-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 05

Jilid 05

Tangan kanan In Thian-houw menahan tendangan Lu Tan. Tubuhnya tergetar dan mundur 'selangkah, tapi Lu Tan terpental sejauh 3 depa.

Siau Cu terus menyerang Tiang-seng, memaksa Tiang-seng mundur. Dia juga melabrak seorang pengawal dan merebut goloknya. Dia menepis dengan golok rampasan tujuh kali untuk menghadang sepasang Poan-koan-pit dari Hongpo bersaudara dan bertanya:

“Bagaimana?”

Lu Tan menggelengkan kepala:

“Tidak apa-apa. Aku melindungimu, pergilah!”

Bajunya sudah penuh darah tapi dia tetap seperti tidak merasakan sakit. Sebenarnya dia hanya tidak mau Siau Cu khawatir, tapi mana mungkin bisa menipu Siau Cu. Siau Cu malah menjawab:

“Aku melindungimu, kau pergi...” Liu Kun membentak:

“Dua-duanya tidak boleh pergi!”

In Thian-houw, Hongpo bersaudara, dan Tiang-seng sudah datang. Pengawal-pengawal juga sudah datang.

Siau Cu melihat ke sekeliling kemudian melihat Lu Tan: “Kalau kau tidak pergi, tidak ada kesempatan lagi!” “Aku sudah terluka, mana mungkin berjalan jauh. Kalau kau tidak pergi, mati di sini tidak ada artinya.”

Siau Cu menggelengkan kepala:

“Kalau kau tidak mau pergi sudahlah, jangan banyak bicara!” Kadang-kadang orang ini juga sangat keras kepala.

51-51-51

Setelah Fu Hiong-kun dan Lam-touw meninggalkan Cin-hai-Jou, segera berlari ke sebuah tanjakan di sebelah selatan. Lam-touw mendekat ke sebuah pohon, memasang sebuah busur besar buatan sendiri. Pada busur itu dipasang ditaruh 3 panah besar yang juga buatan sendiri. Di panah itu tidak terdapat ujung panah, hanya ada seuntai barang yang berbentuk seperti peluru. Melihat dari sikapnya, sudah jelas dia sangat tegang. Matanya terus melihat ke arah Cin-hai-lou.

Fu Hiong-kun juga seperti itu, kadang-kadang dia merapikan rambut yang tertiup angin. Ketegangan terlihat jelas.

Tiba-tiba sebuah jendela di Cin-hai-lou terbuka, kemudian tampak asap merah terbang melalui jendela itu ke atas udara. Melihat asap merah itu, Fu Hiong-kun segera berteriak:

“Mereka gagal!”

“Hal ini memang sudah terduga!” Lam-touw menjawab dengan malas-malasan tapi gerakannya sangat lincah. Dia segera memasang panah, melepaskan panah tiga kali ke arah Cin-hai-lou.

Waktu panah ketiga dilepaskan, busur itu sudah patah dilempar Lam-touw. Dia menarik nafas:

“Hidup atau mati itu hanya nasib. Sekarang kita tinggal menunggu apakah nasib mereka akan baik!”

Fu Hiong-kun menghibur:

“Hou-ya akan membantu mereka, apalagi ada Tiong Toa- sianseng di sana!” “Mereka masih mempunyai hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan. Hal kecil tidak akan mengganggu hal yang besar. Jangan demi meno long dua bocah, menghancurkan hal yang besar.” Lam-touw melihat ke atas langit, dia seperti menerima apa saja yang terjadi.

52-52-52

Tiga panah diarahkan dengan sangat tepat. Setelah memecahkan jendela, panah masuk ke dalam ruangan, dan peluru asap segera meledak. Setelah meledak, asap segera memenuhi ruangan sana.

Siau Cu keluar dari ruangan. Melihat Kang Pin membawa sekelompok pasukan datang, dia mengangkat golok siap menepis. Kang Pin segera melayangkan tangan dan membentak:

“Cepat pergi!”

Tidak perlu dia berpesan, pengawal segera memberi jalan. Siau Cu terpaku. Kang Pin sudah berada di sisinya:

“Kami adalah orang Hou-ya!”

Siau Cu tidak ragu lagi. Dia sudah berlari ke jalan yang mereka kosongkan. Pengawal segera menutup lagi jalan yang kosong.

In Thian-houw keluar dari asap. Melihat Kang Pin, dia segera bertanya:

“Apakah Kang-ciangkun melihat ada pembunuh?”

“Tidak melihat! Tadi hanya melihat ada bayangan berkelebat, tapi terlalu cepat maka tidak jelas melihat!”

In Thian-houw tidak bertanya lagi. Dia membalikkan tubuh segera menuju ke arah timur. Setelah dia pergi tidak lama, Siau Cu keluar dari kerumunan pengawal.

Kang Pin melihatnya, segera menghentakkan kaki:

“Nona Fu dan lain-lain sudah menunggu di tanjakan sebelah selatan. Cepatlah pergi! Kau masih tunggu apalagi!”

“Bagaimana dengan temanku?” “Di semua tempat ada orang kami yang melin dungi dia, tidak akan terjadi apa-apa!”

Melihat dia begitu serius, Siau Cu tidak banyak bertanya. Dia bersalto ke belakang, dalam sekejap sudah hilang jejaknya.

Di dalam hati Su Yan-hong segera mengerti, dia berteriak: “Lindungi kaisar!”

Dalam kerumunan pengawal ada yang berteriak: “Lindungi Kiu-cian-swe!”

Tapi datangnya aSap tidak hanya membuat pengawal terganggu, Hongpo bersaudara, ln Thian-houw, dan Tiang-seng juga terganggu. Selain terpikir Siau Cu dan Lu Tan akan kabur dengan memanfaatkan asap tebal ini, mereka juga terpikir di luar pasti ada yang membantu, dan kemungkinan besar akan masuk untuk membunuh Liu Kun.

In Thian-houw segera mengambil kesempatan. Dia mengayunkan tangan menyuruh Hongpo bersaudara melindungi Liu Kun dan memberi isyarat kepada Tiang-seng untuk mengejar Siau Cu dan Lu Tan.

Pengawal setia Liu Kun sudah mengelilingi Liu Kun berlapis- lapis. Walaupun Liu Kun berusaha bersikap tenang tapi dalam hati tetap merasa terkejut' dan takut. Di dalam asap dan kabut dia duduk dan menundukkan kepala karena takut pembunuh menge taiiui keberadaannya dan menyerang dia.

Yang pasti mereka tidak memperhatikan bahwa ucapan, 'Lindungi Kiu-cian-swel' adalah teriak-an anak buah Kang Pin. Tujuannya adalah menyuruh mereka mundur agar Siau Cu dan Lu Tan men-dapatkan kesempatan kabur.

Siau Cu dan Lu Tan tidak melewatkan kesempatan ini. Mereka berdua sudah keluar dari kepungan. Tadinya mereka masih bersama, tapi di dalam asap yang tebal mereka masih bertarung beberapa jurus dengan In Thian-houw dan Tiang-seng, dan ini membuat mereka terpencar. Ketika bertarung beberapa jurus dalam asap tebal, In Thian- houw dan Tiang-seng juga terpencar.

Mereka hanya mendengar ada suara baju tertiup angin, kemudian mereka mengejar Siau Cu dan Lu Tan.

53-53-53

Kang Pin menarik nafas. Dia berpesan:

“Kita periksa ke tempat lain!”

Pengawal segera berpencar dengan teratur. Kang Pin tidak perlu khawatir mereka tidak bisa menghadapi apa yang akan terjadi, yang dia khawatir kan hanya bila orang-orang Liu Kun lebih cepat menemukan Lu Tan daripada mereka.

