-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 19

Jilid 19

“Yang pasti kita harus menyumbangkan sedikit tenaga!” Siau Cu dengan marah melihat Wan-tianglo:

“Hanya kau yang tidak punya hati nurani!”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Bagi orang yang berlatih silat, yang paling penting adalah terus berlatih.”

“Aku tidak mau bicara lagi dengan orang ini!” kata Siau Cu. “Tidak perlu bicara dengannya lagi. Tapi sayang ketika Bu-tong-

pai mengalami bencana besar kita tidak bisa menyumbangkan

sedikit tenaga.”

Ada suara datang pada waktu itu:

“Di Bu-tong-pai terjadi masalah apa?”

Tidak hanya Su Yan-hong, Siau Cu, Wan-tianglo juga merasa terkejut, mereka menoleh bersamaan. Mereka bertiga berteriak: “Wan Fei-yang...”

Wan Fei-yang keluar dari semak-semak. Dia terlihat segar bugar. Tapi di antara alisnya tetap terlihat kecemasan dan rasa prihatin.

Siau Cu dan Su Yan-hong menyambut. “Wan-toako...” suara Siau Cu terharu.

Wan Fei-yang memegang pundak Siau Cu. Su Yan-hong bertanya:

“Lote, mengapa kau berada di sini?”

“Bukankah kau sudah lama meninggalkan Sian-tho-kok?” tanya Siau Cu.

“Aku sama sekali belum pernah meninggalkan Sian-tho-kok!” kata Wan Fei-yang tertawa.

“Orang aneh itu mengira kau sudah kabur dari sini, maka dia mencarimu di luar!”

“Kalian anak muda tidak ada yang baik. Semua adalah siluman rubah!”

Wan Fei-yang tidak melayaninya. Dia bertanya kepada Siau Cu: “Di Bu-tong-pai terjadi keributan apa?”

Su Yan-hong menarik nafas:

“Pada rapat pedang di Pek-hoa-couw, Coat-suthay mati karena pedang beracun. Lu Tan yang dicurigai. Satu-satunya putra keluarga Lamkiong, Lamkiong Po mati terbunuh dan orang yang dicurigai adalah Lu Tan juga.”

“Lu Tan bukan orang seperti itu. Sekarang di mana dia berada?”

“Tidak ada jejaknya, maka semua orang berjanji akan pergi ke Bu-tong-san untuk bertanya dan meminta Bu-tong-pai menyerahkan Lu Tan. Mereka juga mencurigai itu adalah rencana busuk Bu-tong-pai!”

Wan Fei-yang tertawa kecut. Siau Cu berkata:

“Kita harus segera pergi ke Bu-tong-san, kalau terlambat tidak sempat lagi!” Wan Fei-yang mengangguk. Tapi Wan-tianglo sudah menggelengkan kepala dan tertawa:

“Tidak semudah itu kalian ingin pergi!”

Wan Fei-yang tidak mempedulikan dia. Dia melihat Siau Cu dan Su Yan-hong:

“Kalian berdua demi Bu-tong-pai...”

“Lote jangan berkata begitu. Yang memberi petunjuk kepadaku agar aku bisa berlatih Thian-liong-kiu-sut adalah...”

“Telapak kaki itu adalah peninggalan Wan-toako!” teriak Siau Cu.

“Aku berpikir sudah lama tapi tidak mendapatkan hasil. Kata orang, Lote adalah orang nomor satu di dunia ini, benar-benar tidak salah!”

“Hou-ya jangan berkata begitu. Aku hanya menonton di samping sehingga dapat melihat dengan lebih jelas.”

“Apakah Wan-toako sudah sehat?” Siau Cu bertanya penuh perhatian.

“Masih sedikit lagi!” Wan Fei-yang menghembuskan nafas. “Berarti belum bisa memukul mati orang aneh ini!” Siau Cu

merasa kecewa tapi alisnya segera melayang, “kita bertiga, apalagi

Thian-liong-kiu-sut sudah dikuasai Hou-ya!”

Dia segera berteriak senang. Wan Fei-yang melihat dia kemudian melihat Wan-tianglo:

“Tadinya rencanaku setelah beres semua hal, baru benar-benar berunding dengan dia.”

“Tapi aku tidak sabar menunggunya! Sekarang ada kalian bertiga giliran melayaniku, aku tidak akan merasa kesepian lagi!”

“Cianpwee terus-menerus memaksakan keinginan sendiri, terpaksa kami harus melakukan tindakan yang tidak sopan!”

“Apa yang disebut tidak sopan itu yang aku minta, mari...” Mata Wan Fei-yang berputar: “Bagaimana kalau kita ganti cara bertarung?” “Terserah! Mana mungkin aku takut pada mu!”

Tubuh Wan Fei-yang bergerak. Dia bergeser ke pinggir sejauh 3 tombak, lalu mengambil tiang bambu yang tingginya sekitar 2 tombak. Kemudian dia menancapkan bambu ke tanah.

“Kita bertarung di atas bambu?” tanya Wan- tianglo.

“Siapa yang meninggalkan bambu ini, dia kalah. Yang kalah harus menurut pada yang menang!” kata Wan Fei-yang.

“Kau pasti akan kalah!”

“Kalau aku kalah, kita bertiga tinggal di sini. Setiap pagi, siang, malam bertarung denganmu satu kali!”

“Kalau aku yang kalah, aku akan mengijinkan kalian pergi!” “Kita berjanji...”

“Aku selalu menepati janji. Kata-kataku sudah diucapkan, empat kuda pun sulit mengejarnya!” kata Wan-tianglo.

Kemudian dia melihat Wan Fei-yang; “Kulihat kau sudah sembuh dari sakit maka kau begitu sombong!”

“Silakan...” tangan Wan Fei-yang melayang. Wan-tianglo tertawa. Dia meloncat lalu bersalto ke atas tiang bambu, dia melakukan gerakan dan gaya yang berbahaya.

Wan Fei-yang melihat Siau Cu dan Su Yan- hong: “Meninggalkan tiang bambu berarti kalah!”

Su Yan-hong dan Siau Cu segera mengingat kata-kata ini. Wan Fei-yang meloncat naik ke atas tiang bambu dan berteriak:

“Harap Cianpwee memberi petunjuk...” Wan-tianglo berkata: “Aku biarkan kau mengeluarkan tiga jurus dulu!”

“Betulkah? Kau yang berjanji!” Wan Fei-yang tertawa.

Wan-tianglo menjadi tegang, dia mengerti keadaan ini sangat merugikan.

Wan Fei-yang sudah tahu sifat Wan-tianglo. Su Yan-hong dan Siau Cu saling pandang, mereka segera mendapatkan ide. Kata Siau Cu:

“Orang aneh itu memberi tiga jurus kepada Wan-toako, kalau dia balas menyerang sebelum 3 jurus, itu juga termasuk kalah. Lebih baik kita ambil kesempatan ini untuk kabur?”

Su Yan-hong pura-pura ragu:

“Memang baik, tapi...”

“Jangan tapi-tapi an lagi, masalah Bu-tong-pai lebih penting!” Siau Cu segera membalikkan tubuh pergi.

Wan-tianglo di atas tiang bambu mendengar dengan jelas: “Apa yang kalian lakukan, cepat berhenti!”

“Sulit mendapatkan kesempatan bagus, kalau tidak dipergunakan adalah orang bodoh.” Su Yan-hong tertawa.

“Wan Fei-yang sudah berjanji...” Su Yan-hong tertawa:

“Kita tidak pernah berkata tidak akan kembali kalau dia kalah. Kalau masalah Bu-tong-pai sudah selesai, kita pasti kembali untuk melayanimu!”

Dia juga membalikkan tubuh berjalan. Wan-tianglo cemas. Dia membentak Wan Fei-yang:

“Cepat mulai!”

“Aku sedang berpikir jurus apa yang harus kukeluarkan.” kata Wan Fei-yang santai.

“Untuk apa berpikir, cepat keluarkan jurusmu!” Wan-tianglo terus berteriak.

“Baik, jurus pertama adalah 'Pek-coa-tok-sim'.” (Ular putih menjulurkan lidah).

“Baik, baik sekali! Cepat, cepat!” Wan-tianglo sangat cemas. “Tidak! Tidak! Lebih baik jurus 'Tok-pi-hoa-san'...” Tapi Wan

Fei-yang menggelengkan kepala lagi. (Sebelah tangan menghantam

Hoa-san). Wan-tianglo dan Wan Fei-yang masih dalam pembicaraannya, Su Yan-hong dan Siau Cu sudah berada di pinggir hutan. Wan- tianglo cemas, dia kelepasan berkata:

“Kau pikirkan dulu jurus apa yang akan di keluarkan jurus apa, aku akan menangkap dua bocah yang kabur itu, baru kembali lagi bertarung denganmu.”

Selesai berkata, dia sudah turun. Wan Fei-yang segera berteriak: “Pek-coa-tok-sim...” Telapaknya sudah keluar.

Tapi Wan-tianglo sudah meloncat turun. Tiga kali bersalto, dia sudah berada di depan Su Yan-hong dan Siau Cu. Dia membentak:

“Kalian mau ke mana...” Su Yan-hong tertawa:

“Ke mana saja sama...”

“Mau ke mana harus bertanya dulu kepadaku!” Wan-tianglo tertawa.

“Kau sudah turun dari tiang bambu, berarti kau sudah kalah.

Kemanapun kita mau pergi tidak ada hubungannya denganmu!” “Siapa bilang aku kalah? Aku dan Wan Fei-yang belum mulai

bertarung, darimana bisa ada yang kalah atau menang?”

“Apakah kau tidak mendengar teriakan Wan-toako 'Pek-coa-tok- sim'?” potong Siau Cu.

“Dia berteriak, itu urusan dia...”

“Apakah kau tidak melihat jurus Pek-coa-tok-sim sudah dikeluarkan? Jurus Pek-coa-tok-sim memang bagus, sampai kau tidak berani menerimanya dan kabur tergesa-gesa dari tiang bambu!” Siau Cu tertawa, “Wan-toako benar-benar adalah pesilat nomor satu di dunia ini! Benar-benar bukan hanya nama kosong saja!”

