-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 20

Jilid 20

Terakhir dia ingin Siau Cu membantunya untuk menjaga agar aib keluarga keluarga Lamkiong tidak tersebar. Siau Cu adalah orang keluarga Lamkiong, tidak apa-apa bila dia mengetahuinya tapi jangan memberitahukan kepada orang lain. Beng-cu juga masih muda dan tidak mengerti apa-apa, maka jangan diberitahukan kepada dia. Jangan biarkan dia khawatir.

Siau Cu memang pintar dan lincah tapi dia masih muda, mana bisa dia menghadapi Lo-taikun. Untung Fu Hiong-kun sudah pergi, kalau tidak karena Siau Cu, dia akan mati.

187-187-187 Sekembalinya Siau Cu ke kamar, tidak diduga Beng-cu berada di dalam. Sebenarnya Beng-cu ingin memberitahukan Siau Cu bahwa kematian Lam-touw ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong. Melihat reaksi Siau Cu dan begitu melihatnya, satu patah kata pun tidak bisa dikeluarkan.

Siau Cu pun seperti itu. Sepasang kekasih ini saling berharap pasangannya bisa senang dan nyaman.

Kemudian mereka berjalan-jalan ke pertokoan.

Semua gerak-gerik mereka di dalam pengawasan Lo-taikun. Dia segera pergi ke Siau-hun-lo (penjara) di bawah Ciu-ci-tong, Ciu-ci Lojin membuka sebuah peti mati.

Yang terbaring di dalam adalah Lu Tan.

Di bawah pengaruh obat, Lu Tan menjadi sama seperti 4 pembunuh perempuan, tidak sadarkan diri dan kehilangan akal sehat. Tapi dia masih belum sampai pada tahap seperti 4 pembunuh perempuan.

Awalnya Lo-taikun melihat Lu Tan sangat berbakat dan ingin melatih dia menjadi pembunuh seperti 4 pembunuh itu. Tapi dalam keadaan begitu terpaksa Lu Tan harus diperalat untuk membunuh Siau Cu di jalan.

Bila Siau Cu dibunuh Lu Tan di jalan, mati atau hidup, begitu kabar tersebar, kejahatan Lu Tan akan semakin sulit dihapus.

188-188-188

Lu Tan diatur untuk keluar dari belakang rumah dan melewati jalan pintas, maka dia akan sampai sebelum Siau Cu dan Beng-cu.

Di jalan raya Lu Tan tiba-tiba muncul seperti orang gila dan bengong. Dia berada di tengah-tengah jalan tidak bergerak sehingga membuat orang merasa aneh dan mengelilinginya.

Siau Cu dan Beng-cu maju ke kerumunan orang. Mereka mengira ada orang yang sedang berjualan, tapi begitu mendekat mereka terkejut juga senang. “Lu-heng... mengapa kau berada di sini!” Siau Cu mendekat, “sebenarnya apa yang terjadi, apakah kau tahu kami mencarimu dengan susah?'' Tapi Lu Tan tidak bereaksi, dia hanya melotot. Sampai Siau Cu berada di depannya, menggoyangkan tangan di depannya, Lu Tan masih bengong. Beng-cu melihat dan merasa aneh.

Waktu itu ada suara peluit berbunyi.

Siau Cu terkejut dan mencari. Dia tidak tahu kali ini orang yang dikuasai peluit itu bukan orang lain melainkan Lu Tan.

Lu Tan mencabut golok di belakang tubuh Siau Cu dan langsung menepis. Siau Cu tidak bisa menghindar. Untung Beng-cu menepuk telapak tangan Lu Tan, membuat golok meleset.

Lu Tan membalikkan tubuh, menepis ke arah Beng-cu. Tepisan golok cepat dan berbahaya, Beng-cu tidak bis.a menghindar. Golok membacok tangannya, memang tidak berat tapi darah sudah muncrat, Siau Cu terkejut, dia membentak.

“Kau sudah gila...” Siau Cu menendang.

Lu Tan seperti tidak melihat juga tidak mendengar. Goloknya terus berputar-putar.

Melihat keadaan begitu, orang yang di sekeliling segera bubar. Ciu-ci Lojin berada di dalam keru munan orang, dia masuk ke dalam gang. Gerakan dia sangat cepat. Karena cepat, malah menarik perhatian dan kecurigaan Beng-cu. Sekali melihat, dia sudah mengenal.

Tubuh Ciu-ci Lojin berbeda dengan orang lain, maka tidak sulit mengenalinya.

Waktu dia kabur, dia meniup peluit lagi. Lu Tan segera menyimpan golok dan lari, dia juga dengan cepat masuk ke kerumunan orang.

Yang pasti kerumunan orang menjadi kacau. Siau Cu ingin mengejar, tapi dihadang oleh orang-orang. Melihat tangan Beng-cu terluka dan terus berdarah, dia kembali dan memapah Beng-cu. Air mata Beng-cu terus menetes. Siau Cu tidak bisa melihat kesedihan Beng-cu. Dia mengira Beng-cu adalah orang yang cengeng karena tidak tahan sakit. Dia juga berpikir, karena dialah Beng-cu terluka, maka dalam hati dia merasa menyesal.

Beng-cu tidak menceritakan apa yang dipikirkan. Setelah pulang, dia mengantar Siau Cu. Setelah dipikir-pikir kemudian, akhirnya dia tidak tahan, dia sendirian mencari Lo-taikun, meminta penjelasan.

189-189-189

“Apa tujuanmu melakukan ini?” Beng-cu lang sung bertanya. “Apa yang kau katakan?” Lo-taikun balik ber tanya, dia seperti

tidak tahu apa-apa.

“Tadi di jalan Lu Tan ingin membunuh Siau Cu, jelas-jelas orang bisu di Ciu-ci-tong yang meniup peluit untuk mengaturnya. Kalau bukan kau yang memerintahkan, mana mungkin orang bisu itu berani melakukannya!”

Lo-taikun diam. Beng-cu berteriak lagi:

“Apapun yang kau katakan, aku tidak akan percaya lagi. Bila terjadi sesuatu pada Siau Cu, aku pasti...pasti tidak akan memaafkanmu!”

Lo-taikun pelan-pelan berdiri, dari kedipan mata, terlintas cahaya kejam dan keluar aura mem bunuh. Tapi dengan cepat menghilang, dia menepuk-nepuk pundak Beng-cu:

“Dengarkan aku...”

“Aku tidak akan mendengar kata-katamu! Kau kira aku tidak tahu Lam-touw, Coat-suthay, Tiong Toa-sianseng semua dibunuh oleh kalian. Dan Lu Tan tidak bisa menguasai diri!” Beng-cu semakin bicara semakin keras.

Wajah Lo-taikun juga semakin tidak enak dipandang. Kemudian dengan tongkat kepala naga dia memukul kursi sampai hancur dan berkata:

“Betul! Semua adalah perbuatanku, ibumu dan keluarga Lamkiong!” Awalnya Beng-cu terkejut dan terpaku. Lo-taikun menangis dan berkata:

“Kalau bukan untuk menjaga nama baik keluarga Lamkiong, kalau bukan karena pihak laki-laki keluarga Lamkiong terus terbunuh dan hanya tinggal janda, untuk apa kita melakukan ini?” Kemudian Lo-taikun membentak, “apakah kau orang keluarga Lamkiong?”

Beng-cu tidak tahu apa yang harus dia jawab.

“Tentang hal ini kita tunggu ibumu pulang, pasti akan ada jawaban! Kau tanyakan saja kepada dia!” Lo-taikun segera membalikkan tubuh pergi.

“Aku hanya memohon kepada kalian agar tidak melukai Siau Cu!” Beng-cu segera lari.

Lo-taikun tidak memanggilnya. Dia pelan-pelan membalikkan tubuh, sorot matanya tidak menentu. Entah apa yang dia pikirkan.

190-190-190

Berselang waktu minum setengah cangkir teh, Lo-taikun sudah muncul di Siau-hun-lo (penjara) bawah tanah Ciu-ci-tong. Sepanjang jalan dia sangat berhati-hati. Setelah masuk Ciu-ci-tong, dia tidak lupa berpesan agar Ciu-ci Lojin berhati-hati.

Dia tidak marah kepada Ciu-ci Lojin, karena dia tahu masalah sudah terjadi percuma saja di marahi.

Ciu-ci Lojin tidak banyak berbicara. Walau pun dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia bisa melihat Lo-taikun sedang ada masalah.

Di dalam Siau-hun-lo, ada dua orang sedang menunggu. Ternyata mereka adalah orang Pek-lian-kau Thian-te-siang-kun yang sudah lama menghilang.

Lo-taikun duduk di depan Thian-te-siang-kun, matanya berputar:

“Kalian bersembunyi untuk berlatih Pek-kut-mo-kang, apa sudah ada hasilnya?”

Thian-kun melihat Te-kun, lalu menggelengkan kepala: “Tetap seperti dulu! Dibandingkan dengan Bok Jin-kun, kami masih jauh!”

Lo-taikun tertawa:

“Aku malas berlatih silat, maka bukan lawan kalian!”

Thian-kun melayangkan tangan melarang Lo-taikun terus berbicara:

“Ilmu silat adalah nomor dua. Jika obat-obatanmu sudah berhasil, hanya satu Hen-lo-sat saja sudah cukup di dunia ini!”

“Maka terakhir tetap kami dua bersaudara yang mengaku kalah!” kata Thian-kun.

Dulu waktu mereka berpisah dengan Jin-kun, mereka masih mempunyai cita-cita yang tinggi. Tapi setelah berkelana di dunia persilatan, tidak hanya tidak berhasil, ilmu silat pun tidak ada kemajuan.

Sebenarnya ketika bekerja kepada Liu Kun, mereka sudah tahu pentingnya kekuasaan. Maka mereka tidak tertarik lagi berkelana di dunia persilatan.

Selain menyandarkan diri kepada Lo-taikun, sementara ini mereka tidak punya jalan lain yang bisa memasukkan mereka ke pemerintahan.

Lo-taikun sangat senang. Dia mengangguk:

“Kita Sam-cun harus bersatu...” Thian-te-siang-kun segera berkata:

“Di dunia ini tidak ada lawan...”

“Betul, di dunia ini tidak ada lawan. Semua rencana akan sukses.

Semua bisa kita dapatkan!” Lo-taikun menarik nafas.

“Sepertinya ada hal yang tidak bisa kau bereskan?” tanya Thian- kun.

“Aku lihat rahasiaku sudah tidak bisa dipertahankan lagi!

Tentang Hen-lo-sat, Beng-cu saja sudah tahu!” “Dia dan kau tidak ada hubungan darah, bunuh saja sekalian!” kata Thian-kun.

“Sekarang waktunya belum tepat. Keluarga Lamkiong tetap masih berharga untuk diperalat. Apakah membunuh dia tidak akan membuat orang lain curiga?” Te-kun mengeluarkan pertanyaan.

“Siapa yang akan mencurigai seorang nenek membunuh cucunya?” Lo-taikun balik bertanya.

