-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 18

Jilid 18

Dengan ilmu silat yang dimiliki dan pengalamannya, dia melihat kedua pengawal itu bukan lawan Hen-lo-sat. Tepisan sepasang golok Hen-lo-sat itu apakah mereka bisa menerimanya? Harus dipikirkan dulu. Su Yan-hong mencabut pedangnya.

Kedua pengawal itu tidak tahu kelihaiannya. Saat Su Yan-hong menyuruh mereka mundur, itu pun sudah terlambat.

Dua golok Hen-lo-sat berputar. Satu golok menepis. Dua pengawal tadi dibacok, benar-benar gerakannya ringkas dan bersih.

Walaupun Su Yan-hong sudah melihat kelihaian Hen-lo-sat, dia tetap saja merasa terkejut. Saat ingin menyelamatkan mereka sudah tidak sempat lagi.

Setelah golok Hen-lo-sat ditarik dan dia membalikkan tubuh, dia melihat Su Yan-hong. Matanya terlihat sangat indah, Su Yan-hong mengakui itu. Tapi dia pun merasa kalau mata itu bukan mata seorang manusia.

Perasaan ini pernah ada saat dia memperhatikan Hen-lo-sat, sekarang dia bertambah yakin.

Dia tidak menyerang dengan pedang. Hen-lo-sat pun tidak menyerangnya dengan golok. Secara berturut-turut membunuh 2 orang, aura membunuh Hen-lo-sat sepertinya sudah mendingin.

“Siapa kau?” Tanya Su Yan-hong.

Suara peluit terdengar lagi. Hen-lo-sat segera melayangkan golok. Su Yan-hong menahan dengan pedangnya dan bertanya:

“Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?”

Hen-lo-sat tidak menjawab, sepasang golok terus menyerangnya. Setelah menerima serangan golok beberapa kali, ilmu 'Thian-liong-pat-sut' segera dikeluarkan.

Karena jalan darah Jin dan Tok-nya sudah tembus. Tenaga dalamnya terus mengalir keluar. Thian-liong-pat-sut pun keluar dengan baik dan bagus.

Jurus golok Hen-lo-sat sangat mudah dan berguna. Kalau tidak disambut akan mati. Dia juga siap mempertaruhkan nyawa. Su Yan- hong pertama kalinya bertemu dengan lawan seperti itu. Thian- liong-pat-sut belum selesai berhasil dicairkan oleh dua golok Hen- lo-sat. Hen-lo-sat terus maju menyerang. Serangan sepasang goloknya, arahnya selalu berada di luar dugaan Su Yan-hong. Hingga terpaksa mundur. Ilmu meringankan tubuhnya yang hebat pun tidak ada waktu digunakan.

Mundur dan mundur, sampai di belakangnya dinding kuil. Su Yan-hong sadar kalau mundur ke sini akan menjadi jalan kematiannya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Dua golok Hen-lo-sat berputar. Su Yan-hong merasa ada tenaga kuat yang datang. Tangan kanannya bergetar, kelima jarinya sudah tergetar. Pedang tidak bisa dipegang lagi dan terlepas hingga terbang ke langit.

Sewaktu meloncat ke atas ingin mengejar pedangnya, golok Hen- lo-sat sedang membacoknya. Terlihat kalau Su Yan-hong akan terluka karena sepasang golok ini. Tiba-tiba puluhan buah pir datang. Dua buah pir memukul golok Hen-lo-sat, yang lainnya memukul tubuh Hen-lo-sat.

Sepasang golok Hen-lo-sat terbentur keping-gir tapi segera berputar kembali. Golok terus menepis, puluhan pir yang memukul tubuhnya ditepis hingga terbang.

Dan bersamaan waktu terdengar tawa yaneh terdengar. Wan- tianglo seperti turun dari langit, sambil menggigit pir, dia menyuruh Su Yan-hong pergi.

“Lo-cianpwee!” Su Yan-hong merasa aneh dengan kemunculan Wan-tianglo di sini.

“Gadis kecil ini milikku!” Wan-tianglo melempar pir yang ada di tangannya, “di sini tidak ada hal yang harus kau bantu lagi kan!”

“Dia!” kata-kata Su Yan-hong belum selesai, Wan-tianglo sudah melayangkan tangan:

“Siapa dia, tidak menjadi masalah, yang penting ilmu silatnya bagus!”

Su Yan-hong tertawa kecut. Wan-tianglo segera berkata kepada Hen-lo-sat: “Gadis kecil, ilmu silatmu sangat bagus!”

Hen-lo-sat tidak bersuara. Dia melihat Wan-tianglo, matanya memancarkan aura membunuh.

Begitu Wan-tianglo melihat matanya, dia segera mengerutkan alis:

“Aura membunuh yang sangat kuat!” dia berkata lagi, “bila kau ingin membunuh An-lek-hou, kau harus membunuh Wan-tianglo dulu!”

Sepasang golok Hen-lo-sat segera membacok. Wan-tianglo tertawa terbahak-bahak, dia bersalto di antara sepasang golok itu. Terlihat sangat merendahkan, tapi hanya sebentar karena jurus golok Hen-lo-sat sema-kin padat. Itu di luar dugaannya.

Ingin mengayunkan sepasang golok dengan begitu kencang harus mempunyai tenaga dalam yang cukup. Hen-lo-sat tidak hanya mempunyai tenaga dalam yang cukup malah seperti tidak ada habis-habisnya. Setelah beberapa kali bertarung, Wan-tianglo terpaksa mundur.

Setelah beberapa kali mundur, kedua tangan Wan-tianglo sudah tidak bisa berahan lagi. Dia dengan cepat mengambil dahan pohon yang ada di sisi untuk menahan golok.

Potongan kayu itu hanya sebentar saja sudah ditepis menjadi beberapa bagian. Kedua tangan Wan-tianglo masing-masing memegang sepotong dahan untuk bertahan sambil menghindar. Terlihat kerepotan tapi dia terus berteriak:

“Seru! Seru!”

Sudah lama dia tidak pernah dipaksa oleh seseorang hingga kerepotan, dia merasa dipermalukan.

Cia Soh-ciu melihat semua itu. Diam-diam dia berteriak: “Celaka!” Dia tahu kalau Wan-tianglo mempunyai tenaga dalam

yang kuat dan Hen-lo-sat hanya mengandalkan obat-obatan. Bila

reaksi obatnya hilang, akibatnya tidak akan terbayangkan. Dia segera meniup peluit menyuruh Hen-lo-sat meninggalkan tempat. Hen-lo-sat berlari keluar.

“Kau mau ke mana?” Teriak Wan-tianglo, “aku belum puas!”

Hen-lo-sat seperti tidak mendengar teriakannya. Dia terus berlari, Wan-tianglo terus mengejarnya dan tertawa:

“Sulit mendapatkan lawan seperti dirimu. Aku akan menangkapmu dan kubawa pulang ke Sian-tho-kok. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!”

Mereka berlari sejauh 20 depa. Su Yan-hong baru tersadar, sewaktu dia mengejar terdengar dari arah kuil suara lagi. Dia merasa aneh langsung mengambil pedang yang tergeletak di bawah dan berjalan ke dalam kuil.

Suara itu terdengar karena Siau Cu melihat Su Yan-hong akan pergi dari sana. Dengan cepat dia mengambil sebuah kayu memukul kurungan.

Su Yan-hong masuk ke dalam kuil. Melihat ada kurungan kayu, dia merasa aneh. Setelah mem buka tutup tikarnya, dia melihat yang terkurung di dalam sana adalah Siau Cu, dia bertambah terkejut.

“Siau Cu? Mengapa kau bisa berada di sini? Siapa yang mengurungmu di dalam kurungan ini?”

Siau Cu menunjuk jalan darah bisunya. Su Yan-hong segera mengerti dan membuka totok nadi bicaranya.

“Hou-ya! Oh, tidak, Suheng!” Siau Cu menghembuskan nafas lega.

“Ada apa denganmu?”

“Selain orang aneh itu, siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?” Siau Cu berteriak, “nanti kita baru bicara, sekarang lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepat mungkin. Bila orang aneh itu kembali, kita akan repot!”

Su Yan-hong dengan cepat membuka rantai yang mengunci kurungan kayu. Siau Cu segera keluar dari sana, tapi dia terhuyung- huyung hanpir terjatuh. “Ada apa denganmu?” Su Yan-hong memapahnya.

“Orang aneh itu menotokku jadi tenagaku tidak bisa dikerahkan. Kalau tidak, mana mungkin kurungan kayu seperti ini bisa mengurungku dengan mudah?”

“Tempat-tempat mana yang ditotok Wan-tianglo?”

Siau Cu menunjuk tempatnya. Setelah nadi dibuka, Siau Cu segera menarik Su Yan-hong mening galkan kuil.

*** Hen-lo-sat berlari sekuat tenaga, Wan-tianglo sekuat tenaga mengejar tapi tidak bisa mengurangi jarak. Wan-tianglo malah semakin senang mengejar dia. Dia percaya kalau terus mengejarnya bisa membuatnya terkejut dan bisa menangkapnya untuk dibawa ke Sian-tho-kok agar setiap hari bisa berlatih ilmu silat dengannya.

Orang ini haus akan ilmu silat bahkan seperti gila.

Hen-lo-sat terus berlari sampai tiba satu sisi jurang baru berhenti.

Jurang ini tegak lurus seperti ditepis. Melihat ke bawah tidak terlihat dasarnya dan juga dipenuhi kabut. Wan-tianglo mengejar hingga ke sini, dia ikut berhenti dan melihat ke bawah. Dia tertawa:

“Di depan sudah tidak ada jalan lagi, apakah kau masih bisa kabur?”

Hen-lo-sat hanya melihat ke dasar jurang.

“Tidak perlu melihat lagi, aku sendiri juga tidak sanggup turun ke sana. Apakah kau sanggup turun? Dengarkan aku, ikutlah denganku kembali ke Sian-tho-kok. Tapi kalau kau ingin bertarung denganku, sampai mengakui kalau kau kalah, baru mau ikut denganku pergi pun tidak apa!” Sambil tertawa dia terus maju. Baru satu langkah, Hen-lo-sat sudah meloncat ke atas lalu terjun ke dasar jurang.