54-54-54

Nasib Lu Tan tidak begitu jelek, Begitu keluar dari asap, dia keluar dari jendela dan segera naik ke atas genteng. Melewati dari genteng ke genteng yang lain, Lu Tan terus berlari ke hutan di belakang Cin-hai-lou.

Tiang-seng melewati dinding yang tinggi dan sudah masuk ke dalam hutan. Karena dia tidak mene mukan orang di daerah sana, dia kemudian naik ke atap. Dari ketinggian melihat ke bawah, dia juga tidak terlihat sesuatu. Akhirnya dia menuju ke hutan belakang Cin-hai-lou danjaerlari ke sana.

Baru melewati dinding tinggi, ada seseorang berlari dari hutan. Tiang-seng membentak, tapi dia tidak menyerang karena dia sudah melihat itu adalah Tiang-Iek Kuncu Su Ceng-cau. Maka dia segera memberi hormat.

Su Ceng-cau mengayunkan tangan:

“Mana pembunuh?”

“Bukankah dia berlari ke arah sini?”

“Aku juga mengira dia berlari kemari tapi menunggu sampai sekarang baru melihat ada orang berlari kemari, ternyata adalah kau!” “Kuncu adalah...”

“Maksudmu aku tidak sanggup menangkap pembunuh?” “Aku tidak berani!”

“Kau harus bertanya dulu aku ini murid siapa, masa hanya satu pembunuh tidak sanggup ku tangkap!”

Tentu saja Tiang-seng tahu dia adalah murid Hoa-san-pai, Siau Sam Kongcu, juga tahu gadis ini mempunyai adat semaunya sendiri. Tidak baik kalau dilayani, akibatnya tidak terbayangkan.

“Siapa yang tidak tahu Kuncu adalah murid terbaik Siau Sam Kongcu. Bila pembunuh bertemu dengan Kuncu, dia hanya bisa menye rah!”

“Aku kira kau tidak tahu.” Su Ceng-cau dengan sombong mengayunkan tangan, “cepatlah kau periksa ke tempat lain!”

Tiang-seng cepat kembali. Sebenarnya dia tahu ada Liu Kun yang menjadi pendukungnya, mana mungkin takut kepada seorang Kuncu, dia hanya tidak mau repot. Saat sekarang ini yang paling penting adalah menangkap pembunuh, urusan lain adalah nomor kedua.

Melihat bayangan Tiang-seng sudah menghilang, Su Ceng-cau kembali masuk ke dalam hutan. Dia membuka sebuah semak- semak, Lu Tan sudah terbaring pingsan di sana.

Melihat Lu Tan, Su Ceng-cau tertawa. Dia tertawa dengan aneh. Orang yang mengenal sifatnya tidak sulit melihat, pasti dia mempunyai ide aneh lagi.

Lu Tan tidak mengenal dia, berarti dia akan menggunakan ide aneh ini kepada siapa?

55-55-55

Tidak ada arak lagi karena sudah dihabiskan oleh Lam-touw. Karena sudah tidak ada arak, Siau Cu juga tidak ada acara ingin mengolok Lam-touw.

Tidak ada tawa di wajah Lam-touw. Dia juga tidak melihat Siau Cu. Begitu Siau Cu mendekat, dia segera pergi. Melihat itu, Fu Hiong-kun tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Mengingat Lu Tan, alisnya mengerut lagi. “Guru!” Siau Cu tidak tahan lagi.

“Apakah di matamu masih ada guru?” Lam-touw melotot, “melakukan hal yang begitu penting, kau tidak berunding dulu dengan guru. Apakah di matamu masih ada guru?”

Siau Cu terpaksa berkata:

“Tecu sudah tahu salah!”

“Dia sudah tahu salah, harap Cianpwee bisa memaafkan dia sekali ini!” kata Fu Hiong-kun.

Siau Cu bersumpah:

“Aku tidak akan melakukan ini lagi!”

“Satu kali masih belum cukup? Memang kau mempunyai berapa nyawa?” kata Lam-touw sambil-tertawa dingin, “anak buah Liu Kun semua adalah pesilat tangguh. Kaisar berada di Cin-hai-lou, apakah kalian tidak terpikir penjagaan di Cin-hai-lou akan sangat ketat? Hanya kalian dua bocah kecil, apakah kalian pikir bisa membunuh Liu Kun dan bisa keluar dari sana?”

“Sebenarnya aku...”

“Kalau bukan An-lek-hou yang membantu, apakah kau bisa kabur?”

“Kata orang-orang Hou-ya yang berada di sana, tidak akan terjadi sesuatu dengan Lu Tan...”

“Kalau begitu seharusnya dia sudah ada di sini, mengapa sampai sekarang belum datang?”

“Menurutku...”

Lam-touw tidak membiarkan Siau Cu selesai bicara, dia sudah mencegat:

“Mungkin sudah ditangkap hiu Kun dan sekarang sedang disiksa...”

“Guru, Lu Tan berwajah selamat...” “Sejak kapan kau belajar melihat wajah? Kalau pun kau tahu, aku tidak akan mengijinkan kalian pergi!”

“Kita khawatir guru akan melarang maka...”

“Kalau ada rencana yang sempurna dan kita bisa berhasil, kau kira aku akan melarang kalian? Untung Hiong-kun memberitahu ini tepat waktu dan bisa bertemu An-lek-hou untuk membantu!”

Siau Cu menundukkan kepala. Fu Hiong-kun menyela; “Sekarang masalah sudah terjadi, percuma terus marah kepada mereka. Lebih baik cari cara bagaimana kita bisa membawa Lu Tan...”

“Apakah kau tahu Lu Tan berada di mana?” tanya Lam-touw. Fu Hiong-kun tertawa kecut. Lam-touw mena rik nafas: “Sekarang hanya bisa berharap seperti yang di katakan Siau Cu,

Lu Tan bisa selamat.”

Tiba-tiba Siau Cu meloncat bangun. Belum sempat dia berjalan, Lam-touw sudah membentak:

“Kau mau ke mana?”

“Mencari tahu keberadaan Lu Tan!”

Lam-touw tertawa’ “Kau baik tapi sifatmu yang terdorong emosi sangat jelek. Lu Tan sama sepertimu, maka bila kalian berdua bergabung akan membuat celaka!”

“Apakah kau tidak bisa berpikir sekarang Liu Kun sudah memasang banyak mata-mata di dalam atau di luar kota. Kalau kau muncul, bukankah akan masuk ke dalam jaring?”

Siau Cu baru mengerti:

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan...”

Tiba-tiba wajah Lam-touw berubah. Dia men-cengkram Holou besar dan berlari ke pinggir pintu. Fu Hiong-kun dan Siau Cu juga bergerak cepat. Siau Cu meloncat ke atas genteng kayu. Fu Hiong- kun berada di pinggir pintu.

“Cianpwee, ini aku!” Fu Hiong-kun tahu itu adalah suara Su Yan-hong. Setelah mendapat isyarat dari Lam-touw, dia baru membuka pintu. Benar saja, yang datang adalah Su Yan-hong sendiri.

Su Yan-hong masuk dan langsung menutup pintu. Siau Cu meloncat turun dari atas dan memanggil Hou-ya.

“Mana Lu Tan?”

“Bukankah Hou-ya yang menolong dia?” Siau Cu terkejut.

Su Yan-hong menggelengkan kepalanya. Fu Hiong-kun berkata dengan cemas:

“Apakah pihak Hou-ya juga tidak mendapatkan kabar dia?” Su Yan-hong tertawa kecut:

“Orang-orangku sudah mencari di mana-mana juga tidak menemukannya, aku kira dia sudah pulang dengan selamat!”

Lam-touw menarik nafas, dia menepuk pundak Siau Cu: “Berterima kasihlah kepada Hou-ya karena sudah

menolongmu!”