“Apa yang kau katakan?” Wan-tianglo berteriak. Wan Fei-yang yang di atas tiang bambu segera berkata:

“Terima kasih sudah mengalah...” Wan-tianglo baru sadar apa yang terjadi. Dia berteriak:

“Kalian bersekongkol merencanakan siasat busuk untuk mencelakakanku...”

“Jangan berkata begitu!” kata Siau Cu dengan senang, “kata- katamu sudah diucapkan, empat kuda pun sulit mengejar kembali, kau adalah orang terkenal di dunia persilatan, Cianpwee di dunia persilatan, yang pasti tidak akan berkata kau telah salah bicara!”

“Aku...” Wan-tianglo marah.

“Hanya satu jurus Wan-toako sudah, mengalahkan Wan-tianglo, berita ini akan tersebar luas di dalam dunia persilatan!” kata Siau Cu senang.

“Sembarangan bicara kau...”

“Bukankah tadi sudah berjanji siapa yang turun dari tiang bambu, dia kalah?” Siau Cu bertanya lagi, “bukankah satu jurus belum kau keluarkan, sudah meninggalkan tiang bambu dan turun ke bawah?”

“Karena kalian berdua...” Wan-tianglo menim juk Siau Cu dan Su Yan-hong.

“Tapi dari awal tidak ada perjanjian bahwa kita tidak boleh berbicara! Hahaha! Wan-toako cepat turun, kita berangkat ke Bu- tong-san sekarang juga!”

Wan Fei-yang meloncat turun. Wan-tianglo segera berlari ke sisinya:

“Marga Wan, kulihat kau bukan orang kerdil yang licik!” “Cianpwee juga bukan orang kerdil yang sudah mengeluarkan

kata-kata tapi tidak bisa dipercaya?”

Wan-tianglo terpaku, lama kemudian baru tertawa:

“Baik! Baik! Hitung-hitung kalian bertiga pintar bisa menipuku hanya satu kali. Lain kali aku tidak akan mudah tertipu lagi!”

“Kami terpaksa!” Wan Fei-yang memberi hormat.

Dengan dingin Wan-tianglo berkata kepada Wan Fei-yang: “Aku akan mencarimu lagi!”

“Setelah selesai masalah Bu-tong!” kata Wan Fei-yang.

“Dengan tenaga kita bertiga, belum tentu akan kalah di tanganmu. Bila kau datang, kami akan memukulmu untuk melampiaskan kemarahan karena kau telah menyiksa kami!”

Wan-tianglo menghentakkan kaki sambil marah:

“Bocah tengik, kau sekarang mulai bisa bicara. Kalau berani, keluar untuk bertarung!”

“Aku tidak ada waktu, sampai bertemu nanti!” Siau Cu melayangkan tangan, dia orang pertama yang mulai pergi.

Wan Fei-yang dan Su Yan-hong ikut pergi. Wan-tianglo melihat mereka tapi tidak menghadang. Dia berdiri terpaku, sampai mereka bertiga menghilang di dalam hutan, dia baru berjalan berputar- putar di tanah kosong.

Tidak lama kemudian dia seperti setan terus berteriak sambil bersalto. Kera-kera di sana ikut berteriak. Sian-tho-kok yang tadinya sepi sekarang menjadi kacau.

172-172-172

Keluar dari Sian-tho-kok, Siau Cu memberi ide lebih baik naik kuda ke Bu-tong-san. Wan Fei-yang yang pasti mendukung. Dia menarik nafas:

“Orang dunia persilatan yang lurus sudah tidak banyak, tapi masih saling membunuh. Kalau terus begitu, apa ada harapan?”

Su Yan-hong juga menarik nafas:

“Kalau tidak ada bukti menyatakan Bu-tong-pai tidak bersalah, kelihatannya pertempuran sulit dihindari.”

Wan Fei-yang mengangguk:

“Maka aku kira lebih baik mengundang Bu-wie Taysu dari Siauw-lim-pai untuk memimpin keadilan.”

“Baik...” kata Su Yan-hong, “Bu-tong-san tidak bisa tidak ada Lote, serahkan hal ini kepadaku!” Tidak menungggu Wan Fei-yang menjawab, dia sudah berlari pergi. Memang waktu sudah sangat sempit.

***

Siang malam terus berjalan. Ketika mereka sampai di Bu-tong- san, murid-murid Kun-lun, Heng-san-pai sudah di bawah pimpinan Toan Hong-cu dan Keng-suthay.

Orang keluarga Lamkiong tidak hadir di sana, hanya ada sepucuk surat yang memberitahu Toan Hong-cu dan Keng-suthay bahwa setelah Lamkiong Po meninggal, keluarga Lamkiong hanya tinggal janda-janda dan anak perempuan. Maka masalah Bu-tong-san diserahkan kepada mereka, biar mereka yang mengambil keputusan.

Sebenarnya orang-orang keluarga Lamkiong sudah datang. Mereka bersembunyi menonton keramaian. Toan Hong-cu dan Keng-suthay mana mungkin bisa mengetahuinya. Maka hati yang berpihak kepada keluarga Lamkiong semakin banyak, juga semakin membuat mereka marah kepada Bu-tong-pai.

Lu Tan tidak ada di Bu-tong-san, jadi tidak mungkin Bu-tong-pai bisa menyerahkan Lu Tan untuk menyelesaikan pertentangan ini. Maka Toan Hong-cu dan Keng-suthay segera menggeledah Bu-tong- pai.

Kemarahan ini tidak bisa dibendung. Ketua Bu-tong-pai segera menyuruh murid-murid mema sang Jit-seng-tin dan berjanji kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay, asal mereka bisa memecahkan jit-seng-tin maka akan membiarkan mereka menggeledah Bu-tong-pai.

Selain Jit-seng-tin, Bu-tong-pai sekarang tidak mempunyai apa- apa lagi yang bisa mereka keluarkan. Ji-t-seng-tin dari Bu-tong-pai sangat terkenal di dunia persilatan, tapi untuk mengeluarkan kehebatan Jit-seng-tin, murid-murid harus mempunyai ilmu silat yang hebat, sekarang orang-orang berbakat di Bu-tong-pai sudah tidak ada, dari mana mereka mencari tujuh orang murid yang berilmu bagus.

Tapi mereka tidak punya pilihan, selain Jit-seng-tin sudah tidak ada yang lain lagi.

Murid-murid yang paham barisan adalah murid yang terbaik sekarang tapi mereka belum menguasai perubahan-perubahan barisan. Maka begitu Toan Hong-cu masuk ke dalam barisan ini, tidak perlu 10 jurus barisan tersebut sudah berantakan. Pedang 7 orang murid Bu-tong terlepas dan mereka terguling di bawah.

“Apakah ini Jit-seng-tin?” Toan Hong-cu terlihat sangat kecewa. Giok-sik hanya bisa tertawa kecut. Toan Hong-cu melihatnya: “Jit-seng-tin sudah pecah, apa lagi yang mau kau katakan?” Giok-sik belum menjawab. Toan Hong-cu langsung berkata lagi: “Kalau tidak ada, kami akan mulai menggeledah gunung!” “Tunggu...” Giok-sik menghadang dengan pedang.

“Apakah kau mau mengingkari janji?” Toan Hong-cu tertawa dingin.

“Aku sudah mengeluarkan kata-kataku, tidak akan mengingkari janji!” Giok-sik menarik nafas panjang, “aku adalah Ketua Bu-tong- pai tapi tidak bisa menjaga kehormatan Bu-tong-pai, maka aku hanya bisa dengan mata hati berterima kasih kepada nenek moyang Bu-tong-pai!”

“Itu adalah masalahmu dengan Bu-tong-pai!”

“Bila kalian ingin menggeledah Bu-tong-san, bunuhlah aku dulu, aku tidak akan membalas!”

“Kau mau mengancam dengan kematian? Ketuanya seperti itu, pantas Bu-tong-pai bisa hidup terlunta-lunta seperti ini!” kata Toan Hong-cu. “Bila ingin membunuh, bunuhlah! Untuk apa cianpwee berkata seperti itu!” kata Giok-sik.

“Apakah kau kira aku tidak berani membunuhmu?” Toan Hong- cu membentak. Pedang sudah diayunkan.

Giok-sik melotot kepada Toan Hong-cu. Di wajahnya tidak ada rasa ketakutan sedikitpun. Toan Hong-cu marah, dia segera menepis pedang.

Saat itu Wan Fei-yang melesat datang dan membentak: “Berhenti...”

Murid-murid Bu-tong-pni begitu melihat Wan Fei-yang, langsung bersorak dan mendekat padanya.

Hati Giok-sik bergejolak, tapi dia tidak bergeser. Dia tetap menghadang Toan Hong-cu dan Keng-suthay.

Hati yang paling bergejolak adalah Fu Hiong-kun yang berdiri di samping Keng-suthay. Dia tidak mendekat, tapi matanya terus mengawasi.

Toan Hong-cu bertanya kepada Keng-suthay: “Siapa yang datang itu?”

Keng-suthay menggelengkan kepala. Wan Fei-yang mendekat, dia memberi hormat kepada Giok-sik:

“Ciang-bun-jin, Suheng...”

“Tidak perlu sungkan. Akhirnya kau pulang juga!”

Wan Fei-yang berkata kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay: “Boanpwee Wan Fei-yang menemui jiwi Lo-cianpwee!”

“Wan Fei-yang?” Toan Hong-cu dan Keng-suthay terpaku.

Wan Fei-yang mengangguk kepada Fu Hiong-kun. Fu Hiong-kun seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tidak keluar.

Toan Hong-cu melihat Wan Fei-yang dari atas ke bawah:

“Kau adalah Wan Fei-yang yang disebut-sebut sebagai orang pendekar nomor satu di dunia ini?” “Lo-cianpwee terlalu memuji!”

