-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 10

Jilid 10

Pohon patah mencegat Lan Ting-ji yang ingin mengejar Siau Cu. Utusan lampion merah yang ingin meloncat dan mengejar juga terhadang oleh pohon patah.

Siau Cu dan Lu Tan adalah orang yang sifatnya bertolak belakang. Kalau Lu Tan jelas-jelas sudah tahu akan kalah, dia tetap bertarung sampai akhir. Sedangkan Siau Cu kalau tahu akan kalah dia akan kabur, kecuali terpaksa.

Tidak hanya Bu-sim yang merasa di luar dugaan. Lan Ting-ji dan utusan lampion juga sama merasa di luar dugaan mereka. Waktu mereka melewati pohon patah, Siau Cu sudah berada 13 tombak jauhnya.

“Kejar!” teriak Bu-sim.

Lan Ting-ji dan utusan lampion merah segera mengejar.

Kalau lawan hanya satu orang, Siau Cu pasti tanpa pikir panjang bersembunyi di semak-semak hutan. Tapi lawan ada tiga orang dan masing-masing adalah pesilat tangguh. Bukan hal yang mudah untuk menipu mata mereka, maka Siau Cu terpaksa berlari ke depan.

Ilmu meringankan tubuh Lan Ting-ji dan utusan lampion merah sangat bagus. Bu-sim yang membawa tongkat berat juga tidak tertinggal jauh. Tapi untuk mengejar Siau Cu, mereka harus berusaha keras.

Yang merugikan Siau Cu adalah setelah berlari jauh, di depan malah terbentang tanah datar. Mereka sudah semakin mendekat.

Dahi empat orang ini sudah berkeringat, kekuatan mereka terus berkurang dan tidak ada kesempatan untuk memulihkan tenaga.

Setelah melewati hutan, ada dinding gunung yang menghadang.

Siau Cu menarik nafas:

'Mungkin Thian ingin aku mati!' Waktu dia membalikkan tubuh siap bertarung, tiba-tiba dia melihat di sebelah kiri tidak jauh pada dinding gunung ada sebuah celah retakan yang panjang. Dia berpikir:

'Thian memang tidak menghentikan usahaku!' Dia segera berlari ke celah itu.

Lebar celah retak itu sekitar 3 depa, dengan kedalamannya sekitar 3 tombak. Di sana ada sebuah patung kera. Dua tangan patung kera memegang piring yang terbuat dari batu. Dia sedang menghidangkan buah persik yang juga terukir dari batu.

Siau Cu tidak melihat patung kera lebih lama lagi, dia meloncat melewati kepala kera dan terus berlari.

Lan Ting-ji, utusan lampion merah, dan Bu-sim sudah sampai.

Melihat patung kera, mereka berhenti.

“Apakah ini adalah Sian-tho-kok?” (Lembah dewa persik). Lan Ting-jin berpikir sambil melihat patung kera itu.

“Tidak peduli apa itu, yang penting bisa mendapatkan Bi-giok- leng!” Utusan lampion merah segera berlari ke sisi patung kera itu.

Tapi kemudian muncul siulan aneh. Ribuan , batu segera dilempar. Untung utusan lampion merah bergerak cepat, dia menjemput beberapa batu dan segera berlari mundur.

Batu-batu jatuh seperti hujan. Setelah itu S berhenti. Waktu mereka melihat ke atas, terlihat di 'i kiri dan kanan dinding gunung kera yang besar dan j kecil, entah ada berapa ribu ekor kera. Tangan kera masing-masing memegang batu, mata kera terus me-lototi mereka.

Lan Ting-ji tertawa kecut:

“Aku kira tempat ini hanya mitos, ternyata benar ada tempat seperti ini!”

“Apakah kita takut kepada kera-kera ini?” Utusan lampion merah bertanya.

“Kera-kera itu tidak perlu ditakuti. Tuan mereka lah yang akan membuat kita repot!” kata Bu-sim.

“Mitos dunia persilatan berkata di Sian-tho-kok tinggal seorang Cianpwee bernama Wan. Dia sulit dihadapi. Tidak ada yang tahu ilmu silatnya setinggi apa!”

“Itu karena pengetahuanmu sempit dan dangkal!” kata Bu-sim tertawa.

“Hweesio tahu seberapa banyak tentang Wan-tianglo?” “Yang lain tidak kita bicarakan. Katanya guru Siauw-lim-pai Sim-tan, begitu mengangkat bicara tentang orang ini juga menggelengkan kepala. Tapi saying, selihai apa orang ini, selain menggelengkan kepala dia tidak menjelaskan lebih jauh! Sepenge- tahuanku, Sim-tan-cianpwee bukan orang yang takut kerepotan, dia adalah orang yang sangat sabar!”

Lan Ting-jin melipat kipasnya:

“Maksudku lebih baik kita pulang dan meminta petunjuk dulu?”

“Lebih baik, salah satu dari kita bertiga masuk untuk melihat agar tahu kelihaiannya seperti apa. Tapi aku percaya dari kita bertiga, tidak ada yang mau melakukan ini!”

“Tadinya aku mau. Tapi setelah mendengar cerita ini lebih baik aku melepaskan niat ini!” kata utusan lampion merah.

“Sayang!” kata Bu-sim, “Entah Siau Cu yang kita kejar ada hubungan ada dengan Wan-tianglo?”

“Sedikit banyak pasti ada kaitan. Kalau tidak, untuk apa dia berlari kemari?” kata Lan Ting-ji.

“Yang lain tidak perlu kira urus. Asal tahu dia berada di sini, kita ada alasan melapor kepada Ji-wi Kaucu. Itu sudah cukup!” kata Bu- sim. Dia segera membalikkan tubuh dan pergi.

Lan Ting-ji dan utusan lampion merah ikut berjalan. Kera-kera itu tidak melemparkan batu lagi. Patung kera seperti lambang batas kera-kera. Asal tidak melewati batas patung kera, mereka tidak akan bertindak.

125-125-125

Jalan dari celah retakan ke dalam adalah suatu lembah. Di sini terdapat banyak pohon persik. Mungkin ada beberapa puluh ribu pohon. Pohon sangat tinggi dan penuh dengan buah persik. Di sana juga ada banyak kera. Ada kera yang memanjat di pohon rotan dan berayun-ayun.

Siau Cu belum pernah melihat tempat seperti ini maka dia merasa aneh. Sesuatu melayang datang menuju dirinya. Gerakannya seperti kera. Begitu melihat jelas, ternyata adalah seorang tua. Siau Cu dicengkram oleh orang tua itu dan dibawa ke tempat pohon-pohon tumbuh lebat.

Orang tua ini bertubuh pendek dan kecil tapi kedua tangannya sangat panjang, panjang tangannya mencapai lutut. Dia bermulut lancip dan pipinya cekung ke dalam. Orang tua ini terlihat sangat aneh, membuat orang ingin tertawa. Tapi dia tidak terlihat jahat. Gerakannya sangat cepat. Walaupun Siau Cu melihat orang tua ini tidak mempunyai niat jahat, tapi dia juga tidak mau ditangkap seperti anak ayam. Dia mau melawan tapi sudah terlanjur dicengkram.

Orang tua hanya menangkapnya dengan lima jari, tapi dua jarinya begitu tepat menekan di jalan darah Siau Cu, membuatnya merasa pegal dan linu juga merasa nyaman, sedikitpun tidak merasa sakit. Maka dia meregangkan tubuh.

Setelah melewati hutan persik, di depan tampak dataran tinggi. Terlihat sebuah rumah berbentuk aneh yang terbuat dari batang pohon. Pak tua melempar Siau Cu di depan rumah itu.

Siau Cu merangkak bangun:

“Terima kasih Cianpwee sudah menyelamatkan Siau Cu!” “Orang dunia persilatan memanggilku Wan-tiangli!”

Siau Cu tidak tahu. Dia tertawa lepas:

“Teman dunia persilatan memanggilku Siau Cu.”

“Siau Cu, dasar ilmu silatmu bagus, kau termasuk dalam perkumpulan mana?”

“Tidak ada perkumpulan. Aku hanya menjual teknik sulap di jalan!”

“Betulkah?”

“Kalau anda tidak percaya, aku bisa mempera gakan untukmu!” “Tidak perlu!” lalu dia tertawa, “siapapun kau, Thian telah

mengantarkanmu kemari, berarti kau milikku!” “Aku tidak mengerti!”

“Kalau begitu dengar baik-baik. Ilmu yang kulatih adalah 'Tai- seng-sin-kang' (Ilmu sakti Sun Ngo-kong). Seharusnya langkah- langkah perubahan terdiri dari 64 jurus. Setelah diteliti dan diubah, sekarang perubahan mencapai 284 macam. Asal kau sanggup, kau bisa menahan seranganku lama!”

“Aku semakin tidak mengerti!” Siau Cu meng gelengkan kepala, “apa maksud anda memberitahu tentang ini kepadaku?”

“Maksudku adalah aku berharap kau bisa bertahan lebih lama, kalau sekali bertarung kau sudah jatuh, itu membosankan!”

“Maksudmu kau ingin bertarung denganku?”

“Dunia begitu besar, tidak ada tempat yang lebih indah daripada tempat ini. Aku sudah tua, aku malas keluar mencari orang yang mau bertarung denganku. Sedangkan kau, kau sendiri yang datang kemari!” Maka Wan-tianglo tertawa sendiri. Dia terlihat sangat senang.

