-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 03

Jilid 03

Sesampainya di dinding pagar Ci-cu-wan, Tiong Bok-lan dan Kiang Hong-sim baru berhenti. Melihat di belakang mereka tidak ada orang yang mengejar, Tiong Bok-lan baru merasa agak tenang.

Kiang Hong-sim melihat dia, lalu menggeleng kan kepala: “Untung dia tidak datang mengejar kemari!” kata Tiong Bok-lan. “Siapa yang tidak datang mengejar?” satu suara yang keluar dari

semak bambu.

Tiong Bok-lan terkejut, Kiang Hong-sim juga. “Siapa?” bentak Kiang Hong-sim.

Orang yang berbicara keluar dari kegelapan, ternyata adalah Tiong Toa-sianseng, Hal ini membuat Tiong Bok-lan terkejut. Dia memanggil:

“Ayah!”

“Mengapa Tiong-cianpwee berada di sini?” tanya Kiang Hong- sim.

“Sebenarnya aku ingin masuk ke Ci-cu-wan untuk mencari Bok- lan. Dari jauh aku melihat kalian datang!” kata Tiong Toa-sianseng.

“Ada perlu apa ayah mencariku?”

“Tidak ada apa-apa, hanya datang menengok. Ada apa dengan kalian?”

Tiong Bok-lan tidak tahu harus menjawab apa. Kiang Hong-sim segera berkata:

“Kami hanya berjalan-jalan...”

“Memakai baju malam, berjalan-jalan kema- na?”

Tiong Bok-lan dan Kiang Hong-sim saling melihat. Kiang Hong- sim segera berkata:

“Tiong-cianpwee bukan orang lain, bagaimana kalau kita terus terang saja?” Wajah Tiong Bok-lan berubah. Kata Kiang Hong-sim kemudian: “Kita keluar malam, sebenarnya ada tugas!”

“Tugas apa?” tanya Tiong Toa-sianseng.

“Memeriksa seorang tua yang misterius!” Reaksi Kiang Hong- sim sangat cepat, mulutnya juga berbakat, “di luar, orang tua itu itu menjual sulap dan meminta uang, tapi sebenarnya dia melakukan kejahatan, dia selalu melirik perempuan-perempuan!” Setelah mengatakan itu, pipinya seperti memerah.

“Melirik perempuan untuk apa?”

“Dia melihat Bok-lan cantik, mana mungkin melepaskannya. Kita bukan lawannya, tapi untung kita berdua bisa berlari cepat!” kata Kiang Hong-sim.

Kiang Hong-sim pintar berbicara, dia terlihat seperti bukan berbohong.

Walaupun Tiong Toa-sianseng adalah orang dunia persilatan yang berpengalaman, tapi ini per-.tama kali dia menghadapi seorang perempuan yang berbohong. Mendengar putrinya dilirik, hatinya mera sa tidak enak juga marah:

“Orang ini sungguh berani, siapakah dia..”

“Kami hanya tahu dia menjual sulap di Sin-sa-hai, tangannya memegang sebuah Holou besar. Bila ingin mencari dia tidak terlalu sulit!”

“Kalau ada kesempatan orang itu harus di beri pelajaran!” “Kalau dia masih  seperti itu pasti ada kesempatan!” Tujuan

Kiang Hong-sim sudah tercapai, dia segera ingin pergi. Dia berkata

lagi, “kalian berbica- ralah, aku masuk dulu!” Dia terbang naik ke dinding pagar.

Setelah Kiang Hong-sim pergi, Tiong Bok-lan bertanya: “Ayah malam-malam mencariku, apakah ada perlu?”

“Hari ini Tiang-le Kuncu mencariku ke rumah An-lek-hou dan menceritakan keadaan Siau Sam.” “Apa?” wajah Tiong Bok-lan berubah lagi. Tiong Toa-sianseng menarik nafas:

“Ayah berpikir lama, akhirnya mengambil ke-putusan. Aku akan mencari kesempatan denganmu-untuk pergi menengok Siau Sam!”

“Tidak perlu lagi!” Tiong Bok-lan membalikkan tubuh. Air matanya berlinang.

“Seumur hidup ayah tidak pernah berbuat hal yang membuat ayah merasa bersalah, hanya ini...”

“Aku sudah beberapa kali berkata, masalah ini sudah berlalu. Malam ini putrimu sudah lelah, lebih baik ayah juga pulang untuk beristirahat.”

Tiong Toa-sianseng masih ragu.

Tiong Bok-lan sudah meloncat melewati dinding besar dan masuk ke Ci-cu-wan.

Pendengaran Lam-touw benar-benar peka. Kepekaan adalah ilmu dan keahliannya. Dia lebih peka daripada banyak pesilat tangguh. Kalau pencuri-pencuri biasa ingin bertingkah di depannya, itu hanyalah mencari penghinaan sendiri.

Walaupun dia adalah seorang Pak-to (Perampok utara), dia selalu membanggakan tentang ini. Karena itulah, keahlian ini menjadi malapetaka baginya, sampai-sampai dia sendiri juga merasa terkejut.

Maka dari itu dia tidak bisa menguasai diri dan masuk ke dalam perangkap ini.

Siau Cu sedang bermain sulap, sulap Pa-pui-ki-tan (telur ayam ada dimana). Semenjak Lamkiong Bing-cu ingin belajar ilmu sulap Pa-pui-ki-tan ini, setiap hari dia selalu memainkan teknik ini beberapa kali. Yang pasti bila sulap semakin aneh maka penon ton juga tidak bosan.

Tapi begitu Lam-touw melihatnya, dia menggeleng-gelengkan kepala. Saat menggelengkan kepala, tiba-tiba dia melihat ada hal yang sangat menarik. Seorang gadis berbaju ungu seperti tidak sengaja menerobos ke depan, menabrak seorang ga-'dis berbaju mewah yang sedang menonton. Siau Cu sedang bermain sulap telur. Gadis berbaju mewah mempunyai seorang pembantu, yang sedang melihat sulap dengan penuh konsentrasi. Yang pasti dia tidak akan mencegat aksi gadis berbaju ungu.

Gadis berbaju mewah segera berteriak terkejut. Gadis berbaju ungu segera berkata:

“Maaf!” Dia segera marah kepada seorang laki laki setengah baya yang berdiri di belakang, “Kenapa kau terus mendesak-desak?”

Wajah laki-laki setengah baya itu terlihat bengong, dia benar- benar tidak tahu apa yang terjadi.

Tapi Lam-touw tahu, dia melihat jelas gadis berbaju ungu menabrak gadis berbaju mewah, kemudian mengambil uang yang tersimpan di kantong uang gadis berbaju mewah. Kemudian dia memasukkan ke lengan kanan baju. Sewaktu dia memarahi laki-laki setengah baya, kantong yang dari lengan baju dimasukkan ke tali pinggangnya.

Gerakan dia sangat lincah, sampai Lam-touw juga harus mengaku orang ini mempunyai ilmu copet yang jarang dia lihat.

Karena ingin tahu, maka dia segera maju dan berkata kepada gadis berbaju ungu:

“Gadis kecil!”

“Ada apa?” Gadis berbaju ungu terkejut.

“Aku ingin meminta barang yang bukan milik mu!” Lam-touw tertawa, seperti bercanda seperti bersorot cabul.

“Kau jangan sembarangan bicara.” Wajah gadis berbaju ungu mulai berubah. Sepasang matanya melotot besar.

Lam-touw tidak banyak bicara. Satu tangan sudah memegang tali pinggang gadis berbaju ungu. Gadis ini tidak bisa menghindar. Kantong uang sudah berada di tangan Lam-touw. Lam-touw mengikuti caranya melemparkan uang ke dalam lengan baju. Gadis berbaju ungu berteriak terkejut:

“Kau mau apa?”

Kantong uang itu segera muncul di tangan Lam-touw: “Kau jangan kira aku sudah tua dan mata sudah buram!”

“Apakah kalau umur tua boleh memegang-megang seorang gadis?”

Sebagian penonton sudah datang, yang pasti Siau Cu sudah berhenti bermain sulap telur. Ketika dia datang, keadaan bertambah ramai:

“Betul, mengapa kau sudah tua masih memegang tangan gadis ini?”

Guru dan murid ini sudah terbiasa saling mengejek. Tapi kali ini Lam-touw tidak menjawab pertanyaan Siau Cu. Dia berkata kepada gadis berbaju ungu:

“Apakah kau tidak mencuri kantong uang .gadis itu?”

Tiba-tiba dia merasa ada yang aneh, tapi anehnya di mana? Semakin melihat gadis berbaju ungu, semakin dia yakin gadis ini bukan pencuri biasa.

Sorot matanya terlalu tajam, berarti dia mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi.