“Tampaknya masalah Bu-tong-pai tetap harus diputuskan olehmu!” kata Toan Hong-cu, lalu bertanya lagi, “dengan syarat apa kau baru mau menyerahkan Lu Tan?”

Wan Fei-yang melihat Giok-sik:

“Suheng, apakah Lu Tan ada di sini?”

“Tidak ada...” Giok-sik menghela nafas, “aku menyuruh dia pergi ke Pek-hoa-couw, dan sampai sekarang dia belum pulang, Jiwi Lo- cianpwee menuduhnya sebagai pembunuh. Dengan ilmu silat Lu Tan, mana mungkin bisa membunuh Tiong Toa-sianseng dan Coat- suthay?”

“Kalau kau tidak percaya dia pembunuh, mengapa tidak menyerahkan dia?”

“Tapi dia benar-benar tidak ada!” Giok-sik menarik nafas panjang.

“Sebenarnya dia bukan pembunuh!” kata Siau Cu menyela, “Aku dan dia adalah teman baik, aku sangat mengenal siapa dia!”

“Kau siapa?” Toan Hong-cu dengan tidak sudi melihat dia, “apa hubunganmu dengan Bu-tong-pai?”

Siau Cu ingin marah, Wan Fei-yang menahan nya:

“Jiwi Lo-cianpvvee, Boanpwee dengan nyawa menjamin Ln Tan bukan orang yang seperti itu!”

“Apakah kau mengira hanya dengan beberapa kata-katamu, kita sudah bisa mempercayaimu? Kau kirasiapa dirimu?”

“Aku percaya jiwi Lo-cianpwee adalah orang yang menjaga keadilan, Terhadap masalah ini akan membereskan dengan adil!” kata Wan Fei-yang.

“Maksudmu sekarang ini kami tidak ada aturan?” Toan Hong-cu melotot. “Kami tidak berani!” Wan Fei-yang menarik nafas. Dari Su Yan- hong dia tahu sifat Toan Hong-cu seperti apa. Ternyata benar-benar tidak salah.

Kata Keng-suthay:

“Kalau kau tahu Lu Tan adalah orang yang seperti apa, mengapa kau tidak menyerahkan dia?”

Sebenarnya ini adalah pengulangan kata-kata Toan Hong-cu. Keng-suthay juga tidak mempunyai akal sehat. Wan Fei-yang benar- benar merasa terkejut, tapi dia tetap dengan sabar berkata:

“Memang Boanpwee baru pulang, tapi ketua sudah mengatakan dengan jelas bahwa Lu Tan belum pulang!”

“Kalau begitu mengapa tidak membiarkan kita menggeledah gunung?” Toan Hong-cu mengulang kembali kata-kata ini.

“Sebuah perkumpulan punya kehormatan sen diri!” Wan Fei- yang tetap bersikap sangat tenang.

“Omong kosong!” kata Toan Hong-cu. Siau Cu berteriak: “Kalian adalah orang yang keras kepala, yang tidak mempunyai

hati nurani!”

Wajah Toan Hong-cu dan Keng-suthay berubah. Wan Fei-yang segera menahan Siau Cu:

“Ini adalah masalah Bu-tong-pai!”

Siau Cu mengangguk, kemudian dia menunjuk Toan Hong-cu dan Keng-suthay:

“Kalau kalian sembarangan menuduh Lu Tan lagi, begitu turun gunung aku akan bertarung sampai kalian mengerti.”

“Kau benar-benar bocah yang tidak tahu diri dan suka mengeluarkan kata-kata sombong!”

Siau Cu masih mau berdebat. Wan Fei-yang segera mencegat, dia memberi hormat kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay, katanya:

“Harap Jiwi Lo-cianpwee bisa sedikit bersabar. Kalau kita sudah menemukan Lu Tan, pasti ada keadilan!” “Untuk apa sengaja mengulur waktu?” bentak Toan Hong-cu. “Kita bukan sengaja mengulur waktu. Di jalan aku sudah

berpesan kepada An-lek-hou Su Yan-hong untuk pergi ke Siong-san

mengundang Bu-wie Taysu dari Siauw-lim untuk menegakan keadilan!”

“Kau mengenal Su Yan-hong?” Toan Hong-cu terpaku. “Aku sudah beberapa tahun mengenal dia.”

“Betulkah Bu-vvie Taysu akan datang?” tanya Toan Hong-cu. “Kalau tidak ada halangan, tiga hari kemudian dia pasti akan

tiba!” Setelah mengucapkan kata-kata ini Wan Fei-yang segera

merasa menyesal, “sekarang ini bila terjadi hal yang tidak terduga, itu bukan hal yang aneh!”

Toan Hong-cu segera berkata:

“Baik! Tiga hari dari sekarang kita akan datang lagi!” “Bagaimana kalau Bu-vvie Taysu tidak datang?” tanya Keng-

suthay.

“Boanpwee terpaksa harus menerima jurus kalian berdua!” Wan Fei-yang menarik nafas.

“Orang dunia persilatan menyebut Thian-can-kang adalah nomor satu di dunia ini, aku ingin mencoba juga!” Kata Toan Hong- cu.

Wan Fei-yang menghela nafas. Fu Hiong-kun melihatnya, juga menghela nafas. Di sepanjang jalan Fu Hiong-kun selalu memikirkan cara bagaimana membantu Bu-tong-pai. Tapi dia tidak menemukan cara yang baik. Kemunculan Wan Fei-yang di satu sisi membuat hatinya tenang, tapi me-munculkan kekhawatiran di sisi lain.

Kalau Bu-wie Taysu tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi? Tidak ada yang mengharapkan terjadinya korban dari pihak manapun.

173-173-173 Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong terus berjalan menuju Bu-tong- san. Keluarga Lamkiong sudah mendapat kabar ini, wajah Lo-taikun berubah seram.

“Tiga hari lagi mereka akan sampai!” Kiang Hong-sim melapor kepada Lo-taikun, “Wan Fei-yang menunggu Bu-wie Taysu datang untuk mem-bela kebenaran!”

“Bu-wie Taysu tidak boleh sampai ke Bu-tong-san!” perintah Lo- taikun.

“Maksud Lo-taikun?”

“Serahkan tugas ini kepada pembunuh Bwe, Lan, Ju, Tiok, 4 pembunuh. Bagaimana pendapat-mu?” Lo-taikun coba bertanya.

“Dengan ilmu silat mereka menghadapi Su Yan-hong, pasti bisa!” kata Kiang Hong-sim.

Lo-taikun mengangguk. Dia melihat Cia Soh-ciu:

“Kau yang melatih ilmu silat mereka, kalian pasti tahu dengan sangat jelas!”

“Tentang ini Lo-taikun tenanglah!” jawab Cia Soh-ciu. “Kulihat dia bukan lawan 4 pembunuh!” kata Kiang Hong-sim.

“Hal ini aku serahkan kepada kalian!” Lo-taikun duduk kembali di kursi.

Kiang Hong-sim meniup peluit. 4 pembunuh segera keluar seperti setan gentayangan.

“Apakah perlu menguji mereka lagi?” tanya Kiang Hong-sim. “Tidak   perlu...” Lo-taikun menggelengkan   kepala,   “jangan

mengganggu mereka! Bu-wie adalah pesilat tinggi yang bisa

dihitung jari, ditambah lagi Su Yan-hong. Ingin membereskan mereka bukan hal yang mudah!”

“Kami akan berhati-hati!” Jawab Kiang Hong- sim.

“Sebelum berangkat, beri obat sekali lagi untuk beijaga-jaga!” Pesan Lo-taikun.

174-174-174 Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu tidak tahu bahaya sedang mendekat. Sepanjang jalan mereka merasa aman.

Kuda sudah lelah. Karena di gunung tidak ada orang, maka tidak memungkinkan bila ingin mengganti kuda. Su Yan-hong dan Bu- wie Taysu turun dari kuda, berjalan kaki sambil menuntun kuda.

“Apakah Taysu lelah?”

“Seorang hweesio harus bekerja tidak kenal lelah. Pinceng naik kuda sudah cukup berdosa.” Bu-wie tersenyum, “tapi kalau berjalan kaki akan telat sampai ke Bu-tong-san. Bila terjadi musibah, kita akan lebih berdosa lagi!”

“Taysu seorang yang pengasih dan penyayang, Tecu benar-benar kagum!”

“Pinceng seringkali ditertawai sebagai orang kuno, bekerja keras, tapi sebenarnya kita bisa melihat situasi. Kadang-kadang hal yang kita tahu berdosa tetap kita lakukan!” Tiba-tiba Bu-wie Taysu berhenti. Dia membaca bacaan Budha.

Su Yan-hong merasa aneh dan berhenti:

“Taysu...”

“Jika aku tidak masuk ke neraka, siapa yang masuk neraka?” Bu- wie Taysu membaca lagi bacaan Budha.

Sekarang Su Yan-hong mulai merasakan sesuatu. Dia meletakkan tangannya pada pegangan pedang. Sorot mata Bu-wie Taysu berputar:

“Aura membunuh yang begitu kuat!” “Akhirnya Tecu merasakan juga!”

“Lawan datang sengaja untuk membunuh kita maka ada aura membunuh begitu kuat!”

“Guru sudah lama tidak berada di dunia persi latan, maka orang yang datang pasti ingin membunuh Tecu!” “Tujuannya adalah menghadang kedatangan kita ke Bu-tong- san. Bukankah Hou-ya pernah berkata Bu-tong-san mungkin dituduh dan dicelakakan?”

“Betul!”

Tiba-tiba terdengar suara peluit. Bwe, Lan, Ju, Tiok sudah muncul dari semak-semak. Bu-wie Taysu melihat mereka. Dia membaca bacaan Budha dan bertanya:

“Apakah kau mengenal mereka?”

“Suara peluit ini pernah kudengar, apakah mereka adalah satu kelompok?”

Tiba-tiba dia teringat Hen-lo-sat. Kalau 4 perempuan ini seperti Hen-lo-sat, akan sulit menghadapi mereka.

“Taysu hati-hati...” dia mengingatkan Bu-wie Taysu. “Empat orang ini bukan orang biasa, Hou-ya juga hati-hati!”

