-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 11

Jilid 11

Su Ceng-cau belum menjawab, Siau Sam Kongcu sudah melemparkan pedang kepadanya dan berpesan:

“Apakah sudah ingat...” “Guru!” Su Ceng-cau berteriak.

Pelan-pelan Siau Sam Kongcu membalikkan tubuh dan bertanya: “Siapa di sana?”

Seorang yang berusia setengah baya, berkepala botak, memakai bakiak, dan berbaju seperti biasa yang mirip baju hweesio keluar dari semak-semak. Tangan kirinya memegang sebuah golok. Dia menancapkan golok ke bawah.

“Lian-lui-it-to-cian.” Laki-laki setengah baya berbahasa Han-ie.

Walaupun nadanya aneh, tapi masih bisa dimengerti. “Dari Jepang?” suara Siau Sam Kongcu sangat tenang. “Betui! Anda akan memberi petunjuk apa?”

“Sudah lama mendengar Siau Sam dari Hoa-san mempunyai ilmu andalan Toan-cang-kiam-hoat (Ilmu pedang pemutus hati), maka It-to-cian sengaja datang untuk mencobanya!”

Tiba-tiba Su Ceng-cau menyela:

“Apakah kau tahu orang yang belum mendapat ijin masuk ke Ling-ong-hu akan dipenggal kepalanya!”

It-to-cian seperti tidak mendengar. Dia melihat Siau Sam Kongcu terus dan berkata:

“Cabut pedangmu!” Dua tangannya segera mencabut golok keluar dari sarung.

Cahaya golok berkilau seperti petir. Siau Sam Kongcu memuji: “Golok yang bagus!”

Suara It-to-cian seperti petir membentak: “Cabut pedangmu!” Kaki kirinya bergerak, dia sudah siap mengayunkan golok untuk membunuh.

Akhirnya tangan kanan Siau Sam Kongcu diletakkan pada pegangan pedangnya. Tiba-dba ada suara yang membentak dengan keras:

“Diam!”

Keempat orang ini menoleh ke asal suara. Terlihat Ling-ong ditemani Su-ki-sat-jiu sedang datang tergesa-gesa. Sambil berteriak:

“Kita semua adalah orang sendiri, mengapa harus bertarung?

Kalau ada yang terluka, itu sama-sama tidak baik!”

Su Ceng-cau tergesa-gesa berlari dan menunjuk orang berbaju hijau:

“Ayali, orang itu..”

“Apakah kau tidak tahu siapa dia?” Ling-ong tertawa.

Orang berbaju hijau segera menurunkan kain hijau yang menutupi wajahnya. Wajahnya tampak masih muda. Begitu Su Ceng-cau melihatnya, dia segera berteriak:

“Kakak!”

Orang berbaju hijau tertawa terbahak-bahak. Dia adalah anak sulung Ling-ong, Cu Kun-cau.

“Baiklah! Begitu pulang kau sudah menghina adikmu!” Su Ceng- cau berteriak.

“Ilmu silatmu tidak bagus!” Cu Kun-cau melihat Siau Sam Kongcu, kemudian tertawa lagi.

Siau Sam Kongcu seperti tidak menaruh di dalam hati. Cu Kun- cau tertawa lagi:

“Aku sudah mengatakan, ilmu silat Jepang sangat ringkas, sangat praktis, tidak seperti ilmu silat di Tionggoan yang sangat rumit. Kepalan dan tendangannya tidak praktis!” “Sembarangan bicara!” Su Ceng-cau berkata, kemudian memanggil Siau Sam Kongcu, “Guru!”

“Sudahlah, tidak apa-apa!”

Ling-ong segera melihat Cu Kun-cau dan It- to-cian:

“Kalian baru pulang dan sudah menempuh perjalanan jarak jauh, lebih baik istirahat dulu. Nanti malam aku akan mengadakan jamuan makan malam untuk menyambut kalian!”

Cu Kun-cau menggelengkan kepala:

“Kami tidak lelah, tapi jika bukan waktunya, ya sudahlah!”

Dia seperti tidak sengaja melihat Siau Sam Kongcu. Siau Sam Kongcu merasa aneh mendengar kata-kata Cu Kun-cau, tapi dia tidak bertanya.

Setelah melihat Cu Kun-cau dan It-to-cian pergi, Su Ceng-cau menarik Siau Sam Kongcu ke sisi:

“Guru! Mengapa tidak menyerang mereka dan memberi pelajaran kepada mereka agar tidak berani sombong seperti itu!”

“Bukankah kakakmu berkata belum waktunya?” Siau Sam Kongcu menjawab malas-malasan seperti tidak tertarik.

131-131-131

Cu Kun-cau memang tidak beristirahat. Dia berputar masuk ke kamar perpustakaan. Waktu itu Ling-ong baru duduk di perpustakaan. Dia sedang melihat golok yang baru diberikan oleh It-to-cian.

“Bagaimana dengan golok ini?” melihat ayahnya tertarik pada golok ini. Dia sangat senang.

“Betul! Walaupun golok tidak dihias dengan mewah dan indah, tapi yakin ini adalah golok yang bagus!”

“Di Jepang, yang dipentingkan adalah penggunaannya. Hiasan itu nomor dua. Cara mereka mem buat golok lebih berteknik tinggi. Golok yang bagus bisa kita beli di manapun!” “Betulkah?” Ling-ong menaruh golok, “sudah lama mendengar di sana sangat terkenal dengan ilmu samurai. Samurai adalah salah satu ilmu silat yang terkenal. Tiga tahun kau di sana, aku percaya kau pasti sudah menguasai banyak kepandaian!”

“Itu sudah pasti!” Cu Kun-cau dengan sombong berkata, “bisa mengundang guruku kemari, itu adalah kepandaiartku!” berhenti sebentar, kemudian dia berkata lagi, “kaisar sekarang sangat berhati-hati dan takut-takutan, dia juga lemah dan sangat suka perempuan. Begitu Liu Kun terbunuh, keadaan semakin kacau. Ayah! Bila anda ingin menjadi kaisar, sekarang adalah kesempatan yang bagusi”

“Lancang kau!” Ling-ong terpaku, lalu membentak, “untung di sini adalah tempat kita, kau bisa sembarangan bicara! Kalau tidak, bila terdengar oleh kaisar, sembilan keturunan akan dihukum penggal!”

Cu Kun-cau malah tertawa:

“Ayah takut tidak punya kekuatan yang cukup. Guru sudah berjanji, dia bisa mewakili kita merekrut prajurit dan membeli kuda!”

“Dia bukan sebangsa dengan kita. Memiliki kebangsaan yang berbeda, pikirannya pasti tidak sama. Kun-cau, kau sama sekali tidak boleh mempunyai pikiran seperti ini!” Ling-ong marah.

“Ayah...” Cu Kun-cau masih ingin berkata tapi Ling-ong sudah membentak, “tidak perlu banyak bicara, aku sendiri bisa mengatur!”

Cu Kun-cau tahu sifat ayahnya, dia tidak bera ni lagi banyak bicara, diam-diam dia keluar. Walau demikian, dia tidak merasa kecewa.

Dia selalu menganggap itu hanyalah sifat luar Ling-ong tapi akhirnya Ling-ong akan bisa menerima usulannya.

Berada di Jepang selama 3 tahun, selain belajar ilmu silat, dia juga terpengaruh dengan sifat bangsa Jepang yang ekstrim. 132-132-132

Apa yang Ling-ong inginkan, tidak ada orang yang bisa menebak.

Di mulut dia mengatakan orang yang bukan bangsa sendiri pasti mempunyai pikiran yang berbeda, tapi dia sangat menghormati It- to-cian yang datang dari Jepang. Pada jamuan makan malam, selain mengundang Su-ki-sat-jiu, dia juga mengundang Siau Sam Kongcu untuk menemani para tamu.

Siau Sam Kongcu tetap bersikap tidak peduli, tapi Su-ki-sat-jiu sudah mulai tidak sabar. Mereka memakai alasan ingin menyuguhkan arak untuk menyatakan hormat, tapi sebenarnya sengaja ingin mempermalukan It-to-cian. Arak pernyataan hormat diberikan dengan tenaga dalam. It-to-cian menerima cangkir arak dengan baik, tidak hanya tidak mempermalukan dirinya malah dengan kesempatan ini membuat cangkir arak hancur di tangan Su- ki-sat-jiu. Su-ki-sat-jiu mundur dengan malu.