Thian-te-siang-kun tertawa, kata Lo-taikun:

“Dalam beberapa tahun ini aku telah membunuh delapan orang anggota keluarga Lamkiong, kapan aku pemain dicurigai orang dan membuat ke salahan?”

Thian-kun menarik nafas:

“Aku benar-benar kagum dari dalam hati. Kau menyamar menjadi Lo-taikun beberapa tahun, tapi tidak pernah ada mencurigai!”

“Memang tidak mudah! Demi menyamar men jadi dia, aku sudah banyak berkorban. Awalnya menjadi pembantu pribadinya selama dua tahun. Setelah mengetahui kebiasaan sehari-harinya dan juga gerak-geriknya, aku membunuh dia dan mengelupas kulit wajahnya untuk membuat topeng kulit manusia.

Begitu dipakai sampai bertahun-tahun. Jika orang lain, akan mati karena bosan!”

Lo-taikun segera membuka topeng kulit manusia. Di balik topeng tampak wajah yang sangat cantik dan genit, terlihat baru berusia 27-28 tahun.

Thian-te-siang-kun melihat dengan terpaku.

“Tidak disangka pada umurmu yang begitu, kau masih cantik! Cara merawat wajahmu hingga awet muda benar-benar aneh!” kata Thian-kun menarik nafas.

Jin-kun mengangguk. Perempuan ini asalnya adalah salah satu Sam-cun dari Pek-lian-kau. Dia menghilang selama beberapa tahun, ternyata bersembunyi di keluarga Lamkiong. Setelah mengelupas kulit wajah Lo-taikun, dia memakai topeng wajah manusia dan dipakai untuk menyamar menjadi Lo-taikun sampai sekarang.

Te-kun melihat Jin-kun. Dia menarik nafas:

“Memang sangat aneh, tapi kami tidak punya kesabaran sebesar itu untuk menyamar!”

Thian-kun tertawa:

“Untung kita ini laki-laki, tua sedikit tidak menjadi masalah.” Jin-kun tertawa dan melihat Thian-te-siang- kun:

“Wajah yang cantik terus bersembunyi di balik wajah Lo-taikun yang sudah tua dan jelek memang suatu kesia-siaan. Tapi kalau bukan dengan menyamar di posisi Lo-taikun, mana mungkin aku bisa mendapat begitu banyak pesilat tangguh dan harta kekayaan. Dan mana mungkin bisa melatih pembunuh seperti Hen-lo-sat!”

“Jin-kun adalah Jin-kun, kita benar-benar harus mengaku kalah!” kata Thian-kun.

“Liu Kun bukan orang berbakat, kalian bersandar kepadanya tapi tidak menguasainya, itu pasti akan gagal!” kata Jin-kun.

“Bagaimana dengan Ling-ong?” tanya Thian- kun.

“Dia juga bukan orang berbakat maka aku selalu memperalat dia. Jika bisa menguasai dunia ini, baru merasa pekerjaanku tidak sia- sia!” kata Jin-kun.

“Jin-kun mempunyai pikiran yang jauh ke depan, semua akan sukses. Tapi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan.”

Jin-kun berpikir sebentar:

“Kalian kumpulkan semua murid Pek-lian-kau di daerah sini, memasang jala bumi dan jaring langit, menjala semua orang yang berseberangan dengan kita!” kata Jin-kun.

Thian-te-siang-kun merasa tertarik dengan rencana ini.

191-191-191

Bukan hal yang mudah bagi Fu Hiong-kun untuk mencari Su Yan-hong. Li-cun-wan adalah sebuah rumah bordil dan penjagaannya sangat ketat. Untung nasib sedang baik, Su Yan-hong sedang keluar rumah.

Melihat Fu Hiong-kun, Su Yan-hong merasa heran. Dari Fu Hiong-kun dia tahu Hen-lo-sat adalah pembunuh keluarga Lamkiong. Berita ini membuat dia terkejut.

Keluarga Lamkiong sedang pergi ke kota Lam-khia, ini segera membuat Su Yan-hong terpikir akan keselamatan Ong-souw-jin. Berarti kedatangan Cu Kun-cau adalah akal-akalan, suara di timur tapi dia menyerang di barat.

Semua pasukan elit sudah ditarik ke Yang-ciu maka keluarga Lamkiong bisa mengambil kesempatan ini masuk. Jika terjadi sesuatu pada Ong-souw-jin, akibatnya sulit dibayangkan.

Setelah memikirkan hal ini, akhirnya Su Yan-hong mengambil keputusan untuk pergi ke Lam-khia. Setelah kaisar mendapat berita ini, dia pasti setuju dan mencari cara untuk menghadapi Cu Kun- cau.

Tapi Cu Kun-cau tidak tahu semua ini. Dia hanya mencari waktu untuk melepaskan diri.

Dia sudah mengatur alasan untuk bisa pergi, yaitu berburu. Hal ini malah membuat kaisar tertarik.

Sesampainya di pinggir kota, orang-orang kaisar sengaja melepaskan harimau putih dari kandang.

Kaisar sangat senang karena harimau putih sangat jarang terlihat. Dia ingin memburu harimau ini agar bisa menunjukkan kewibawaannya. Cu Kun-cau juga sampai lupa diri, dia terus mengejar harimau putih. Han Tau dan Kao Sen takut terjadi sesuatu pada kaisar maka membawa barisan pengawal istana terus mengejar. Sampai kaisar menembak mati harimau, dia baru teringat Cu Kun-cau. Tapi jejak Cu Kun-cau sudah tidak ada.

Kaisar marah, dia segera menurunkan perintah membawa pasukannya menyerang Ling-ong.

192-192-192 Siang malam Su Yan-hong berjalan. Akhirnya sempat memberitahu Ong-souw-jin agar siap siaga. Walaupun tidak tahu kapan orang keluarga Lam-kiong akan datang menyerang, tapi mereka sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Malam itupun orang-orang keluarga Lam-kiong menyerang. Hen-lo-sat masuk ke tempat yang tidak ada orang. Dia langsung masuk ke ruangan besar, membunuh Ong-souw-jin yang berbaju pejabat yang sedang duduk.

Sebenarnya orang yang terbunuh itu adalah pidana yang akan dihukum mati. Orang-orang keluarga Lamkiong belum pernah melihat wajah asli Ong-souw-jin, apalagi Hen-lo-sat hanya mendengar perintah untuk melaksanakan tugas, maka mereka mengira semua sudah sukses dan segera mundur.

Su Yan-hong sudah memikirkan semua ini, maka barisan senjata api juga sudah dipersiapkan. Sekarang sedang berjaga-jaga di tempat keluar masuk ruangan. Walaupun tidak sanggup menghadang mereka masuk, tapi bisa menghadang mereka meninggalkan tempat.

Tong Goat-go yang pertama maju. Dia mati tertembak senjata api. Walaupun dia lahir di Tong-bun dan menguasai senjata rahasia tapi kecepatan senjata rahasianya tetap kalah.

Hen-lo-sat tertembak beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak merasakan apapun. Dia tetap menyerang. Begitu Hen-lo-sat masuk ke barisan senjata api, penembak tidak bisa berbuat apa-apa, maka orang-orang keluarga Lamkiong bisa lolos.

Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun ikut bertarung dengan Hen-lo- sat tapi tetap kalah. Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim mengira Ong- souw-jin sudah mati, maka di bawah perlindungan Hen-lo-sat di depan, mereka mengikuti di belakang, kabur tergesa-gesa.

Siapa yang menghadang pasti akan dibunuh oleh Hen-lo-sat, maka akhirnya hanya bisa melihat Hen-lo-sat meninggalkan tempat itu. Setelah Hen-lo-sat keluar dari lapangan, tidak ada orang yang bisa mengejarnya. Dalam keadaan terluka berat Hen-lo-sat masih begitu lihai, apalagi dalam keadaan normal.

Mayat-mayat berjatuhan memenuhi lapangan. Darah mengalir seperti sungai. Melihat keadaan itu, hati pasukan-pasukan merasa dingin.

Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun ingat Siau Cu. Fu Hiong-kun yang pertama kali wajahnya berubah.

Keluarga Lamkiong kalah bertarung, Siau Cu masih ada di keluarga Lamkiong, apa yang akan terjadi?

Fu Hiong-kun segera menuju ke keluarga Lamkiong. Yang pasti Su Yan-hong tidak akan membiarkan dia pergi sendiri.

Ong-souw-jin tidak melarang. Perintah kaisar sampai padanya, dia segera mengumpulkan pasukan dan langsung pergi ke Lam- tiang.

193-193-193

Ketika kaisar sampai di Lam-tiang, pasukan Ong-souw-jin juga sampai di sana. Tadinya kaisar siap menyerang kota Lam-tiang, tapi dilarang oleh Ong-souw-jin. Jika melakukan serangan besar- besaran, yang mati dan terluka akan banyak. Maka dia mengusulkan untuk membakar persediaan makanan pasukan Ling- ong.

Kao Sen dan Han Tau diperintahkan untuk membawa pasukan elit masuk ke dalam kota. Mereka berhasil membakar persediaan makanan pasukan Ling-ong.

Setelah Ling-ong mendapat kabar bahwa persediaan makanan pasukannya sudah habis terbakar, terpaksa dia mengambil makanan rakyat. Ini membuat orang-orang di kota Lam-tiang gelisah dan takut. Sebelum berperang Ling-ong sudah kalah.

Cu Kun-cau bara datang kemudian. Melihat Lam-tiang terkepung, dia masuk melalui jalan air. Setelah mengetahui Ong- souw-jin belum mati, dia baru tahu rencananya gagal total. Ling-ong tidak mempunyai ide lagi. Cu Kun-cau juga. Mereka hanya bisa menunggu apa kehendak kaisar.

194-194-194

Rencana gagal. Lo-taikun marah. Setelah tahu Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong bersama. Melihat kepintaran Fu Hiong-kun, maka dia sadar Fu Hiong-kun sudah melihat sesuatu sebelumnya, maka diam-diam meninggalkan keluarga Lamkiong untuk mem-beritahu Su Yan-hong agar bersiap.

Apa yang Fu Hiong-kun tahu, Siau Cu pasti tahu. Maka dari itu, Siau Cu tetap tinggal di keluarga Lamkiong. Itu karena dia ingin mencari tahu rahasia keluarga Lamkiong.

Kemudian dia menyusun rencana untuk mem bunuh Siau Cu.

Kiang Hong-sim sangat setuju. Untuk rencana ini, Jin-kun hanya berunding dengan dia. Dalam keluarga Lamkiong, memang hanya Kiang Hong-sim yang terkecuali. Dia tahu lebih banyak daripada orang lain di keluarga Lamkiong. Dia juga sangat dipercaya oleh Jin- kun.

Mereka segera merasakan ada orang yang mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi begitu pintu didorong mereka hanya melihat Cia Soh-ciu yang sedang berjalan datang, tapi masih jauh.

Sebenarnya Cia Soh-ciu tahu ada yang mendengar. Dia cepat mundur kembali, baru kemudian berjalan mendatangi.