Wan-tianglo tidak bisa menghalanginya bahkan memanggilnya, tidak ada tanggapan. Ingin ikut terjun tapi saat melihat ke bawah dia segera kembali. Dia terus meloncat-loncat di sana karena tidak ada cara lain.

“Orang yang belajar ilmu silat sulit mendapatkan kesempatan ini. aku akan memberitahu kekurang annya, mengapa kau begitu takut padaku?”

Kalau dia mengerti dia tidak akan terus memaksa orang lain bertarung dengannya, sampai dikurung siang dan malam.

Dengan kemampuan ilmu silatnya sekarang, ingin mencari seorang pesilat yang bisa menemaninya hingga membuatnya puas memang tidak mudah. Yang tua dia tidak tertarik, sedikit banyak dia masih ada pengaruh mendidik generasi muda, Untuk generasi muda dia tertarik pada Wan Fei-yang, kemudian berikutnya Siau Cu.

Pada Su Yan-hong tidak tertarik, dia merasa Su Yan-hong lebih tua sedikit tapi tidak cocok dengan nya yang bersifat semaunya.

Setelah berputar-putar melihat ke dasar jurang, akhirnya dia menggelengkan kepala:

“Benar-benar tidak tahu diri. Sudahlah, untung aku masih memiliki Siau Cu!”

Terpikir pada Siau Cu tiba-tiba dia bengong: “Wah! Kalau Siau Cu yang kukurung ditemukan Su Yan-hong, dia pasti akan menyelamatkannya. Apakah Su Yan-hong berani melakukan itu? Aku rasa dia tidak berani? Kalau berani, awas nanti!”

Karena itu dia berteriak dengan aneh dan bersalto, dia segera kembali ke kuil.

158-158-158 Tempatnya begitu tinggi meloncat turun benar-benar sangat berbahaya. Tapi asalkan mempunyai ilmu tinggi, bereaksi cepat, belum tentu akan mati. Yang penting harus mempunyai keberanian.

Pastinya Hen-lo-sat tidak pernah merasa takut. Karena pengaruh obat, keadaan dalam bahaya kemampuan tubuhnya bisa dikeluarkan semua.

Dari ketinggian ribuan meter meloncat turun ke dasar jurang, tidak membuatnya terluka. Hanya baju dan tubuhnya tergores di beberapa tempat.

Sekarang dia berada di dasar jurang.

Cia Soh-ciu, Kiang Hong-sim lama baru menemukannya. Melihat keadaan dia, Kiang Hong-sim terkejut:

“Benar-benar sulit dipercaya bisa seperti ini!”

“Siapa yang bisa percaya, seseorang berani meloncat dari ketinggian seperti ini!” Seru Cia Soh-ciu.

“Pantas Wan-tianglo tidak berani meloncat turun!”

“Orang aneh itu memang aneh, kelakuannya tidak masuk akal tapi dia masih punya rasa peri kemanusiaa. Hen-lo-sat sama sekali tidak ada rasa itu!” Entah apa yang dipikirkan Cia Soh-ciu, dia menarik nafas panjang.

“Kali ini Su Yan-hong sangat beruntung, lain kali tidak akan seberuntung seperti sekarang ini!” Ucap Kiang Hong-sim dengan dingin.

Cia Soh-ciu hanya tersenyum. Mengenai hal membunuh Su Yan- hong, dia merasa tidak tenang, setelah terjadi hal ini dia malah merasa tenang.

159-159-159

Sekarang Wan-tianglo marah besar. Kurungan kayu dipukulnya sampai hancur.

“Bocah itu kabur lagi? Tidak ada orang yang bisa kabur dariku sampai 2 kali. Kalau tertangkap lagi, awas kau!” Setelah ribut sendiri, terpaksa dia meninggalkan tempat itu.

160-160-160

Pikiran Siau Cu sebenarnya tidak tenang. Setelah mendengar Tiong Toa-sianseng terbunuh, orang yang dicurigai membunuh Tiong Toa-sianseng adalah teman baiknya Lu Tan. Walaupun bisa kabur dari Wan-tianglo tapi pikirannya kacau.

Dia menjadikan Tiong Toa-sianseng sebagai guru dan ayah angkat semua karena Beng-cu, dia mempunyai perasaan lebih dalam kepada Lam-touw. Tapi terhadap Tiong Toa-sianseng, dia sangat menghormatinya.

Dia tidak percaya kalau pelakunya adalah Lu Tan. Walaupun berteman dengan Lu Tan belum begitu lama tapi melihat kelakuan seorang Lu Tan, dia sangat tahu dengan jelas. Sedangkan pada orang-orang Bu-tong-pai, dia tidak menaruh perasaan tidak suka, yang pasti semua karena Wan Fei-yang.

Su Yan-hong mengerti perasaannya, hanya saja tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya. Sebenarnya Su Yan-hong pun sedang tidak enak hati.

Siau Cu tidak tahu sekarang dia akan dibawa ke mana jadi dia menurut apa yang dikatakan Su Yan-hong, mengikutinya kembali ke An-lek-hou.

Teringat pada rumah, Su Yan-hong pasti ingat pada putri kesayangannya!

161-161-161

Ih-lan adalah anak yang sangat pengertian, tapi dia masih kecil.

Bila rindu pada ayahnya, dia selalu rewel.

Pelayan Siau-cui dengan segala daya upaya berusaha membuat Lan-lan senang.

Kali ini Siau-cui berpura-pura mengeluarkan suara mirip Su Yan-hong:

“Lan-lan, puisi Hoa Bok-lan yang kemarin Ayali ajarkan, apakah telah kau mengerti?” Lan-lan tidak menoleh lagi dan langsung menjawab; “Aku tidak mengerti!”

“Tidak mengerti tidak apa-apa. Ilmu silat yang Ayah ajarkan kemarin, apakah perlu Ayah peragakan sekali lagi?”

“Tidak mau!” Jawab Lan-lan makin dingin.

Siau-cui membenarkan suaranya baru berkata lagi: “Lan-lan...”

Akhirnya Lan-lan menoleh:

“Suaramu sama sekali tidak mirip dengan suara ayah, begitu mendengarnya aku sudah tahu!”

“Kalau begitu, apa yang bisa membuatmu senang?” Tanya Siau- cui dengan tertawa kecut.

“Aku menginginkan Ayah di sini!”

“Hou-ya belum pulang, mungkin beliau akan cepat pulang!” “Kau berbohong! Cepat cari ayali, suruh dia pulang!' Siau-cui

menggelengkan kepala:

“Apa pun bisa aku lakukan, tapi yang ini tidak bisa!” “Kalau begitu, beritahu padaku, ayah ada di mana?” “Aku pun tidak tahu!”

Ih-lan menangis. Siau-cui serba salah dan me-nasehatinya: “Lan-lan yang baik, Lan-lan, dengar...”

“Tidak mau! Ayali tidak sayang pada Lan-lan, sudah pergi lama tidak kembali untuk menengok Lan-lan!” Ih-lan menangis dan bersedih kembali.

Sewaktu Siau-cui tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dari sudut matanya dia melihat Su Yan-hong membawa Siau Cu masuk. Saat dia mau memanggil Lan-lan, Su Yan-hong sudah memberi isyarat agar dia diam dulu.

Siau-cui segera mengerti dan dia pun ke pinggir. Su Yan-hong berhenti di belakang Lan-lan lalu mengelus-elus rambutnya. Ih-lan malah mendorong tangan ayahnya, sambil memangis: “Pergilah...”

“Sampai ayahmu pun diusir, baiklah Ayah akan pergi saja!” Ih-Ian terpaku sejentik dan menoleh, berteriak:

“Ayah...” Dia masuk ke dalam pelukan Su Yan-hong. “Lan-lan...” Su Yan-hong memeluknya erat- erat.

Setelah selesai menangis, Ih-lan baru mengomel:

“Ayah pergi lama baru kembali. Ayah sudah tidak peduli lagi pada Lan-lan...”

“Ayah membawa seorang teman baik dan menengokmu, coba tebak siapakah dia?”

Karena pendangan Lan-lan terhalang oleh Su Yan-hong dia tidak bisa melihat Siau Cu. Lan-lan menggelengkan kepala:

“Aku tidak bisa menebaknya!”

“Benarkah kau tidak bisa?” Siau Cu bersalto keluar dan berdiri dengan kaki di atas di depan Lan-ian.

“Siau Cu koko...” Ih-lan senang dan menghampiri Siau Cu.

Siau Cu masih terus bersalto, kadang-kadang berada di atas meja atau kursi. Ih-lan tidak bisa menangkapnya dia berteriak:

“Ayah! Lihat dia nakal, meloncat ke sana sini!”

Siau Cu sudah berada di belakangnya dan menggendongnya. Ih-lan segera menangkapnya:

“Kau pernah berjanji akan membawaku ke Sin-sa-hai!” “Hal itu sudah lama tapi kau masih mengingatnya?” “Aku pasti akan terus mengingatnya!”

“Baik, nanti aku akan membawamu jalan- jalan!”

Tiba-tiba Lan-lan teringat sesuatu, bertanya: “Ayah, mana Bibi Hiong?” Su Yan-hong terpaku. Lan-lan bertanya lagi: “Mengapa Bibi Hiong tidak datang menengok ku? Ayah, Lan-lan ingin bertemu Bibi Hiong! Ingin bertemu Bibi Hiong!”

Su Yan-hong tidak bisa menjawab. Siau Cu dengan cepat menjawab:

“Apakah Lan-lan tidak mau melihat Siau Cu lagi?” “Siau Cu juga mau!”

“Bibi Hiong ada keperluan, dia tidak bisa datang bersama kami.

Siau Cu dulu yang datang baru nanti Bibi Hiong!”

“Boleh...” Lan-lan melihat Su Yan-hong, tiba-tiba bertanya, “apakah Ayah sudah membuat Bibi Hiong tidak senang jadi dia tidak mau datang menengok Lan-lan?”

“Tidak seperti itu!”