Siau Sam Kongcu tidak menuju ke sana untuk menyatakan hormat karena dengan posisinya, dia tidak akan melakukan apa- apa. It-to-cian juga tidak ke datang kepada Siau Sam Kongcu. Cu Kun-cau terus memanas-manasi Siau Sam Kongcu.

Siau Sam Kongcu sangat mengerti pikiran Cu Kun-cau, tapi dia tidak terpengaruh. Su-ki-sat-jiu dan Su Ceng-cau sangat mengharapkan Siau Sam Kongcu marah dan menepis kesombongan It-to-dan.

Dalam hati mereka, satu-satunya harapan mereka adalah Siau Sam Kongcu. Hanya dia yang bisa mengalahkan It-to-cian.

Sampai akhir jamuan, Siau Sam Kongcu tetap tidak bergerak. Su- ki-sat-jiu dan Su Ceng-cau merasa kecewa. Apalagi Cu Kun-cau. Tadinya dia ingin mengambil kesempatan ini agar It-to-cian bisa menun jukkan kehebatannya. Pertama, untuk mendirikan rasa ksatria. Kedua, agar bisa mendapatkan kepercayaan dan kegembiraan Ling-ong.

Melihat Siau Sam Kongcu terus menghindar, diam-diam dia berpikir: 'Mungkin Siau Sam Kongcu hanya sedemikian saja, dia tidak bisa melawan maka lebih memilih untuk diam.' Siau Sam Kongcu lama berjalan-jalan di belakang kebun, baru kemudian kembali ke kamarnya. Su Ceng-cau dan Su-ki-sat-jiu sudah menungu di sana. Melihat dia datang, mereka segera mengelilinginya.

Semua sesuai dugaan Siau Sam Kongcu, sampai apa yang mereka ingin katakan semua didengarkan olehnya. Tidak salah lagi, mereka berharap dia bisa memberi pelajaran kepada It-to-cian.

Kali ini adalah Su-ki-sat-jiu yang paling bersahabat semenjak Siau Sam Kongcu tinggal di Ling-ong-hu. Kepandaian Siau Sam Kongcu seperti apa, memang Su-ki-sat-jiu tidak pernah membicarakannya.

Walaupun dari luar mereka terlihat tidak terima, tapi di dalam hati mereka sangat jelas.

Mereka mengikuti Ling-ong sudah lama, keda tangan It-to-cian yang tiba-tiba membuat mereka kehilangan muka. Pikiran seperti itu sangat dimengerti oleh Siau Sam Kongcu.

“Guru, apakah kau tidak mendengar di meja perjamuan tadi, It- to-cian mengatakan ilmu silat Tionggoan hanya nama saja, dan bahwa ilmu silat Jepang tidak terkalahkan di dunia ini?” Su Ceng- cau terus mengorek. Sebenarnya dia tidak suka sikap sombong It- to-cian.

“Ilmu silat Jepang berasal dari Tionggoan, tapi karena cuaca dan keadaan yang tidak sama, setelah beberapa ratus tahun ilmu silatnya mengalami perubahan, sehingga ada sedikit perbedaan. Tinggi atau rendahnya suatu ilmu silat adalah turunan setiap orang, tidak bisa dikatakan ilmu silat mana yang tanpa lawan!” Siau Sam Kongcu tetap berkepala dingin.

“Semua orang sudah mendengar apa yang dikatakan It-to-cian!” Su Ceng-cau melihat Su-ki-sat-jiu.

Waktu Su-ki-sat-jiu ingin berkomentar, Siau Sam Kongcu sudah tertawa:

“Guru bukan tuli, mana mungkin tidak mendengar.” “Tapi kau sama sekali tidak marah?”

“Bangsa di pulau sana berpandangan kurang luas, apalagi mereka sangat percaya diri dan pandangannya ekstrim. Untuk apa kita bersikap seperti mereka?” Siau Sam Kongcu tetap malas- malasan berkata lagi, “lebih baik kita menahan diri untuk sementara. Apalagi dia adalah guru Siau-ongya, yang diundang pulang oleh Siau-ongya. Kalau terjadi sesuatu, apa yang harus kukatakan kepada Ong-ya!”

Su Ceng-cau melihat dia dengan terheran- heran:

“Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa guru berubah menjadi penakut?”

“Guru bukan penakut, hanya tidak mau membuat semua orang sulit! Apalagi rapat Pek-hoa-couw sudah dekat. Waktu guru di sini tidak lama lagi!”

“Rapat Pek-hoa-couw?” tanya Su Ceng-cau.

“Itu adalah rapat yang diselenggarakan oleh keluarga Lamkiong untuk meneliti ilmu pedang!”

“Kapan guru berangkat?” “Besok!”

“Aku tidak akan membiarkan guru pergi!”

“Undangan sudah dikirim oleh keluarga Lamkiong, mana mungkin guru tidak pergi?”

“Bagaimana dengan It-to-cian...”

“Kulihat dia tidak akan macam-macam! Waktu sudah malam!” Siau Sam Kongcu seperti menyuruh mereka keluar. Su-ki-sat-jiu terpaksa pamit pergi.

Su Ceng-cau berjalan lebih cepat dari mereka, dia pergi sambil marah, Su Ceng-cau berjalan tidak jauh, Su-ki-sat-jiu sudah mengejar dari belakang. Awalnya dia tidak memperhatikan, tapi tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan melotot kepada mereka:

“Kalian jangan membuatku marah!” Liu Hui-su tetap tertawa:

“Gurumu orang yang seperti apa, seharusnya kau lebih jelas daripada kami!”

“Apa maksudmu?”

“Tadi katanya dia khawatir akan menyulitkan Ong-ya.

Sebenarnya takut kami sulit bergaul dengan It-to-cian...” “Sekalian kalahkan dia dan usir dia kembali ke negaranya!”

“Siau-ongya pasti akan marah. Lihatlah sikap dia terhadap It-to- cian...”

“Untuk apa mengatakan semua ini padaku?”

“Kalau dugaanku tidak salah, gurumu pasti sudah menemukan cara. Dia punya cara lain untuk mengganjar It-to-cian!”

Su Ceng-cau melihat Su-ki-sat-jiu, lalu melihat kamar Siau Sam Kongcu. Akhirnya muncul tawa di wajahnya.

133-133-133

It-to-cian merasa tidak nyaman. Tadinya dia ingin setelah memberi pelajaran kepada Su-ki-sat-jiu, baru memberi pelajaran Siau Sam Kongcu, agar orang orang Ling-ong-hu tahu kelihaiannya, untuk membangun kewibawaan agar kelak mudah bertindak.

Tapi Siau Sam Kongcu tidak terpengaruh. Selain membuatnya tidak nyaman, dia juga harus menimbang ulang Siau Sam Kongcu. Dia menganggap Siau Sam Kongcu berpikiran sangat dalam dan dari awal sudah tahu setinggi apa ilmu silatnya dan apa tujuannya. Dia jelas-jelas tidak bisa mengalahkan dirinya. Tapi bertahan untuk tidak bertarung, dia malah mencari celah lain. Walaupun ilmu silat atau kepintarannya lebih tinggi dari pada orang lain, tapi dia baru datang. Dia tidak seperti Siau Sam Kongcu yang sudah mengenal lingkungan. Jika tidak hati-hati, akan teijadi masalah yang berat.

Walaupun dia tertidur, tapi perasaan dan reaksi dia lebih tajam dari orang biasa. Dalam keadaan begitu, semakin terlihat jelas. Waktu lempengan genting terbang masuk dari luar jendela, dia segera merasakannya, dia mencabut golok di tangan. Hanya dengan sekali tepisan dia sudah membuat lempengan genteng terbelah menjadi dua bagian. Tubuhnya berkelebat, dia segera keluar dari jendela.

Tampak olehnya bayangan orang melewati bunga-bunga di kebun dan naik ke dinding yang tinggi kemudian melambaikan tangan.

It-to-cian tertawa dingin. Tubuh bergerak, dia juga naik ke atas dinding mengejar bayangan orang itu. Dia mengandalkan teknik ilmu yang tinggi, kepercayaan diri yang tinggi, tubuh yang lincah, dan juga pengalamannya. Maka jebakan apapun sanggup dia hadapi.