Dia datang mencari Lo-taikun karena Beng-cu terus bertanya, dan dia tidak tahu harus menjawab apa, juga tidak tahu berapa banyak yang Beng-cu ketahui. Dia berharap Lo-taikun bisa memberi petunjuk. Tidak disangka dia tanpa sengaja mendengar Lo-taikun dan Kiang Hong-sim sedang berencana membunuh Siau Cu.

Hatinya bergumul. Siau Cu sangat suka pada Beng-cu. Bila mati di keluarga Lamkiong, Beng-cu tidak akan memaafkan orang keluarga Lamkiong, termasuk dia yang menjadi ibunya. Jin-kun sudah melihat bahwa Cia Soh-eiu telah mendengarnya, hanya dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya meminta Cia Soh-ciu untuk mencari obat keluar.

Lo-taikun tidak langsung berkata. Dia berkata dengan sangat tepat agar Cia Soh-ciu rela pergi mencari obat, kemudian menyuruh Kiang Hong-sim membantu Cia Soh-ciu menyiapkan semua. Sebenarnya bermaksud menyuruh Kiang Hong-sim mengawasi Cia Soh-ciu agar tidak bertemu dengan Beng-cu dan membocorkan kabar bahwa Siau Cu mau dibunuh.

Cia Soh-ciu tidak bodoh, dia sudah melihat. Diam-diam dia menulis sepucuk surat, dan akhirnya surat sampai di tangan Beng- cu.

Beng-cu awalnya ingin bertanya ke mana Cia Soh-ciu pergi, dia juga mengira ibunya menulis surat hanya memberitahu dia tentang ini. Begitu merasa bukan, Cia Soh-ciu sudah pergi. Dia cepat-cepat mencari Siau Cu dan menyuruh Siau Cu meninggalkan keluarga Lamkiong.

Siau Cu merasa aneh. Dia terus menanyakan penyebabnya pada Beng-cu, tapi Beng-cu tidak tahu apa yang harus dia jawab. Dia hanya ingin Siau Cu segera pergi. Tapi Siau Cu berkeras ingin Beng- cu pergi dengannya. Sampai-sampai Siau Cu curiga Beng-cu berbohong, bahwa sebenarnya Beng-cu tidak suka kepadanya maka ingin dia segera meninggalkan keluarga Lamkiong.

Akhirnya Beng-cu terpaksa pergi dengan dia. Maksudnya adalah mengantar Siau Cu ke tempat aman, baru kembali ke keluarga Lamkiong.

Baru saja beranjak, mereka segera diketahui oleh murid-murid Pek-lian-kau yang sedang mengawasi. Hong Teng, Lan Teng dan Pek Teng, segera menyerang.

Siau Cu dan Beng-cu kalah. Mereka siap menembus kepungan ini, maka sambil bertarung terus mundur. Siau Cu segera menyuruh Beng-cu kembali ke keluarga Lamkiong. Kali ini giliran Beng-cu yang tidak mau meninggalkan Siau Cu. Tiga utusan diperintahkan untuk membunuh semua, termasuk Beng-cu. Ketika Beng-cu terpisah dengan Siau Cu, Siau Cu segera diserang oleh utusan lampu putih dan biru juga oleh murid-murid Pek-lian-kau. Ingin melindungi Beng-cu menjadi masalah bagi Siau Cu.

Walaupun Beng-cu berilmu tinggi, tapi dia tetap tidak sanggup melawan utusan lampu merah. Jika bukan karena Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong yang datang tepat waktu, mungkin dia akan mati di tangan utusan lampu merah.

Kedua nadi Jin dan Tok Su Yan-hong sudah terbuka. Tenaga dalamnya seperti tidak ada habisnya. Sekarang Thian-liong-kiu-sut sudah dikeluarkan.

Tiga utusan melihat posisi Su Yan-hong. Mere ka berpikir, selain Su Yan-hong pasti ada orang yang akan datang lagi maka mereka segera mundur.

Su Yan-hong tidak mengejar. Siau Cu juga, begitu melihat Beng- cu selamat, dia baru tenang.

Beng-cu sangat sedih dan sama sekali tidak ter pikir keluarga Lamkiong bersekongkol dengan Pek-lian-kau.

Su Yan-hong juga tidak menyangka. Tapi tempat ini masih merupakan daerah kekuasaan keluarga Lamkiong, maka mereka cepat-cepat pergi dari sana. Beng-cu sedikit ragu-ragu tapi dengan paksaan Fu Hiong-kun, mereka sama-sama pergi dari sana.

Malam itu mereka tinggal di penginapan. Semua orang tidak mengerti, jika Pek-Iian-kau bekerja sama dengan keluarga Lamkiong dan Beng-cu adalah orang keluarga Lamkiong, mengapa dia mau dibunuh?

Entah mengapa Siau Cu tiba-tiba mencurigai kematian Lam- touw mungkin berhubungan dengan keluarga Lamkiong dan Pek- Iian-kau. Dia ingin minta keadilan ke keluarga Lamkiong. Walaupun tidak yakin tapi Beng-cu tahu. Maka setelah mendengar Siau Cu berkata begitu, hatinya menjadi kacau. Duduk tidak tenang, berdiri pun tidak enak. Maka dengan alasan lelah, dia kembali ke kamarnya. Siau Cu ingin mengejar, tapi Fu Hiong-kun memanggil dia dan mengingatkan dia bahwa Beng-cu adalah orang keluarga Lamkiong. Siau Cu baru sadar. Jika dua pihak bertarung, Beng-cu tidak tahu herus berdiri di pihak mana? Akhirnya semua orang tertawa kecut dan berkata biarlah Thian yang mengaturnya.

Hari kedua. Mereka siap-siap berangkat tapi Beng-cu tidak terlihat. Begitu mencari ke kamarnya, hanya ada sepucuk surat di sana. Pada surat itu Beng-cu hanya menulis dia ingin pergi dan berharap Siau Cu jangan mencarinya.

Siau Cu juga tahu kata-katanya kemarin membuat Beng-cu merasa sedih. Tapi sampai sekarang dia tidak punya akal yang lain. Satu-satunya cara adalah berpisah, Fu Hiong-kun mencari Beng-cu dan Su Yan-hong harus pergi ke Lam-tiang.

195-195-195

Keadaan Lam-tiang semakin tegang karena kekurangan makanan, semua orang menjadi takut dan cemas.

Tadinya Ling-ong ingin melawan kaisar mati-matian, tapi karena gagal membunuh Ong-souw-jin dan semua pasukan sedang kacau, ditambah lagi dengan rangsum untuk pasukan sudah terbakar, maka semangat pasukan turun drastis. Dia mengerti jika menyerang dalam keadaan begitu pasti akan kalah total, ingin bertahan juga agak sulit.

Yang membuat dia pusing adalah Su Ceng-cau yang kembali ke Ling-ong-hu sudah jatuh ke tangan Ong-souw-jin.

Kabar ini diantar oleh Kao Sen, buktinya adalah sepasang anting giok hijau. Utusan Kao Sen juga membawa perintah kaisar, agar Ling-ong segera mem buka pintu kota untuk menyerahkan diri.

Ling-ong tidak setuju tapi dia bersikap sangat baik terhadap Kao Sen dan tidak membuat Kao Sen repot. Dia menjemput Cu Kun-cau untuk bertemu dan berunding dengan kaisar.

Tapi Cu Kun-cau ini bukan Cu Kun-cau yang asli, melainkan La- cai yang sedang menyamar. Ilmu merias wajah sangat dikuasai La-cai. Wajahnya terlihat tidak berbeda dengan Cu Kun-cau.

Tidak ada yang bisa melihat penyamarannya, bahkan pesilat tangguh juga tidak bisa melihatnya. Kaisar tahu Cu Kun-cau mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi dalam keadaan dan di tempat ini dia tidak mungkin berani bertindak. Dalam suasana hati yang senang, kaisar mendekat pada mereka. Untung Su Yan-hong kebetulan pulang.

Memang benar orang yang di sisi bisa melihat dengan lebih jelas. Sekali melihat, Su Yan-hong sudah merasa ada yang tidak beres dari Cu Kun-cau. Hanya Su Yan-hong sendiri yang sering bertemu dengan kaisar dan Cu Kun-cau. Begitu mereka berdekatan, dia bisa melihat dengan jelas perbedaan tinggi tubuh mereka yang tidak seperti biasanya.

Maka sambil melihat, dengan hati-hati Su Yan-hong mendekat.

Begitu sorot mata La-cai beradu dengan Su Yan-hong, dia sudah tahu Su Yan-hong mulai mencurigainya. Hatinya kacau. Sorot mata menjadi lebih licik.

Kaisar sudah mendekat. La-cai tahu bila Su Yan-hong semakin mendekat, dia akan semakin sulit mendapat kesempatan. Maka dia segera mengambil keputusan, dia bergerak, lari ke kaisar, mengulurkan tangan mencekik leher kaisar.

Thian-ho Sangjin yang selalu melindungi kaisar sudah tidak sempat menghadang. Jika Su Yan-hong belum berlatih Thian-Iiong- kiu-sut, dia juga tidak akan sempat.

Tubuh La-cai bergerak. Su Yan-hong ikut bergerak. Pose tubuh membantu tubuh bergerak cepat, Su Yan-hong mengulurkan telapak, dia dengan tepat bisa menghadang tangan La-cai yang berusaha men-cengkram leher kaisar.

La-cai segera menendang, tapi sebelah tangan Su Yan-hong sudah mendorong kaisar sejauh 1 depa.

Terdengar kaisar terlempar mengenai meja, membuat meja hancur berantakan. Kaisar melihatnya, wajahnya segera berubah. Thian-ho Sangjin segera menghadang di depan kaisar. La-cai melihat tidak ada harapan maka dia segera mundur.

Kaisar berteriak:

“Pengawal, tangkap Cu Kun-cau!” Su Yan-hong mencegat La-cni:

“Dia bukan Cu Kun-cau!”

“Betul, aku bukan...” Dia membuka topeng wajah Cu Kun-cau, tubuhnya menciut, dia keluar dari baju. Ternyata adalah La-cai yang memakai baju samurai.

Telapak Thian-ho Sangjin segera datang menepis. Telapaknya saat ini berubah membesar. Itu adalah ilmu asli dari aliran rahasia 'Tai-jiu-im'.

La-cai tidak berani menyambut serangannya. Baju di tangannya segera dilempar dan dia mundur. Terdengar suara petir, kabut asap sudah meledak di sana.

Dua telapak Thian-ho Sangjin terus berputar. Sebelum menyebar, asap sudah digulung oleh tenaga dalamnya.

Tadinya La-cai ingin menggunakan asap untuk kabur. Setelah melihat keadaan seperti ini, dia terpaksa harus keluar dengan paksa.

Su Yan-hong maju mencegat tapi La-cai berputar. Dia berlari ke arah pengawal-pengawal istana. Pengawal mengepung dia tapi La- cai sudah merebut sebilah pedang. Dia berlari sambil terus membacok orang.