Siau Cu melihat Wan-tianglo dan menggeleng kan kepala:

“Kau sudah tua dan pernah menyelamatkanku, aku tidak tega melukaimu. Apalagi aku masih punya hal penting yang harus kulakukan. Siau Cu pamit pergi!”

Dia benar mau pergi dan baru melangkah, dua tangan Wan- tianglo bergerak. Rotan yang selalu berada di tangannya segera terbang ke arah Siau Cu.

Rotan yan panjangnya puluhan depa terlihat akan melilit dua kaki Siau Cu. Tapi waktu Siau Cu meloncat ke atas, rotan dari bawah meloncat ke atas, melilit leher Siau Cu. Siau Cu ingin membuka lilitan kaki, tapi dia sudah ditarik ke depan Wan-tianglo. Memang leher tidak patah tapi tidak nyaman rasanya.

“Kau sudah tahu kaki dan tanganku gatal ingin bertarung tapi kau tidak menolongku, malah ingin kabur!” Wan-tianglo marah, “kalau kau tidak mau bertarung denganku, aku akan mencabut nyawa mu!” Kemudian dengan cepat dia melilit Siau Cu dengan rotan itu. “Lepaskan aku dulu!” Siau-cu tertawa.

“Berarti kau ingin bertarung denganku!” “Bagaimana jika aku bisa mengalahkan-mu?”

“Apa yang kau suka akan kuberikan!” Wan-tianglo tertawa. “Bagaimana kalau aku kalah?”

“Yang pasti harus tinggal di sini, setiap hari bertarung denganku sampai kau bisa mengalahkan aku!” Sambil berkata, dia melepaskan Siau Cu.

Siau Cu tertawa kecut:

“Berarti aku tidak bisa membiarkanmu!” “Bocah, sombong sekali kau!”

Siau Cu mengambil nafas. Dengan beberapa gerakan dia membuat otot-ototnya rileks. Dia segera menyerang. Dia tahu Wan- tianglo bukan orang yang mudah dikalahkan, maka sekali menyerang dia langsung menggunakan jurus andalan dari perguruannya. Dia berharap dengan beberapa kali serangan tiba- tiba bisa membuat Wan-tianglo roboh dan dia bisa meninggalkan tempat ini.

Dia juga tahu seperti gurunya Lam-touw, Kao Siau-thian, orang aneh di dunia persilatan ini memang memiliki sifat yang aneh, tapi mereka sangat menepati janji. Maka dengan cara apapun dia akan merobohkan orang tua ini.

Yang dia pikirkan adalah perhitungan dia sendiri, tapi begitu dia menyerang, Wan-tianglo seperti bisa berubah. Dari depan, belakang, kiri, dan kanan berputar-putar, kemudian menyerang kaki, tangan, kepala, dari semua arah menyerangnya.

Siau Cu tahu itu adalah ilusi. Dia tahu ilusi ini terjadi karena perubahan yang cepat di tubuh Wan-tianglo, ditambah dengan sudut-sudut tertentu maka mengganggu pandangannya. Kata-kata Wan-tianglo tidak dilupakan, tapi sekarang dia sudah tidak tahu yang mana yang benar dan yang tidak. Im atau Yang, sampai-sampai keberadaan Wan-tianglo juga tidak bisa dia pastikan. Kalau begini, mana bisa bertarung?

Dia tertawa kecut, akhirnya dia bisa melihat sedikit. Karena pendengarannya sangat tajam, dia menyerang dengan kepalan. Tapi perubahan Wan-tianglo benar-benar cepat, gerakan dia sama sekali tidak terkejar.

Baru sebentar, Siau Cu sudah ditendang dan dipukul beberapa kali. Tendangan dan pukulannya tidak ringan, membuat tubuhnya bergoyang ke sana-sini. Dengan susah payah bisa berdiri tegak tapi serangan yang lain sudah datang lagi. Hal ini membuat dia terguling ke bawah.

Dia terbaring di bawah. Wan-tianglo segera berhenti menyerang.

Dia berjongkok di depan Siau Cu dan melayangkan tangan: “Terus! Teruskan...”

Siau Cu menggelengkan kepala dan sudah bernafas terengah- engah:

“Aku mengaku bukan lawanmu!” “Tapi tetap harus terus bertarung!”

“Aku tidak ada dendam denganmu, bagaimana kalau aku terluka? Apakah kau tega melihatnya?”

“Tenanglah! Kalau kau terluka, aku akan mengobatimu. Bangun! Bangun!” Wan-tianglo tidak peduli. Dia memaksa Siau Cu bangun. Siau Cu mengambil kesempatan menyerang dengan kepalan tapi kepalan belum sampai, tangan Wan-tianglo sudah terlepas. Siau Cu mengejarnya. Tidak lama tubuh Wan-tianglo berubah seperti tadi lagi, kemudian dengan tendangan dan kepalan memukul Siau Cu sampai terguling lagi.

Siau Cu mulai marah. Dia meloncat bangun. Semua ilmu yang diajarkan Lam-touw dikeluarkan. “Ini baru benar!” Wan-tianglo sangat senang. Setelah bertarung ratusan jurus, Siau Cu tetap di pukul sampai roboh.

Kali ini tangan dan kaki Siau Cu terbuka lebar. Dia memejamkan mata dan tidak merangkak bangun lagi, Wan-tianglo berhenti. Dia meraba wajah Siau Cu yang terlihat tidak berekspresi lagi. Dia menggelengkan kepala:

“Begitu cepat sudah selesai!”

Dia segera berjalan mendekati gentong di sisi rumah. Terlihat dia belum mau berhenti dan ingin menyiram Siau Cu dengan air supaya dia sadar. Ketika dia membalikkan tubuh, Siau Cu segera membuka sebelah mata dan meloncat bangun. Dia berlari ke arah hutan buah persik. Wan-tianglo segera menge tahuinya. Tangannya bergetar, rotan yang di bawah segera terbang keluar dan mengikat Siau Cu dengan kencang. Walaupun di tangan Wan-tianglo tidak ada rotan, tapi tubuhnya berguling dan kemudian mengulurkan tangan, dia segera mencengkram rotan dan menarik. Siau Cu langsung ditarik kembali dan terguling di bawah. Belum sempat menarik nafas, kepalan Wan-tianglo sudah memukulnya. Dia terpaksa menahan dan menyerang lagi.

Siau Cu sudah lelah, semua ilmu silat sudah dikeluarkan. Wan- tianglo merasa bosan, tapi dia tetap memukul Siau Cu sampai roboh.

Siau Cu berusaha bangun tapi roboh lagi. Wan-tianglo melihat dia memang tidak bisa bertarung lagi, maka menariknya bangun dan berkata: “Baiklah, hari ini sampai di sini saja!”

Siau Cu sudah tidak ada reaksi lagi karena dia sudah pingsan. Wan-tianglo menggendong dia dan berjalan ke rumah pohon sambil mengomel:

“Siau Cu memang kalah dengan yang itu tapi lumayan juga. Kelak kalian berdua harus bergiliran melayaniku, itu baru namanya kesenangan.”

Baru menyelesaikan kata-katanya, dia melempar Siau Cu masuk ke rumah pohon melalui jendela. Di dalam rumah pohon tergantung sebuah ranjang besar yang dianyam dengan rotan. Seorang laki-laki berambut panjang dan acak-acakan sedang berbaring di sana. Siau Cu terlempar di sisinya tapi dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Siau Cu cepat berusaha untuk sadar. Walau pun setengah sadar dia masih tahu apa yang terjadi.

' Melihat orang di sisi, dia segera mendorongnya.

Orang itu tetap tidak ada reaksi, walaupun digoyang I dengan kuat juga sama saja.

“Tidak diragukan lagi, dia pasti disiksa oleh , orang aneh itu sampai seperti ini. Kelihatannya aku ! juga akan seperti ini!”

Karena terlalu lelah, Siau Cu pingsan lagi.

Waktu dia sadar kembali, malam sudah larut. Di sisinya ada sebuah piring kayu dan beberapa buah persik yang besar, juga ada setengah ekor ayam bakar yang masih panas. Dia tidak sungkan, langsung makan sampai kenyang. Siau Cu melihat orang itu l tetap terbaring di sana. Dia mencoba memeriksa pernafasan dari hidung, nafasnya sangat lemah.

Siau Cu sulit menjaga diri, bila terpikir gurunya Lam-touw terbunuh, dia benar-benar ingin kabur. Melihat di rumah pohon tidak ada orang lain, dia merangkak dari ranjang rotan ke depan jendela.

Di luar jendela sangat sepi, hanya ada seekor kera kecil sedang berjongkok di sana. Setelah mendengar sebentar, dia meloncat keluar dari jendela.

Kera kecil itu segera melotot. Siau Cu memberi isyarat agar jangan ribut dan diam-diam berjalan terus.

Kera kecil itu seperti merasa aneh melihatnya, kemudian berteriak.

Begitu kera kecil berteriak, kera-kera di sekeliling segera berteriak. Siau Cu baru melihat di sekeli- lingnya banyak kera yang sedang tidur. Wan-tianglo keluar dari rumah pohon, dia sedang meng-gendong seekor kera kecil. Siau Cu ingin bersem-bunyi tapi tidak sempat lagi.

