-->

Kembalinya Si Manuisa Rendah (Sai Jin Lu) Jilid 4

Jilid 4

Dua jam kemudian mereka kembali istirahat, karena merasa kecapean, terlihat dari nafas mereka yang memburu

“hah..ini lagi gundukan tadi dan ini lagi pohon tumbang tadi.” seru seorang dari mereka “hmh…ini pohon yang tadi saya duduki.” gumam seorang yang paling tua diantara mereka. “hmh..kenapa seperti ini sicu, apa yang terjadi dengan kita?”

“mungkinkah kita hanya berputar-putar diareal ini saja?”

“aduh perutku sangat lapar, sebaiknya kita cari binatang buruan untuk makanan.”

“benar aku juga merasa sangat lapar.” sahut yang lain, lalu merekapun mencari-cari binatang buruan, namun sampai malam tiba mereka tidak mendapatkan seekor apapun untuk dimakan.

Kelimanya menggeloso lemas, setelah malam kian merambat tiba-tiba seorang dari mereka melihat seeor ayam hutan

“itu ada seekor ayam hutan.”

“mana ayam hutannya?” tanya empat orang rekannya “itu bukan ayam hutan tapi ular.”

“bukan ular tapi tikus hutan.” sela yang lain “kalian ini bagaimana sih, bebek kok dikatakan tikus hutan.” “kalian salah semua yang benar itu adalah anjing hutan.”

Kelimanya berbantah-bantah tentang apa yang mereka lihat, lalu mereka terdiam dan saling pandang

“iihh..hutan ini rasanya aneh dan mengerikan, mungkin kita ini kerasukan siluman hutan ini.” seru yang tertua dari mereka, empat rekannya ikut merinding ketakutan

“apa yang harus kita lakukan sicu, badanku tidak dapat lagi bergerak saking lapar dan lemasnya.”

“saya juga merasakan hal yang sama.” Sahut empat rekannya serempak, kemudian terdengar desisian binatang dari semak-semak

“ihh..ular..ular datang mendekati kita.” teriak seorang dari mereka dan hendak bangkit dari tempat dia merebahkan diri, namun badannya tidak kuasa ia angkat, yang lain juga merasakan hal yang sama, wajah mereka pucat ketakutan memandang kearah segerombolan ular yang merayap mendekati mereka

“aduh…. Agh….. ahhhh…aouw……aduh……” teriak mereka berberangan karena ular-ular itu sudah mematuk tubuh mereka, berkali-kali mereka menjerit kesakitan akibat patokan ular yang bertubi-tubi, tubuh mereka tegang meredam rasa sakit bisa ular yang meracuni darah mereka, tiba-tiba segerombolan serigala muncul dengan lidah menjulur, dengan buas serigala-serigala itu menerkam tubuh mereka yang sedang menggeliat tidak berdaya dan kesakitan.

Naas dan malang nasib kelima orang tersebut, tubuh mereka dirobek-robek oleh serigala, dikelarutan malam yang mengerikan itu kelimanya tewas menjadi santapan binatang hutan yang buas, mereka sekarat saat dicabik-cabik serigala sehingga kelimanya tewas mengenaskan, di dalam kamar disebuah likoan dimana Pah-sim-sai-jin berada, tersenyum puas sambil merebahkan diri dan menarik selimut hangat menjemput tidur

“mampuslah kalian berani menentang keinginan Pah-sim-sai-jin.” gumamnya dengan seulas senyum sinis.

Keesokan harinya Pah-sim-sai-jin meninggalkan kota Yinchuan dan berlari cepat kearah wilayah timur, dia ingin memamfaatkan momen pertemuan yang akan diadakan di kota Sinyang untuk menjalankan misi kejahatannya, setiap desa dan kota yang disinggahinya, Pah-sim-sai-jin selalu membuat kacau dan meneroror orang-orang yang bertemu dengannya atau yang sengaja ia datangi, momok Pah-sim-sai-jin kembali bergema membuat orang ngeri dan ketakutan.

Kota sinyang dibanjiri para kalangan dari dunia persilatan, banyak para kalangan perampok dan perguruan sesat yang datang, demikian juga para golongan pendekar, bahkan delapan partai besar yang sudah mulai tumbuh kembali ikut andil untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Pertemuan itu diadakan di”Ang-coa-kok” (lembah ular merah) di sebelah barat gerbang kota Sinyang, ciangbujin delapan partai besar sudah hadir dan membuat tenda di pinggir lembah, beberapa bukoan lain juga demikian, para perampok dan bajak juga tidak ketinggalan, beberapa pendekar baik laki-laki dan perempuan juga sudah banyak yang memasuki wilayah lembah, kumpulan kaipang juga banyak hadir dan mebuat tenda-tenda darurat bagi kumpulan mereka, Ui-hai-sian selaku sponsor pertemuan sejak dua hari yang lalu sudah berada disekitar lembah.

Keesokan harinya orang-orang itu pun bergerak turun menuju sebuah lapangan yang sangat luas, tanpa ada protokoler mereka mengambil tempat masing-masing mengelilingi area lapangan tersebut, rombongan yang pertama mengambil tempat adalah sepuluh orang dari”Kui-liong-bukoan” (perguruan naga siluman) yang berasal dari kota changchung mereka dipimpin oleh kauwsunya sendiri yang berjulukan”Hak-kwi” (si jubah setan), kemudian muncul empat orang yang terdiri dari tiga laki-laki dan seorang perempuan, mereka itu dikenal dengan”hoa-kok-kui-si” (empat siluman lembah bunga)

Kemudian disusul dua orang lelaki berumur empat puluh lima tahun, keduanya dikenal dengan julukan”Tung-san-sian-ji” (dua dewa laut timur), lalu empat rombongan rampok yang dipimpin oleh ketua masing-masing, lelu kemudian empat rombongan bajak laut, setengah jam kemudian tujuh rombongan pengemis pun sampai dilapangan tersebut dan dipimpin pangcu masing-masing. Lalu kemudian lima rombongan piauwkiok juga sampai dan mengambil tempat di antara kumpulan yang sudah hadir, ketika hari sudah siang hampir tiga ratus orang memadati lapangan pertemuan tersebut dan Ui-hai-sian pun berdiri dan melangkah ketengah lapangan.

“para hohan, sicu pangcu, kauwsu dan cianpwe yang terhormat, selamat datang saya ucapkan atas kehadirannya pada pertemuan kali ini, pada undangan yang kami sampaikan, bahwa pertemuan kita ini diadakan untuk menetapkan bengcu rimba persilatan yang selama ini tidak jelas bagi kita.”

“Ui-hai-sian yang terhormat, tidak jelas bagi kita hanya setelah kemunculan Pah-sim-sai-jin, dan ide pertemuan penetapan bengcu hari ini sudah sangat tepat, tapi kenapa she-taihap atau setidaknya pat-hong- heng-te tidak ada yang hadir pada pertemuan ini.” sela Lo-sian (dewa tua) seorang kakek berumur tujuh puluh tahun.

“Kita juga mengharapkan kehadiran dari mereka sicu, namun sampai siang begini belum ada pun dari mereka yang hadir, tapi yang jelas sebagaimana dalam undangan yang disebar bahwa Im-yang-sin-taihap sudah menyetujui pertemuan ini, jadi bagaimana menurut sicu sekalian?”