La-cai sama sekali tidak menyangka di dalam kerumunan pengawal muncul Siau Sam Kongcu yang berilmu tinggi. Dia melihat sudah tidak sempat meng hindar.

Dengan sekuat tenaga Siau Sam Kongcu mene pis. Hal ini sulit dihindari oleh La-cai sekalipun.

“Tidak disangka pesilat Tionggoan juga meng gunakan cara keji!” La-cai tengkurap di bawah. Dia melotot kepada Siau Sam Kongcu. “Ini namanya membalas dengan caranya sendiri!” kata Siau Sam Kongcu.

La-cai tertawa sedih. Pengawal yang tadi mengurung, sekarang terpencar lagi. Kaisar dilindungi oleh Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin sedang berjalan mendekat.

“Orang Jepang yang terlalu berani! Kau bersekongkol dengan Ling-ong datang untuk membunuhku!” Kaisar berbicara dengan lantang.

“Hitung-hitung kau mempunyai nyawa yang panjang...” La-cai bernafas terengah-tengah. Dengan dua tangan La-cai menutupi dada dan perutnya, karena ususnya sudah terputus.

“Kaisar bernasib mujur, pasti akan aman-aman saja!” Thian-ho Sangjin tidak lupa memuji dan menjilat.

Kaisar senang, dia tertawa, waktu itu La-cai membuka mulut, sebuah jarum beracun menyembur keluar, melesat ke tenggorokan kaisar.

Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Mereka ingin menghadang tapi sudah tidak sempat. Untung Toan-cang-kiam dari Siau Sam Kongcu tepat bisa menghadang di depan kaisar dan menghadang jarum beracun itu.

La-cai marah, dia meloncat ke atas. Ilmu Tai-jiu-im dari Thian- ho Sangjin sudah menekan di atas kepalanya berturut-turut tiga kali. Sekalipun La-cai mempunyai tiga nyawa, dia tetap akan mati.

Kaisar baru sadar dan tenang. Dia segera menepuk pundak Siau Sam Kongcu dan tertawa:

“Kau membunuh orang yang ingin membunuhku, jasamu besar. Tadi menahan senjata rahasia yang menyerangku, jasamu bertambah besar. Kau menginginkan jabatan apa, cepat katakan! Aku ridak akan membuatmu kecewa!”

Siau Sam Kongcu berlutut:

“Rakyat kecil Siau Sam hanya meminta satu hal kepada baginda!” “Jangankan satu hal, seratus juga aku akan setuju!” Setelah mengeluarkan kata-kata ini, kaisar sendiri juga terpaku, dia terlalu cepat membuka mulut dan tidak memikirkan akibat perkataannya.

Bila kaisar mengeluarkan kata-kata, perkataan nya bukan main- main. Kalau Siau Sam Kongcu benar-benar meminta yang aneh- aneh, itu akan membuat kaisar sakit kepala.

“Kalau begitu Siau-heng terus terang saja!” Hati Su Yan-hong tergerak, dia sudah tahu apa yang akan di minta Siau Sam Kongcu.

“Rakyat kecil Siau Sam hanya minta untuk menyerahkan muridku, Su Ceng-cau dan mengampuni dia dari hukuman mati!”

“Su Ceng-cau!” Kaisar terpaku. Dalam hati dia menarik nafas. Tadinya dia tidak peduli siapapun. Begitu masalah Lam-tiang sudah selesai, kaisar akan membawa Su Ceng-cau ke dalam istana.

Su Yan-hong segera menjawab:

“Ceng-cau hanya seorang gadis, melepaskan dia tidak akan menyebabkan akar bencana di kemudian hari. Rakyat di dunia akan memuji baginda mempunyai hati pemaaf. Baginda bisa berpikir dulu!”

“Kalau kau juga sudah berkata begitu dan aku sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk Siau Sam, tidak perlu berpikir lagi, jalankan apa yang kalian mau!”

Siau Sam Kongcu segera berlutut untuk berterima kasih. Kata kaisar:

“Tadinya aku ingin menggunakan Su Ceng-cau untuk mengancam Ling-ong agar menyerah. Sekarang aku harus menggunakan cara lain!”

“Kaisar mempunyai budi penyayang dan tidak mau dengan perang membuat rakyat...”

Siau Sam Kongcu segera menyambung:

“Rakyat Siau Sam juga bermaksud begitu, maka harap baginda segera mengirim pengawal elit mengikuti aku ke barat kota Lam- tiang, ke bendungan air sebentar!” “Apa ada gunanya?” Kaisar merasa aneh.

“Aku tahu! Jika Ling-ong sudah tidak punya cara melawan, dia akan merusak bendungan air. Pada waktu itu air sungai akan banjir. Di Lam-tiang akan terjadi banjir bandang. Akan melanda sekeliling sekitar seribu li tanpa terkecuali. Pasukan dari kedua pihak tidak akan bisa lolos. Rakyat yang dua sisi sungai akan terkena bencana besar!”

Kaisar segera tertegun. Dia sama sekali tidak terpikir tentang ini. “Apakah kau mempunyai cara untuk mengatasinya?”

“Satu-satunya cara adalah mengambil alih dulu bendungan air ini. Jika hati pasukan Ling-ong sudah tergoncang, kota Lam-tiang tidak perlu di serang, akan pecah sendiri!”

“Baik...” Kaisar sangat senang, kemudian bertanya, “Kau adalah guru pedang di Ling-ong-hu, mengapa bisa mengkhianati Ling- ong?”

“Sebenarnya Ling-ong tidak punya rencana macam-macam, tapi Siau-ongya berteman dengan orang Jepang yang berhati serakah. Maka terjadilah peristiwa hari ini. Aku tidak ada rencana apa-apa, hanya tidak tega melihat rakyat yang begitu banyak terkena musibah besar.”

“Baik, baik! Mengapa kau tidak mau menjadi seorang pejabat? Kalau tidak, kau pasti adalah seorang pejabat yang baik!” kata kaisar.

Kaisar seakan berkata sungguh-sungguh, sebe narnya hatinya tidak seperti itu. Hanya karena Siau Sam Kongcu telah membantunya kali ini, maka dia berkata seperti itu.

Siau Sam Kongcu tidak terpengaruh. Dia sudah mengambil keputusan akan mundur dari dunia persilatan.

Su Yan-hong sangat memahami kaisar. Terhadap Siau Sam Kongcu dia juga sangat memahami, maka dia tidak berkata apa-apa.

196-196-196 Memang Ling-ong tidak mempunyai keinginan untuk memberontak, hanya Cu Kun-cau seperti sudah terpengaruh oleh sifat orang Jepang. Dia sama sekali tidak peduli rakyat hidup atau mati. Demi mencapai tujuan, segala cara dipergunakan. Setelah La- cai gagal melalukan pembunuhan terhadap kaisar, dia segera memerintahkan Liu Hui-su, Cia Ceng-hong dan Hoa Pie-li untuk membawa orang ke bendungan air, dia siap merusak bendungan air ini.

Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu sudah membawa orang ke sana, maka Liu Hui-su dan lain-lain tidak sanggup melakukan apa- apa.

Cu Kun-cau mengira sudah sampai waktunya tapi tidak ada gerakan apa-apa. Dia baru tahu kemudian bahwa rencana sudah mengalami perubahan lagi. Pada waktu itu Ong-souw-jin sudah membawa pasukan untuk menyerang kota. Pasukan yang menjaga kota sudah ketakutan sebelum berperang.

Pasukan berhasil merebut Ling-ong-hu, tapi mereka baru tahu Ling-ong dan Siau-ongya sudah kabur.

Ular tanpa kepala tidak akan bisa berjalan. Kota Lam-tiang tidak perlu diserang sudah pecah dengan sendirinya. Setelah Ong-souw- jin mendapat kabar ini, dia segera melukis gambar dua orang ini, untuk menangkap Ling-ong dan Cu Kun-cau.

Perkiraannya tidak salah. Ling-ong dan Siau-ongya benar-benar berbaur dengan rakyat. Mereka ingin memanfaatkan kekacauan kota untuk keluar dari kota Lam-tiang. Mereka berpenampilan seperti rakyat kecil. Itu di luar dugaaan Ong-souw-jin.

Di sepanjang jalan, Ling-ong dan putranya aman-aman saja. Ketika bertemu pasukan yang meme riksa, pasukan hanya melihat- lihat dan segera melepaskan mereka. Tapi bila ada orang yang mirip dengan sketsa gambar, tetap akan membuat pasukan memperhatikan. Sampai pemeriksaan ke-8 kali, akhirnya mereka ditahan oleh penjaga. Dalam ketergesa-gesaan ini, muncul ide Cu Kun-cau, dia memberitahu kepada pasukan bahwa itulah Ling-ong yang menyamar seperti rakyat kecil. Ling-ong sama sekali tidak menyangka putranya akan mengkhianati. Di dalam situasi itu, dia segera kabur.

Pasukan segera mengejarnya dan meninggalkan Cu Kun-cau. Kesempatan ini tidak disia-sia-kan. Bersama It-to-cian, dia berbaur dengan orang-orang yang berjalan.

Ling-ong melihatnya. Dia tidak berteriak. Memang benar harimau galak tidak akan memakan anaknya sendiri. Apalagi dia bukan seekor harimau galak, dia memilih untuk hancur sendiri.

Waktu dia dibawa ke hadapan kaisar, dia tidak mempunyai semangat lagi dan membiarkan kaisar memutuskan apa yang harus dia terima. Kaisar sudah mengambil keputusan akan memenggal kepala Ling-ong, untuk memberi pelajaran kepada semua orang. Seperti kata pepatah, memukul anjing untuk mengajar kera. Itu akibatnya jika memberontak.

Sampai Su Ceng-cau juga tidak dilepaskan, kaisar bermaksud mengingkari janji. Tapi Su Yan-hong sudah ada persiapan. Setelah peristiwa ben-dungan, dia segera menyuruh Siau Sam Kongcu mem bawa Su Ceng-cau pergi untuk mencegah ada peru-bahan lain.

Setelah peristiwa ini, Su Ceng-cau berubah sifatnya seakan seperti orang yang berbeda..Dia menjadi pengertian dan tidak egois.

Ini adalah hal yang paling menghibur bagi Su Yan-hong.

*** Kota Lam-tiang diserang dan berantakan, hal ini sangat membantu Cia Soh-ciu. Dia masuk Ling-ong-hu untuk mencuri obat. Awainya tidak semudah ini, tapi karena Ling-ong dan Cu Kun- cau sudah pergi, orang-orang Ling-ong-hu kabur karena takut berada di Ling-ong-hu. Di saat seperti sekarang ini ingin mencari tempat rahasia dan mencuri obat sangat mudah.

Dalam situasi kacau ini meninggalkan kota Lam-tiang mudah, apalagi ada Ciu-ci Lojin yang membantu.