“Hou-ya, Oh, Suheng, aku akan membawa Lan-lan jalan-jalan!” Ujar Siau Cu.

“Baik... aku pun akan ke istana!”

Kaisar berada di kamar cinta. Su Yan-hong tahu kalau Kaisar berada di sana. Dia menarik nafas panjang:

“Gunung dan sungai bisa berubah arah, tapi tidak dengan sifat manusia. Dulu Kaisar senang menghabiskan hari-harinya dengan perempuan, seka rang pun sama.”

Thio Gong berada di luar kamar. Melihat Su Yan-hong datang, dia segera menyapa.

“Apa kabar, Thio-kongkong?” Sapa Su Yan-hong. “semenjak aku meninggalkan istana, apakah teijadi hal yang sangat istimewa?”

“Tidak ada yang istimewa, hanya saja...” Dia tidak melanjutkan. “Apakah ini mengenai Baginda?”

“Baginda dalam keadaan baik!” Thio Gong ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Dia membawa Su Yan-hong berjalan ke depan. Su Yan-hong tidak bertanya lagi. Dia juga mengerti maksud Thio Gong yaitu aku tidak perlu memberitahumu setelah kau melihatnya kau akan tahu sendiri.

Sesampainya di depan Ceng-in-tian, Su Yan-hong melihat 2 hweesio Tibet sedang berjaga di kiri dan kanan pintu. Kedua hweesio itu tidak tahu siapa Su Yan-hong, mereka tidak menghentikannya, hanya memberi isyarat tangan menyuruhnya masuk.

Su Yan-hong merasa aneh. Tapi langkahnya tidak berhenti sampai di dalam kamar. Dia semakin merasa aneh.

Ceng-en-tian didekorasi ulang, di mana-mana terdapat patung Budha yang sedang tertawa. Di atas sebuah panggung yang terbuat dari kayu wangi, tampak Kaisar sedang duduk bersila. Sikapnya terlihat aneh. Kedua matanya dipejamkan, seperti sedang ber latih ilmu tenaga dalam.

Su Yan-hong bersujud, 3 kali berteriak Ban-sui (panjang umur). Kaisar baru membuka matanya. Setelah melihat Su Yan-hong yang datang, beliau melayangkan tangan menyuruhnya duduk di sisi dan dia kembali memejamkan mata untuk bersemedi.

Su Yan-hong terpaksa menunggu.

Tidak lama kemudian Kaisar baru menghembuskan nafas panjang. Dia berdiri dan turun dari panggung kecil itu, sambil berkata:

“Mengapa begitu lama baru tiba? Apakah kau tahu kalau aku selalu khawatir?”

“Baginda...”

Kalimat berikutnya segera dipotong:

“Kalau sudah kembali, tidak perlu mengatakan apa-apa lagi!” “Aliran rahasia Koksu (Penasehat negara) benar-benar luar

biasa, sekarang tubuhku terasa sangat nyaman!”

“Koksu?” Mata Su Yan-hong mencari-cari. “Dia adalah Thian-ho Sangjin, aku mengundangnya dari Tibet. Ceng-in-tian ini dia yang mendekorasinya, apakah kau merasa semua ini sangat istimewa?”

“Memang berbeda dengan yang dulu!”

“Thian-ho Sangjin adalah pesilat nomor 1 dari aliran rahasia.

Orang-orang sana menganggapnya Budha hidup!”

“Benarkah seperti itu?” Dalam bayangan Su Yan-hong tidak ada orang seperti itu.

Kaisar segera berpesan kepada Thio Gong:

“Persilahkan Thian-ho Sangjin kemari untuk bertemu dengan An-lek-hou yang sudah kuanggap tangan kiri dan kananku.”

Thio Gong pergi. Kaisar berkata lagi:

“Thian-ho Sangjin tidak hanya berilmu tinggi, apalagi dia pandai meracik obat. Aku sangat menyukainya karena dia mempunyai teknik ini aku mengundangnya datang!”

162-162-162

Tidak lama kemudian, Thian-ho Sangjin tiba. Dia digotong oleh 4 perempuan suku Tibet. 4 perempuan suku Tibet, bentuk tubuh dan wajahnya sangat bagus. Apalagi daya tariknya sangat tidak biasa.

Kaisar melihat semua itu dengan senang. Setelah keempat perempuan itu menurukan Thian-ho Sangjin, mereka segera menghampiri ke sisi Kaisar. Walaupun ada Su Yan-hong di sisi Kaisar, tapi dia tetap memeluk mereka.

Empat orang gadis Tibet itu seakan tidak melihat ada orang di sana, dengan genit mereka memeluk Kaisar. Thio Gong melihat mereka, lalu melihat Su Yan-hong, mengangkat bahunya.

Thian-ho Sangjin berpenampilan seperti seorang Hweesio Tibet, wajahnya tenang dan terlihat baik, usianya sekitar 50-60 tahun. Dia duduk bersila sambil memejamkan mata juga memegang tasbih. Begitu diturunkan oleh 4 gadis Tibet itu, dia baru membuka matanya, dia melihat ke seluruh kamar, sorot matanya seperti kilat seakan ingin menusuk ke hati setiap orang di sana.

Sewaktu pandangan Su Yan-hong bentrok dengan sorot mata ini, hatinya juga bergetar.

Setelah memberi hormat kepada Kaisar, dia baru mengawasi Su Yan-hong. Kaisar belum bicara, dia sudah tertawa:

“Ini pasti An-lek-hou yang sering Baginda ceritakan. Apa kabar, Hou-ya...”

“Koksu, apa kabar?”

“Obat dan vitamin yang kau buat sudah mencapai tahap mana?” Tanya Kaisar.

“Sudah selesai, tinggal Baginda meminumnya di Bok-in-tian!” “Baik, aku akan mencoba vitamin yang dibuat oleh aliran

rahasia. Apakah benar itu memang misterius seperti yang dikatakan

orang-orang?” Ucap Kaisar dengan senang. “Vitamin apa yang Koksu buat?”

“Itu vitamin komplit. Bahan utamanya adalah Ci-ho-ce, ditambah dengan...”

“Benarkah Ci-ho-ce itu adalah **?”

“Benar! Bahan ini tidak sulit didapat tapi harus dicampur dengan 72 macam organ dalam burung dan unggas, baru ada khasiatnya. Setelah memakannya bisa menguatkan tubuh. Tubuh dari kondisi lemah bisa menjadi kuat, masih ada khasiat lain juga,” Thian-ho Sangjin sangat senang.

Wajah Su Yan-hong terlihat tidak suka:

“Koksu, orang-orang menyebut Anda Budha hidup, terhadap kitab suci pasti Anda menguasainya dengan baik.”

“Benar!”

“Aku ingin tanya, larangan pertama apa?” “Dilarang membunuh makhluk hidup!” “Mengambil Ci-ho-ce dan mengambil organ dalam burung serta unggas untuk membuat vitamin, apakah Koksu tidak melanggar larangan pertama?”

Thian-ho Sangjin terpaku lalu tertawa:

“Baginda adalah anak Tliian. Jika beliau sehat dan panjang umur, itu adalah kebahagiaan semua rakyat. Aku mengabdi pada Baginda, semua menjadi pembicaraan lain.”

“Karena Baginda adalah orang terhormat dan menyangkut keselamatan negara serta rakyat, jangan mencoba-coba obat-obatan yang belum diketahui dengan pasti khasiatnya!”

“Maksud Hou-ya, obat yang kubuat itu jelek dan tidak ada kebaikannya?”

“Kaisar dari dinasti terdahulu selalu celaka karena obat-obatan. Pengalaman ini harus kita jadikan yang utama!” Nada bicara Su Yan-hong bertambah berat.

Akhirnya Thian-ho Sangjin tersenyum, tapi Kaisar malah tertawa terbahak-bahak:

“Ada 2 orang yang begitu memperhatikanku, benar-benar keberuntunganku!” Lalu dia berkata pada Su Yan-hong, “mengenai memakan obat, aku tahu batas kelayakannya. Kau tidak perlu merasa khawatir!”

Su Yan-hong menggelengkan kepala:

“Maafkan hamba, terus terang saja di istana ada 300 orang tabib, semua menguasai ilmu per-tabiban yang bagus. Bila Baginda ingin vitamin, bisa memesan kepada mereka untuk membuatkannya!”

“Maksud Hou-ya, teknik ketabiban mereka lebih tinggi dariku?” “Ilmu tabib di Tionggoan dari setiap generasinya selalu ada yang

paling berbakat!”

“Sayang Hou-ya tidak menguasai ilmu perta-biban, kalau tidak, kita bisa bersaing dalam ilmu ini!”

“Memang disayangkan!” “Tapi ilmu silat Hou-ya nomor 1 di ibu kota!”

Su Yan-hong masih ingin mengatakan sesuatu, Kaisar sudah menyela:

“An-lek-hou adalah pesilat tangguh Kun-lun. Di dunia persilatan dia sangat terkenal!”

“Kalau begitu, aku harus mencobanya. Harap Baginda menurunkan perintah!”

“Kalau Koksu bermaksud seperti ini, aku pasti akan menemanimu!”

Tiba-tiba Kaisar melayangkan tangan:

“Kalian berdua adalah orang yang kupercaya, untuk apa karena sedikit masalah membuatku sulit!”

“Kami tidak berani...” Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin bersama-sama menjawab.

“Kalau begitu, kita bersama-sama pergi ke Bok-in-tian!” Dengan satu tangannya Kaisar menarik satu perempuan lalu berjalan keluar.

163-163-163

Vitamin tetap dimakan Kaisar. Empat orang perempuan cantik dari Tibet itu segera memijat Kaisar. Sambil menikmati obat penambah stamina itu, Kaisar bertanya kepada Su Yan-hong:

“Apakah kau tahu mengapa aku menyuruhmu pulang?” “Belakangan ini di sekitar pesisir pantai datang orang Jepang...” “Itu hanya masalah kecil!” Akhirnya Kaisar berkata, “ada surat

rahasia dari Ong-souw-jin. Katanya sewaktu dia di Lam-khia, Ling-

ong tidak mau bekerja sama dengannya, malah selalu menciptakan kesulitan baginya!”

