-->

Kembalinya Si Manuisa Rendah (Sai Jin Lu) Jilid 7

Jilid 7

“pasukan panah, siap..!” teriak Ma-tin-bouw, dua puluh pemanah mengangkat busur dengan anak panah yang sudah terpasang dan siap untuk dilepaskan, Cia-han-li dan Kao-hong-li makin gelisah melihat ujung anak panah yang mengancam nyawa Im-yang-sin-taihap.

“panah…!” teriak Ma-tin-bouw, serempak anak panahpun dilepas, dua puluh anak panah melesat menuju Im-yang-sin-taihap dalam jangkar besi, menurut Ma-tin-nouw Im-yang-sin-taihap tidak akan dapat menghalau anak panah karena keadaannya yang mengambang terikat didalam jangkar, namun ada hal yang dilupakan oleh Ma-tin-bouw, yaitu sabuk yang tersampir di kedua bahu Im-yang-sin-taihap, para rampok terkejut ketika melihat betapa dua puluh anak panah terpental dihalau ujung sabuk yang bergerak laksana ular hidup, dan ironisnya anak panah itu berbalik arah dengan kecepatan tiga kali lipat dan membantai keduapuluh orang pemanah, tanpa mereka duga, anak panah telah menancap dan menembus dada dan perut mereka hingga kebelakang, mereka ambruk tewas.

Ma-tin-bouw   dan    para    pimpinan    lain    terkesima,    sejenak    mereka    saling    pandang “bagaimana Gak-meng, apa kamu punya cara untuk membunuh im-yang-sian-taihap?” tanya Ma-tin-bouw pada wakilnya.

“kita harus membakar bangunan ini.” jawab Gak-meng “menurut say aide itu sangat tepat pangcu.” sela Bu-tong,

“menurut saya juga, hal demikian yang dapat kita lakukan untuk membunuh Im-yang-sin-taihap.” sahut Ma- tin-bouw

“kalau begitu besok malam kita lakukan.” ujar Gak-meng, para pimpinan mengangguk, dan kemudian mereka keluar dari tempat tahanan, tahanan itu berada pada bagian belakang area, persis dipinggir jurang yang sangat dalam.

Keesokan harinya seratus anak buah menyiapkan ilalang kering dengan jumlah yang banyak untuk ditumpuk disekeliling bagunan, saat siang hari pekerjaan menngumpulkan ilalang pun selesai, namun tiba- tiba mendung datang, dan tidak berapa lama hujan deraspun turun, guntur dan angin kuat menderu bersahutan, anak buah Ma-tin-bouw menutup tumpukan ilalang sekedarnya, sementara didalam markas sepuluh pimpinan sedang berkumpul.

“Sial benar, kenapa hujan tiba-tiba turun.” gerutu Ma-tin-bouw

“benar… untung sekali nasib tiga tawanan itu, rencana terpaksa ditunda kalau begini.” sela Gak-meng “tidak apa, menunggu dua tiga hari, yang jelas Im-yang-sin-taihap dapat dibinasakan.” sahut yang lain. “apakah kedua wanita itu ikut juga kita baker?” tanya Bu-tong

“ya, karena keduanya juga jadi halangan besar bagi kita.” sahut Gak-meng, semuanya hening ditengah gemuruhnya suara hujan.

Hujam terus turun bahkan pada malam harinya makin deras diselingi kilatan petir dan gemuruh guntur,

“sepertinya hujan ini akan berlanjut sampai besok pagi, marilah kita istirahat!” ujar Ma-tin-bouw, kesepuluh pimpinanpun meninggalkan ruang utama dan menuju kamar masing-masing.

Kwaa-han-bu yang terikat didalam jangkar memejamkan mata, sementara dibawah dalam kurungan Cia- han-li dan Kao-hong-li dudu bersandar didinding, hujan masih turun bercampur badai yang kuat, suasana malam itu sangat mencekam disamping hawa dingin yang merasuk lewat ventilasi angina.

Menjelang pagi ditengah hujan yang masih deras dan hembusan angin yang kuat tiba-tiba bangunan tahanan itu bergetar dan

“brus…krikk..krikkk brakkk brushhhh…” tebing itu longsor dan bagunan tahanan serta bagunan didepanya, tempat ransum dan senjata ikut ambrol longsor kebawah jurang, dalam peristiwa yang genting itu ketiga tawanan terkejut, Kwaa-han-bu juga tidak berdaya dengan bencana alam yang dihadapinya.

Tubuhnya melesat sangat cepat kebawah, karena dua pilar bagunan dimana rantai kaki dan tangannya ikut menambah laju tubuhnya, tidak ada yang dapat diperbuat oleh Im-yang-sin-tai-hap kecuali hanya pasrah pada Thian,

Ma-tin-bouw dan anak buahnya juga terkejut saat merasakan getaran, namun karena sesaat mereka mengira hanya gempa biasa, dan keesokan harinya dua puluh anak buahnya tergesa-gesa memasuki bangunan induk dimana para pimpinan berada.

“Pangcu….tahanan dan bagunan tempat ransom dan senjata telah ambruk dan longsor.” “hah…yang benar!” seru Ma-tin-bouw dan para pimpinan tidak percaya

“benar pangcu, kalua tidak percaya marilah kita lihat.” sahut anak buahnya, kemudian merekapun berduyun- duyun kebelakang area dan nampaklah tepi tebing yang terbongkar dan bagunan diatasnya tidak ada lagi.

“hehehe..hehehe…. memang nasib Im-yang-sin-taihap dan kedua wanita itu harus mati.” ujar Gak-meng, benarkah Im-yang-sin-taihap dan kedua rekannya mati pada bencana luar biasa itu? mari kita lihat bagaimana kenyataan yang ada.

Didasar jurang memang nampak bongkahan bangunan yang sudah berkeping-keping, sudah dua hari tidak ada kelihatan gerak kehidupan kecuali hanya tumpukan tanah dan bongkahan bangunan, namun pagi itu diantara cabang pohon yang rimbun terdengar erangan

“dimana aku..ah…aduh sakitnya…” erangan itu dari mulut seorang wanita, dia adalah Kao-hong-li, ketika tubuhnya melayang sesaat tubuhnya tesangkut pada sebuah pohon, dan kemudian tidak lama pohon itu juga ikut longsor dan meluncur kebawah, ketika pohon menghantam dasar jurang bersama tanah lumpur, pohon itu patah dua, untungnya tubuh Kao-hong-li berada diantara cabang dan rimbunnya daun.

Kao-hong-li bergerak keatas dan keluar dari cabang-cabang pohon, dia terus merangkak keatas mendaki tumpukan tanah dan bongkahan bangunan.

“Cia-moi……., she-taihap…! dimanakah kalian!?” teriaknya lemah, disebelah sisi kirinya, dibalik kepingan bangunan tergeletak kepala, Kao-hong-li segera merangkak dan merayap mendekati kepala yang tergeletak lemah

“Cia-moi…cia-moi…!” teriak Kao-hong-li dengan sedu sedan melihat kepala Cia-han-li, Kao-hong-li berusaha menarik tubuh Cia-han-li dari reruntuhan tanah dan kepingan bangunan. Kao-hong-li berhasil menyeret tubuh Cia-han-li, Kao-hong-li meraba urat nadi Cia-han-li, masih ada tanda- tanda kehidupan, mulut dan hidung Cia-han-li mengeluarkan darah, dengan deraian air mata yang mengucur Kao-hong-li memanggil-manggil Cia-han-li, setelah sekian lama Cia-han-li membuka matanya,

Kao-hong-li yang melihat kerjapan mata itu sesegukan mendekat “Cia-moi, bagaimanakah keadaanmu,uuu..uuu…”

“Kao-cici, aku…aku tidak merasakan tubuhku, aku mungkin sangat terluka.”

“uuu..uuu Cia-moi kamu akan pulih bertahanlah…bertahanlah cia-moi.” sela Kao-hong-li sambil memeluk kepala Cia-han-li dan tidak sengaja ia melihat bercak darah kering dikepala Cia-han-li, main teriris hati Kao- hong-li.

“Cici dimanakah Bu-ko? apakah dia baik-baik saja?”

“aku belum mengetahuinya cia-moi, she-taihap… she-taihap…..” sahut Kao-hong-li sambil memanggil- manggil she-taihap, namun hanya keheningan yang ia dapatkan

“Kao-cici….hek..hekkk..” ujar Cia-han-li namun terhenti ketika batuk dan darah segarpun muncrat dari mulutnya

“sudah jangan bergerak dan bicara lagi, diamlah disini aku akan mencari she-taihap.”

“tidak…cici…waktuku tidak ada lagi, aku…aku tidak kuat lagi, cici aku titip Bu-ko, tempatmu ada disisi kami dihadapan Bu…Bu…Bu-ko…...” nyawa Cia-han-li pun meninggalkan raganya, jerit histeris kao-hong-li bergema didasar jurang.

Kao-hong-li menagisi mayat Cia-han-li, dan karena keadaannya yang lemas, kao-hong-li berbaring disamping jasad Cia-han-li, dia merasakan sekujur tubuhnya sakit, tiba-tiba ia mendengar seruan dari dalam hutan dan muncullah Kwaa-han-bu dengan tertatitih-tatih, Kao-hong-li bangkit dan menoleh kearah Kwaa- han-bu, sedu sedannyapun naik dan ia pun menangis lagi.

Kwaa-han-bu mendekati Kao-hong-li “bagaimanakah kedaan Cia-moi?”

“hu…hu…. Cia-moi tidak dapat bertahan she-taihap, dia telah pergi meninggalkan kita.” sahut Kao-hong-li sesugukan, Kwaa-han-bu duduk disamping jenajah istrinya, dengan lembut ia mengusap wajah yang sudah dingin dan kaku itu, dan tidak terasa air mata she-taihap meleleh, Kao-hong-li makin sesugukan melihat air mata she-taihap.

Kwaa-han-bu ketika melayang dengan demikian cepat kedasar jurang saat pilar menghantam dasar jurang pilar itu hancur berkeping-keping dan dan jangkar besi terayun kuat sehingga melemparkan jangkar kedalam hutan sejauh lima puluh meter dari reruntuhan dan rantai yang mengikat kaki kirinya tersangkut dicabang pohon yang tinggi, Kwaa-han-bu bergelantungan dengan posisi jungkir balik sementara paha kirinya mengalami pergeseran yang mengakibatkan nyeri yang sangat, selama setengah hari Kwaa-han-bu pingsan.