Empat pembunuh perempuan sudah semakin mendekat. Dengan sungkan Su Yan-hong bertanya:

“Siapa kalian berempat?”

Yang pasti tidak ada orang yang menjawab. Dia bertanya lagi: “Apakah kalian ingin menghadang kita pergi ke Bu-tong-san!” Jawabannya adalah serangan empat buah pedang. Pedang sama-

sama menyerang. Su Yan-hong segera mencabut pedang. Bu-wie

Taysu juga memutar tongkatnya, tapi dihadang oleh empat pedang.

Hanya bertarung satu jurus, Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong sudah tahu mereka bertemu musuh yang kuat. Tongkat dan Liong- im-kiam segera diayun kan untuk melayani serangan 4 pembunuh ini.

Cara 4 pembunuh menyerang seperti tidak mempedulikan nyawa, sikap mereka boleh dikatakan seperti orang gila.

Semakin bertarung Su Yan-hong semakin terkejut. Walaupun 4 perempuan ini tidak selihai Hen-lo-sat, tapi terlihat mereka satu kelompok dengan Hen-lo-sat, tidak pernah takut mati. Bu-wie Taysu sudah melihat 4 perempuan mempunyai masalah pada otak mereka. Begitu ada celah, dia segera masuk. Dengan tongkat memukul ke pundak kirinya tapi perempuan ini seperti tidak merasakan, dia malah balik menyerang. Hal ini membuat Bu- wie Taysu bertambah yakin. Dia cepat menghindar dan berteriak:

“Mereka bukan orang normal, jangan bertarung keras dengan mereka!”

Sambil berbicara dia terpaksa harus melawan dengan keras, dua perempuan ini baru tergetar mundur, sekarang maju menyerang lagi. Pada waktu yang bersamaan Su Yan-hong dipaksa mundur oleh 2 pembunuh yang lain. Walaupun dia sudah menguasai Thian- liong-kiu-sut, tapi lawan menyerang begi tu gila-gilaan, membuat dia tidak berkesempatan mengeluarkan Thian-liong-kiu-sut.

Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu mulai merasa kesulitan menghadapi mereka. Kekuatan barisan pedang mereka benar-benar seperti gunung yang runtuh dan air yang tumpah.

Suara peluit terdengar lagi. Tenaga dalam 4 perempuan sama- sama dikeluarkan. Jurus pedang mereka semakin ganas.

Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu mulai merasa sesak nafas. Bu- wie Taysu terus berpikir. Tiba-tiba dia membentak:

“Usahakan mendesak mereka mundur dulu..”

Segera tenaga dalam memenuhi kedua tangan nya. Dengan tongkat dia menyapu. Su Yan-hong juga menepis dengan pedang.

Diiringi suara seperti petir, 4 perempuan masing-masing terdorong mundur sejauh 7 kaki. Suara peluit berbunyi lagi, mereka segera menyerang lagi. Bu-wie Taysu menancapkan tongkat hweesionya ke tanah. Dua tangannya melakukan gerakan untuk mengangkat tenaga dalam. Baju kasanya terus bergerak tanpa tertiup angin. Tiba-tiba bajunya membesar seperti tersimpan banyak udara.

“Hou-ya tutup telinga...” Begitu mengucapkan ini, Bu-wie Taysu membuka besar mulutnya, raungan keras segera keluar. Raungan ini benar-benar keras, melewati awan melampaui suara peluit, benar-benar membuat bumi dan langit seperti tergetar. Daun-daun di sekeliling hutan terus tergetar rontok dan menari-nari kencang di antara bumi dan langit.

Empat perempuan ini seperti tersambar petir. Tubuh mereka bergetar. Tubuh mereka terlempar di udara dan terjatuh menabrak tanah.

Bu-wie Taysu masih terus meraung. Walau pun Su Yan-hong sudah menutup telinga dengan dua telapaknya, dia tetap merasa telinganya tergetar dan kepalanya seperti mau pecah.

Wajah 4 perempuan ini menunjukkan ekspresi sakit, sorot mata mereka buyar. Mereka terjatuh, berguling dan merintih.

Peluit yang dipegang Kiang Hong-sim tergetar jatuh karena suara auman singa. Sedangkan Cia Soh-ciu masih memegang peluitnya. Dia mencoba meniup lagi, tapi peluit pecah karena auman singa. Hal ini membuat mereka terkejut.

Auman singa berhenti sejenak tapi segera ada auman kedua. Kali ini auman lebih dasyat lagi!

Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim berteriak seperti terkena petir, kemudian tergetar jatuh dari pohon. Pada saat suara auman pertama kali berhenti 4 perempuan masih bisa merangkak bangun, tapi pada auman kedua mereka terjatuh lagi.

Bu-wie Taysu meraung lagi.

Tubuh Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim tergetar, darah menyembur dari mulut mereka. Mereka cepat-cepat berlari pergi, 4 perempuan juga muntah darah dan lari tergopoh-gopoh.

Mengeluarkan tiga kali auman singa, wajah Bu-wie Taysu berubah dari merah menjadi pucat. Dia mencengkram tongkat hweesio yang ditancapkan ke tanah baru bisa mementapkan tubuhnya. Keringat terus menetes dan nafasnya terengah-engah.

Su Yan-hong dengan susah payah membuka mata. Melihat daun yang rontok, kemudian melihat Bu-wie Taysu, dia segera berteriak: “Taysu...”

Pelan-pelan Bu-wie Taysu bisa pulih kembali, dia berkata: “Aku sudah membuat Hou-ya terkejut!”

Su Yan-hong baru tenang:

“Apakah ilmu yang guru peragakan tadi adalah Say-cu-houw (Ilmu auman singa) dari agama Budha?”

“Aku malu di hadapan Hou-ya. Aku sudah berlatih hampir 20 tahun lebih, tapi hanya mencapai 60%. Untung lawan tidak berilmu tinggi!”

“Taysu benar-benar lelah...”

“Empat orang ini sudah tidak punya akal sehat manusia. Mereka seperti orang gila. Kecuali meng gunakan auman singa, Pinceng sudah tidak punya cara lain lagi!”

“Kelihatannya mereka dikendalikan oleh suara peluit!”

“Dan mereka seperti sudah makan suatu jenis obat, sehingga otaknya sudah tidak bisa berpikir, dapat dikuasai peluit dan tidak takut mati, juga mengeluarkan jurus-jurus yang berbahaya!”

Su Yan-hong melihat bekas darah mereka di tanah:

“Mereka sudah terluka oleh auman singa. Kita kejar dan tangkap mereka. Tidak sulit menangkap orang yang berada di belakang mereka!”

“Semua ini pasti ada kaitan dengan Bu-tong-pai. Jika bisa menangkap mereka, masalah Bu-tong-pai akan bisa diselesaikan!” Bu-wie Taysu memapah tongkat, pelan-pelan berdiri.

Su Yan-hong melihat dan terkejut:

“Bagaimana dengan Taysu?”

“Auman singa telah menguras banyak tenaga dalamku. Hou-ya tidak perlu melayaniku, lebih baik kau tangkap mereka!” Bu-wie Taysu menghembuskan nafas.

Su Yan-hong menggelengkan kepala: “Musuh di tempat gelap, kita di tempat terang, mana mungkin Tecu membiarkan Taysu sendiri.”

Bu-wie tertawa kecut:

“Pinceng hanya takut perjalanan kita terganggu dan tidak sempat ke Bu-tong-san!”

Setelah berbicara, Bu-wie Taysu jatuh terduduk di bawah. Dia bernafas dengan terengah-engah. Auman singa telah menguras sangat banyak tenaga dalamnya.

175-175-175

Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim mengira Su Yan-hong dan Bu- wie Taysu pasti akan mengejar mereka. Setelah berlari lama, mereka menoleh. Ketika melihat hanya ada 4 pembunuh di belakang mereka, mereka manerik nafas lega.

Melihat pohon besar di sisi, mereka segera naik ke atas pohon dan melihat dengan jelas hanya ada 4 pembunuh.

Sebelum sampai pohon ini, 4 pembunuh sudah roboh. Ke tujuh indera mereka mengeluarkan darah, wajah mereka terlihat merah.

Cia Soh-ciu terkejut, dia turun memeriksa pernafasan mereka. 4 pembunuh sudah berhenti bernafas.

“Bagaimana dengan mereka?” Kiang Hong-sim turun dari pohon.

“Semua sudah mati!”

“Si botak yang lihai! Ilmu apa itu?” tanya Kiang Hong-sim. “Kalau tidak salah tebak, itulah ilmu auman singa dari kalangan

Budha!” kata Cia Soh-ciu.

“Auman singa? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kiang Hong-sim.

“Kembali melapor kepada Lo-taikun, melihat apakah ada petunjuk dari Lo-taikun.” Cia Soh-ciu tertawa kecut, dia membalikkan tubuh berlari pergi.

Kiang Hong-sim juga ikut berlari. 176-176-176

Hari kedua, jam tiga subuh. Wan Fei-yang belum tidur. Fu Hiong-kun datang mengunjungi.

Begitu membuka pintu dan melihat Fu Hiong-kun, Wan Fei-yang merasa terkejut. Tapi sikapnya segera tenang kembali.

“Mengapa sudah malam begini kau belum tidur?” Nada Wan Fei- yang bisa tenang.

“Aku tidak bisa tidur! Perpisahan di Siong- san...” “Kau masih menyalahkan aku?”

Fu Hiong-kun melihat dia:

“Yang sudah lewat jangan diceritakan lagi. Beberapa lama ini aku selalu memohon kepada Thian agar luka dalammu cepat sembuh supaya bisa memulihkan nama Bu-tong-pai!”

“Hiong-kun...” Dengan terharu Wan Fei-yang berkata, “Apa yang harus kukatakan, singkatnya...”

“Aku mengerti semua, tapi sayang aku tidak bisa membantumu, seperti masalah Lu Tan...”

“Apa yang kau perkirakan?”

“Aku sangat mengenal dia. Hanya saja dalam setiap hal dia selalu tidak beruntung, dan sampai sekarang dia masih menghilang.”

Wan Fei-yang menarik nafas:

“Karena itulah hal ini menjadi repot. Jika waktu yang dijanjikan sudah sampai dan Bu-wie Taysu tidak sempat datang, pertarungan akan terjadi!”

“Menghadapi Thian-can-kang yang kau miliki, ketua Pek-lian- kau pun kalah. Susiok-bo dan Toan Hong-cu Cianpwee pasti tidak terkecuali.”

“Kau khawatir aku akan melukai mereka?”

Fu Hiong-kun menundukkan kepala. Wan Fei-yang melihat dia dan menarik nafas: “Aku mengerti keadaanmu, tapi nama Bu-tong-pai berdiri beberapa ratus tahun, semua terikat dalam pertarungan kali ini!”

“Wan-toako...aku harap kau bisa berbelas kasihan, jangan melukai mereka!”

“Kau tidak perlu khawatir, aku tahu batas!” kata Wan Fei-yang, “Aku tidak muda lagi, tidak emosi seperti dahulu!”

Fu Hiong-kun merasa sedih. Di matanya, Wan Fei-yang masih begitu muda tapi pemikirannya sudah berubah dewasa.

Apa yang membuat dia berubah? Fu Hiong-kun tahu tapi tidak tahu bagaimana harus menasehati nya, dan dia sendiri juga berubah seperti sudah tua.

177-177-177

Lo-taikun marah besar.

Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim melapor bahwa Bu-wie Taysu menggunakan ilmu auman singa. Awalnya Lo-taikun terkejut, tapi mendengar mereka kabur dengan tergesa-gesa, dia marah. Lalu mendengar 4 pembunuh mati semua, dia semakin marah.

“Auman singa dari kalangan Budha menghabiskan tenaga dalam sangat besar. Biasanya, jika belum sampai di ujung kematian, mereka tidak akan menggunakan auman singa. Semua tenaga Bu- wie terkumpul dalam tiga auman itu. Setelah itu, dia akan seperti orang biasa yang harus beristirahat 8-10 hari baru bisa pulih. Seharusnya kalian mengambil kesem patan ini untuk menyerang dan mencabut nyawanya.” Tongkat kepala naga dipukulkan tiga kali ke bawah.

“Menantu tidak tahu, kesempatan ini sudah hilang!” kata Cia Soh-ciu.

“Si botak itu tampak belum pergi jauh, bagaimana kalau kita mengejarnya...” kata Kiang Hong- stm.

“Sudahlah...” kata Lo-taikun melayangkan tangan, “dengan ilmu silat kalian, belum tentu bisa mengalahkan An-lek-hou. Yang penting mereka belum tentu bisa sampai ke Bu-tong-san tepat waktu. Bu-tong-san tetap akan terjadi pertempuran berdarah. Hanya 4 pembunuh sudah mati oleh auman singa, Hen-lo-sat baru bisa pulih sebentar lagi maka tidak bisa mendapat keuntungan apa- apa!”

Dia sama sekali tidak mempedulikan nyawa 4 pembunuh, hanya peduli apakah dalam pertarungan Bu-tong dia bisa mendapatkan beberapa keuntungan. Terlihat dia memang adalah orang kejam dan tidak berperasaan.

178-178-178

Akhirnya tiga hari batas waktu yang ditentukan sudah tiba.

Toan Hong-cu dan Keng-suthay sudah membawa murid-murid mereka menunggu di lapangan. Toan Hong-cu melihat Wan Fei- yang: “Sekarang apa yang akan kau katakan!”

“Silahkan kalian berdua menyerang!” Wan Fei-yang menarik nafas.

Toan Hong-cu menggelengkan kepala: “Apakah kau membuat kami menjadi tidak adil? Walaupun Thian-can-kang tidak ada tandingan nya, tapi kita tetap harus satu lawan satu dan kita harus meminta keadilan dari Bu-tong-pai!”

“Biar Pinni yang duluan bertarung!” kata Keng-suthay. “Bagaimana kalau Boanpwee kebetulan menang...”

“Kita segera turun gunung, tidak merusak satu pohon atau satu rumput Bu-tong-pai!” Terlihat Keng-suthay dan Toan Hong-cu sudah bersepakat maka berkata seperti itu.

“Bagaimana jika kau kalah? Jangan ada alasan lain menghadang kami untuk menggeledah!” kata Toan Hong-cu.

“Itu sudah pasti...”

Toan Hong-cu melihat Ketua Bu-tong-pai:

“Termasuk ketua Bu-tong-pai, jangan ada gerakan menghadang orang.” Giok-sik menarik nafas. Wan Fei-yang sangat mengerti, maka menepuk-nepuk pundaknya.

Keng-suthay maju tiga langkah, dia mencabut pedang: “Sekarang bisa mulai!”

“Maaf!” Wan Fei-yang segera berlari keluar kemudian menyerang dengan telapak. Walaupun tidak menggunakan tenaga dalam tapi Keng-suthay tetap bisa melihat pada gerakan Wan Fei- yang, tidak ada celah bisa diserang. Gerakan yang benar-benar sempurna maka dia tidak berani ceroboh. Setelah menyambut satu jurus, jurus-jurus Giok-lie-kiam-hoat dari Heng-san-pai sudah dikeluarkan.

Dengan tangan kosong Wan Fei-yang menyambut, dengan cepat dia sudah menemukan jurus-jurus perubahan Giok-lie-kiam-hoat.

Wan Fei-yang sama sekali tidak mengerti Giok-lie-kiam-hoat dari Heng-san-pai. Dia mempelajari cara mencari tahu jurus-jurus pedang lain dari Wan-tianglo. Ketika berada di Sian-tho-kok, Wan- tianglo tidak henti-hentinya memaksa dia bertarung, maka sedikit banyak dia belajar dari sana.

Wan-tianglo menguasai ilmu silat semua perkumpulan. Setelah dicerna, dia mengubahnya menjadi jurus yang lain. Walaupun tidak begitu sama tapi tetap ada kemiripan. Semua ini adalah intinya, juga sumber perubahan. Setelah menguasai sumber perubahan, pasti bisa mencari perubahan yang lain!

Kelihatannya mudah, tapi tidak semudah yang kita perkirakan. Dengan perubahan jurus Wan-tianglo yang cepat, untung Wan Fei- yang mempunyai sorot mata yang tajam dan pengalaman dalam menghadapi musuh, kalau tidak mana mungkin dia bisa mengerti.

Keng-suthay adalah orang yang sangat berpengalaman di dunia persilatan. Dia melihat ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat sama sekali tidak berguna, maka dia segera mengubah jurus, mencampur dua jenis ilmu pedang sambil terus menyerang gila-gilaan. Wan Fei-yang menyambut sampai 30 jurus. Lalu tubuhnya maju, telapaknya berubah tujuh kali. Terakhir, perubahannya menekan pergelangan tangan kanan Keng-suthay.

Dia tidak ingin Keng-suthay mendapat malu tapi Keng-suthay malah tidak terima. Dia memaksa Wan Fei-yang dengan menyerang jalan darah penting nya.

Diam-diam Wan Fei-yang menarik nafas. Setelah perubahan Keng-suthay habis, sekali lagi dia menekan pergelangan kanan Keng-suthay.

Kali ini memakai tenaga lebih kuat. Keng-suthay merasa pergelangan tangan kanannya mati rasa, pedang tidak bisa dicengkram lagi. Akhirnya pedang terlepas dan terjatuh. Reaksi Keng-suthay sangat cepat, segera kaki kanannya diangkat, sudah mengait pedang dan mencengkramnya kembali.

Wan Fei-yang sudah mundur 3 tombak, dia memberi hormat dan berkata:

“Terima kasih, anda telah mengalah...”

Keng-suthay ingin mengejar tapi tidak bisa. Dia menghentakkan kaki dan memasukkan pedang ke sarung:

“Wan Fei-yang, kau benar-benar mempunyai ilmu silat yang hebat!”

“Boanpwee masih kurang belajar ilmu silat. Aku sudah sekuat tenaga baru beruntung menang satu jurus!”

Kata-kata sungkan ini membuat wajah Keng-suthay berubah warna:

“Memang ilmu silat Pinni tidak bagus, mengapa kau tidak berkata terus terang?”

Wan Fei-yang tertawa kecut. Dia tidak bicara. Keng-suthay berkata kepada Toan Hong-cu:

“Lo-totiang, sekarang harapan ada padamu!” Toan Hong-cu maju tiga langkah: “Baik! Wan Fei-yang kita mulai!”

“Harap memberi petunjuk...” kata Wan Fei-yang dengan tenang.

Toan Hong-cu mengeluarkan pedang. Pedang yang panjangnya tiga kaki itu terus bergetar. Tenaga dalamnya tampak kuat. Maka begitu keluar langsung melancarkan jurus Thian-liong-pat-sut dari Kun-lun-pai. Tapi dia tidak tahu bahwa demi membantu Su Yan- hong ketika di Sian-tho-kok, Wan Fei-yang sudah paham terhadap Thian-liong-pat-sut.

Sampai Thian-liong-kiu-sut juga dia sudah paham. Maka Thian- liong-pat-sut sama sekali tidak bisa mengancamnya.

Toan Hong-cu tidak tahu. Dia masih mengira Wan Fei-yang adalah orang berbakat di bidang ilmu silat. Thian-liong-pat-sut sudah habis dikeluarkan tapi tidak bisa mengancam Wan Fei-yang. Maka dia mundur dan berkata:

“Kita bertarung tenaga dalam saja...”

Kata-katanya baru selesai, pedang di tangannya sudah mengeluarkan cahaya berkilauan. Tubuhnya pelan-pelan seperti mengeluarkan asap, membuat orang menjadi bingung.

Wan Fei-yang tahu itulah ilmu andalan Kun-lun 'Giok-sik-ku- pan' (Batu giok membakar semua). Semua tenaga dalam dikarahkan pada pukulan kali ini. Tapi dia sadar jurus ini bukan jurus yang mudah dihadapi. Thian-can-kang segera terkerahkan. Rambutnya jadi acak-acakan, walau tidak ada angin tapi terus bergerak, bajunya juga seperti gelombang terus bergerak.

Tidak ada yang tahu pukulan ini akan menang atau kalah, tapi bisa terbayang kekuatannya yang dashyat.

Fu Hiong-kun menarik nafas. Dia membalikkan tubuh, tapi wajahnya segera terlihat berseri.

Dari arah kejauhan terdengar ada yang membaca bacaan Budha. “Kita semua adalah orang yang punya satu jalan, mengapa harus

saling melukai?” Semua orang melihat. Terlihat Su Yan-hong sedang mendorong sebuah kereta kayu, datang dari jauh. Bu-wie Taysu sedang duduk di atas kereta. Wajahnya pucat, sambil berkata dia menghembuskan nafas.

Wan Fei-yang cepat menyambut. Toan Hong-cu dan Keng- suthay juga ikut menyambut. Jika bicara generasi, Bu-wie Taysu berada di atas mereka.

Kereta kayu berhenti. Bu-vvie Taysu kembali membaca bacaan Budha:

“Pinceng telah terlambat setengah langkah, tapi sangat beruntung masih sempat, tidak membuat kesalahan yang besar!”

Toan Hong-cu dan Keng-suthay memberi hormat:. “Apa kabar Taysu?”

“Tidak perlu sungkan!” Bu-wie Taysu melihat Wan Fei-yang dan tersenyum, “apakah Sicu baik-baik saja?”

Wan Fei-yang memberi hormat:

“Kalau bukan karena Taysu, Boanpwee tidak akan hidup sampai saat ini. Sekarang masalah Bu-tong-pai harus Taysu sendiri yang datang lagi, Boanpwee benar-benar merasa tidak enak!”

“Tuan berhati jujur. Seorang hweesio harus mengasihi dan menyayangi, mana mungkin Pinceng berpangku tangan?”

Bu-wie Taysu tertawa penuh kebaikan.

Su Yan-hong memberi hormat kepada Toan Hong-cu: “Susiok...”

Toan Hong-cu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak dikatakan.

“Masalah hari ini Pinceng sudah melihat dengan jelas. Aku takut kalian dijebak oleh orang lain!”

“Bu-tong-pai dan Wan Fei-yang menyembunyikan Lu Tan, mereka tidak mengijinkan kita memeriksa. Taysy harus mengambil keputusan yang adil!” “Coat-suthay dan Tiong Toa-sianseng sudah meninggal. Ini berkaitan dengan nama dua perkumpulan. Kita tidak bisa melepaskan pembunuh dan membiarkan mereka bebas di luar sana!” kata Keng-suthay.

Bu-wie Taysu melihat wajah Keng-suthay:

“Pinceng sangat tahu siapa Wan Fei-yang. Hilangnya Lu Tan memang kenyataan. Tapi gosip tetap gosip, hanya dengan menemukan Lu Tan perkara baru bisa menjadi terang!” Kemudian dia bertanya kepada Wan Fei-yang, “kau butuh berapa lama baru bisa temukan Lu Tan?”

Wan Fei-yang belum menjawab, Toan Hong-cu sudah mencegat: “Taysu hanya mendengar kata-kata sepihak dari Wan Fei-

yang...”

Bu-wie Taysu tertawa:

“An-lek-ya dan Pinceng diserang di tengah perjalanan. Kami hampir-hampir tidak bisa datang ke Bu-tong-pai. Ini adalah bukti yang kuat!”

Toan Hong-cu dan Keng-suthay melihat Bu-wie Taysu, mereka terpaku. Dari awal mereka sudah melihat Bu-wie Taysu tidak sehat, lebih-lebih tidak terpikir karena hal ini dia terluka.

“Fei-yang, kau belum menjawab.”

“Dalam tiga bulan. Walaupun kita tidak bisa menemukan Lu Tan dan menyuruh dia keluar, tapi kita pasti akan mencari penjelasan agar semua orang tahu apa yang telah terjadi.”

“Baik! Pinceng akan menjamin dengan nama Siauw-lim-pai.

Bagaimana pendapat kalian?”

“Tiga bulan terlalu lama. Kun-lun tidak punya kesabaran sebesar ini!”

Bu-wie Taysu menarik nafas:

“Mengapa gurumu mengharuskan kau bertapa?” Toan Hong-cu terpaku. Dia tidak lupa, itu karena sifatnya terlalu keras dan tidak sabaran maka terus-menerus membuat bencana.

Keng-suthay melihatnya, dia tertawa kecut:

“Bu-wie Taysu mau mengambil keputusan yang adil, lebih baik kita menunggu tiga bulan lagi!”

Terpaksa Toan Hong-cu setuju. Sebenarnya dia juga tidak yakin bisa mengalahkan Wan Fei-yang.

Setelah kepala mereka dingin, mereka akhirnya mengaku penyerangan terhadap Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong adalah bukti.

Mereka juga mencurigai tidak munculnya keluarga Lamkiong.

Mungkin ada kesulitan lain.

179-179-179

Setelah tahu Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong tiba tepat waktu di Bu-tong-san, Lo-taikun sangat marah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang membuat dia paling menyesal adalah kematian 4 pembunuh. Melatih 4 pembunuh itu tidak mudah. Selain membutuhkan waktu, orang yang dipilih juga merupakan suatu masalah.

Waktu itu, surat rahasia dari Ling-ong telah diantar. Dala surat itu menyuruh mereka agar cepat kembali ke Kang-lam.

180-180-180

Setelah mengantar Toan Hong-cu, Keng-suthay, murid-murid Kun-lun dan Heng-san-pai, Bu-wie Taysu segera turun gunung. Su Yan-hong melindungi dia sampai sebagian besar perjalanan, baru kembali ke ibukota. Siau Cu dan Fu Hiong-kun sama-sama pergi ke keluarga Lamkiong. Siau Cu beralasan ingin melamar dan ingin mencari tahu apakah masih ada orang jahat yang bersembunyi di ' keluarga Lamkiong. Juga mencari tahu kesulitan apa yang menyebabkan keluarga Lamkiong tidak pergi ke Bu-tong-san.

Murid-murid Bu-tong-pai juga turun gunung untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan, tapi Wan Fei-yang tetap tinggal di Bu- tong-san. Mencari orang tanpa tujuan, semua orang tahu itu dikarenakan keadaan terpaksa. Itu adalah cara paling baik dalam keadaan seperti itu. Jika Wan Fei-yang juga ikut masuk dalam barisan pencari Lu Tan, itu adalah kesia-siaan. Maka semua orang ingin Wan Fei-yang pada saat ini bisa mencari Hwe-yang-ko (sejenis buah-buahan) untuk memulihkan ilmu silatnya.

Selain melatih Ie-kin-keng, dia harus makan Hwe-yang-ko baru bisa sembuh total..

Menurut perkiraan Fu Hiong-kun, Hwe-yang-ko tumbuh di tempat dingin. Dulu pernah tumbuh di Bu-tong-san, di sisi kolam Bu-tong-san.

Awalnya Hwe-yang-ko ditemukan di sisi Han-tan (nama kolam), tapi karena Hwe-yang-ko mengandung kadar racun yang tinggi maka dianggap buah beracun dan dimusnahkan.

Tidak ada yang menyangka bahwa buah yang berwarna hijau ini beberapa tahun kemudian diketahui mempunyai manfaat yang besar.

Seperti sakitnya Wan Fei-yang, tidak pernah ada orang yang pernah mendapatkan sakit ini.

Satu-satunya harapan Fu Hiong-kun adalah Hwe-yang-ko masih ada di hulu Han-tan. Tapi sampai sekarang murid Bu-tong-pai belum menemukannya, apakah Han-tan berada di sana?

Seharusnya hulu Han-tan berada di Bu-tong-san, tapi tidak ada yang tahu di bagian mana Hwe-yang-ko tumbuh. Apakah bisa menemukan Hwe-yang-ko, itu tergantung pada kemujuran nasib Wan Fei-yang.

Semua orang berharap nasib Wan Fei-yang terus membaik. Mereka memang butuh seorang yang berilmu tinggi untuk menghadapi musuh. Orang yang mempunyai ilmu ini sekarang hanyalah Wan Fei-yang.

Bila luka dalam tidak sembuh, tenaga dalam Wan Fei-yang tidak bisa terus bertahan. Wan Fei-yang tidak pernah menutupi rahasia ini. Tapi murid-murid yang tinggal di Bu-tong-san tidak ragu, mereka sangat setia dan tidak membocorkan rahasia ini. Mereka juga percaya, asal mereka berusaha keras Bu-tong-pai pasti akan bangkit dan kuat kembali.

Semenjak Bu-tong-pai tidak punya murid yang lebih terkenal daripada Wan Fei-yang, maka tidak bisa menyalahkan mereka menaruh harapan pada Wan Fei-yang.

181-181-181

Fu Hiong-kun ingin sekali menemani Wan Fei-yang di Bu-tong- san. Dengan ilmu pengobatan Fu Hiong-kun, dia pasti bisa banyak membantu. Tapi Wan Fei-yang tidak membuka mulut. Siau Cu ingin melamar tapi tidak berpengalaman, maka terlihat kerepotan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Maka harus ada orang yang agak teliti membantunya. Melihat orang di sekeliling hanya ada Fu Hiong-kun sendiri.

Fu Hiong-kun sangat berharap Wan Fei-yang bisa pulih kembali, tapi sampai dia turun gunung bersama Siau Cu, Wan Fei-yang tetap tidak mengucapkan sepatah katapun untuk meminta dia tinggal. Maka Fu Hiong-kun sedikit kecewa.

Entah mengapa dia merasa di antara dia dan Wan Fei-yang sudah ada jarak dan sedikit asing, Siau Cu tidak bisa membaca pikiran Fu Hiong-kun. Pertama, dia tidak tahu banyak. Kedua, dia selalu merindukan Beng-cu. Memang melamar Beng-cu hanyalah satu alasan, tapi dia tetap berharap bisa menjadi kenyataan.