Su Yan-hong terdiam. Kemudian Kaisar berkata lagi:

“Masih ada 2 berita lagi. Putra Ling-ong kembali dari Jepang, dia membawa sekelompok orang Jepang dan orang-orang ini berilmu tinggi!” “Tentang hal ini aku sudah tahu!”

“Di Tionggoan banyak pesilat tangguh, tapi Cu Kun-cau pergi ke Jepang belajar ilmu silat di sana, bukankah ini sangat aneh?”

“Mungkin ilmu silat dari Jepang memiliki keistimewaan.” “Menurutku, tidak sesederhana itu. Menurutku Ling-ong

bersekongkol dengan orang Jepang!”

Su Yan-hong terpaku, dia teringat pada kata-kata Siau Sam Kongcu saat mau pergi. Kaisar berkata lagi:

“Kali ini aku menyuruhmu kembali karena aku ingin kau menemaniku pergi ke Kang-lam!”

“Baginda ingin ke Kang-lam?” Su Yan-hong terpaku.

“Aku ingin menikmati pemandangan Kang-lam untuk mencari tahu tindakan Ling-ong seperti apa.”

“Kang-lam adalah daerah kekuasaan Ling-ong, jika Baginda ke sana itu terlalu berbahaya!”

“Menurutmu aku harus bagaimana?”

“Lebih baik Baginda diam dulu, biar dia merenggangkan penjagaannya. Sambil menyuruh Ong-souw-jin mengawasinya dengan ketat. Begitu kesempatan tiba kita baru menjala semuanya.”

Kaisar tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk. Kata Su Yan-hong lagi:

“Baginda benar-benar sangat teliti!”

“Kau bicara seperti itu lagi. Semenjak kau meninggalkan ibu kota, hidupku tidak bersemangat. Sekarang kau sudah kembali kau bisa setiap hari datang ke istana, bisa melatih ilmu silatku agar tulang dan otot-ototku bisa bergerak lagi!”

“Untuk ini...”

“Ada apa? Katakan saja, tidak usah sungkan!”

“Masih ada satu hal yang belum selesai, aku harus meninggalkan ibukota lagi!” “Apakah ini menyangkut masalah dunia persilatan?”

“Benar! Kalau tidak dibereskan dengan baik, aku takut akan terjadi musibah besar di kemudian hari.”

Kaisar menarik nafas:

“Aku benar-benar tidak mengerti. Menjadi kaya dan mulia tidak kau pedulikan, tapi mengurusi masalah dunia persilatan kau sangat bertanggung jawab.”

“Kebaikan Baginda kepada hamba, hamba sangat berterima kasih karenanya, hamba tidak berani meminta apa-apa lagi.”

Kaisar menggelengkan kepala:

“Masing-masing manusia memiliki cita-cita, aku tidak berani memaksa. Begitu selesai masalah dunia persilatan, cepatlah kembali ke ibu kota.”

Pastinya Su Yan-hong setuju.

164-164-164

Su Yan-hong meninggalkan Bok-ji-tian. Dua Hweesio Tibet menyusulnya. Dengan sikap hormat mereka menyerahkan sepucuk surat kepadanya.

Surat itu ditulis oleh Thian-ho Sangjin. Kalimatnya pun sangat sungkan, tapi mengundang Yan-hong pergi ke bagian timur kota untuk bertemu dan berharap Su Yan-hong bisa memberikan beberapa petunjuk kepadanya.

Su Yan-hong tidak menolak. Dia menyuruh 2 hweesio itu menyampaikan balasannya kepada Thian-ho Sangjin, dia pasti akan datang tepat waktu. Dalam hati dia ingin mengalahkan Thian-ho Sangjin agar dia tahu kalau dunia persilatan Tionggoan tidak sesederhana yang dia pikirkan.

Dia pun mengerti Thian-ho Sangjin juga bermaksud seperti itu. Orang-orang menyebutnya Budha hidup, dia juga diundang ke istana, itu karena dia bukan pesilat biasa.

Tapi dia percaya bisa mengalahkan Thian-ho Sangjin. 165-165-165

Setelah meninggalkan istana, sengaja dia datang ke Sin-sa-hai dan berharap bisa bertemu dengan Ih-lan dan Siau Cu.

Harapannya terkabul, dia bertemu dengan Siau Cu dan Ih-lan. Terlihat Siau Cu menggendong Ih-lan dan berlari dengan cepat. Tiba-tiba dicegat oleh Su Yan-hong, Siau Cu hampir berteriak karena terkejut. dia membalikkan tubuh siap berlari.

“Apa yang terjadi?”

“Kata Siau Cu Koko, dia melihat ada binatang aneh. Aku juga melihatnya, tapi aku tidak merasa kalau itu menakutkan!”

“Wan-tianglo?” Su Yan-hong coba-coba bertanya.

“Orang aneh itu bisa lari ke mana dia mau!” Siau Cu menarik nafas, “untung aku melihat dia jadi aku bisa lari. Kalau tidak, akan repot!”

“Mungkin dia datang karena mengejarmu. Menurutku, apakah lebih baik sementara ini kau tinggal di Hou-hu.”

“Satu-satunya harapanku adalah dia bosan tinggal di ibu kota dan dengan cepat meninggalkan ibu kota!”

166-166-166

Sesampainya di An-lek-hou dan tahu kalau Su Yan-hong akan bertarung dengan Thian-ho Sangjin, Siau Cu sama sekali tidak merasa khawatir dengan ilmu silat Su Yan-hong.

Di istana, Thian-ho Sangjin telah melaporkan hal ini kepada Kaisar. Kaisar mendukung tindakannya. Beliau hanya berkata:

“Bila membandingkan, ilmu silat Tionggoan dengan ilmu silat aliran rahasia, bagaimana menurutmu?”

“Ilmu silat Tionggoan sudah lama dan sudah diwariskan turun temurun, luas, dan sangat dalam. Hanya sayangnya hubungan antar perkumpulan tidak erat dan masing-masing sangat egois. Boleh dikatakan sekarang lebih buruk dibandingkan dulu. Sedangkan aliran rahasia ini, walaupun hanya ada satu Tai-jiu-im (Telapak tangan besar) yang sangat terkenal, tapi terus berubah dan berubah, sekarang sudah berada di puncaknya. Boleh dikatakan sanggup menguasai dunia!” Waktu Thian-ho Sangjin mengatakan kalau ilmu silat Tionggoan bagus, tapi sewaktu mengatakan aliran rahasia, kesombongannya muncul dan di dunia ini sepertinya hanya aliran rahasia nomor 1.

“Pertarungan yang terjadi malam ini berarti kemenangan sudah ada di tanganmu?” Tanya Kaisar.

“Hamba yakin pasti bisa menang!” “Bagaimana jika kalah?”

“Hamba segera meninggalkan Tionggoan!” “Jika kau menang?”

“Apakah harus An-lek-hou yang mengakui ilmu silat Tionggoan tidak sebagus aliran rahasia? Atau ada maksud lain dari Baginda...”

“Ikuti kemauanmu!” Kaisar tertawa, “aku ingin mengambil kesempatan ini mengikis kelebihan An-lek-hou!”

“Hamba pasti tidak akan lupa pada titipan Baginda!” “Hanya ada satu yang harus kau ingat!”

“Silakan katakan, Baginda.”

“Malam ini kau menang atau kalah, An-lek-hou tidak boleh terluka sedikit pun!”

“Baginda...” Wajah Thian-ho Sangjin terlihat seperti sulit menyanggupi.

“Ini perintahku, apakah kau tidak sanggup melakukannya?” “Keinginan Baginda pasti akan kuturuti!”

“Dunia ini belum tenang, An-lek-hou masih dibutuhkan!” Kalimat ini tidak diucapkan oleh Kaisar. Setelah melewati masa pemberontakan Liu Kun, Kaisar mulai mengerti pembicaraan- pembicaraan yang tidak selalu harus diucapkan semua di depan orang-orang, walaupun lawannya adalah orang setia.

Pastinya Thian-ho Sangjin tidak bisa mengerti maksud Kaisar.

167-167-167 Malam itu, Su Yan-hong tepat waktu tiba di bagian timur kota. Di sekeliling sana sangat sepi suara kuda berlari terdengar dengan jelas.

Dia tidak terpikir ada yang datang dan lebih tidak terpikir lagi orang yang datang adalah Wan-tianglo, Wan-tianglo berbaring di atas sebuah pohon besar. Dia dikejutkan oleh suara kuda berlari. Hal ini membuatnya marah. Beberapa hari dia mencari Siau Cu tapi tidak berhasil menemukannya, hatinya jadi tidak enak. Saat dia melihat ke bawah, di bawah dengan bantuan sinar bulan, dia melihat dengan jelas yang datang adalah Su Yan-hong. Dari marah berubah dia menjadi senang.

Saat Su Yan-hong melewati pohom itu, Wan-tianglo segera turun dari pohon. Dia tertawa:

“Bertemu denganmu pasti akan bertemu dengan Siau Cu!”

Dia mengejarnya ke sana. Menurut kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, bila ingin mengejar Su Yan-hong, bukan hal yang sulit. Tapi karena dia berniat menguntitnya maka dia harus menjaga jarak.

HIAN-HO SANGJIN dan 4 orang hweesio Tibet menunggu di lapangan. Melihat Su Yan-hong datang, dia segera turun dari kudanya untuk menyambut kedatangan

Su Yan-hong.

“Hou-ya benar-benar orang yang menepati janji!” “Koksu pun demikian.”

“Melihat Hou-ya, hatiku baru tenang!” “Koksu takut aku tidak menepati janji?”

“Orang yang menepati janji denganku tidak banyak!” “Sebelumnya tidak ada seorang pun yang tidak berani menepati

janji denganku! Koksu bertarung denganku seorang diri atau

berlima sekali gus?”

Thian-ho Sangjin melayangkan tangan. Empat hweesio itu segera mundur dengan cepat. Dia merangkapkan kedua telapaknya dan berkata:

“Silakan, Hou-ya!”

“Silakan, Koksu...” Su Yan-hong siap bertarung.