Setelah siuman, Kwaa-han-bu masih berada didalam jangkar namun jangkar itu ikut menjadi beban tubuhnya karena rantai kakinya yang menyangkut didahan pohon, dan akibatnya tulang pahanya yang sudah bergeser menjadi tumpuan bebab yang ada, Kwaa-han-bu sangat menderita oleh situasi yang ia alami, sehingga sempat tiga kali ia pingsan karena nyerinya.

Dan pada hari kedua dia siuman ternyata dia sudah berada dibawah, ternyata ketika ia pingsan untuk ketiga kalinya tiga ekor kera yang lumayan besar mendatangi jangkar itu dan penasaran dengan benda itu sehingga mereka mengguncang-guncang dan belitan rantai pada cabang pohon mengendur sehingga akhirnya jatuh kebawah, kera besar itu kontan terkejut dan cepat lari menyingkir saat jangkar itu jatuh.

Kwaa-han-bu keluar dari jangkar dan menyeret tubuhnya, dan bersandar kesebuah pohon, Kwaa-han-bu dengan sin-kangnya mengobati tulang pahanya, dan selama setengah jam pengobatan itu dilakukan, dan akhirnya kedudukan tulang pahanya normal kembali, Kwaa-han-bu mencoba berdiri dan saat itulah dia mendengar jeritan histeris Kao-hong-li memanggil nama Cia-sian-li. Kwaa-han-bu segera menuju arah suara dan ketika sampai, kedatangannya hanya disambut pandangan iba dari Kao-hong-li. Kwaa-han-bu mengambil sebilah kayu dan dengan cekatan menggali kubur,setelah itu jasad Cia-sian-li dikuburkan, Kao-hong-li masih larut dengan kesedihannya.

“hidup dan mati diluar kuasa kita, pilihan kita hanya menerima.” ujar she-taihap sambil duduk dan bersandar di sebatang pohon.

“bagaimana dengan keadaanmu Kao-siocia?”

“aku hanya luka luar saja, dan sepertinya tangan kiriku terkilir, lalu she-taihap bagaimana?”

“aku juga luka lecet dan tulang kaki mengalami pergeseran, tapi sekarang sudah normal kembali, coba aku lihat tanganmu Kao-siocia.” ujar Kwaa-han-bu, dan mendekati Kao-hong-li

“persendian sikumu mengalami pembengkakan.” Ujar Kwaa-han-bu, kemudian dengan mengerahkan sedikit tenaga, maka hawa panas menjalar disekitar siku Kao-hong-li, dan tidak lama kemudian rasa nyeri yang diderita Kao-hong-li hilang.

“sudah she-taihap, rasanya tanganku sudah pulih dan tidak nyeri lagi.”

“baiklah, kamu istirahat saja, saya akan kedalam hutan untuk mencari binatang buruan untuk makanan kita.” ujar Kwaa-han-bu, lalu ia berdiri dan meninggalkan Kao-hong-li, satu jam kemudian Kwaa-han-bu datang dengan membawa dua ekor kelinci, lalu mereka membuat panggang kelinci.

“She-taihap kira-kira ada harapan tidak kita keluar dari tempat ini?”

“tentu bisa, karena tempat ini bukan jurang sumur, tetapi jurang dengan lembah yang luas dan terhubung dengan dunia luar, setelah keadaan kita lebih baik kita akan meninggalkan tempat ini.”

“syukurlah kalau begitu.” gumam Kao-hong-li

Dua hari kemudian Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li sudah pulih kembali, lalu keduanya meninggalkan tempat itu menelusuri hutan belantara yang lebat, selama tiga hari perjalanan keduanya belum keluar dari dalam hutan.

“hutan ini amatlah luas sehingga sampai tiga hari kita belum keluar.” ujar Kao-hong-li

“memang benar, dan nampaknya hutan ini tidak pernah dijamah manusia, kita istirahat disini saja untuk melewatkan malam.” sahut Kwaa-han-bu.

Kao-hong-li merebahkan badan untuk menghilangkan kepenatan seharian berjalan menempuh hutan belukar, Kwaa-han-bu membuat api unggun, malampun tiba, suara-suara binatang malam pun terdengar, terlebih suara jengkrik yang sahut menyahut. Saat malam kian larut udara pun semakin dingin, tubuh Kao- hong-li menggigil, Kwaa-han-bu membagi api menjadi dua bagian, satu disamping dekat pembaringan Kao- hong-li, dan Kao-hong-li pun merasakan kehangatan dan satu lagi didekatnya.

“She-taihap tidurlah, biar aku yang ganti jaga.”

“tidak perlu siocia, kamu tidur dan istirahatlah yang cukup.”

“aku tidak merasa enak setiap malam dijagain dan tidur dengan pulas sementara kamu begadang, tentunya kamu kurang tidur.”

“aku kurang tidur tidak mengapa, asal jangan kamu yang kurang tidur.” “itu tidak adil she-taihap.”

“tidak adil bagaimana Kao-siocia, inilah yang namanya adil.” sahut Kwaa-han-bu senyum

“dimana letak adilnya she-taihap, sudah hampir seminggu kita ditempat antah berantah ini, dan setiap malam aku tidur pulas, sementara kamu tidak, bukankah kita sama-sama membutuhkan tidur tersebut?” “benar kao-siocia, aku juga tidur tapi hanya kurang, tidak ada kezaliman disini sehingga siocia merasa tidak enak hati, menjagamu adalah tugas saya, jadi tidak patut saya melepas tanggung jawab itu.”

“apakah karena saya wanita, she-taihap?”

“benar siocia, dan sudah demikian hukum alamnya, dan janggal jika siocia merasa tidak adil melihat hukum alam yang berjalan dengan normal”

“hmh….baiklah, aku juga bosan tidur dan ingin berjaga semalaman denganmu?”

“baiklah siocia, duduklah, dan jika mengantuk tidak usah sungkan untuk tidur lagi, sekarang apakah siocia mau makan sisa panggang kita tadi sore?”

“tidak…. aku hanya ingin bicara-bicara saja sambil melewatkan malam.”

Beberapa saat keadaan hening, Kao-hong-li menatap lelaki tampan didepannya yang sedang memmbesarkan api dengan menambah ranting-ranting kering, tiba-tiba Kwaa-han-bu menoleh dan dua pandangan itupun bertaut, sesaat Kao-hong-li terkesima sebelum menunduk dengan wajah panas karena jengah.

“siocia ingin membicarakan apa?”

“she-taihap, bolehkah aku bertanya hal yang pribadi?” “boleh saja siocia, dan hal yang patut kamu tanyakan”

“apakah ada rencana she-taihap mengenai keluarga yang she-taihap bina?” “ada, dan itu sangat erat kaitannya dengan dirimu siocia.”

“apakah itu she-taihap?”

“saya ingin memjadikan dirimu sebagai salah satu pendamping hidupku, bagaimana menurutmu?” jawab she-taihap sambil menatap lembut wajah Kao-hong-li.

“apakah saya orang yang tepat mendapatkan hal itu?”

“tepat tidak tepatnya tergantung kita berdua, dan selama perjalanan yang kita lakukan, saya mengakui bahwa kamu adalah orang yang tepat menjadi bagian dari saya, lalu bagimana pula menurutmu, siocia?”

“tunjukkan apa halnya yang tepat, supaya saya mengerti.”

“siocia, saya dan kamu dari awal pertemuan sudah memiliki ketertarikan, ini adalah awal yang tepat, kemudian kali kedua kita bertemu, timbul kembali desakan rasa hangat dalam hati, yang menunjukkan ketertarikan yang dulunya bersemayam rasa rindu, ini adalah awal yang tepat dari sebuah perasaan cinta, lalu kita mengadakan perjalanan bersama, maka semakin bersemi rasa cinta yang ada, dan cinta kita itu terkendali, terbukti siocia dan saya tidak mengabaikan istri saya Cia-moi, perlakuan saya alami kepadanya sebagai istri dan sebaliknya siocia akur dengan Cia-moi, dan itu menujukkan bahwa siocia tepat jadi pendamping saya.” ujar kwaa-han-bu.

kamudian keduanya hening, Kao-hong-li tertunduk menyelami penjelasan Kwaa-han-bu, dia melihat kebenaran dari penjelasan Kwaa-han-bu.

“bagaimana? apakah penjelasan saya tidak sesuai?”

“sesuai she-taihap, selama ini saya menyepi di Hwa-kok, hidup dengan bayang-bayang dirimu, dan hati saya bahagia bahwa hari ini saya ternyata dapat duduk dekat bersama dirimu, dihutan ini, dimalam selarut ini, nikmatnya luarbiasa.” Jawab Kao-hong-li, lalu Kwaa-han-bu berdiri dan mendekati Kao-hong-li “aku juga bahagia pada kenyataan kita saat ini.” sahut Kwaa-han-bu duduk dan meraih jemari tangan Kao- hong-li. “taihap…” bisik Kao-hong-li dengan nada bergetar, tubuhnya serasa lemas akibat sentuhan dan remasan lembut dijemarinya, dan bahkan hatinya melambung saat bahunya dipeluk dan kepalanya bersandar pada leher lelaki tampan berkharisma ini, Kao-hong-li memejamkan matanya, jiwanya teramat damai, hatinya demikian hangat, sukmanya bergetar merasakan tubuh kekasihnya, merasakan bidangnya dada sang pujaan dan remasan lembut dipundaknya.

“she-taihap kekasihku, aku ingin tidur.” bisik Kao-hong-li, Kwaa-han-bu membawa baring tubuh lunglai kekasihnya, Kao-hong-li semakin erat memeluk tubuh Kwaa-han-bu, alangkah lembut dan nikmat perasaannya berbantalkan dada kekasihnya yang diselingi helaan nafas dan detak jantung yang ia rasakan, kwaa-han-bu juga merasakan kemanjaan yang sangat dari pelukan Kao-hong-li, hembusan nafas yang membelai dadanya, sinom rambot yang halus menggelitik lehernya serta aroma kewanitaan yang menerpa penciuamnnya.