“jika memang demikian, saya juga setuju melanjutkan pertemuan ini, karena hadir tidak hadirnya she-taihap, terlebih yang tersisa hanya Im-yang-sin-taihap yang merupakan keturunan bengcu, dan juga pengambilan alihan bengcu dari tangan she-taihap tidak diperlukan karena yang ada hanya keturunan bengcu yang dalam hal ini Kwee-san-kui.” sela Wan-kui salah satu dari Tung-san-sian-ji

“JIka memang kita sama sepakat maka marilah kita mulai pertemuan ini dengan membicarakan syarat- syarat penunjukan bengcu.” sahut Ui-hai-sian

“persyaratan pada umumnya adalah yang terpandai diantara kita dalam pibu, dan juga syarat calon bengcu di ajukan oleh setidaknya lima puluh orang.” sela”Hak-kwi”

“kiranya itu saja sudah cukup, dan marilah kita mulai mengajukan calon bengcu.” Sahut Ui-hai-sian.

“kami dari kalangan Piauwsu mengajukan”Peng-twi” (tendangan garuda) sebagi bengcu” teriak orang dari kalangan piauwsu

“kami dari kalangan kaipang mengajukan”pak-kang-tung” (tongkat baja dari utara) “kami dari kalangan bajak laut mengajukan”Hak-kwi”

“kami dari kalangan tai-ong mengajukan”Mo-san-lohap” (pertapa dari gunung setan) “kami dari kalangan yang tidak punya perkumpulan mengajukan”Ui-hai-sian”

“kami dari shaolin, gobi dan kun-lun mengajukan”Pek-hak-lojin” (si tua berbaju putih) Kami dari Khotong-pai, Hoasan-pai mengajukan”Sin-ciu-sian” (dewa arak sakti)

“kami dari Hengsan-pai dan Thaisan-pai mengajukan”Liong-kiam-hiap” (pendekar pedang naga)”

“mohon kepada yang namanya telah diajukan supaya maju ketengah lapangan!” ujar Ui-hai-sian, tujuh orang segera melompat ketengah lapangan.

Peng-twi seorang lelaki tampan yang sudah berumur lima puluh tahun, demikian juga dengan”Pak-kang- tung” hanya saja Pak-kang-tung lebih pendek dari Peng-poh, sementara Hak-kwi juga berumur sepantaran dengan Peng-poh, namun wajahnya putih dengan stelan baju panjang hitam, kemudian Mo-san-lohap lelaki tua berumur enam puluh tahun dengan wajah kemerah-merahan dan mata yang sangat cipit, Pek-hak-lojin juga berumur enam puluh tahun dengan rambutnya yang panjang putih demikian juga alis matanya, kemudian Sin-ciu-sian seorang kakek bertubuh pendek dengan kumis dan jenggot yang panjang berjuntai, dan dipinggangnya tersampir guci arak, dan calon yang terakhir adalah Liong-kiam-hiap seorang lelaki berumur lima puluh lima tahun dengan perawakan kekar dan tatapan mata yang tajam, kumisnya tipis dan cambang yang tertata rapi.

“delapan calon bengcu sudah ada ditengah-tengah kita, lalu pibu yang bagaimanakah yang akan kita adakan untuk menentukan bengcu terpilih?” tanya Wan-ciangbujin dari shaolin-pai “menurut hemat saya, pibu yang kita lakukan tidak perlu berhadapan.” sela Cia-ciangbujin dari Kunlun-pai “maksudnya bagaimana Cia-tojin?” tanya Liong-kiam-hiap

“maksudnya bahwa kita akan menguji tiga dasar ilmu silat para calon, yakni menguji sin-kang, gin-kang, gwa-kang.”

Sebelum orang-orang menanggapi pernyataan Cia-tojin tiba-tiba terdengar sahutan

“tidak ada bengcu kecuali Pah-sim-sai-jin…” semua orang terkejut dan menoleh orang yang tiba-tiba muncul, sebagian besar berseru julukan orang yang baru muncul yang ternyata Pah-sim-sai-jin

“phuah…. apakah diantara kalian ada yang menantangku!?” teriak Pah-sim-sai-jin dengan nada jumawa, semuanya terdiam dengan hati kecut, tiba-tiba orang-orang golongan hitam berseru

“hidup Pah-sim-sai-jin…hidup Pah-sim-sai-jin….”

Kemudian bebrapa rombongan bergerak hendak meninggalkan tempat tersebut

“jangan ada yang beranjak dari tempat!” teriak Pah-sim-sai-jin, kemudian memejamkan mata sambil mulutnya komat-kamit

“kalian semua tunduklah padaku, tidak ada ambisi kalian kecuali hanya mengabdi kepadaku..” suara itu demikian berat dan bergema sampai kekaki bukit, tiga ratus orang dilapangan tersebut terdiam dan tertunduk, suasana hening dan mencekam.

“dengarkan aku, seluruh anggota perkumpulan mengambil tempat disebelah kiriku, dan sisanya mengambil tempat disebelah kananku!” orang-orang itu bergerak tangkas mengambil tempat sesuai dengan panggilan status mereka, tiga ratus orang itu pun terbagi dua, jumlah disebelah kiri sebanyak dua ratus orang, sementara disebelah kanan sebanyak seratus orang terdiri dari kauwsu, pangcu, ciangbujin, taihap dan lihap.

“sekarang kalian yang disebelah kiriku hormatlah padaku!”

“Pah-sim-sai-jin pimpinan kami, terimalah hormat kami.” sahut mereka serempak sambil bersujud sampai ketanah

“hahaha…hehehe..hahaha bagus….bagus… dan sekarang kalian yang berada disebelah kanan saya hormatlah padaku!”

“Pah-sim-sai-jin pimpinan kami, terimalah hormat kami.” sahut mereka serempak, dan tiga puluh orang bersujud sampai ketanah, empat puluh orang berjongkok, delapan belas orang membungkuk dan dua belas orang menundukkan kepala.

Adapaun yang menundukkan kepala adalah”Mo-san-lohap”,”Ui-hai-sian”,”Pek-hak-lojin”,”Sin-ciu- sian”,”Liong-kiam-hiap” Wan-ciangbujin dari shaolin, Song-ciangbujin dari gobi-pai, Lou-ciangbujin dari butong-pai, Lie-ciangbujin dari Hengsan-pai, Tung-san-sian-ji dan seorang wanita berumur lima puluh tahun lebih Bu-ci-lan dengan julukan”seng-teng-sianli” (dewi puncak malaikat)

Pah-sim-sai-jin tersenyum melihat ke dua belas orang itu

“kalian yang tiga puluh orang yang bersujud sampai ketanah ambil tempat disebelah kananku!” ujar Pah- sim-sai-jin, tiga puluh orang itu segera bergabung dengan orang yang berkumpul sisebelah kanan, kemudian

“kalian yang berjongkok ambil tempat di sana!” ujar Pah-sim-sai-jin sambil menunjuk sebuah batu, Cia-peng ciang-bujin Kun-lun-pai dan tiga perguruan besar lainnya ada pada rombongan ini

“kalian yang membungkuk ambil tempat disamping pohon itu!” ujar Pah-sim-sai-jin sambil menunjuk sebuah pohoh, delapan belas orang itu pun segera mengambil tempat”dan kalian yang dua belas orang dengarkan aku!” suara Pah-sim-sai-jin makin berat dan dalam, sesaat hening “kalian yang dua belas orang jalan kedepan, satu….!” ujar Pah-sim-sai-jin, dua belas orang itu melangkah sesuai aba-aba dari Pah-sim-sa-jin.