Siapa lawannya, sedikit banyak sudah bisa ditebak. Memang semua sesuai dugaannya, orang itu adalah Siau Sam Kongcu.

Sampai di sebuah gunung kecil yang berjarak setengah li dengan Ling-ong-hu, Siau Sam Kongcu berhenti dan membalikkan tubuh, dia menunggu kedatangan It-to-cian.

It-to-cian datang, dia segera menancapkan golok ke bawah dan melihat Siau Sam Kongcu:

“Ternyata adalah kau!”

“Tuan begitu pintar, mana mungkin tidak dapat menebak?” “Kau juga orang yang pintar. Malam ini kau memancingku

kemari, apakah ingin mencari mati atau meminta ampun?”

“Tidak kedua-duanya!”

“Kalau begitu kau sudah memasang jebakan dan membawa berapa orang?” It-to-cian melihat. Dengan pengalamannya, dia tetap tidak melihat ada orang lain di sana. Selain itu, dari Cu Kun- cau dia mengetahui Siau Sam Kongcu bukan orang seperti itu.

“Di sini tidak ada jebakan, yang datang hanya aku sendiri!” Siau Sam Kongcu melihat ke langit dan berkata:

“Sebelum datang mencarimu, aku sudah menemui Ong-ya!” “Kalau begitu kau sudah tahu apa yang telah disampaikan Siau- ongya kepada Ong-ya, artinya aku yang akan menggantikan posisimu menjadi guru pedang!”

“Aku tahu!”

“Maka kau tidak terima, jadi ingin mencariku untuk bertarung?” “Aku mencari Ong-ya karena ingin mundur dari posisi guru

pedang!”

It-to-cian tertawa. Siau Sam Kongcu dengan tenang berkata: “Orang di dunia persilatan tidak bisa semau-nya sendiri. Aku

adalah orang dunia persilatan. Setelah mendapat undangan dari

keluarga Lamkiong, besok aku akan berangkat ke Pek-hoa-couw untuk melihat cara menggunakan ilmu pedang yang lebih bagus!”

It-to-cian menggelengkan kepala:

“Aku tahu kau sudah dalam posisi terjepit. Kalau masih berusaha bertarung, akan memalukan diri sendiri di depan banyak orang. Maka sekarang kau datang untuk membicarakan syarat, itu tidak masalah!” Kemudian dia tertawa dan berkata lagi, “Asalkan kau mau berlutut dan menyembahku tiga kali, aku akan membiarkanmu pergi dengan terhormat dan nyaman!”

“Maksudku kemari hanya ingin kau mengerti satu hal!” kata Siau Sam Kongcu dengan cuek.

“Aku sudah mengerti!”

“Ilmu silat dari Tionggoan bukan seperti yang kau pikirkan, hanya terlihat bagus dan tidak ada gunanya!”

“Siapapun bisa berkata seperti itu!” kata It-to-cian, “apakah betul kau mau bertarung denganku untuk menentukan siapa yang menang?”

“Kita bertarung persahabatan!”

“Kita bukan teman, hanya bertarung antara hidup dan mati baru bisa mengeluarkan semua ilmu yang kita miliki!” “Penentuan kalah atau menang tidak harus sampai mati baru bisa ditentukan!”

“Perbedaan yang terlalu jauh seringkah terjadi!” It-to-cian tertawa lepas:

“Tapi kau tenanglah. Jika kau mau berlutut dan meminta ampun, aku akan melepaskanmu!”

Siau Sam Kongcu melihat It-to-cian:

“Kata-katamu sudah terlalu jauh!”

Tangan It-to-cian sudah berada di pegangan golok, dia segera mencabut golok, mengangkatnya tinggi dan membentak:

“Cabut pedangmu!”

Akhirnya pedang Siau Sam Kongcu keluar dari sarung. Di bawah sinar bulan pedang patah mengeluarkan cahaya yang berkilau.

It-to-cian melihat pedang patah Siau Sam Kongcu, dia menggelengkan kepala:

“Ini bukan pedang yang bagus. Pedang yang bagus jarang bisa patah!”

“Memang ini bukan pedang yang bagus!” Dengan sombong It-to-cian berkata:

“Jika seseorang tidak memiliki pedang yang bagus, maka dia tidak pantas disebut pesilat tangguh. Bukankah kalian sering berkata, bila ingin melakukan hal-hal yang lebih baik sebelumnya harus mempunyai senjata yang lebih tajam!”

“Seharusnya demikian!”

“Apakah sulit mendapatkan pedang yang bagus di Tionggoan?” Siau Sam Kongcu belum menjawab, dia berkata lagi:

“Di Jepang, golok bagus seperti yang berada di tanganku ada banyak di mana-mana!”

“Betulkah?” Reaksi Siau Sam Kongcu biasa saja.

“Aku memberimu kesempatan untuk menyerang tiga kali dulu!” “Apakah di Jepang ada aturan seperti ini?” “Tidak ada...”

“Kalau tidak ada, untuk apa berlebihan?” Kemudian pedang patah Siau Sam Kongcu berbalik menunjuk It-to-cian. Gerakan ini membuat rumput hijau di sekitar mereka ikut bergerak. Pada waktu bersamaan, baju Siau Sam Kongcu bergerak tanpa ditiup angin.

It-to-cian mulai merasakan hawa dingin yang keluar dari pedang patah. Tawa di wajahnya segera membeku. Katanya, jika orang yang mempunyai ilmu tinggi sekali mengeluarkan tangannya, sudah bisa diketahui apakah dia mempunyai ilmu sungguhan atau tidak. It-to- cian adalah pesilat tangguh, pasti dia sudah tahu.

Siau Sam Kongcu sengaja memamerkan kekuatannya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil tawaran kesempatan yang diberikan It-to-cian, dia bisa dengan sekuat tenaga menyerang lebih dulu mengalahkan It-to-cian. Tapi dengan cara begitu, It-to-cian pasti tidak menerima kekalahan dengan tulus hati. Hanya dalam keadaan adil baru bisa membuat dia menerima kekalahan dengan tulus.

Siau Sam Kongcu mempunyai kepercayaan diri ini, sebab dalam hati dia sudah tahu It-to-cian sekuat apa.

Dua kaki It-to-cian mulai bergeser. Dia berputar mengelilingi Siau Sam Kongcu. Golok juga terus berputar. Dia sedang mencari sudut yang tepat. Dengan kecepatan tinggi melancarkan serangan pasti akan membuat dia menang.

Kaki Siau Sam Kongcu tidak bergeser. Pedang patah juga tidak berputar. Tubuhnya seperti menjadi batu.

Setelah satu kali berputar, It-to-cian masih belum mendapatkan celah yang dia inginkan. Tapi akhirnya golok keluar juga untuk menyerang. Dia menepis dari belakang Siau Sam Kongcu, di belakang kepala menepis dengan kecepatan tinggi.

Sekarang Siau Sam Kongcu baru bergerak, pedang menggurat tepat menjemput golok It-to-cian yang datang. Yang pasti serangan golok penuh perubahan sebanyak 13 kali, setiap perubahan cukup ganas untuk sanggup mencabut nyawa.

Pedang Siau Sam Kongcu ikut berputar dan berubah. Setiap serangan golok dijemput dengan baik. Perubahan golok sudah habis, tapi pedang masih belum habis perubahannya. Ujung pedang berputar juga menepis. It-to-cian merasakan tenaga yang keluar dari pedang. Dua tangan terus memegang pegangan golok, tubuhnya tidak sengaja terus naik.

Dia membentak dan menarik goloknya. Tapi golok sudah terkekang oleh tenaga dalam Siau Sam Kongcu. Golok tidak dapat dicabut, tubuh juga ikut terbawa mengikuti perubahan Siau Sam Kongcu.

Ilmu pedang Siau Sam Kongcu mengikuti tubuhnya terus berubah dan terus melilit golok It-to-cian. Tenaga dalam terus mengalir, melalui golok dan membentur tangan It-to-cian.

It-to-cian mulai merasakan dua tangannya mati rasa. Golok di tangan tidak sanggup dikuasai, akhirnya terlepas dari tangannya dan terbang ke atas udara.