“Jangan sungkan! Kalian benar-benar terlalu berani!” kata Su Yan-hong.

Siau Cu tertawa kecut:

“Kami tidak bisa berhasil, siapa sangka di dalam baju Liu Kun ternyata memakai Kim-si-ka!”

“Hal ini sudah bukan rahasia lagi! Seharusnya sebelum bertindak, kau beritahu dulu kepadaku!” kata Su Yan-hong.

“Kalau bukan karena Tiong-cianpwee, kita masih mengira kau juga takut kepada Liu Kun dan tidak berani melawannya!”

“Mata-mata Liu Kun berada di mana-mana, maka bila berbicara harus berhati-hati. Kali ini membuat pesta di Cin-hai-lou untung adalah ide kaisar, kalau tidak, yang berjaga di luar dalam adalah anak buah Liu Kun. Bila seperti itu, aku juga tidak ada akal lagi. Setelah ini, Liu Kun akan lebih berhati-hati.

Kelok akan lebih sulit lagi menghadapi dia!” kata Su Yan-hong. Lam-touw melihat Siau Cu:

“Sekarang apakah kau sudah mengerti akibatnya?”

Siau Cu ingin berkata sesuatu tapi Su Yan-hong sudah berkata: “Tapi ini bukan hal yang buruk. Setidaknya dengan ini Liu Kun

akan tidak berani terlalu semena-mena lagi, karena tahu di mana-

mana orang ingin membunuhnya!”

“Yang harus kita kerjakan sekarang adalah bagaimana mencari keberadaan Lu Tan,” kata Su Yan-hong.

“Apakah dia sudah terjatuh ke tangan Liu Kun?” tanya Fu Hiong- kun.

“Aku kira tidak. Karena di pihak Liu Kun, tidak terdengar kabar penangkapan Lu Tan. Biasanya bila sudah menangkap pembunuh, dia tidak akan diam-diam mengurungnya. Dia akan bertanya di depan kami cara menghukum pembunuh untuk menunjukkan kekuatannya!”

Fu Hiong-kun pikir perkataan Su Yan-hong benar juga: “Kalau begitu kita.,.”

“Kalian jangan menampakkan diri, serahkanlah hal ini kepadaku. Begitu ada kabar, aku akan memberitahu kalian!”

“Merepotkan Hou-ya!”

“Kata-kata Nona Fu terlalu berat. Dulu karena mata-mata Liu Kun terlalu banyak, maka tidak bisa langsung berkata apa-apa kepadamu. Bila ada ke tidak nyamanan pada kalian, harap maklum!”

Fu Hiong-kun menarik nafas:

“Hou-ya mempunyai cita-cita yang tinggi tapi Hiong-kun tidak tahu, maka terjadi kesalah paham-an!”

“Liu Kun mempunyai kekuatan yang sangat besar, sulit menghadapinya, maka kita harus sangat berhati-hati!” kata Su Yan- hong.

“Kelak kita akan lebih berhati-hati!” “Masalah Lu Tan, serahkan kepadaku!” kata Su Yan-hong, lalu dia menepuk pundak Siau Cu, “menurutku wajah Lu Tan tidak seperti orang . yang pendek umur, maka kau tenanglah!”

Siau Cu melihat Su Yan-hong:

“Sejak kapan kau belajar melihat wajah?”

Lam-touw tertawa di dalam hati. Walaupun pikirannya masih kacau, tapi tetap ada kelegaan di hatinya.

56-56-56

Lu Tan baru siuman. Dia merasakan dirinya sedang terbaring di sebuah ranjang yang mewah.

Lukanya sudah terbalut. Melihat sekeliling ruangan sangat mewah, seperti bukan di tempat tahanan, maka setelah merasa agak tenang, dia tetap merasa aneh.

“Kau sudah bangun?” ada suara bertanya.

Lu Tan menoleh, dia melihat Su Ceng-cau sedang duduk di belakang ranjang mewah itu. Sikapnya 70% manja, 30% nakal.

“Kau!” Lu Tan segera teringat waktu dia masuk hutan di belakang Cin-hai-lou, dia bertemu gadis ini dan ditotok oleh gadis ini sampai pingsan.

“Ini aku! Apakah kau tahu siapa aku?” “Bukankah kau orang Liu Kun?”

“Yang pasti bukan!” kata Su Ceng-cau sambil tertawa, “Kalau tidak, mengapa aku menyelamatkanmu dan membawa kemari?”

“Tempat apa ini?”

“Vila Ling-ong di ibukota!” “Kau adalah Tiang-lek Kuncu?”

“Siapa yang memberitahu kepadamu?”

“Siau Cu...” Lu Tan menarik nafas lega. Yang dia tahu Kuncu memang nakal, tapi dia bukan orang Liu Kun.

Su Ceng-cau menggelengkan kepala: “Si pelit itu selalu ingat aku memecahkan piring yang dia pakai biasanya untuk bermain sulap!”

Lu Tan tertawa:

“Dia hanya memberitahu padaku, uang pemberian Kuncu cukup untuk membeli 10 kali lipat piring!”

“Awalnya aku ingin menambah kesibukan untuk dia, tapi selalu tidak ada waktu!” kata Su Ceng-cau tertawa.

Lu Tan ingin memberi hormat, tapi begitu bergerak dua ketiaknya terasa sakit. Tapi dia tetap berkata:

“Lu Tan sangat beruntung bertemu Kuncu, budi menyelamatkan nyawa...”

Su Ceng-cau mencegat:

“Waktu aku menotok nadimu, apa yang kau pikirkan? Kau kira aku adalah orang Liu Kun?”

Lu Tan mengangguk:

“Sekarang aku mengerti, jika jalan darah tidak ditotok, mungkin aku akan kehabisan darah dan mati!”

“Kau adalah orang yang mengerti!” Su Ceng-cau tertawa lepas. “Tapi aku tidak mengerti, aku belum pernah bertemu Kuncu tapi

Kuncu mau menolongku dan melawan Liu Kun!”

“Aku mau menolong siapa, tidak ada yang bisa menahanku. Aku sudah menyiapkan sedikit bubur putih, aku lihat kau pasti lapar!”

Dia membawa bubur kepada Lu Tan:

“Tenanglah, orang-orang Liu Kun tidak akan mencariku sampai ke sini. Setelah lukamu sembuh, kau baru pergi!”

Lu Tan melihat dia sedikit bengong, Su Ceng-cau melihat Lu Tan yang masih bengong berkata:

“Kenapa kau? Cepatlah makan bubur ini, tanganku sudah pegal!”

Lu Tan cepat mendekat. Kata Su Ceng-cau: “Aku belum pernah melayani orang seperti ini, kau adalah orang yang pertama!” Lu Tan ingin mengambil semangkuk bubur itu tapi kedua ketiaknya terasa sangat sakit, sakitnya sampai membuat keringat dingin keluar.

“Untuk apa memaksakan diri!” Wajah Su Ceng-cau terlihat merah, terlihat bertambah cantik.

Sampai larut malam, tetap tidak ada kabar keberadaan Siau Cu dan Lu Tan. In Thian-houw, Tiang-seng, dan lain-lain sangat tidak bersemangat. Liu Kun bertambah marah.

“Hanya satu pembunuh pun bisa menghilang. Besok saat menghadap kaisar, apa yang harus kukata kan?” Liu Kun marah.

Tiang-seng yang pertama berkomentar: “Kiu-cian-swe. Walaupun Cin-hai-lou sangat luas, tapi penjagaan sangat ketat. Pembunuh bisa datang dan pergi dengan mudah, berarti di dalam pasti ada pengkhianat yang membantu!”

“Siapa yang tidak tahu hal ini? Tapi pembunuh tidak bisa tertangkap, siapa yang bisa mencari orang dalam yang membantu pembunuh itu? Kalian benar-benar membuatku kecewa, sampai Lu Tan yang terluka pun bisa terlepas!”