Mereka datang ke keluarga Lamkiong dengan alasan ini. Yang pasti orang-orang keluarga Lamkiong merasa terkejut. Orang yang pertama mereka temui adalah Cia Soh-ciu. Yang pasti Cia Soh-ciu menolak dengan halus tapi tidak terlalu terlihat, karena tetap harus bertanya dulu kepada Lo-taikun.

Tapi Lo-taikun malah langsung setuju. Cia Soh-ciu mengingatkan Lo-taikun tentang masalah Pek-hoa-couw yang belum selesai dan masih banyak yang harus dilakukan, sehingga lebih baik ditunda dulu. Tapi Lo-taikun tidak menganggap. Alasan dia karena keluarga Lamkiong sedang membutuhkan orang. Walaupun ilmu Siau Cu tidak seberapa tapi tetap bisa dipergunakan.

Maka dia setuju Siau Cu menikah masuk ke keluarga Lamkiong dan berpesan kepada Cia Soh-ciu untuk menyuruh Siau Cu tinggal. Satu bulan kemudian baru menikah dengan Beng-cu.

Siau Cu benar-benar senang, dia berterima kasih kepada Cia Soh-ciu, kemudian terus bersalto gembira.

Fu Hiong-kun juga senang dan lupa tujuannya datang. Melihat Siau Cu tidak berhenti bersalto, dia berkata:

“Orang yang sudah akan menikah masih juga seperti ini!” “Kalau sekarang tidak begitu, setelah menikah tidak ada

kesempatan lagi!”

Saat itu ada yang mengetuk pintu. Siau Cu membuka pintu, ternyata yang berdiri di luar adalah Beng-cu.

“Ternyata kau...” Siau Cu terkejut, tapi juga senang. Beng-cu diam, dia bertanya dengan dingin:

“Untuk apa kau datang kemari?”

Fu Hiong-kun ingin menyela tapi Beng-cu sudah berkata:

“Aku tahu, semua aku tahu. Aku datang mem beritahu kepadamu bahwa aku tidak ingin menikah denganmu!”

Setelah itu Beng-cu segera membalikkan tubuh pergi.

Siau Cu terpaku. Fu Hiong-kun ikut terpaku. Siau Cu pelan-pelan berkata:

“Mengapa bisa seperti ini?”

“Apakah kau telah membuat dia marah?”

“Sebelumnya kita belum bertemu, bagaimana aku bisa membuat dia marah?”

“Mungkin dia marah karena sebelumnya kau tidak berunding dengan dia dan juga tidak menemui dia?” “Masuk akal. Perempuan memang bisa lebih mengerti perempuan!”

“Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak marah?”

“Kalau disebabkan hal tadi lebih baik jangan berbicara dengan dia dulu. Setelah marahnya reda, tidak akan terjadi apa-apa.”

Yang pasti Siau Cu setuju. Dia juga setuju dengan perkiraan Fu Hiong-kun. Fu Hiong-kun adalah perempuan, dia lebih mengerti perempuan dan memang dia tidak pernah membuat Beng-cu marah.

Fu Hiong-kun juga mengira begitu. Tapi sebenarnya Beng-cu sudah tahu guru Siau Cu, Lam-touw mati dibunuh oleh orang keluarga Lamkiong.

182-182-182

Beng-cu segera lari ke tempat Lo-taikun.

Lo-taikun, Cia Soh-ciu, Kiang Hong-sim, Tong Goat-go dan Bwe Au-siang sedang berada di sana. Karena Kiang Hong-sim melihat Beng-cu men-cari Siau Cu maka dia memberitaku Lo-taikun.

Baru saja Lo-taikun ingin menjelaskan pada Beng-cu agar bersiap-siap menjadi istri Siau Cu setelah satu bulan.

Ada apa Beng-cu berkata begitu kepada Siau Cu? Yang pasti Lo- taikun curiga, tapi mereka mengira Beng-cu marah karena Siau Cu tidak memberitahu dia terlebih dulu.

Melihat wajah Beng-cu cemberut, Lo-taikun baru memikirkan lagi maksud Beng-cu datang.

Beng-cu melihat Lo-taikun, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tidak keluar.

“Beng-cu, apa yang terjadi?” tanya Lo-taikun.

“Aku tidak mau menikah dengan Siau Cu!” Akhirnya Beng-cu mengeluarkan kata-kata ini.

“Kau bukan anak kecil lagi, jangan berbuat seperti ini!” Lo-taikun tertawa. “Aku tidak mau melukai dia!” kata Beng-cu. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau menikah dengan orang ini!” Beng-cu menggelengkan kepala.

“Bukankah dulu kau berkata suka kepadanya?” nada Lo-taikun tetap begitu lembut.

“Beng-cu...” Cia Soh-ciu yang menjadi ibunya menyela, “kau semakin berani membantah. Di depan orang tua mengapa berkata dengan sikap seperti ini, apakah sudah lupa aturan keluarga Lamkiong?” Beng-cu berteriak menangis:

“Aku tidak lupa, hanya ingin bertanya satu hal...” Dia tidak segera bertanya tapi dia melihat Lo-taikun.

“Kau tahu apa?” kata Lo-taikun tetap tenang. “Antara saudara saling membunuh orang untuk tutup mulut, apakah adalah aturan keluarga Lamkiong?” Beng-cu berteriak.

Semua orang terpaku dan melihat Lo-taikun. Lo-taikun dengan aneh melihat Beng-cu:

“Apa yang kau katakan?”

“Ada masalah apa katakan saja, jangan di simpan di dalam hati.” Air mata Beng-cu menetes:

“Sebelum paman keempat meninggal, dia memberitahu kepadaku bahwa Guru Siau Cu, Lam-touw dibunuh oleh kalian!”

Semua orang merasa terkejut. Lo-taikun menggelengkan kepala dan menarik nafas:

“Betul, kita yang membunuhnya! Apakah kau tahu sebabnya?” “Apa sebabnya?”

“Karena dia ingin selalu mencari tahu rahasia keluarga Lamkiong. Kita membunuh dia demi keluar ga Lamkiong!”

“Ada rahasia apa di keluarga Lamkiong?” “Laki-laki di keluarga Lamkiong sudah terbunuh. Semua ada kaitan dengan perkumpulan. Kita terus mencari tahu sebabnya dengan segala cara. Lam-touw sedang mencari tahu rahasia kita!”

“Kalau paman keempat terbunuh...”

“Boleh dikatakan akulah yang mencelakakan dia!” Lo-taikun menundukkan kepala.

Tidak hanya Beng-cu, Bwe Au-siang juga terus melihat Lo- taikun.

“Kalau bukan aku yang memerintahkan dia mengejar Lu Tan, tidak akan terjadi musibah ini!” Lo-taikun menarik nafas, “seharusnya aku tidak mem-beritahu dia apa yang terjadi. Kalau tidak, dia selalu curiga Lam-touw dibunuh oleh kita, sehingga selalu mengikuti kami dan terkena musibah.”

Air mata Lo-taikun terus menetes. Hal ini membuat semua orang terkejut dan mendekat. Ketika ingin menghibur, Beng-cu bertanya lagi:

“Apakah paman keempat sudah tahu apa yang terjadi?” Cia Soh-ciu marah:

“Apakah kau sudah gila? Apa hubungannya antara Lo-taikun dan kematian paman keempat? Kau mencurigai Lo-taikun yang membunuh paman ke empat untuk tutup mulut?”

“Putrimu bukan bermaksud seperti ini!” kata Beng-cu. Lo-taikun melayangkan tangan mencegat Cia Soh-ciu:

“Harimau galak pun tidak makan anaknya. Di dalam hati Beng- cu, apakah aku lebih kejam dan sadis daripada harimau?”

Beng-cu berlutut. Ketika mau menyembah untuk mengaku salah, Lo-taikun sudah menghadang:

“Beng-cu, apakah kau mau menikah dengan Siau Cu? Aku tidak memaksa. Kematian Lam-touw lambat laun akan memberi keadilan kepada Siau Cu!”

Apa yang harus dikatakan Beng-cu?   Cia Soh-ciu segera mencari alasan untuk mene mui Siau Cu dan bertanya kepadanya mengapa membuat Beng-cu marah, sampai dia harus terus mena-sehatinya. Cia Soh-ciu baru bisa tenang dan diam-diam memberi isyarat bahwa Beng-cu masih bersifat kekanak-kanakan. Terhadap pernikahan ini, dia tidak pernah menolak.

Fu Hiong-kun yang pertama berkata begitu, sekarang Cia Soh- ciu juga berkata seperti ini, maka Siau Cu mengira semua gadis selalu seperti ini. Begitu Cia Soh-ciu berkata begitu, Siau Cu tertawa sambil bersalto.

Waktu itu Fu Hiong-kun masuk, melihat Cia Soh-ciu keluar dan Siau Cu begitu senang, sedikit banyak dia sudah bisa menebak. Dia tetap bertanya:

“Apakah Beng-cu seperti kataku?”

Siau Cu bersalto ke depan Fu Hiong-kun:

“Betul, aku kira dia benar-benar tidak mau menikah denganku!” Kemudian dia tertawa lagi.

Kali ini Fu Hiong-kun tidak tertawa. Dia bengong melihat Siau Cu dan sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Siau Cu melihatnya, dia berhenti:

“Nona Fu, mengapa kau jadi tidak suka?” “Aku khawatir kau melupakan satu hal!” “Tentang apa?”

“Di Bu-tong-san, apa yang kau janjikan pada Wan-toako?”

Siau Cu seperti terbangun dari mimpi, dia menepuk-nepuk kepalanya:

“Aku benar-benar tidak berguna, hanya memi kirkan hubungan cinta, sampai hal yang begitu penting pun dilupakan. Sekarang apa yang harus kulakukan?” “Kau bisa mencari Beng-cu untuk bertanya. Aku melihat waktu dia menolakmu, dia seperti punya hal yang sulit dia katakan. Kau bisa berusaha dari pinggir bertanya-tanya apa yang terjadi.”