“Baiklah! Apakah kau sudah beristirahat dan ingin bertarung denganku di bawah sinar bulan?” Begitu melihat adalah Siau Cu, Wan-tianglo segera berkata dengan senang:

“Kau sudah salah paham, aku keluar karena ingin melihat bulan!” Siau Cu segera bersalto kembali ke rumah pohon dan berbaring lagi di ranjang rotan itu.

Suara tawa Wan-tianglo terdengar:

“Kau tidak perlu berpura-pura, kau tidak akan bisa kabur, lebih baik kau tidur dengan baik dan besok baru bertarung lagi denganku!”

Siau Cu tidak menjawab. Wan-tianglo juga tidak bicara lagi.

Kera-kera yang berteriak juga berhenti.

Tapi ada suara keluar dari orang yang berbaring itu.

Awalnya dia menarik nafas pelan-pelan kemu dian nafasnya semakin kencang. Nafasnya bukan seperti manusia sedang terengah-engah, tapi seperti seekor binatang.

“Ada apa denganmu?” tanya Siau Cu terkejut.

Orang ini hanya bisa bernafas terengah-engah. Dia seperti sangat kesakitan. Siau Cu tidak bisa apa- apa, dia segera teringat Wan- tianglo. Pintu kamar tiba-tiba terbuka, yang masuk adalah Wan- tianglo.

“Orang ini...” Siau Cu baru ingin memberi tahu, Wan-tianglo sudah meloncat ke atas ranjang dan turun di sisi orang itu. Dia segera menotok puluh an nadi di punggung orang itu kemudian membalikkan tubuh orang itu. Menotok puluhan nadi di tubuh bagian depan dan menghembuskan nafas:

“Tidak akan terjadi apa-apa!”

Dia segera keluar kamar dan menutup kembali pintu. Orang itu merangkak bangun. Siau Cu memapah dia: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Tidak apa-apa lagi!” Orang itu mengangkat kepala. Sinar bulan menyinari wajahnya. Dia bukan orang lain, dia adalah Wan Fei- yang. Hanya saja Siau Cu tidak mengenal Wan Fei-yang. Dia hanya merasa orang ini tidak mirip orang jahat. Wan Fei-yang juga tidak banyak berbicara. Dia duduk bersila untuk mengatur nafas.

Siau Cu bisa melihat dan tidak mengganggunya. Mungkin dia teringat besok masih harus bertarung lagi dengan Wan-tianglo. Dia berbaring lagi dan siap tidur dengan nyenyak.

126-126-126

Akhirnya hari terang juga. Waktu Siau Cu bangun, Wan Fei-yang sudah selesai mengatur nafas dan membuka mata.

“Apakah kau sudah tidak apa-apa?” tanya Siau Cu.

“Terima kasih atas perhatianmu!” Wan Fei-yang tersenyum, “apakah kau juga tertangkap oleh Wan-tianglo?”

“Orang aneh itu benar-benar aneh. Umurnya sudah tua tapi masih suka bercanda!”

“Siapa namamu?” tanya Wan Fei-yang.

“Aku adalah bayi yang dibuang, tanpa marga dan nama. Guru memanggilku Siau Cu. Orang lain juga memanggilku begitu.” Teringat akan guru, Siau Cu merasa sedih lagi.

“Oh?” Wan Fei-yang sedikit terharu melihat Siau Cu, “Namaku Wan Fei-yang!”

“Wan Fei-yang?” Siau Cu terpaku kemudian tertawa, “sayang hanya nama dan marga yang sama. Jika kau adalah Wan Fei-yang dari Bu-tong-pai yang aku kenal, kau tidak akan takut dengan orang aneh itu!”

“Di mana kita pemah mengenal?” Siau Cu terpaku:

“Apakah kau adalah Wan Fei-yang dari Bu-tong-pai? Kau sudah menguasai Thian-can-kang. Di Tai-san kau mengalahkan Tokko Bu- ti. Di Siong-san mengalahkan Put-lo-sin-sian. Apakah kau adalah Wan Fei-yang itu?”

“Semua sudah menjadi masa lalu...” Wan Fei-yang menarik nafas.

“Benar-benar ada mata yang tidak mengenal ksatria ini!” Siau Cu tertawa, “Sebenarnya aku tidak mengenalmu, tapi dua temanku mengenalimu. Dari mulut mereka, aku tahu kau adalah seorang ksatria. Maka bisa mengenalmu aku sangat beruntung!”

“Dua temanmu itu adalah?” “Yang satu adalah Lu Tan!”

“Lu Tan?” kata Wan Fei-yang, dia segera teringat, “orang ini sangat berbakat tapi sayang tidak berada di Bu-tong-san untuk belajar ilmu silat!”

“Yang satu lagi seharusnya kau lebih mengenalnya. Dia adalah Fu Hiong-kun..

Tubuh Wan Fei-yang bergetar:

“Bagaimana keadaan mereka sekarang?”

“Karena membunuh Liu Kun, Lu Tan diberi jasa maka bisa membersihkan nama ayahnya yang disebut pemberontak, tapi dia tidak tertarik untuk menjadi seorang pejabat. Dia memilih kembali ke Bu-tong-san dan katanya ingin menjadi seorang pendeta, dia juga ingin berlatih ilmu silat untuk mengabdi pada Bu-tong.”

“Benar-benar bagus! Bagaimana dengan Fu Hiong-kun?” “Baik!' “Apakah dia sudah mempunyai kekasih?” tanya Wan Fei-

yang.

Siau Cu tidak terpikir apa maksud Wan Fei-yang bertanya akan hal ini dan dia sama sekali tidak merasa aneh. Dia menjawab:

“Tidak begitu jelas tapi An-lek-hou sepertinya suka kepadanya!” “An-lek-hou Su Yan-hong?”

“Apakah kalian saling mengenal?” Wan Fei-yang mengangguk: “Apakah dia baik kepada An-lek-hou?” “Lumayan!”

Wan Fei-yang tertawa kecut tapi merasa terhibur dan berkata sendiri:

“Kalau Fu Hiong-kun bisa melupakan masa lalu, dia baru bisa gembira!”

Tapi Siau Cu tidak mendengar:

“Betul, Wan-toako kau mempunyai ilmu silat yang hebat dan membuat dunia persilatan bergetar. Semua orang berharap kau bisa menjaga keadilan, mengapa kau kemari?”

Wan Fei-yang melihat Siau Cu:

“Sebenarnya bukan rahasia apa-apa. Waktu bertarung di Tai- san, walaupun aku mengalahkan Tokko Bu-ti, tapi aku terluka oleh ilmu 'Thian-mo-kay-te-tay-hoat'. Waktu itu An-lek-hou memberikan 'Cian-iian-ciap-su' kemudian Guru Bu-go dari Siauw-j lim dengan ilmu tusuk jarum menyambung nadiku , yang putus. Maka aku bisa pulih sekitar 70%-80%. ' Waktu bertarung lagi dengan getaran kecapi yang bernama Jit-sat dari Pek-lian-kau, Put- lo-sin-sian, aku > terpaksa melawannya dengan sekuat tenaga. Nadi-nadiku tergetar dan putus. Jika bukan Guru Bu-wie yang memberitahukan cara menggunakan 'Ih-kin-keng' dan melakukan pengobatan sendiri, mungkin aku sudah mati!”

Walaupun baru bertemu tapi entah mengapa . terhadap Siau Cu, Wan Fei-yang merasa suka, pembicaraan mereka pun menjadi banyak.

“Maka kau bersembunyi di sini?”

“Apakah Ih-kin-keng ada gunanya, Guru Bu-wie juga tidak yakin. Jika benar akan mati, aku diam-! diam tinggal sendiri, itu sudah cukup, untuk apa mengejutkan teman dan membuat mereka sedih?” kata Wan Fei-yang sambil tertawa, “tadinya aku ingin mencari suatu tempat di mana tidak ada orang datang menganggu, tapi sebelum mendapatkan tempat itu, Wan-tianglo sudah datang mencari!” “Untuk apa orang aneh itu mencarimu?”

“Orang ini berlatih ilmu silat sampai menjadi gila, setiap hari selalu mencari pesilat tangguh untuk bertarung. Orang-orang dunia persilatan takut dan menghindari dia agar tidak menjadi repot. Dia tahu aku adalah pesilat tangguh, mana mungkin dia melepaskan kesempatan ini!”

“Kau kalah bertarung dengannya?”

“Luka dalamku belum sembuh. Belum sampai tiga jurus aku sudah muntah darah dan roboh. Tapi dia tidak melepaskanku dan mengantarku kemari. Setiap malam dengan ilmu Tay-seng-sin- kang membantuku melancarkan jalan darah. Ditambah aku menggunkan Ih-kin-keng untuk mengobati diri sendiri maka bisa bertahan hidup sampai sekarang!”

“Tujuan dia hanya ingin bertarung denganmu?” “Sekarang satu hari satu kali!”

“Dia tetap menang?”

“Ilmu silat orang ini tidak berada di bawah Tokko Bu-ti dan Put- lo-sin-sian.”

“Aku lihat jika belum membuat kita sampai benar-benar lelah, dia tidak akan berhenti. Luka dalammu belum sembuh, setiap hari pasti sangat sakit bagimu.”

“Tapi banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan!”

“Tapi dengan begitu kau tidak ada waktu untuk beristirahat, kapan luka dalammu akan sembuh?”