Matahari terbit diufuk timur, cahayanya menembus lebatnya, larik cahaya menyengat pipi ranum Kao-hong- li, kehangantannya membangunkan lamunan tidur perempuan cantik yang telah berumur itu, dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan kekasihnya yang sedang terpejam, kelihatan begitu tenang, agung, desahan nafasnya pelan dan lelap, dengan hati-hati Kao-hong-li bangkit, namun gerakan itu telah membangunkan Kwaa-han-bu

“kamu sudah bangun!?” sapa Kwaa-han-bu sambil bangkit, Kao-hong-li menatap wajah Kwaa-han-bu “sudah, tidurlah aku akan siapkan makanan untuk kita, setelah selesai aku akan membangunkanmu.”

“baiklah.” sahut Kwaa-han-bu, lalu dia pun memjamkan matanya kembali, beberapa saat Kao-hong-li masih memnadangi wajah agung kekasih hatinya, kemudian dengan langkah lunak Kao-hong-li menuju sumber air yang terdapat di dekat itu, kao-hong-li membuka bajunya yang kotor dan compang-camping, tubuh yang putih dengan lekuk indah menggairahkan terpampang nyata didalam hutan rimba raya tersebut, laksana bidadari kayangan perempuan cantik bertubuh indah menggairahkan itu turun kedalam sungai.

Senyum yang tidak pernah lekang dari bibir merah ranum itu menggosok tubuhnya yang sintal, membersihkan kukunya, rambutnya yang tergerai panjang dicuci bersih, setelah merasa nyaman dan bersih, Kao-hong-li keluar dari sungai, dengan tubuh telanjang dia duduk diatas batu sambil mengeringkan badan, kemudian pakaian yang hanya seadanya itu pun dipakai kembali, setelah itu ia pun kembali ketempat dimana Kwaa-han-bu tidur, lalu Kao-hongli dengan cekatan menghangatkan sisa daging bakar dengan menyalakan api yang sudah padam.

Setelah daging baker terasa hangat, dan sedikit bau gosong tercium, Kao-hong-li mengangkat daging baker dan merobek dagingnya dan memumpuknya pada sehelai daun lebar yang ia bawa dari pinggir sungai, demikian juga air minum yang diambil dari sungai disediakan, dengan lembut Kao-hong-li membangunkan Kwaa-han-bu

“Bu-ko… bangunlah, makanan kita sudah siap.” Bisiknya dekat telinga Kwaa-hanbu sementara tangannya mengelus dada kekasihnya.

Kwaa-han-bu membuka matanya, dan menoleh kewajah yang demikian dekat, dua pasang mata itu bertaut, entah siapa yang memulai, dua bibir sepasang kekasih itu saling melumat mesra, lumatan panjang itu menggetarkan tubuh sepasang kekasih itu, Kao hong-li nafasnya terengah-engah saat Kwaa-han-bu melepaskan pagutannya.

“aku bersihkan diri dulu, setelah itu baru kita makan.” bisik Kwaa-han-bu mesra seiring senyumnya yang memabukkan hati Kao-hong-li.

Kao-hong-li ikut berdiri saat Kwaa-han-bu mengajaknya berdiri, Kwaa-han-bu melangkah menuju sumber air, Kao-hong-li yang hatinya semerekah bunga yang sedang bersemi menatap kepergian Kwaa-han-bu, lumatan hangat itu masih terasa nyata, liur kekasih itu demikian melelapkan, semuanya terasa tidak bercacat, Kao-hong-li duduk kembali dipembaringan Kwaa-han-bu, hangatnya masih terasa.

Dalam waktu yang tidak lama Kwaa-han-bu muncul kembali, dan wajah tampan itu makin bersinar, kumal saja sudah demikian rupawan, apalagilah setelah wajah itu bersih, dengan mesra keduanya memakan daging bakar, makanan dengan sedikit gosong itu terasa pas dilidah karena dorongan hati yang sedang bahagia. Pasangan itu melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan kemesraan-kemesraan alami dan terpelihara dari kenistaan semakin menyatukan kedua insan yang melakukan perjalanan bersama itu, tiga hari kemudian Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li kehujanan, dengan agak tergesa-gesa keduanya mencari tempat berlindung, dan keduanya menemukan sebuah goa, segera keduanya masuk, dan alangkah terkejutnya mereka tiba-tiba dua ekor macan tutul menerjang dari dalam goa, namun Kwaa-han-bu dengan reflek melompat dan menangkap leher bagian atas kedua ekor macan itu dan melemparkannya jauh keluar mulut goa.

Kedua macan tutul itu mengaum menantang Kwaa-han-bu yang berdiri tenang dimulut goa, kedua macan itu siap dengan serangan, dan ketika keduanya menerkam, kwaa-han-bu melompat menyambut terkaman gesit kedua macan, pertempuran sengitpun terjadi, luar biasa serangan kedua macan itu, Kwaa-han-bu merasa tidak tega menjatuhkan tangan maut pada kedua macan itu, kedua macan it uterus menyerang, namun gerakan Kwaa-han-bu melebihi kecepatan mereka, Kwaa-han-bu menukar pukulan dengan keperetan pada daun telinga kedua macan, dan kedua macan itupun semakin marah dengan auman-auman yang kuat terus meyerang Kwaa-han-bu.”

“sudahlah kami hanya hendak berteduh, dan tidak berniat mencelakakan kalian.” ujar Kwaa-han-bu, anehnya kedua macan itupun berhenti, ketika melihat Kwaa-han-bu diam dan berdiri sambil melipat tangan kearah mereka, kedua macan itu duduk

“bolehkan kami mengambil tempat sedikit didalam goa untuk beteduh?” ujar Kwaa-han-bu, kedua macan itu menatap kemulut goa dimana Kao-hong-li berdiri, kemudian dua macan itu melangkah kearah goa, ketika melewati Kwaa-han-bu, seekor macan menatap Kwaa-han-bu dan lalu melangkah lagi, seakan mengajak Kwaa-han-bu, kwaa-han-bu tanpa ragu mengikuti kedua macan memasuki goa, Kao-hong-li dengan senyum meraih tangan Kwaa-han-bu dan bersama-sama masuk lebih dalam.

Dua macan itu duduk disamping sebuah kerangka manusia yang sedang duduk siulian, Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li duduk berdekatan, tanpa menggubris kedua macan, apalagi mendekat kearah kerangka manusia itu. Kedua macan itupun diam dan suasana didalam goa hening, hanya deru angina yang bermain dengan rembunan hutan yang sayup-sayup terdengar.

Tiba-tiba seekor macan mendekati Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li, macan itu mengaum dua kali didepan mereka, lalu kemudian berjalan kearah tempat dia duduk tadi.

“mungkin macan itu ingin kita mendekat ke kerangka manusia itu.” ujar Kao-hong-li

“benar, dan nampaknya kerangka itu adalah majikan bagi kedua macan itu.” sahut Kwaa-han-bu. Kwaa- han-bu dan Kao-hong-li mendekati kerangka, keduanya memperhatikan keadaan kerangka manusia itu.

Di bagian depan tempat duduk kerangka itu tertulis”bubeng-siauwcut” (sihina tak bernama), lalu keduanya berlutut didepan kerangka itu

“maafkan kami bubeng-siuawcut, masuk kedalam goa tanpa izin.” ujar Kwaa-han-bu, tiba-tiba kedua macan itu mengaum sehingga dalam goa itu bergema, setelah hening kepala kerangka itu jatuh menimpa batu tempat duduk kerangka dan tiba-tiba batu itu berputar, bagian tengah batu tiba-tiba terbuka dan membuat kerangka itu hancur berantakan dan jeblos kedalam.

Kwaa-han-bu mencoba melihat kedalam lobang besar ditengah batu siulian, dibawah tumpukan tulang belulang itu ada sebuah gulungan kulit binatang, Kwaa-han-bu melihat kedua macan, kedua macan itu mengaum, Kwaa-han-bu merasa bahwa auman itu tanda diizinkan mengambil gulungan, Kwaa-han-bu membuka gulungan dan ternyata ada tulisan beberapa gambar orang sedang siulian.

Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li membaca tulisan tersebut yang berbunyi : ‘Siapa mengenal dirinya maka kenal ia akan Thiannya

Siapa mengenal Thiannya maka tiadalah diri hanya binasa

Diri hanyalah jasad yang berpadu dengan ruh yang dipinjami JIka yang meminjamkan mengambil tiada sesuatu yang merugi Sesuatu yang berlaku sesuai kehendak yang memiliki

Tiadalah alam dapat menyalahi kecuali pemilik memberkati Empat posisi orang bersemedi

Helahan nafas merenungkan kata dan arti Mengosongkan batin membaca diri Mengasah jati diri dilintasan hati nurani’

“saudara macan, apakah ini artinya kamu diizinkan menjalani semedi ini?” ujar Kwaa-han-bu, kedua macan itu mengaum tiga kali

“apakah Bu-ko memahami maksud tulisan ini, dan bukankah berbahaya jika salah dalam menjalaninya?”

“tulisan ini mengandung ilmu siualian jati diri, empat posisi ini tata cara dan tahapannya, dan setiap posisi melafalkan kata dan arti pada baris-baris bait kedua, dan kita akan menjalaninya, karena ini merupakan ilmu kebatinan yang bermamfaat bagi kita.” 

“baiklah kalau begitu Bu-ko, kapankah kita mulai?”

“Kita mulai nanti malam, saudara macan kami akan menjalani apa yang tertera dalam gulungan ini.” sahut Kwaa-han-bu, dan kemudian bekata pada dua ekor macan, dua ekor macan itu mengaum sekali.

Pada malam harinya Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li mulai duduk dengan posisi duduk dengan kedua tangan tergeletak diatas paha dengan posisi telapak menghadap keatas, dan setelah mereka siap memulia maka lisan mereka merafalkan kata”Diri hanyalah jasad yang berpadu dengan ruh yang dipinjami”

Keduanya pun larut dalam keheningan malam, keesokan harinya keduanya makan, dan menurut Kwaa-han- bu, bahwa selama menjalani siulian mereka hanya makan sayuran saja, demikianlah hingga posisi pertama selesai selama tiga puluh hari.