Pah-sim-saijin menghitung sampai sepuluh, dan pada hitungan kesepuluh ada empat orang yakni”Mo-san- lohap”,”Ui-hai-sian”, Wan-ciangbujin,”Sin-ciu-sian”, dua langkah dibelakang mereka berdiri Lou-ciangbujin dari butong-pai, dan satu langkah di belakang Lou-ciangbujin berdiri, Song-ciangbujin dan”seng-teng-sianli” dan dua langkah dibelakang keduanya berdiri Lie-ciangbujin, dan Tung-san-sian-ji

“kalian berempat mendekatlah!” seru Pah-sim-sai-jin, keempatnyapun melangkah mendekati Pah-sim-sai- jin, Pah-sim-sai-jin mengangkat kedua tangannya sambil membaca mantra, tubuh Pah-sim-saijin sudah basah dengan keringat yang mengalir deras, kemudian asap keluar dari kepala empat orang itu, dari kepala Mo-san-lohap keluar asap hitam dan dengan cepat meluncur kekepala Pah-sim-sai-jin, sementara asap diatas kepala Wan-ciangbujin berwarna putih, sementara diatas kepala Ui-hai-sian dan Sin-cui-sian berwarna abu-abu, warna abu-abu itu bergerak lambat meluncur kekepala Pah-sim-sai-jin, sementara asap putih diatas kepala Wan-ciangbujin masih berkutat di atas kepala Wan-ciangbujin, peperangan batin itu berlangsung lama, wajah Wan-ciangbujin semakin berkerut merah, urat di dahinya semakin menonjol membiru, dan lama kelamaan asap putih itu bergerak kearah Pah-sim-sai-jin, dan akhirnya lennya diatas kepala Pah-sim-sai-jin.

Hal yang sama dilakukan oleh Pah-sim-sai-jin kepada delapan orang lainnya, setelah itu kedua belas orang itu disuruh duduk

“kalian harus menghadap padaku jika aku panggil”Si-it-ji-sam” dengar ….!” teriak Pah-sim-sai-jin sehingga suaranya bergema jauh kekaki bukit, keempat orang itu mengangguk tiga kali, kemudian Pah-sim saijin menyuruh delapan belas orang itu duduk didepannya 

“kalian harus menghadap padaku jika aku panggil”Seng-Si-pat” dengar…!” kembali suara Pah-sim-sai-jin bergema jauh, setelah itu empat puluh orang disuruh duduk dihadapannya

“kalian menghadap padaku jika aku panggil”Thian-Tin” (barisan langit) dengar….!” Kembali suara Pah-sim- sai-jin bergema, empat puluh orang itu mengangguk tiga kali, dan yang terakhir dua rurus tiga puluh orang dpanggil”tee-tin” (pasukan bumi)

Suasana pertarungan nurani dan sihir Pah-sim-sai-jin selesai sampai matahari tenggelam, dan dalam setengah hari itu Pah-sim-sai-jin telah membetuk pasukan dibawah kendalinya, malam itu lewat dengan suasana hening dan mencekam, tubuh-tubuh manusia itu terduduk laksana arca ditengah gelapnya malam, tidak ada sedikitpun sura walaupun itu suara binatang malam, keadaan itu berlangsung sampai terbit matahari

Pah-sim-sai-jin membuka matanya dengan perlahan

“bangunlah kalian dan ini menhormatlah padaku!” ujar Pah-sim-sai-jin, semuanya sujud dihadapan Pah-sim- sai-jin

“Si-it-ji-sam…!”

“kami yang mulia..” sahut dua belas orang sambil mengangkat kepala “kalian pergi ke pulau kura-kura dan habisi nyawa she-taihap!”

“baik yang mulia, segera ditunaikan.” Sahut mereka serempak dan kemudian dua belas orang itu berkelabat dari tempat itu

“Seng-si-pat..!” “kami yang mulia..”

“kalian tumpas para penentang Pah-sim-sai-jin di empat penjuru tingkok.” “baik yang mulia, segera ditunaikan.” “Thian-tin…!”

“kami yang mulia…”

“taklukkan dan kuras harta para pejabat dan hartawan di empat penjuru tiongkok” “baik yang mulia, segera ditunaikan

“Tee-tin..!”

“kami yang mulia..”

“tebar kejahatan, tindas orang lemah, berbuatlah sesukamu pada mereka.” “baik yang mulia, segera ditunaikan”

lembah itu pun akhirnya sepi hanya tinggal Pah-sim-sai-jin yang berdiri sambil berkomat-kamit, kemudian Pah-sim-sai-jin menghilang sehingga tinggallah tenda-tenda kosong dan tungku-tungku yang sudah dingin tanpa sekam.

Siang itu Yo-hun sedang sibuk menyusun rempah-rempah, tiba-tiba dua puluh orang bertubuh kekar dan gerakan gesit mendekati tokonya, Yo-hun yang lihai segera menoleh dan menyapa dengan ramah

“siapakah para sicu, sepertinya dalam satu rombongan?”

“hancurkan rumah dan habisi nyawanya!” teriak salah seorang dari mereka

“eit tunggu dulu, apa mau kalian, kenapa hendak menghancurkan dan mau membunuh saya!?” sela Yo-hun sambil melangkah tiga tindak kedepan

“tidak usah basa-basi, mari kita bunuh!” sahut orang menjadi komando, serempak mereka bergerak menyerang Yo-hun.

Yo-hun melenting keudara, dan dengan gerakan ringan menerjang pengeroyok, semua lawannya dengan cekatan menyerang dan mendesak Yo-hun, melihat gerakan-gerakan yang gesit dan tenaga yang dikeluarkan juga tidak bisa dipandang ringan, Yo-hun tanpa memberi hati mengeluarkan ilmu simpanannya”peklek-jiu” laksana halilintar pukulan-pukulan Yo-hun menerpa tubuh lawan-lawannya, sehingga segigih apapun mereka merabgsak maju tetap saja mereka terpental dan kalang kabut.

Ketika istrinya Lui-kim pulang dari belanja dari pasar lawan Yo-hun tinggal dua orang “siapa mereka Hun-ko!?”

“tidak tahu Kim-moi, tiba-tiba mereka datang dan hendak membunuhku.” jawab Yo-hun, dan tiba-tiba dua orang itu menerjang dengan serangan mematikan, Yo-hun dengan cekatan mengibaskan pukulan halilintarnya dan

“blam…” kedua lawanya terpental dua meter dan ambruk dengan nyawa putus

“aneh kenapa mereka ini, ilmu mereka rata-rata tinggi dan sepertinya mereka ini tokoh-tokoh yang mengadakan pertemuan di”Ang-coa-kok”

“hmh… bisa jadi bahwa telah terjadi sesuau yang tidak beres di tempat pertemuan itu.”

“sudahlah, saya harus menguburkan ke dua puluh janazah ini, dan besok akan coba saya selidiki tentang pertemuan tersebut” ujar Yo-hun dan segera menggali tanah di belakang rumahnya.

Keesokan harinya, Yo-hun pergi menemui Bu-liong, seorang temannya pemasok rempah-rempah, Yo-hun berjalan buru-buru karena setelah urusan bisnisnya selesai, dia hendak ke Ang-coa-kok, ketika sampai dikediaman Bu-liong alangkah kagetnya Yo-hun melihat anak buah BU-liong banyak yang terkampar tewas dihalaman rumah, “Bu-sicu…!” panggil Yo-hun sambil melompat keteras rumah, namun tidak ada jawaban, dan hatinya makin penasaran ketika melihat dinding rumah itu juga jebol.