Karena dia berada di tengah-tengah udara maka dia menekuk tubuhnya, siap menjemput golok yang yang terlepas. Tapi goloknya sudah dijemput oleh pedang Siau Sam Kongcu, kemudian dia melambaikan pedangnya. Dengan sangat tepat, golok dia dilemparkan masuk ke sarung golok yang berada di pinggang It-to- cian.

Perhitungan yang sangat tepat. Pedang Siau Sam Kongcu juga pada saat bersamaan masuk ke sarungnya. Siau Sam Kongcu turun dengan tenang.

It-to-cian ikut turun juga. Tadi dia sempat mempunyai perasaan yang salah. Dia mengira goloknya terbang datang untuk menepis nadi-nadi penting nya. Sampai dia mengetahui ternyata golok masuk ke dalam sarung, dia baru menarik nafas. Akhirnya mengerti bila Siau Sam Kongcu ingin membunuh dia, itu mudah baginya seperti membalikkan telapak tangan. Dia tetap menaruh tangan pada pegangan golok tapi tidak mencabutnya, hanya melihat Siau Sam Kongcu dengan bengis.

“Ilmu silat Tionggoan tidak mementingkan membunuh orang melainkan bagaimana menghentikan pembunuhan. Malam ini aku memberimu dua kata, 'Jin'(bersabar hati) dan 'Su'(memaafkan).” Setelah itu Siau Sam Kongcu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat.

Melihat bayangan tubuh Siau Sam Kongcu yang berjalan pergi, It-to-cian mengeluarkan sorot mata sadis. Kali ini dia kalah total. Untung kalah di tempat ini, kalau tidak mana mungkin dia bisa kembali lagi ke Ling-ong-hu.

134-134-134

Ling-ong sangat mengenal sifat Siau Sam Kongcu. Dia tidak memaksa Siau Sam Kongcu untuk tinggal, hanya membuat jamuan makan untuk mengantar dia pergi.

It-to-cian, Su-ki-sat-jiu, dan Cu Kun-cau juga datang, hanya Su Ceng-cau yang tidak terlihat dalam jamuan itu. Terhadap putri kesayangannya, Ling-ong tidak bisa berbuat apa-apa.

Siau Sam Kongcu tidak memperhatikan. Dia tahu Su Ceng-cau tidak ingin Siau Sam Kongcu keluar dari Ling-ong-hu, tapi dia tidak sanggup menahan gurunya. Karena Cu Kun-cau sangat tidak menghormati Siau Sam Kongcu, maka selain harus melihat ayahnya, dia juga harus melihat Siau Sam Kongcu yang kecewa. Di dalam hatinya mengira, karena Siau Sam Kongcu bukan lawan It- to-cian maka dia tetap tidak berani bertarung dan diam-diam mundur. Tapi begitu melihat sikap Siau Sam Kongcu yang tenang seperti tidak terjadi sesuatu, dia mulai merasa heran. Yang paling mengherankan adalah sikap It-to-cian. Ke-sombongannya tidak terlihat dan jarang berbicara.

Su-ki-sat-jiu terus mengawasi sikap It-to-cian. Walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi semalam tapi melihat sikap It- to-cian, sedikit banyak mereka bisa menebak. Setelah tahu tebakan mereka tidak salah, bahwa semalam Siau Sam Kongcu sudah mencari It-to-cian dan mengalahkan dia, mereka saling memandang dan tersenyum berarti.

It-to-cian melihatnya, dia marah tapi tidak berani menunjukkan kemarahannya, bukan karena dia mengerti kata pemberian Siau Sam Kongcu 'Jin', melainkan karena ilmu silatnya kalah dari orang lain.

Dia tidak menganggap itu adalah tebakan Su-ki-sat-jiu. Dia mengira Siau Sam Kongcu sudah meng umumkan kekalahannya pada orang lain. Yang pasti itu sudah mengganggu dia di Ling-ong- hu. Satu-satunya cara adalah mengajak tarung secara terbuka dan mengalahkan Siau Sam Kongcu.

Tapi bagi dia, opsi ini sama sekali tidak meyakinkan.

Selain makanan enak dan arak bagus, masih ada ratusan uang perak dan emas. Ling-ong tidak menahan Siau Sam Kongcu, tapi dia terus berpesan:

“Setelah masalah di Pek-hoa-couw selesai, jangan lupa kembali, karena Ling-ong-hu tidak bisa kekurangan dirimu!”

Siau Sam Kongcu terus-menerus menjawab: “Pasti! Pasti!”

“Ceng-cau memang seperti itu, kau jangan menaruh di hati!” kata Ling-ong sambil tertawa, “putriku ini memang membuatku kewalahan!”

“Apalagi aku yang menjadi gurunya, lebih-lebih tidak bisa mengurusnya!” Siau Sam Kongcu berjalan ke depan It-to-cian, “posisi guru pedang aku serahkan kepada tuan!”

It-to-cian tidak tahu harus menjawab apa. Siau Sam Kongcu berkata lagi:

“Di dalam Ling-ong-hu semua orang bisa belajar Thian-cang- kang dari Jepang. Itu karena tuan yang mengajarnya!”

Ini hanyalah kata-kata sungkan. Siau Sam Kongcu hanya berkata dan tidak ada maksud apa-apa, tapi terdengar oleh It-to-cian seperti Siau Sam Kongcu sedang menertawakan dia. Walaupun tidak marah pada waktu itu, tapi kebenciannya semakin bertambah.

135-135-135

Su-ki-sat-jiu terus mengantar Siau Sam Kongcu keluar Ling-ong- hu. Semenjak mengenal Siau Sam Kongcu, ini adalah pertama kalinya mereka merasa antusias.

“Kami sudah tahu Siau-heng tidak berpangku tangan!” kata Liu Hui-su dengan senang, “melihat sikap dia tadi, pastinya semalam dia sudah kalah bertarung dengan menyedihkan, maka kesombongannya baru hilang tidak tersisa!”

Kata Cia Ceng-hong:

“Mengapa Siau-heng tidak memberitahukan kepada kami agar kami tidak melewatkan pertarungan yang seru ini?”

“Itu karena Siau-heng terlalu baik. Seharusnya memberi pelajaran kepada dia waktu jamuan makan agar ddak repot!” kata Hoa Pie-li.

Soat Boan-thian menepuk tangan:

“Benar kata Lo-sam. Orang itu tetap adalah guru Siau-ongya. Setelah pertarungan semalam, dia harus tahu di luar langit masih ada langit yang lebih tinggi. Di luar orang masih ada orang yang lebih hebat. Agar dia tidak berani macam-macam di Tiong-goan!”

Siau Sam Kongcu menarik nafas panjang. Akhirnya dia membuka suara:

“Apapun yang terjadi, Siau-ongya membawa orang ini masuk pasti ada maunya. Harap semua orang berhati-hati!”

Su-ki-sat-jiu segera berhenti tertawa. Siau Sam Kongcu berkata lagi:

“Asal Ong-ya tidak setuju, masalah tidak akan menjadi besari”

Su-ki-sat-jiu sama-sama mengangguk. Siau Sam Kongcu segera pamit pergi.

136-136-136 Setelah keluar kota sejauh 10 li, waktu berjalan di gunung Siau Sam Kongcu mulai merasa ada orang membuntutinya. Awalnya dia hanya merasa curiga, tapi tidak lama kemudian dia mulai yakin.

Siau Sam Kongcu berhenti berjalan. Orang itu segera bersembunyi di balik sebuah pohon.

“Siapa? Cepat keluar!” bentak Siau Sam Kongcu.

Begitu orang ini tahu dia sudah terlihat dan tidak bisa bersembunyi lagi, dia terpaksa keluar. Ternyata adalah Su Ceng- cau. Dia memakai baju ketat dan membawa sebuah bungkusan kain. Begitu melihat Siau Sam Kongcu, dia segera mengeluarkan lidah.

“Kau?” Siau Sam Kongcu terpaku. “Guru!” Su Ceng-cau ketakutan. “Kau ada di sini, ada apa?”

“Aku mengikutimu dari belakangmu dan sam pai di sini!” “Untuk apa kau mengikuti aku?”

“Ingin ikut ke Pek-hoa-couw, melihat-lihat untuk menambah pengetahuan!”

Siau Sam Kongcu baru mengerti:

“Ternyata hari ini kau sudah dari awal keluar dari Ling-ong-hu, pantas tidak melihatmu berada di sana!”

Su Ceng-cau ingin tertawa:

“Kau kira murid tidak mempunyai persiapan? Sampai guru mau pergi juga tidak mengantar.”

“Kau segera pulang ke Ling-ong-hu!” Siau Sam Kongcu marah, “kau diam-diam keluar dari Ling-ong-hu, bila ayahmu tahu, aku tidak sanggup menjelaskan!”

“Aku sudah meninggalkan surat di kamar dan menjelaskan itu adalah ideku sendiri!” Su Ceng-cau tetap tertawa.

“Kau...” Siau Sam Kongcu marah.

Su Ceng-cau segera datang memohon: “Bila aku tinggal di Ling-ong-hu, aku tidak tahan. Apalagi harus belajar ilmu pedang kepada orang itu!”

“Identitasmu tidak bisa sembarangan berkelana di dunia persilatan.”

“Kalau guru tidak memberitahu identitasku, siapa yang bisa tahu?” Su Ceng-cau menarik lengan bajunya, “aku akan mendengarkan apa yang guru katakan, dan aku jamin tidak akan membuat masalah!”

“Dunia persilatan penuh bahaya, kau tidak berpengalaman, apalagi sifatmu semau sendiri!” Siau Sam Kongcu teringat sifat Su Ceng-cau, dia menggelengkan kepala.

“Aku akan mengubah sifatku! Bukankah guru juga mengharapkan aku bisa mengubah sifatku yang buruk? Sekarang aku mau berubah, kau harus memberiku kesempatan!”

Siau Sam Kongcu tertawa kecut:

“Kau tidak mau pulang?”

“Betul! Kalau guru tidak mengijinkan aku ikut, terpaksa aku harus pergi sendiri. Bila terjadi...”

“Berarti kau mau mengancam guru. Baik! Kau yang mengeluarkan kata-kata ini. Kita buat perjanjian dulu, bila di jalan kau tidak mendengar kata-kataku dan semaumu sendiri, aku segera memerintahkanmu pulang!”

“Aku berjanji!” Su Ceng-cau meloncat-loncat kegirangan.

137-137-137

Sekarang Ling-ong sudah tahu Su Ceng-cau kabur. Yang pasti dia marah. Dia tahu putri ini karena terlalu disayang dari kecil maka bisa melakukan hal seperti ini. Ini memang tidak aneh. Tapi seharusnya dia memberitahukan ayahnya terlebih dahulu.

“Menurutku, dia pasti disuruh oleh Siau Sam!” Cu Kun-cau tidak lupa menyerang Siau Sam Kongcu. “Siau Sam Kongcu bukan orang seperti itu!” Ling-ong adalah orang yang mengerti, “ini karena biasa aku jarang mendidiknya dan terlalu besar..

“Ceng-eau terbiasa hidup enak, bagaimana dia bisa berkelana di dunia persilatan? Aku kira kita harus menyuruh dia pulang sekarang juga, kalau tidak...” kata Cu Kun-cau.

“Baik, aku serahkan masalah ini kepadamu, bawalah Ceng-cau pulang. Jangan kurang ajar terhadap Siau Sam!”

Cu Kun-cau setuju, dia segera memberi isyarat agar It-to-cian keluar ruangan.

138-138-138

Setelah keluar dari ruangan, wajah Cu Kun-cau ditekuk. It-to-cian segera bertanya:

“Apakah maksud Siau-ongya menyuruhku keluar untuk mencari?”

“Selain guru, tidak ada orang yang lebih cocok lagi. Kalau La-cai tidak ada hal lain, lebih baik dia ikut pergi juga.”

“Tidak sulit membawa Kuncu pulang, tapi bagaimana dengan marga Siau yang berada di sisinya?”

“Bunuh dia!”

Dua alis It-to-cian terlihat melayang. Aura membunuh segera keluar.

139-139-139

Setelah keluar dari Ling-ong-hu, It-to-cian terus berlari ke timur kota. Keluar kota sejauh tiga li, dia mendatangi sebuah gubuk. Melihat tidak ada orang di sekeliling, dia segera meniru suara burung.

Seorang yang berbaju hitam turun dari sebuah pohon besar tanpa menimbulkan suara. Orang itu berpakaian bukan seperti orang persilatan di Tiong-goan, berbicara juga bukan dalam bahasa Tionggoan. Terlihat dia sangat menghormati It-to-cian. Setelah It-to-cian berpesan beberapa kalimat, orang berbaju hitam mengangguk dan membalikkan tubuh.

Soat Boan-thian melihatnya, dia melihat gerak gerik It-to-cian sangat mencurigakan, maka dia membuntutinya dari Ling-ong-hu sampai ke sini. Keadaan di sini sangat dikenalnya, maka keberadaannya tidak terlihat atau terasa oleh It-to-cian.

Orang berbaju hitam pergi, Soat Boan-thian juga pergi. Dia selalu berada di belakang orang berbaju hitam.

Orang berbaju hitam berlari cepat. Soat Boan-thian juga tidak lambat, tetap membuntuti dengan tanpa suara.

Di bawah hutan penuh dengan daun. Walau pun orang berbaju hitam melangkah dengan ringan, tapi langkah kaki tetap menimbulkan suara.

Soat Boan-thian tahu keadaannya seperti itu, maka dia melangkah dengan sangat hati-hati. Tapi akhirnya dia tetap ketahuan oleh orang berbaju hitam.

Orang berbaju hitam segera membalikkan tubuh. Soat Boan- thian segera berkelebat ke balik sebu-ah pohon, tapi dia sudah terlihat oleh lawan.

Dia membentak, tapi Soat Boan-thian tidak mengerti bahasanya.

Dia keluar membentak:

“Kalian ada berapa orang? Dan apa tujuan kalian datang kemari?”

Orang berbaju hitam juga tidak mengerti bahasa Soat Boan- thian, dia mencabut goloknya:

“Baik! Aku lihat kalian bukan orang baik-baik! Bila bertemu dengan seorang aku akan membunuh seorang, agar ringkas!”

Orang berbaju hitam segera meloncat ke atas, tangan melayang, berturut-turut menembakkan senja ta menyerang ke arah Soat Boan-thian. Kemu-dian di tengah-tengah udara dia membacok Soat Boan-thian. Soat Boan-thian menghindar. Semua senjata rahasia terpaku di batang pohon. Terlihat daya membunuh senjata ini sangat kuat.

Sambil menghindar, senjata Soat Boan-thian juga dilepaskan. Cepat dan kuat! Orang berbaju hitam mengayunkan golok untuk menahan kemudian meloncat ke batang pohon, tapi begitu berdiri dia kembali turun lagi.

Dari lengan baju Soat Boan-thian ada cahaya berkilau. Dua buah senjata rahasia sudah dilepaskan ke nadi orang berbaju hitam. Sepasang golok pendek sudah dikeluarkan dari lengan baju dan berputar di lengannya, lalu dia mendekat untuk menyambut.

Di tengah-tengah udara, orang berbaju hitam menahan dua senjata rahasia dengan golok. Tubuh berbalik ke tempat asal. Walaupun bukan batang pohon yang tadi, tapi dia sudah mengaitkan dua kakinya pada batang pohon, posisinya seperti seekor kelelawar bergantung. Pada saat bersamaan dia juga melepaskan senjata rahasia ke arah Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian menahan senjata rahasia deng an sepasang golok pendeknya. Tubuhnya tetap maju. Pada waktu itu terdengar suara petir. Asap tebal sudah meledak di batang pohon itu dan asap terus menyebar. Orang berbaju hitam menghilang di dalam asap tebal itu.

Soat Boan-thian tidak mengejar masuk ke asap tebal. Dia tengkurap di bawah tanah. Kemudian suara terdengar di bawah:

“Orang yang berpengalaman di dunia persilatan memang tidak bisa disamakan!”

Di hutan bagian utara pada jarak sejauh dua li, terlihat sebuah kuil kuno berdiri di sana. Kuil kuno ini tidak terlalu besar tapi sangat kokoh. Orang berbaju hitam tidak memasuki kuil dari pintu utama, melainkan meloncat masuk melalui dinding. Soat Boan-thian melihat orang berbaju hitam dari jauh, dengan cepat dia berusaha mengejar.

Cat papan nama kuil tua sudah terkelupas, tapi tulisannya masih bisa terbaca 'Kuil Po-ki' tiga huruf.

Pintu kuil terbuka. Seorang hweesio tua yang pendek dan bertubuh kecil berdiri di ambang pintu. Di kepala hweesio hanya terdapat beberapa helai rambut putih. Baju hweesio berwarna abu- abu yang hampir putih, terlihat panjang dan sangat lebar, melambai-lambai ditiup angin.

Wajah hweesio terlihat baik tapi serius, mimik wajahnya seperti tertawa dan seperti tidak. Dia terlihat seperti seorang hweesio yang berkedudukan tinggi.

Waktu Soat Boan-thian ingin masuk, hweesio menghalanginya berkata:

“O-mi-to-hud, aku adalah Hweesio La-cai.”

“Menyingkir!” Soat Boan-thian membentak. Sepasang golok kecil berputar-putar di tangannya.

“Tempat Budha adalah tempat yang paling bersih dan tenang. Tuan membawa golok kemari, apakah ada murid dari kuil ini yang sudah berbuat kesalahan kepadamu?” suara La-cai lembut dan licik.

“Aku sedang mengejar seseorang dan melihat dia kabur masuk ke dalam kuil ini!” Tadinya Soat Boan-thian ingin mendorong La- cai, tapi melihat La-cai tampak seperti orang yang lemah, maka dia mengurungkan niatnya.

“Betulkah? Kalau begitu, aku akan membawamu mengejarnya!”

La-cai membalikkan tubuh berjalan masuk. Cara jalan La-cai sedikit lucu tapi tidak pelan.

Soat Boan-thian terus mengikuti La-cai. La-cai pada waktu yang begitu tepat menunggu di luar pintu, itu sudah membuat Soat Boan- thian curiga. Tapi sampai sekarang masih tidak terlihat ada yang tidak beres pada hweesio tua ini. Setelah melewati sekat yang terukir huruf 'Hud', mereka kemudian masuk ke kebun. Dinding-dinding di kebun sudah banyak yang roboh, rumput liar juga terlihat tumbuh di mana-mana.

Begitu masuk ke ruangan, debu dan sarang laba-laba juga banyak terlihat di sana. Ada lubang di atap yang disebabkan oleh sekeping genteng yang sudah pecah dan terjatuh. Sinar matahari masuk dari lubang itu, membuat ruangan terlihat semakin misterius.

Soat Boan-thian melihat La-cai, dia bertanya: “Sudah berapa lama tempat ini tidak dibersihkan!” “Pinceng tidak jelas!” La-cai menggelengkan kepala. “Di belakang ini tempat apa?”

“Kamar semedi! Apakah tuan ingin masuk untuk melihatnya?” Soat Boan-thian mengangguk, tapi tidak berkata, La-cai berkata: “Menurutku, kau tidak perlu melihatnya lagi!”

“Oh?” Soat Boan-thian terpaku.

“Bukankah orang yang kau cari berada di sana?” La-cai menunjuk patung-patung Budha yang sudah tidak sempurna dan yang catnya sudah terkelupas. Kemudian dia membentak dengan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian terpaku lagi. Pada saat yang bersamaan, orang berbaju hitam meloncat turun dari sebuah patung Budha.

Kemudian La-cai marah-marah. Soat Boan-thian bisa melihat dia sedang marah besar. Di dalam nada yang penuh kemarahan, Soat Boan-thian tidak mengerti apa yang La-cai katakan. Tapi dia yakin bahwa La-cai, orang berbaju hitam dan It-to-cian adalah satu kelompok.

Setelah cukup memarahi orang berbaju hitam, La-cai baru melihat kepada Soat Boan-thian.

“Apa yang kau katakan?” tanya Soat Boan- thian. “Aku marah dia tidak berguna, bisa-bisanya membuat kau membuntutinya sampai ke sini!” Begitu menyelesaikan kata- katanya, La-cai sudah menyerang Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian sudah mempunyai persiapan, maka reaksinya tidak lambat. Sepasang golok pendek segera menyerang. Tapi ternyata jurus yang La-cai keluarkan adalah jurus tipuan, maka ketika kedua telapaknya baru mencapai setengah kaki, dia sudah menendang lutut kanan Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian tidak sempat menghindar, lututnya tertendang hingga remuk, tubuhnya terbang jauh menabrak dinding.

Pada waktu yang bersamaan, La-cai sudah mengeluarkan tangannya, dia mencabut golok katana yang berada di pinggang orang berbaju hitam dan menancapkan golok ke perut Soat Boan- thian. Soat Boan-thian terpaku.

Dia berteriak kesakitan:

“Siapa kau sebenarnya?”

“La-cai!” Sambil berkata La-cai sudah berada di depan Soat Boan-thian, “apakah kau tahu apa yang disebut dengan orang yang bersabar hati?”

Soat Boan-thian belum menjawab, La-cai segera berkata lagi: “Orang yang telah dilatih dengan ketat, pandai membunuh, dan

pandai mendapatkan kabar berita!”

“Kau bukan seorang samurai?” sepasang golok pendek Soat Boan-thian dilempar keluar.

Dengan tenang La-cai menjemput goloknya:

“Maka membunuh dengan cara apa? Kau harus mati!” Kemudian dia membalikkan kedua tang annya, sepasang golok yang dia jemput tadi sudah menancap di tempat penting Soat Boan-thian.

Akhirnya Soat Boan-thian menghembuskan nafas terakhir. Matanya melotot besar. Dia mati seper ti ini dan mati di sana, mana mungkin dia bisa menutup mata dalam kematiannya?

140-140-140 Sudah berlalu beberapa hari sejak dia terkurung di tempat ini, Siau Cu tidak ingat. Wan Fei-yang juga tidak ingat. Semenjak masuk ke Sian-tho-kok, dia sudah tidak bisa menghitung waktu. Apalagi ketika baru masuk, seringkah dia pingsan selama 3-4 hari.

Di bawah ajaran Wan Fei-yang, Siau Cu belajar ilmu silat sampai lupa makan dan lupa tidur.

Setiap hari Wan-tianglo tanpa memandang hujan dan angin, datang mencari mereka untuk bertarung. Sebelum mereka benar- benar lelah, dia tidak mau berhenti.

Siau Cu begitu belajar ilmu silat, dia langsung mempraktekannya. Siau Cu adalah orang yang berbakat dalam bidang ilmu silat, apalagi yang mengajar dia adalah pesilat-pesilat terkenal.

Wan-tianglo sangat senang. Wan Fei-yang juga senang melihat kemajuan ilmu silat Siau Cu. Dia menjadi tidak suka karena orang mengkhawatirkan banyak masalah.

Wan Fei-yang memperdalam Ih-kin-keng, sam bil mengajarkan ilmu silat kepada Siau Cu. Lama dia memperhatikan sikap Siau Cu, karena Siau Cu tampak tidak tenang, “Apakah kau punya banyak pikiran?” Akhirnya Wan Fei-yang bertanya.

“Tidak juga!” Siau Cu sedikit malu dan berkata lagi, “aku harus keluar, dengan begitu aku tidak mengganggumu berlatih ilmu silat!”

“Apakah kau ingin meninggalkan Sian-tho- kok?”

“Wan-toako, kita sama-sama pergi dari sini. Bila kita bergabung, kita pasti bisa mengalahkan orang aneh itu!”

“Kalau memang bisa, kita sama sekali sudah tidak berada di sini! Ilmu silat dan ilmu tenaga dalam orang tua ini sangat tinggi. Perubahan jurus-jurusnya sangat cepat. Dengan ilmu silatmu dan aku sekarang, bertarung masing-masing ataupun bergabung tidak akan ada bedanya!”

Siau Cu merasa kecewa: “Kalau begitu bila ingin meninggalkan tempat ini, kita harus menunggu Wan-toako pulih kembali agar bisa memperagakan Thian-can-sin-kang?”

“Masih ada dua jurus Ih-kin-keng yang sampai sekarang aku belum mengerti. Jika benar-benar bisa mengerti 2 jurus itu, ilmuku baru bisa pulih. Tapi entah kapan!”

“Butuh waktu sekitar berapa lama?” Wan Fei-yang tertawa:

“Mungkin seumur hidup pun masih belum bisa mendapatkan apa-apa. Mungkin juga kalau kebe tulan, aku bisa segera menguasainya!”

Siau Cu tertawa kecut:

“Tapi kalau kau mau meninggalkan Sian-tho-kok, tetap ada cara!”

“Cara apa?”

“Pertama pancing dulu Wan-tianglo masuk..”

Memancing Wan-tianglo masuk bukan hal yang sulit. Wan Fei- yang di waktu malam hari berpura-pura kambuh luka dalamnya. Setelah merintih kesakitan, ditambah teriakan Siau Cu yang akan mengejutkan Wan-tianglo, dia akan masuk untuk melihat.

Tadinya Siau Cu tidak setuju, tapi seperti kata Wan Fei-yang, tinggal di sana tidak ada gunanya bagi dia. Siau Cu juga teringat akan Lam-touw yang sangat berbudi kepadanya. Maka apapun yang terjadi, dia harus menemukan pembunuh itu. Akhirnya dia setuju dengan cara ini.

“Mengapa penyakitmu tiba-tiba kambuh?” Wan-tianglo melihat Wan Fei-yang berguling-guling kesakitan di bawah. Dia merasa aneh. Menurut perhitungannya, seharusnya Wan Fei-yang sudah tidak merasa kesakitan seperti itu. Walaupun kambuh, seharusnya terjadi setengah bulan kemudian, dan juga tidak akan sakit seperti itu.

Siau Cu melihat dia terpaku, segera berkata: “Masih menunggu apalagi? Bila sesuatu terjadi pada Wan-toako, siapa yang akan menemanimu bertarung?”

Wan-tianglo melihat Siau Cu:

“Yang pasti aku akan menyelamatkan dia. Bila kalian berdua roboh pada waktu yang bersamaan, orang pertama yang akan kutolong adalah dia!”

“Aku kira kau harus menyelamatkan aku dulu karena luka dalamku tidak begitu berdt, sehingga pada hari kedua aku akan sehat kembali dan bisa bertarung denganmu lagi!”

“Kau bukan siapa-siapa, hanya mempunyai ilmu seperti kucing berkaki tiga, mana mungkin bisa bersaing dengan Wan Fei-yang?”

Tapi dia segera melihat Wan Fei-yang dan mengomel: ''Kau benar-benar merepotkan!”

“Mengapa kau tidak menolong dia?” kata Siau Cu.

“Aku mempunyai perhitungan sendiri. Kau jangan cerewet!

Pergi sana!” Wan-tianglo membentak.

Siau Cu berjalan ke depan jendela. Wan-tiang-lo tidak memperhatikannya. Tenaga dalamnya segera disalurkan pada kedua tangan dan 10 jarinya, dia segera menekan nadi Wan Fei- yang. waktu itu, tubuh Wan Fei-yang bagian bawah berputar dengan cepat. Dua tangan Wan Fei-yang dengan cepat menceng- kram pergelangan tangan Wan-tianglo, bentaknya:

“Cepat pergi!”

“Wan-toako, kita bertemu di lain waktu!” Siau Cu sudah meloncat keluar melalui jendela.

Reaksi Wan-tianglo sangat cepat. Nadi pada kedua pergelangan tangan yang dicengkram Wan Fei-yang segera digeser. 10 jarinya seperti tidak bertulang, dan dia malah berbalik menepuk nadi di kedua tangan Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melepaskan tangannya, kemudian menyerang sebanyak 28 kali. Wan-tianglo dipaksa mundur tiga langkah. J “Wan Fei-yang, mengapa kau menipuku?” Wan-tianglo marah besar. Jurus-jurusnya segera dikeluarkannya dengan ganas dan cepat.

Wan Fei-yang menyambut jurus-jurusnya dengan serius sambil menjawab:

“Orang lain ingin melakukan hal penting, mengapa kau harus memaksa dia tinggal di sini?”

“Apa yang kau mengerti tentang ini? Nyawa mu hanya tinggal separuh lagi, maka bisa membuatku berlatih dengan puas. Cepat kau kembali ke tempatmu, aku akan menangkap Siau Cu kembali!”

“Aku ingin dia meninggalkan tempat ini, mana mungkin membiarkan kau lewat!” Wan Fei-yang tertawa.

“Apakah kau mau mati?” Wan-tianglo semakin marah. Jurusnya semakin cepat, juga bertambah galak.

“Kalau aku mati di tangan Cianpwee, apakah Cianpwee tidak akan merasa kesepian di kemudian hari?” Wan Fei-yang tetap tersenyum.

“Kalau Siau Cu kabur, dalam sehari kau harus menemaniku bertarung dua kali. Pada waktu itu kau akan tersiksa!” Nada Wan- tianglo mulai melemah, tapi dia tetap memaksa ingin lewat.

Wan Fei-yang berusaha menghadang. Rumah pohon agak sempit maka gerakan tubuh terbatas, apalagi mereka bertarung di atas ranjang rotan. Walaupun Wan-tianglo mempunyai ilmu meringan kan tubuh yang tinggi, dengan ruang gerak yang sempit, ilmu meringankan tubuhnya sulit dikeluarkan.

Dia harus melepaskan libatan Wan Fei-yang, baru bisa keluar dari rumah pohon. Yang pasti bukan langsung membereskan masalah.

Dia seringkali menggunakan jurus kosong untuk menipu Wan Fei-yang agar bisa lewat. Tapi dengan pengalaman menghadapi musuh dan kepintarannya, Wan Fei-yang bisa mengetahuinya. Maka dia tetap mencegat dengan segala cara dan tidak memberi kesempatan kepada Wan-tianglo untuk lewat.

Setelah ratusan jurus dilewati, Wan-tianglo menarik nafas. Dia tahu bila semakin cemas dia akan semakin sulit merobohkan Wan Fei-yang. Dengan ilmu silat Siau Cu, sekarang dia pasti sudah keluar dari Sian-tho-kok.

Bila Siau Cu sudah kabur dari Sian-tho-kok, akan sulit menangkap dia kembali. Sebenarnya Wan-tianglo memang tidak tertarik dengan ilmu silat Siau Cu. Setelah berpikir, dia malah menjadi tenang. Jurus nya berubah dan terus menyerang Wan Fei- yang.

Terhadap perubahan Wan-tianglo, Wan Fei-yang sudah hafal. Sampai perubahan baru Wan-tianglo pun bisa ditebak Wan Fei- yang. Hanya saja tenaga dalamnya belum cukup, maka Wan-tianglo selalu bisa merebut kesempatan pada jurus-jurus tertentu.

Akhirnya dia dirobohkan. Wan-tianglo tidak mengejar keluar. Dia hanya menunggu Wan Fei-yang berdiri, kemudian merobohkan dia lagi.

Waktu Wan Fei-yang pingsan, di sudut mulut nya masih tersenyum. Ini benar-benar membuat Wan-tianglo marah.

Kegilaan orang ini terhadap ilmu silat benar-benar keterlaluan dan sudah sampai pada tarap sesat.

Setelah Siau Cu meninggalkan Sian-tho-kok, tadinya dia ingin pergi ke ibukota untuk mencari Tiong Toa-sianseng. Tapi begitu masuk ke dunia persilatan, dia mendapat kabar tentang rapat Pek- hoa-couw, juga tahu Tiong Toa-sianseng adalah salah seorang yang diundang. Maka dia segera berubah pikiran dan langsung menuju ke Kanglam.

Dia adalah orang berpengalaman di dunia persilatan, dia bisa mendapatkan banyak kabar dunia persilatan. Dia segera tahu murid-murid Bu-tong-pai sudah berangkat. Dan diantara murid ini ada Lu Tan yang dia kenal. Bagi Siau Cu mencari Lu Tan adalah hal yang mudah, tapi bagi Lu Tan pertemuan mereka adalah hal yang tidak diduga.

Waktu berada di penginapan ketika mendengar ada yang mengetuk pintu, Lu Tan mengira adalah pelayan. Ternyata adalah Siau Cu, maka Lu Tan terpaku.

“Mengapa tidak mengenaliku lagi?” Siau Cu tertawa. Walaupun dalam kesusahan namun kapan- pun bila bertemu teman, Siau Cu tetap bisa tersenyum.

Mungkin dia tidak ingin temannya khawatir, dan dia juga tidak mempunyai banyak teman.

“Siau Cu, kau datang dari mana?” Lu Tan berteriak, dia segera tertawa.

“Kau tahu aku adalah orang berpengalaman di dunia persilatan.

Mencarimu adalah hal yang mudah!” “Betul! Betul!”

Siau Cu melihat Lu Tan. Sampai sekarang dia baru pertama kali melihat Lu Tan memakai baju pendeta dan rambut disanggul seperti pendeta.

“Apa yang terjadi denganmu? Betulkah kau ingin menjadi pendeta?” Siau Cu sedikit curiga.

“Aku adalah Pendeta Hek-sik (baju hitam).”

“Walaupun kau ingin menjadi seorang tosu, maka namamu harus bagus. Apakah kau tidak merasa Hek-sik itu sangat tidak enak di dengar?”

Lu Tan tertawa kecut.

“Aku tetap memanggilmu Lu Tan!”

“Kalau kau ingin memanggilku Lu Tan, itu tidak apa-apa. Mana gurumu?”

“Dia sudah meninggal!”

“Mana mungkin!” Lu Tan terkejut.

“Kalau seseorang harus mati, tidak ada yang bisa menghadang!” “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu. Mungkin dilakukan oleh orang Pek-lian-kau.

Karena ada dendam antara kita dengan Pek-lian-kau!”

“Dia sangat berbudi kepadaku. Tentang ini aku juga tidak akan berpangku tangan. Bila ingin membalas dendam, jangan lupa beritahu kepadaku!”

Siau Cu menepuk pundak Lu Tan. Dia tidak berkata apa-apa. “Sekarang kau mau ke mana?” tanya Lu Tan.

“Pergi ke Pek-hoa-couw, berharap bisa bertemu dengan Tiong Toa-sianseng. Sebelum meninggal, dia akrab dengan Tiong Toa- sianseng. Mungkin bisa mencari tahu sesuatu dari dia!”

“Kalau begitu kita pergi sama-sama!” “Kau mewakili Bu-tong-pai?”

Lu Tan tertawa kecut:

“Bu-tong-pai sudah beberapa kali menghadapi musibah. Orang berbakat sudah tidak muncul di Bu-tong-pai. Sebenarnya aku tidak pantas mewakili Bu-tong-pai!”

Siau Cu ikut menarik nafas. Siau Cu tahu seberapa tinggi ilmu silat Lu Tan. Kalau dibandingkan dengan Tiong Toa-sianseng dan pesilat tangguh lain, ilmu silatnya sangat jauh.

“Kalau ada Wan-toako, Bu-tong-pai tidak akan mengirimku sebagai perwakilan, dan tidak akan dihina orang!”

“Tapi kalau kau ikut rapat Pek-hoa-couw, tidak akan ada orang yang menganggap enteng Bu-tong-pai. Kecuali dalam hatimu ingin orang lain meremehkanmu!”

Lu Tan segera menegakkan dadanya. Kata-kata Siau Cu mudah dimengerti. Bila seseorang ingin orang lain mementingkan dirinya, dia sendiri harus mementingkan dirinya terlebih dulu.

Siau Cu berkata lagi:

“Sebelum meninggal, guru selalu mengajar aku seperti itu. Jangan karena kita terlahir di keluarga miskin dan berilmu rendah, kita memandang rendah diri sendiri. Terlahir di keluarga miskin karena Thian yang mengaturnya, tidak ada orang yang bisa mengubahnya. Sedangkan bila berilmu rendah, kita bisa berlatih dan akhirnya akan maju!”

Sambil mendengar, Lu Tan mengangguk. Tapi Siau Cu malah menarik nafas:

“Memang kita bercerita seperti ini, tapi terlahir di keluarga miskin tetap menghadapi banyak rintangan. Walaupun kita sendiri tidak peduli, tapi kita harus melihat reaksi lawan!”

“Lawan yang mana?”

“Lamkiong Bing-cu!” Siau Cu ingin menarik kembali kata- katanya tapi sudah tidak sempat, ingin membantah juga tidak bisa, maka dia menjadi serba salah.

Lu Tan tidak ambil pusing, dia mengangguk:

“Kalian berdua benar-benar serasi, apakah dia baik kepadamu?” “Betul, sangat baik! Kau lebih tua daripadaku, pasti sudah

memiliki kekasih!”

“Aku adalah Hek-sik Tojin, tidak akan masuk ke tempat yang ada hubungan antara laki-laki dan perempuan!”

“Aku lelah mendengarnya, dan aku juga tidak nyaman!” “Pelan-pelan kau akan terbiasa!”

“Aku tidak mengerti apa baiknya menjadi seorang pendeta. Kalau ada gadis yang suka kepadaku, hari ini menjadi pendeta, besok aku akan keluar dari jabatan pendeta! Kau berkata kau tidak punya hubungan dengan gadis, berarti kau pernah mempunyai kekasih!”

“Tidak juga!” “Jadi?”

“Aku mengakui pernah menyukai seorang gadis, maka aku tergesa-gesa pergi!”

“Sebab kau takut latar belakangnya tidak sama?” “Ada sedikit...”

“Kau pasti tahu siapa dia.” “Tiang-lek Kuncu, Su Ceng-cau!”

Lu Tan tidak membantah. Dia tertawa kecut.

“Gadis ini memang sedikit galak dan tidak tahu diri, tapi hatinya baik!” kata Siau Cu.

Lu Tan hanya bisa tertawa kecut.

Sekarang Su Ceng-cau sedang berada di sebuah kuil kuno. Dia sedang memegang sebuah Ciam dan bertanya kepada penjaga kuil:

“Kau jelaskan kepadaku arti Ciam ini!”

“Ciam ini adalah waktu Kiang Tai-kong (seorang tokoh Tiongkok kuno yang bertemu dengan Bun-ong di usianya yang ke 80 tahun. Di usia yang setua itu, dia baru menemukan jodoh dan mendapatkan seorang istri). Berarti Ciam ini adalah Ciam yang 'Sia- sia' (Bawah dan bawah). Itu adalah Kiam yang paling jelek,” kata penjaga kuil.

Penjaga kuil belum menyelesaikan kata-katanya, Su Ceng-cau segera memakai Ciam yang terbuat dari bambu untuk memukul titik di antara kedua alis penjaga kuil.

“Kau sembarangan bicara! Aku memberimu kesempatan sekali lagi. Kalau kali ini masih membuatku tidak puas, aku akan membuatmu susah!”

“Kiang Tai-kong bertemu dengan Bun-ong adalah hal benar, bukan rekayasa, mana mungkin diubah. Kalau nona merasa tidak puas, boleh minta ke Budha satu Ciam lagi!” kata penjaga kuil.

“Kau kira aku tidak tahu meminta Ciam hanya boleh dilakukan satu kali?” bentak Su Ceng-cau, “Lebih baik kau jelaskan Ciam ini dengan baik!”

Penjaga kuil menarik nafas:

“Jodoh ditentukan oleh Thian, mana mungkin dipaksakan!” Sebelum selesai bercerita, Su Ceng-cau sudah mencengkram bajunya, siap melempar penjaga kuil keluar. Saat ini Siau Sam Kongcu datang, membentak:

“Su Ceng-cau jangan tidak sopan!” “Guru, dia..!”

“Mana ada orang yang sepertimu tidak ada aturan! Cepat turunkan dia!”

Su Ceng-cau menurunkan penjaga kuil ke kursi, dia sampai terguling ke bawah.

Siau Sam Kongcu geleng-gelengkan kepala:

“Bukankah sudah kukatakan, sepanjang jalan kau jangan membuat masalah?”

“Dia yang membuat aku marah!”

“Sembarang bicara! Ceng-cau, apa janjimu pada guru?”

“Dari pagi sampai malam terus berjalan, aku bosan. Kebetulan di sini bertemu orang, tapi orang yang tidak becus. Ciam yang baik aku dapatkan, tapi dia sengaja berkata ini Ciam yang jelek. Dia tidak takut aku tidak suka!”

“Kalau kau mau senang dan mau tidak bosan, kau boleh pulang!” “Aku tidak mau pulang!” teriaknya.