“Aku sedikit curiga kepada Kang Pin. Mungkin mereka melihat pembunuh itu, tapi mereka tidak menangkap malah melepaskannya!”

“Sekarang baru curiga tidak ada gunanya lagi! Semua orang tahu pembunuh datang untuk membunuh aku!”

“Untung Kiu-cian-swe ada keberuntungan pada waktu itu. Walaupun sempat terkejut, tapi tidak membahayakan nyawa Kiu- cian-swe. Dua panah beracun itu adalah racun Kian-hiat-hong- hou!” kata In Thian-houw.

Liu Kun bergetar dingin. Kata In Thian-houw kemudian: “Walaupun Lu Tan datang membalas dendam ayahnya, aku kira

tidak sederhana seperti itu!”

“Pasti ada orang yang mengatur ini di belakangnya!” kata Tiang- seng. “Yang paling dicurigai adalah An-lek-hou. Kang Pin adalah orang di pihak dia, yang sudah dengan cepat membantu pembunuh meninggalkan tempat!” kata In Thian-houw.

“Bila kalian tidak ada bukti, jangan semba-rangan berkomentar!” teriak Liu Kun.

Semua orang terdiam. Kata Liu Kun lagi:

“Pada peristiwa Cjn-hai-iou terlihat An-lek-hou tidak seperti dulu lagi, sampai-sampai aku tidak merasa sudah masuk ke perangkap dan mengangkat dia menjadi komandan ibukota. Kalau kalian semba-rangan bicara dan dia mendapatkan bukti, pada waktu itu aku mungkin tidak ada akal lagi untuk keluar dari masalah!”

Semua orang terdiam. Liu Kun berpesan dengan dingin:

“Mulai sekarang kalian harus lebih sering mengawasi gerak- gerik Su Yan-hong. Tapi sebelum aku mengijinkan, kalian jangan sembarangan bertindak!”

Terhadap Su Yan-hong, dia mempunyai perkiraan yang baru.

Sampai hari kedua siang, Su Yan-hong tetap tidak mendapatkan kabar Lu Tan. Semua tempat persembunyian di Cin-hai-lou sudah dicari dan Lu Tan tidak ditemukan.

Pada waktu itu Su Ceng-cau menyebutkan beberapa kata, Lan- lan terkejut dan pergi, kemudian dia mengundang Tiong Toa- sianseng keluar.

Su Yan-hong ingin meninggalkan tempat, tapi kata-kata Su Ceng-cau membuat dia tinggal kembali.

“Apakah kau An-lek-hou tidak menginginkan An-lek lagi?”

Ketika Su Ceng-cau berbicara, matanya terus berkedip, terlihat sangat licik.

“Apa maksudmu?” tanya Su Yan-hong.

“Tidak bertemu pembunuh, hati Liu Kun tidak nyaman. Apakah kau An-lek-hou juga tidak nyaman?” “Oh?” Su Yan-hong pura-pura tidak mengerti.

“Kelihatannya kau sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan pembunuh! Kalau kau tidak mau tahu, terpaksa aku harus memberitahu Liu-kong-kong!”

“Jangan bicara kepada Liu Kun!” Su Yan-hong tidak bisa berpura-pura lagi, “sekarang di mana Lu Tan berada?”

“Tempat yang aman, yang hanya aku sendiri yang tahu!” “Sebenarnya di mana?”

“Di tempat tinggalku yang aman!” “Mengapa bisa tinggal di rumahmu?”

“Aku yang menolong dia dan membawa dia pulang!” Su Yan-hong baru lega. Su Ceng-cau berkata:

“Aku tidak tahu mengapa Liu-kongkong sang at menganggap penting orang ini. Bila Lu Tan diantar ke sana, aku kira Liu- kongkong pasti akan sangat senang!”

“Jangan diantar ke sana. Kalau dia jatuh ke tangan Liu Kun, dia akan menyiksanya...”

“Apakah akan terjadi begitu?” Mata Su Ceng- cau mengeluarkan sorotan licik.

Akhirnya Su Yan-hong melihat juga. Dia menarik nafas: “Sekarang bukan waktunya untuk bercanda!” “Siapa yang

bercanda?   Kalau   kau   tidak   menyetujui   syaratku,   aku   akan

mengantar orang ini kepada Liu-kongkong!”

“Syarat apa?” Kepala Su Yan-hong seperti sudah menjadi dua. Dia tahu Su Ceng-cau nakal, maka syarat yang dia berikan pasti hal yang sulit.

Su Yan-hong terus melihat dia. Tiba-tiba dia bertanya: “Apakah kau sangat membenciku?”

“Tidak ada hal seperti ini. Bukankah aku selalu baik kepadamu?” “Kalau begitu kau pasti bisa menebak syarat apa yang aku berikan kepadamu.”

“Aku benar-benar tidak terpikir syarat apa, katakanlah!”

Su Ceng-cau memutar tubuh sedikit, wajahnya terlihat sedikit malu:

“Betulkah aku yang harus mengatakannya?” Su Yan-hong mengangguk. Su Ceng-cau meng hentakkan kaki:

“Ingin aku melepaskan Lu Tan syaratnya hanya satu, kau harus memperistri aku!”

“Apa? Kau jangan bercanda!” Su Yan-hong berteriak.

“Siapa yang bercanda? Aku begitu suka padamu, apakah kau tidak tahu?”

Su Yan-hong terpaku:

“Kau lepaskan Lu Tan dulu!”

“Tidak bisa. Kalau kau tidak setuju, jangan harap aku bisa melepaskan orang ini!”

“Bagaimana keadaan Lu Tan?” “Dia baik, dia tidak akan mati!” “Bagaimana luka dia?”

“Hanya luka luar. Bila aku menyuruhmu jangan khawatir, kau tidak perlu khawatir. Sampai sekarang kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Biar aku pikir-pikir dulu!”

“Baiklah, aku memberimu waktu lima hari. Setelah lima hari, jika kau tidak memberi jawaban, aku akan menyerahkan orang ini kepada Liu Kun!”

“Kebaikan apa yang bisa kau dapatkan dengan ini?”

“Tidak peduli. Aku hanya akan menunggu lima hari.” Dia tertawa, kemudian seperti kupu-kupu di kebun bunga terbang meninggalkan tempat. Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas. Yang pasti hatinya kacau.

Ketika Su Ceng-cau meninggalkan tempat, Tiong Toa-sianseng sudah masuk. Tanya Su Yan-hong:

“Guru, ke mana Lan-lan pergi?” Tiong Toa-sianseng tertawa:

“Aku mengajari dia beberapa jurus. Dia sedang berlatih di belakang!”

“Guru harus memperhatikan dia lagi.”

“Apa katamu, Tiang-lek Kuncu datang untuk memberi masalah lagi?”

Su Yan-hong tertawa kecut:

“Lu Tan sudah diselamatkan oleh dia!”

“Ini adalah hal yang baik. Jika tertangkap oleh Liu Kun, akan sangat repot!”

Su Yan-hong masih tertawa kecut:

“Tecu hanya ingin guru ke Kuil Pek-in mem-beritahu mereka bahwa Lu Tan berada di Vila Ling-ong. Dia sangat aman!”

“Ini sangat mudah. Kalau kau ada waktu, lebih baik kau sendiri yang ke sana!”

“Anak buah Liu Kun terus mengawasi tempat ini. Dia curiga murid yang mengatur peristiwa Cin-hai-lou. Maka jika murid dibuntuti sampai kuil Pek-in akan sangat repot!”

“Memang saat sekarang ini kita harus lebih hati-hati!” angguk Tiong Toa-sianseng.

“Aku telah merepotkan guru!”