“Mana mungkin terjadi seperti itu!” Gadis berbaju ungu segera membantah.

Lam-touw bertanya kepada gadis berbaju mewah:' “Nona, apakah kantong uang ini milikmu?”

Gadis berbaju mewah dengan ketakutan meng gelengkan kepala.

Pelayannya cepat maju:

“Nona kami selaki menyimpan uang di dalam lengan baju!”

Dia segera mengambil kantong uang dari lengan baju gadis berbaju mewah. Lam-touw segera sadar, dia sudah terjebak.

Dia segera tertawa: “Kalau bukan milik dia, berarti milikmu!” Dia melempar kembali kantong uang itu.

Tapi setelah mengambil kantong uang, gadis berbaju ungu segera menangis. Kepala Lam-touw seperti berubah menjadi dua, “Mengolok-olok gadis di siang bolong begitu, apakah ada hukum?” Entah ada siapa yang berteriak di dalam kerumunan orang. Yang satu lagi berteriak:

“Tangkap dia dan serahkan ke polisi!”

Orang lain juga terus berteriak. Seorang laki-laki maju mencengkram Lam-touw. Lam-touw sampai setua itu, baru pertama kali bertemu hal seperti ini. Dia kerepotan, dan menahan tangan laki-laki itu. Mungkin karena terlalu berat, laki-laki itu terjatuh. Yang lain melihatnya dan merasa marah. Mereka segera datang mengepung. Lam-touw sudah membuat kerumunan orang marah. Sementara tidak bisa dijelaskan, dia terpaksa harus kabur.

Sangat mudah bagi dia untuk kabur. Dia dengan Holou besarnya sudah berguling ke dalam kerumunan orang. Banyak tangan yang ingin menang kap dia tapi tidak satupun yang bisa menceng- kramnya. Dengan cepat dia sudah keluar dari kerumunan orang.

Kerumunan orang itu tidak mencari Siau Cu. Siau Cu merasa sangat beruntung, dia menundukkan kepala membereskan barang. Melihat telur sulap terinjak olehnya, dia menggelengkan kepala sambil tertawa kecut.

Kali ini dia membereskan peralatan sulap dengan teliti. Di satu sisi dia berusaha menghindari sorot mata aneh dari orang-orang, di sisi lain dia berpikir, walaupun masih bisa menjual sulap di Sin-sa- hai tapi sudah tidak ada artinya lagi.

Mengenai keselamatan Lam-touw, dia malah tidak mengkhawatirkannya. Dengan ilmu silat yang dimiliki Lam-touw, sangat mudah baginya untuk 'kabur. Dia tidak tahu selain orang- orang ini, masih ada ketua Kun-lun-pai, Tiong Toa-sianseng!

Gadis berbaju ungu dan gadis berbaju mewah ternyata adalah satu kelompok. Sandiwara ini sebenarnya sengaja dibuat untuk diperlihatkan pada Tiong Toa-sianseng. Yang mengatur jebakan ini bukanlah orang lain melainkan Kiang Hong-sim. Sekarang Kiang Hong-sim sedang bersembunyi menonton keramaian.

Melihat Tiong Toa-sianseng mengejar Lam-touw, Kiang Hong- sim langsung tertawa kejam.

Dia melakukan ini hanya untuk membalas dendam kepada Lam- touw atas kejadian malam itu ketika dia sudah diolok-olok. Dia tahu Lam-touw memiliki ilmu silat tinggi. Dia juga tahu ilmu Tiong Toa- sianseng juga tinggi. Seorang Cianpwee perkumpulan pasti sangat tinggi ilmunya, kalau tidak itu malah aneh.

Dia tidak peduli dengan akibat yang akan terjadi. Dia sudah senang dapat membuat Lam-touw malu.

34-34-34

Lam-touw sekaligus berlari masuk ke dalam sebuah hutan di daerah sana. Dia baru menarik nafas lega, tapi tidak lama dua alisnya mulai berkerut lagi. Dia adalah pesilat tangguh, walaupun tubuh Tiong Toa-sianseng sangat ringan dan mendarat tanpa bersuara, tapi begitu mendekat dia segera dapat merasakannya dan tahu yang datang adalah seorang pesilat tanguh.

Sewaktu dia membalikkan tubuh, Tiong Toa-sianseng sudah keluar dari semak-semak. Dia berwajah dingin, sorot matanya seperti petir terus melihat Lam-touw.

“Siapa?” Lam-touw masih bisa tertawa.

“Orang yang datang untuk menghajarmu!” Kata Tiong Toa- sianseng, Sekali mendengar sudah tahu dia bukan bercanda. Tenaga dalam yang sangat kuat terpancar dari suaranya.

“Lo-heng, aku kira kau sudah salah paham!” kata Lam-touw. Tiba-tiba Lam-touw bertanya, “ada hubungan apa dua gadis itu denganmu?”

Tiba-tiba dia merasa Tiong Toa-sianseng dan dua gadis itu adalah satu komplotan, tapi setelah berbicara dia berpikir ini tidak mungkin. “Tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka, tapi ada hubungannya dengan perempuan sebelum ini!”

“Kau dan dia satu komplotan?” Lam-touw segera teringat Kiang Hong-sim. Karena di dalam ingatannya, perempuan yang baru dia perolok hanya Kiang Hong-sim sendiri.

Mendengar kata-kata Lam-touw ini, Tiong Toa-sianseng mengira Lam-touw mengaku telah mengolok-olok Tiong Bok-lan, maka kedua alisnya segera terangkat.

Lam-touw segera bersalto keluar dan masuk ke dalam semak- semak. Tiong Toa-sianseng langsung mengejar Lam-touw ke semak-semak.

Ketika Tiong Toa-sianseng mengejar Lam-touw, dia menyerang dengan kedua telapak tangan nya sehingga membentuk angin keras yang membelah semak-semak. Tapi Lam-touw tidak ada di sana, yang tampak hanya sebuah ranting kayu.

Tiong Toa-sianseng berteriak:

“Tertipu lagi!” Dia tertawa dingin, sepasang kakinya menginjak semak-semak terus mengejar.

Kali ini tubuhnya tidak bergerak cepat.

35-35-35

Dengan 7 cara Lam-touw keluar dari hutan itu. Dia tahu dengan 7 cara ini Tiong Toa-sianseng akan bingung mengejar ke arah mana, bahkan mungkin bisa tersesat.

Tapi begitu tahu perhitungan dia tidak seperti Thian, Tiong Toa- sianseng sudah seperti seekor burung turun dari langit.

Dia terpaku. Tiong Toa-sianseng melihatnya: “Apakah kau masih ada cara lain? Keluarkanlah!”

“Tidak ada lagi! Ilmumu turun dari langit tadi, apa namanya?”

Tiong Toa-sianseng belum menjawab, dia sendiri sudah menjawab:

“Kalau tidak salah lihat, seharusnya Kun-lun- pai!” “Kalau benar, ada apa?” Tiong Toa-sianseng ter tawa dingin. “Tidak banyak yang bisa berlatih sampai tahap ini, siapa nama

tuan?”

“Marga Tiong!”

“Tiong Toa-sianseng!” teriak Lam-touw.

“Betul! Apakah kau menyerahkan diri untuk ikut aku kembali?” “Katanya tuan mempunyai anak perempuan yang menikah

masuk ke keluarga Lamkiong?”

Tiong Toa-sianseng mengangguk:

“Dialah gadis yang kau olok-olok semalam!”

“Semalam?” kata Lam-touw sambil menggelengkan kepala, “apa yang terjadi?” berkata begitu, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Semalam dia salah mengejar orang. Apakah orang yang diam- diam keluar dari keluarga Lamkiong semalam, dan bertemu dengan Siau Sam Kong-cu itu adalah putri Tiong Toa-sianseng?

Waktu itu, karena ada orang melempar batu maka Siau Sam Kongcu datang mengejar. Orang itu •sangat mungkin, waktu dia bolak balik di luar keluarga Lamkiong, sudah tahu dia berada di sana, maka dia adalah orang keluarga Lamkiong.

Orang keluarga Lamkiong yang punya masalah dengan dia hanyalah Kiang Hong-sim. Sekarang Lam-touw mulai mengerti.

“Perempuan yang lihai!” Lam-touw menarik nafas. Dia berkata lagi, “sekarang aku mengerti apa yang terjadi.”

“Melihat ilmu silatmu, kau bukanlah orang yang tidak ada nama. Dengan ilmu silat dan kelakuanmu, seharusnya kau sudah sangat terkenal karena kejahatanmu. Kalau kau tidak mau bicara, kami akan menangkapmu ke kantor polisi. Di sana pasti akan lebih jelas!”

“Apa?” Lam-touw ingin tertawa, “Lo-heng, tentang hal ini aku sendiri tidak tahu harus mulai ber cerita dari mana!”