Siau Cu segera teringat sikap Beng-cu waktu itu, dia sedikit curiga:

“Aku takut Beng-cu tidak mau berbicara. Selain itu, ingin bertemu dengan dia bukan hal yang mudah!”

Sebenarnya setelah hari itu, Beng-cu selalu tidak mau bertemu dengan mereka. Maka Fu Hiong-kun tidak percaya apa yang dikatakan Cia Soh-ciu.

“Di dunia ini tidak ada hal yang sulit asalkan kita mau melakukannya!” Tiba-tiba Fu Hiong-kun ber kata seperti ini.

183-183-183

Su Yan-hong sedang pergi ke Kang-lam.

Setelah tenaga dalam Bu-wie Taysu pulih 50-60%, dia segera pergi sendiri tanpa dikawal Su Yan-hong. Karena Bu-wie Taysu berpikir, sekarang waktu nya membutuhkan orang. Bila Su Yan- hong selalu berada di sisinya, tidak baik untuk keadaan sekarang.

Setelah berpamitan dengan Bu-wie Taysu, tadi nya Su Yan-hong ingin langsung pergi ke ibukota. Tapi belum sampai di ibukota, dia sudah dicegat oleh pengawal yang memberitnhu bahwa kaisar sudah pergi ke Kang-lam dan ingin dia menyusul dan berkumpul di sana. 

Orang yang mengikuti kaisar, selain Thian-ho Sangjin, masih ada Thio Gong, Kao Sen, Han Tau dan sekelompok pengawal.

Mengetahui tindakan kaisar, Su Yan-hong sudah bisa menebak bahwa tujuan kaisar adalah Ling-ong, maka dia segera menyusul ke Kang-lam.

Kaisar memang punya maksud ini. Demi menutupi rasa curiga orang, sesampainya di Yang-ciu dia tinggal di sebuah rumah bordil yang bernama Li- cun-wan. Yang pasti seluruh Li-cun-wan dipesan dan kaisar menikmati sepuasnya.

Pihak Ling-ong juga mendapat kabar bahwa kaisar sudah turun ke selatan dan tinggal di rumah bordil. Dia benar-benar tertipu dan mengira kaisar datang ke Kang-lam karena ingin bermain. Cu Kun- cau yang berada di sisi terus mempengaruhi Ling-ong agar mengambil kesempatan ini untuk memberontak. Kesempatan jangan dilewatkan, dia ingin membawa Liu Hui-su, Cia Ceng-hong dan Hoa Pie-li menemui kaisar di Li-cun-wan.

Kata Cu Kun-cau, akal ini namanya suara di timur tapi menyerang di barat. Dia ingin membuat kaisar curiga, sehingga menarik orang-orang penting di Lam-khia untuk melindunginya. Dengan demikian pesilat-pesilat dari keluarga Lamkiong akan mencari kesempatan untuk membunuh Ong-souw-jin. Bila Ong- souw-jin mati, semua masalah akan beres. Walaupun mereka berada di tempat kaisar, kaisar tidak akan berani membantah mereka. Ingin pulang ke ibukota juga sudah tidak mungkin. Akhirnya kaisar akan tunduk kepada mereka.

Melihat kedatangan Cu Kun-cau, kaisar terkejut dan benar dia menyuruh Cu Kun-cau dan 3 pembunuh untuk tinggal.

Semua reaksi kaisar sesuai dengan perkiraan Cu Kun-cau. Tujuannya agar kaisar mengira mereka menahan dia di sana, kemudian akan bertindak pada Ong-souw-jin. Tapi kaisar sudah berjanji dengan Ong-souw-jin agar siap bersama-sama turun ke Lam-khia untuk menangkap Ling-ong hidup-hidup.

Pada waktu yang bersamaan, Su Yan-hong sudah sampai di Kang-lam. Begitu tahu Cu Kun-cau bersama-sama dengan 3 pembunuh, dia juga mengira Ling-ong hanya ingin mencari tahu tujuan kaisar ke Kang-lam.

Cu Kun-cau mengatur dirinya tinggal di peng inapan Tai-hong yang tidak jauh dari Li-cun-wan. Kaisar diam-diam berpesan kepada Han Tou untuk membawa pengawal mengawasi mereka. Semua pengawal adalah pesilat tangguh yang terpilih dan sudah lama terlatih. Semua tindakan Cu Kun-cau berada dalam pengawasan mereka, termasuk surat-surat rahasia yang diantar keluar juga jatuh ke tangan mereka.

Surat rahasia itu diberikan lewat tangan pelayan penginapan dan pedagang kecil yang sudah diatur. Sebenarnya boleh dikatakan sangat aman, tapi karena pengawal-pengawal siang malam mengawasi mereka, pengalaman mereka juga sudah sangat banyak, maka tetap mengetahui tindakan Cu Kun-cau.

Walaupun kata-kata di surat sudah diperiksa dengan teliti, surat hanya berisi Cu Kun-cau' melapor kepada Ling-ong bahwa semua baik-baik saja. Dan dia juga memberitahu tempat tinggal kaisar dan orang-orang yang mengikuti kaisar datang. Tapi begitu sudah dilihat oleh kaisar dan Su Yan-hong, wajah mereka segera berubah. Tidak diragukan lagi Ling-ong sudah mengetahui kekuatan mereka.

Apakah Cu Kun-cau masih mengirim surat-surat seperti ini? Tidak ada yang tahu. Setelah berunding dengan Kaisar, Su Yan- hong dan Thio Gong segera mengirim orang naik kuda untuk memberi tahu Ong-souw-jin agar menyuruh pasukan elit untuk datang melindungi.

Dengan begitu mereka akan terkena pancingan Cu Kun-cau, karena surat rahasia juga dimaksudkan untuk sengaja memberitahu kepada kaisar.

Bila semua pasukan elit keluar, orang-orang keluarga Lamkiong akan menangkap Ong-souw-jin dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Bila Ong-souw-jin mati, pasukan akan menjadi kacau balau. Semua akan menjadi sederhana.

184-184-184

Orang-orang keluarga Lamkiong sangat cocok dengan mereka. Alasan mereka pergi karena ingin membeli barang-barang untuk persiapan pernikahan Beng-cu dan Siau Cu.

Siau Cu tidak curiga, tapi Fu Hiong-kun merasa ada yang tidak beres. Karena beberapa kali dia keluar berjalan-jalan pada malam hari, dia selalu dicegat oleh orang keluarga Lamkiong. Walaupun tidak melihat ada apa-apa, tapi dia mencium ada bau yang aneh.

Sebenarnya itu adalah bau obat beracun, keluarga Lamkiong sedang membuat jarum beracun yang bernama Lan-hoa untuk digunakan membunuh Ong-souw-jin.

Ketika semua orang sudah pergi, Fu Hiong-kun kembali mengamati, dia semakin curiga karena mereka semua membawa senjata. Mereka akan merayakan hari pernikahan, tapi mengapa seperti akan menghadapi musuh yang kuat. Setelah Siau Cu diingatkan oleh Fu Hiong-kun, Siau Cu mulai curiga. Dia mengambil keputusan malam ini juga akan datang ke tempat Fu Hiong-kun mencium bau aneh untuk masuk melihat-lihat.

185-185-185

Sebenarnya itu adalah Ciu-ci-tong.

Siau Cu dan Fu Hiong-kun melihat tidak ada orang di sekeliling. Waktu hendak masuk, mereka mendengar suara peluit yang membuat mereka segera terkejut dan tiarap, Fu Hiong-kun sudah pernah mendengar cerita Siau Cu tentang bunyi peluit ini, maka dia juga bersembunyi.

Mereka melihat Hen-lo-sat mengikuti Kiang Hong-sim keluar, kemudian dengan cepat menghilang dalam kegelapan.

Melihat Hen-lo-sat, hati Siau Cu terasa dingin. Dia sudah tahu kelihaian pembunuh perempuan ini.

Fu Hiong-kun juga tahu Su Yan-hong tidak sanggup melawan pembunuh perempuan ini. Dari sini diketahui pembunuh ini sangat lihai.

Siau Cu ingin mengejar tapi ditahan oleh Fu Hiong-kun, karena dia takut akan mengejutkan mereka, dan juga tidak ada gunanya.

Fu Hiong-kun hanya berpikir orang-orang keluarga Lamkiong sampai keluar semua pasti ada tujuan tertentu. Tiba-tiba dia teringat Su Yan-hong pernah memberitahu dia bahwa kaisar ingin datang ke Kang-lam dan menyuruh Su Yan-hong menemaninya. Apakah sasaran pembunuh ini apakah kaisar? Atau Su Yan- hong?

Karena itu, dia ingin Siau Cu bersama dengan nya meninggalkan keluarga Lamkiong.

Tapi Siau Cu menyuruh Fu Hiong-kun yang pergi, sementara dia tinggal di keluarga Lamkiong. Pertama, untuk mengurus Beng-cu. Kedua, mencari tahu apakah ada pengkhianat di dalam, mungkin orang-orang keluarga Lamkiong tidak tahu rahasia ini.

Setelah dipikir-pikir oleh Fu Hiong-kun, ini cukup masuk akal, dia terus berpesan kepada Siau Cu agar berhati-hati. Malam itu juga dia meninggalkan keluarga Lamkiong.

186-186-186

Setelah mengantar Fu Hiong-kun pergi, semalaman Siau Cu tidak bisa tidur. Sampai hari kedua, dia mengambil kesempatan memberitahukan rahasia ini kepada Lo-taikun, karena dia takut Lo- taikun sudah tua dan tidak kuat menerima pukulan ini. Tapi dia sama sekali tidak menyangka Lo-taikun sangat tahu semua ini, karena dialah orang yang merancang semua ini.

Lo-taikun benar-benar licik dan licin. Sambil mendengar dia pura-pura terkejut kemudian marah besar. Dia marah kepada Kiang Hong-sim dan merasa sedih karena di keluarga Lamkiong muncul sampah keluarga.