“Kun-lun terkenal dengan ilmu pedangnya, aku ingin belajar ilmu pedang Hou-ya!”

“Dengan hormat aku akan menuruti perintah!” “Pedang yang bagus!” Thian-ho Sangjin memuji. “Mana senjata Koksu?”

“Di sini!' Thian-ho Sangjin melayangkan kedua telapaknya.

Tenaga dalamnya sudah dikerahkan keluar.

Baju Su Yan-hong berkibar, dia sadar lawan sedang memamerkan kekuatannya, memang tenaga dalamnya sangat besar.

Thian-ho Sangjin membentak. Dia segera men dekat. Sepasang telapaknya mulai menyerang Su Yan-hong. Jurusnya sangat sederhana tapi sangat efektif. Pedang panjang Su Yan-hong sudah dikeluarkan. Di saat menyerang ada bertahan, di saat bertahan ada serangan balik.

Hanya sebentar ratusan jurus sudah berlalu. Tiba-tiba Thian-ho Sangjin mundur sejauh 3 tombak. Su Yan-hong tidak mengejarnya. Saat ingin mengucapkan sesuatu, baju Thian-ho Sangjin bergerak tanpa ada hembusan angin. Kedua telapaknya berubah warna menjadi kuning keemasan muda lalu membesar.

Su Yan-hong segera berkata:

“Tai-jiu-im...”

“Benar, ini adalah Tai-jiu-im!” Thian-ho Sangjin mendekat, sepasang telapaknya saling beradu dan mengeluarkan suara mirip dengan dentingan besi. Dia mulai menyerang Su Yan-hong.

Liong-im-kiam milik Su Yan-hong sangat keras dan kuat. Thian- ho Sangjin berusaha agar sepasang telapak tangannya tidak bentrok dengan Liong-im-kiam. Setelah beberapa saat diserang, Su Yan- hong terpaksa mundur sejauh 3 depa.

Thian-liong-pat-sut segera diperagakan oleh Su Yan-hong. Dia bersalto di tengah-tengah udara ini merupakan sebuah ilmu andalan. Thian-ho.Sangjin dalam kurun waktu sangat pendek tidak bisa melihat perubahan yang terjadi. Dia juga terganggu oleh Liong- im-kiam terpaksa dia mundur.

Tai-jiu-im milik aliran rahasia mempunyai kekuatan besar. Beberapa kali serangan Su Yan-hong tertahan. Kesempatan ini digunakan oleh Thian-ho Sangjin, dia mengambil celah yang ada pada Thian-liong-pat-sut dan menyerang kembali.

Thian-ho Sangjin terus maju. Karena Su Yan-hong kehilangan kesempatan dia hanya bisa mundur. Dia sadar seperti apa tajamnya Liong-im-kiam kalau tidak, akan mempermalukan dirinya sendiri. Ilmu silat Thian-ho Sangjin benar-benar berada di atasnya. Tapi dia percaya bisa bertahan hingga 700 jurus. Bila tenaga dalam Thian- ho Sangjin mulai melemah, dia masih memiliki kesempatan menyerang balik.

Yang pasti bila ingin bertahan sampai 700 jurus, itu akan sangat melelahkan.

Thian-ho Sangjin seperti bisa membaca pikir-Oan Su Yan-hong. Jurusnya berubah dari cepat menjadi pelan. Dia hanya menunggu celah yang timbul untuk merobohkan lawan.

Ilmu silatnya tidak hanya begitu saja. Tai-jiu-im hanya dikeluarkan sebesar 80%. Dia takut bila mengeluarkan hingga 100% akan lepas kendali dan melukai Su Yan-hong. Waktu itu dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Kaisar.

Akhirnya Su Yan-hong tahu kalau tenaga Thian-ho Sangjin belum keluar secara maksimal. Walaupun tidak tahu apa sebabnya tapi dia tetap kagum dengan ilmu silat Thian-ho Sangjin.

Mundur dan mundur, semakin merasa lelah tiba-tiba ada 2 pir terbang datang menghampirinya. Dia tahu Wan-tianglo datang untuk ikut campur. Dia tetap menghembuskan nafas lega.

Dua buah pir itu terbang ke belakang kepala Thian-ho Sangjin. Tapi kepala bagian belakang Thian-ho Sangjin seperti memiliki mata, tangan kirinya dibalik, 2 buah pir itu sudah hancur ditepisnya. Dia membentak:

“Siapa?”

Wan-tianglo turun dengan bersalto seperti datang dari langit. 4 orang hweesio Tibet itu ingin menghadangnya tapi hanya dengan beberapa pukulan, mereka sudah terguling. Su Yan-hong mengambil kesempatan ini berhenti. Thian-ho Sangjin tidak mengejar. Matanya berputar lalu melihat Su Yan- hong:

“Kau membawa orang untuk membantu?”

“Tidak! Tapi kedatangan orang ini akan membuatmu repot!” “Siapakah dia?”

“Wan-tianglo...”

Thian-ho Sangjin terpaku. Sedikit banyak dia tahu orang ini: “Apakah benar dia Wan-tianglo?”

“Asli! Bukan palsu!” Wan-tianglo mencengkeram Su Yan-hong, “kau pilih bertarung dengan orang lain tapi tidak mau denganku. Benar-benar tidak tahu balas budi!”

Su Yan-hong tertawa kecut. Dia tidak membela diri. Wan-tianglo bertanya lagi:

“Apakah kau yang menyelamatkan Siau Cu? Sekarang di mana kau sembunyikan dia?”

Su Yan-hong belum menjawab, Wan-tianglo sudah melihat Thian-ho Sangjin.

“Hweesio, kau kelihatannya mempunyai ilmu tinggi, aku sulit menemukan orang seperti dirimu, bagaimana jika kita bermain- main dulu beberapa jurus?”

Dia melepas tangan dan mendorong Su Yan-hong ke samping, langsung melambaikan tangan kepada Thian-ho Sangjin.

Thian-ho Sangjin menggelengkan kepala:

“Pertarungan ini adalah antara aku dan An-lek-hou dan sangat penting. Setelah di antara kami ada yang menang, baru bisa bertarung denganmu!”

Wan-tianglo menggelengkan kepalanya. Deng an sikap berharap belas kasihan dia berkata:

“Lo-seng, kau harus tahu, begitu melihat pesilat tangguh, kepalanku langsung gatal. Gatal hingga masuk ke sumsum tulang. Aku merasa sangat tersiksa, lebih baik kita bertarung dulu. Bila aku puas, dua kepalanku tidak akan gatal lagi, baru bertarung dengan An-lek-hou!”

“Di mana aturan seperti ini?”

“Jangan bicarakan peraturan!” Tiba-tiba Wan-tianglo berpikir aneh, “kalau kau tidak suka bertarung di sini, kau bisa ikut denganku kembali ke Sian-tho-kok. Di sana tempat yang bagus, aku jamin kau pasti suka!”

Thian-ho Sangjin belum menjawab, dia sudah berkata lagi: “Kalau ada beberapa pesilat tangguh berada di sana, aku akan

sangat senang!”

“Lebih baik cepat tinggalkan tempat ini!” Bentak Thian-ho Sangjin.

“Mengapa seorang hweesio begitu cepat marah?” Wan-tianglo tertawa.

“Walaupun kau marah tapi pertarungan antara kita akan tetap terjadi!”

“Omong kosong...” Thian-ho Sangjin membentak.

“Kau benar-benar tidak mempunyai alasan!” Thian-ho Sangjin terpaksa menyerang. Wan-tianglo menatapnya dengan sangat senang. Kaki dan tangannya segera bergerak dengan cepat.

Su Yan-hong menonton mereka, dengan cepat dia mundur. Thian-ho Sangjin melihatnya mundur, dia terlihat cemas. Tai-jiu-im segera diperagakan. Semakin lama semakin cepat, tenaga dalamnya semakin kuat. Kadang-kadang berkelebat, terkadang bersembunyi lalu melilit, sama sekali tidak memiliki kesempatan.

Thian-ho Sangjin semakin cemas. Wan-tianglo semakin senang. Sambil tertawa, dia menyerang, jurus-jurusnya terus berubah- ubah.

Melihat Su Yan-hong naik ke atas kuda dan siap pergi, dia benar- benar cemas. Dia segera memerintahkan 4 orang hweesio yang bersama-sama datang dengannya untuk bertarung. Empat orang hweesio Tibet itu sedari awal dipukul hingga roboh. Mereka masih marah. Begitu diperintahkan membantu, mereka segera datang.

Wan-tianglo harus bertarung dengan 4 orang hweesio Tibet, juga harus menghadapi Thian-ho Sang jin, dia sangat kerepotan, tidak seringan tadi. Tapi dengan gerakan yang lincah dan reaksi yang cepat, dia tetap bisa melibat Thian-ho Sangjin.

Melihat Su Yan-hong sudah pergi jauh dari sana dan menghilang di dalam kegelapan, Thian-ho Sangjin marah. Dia membentak:

“Bunuh dia...”

Empat orang hweesio itu membentak bersama sama. Semua tenaga dalam mereka sudah terkumpul di kedua telapak. Bersama- sama bergeser dan siap bekerja sama dengan Thian-ho Sangjin.

Tapi waktu itu tiba-tiba Wan-tianglo meloncat lewat di atas kepala keempat hweesio Tibet dan turun di belakang mereka.

Thian-ho Sangjin membentak:

“Mau kabur ke mana?”

Wan-tianglo tidak segera pergi. Tiba-tiba menghantam jatuh 4 orang hweesio Tibet itu. Dia menunjuk Thian-ho Sangjin dan menggelengkan kepala:

“Kau benar-benar mempunyai ilmu silat tinggi tapi kau tidak mempunyai etika ilmu silat. Dari awal mengepung dan memukul. Kau benar-benar tidak beretika sebagai seorang pesilat tangguh. Benar-benar membuatku kecewa!”

“Sembarangan bicara!”

“Tidak apa-apa, aku sudah tidak tertarik lagi denganmu, lebih baik cari marga Su untuk bermain-main!”

Dia bersalto 3 kali sudah pergi dari sana.