“Kalau mau bicara, bicaralah di kantor polisi!” “Apakah kau serius?” mengucapkan kata-kata ini, Lam-touw seperti memberi gamparan kepada diri sendiri, “pantas mati, sekarang masih berani omong kosong!”

“Kau mau jalan sendiri atau aku sendiri yang menyeretmu!” “Lo-heng, masalah ini ada kesalah pahaman!”

“Semalam aku tidak ada di tempat, tapi hari ini aku melihat dengan mata kepala sendiri. Apakah masih salah?”

Tiong Toa-sianseng melayangkan tangan:

“Ayo, jalan!”

“Kau menyuruhku jalan!” Dia berlari cepat. Dia cepat, tapi Tiong Toa-sianseng lebih cepat. Tiong Toa-sianseng sudah menghadang di depan Lam-touw.

Ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang dari Kun-lun-pai sangat bagus. Tadi Lam-touw sudah melihat ilmu meringankan tubuh Tiong Toa-sianseng dan tahu dia tidak bisa kabur dari Tiong Toa-sianseng. Tujuan dia berlari barusan tadi adalah memancing musuh. Begitu Tiong Toa-sianseng men- dekat, dia segera membalikkan tubuh. Holou besar segera membentur Tiong Toa- sianseng. Tapi sebelah tangannya digerakkan melewati bawah Holou untuk menotok nadi di dada Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng mundur tiga kaki, mengeluarkan pedang dari sarung. Pedang menggores Holou yang besar berwarna merah.

Lam-touw sangat sayang kepada Holou-nya. Ketika menarik kembali tangannya, Holou besar sudah berputar di belakang tubuhnya. Dia mundur untuk menghindari serangan pedang.

Tapi pedang datang lagi menyerang ke alisnya. Dia mundur lagi untuk menghindar.

Tiong Toa-sianseng terus mengejar, terlihat dia ingin memaksa Lam-touw menyerah.

Dengan posisinya sebagai seorang ketua perkumpulan, serta dengan ilmu silatnya yang hebat dan nama yang besar, tapi dia harus menggunakan senjata. Jika lawan adalah orang yang tidak ada nama, itu akan benar-benar membuat orang sulit mempercayainya.

Paling sedikit dialah orang pertama yang tidak percaya.

Dia menggunakan pedang karena perlu mema kai pedang. Ilmu pedang Kun-lun-pai lebih bagus daripada ilmu tendngan atau pukulan. Kalau tidak menggunakan pedang, dia benar-benar tidak percaya dia bisa dengan tangan kosong menyambut Holou besar dari Lam-touw.

Lam-touw juga melihat maksud Tiong Toa-sianseng. Die memperagakan jurus mabuk dengan baik. Jurus mabuk terlihat lucu, tapi yang pasti dia bisa menghindar dari serangan Tiong Toa- sianseng.

Serangan pedang Tiong Toa-sianseng semakin cepat juga semakin aneh. Dia sudah melihat itu adalah jurus mabuk. Tidak terpikir olehnya di dunia persilatan masih ada orang yang bisa menguasai jurus mabuk dengan begitu bagus.

Semangat Tiong Toa-sianseng semakin tinggi. Ilmu silat dia sudah sampai di tahap dimana dia sulit mencari lawan. Kalaupun dia ingin benar-benar bertarung juga sulit baginya. Orang berilmu silat rendah tidak akan berani bertarung dengan dia. Orang yang taraf ilmu silatnya yang hampir sama dengannya kebanyakan adalah kawannya. Biasa berlatih dengan kawan, yang jelas ada keuntungan bagi dua pihak. Karena seperti berlatih seringkali sampai di tahap tertentu yang benar-benar tidak bisa berkata puas.

Dengan begitu hatinya terasa kembali menjadi muda. Ilmu silat menjadi pelan.

Lam-touw melihat dia sama sekali tidak senang. Dia bukan Su Ceng-cau. Dengan pengalamannya dia bisa melihat tadi, walaupun jurus Tiong Toa-sianseng keras tapi hanya berubah bertambah cepat dan tetap banyak celah. Asal dia melihat celah itu, dia pasti bisa menghindar. Sekarang ilmu pedang kembali ke dasar. Hawa pedang memenuhi tempat itu, terlihat seperti banyak celah tapi sebenarnya padat. Gerakan dia juga pelan, dia terus mengawasi ujung pedang Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng sadar, Lam-touw harus mengawasi jurus pedang baru menghindar maka dia berteriak:

“Hati-hati!”

Jurus pedang dan nadanya sama-sama datar, Serangan demi serangan terus membanjir, Lam-touw menghindari gerakan pedang. Jurus pertama masih bisa dilewati tapi jurus kedua terlihat tidak bisa dihindari. Terpaksa Holou besar digunakan, tapi walau masih bisa menahan juga bisa mengacaukan serangan Tiong Toa- sianseng. Holou besar ini pasti akan hancur oleh ujung pedang.

Tidak ragu-ragu lagi ini, dia juga mempunyai persiapan seperti itu tapi Holou yang sudah dikeluarkan separuh ditarik kembali. Tubuhnya berguling ke bawah, seperti menghindar dengan tenaga terakhir.

Tapi ketika tubuhnya berguling ke bawah, pedang sudah berada di bawah tulang iganya.

Dan CES! Darah mengucur. Tubuh berhenti berguling. Dia tertusuk.

Tiong Toa-sianseng segera menarik kembali pedang. Dengan aneh dia melihat Lam-touw:

“Mengapa kau tidak menggunakan Holou untuk menahan pedangku?”

Lam-touw merangkak dari bawah, mulutnya mengeluarkan darah:

“Holou ini adalah pemberian ayahku. Ayahku sangat suka kepada Holou ini. Sebelum meninggal, dia berpesan agar aku menjaganya dengan baik...”

Nada suaranya sangat lemah. Sikapnya terlihat sangat dikasihani.

Tiong Toa-sianseng berkata sendiri: “Sepertinya kau bukan orang yang terlalu jahat. Tadinya aku mengira kau masih bisa mencairkan jurus ini!”

Dari kata-kata Tiong Toa-sianseng, terdengar dia menyesali serangan tadi. Karena dia mengira Lam-touw akan menggunakan Holou besar untuk menahan ujung pedangnya, dan bersiap setelah ini dia akan menggunakan jurus Thian-liong-pat-sut.

Tapi Lam-touw sama sekali tidak peduli ancamannya dan tidak rela Holou-nya rusak. Itu benar-benar di luar dugaannya. Holou yang sudah dikeluarkan malah ditarik kembali. Waktu dia melihat hal itu, sekalipun mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi menarik kembali pedang dalam waktu sesingkat itu sama sekali tidak mungkin dilakukan.

Kalau Lam-touw bukan seorang pesilat tangguh, Tiong Toa- sianseng pasti akan mengeluarkan semua jurus pedang yang keras. Dia akan ada perhitungan. Dua pesilat tangguh bertarung, kalah atau menang seringkah sedikit yang didapatkan. Sekarang ujung pedang sudah menusuk ke dalam tubuh Lam-touw.

Tapi Lam-touw masih bisa tertawa, tapi yang pasti tawanya sangat sedih:

“Bisa mati oleh pedangmu, aku benar-benar merasa bangga!” “Kau...” Tiong Toa-sianseng ingin mendekat melihat luka Lam-

touw, tapi Lam-touw melarang.

Lam-touw dengan terengah-engah berkata:

“Apakah ini sebuah kesalahpahaman, dan siapa aku, aku hanya berharap kau setuju dengan satu permintaanku!”

“Katakan!” Tiong Toa-sianseng tidak ragu.

“Siau Cu yang sering menjual sulap bersama ku selalu mengira aku adalah ayahnya, tapi sebenarnya bukan. Sebenarnya dia adalah seorang bayi buangan. Tentang riwayatnya, di dadaku ada sepucuk surat yang ditulis oleh ibu kandungnya dengan .darah, Merepotkanmu untuk memberikan surat ini kepadanya agar dia tahu riwayat dirinya.” “Ini adalah masalah kecil!”

Lam-touw ingin mengambil surat yang ditulis darah itu, tapi baru mengulurkan tangannya, tubuhnya terhentak. Kepalanya terjatuh ke belakang. Matanya terpejam. Gerakannya pun berhenti.

Tiong Toa-sianseng memasukkan kembali pedang ke sarungnya.

Dia menarik nafas:

“Seharusnya aku menyisakan sedikit jarak pedangku tapi tenanglah» suratmu akan kusampaikan ke tangan Siau Cu!”