“Kita adalah murid dan guru, jangan sungkan!”

“Beritahu mereka, Lu Tan sangat aman dan suruh mereka jangan sembarangan bertindak!” “Dari perkataanmu, walaupun Lu Tan berada di Vila Ling-ong, tapi sepertinya ada yang tidak beres?” tanya Tiong Toa-sianseng.

“Apakah Tiang-lek Kuncu datang mencari masalah lagi?” “Tidak begitu repot juga!' “Kadang-kadang bila ada masalah,

guru tidak bisa membantumu!”

Orang tua ini sangat mengerti Su Yan-hong.

57-57-57

Setelah mengetahui Lu Tan selamat dan aman berada di Vila Ling-ong, Siau Cu dan Lam-touw juga Fu Hiong-kun sangat gembira. Hanya di dalam kegembiraan mereka merasa aneh.

“Gadis ini bisa menolong orang?” Siau Cu teringat Su Ceng-cau pernah memecahkan piring dan mengacaukan pertunjukkan sulapnya.

Lam-touw melihatnya:

“Kau jangan membantah, sebenarnya dia bukan orang jahat.

Kalau-tidak, dia tidak akan mengganti rugi pada kita!” I Siau Cu tertawa dingin:

“Ini hanya berarti ada uang semua masalah bisa diselesaikan. Aku tidak pernah mempercayai gadis ini. Menurutku, dia menyelamatkan Lu Tan pasti ada rencana busuk!”

“Ada rencana busuk apa?” Siau Cu tertawa dingin:

“Walaupun aku tidak bisa menebak, tapi merasa ada yang tidak beres!”

“Tapi kau harus mengaku bahwa gadis ini tidak jahat!” kata Lam-touw.

Siau Cu mencengkram rambutnya yang acak- acakan: “Memang tidak jahat tapi juga tidak baik. Yang penting aku tidak

tenang Lu Tan berada di tempat dia!” “Semua orang tenanglah, tidak akan ada yang terjadi. Kalau tidak, Su Yan-hong tidak akan tenang Lu Tan tinggal di sana!” kata Tiong Toa-sianseng.

Melihat Tiong Toa-sianseng, dia tidak bisa ber-kata apa-apa. Fu Hiong-kun baru berkata:

“Yang membuat aku tidak tenang adalah luka Lu Tan!”

“Itu hanya luka luar, Nona Fu tenanglah!” terlihat Tiong Toa- sianseng tertawa dan sikapnya tidak berubah.

“Sebenarnya Su Yan-hong ingin datang sendiri kemari, tapi karena orang-orang Liu Kun siang malam mengawasi, maka terpaksa dia menghindar dulu!” kata Tiong Toa-sianseng.

Walaupun Tiong Toa-sianseng tidak menyampaikan hal ini, Fu Hiong-kun dan lain-lain sudah tahu. Su Yan-hong dan Tiong Toa- sianseng yang pada waktu itu berpangku tangan di Cin-hai-lou, pasti akan mem-buat Liu Kun curiga.

58-58-58

Mengingat sikap Su Yan-hong yang malu dan tidak berdaya, Su Ceng-cau segera tertawa. Dari dulu yang dibuat marah selalu dia, sulit baginya mendapatkan kesempatan untuk membuat Su Yan- hong bisa marah.

Dia ingin menyampaikan kepada semua orang tentang hal ini, tapi kemudian dia merasa itu bukan hal yang sangat menarik. Orang yang tahu belum tentu akan menertawakan malunya Su Yan-hong. Bahkan mungkin akan ada orang yang meng komentari perilaku dia yang memaksa orang.

Kalaupun tidak disampaikan olehnya, Su Yan-hong yang menyampaikan pun hasilnya pasti sama.

Apakah Su Yan-hong akan menyampaikan masalah ini kepada orang lain? Dia ragu. Akhirnya dia merasa dia tidak begitu mengerti Su Yan-hong, dan dia harus menikah dengannya.

Bagaimana kalau Su Yan-hong sudah berbicara dengan orang lain? Yang pasti dia akan membenci Su Yan-hong. Semakin dipikir dia semakin merasa kacau. Sampai melihat Lu Tan, hatinya baru tenang.

59-59-59

Lu Tan dengan bengong melihat dia masuk. Kedua alis yang tadinya berkerut segera terbuka. Melihat Su Ceng-cau, sakit karena luka bisa terlupakan.

“Bagaimana?” kata Su Ceng-cau tertawa. “Tidak ada apa-apa!” “Wajahmu penuh keringat, apakah sangat sakit?”

“Tidak begitu!” Lu Tan memaksa mengeluarkan tawa. “Apakah lukanya sangat sakit?”

“Sebelah kanan...”

“Kata-katanya belum selesai, tangan Su Ceng-cau sudah menekan ketiak kanannya. Dua alis Lu Tan segera mengerut, dia mengeluarkan keringat dingin, mulutnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara.

Su Ceng-cau segera melepaskan tangannya: “Mengapa bisa terjadi seperti ini?”

Sifat Su Ceng-cau tergesa-gesa. Lu Tan belum menjawab, dia sudah memotong kain pembalutnya.

Luka di ketiak kanan Lu Tan memang sudah menghitam dan mulai membusuk.

“Mengapa kau tidak memberitahu kepadaku kau terluka oleh senjata beracun!” Su Ceng-cau berteriak sambil berputar-putar.

“Seharusnya tidak beracun!” Tapi akhirnya dia teringat waktu Hongpo bersaudara menangkap panahnya yang beracun, dan memukul panah itu keluar jendela menggunakan Poan-koan-pit.

Apakah pukulan ini membuat Poan-koan-pit terkena racun? Dia tertawa kecut.

Pusing kepalanya mulai menyerang lagi. Dalam penglihatan dia yang mulai buram, suara Su Ceng-cau terdengar sangat jauh. “Guru pasti punya cara!” Waktu Su Ceng-cau terpikir akan ini, Lu Tan sudah pingsan. Sanggup . menahan sampai sekarang, dia sudah terbilang hebat.

Su Ceng-cau segera berlari.

60-60-60

Tidak ada angin bertiup tapi penutup kepala Siau Sam Kongcu bergerak. Dia memegang pedang. Sorot matanya tajam seperti pedang, sorot mata tertuju di sebuah semak-semak sejauh 3 depa.

Pedang dikeluarkan. Siau Sam Kongcu tidak menggeser langkahnya. Telapak kanan melayangkan pedang keluar. Begitu menggurat langsung ditarik kembali dan pedang segera masuk ke dalam sarung, gayanya sangat indah, jarang terlihat gaya seperti ini.

Daun-daun beterbangan di semak-semak yang berjarak 3 depa. Begitu daun terjatuh ke bawah, tidak ada yang utuh. Ranting juga patah setelah daun berjatuhan.

Dia menggeleng-gelengkan kepala, tiba-tiba bertanya: “Ceng-cauw, ada perlu apa mencariku?”

Su Ceng-cau keluar dari gunung buatan:

“Guru, kau tahu aku bersembunyi di sini?” Siau Sam Kongcu tertawa:

“Kalau yang seperti itu aku tidak tahu, mana mungkin pantas menjadi gurumu?” Dia membalikkan tubuh, “apa yang terjadi?”

“Aku mohon guru menyelamatkan seseorang!”

“Siapa?” Sorotan matanya seperti ingin menyi nari ke hati Su Ceng-cau yang paling dalam.

“Sebenarnya aku juga tidak begitu mengenal dia!” “Kau membuat masalah lagi di luar?”

“Bukan aku yang melukainya!” “Sekarang di mana dia berada?” “Di kamar tamu sebelah barat...” “Kalau bukan kau yang melukai dia, mengapa bisa berada di kamar tamu?”

“Aku yang membawa dia kemari!” “Siapakah dia?”