Sebenarnya Ciu-ci Lojin diperintahkan untuk mengawasi Cia Soh-ciu. Mereka tidak tahu isi hati Cia Soh-ciu yang selalu berada di keluarga Lamkiong. Apa pun yang terjadi harus mengantarkan obat ini kembali. Sampai sekarang ini dia masih belum menemukan hal- hal mencurigakan pada Lo-taikun.

Obat sudah ada di tangan. Lo-taikun benar-benar tertawa. Obat dicampur dengan Hwe-yang-ko. Kekuatan Hen-lo-sat bertambah sekali lipat lagi, dia akan bertambah ganas dan bengis.

Hwe-yang-ko datang dari hulu Han-tan di Bu-tong-san. Wan Fei- yang muncul dan sedang mencari Hwe-yang-ko. Lo-taikun mendapat kabar dia ingin Hen-lo-sat datang untuk menghadapi Wan Fei-yang. Mencoba kekuatan Hen-lo-sat sudah mencapai tahap mana.

Jika Wan Fei-yang pun kalah, berarti Hen-lo-sat benar-benar akan menguasai dunia persilatan tanpa ada yang bisa melawannya.

197-197-197

Hulu sungai Han-tan berada di lembah di dalam hutan. Jalan menuju lembah ini sangat sempit. Bila menatap langit, hanya akan terlihat satu garis.

Tapi Hwe-yang-ko tumbuh memenuhi tempat ini. Setelah Wan Fei-yang makan secukupnya, dia mengatur nafas untuk menyebarkan obat ini ke seluruh tubuhnya lalu mengikuti tulisan yang ada di dalam Ie-kin-keng. Sekali demi sekali, sehari demi sehari dia atur. Akhirnya luka dalamnya sembuh total. Tenaga dalam dan ilmu silatnya naik setingkat lagi, dia bisa merasakannya.

Sewaktu dia merasa senang dan siap meninggalkan tempat, Hen- lo-sat muncul. Wan Fei-yang sadar akan kemunculan pembunuh ini tapi dia sama sekali tidak tahu kalau Hen-lo-sat ini adalah adik perempuannya, Tokko Hong.

Juga sangat beruntung dia tidak tahu. Kalau tidak, dia akan mendekatinya untuk menyapa dan Hen-lo-sat akan segera membunuhnya secara tiba-tiba. Akibatnya sulit ditebak.

Dia mulai merasakan aura membunuh yang sangat kuat. Dia tahu kalau Hen-lo-sat pasti sangat lihai! dia tidak berani bertindak ceroboh. Setiap saat selalu waspada.

Hen-lo-sat tidak bereaksi. Karena pengaruh obat-obatan, dia kehilangan akal sehatnya. Dia hanya tahu harus membunuh orang yang bermusuhan dengannya. Dia juga merasa kalau lawan mempunyai menyimpan rasa permusuhan. Tapi dia tidak bisa membedakan siapa lawan, pastinya dia mendengar suara peluit baru bertindak. Hal itu sudah lama dilatih dan sudah biasa terjadi.

Akhirnya suara peluit terdengar. Dia segera berlari. Sepasang golok sudah dikeluarkan. Waktu itu sepasang goloknya berubah menjadi 2 roda golok dan menggulung ke arah Wan Fei-yang.

Roda golok tampak berkilau, seperti dua buah bola terang. Belum tiba di depan orang aura membunuhnya sudah terasa.

Wan Fei-yang melihatnya dan tahu dengan 2 tangan kosongnya dia tidak akan bisa menyambut serangan golok. Dia segera mundur dan mengambil batu yang tergeletak di bawah.

Hen-lo-sat sudah tiba. Batu yang dilempar oleh Wan Fei-yang di bawah serangan roda golok menjadi bubuk dan tersebar ke sekeliling.

Kerikil mengenai pundak Wan Fei-yang. Dia merasa sakit. Tiba- tiba dia merasa terkejut, bertanya:

“Siapa kau?”

Tapi sepasang golok Hen-lo-sat sudah menepisnya. Wan Fei- yang meloncat ke atas dan bertanya lagi:

“Siapa yang menyuruhmu membunuhku?” Yang menjawab tetap sapuan sepasang golok. Suara pecah di angkasa begitu tajam dan menusuk telinga membuat siapa pun akan merasa terkejut. Masuk ke telinga pun tidak nyaman. Yang membuatnya terkejut adalah dengan ilmu meringankan tubuhnya tetap tidak bisa terlepas dari kejaran Hen-lo-sat. Hal ini belum pernah terjadi semenjak dia menguasai Thian-can-kang.

Hen-lo-sat benar-benar seperti ulat yang menempel, lalu melilit Wan Fei-yang. Jika luka dalam Wan Fei-yang belum sembuh, mungkin dia sudah terkejar oleh Hen-lo-sat dan harus terluka lagi oleh sepasang golok itu.

Tenaga dalam Wan Fei-yang terus dikerahkan. Dia dengan cepat meloncat ke atas dan tidak berhenti di tengah-tengah angkasa. Dinding jurang tidak begitu terjal tapi tetap sulit berdiri. Orang yang bisa melakukannya boleh dikatakan tidak banyak.

Tapi Hen-lo-sat bisa. Walaupun sepasang goloknya terus berputar, dia masih bisa melakukannya. Bila Wan Fei-yang tidak perlu menghindar tepisan sepasang golok, dia bisa dengan cepat naik.

Kalau Wan-tianglo, sulit bertemu dengan lawan begitu kuat jadi dia akan melawan habis-habisan..

Sekarang Wan Fei-yang hanya ingin terlepas dari kejaran ini. Dia ingin mencari tahu apa yang menyebabkan semua ini terjadi.

Puncak jurang teratas adalah tempat datar. Wan Fei-yang belum tahu situasi sekeliling di sana, dia dikejar oleh Hen-lo-sat hingga ke sudut ujung sebelah sana. Dia baru tahu kalau di belakang tempat datar di sana adalah sebuah jurang yang dalam. Di bawah sana tertutup oleh kabut tebal. Entah berapa dalam jurang itu dan jurang tampak lurus seperti habis ditepis, lebih terlihat berbahaya.

Dia ingin menghindar ke sana tapi sudah tidak sempat lagi. Kekuatan Hen-lo-sat di sana lebih dahsyat. Tiba-tiba sepasang goloknya berubah menjadi dinding golok dan datang menepisnya.

Wan Fei-yang membentak. Thian-can-kang ter kumpul di kedua telapak tangannya. Di depan kedua telapak ini seperti menghasilkan sejenis sutera, muncul gumpalan putih. Lapisan sutera ini menyebar di roda golok Hen-lo-sat dan Wan Fei-yang terpaksa terus mundur. Suara benda sobek terus terdengar, dia tergetar dan terbang melayang, terbanting masuk ke dalam jurang yang dalam, Hen-lo-sat tidak ada ekspresi apa-apa. Pelan-pelan dia memasukkan sepasang goloknya ke dalam sarung. Matanya terlihat kosong, tidak terlihat perasaan apa pun.

198-198-198

Bukan pertama kalinya bagi Wan Fei-yang menghadapi ambang kematian, tapi terbanting dari tempat setinggi ini adalah untuk pertama kalinya.

Waktu itu pikirannya hampir kosong tapi hanya sebentar berlangsung dan dia sudah kembali normal. Thian-can-kang terus digunakan. Kedua tangannya seperti sayap terus bergerak. Kadang- kadang memukul batu yang ada di sisi dinding jurang. Dengan begitu kecepatannya bisa berkurang saat melayang turun. Setelah puluhan kali memukul, tubuhnya yangjatuh bisa dia kuasai.

Untung sekarang siang hari. Matahari sedang terang dan bersinar terik. Walaupun di dasar jurang banyak kabut tapi Wan Fei-yang masih bisa-melihat keadaan sekeliling sana.

Entah sudah terjun seberapa dalam Wan Fei-yang tidak bisa menghitung dan memperkirakannya, hanya merasa hal ini berlangsung sangat lama. Se waktu dia melihat, akhirnya dia bisa melihat dasar jurang.

Sebenarnya itu sebuah batu yang mencuat di atas sebuah kolam. Kolam tidak begitu dalam tapi jernih, bisa melihat dasar kolam. Sambil mengeluarkan telapaknya untuk terus memukul.

Angin telapak terus bergerak, membuat tubuh Wan Fei-yang pelan-pelan turun dan turun ke atas batu aneh itu. Dia sama sekali tidak terluka.

Tapi dia melihat seseorang di sana.

Orang itu duduk di atas batu aneh itu. Wajahnya penuh dengan cambang, rambutnya berantakan. Dia mengenakan baju yang sudah usang. Walaupun begitu, dia tetap terlihat sangat bersemangat. Sekali melihatnya sudah tahu kalau dia bukan orang biasa.

Dia terpaku melihat Wan Fei-yang yang baru jatuh dari atas tapi tidak mengeluarkan suara.

Setelah Wan Fei-yang agak tenang, dia baru bertanya: “Tempat apa ini?”

Orang aneh itu seperti tidak mendengar pertanyaannya. Kata Wan Fei-yang lagi:

“Aku Wan Fei-yang, diserang oleh seseorang hingga terjatuh kemari. Siapa nama Tuan?”

Orang itu hanya mendengar tapi tidak menjawab. Wan Fei-yang tidak bertanya lagi. Begitu menengadah ke atas, dinding jurang tampak lurus seperti habis ditepis dan tidak bisa melihat ujung atas jurang. Dia menarik nafas.

“Ini tempat kematian!” Orang itu akhirnya membuka suara, “kalau ada jalan, bisa keluar dari sini, aku sudah keluar dari sini!”

“Kalau begitu, terpaksa harus mencoba apakah bisa merangkak naik,” usul Wan Fei-yang .

“Kau yang harus mencobanya!” Ucap orang itu, “terjatuh dari tempat begitu tinggi, sama sekali tidak terluka berarti ilmu silatmu sangat bagus!”

“Mengapa Tuan tidak mencobanya?” Orang itu menjawab dengan sedih:

“Aku tidak bisa bersilat seperti kau. Sewaktu terjatuh ke dalam sini, untung aku masih bisa hidup. Tapi kedua kakiku sudah tidak ada!”

Dengan tangan kanannya dia menyibakkan bajunya, terlihat kalau kedua kakinya sudah patah dari lutut.

“Apakah Tuan juga diserang oleh orang lain hingga terjatuh?” “Benar!” Orang itu menarik nafas, “keadaan di sini masih lumayan, sangat banyak ikan dan tidak habis-habis untuk dimakan!”

“Tapi Tuan tetap harus naik kembali ke atas!” “Kalau bisa naik, itu akan sangat bagus!”

“Tapi sayangnya aku harus cepat-cepat ke Pek-hoa-couw. Begitu masalah di Pek-hoa-couw selesai, aku akan segera kembali membawa tali untuk menyelamatkanmu!” Kata-kata Wan Fei-yang terdengar sangat serius. Dia tidak sembarangan bicara.

Tiba-tiba orang itu bengong, dia bertanya:

“Apa yang terjadi di Pek-hoa-couw? keluarga Lamkiong melakukan kejahatan apalagi?”