Dia maju ke depan dan mengulurkan tangan mengambil surat itu. Tiba-tiba Lam-touw membuka kedua matanya. Dua tangan dan kaki sudah bergerak. Tiong Toa-sianseng sadar dia terjebak dan berteriak. Nadi di tangan sudah ditotok, kedua lutut juga ditendang oleh Lam-touw dan mengenai jalan darahnya. Dia merasa lemas.

Tapi tenaga dalam Tiong Toa-sianseng sangat tinggi, Begitu tenaga dalam mengalir di tubuh, dua tangan sudah bisa bergerak lagi, dan dengan tenaga pinggangnya dia sudah terbang keluar.

Lam-touw sambil berteriak, segera kabur.

Tubuh Tiong Toa-sianseng sudah mendarat; tapi dua kaki masih terhuyung-huyung. Tenaga dalamnya segera dikerahkan ke tangan kanan. Terdengar suara tiga kali, jalan darah yang ditotok sudah terbuka. Dia segera mencabut pedangnya. Dengan gagang pedang membuka dalan darah di tangan kiri yang tertotok. Waktu dia melihat, Lam-touw sudah menghilang di dalam semak-semak.

“Kurang ajar, kalau bertemu lagi kau pasti kusiksa!”

Tiong Toa-sianseng tidak mengejar karena ke dua kakinya masih lemas. Yang pasti dia sulit mengerahkan ilmu meringankan tubuh, jadi mana mungkin mengejar Lam-touw.

Kemudian dia memperhatikan dua kantong Lam-touw yang tertinggal. Ada darah keluar dari kantong itu. Dia segera mengerti. Pedang dia tadi sudah menusuk di kantong besar. Sedangkan darah yang dimuntahkan Lam-touw sebenarnya adalah kantong kecil yang tersimpan di dalam mulut. Yang pasti itu bukan darah. Tiong Toa-sianseng tidak perlu menciumnya, dia sudah tahu itu adalah obat merah. Dia adalah orang berpengalaman di dunia persilatan tapi tetap tertipu, maka dia tertawa kecut.

Terhadap Lam-touw, dia semakin tertarik.

36-36-36

Lam-touw kembali ke penginapan. Dia tidak masuk melalui pintu, melainkan dari gang kecil lalu naik ke pagar dan masuk melewati jendela.

Siau Cu sedang berbaring di ranjang dengan malas-malasan. Matanya melihat ke atas atap, entah apa yang sedang dia pikirkan. Mendengar ada suara, dia segera tahu gurunya sudah kembali. Dia tetap tidak mempedulikan.

Waktu Lam-touw menabrak meja dan bernafas terengah-engah, dia baru tahu ada yang tidak beres. Melihat keadaan Lam-touw yang memalukan, dia cepat meloncat dari ranjang dan memapahnya.

Lam-touw segera berteriak:

“Apakah kau sengaja ingin mencabut nyawa guru, begitu datang langsung mengenai luka guru?”

“Luka?”

Siau Cu segera melepaskan tangannya, dia baru melibat ketiak kanan Lam-touw, baju sudah tergores dan ada luka di sdna.

“Senjata apa yang membuat guru terluka?” “Pedang!”

“Untung lukanya tidak begitu dalam!”

“Sudah cukup dalam, jika lebih dalam sedikit lagi kau tinggal menerima mayat!”

Lam-touw melotot kepada Siau Cu. Dia segera duduk bersila untuk mengatur nafas.

“Apakah orang yang menggunakan pedang mempunyai tenaga dalam tinggi?” “Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun-pai, coba kau bayangkan tenaga dalamnya seperti apa.”

“Apakah guru ingin jadi pesilat nomor satu di dunia ini, maka menantang ketua Kun-lun-pai?”

“Sembarangan bicara, kau masih mengejek?” “Sebenarnya demi apa?”

“Masalah hari ini!”

“Tiong Toa-sianseng mencurigai guru adalah orang seperti itu?” kata Siau Cu tertawa.

“Kau masih bisa tertawa, kau kira Tiong Toa-sianseng hanya kebetulan lewat? Apakah kau tidak melihat itu adalah jebakan?”

“Siapa yang mengatur jebakan ini? Kita tidak mempunyai musuh? Apakah musuh guru yang dulu datang menagih hutang lama?”

“Apakah betul beberapa hari ini kita tidak ada dendam dengan orang lain?”

“Perempuan itu!” Siau Cu segera ingat.

“Kau yang mendatangkan kerepotan ini. Mem punyai murid sepertimu benar-benar siai 8 generasi! Coba lihat apakah kelak kau masih sembarangan mencari gara-gara?”

Siau Cu tertawa kecut:

“Aku tidak tahu akan mendatangkan seorang ketua Kun-lun- pai!”

“Sebenarnya ketua Kun-lun-pai bukan datang sendiri!” kata Lam-touw marah, “tetapi gara-gara perempuan lihai itu!”

“Semalam guru kabur...”

“Guru terlalu mengurus masalah orang lain. Mengapa keluarga Lamkiong bisa seperti itu, benar-.benar sewenang-wenang!”

“Semalam guru pergi ke keluarga Lamkiong?” “Keluarga ini benar-benar tidak sederhana, sampai-sampai ketua Kun-lun-pai bisa menjadi tukang pukul mereka!” Lam-touw mengerutkan alis.

“Sekarang guru menyesal?” Siau Cu masih bisa tertawa. “Menyesal juga tidak sempat lagi!” kata Lam-touw tertawa

dingin, “kau masih tertawa? Guru sudah mendatangkan kerepotan,

kau yang menjadi murid juga tidak bisa nyaman!”

“Guru boleh tenang, muridmu pasti akan menolongmu dan tidak akan membiarkanmu!”

Siau Cu menepuk pundak Lam-touw. Tepukan ini menggetarkan luka, Lam-touw segera kesakitan dan mengerutkan alis, hampir dia berteriak.

Siau Cu melihat dia tidak berpura-pura, Lam-touw melihat ke sekeliling:

“Tempat ini sepertinya tidak aman lagi.”

“Kata-kata ini seperti bukan kata-kata guru. Biasanya guru tidak pernah takut kepada siapapun!”

“Tubuh terluka mana mungkin tidak takut. Apalagi orang yang mau mencariku untuk balas dendam sangat banyak!” kata Lam- touw sambil tertawa dingin, “guru sering mengajar, aku, laki-laki sejati juga mencari kerugian di depan mata!”

“Sekarang aku tahu guru adalah seorang laki-laki sejati!” Tangan Lam-touw melayang. Holou besar sudah ditumbukan.

Siau Cu menghindar dan berkata:

“Kita jangan menunggu lagi, secepatnya kita tinggalkan tempat ini!”

Lam-touw belum menjawab, sudah ada yang mengetuk pintu.

Siau Cu segera bertanya: “Siapa?”

“Siau Sam-cu!” Siau Cu menarik nafas lega. Siau Sam-cu adalah pelayan penginapan, Siau Cu sering mengobrol dengannya.

Pintu dibuka. Kata Siau Sam-cu serius:

“Siau Cu, ada seorang gadis kecil mencarimu!”

“Oh?” Dengan heran Siau Cu melihat Siau Sam-cu, tapi dia tidak melihat Siau Sam-cu sedang bergurau.

“Gadis kecil itu sangat cantik!” Siau Sam-cu menepuk dada Siau Cu, “ternyata kau hebat juga.” “Cepat lihat siapa dia.” kata Lam- touw.

Siau Cu belum menjawab, Lam-touw berkata lagi: “Hati-hati, jangan buat guru menerima pukulan lagi!”

Tiba-tiba Siau Cu ingat akan seseorang. Dia segera keluar dan menutup pintu kembali, lalu berlari pergi.

Yang terpikir oleh Siau Cu adalah Lamkiong Bing-cu. Dan benar saja yang datang adalah Lamkiong Bing-cu. Siau Cu tidak menduga kedatangan Lamkiong Bing-cu, maka dia sangat senang.

“Ternyata kau!” Suara Siau Cu ber-getar.

“Kau kira siapa?” Lamkiong Bing-cu balik ber tanya. “Tidak ada yang lain. Bagaimana kau bisa kemari?” “Aku bukan orang bisu!”

“Kau masih mau belajar sulap? Malam itu mengapa kau tidak datang ke kuil San-sian?”

“Sangat tidak baik bagi seorang gadis untuk diam-diam keluar pada malam hari, apalagi pergi ke kuil San-sian!”

“Betul juga! Kuanggap kau adalah orang dunia persilatan!” “Bukankah keluarga Lamkiong juga orang dunia persilatan?”

Siau Cu terpaku. Bing-cu menceritakan apa yang terjadi kemarin ini: “Waktu kami melihat kau bermain sulap, saat itu kita sedang keluar dengan diam-diam. Maka setelah pulang dan ketahuan oleh Lo-taikun, kami dimarahi!”