“Dia adalah salah satu orang yang ingin membunuh Liu Kun. Namanya Lu Tan, putra Lu Kian!” Akhirnya Su Ceng-cau berterus terang.

“Itu sudah jelas, kau benar-benar berani, menyembunyikan penjahat yang diburu kerajaan!”

“Dia adalah orang baik-baik...”

“Kau adalah Kuncu, tapi kau menyembunyikan penjahat yang mau ditangkap. Hukuman mati sudah pasti. Hukuman hidup juga sulit diampuni!”

“Kaisar seperti tidak mau memeriksa masalah ini!” “Kalau Liu Kun yang memeriksa, bukankah sama saja?”

“Kalau tertangkap, aku sebagai murid pasti bersalah. Apakah guruku bisa lepas tangan?”

Siau Sam Kongcu terkejut. Su Ceng-cau tertawa:

“Dia sedang pingsan karena terkena racun. Sepertinya hanya guru yang bisa menolong dia...”

Siau Sam Kongcu melihatnya dan menarik nafas. Menghadapi murid yang satu ini, tidak ada cara lain, dia hanya bisa mengikuti kemauannya.

61-61-61

Sesampainya di kamar tamu, Lu Tan masih pingsan. Setelah Siau Sam Kongcu memeriksa lukanya, kedua alisnya segera berkerut.

Su Ceng-cau melihat dan bertanya:

“Bagaimana? Apakah bisa mengancam nyawa nya?”

“Betul! Untung diketahui lebih awal, kalau terlambat Hoa-to yang hidup kembali juga tidak bisa menyelamatkan dia!” “Sekarang apakah guru sudah mempunyai rencana?” Siau Sam Kongcu tertawa:

“Apakah kau tidak bisa melihatnya? Aku benar-benar curiga apakah kau adalah muridku?”

“Terima kasih guru!” Su Ceng-cau meloncat bangun.

Pada waktu itu Lu Tan baru sadar kembali. Melihat Siau Sam Kongcu, sorot matanya membesar dan dia berusaha duduk.

“Ini adalah guruku, aku mempersilakan dia datang untuk mengobati luka beracunmu!”

“Tidak...tidak perlu...” Lu Tan ingin duduk kembali. Kata Siau Sam Kongcu dengan santai:

“Mati ada yang berat seperti Tai-san. Alasan ini aku kira kau harus mengerti!' Kepala Lu Tan seperti dipukul, baru mengerti:

“Merepotkan Cianpweel”

“Aku tidak tahu apakah kau kuat menahan sakit?” Dari pinggir meja Siau Sam Kongcu mengeluarkan sebuah kotak dan mengeluarkan pisau tajam.

“Apakah sangat sakit?” tanya Su Ceng-cau.

“Racun sudah masuk ke tulang iga, harus mengerik tulang untuk mengobatinya!”

“Apakah tidak ada cara yang lain?” Su Ceng-cau terkejut. “Pisau bukan untuk mengerik tulangmu, untuk apa kau takut?”

Su Ceng-cau tertawa kecut. Dia melihat Lu Tan. Lu Tan dengan ringan berkata:

“Silahkan Cianpwee menggunakan pisau!” Siau Sam Kongcu mengangguk.

“Waktu aku menggunakan pisau, kalau kau 'bisa mengatur nafas, itu berarti sudah berhasil separuh. Tapi kalau kau tidak tahan sakit, aku akan meno-tok dulu jalan darahmu.”

“Harap Cianpwee menggunakan pisau!” “Baiklah!” kata Siau Sam Kongcu. Dengan tangan kiri dia mengambil api di lampu. Api terus berputar dan menyala semakin terang, dan juga semakin panas, membuat Su Ceng-cau merasa sesak nafas.

Nyala api yang berputar kemudian jatuh ke dalam luka Lu Tan. Segera timbul suara CES! CES! Daging yang sudah busuk terjatuh. Asap putih pelan- pelan naik dan tercium bau hangus. Su Ceng-cau tidak kuat melihatnya, dia membalikkan tubuh.

Yang pasti kesakitan ini bukan orang biasa yang bisa menahan, tapi di luar dugaan, Lu Tan bisa menahannya dan sampai sedikit suara mengeluh pun tidak terdengar.

Butiran keringat besar terus menetes. Dia tetap bertahan. Sorot matanya memandangi luka, melihat daging yang busuk jatuh dari luka dan darah merah terus mengalir.

Akhirnya pisau Siau Sam Kongcu sampai di tulang iganya. Begitu dikerik, Su Ceng-cau segera menutup telinganya. Suara itu benar- benar sangat' menakutkan, membuat orang merasa merinding.

Entah sudah lewat berapa lama, Su Ceng-cau juga tidak tahu.

Sampai Siau Sam Kongcu membentak:

“Ceng-cau!”, dia baru terbangun dari mimpi.

“Guru!” Dia sudah tidak mendengar suara kerikan tulang tapi dia tetap tidak berani melihat.

“Cepat bawa obat kemari!” Siau Sam Kongcu berpesan.

Su Ceng-cau baru menoleh, terlihat api itu masih berputar-putar di telapak Siau Sam Kongcu, tapi warna api berubah menjadi ungu kehijauan. Wajah Siau Sam Kongcu pucat seperti kertas, keringat terus menetes, bajunya basah oleh keringat. Meng obati seakan- akan terlihat mudah tapi sebenarnya sudah menguras banyak tenaga dalamnya.

“Obat apa?” Su Ceng-cau terlihat sedikit kacau.

Sorot mata Siau Sam Kongcu menuju ke kotak kedua di atas meja. Di dalam kotak, ada dua botol giok kecil. “Di dalam botol?” suara Su Ceng-cau gemetaran. “Beri aku satu gelas!”

Su Ceng-cau dengan kuku membuka tutup botol yang sudah disegel dengan lilin dan menumpahkan bubuk obat ke gelas giok kecil.

Obat bubuk berwarna merah dan mengeluarkan bau pedas. Su Ceng-cau tidak tahan dan bersin.

“Hati-hati! Obat ini sangat sedikit. Lebih baik menumpahkannya ke telapak kiriku!” Mulut Siau Sam Kongcu berbicara, tapi matanya tetap melihat luka Lu Tan.

“Tapi...” Su Ceng-cau melihat di telapak kiri Siau Sam Kongcu masih ada api.

“Cepat tumpahkan!” Siau Sam Kongcu membentak.

Terpaksa Su Ceng-cau menumpahkan obat. Api segera mengeluarkan suara FENG! Berubah menjadi warna merah. Jelapak Siau Sam Kongcu segera membalik. Merah yang seperti darah itu ditempelkan di luka Lu Tan.

Daging di tubuh Lu Tan mengerut, tapi dia tetap tidak berteriak. Dia menggigit bibirnya sampai mengeluarkan darah. Akhirnya dia pingsan dan roboh ke ranjang.

“Dia!” Su Ceng-cau berteriak.

“Tenanglah!” Siau Sam Kongcu menghembuskan nafas. Dia mengambil kain yang sudah disiapkan dan membalut luka Lu Tan.

Su Ceng-cau melihat kiri dan kanan, dia kerepotan ingin membantu tapi tidak tahu apa yang harus dia bantu. Melihat Siau Sam Kongcu sudah selesai membalut luka, dia berteriak:

“Guru! Mengapa dia masih pingsan?”

“Bila dia sadar nanti akan pingsan lagi. Biarlah dia pingsan, malah akan lebih nyaman!” kata Siau Sam Kongcu, “tenanglah, racun sudah bersih, biar dia istirahat sebentar, dia akan bisa pulih kembali!” “Betulkah?” Su Ceng-cau masih tidak percaya. “Kapan guru pernah berbohong kepadamu?”

Su Ceng-cau mengangguk. Dia melihat Lu Tan dan berkata: “Orang ini benar-benar aneh. Jelas-jelas sakit, mungkin berteriak

akan lebih nyaman baginya, tapi dia malah tidak mau berteriak,

orang yang tidak tahu akan mengira dia bisu!”

“Kau tahu apa. Ini namanya laki-laki besi!” Mata Siau Sam Kongcu memancarkan cahaya memuji, “Mungkin ayahnya juga beradat keras?”

“Makanya Liu Kun tidak suka!” Siau Sam Kongcu segera bangun untuk membereskan barang.

Mata Su Ceng-cau berputar:

“Orang ini lucu juga!”

“Ceng-cau, aku kira lebih baik kau mengantar orang ini keluar!” “Mengapa? Apakah Liu Kun akan mencari sampai ke sini? Aku

tidak takut!”

Siau Sam Kongcu ingin mengatakan sesuatu tapi perkataan tidak keluar dari mulutnya. Akhirnya dia berjalan keluar. Dia sudah melihat Su Ceng-cau tertarik dengan orang ini. Kalau tidak dihadang, akan menimbulkan kerepotan lagi. Memang dia sudah melihat hal ini tapi dia juga seperti itu, apa yang bisa dia katakan?

62-62-62

Malam bertambah larut. Semua orang di rumah Ling-ong sudah tidur kecuali Siau Sam Kongcu. Selain itu, mungkin hanya pasukan yang berpatroli yang belum tidur.

Tiba-tiba dari atas dinding yang tinggi, ada orang meloncat masuk.

Dia adalah Siau Cu! Setelah meloncat turun, dia segera masuk ke dalam semak-semak. Gerakannya lincah dan cepat, mata dan telinga dipasang dengan baik. Dia mendengar suara seruling, suara seruling yang ditiup berasal dari gunung buatan di sana. Suara seruling seperti sedang berbicara juga seperti menangis. Dia melihat Siau Sam Kongcu sedang duduk di gunung buatan dan bermain seruling.

Jarak mereka sekitar 20 depa, tapi Siau Sam Kongcu bisa melihat dengan jelas.

“Pelajar-yang tidak pengertian. Malam-malam begitu meniup seruling, apakah tidak tahu bisa meng' ganggu orang tidur!” Sambil mengomel Siau Cu keluar dari semak-semak dan berjalan ke arah koridor.

Koridor berbelok dan berbelok lagi, tapi sepan jang jalan tidak ada orang. Siau Cu merasa senang juga kecewa, karena dia ingin menangkap satu orang untuk ditanyai di mana Lu Tan berada.

Siau Cu mencurigai kebaikan Su Ceng-cau, mana mungkin dia tidak datang menengok Lu Tan?

Koridor berbelok lagi. Tiba-tiba di depan terdengar lagi suara seruling.

“Orang di sini memang aneh. Semua orang senang meniup seruling malam-malam!” Siau Cu marah tapi sorot mata segera membesar.

Karena orang yang meniup seruling bukan orang lain tapi tetap adalah Siau Sam Kongcu.

“Apakah ada orang yang begitu mirip?” Siau Cu mundur. Dia balik meloncat pagar bunga dan mengendap-endap berjalan ke kamar sana. Di sepanjang jalan dia selalu sangat hati-hati.

Sebelum masuk ke dalam ruangan, suara seruling sudah keluar dari sana. Siau Cu melihat, dan terlihat lagi Siau Sam Kongcu duduk di depan kamar meniup seruling.

“Celaka!” Waktu Siau Cu ingin kabur, suara seruling sudah berhenti dan kemudian terlihat kedipan bayangan orang, Siau Sam Kongcu sudah menghadang di depan Siau Cu.

Terpaksa Siau Cu bertepuk tangan: “Ilmu yang bagus!”

Siau Sam Kongcu melihat dia dan berkata:

“Sama-sama. Mengapa tuan yang bermain .sulap di Sin-sa-hai bisa main kemari? Tidak hanya berilmu bagus, kau juga seorang yang berani!”

“Ternyata adalah orang yang sudah kenal, kita bisa lebih enak berbicara!”

“Tuan malam-malam datang ke rumah Ling-ong, apa tujuanmu? Apakah ingin mencari temanmu?” Siau Sam Kongcu tetap tertawa.

“Aku tidak mau menutupi hal ini. Sekarang di mana dia berada?” “Di dalam rumah Ling-ong! Bisa mempunyai teman yang setia

kawan^sepertimu, marga Lu tidak sia-sia hidup sekarang ini!”

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak ada masalfth dengan lukanya. Bila sanggup pulang, dia akan pulang sendiri!” Siau Sam Kongcu menunjuk dengan seruling, “sekarang silah kan pulang!”

“Aku ingin bertemu dengannya!”

“Di setiap tempat ada aturan main. Kau masuk dengan meloncat pagar tinggi. Karena kau baru pertama kali, aku memaafkanmu. Kau seharusnya merasa puas!”

“Bila ingin...”

“Kau harus melewati aku dulu!”

“Malam ini aku tidak tertarik!” Siau Cu melayangkan tangan, “kita bertemu di lain waktu!” Dia berlari keluar, karena sudah melihat akan sulit melewati Siau Sam Kongcu.

Setelah Siau Cu pergi, Siau Sam Kongcu berkata sendiri: “Lihat, kerepotan sudah datang!”

Su Ceng-cau keluar dari gunung buatan. Dia tertawa kecut:

“Di mana pun aku berada selalu tidak bisa lolos dari pandangan guru!” “Menjadi seorang guru memang tidak mudah!”

“Mengapa guru tidak menyuruh dia membawa Lu Tan pergi?” “Kau yang menyelamatkan dia. Tentang kapan harus

dipulangkan, kau yang harus mengambil keputusan!” Siau Sam

Kongcu menarik nafas, “kau harus bisa berpikir baik-baik!” Su Ceng-cau kelepasan berkata:

“Baik! Apapun yang terjadi, sampai waktunya nanti aku harus memberikan jawaban yang jelas!”

“Apa?” Siau Sam Kongcu merasa aneh.

“Tidak ada apa-apa!” Su Ceng-cau sudah meninggalkan tempat.

Siau Sam Kongcu tidak memanggil dia, hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya seberapa besar yang dia bisa tahu?

***

Selama empat hari berturut-turut tidak ada kabar tentang pembunuh, hati Liu Kun merasa tidak nyaman. Tapi dia juga tidak mengambil tindakan apa-apa karena masih ada hal yang lebih penting menunggunya. Pagi ini dia keluar dari belakang rumah secara rahasia, naik ke atas kuda, kemudian bersama dengan sekelompok orang diam-diam meninggalkan rumah dari pintu belakang.

Sampai di luar kota, dia tetap berpesan:

“Rapat Tiang-teng diadakan hari ini, sepanjang jalan kita harus lebih hati-hati, jangan sampai tersebar luas. Orang yang ingin aku temui, aku harap orang lain tidak tahu bahwa dia sudah berada di ibukota!”

In Thian-houw dan Hongpo bersaudara segera menjawab: “Kami tahu!” “Kalian harus hati-hati, beri kesan baik kepada orang ini!” Liu Kun berpesan lagi.

“Kami mengerti!”

63-63-63

Tiang-teng kuno berada di selatan kota, jauhnya sekitar 10 li. Cat-cat merah sudah terkelupas, kelihatannya sudah lama tidak digunakan. Walau di mana pun, Ling-ong selalu mempunyai sikap yang tidak biasa.

Nama aslinya Cu Cin-hoo, ayahnya adalah putra ke-17 Tai-cu. Dia menamakan diri Ling-ong. Tadinya dia hanyalah seorang raja kecil di daerah, tapi dalam beberapa tahun ini dia terus menambah pasukan. Sekarang dia sudah menjadi seorang raja kecil yang kuat, maka selalu menjadi orang rebutan Liu Kun dan kaisar.

Kali ini dia masuk ke ibukota pasti bukan tanpa sebab. Dia mempunyai empat orang pengawal setia. Liu Hui-su, Cia Ceng- hong, Hoa Pie-li, Soat Boan-thiatt, mereka dijuluki Su-ki-sat-jiu (Pembunuh 4 musim). Sekarang mereka semua ikut datang ke ibukota.

Empat orang Su-ki-sat-jiu ini seperti orang yang terpelajar, maka sekarang mereka berpenampilan seperti sastrawan. Soat Boan-thian dulu pernah muncul dengan penampilan seorang tabib di luar pintu kediaman Liu Kun menjual obat. Sekarang dia sudah kembali berpenampilan seperti seorang sastrawan. Bila dibandingkan dengan tiga pembunuh yang lain, dia tampak tidak berbeda dengan mereka.

Selain mereka berempat, masih ada pengawal yang aneh, yaitu seekor beruang hitam yang sangat besar.

Waktu Liu Kun datang, Ling-ong sedang mem beri makan buah- buahan kepada beruang hitam itu. Semua orang melihat dan merasa aneh, tidak terkecuali Liu Kun.

Terdengar suara teriakan: “Kiu-cian-swe hadir!” Ling-ong menaruh buah-buahan yang di tangannya dan menyambut Liu Kun.

“Sepanjang jalan Ong-ya pasti lelah!” Liu Kun sudah dapat mengucapkan kata-kata seperti ini dengan lancar, tapi sekarang ketika keluar dari mulutnya, dia merasa tegang.

“Menyuruh Liu-congkoan kemari, aku benar-benar merasa tidak enak!” Ling-ong memegang pundak Liu Kun, “silahkan masuk! Makanan dan arak sudah siap. Walaupun pondok sudah usang, tapi kursi dan meja masih baru!”

Setelah bersulang, Ling-ong baru berkata:

“Peristiwa Cin-hai-lou beberapa hari yang lalu sudah mengejutkan Liu-congkoan!”

“Karena menumpang keberuntungan Ling-ong, memang terkejut tapi tidak mengalami bahaya!” Liu Kun sama sekali tidak merasa pernyataan Ling-ong di luar dugaan. Karena mata-mata yang ditempat kan di ibukota sangat banyak, maka kabar apapun yang terjadi, dia bisa mendapatnya dengan cepat, apalagi waktu itu ada Tiang-lek Kuncu.

“Katanya sampai sekarang pembunuhnya belum ditemukan?” “Walaupun belum tertangkap tapi sudah ada petunjuk. Demi

tidak mengejutkan mereka, pada saat nya nanti kita akan menjala

mereka sekaligus!”

“Baik!” Ling-ong telihat sangat percaya dengan kata-katanya. “Tidak disangka walaupun Ong-ya berada di Kanglam, tapi apa

yang terjadi di ibukota bisa tahu dengan jelas!” Akhirnya kata-kata

ini keluar juga dari mulut Liu Kun.

“Tapi sayang belum bisa berbagi kekhawatiran Liu-congkoan!” “Obat yang mengobati hati sudah diantarkan, itu lebih dari

cukup!”

“Itu adalah hal kecil!”

“Ong-ya terlihat sangat mendukung rapat di Tiang-teng hari ini.

Aku pasti bertambah tenang!” Jamuan ini tidak sederhana, tapi dua orang ini mempunyai beberapa maksud.

64-64-64

Pada waktu yang bersamaan, Fu Hiong-kun ditemani oleh Tiong Toa-sianseng datang ke An-lek-hu. Dia datang untuk mencari kabar baru dan sekalian memberitahu Su'Yan-hong bahwa Siau Cu malam-malam pergi ke Ling-ong Fu, tapi pulang dengan tangan kosong.

Su Yan-hong merasa terkejut:

“Dia terlalu ceroboh. Di sana ada Siau Sam Kongcu, ingin membawa orang pergi, itu bukan hal yang mudah!”

“Malam itu dia bertemu dengan Siau Sam Kongcu, tapi Siau Sam Kongcu tidak mempersulit nya!” kata Fu Hiong-kun sambil tertawa, “masih memberitahu Kongcu bahwa luka Lu Tan tidak perlu dikhawatirkan!”

“Siau Sam Kongcu bukan orang jahat!” kata Tiong Toa-sianseng sambil menarik nafas.

Su Yan-hong sedikit khawatir:

“Apakah Ceng-cau tahu? Kalau tahu, aku takut hal ini...”

Dia tidak meneruskan pembicaraannya, tapi Fu Hiong-kun bertanya:

“Apakah terhadap peristiwa ini, Tiang-lek Kuncu mempunyai tujuan lain?”

“Mana mungkin?” Su Yan-hong menggelengkan kepala.

“Kita hanya mengkhawatirkan Lu Tan. Kalau Hou-ya ada waktu, apakah bisa membawa kami ke sana untuk bertemu dengannya?” Sambil berbicara, Fu Hiong-kun juga memperhatikan perubahan ekspresi Su Yan-hong.

“Tentang ini...” Su Yan-hong tidak tahu apa yang harus dia jawab. Ada suara berkata, “siapa yang ingin bertemu Lu Tan?” Mendengar suara ini, kepala Su Yan-hong menjadi besar. Dia tidak lupa waktu yang dijanjikan sudah sampai.

Benar saja, yang masuk adalah Su Ceng-cau. Fu Hiong-kun segera berkata:

“Apakah bisa mempertemukan kita dengan Lu Tan?”

“Aku tidak berniat jahat terhadapnya. Aku dengan tulus menyelamatkannya. Mengapa kau berkata seperti itu?”

Fu Hiong-kun terpaku. Su Yan-hong melihat wajah Su Ceng-cau.

Dia menarik nafas:

“Lu Tan berada di tempatmu tidak ada baik- .nya...”

“Aku tidak mau tahu!” Su Ceng-cau melihat Su Yan-hong, “bila kau ingin aku menyerahkan Lu Tan, kau harus menyetujui syarat yang aku ajukan.”

Su Yan-hong menarik nafas lagi. Fu Hiong-kun merasa aneh. Dia bertanya kepada Su Yan-hong:

“Syarat apa? apakah aku bisa membantu?”

Su Yan-hong belum menjawab, Su Ceng-cau sudah melihat Fu Hiong-kun dan tertawa dingin:

“Bila ada kau, masalah akan jadi lebih buruk!”

“Mungkin aku yartg sudah tua...” Tiong Toa-sianseng menyela. “Tidak ada orang yang bisa membantu dia. Ini adalah masalah

pribadi, hanya dia sendiri yang bisa membereskannya!”

Su Ceng-cau melihat Su Yan-hong berkata lagi: “Apakah sudah kau pikirkan?”

“Tidak!” Su Yan-hong kelepasan. Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali. Dia hanya melihat Su Ceng-cau dengan bengong.

“Apakah kau sudah lupa hari ini adalah hari terakhir?” “Aku...aku...” Kata-kata berikutnya tidak bisa diteruskan Su Yan-

hong. “Kau masih belum memikirkannya?” “Betul...” Su Yan-hong tertawa kecut. “Apakah butuh waktu lagi?”

“Betul!” kali ini Su Yan-hong menjawab dengan tegas.

“Baik! Aku beri kau waktu satu hari lagi. Bila kau masih tidak ada jawaban...” Su Ceng-cau tertawa dingin.

“Bagaimana. bagaimana?”

“Aku akan menyerahkan Lu Tan kepada Liu Kun. Biar kau yang tawar-menawar dengan dia!” kata Su Ceng-cau tanpa ampun.