk mencari mereka.

Setelah mengalami perubahan besar, sikap Su Ceng-cau sudah berubah. Dia mengambil keputusan dengan lebih hati-hati, maka di sepanjang jalan tidak terjadi apa-apa juga tidak membuat keributan.

Melihat dia membawa Ih-lan kembali, hati Su Yan-hong yang tadinya tenang menjadi marah, tapi kemarahan tidak bisa keluar. Su Ceng-cau sudah menangis sendiri.

“Aku belum marah kepadamu, mengapa kau menangis?” tanya Su Yan-hong.

“Wan-toako...” Su Ceng-cau sudah tidak sang gup berkata lagi. Kata-kata ini begitu terucapkan, semua orang merasa terkejut.

Fu Hiong-kun mencengkram pundak Su Ceng-cau dan bertanya:

“Apa yang terjadi pada Wan-toako?”

“Wan-toako malam-malam masuk ke dalam istana ingin membunuh kaisar, kemudian tertangkap dan terbunuh. Mayatnya diikat di kereta kayu untuk diarak di jalan...”

Kata-kata Su Ceng-cau baru keluar, semua orang terkejut, air mata Su Yan-hong menetes. Siau Cu segera lari keluar. Untung tangan Su Yan-hong dengan cepat menariknya, dan satu tangan lagi menarik Fu Hiong-kun yang juga ingin berlari keluar.

Mereka bertiga saling pandang tanpa satu katapun yang keluar.

Mata Siau Cu dan Su Yan-hong berlinang air mata.

Akhirnya Su Yan-hong membuka mulut:

“Kita pasti pergi melihat ke sana, tapi harap semua orang jangan emosi lagi. Tidak diragukan lagi ini adalah jebakan Sam-cun. Kalau kita muncul dan diketahui oleh mereka, aku percaya kita juga akan mati di sana!”

Siau Cu seperti sangat mengerti, angguknya:

“Kita hanya tersisa sejumlah ini, kita jangan emosi untuk menghindari korban jatuh lagi!”

Su Yan-hong menarik nafas lega. Dia menepuk pundak Siau Cu.

208-208-208

Mereka bersembunyi di sebuah kamar di sebuah hotel, di mana mayat Wan Fei-yang akan lewat. Dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas.

Melihat mayat Wan Fei-yang, Fu Fdiong-kun terus menangis. Tubuh Siau Cu terus gemetaran. Su Yan-hong mencengkram tubuh mereka berdua, tubuh nya juga gemetar.

Setelah kereta kayu lewat, Fu Hiong-kun menangis sejadi- jadinya di pelukan Su Yan-hong. Siau Cu berlutut dengan dua tangan memeluk kepala.

Sebelumnya mereka tidak percaya Wan Fei-yang sudah mati. Kembali ke tempat persembunyian, mereka duduk bengong.

Setelah itu, mereka baru membereskan barang-barang peninggalan

Wan Fei-yang. Yang hanya terdiri dari sebuah bungkusan kain. Di sana terdapat catatan Ie-kin-keng yang Bu-wie Taysu berikan kepadanya untuk bisa mengobati luka dalamnya. Masih ada catatan yang diperoleh dari hasil berlatih silat. Selain itu, ada sepucuk surat rahasia yang seperti pesan terakhir. Tidak ada orang yang tahu mengapa dia menulis surat ini dan kapan dia menulisnya.

Mungkin seseorang bila hidupnya akan berakhir, dia akan punya perasaan yang berbeda dan tidak sengaja melakukan hal ini.

Dalam surat dia mengeluh tentang perkumpulan-perkumpulan di dunia persilatan yang saling tidak kompak, sehingga satu perkumpulan tidak bisa mengambil kelebihan perkumpulan lain. Masing-masing perkumpulan menyimpan ilmu perkumpulan sendiri dan tidak pernah saling berunding dengan perkumpulan lain. Kadang-kadang murid perkumpulan sendiri juga tidak bisa mempelajari ilmu perkumpulannya, maka ilmu silatnya semakin menghilang dan generasi berikutnya semakin menurun.

Maka dalam surat ini dia membuat catatan ketika dia bertarung atau melihat ilmu silat perkum pulan lain. Dia berharap bisa menyatukan kelebihannya untuk membuat satu ilmu silat yang lebih tinggi.

Munculnya Wan-tianglo membuat kepercayaannya terus bertambah. Untuk menyatukan ilmu silat semua perkumpulan, Wan-tianglo paling banyak membantunya.

Kemudian dia menemukan Thian-Iiong-pat-sut yang dilatih Su Yan-hong. Tidak diragukan lagi itulah suatu awal yang bagus, yang bisa menyatukan ilmu silat dari semua perkumpulan.

Thian-liong-kiu-sut sebenarnya bukan jurus terakhir, hanya sayang karena waktunya terbatas dia belum benar-benar mengerti, hanya bisa mengajari Su Yan-hong sampai Thian-liong-kiu-sut.

Sekarang setelah Thian-liong-pat-sut, berikutnya sudah bisa diubah-ubah, maka diberi nama 'Thian-liong-kun' (Jurus irama Thian-liong). Harap Su Yan-hong dan Siau Cu bisa menguasainya dan terus dikembangkan.