“Sebenarnya Lo-taikun yang tidak mengijin-kan keluar?” “Tapi bukan karena ingin belajar sulap!”

Bing-cu mengangguk. Siau Cu bertanya lagi:

“Kali ini kau juga diam-diam keluar, sebenarnya ada apa?” “Sebenarnya aku datang untuk memberi tahu mu sesuatu!” “Tentang apa?”

“Jika kau menganggap aku adalah teman, berjanjilah kepadaku!” kata Bing-cu.

“Kau menganggap aku teman?” Siau Cu sangat  senang dan berteriak, “kau ingin aku berjanji apa?”

“Untuk meninggalkan gurumu!”

“Apa? Dan mengapa?” tanya Siau Cu heran. “Dia bukan orang baik-baik!”

Siau Cu terpaku lagi. Wajah Bing-cu memerah:

“Kata bibi kedua, dia suka mempermainkan perempuan baik- baik, sampai-sampai bibi kelima juga... katanya mereka ingin mencari Tiong Toa-sianseng untuk membereskan masalah ini dan akan menghajarnya!”

“Sudah dihajar!” kata Siau Cu tertawa. “Kau tertawa apa?” Bing-cu melotot.

“Jika kau berkata guruku suka minum arak atau yang lain, aku setuju. Tapi jika mengolok-olok perempuan baik-baik, Hahaha...itu tidak mungkin!”

“Oh?” Bing-cu merasa aneh mengapa Siau Cu begitu yakin. “Seorang murid pasti mengerti adat gurunya!” Lam-touw keluar

dari kamar. Melihat Lam-touw keluar, Bing-cu mundur. Lam-touw maju selangkah dan menarik nafas:

“Gadis kecil, kau lihatlah umurku sudah tua, apakah masih melakukan hal iseng?”

“Siapa tahu?” Bing-cu tertawa dingin.

“Kalau aku adalah orang seperti itu, apakah akan mempunyai murid yang pantas kau percayai?”

Bing-cu terpaku.

Lam-touw tertawa, berkata:

“Apalagi kalau kami guru dan murid melakukan hal ini, bagaimana kita berdua bisa berlalu lalang menjual sulap?”

“Kami sudah lama tinggal di ibukota!” kata Siau Cu.

Bing-cu melihat Lam-touw, lalu melihat Siau Cu, dan terdiam. “Benar atau salah, pasti akan ketahuan. Aku sudah tua. Tadinya

aku tidak peduli orang lain salah paham, tapi kesalahpahaman ini

membuatku tidak nyaman. Dan di dalam kehidupan, aku paling tidak suka terhadap orang seperti ini!” kata Lam-touw “Menjadi murid orang seperti ini adalah hal yang menyenangkan!” Sorot mata Siau Cu mengarah ke wajah Bing-cu.

“Guruku benar-benar bukan orang yang seper ti kau katakan.

Sebenarnya dia dijebak orang lain!” “Siapa yang menjebak dia?”

“Sementara belum begitu jelas, tapi kau harus percaya kepada kami!”

Akhirnya Bing-cu mengangguk.

“Guru sekarang terluka dan tempat ini tidak bisa kami tempati lagi. Kami segera akan keluar dari sini. Bila sudah mendapatkan tem-pat tinggal, aku akan mencari kesempatan untuk memberitahu pada mu!” kata Siau Cu. Dari noda di baju Lam-touw, Bing-cu tahu dia terluka. Dia tidak tahu itu adalah obat merah. Sekarang semakin dilihat, Lam-touw semakin tidak mirip orang jahat. Maka dia berkata:

“Gurumu sudah terluka, seharusnya mencari tabib dulu...”

“Jika guruku sendiri tidak bisa mengobati diri nya, maka tidak ada tabib yang bisa mengobatinya. Kau keluar diam-diam, sekarang kau harus pulang dulu...”

“Ingat, bila kalian pindah ke tempat lain, kau harus beritahu tempat itu kepadaku!” kata Bing-cu dengan serius.

“Pasti!” Siau Cu juga serius. “Kalau begitu aku pergi dulu!

“Tidak disangka ada juga perempuan yang • menyukai muridku!” Lam-touw tertawa.

Kali ini Siau Cu tidak menjawab. Boleh dikatakan dia sama sekali tidak ada reaksi. Dia hanya melihat arah Bing-cu pergi.

“Kalau sekarang kita tidak pergi, mau tunggu kapan lagi. “ bentak Lam-touw Siau Cu seperti tersadar bangun dari tidur. Dia tertawa malu.

***

Malam ini tidak berbintang dan bulan juga tidak tampak di langit, maka di jalan yang panjang ini tiba-tiba menyala lebih dari 20 lampion hijau yang terang benderang. Siau Cu dan Lam-touw merasakan mata mereka bercahaya.

Yang memegang lampion adalah perempuan-perempuan yang memakai baju ketat dan berwajah dingin seperti es. Mereka sudah menghalangi jalan Lam-touw dan Siau Cu.

“Ceng-teng-sat-jiu!” kata Lam-touw. (Pembunuh lampion hijau) “Apa yang guru maksud Ceng-teng-sat-jiu?” “Bila bisa hidup melewati malam ini, baru aku ceritakan kepadamu!” Lam-touw mengangkat Holou dan minum beberapa teguk arak.

Pembunuh-pembunuh lampion hijau segera mencabut pedang dan menyerang. Pedang mereka semua berbentuk seperti daun Yang-liu, panjang dan tajam. Begitu angin datang, pedang terus bergerak dan mengeluarkan suara.

Lam-touw melihat. Dia berpesan lagi:

“Terhadap orang-orang ini, jangan ada perasaan dan harus menyerang dengan keras!”

Kata-katanya baru disampaikan, pembunuh-pembunuh lampion hijau sudah datang mengepung. Mereka menyerang ke tempat- tempat penting.

Siau Cu berlari menghadang di depan Lam-touw, mengeluarkan kepalannya. Baru saja memukul mundur dua pembunuh, dia sudah dikepung lagi oleh pembunuh lampion hijau yang lain.

Pembunuh-pembunuh itu memisahkan Siau Cu dan Lam-touw, dan menyerang lebih keras. Walaupun perempuan tapi mereka menyerang dengan bengis, tidak kalah dengan perampok- perampok dan pembunuh-pembunuh. Mereka sama sekali tidak takut mati. Asal mereka ada sedikit tenaga, mereka selalu ingin menyerang lawan.

Awalnya Siau Cu masih menyerang dengan ragu-ragu dan tidak keras, tapi dia malah hampir terluka oleh tusukan pedang. Untung dia bisa meng-'hindar dengan cepat. Maka sekarang dia menyerang tanpa ragu-ragu lagi. Terdengar kepalannya sudah mengenai jalan darah penting mereka.

Lam-touw lebih parah dari pada Siau Cu, sekali bergerak lukanya terasa sakit. Sakit yang terasa sampai ke tulang menghalangi kelincahan tubuhnya, tapi dia masih harus mengawasi Siau Cu. Dia berteriak:

“Bila kau tidak mendengarkan kata-kata guru, kau akan menyesal!” “Mana mungkin . murid tidak mendengar petunjuk dari guru!”

Di tengah-tengah udara, Siau Cu bersalto menghindari serangan dari Liu-yap-kiam. Pada saat yang bersamaan dia juga menendang ke tenggorokan pembunuh lampion hijau.

Terdengar bunyi tulang hancur. Pembunuh lampion terlempar.

Lam-touw melihatnya, dia berteriak: “Bagus!”

Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia merasa kan ada hawa pedang yang dingin datang dari belakang. Dia berusaha menghindar. Kalau saja dia tidak sedang terluka, serangan ini akan mudah dihindari. Tapi karena dia sudah terluka, maka tubuh' tidak selincah biasanya, sehingga punggung tetap tergores oleh pedang yang mirip daun Yang-liu.

Dari hawa pedang, dia tahu yang datang adalah musuh tangguh. Dia tahu orang yang bisa mengambil celah untuk menyerang adalah pesilat yang tangguh, sehingga membuat dia tidak bisa menghindari serangan pedangnya.

Waktu dia membalikkan tubuh, dia sudah melihat orang yang menyerangnya. Perempuan ini juga memakai baju hijau ketat tapi bahan bajunya berbeda dengan yang lain. Pedang yang dia pakai juga lebih bagus dan berkualitas lebih baik.

Dia cantik tapi sepasang matanya seperti mata ular beracun, membuat orang bergetar. Lam-touw juga mempunyai perasaan seperti ini. Dia bertanya:

“Utusan lampion hijau?”

“Betul! orang tua, lebih baik malam ini kau mengaku kalah!”