Dengan sikap waspada Yo-hun memasuki rumah Bu-liong yang sudah berantakan, dan juga banyak mayat bergelimpangan, Yo-hun mendapatkan Bu-liong serta anak istrinya sudah tewas dengan dada robek besar oleh luka bacokan pedang, karena tidak ada yang dapat ditanyai, Yo-hun meninggalkan tempat tersebut dan menuju sebuah toko kelontong, dan lagi-lagi Yo-hun mendapatkan mayat-mayat bergelimpangan, Yo- hun yang melihat keadaan itu makin geram dan marah.

Kemudian Yo-hun dengan terburu-buru menuju rumah Kam-kungcu, dan sesampai di kediaman Kam- kungcu seorang petugas jaga mendekat

“anda siapa? dan apa hal sehingga datang kesini?” “saya Yo-hun ingin bertemu dengan Kam-taijin.” “ada urusan apa?”

“telah terjadi pembantaian di kediaman rekan saya dan sebuah toko kelontong.”

“baiklah, mari ikut saya untuk menemui Lou-ciangkun.” Sahut penjaga dan melangkah, Yo-hun mengikuti dari belakang

Lou-ciangkun yang sedang duduk diruang tengah bersama beberapa kepala pengawal menghentikan pembicaraan ketika petugas jaga bersama Yo-hun muncul

“tuan! saudara ini hendak melaporkan sesuatu pada.” “hmh..sipakah kamu sicu!?”

“saya Yo-hun ciangkun penjual rempah-rempah.” “apa yang hendak kamu laporkan!?”

“tadinya saya hendak menemui rekan kerja saya Bu-liong seorang pemasok rempah-rempah kekota Sinyang, tapi setiba saya disana, rekan saya dan keluarganya serta para anak buahnya telah bergelimpangan tewas, kemudian sebuah toko kelontong tidak jauh dari kediaman rekan saya itu, juga saya dapati beberapa orang tewas.”

“hmh…bawalah kami kesana!” ujar Lou-ciangkun

“baik, marilah ciangkun!” sahut Yo-hun, kemudian merekapun dengan sepasukan polisi mendatangi tempat tersebut, setelah memeriksa

“sepertinya ini pembantaian, dan kalau dilihat dari luka-lukanya, mereka ini tewas oleh golongan kangowu.”

“dugaan saya juga demikian ciangkun.” sela Yo-hun, dan kemudian tiba-tiba seorang polisi datang dengan tergesa-gesa

“maaf ciangkun kita harus segera kembali ke markas, karena markas dan kediaman taijin didatangi orang- orang sakti dan membunuhi petugas.” Mendengar laporan itu segera Lou-ciangkun berlari dan diikuti semua pasukan, Yo-hun yang penasaran tentu tidak tinggal diam, dia berlari sangat cepat menuju kediaman Kam- taijin.

“dikediaman Kam-taijin sudah banyak para petugas yang tewas, Yo-hun melihat ada sepuluh orang yang dengan sadis membunuhi para petugas yang tersisa dua puluh orang, Yo-hun dengan tangkas memasuki pertempuran menghalau kesepuluh orang yang hendak menghabisi petugas

“blam….” Pukulan”pek-lek-jiu” beradu dengan pukulan lawan, empat orang lawannya mundur empat langkah sementara Yo-hun dua langkah, sepuluh orang itu mengelilingi Yo-hun yang siaga dan waspada “sicu sekalian, apa yang telah kalian perbuat ini membunuhi orang seenaknya.” tegur Yo-hun, diantara mereka itu terdapat Lo-sian (dewa tua)

“apa pun yang kami lakukan anda tidak usah ikut campur, jika tidak berarti anda juga harus mati karena telah menantang Pah-sim-sai-jin.” sahut Lo-sian, Yo-hun terpana melihat sepuluh orang yang dari gerakannya saja diketahui bahwa mereka adalah ahli silat kalangan atas, dan terlebih Yo-hun terkejut bahwa mereka ini pengikut Pah-sim-sai-jin.

Cianpwe, apa yang telah terjadi dengan kalian, kenapa sampai hati berbuat telengas seperti ini.” “sial bunuh saja orang ini!” sela yang lain, dan spontan kesepuluh orang itu menyerang Yo-hun, Yo-hun yang sudah siaga bergerak tangkas menyambut serangan lawan yang tidak ringan itu, pertempuran berangsung seru, tubuh Yo-hun dikerubuti sepuluh ahli kangowu kalangan atas, untungnya Yo-hun berbekal ilmu langka dan luar biasa, dia dia juga termasuk tokoh kalangan atas, dengan luar biasa ilmu pedangnya yang luar biasa dan pukulan yang laksana kilatan halilintar mampu mengimbangi kesepuluh tokoh kosen itu.

Dengan hati-hati dan perhitungan matang Yo-hun memapaki semua serangan dan juga berusaha untuk membalas menyerang lawan, dua ratus jurus sudah berlalu, kepiawaian Yo-hun yang laksana naga menghentak kesepuluh penyerangnya, namun walaupun demikian sepuluh lawannya tidak ada satupun yang mempelihatkan wajah jerih, muka mereka biasa-biasa saja walaupun beberapa luka dan pukulan Yo- hun mengenai mereka, mereka tidak mengeluh, hanya memang gerakan mereka lamban sesaat ketika mendapatkan sabetan pedang atau pukulan Yo-hun, namun setelah agak lama merekapun bergerak cepat seperti semula.

Hal ini membuat Yo-hun kelabakan, tiga ratus jurus sudah berlalu, Yo-hun juga sudah beberapa terluka, namnun semangatnya masih berkobar untuk menundukkan sepuluh lawannya, keganjilan lawan-lawannya ini membuat Yo-hun harus mengerahkan seluruh kegesitan dan kepandaiannya, ketika menjelang sore dimana pertempuran masih seru dan menegangkan, sebuah bayangan muncul yang ternyata yang memasuki kencah pertempuran adalah Lui-kim istrinya, dan hal ini membuat Yo-hun makin bersemangat, dengan kehadiran istrinya sepasang naga ini menunjukkan kehebatannya, dan dalam waktu satu jam, ketika malam mulai merambat, sepuluh tokoh kosen itu harus mengakui sepasang naga ini, mereka semua terkapar tewas.

Lou-ciangkun segera mendekat dan menjura

“sungguh tidak dinyana bahwa aku berhadapan dengan”Ui-hai-siag-liong” ujar Lou-ciangkun sambil menjura

“ciangkun janganlah berlebihan, situasi kita sangat genting, sebaiknya mayat-mayat ini dikuburkan dan kita membicarakan keadaan ini.” sahut Yo-hun

“hmh.. benar, marilah kita kedalam dan berbicara dengan taijin.” ujar Lou-ciangkun, ketiganya masuk kedalam ruangan dan didalam Kam-taijin dan sepuluh orang petugas berjaga-jaga.

“kenapa kamu sampai kesini Kim-moi!?” tanya Yo-hun, lalu Siangkoan-lui-kim bercerita bahwa, ketika dia sedang beres-beres di dalam toko, tiba-tiba empat puluh orang mendatangi toko

“siapa kalian!?” tanya Lui-kim

“hmh…mari kuras hartanya dan kita ringkus wanita cantik ini.” teriak pimpinan rombongan itu, serentak mereka memasuki toko dan hendak menangkap Lui-kim, Lui-kim sekali hentak telah menampar empat orang hingga terjungkal pingsan, dan Lui-kim melompat dengan gesit keluar dari tokonya dan menghadapi orang-orang itu dihalaman rumahnya.