Wan Fei-yang balik bertanya:

“Apa hubungan Tuan dengan keluarga Lamkiong?”

Orang itu tidak menjawab, dia hanya buru-buru menyuruh Wan Fei-yang menjawab pertanyaannya:

“Cepat beritahu aku bagaimana keadaan keluarga Lamkiong sekarang ini?”

Hati Wan Fei-yang tergerak. Dengan teliti dia menceritakan semuanya, orang itu mendengar ceritanya hatinya semakin bergejolak. Akhirnya dia tertawa sedih sambil menatap langit!

“Siluman tua, kau harus membunuh berapa orang baru akan berhenti!” Tawanya berhenti, orang itu berteriak.

Hal ini membuat Wan Fei-yang semakin merasa aneh: “Siluman tua yang mana yang kau maksud?”

“Lo-taikun yang ada di depan mata kalian!” Orang itu marah besar.

Hati Wan Fei-yang bergerak:

“Apakah dia sebenarnya bukan Lo-taikun yang asli?”

“Tapi sayang aku rasa semuanya sudah terlambat. Kau dipukul hingga masuk ke tempat kema-tian ini!” Orang itu tiba-tiba mencengkeram Wan Fei-yang “Lote, dengan cara apa pun kau harus membawaku kembali ke atas agar aku bisa tepat waktu membuka kedok siapa dia sebenarnya!”

“Tuan adalah...”

“Lamkiong Ho...” Orang itu tertawa dengan sedih, “kalau dia Lo- taikun asli, mana mungkin dia akan begitu kejam membunuh anak sulungnya?”

Wan Fei-yang menggigil:

“Siapa dia sebenarnya?”

“Pek-lian-kau, Jin-kun dari Thian -te!”

“Gosip di dunia persilatan mengatakan kalau Jin-kun pandai menghias wajah dengan ketrampilan tangan. Dia sangat hebat. Begitu banyak orang di keluarga Lamkiong tidak ada seorang pun yang bisa membedakannya!”

“Sampai aku yang menjadi anak kandungnya pun tidak bisa membedakannya, apalagi orang lain!” Lamkiong Ho tertawa sedih, “tapi jejak yang bisa dilacak sedikit banyak pasti ada yang menimbulkan rasa curiga. Satu per satu dibunuh olehnya!”

“Maksudnya laki-laki di keluarga Lamkiong bukan mati oleh perkumpulan besar?”

“Keluarga Lamkiong tidak berambisi ingin menguasai dunia persilatan. Jika tidak, semua perkumpulan sedari awal sudah mengepung dan menyerang, tidak perlu menunggu hingga hari ini dan sekarang ini!”

“Benarkah gosip dunia persilatan yang menga takan demikian?” Tanya Lamkiong Ho.

“Tidak banyak juga, tapi semua adalah dugaan orang-orang!” Lamkiong Ho menarik nafas:

“Itu rencana busuk siluman tua itu. Dia tidak hanya menggunakan orang keluarga Lamkiong juga memperalat kekuatan keluarga Lamkiong.” Wan Fei-yang menatap ke atas:

“Lebih baik kita tinggalkan tempat ini terlebih dulu!”

Jurang terjal seperti ditepis golok, ingin kembali ke atas apakah itu mungkin?

199-199-199

Jin-kun yang menyamar menjadi Lo-taikun, dulu dia mencari Hwe-yang-ko hingga datang ke tempat ini. Karena lupa diri membuat Lamkiong Ho curiga. Setelah Jin-kun sadar akan hal ini, dia segera memancing Lamkiong Ho ke sisi jurang. Secara tiba-tiba memukulnya hingga terluka dan jatuh ke dasar jurang.

Jurang sangat dalam dan terjal, Jin-kun sangat hafal dengan keadaan di sana dia meminta Ciu-ci Lojin membawa Hen-lo-sat ke sana untuk menghadapi Wan Fei-yang. Dia tahu bila Wan Fei-yang jatuh ke sana pasti tidak akan bisa selamat. Setelah mendapat laporan terakhir, dia tertawa manis.

Bila Wan Fei-yang tidak ada lagi di dunia ini, baginya pasti akan sangat banyak kebaikan. Dan yang paling membuatnya senang adalah sudah membuktikan seperti apa kelihaian Hen-lo-sat.

Bila ada seorang pembunuh lihai berada di sisinya, ada masalah apa yang tidak akan bisa diberes kan olehnya?

Karena terpikir hal yang menyenangkan ini, Jin-kun tertawa lepas. Saat itu dia berada di kamarnya. Hanya saat berada di kamarnya sendiri baru bisa membuatnya lupa diri. Keluarga Lamkiong hanya untuk diperalat saja.

Walaupun dia sedang merasa senang sampai lupa diri tapi dia tetap bersikap waspada. Dia segera merasa di kamarnya ini ada aura membunuh.

Dia melihat ada samurai keluar dari balik pintu, dia juga merasa kalau tujuan samurai ini datang ke kamarnya bukan untuk membunuhnya, dia tidak menghindar.

Samurai itu benar-benar berhenti di sisi leher nya. It-to-cian memegang samurai dengan kedua tangan. Dia memelototi Jin-kun: “Biln aku ingin membunuhmu, sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan!”

“Membunuhku pun tidak ada kebaikannya untuk kalian!” kata Jin-kun memutar sorot matanya, “Siau-ongya sudah kemari, mengapa tidak keluar untuk bertemu denganku?”

Cu Kun-cau keluar dari balik sekat.

“Mata dan telinga Lo-taikun benar-benar hebat tapi reaksimu tidak secepat golok guruku!”

“Ternyata benar Ong-ya. Kami belum melayani Anda!” “Untuk apa bicara seperti itu?”

“Kalau begitu, apakah Siau-ongya ada perintah?”

“Kota Lam-tiang sudah dikuasai mereka, tapi orang-orang keluarga Lamkiong hanya berpangku tangan, mana mungkin aku berani menurunkan perintah?”

“Kalau begitu, kali ini tujuan kedatangan Anda...”

“Hanya ingin meminta keluarga Lamkiong membantu kami!” “Keluarga Lamkiong siap menunggu perintah Anda.”

“Aku tidak berani merepotkan orang keluarga Lamkiong.” “Apakah Siau-ongya menginginkan uang?”

“Keluarga Lamkiong adalah keluarga terkaya di Kang-lam. 100 tail emas hanya angka kecil. Aku yakin Lo-taikun tidak akan keberatan memberikan!”

Jin-kun mengeruttkan alisnya:

“Aku ingin bertanya lagi, Siau-ongya menginginkan uang begitu banyak, semua itu untuk apa?”

“Dibawa ke Jepang untuk mencari orang yang bisa melatih pasukan lagi!” Mata Cu Kun-cau terlihat cerah.

Jin-kun tertawa terbahak-bahak. Cu Kun-cau merasa tidak enak dan membentak:

“Kau menertawakan apa?” Jawab Jin-kun sambil tertawa:

“Di dunia persilatan Tionggoan banyak orang berbakat yang bisa membantumu menguasai dunia, untuk apa kau harus jauh-jauh pergi ke Jepang, lalu menyuruh orang Jepang membantumu?”

Wajah It-to-cian terlihat marah:

“Apa yang kau katakan barusan?”

“Mengatakan bahwa kalian melakukan semua hal yang tidak ada gunanya dan selalu kalah, kalian tidak tahu diri!”

“Jangan lupa, nyawamu masih ada di tangan ku!” Bentak It-to- cian.

“Kau kira kau bisa membunuhku?” Sorot matanya melihat golok samurai. Tiba-tiba tangannya diangkat, jari tengah menyentil, terdengar CRING! Dia menyentil punggung golok.

Golok samurai segera tersentil tapi reaksi It-to-cian sangat cepat. Dia berputar. Golok diayunkan dan menepis, tapi Jin-kun sudah menendang dari balik gaunnya. Dia menendang ke atas tongkat kepala naga. Tongkat ditendang ke atas seperti ular beracun terus melata dan menyerang perut It-to-cian.

It;to-cian hanya memperhatikan sepasang tangan Jin-kun. Sama sekali tidak ada persiapan meng hadapi jurus ini, dia terlempar ke luar.

Tongkat kepala naga memukul. Walaupun It-to-cian berubah terus menerus tetap tidak bisa menghindar. Dada terbuka dan 3 kali terkena pukulan. Dia memuntahkan darah dan roboh.

Cu Kun-cau melihat semuanya. Walaupun dia mempunyai ilmu tinggi, tapi dalam keadaan seperti itu dia tidak berani membalas.

Jin-kun menarik kembali tongkat naganya. Pelan-pelan dia membalikkan tubuh. Menatap Cu Kun-cau:

“Siau-ongya, kau sudah melihat ilmu silat Tionggoan selalu bisa mengalahkan orang Jepang!”

Cu Kun-cau tertawa kecut, Jin-kun datang menghampiri sambil membawa tongkat. Dia tertawa. Tawa ini membuat Cu Kun-cau menggigil. Dia mundur beberapa langkah lalu jatuh terjengkang ke kursi.

“Lo-taikun, maafkan aku!” Nada bicara Cu Kun-cau berubah. “Tenang saja! Aku tidak akan membunuhmu!”

“Lo-taikun...”

“Hari ini kau terlihat sengsara, tapi kau tetap Siau-ongya. Asalkan kau mau mendengar ucapanku, menurut padaku, kau akan berhasil. Mungkin suatu hari nanti negara ini akan menjadi milikmu!”

“Aku tidak mengerti!”

“Nanti kau akan mengerti dengan sendirinya!”

“Kau ingin memperalatku untuk menciptakan pasukan lalu merebut kekuasaan kerajaan Beng?” Cu Kun-cau bukan orang bodoh, Jin-kun tertawa memang seperti itu maksudnya.

Akhirnya waktu untuk rapat Pek-hoa-couw tiba. Keluarga Lamkiong sudah ditata ulang, tidak kalah bagus dengan rapat-rapat ilmu pedang dulu.

Bu-tong-pai, Heng-san-pai, dan Kun-lun-pai datang lebih awal. Banyak teman-teman dunia persilatan datang untuk menonton keramaian ini. Di antaranya ada 4 orang yang sedari awal selalu menutupi wajah mereka.

Sebenarnya keempat orang ini adalah Siau Sam Kongcu, Tiong Bok-lan, Lamkiong Beng-cu, dan Su Ceng-cau.

Setelah Siau Sam Kongcu menyelamatkan Su Ceng-cau, dia bertemu dengan Beng-cu tahu di mana tempat tinggal Tiong Bok- lan. Beng-cu ikut ke Hoa-san. Sebenarnya saat itu dia sedang kabur dan tidak tahu harus pergi ke mana.