Pada posisi kedua sikap duduk masih sama dengan yang pertama, hanya posisi tangan disatukan didepan dada, hal itupun dijalani selama tiga puluh hari dengan lafal baris kedua, kemudian posisi ketiga posisi siulian berdiri dengan posisi tangan disatukan didepan dada, dan rapalan yang dibaca adalah”Sesuatu yang berlaku sesuai kehendak yang memiliki”

Tiga puluh hari berikutnya Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li memasuki tahap terakhir, dimana posisi siulian berdiri dengan posisi tangan disatukan diatas kepala, malam-malam hening pun berlalu tanpa terasa, dan akhirnya tahap semedi terakhir itupun selesai dijalani.

Pada tahap terakhir ini efek yang luar biasa telah dialami oleh sepasang kekasih itu, tenaga sin-kang keduanya bertambah tujuh kali lipat, dan gin-kang mereka kian meningkat, dan oleh Kwaa-han-bu memberi nama pada ilmu baru mereka dengan”Wei-si-sin-siulian” (semedi sakti empat rasa)

Selama menjalani semedi, Kedua ekor macan itu berjaga dimulut goa, dan antara kedua makhluk berbeda jenis itu terjalin hubungan yang kuat, terlebih setelah menjalani siulian tahap pertama, Kwaa-han-bu dan kao-hong-li dapat memahami dan bisa berkomunikasi dengan kedua ekor macan itu.

Dan ketika Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li keluar dari dalam goa, kedua macan itu mengaum kuat keatas dan kemudian meletakkan kepala mereka sampai ketanah, memahamkan bagi Kwaa-han-bu dan Kao- hong-li kedua ekor macan itu berlutut.

“saudara macan, sudah empat bulan kami disini dan tahapan siulian kami sudah selesai, sekaligus kami telah mendapatkan mamfaat luar biasa, jadi kami haturkan terimakasih.” ujar Kwaa-han-bu sambil menjura diikuti oleh kao-hong-li, kedua ekor macan itu mengaum lagi dan kemudian meletakkan kembali kepalanya ditanah, setelah itu kedua ekor macan berdiri.

Macan jantan masuk dibawah kaki Kwaa-han-bu, sehingga Kwaa-han-bu duduk diatas punggung macan, dan dengan sekali loncatan macan itu sudah melejit kedepan, kao-hong-li juga dibawa macan betina menyusul macan jantan.

Melintasi hutan dengan menunggang macan tutul merupakan hal yang luar biasa, ketika menjelang

“saudara macan! kita istirahat dulu disini.” seru Kwaa-han-bu, kedua ekor macan itu berhenti, setelah kedua tuannya turun kedua macan itu menjauh untuk istirahat, Kwaa-han-bu pergi mencari binatang buruan, sementara kao-hong-li membuat api, setelah itu merekapun makan daging bakar, setelah itu keduanya membersihkan diri di sumber air, lalu kemudian istirahat melewatkan malam dengan tidur nyenyak. Pada tengah malam kedua macan itu muncul dan mendekam didekat Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li yang sedang pulas, dan ketika pagi datang, Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li bangun

“kami membersihkan diri dulu saudara macan, setelah itu kita berangkat.” ujar Kwaa-han-bu sambil berdiri, Kao-hong-li mengikuti Kwaa-han-bu kesumber air, seadanya mereka memmbersihkan diri, hanya cucu muka, kedua tangan dan menyapuh rambut.

Setelah itu merekapun melanjutkan perjalanan dengan menunggang kedua ekor macan tutul, demikianlah perjalanan unik dan luar biasa itu dilakukan sepasang sejoli yang saling mencinta itu.

Pada hari ketujuh dari atas bukit nampaklah sebuah perkampungan

“saudara macan, perkampungan sudah dekat, dan kami akan melanjutklan perjalanan dengan jalan kaki.” ujar Kwaa-han-bu, macan itu serta merta duduk, Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li turun dari punggung macan.

“kita berpisah disini saudara macan, kami berangkat.” ujar Kao-hong-li, kedua macan itu mengaum dan kemudian berkelabat dari tempat itu.

“Bu-ko, sebaiknya kamu saja duluan memasuki perkampungan untuk mendapatkan baju untukku.”

“benar Kao-moi, tunggulah disini, saya akan masuk perkampungan untuk mendapatkan pakaian.” sahut Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu bergerak dan luarbiasanya tubuh itu seakan terbang laksana anak panah yang lepas dari busurnya, entah berapa saat, Kwaa-han-bu sudah muncul di dalam perkampungan.

Kwaa-hanbu memasuki sebuah kedai kopi yang cukup ramai, pemilik kedai terkejut dan jengkel ketika melihat pakain Kwaa-han-bu yang sudah robek dan compang-camping, namun setelah untuk kedua kalianya ia menatap wajah Kwaa-han-bu, timbul rasa takluk yang membuat dia bertekuk lutut, demikian juga enam orang yang berada didalam kedai.

“salam Tai-su, apakah yang kami dapat bantu.?”

“sicu yang baik, pakainku ini sudah tidak layak dipakai, tolonglah berikan sepotong pakaian untuk saya dan sepotong pakaian untuk istri saya.”

“baik taisu, tunggulah sebentar, akan saya ambilkan.” Sahut pemilik kedai, lalu dengan buru-buru ia masuk kedalam rumahnya dan mengambil pakaian yang paling baru.”

“ini pakaiannya taisu, apakah masih ada lagi yang dibutuhkan?” ujar pemilik kedai “siapakah namamu sicu?” tanya Kwaa-han-bu

“saya Lai-kun.”

“sudah cukup Lai-sicu dan terimakasih atas dua stel baju ini serta keramahannya.” ujar Kwaa-han-bu. Kemudian Kwaa-han-bu pamid dan meninggalkan perkampungan.

Kao-hong-li dan Kwaa-han-bu mengganti pakaian setelah mendi dan membersihkan diri, baju perempuan yang diberikan Lai-kun ternyata pas dengan badan Kao-hong-li, pakaian itu adalah pakaian putrinya yang berumur dua puluh, semetara pakaian Kwaa-han-bu sedikit kedodoran.

Menjelang sore hari Kwaa-han-bu dan kao-hong-li memasuki perkampungan, perkampungan itu cukup padat, suara hiruk pikuk anak-anak yang sedang bermain menambah ceria suasana senja yang semakin temaram.

“Bu-ko apakah kita akan bermalam disini?” tanya Kao-hong-li

“benar, kita akan kekedai pemilik baju yang kita pakai ini.” jawab Kwaa-han-bu.

“silahkan taisu.., apakah lagi yang dapat kami Bantu?” sambit Lai-kun dengan senyum yang amat ramah, ada tiga orang yang sedang minum didalam kedai, ketiganya bukan enam orang yang ditemui tadi, dan ketiganya mengengguk sambil senyum ketika beradu pandang dengan Kwaa-han-bu. “Lai-sicu, kami ini tentu merepotkan kamu.”

“ah..tidak demikian taisu, katakanlah, selagi dapat akan saya usahakan.” “benar taisu…jangan sungkan-sungkan.” sela seorang tamu.”

‘Lai-sicu, dan sicu yang lain, adakah disini rahib untuk menikahkan orang?” “oo, siapakah yang mau menikah taisu?”

“saya dan calon istri saya ini hendak meresmikan pernikahan kami.”

“hahaha….haha…. tidak masalah taisu, kami akan meresmikan pernikahan taisu dengan subo.” sela yang lain.

“A-hai pergilah pangil Kuan-losuhu, dan saya dengan teman yan lain akan mengatur kedai ini menjadi jamuan pernikahan.” ujar Lai-kun.

“baik, Kun-twako.”

“oh..ya, jangan lupa saat kembali arak dari kedai A-can.”

“janganlah terlalu dipaksakan, dan sekedarnya saja Lai-sicu.” sela Kwaa-han-bu “tidak mengapa taisu, dan memang hanya sekedarnya.” sahut Lai-kun

“baik, aku akan berangkat.” sela A-hai.

Malam itu pesta pernikahan pun dilaksanakan, sebagian besar warga bertanya-tanya akan jamuan mendadak itu, namun ketika mereka melihat kedua mempelai hati mereka terkesima haru dan gembira, senang dan takluk, tentunya kalau dipikir Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li tidak sedikitpun mereka kenal, namun saat menatap wajah itu terpancar rasa hormat, takluk dan haru, semuanya ini adalah berkat hasil siulian yang mereka jalani selama empat bulan.

Kwaa-han-bu bukan tidak menyadari apa yang terjadi, dia sudah tahu sejak dia mendatangi kedai Lai-kun dan perubahan raut muka saat Lai-kun memperhatikan wajahnya. Kao-hong-li menyadari hal itu saat warga demikian antusias menyelenggrakan pernikahan mereka.

Saat Kao-hong-li dan Kwaa-han-bu dikamar pengantin “Bu-ko, apakah ini hasil dari siulian yang kita jalani?”

“nampaknya demikianlah Kao-moi, semoga saja kita tidak memamfaatkan ilmu ini pada hal yang menyalahi dan tindakan semena-mena”

“apakah ini juga tidak memamfaatkan orang lain Bu-ko, sehingga para warga mengeluarkan biaya untuk ini.”

“karena kita butuh penyelenggaraan untuk mensahkan hubungan, sehingga kita tidak jatuh pada nista, hal ini sudah benar, dan juga kita minta tolong kepada mereka sesuatu yang amat sangat kita butuhkan, ini juga benar, lain hal kalau kita memaksakan kehendak.” sahut Kwaa-han-bu, Kao-hong-li mengangguk.