Empat orang hweesio Tibet itu ingin mengejar tapi dibentak oleh Thian-ho Sangjin. Melihat keper-gian Wan-tianglo, dia tahu kalau keempat hweesio ini tidak mungkin bisa mengejar Wan-tianglo. Dia sendiri pun tidak percaya diri. Walaupun bisa terkejar belum tentu dia bisa memukul jatuh Wan-tianglo. Jika tidak berhati-hati dia akan dijatuhkan oleh Wan-tianglo akibatnya tidak akan terpikirkan.

Melihat wajah Thian-ho Sangjin yang serius, keempat hweesio itu segera kembali seperti semula.

Pikiran Thian-ho Sangjin benar-benar tidak baik. Tai-jiu-im sudah dilatihnya sampai pada tingkat 9. Di dunia ini jarang ada orang yang sanggup melawannya. Siapa yang tahu menghadapi seorang Su Yan-hong pun tidak mudah, lalu kemunculan Wan- tianglo. Benar-benar membuat rasa percaya dirinya turun.

Di dunia persilatan Tionggoan banyak naga dan harimau yang bersembunyi. Mengenai ini dia pernah mendengarnya, dia bertambah percaya lagi.

168-168-168

Siau Cu belum tidur. Walaupun dia percaya Su Yan-hong akan menang, tapi entah mengapa dia selalu khawatir dan tidak bisa tidur.

Melihat sikap Su Yan-hong ketika pulang, Siau Cu bisa sedikit menebak tapi dia tetap bertanya:

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku bukan lawannya Thian-ho Sangjin!” “Kau kalah di tangannya?”

“Memang belum ada yang kalah atau menang, tapi sebenarnya ilmu silatnya lebih tinggi dariku!”

“Kalau belum ada yang menang atau kalah, apakah dia mau berhenti?”

“Karena saat penentuan menang dan kalah, Wan-tianglo datang!”

“Dia sudah datang...untung aku tidak ikut ke sana...”

“Kalaupun kau berada di sana juga tidak apa-apa. Melihat Thian- ho Sangjin, dia melupakan semuanya. Dia hanya memperhatikan pertarunganku dengan Thian-ho Sangjin!” “Kalau begitu mana mungkin aku bisa melepaskan?” kata Siau Cu, “bertemu orang aneh itu sudah cukup membuat Thian-ho Sangjin repot. Orang aneh itu pintar juga, di mana ada pesilat tangguh, dia pergi mencarinya!”

“Aku lihat dia mengejar sampai ke sini, tujuan nya adalah mencarimu!”

“Untung ada Thian-ho Sangjin!” kata Siau Cu.

“Aku lihat dia tidak tertarik dengan Thian-ho Sangjin. Akhirnya dia tetap akan mencarimu!”

“Aku harus bagaimana?”

“Kita memang akan pergi ke Bu-tong-san. Karena takut ada perubahan, maka sekarang kita langsung pergi!”

“Apakah tidak ada hal yang harus kau urus di istana?” “Seharusnya tidak ada!”

“Hanya Lan-lan...” Siau Cu membaca pikiran Su Yan-hong, “kau baru pulang, sekarang ingin pergi lagi, dia pasti tidak suka!”

Su Yan-hong tertawa kecut:

“Kau beres-beres dulu, aku akan menengok Lan-lan, dia adalah anak yang pengertian!”

Walaupun Su Yan-hong berkata begitu tapi hatinya merasa tidak enak.

Siau Cu tertawa kecut:

“Ih-lan berada di belakangmu!”

Su Yan-hong terpaku. Dia melihat Ih-lan berdiri tidak jauh di belakang. Matanya yang besar seperti akan menangis.

“Lan-lan...dengarkan ayah...”

“Siau Cu Koko sudah memberitaliu Lan-lan bahwa kakek guru terbunuh dan ayah harus pergi mencari tahu!” Ih-lan seperti sangat pengertian.

“Kalau begitu kau tidak akan marah kepada ayah?” Su Yan-hong menggendong Ih-lan.

“Tapi ayah harus berjanji setelah masalah beres, ayah segera pulang!” Air mata Ih-lan tetap menetes.

Su Yan-hong menarik nafas.

169-169-169

Sebelum hari terang, Su Yan-hong dan Siau Cu sudah berangkat. Sepanjang jalan kuda terus berlari kencang, sampai siang hari, kuda dan orangnya sudah lelah, mereka baru berhenti untuk beristirahat.

Kuda diikat di bawah pohon. Su Yan-hong dan Siau Cu duduk di batu kali tidak jauh dari sana, sambil memakan makanan kering, mereka minum air sungai, mereka merasa senang.

Setelah makan, Siau Cu merendam kepala ke dalam sungai, lama baru diangkat, dia tertawa:

“Untung pagi-pagi kita sudah berangkat, kalau tidak, akan bertemu orang aneh itu. Entah apa yang akan terjadi pada kita.”

“Aku tidak berharap apa-apa, hanya berharap bisa lancar sampai Bu-tong-san dan bisa membereskan masalah dengan lancar.”

“Masalah yang awalnya lancar akan terus lancar! Tidak ada orang aneh mengganggu, tidak akan tidak lancar.”

Saat mereka tertawa, di sana terdengar suara kuda meringkik. Mereka menoleh, terlihat oleh mereka kedua kuda entah sejak kapan sudah terlepas. Kuda meringkik dan berlari.

Mereka berdua sama-sama bangun dan mengejar. Ketika mereka sampai di bawah pohon, kuda sudah pergi jauh dan tidak bisa terkejar lagi.

“Mengapa ikatan kuda bisa terlepas?” Siau Cu merasa aneh. “Menurutku itu perbuatan manuisa...”

“Siapa yang berani?” tanya Siau Cu. “Tentu saja aku!” kata Wan-tianglo.

Begitu mendengar suara ini, wajah Siau Cu langsung berubah.

Melihat Wan-tianglo, dia segera mundur tiga langkah. Wan-tianglo tertawa:

“Ilmu meringankan tubuhmu tidak sebaik punyaku. Kudamu sudah dilepas, sekarang kau mau lari ke mana?”

Siau Cu terpaku. Wan-tianglo tertawa sambil marah kepada Su Yan-hong:

“Kau juga bukan orang baik-baik. Semalam aku sudah membantumu tapi kau pergi tanpa pamit. Untung aku mempunyai ilmu silat yang lumayan, maka aku tidak digulingkan oleh hweesio jahat itu!”

“Boanpwee masih ada keperluan maka berlaku terpaksa seperti itu!” Su Yan-hong memberi hormat, “Kami akan pergi ke Bu-tong- san, harap Lo-cianpwee bisa mengijinkan kita pergi!”

“Begitu masalah sudah beres, kami akan pergi ke Sian-tho-kok untuk melayani Cianpwee...” kata Siau Cu.

“Bukan orang aneh?”

“Sama saja, aku kira Cianpwee tidak akan menaruhnya di hati.

Kami berjanji, sekarang kami akan pergi ke Bu-tong-san!”

“Aku tidak berjanji apa-apa pada kalian. Sulit menemukan kalian, mana mungkin aku melepaskan kalian?” Wan-tianglo sudah membuka dua tangan lebar-lebar untuk menghadang jalan mereka.

Dengan serius Su Yan-hong berkata:

“Lo-cianpwee juga orang dunia persilatan. Bu-tong-pai sekarang sedang menghadapi musibah besar, mana mungkin kita melihat tapi tidak menyelamatkannya?”

“Apa hubunganku dengan Bu-tong-pai? Kalian berdua cepat ikut aku pergi!”

“Lo-cianpwee memaksakan kehendak, maaf Boanpwee akan tidak hormat!”

Su Yan-hong menarik nafas dan memasang kuda-kuda. Siau Cu juga memasang kuda-kuda, sambil berkata: “Hari ini tidak sama. Dengan gabungan tenaga kami berdua pasti bisa mengalahkan dia!”

Wan-tianglo tertawa:

“Ingin bertarung. Baik, baik sekali!” Dia mulai menyerang.

Su Yan-hong dan Siau Cu sama-sama menyerang. Mereka tahu kelihaian Wan-tianglo, maka tidak sungkan-sungkan. Dari awal mereka sudah menggunakan seluruh kekuatan dan masing-masing ilmu silatnya.

Ilmu silat Siau Cu sudah maju pesat, Su Yan-hong juga, semenjak dua jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, tenaga dalamnya mengalir tidak putus putusnya.

Tapi perubahan ilmu silat mereka semua masih dalam perhitungan Wan-tianglo. Jurus Wan-tianglo tetap berubah-rubah, tenaga dalamnya masih berada di atas mereka. Walaupun mereka berusaha tapi karena di antara mereka tidak ada dendam, maka tidak bisa sampai titik tertinggi.

Gabungan mereka hanya bisa bertahan sebentar, belakangan tetap dipukul jatuh oleh Wan-tianglo.

Wan-tianglo segera menotok mereka. Siau Cu marah, akhirnya jalan darah bisu Siau Cu juga ditotok. Melihat keadaan begitu, Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas.

Mereka dibawa ke Sian-tho-kok. Di sepanjang jalan bila Wan- tianglo senang, jalan darah mereka akan dib.uka untuk bertarung dengannya.

Perjanjian ke Bu-tong-san sudah makin dekat. Kata-kata baik juga sudah mereka katakan demi bisa melepaskan diri pergi ke Bu- tong-san, tapi Wan-tianglo tetap tidak peduli. Tidak hanya Siau Cu, Su Yan-hong juga merasa tidak bersemangat bertarung dengan Wan-tianglo.

Wan-tianglo pasti tidak enak tapi dia percaya Su Yan-hong dan Siau Cu akan bersemangat lagi, maka dia tidak cemas.

Tapi Su Yan-hong dan Siau Cu sangat gelisah. 170-170-170

Sian-tho-kok adalah tempat yang bagus. Su Yan-hong pun mengakuinya. Tapi karena sedang tidak enak hati maka dia tidak bersemangat untuk menikmati pemandangan di Sian-tho-kok. Setiap hari dia terus tinggal di rumah bersama Siau Cu.