Setelah mendengar hal-hal yang sudah terjadi di keluarga Lamkiong, hati Tiong Bok-lan tidak tenang berada di Hoa-san terus. Pastinya Siau Sam Kongcu menemaninya. Sifat Su Ceng-cau memang sudah berubah total tapi terhadap hal-hal yang terjadi di dunia persilatan, dia tetap tertarik. Mereka tidak tinggal di keluarga Lamkiong melainkan langsung pergi menuju Pek-hoa-couw. VVa laupun wajah mereka ditutup dan hanya terlihat sorot matanya tetap tidak ada yang bertanya pada mereka, sebab orang dunia persilatan ada bermacam macam jenis, penutup wajah bukan hal yang aneh.

Pastinya mereka tidak akan menyapa orang lain. Mereka duduk dengan diam di pinggir melihat perubahan.

Lo-taikun yang merupakan penyamaran dari Jin-kun diapit oleh Bwe Au-siang dan Cia Soh-ciu. Benar-benar membuat orang lain merasa keluarga Lamkiong sedang turun statusnya.

Yang pasti Jin-kun tidak mempunyai perasaan seperti itu. Sepanjang perjalanan dia menyapa tamu-tamu. Sikapnya tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Yang bertanggung jawab menerima tamu adalah Kiang Hong- sim. Dia menghampiri dan menyambut Lo-taikun.

“Apakah semua sudah datang?” Lo-taikun segera bertanya. “Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu belum terlihat tapi sudah

datang 4 orang memakai penutup wajah!”

Jin-kun melihat ke arah yang dimaksud. Dia berjalan ke sana. Siau Sam Kongcu melihat mereka yang di-hampiri. Dia menekan

Tiong Bok-lan dan Beng-cu dengan tangannya karena takut mereka

yang terlihat tegang akan dicurigai oleh Jin-kun.

Mereka berempat mengenakan baju panjang, berpenampilan seperti laki-laki.

Jin-kun berhenti di depan mereka:

“Kalian berempat adalah...”

“Orang dunia persilatan!” Dengan suara serak Siau Sam Kongcu menjawab pertanyaan itu.

“Orang dunia persilatan pasti sangat tertarik dengan masalah dunia persilatan!” Ucap Jin-kun. “Hanya saja tidak tahu apakah Lo-taikun menyambut kami berempat dengan baik yang merupakan tamu tidak diundang?”

“Rapat Pek-hoa-couw adalah masalah dunia persilatan jadi keluarga Lamkiong tidak akan menolak kedatangan orang dunia persilatan!”

“Terima kasih, Lo-taikun!”

“Kalian berempat tidak perlu memakai penutup wajah!” Lo- taikun terus mengawasi mereka berempat.

“Kami berempat adalah orang tidak penting, tidak memperlihatkan wajah, tidak apa-apa bukan!” Siau Sam Kongcu seperti sudah menyiapkan ucapannya.

“Kalau begitu, memang tidak bisa dipaksa!” Jin-kun bergeser. Berjalan kembali menuju tempat Toan Hong-cu dan Keng-suthay.

Mereka berdua menyambutnya. Tanya Jin- kun:

“Waktunya sudah tiba dan orang-orangnya sudah lengkap. Bu- wie Taysu dan Wan Fei-yang menjadi titik permasalahan ini, mengapa mereka belum tiba?”

Sebenarnya mereka sedang membakar emosi orang-orang. Toan Hong-cu dan Keng-suthay mulai tidak bisa bersabar. Begitu mendengar kalimat tadi langsung terpancing.

“Apakah mereka sedang berusaha mengulur waktu?” Tanya Keng-suthay.

“Paling-paling kita akan memberikan waktu setengah jam lagi. Kalau tidak melihat mereka datang, berarti mereka mengaku kalau Lu Tan adalah pembunuh sebenarnya!” Ujar Toan Hong-cu.

“Benar! Sampai waktunya tiba mereka tidak datang, Pinni yang akan bertindak!” Kata Keng-suthay sambil melihat Giok-sik.

“Supaya teman-teman dunia persilatan menge tahui Siauw-Iim- pai memang tidak bertanggung jawab!” Kata Toan Hong-cu.

Giok-sik tidak tahan lagi: “Lu Tan adalah orang Bu-tong-pai, kalau dia bersalah harus menyalahkan Bu-tong-pai, tidak ada hubungannya dengan Siauw- lim-pai. Jika kalian mau membuat perhitungan, seharusnya dengan Bu-tong-pai!”

“Kalau begitu mengapa Bu-tong-pai mencari Siauw-lim-pai untuk membantu mereka?” Tanya Keng-suthay.

Giok-sik tidak menyangka Keng-suthay akan berkata seperti itu.

Dia hanya bisa terpaku.

Toan Hong-cu memelototinya:

“Giok-sik, kalau kau punya harga diri, segera serahkan Lu Tan. Di depan begitu banyak orang jelaskan semua permasalahan ini!”

“Pinto sudah berkali-kali menjelaskan kalau Lu Tan sudah lama menghilang dan tidak' tahu di mana dia!” Kata Giok-sik menarik nafas.

Toan Hong-cu tertawa dingin:

“Mengapa tidak membiarkan kami mencari hingga ke Bu-tong- san?”

“Kalau kau masih berkata seperti itu, kita terpaksa harus menunggu Bu-wie Taysu!” Giok-sik tertawa, “Bila dalam waktu setengah jam lagi Bu-wie Taysu tidak hadir, apa yang harus kau katakan?” Toan Hong-cu tertawa terbahak-bahak.

Ucapannya baru selesai, ada yang melantunkan ayat-ayat dari kitab suci Budha. Semua orang melihatnya. Terlihat Bu-wie Taysu diapit oleh 18 orang hweesio Siauw-lim memasuki tempat, masih ada Su Yan-hong.

Semangat Giok-sik bertambah. Tapi Keng-suthay dan Toan Hong-cu malah menekuk wajahnya. Bu-wie Taysu sudah tiba, mereka tidak bisa bertindak seenaknya lagi.

Su Yan-hong segera ke depan Toan Hong-cu dan memberi hormat:

“Paman Guru...”

Toan Hong-cu hanya menjawab: “He!” Karena melihat Su Yan-hong berjalan bersama dengan Bu- wie Taysu, dia bertambah marah, tapi tidak bisa dikeluarkan seenaknya. Bukan karena Su Yan-hong adalah Hou-ya sekaligus dia murid paling berbakat dan bermasa depan cerah, melainkan karena dia tidak melakukan kesalahan dalam masalah ini.

Sekalipun dia bersifat jelek tapi dia adalah orang yang tahu tata karma. Hanya saja bila sedang marah, dia sendiri pun tidak bisa mengatasinya.

Bu-wie Taysu terus menyapa orang di sana. Melihat Wan Fei- yang belum datang, dia ingin menunggu sebentar tapi Keng-suthay dan Toan Hong-cu sudah tidak sabar mereka terus mendesak. Dia terpaksa duduk dan menyuruh Su Yan-hong yang bicara.

Semua merasa aneh tapi Jin-kun sudah bisa menebaknya. Benar saja Su Yan-hong tidak angkat bicara mengenai masalah Lu Tan, hanya menceritakan tentang keluarga Lamkiong yang bersekongkol dengan Ling-ong, diam-diam melatih pembunuh kemudian mengirim Hen-lo-sat membunuh Ong-souw-jin.

Dia pun mengatakan kemarin ini sewaktu pergi ke Bu-tong-pai, dia dan Bu-wie Taysu dihadang oleh Bwe, Lan, Ju, Tiok, 4 orang pembunuh.

Semua merasa terkejut. Jin-kun melihat semua orang merasa terkejut. Dia tidak merasa takut sedikit pun. Karena sedari awal dia sudah siap bertindak. Dia tidak melarang Su Yan-hong berbicara. Begitu Su Yan-hong selesai bicara, setelah itu baru' dengan tenang bertanya:

“Hou-ya sudah banyak bicara, apakah mempunyai bukti?” Semua sudah berada dalam perkiraan Su Yan- hong:

“Kemarin ini karena gagal dibunuh oleh keluarga Lamkiong bertemu dengan barisan bersenjata api jadi Tong Goat-go yang menjadi menantu ketiga keluarga Lamkiong meninggal dan ada mayat untuk dijadikan saksi.”

Jin-kun menggelengkan kepala: “Tong Goat-go memang menantu keluarga Lamkiong, apa yang dia lakukan di luar sana belum tentu ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong. Semua orang membahas Lu Tan, mengapa Hou-ya harus membicarakan masalah ini dengan orang lain?”

“Benar! Bu-tong-pai harus menyerahkan Lu Tan!” Seru Keng- suthay.

Dia kalah oleh Wan Fei-yang jadi terhadap Bu-tong-pai dia tidak senang. Dia terus melihat Toan Hong-cu.

Toan Hong-cu mengangguk:

“Lu Tan tidak mau keluar untuk menjelaskan, semuanya itu hanya omong kosong!”

“Benar...” Dari angkasa terdengar ada yang datang, “kalau omong kosong, tidak perlu banyak bicara lagi. Kita bisa mulai bertarung!”

Mendengar suara ini, alis Su Yan-hong segera terangkat. Orang yang bicara tadi turun naik, melewati kepala semua orang dan mendarat di depan Su Yan-hong. Dia adalah Wan-tianglo yang hanya ingin berkelahi dan bertarung serta orang yang takut kalau dunia ini terlalu aman!

Fu Hiong-kun dan Siau Cu pun datang secara bersamaan. Mereka mencari Beng-cu, kebetulan bertemu dengan Wan-tianglo. Untung Fu Hiong-kun pintar dan lincah jadi Siau Cu tidak ditangkap dan dibawa pulang ke Sian-tho-kok oleh Wan-tianglo. Mereka bisa memancing Wan-tianglo kemari karena bila situasi dibutuhkan, mereka ingin meminjam ilmu silat Wan-tianglo untuk membereskan masalah.

Setelah tahu di Pek-hoa-couw ada rapat akbar ilmu silat, Wan- tianglo sangat senang. Tapi dia tetap ingin Siau Cu membuat kesepatakan dengannya setelah Pek-hoa-couw selesai Siau Cu dia tetap harus kembali menemaninya selama setengah atau setahun. Siau Cu setuju karena dia tahu kalau dia tidak setuju dia tidak akan bisa lolos.

Mereka datang di waktu yang sangat tepat. “Wan-tianglo...” Su Yan-hong menyapa dengan sangat hormat. Wan-tianglo menatapnya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas,

dengan bersemangat dia bertanya:

“Kapan kita bisa bertarung lagi?”

“Nanti bila ada waktu. Sekarang kami sedang mempunyai masalah!” Jawan Su Yan-hong. ..

“Aku bertemu dengan Lu Tan!” Kata Siau Cu.

“Kau bertemu di mana?” Tanya Su Yan-hong buru-buru.

Siau Cu segera menceritakannya, sewaktu dia berjalan dan diserang, lalu berkata:

“Reaksi dia dengan Hen-lo-sat tidak berbeda!”

“Kalau tebakanku tidak salah, dia sudah memakan semacam obat sampai akal sehatnya hilang!”

Su Yan-hong mengangguk:

“Benar! Kalau tidak hilang akal sehatnya, dengan sifat Lu Tan sebenarnya dia tidak akan bersembunyi!”