Terdengar ada suara, pintu sudah terbuka. Wan-tianglo datang sambil tertawa:

“Sekarang aku akan mencari orang untuk bertarung, di antara kalian berdua siapa yang maju duluan?”

“Aku!” Siau Cu langsung menjawab.

Wan Fei-yang ingin menarik dia tapi Siau Cu sudah meloncat keluar. Setelah di depan pintu, tiga kepalan sudah menyerang. Wan- tianglo terus mundur, sampai di lapangan luar rumah dia baru membalas.

Setelah itu serangan Siau Cu semakin gencar. Semangat Wan- tianglo terlihat semakin bertambah.

Wan-tianglo berteriak:

“Baik!” Dia meloncat juga berguling-guling seperti seekor kera. Dia santai juga senang, tapi bersifat tidak sabar. Ilmu Tay-seng-sin- kang sudah dikeluarkan dan posisinya terus berganti-ganti, membuat mata Siau Cu kacau. Kemudian Siau Cu terkena pukulan dan terjatuh.

Dia meloncat bangun. Kaki dan tangan bergerak menyerang lagi.

Di dalam tawanya, Wan-tianglo berputar lagi.

Siau Cu tertawa kecut, waktu dia siap dipukuli, tiba-tiba suara Wan Fei-yang terdengar.

“Cong-kang, Cou-hong-bun, Tan-hong-cau-yang, Beng-houw- sin-yo!” (semua adalah nama-nama jurus).

Reaksi Siau Cu sangat lincah. Dia segera bergerak. Ilusi yang di depan mata menghilang. Waktu memperagakan Beng-houw-sin-yo, sepasang kepalan menyerang ke dada Wan-tianglo. Wan-tianglo bertahan ke kiri dan kanan, kemudian berbalik ke bela kang Siau Cu. Siau Cu menendang tapi tidak mengenai sasaran dan melihat ilusi terjadi lagi.

Wan Fei-yang membentak lagi:

“Lan-lo-ta-kun (keledai malas berguling), Yu-tai-wie-yau (tali ikat pinggang), Ouw-liong-pak-bwe (naga hitam menggoyangkan ekor).”

Dua jurus di depan menutupi serangan Wan-tianglo. Jurus terakhir menyapu dengan kaki, memak sa Wan-tianglo berbalik kembali.

“Baik! Ada pesilat tangguh yang memberitahu memang berbeda!” Wan-tianglo tertawa. Tubuhnya terus berubah semakin cepat. Mata Wan Fei-yang melihat dengan cepat, mulut juga berbicara cepat, tapi Siau Cu tidak bisa mengikuti dengan cepat. Setelah beberapa jurus, lagi-lagi dia roboh dipukul. Wan-tianglo menendang Siau Cu dengan kepalan. Untung Wan Fei-yang cepat datang, dia menyambut dua pukulan Wan-tianglo.

Wan-tianglo tertawa lepas. Tubuh dia berubah dengan cepat. Wan Fei-yang tidak kalah cepat dari dia. Siau Cu melihat dengan mata terbelalak dan terus melihat, sampai dia sudah tidak bisa melihat lagi perubahan tubuh Wan-tianglo dan Wan Fei-yang terlalu cepat.

Siau Cu kembali bisa melihat perubahan mereka bukan karena matanya yang bisa mengejar, melainkan perubahan tubuh mereka menjadi semakin pelan.

Keringat besar menetes dari dahi Wan Fei-yang. Dia mulai terengah-engah, gerakannya mulai pelan, Wan-tianglo ikut pelan, tawanya dari tawa besar menjadi biasa, akhirnya menghilang. Dia menarik nafas dan pergi.

Wan Fei-yang roboh. Siau Cu berteriak:

“Wan-toako!” dan segera memapah Wan Fei- yang. “Tidak apa-apa!” Wan Fei-yang tertawa kecut.

Wan-tianglo menggelengkan kepala:

“Puas ya puas tapi sayang belum puas benar! Hari ini sampai di sini, besok aku akan datang lagi. Harap kalian paling sedikit seperti hari ini, jangan membuat aku kecewa!”

Siau Cu marah:

“Pada suatu hari aku akan membeset kulit dan tulangmu, dan aku ingin kau berlutut dan meminta ampun!”

Wan-tianglo malah tertawa:

“Kalau benar hari itu datang, aku benar-benar senang dan kehidupanku akan lebih sempurna!”

Setelah tertawa, dia bersalto beberapa kali dan menghilang. Wan Fei-yang hanya bisa tertawa kecut. Wan Fei-yang sudah duduk bersila untuk mengatur nafas. Keringat di tubuh segera berubah menjadi uap melayang.

Tidak lama kemudian Wan Fei-yang sudah selesai mengatur nafas. Dia segar kembali dan berdiri dengan tenang.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Keadaan sama dengan sebelum bertarung dengan Wan- tianglo.” Wan Fei-yang tertawa, “Ih-kin-keng yang bisa mengobati diri sendiri harus diakui sangat aneh!”

“Untung kau menguasai cara pengobatan sendiri, kalau tidak kau akan dipukul sampai cacat oleh orang aneh itu!”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Walaupun dia suka ilmu silat seperti orang gila tapi dia bukan orang jahat, maka kau boleh tenang!”

“Atau dia takut kau menjadi cacat dan tidak ada orang yang bisa menemani dia berlatih?” terlihat Siau Cu memang tidak menyukai Wan-tianglo.

“Mungkin!” Wan Fei-yang mengerti hati Siau Cu dan tidak membela.

“Sekarang cukup repot, entah kapan baru bisa meninggalkan tempat ini. Dendam guru dan Bing-cu!”

Siau Cu marah. Dia memukul ke bawah. “Marah bukan cara memecahkan masalah!” Mata Siau Cu berputar. Dia segera berkata:

“Wan-toako, Thian-can-sin-kang milikmu, Tokko Bu-ti, dan Put- lo Sin-sian juga tidak sanggup melawanmu. Apakah Wan-tianglo lebih lihai dari pada mereka?”

“Thian-can-kang berada di atas Tay-seng-sin-kang. Hanya saja luka dalamku tidak pernah sembuh, tenagaku putus-sambung maka tidak bisa mengeluarkan semua kekuatannya!”

“Berarti Ih-kin-keng juga tidak ada gunanya!” “Hvkin-keng berjumlah 38 jurus. Sampai sekarang aku hanya bisa mengerti 36 jurus, masih ada 2 jurus lagi yang belum aku kuasai. Mungkin sesudah dikuasai, akan ada perubahan!”

“Kau pasti bisa!” Siau Cu berkata penuh keper cayaan kepada Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melihat Siau Cu:

“Tadi aku melihat kau bertarung dengan Wan-tianglo, tidak diragukan lagi kau adalah orang berbakat di dunia persilatan. Asal kau rajin, pasti ada hasil yang bagus!”

Siau Cu dengan malu mencakar rambutnya yang acak-acakan.

Dia tidak biasa dipuji. Kata Wan Fei-yang:

“Mulai sekarang setiap hari aku akan berunding tentang ilmu silat denganmu. Kita bisa bertukar pola pikir kita!”

Sebenarnya maksud Wan Fei-yang adalah ingin mengajar. Siau Cu benar-benar senang:

“Aku tidak mempunyai apa-apa...”

“Setiap perkumpulan pasti ada keistimewaannya...” “Terima kasih Wan-toako!” Siau Cu ingin berlutut. Wan Fei-yang segera memapah:

“Kau juga memperhatikan ilmu Tay-seng dari Wan-tianglo, perubahan tubuhnya begitu lincah. Aku kira tidak ada orang bisa menandinginya!”

Siau Cu mengangguk:

“Kalau begitu aku harus berterima kasih pada orang aneh itu!” “Seharusnya dia menghabiskan waktu untuk muridnya, tapi

tidak ada orang yang mau menjadi muridnya!”

“Aku benar-benar tidak pernah bertemu deng an orang seperti dia!”

Belum menyelesaikan kata-katanya, Wan-tianglo sudah muncul dari hutan buah persik. Dua tangan membawa sepiring buah persik, mengantarkannya ke depan Wan Fei-yang dan Siau Cu, kemu dian segera bersalto keluar dan menghilang.

Wan Fei-yang dan Siau Cu hanya bisa tertawa kecut.

Kita tidak jelas dengan keadaan di Lu-san karena sedang berada di gunung ini. Ini adalah puisi karya Soh Tong-po, seorang penyair Tiongkok kuno yang sangat terkenal. Ada yang berkata bahwa sebenarnya puisi ini bukan sedang menceritakan Lu-san, mereka mengartikannya sebagai berikut, orang yang bersangkutan di dalam suatu permasalahan akan merasa bingung, sedangkan orang lain yang melihat permasalahan itu akan melihat dengan jelas. Apakah mungkin interpretasi itu disebabkan karena Soh Tong-po memang belum pernah melihat keadaan Lu-san dengan jelas?

Lalu aslinya Lu-san sebenarnya seperti apa? Ada yang menganggap itu adalah air terjun. Itu masuk akal juga.

Dari semua gunung terkenal, air terjun di Lu-san benar-benar seperti beribu-ribu orang mabuk yang gilanya tidak terlukiskan. Apalagi di Ceng-yu-sia, air terjun benar-benar jarang kita temukan. Air terjun turun dengan cepat di antara dua gunung, terkadang air turun dengan lurus. Suara gemuruh terdengar di antara batu-batu yang aneh bentuknnya, dan turun ke jurang yang berpuluh ribu depa dalamnya. Benar-benar membuat orang terkejut.

Di sisi jurang ada sebuah tempat datar seperti panggung. Entah kapan dan entah dewa mana yang tiba-tiba menepis gunung ini dengan kapak besar. Dia menepis gunung bagian atas dan menyisakan gunung bagian bawah, maka jadilah tempat datar seperti panggung yang luas.

Sebuah rumah batu dibangun di sisi tempat ini. Di depannya ada sebuah pohon cemara yang besar. Di sisi sebuah meja batu duduk bersila tiga orang tua yang kurus. Tiga dewa ini adalah Ih-sian (tabib), Yok-sian (obat), dan Tok- sian (racun).

Ih-sian memiliki ilmu pertabiban yang tinggi. Yok-sian mengenal beribu-ribu macam obat dan ahli dalam mencampur obat. Tok-sian seorang peneliti racun, seringkah dia sengaja menggunakan suatu ramuan racun untuk menyerang jenis racun yang lain untuk mendapatkan hasil yang aneh.

Tiga orang ini dulu saling bermusuhan, tapi karena sering mengadu ilmu maka dalam 15 tahun terakhir ini mereka sudah menjadi teman baik. Tapi mereka sudah terbiasa setiap tiga tahun sekali harus beradu ilmu satu dengan yang lainnya, mereka harus menemukan pemenang baru berhenti beradu ilmu.

Setiap tiga tahun ketika mereka bertemu, mereka masing- masing mendapatkan hasil penelitian baru. Kali ini pun tidak terkecuali.

Tapi Ih-sian terlihat sedikit lelah. Baru saja duduk, dia sudah berkomentar:

“Kita sudah bertanding setiap tiga tahun sebanyak lima kali berturut-turut, tapi selama itu tidak pernah ada pemenang.”

Yok-sian tertawa:

“Maka dari itu kita harus tetap bersaing. Apakah kau mau mundur?”

“Kalau mundur di hari pertandingan tahun ke-15, mati juga tidak akan bisa memejamkan mata!” kata Tok-sian.

Ih-sian mengangguk:

“Karena itulah, hari ini tiga orang tua bertemu lagi!” “Seharusnya kali ini bisa menentukan siapa yang menang dan

siapa yang kalah!” kata Yok-sian.

“Setiap kali Lo-heng selalu percaya diri!!” kata Ih-sian, “tapi sudah 15 tahun, tetap saja tidak ada yang menang!”

“Lebih baik kita lihat apa yang dihasilkan dia dalam tiga tahun ini!” kata Tok-sian. Yok-sian tertawa:

“Kita jarang bertemu, biarlah aku bersulang dulu dengan Ji-wi Lo-heng!” Dari kantong dia menge luarkan dua cangkir giok, masing-masing cangkir giok ditaruh di depan Tok-sian dan Ih-sian. Kemudian dia mengeluarkan sebotol kecil arak. Dia men- cabut tutup botol arak dan menuangkan arak ke masing-masing cangkir.

Wangi arak yang berwarna hijau itu langsung tercium. Begitu Ih- sian mencium bau arak langsung tertawa:

“Mainan yang sama seperti dulu!”

“Tiga tahun yang lalu, kau sudah berkomentar seperti ini!” kata Ih-sian santai.

“Karena kau masih mengeluarkan barang yang sama seperti tiga tahun yang lalu, maka terpaksa aku mengulangi komentarku tiga tahun lalu!”

Yok-sian malah tertawa:

“Kalian jelas-jelas sudah tahu ini bukan barang yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Kalian sengaja berkomentar seperti itu untuk membuatku marah. Aku tidak akan tertipu. Silahkan! Kalian berdua silahkan minum!”

Ih-sian mengangkat cangkir dan menghabiskan arak, lalu berkata:

“Barang bagus. Di dalamnya sudah kau tambahkan campuran dua macam obat lagi!”

Yok-sian tersenyum:

“Betul aku sudah menambah dua macam obat dalamnya. Setelah ditambah dengan dua macam obat baru, khasiat racun paling sedikit bertambah satu kali lipat. Untung aku sudah membuat obat penawarnya. Kalau kau mengaku kalah, aku akan segera memberikan obat penawarnya kepadamu!”

Sewaktu berbicara, wajah Yok-sian sudah I, berubah warna menjadi berwarna hijau ungu. Dia tetap tenang, dia mengeluarkan sebuah kotak dan mengambil jarum-jarum kecil, kemudian menancapkan jarum kecil pada titik-titik nadi di bagian tenggorokan sampai dada, semua berjumlah 17 titik nadi. Sampai dia mencabut jarum kecil dan menaruh kembali ke dalam kotak, 17 titik nadi dan daging Yok-sian sudah bergerak teratur seperti biasa.

Tidak lama kemudian, muncul cairan berwarna hijau ungu dari lubang jarum yang ditancapkan tadi. Cairan keluar dengan cepat sampai habis lalu mengalir darah merah. Ih-sian segera membersih karinya dengan sehelai kain putih, lalu dia tertawa:

“Hanya sebegitu saja!”

“Baik!” Yok-sian benar-benar memuji, “kau menggunakan tenaga dalam menutup jalan darah, menghadang racun untuk menyebar, kemudian memancing racun keluar dengan jarum. Benar-benar teknik yang bagus, aku kagum!”

Tok-sian berkata:

“Bila sedikit meleset, jarum kecil itu akan membuat dia mengaku kalah. Sekarang giliranku!”

Dia sekaligus menghabiskan arak itu sekali gus, kemudian pelan- pelan meniup. Seekor ular kecil berwarna belang emas dan perak keluar dari lengan bajunya, lalu menggigit pergelangan tangannya.

Yok-sian yang melihat itu menarik nafas:

“Menggunakan racun untuk menyerang racun, hanya kau yang bisa terpikir akan cara ini. Kalau tidak mengenal baik jenis racun, mana mungkin kau memakai cara ini?”

Ih-sian juga menarik nafas:

“Menurutku, Lo-heng benar-benar sesat. Awal nya kau meneliti penyakit manusia, sekarang kau meneliti racun. Bukan menolong orang, malah mencelakakan orang!”

Tok-sian tertawa kering:

“Tadinya aku selalu menggunakan racun untuk meraih kemenangan, tapi aku memecahkan racun dengan ular ini...”

“Bagaimana Lo-heng?” balik Ih-sian bertanya. “Sekarang aku ingin melihat ilmumu!” kata Yok-sian. “Bukankah sudah melihatnya?” tawa Tok-sian.

Yok-sian mengerutkan hidung:

“Apakah racun yang tidak terlihat sudah tersebar di udara?” Tok-sian tertawa:

“Kalau kau yang berpengalaman juga tidak merasakannya, bukankah aku sudah pasti menang?”

“Yang ingin kau pamerkan sebenarnya adalah ular beracun itu?” tanya Ih-sian.

“Tetap saja Ih-sian yang hatinya lebih bersih!” Tok-sian tertawa, “kelihatannya kau sudah punya penemuan yang bisa menjadi tiket kemenangan untukmu, maka kau terlihat begitu tenang dan tidak bingung sama sekali!”

Ih-sian hanya tertawa. Yok-sian segera mengerti, dia melihat Tok-sian:

“Pantas kau tidak pamer lagi. Arak racunku dan ular beracunmu itu saling mengendalikan. Kau akan membuat ular beracun itu menggigitku. Asalkan aku meminum arak beracun ini, aku akan bisa menawarkan racun. Kemudian dia bisa menggunakan jarum kecil untuk memancing arak beracun dariku. Sedangkan ular beracunmu pasti tidak mengalami perubahan, maka itu berlebihan!”

Tok-sian mengangguk:

“Memang sederhana. Hanya saja Lo-heng ingin menang dengan cepat dan tidak memperhatikan ular beracun itu. Kau mengira aku pasti masih punya jurus-jurus hebat lagi.”

Yok-sian melihat wajah Ih-sian:

“Sekarang aku sedikit cemas dan ingin melihat kepandaian Lo- heng!”

“Bukan hanya kau!” Tok-sian bertanya pada Ih-sian, “Lo-heng, kau masih menunggu apalagi?” “Ikutlah denganku!” Dengan tenang Ih-sian berdiri dan berjalan menuju rumah batu itu.

127-127-127

Di tengah-tengah rumah batu ada sebuah peti mati. Ih-sian membuka tutup peti. Tok-sian dan Yok-sian melihat jelas di dalam peti terbaring seorang tua berambut dan berkumis putih yang hampir meninggal.

Tok-sian dan Yok-sian saling melihat dan bertanya kepada Ih- sian:

“Apa maksudmu?”

“Kalian lihat dengan jelas dan beritahu pada ku apakah orang ini masih bisa hidup?”

“Kalau bisa, memang kenapa?” tanya Yok- sian.

“Bila bisa membuat dia hidup kembali, berarti aku menang!” Ekspresi Ih-sian seperti sudah menang.

“Bagaimana kalau kami tidak bisa dan kau juga tidak bisa?” tanya Tok-sian.

“Aku yang akan kalah!”

“Ini adil juga!” Yok-sian berjongkok dan Tok-sian segera ikut berjongkok.

Inilah kali pertama mereka bekerja sama, masing-masing mereka melakukan apa yang mereka bisa. Setelah memeriksa dengan teliti selama sekitar setengah jam, akhirnya mereka mundur.

Yok-sian menggelengkan kepala:

“Separuh dari nadi-nadi orang ini sudah pecah, hampir semua nadi-nadinya juga sudah tersumbat. Tidak diragukan lagi disebabkan karena dia sudah tua tapi tetap bernafsu birahi. Sekalipun dewa yang datang mengobati, dia tetap tidak bisa tertolong!”

“Bagaimana pendapatmu?” Ih-sian bertanya kepada Tok-sian. “Sudah tidak ada harapan hidup. Walaupun Hoa-to (tabib yang paling terkenal di Tiongkok kuno) hidup kembali, dia tetap tidak bisa menyelamatkannya!” Tok-sian berkata sambil melihat Ih-sian.

“Pada tahun ke-15 ini akhirnya aku bisa merasakan kemenangan!” Ih-sian tertawa keras.

Tok-sian menggelengkan kepala:

“Kalau kau bisa menyelamatkan orang ini, aku mengakui kekalahan dengan tulus!”

“Demikian juga dengan aku!” kata Yok-sian.

Dengan sangat tenang Ih-sian mengeluarkan sebotol obat dan sebutir obat berwarna merah emas. Obat dimasukkan ke mulut orang tua yang berbaring di peti mati. Dia menekan tenggorokan dan memegang sudut mulut orang tua itu, memaksa orang tua menelan obat itu.

Tangan dan kaki orang tua itu sudah kaku. Walaupun masih bernafas, nafasnya terlihat bersisa sedikit lagi. Tapi setelah menelan obat itu, dadanya mulai bergerak naik turun. Suara nafasnya mulai terdengar.

Tok-sian dan Yok-sian terkejut. Melihat kaki dan tangan orang tua bergetar, Tok-sian tidak tahan lagi untuk bertanya:

“Obat apa itu?” Hvsian tersenyum:

“Sementara ini diberi nama Su-beng-kim-tan!” (Butiran emas menyambung nyawa).

“Benar-benar tidak terbayangkan!” kata Yok-sian sambil menggelengkan kepala, “mana mungkin orang ini bisa bereaksi seperti itu!”

“Kita Say-gwa-sam-sian, kau yang nomor satu. Siaute benar- benar kagum kepadamu!” kata Tok-sian.

“Lo-heng adalah orang yang berbakat. Walau pun Siaute kalah, tapi aku kalah dengan tulus hati!” kata Yok-sian. “Kalau hal ini diumumkan, dunia akan bergetar. Pada waktu itu semua orang akan menganggap kau adalah dewa hidup. Kami dua saudaramu juga akan mendapatkan kebaikan.”

Yok-sian berpikir lebih jauh:

“Kalau memberikan obat kepada kaisar, pasti akan diberi hadiah yang besar dan akan membuat nenek moyang kita bangga!

Semakin berbicara, mereka semakin gembira. Mereka tidak melihat tawa Ih-sian yang semakin menghilang. Dia duduk dengan tidak bersemangat.

“Selama tiga tahun ini kau sama sekali tidak memberi kabar kepada kami. Ternyata kau bersembunyi untuk membuat obat yang bernama Su-beng-kim-tan!” kata Tok-sian.

“Aku lihat sepertinya harus dibuat dalam jum lah yang banyak untuk menyelamatkan orang. Itu akan mendapat pahala besar.

“Aku tidak akan membuatnya lagi!” kata Ih-sian tiba-tiba. “Apa?” Tok-sian tidak mempercayai pendengarannya sendiri. “Apakah setelah memakan obat ini, ada efek yang tidak baik?”

tanya Yok-sian.

“Sungguh menakutkan!” kata Ih-sian “Kami tidak mengerti!” “Sebelum diberikan kepada manusia, aku pernah memberinya

kepada unggas dan binatang yang hampir mati untuk percobaan.

Memang betul nyawa mereka tertolong dan kembali hidup dengan baik, tapi pikiran mereka menjadi kacau. Sebagian binatang bahkan menyiksa diri tapi sedikitpun tidak merasa sakit!”

“Oh?” Tok-sian dan Yok-sian merasa aneh.

“Bila Su-beng-kim-tan jatuh ke tangan orang jahat, coba kalian pikir apa akibat yang akan terjadi?”

Baru selesai berkata, orang tua yang terbaring di peti mati meloncat bangun, orang tua ini seperti anjing gila menyerang Ih- sian. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti raungan binatang. Ih-sian seperti sudah tahu. Dia memukul dada orang tua itu sampai masuk kembali ke dalam peti mati.

“Sekarang kalian sudah lihat!” Ih-sian memukul lagi orang tua yang baru bangun dari peti mati.

Sekarang Tok-sian dan Yok-sian baru memper hatikan sorot mata orang tua ini. Sorot mata orang tua tidak hanya kembali bercahaya dan terang, malah membuat orang merasa takut. Sama sekali bukan sorot mata manusia, melainkan seperti binatang.

Dia roboh, tapi segera merangkak bangun lagi. “Dia seperti tidak merasa sakit!” tanya Tok-sian aneh.

“Itu adalah paling menakutkan!” Ih-sian ber- getar. “Untuk apa dia tergesa-gesa bangun?” tanya Yok-sian.

“Kau jangan bergerak, kemudian dia akan memukul kita, lalu kau akan tahu!” Ih-sian tertawa kecut.

“Ingin bertarung?”

“Ingin membunuh orang!” Ih-sian cepat menu tup peti mati dan segera duduk di atasnya.

Dari dalam peti mati keluar suara meraung seperti orang gila. Ih- sian menarik nafas:

“Orang tua ini belum pernah belajar ilmu silat. Kalau tidak, mungkin kita akan cukup repot!” Yok-sian mengangguk:

“Aku setuju! Su-beng-kim-tan jangan dibuat lagi!”

“Bagaimana dengan orang tua ini?” Tok-sian bertanya sambil tertawa kecut.

Lh-sian juga tertawa kecut:

“Selain membunuh dia, aku tidak mempunyai cara lain yang lebih baik lagi!”

“Membunuh dia?” Tok-sian bertanya.

“Di dunia ini tidak ada hal yang lebih lucu lagi!” Ih-sian hanya bisa tertawa kecut. 128-128-128

Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong datang ke rumah batu tiga jam setelah kejadian ini. Mereka berjalan tergesa-gesa sepanjang jalan karena tidak mau melewatkan pertarungan Say-gwa-sam- sian.

Melihat ada dua cangkir giok di dataran yang seperti panggung itu, Tiong Toa-sianseng tahu mereka sudah tidak sempat, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal di luar dugaannya.

Dia mengira dalam pertarungan Say-gwa-sam-sian kali ini, pasti tidak ada hasilnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun ada hasil, tidak akan terjadi musibah apa-apa. Tapi tidak disangka, begitu mendekati rumah batu, dia sudah mencium bau darah. Ketika membuka pintu, dia terkejut melihat rumah yang acak- acakan. Barang-barang berhamburan, ada yang hancur, ada yang pecah. Tiong Toa- sianseng melihat tubuh Yok-sian dan Tok-sian yang penuh dengan darah. Mereka sudah mati.

Tiong Toa-sianseng segera memeriksa pernafasan Tok-sian, dia semakin terkejut. Su Yan-hong juga dengan cepat memeriksa Yok- sian, kemudian dia melihat Tiong Toa-sianseng sambil menggelengkan kepala dan menarik nafas.

Tidak perlu berkata apa-apa, Tiong Toa-sianseng sudah tahu Yok-sian sama seperti Tok-sian, keduanya sudah meninggal.

“Siapa yang membunuh mereka?” Tiong Toa-sianseng tidak bisa melihat.

“Apakah setelah bertarung mereka menjadi seperti ini!” Su Yan- hong melihat sekeliling. Dia mera sa semakin aneh.

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala:

“Mereka bertiga sudah seperti saudara kandung, apalagi pertarungan di antara mereka bukan yang pertama kali. 15 tahun sudah mereka lewati dan selama itu tidak terjadi apa-apa, mengapa sekarang bisa ada yang meninggal?” “Tecu juga berpikir seperti itu. Tapi aneh, mengapa tidak ada Ih- sian, hanya ada Tok-sian dan Yok-sian?”

“Kita buka peti mati itu!” kata Tiong Toa-sianseng.

Peti mati tetap masih tertutup. Begitu dibuka terlihat ada seorang tua berbaring di sana. Pada tengah wajahnya di antara kedua alis tertancap sebatang jarum perak yang berkilau!

Su Yan-hong segera berkata:

“Dia bukan Ih-sian!”

“Siapa dia sebenarnya?” tanya Tiong Toa-sianseng. “Dia masih bernafas!”

“Tidak mungkin! Jarum ini ditancap di jalan darah yang penting. Apakah dia masih bisa hidup?” Saat Tiong Toa-sianseng merasa aneh, orang tua sudah merangkak keluar dari peti mati.

“Tanyakan padanya!” Su Yan-hong menceng-kram pundak orang itu, “mungkin dia tahu apa yang sudah terjadi!”

Su Yan-hong belum selesai berkata, orang tua sudah menyerang dan mencengkram tenggorokannya. Su Yan-hong mengayunkan tangan dan membentak:

“Siapa kau?”