“Bukankah kita telah merasa nyaman dengan kebersamaan kita Kao-moi?” bisik Kwaa-han-bu lembut dan mesra, Kao-hong-li merasa bergetar saat kedua bahunya diremas lembut oleh Kwaa-han-bu, Kao-hong-li mandah saat Kwaa-han-bu mendorongnya untuk baring, makin lemas rasa Kao-hong-li ketika Kwaa-han-bu menciuminya dengan mesra, Kao-hong-li dengan birahi cinta membalas kecupan-kecupan suaminya, lumatan-demi lumatan yang memabukkan membuat keduanya makin agresif, satu-satu pakaian pengantin itu terlepas, hingga mereka menyatu dalam ketelanjangan yang menggairahkan, suami istri itu dengan hasrat membara berpacu mencapai kenikmatan sanggama, berpilin terbakar api gairah sehingga terhempas pada puncak kenikamatan yang melelahkan, malam terus merambat, sehingga beberapa kali kedua sejoli itu meraih puncak kenikmatan. Keesokan harinya dengan senyum menghias dibibir Kao-hong-li turun dari ranjang, tiada terlukiskan kebagahagian hatinya, rindu dan cinta yang selama ini telah meletus dari kepundan jiwanya, dengan wajah ceria kao-hong-li menyiapkan air untuk mandi mereka, baru hendak mengguyur tubuhnya, Kwaa-han-bu masuk dengan nakal ketempat pemandian, sehingga Kao-hong-li terkejut dan berteriak manja. dengan rasa cinta dan manja keduanya saling menggosok badan, saling gelitik, saling cubit berbareng canda mesra yang mendebarkan.

Setelah matahari tinggi Lai-kun dan keluarganya kembali kerumahnya, setelah semalam mereka tidur dirumah tetangga, anak gadisnya Lai-lin-hwa ikut juga mengungsi malam itu, didalam rumah makanan sudah selesai di masak Kao-hong-li, dengan akrab mereka makan bersama.

“Lai-sicu, apakah kiranya yang dapat kami lakukan untuk membalas kebaikan warga kampung ini?”

“ah…taisu, rasanya tidak ada, janganlah sungkan begitu, pernikahan bukanlah sesuatu merugikan, bahkan merupakan keberuntungan.”

“apakah warga disini tidak ada masalah yang umum?” “masalah yang umum?” gumam Lai-kun

“bukankah rencana pembuatan jembatan adalah masalah umum ayah?” sela Lai-lin-hwa.” “apakah warga disini hendak membuat jembatan Lai-sicu?”

“benar taisu, selama ini kami kalau mau kesawah dan keladang menyeberangi sungai yang cukup lebar, jadi warga sepakat untuk membuat jembatan.”

“kami akan dapat membantu Lai-sicu, jadi sampaikanlah pada warga bahwa besok saya dan istri saya akan mengambil kayu dihutan untuk bahan jembatan.”

“hutan yang kayunya bagus untuk jembatan agak jauh dari sini Taisu.” ujar Lai-kun meragu. “tidak apa-apa Lai-sicu, dihutan apakah kayu itu Lai-sicu.

“disebelah utara kampung sejauh setengah hari perjalanan ada sebuah hutan yang disebut rimba babi, kayu disana bagus untuk bahan jembatan.”

“berapa buah pohon perhitungannya untuk membuat jembatan itu?” “kira-kira lima belas pohon.”

“baiklah Lai-sicu, besok kami akan kesana untuk mengambil kayu tersebut.” ujar Kwaa-han-bu. “beberapa dari kami akan ikut dengan taisu.” ujar Lai-kun

“tidak usah Lai-sicu, biar saya dan istri saya saja, Lai-sicu dan warga tunggu saja di area dipinggir sungai tempat pembuatan jembatan, semoga saat sore hari, kami sudah sampai disana.” sahut Kwaa-han-bu Keesokan harinya Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li berangkat ke rimba babi, sementara warga yang mengetahui hal ini merasa terkesima dan takjub, antara percaya dan tidak apakah suami istri itu akan mampu membawa lima belas pohon dan kembali waktu sore.

Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li memasuki rimba babi, pepohonan didalam hutan itu besar dan tinggi.

“mari kita kerjakan Kao-moi, cobalah pukul sebuah pohon dengan pengerahan sin-kang Wei-si-sin-siulian.” ujar Kwaa-han-bu, Kao-hong-li duduk dan melakukan posisi siulian dari yang pertama sampai keempat, lalu tenaga sakti itu pun disalurkan kearah lengan, dan kemudian dengan posisi tangan membacok Kao-hong-li menghantam pohon

“buk…” pohon itu bergetar, lalu bekas pukulan Kao-hong-li pecah bergaris melingkari pohon, pohon itu tumbang laksana baru digergaji. Kao-hong-li baru menyadari betapa hebat tenaga saktinya sekarang, dia pun terkesima dengan tenaganya. “sekarang, Kao-moi coba dalam satu pengeposan sin-kang memukul empat pohon sekaligus.” ujar Kwaa- han-bu, Kao-hong-li menuruti perkataan suaminya, Kao-hong-li kembali menyalurkan tenaga setelah tahapan siulian, lalu memukul empat pohon sekaligus, terdengar suara empat pohon tumbang laksana disapu padai, lima pohon telah tumbang dalam waktu yang tidak lama.

“lakukanlah Kao-moi sampai dua puluh pohon!” ujar Kwaa-han-bu, Kao-hong-li dengan semangat melakukannya, karena disamping membantu warga, ternyata suaminya juga ingin melatih tenaga saktinya yang awalnya dia tidak sadari. Tidak sampai satu jam dua puluh pohon telah rebah, sementara Kwaa-han- bu memotong baguan dahan dan cabang pohon-pohon yang telah ditumbangkan Kao-hong-li, sehingga dua puluh gelondongan kayu telah selesai dan ditumpuk rapi.

“lalu bagaimana kita membawa gelondongan kayu yang amat besar-besar ini?” tanya Kao-hong-li.” “kita membawanya tidak semuanya gelondongan, sepuluh gelondongan akan kita buat jadi papan.” jawab Kwaa-han-bu, Kwaa-han-bu membagi setiap gelondongan menjadi tiga bagian dengan ukuran yang sama, kira-kira sepuluh kaki, setelah itu Kao-hong-li disuruh mendirikan gelondongan dan Kwaa-han-bu dengan gerakan ringan memukul delapan kali ujung gelondongan dari atas, dan hasilnya delapan bilah papan tebal telah terbentuk.

Kao-hong-li dan Kwaa-han-bu sambil bercanda bergantian posisi untuk melakukan hal tersebut, sehingga menjelang tengah hari tiga ratus enam puluh bilah papan sudah selesai, dan lima belas gelondongan sepanjang sepuluh kaki disisakan.

“sekarang marilah kita angkut papan dan gelondongan kayu ini.” ujar Kwaa-han-bu, kemudian dengan gerakan cepat menumbangkan dua buah pohon dan membuat dua gelondongan panjang, lima belas gelondongan diletakkan di dua sisi, sehingga membentuk rakit, tali yang sudah dpersiapkan diikatkan pada kedua sisinya.

Setelah rakit darat itu selesai, tiga ratus enam puluh bilah papan itu pun diletakkan diatas rakit.

“nah marilah kita angkat Kao-moi, kamu didepan dan saya dibelakang” ujar Kwaa-han-bu, lalu keduanyapun berdiri diposisi masing-masing, dengan pengerahan We-si-sin-siulian, rakit darat itu terangkat keatas, lalu dengan sin-kang dan gin-kang yang luar biasa, suami istri itu begerak menuju perkampungan, untuk tidak ada yang melihat, kalau sempat ada yang menyaksikan tentunya hal yang menakjubkan dan menghebohkan.

Hanya dalam waktu sepeminum teh Kwaa-han-bu dan istrinya sudah sampai di tempat area jembatan, dan karena Kwaa-han-bu mengatakan pada warga sore hari, tidak ada seorangpun ditempat itu, dengan hati lega keduanya meletakkan beban mereka itu dipinggir.

“bagaimana keadaanmu Kao-moi?” “cukup lelah Bu-ko.”

“nanti malam biar saya pijat, sekarang marilah kita turun kesungai untuk membersihkan diri.” ujar Kwaa-han- bu dengan senyum nakal, Kao-hong-li menangkap senyuman nakal itu, dengan wajah memerah

“aku ragu, bahwa aku akan dipijatin.” Kerling Kao-hong-li

“kok ragu, kenapa Kao-moi?” sahut Kwaa-han-bu masih dengan senyumanya yang menggoda “bilang mijat tapi malah meremas.”

“hahaha….hehehe… maunya yang mana sayang?” goda Kwaa-han-bu, Kao-hong-li hendak memukul sayang suaminya, spontan kwaa-han-bu, melompat dan berlari turun kesungai, Kao-hong-li mengejar Kwaa- han-bu dengan senyum masam diringi tawa canda Kwaa-han-bu.

Ditempat yang tersembunyi dibawah rerimbunan dihulu sungai, keduanya mandi laksana bebek mandarin yang sedang kasmaran, berkejar-kejaran kesana kemari, setelah agak sore mereka kembali kehilir dimana diarea jembatan warga sudah banyak yang berkumpul dengan rasa takjub dan tidak percaya melihat papan dan gelondongan kayu yang terikat rapi laksana rakit. “ketika Kwaa-han-bu dan Kao-hong-li naik keatas disambut warga dengan berlutut “terimakasih taisu, terimakasih taisu..” ujar mereka serempak.

“sudahlah para sicu, dan bangkitlah jangan berlebihan begitu, bagaimana remcana selanjutnya pembuatan jembatan ini.”

“kalau sudah begini, kami sudah bisa mengerjakannya, dan kami harap taisu dan subo masih berada dikampung kami, sebagai ucapan terimakasih, kami akan menjamu taisu dan subo sekali lagi.”

“tidak perlu berlebihan para sicu, masih banyak biaya untuk pengadaan jembatan ini tentunya, jadi sekedarnya saja, dan kalau bisa kita adakan di pinggir sungai ini saja, sebagai ucapan rasa syukur kita.” sahut Kwaa-han-bu.

“demikianpun baik taisu.” sela Cu-san-kok yang menjadi cungcu kampong itu, kemudian merekapun bubar dan kembali kerumah masing-masing.

Pah-sim-sai-jin sampai kemarkas Hehat-Kui-sam, pertempurannya dengan Kwee-kim-in sangat membuat dia kecewa, walaupun boleh dikatakan ia menang, namun ia tidak sempat meringkus Kwee-kim-in.

“kalian bertiga kumpulkan anak buah yang masih tersisa, aku hendak membicarakan hal penting.”

“baik bengcu..!” sahut Lie-ciangbujin, lalu ia pun keluar sementara Ui-hai-sian dan seng-teng-sianli menemani Pah-sim-sai-jin.

Seratus anggota telah berkumpul

“hanya ini yang menjadi kaki tangan kami dikota ini, dan yang lain bertugas ditiap kota.”

“hmh…bagaimanapun kalian tetap kebablasan, Nancao dan Lijiang telah bebas dari pengaruh kita, hanya tinggal kalian dan Hanzhong-koai-sam, she-taihap sudah mempereteli kita, dan kalian tetap saja tidak becus.” sahut Pah-sim-sai-jin kecewa dan marah

“kalian semua coba pikirkan jalan dan taktik untuk menghabisi she-taihap, dan kalian harus ketahui bahwa disamping she-taihap masih ada Ui-hai-liong-siang yang sudah mempereteli anggota kalian ditiap kota, jadi dua kelompok ini berbahaya dan sangat mengacau misi kita.”

“kita tidak bisa nafikan bahwa ilmu mereka ini jauh lebih diatas kita, hanya bengcu dan tiga pangcu yang setarap dengan mereka.” sela lelaki bernama Tan-bu-kong yang menjadi pimpinan pasukan

“lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya yang lain

“begini saja, karena kita tidak mampu berhadapan secara langsung, saya punya ide.” “apa ide kamu itu?” sela Pah-sim-sai-jin

“jika para pengacau sudah sampai disini, kita ajak mereka kelembah Lumpur diselatan kota.”

“tempat itu memang sangat berbahaya karena banyaknya kubangan lumpur hidup, lalu apa yang kita lakukan?” sela yang lain

“daerah itu saya kenal benar, dan kita akan menjebak mereka disana.” “caranya?”

“kita seratus orang mendatangi mereka dan mengajak untuk bertemu bengcu dan tiga pangcu.” “kenapa harus kita semua?”

“masalahnya mungkin mereka menolak, tapi karena melihat kita banyak, tentunya mereka akan merasa bahwa Bengcu dan tiga pangcu sangat serius untuk bertemu.” “hmh..sesampai kalian di lembah lumpur, apa yang kalian lakukan?” tanya Pah-sim-sai-jin

“Bengcu dan tiga pangcu menunggu diarea yang aman, lalu kita menyuruh mereka kearea itu, dengan banyaknya jebakan menuju area tersebut diharapkan mereka akan terjebak.”

“bagaiamana kalau mereka meminta kita tetap memandu mereka hingga sampai ke area tempat bengcu?” “hal itu mungkin kalau lembah itu nampak berbahaya, tapi ketahuilah bahwa tempat itu nampak aman.” “ooh, demikiankah?” sela yang lain

“benar, jadi mereka akan pasti tertipu setelah melihat tempat itu.”

“bukankah mereka akan curiga jika kita yang berjumlah banyak tidak ikut kearea tempat bengcu?” “benar, mereka pasti akan curiga.” sela yang lain.

“kalau begitu ditengah jalan sembilan puluh orang memisahkan diri dan sepuluh orang mengawal mereka ke lembah lumpur.” sahut yang lain.

“hmh… benar juga, dan yang sepuluh orang akan mempunyai alasan untuk tidak memasuki area.”

“ah..itu terlalu rumit, begini saja, kalian lima orang saja yang menemui mereka dengan membawa surat dari saya.” sela Pah-sim-sai-jin.

“demikian juga bagus bengcu.” sahut Tan-bu-kong “benar seperti itu saja.” sahut yang lain.

Tiga hari kemudian disebuah Likoan diKota Hehat Ui-hai-Liong-siang sedang makan setelah menempuh perjalanan melelahkan, ketika sedang makan hujan gerimis turun, dan empat orang buru-buru memasuki likoan, pelayan dengan ramah menyambut

“silahkan..silahkan..” sambut pelayan sambil membawa empat tamunya kesebuah meja besar yang masih kosong, empat tamu itu adalah Wan-yokong, Kwaa-kim-in dan kedua suhengnya, ketika melewati meja dimana Ui-hai-liong-siang, Yo-hun yang melihat Wan-yokong segera berdiri

“wan-yokong, ternyata locianpwe sudah sampai disini, selamat berjumpa kembali” “aha…ternyata siang-taihap, wah kebetulan kita bertemu disini.”

“marilah duduk bersama kami Wan-yokong, dan para sicu semua.”

“pelayan kami akan gabung dengan teman kami ini.” sahut Wan-yokong. pelayan mengangguk-anguk ramah, lalu meninggalkan mereka.

“Kenalkan Siang-taihap, ini adalah she-taihap.” ujar Wan-yokong

“benar, saya adalah LI-wanfu dan ini adalah sute saya Lauw-kun, serta sumoi kami Kwee-kim-in.” sela Li- wanfu.

“hahaha…pantas aku merasa pernah melihat Kwee-lihap.” sahut Yo-hun

“benar siang-taihap, pertemuan ini amat menggembirakan, dan juga putra siang-taihap Yo-seng sudah berada ditempat kami di Kun-leng.”

“syukurlah she-taihap, lalu kemanakah Im-yang-sin-taihap?”

“Bu-ko menyisir daerah selatan ketimur bersama Cia-sian-li dan Kao-hong-li, sementara saya dari selatan kebarat bersama para suheng.” “hmh…dengan kesatuan kita semoga kita dapat mengatasi pah-sim-sai-jin.” Sela Siangkoan-lui-kim,

“benar, lalu bagaimana hasil usaha kalian siang-taihap, bagaimana hasil perjalanan kalian ke pulau neraka?”

“kami berhasil baik wan-yokong, dan didalam kendi ini empedu ular itu kami kumpulkan.”

“baguslah kalau begitu, jamur linzi juga sudah diperoleh, tinggal ramuan yang lain, dan dapat mudah diperoleh di kota Bao.” Sahut Wan-yokong

Hujan yang turunpun semakin deras sehingga satu jam, setelah hujan reda, lima orang mendekati likoan, ketika melihat lima orang itu, banyak para tamu yang langsung menyingkir dan tinggal beberapa tamu lagi, lima orang itu dengan sikap jumawa memasuki liokoan.

“kami hendak menjumpai Ui-hai-liong-siang! adakah diantara kalian!?” ujar salah seorang dari mereka,

Yohun dan istrinya saling pandang, sesaat hening, lalu Yo-hun berdiri

“kami suami istri adalah Ui-hai-siang-liong, apakah kalian anak buah Hehat-kui-sam?” “benar, kami adalah anak buahnya.”

“apa maksud kalian menemui kami?”

“kami hanya ingin menyampaikan undangan dari pancu kami.” Jawabnya sambil memberikan sepucuk surat, Yo-hun menerima surat tersebut lalu membuka dan membacanya.

“Ui-hai-siang-liong dan she-taihap, jika kalian penya nyali kami menunggu dilembah lumpur

Dari Hehat-kui-sam Yo-hun menyerahkan surat itu kepada Li-wan-fu, Li-wan-fu bersama Lauw-kun membaca isi surat.

“bagaimana pendapat she-taihap?” tanya Yo-hun

“kami permisi karena tugas kami sudah selesai.” sela utusan Hehat-kui-sam, tanpa menanti jawaban kelimanya segera meninggalkan likoan.

“bagaimana Li-suheng, dua perbatasan sudah kita bersihkan, tinggal dua perbatasan lagi.” sela Kwee-kim-in “semoga perbatasan ini dapat juga kita bersihkan, bagimana menurutmu Yo-taihap?” sahut Li-wan-fu “hmh…jika tinggal dua lagi, bukankah lebih baik dituntaskan.?” sahut Yo-hun.

“baiklah, besok kita akan memenuhi undangan Hehat-kui-sam.” ujar Li-wan-fu, lalu merekapun menyewa kamar untuk menginap.

Keesokan harinya She-taihap dan rombonganpun meninggalkan likoan dan berangkat ke lembah Lumpur, sesampai ditempat yang dituju

“Hehat-kui-sam, kami sudah sampai.” seru Yo-hun

“hahaha..hahha…bagus kalian sudah datang, marilah kesini! kami berada didalam hutan didepan kalian.” sahut sebuah suara, kelima pendekar saling pandang

“hati-hati suheng, mungkin ini adalah jebakan.” ujar Kwee-kim-in, mereka memperhatikan areal tersebut, tidak nampak sedikitpun yang mencurigakan, ada jalan setapak dengan tanah kehitaman menuju bukit dan dikedua sisinya padang ilalang yang tingi, dan jauh disebelah timur jalan ada rawa yang lumayan besar.

“sudahlah, nampaknya aman, dan hanya jalan setapak ini menuju hutan disana.” Sela Lauw-kun, kemudian dia melangkah melewati jalan setapak, setengah jalan Lauw-kun kelihatan tidak apa-apa, lalu empat rekannya menyusul, kira-kira empat tombak lagi akan memasuki hutan, tiba-tiba kaki Lauw-kun amblas karena tempat yang dipijaknya adalah Lumpur lunak, sepanjang jalan setapak itu pun tiba-tiba lembut berubah jadi lumpur karena dipicu tanah yang retak dipijak Lauw-kun, enam pendekar itu amblas setinggi pinggang

Kwee-kim-in dengan reflek melepas sabuk yang mengikat pinngangnya dan melemparkan pada sebuah pohon disisi jalan

“jangan banyak bergerak untuk memperlambat daya hisap lumpur.” seru Li-wan-fu, empat pendekar melihat Kwee-kim-in yang sedang menarik tubuhnya dengan bantuan sabuknya, jika Kwee-kim-in dapat selamat, besar kemungkinan mereka juga akan selamat.

Kwee-kim-in berhasil naik ketepian, dengan sigap ia mengibaskan sabuk kearah Yo-hun yang terdekat, Yo- hun menagkap ujung sabuk, dan sekali hentakan Kwee-kim-in tubuh Yo melenting keatas dan Yo-hunpun mendarat ditepian Lumpur, kemudian Kwee-kim melempar lagi sabuknya kearah Li-wan-fu, yang sudah menghisap tubuhnya sampai dada, Li-wan-fu berhasil selamat, lalu kemudian sabuk dilempar ke arah siangkoan-liu-kim yang sudah sebatas leher, siangkoan-liu-kim pun berhasil selamat, Lauw-kun yang kelihatannya hanya ubun-ubun, sementara Lauw-kun bahkan hanya tangannya saja yang kelihatan menggapai, dan ironisnya sabuk kwee-kim-in hanya dapat menggapai Wan-yokong dan tidak dapat menggapai tangan Lauw-kun.

untuk menyalamatkan Wan-yokong sangat sulit, karena hanya kepala yang hampir terbenam, dengan hati sedih dan putus asa kwee-kim-in memandang suhengnya dan Waan-yokong yang lenyap ditelan lumpur.

“tidak dinyana rupanya hehat-kui-sam adalah kumpulan pengecut.” teriak Li-wan-fu dengan nada marah, kemudian ia berlari kearah hutan melewati sisi jalan lumpur, tiga rekannya yang lain segera menyusul, ditengah kemarahan dan sedih Li-wan-fu kurang waspada dan

“blup….” Tempak yang diinjaknya ternyata kubangan lumpur yang tertutup ilalang tebal, tubuhnya amblas hingga dada, kwee-kim-in dan Ui-hai-siang-liong terkejut dan berhenti,

“suheng.. jangan bergerak!” teriak Kwee-kim-in, dengan wajah cemas Kwee-kim-in bersalto kearah sebuah pohon yang agak dekat dengan rawa Lumpur itu, setelah hinggap di pohon, dengan cekatan ia turun kebawah dan berdiri diatas akar pohon, sabuknya dilempar dan tangan Li-wan-fu segera menangkap ujung sabuk, Kwee-kim-in menarik tubuh Li-wan-fu, untuk kedua kalianya Li-wan-fu selamat.

Ui-hai-liong-siang tidak bergerak dari tempatnya “bagaimana Kwee-lihap, apakah Li-sicu baik-baik saja.” “ya… saya baik-baik saja Yo-taihap, jawab Li-wan-fu

“sebaiknya kita menuju kehutan lewat pepohonan.” seru Kwee-kim-in, Ui-hai-liong-siang pun melakukan apa yang dikatakan Kwee-kim-in, setelah melihat Ui-hai-liong-siang melompat dari pohon ke pohon, kwee-kim-in dan Li-wan-fu segera menaiki pohon dadan melompat laksana monyet yang tangkas, Kwee-kim-in dengan bantuan sabuknya sudah lebih dulu sampai kedalam hutan.

Setelah tiga rekannya sampai, mereka lenih dalam masuk kehutan

“Hehat-kui-sam, tunjukkan muka kalian!” teriak Li-wan-fu, tiba-tiba empar rangkum tenaga sakti menderu kearah mereka, dengan reflek empat pendekar itu menyambut dengan tenaga sin-kang

“dhuarr…dhuar…..dhuar….dhuar….” empat ledakan terdengar akibat bertemunya sin-kang masing-masing. Dan naas bagi Li-wan-fu, ternyata sin-kang yang dihadapinya adalah sin-kang Pah-sim-sai-jin, tubuh Li- wan-fu terlempat dan melabrak sebuah pohon hingga tumbang, Li-wan-fu merasa dadanya sesak, kepalanya pening dan tiba-tiba ia memuntahkan darah segar, tubuhnya terhempas ketanah dengan luka dalam yang amat parah, sementara dipihak Pah-sim-sai-jin, Hehat-kui-sam hanya terlempar dengan dada sesak.

“ternyata kamu disini pah-sim-sai-jin!” teriak Kwee-kim-in dengan sigap tangannya merogoh mahkota kura- kura dari buntalannya dan memakainya.

“hahaha..hahha she-taihap, kali ini kamu akan tunduk padaku, mahkotamu tidak akan lama bertahan dari ilmu hipnotisku.” sahut Pah-sim-sai-jin. “siang-taihap, kalian hadapi hehat-kui-sam sampai tewas, dan jika nanti pah-sim-sai-jin pingsan segera kalian selamatkan aku, kemudian ikat ditempat sunyi dan jangan menemuiku selama tiga hari tiga malam.” ujar Kwee-kim-in, lalu dengan im-yang-sian-sin-lie menyerang Pah-sim-sai-jin.

Ui-hai-liong-siang segera menyerang Hehat-kui-sam, duel yang seru dan dahsaytpun terjadi, pedang ui-hai- liong-siang laksana kilatan petir sambar menyambar mencecar tiga lawannya, perpaduan thian-te-itp-kiam mengurung tubuh ketiga lawannya, hehat-kui-sam bertahan sedaya upaya sambil berusaha membalas, selama seratus jurus hehat-kui-sam masih mampu mengimbangi serangan bertubu-tubi dari suami istri yang kosen itu.

Sementara itu Kwee-kim-in dan pah-sim-sai-jin terlibat pertempuran yang tidak kalah menegangkan, laksana dewi bertangan empat Kwee-kim-in mendesak pah-sim-sai-jin, namun desakan itu tidak menyulitkan pah-sim-sai-jin, karena Kwee-kim-in harus menjaga jarak dari bau apek yang dikeluarkan pah- sim-sai-jin.

Pukulan-pukulan yang mengandung tenaga im-yang membuat pah-sim-sai-jin kewalahan. “berlutut..! segera berlutut…!” teriak Pah-sim-sai-jin

“tidak….! aku tidak akan berlutut!’ teriak Kwee-kim-in, seruan-seruan itu pun sahut-menyahu dan bergema didalam hutan.

Yo-hun melirik pertempuran Kwee-kim-in dan pah-sim-sai-jin yang tergolong unik itu, keduanya saling berdiri dan berseru-seru, mereka tidak terpengaruh oleh teriakan pah-sim-sai-jin.

“hun-ko segera kita harus bereskan hehat-kui-sam, saya lihat pertempuran kwee-lihap pada tarap pengerahan sin-kang.’ seru siangkoan-lui-kim, lalu dengan gerakan laksana elang dengan kecepatan kilatan halilintar, Lui-kim mencecar tubuh Seng-teng-sianli, Seng-teng-sianli terpapar pada sebuah pohon, dan serangan susulan Liu-kim yang dahsyat tidak dapat dihindari.

“crak…crat…cratt…” satu bacokan menebas lengan dan dua kali sabetan mengnai Seng-teng-sian-li, Seng- teng-sianli ambruk bersimbah darah, sementara empat jurus kemudian Yo-hun menusuk dada Ui-hai-sian, dan ketika pedang dicabut sebuah pukulan pek-lek-jiu menghantam ulu hati, ui-hai-sian terlempar dua meter, lalu kemudian tewas.

“Li-ciangbujin masih mengadakan perlawanan segit, Ui-hai-liong-siang dengan rangakain ilmu yang luar biasa dahsyat terus mendesak Li-ciangbujin, akhirnya lima puluh jurus kemudian Li-ciangbujin meregang nyawa dengan dua pukulan pek-lek-jiu yang bersarang didada dan lambung dan satu sabetan lui-kim yang merobek perutnya. Li-ciang-bujin ambruk tewas menyusul dua rekannya.

Ui-hai-liong-siang menonton pertempuran sahu-sahutan antara pah-sim-sai-jin dan Kwee-kim-in, hingga akhirnya teriakan pah-sim-sai-jin lebih lantang dan bergema, dan pada seruan puncak, pah-sim-sai-jin pingsan sementara Kwee-kim-in juga pingsan, siangkoan-lui-kim segera menyambar tubuh Kwee-kim-in, dan menyingkir dari tempat itu melompat dari pohon ke pohon yang disusul Yo-hun.

Ui-hai-liong-siang berhasil meninggalkan hutan hutan lumpur dan terus kembali ke penginapan, sesampai dipenginapan buntalan wan-yokong dan guci yang berisi empedu dikemas, lalu keduanya meninggalkan kota hehat menuju wilayah timur, sehari semalam Ui-hai-liong-siang membawa Kwee-kim-in yang pingsan. “kita istirahat dihutan depan sana Kim-koi.” ujar Yo-hun, sambil mencari tempat yang nyaman, Yo-hun mencari-cari binatang buruan, dan ia mendapatkan seekor kelinci yang gemuk.

Di tempat yang agak luas, keduanya istirahat, Lui-kim meletakkan tubuh Kwee-kim-in, Yo-hun membuat api untuk memanggang daging kelinci

“menurut hun-ko apa yang terjadi dengan kwee-lihap?”

“dari pesannya sebelum bertempur, ia akan terpengaruh ilmu hipnotis pah-sim-sai-jin.” “hmh…dan akan kembali normal jika sudah tiga hari.”

“benar, demikianlah mungkin maksud pesan itu.” “dan ini mahkota dipakai saat menghadapi pah-sim-sai-jin, gunanya untuk apa yah?’

“tentunya untuk menghadapi ilmu hipnotis pah-sim-sai-jin, dan itupun tidak seratus persen dapat ditangkal.” “bagaimana bisa koko menyimpulkan demikian?”

“dari pesan kwee-lihap, sudah pasti ia pernah menghadapi pah-sim-sai-jin, dan mahkota ini disediakan untuk menangkalnya, namun tetap saja kwee-lihap terpengaruh.”

“lalu dimanakah kita tinggalkan kwee-lihap? tanya Lui-kim

“disini saja, dan kita akan menunggunya di kota atau kampung terdekat.” “dan katanya dia haraus diikat, dan kita tinggalkan, maksudnya untuk apa?”

“tentu untuk menyelamatkan kita, sebab kalau dia sadar, tentunya ilmu kita tidak akan dapat mengalahkannya, bahkan mungkin kita akan tewas ditangannya.

“alangkah hebatnya ilmu pah-sim-sai-jin itu, kwee-lihap saja yang memiliki sin-kang diatas kita, bahkan sudah ditangkal dengan mahkota, tetap saja ia terpengaruh.”

“baiklah, sebelum kwee-lihap kita tinggalkan, bagus apabila panggang kelinci juga kita sediakan, sehingga saat dia sadar, dia sudah punya makanan.”

“baiklah kalau begitu, pergilah koko mencarinya, dan jangan lupa membawa serat kayu untuk mengikat kwee-lihap” sahut Lui-kim, Yo-hun meninggalkan keduanya untuk berburu binatang.

Tidak lama kemudian ia kembali dengan seekor kelinci dan seekor ayam, Lui-kim memanggang buruan tersebut, setelah itu Lui-kim mengikat kwee-lihap pada sebatang pohon dengan serat kayu, kemudian keduanya meninggalkan kwee-lihap melanjutkan perjalanan memasuki wilayah timur.

Seminggu kemudian Ui-hai-siang-liong sampai dikota Jing-an

“Kita disini saja menunggu Kwee-lihap.” ujar Yo-hun, lalu keduanya memasuki penginapan “apakah ada kamar? kami mau menyewa kamar.” tanya Yo-hun

“ada tuan, mari saya antarkan.” sahut pelayan, pelayan itu membawa suami istri menuju kamar, dan merekapun istirahat.

Keesokan harinya Pah-sim-sai-jin sampai dikota Jing-an, setelah sehari pingsan, pah-sim-sai-jin melanjutkan perjalanan, tujuannya hendak ke Hanzhong untuk melihat perkembangan aksi tiga bonekanya”Hanzhong-koai-sam”, saat ia sedang melalui jalan yang ramai oleh para penduduk yang lalu lalang, tiga orang pemuda tampan dan kaya sedang bersenda gurau disebuah jembatan.

“Tan-siocia memiliki wajah cantik, tapi tidak satu pun dari kita yang dapat menaklukkan hatinya.” “apakah menurutmu ia sudah bertunangan Ouw-lam?” tanya temannya

“kalau dilihat gelagatnya sepertinya sudah Ong-kui.” jawab Ouw-lam dengan mimik kecewa. “Yan-bui kan belum pernah mencoba karena baru pindah kesini.” ujar Ong-kui

“bagaimana menurutmu Yan-bui?” tanya Ouw-lam

“kalian ini seperti kurang kerjaan saja.” sahut Yan-bui pringas pringis

“menaklukkan hati Tan-siocia bukan hal spele, kamu belum melihat wajahnya Yan-bui, kalau kamu sudah melihat, pasti kamu juga terpana.” sela Ong-kui “masalahnya aku juga sudah ditunangkan, jadi tidak berani untuk bermain api hingga melanggar aturan keluarga.”

“ahh…kamu ini terlalu manut pada aturan, kita hanya main-main.” “Ong-kui bagaimana kalau kita taruhan?”

“taruhan bagaimana maksudmu Ouw-lam?”

“bertaruh berhasil tidaknya Yan-bui menaklukkan hati Tan-siocia

“kalian jangan keterlaluan mempermainkan hati orang lain, sudah ayo kita pulang.” sela Yan-bui, sambil senyam-senyum Yan-bui diledekin oleh kedua temannya.

“heh..kalian bertiga! katakana dimana kediaman Tan-siocia!?” ujar Pah-sim-sai-jin mendekati tiga kongcu itu “kamu siapa? kenapa nanya-nanya soal Tan-siocia?” sahut Ouw-lam dengan nada tidak senang.

“aku ingin menaklukkannya, kalau ia memang cantik sebagaimana kalian bincangkan.”

“hahaha..hahaha….. dengan wajah totolmu itu dan juga umurmu jelas sudah tua, mana mungkin Tan-siocia mau padamu.” Ujar Ong-kui

“kalau aku berhasil bagaimana?” tantang Pah-sim-sai-jin

“kalau kamu berhasil, aku akan memberimu lima tail perak.” sahut Ouw-lam

“hehehe….phuah…. aku tidak ingin uangmu, tapi aku ingin nyawamu.” ujar Pah-sim-sai-jin, tiga kongcu itu terperanjat.

“sudahlah, mari kita pulang dan tidak usah meladeni orang tua yang tidak tahu diri ini.” sela Yan-bui. “hahahaha… cepat tunjukkan dimana rumuh Tan-siocia!?” bentak Pah-sim-sai-jin

“tidak, kami tidak mau berurusan denganmu.” sela Ong-kui

“sialan… prak…” bentak Pah-sim-sai-jin sambil menampar muka Ong-kui hingga pecah, Ongkui tewas seketika, Yan-bui dan Ouw-lam terkejut ketakutan

“apa kalian masih membandel!”

“ba..baik….rumahnya di sebelah utara gang ke lima dan rumah bertembok dengan warma kuning.”

“hahaha..hahha… aku pergi, prak..prak…” sahut Pah-sim-sai-jin tertawa sambil memukul kepala dua kongcu hingga tewas

Kejadian itu membuat beberapa orang yang sempat menyaksikan heboh, Ui-hai-liong-siang mendekati kerumunan orang melihat tiga jasad kongcu

“orang itu sangat sadis sekali hiiiih..” sela laki-laki tua yang menyaksikan kejadian tersebut “Pek-can kenapa dia membunuh ketiga kongcu ini?”

“saya dengar mereka membicarakan Tan-siocia.” “orangnya bagaimana Pek-can?”

“orangnya lelaki berumur wajahnya bercacar.

“dimanakah rumah Tan-siocia tersebut?” tanya Yo-hun menimpali “rumahnya disebelah utara gang kelima, rumahnya berpagar warna kuning.” jawab pek-can, Yo-hun dan Lui-kim segera meninggalkan kerumunan orang menuju utara kota.

Rumah Tan-wangwe tergolong mewah, berdiri megah di uatara kota, sebagai seorang pedagang yang sukses Tan-wangwe memiliki kekayaan yang melimpah, beliau memiliki seorang putri bernama Tan-mei-lin. Tan-mei-lin berumur sembilan belas tahun dan merupakan kembang kota yang Jiang-an.

Siang itu Tan-mei-lin sedang duduk santai di tengah taman dibelakang rumahnya, bunga-bunga yang bergoyang dibelai hembusan angin sore, menebar semerbak mewangi, Tan-mei-lin tidak menyadari bahwa dirinya diintai lelaki tua menegrikan dengan sebongkah hasrat mesum.

“hehehe..heheheh…. kecantikan nona memang bukan luarbiasa.”

“hih…siapa kamu, kenapa memasuki taman belakang rumahku.” sahut Tan-siocia dengan wajah takut “hahaha..hahha…manis aku datang untuk bersenang-senang denganmu.”

“ah… tidak…pengawal..pengawal….!” teriak Tan-mei-lin, namun tidak ada yang datang

“hahaha..hahaha… pengawalmu semua sudah lelap, dengarlah nona aku adalah kekasihmu yang menyenangkan, lihatlah..!” ujar Pah-sim-sai-jin, Tan-mei-li sontak nanar, wajahnya yang pucat berobah merah dengan senyum malu

“koko… kamu datang, duduklah kesini, bukankah taman bungaku ini indah?” ujar Tan-mei-li mesra “hehehe..heheh benar manis, dan akan lebih indah jika kita memadu kasih mesra.”

“ah..koko, aku akan ikut apa keinginanmu.” sahut Tan-mei-lin, Pah-sim-sai-jin dengan lembut menarik Tan- mei-lin kedalam pelukannya, dan kemudian dengan kasar tangannya menggeranyangi tubuh Tan-mei-lin, Tan-mei-lin dengan pasrah menyerah menerima ciuman dan lumatan pah-sim-sai-jin, dia tidak lagi menyadari apa yang terjadi pada dirinya, satu-satu pakaiannya sudah dilepas pah-sim-sai-jin yang semakin birahi, Tan-mei-lin hanya merintih dan mengerang kenikmatan akan panasnya birahi, rejangan Pah-sim-sai- jin pada tubuh telanjangnya dinikmati sepenuhnya.

Ui-hai-liong-siang sampai didepan rumah berpagar warna kuning, keadaan dalam rumah itu tenang sekali, Ui-hai-liong-siang segera memasuki rumah, diruang tengah Tan-wangwe duduk sambil mengisap hauwcenya sementara istrinya menyulam disampingnya, tatapan mereka kosong ketika melihat Ui-hai-liong- siang memasuki ruangan, keadaan orang dirumah itu dalam belenggu hipnotis pah-sim-sai-jin, lima belas penghuni rumah semuanya laksana mayat berjalan.

“mereka semua dalam pengaruh pah-sim-sai-jin, apa yang harus kita lakukan Hun-ko?” “sepertinya kita tidak dapat menyelamatkan keluarga ini, sebaiknya kita kembali.”

“lalu kenapa kita kesini kalau tidak berbuat apa-apa?”

“kita hanya memastikan keberadaan pah-sim-sai-jin, marilah kita kembali kepenginapan.” sahut Yo-hun, kemudian Ui-hai-liong-siang meninggalkan rumah Tan-wangwe.

Sesampai di penginapan, suami istri itu mandi, dan kemudian turun untuk makan, lalu istirahat “apa rencana kita selanjutnya Hun-ko!?”

“kita akan tetap menunggu Kwee-lihap baru melanjutkan perjalanan.” “kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan besok?”

“perjalan berbareng pah-sim-sai-jin amat berbahaya bagi kita.” “Hun-ko sepertinya takut berhadapan dengan pah-sim-sai-jin.” “bisa dikatakan demikian kim-koi, hanya demi kewaspadaan, lain hal kalau sudah tidak ada pilihan, aku akan tetap berani menghadapinya.”

“lalu apakah dengan kehadiran kwee-lihap, kita baru memiliki keberanian?” “sedikit banyaknya begitulah kim-moi?”

“kenapa hun-ko jadi pengecut begitu?”

“Kim-moi, kenapa kamu katakan demikian, waspada dan pengecut dua hal yang berbeda.” “hmh…sejak kwee-lihap bersama kita, Hun-ko demikian bergantung pada dirinya.”

“hehehe..hehehe…., kim-moi, janganlah kekanak-kanakan begitu, aku merasakan kecemburuan pada nada bicaramu.”

“siapa yang kekanak-kanakan?” sahut Lui-kim agak sedikit keras

“maaf moiku sayang, kalau aku salah, apakah menurutmu jika kita bertemu dengan pah-sim-sai-jin, kita akan dapat selamat?”

“walaupun kita mati, hal itu adalah resiko dalam membela kebenaran.”

“benar, itu adalah resiko, namun menanggung resiko dengan dasar berani tanpa perhitungan dan pertimbangan amatlah disayangkan.”

“maksudmu Hun-ko?”