Tiga hari sudah berlalu. Bila dihitung-hitung, waktu rapat perjanjian Bu-tong-san hanya tinggal tujuh hari lagi termasuk waktu perjalanan. Su Yan-hong menarik nafas:

“Bila sekarang tidak pergi, sudah tidak sempat lagi. Apakah Bu- tong-san akan terkena musibah besar lagi?”

“Gara-gara orang aneh itu! Aku akan keluar bertarung mati- matian dengan dia!” Siau Cu meloncat.

Su Yan-hong menghadang:

“Jangan emosi. Ilmu silat dia begitu tinggi, dengan segala upaya kita tetap akan kalah!”

“Apakah kita harus duduk diam?”

Su Yan-hong menarik nafas panjang:

“Sekarang aku juga sama-sama sedih, tapi apa yang bisa kita lakukan?”

Akhirnya Siau Cu duduk kembali. Su Yan-hong mengeluh:

“Dari kecil ayah mengajariku, jadi orang harus setia kawan dan cinta negara. Almarhum guru menerimaku menjadi murid, mengajari ilmu silat Kun-lun, berharap setelah menguasai ilmu silat bisa melakukan kebaikan untuk dunia persilatan!”

“Ini tidak ada salahnya!”

“Sekarang Bu-tong-pai akan tertimpa musibah tapi aku tidak bisa membantu. Kaisar akan dikuasai Thian-ho Sangjin tapi aku tidak punya cara. Aku benar-benar telah mengabaikan harapan ayah dan guru!” “Itu bukan salahmu. Ilmu silat Thian-ho Sang-jin berada di atasmu. Tentang Bu-tong-san, bukan kau tidak mau pergi tapi dihadang oleh orang aneh yang tidak tahu aturan!”

“Aku benar-benar aku tidak mengerti orang ini!”

“Tidak ada cara lain, terpaksa harus begitu!” kata Siau Cu. “Cara bagaimana?”

“Sebentar lagi bila dia datang, kita setuju bertarung dengan dia. Sampai dia membuka totokan kita, aku akan berusaha keras menghadang dia, lalu kau kabur keluar dari Sian-tho-kok!”

“Kalau begitu, dia pasti akan marah besar!”

“Paling-paling dia memukuliku untuk melampiaskan kemarahan. Orang aneh ini tidak akan membunuhku!”

“Tapi entah kapan aku baru bisa menyelamatkanmu?”

“Tidak keluar juga tidak apa-apa, asal kau bisa membantuku membereskan dua hal!” Siau Cu tertawa.

“Katakan!”

“Mencari tahu siapa yang membunuh guruku!” “Aku pasti akan berusaha. Satu lagi?”

Lama kemudian Siau Cu baru berkata:

“Bantu aku menengok Beng-cu. Beritahu pada nya bahwa sementara ini aku tidak bisa mencari dia!”

Su Yan-hong mengangguk. Siau Cu berpesan lagi: “Tapi jangan beritahu dia keadaanku seka- rang!”

'Tenanglah...setelah masalah Bu-tong-pai beres, aku akan datang menyelamatkanmu!”

Siau Cu tertawa kecut, karena dia sedikitpun tidak percaya diri.

Su Yan-hong masih ingin mengatakan sesuatu, di luar sudah terdengar tawa aneh. Di waktu yang bersamaan muncul seorang yang bergantung di jendela, dialah Wan-tianglo. “Aku perintahkan kepada kalian untuk tidur yang baik supaya mempunyai semangat bertarung denganku. Tapi kalian malah terus berbicara. Dari jauh aku merasa aneh, maka aku mendekat untuk mendengarkan pembicaraan kalian. Ternyata benar, kalian sedang membuat rencana busuk untuk meng-hadapiku!”

Su Yan-hong dan Siau Cu terpaku. Mereka sama sekali tidak mengira Wan-tianglo akan datang tepat pada waktu ini untuk mendengar pembicaraan mereka.

Wan-tianglo bersalto sambil tertawa.

“Apakah kau tidak merasa malu mendengar pembicaraan orang?” Siau Cu marah.

“Membuat rencana busuk di belakang orang untuk diam-diam menyerang, apakah itu tidak keji?”

“Kalau kau tidak mengurung kami, kami tidak akan seperti ini!” kata Sinu Cu.

“Maka kalian harus berterima kasih kepadaku, pikiran kalian menjadi lincah!”

Siau Cu marah. Su Yan-hong berkata:

“Lo-cianpwee, kami seperti itu karena Bu-tong-pai...”

“Orang seperti kalian sangat pintar, pasti akan menemukan cara kedua. Coba pikirkan dulu!”

Kemudian dia bersalto tiga kali, langsung pergi dan menghilang di kegelapan. Su Yan-hong ingin memanggil dia tapi dicegat oleh Siau Cu:

“Memohon kepadanya tidak akan ada gunanya. Orang aneh ini sulit dimengerti!”

“Kalau begitu, kita benar-benar harus mencari cara kedua!” Siau Cu mengelus-elus rambutnya yang acak- acakan:

“Apakah di dunia ini tidak ada satu pun ilmu silat yang bisa menaklukan ilmu Tai-seng (ilmu kera) Wan-tianglo?” “Aku pernah bertanya kepada guru. Katanya, yang bisa bersaing dengan Tai-seng-kang hanya Thian-can-kang dari Bu-tong-pai dan Thian-liong-kiu-sut dari Kun-lun!”

“Apakah kau belum pernah berlatih Thian-liong-kiu-sut? Tiong- cianpwee, oh tidak, guru tahu begitu, mengapa tidak mengajarkan jurus ini kepadamu agar bisa menghadapi Wan-tianglo yang aneh ini?”

“Thian-liong-kiu-sut sudah lama hilang. Aku hanya belajar sampai Thian-liong-pat-sut. Tapi kata guru Thian-liong-kiu-sut adalah perubahan dari 8 jurus awal. Tapi sayang, sampai sekarang aku belum tahu apa-apa!”

“Mengapa bisa seperti ini?”

“Aku tidak mempunyai cukup waktu. Hal-hal yang terjadi di kerajaan menyita banyak pikiranku...”

“Bukankah sekarang adalah satu kesempatan? Kau ambil kesempatan ini untuk mempelajarinya. Jika benar kau bisa mengerti, kita bisa mengalahkan orang aneh itu. Bisa mengalahkan orang aneh itu kita bisa mendapatkan kepuasan!” kata Siau Cu semangat.

“Baiklah! Kita tidak ada pekerjaan di sini. Mari ambil kesempatan untuk berpikir!” Su Yan-hong tertawa bersemangat.

“Kau berpikir, orang aneh itu biar aku yang hadapi! Asal bisa menggulingkan dia, selelah apapun aku akan kuat!”

“Aku lihat dia tidak mudah melepaskan aku!”

“Kau bisa pura-pura sakit. Orang aneh ini, asal-kan ada orang menemaninya bertarung, dia tidak akan berpikir panjang!”

171-171-171

Berpura-pura sakit di depan VVan-tianglo bukan hal yang mudah. Tapi Siaii Cu beberapa tahun mengikuti Lam-touw berkelana di dunia persilatan, sedikit banyak mengerti ketrampilan menghias wajah Dia mampu menghias Su Yan-hong sehingga terlihat benar-benar seperti orang sakit. Tapi bukan sakit berat, hanya sakit bagian pen cernaan. Kemudian Siau Cu terus menyalahkan Wan-tianglo yang hanya memberi makan buah-buahan. Akhirnya bisa menipu Wan-tianglo.

Agar Wan-tianglo tidak mengganggu Su Yan-hong, Siau Cu berusaha melayani Wan-tianglo dengan baik. Dengan pengalaman dan ilmu silatnya, Siau Cu berusaha sekuat tenaga melayaninya. Sebenarnya itu bukan hal yang sulit.

Siau Cu mengikuti kemauannya, sambil mena nyakan perubahan jurus-jurusnya. Tujuannya adalah mengulur waktu. Itu sangat cocok dengan keinginan Wan-tianglo. Hal ini membuat Siau Cu memperoleh lebih banyak kepandaian lagi.

Tiga hari berturut-turut seperti itu, Siau Cu benar-benar tersiksa. Di sisi lain, Su Yan-hong sama sekali tidak mendapatkan hasil. Tapi dia tidak kecewa. Siau Cu juga tidak mengomel, dia malah memberi semangat. Dari perkataan Su Yan-hong, sepertinya tidak ada harapan. Kecuali muncul mujizat, kalau tidak, keinginan untuk sampai ke Bu-tong-san sudah tidak mungkin tercapai.

Mujizat benar-benar muncul.

Pada hari keempat pagi, ketika Su Yan-hong bangun, dia mendengar suara Siau Cu dan Wan-tianglo sedang bertarung. Kemudian dia melihat banyak bekas telapak kaki di lantai. Terlihat sangat kacau balau, horisontal dan vertikal saling bertum-pangan, tapi semua mengikuti susunan Pat-kwa.

Hatinya bergerak, dia melangkah mengikuti telapak kaki dengan berurutan dan bergerak dengan alami. Thian-liong-pat-sut bisa diperagakan di sana. Setelah selesai Thian-liong-pat-sut berubah menjadi jurus yang lain. Tapi jurus ini adalah perubahan dari Thian- liong-pat-sut, dicampur dengan intinya Thian-liong-pat-sut kemudian menyatu lagi. Terlihat kekuatan jurus ini di atas Thian- liong-pat-sut.

Bekas telapak kaki bisa membuat Su Yan-hong mengerti perubahan Thian-liong-kiu-sut, itu di luar dugaan Su Yan-hong. Saat itu dia benar-benar terkejut juga senang. Dia bolak-balik berlatih Thian-liong-kiu-sut, dia hampir tertawa lepas.

Siau Cu tidak melihat bekas telapak kaki di lantai. Setelah bertarung dengan Wan-tianglo, dia kelelahan dan tergopoh-gopoh, hampir terguling di bawah.

Su Yan-hong memapahnya, melihat tawa Su Yan-hong, Siau Cu merasa heran.

“Coba kau lihat bekas telapak kaki di lantai ini!” “Kau yang membuatnya?”