Lui-kim bergerak cepat dan tangkas, kibasan pukulan pek-lek-jiu dan kilatan pedang thian-it-kiam yang luar biasa memporak-porandakan pengeroyok, mereka laksana laron menubruk api yang berkobar, dalam jangka satu jam dua puluh orang sudah ambruk tidak berdaya, namun hal itu tidak menyurutkan serangan para pengeroyok, mereka terus merangsak maju, Lui-kim dengan sabar dan mantap merubuhkan lawan- lawannya hingga akhirnya semuanya terkapar tewas, hal ini bukan karena Lui-kim yang kejam, akan tetapi semua penyerangnya selalu bangkit setelah ambruk, sehingga seluruh pengeroyok itu hanya bisa diam setelah nyawa melayang.

Lui-kim semakin heran dengan kejadian yang menimpa mereka, karena baru semalam dua puluh orang mendatangi toko mereka dan pagi ini datang pula empat puluh orang, dan Lui-kim juga merasa tidak enak karena suaminya juga belum kembali, segera Lui-kim masuk kedalam rumah dan memanggil pelayanya “Pek-bo tolong jaga Li-ji, dan toko segera kalian tutup, saya hendak menyusul suami saya.”

“baik kouniow.”

“dan ingat kalian jangan keluar dari dalam rumah, kunci pintu rapat-rapat.” ujar Lui-kim, empat pelayannya mengangguk, lalu Lui-kim segera keluar dan menuju tempat Bu-liong, sesampai ditempat Bu-liong Lui kim hanya mendapatkan mayat yang berserakan, Lu-kim bergerak kepusat kota, suara pertempuran dikediaman Kam-taijin menjadi perhatiannya, dan ketika melihat yang bertempur adalah suaminya, Lui-kim langsung terjun membantu suaminya.

Diruang tengah Kam-taijin dan tiga ciangkun beserta ui-hai-siang-liong mengadakan pembicaraan, dua orang pelayan menghidangkan teh hangat

“taijin situasi kita ini sungguh membuat penasaran, dimana dua pembantaian telah terjadi.” ujar Lou- ciangkun

“hmh….menurut siang-taihap, siapakah mereka yang membuat kekacauan ini?” tanya Kam-taijin “menurut saya ini ada hubungan dengan pertemuan para pendekar yang diadakan di”ang-coa-kok” “maksud taihap telah terjadi hal tidak beres pada pertemuan tersebut?”

“benar taijin.” jawab Yo-hun “hmh…lalu apa rencana siang-taihap?”

“dilihat dari kepandaian para pengacau ditempat taijin, saya yakin mereka adalah tokoh-tokoh kenamaan, dan ini sangat mengherankan karena ketika saya berhadapan dengan mereka, saya merasakan keganjilan.”

“keganjilan apa yang taihap maksud?”

“kesepuluh lawan tadi seperti boneka karena mereka menyerang tanpa basa-basi.”

“kalau hanya karena tidak ada basa-basi, menurut saya hal itu biasa saja karena mereka adalah orang kangowu yang haus darah.” sela Lou-ciangkun

“memang benar ciangkun kalau mereka penjahat sadis, namun mereka itu adalah golongan pendekar dan kenyataannya mereka itu adalah para cianpwe.” sahut Yo-hun

“hmh….jika demikian tentu telah terjadi hal yang dahsyat di saat pertemuan itu.” sela Ma-ciang-kun “kalau begitu apa yang harus kita lakukan siang-taihap?” tanya The-ciangkun

“kita tidak mengetahui persis apa yang terjadi pada pertemuan tersebut, namun melihat prilaku mereka, kita butuh orang yang bisa mengembalikan ingatan mereka.”

“apa taihap ingin mengatakan bahwa mereka semua telah dihypnotis?”

“benar taijin dan tentunya orang yang mengendalikan mereka adalah orang yang sangat luar biasa.” “lalu kepada siapakah kita minta bantuan untuk itu?”

“jalan satu-satunya kami harus ke pulau kura-kura untuk bertemu dengan she-taihap Im-yang-sin-taihap untuk membicarakan kemelut ini, namun sebaiknya kita tunggu beberapa hari ini untuk melihat keadaan disini.”

“hmh…benar juga dan saya atas nama seluruh penduduk sinyang mengucapkan terimaksaih kepada Ui-hai- siang-liong yang demikian peduli dengan keadaan kita ini.”

“sudah bagian dari tugas-tugas kami tai-jin.” “baik kalau begitu, jadi Lou-ciangkun, Ma-ciangkun dan The-ciangkun kalian perketat penjagaan dan sebar penyidik untuk melihat kedaan kota.”

“baik taijin.” sahut ketiga ciangkun dan dengan sigap meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah. “kami juga mohon pamit taijin.” ujar Yo-hun

“baiklah siang-taihap, dan jika saatnya siang-taihap akan berangkat, saya minta siang-taihap meberi tahu saya.”

“baiklah tai-jin, kami permisi dulu.” sahut Yo-hun dan sepasang pendekar itu meninggalkan kediaman Kam- tai-jin

Sesampai dirumah, Ui-hai-siang-liong selalu waspada, dan tiga hari kemudian The-ciangkun datang dan melaporkan kekacauan di rumah Lu-wangwe, dan tanpa menunda waktu, sepasang pendekar itu menuju kediaman hartawan Lu, pasukan Ma-ciangkun terdesak hebat diserang dua puluh orang pengacau

“saudara-saudara tolong mundur!” teriak Yo-hun sambil melompat kearena pertempuran, pasukan yang sudah kewalahan dan luka-luka mundur, Yo-hun dengan gerakan gesit menghadang serangan pengacau.

“kali ini Yo-hun berusaha untuk tidak menjatuhkan dengan tangan maut, karena ingin mengamati keadaan pengacau, tapi kenyataannya jika lunak membuat lawan makin merangsak maju, luka ringan yang mereka derita akibat pukulan Yo-hun tidak mereka rasakan, dan bahkan membuat Yo-hun makin sibuk, Lui-kim maju membantu suaminya

“usahakan jangan ada yang tewas Kim-moi!” teriak Yo-hun, Lui-kim mengangguk dan memulia serangan dengan kelincahannya yang luar biasa, para pengacau terus melawan tanpa sedikitpun lelah dan gentar, Ui- hai-siang-liong dengan sabar dan kokoh merobohkan semua pengacau, hingga menjelang sore dua puluh orang itu ambruk semua, enam orang tewas, sepuluh orang pingsan dan empat orang luka berat tapi masih sadar.

Yo-hun mengikat empat orang itu di tiang rumah Lu-wangwe, Ui-hai-siang-liong dan ketiga ciangkun berdiri mengamati emapat orang itu, mata keempat orang itu masih menyiratkan kemarahan menatap Ui-hai-siang- liong

“bagaimana Hun-ko, keganjilan apa yang ada pada mereka?”