Pedangnya datang seperti ular beracun. Lam-touw ingin mundur tapi di belakang sudah datang tiga pedang yang mencegatnya, tubuh Lam-touw tetap terus bergerak. Dia meloncat ke atas.

Dua pembunuh lampion hijau juga ikut melon cat, menyerang ke arahdua ketiak Lam-touw. Tapi pembunuh yang tadi lebih cepat dan sudah mendahului mereka berdua, dia dengan pedangnya sudah meloncat ke atas udara. Dia terus melihat ke tengah wajah Lam- touw, di antara kedua alisnya.

Lam-touw menahan sakit lagi, membalikkan tubuh untuk menghindari serangan dari tiga pedang. Rasa sakit membuatnya mengeluarkan keringat dingin, tapi tubuh sudah tidak bisa apa-apa. Dia terjatuh dari atas. Tiga pedang segera menusuk-nya.

Lam-touw yang berpengalaman segera memakai sebuah gerakan. Di tengah udara dia melangkah dan menginjak salah satu pedang mereka. Menggunakan tenaga ini, tubuhnya kembali meloncat ke atas.

Utusan lampion hijau terus mengejar Lam-touw. Di tengah- tengah udara dia menyerang lagi. Terlihat Lam-touw akan kesulitan menghindari serangan ini. Dia juga tidak ingin menahan serangan lawan dengan Holou.

Dia melihat Lu Tan dan Fu Hiong-kun sedang berlari mendatangi. Pedang Lu Tan sudah menahan pedang Utusan lampion hijau dan pedang Fu Hiong-kun menyerang jalan darah penting utusan lampion hijau.

Utusan lampion hijau terpaksa menarik pedang untuk melindungi diri. Fu Hiong-kun dan Lu Tan dari kiri dan kanan melindungi Lam-touw turun dan membunuh dua pembunuh lampion hijau yang mendekat.

Siau Cu yang di sana melihat Lam-touw dalam bahaya, tapi karena dia juga dilibat oleh 7-8 pembunuh lampion, dia tidak bisa datang membantu. Dia cemas juga marah. Kemunculan Lu Tan dan Fu Hiong-kun membuat dia tenang, bahkan boleh dikata kan senang. Dia bersorak, semangatnya bertambah. Tiga kali serangan kepalan telah memukul jatuh seorang pembunuh. Kembali kakinya menendang, satu lagi pembunuh terbang jauh.

Melihat keadaan ini, utusan lampion hijau tahu bila pertarungan diteruskan orang yang terluka atau mati akan bertambah, maka sambil bersiul dia meloncat ke atas genteng. Mendengar suara siulan yang melengking, pembunuh- pembunuh lampion hijau segera mundur.

Siau Cu ingin mengejar, tapi dilarang oleh Lam-touw.

Siau Cu kembali ke sisi Lam-touw. Dia masih bisa bercanda: “Sejak kapan guru menjadi pelan berbicara?”

“Ini namanya berubah sifat, apakah kau mengerti?” Dia melototi Siau Cu, “tadi kau masih memuji dirimu hebat, tapi waktu guru ada kesulitan dan ingin kau tolong pun, kau tidak bisa menolong!”

“Karena tidak semua ilmu yang guru ajarkan kepada murid, masih disimpan sebagian. Maka hasilnya seperti itulah!”

“Kau biasanya malas belajar tapi malah menyalahkan guru yang tidak mengajarimu. Untung guru bernasib baik dan tidak terjadi apa-apa!” Dia melihat Lu Tan, “kemarin kami telah menyelamatkanmu sekali, kau masih ingat dan ingin membalas budi. Sekarang berarti sudah lunas.”

Lu Tan tertawa kecut:

“Kami tidak menyangka akan bertemu tetua di sini!” “Kalian bila ada perlu tidak perlu tinggal lama, silahkan!” “Kami ingin ke penginapan mencari Cian-pwee...”

“Celaka! Repot lagi, muridku! Pemuda ini ingin membalas budi, bagaimana dengan kita?”

“Tidak ada hubungan denganku, Tapi guru tidak perlu khawatir, dulu dia berhutang satu nyawa kepadaku, sekarang sudah lunas!”

“Apakah kau melihat ada seorang gadis?” tanya L\am-touw. “Boanpwee adalah Fu Hiong-kun!” Fu Hiong-kun mendekat. “Aku pernah mendengar namamu. Katanya kau menguasai ilmu

tabib yang bagus!”

“Apakah tetua terluka dalam?”

“Namamu benar-benar bukan kebetulan belaka. Hanya sekali melihat keadaanku, kau sudah tahu!” kata Lam-touw sambil mengacungkan jempol. “Lebih baik kita kembali Pek-in-koan!” kata Fu Hiong-kun. “Hebat! Hanya dengan melihat aku sekali lagi, dia segera tahu

aku butuh pengobatan!”

Kali ini sebenarnya Lam-touw terluka. Apalagi pertarungan tadi membuat lukanya bertambah berat.

37-37-37

Memang Fu Hiong-kun mempunyai ilmu pertabiban, akupuntur, dan lain-lain. Dia membantu Lam-touw melancarkan nadi yang terluka, baru kemudian memberinya obat balut. Sekarang Lam- touw bisa lebih tenang.

Siau Cu tidak sengaja bertanya:

“Guru, bagaimana ilmu pengobatan Nona Fu?' “Apakah kau tidak melihat, guru di depannya tidak bisa berbuat apa-apa?” Lam- touw berkata pada Fu Hiong-kun, “gadis kecil jangan marah, muridku memang bodoh seperti itu!”

“Sebenarnya ini adalah luka ringan, Hanya saja ketika Cianpwee mendapatkan luka ini, Cian-pwee tidak ada waktu untuk merawatnya...” kata Fu Hiong-kun.

“Memang aku sedang kabur untuk menyelamatkan nyawaku!” Lam-touw memuji, “yang lain aku tidak mengerti, tapi aku tahu diagnosa yang tepat ini pantas diacungkan jempol!”

Siau Cu menyela:

“Apakah guru juga kalah dari Nona Fu?”

“Jauh dari Nona Fu. Walaupun guru ada waktu untuk merawat luka ini, paling sedikit harus tiga hari baru bisa senyaman sekarang. Dia benar-benar lihai!”

Dia teringat Tiong Toa-sianseng dan tiba-tiba tertawa:

“Sayang. Orang itu mempunyai keberanian, tapi tidak bisa berpikir dan tidak melihat itu adalah jebakan. Tidak apa-apa bila dia terjebak, tapi nyawaku hampir melayang di tangannya!”

Siau Cu bertanya lagi: “Tadi yang menyerang kita diam-diam, apakah adalah utusan lampion hijau dan pembunuh lampion hijau? Siapa mereka sebenarnya?”

“Mereka adalah orang Pek-lian-kau!”

Fu Hiong-kun depgan aneh melihat Lam- touw:

“Kapan kalian ada dendam dengan Pek-lian-kau?” (Perkumpulan Teratai Putih).

“Sebenarnya aku juga tidak jelas!” Lam-touw tertawa.

“Apakah betul orang tua tidak tahu sama sekali?” tanya Siau Cu. Lam-touw melotot kepada Siau Cu. Kata Siau Cu:

“Kau tidak perlu berkata apa-apa, kami juga sudah mengerti. Pasti karena tanganmu terlalu panjang dan sudah mencuri barang mereka!”

“Kurang ajar!” Tubuh Lam-touw bergerak ke belakang. Karena terkena lukanya, terasa sakit yang membuat dia mengerutkan alis.

“Cianpwee tidak perlu khawatir, luka Cian-pwee akan cepat pulih!” hibur Fu Hiong-kun.

“Aku tidak mengkhawatirkan lukaku. Yang ku khawatirkan adalah bertemu lagi dengan ketua Kun-lun-pai itu!”

“Tiong Toa-sianseng?” kata Fu Hiong-kun sam-bil merasa aneh, “Cianpwee terluka oleh pedang Tiong Toa-sianseng?”

“Awalnya aku tidak serius. Siapa tahu prang tua ini benar-benar tidak sungkan. Dia menyerangku dengan pedangnya!”

“Menurut yang Boanpwee tahu, Tiong-ta Sian seng bukan orang yang tidak tahu aturan!”

“Masalahnya walaupun aku mempunyai alasan tapi tidak bisa menjelaskan kepada dia. Dan orang tua ini, meskipun kaki dan tangan sangat kuat tapi otaknya sangat sederhana!”

“Itu adalah kesalahpahaman!”

“Yang penting sekarang aku masih hidup dan bisa berbicara!” “Sebenarnya apa yang terjadi?” Lam-touw menceritakan apa yang terjadi dengan sederhana. Semua orang merasa aneh. Sebenarnya ada hubungan apa antara Kiang Hong-sim dengan Pek-lian-kau?