Su Yan-hong menggelengkan kepala. Siau Cu tertawa kecut. “Aku tidak melihat ada keistimewaan pada bekas telapak kaki itu.

Apakah kau mau memberi tahu kepadaku bahwa Thian-liong-kiu-

sut sudah kau kuasai?”

“Aku hanya memberitahu kabar ini kepadamu!” Siau Cu meloncat:

“Betulkah kau sudah menguasainya?”

“Bukan hasil yang aku pikirkan, melainkan tadi pagi begitu bangun, aku melihat telapak-telapak kaki ini dan aku mengikutinya, dan jadilah Thian-liong-kiu-sut!”

“Siapa yang membuatnya?”

“Tadinya aku mengira adalah kau, tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin. Di tempat ini selain Wan-tianglo, masih ada siapa lagi?”

“Tidak mungkin dia yang melakukan!” Siau Cu menggelengkan kepala:

“Apakah dia tidak takut setelah kau menguasai Thian-liong-kiu- sut, kau akan mengalahkannya? Apalagi sifat dia yang aneh. Dia akan langsung memberitahu kepadamu. Kalau tahu kau pura-pura sakit, dia akan memukulmu, tidak mungin diam-diam masuk dan meninggalkan bekas telapak ini.”

“Betul, tapi siapa? Dan apa maksudnya?” tanya Su Yan-hong: “Hanya pesilat tangguh baru bisa melihat tuju anku berlatih Thian-liong-pat-sut, dan hanya teman baru bisa membantuku mengikuti perubahan Thian-liong-pat-sut.”

“Siapapun yang melakukannya, kau sudah berlatih Thian-liong- kiu-sut, masih menunggu apalagi. Kita keluar mencari orang aneh itu dan menghajarnya.”

Su Yan-hong mengangguk. Kata Siau Cu:

“Jangan sekarang, lebih baik kau beristirahat dulu, aku juga mengambil kesempatan ini untuk mengatur nafas dan beristirahat. Bila dibutuhkan aku bisa membantumu!”

“Baik!” kata Su Yan-hong mulai duduk bersila, “kalau sekarang tidak bisa mengeluarkan kekuatan Thian-liong-kiu-sut dan tidak bisa mengalahkan dia, kita harus mengakui nasib buruk kita!”

Siau Cu tertawa:

“Saat kau menggunakan Thian-liong-pat-sut, dengan sekuat tenaga dia baru bisa memecahkan. Kalau Thian-liong-kiu-sut, apakah dia bisa tahan?”

Walaupun begitu, hatinya tetap curiga. Su Yan-hong melihat pikiran Siau Cu. Walaupun tidak mengucapkan kata-kata terima kasih, tapi dia bertekad untuk berjuang mati-matian.

Wan-tianglo tidak tahu tentang Thian-liong-kiu-sut dan bekas telapak kaki. Tapi begitu melihat kegembiraan ini, dia sudah tahu.

“Apakah perutmu sudah sembuh? Seharusnya dari awal kau sudah sembuh. Dengan ilmu silat mu, mana mungkin tidak bisa menyembuhkan sakit perutmu!”

Su Yan-hong ingin mengatakan sesuatu, tapi Wan-tianglo berkata lagi:

“Hitung-hitung kau tahu diri segera datang melayani aku.

Beberapa hari ini hanya satu Siau Cu, aku tidak puas!” Siau Cu tertawa dingin: “Kau benar-benar tidak mempunyai hati nurani. Aku melayanimu, kau masih berkata tidak tertarik, tidak puas, kemarin kau berkata apa?”

“Hari ini adalah hari ini, untuk apa membicarakan kemarin lagi!” kata Wan-tianglo. Dia segera melambaikan tangan, “lebih baik kalian berdua datang bersamaan!”

Siau Cu melihat Su Yan-hong:

“Aku kuras dulu sebagian tenaga dalamnya!” Wan-tianglo tertawa:

“Bocah, kau bisa menghabiskan berapa banyak tenaga dalamku?”

Siau Cu tidak menjawab. Dia menyerang dengan sekuat tenaga. Wan-tianglo adalah orang yang gila berlatih ilmu silat, asal ada orang ingin bertarung keras dengannya, dia semakin senang.

Setelah beberapa hari berlatih, Siau Cu sudah ada kemajuan besar. Sebenarnya tidak mudah bagi Wan-tianglo untuk merobohkan dia, benar-benar harus menghabiskan banyak tenaga.

Su Yan-hong tidak bisa membiarkan Siau Cu dipukul roboh. Dia ikut menyerang. Sekali menyerang, Thian-liong-pat-sut sudah dikeluarkan. Tenaganya kuat dan ganas.

Hal ini membuat Wan-tianglo semakin senang. Dengan serius dia melawan. Setelah Thian-liong-pat-sut selesai, Su Yan-hong sudah mundur 1 tombak.

Tapi Thian-liong-kiu-sut segera dikeluarkan, langkah-langkah Su Yan-hong sangat lincah dan berilusi. Dengan jari menjadi pedang, mengeluarkan suara-suara tajam.

Mata Wan-tianglo menjadi terang. Dia bertanya: “Ilmu silat apa ini?”

Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia sudah dipaksa mundur tujuh langkah oleh Su Yan-hong. Su Yan-hong belum menjawab, dia bertanya lagi: “Kau belajar dari mana? Lihai, lihai! Hebat, hebat ”

Kata-katanya belum selesai, dia sudah terkena tiga pukulan. Kalau orang lain pasti sudah roboh, tapi Wan-tianglo sangat lincah. Reaksinya cepat. Tiga kali pukulan seperti menggaruk-garuk tubuhnya.

Thian-liong-kiu-sut baru selesai dilatih, tenaga dalamnya belum bisa dikeluarkan sepenuhnya, maka bisa memukul Wan-tianglo juga tidak banyak gunanya, tapi bisa mengenai Wan-tianglo sudah membuat dia senang!

Siau Cu dengan senang menepuk, berteriak: “Gulingkan dia! Robohkan dia!”

“Mana bisa semudah itu!” Wan-tianglo masih bisa tertawa.

Kata-katanya belum selesai, dia terkena pukul an lagi. Tubuh meloncat ke atas. Saat tubuhnya turun dia menyerang Su Yan-hong lagi. Siau Cu melihatnya, dia tidak sabar lagi, dia ikut menyerang Wan-tianglo dari samping.

Serangan dia tidak meleset. Tapi saat kepalan tangan Siau Cu ingin memukul tubuh Wan-tianglo, pergelangan tangannya sudah dicengkram dan ditarik oleh Wan-tianglo. Tubuhnya akan menabrak Su Yan-hong. Terlihat tindakannya sudah dalam perhitungan Wan-tianglo, baru bisa dimanfaatkan dengan tepat.

Su Yan-hong cepat menarik kembali jurus-jurusnya. Wan- tianglo mengambil kesempatan ini masuk, menendang Su Yan-hong sampai terguling.

Siau Cu juga terguling di samping Su Yan-hong. Dia tahu dia sudah membuat kesalahan dan ingin segera meloncat bangun. Tapi jalan darah di tubuhnya sudah ditotok.

Su Yan-hong terkena tendangan, jalan darah juga tertendang.

Dia melihat Siau Cu, dengan lemas berkata: “Kita terlalu tergesa-gesa!”

“Aku yang salah!” kata Siau Cu.

Su Yan-hong menggelengkan kepala: “Tenaga dalamku belum bisa bersatu dengan jurus yang aku gunakan, percuma saja terus bertarung!”

“Jurus apa yang kau gunakan tadi?” tanya Wan-tianglo. “Tidak ada hubungannya denganmu!”

Wan-tianglo tertawa licik:

“Kalian tidak mau memberitahu tidak apa-apa. Nanti setelah beberapa kali bertarung, aku akan bisa tahu rahasia apa yang terkandung di dalamnya.”

“Kalau kami tidak mau bertarung denganmu, apa kau bisa cari tahu?”

“Tidak mau betarung denganku juga tidak apa-apa!”

Siau Cu menutup mulutya. Wan-tianglo melihat Su Yan-hong: “Kau sangat licik. Mengurung diri beberapa hari, tujuannya

adalah    berlatih    jurus    baru.    Sebenarnya    kau    bisa    jujur

memberitahuku, aku tidak akan menghadangmu, mungkin aku akan membantumu!”

Siau Cu berteriak lagi:

“Kami tidak butuh bantuan orang sepertimu!” “Aku seperti apa?”

“Kau sendiri juga tidak tahu dirimu seperti apa?” Su Yan-hong tertawa dingin.

“Katakan! Katakan!”

“Egois!” Su Yan-hong tertawa dingin. “Katamu akan membantu kami, tapi kau tetap memikirkan diri sendiri!”

“Aku bisa membantumu berlatih ilmu silat agar lebih baik!” “Apa tujuannya?” tanya Su Yan-hong.

“Ingin kalian berkelahi denganku.” “Ternyata kau hanya teori saja!”

“Yang aku tahu  sekarang, kami harus pergi ke Bu-tong-san.

Melayanimu berkelahi sekarang tidak ada artinya!” “Tapi aku tidak mempunyai perasaan seperti itu.”

“Itu namanya egois.” Su Yan-hong ingin berkata lagi tapi meihat wajah Wan-tianglo berseri-seri, dia tahu apa yang akan dikatakan percuma saja, maka dia memutar kepala.

Wan-tianglo seperti tidak merasa bersalah. Dia bertanya lagi: “Kau belum memberitahu ilmu silat apa itu.”

“Aku beritahu kepadamu...” Siau Cu tertawa. “Aku siap mendengar!” Wan-tianglo tertawa.

“Kalau kali ini terjadi sesuatu pada Bu-tong-san, kecuali kau membunuhku, kalau tidak, aku akan membunuh kera-kera di sini!” Siau Cu melayangkan dua kepalannya.

Su Yan-hong menekan dia:

“Jangan terlalu bersemangat. Mungkin adalah kehendak Thian bila Bu-tong-pai harus terkena musibah. Kalau benar, kita ke sana pun tetap akan sama.”

“Kehendak Thian...” Siau Cu tertawa kecut. Su Yan-hong tertawa kecut: