-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 15

Jilid 15

Tentu saja dia sama sekali tidak terpikir Lo-taikun yang ini bukan yang asli dan orang yang telah membunuh suaminya. Lo-taikun kembali ke kamarnya. Melihat Bwe Au-siang datang dia sudah tahu maksudnya, dia bersikap seperti tidak terjadi sesuatu.

“Tadi pukul 2 dini hari, Po-ji mencariku ke sini, katanya dia melihat ada orang berpakaian malam datang ke keluarga Lamkiong. Seperti mempunyai maksud tertentu. Dia bertanya apakah harus mengejarnya.” Lo-taikun bisa bicara seperti itu.

“Apakah Anda membiarkannya mengejar?”

“Saat kita mengadakan perundingan ilmu pedang, keluarga Lamkiong menjadi tuan rumah yang baik dan jangan mengganggu tamu.”

“Tapi sekarang sudah pukul 3 dini hari...”

“Tenanglah! Yang bisa mengalahkan ilmu silat Po-ji, paling- paling Coat-suthay, Tiong Toa-sianseng, dan beberapa pesilat tangguh. Mungkin dia terus mengejar orang itu dan tidak bisa cepat-cepat pulang!” Nada bicara Lo-taikun sangat tenang.

“Tapi Coat-suthay...”

“Nikoh tidak akan berbohong?” Lo-taikun ter tawa, “apakah kau lupa apa yang dia katakan mengenai keluarga Lamkiong dan Bu- tong-pai? Dan melukai Po-ji?”

155-155-155

Bwe Au-siang tertawa.

Coat-suthay tidak bisa tertawa. Wajahnya seperti tertutup oleh lapisan salju. Sampai Fu Hiong-kun pun merasa takut.

Dia duduk, mencabut pedang dan memasukkannya kembali ke dalam sarung. Fu Hiong-kun men coba mencari tahu:

“Siapa yang telah membuat Supekbo marah?” “Aku sedang mencari tahu rencana busuk!” “Apakah sudah ada hasilnya?”

“Kalau ada aku tidak akan seperti ini! Apakah Lamkiong Po berhasil mendapatkan buktinya? Seharusnya dia bicara dulu denganku baru mengejar orang yang masuk ke keluarga Lamkiong!”

“Dia tidak pergi ke tempat yang perjanjian?”

“Tidak! Dia juga tidak berada di kamarnya. Aku takut musibah menimpanya!”

“Tidak akan! Di sini keluarga Lam-kiong...”

“Justru karena keluarga Lamkiong maka mudah terjadi musibah.

Lo-taikun itu semakin dilihat semakin tidak nyaman!”

“Apakah Supek-bo terus mengingat hal yang terjadi di masa lalu?”

“Sembarangan bicara! Kau harus mengerti jika di keluarga Lamkiong tidak terjadi masalah, mana mungkin Lamkiong Po mau bekerja sama denganku mencari bukti?”

Fu Hiong-kun setuju. Coat-suthay terpaksa berkata: “Sudahlah! Kita lihat besok saat bertanding ilmu pedang!” Sebenarnya semua itu sudah terlambat!

Hari ketiga adalah hari terakhir bertanding ilmu pedang. Semua orang datang ke Pek-hoa-couw lebih awal karena takut melewatkan pertarungan antara Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay. Kedua orang itu adalah pesilat pedang paling tangguh sekarang ini. sudah pasti pertarungannya akan sangat seru.

Lu Tan pun tidak terkecuali. Walaupun dia tidak suka dengan sikap Coat-suthay tapi dia tetap kagum dengan ilmu silat Coat- suthay. Dia berharap bisa menyadari kekurangannya apa saja.

Kebetulan dia belum pergi dari keluarga Lam-kiong bertemu dengan Coat-suthay. Walaupun tidak menyukainya, tapi masih berusaha menyapa.

“Kau masih di keluarga Lamkiong?” Coat-suthay menatapnya dengan dingin, nada bicaranya pun sama.

“Hari ini adalah hari terakhir!”

“Apakah di sini masih ada hal yang bisa kau lakukan?” “Bisa, dari pertarungan antar 2 Lo-cianpwee nanti bisa mendapatkan pelajaran ilmu pedang. Itu adalah keberuntunganku!” Lu Tan berkata dengan sungkan.

“Dengan kemampuan ilmu silatmu sekarang ini, kau bisa sadar dan mengerti?”

Fu Hiong-kun sama sekali tidak menyangka kalau Coat-suthay akan berkata seperti itu. Dia ingin melarang tapi sudah tidak sempat.

Lu Tan segera membalikkan tubuh dan pergi dari sana.

Waktu itu juga Coat-suthay merasa dirinya kelewatan. Ingin memanggil Lu Tan kembali tapi tidak jadi keluar suara.

Fu Hiong-kun tidak memperhatikan sikap Coat-suthay. Dia menarik nafas:

“Supek-bo!”

“Apa pun yang terjadi, hari ini jangan membuatku marah!” Coat- suthay berkata dengan dingin dan berjalan ke depan. Hari ini dia benar-benar tidak enak hati.

Mengapa Lamkiong Po belum muncul juga? Sudah terjadi apa padanya? Mana mungkin Coat-suthay bisa tenang.

Tiong Toa-sianseng pun demikian. Tapi begitu pedang sudah di tangan, hatinya segera menjadi tenang, dia bisa menjadi pesilat pedang yang kuat semua karena pedang yang ada di tangannya. Hatinya bisa masuk. Pedang adalah nyawa keduanya.

Dia menghormati pedang yang ada di tangannya juga menghormati pedang di tangan musuh.

Bukan karena musuhnya adalah Coat-suthay, karena pedang yang dipakai adalah Ceng-hong-kiam.

Dia sangat tahu sepak terjang menjadi seorang pesilat tangguh bukan hal yang mudah dilakukan.

Yang pasti terhadap pesilat tangguh seperti Coat-suthay, membuatnya merasa senang. Ilmu mere ka hampir setara. Reaksi seperti ini tidak sulit dimengerti. Coat-suthay juga senang. Apalagi melihat pedang yang dicabut Tiong Toa-sianseng adalah Liong-im-kiam.

“Suthay, apakah kau akan memberi maaf untukku!”

“Aku akan mmpertimbangkan. Putrimu pergi yang pasti hati sedang tidak enak, jadi keahlianmu pun tidak bisa dikeluarkan dengan sempurna!”

Bok-lan pergi ternyata Coat-suthay juga tahu.

Walaupun ini bukan hal aneh, tapi kata-kata ini membuat Tiong Toa-sianseng sedikit terkejut.' dia dengan tidak senang segera berkata:

“Jika harus memberi maaf, berilah maaf!” “Apakah kata-kata tadi bukan sejujurnya?”

“Kalau kau ingin dengan cara seperti itu memancingku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi, aku tidak bisa berbuat apa- apa!”

“Mulai sekarang aku tidak akan bicara lagi. Seharusnya pembicaraanku ini tidak akan mengganggu jalan pikiranmu!”

“Kita bertanding ilmu pedang bukan perang mulut!”

“Awas! Pedang!” Coat-suthay sudah mencabut pedangnya. Sejurus demi sejurus, datang seperti gunung runtuh dan seperti air laut yang tumpah.

Tiong Toa-sianseng mengerutkan alisnya. Dengan posisi bertahan lalu menyerang. Jala pedang dengan cepat dianyam membungkus tubuhnya.

Tidak hanya Tiong Toa-sianseng, orang yang ada di dalam arena merasa tertekan oleh tenaganya yang kuat. Mereka juga tahu apakah ilmu silat Tiong Toa-sianseng bisa memecahkan tembok pedang. Mere ka sangat berharap Tiong Toa-sianseng dengan cepat mengeluarkan jurusnya.

Tapi reaksi Tiong Toa-sianseng membuat mereka kecewa. Dia tidak membalas, malah terus mundur. Ingin mendobrak dinding pertahanan pedang bukan hal yang mudah. Coat-suthay memang terus maju tapi dia bergeser dengan sangat lambat, Tiong Toa-sianseng juga mundur tidak cepat. Yang pasti semua ini tidak mudah.

Kalau dia mundur terlalu pelan membutuhkan tenaga dalam sangat besar untuk melawan dinding pertahanan pedang. Tapi jika mundur terlalu cepat, dinding pertahanan pedang bisa cepat roboh. Tenaga begitu besar dan dasyat tidak bisa ditahan.

Cepat dan lambat saat mundur benar-benar tidak mudah memilihnya.

Siau Cu tidak sabar. Dia berkata kepada Su Van-hong: “Suheng, mengapa sampai sekarang Suhu belum menyerang?” Su Yan-hong tertawa:

“Tenaga Coat-suthay bisa dikeluarkan tapi tidak bisa ditarik kembali. Jika sekarang guru mulai membalas, kedua-duanya akan terluka.”

“Guru tidak ingin terjadi hal seperti itu tapi hanya dengan mundur saja juga bukan cara yang bagus!”

“Serangan Coat-suthay pasti akan melemah!” Ujar Su Yan-hong sambil terus melihat, “jika guru bisa bertahan sampai waktu itu balik dari bertahan jadi menyerang. Kalah menang pasti akan segera terlihat!”

Siau Cu seperti mengerti. Dia terus mengangguk:

“Sulit mencari kesempatan melihat 2 pesilat tangguh bertarung.

Lu Tan harus segera kemari menyaksikan pertarungan ini!” Su Yan-hong mengangguk:

“Kalau aku seusianya mungkin aku pun akan seperti itu!”

“Coat-suthay selalu bicara seperti itu, dia tidak peduli kalau orang lain akan sulit menerimanya!” Ucap Siau Cu. Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas. Orang yang mengerti tata krama tidak akan bicara seperti Coat-suthay karena bicara seperti itu adalah salah.

Lu Tan sedang berjalan mondar mandir di koridor. Di sekeliling sana sangat sepi tapi dalam hati nya terus bergejolak. Dia ingin ke Pek-hoa-couw menyaksikan pertarungan.

Pertarungan antara Coat-suthay dan Tiong Toa-sianseng pasti akan seru. Mungkin bisa melihat tudak sedikit jurus untuk digunakan seumur hidup.

Dia merasa sedikit menyesal dengan tindakan nya.

Waktu itu dia mendengar suara peluit. Dia menoleh melihat di belakangnya di belokan pelan-pelan keluar seorang perempuan berbaju merah muda.

Kepala perempuan itu ditutup kantung merah muda, memperlihatkan sepasang mata jernih.

“Siapa?” Lu Tan membentak dengan aneh.

Jika bisa melihat wajahnya, dia bisa mengenali kalau orang itu adalah Tokko Hong. Sekarang Lu Tan tidak tahu kalau dia adalah Hen-lo-sat, pembunuh paling lihai dan rahasia dari keluarga Lamkiong..

Suara peluit terdengar semakin cepat. Hen-lo-sat segera datang. Sepasang golok keluar dari sarungnya. Pedang Lu Tan juga dikeluarkan dari sarungnya dan menyerang, sepasang golok Hen- lo-sat sudah berada di atas pedang.

Golok dan pedang saling beradu mengeluarkan dentingan yang dasyat. Bunga-bunga api terus terpercik keluar. Lu Tan merasa tenaga dalam lawan sangat besar mengalir melalui pedang, menggetarkan tangan kanannya hingga jadi mati rasa.

Sewaktu dia ingin menarik pedangnya, sepasang golok Hen-lo- sat berputar dan menarik, membuat pedangnya terlepas dan melayang terbang menjauh. Dengan pegangan goloknya dia menukul dada Lu Tan membuat tubuhnya terbang melayang. Saat itu Ciu-ci Lojin keluar dari balik semak-semak menyambut pedang yang terbang mela yang kemudian berputar ke belakang menyambut tubuh Lu Tan yang terbang datang. Dia menotok 13 jalan darah di punggungnya.

156-156-156

Tiong Toa-sianseng mulai menyerang.

Tenaga dalam Coat-suthay semakin melemah. Dinding pertahanan pedang mulai terlihat celah. Ingin terus bertahan bukan hal yang mudah. Tapi Tiong Toa-sianseng bisa melihat celah-celah itu dan segera mengambil kesempatan ini.

17 jurus sekaligus dikeluarkan. Setiap jurus menyerang celah ini. Celahnya semakin membesar, akhirnya hancur. Tiong Toa-

sianseng masuk dan membentak:

“Lepaskan pedang!” Dia menggores perge-langan tangan kanan Coat-suthay.

Tangan kanan Coat-suthay tidak melepaskan pedangnya, malah membalikkan pergelangan untuk menahan pedang yang datang. Jika dia melepaskan pedang, dia bisa menghindari pedang, tapi karena dia tidak melepaskan pedang jadi tidak bisa menghindari pedang yang datang.

Pedang menggores pergelangan tangannya sepanjang 3 inchi, hawa pedang masuk. 5 jari Coat-suthay terpaksa jadi longgar dan pedang akhirnya terjatuh.

Wajah Coat-suthay berubah. Dia tidak bergerak. Tiong Toa- sianseng tidak menyerang, dia mundur 2 meter dan memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

Coat-suthay melotot kepadanya. Sewaktu dia ingin mengatakan sesuatu, Cu Kun-cau sudah berteriak:

“Yang menang adalah Tiong Toa-sianseng!”

Fu Hiong-kun lari ke sisi Coat-suthay dan bertanya dengan cemas; “Supek-bo!” “Luka luar hanya sedikit, tidak apa-apa!” Coat-suthay mengacuhkan tangan Fu Hiong-kun yang ingin memapahnya.

Lo-taikun datang ke sisi Tiong Toa-sianseng:

“Selamat Tiong-sianseng, nama Bu-lim-te-it-kiam (Pesilat pedang nomor 1) dari sekarang sampai 10 tahun kemudian akan menjadi milik Tiong Toa-sianseng!”

“Lo-taikun bicara terlalu sungkan!” Tiong Toa-sianseng berkata dengan tidak semangat.

“Menurut aturan keluarga Lamkiong, kami sudah menyiapkan sebilah pedang emas. Harap Tiong Toa-sianseng menerimanya!” Kata Lo-taikun.

4 pelayan segera membuka kain sutra yang menutup di atas meja. Di bawahnya ada sebuah kotak mewah. Di dalam sana ada sebuah pedang kecil terbuat dari emas. Di atas pedang ada ukiran huruf 'Thian-sia-te-it-kiam' 5 huruf Han-ji.

Selain Coat-suthay dan Fu Hiong-kun, semua orang tepuk tangan.

Dalam suara tepuk tangan yang meriah, Cia Soh-ciu membawa kotak itu ke depan Lo-taikun:

“Harap Lo-taikun menyerahkan pedang kepada Bu-lim-te-it- kiam!”

Lo-taikun belum menerima, Tiong Toa-sianseng segera menggelengkan kepala:

“Marga Tiong seumur hidup tidak suka dengan nama dan keuntungan. Kali ini datang kemari pun hanya ingin berunding ilmu pedang. Bu-lim-te-it-kiam atau apa pun, aku tidak tertarik. Lebih baik pedang emas ini tetap ada di keluarga Lamkiong untuk pemenang rapat ilmu pedang berikutnya!”

“Tiong Toa-sianseng terlalu sungkan!” Waktu itu terdengar tawa:

“Dia tidak mau menerimanya, berikan saja kepadaku!” Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng melihat ke sumber suara. Terlihat bayangan seseorang terbang. Dia terbang ke arah Cia Soh- ciu. Tiong Toa-siansengn dan Lo-taikun masing-masing menyerangnya.

Orang ini berambut dan berjanggut putih, tubuhnya kecil, tapi kedua tangannya sangat panjang, mulutnya lancip, pipi tirus. Benar-benar seperti seekor kera. Dialah Wan-tianglo.

Di tengah-tengah udara tapi sekali bersalto sudah berada di bawah. Kedua tangannya sama-sama keluar untuk menyambut serangan Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng.

4 telapak beradu, tidak ada suara yang keluar. Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng tergetar mundur selangkah. Wan-tianglo tidak peduli pada mereka. Tubuhnya berputar, tangan kiri mengambil pedang emas kecil itu. Walaupun Cia Soh-ciu melihat semua itu tapi dia sama sekali tidak bisa menghindar.

Su Yan-hong segera berkata:

“Siapa yang mempunyai ilmu silat begitu lihai?” “Dia adalah Wan-tianglo!” Siau Cu tertawa kecut. Bersamaan waktu Tiong Toa-sianseng berkata: “Ternyata kau!”

Wan-tianglo menatapnya:

“Apakah kau pantas menjadi Bu-lim-te-it-kiam?” Kemudian dia bertanya kepada Lo-tai-kun, “nenek tua ini dengan alasan apa harus memberi dia Bu-lim-te-it-kiam?”

“Di luar gunung masih ada gunung yang lebih tinggi lagi. Di luar manusia masih ada manusia yang lebih tinggi ilmu silatnya. Aku hanya mempunyai ilmu silat sedemikian rupa, mana berani disebut sebagai Thian-sia-te-it-kiam?”

“Ucapanmu lumayan!” Dia bertanya kepada Lo-taikun, “bagaimana denganmu?”

Dengan santai Lo-taikun menjawab: “Pertansingan ilmu pedang di Pek-hoa-couw bukan pertama kalinya!”

“Ternyata rapat Pek-hoa-couw!” Tiba-tiba Wan-tianglo merasa senang, “kalian berunding ilmu pedang dengan cara apa? Menggunakan tangan atau mulut?”

“Yang pasti dengan pedang!”

“Itu lebih baik!” kata Wan-tianglo dengan sangat senang, “sudah beberapa hari aku tidak bertarung. Sekarang kesempatan yang bagus, aku ingin bertarung dengan Bu-lim-te-it-kiam!”

Dia segera menunjuk Tiong Toa-sianseng dengan pedang emas kecil itu.

“Maaf, lebih baik setelah 10 tahun...”

“Mengapa harus menunggu 10 tahun lagi?” Wan-tianglo menggelengkan kepala, “walaupun aku bisa hidup sampai 10 tahun lagi, tapi aku tidak sabar menunggunya!”

“Tapi pertandingan ilmu pedang kali ini sudah berakhir!” Kata Lo-taikun.

“Aku belum bertarung tapi sudah berakhir, jelas-jelas kalian tidak memberiku kesempatan!” Dia memutar pedang kecil itu dan bertanya lagi kepada Lo-taikun, “kau benar-benar tidak menganggap keberadaanku?”

“Aku tidak berani!” Jawab Lo-taikun.

“Kalau begitu, jangan di sana. Mari kita bermain-main beberapa jurus!” Kata Wan-tianglo pada Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala belum menjawab, Lo-taikun sudah menyela:

“Wan-tianglo, bila Tiong Toa-sianseng sudah menolaknya untuk apa kau masih terus memaksa?”

“Kau banyak omong, apakah karena tertarik bertarung denganku?” Tanya Wan-tianglo. Lo-taikun tertawa kecut dan menggelengkan kepala. Sifat Wan- tianglo seperti apa, dia sudah tahu sangat jelas.

“Kau adalah Bu-lim-te-it-kiam, pasti tidak ingin bertarung denganku!” Kata Wan-tianglo sambil melotot kepada Tiong Toa- sianseng.

Tiong Toa-sianseng hanya tertawa. Wan-tianglo marah: “Aku ingin bertarung, kau tidak bisa menolaknya!”

Setelah itu pedang segera melayang menepis pada Tiong Toa- sianseng. Serangan ini sangat cepat. Walaupun Tiong Toa-sianseng bergerak cepat dan lincah, tapi sudut baju tetap tertepis oleh pedang kecil itu.

“Apa maksudmu!” Seru Tiong Toa-sianseng.

“Kau boleh tidak membalasnya!” Wan-tianglo tertawa, “kalau begitu, aku akan membeset bajumu selembar demi selembar dan aku ingin lihat kau yang menjadi Thian-sia-te-it-kiam dengan cara apa menghadapi semua pesilat di dunia ini!”

Sambil bicara pedang emas di tangannya terus menyerang Tiong Toa-sianseng. Dari pelan sampai cepat, sampai selesai bicara 12 jurus sudah dikeluarkan, sekali lagi baju Tiong Toa-sianseng tertepis.

Akhirnya pedang Tiong Toa-sianseng dikeluarkan dari sarungnya:

“Wan-tianglo, jangan terlalu melecehkan!”

“Kalau aku ingin menghinamu, apa yang akan kau lakukan?” Wan-tianglo terus tertawa.

“Terpaksa aku akan membuatmu marah!” Tiong Toa-sianseng mulai mengeluarkan pedang untuk menahan serangan pedang emas dari Wan-tianglo.

Wan-tianglo malah terlihat senang. Dengan tubuh yang berguling-guling dia menyerang Tiong Toa-sianseng dari semua penjuru. Pedang Tiong Toa-sianseng terus bergerak untuk melilit cahaya emas yang datang menyerangnya. Caranya berbeda dengan cara dia saat menghadapi Coat-suthay.

Coat-suthay tertawa:

“Nasib Tiong Toa-sianseng tidak begitu baik, baru mendapat kehormatan menjadi Thian-sia-te-it-kiam sudah bertemu dengan Wan-tianglo!”

“Apakah Supek-bo kenal dengan Wan-tianglo?” Tanya Fu Hiong- kun terkejut.

“Orang aneh itu 10-20 tahun yang lalu sudah malang melintang di dunia persilatan. Dia sudah kecanduan berlatih ilmu silat, paling senang mengajak orang bertarung. Dia sangat terkenal sebagai orang yang membuat repot. Dia sudah mundur dari dunia persilatan tapi tidak disangka hari ini dia muncul di sini!”

“Melihat jurusnya seharusnya punya ilmu silat yang lumayan tapi dia menyerang terus menerus. Untung Tiong-cianpwee bisa dengan menyerang untuk bertahan, kalau tidak, dia akan kalah!”

“Tiong Toa-sianseng melakukan cara seperti itu karena terpaksa!” Jelas Coat-suthay.

“Pertarungan antara aku dan Tiong Toa-sianseng sudah menghabiskan banyak tenaga dalam. Jika dengan posisi bertahan untuk menyerang, dia tidak akan kuat. Sekarang dia berharap bisa dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini, bisa dengan cepat mengalahkan Wan-tianglo!”

“Maksud Supek-bo, dalam pertarungan ini Tiong-cianpwee pasti akan kalah?”

Coat-suthay mengangguk:

“Kalau aku salah menilai, waktu yang sudah kulewati setengah abad akan sia-sia!”

Su Yan-hong mulai melihat ada yang tidak beres. Dia segera bertanya kepada Siau Cu:

“Tenaga dalam Wan-tianglo seperti apa sebenarnya?” “Tenaga dalam orang itu sepertinya tidak ada habis-habisnya! Walaupun bertarung selama 3 hari 3 malam, dia masih bisa melayaninya!”

“Benar-benar repot!” Kata Su Yan-hong. “Bukankah tenaga dalam Guru juga kuat?”

“Masalahnya adalah dia baru saja selesai bertarung dengan Coat- suthay. Tenaga dalam yang dia habiskan, belum pulih kembali. Sekarang dengan jurus menyerang untuk berjaga.”

“Ini tidak adil!” Siau Cu tertawa kecut, “tapi sayang dalam hati orang aneh itu sama sekali tidak ada yang namanya perlakuan tidak adil!”

Su Yan-hong menarik nafas.

Lo-taikun mengerutkan alisnya. Dalam hati sangat berharap Wan-tianglo bisa membunuh Tiong Toa-sianseng agar di kemudian hari tidak perlu membuatnya repot lagi.

Pikiran seperti itu baru muncul, di antara Tiong Toa-sianseng dan Wan-tianglo sudah bisa terlihat siapa yang menang dan kalah. Terdengar suara baju robek, 2 sosok segera terpisah.

Tangan Wan-tianglo memegang rambut putih yang baru saja dia tepis dari kepala Tiong Toa-sianseng. Dia tertawa:

“Baik! Ilmu silat yang bagus, kau benar-benar pantas menjadi ketua Kun-lun!”

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala:

“Tidak perlu berkata seperti itu. Aku mengaku ilmu silatku tidak sebaik dirimu!”

Wan-tianglo juga menggelengkan kepala:

“Kaulah orang pertama yang bisa memotong rambutku!” “Tidak perlu dengan kata-kata ini untuk menutupi rasa malu

yang kurasakan!” Tiong Toa-sianseng membereskan bajunya: “Tadi jika kau menyerangku lebih kuat, pundak kiri dan kanan akan berlubang karena ditepis pedang emas itu, seumur hidup tidak akan bisa meng gunakan pedang lagi!”

Baju bagian pundak kiri dan kanannya memang terlihat 2 lubang besar.

Wan-tianglo segera mengacungkan jempolnya:

“Dengan posisimu sekarang ini, di depan banyak orang kau tidak ragu mengaku kalah. Kau sungguh seorang pesilat sejati. Aku kalah darimu untuk sikap gagahnu. Aku kagum dari lubuk hatiku!”

Dia menyerahkan kembali pedang emas itu: “Pedang emas ini kukembalikan. Bu-lim-te-it-kiam tetap menjadi milikmu!”

“Untuk apa Wan-tianglo bicara seperti itu?” Tiong Toa-sianseng membawa Liong-im-kiam kembali ke sisi Su Yan-hong.

Lo-taikun segera datang:

“Wan-tianglo benar-benar mempunyai ilmu silat bagus. Pedang emas ini milik Wan-tianglo!”

“Omong kosong! Kau kira aku belum pernah melihat emas dan peduli pada pedang emas ini? Tiong Toa-sianseng tidak mau, aku juga tidak tertarik, lebih baik kukembalikan kepadamu agar lain kali kau bisa menipu orang lagi!” Wan-tianglo melempar pedang emas itu kepada Lo-taikun.

Lo-taikun terpaksa menyambutnya.

Mata Wan-tianglo berputar. Dia membentak: “Keluar!”

Siau Cu ingin bersembunyi tapi sudah tidak sempat lagi. Wan- tianglo tertawa aneh:

“Begitu sampai aku sudah melihatmu. Di sekeliling Pek-hoa- couw sini adalah air, apakah kau bisa kabur begitu saja?”

“Lo-cianpwee!” Siau Cu terpaksa menyapa.

“Mengapa kau cemberut? Ada kesempatan melayaniku itu sudah menjadi nasibmu yang bagus!” Kata Wan-tianglo.

Siau Cu tertawa: “Dari pagi sampai malam tidak pernah berhenti, ditendang, dipukul hingga membuat wajahku bengkak, tangan sakit, pinggang sakit. Aku tidak sanggup menerima nasib baik ini!”

'“Bisa tahan banting baru bisa mempunyai masa depan yang cerah' Apakah kau tidak mengerti pepatah ini?” Wan-tianglo mulai marah.

“Lebih baik aku menjadi Siau Cu seperti sekarang ini!”

“Kau benar-benar tidak mempunyai cita-cita tinggi!” Wan- tianglo berjalan ke arahnya.

Sambil mundur Siau Cu berkata:

“Apa pun yang teijadi, aku menolak mela-yanimu!”

“Nanti jika berlatih aku tidak akan memukulmu keras-keras!” Wan-tianglo tertawa.

“Tidak mau!”

“Kalau begitu, serahkan Wan Fei-yang!” Tiba-tiba Wan-tianglo berkata seperti itu.

Semua terpaku. Apalagi Fu Hiong-kun. Dia hampir berteriak, langsung bertanya kepada Wan-tianglo mengenai keberadaan Wan Fei-yang.

Siau Cu merasa aneh:

“Apakah Wan-toako tidak ada di tempatmu?”

“Kalau ada untuk apa aku mencarinya ke sana kemari?” Wan- tianglo terlihat marah.

“Benarkah Wan-toako sudah pergi?” Tanya Siau Cu.

“Kapan aku pernah berbohong? Dilihat dari luar kalau Wan Fei- yang sangat lugu dan jujur, ternyata dia licik juga. Dia mendapatkan cara untuk mengobati dirinya sendiri, gerakannya lincah tapi dia tidak memberitahuku. Saat aku keluar, dia kabur!”

Siau Cu senang. Dia berkata:

“Thian mempunyai mata. Budha memang baik, akhirnya Wan- toako bisa lolos dari maut!” “Apa?” Wan-tianglo marah besar, “dia tinggal di tempatku tidak perlu mengkhawatirkan makan dan tempat. Masih ada aku yang setiap hari berlatih silat dengannya. Orang lain ingin pun tidak akan mempunyai kesempatan seperti itu. Sebenarnya dia berbahagia, bagaimana di sana ada bahaya.”

Melihat dia benar-benar marah, Siau Cu cepat-cepat berkata: “Aku salah bicara, Wan-toako berilmu tinggi. Dia adalah teman

baikmu, cepatlah cari dia kembali.”

Wan-tianglo tidak sebodoh yang Siau Cu kira. Setelah mendengar kata-kata Siau Cu tadi, dia segera tertawa:

“Berarti kau sama sekali tidak tahu keberadaannya. Tampaknya ingin mencari dia bukan hal mudah. Sementara ini lebih baik kau yang melayani aku!”

Siau Cu terkejut:

“Ilmu silatku tidak bagus...”

“Tidak bagus bisa berlatih sampai bagus!”

“Kalau berlatih seperti itu, sekalipun tidak mati akan menjadi cacat, harap Anda melepaskan-ku...”

“Benar-benar tidak tahu diri, tapi bukan kau yang bisa menentukan semuanya!” Dia segera menangkap Siau Cu.

Siau Cu ingin melawan tapi telapak Su Yan-hong sudah dijulurkan untuk menghadang serangan Wan-tianglo.

Laju tubuh Wan-tianglo berhenti. Dia melotot kepada Su Yan- hong:

“Siapa kau?”

“Murid Kun-lun, Su Yan-hong!”

***  

“Su Yan-hong? Tidak pernah kudengar nama ini!' ucap Wan- tianglo sambil mengerutkan alis. “Boanpwee orang tidak terkenal di dunia persilatan, Cianpwee pasti tidak pernah mendengarnya!”

“Kau sangat sopan terhadap orang tua, masa depanmu cerah.

Apakah kau ingin membela Siau Cu?”

“Hanya mewakili Siau Cu memikirkan perasaan. Sampai di sini saja, Cianpwee jangan membuatnya susah!”

“Apakah semua ini ada kebaikan untukmu?” “Tidak ada, kami...”

“Kalau tidak ada, atas dasar apa kau bicara seperti itu kepadaku?

Kau murid Kun-lun, Tiong Toa-sianseng siapamu? Gurumu?” “Benar!” Su Yan-hong tetap bersikap sangat sopan.

“Tidakkah kau melihat aku memukul gurumu hingga babak belur?”

“Aku hanya melihat adanya ketidak adilan. Cianpwee menang tapi tidak secara sempurna?”

“Apa? Kami satu lawan satu, mengapa tidak adil? Mengapa aku menang tidak sempurna?”

“Karena guruku sebelumnya sudah bertarung dengan Coat- suthay, tenaga dalamnya sudah terkuras habis dan tidak ada kesempatan memulihkan diri...”

“Karena ilmu silatnya terbatas, aku bisa menang, tidak perlu waktu untuk pulih...”

“Benarkah?” Tanya Su Yan-hong.

“Tadi aku sudah bertarung habis-habisan dengan gurumu. Jika kau sanggup, kau bisa mengambil kesempatan ini!”

“Aku memang ingin menerima jurus-jurusmu!” Su Yan-hong maju. Siau Cu ingin menghalangi pun sudah tidak sempat.

Su Yan-hong tertawa:

“Kalau Tetua menganggap remeh musuh, mungkin akan ada banyak hal yang tidak terduga bakal terjadi!” “Kalau begitu, aku ingin lihat apa yang akan terjadi!” Wan- tianglo tertawa. Dengan sikap malas-malasan dia mengeluarkan kepalan tangannya untuk memukul.

Setelah melihat kepalan datang, Su Yan-hong menyerang dengan 2 telapaknya. Semua itu ilmu andalan Kun-lun. walaupun kepalan tangan Wan-tianglo dijulurkan dengan malas-malasan juga seakan tidak bertenaga dan tidak terjadi perubahan aneh, benar-benar di luar dugaannya.

Tidak disangka sekali menyerang langsung berhasil. Dia segera memperagakan Thian-liong-pat-sut. Kepalan tangan dan telapak tangannya walau pun tidak setajam pedang tapi tetap bisa menghasilkan tenaga besar yang bisa membunuh siapa pun.

Wan-tianglo dengan tenang menghadapi:

“Ilmu pedang memang bisa dipakai dalam ilmu telapak dan ilmu kepalan tangan, tapi tetap saja harus melihat panjang dan kerasnya pedang. Jadi menyerang dan bertahan tetap tidak akan sama!”

Hati Su Yan-hong tergerak. Dia orang berbakat jadi dia segera mengerti. Serangan berikutnya juga berbeda.

“Anak pintar!” Wan-tianglo sangat senang. Pembicaraan di antara mereka pun semakin banyak.

Fu Hiong-kun melihatnya:

“Mengapa dia seperti sedang mengajar muridnya?”

Coat-suthay diam, dia hanya menatap Wan-tianglo tapi keringat mulai muncul di dahinya.

Fu Hiong-kun tidak memperhatikan karena dia tertarik pada pertarungan antara Wan-tianglo dan Su Yan-hong.

Terlihat Su Yan-hong bertarung sambil memikirkan ucapan Wan-tianglo. Gerakannya semakin aneh, dari lambat menjadi cepat, dari mudah menjadi rumit. Wan-tianglo merasakannya. Dia mulai merasa senang maka bicara pun semakin banyak. Tapi dari setiap kata dia melihat titik penting, tidak hanya Su Yan-hong, Tiong Toa- sianseng sampai gemetar dan hatinya bergetar. Ilmu silat Kun-lun terlihat begitu banyak celah. Pertama kalinya Tiong Toa-sianseng mendengar hal ini. Walaupun dia kalah oleh Wan-tianglo, tapi sampai saat ini dia menerima dalam hati.

Setelah menerima Thian-liong-pat-sut, tiba-tiba Wan-tianglo mempercepat gerakannya. Tiga jurus perubahan berada di balik serangan Su Yan-hong. Sepasang telapak tangannya tiba-tiba dijatuhkan ke kepala. Tenaga dalam mengalir.

Su Yan-hong merasa tubuhnya dibentur, dia berjongkok lalu berlutut.

Tiong Toa-sianseng berteriak terkejut:

“Taruhlah belas kasih!” Wan-tianglo tertawa aneh:

“Itu keberuntungan bukan bencana. Kalau bencana tidak akan bisa menghindar. Kepintaran seumur hidup tidak akan habis dipakai, yang bodoh tidak akan mendapat apa-apa!”

Tiong Toa-sianseng segera mengerti dan tertawa.

Su Ceng-cau tidak mengerti. Dia yang paling mengkhawatirkan keselamatan Su Yan-hong. Dia meloncat ke depan tapi dicegat oleh Tiong Toa-sian- seng. Walaupun tidak bisa menebaknya, dia tetap ber diri di sana untuk melihat perubahan yang terjadi.

Siapa pun tidak akan percaya tapi dia percaya kepada Tiong Toa- sianseng.

Coat-suthay menarik nafas:

“Orang itu memang aneh. Dia rela mengorban kan tenaga dalamnya untuk menembus jalan darah Jin dan Tok untuk murid orang lain!”

Bila jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, tenaga dalam pun akan terus mengalir dan tidak akan ada habis-habisnya. Pesilat tangguh yang sudah berlatih selama puluhan tahun bila tidak tahu jalannya, sampai mati pun belum tentu bisa membuka jalan darah dan Tok. Walaupun sudah tahu jalannya, butuh waktu selama beberapa puluh tahun baru bisa memindahkan tenaga untuk mendobrak kedua jalan darah ini.

Meminjam tenaga dalam orang lain adalah jalan pintas. Tapi ingin mencari orang seperti itu bukan hal mudah.

Orang itu selain tenaga dalamnya harus tinggi, dia harus mengetahui aliran tenaga dalam lawan, diberitahu baru bisa mencapai tujuan. Kalau tidak berhati-hati, masuk ke jalan darah yang salah, akibatnya sulit disuga.

Ilmu pedang Tiong Toa-sianseng sudah tinggi tapi tenaga dalamnya belum mencapai tahap seperti itu. Jalan darah Jin danTok-nya pun belum tembus, lebih-lebih tidak mungkin bisa menembus Jin dan Tok milik Su Yan-hong. Melihat Wan-tianglo melakukan tindakan ini, dia terkejut sekaligus senang. Diam-diam dia menjaga mereka, agar tidak ada seorang pun yang mengangggu hingga akhirnya akan gagal.

Su Yan-hong benar-benar mujur. Dia membiarkan semuanya berjalan dengan alami dengan tenaga dalam Wan-tianglo terkumpul dan menyatu, naik ke tingkat 12 dan berputar sekeliling. Akhirnya mengalir dengan deras membuka jalan darah Jin dan Tok.

Wan-tianglo menarik kembali tenaga dalamnya dan mundur 3 langkah. Dadanya naik dan turun. Setelah beberapa kali mengatur nafas, baru tenang.

Tenaga dalam Su Yan-hong berputar. Dia bersiul panjang, berdiri tegak, bajunya bergerak-gerak serasa ada angin walau sebenarnya tanpa angin, baru berhenti. Dia bersemangat tinggi seperti baru menjadi sosok lain.

Tiong Toa-sianseng sangat senang. Dia segera membentak: “Yan-hongng, cepat berterima kasih pada Wan-tianglo!”

Sewaktu Su Yan-hong akan berlutut, lengan baju Wan-tianglo terangkat. Dia melotot kepada Tiong Toa-sianseng:

“Aku bermain dengan milikku, jangan ikut campur!” Tiong Toa-sianseng terpaku. Kata Wan-tianglo: “Muridmu ini dari sananya berbakat berlatih silat. Kelak kau harus mengajarkan apa yang kau miliki. Jangan sia-siakan bakatnya!”

Tiong Toa-sianseng mengangguk:

“Itu sudah pasti!”

Wan-tianglo menatap Siau Cu:

“Hari ini kita bermain sampai di sini. Ayo, pergi!” “Kita?” Siau Cu bertanya dengan lemas.

“Kau sendiri jalan atau aku harus seperti anak elang menangkap ayam. Pilih sendiri!”

“Apakah tidak ada pilihan lain?”

“Ada! Dipukul baru digotong pergi dari sini!” Siau Cu diam-diam melihat Beng-cu. Beng-cu seperti sengaja menoleh ke tempat lain. Siau Cu mena rik nafas.

“Ayo, kita pergi!” Ajak Wan-tianglo.

“Tunggu!” Tiba-tiba Su Yan-hong menyela. “Apa maumu?” Wan- tianglo bertanya dengan aneh.

Su Yan-hong memberi hormat:

“Siau Cu tidak mau dan Boanpwee sudah mendapatkan budi dari Cianpwee. Biar Boanpwee yang melayani Cianpwee!”

Wan-tianglo terpaku. Siau Cu segera berteriak: “Apakah kau tahu kalau orang aneh ini biasanya selalu menyiksa orang?”

“Aku percaya aku akan kuat bertahan!” Ucap Su Yan-hong. Siau Cu menggelengkan kepala:

“Aku tahu kau setia kawan...”

“Aku melihat banyak hal yang sudah menung gumu membereskannya!”

Siau Cu mengangguk. Wan-tianglo seperti mengerti. Dia tertawa: “Tidak disangka orang seperti kau bisa mempunyai teman seperti dia!”

Siau Cu ingin mengatakan sesuatu. Wan-tianglo bertanya lagi: “Benarkah masih banyak hal yang harus kau kerjakan?” “Tentu saja. Kalau tidak aku tidak akan kabur dari tempatmu!”

“Kau kabur bukan sekarang saja, apakah masalah-masalahmu belum selesai?”

“Mana mungkin secepat itu bisa dibereskan?”

“Kau hanya mempunyai ilmu silat kucing kaki tiga, pasti masalahmu tidak akan mudah diberes kan!” Wan-tianglo tertawa aneh.

Siau Cu terpaku. Kata Su Yan-hong:

“Cianpwee!”

“Tidak perlu banyak bicara. Aku tidak akan melepaskan Siau Cu, aku paling tidak senang dengan murid orang lain!”

“Aku sudah menjadi muridnya!” Tanggap Siau Cu.

“Apa?” Wan-tianglo segera menampar Siau Cu hingga Siau Cu terpelanting jauh.

Sebenarnya gerakan Siau Cu tidak lambat dan dia bisa menahannya tapi gerakan Wan-tianglo terlalu kuat.

“Kapan kau meminta ijin kepadaku?”

Siau Cu tertawa kecut. Wan-tianglo marah kepada Tiong Toa- sianseng:

“Kau sudah mempunyai murid baik seperti Su Yan-hong, mengapa masih merebut Siau Cu dari ku?”

Tiong-sianseng hanya bisa tertawa kecut. Wan-tianglo berkata kepada Su Yan-hong:

“Walaupun kau baik, tapi kau tidak sesuai dengan seleraku. Dilihat dari sudut mana pun Siau Cu lebih nyaman dibandingkan denganmu. Dia bisa bertahan saat dipukul, selalu banyak bicara, ada dia di sisiku, aku tidak akan merasa kesepian!” “Siapa bilang aku banyak bicara?”

“Hari ini aku bicara sampai di sini saja. Ayo kita pergi!” Wan- tianglo mencengkeram pundak Siau Cu. Semua berlangsung dengan tiba-tiba dan cepat.

Siau Cu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Su Yan-hong melihat semua itu dan berkata:

“Maaf, aku tidak bisa membantu!” Siau Cu menggelengkan kepala:

“Ucapan sudah keluar, berkelahi pun sudah tapi kayu bakar tua ini tetap tidak mau kau layani. Aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

“Apa kayu bakar tua?” Wan-tianglo melotot kepada Siau Cu. “Apakah kau tidak merasa tua?” Siau Cu balik bertanya. “Aku tidak pernah mengaku sudah tua!”

“Kalau begitu, apakah kau akan mengaku kurus seperti kayu bakar? Kalau disambung bukan kah akan disebut kayu bakar yang sudah tua?” Tanya Siau Cu.

“Sembarangan bicara!” Wan-tianglo mendorong Siau Cu keluar. Akhirnya Beng-cu meloncat keluar:

“Kau, Wan-tianglo, mengapa tidak tahu aturan? Orang tidak mau pergi, kau memaksanya!”

Siau Cu merasa senang. Wan-tianglo melotot: “Gadis ingusan, kau tahu apa?”

Sewaktu Beng-cu siap berdebat, Lo-taikun menghadang di depannya.

“Dia masih anak-anak, tidak mengerti apa-apa. Harap Cianpwee jangan marah!”

“Siapa yang marah?” Wan-tianglo segera men cengkeram Siau Cu dan lari seperti terbang pergi dari sana.

Semua masih terpaku melihat kepergian mereka tiba-tiba mereka terkejut karena suara tawa Coat-suthay menggema. Coat-suthay tertawa dan berteriak:

“Sangat memuaskan!” Dia segera roboh. Keringat dengan butiran besar menetes. Wajahnya segera berubah menjadi abu dan gelap.

“Supek-bo, ada apa denganmu?”

Coat-suthay berusaha berdiri. Dia tertawa lagi. Tiong Toa- sianseng dan Su Yan-hong segera menghampirinya. Kata Tiong Toa-sianseng:

“Ada apa sehinnga Suthay merasa ingin tertawa?”

“Pertama, aku menertawakanmu yang baru mendapat julukan Thian-sia-te-it-kiam langsung dikalahkan oleh Wan-tianglo!” Suara Coat-suthay berubah serak.

Tiong Toa-sianseng dengan santai menjawab:

“Bertarung pedang atau ilmu silat pasti ada yang kalah dan menang. Itu adalah hal biasa, aku tidak akan menyimpannya di dalam hati!”

Coat-suthay tertawa:

“Kalau kau tidak menyimpannya di dalam hati, mengapa kau mengoleskan racun di pedang! Apa yang lebih mudah lagi dibandingkan mengoleskan racun!”

“Mengoleskan racun?”

“Racun yang sangat ganas. Kalau bukan karena tenaga dalamku sudah dipecahkan oleh hawa pedang, hingga tidak bisa terkumpul lagi, memaksa keluar racun bukan hal sulit!” Coat-suthay mengangkat tangan kanannya. Luka gores karena pedang Tiong Toa-sianseng terlihat sepanjang 3 inchi dan kondisinya sudah berubah menjadi ungu kehitaman.

Coat-suthay tertawa lagi. Dari 7 indranya mengeluarkan darah.

Tawanya berhenti. Dan dia menghembuskan nafas terakhirnya. “Mengapa bisa seperti ini!” Tiong Toa-sian-seng terkejut. Dia

segera merasa semua sorot mata orang melihatnya. Tidak terkecuali Fu Hiong-kun. Dia mencoba nadi Coat-suthay, melihat pedang Liong-im-kiam yang ada di tangan Tiong Toa- sianseng.

“Nona Fu sangat mengenal obat-obatan, coba lihat pedangku!” Suaranya terputus-putus. Dia melayangkan tangannya. Di bawah sinar matahari, terlihat ujung pedang hingga punggung pedang memancarkan warna hijau muda.

Orang seperti dia yang pemah mempunyai pengalaman melihat banyak hal, tahu kalau itu adalah bekas noda racun.

“Racun! Mengapa di pedang bisa ada racun?”

Fu Hiong-kun melihat di bawah sinar matahari. Kiang Hong-sim tertawa dingin:

“Harus ditanya kepada Tiong-cianpwee apa yang telah terjadi?” “Marga Tiong seumur hidup belum pernah menggunakan racun

untuk mencelakakan orang!” Bela Tiong Toa-sianseng.

“Semua hal pasti akan ada pertama kalinya!” Jawab Cu Kun-cau.

Tiong Toa-sianseng masih akan bicara, Fu Hiong-kun bertanya dengan aneh:

“Mengapa bisa racun ini?”

“Racun apa?” Tanya Su Yan-hong. “Pi-Iu-cun!”

“Itu nama daun teh!”

“Bentuk racun ini dengan daun teh hampir sama karena itu diberi nama sama seperti itu!”

“Aku tidak pernah mendengarnya, maafkan aku yang tidak tahu apa-apa!”

“Sebenarnya racun ini hampir menghilang dari peredaran. Aku hanya pernah melihatnya di kolam bernama Han-tan yang ada di belakang Bu-tong-san!”

“Bu-tong-san?” Hati Su Yan-hong segera bergerak. “Kemarin bukankah Hou-ya yang memberikan Liong-im-kiam kepada Lu Tan?” Tanya Lo-taikun.

'Maksud Lo-taikun...

Su Yan-hong mengerutkan alisnya.

Lo-taikun tidak menjawab. Dia malah bertanya lagi:

“Selain Siau Cu, apakah Hou-ya pernah meminjamkan pedang ini kepada orang lain?”

“Tidak pernah!”

“Tidak perlu dibahas lagi, pasti Lu Tan yang mengoleskan racun itu!” Ucap Cu Kun-cau.

Su Yan-hong malah membela Lu Tan:

“Lu Tan bukan orang seperti itu!”

“Kemarin sikap Coat-suthay kepada Lu Tan begitu buruk, pasti dia dendam dan meminjam tangan Tiong Toa-sianseng untuk membalas dendam, apa anehnya?” Cu Kun-cau marah.

“Sebelum memperoleh bukti, harap semua tenang!” Kata Lo- taikun.

“Sekarang di mana Lu Tan?” Tanya Cu Kun- cau.

“Menurut Siau Cu, dia ada di kamarnya!” Jelas Su Yan-hong. Cu Kun-cau tertawa dingin:

“Pertarungan antara Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay sangat seru, orang yang belajar ilmu pedang tidak akan melewatkan kesempatan ini.”

Fu Hiong-kun menyela:

“Sebelum kemari dia bertemu dengan Supek-bo. Mereka bertengkar mulut lagi...”

“Kebencian yang baru dan dendam lama. Kalau dia tidak mengoleskan racun pada pedang malah terlihat aneh!” Kata Cu Kun-cau. Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong masih ingin membela Lu Tan.

Lo-taikun sudah berkata:

“Kalau Lu Tan masih berada di keluarga Lamkiong, kita bisa mencarinya untuk ditanya langsung padanya.”

“Semoga dia masih berada di keluarga Lamkiong. Tapi menurutku, dia tidak sebodoh itu!” Kata Cu Kun-cau dengan dingin.

Lu Tan tidak berada di kamarnya, sampai barang bawaannya pun tidak ada. Ini semua sesuai rencana busuk, Ciu-ci Lojin sudah terpikirkan akan hal ini.

Apalagi Lo-taikun tahu apa yang harus dia lakukan, dia berpesan kepada orang-orang keluarga Lamkiong untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan.

Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong tidak berpangku tangan begitu saja. Mereka berpisah mencari dan saling berjanji bila bertemu dengan Lu Tan akan dibawa kembali.

Fu Fliong-kun tidak percaya kalau Lu Tan adalah orang kerdil dan keji, tapi semua sudah terjadi. Dia sendiri pun tidak bisa menjelaskan hal ini. Melihat semua sudah bubar, dia segera melihat peti mati yang berisi jenazah Coat-suthay yang meninggalkan keluarga Lamkiong kembali ke Heng-san.

Akhirnya perundingan ilmu pedang di Pek-hoa-couw berakhir seperti ini, semua menyayangkannya. Hanya beberapa orang keluarga Lamkiong tidak terkecuali apalagi Lo-taikun.

Selain Kiang Hong-sim, siapa sebenarnya Lo-taikun, orang- orang keluarga Lamkiong tidak tahu.

Hingga sore, orang-orang yang dikirim untuk mencari Lu Tan sudah kembali tapi keberadaan Lu Tan tidak ditemukan. Sedangkan mayat Lamkiong Po berhasil ditemukan.

Sebenarnya maksud Lo-taikun ingin mereka menemukan mayat dan dibawa kembali. Mayat di atur diletakkan di sebuah kuil tua. Selain orang baru dari keluarga Lamkiong, tidak semua tahu kuil ini. Melihat mayat Lamkiong Po, Lo-taikun pura-pura terpukul.

Pastinya yang terlihat paling sedih adalah Bwe Au-siang.

Dia berlari ke depan mayat, ingin menangis. Tapi belum sempat menangis dia sudah pingsan. Beng-cu dan Tong Goat-go cepat-cepat memapahnya.

Lo-taikun segera mendekat. Dengan telapak tangannya dia menekan punggung Bwe Au-siang. Tenaga dalamnya mengalir masuk.

Bwe Au-siang bergetar, dia tersadar. Melihat mayat Lamkiong Po, melihat Lo-taikun, bibirnya terus bergetar, tidak bisa bicara.

“Menantu keluarga Lamkiong kapan berubah menjadi begitu lemah?” Kata-kata Lo-taikun terucap keluar, air matanya juga menetes. Akhirnya Bwe Au- siang tidak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya.

Lama, hati semua baru tenang. Lo-taikun menghapus air matanya dan berpesan:

“Buka baju Po-ji, aku ingin lihat dengan jelas bajunya!”

Luka terlihat berada di jantung. Masih ada sepotong ujung pedang yang tersisa. Dengan ujung tongkatnya Lo-taikun mengeluarkan ujung pedang: “Apakah dia?”

“Siapa?”

“Ini adalah pedang yang dipakai murid Bu-tong-pai. yang datang kemari hanya murid Bu-tong, bernama Lu Tan!”

“Mengapa dia?” Bwe Au-siang merasa aneh. “Mengapa tidak boleh dia?” Lo-taikun balik bertanya.

“Bu-tong-pai adalah perkumpulan besar dan terkenal!” Jelas Bwe Au-siang.

Lo-taikun belum sempat menjawab, Kiang Hong-sim sudah berteriak:

“Di dalam bajunya terselip sepucuk surat!” “Bawa kemari!” Perintah Lo-taikun. Melihat huruf yang ada di surat, Bwe Au-siang segera berkata: “Itu tulisan suamiku...”

“Coba kau baca!” Lo-taikun memberikan surat itu kepada Bwe Au-siang.

Dengan kedua tangannya yang gemetar Bwe Au-siang menerima surat itu.

“Aku tidak kenal orang ini, dia sangat licik dan kelihatannya dia sudah siap. Aku harus terus mencarinya. Bila terjadi sesuatu bisa bertanya kepada Lu Tan!”

Setelah Bwe Au-siang selesai membaca,, dia benar-benar marah: “Ternyata benar dia!”

“Pantas dia tidak datang dalam perundingan ilmu pedang dan pergi tergesa-gesa.” Kiang Hong-sim sedang menghasut.

“Lu Tan, aku pasti akan mencarimu sampai menemukamnu. Hutang darah harus dibayar dengan darah!” Bwe Au-siang marah.

“Bukan hanya mencari Lu Tan, kalian ingin keluarga Lamkiong tidak mempunyai keturunan, tidak akan ada anak cucu. Walaupun keluarga Lamkiong mati semua, tetap akan meminta keadilan kepada kalian!” Lo-taikun marah.

“Lo-taikun, apa yang telah terjadi?”

“Aku tidak perlu menutupi lagi kepada kalian lagi! Pek-hoa-couw diadakan untuk berunding ilmu pedang, berawal dari keluarga Lamkiong. keluarga Lamkiong bisa mengalahkan semua orang dan berdiri di baris paling depan. Tapi karena itu pula malah membuat semua perkumpulan iri. Walau pun di luar terlihat sungkan tapi sebenarnya mereka mulai menentang keluarga Lamkiong!”

Dengan aneh Beng-cu bertanya:

“Mengapa aku belum pernah mendengar semua itu?”

“Itulah kelicikan mereka. Tapi orang-orang keluarga Lamkiong tidak pernah memperhatikan semua ini, sampai-sampai menganggap mereka teman baik. Setiap kali bertarung secara persahabatan selalu terjadi musibah, sampai hari ini!”

'Aku tidak mengerti!' Ini ucapan dari dalam hati Beng-cu, Tong Goat-go, Bwe Au-siang pun berkata seperti itu “Kau tahu kalau sampai saat ini tidak ada yang membantah terhadap ilmu silat semua perkumpulan. Ayahmu menguasainya dan bisa menggunakannya, bisa dikatakan tidak pernah ada yang bisa seperti dia!”

“Semua berkata seperti itu, belakangan ayali ke mana?” Tanya Beng-cu.

“Kalian ikut aku!” Lo-taikun membawa tongkat kepala naga. “Kemana?” Beng-cu bertanya.

“Kuburan keluarga Lamkiong!” Lo-taikun tiba-tiba menjadi tua.