Tangan orang tua datang mencengkram lagi. Sekali lagi Su Yan- hong mengayunkan tangan, tiba-tiba orang tua itu menggigit tangan Su Yan-hong. Tiong Toa-sianseng melihat, dia segera berkata:

“Dia tidak sadar!”

“Kelihatannya memang seperti itu!” Su Yan-hong menjawab sambil menghindari gigitan orang tua itu, lalu mencengkram kedua tangan orang tua yang datang menyerang.

Orang tua itu tidak bereaksi apapun, dia sudah mati rasa. Dia memberontak, sikapnya tidak berbeda dengan orang yang sudah gila. Tiong Toa-sianseng segera meloncat ke atas. Dengan menurunkan tendangan kaki dari atas, dia menepuk kedua telinganya. Orang tua itu seperti tersambar petir, tubuhnya bergetar, semua gerakan segera berhenti.

Tiong Toa-sianseng mengambil nafas. Dia tidak menurunkan tubuhnya, malah naik ke atas. Dia menekan kepala orang tua dengan telapak kanan, kemudian mengalirkan tenaga dalam masuk ke kepala orang tua.

Orang tua itu berteriak, sikapnya seperti orang gila, teriakannya kemudian berubah menjadi rintihan. Sorot matanya mengambang. Dia berkata sendiri:

“Perempuan berbaju merah muda, Hun-lo-sat (Pembunuh merah muda).”

Setelah itu dia tidak bernafas lagi.

“Obat yang benar-benar gila!” kata Tiong Toa-sianseng. “Obat?” Su Yan-hong merasa heran.

Tiong Toa-sianseng mengangguk:

“Aku kira hanya obat yang bisa mengubah orang tua seperti itu. Menemukan orang tua seperti ini di tempat pertemuan Say-gwa- sam-sian, bukankah ini hal yang aneh?”

“Keadaan Tok-sian dan Yok-sian seperti ini, apakah karena obat atau hal lain...” tanya Su Yan-hong.

“Apakah kau tidak tahu gurumu tidak paham dengan obat- obatan?”

Su Yan-hong melihat jarum perak yang masih menancap di antara kedua alis orang tua itu:

“Apakah guru tahu jarum perak adalah senjata rahasia dari perguruan mana?”

“Walaupun guru tahu banyak tentang senjata rahasia, tapi aku belum pernah melihat yang seperti ini. Tapi bukan hal yang sulit untuk mencari tahu.” “Maksud guru...”

“Semua senjata dan senjata rahasia pernah dibagi jenis dan macamnya oleh keluarga Lamkiong. Mereka meneliti jenis dan macam senjata dan senjata rahasia dengan serius. Bila kita pergi ke keluarga Lamkiong untuk meminta tolong, bukankah masalah akan beres?” kata Tiong Toa-sianseng sambil menarik nafas, “Say-gwa- sam-sian jarang membuat keributan dengan dunia luar. Hanya dengan mendapatkan orang yang membunuh mereka, baru bisa mengetahui apa tujuannya.”

Su Yan-hong melihat wajah Tiong Toa-sianseng: “Apa yang guru khawatirkan?”

“Aku merasa tidak nyaman! Setiap kali muncul perasaan ini, selalu ada musibah yang terjadi.”

“Kali ini, kira-kira apa yang terjadi?”

“Kalau aku bisa tahu, aku bisa berusaha meng hindar, musibah tidak akan menjadi musibah lagi!”

“Karena Say-gwa-sam-sian berbeda dengan orang lain, maka guru berpikir terlalu jauh!”

“Tidak mungkin Tok-sian dan Yok-sian tidak meninggalkan jejak sedikitpun tentang musibah ini. Mungkin kau tidak mengerti kata- kataku!”

“Aku mengerti. Waktu terjadi sesuatu dengan Ih-lan, aku juga merasakan perasaan seperti ini!”

“Bagi kita yang menekuni agama To, itu nama nya Tong-leng (Hubungan batin).”

Setelah membawa mayat turun dari Lu-san, Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong segera membeli tiga peti mati. Mereka menyewa sebuah kereta kuda, malam itu juga berangkat ke keluarga Lamkiong.

Walaupun tidak sejaya dulu, tapi dari luar terlihat keluarga Lamkiong tidak ada perubahan yang besar. Rumah tetap indah dan bersih. Papan nama 'Kang-lam-te-it-cia' (nomor satu di Kanglam) tetap tergantung di atas pintu utama.

Papan nama itu diberikan dulu waktu Pek-joa-cau bertanding ilmu pedang, semua perkumpulan memberikan papan nama kayu ini kepada keluarga Lamkiong. Pada papan nama masih terdapat tanda tangan semua ketua perkumpulan. Boleh dikatakan saat itulah masa kejayaan keluarga Lamkiong.

Melihat papan nama itu, Su Yan-hong berkata: “Aku sedikit terharu!”

Lamkiong Po segera keluar rmenyambut. Lo-taikun membawa lima menantu. Bing-cu juga ikut keluar. Tiong Toa-sianseng adalah ketua perkumpulan, Su Yan-hong adalah Hou-ya. Baik dari sudut 'orang dunia persilatan maupun sebagai rakyat biasa, tetap harus menyambut mereka. Walaupun Su Yan-hong adalah murid Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun-san, tapi mereka tetap memanggilnya Hou-ya.

Setelah menjelaskan tujuan mereka, Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng dipersilahkan masuk ke tempat terlarang keluarga Lamkiong. Kata Lo-taikun:

“Memang keluarga Lamkiong mempunyai pantangan, tapi tidak ada orang yang akan melarang tiga peti mati itu ditaruh di sana!”

Lo-taikun tidak mengenal orang tua yang di antara alisnya tertancap jarum perak. Karena orang tua sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia persilatan. Dia hanya dianggap kelinci percobaan oleh Ih-sian dan dipindahkan ke rumah batu di Lu-san.

Lo-taikun juga tidak mengenal dari mana jarum itu berasal. Tong Goat-go yang menguasai senjata rahasia juga menggelengkan kepala.

Setelah mengamati tiga mayat dengan teliti, Lo-taikun merasa semakin aneh. Orang tua ini mati oleh jarum perak itu, tapi Tok- sian dan Yok-sian mati terkena racun. “Tidak ada orang yang bisa menyamai pengetahuan obat dan teknik pengobatan Say-gwa-sam-sian. Jika ada orang yang sanggup membunuh mereka dengan obat racun, itu benar-benar aneh!” Kemudian Lo-taikun bertanya:

“Apakah sampai sekarang Ih-sian belum ditemukan?”

Tiong Toa-sianseng bisa menangkap maksud Lo-taikun, dia menjawab:

“Say-gwa-sam-sian dekat seperti saudara kandung, tidak mungkin mereka saling membunuh!”

“Aku tahu tentang ini!” Lo-taikun segera mengalihkan pembicaraan, “kalau ingin tahu penyebab kematian mereka, harus meminta bantuan orang tua di Ciu-ci-tong!”

“Bila ada dia yang membantu, masalah akan lebih sederhana!” Tiong Toa-sianseng merasa bersemangat. Tujuan dia datang ke keluarga Lamkiong adalah meminta bantuan orang tua di Ciu-ci- tong.

129-129-129

Ciu-ci-tong boleh dikatakan adalah tempat istimewa dan sangat misterius di keluarga Lamkiong. Di dalam tempat misterius ini, tidak hanya tersimpan semua barang-barang misterius keluarga Lamkiong, di tempat ini juga tersimpan senjata, senjata rahasia dan obat-obatan dari semua perkumpulan di dunia persilatan, termasuk orang-orang yang menggunakan senjata dan obat-obatan ini. Pesilat-pesilat tangguh juga termasuk orang yang dikumpulkan di sini.

Pekerjaan ini sulit dilakukan. Tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pekerjaan ini sulit terhitung. Maka orang-orang dunia persilatan menebak keluarga Lamkiong pasti mempunyai tujuan tertentu.

Satu-satunya penjelasan yang diberikan oleh keluarga Keluarga Lamkiong adalah dua huruf 'Ciu-ci' (menuntut ilmu), maka pembicaraan orang-orang dunia persilatan membiarkan soal ini tidak terselesaikan. Sebenarnya keluarga Lamkiong selalu melerai pertikaian dan menyingkirkan kesulitan di dunia persilatan. Maka dalam beberapa tahun ini jangankan melakukan kejahatan, sedikit kesalahan juga tidak pernah mereka lakukan.

Apa yang harus dikatakan teman-teman dunia persilatan tentang perkumpulan ini? Mana mungkin mereka tidak kagum dengan sepenuh hati?

Awalnya, penanggung jawab di Ciu-ci-tong adalah seorang orang tua yang bernama Ciu-ci Lojitt. Tidak ada yang tahu apa hubungan antara orang tua ini dengan keluarga Lamkiong. Tapi orang-orang keluarga Lamkiong dari tingkatan atas sampai bawah sangat menghormati orang tua ini. Maka teman-teman dunia persilatan percaya orang tua ini sebenarnya adalah Cianpwee di keluarga Lamkiong.

Tapi mereka juga tidak yakin. Memang ada yang pernah bertemu dengan Ciu-ci Lojin, tapi tidak pernah menemuinya sampai dua kali.

Setiap orang yang pernah bertemu dengan Ciu-ci Lojin hanya mengatakan dia adalah seorang orang tua yang berambut putih, selain itu tidak dikatakan lagi keistimewaannya yang lain.

Ciu-ci Lojin yang Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong temui sekarang bukan lagi seperti itu. Walaupun rambutnya sudah putih, tapi dia juga bungkuk dan bisu. Bila ingin berbicara dengannya hanya bisa dilakukan dengan cara ditulis.

Ciu-ci-tong sangat luas. Rak-rak kayu tersusun rapi, di sana tersusun berbagai jenis buku yang dikelompokkan dan disusun dengan sangat rapi. Hanya dengan melihat begitu banyak buku sudah cukup untuk membuat kepala orang merasa pusing. Walaupun buku-buku sudah dikelompokkan, namun untuk mencari buku yang dibutuhkan bukanlah hal yang mudah.

Tapi Ciu-ci Lojin sangat hebat. Tangannya segera menggapai dan mengambil buku yang mereka perlukan. Terlihat dia sangat mengenal tempat ini. Tidak perlu bertanya mengenai masa mudanya, pasti dihabiskan di sini. Su Yan-hong dan Tiong Toa-sian- seng merasa hormat kepada orang ini. Ciu-ci Lojin sangat hafal dengan letak buku, juga mengenal dalam tentang bermacam-macam jenis obat dan senjata rahasia. Apalagi tentang ingatan, ini tidak perlu dikatakan lagi. Setelah dia melihat mayat orang tua yang ditancap jarum perak, dia segera membolak-balik rak buku kemudian mengeluarkan dua buku. Buku ditaruh di meja dan kemudian dia menulis kata-kata penjelasan di kertas.

Su Yan-hong melihat tulisan itu:

“Ternyata jarum itu bernama jarum Lan-hoa (Jarum anggrek). Itu adalah senjata rahasia seorang perampok perempuan di kerajaaan Song. Jarum ini terbuat dari besi, bagian tengah jarum dibuat kosong sehingga bisa dimasukkan cairan racun dan pecah di tubuh! Perampok perempuan ini bernama Li Ong-hottg.”

Tiong Toa-sianseng bertanya kepada Ciu-ci Lojin:

“Kalau begitu, racun apa yang tersimpan di dalam pipa jarum itu? Apakah orang tua itu mati karena racun ini?”

Melihat kertas tulisan, kata Su Yan-hong:

“Obat racun itu dibuat dari 'Tiang-beng-lan' (Anggrek panjang umur) dari Thian-san bagian utara. Tapi jenis Tiang-beng-lan ini sudah musnah 80 tahun yang lalu dan sudah tidak muncul lagi!”

“Maafkan pengetahuanku yang sempit dan dangkal!” kata Tiong Toa-sianseng.

“Di tubuh orang tua ini, selain racun Tiang-beng-lan, masih terdapat satu jenis lagi...” kata Su Yan-hong.

“Apakah racun juga?”

“Cianpwee tidak yakin!” wajah Su Yan-hong mengeluarkan ekspresi aneh, “kedua obat ini tidak bisa disatukan!”

“Berarti itu bukan racun!”

“Anehnya di tubuh Tok-sian dan Yok-sian juga terkandung obat ini!”

“Ini benar-benar aneh!” kata Tiong Toa-sian- seng. “Apakah guru mengetahui tentang Li Ong- hong?”

“Kalau aku tahu Li Ong-hong, mana mungkin aku tidak tahu Lan-hoa-ciam. Apabila senjata rahasia ini sudah ada sejak kerajaan Song, dan terus ada sampai sekarang, seharusnya tidak aneh. Tapi yang aneh, senjata rahasia ini sudah lama tidak muncul, lalu sekarang tiba-tiba muncul!”

“Apakah karena baru didapatkan lagi racunnya?” Akhirnya Lo-taikun menyela:

“Apapun yang terjadi, pembunuh ini menguasai obat dan senjata rahasia!”

Tiong Toa-sianseng mengangguk:

“Menurut yang kita tahu, Ih-sian memang menguasai ilmu pertabiban. Tapi dia tidak mengenal senjata rahasia dan ilmu silatnya juga biasa-biasa saja.”

Lo-taikun tertawa:

“Kelihatannya pembunuh ini sengaja memper sulit kita!” Tiong Toa-sianseng mengangguk:

“Kita harus mencari tahu dari hilangnya Ih- sian!”

“Apakah guru curiga di Lu-san masih tertinggal jejak yang bisa kita cari tahu? Kita terburu-buru meninggalkan Lu-san dan tidak menemukan apa-apa.”

“Tapi sayang sudah dekat harinya dengan rapat Pek-hoa-couw, kita tidak sempat menempuh perjalanan pulang pergi ke Lu-san!” kata Tiong Toa-sianseng.

Lo-taikun tertawa:

“Kalau begitu kalian berdua bisa tinggal di sini dulu. Setelah rapat Pek-hoa-couw, baru mengambil keputusan.”

Tiong Toa-sianseng ingin menjawab tapi Lo-taikun berkata lagi:

“Mungkin pembunuh itu tahu kalian berdua ingin memeriksa hal ini dan dia sudah memperhatikan gerak-gerik kalian berdua. Kapanpun dia bisa datang mencari!” Tiong Toa-sianseng tertawa:

“Kalau begitu, bisa mengurangi banyak kerepotan! Apakah undangan rapat itu sudah Lo-taikun sebarkan?”

“Sebagian besar undangan sudah disebar, hanya punya Siau Sam Kongcu yang belum bisa terantar, beberapa hari yang lalu baru diantar ke Ling-ong-hu!” kata Lo-taikun seperti tidak ada apa-apa.

Tiong Toa-sianseng mendengar kata-kata Lo-taikun, hatinya terasa tidak enak. Terhadap Siau Sam Kongcu, dia tidak punya perasaan baik mau pun perasaan tidak baik. Namun karena putrinya Bok-lan, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Kalau bisa, lebih baik jangan bertemu.

130-130-130

Waktu undangan sampai di tangan Siau Sam Kongcu, dia sedang mengajar Su Ceng-cau berlatih ilmu pedang di Ling-ong-hu. Setelah pergi ke ibukota, Su Ceng-cau mulai merasakan dunia luar sangat besar. Dia mulai merasa ilmu silat yang dimilikinya sama sekali tidak cukup untuk bisa beraksi di dunia persilatan, maka dia menjadi rajin belajar ilmu silat.

Siau Sam Kongcu mengantar keluar utusan keluarga Lamkiong yang mengantarkan undangan, kemudian kembali ke belakang. Su Ceng-cau masih berlatih ilmu silat di sana, dia tidak malas-malasan.

Melihat dia begitu rajin, Siau Sam Kongcu merasa senang. Kalau dia sedang berlatih ilmu silat dan tidak merasa ada yang mengintip, itu wajar.

Karena sebenarnya memang sulit mengetahui keberadaan orang itu.

Orang itu memakai baju hijau. Dia bersem-i bunyi di atas pohon, berbaur dengan daun-daunan, diam tidak bergerak. Jika bukan karena Siau Sam Kongcu yang sangat teliti, sampai daun-daun di atas pohon juga dia perhatikan, keberadaan orang ini tidak akan diketahui. Tujuan orang berbaju hijau adalah Su Ceng-cau. Begitu muncul, dia langsung menyerang Su Ceng-cau. Ketika orang ini masih berada di tengah-tengah udara, dia sudah mencabut pisau dari sarungnya. Cahaya pedang berkilau, dia menepis kepala Su Ceng- cau dengan jurus yang sangat keras.

Mendengar ada suara pedang datang menyerang, dia segera menahan serangan dengan pedang. Tapi pedang dan tubuh Su Ceng-cau tergetar mundur. Pada waktu bersamaan orang berbaju hijau berguling dan menyerang lagi. Kali ini serangannya lebih cepat dan ganas.

Su Ceng-cau segera menggunakan ilmu silatnya, tapi dia diserang lagi berturut-turut 17 kali serangan, memaksa Su Ceng-cau untuk terus mundur!

“Guru...” Su Ceng-cau berteriak. Pada waktu dia tidak berkonsentrasi, golok orang berbaju hijau sudah menepis pegangan pedang Su Ceng-cau. Dia berteriak dan melepaskan pedang.

Orang berbaju hijau tertawa terbahak-bahak. Dengan golok dia memukul pedang ke atas udara, kemudian meloncat ke depan Su Ceng-cau. Su Ceng-cau terkejut bukan main. Dia ingin mundur tapi punggungnya sudah mengenai dinding.

Akhirnya Siau Sam Kongcu bergerak, tapi dia hanya menjemput pedang yang terjatuh dari atas.

Orang berbaju hijau tidak melukai Su Ceng-cau. Sampai di depan Su Ceng-cau, dia kembali tertawa terbahak-bahak.

Su Ceng-cau belum tenang. Golok orang berbaju hijau menunjuk ke Siau Sam Kongcu:

“Sekarang giliranmu...” Nada suaranya sangat aneh, membuat orang tidak enak mendengarnya.

“Guru, bunuh dia!” Su Ceng-cau berteriak. Siau Sam Kongcu dengan santai berkata:

“Aku sudah beberapa kali berpesan, walaupun guru berada di sisimu, kau jangan menganggap ada guru. Kau harus konsentrasi baru bisa menahan serangan musuh, mengubah keadaan bahaya menjadi selamat!”