“sebentar Kim-moi, aku akan coba ajak mereka bicara.” jawab Yo-hun sambil maju satu langkah

“siapakah kalian? kenapa membunuhi orang-orang dengan demikian ganas?” tanya Yo-hun, mata empat orang itu bersinar tajam menatap Yo-hun sambil menggeram marah, sampai lama mereka tidak menjawab kecuali hannya menggeram

“hmh…apakah kalian peserta pertemuan pemilihan bengcu di ang-coa-kok?” lagi-lagi keempat orang itu mengerang marah

“betul dugaan taihap, mereka ini seperti boneka.” sela Lou-ciangkun, Yo-hun berpikir keras untuk menyelidiki penyebab keganjilan para pengacau ini

“apakah Ui-hai-sian memimpin pertemuan itu? siapakah yang telah ditunjuk menjadi bengcu?” tanya Yo- hun, tiba-tiba empat orang itu terdiam dan menundukkan kepala, Yo-hun saling pandang dengan istrinya

“dimanakah Ui-hai-sian?” tanya Yo-hun, kemudian empat orang itu mengangkat kepala dengan tatapan tajam dan muka bringas sambil meronta

“siapakah yang telah kalian tunjuk menjadi bengcu!?” sela Lui-kim, tiba-tiba empat orang itu diam dan menunduk lagi, Yo-hun memandang istrinya

“bagimana menurutmu Kim-moi?”

“mereka mengkin telah dikendalikan oleh yang diakui sebagai bengcu.” jawab Lui-kim “siapakah sekarang bengcu dunia persilatan?” tanya Yo-hun, empat orang itu tetap diam dan menunduk

“apakah bengcu yang mengutus kalian dan menyuruh berbuat onar seperti ini?” tanya Yo-hun, namun tidak ada jawaban yang keluar dari empat orang itu kecuali hanya diam dan menunduk.

“bagimana siang-taihap, apa yang harus kita lakukan?” tanya Lou-ciangkun

“hmh…yang tewas kita kuburkan, dan yang masih hidup kita giring kepenjara, setelah itu kita akan menemui Tai-jin.”

“baiklah kalau begitu.” sahut Lou-ciangkun dan memerintahkan kepada pasukan untuk menguburkan yang tewas dan mengikat yang masih hidup, lalu malam itu mereka kembali ketempat Kam-tai-jin, sementara Lui- kim kembali kerumah untuk menjemput anaknya Yo-seng. 

Diruang tengah kediaman Kam-tai-jin kembali Kam-tai-jin menerima Ui-hai-siang-liong “bagaimana siang-taihap, apakah dalang kekacauan ini sudah diketahui?”

“sudah taijin, hanya sanya namanya belum kita dapatkan.” “maksudnya bagaimana taihap?”

“dalangnya adalah bengcu yang mereka tunjuk dan nama bengcu tersebut belum kita ketahui.” “hmh…lalu bagaimana selanjutnya taihap?”

“besok kami akan menemui mereka lagi dipenjara.”

“baiklah kalau demikian siang-taihap, bermalamlah disini.” ujar Kam-tai-jin dan menyuruh pelayan menyediakan kamar tamu bagi Ui-hai-siang-liong.

“apa yang akan kita lakukan besok Hun-ko?”

“kita akan mengungkap siapakah bengcu yang telah ditunjuk.” “menurut Hun-ko siapakah kiranya yang menjadi bengcu?”

“kalau menurut perkiraan saya yang mungkin jadi bengcu adalah Ui-hai-sian, tapi tidak mungkin jika melihat reaksi dari orang-orang itu.”

“benar Hun-ko, lalu siapa lagi kira-kira yah?”

“hmh… saya akan coba ajukan tiga nama lagi besok.” “siapakah itu Hun-ko?”

“Mo-san-lohap”,”Pek-hak-lojin” dan”Sin-ciu-sian”

“lalu apakah kita akan tetap menemui Im-yang-sin-tai-hap?”

“benar istriku, karena bagaimanapun, dalang yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan.”

“baiklah, sekarang kita istirahat saja.” sahut Lui-kim, keduanya menuju ranjang empuk dan membaringkan tubuh dan tidur sambil berpelukan.

Keesokan harinya Ui-hai-siang-liong beserta tiga ciangkun mendatangi penjara, empat belas orang pengacau itu semuanya diam tertunduk dibalik jeruji besi, ketika Ui-hai-siang-liong datang, sikap mereka masih tetap diam tertunduk.

“tolong beritahu kami siapa yang telah ditunjuk menjadi bengcu.” ujar Yo-hun, semuanya diam tertunduk “apakah Mo-san-lohap?” tanya Yo-hun, mereka tidak menggubris “apakah Pek-hak-lijin…..?”

“atau Sin-ciu-sian….” ujar Yo-hun, para pengacau tidak ada yang menjawab, Yo-hun tercenung

“apakah mungkin bengcu kalian Pah-sim-sai-jin!?” sela Lui-kim, tiba-tiba mereka berlutut, melihat reaksi dari para pengacau Yo-hun dan istrinya saling pandang.

“hmh…berarti ini semua ulah dari pah-sim-sai-jin.” sela Yo-hun

“kalau begitu Pah-sim-sai-jin telah kembali dan tentunya ini adalah hal yang gawar.” ujar Ma-ciangkun.

“apa yang harus kita perbuat taihap, jika pah-sim-sai-jin telah kembali, kita akan mengalami hal-hal yang suram.”

“kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menentang kembalinya Pah-sim-sai-jin, jadi sebaiknya kami akan mengadakan perjalanan ke pulau kura-kura dan mengatur langkah-langkah penanggulangan bersama she- taihap.”

“benar taihap, semoga saja ui-hai-siang-liong dan she-taihap dapat mencegah keburaman dunia kangowu akibat kembalinya pah-sim-sai-jin.” sahut Lou-ciangkun, kemudian Ui-hai-siang-liong kembali kerumah mereka setelah pamit kepada Kam-tai-jin.

“hwa-kok” pagi itu sangat sejuk, dedaunan penuh bintik embun yang berkilau ditimpa cahaya mentari, didepan sebuah pondok yang mungil dan bersih seorang perempuan cantik dengan anggun sedang menikmati bersihnya udara pagi, perempuan itu adalah Kao-in-hong, namun ketenangan yang damai itu terusik oleh kemunculan sepuluh orang yang gerakannya begitu lincah, mereka rata-rata berumur lima puluh tahun lebih, Kao-hong-li membuka matanya dan segera berdiri menyambut ketangan sepuluh orang tua tersebut

“selamat bertemu para cianpwe, siapakah gerangan para cianpwe dan ada apakah sehingga berkunjung ketempatku yang terpencil ini?” tanya Kao-hong-li lembut, namun sapaan ramah itu tidak mendapat jawaban kecuali hanya tatapan tajam, Kao-hong-li terkesiap setelah melihat tatapan-tatapan yang menggiriskan itu, tiba-tiba dua orang dari mereka menerkam kearah Kao-hong-li, Kao-hong-li dengan gesit menghindar dan menjauh

“ada apa cianpwe, kenapa tiba-tiba menyerang tanpa alas an.” tegur Kao-hong-li, kedua orang itu makin gencar menyerang Kao-hong-li, keadaan yang ganjil itu membuat kao-hong-li bersikap lebih waspada.

Sampai tujuh puluh jurus Kao-hong-li masih dapat bertahan dan menghindar, karena merasa tekanan makin kuat, Kao-hong-li mulai membalas serangan, pertempuran seru dan segitpun terjadi, Kao-hong-li mengerahkan seluruh kemampuan untuk merubuhkan dua lawannya, namun baru lima puluh jurus tiga orang dari mereka terjun membantu kedua temannya, keadaan yang imbang itu drastis menyudutkan Kao- hong-li, kelima orang itu adalah golongan yang disebut pah-sim-sai-jin dengan sebutan thian-teen.