“Mungkin tidak ada hubungan apa-apa!” kata Lam-touw tiba- tiba. Tapi sikapnya sedikit aneh, saat .Fu Hiong-kun melihatnya, ekspresi wajahnya sudah kembali normal. Dia segera bertanya kepada Lu Tan:

“Sudah! Sekarang aku bertanya kepadamu, ada apa kau mencari kami?”

“Meminta Cianpwee membantu Boanpwee menyelesaikan satu masalah!” kata Lu Tan serius.

“Kau belum menjawab, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”

“Berarti Cianpwee sudah setuju?”

“Kecuali mencuri barang, aku tidak mengerti bila disuruh melakukan hal yang lain!” kata Lam- touw, “apakah kau menyuruhku unluk membantu mencuri barang?”

“Betul!” Lu Tan mendekat dan memberi hormat dengan tangan. Lam-touw memapah Lu Tan dan berkata:

“Apakah ingin aku mencuri ini?” Dia menarik dan membuka tangannya.

Pedang Lu Tan berada di tangannya, dan Lu Tan baru mengetahuinya.

“Cianpwee memang hebat!” Lu Tan tertawa kecut.

“Kalau tidak memiliki teknik sungguhan, apakah teman-teman dari dunia persilatan akan menjuluki aku Lam-touw?” Lam-touw dengan senang berkata lagi, “yang lain aku tidak bisa jamin tapi kalau mencuri barang itu mudah. Apa yang ingin kau curi?”

“Bukti kalau Liu Kun berbuat kejahatan.” “Liu Kun!” Lam-touw berteriak. “Liu Kun mendatangkan malapetaka bagi negara dan rakyat.

Kalau bisa mendapatkan bukti kejahatannya...” Lam-touw melayangkan tangan:

“Tentang hal ini...”

“Boanpwee mohon kepada Cianpwee. Itu bukan balas dendam pribadi melainkan untuk semua rakyat kecil!” Lu Tan berlutut.

* “Bangun! Bangun!” Lam-touw cepat-cepat mengayunkan tangan.

“Kalau Cianpwee tidak setuju, Boanpwee tidak akan bangun!” “Hal ini bagi guru mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Apa lagi yang masih guru pikirkan?”

Lam-touw berkata:

“Kau tahu apa?” Kemudian melihat Lu Tan dan berkata, “kau bangun dulu!”

“Cianpwee sekarang masih terluka, biarlah lukanya sembuh dulu!” kata Fu Hiong-kun.

Tapi Siau Cu tidak peduli. Dia memapah Lu Tan bangun: “Jangan melihat wajah guruku yang dingin, sebenarnya dia

sangat baik. Kalau ada kesempatan 'dia pasti akan membantumu!”

“Apakah kau tidak mendengar, ini bukan masalah pribadi dia,” kata Lam-touw dingin.

Siau Cu masih ingin mengatakan sesuatu tapi Lam-touw sudah berkata:

“Lu Tan, aku tahu kau bermaksud baik. Hanya saja, Liu Kun ada di semua tempat. Kaisar juga takut kepada dia, maka mencuri bukti juga tidak ada gunanya.”

“Semua orang berkata begitu. Apakah karena itu, tidak ada orang yang fnau melakukan ini?”

“Ini adalah kenyataaan, bukan gosip. Kau harus mengerti!” kata Lam-touw.

Lu Tan menundukkan kepala. “Tapi aku akan membantumu. Tapi bukan sekarang!” kata Lam- touw.

“Mengapa tidak bisa sekarang?” tanya Siau Cu. Lam-touw melotot kepada Siau Cu:

“Karena ada satu urusan yang harus aku selesaikan!”

Kali ini Siau Cu tidak bertanya, karena dari nada Lam-touw dia sudah tahu memang ini adalah yang sebenarnya.

Melihat Lu Tan dengan lesu mengikuti Fu Hiong-kun keluar, ekspresi wajah Lam-touw baru kembali menjadi wajah lucu seperti biasa, dan Siau Cu baru bertanya:

“Apakah guru tidak berbohong?”

“Apakah kau tidak bisa melihat tawa kecutku?” Lam-touw tertawa sambil berbaring.

Di Sin-sa-hai Siau Cu dan Lam-touw sudah tidak bermain sulap, hal ini membuat banyak orang kecewa. Yang kecewa terutama adalah Ih-lan. Biasanya jika ada waktu, dia selalu meminta orang dewasa untuk membawa dia ke Sin-sa-hai menonton sulap. Melihat sikapnya yang kecewa, hati Tiong Toa-sian-seng merasa tidak tenang. Yang pasti dia tidak bisa memberitahu apa yang sudah terjadi, dia terpaksa merangkai alasan lain. Untung Ih-lan tidak bertanya terus.

Siau Cu kadang-kadang teringat Ih-lan. Gadis kecil yang lucu. Tapi begitu teringat Tiong Toa-sian-seng yang selalu berada di sisi Ih-lan, dia merinding. Walaupun dia tidak tahu ilmu silat Lam-touw sebenarnya seberapa tinggi, tapi di dalam hatinya tahu Lam-touw adalah seorang pesilat tangguh.

Dengan ilmu silatnya, Lam-touw masih kalah dari Tiong Toa- sianseng. Apalagi untuk kabur juga sulit baginya, maka ilmu silat Tiong Toa-sianseng seper ti apa sudah tidak terbayangkan oleh Siau Cu.

Yang pasti dia selalu menghabiskan banyak waktu memikirkan Lamkiong Bing-cu. Akhirnya kesempatan datang juga. Waktu keluarga Lamkiong memberi sedekah kepada fakir miskin, Siau Cu menyamar menjadi seorang pengemis dan datang ke •depan pintu Ci-cu-wan untuk menyerahkan sepucuk surat ke tangan Bing-cu. Karena begitu melihatnya Bing-cu sudah mengenal Siau Cu, maka dengan mudah surat sudah berada di tangan Bing-cu.

Setelah menyerahkan surat itu, hati Siau Cu baru bisa tenang, karena dia takut putus hubungan dengan Bing-cu. Kalau bukan karena Lam-touw terus mengatakan orang-orang keluarga Lamkiong sangat lihai, dia tidak akan menunggu sampai sekarang. Dari awal dia sudah diam-diam masuk ke Ci-cu-wan.

Pada waktu itu juga ratusan anak laki-laki dan anak perempuan tiba-tiba menghilang. Di dalamnya juga termasuk putra-putri pejabat. Kalau hal ini terjadi di daerah, mungkin tidak menghebohkan. Tapi sekarang hal ini terjadi di ibukota.

Sebenarnya ini disebabkan oleh Thian-te-siang-kun yang ingin berlatih ilmu sesat Pek-kut-mo-kang (Ilmu iblis tulang putih). Dia memerintahkan murid-muridnya pergi menangkap anak laki-laki dan perempuan demi mencapai tujuannya. Mereka dengan segala upaya melakukan hal-hal yang tidak berperikemanusiaan.

Tapi karena rencana mereka sangat sempurna, maka hal ini mereka jalankan dengan lancar. Walau pun petugas ibukota sudah berusaha, tapi tetap tidak menemukan petunjuk.

Yang pasti dalam mimpi pun mereka tidak menyangka Thian-te- siang-kun dan sebagian murid Pek-lian-kau tinggal di dalam rumah Liu Kun.

Yang bertanggung jawab untuk mencari tahu perkara ini adalah Hongpo bersaudara. Mereka adalah orang kepercayaan Liu Kun, mana mungkin mereka bisa berusaha menyelidiki hal ini. Walaupun petugas sudah mendapatkan petunjuk, tapi setelah sampai di tangan Hongpo bersaudara, petunjuk akan putus lagi.

Waktu anak-anak menghilang, orang-orang di daerah sana sering mendengar suara lolongan serigala. Ada yang melihat bayangan serigala atau seekor serigala putih lewat. Maka perkara Ini disebut Gin-long-an (Perkara serigala perak).

Sebenarnya itu bukanlah suara serigala, demikian juga itu bukan bayangan serigala. Sebenarnya itu adalah anjing.

Anak-anak yang diculik selalu disembunyikan di dalam kulit anjing, supaya tidak menarik perhatian orang.

Akhirnya kaisar terkejut dan tahu yang ditugaskan dalam perkara ini adalah Hongpo bersaudara. Dia segera menyusun rencana diam-diam bertemu Ong-souw-jin dan berunding dengannya untuk mencari cara mencopot posisi Hongpo bersaudara, dan mengantikan mereka dengan Kao Sen dan Han Tau yang direkomendasikan oleh Ong-souw-jin. Sebenarnya ini bertujuan untuk mengupas sebagian kekuatan Liu Kun.

Mana mungkin Liu Kun tidak tahu mengenai hal ini. Di sana kaisar baru bertindak, dia segera masuk ke istana menemui kaisar dan langsung bertanya:

“Untuk memperkerjakan orang di kerajaan, apakah harus melihat bakat mereka?”

“Itu sudah pasti!” jawab kaisar.

“Hongpo bersaudara selalu menempuh segala bahaya dan derita demi kerajaan dan seringkali berjasa, mengapa jabatan mereka dicopot?”

“Mereka bertanggung jawab atas keamanan ibukota, tapi perkara Gin-long sampai sekarang belum ada titik terang. Sekarang semua orang merasa takut dan tidak tenang. Maka aku menyuruh Kao Sen dan Han Tau menggantikan mereka. Pertama, untuk menenangkan hati rakyat. Kedua, berharap perkara ini bisa cepatselesai...”

Dengan dingin Liu Kun berkata:

“Perkara Gin-long memang membuat rakyat ibukota tidak tenang, tapi bila baginda mencopot jabatan Hongpo bersaudara, tetap akan membuat pejabat-pejabat di kerajaan tidak tenang!”

Kaisar pura-pura tidak mengerti. Kata Liu' Kun lagi: “Apakah baginda lupa ketika 100 ribu rakyat di Tiang-ciu memberontak? Waktu itu Hongpo bersaudara membawa pasukan ke sana untuk menumpas pemberontakan. Sangat tidak beruntung mereka dikepung tapi mereka terus berjuang sampai pasukan penolong datang. Dari Juar dan dalam akhirnya bisa menumpas pemberontak. Terlihat mereka sangat setia. Sekarang demi perkara kecil, baginda ingin men copot jabatannya, semua pejabat mana bisa tenang?”

“Kau terlalu berat menganggapi hal ini!” Kaisar tetap tidak berubah.

Liu Kun masih menyebutkan alasan yang lain. Ketika itu kepala pasukan Lam-khia Ong-souw-jin, Han Tau dan Kao Sen sudah datang. Mereka melapor kan bahwa Hongpo bersaudara menolak menerima perintah kaisar, menolak mengembalikan hak jabatan mereka, dan mengatakan bahwa mereka hanya mendengar perintah Kiu-cian-swe, dan mereka juga memu kul pengurus kuil Tai-lek.

“Hongpo bersaudara sudah menolak perintah kaisar, itu adalah kesalahan besar maka aku menahan nya. Harap baginda menurunkan perintah memenggal kepala mereka untuk diarak- arak kepada rakyat. Hal ini untuk dijadikan contoh bila membantah, itu adalah akibatnya!” Yang pasti kata-kata ini adalah kata-kata Ong-souw-jin untuk Liu Kun.

Wajah Liu Kun berubah. Bila Hongpo bersaudara menolak perintah kaisar itu masih bisa di maklumi. Tapi mereka sampai memukul orang-orang kuil sampai terluka, itu keterlaluan. Tapi dia tidak mundur karena itu. Dia malah balik bertanya kepada Ong- souw-jin:

“Kau bukan orang kuil, mengapa kau campur tangan dalam hal ini?”

“Terhadap orang yang memberontak atau pen jahat, setiap orang mempunyai hak untuk menumpas nya!” Sebenarnya alasan Ong- souw-jin ini bukan alasan yang tepat, tapi karena dia sangat tegas dan lurus, Liu Kun juga terkejut dan mundur selangkah!

Tapi Liu Kun segera tertawa dingin, dan berkata kepada kaisar:

“Hongpo bersaudara sudah beberapa tahun mengikuti aku. Mereka ainta negara, tidak ada ada alasan bagi mereka untuk melawan perintah kaisar dan melukai orang. Kali ini pasti mereka dijebak orang kerdil!”

Yang dia maksud dengan orang kerdil itu adalah Ong-souw-jin. Baru saja Ong-souw-jin mau membantah, Liu Kun berkata lagi:

“Orang kuil Tai-lek selalu iri kepadaku karena baginda sangat percaya kepadaku. Beberapa kali dia sudah menulis surat protes. Apakah tindakan ini dia lakukan untuk balas dendam pribadi?”

“Sewaktu hal ini terjadi, aku berada di sana!” kata Ong-souw-jin dingin.

“Kau dan pengurus kuil Tai-lek adalah teman, mana mungkin bisa kami percaya?” Liu Kun mengulang lagi, “waktu di Tiang-ciu terjadi pemberontakan...”

Ong-souw-jin langsung mencegat:

“Kalau bukan Kao Sen dan Han Tau yang membawa pasukan menolong, mungkin Hongpo bersaudara sudah mati di Tiang-ciu. Mereka berdua penakut, kurang berani, juga tidak punya taktik perang. Kecuali setia pada Kiu-cian-swe, aku percaya mereka berdua tidak berguna bagi siapa pun!”

Akhirnya kemarahan Liu Kun mulai terbakar:

“Kalau Hongpo bersaudara tidak berguna, pasukan juga seperti itu. Tapi jika karena masalah ini terjadi pemberontakan, Ong-souw- jin kau harus bertanggung jawab!”

“Ong-souw-jin adalah pejabat kerajaan. Bila kerajaan ada masalah, mana mungkin aku berpangku tangan?”

Liu Kun tertawa seram. Dia memberi isyarat kepada kasim Siau- te-lu untuk keluar, Ong-souw-jin tahu Liu Kun ada maunya, tapi dia tidak bisa menghadang tindakan Siau-te-lu. Dia juga tahu menghadang tidak ada gunanya, maka hanya diam melihat perubahan keadaan. Bukankah pepatah mengatakan, ketika pasukan datang jenderal menahan, ketika air datang tanah yang menahan!

Yang datang ternyata adalah binatang liar dan air bah. Ini benar- benar di luar dugaan Ong-souw-jin. Walaupun dia ingin menahan tapi tidak ada tenaga.

Siau-te-lu membawa 43 orang pejabat tinggi. Mereka terus melindungi Hongpo bersaudara. Kemudian ada kabar pejabat daerah berkoalisi meminta untuk mengundurkan diri bersama- sama dengan Hongpo bersaudara. Kemudian pengawal istana bagi an barat juga berkumpul di luar istana. Mereka memprotes dan meminta jabatan Hongpo bersaudara dikembalikan.

Yang pasti semua ini Liu Kun yang mengaturnya. Tujuan dia adalah memamerkan kekuatannya. Dia tahu kaisar ingin menggunakan perkara 'Gin-long' untuk mengupas sebagian kekuatannya. Walau pun dia tidak peduli, tapi dia tidak akan mengijinkan kaisar mensukseskan hal ini dan menjatuhkan kewibawaannya.

Kaisar juga tahu Liu Kun tidak akan begitu mudah menyerah, tapi hal ini menjadi begitu serius, itu di luar dugaannya. Dia marah juga kerepotan, tapi terakhir kaisar bisa tenang. Dia menolak permintaan Ong-souw-jin untuk mengirim pasukan menumpas pemberontakan di istana bagian barat. Dia memper-silahkan Ong- souw-jin pulang dulu dan menyuruhnya menahan diri, Dia sudah terbiasa menahan diri, kemudian dengan kata-kata yang enak menghibur Liu Kun untuk menutupi kemarahan dirinya.

Di dalam hati Liu Kun, dia hanya melihat ketegangan kaisar, tapi tidak ingin membuat kaisar terlalu sulit diterima. Yang paling penting adalah waktunya yang belum tepat!

38-38-38

Kembali ke kantor, kemarahan Ong-souw-jin masih belum tuntas. Kecut dan lemahnya kaisar sesuai dugaannya. Pada waktu itu, Thio Gong datang mengejar. Setelah melihat tidak ada orang, dia berbisik:

“Kaisar ingin aku menyampaikan kepadamu. Dia akan berusaha menangguhkan perkara Gin-long, dia mempunyai pendirian.”

Ong-souw-jin terkejut, tapi dia segera tersenyum, dia adalah orang pintar.

Thio Gong tidak sempat berbicara dengan kaisar. Tapi kelihatannya kaisar sudah ada persiapan. Bila terjadi hal yang terburuk, dia sudah berpesan kepada Thio Gong.

Kaisar bukan orang yang kecut dan lemah seperti yang dia pikir. Bagi dia, bisa mengetahui dengan jelas tentang hal ini, itu sudah cukup.

Setelah menghibur Liu Kun, kaisar memanggil Kao Sen dan Han Tau.

“Hongpo bersaudara berkali-kali berjasa bagi kerajaan. Apalagi kerajaan sedang membutuhkan orang, mana mungkin aku mencopot jabatan mereka?” Baginda berkata sangat hati-hati, “hanya saja •perkara Gin-long terlalu heboh, terpaksa aku harus melakukan ini untuk menenangkan rakyat!”