Timbul perasaan aneh di hati Toan Hong-cu dan Keng-suthay tapi Jin-kun Lo-taikun sudah tertawa.

“Siau Cu, sifatmu tetap seperti dulu!” Kata Jin-kun sambil menggelengkan kepala, “dulu demi bisa menikah dengan Beng-cu, semua kau lakukan agar bisa mendapatkan cucuku. Sekarang demi menyelamatkan seorang teman, kau mengarang cerita. Kau selalu seperti itu. Terhadap orang lain atau untuk diri sendiri tidak ada gunanya.”

“Maksudmu, aku berbohong?” Siau Cu berteriak.

“Teman tertimpa masalah, yang pasti kita tidak bisa berpangku tangan begitu saja tapi kau harus bisa membedakan, mana yang salah dan mana yang benar!” Jelas Jin-kun.

“Waktu itu Beng-cu juga berada di sana!” Bela Siau Cu. Jin-kun terpaku: “Kalau begitu, di mana Beng-cu sekarang? Mengapa dia tidak datang bersama denganmu?”

“Tadinya Beng-cu bersamaku, terakhir dia pergi entah ke mana!” Siau Cu menarik nafas.

“Karena kau tahu Beng-cu tidak ada di keluarga Lamkiong jadi kau beralasan kalau Beng-cu juga mengetahui hal ini!”

Siau Cu terpaku. Wan-tianglo tidak sabar lagi. Dia berteriak: “Hei, Tua Bangka! Siau Cu bicara jujur, kau tidak percaya?” “Benarkah dia jujur?” Jin-kun tertawa dan balik bertanya.

Wan-tianglo berteriak:

“Aku mengatakan kalau dia jujur ya pasti jujur. Tua Bangka masih mau membantah ucapanku! Kau benar-benar sengaja mencari masalah denganku! Apakah karena ingin bertarung denganku?”

“Bila ada kesempatan pasti akan kutemani!”

“Bukankah sekarang adalah kesempatan yang baik?” Wan- tianglo mulai mengeluarkan kaki dan kepalannya.

Jin-kun menggelengkan kepalanya:

“Masalah di sini belum selesai! Kau tidak tahu asal usul permasalahannya lebih baik kau jangan ikut campur masalah ini!”

Dia tidak peduli dengan reaksi Wan-tianglo. Jin-kun langsung berkata kepada Siau Cu:

“Hanya mendengar ucapanmu tidak akan bisa dijadikan bukti, lebih baik keluarkan bukti-bukti lainnya agar orang-orang percaya!”

Siau Cu marah:

“Waktu itu aku dan Beng-cu melihat Lu Tan. Sekarang Beng-cu tidak ada, siapa yang bisa membuktikan hal ini?”

“Apakah kita harus menunggu Beng-cu muncul di sini?” tanya Jin-kun dengan santai. “Siapa yang mempunyai waktu menunggu? Apa pun yang terjadi, masalah ini harus diselesaikan hari ini juga!” Tuntut Toan Hong-cu.

“Benar...” Jin-kun tertawa. Siau Cu marah:

“Jika kalian tidak percaya pada ucapanku, kalian akan menyesal nantinya!”

“Siapa yang bisa membuktikan ucapanmu benar?” Tanya Toan Hong-cu.

“Aku bisa...” terdengar suara seseorang.

Semua melihat ke arah suara itu. Salah satu dari 4 orang yang mengenakan penutup wajah berdiri. Pelan-pelan dia membuka penutup wajahnya. Dia adalah Beng-cu.

Siau Cu terlihat sangat senang. Cia Soh-ciu berteriak: “Beng-cu...”

Saat dia akan mendekati putrinya, Jin-kun membentak: “Kembali...”

Dengan wibawa Lo-taikun, Cia Soh-ciu tidak berani bicara apa- apa. Dengan sikap ketakutan dia kembali. Jin-kun tertawa melihat Beng-cu:

“Apakah kau tidak tahu kalau Nenek meng-khawatirkanmu?” “Terima kasih atas perhatianmu. Cucumu ini sangat beruntung

nyawanya masih tetap ada!”

“Kau harus mengerti kalau aku sangat memperhatikanmu!” “Tapi aku tidak mengerti mengapa kau berubah menjadi seperti

ini?” dengan hati bergejolak Beng-cu menatap Jin-kun.

“Aku lihat kau terlalu lelah jadi kau semba-rangan bicara!” Ujar Jin-kun sambil menggelengkan kepala, “lebih baik kau beristirahat dulu!”

“Aku tidak sembarangan bicara. Apa tujuan-mu melakukan semua ini?” Air mata Beng-cu menetes. “Apa yang kulakukan?” seperti tidak terjadi apa-apa.

“Beng-cu kemarilah...” Cia Soh-ciu memanggil “Maafkan putrimu tidak berbakti, tapi apa pun yang terjadi aku harus menceritakan semuanya agar jangan banyak orang menjadi korban berikutnya!”

“Kita satu keluarga!” Cia Solvciu menarik nafas.

“Benarkah demikian? Mengapa dia menyuruh orang membunuhku?” Perasaan Beng-cu semakin ber gejolak. Cia Soh-ciu terpaku. Kata Bwe Au-siang:

“Mengapa bisa terjadi seperti itu?” Beng-cu berteriak:

“Sebenarnya seperti itu! Yang membunuh Lam-touw adalah dia, paman keempat yang memberi tahukannya padaku! Setelah itu paman keempat pun menghilang...”

Bwe Au-siang menatap Jin-kun. Dia merasa aneh. Beng-cu berteriak lagi:

“Jelas-jelas Lu Tan disembunyikan olehnya. Waktu itu dia ingin membunuhku serta Siau Cu. Ciu-ci Lojin diam-diam menggunakan peluit mengatur dia!”

Su Yan-hong melihat Jin-kun:

“Aku rasa Beng-cu tidak berbohong. Kau menyembunyikan Lu Tan, apa tujuanmu? Apakah kau ingin kami saling bunuh dan kau tinggal duduk diam, kemudian dari belakang mengambil keuntungan dari semua ini?”

Tapi Jin-kun masih bisa tertawa:

“Beng-cu masih kecil, dia dipengaruhi orang lain jadi dia bisa bicara seperti itu. Tapi semua malah percaya!”

Su Yan-hong tertawa dingin:

“Mana mungkin bisa seperti itu!”

“Hou-ya terbuka dan jujur, pasti tidak akan melakukan hal ini, tapi ledua orang ini belum tentu seperti itu!” Jin-kun menunjuk orang yang memakai penutup wajah, “apa kabar, Siau Sam Kongcu?”

Siau Sam Kongcu dan Tiong Bok-lan tidak bisa bersembunyi lagi.

Mereka langsung membuka penutup wajah.

Jin-kun melihat mereka sambil menggelengkan kepala, menarik nafas:

“Kalian berdua pergi dan tidur bersama tidak apa-apa, mengapa harus menghasut Beng-cu untuk melawan Keluarga Lamkiong?”

Dengan tenang Siau Sam Kongcu berkata:

“Benar, kami sama-sama tinggal di Hoa-san dan kami saling menghormati seperti kakak beradik. Kami tidak merasa ada yang salah di sini. Apa yang dibicarakan orang lain, kami tidak peduli!”

“Apa yang dikatakannya tadi adalah kenyataan sebenarnya, aku tidak dihasut oleh siapa pun!”

“Kalau kalian terbuka dan jujur, mengapa harus memakai penutup wajah seperti tadi?”

Toan Hong-cu dan Keng-suthay mulai goyah. Waktu itu terdengar suara yang berkata:

“Siluman Tua, kau masih bisa berceloteh!”

Yang bicara adalah Lamkiong Ho. Dia duduk di kursi roda, didorong oleh Wan Fei-yang yang sedang berlari datang ke tempat itu.

Melihat orang itu, Jin-kun segera tahu saatnya memperalat keluarga Lamkiong sudah usai sampai di sini dan tidak bisa diperalat lagi.

Cia Soh-ciu melihat, dia terkejut dan senang dan datang menyambut. Beng-cu berteriak:

“Ayah...”

Sorot mata Siau Sam Kongcu dan yang lain menatap wajah Wan Fei-yang dan Lamkiong Ho. Wan Fei-yang melihat ke sekeliling, dia berkata dengan suara keras: “Demi mencari Hvve-yang-ko, aku mengejarnya sampai di Han- tan lalu aku diserang Hen-lo-sat, dipukul hingga jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam. Sangat beruntung aku tidak mati dan bertemu dengan Lamkiong Ho yang dulunya pun dipukul hingga jatuh!”

“Kalau kalian tidak percaya siapa pun tapi apa yang Lamkiong Ho ceritakan harap kalian percaya!” Kata Lamkiong Ho.

“Apa yang telah terjadi?” Tanya Cia Soh-ciu. Lamkiong Ho menunjuk Jin-kun:

“Orang ini sebenarnya adalah Thian Te, bernama Jin-kun dari Pek-lian-kau!”

Begitu kalimat ini masuk ke telinga semua orang, membuat semua terkejut dan sorot mata mereka melihat wajah Jin-kun.

“Di dunia ini memang tidak ada rahasia abadi!” ujar Jin-kun seperti tidak merasakan apa-apa, “sebenarnya setelah rapat Pek- hoa-couw ini selesai, aku akan kembali ke wajah asliku. Sekarang terjadi lebih awal tapi masalah sudah terjadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

Dia berhenti pelan-pelan mengelupas topeng kulitnya. Semua tahu apa yang terjadi. Tapi begitu melihat apa yang dilakukannya tetap saja merasa terkejut. Lo-taikun dari keluarga Lamkiong mempunyai kedudukan tertentu di dunia persilatan juga berpengaruh. Ternyata dia adalah Jin-kun dari Pek-lian-kau yang pandai menyamar dengan kemampuan keterampilan tangan.

Wan Fei-yang bisa dikatakan orang yang paling tenang. Dia segera bertanya:

“Kau mengelabui keluarga Lamkiong, apakah tujuanmu adalah memecahbelah perkumpulan besar agar mereka saling bermusuhan dan kau tinggal duduk diam menerima keuntungannya?”

Jin-kun tertawa: “Ini hanya salah satunya. Yang terpenting ada lah uang dan harta keluarga Lamkiong. Kalau tidak, ingin menghasilkan Bwe, Lan, Ju, Tiok, dan Hen-lo-sat, tidak mungkin bisa terjadi.”

“Akhirnya kau mengakui semuanya!” Wan Fei-yang menarik nafas, “begitu banyak orang mati di tanganmu tapi tidak ada satu pun yang mencurigai-mu bukan?”

“Hanya Lamkiong Po!”

Jin-kun baru akan berkata seperti itu, Bvve Au-siang marah besar. Dia ingin menyerang tapi Cia Soh-ciu menahannya:

“Jangan sampai membuat hatimu bergejolak! Hati-hati bayi yang ada di dalam kandunganmu!”