Kao-hong-li terdesak hebat, bebrapa pukulan sudah bersarang ditubuhnya dan mengakibatkan luka dalam, Kao-hong-li menjadi bulan-bulanan karena dikurung lima kawakan setarap ciangbujin, ketika Kao-hong-li terhempas ketanah akibat dorongan pukulan sin-kang dari seorang lawanya kemudian disusul tendangan memataikan yang mengarah kepala Kao-hong-li sudah tidak dapat mengindar, namun saat itu dua bayangan gesit muncul dan menyelamatkan tubuh Kao-hong-li.

Lima orang itu dengan bringas menyerang dua orang yang baru datang, kedua bayangan itu dengan cepat dan akurat memmbalas serangan sehingga membuat kelimanya terlempar laksana layangan putus, kedua orang itu adalah Ui-hai-siang-liong yang mengadakan perjalanan keselatan dengan mengambil jalur ketimur, melihat keadaan lima rekan mereka yang terlempar lima orang yang lain menyerbu.

Ui-hai-siang-liong yang paham karakter musuh yang mengeroyok dengan kekuatan ilmu keduanya mencoba bergerak cepat untuk menundukkan sepuluh orang tersebut, dan dalam lima puluh jurus sepuluh orang itu pun terbujur pingsan dengan luka dalam akibat kekuatan pukulan pek-lek-jiu dan luka akibat sabetan pedang, setelah semuaya rubuh, Lui-kim mendekati Kao-hong-li yang dijaga oleh anaknya Yo-seng yang berumur enam tahun, sementara Yo-hun mengikat tangan dan kaki sepuluh orang itu.

Kao-hong-li siuman dari pingsannya setelah bebrapa bagian tubuhnya di pijat oleh Lui-kim “istrirahatlah dan jangan banyak bergerak.” ujar Lui-kim

“terimakasih lihap telah menyelamatkan saya.” sahut Kao-hong-li “sama-sama, apakah pondok ini kamu yang punya?”

“benar lihap…”

“kalau begitu saya akan bawa kamu kedalam.” ujar Lui-kim dan menggendong Kao-hongli kedalam pondok.

Didalam pondok Lui-kim mencoba menyalurkan tenaga dalam untuk memulihkan Kao-hong-li, pengobatan itu hampir satu jam

“sudahlah lihap, lukaku semakin membaik dan nafasku sudah kembali normal.” ujar Kao-hong-li, Lui-kim menghentikan penyaluran tenaganya, kemudian keduanya keluar dari kamar dan diruang tengah Yo-hun dan putranya Yo-seng sedang duduk menunggu.

“bagaimana sepuluh cianpwe itu Hun-ko?” tanya Lui-kim

“mereka sudah saya ikat dan semuanya sudah siuman.” jawab Yo-hun, lalu ketiganya keluar melihat sepuluh orang yang tersebut

“apa yang kita akan lakukan dengan mereka ini Hun-ko?” “entahlah aku juga bingung melihat mereka ini.”

“lihap apakah kalian kenal orang-orang ini?” sela Kao-hong-li “kenal sih tidak…..”

“kao-hong-li-namaku kao-hong-li.” sela Kao-hong-li karena jawaban Lui-kim tergantung

“kao-hong-li, kami tidak kenal, namun karakter mereka ini dikendalikan oleh manusia durjana.” “maksud lihap, mereka bertindak bukan atas kehendak mereka!”

“benar, demikianlah keadaan mereka li-moi.” “lalu siapakah yang mengendalikan mereka?”

“yang mengendalikan mereka adalah Pah-sim-sai-jin.” sela Yo-hun

“hah…Pah-sim-sai-jin!?” sahut Kao-hong-li terkejut, Ui-hai-siang-liong menatap Kao-hong-li heran “maaf, kalau boleh tahu siapakah kalian yang telah menolongku ini?”

“kami adalah Ui-hai-siang-liong dan ini Yo-seng anak kami.” jawab Lui-kim

“ah ternyata ui-hai-siang-liong, terimakasih sekali laagi.” sahut Kao-hong-li sambil menjura. “sudahlah Li-moi, kita harus memikirkan bagaimana menyelamatkan sepuluh orang ini.” sela Yo-hun “apakah kamu punya pendapat mengenai mereka ini Li-moi?” tanya Lui-kim

“hmh….saya selama ini mengurung diri dilembah ini dan hanya sesekali memasuki kota, saya juga tidak mengerti apa yang harus diperbuat.” jawab Kao-hong-li “yang jelas kita harus mencari obat penawar dari ilmu hitam pah-sim-sai-jin ini sehingga mereka kembali normal.” sela Yo-hun

“kalau begitu bertanya pada tabib.” ujar Kao-hong-li

“dimanakah kita mendapatkan tabib didaerah ini?” tanya Yo-hun

“dipinggir kota Kunming ada seorang tabib, sebaiknya kita Tanya saja beliau, mungkin dia dapat memberi pendapat.” jawab Kao-hong-li.

“hmh bagu juga jika kita dapat menjemput tabib itu kesini.” sela Lui-kim “sebaiknya saya ketempat tabib tersebut dan mengajaknya kesini.” ujar Yo-hun

“benar taihap, tabib itu dipanggil wan-sinse, dan akan lebih mudah baginya datang kesini jika taihap mengatakan hwa-kok.” ujar Kao-hong-li

“kenapa demikian LI-moi?”

“karena tabib itu kenal baik dengan saya, karena dia sering menitipkan belanjaan beras dan ikan asin pada saya jika saya berketepatan kekota.”

“baiklah kalau begitu, saya akan segera kesana.” sahut Yo-hun, kemudian dengan lompatan gesit Yo-hun sudah meninggalkan pondok.

Setelah Yo-hun pergi Kao-hong-li mengajak Lui-kim masuk kedalam pondok

“sebenarnya lihap beserta keluarga mau kemana?” tanya Kao-hong-li sambil menatap Yo-seng, Yo-seng tersenyum dan mengangguk hormat, Lui-kim juga menatap anaknya

“sebenarnya kami mau menumui Im-yang-sin-taihap terkait masalah yang kita hadapi ini.” “bagaimanakah situasi sebenarnya Kim-cici?”

“situasinya sangatlah gawat Li-moi, kamu bayangkan saja, sepertinya seluruh peserta pertemuan pemilihan bengcu di Sinyang telah di hipnotis oleh Pah-sim-sai-jin sehingga berkelakuan ganjil.”

“hmh…memang gawat kalau begitu cici.”

“dan saya yakin bahwa diantara sepuluh orang yang dihalaman pondok ini ada yang ciangbujin partai persilatan.” tambah Lui-kim, dugaan Lui-kim ini memang benar adanya karena karena empat orang dari mereka yang terikat adalah Cia-tojin dari Kunlunpai, Coa-ciangbujin dari hoasanpai, Ma-ciangbujin dari thaisanpai dan Sim-ciangbujin dari kotongpai.

“apakah kira-kira kali ini Im-yang-sin-taihap akan dapat menundukkan pah-sim-sai-jin?” gumam Kao-hong-li lirih

“semoga saja, kita tidak boleh putus berharap walaupun sepertinya pah-sim-sai-jin lebih misterius dan ganjil daripada dulu, dan Im-yang-sin-taihap mendapatkan jalan untuk mengendalikannya.”

“hmh…dimanakah sekarang Im-yang-sin-taihap?” gumam kao-hong-li dengan nada gemetar karena haru rindu yang membuncah dari kepundan jiwanya, sehingga nada desahan itu demikian kentara pada pendengaran Lui-kim.

“apakah Li-moi kenal Im-yang-sin-taihap?” tanya Lui-kim “kami pernah sekali bertemu.” jawab Kao-hong-li

“oh ya sebaiknya kita mempersiapkan makan malam.” ujar Kao-hong-li, kemudian keduannya sibuk didapur sementara Yo-seng juga tidak mau diam, Yo-seng membelah kayu dihalaman belakang. Malam harinya Yo-hun dan Wan-sinse datang, setelah istrirahat beberapa lama, Wan-sinse langsung memeriksa tawanan didampingi oleh Yo-hun, setelah memeriksa dengan seksama wan-sinse berpikir keras

“bagaimana sinse, dapatkah mereka normal kembali?” tanya Yo-hun

“hmh….luar biasa orang yang mempengaruhi mereka ini, seluruh sendi saraf pada kepala dan otak telah kacau, kasihan mereka ini, dua orang ini saya kenal, mereka ini kalau adalah Coa-ciangbujin dari hoasanpai, dan Sim-ciangbujin dari kotong-pai.” sahut Wan-sinse

“hmh…begitukah? lalu adakah yang bisa kita lakukan untuk memulihkan mereka, sinse?”

“hmh…saya tidak akan mampu mengobati mereka ini, taihap, tapi saya punya saran yang mungkin patut dicoba.”

“apakah itu sinse?” tanya Yo-hun dengan nada harap

“saya memiliki seorang supek yang tinggal di kota Bao dan tepatnya di lembah unggas, saya tidak tahu apakah supek saya itu dapat mengobati mereka ini, namun yang pasti supek saya itu lebih matang dan pandai dari saya.’

“hmh…saran sinse patut untuk dicoba, kalau begutu marilah kita kembali kedalam untuk merundingkannya.” sahut Yo-hun

“bagaimana Hun-ko?” tanya Lui-kim

“sinse menyatakan bahwa keadaan mereka itu mengenaskan, namun kita disarankan Wan-sisnse untuk mendatangi supeknya di Jim-kok.”

‘bagaimana menurutmu Li-moi?” tanya Lui-kim

“saya juga berpikir kalau masih ada jalan kenapa tidak kita coba, saya akan ikut membantu siang-taihap untuk menyelamatkan tokoh-tokoh ini.”

“kalau begitu sebaiknya kita bergegas, supaya besok kita dapat berangkat.” “suapay mudah begini saja Li-ji.” sela wan-sinse pada Kao-hong-li “bagaimana siok?” sahut Kao-hong-li

“sepuluh orang ini sebaiknya di tahan disuatu tempat dan saya akan membuat catatan tentang apa yang dialami oleh orang-orang ini, dan catatan saya itu taihap serahkan pada supek saya sehingga supek tahu apa dan bagaimana tindakan selanjutnya.”

“hmh..demikian juga sangat baik menurut saya.” sahut Yo-hun “tapi dimana kita tahan mereka ini?” sela Lui-kim

“kita minta bantuan kuncu kota kota kunming untuk menahan mereka dalam penjara.” sahut Yo-hun, lui-kim mengangguk setuju.

“baiklah wan-sinse kami akan berangkat besok ke Kunming, dan silahkanlah sinse membuat catatan tentang keadaan tokoh-tokoh ini.” ujar Yo-hun, kemudian merekapun istirahat.

Keesokan harinya Kao-hong-li dan semua tamunya meninggalkan hwa-kok menuju kota Kun-ming, Kao- hong-li bertekat akan ikut membantu usaha Ui-hai-siang-liong untuk menanggulangi krisis rimba persilatan oleh ulah Pah-sim-sai-jin, terlebih tujuan kedua dari perjalanan itu adalah menemui Im-yang-sin-taihap sang pujaan hati yang menghiasi bayangan hidupnya sejak mereka berpisah.

Setelah mereka sampai dikota Kunming, Yo-hun dan para tokoh yang ditawan menuju kediaman Wan- kungcu, seorang penjaga mendekati mereka

“siapakah kalian dan apa tujuan datang kesini?” “kami adalah Ui-hai-siang-liong dan ingin bertemu dengan taijin.” “ada urusan apakah sehingga ingin bertemu dengan taijin?”

“ini urusan keamanan, jadi tolong sampaikan pada taijin.” sahut Yo-hun, mendengar masalah kemanan, penjaga itu langsung berbalik dan melapor kedalam, sebelum penjaga itu keluar lima orang tentara mendekati Yo-hun, dan tidak berapa lama penjaga tadi muncul bersama seorang lelaki berbadan kekar dan wajah lumayan beringas

“apakah kalian yang ingin menemui taijin?” tanyanya dengan suara lantang “benar, apakah taijin mengizinkan kami menemuinya?”

“karena urusan kemanan, maka taijin memerintahkan saya untuk menemui kalian, saya adalah Liem- ciangkun, dan hal apakah yang ingin disampaikan?”

“baiklah, kami minta tolong kepada Liem-ciangkun supaya menahan sepuluh orang ini untuk sementara waktu.”

“hmh…aneh, kenapa mereka harus ditahan, apakah mereka melakukan kesalahan?”

“mereka tidak melakukan kesalahan, tapi mereka ini adalah orang yang sedang tidak normal, mereka akan bertindak semena-mena jika dibebaskan.”

“maksudmu apakah mereka ini gila?” “boleh juga dikatakan begitu.”

“penjara bukan tempat orang gila, jadi salah jika saudara bawa kesini.”

“ciangkun! saya tidak ingin berdebat dengan anda, jika mereka ini dibebaskan, maka besok pagi kota ini akan banjur darah.” ujar Yo-hun lantang

“heh..kenapa, apalah anda mengancam saya!?” sahut Liem-ciangkun marah “tahukah ciangkun, siapa mereka ini?”

“memangnya mereka siapa?”

“mereka ini adalah tokoh kalangan atas rimba persilatan, jika mereka menggila dikota anda ini maka anda tidak akan mampu mengendalikannya, jadi sebelum terjadi sebaiknya penjarakanlah mereka sampai kami mendapatkan sesuatu untuk memulihkan mereka.” ujar Yo-hun, Liem-ciangkun menatap dua rekannya

“Ui-hai-siang-liong, kami salut atas julukanmu yang harum selama ini, namun urusan ini adalah wewenang taijin.” sela kao-ciangkun

“makanya saya meminta dari awal menemui taijin.” sahut Yo-hun dengan nada kesal

“bailkah, kami akan tanya tai-jin terlebih dahulu.” ujar Kao-ciangkun, kemudian melapor kedalam, tidak berapa lama Kao-ciangkun datang bersama Wan-taijin

“selamat bertemu wan-taijin, saya adalah Yo-hun dan ini adalah siangkoan-lui-kim istri saya, dan ini adalah Kao-hong-li dan ini adalah anak saya Yo-seng, kemudian sepuluh orang ini adalah sepuluh cianpwe.”

“hmh..baiklah siang-taihap, kao-ciangkun sudah menjelaskan pada saya sebab kedatangan siang-taihap, dan beritahukan kepada saya kenapa dengan mereka ini.”

“tai-jin, sepuluh orang ini adalah peserta pertemuan pemilihan bengcu di kota sinyang, dan mereka telah mengalami hal yang luar biasa pada pertemuan tersebut, dimana mereka yang hadir pada saat itu ternyata telah di hipnotis oleh Pah-sim-sai-jin, sehingga mereka tidak sadar akan perbuatan mereka.” jawab Yo-hun, mendengar julukan pah-sim-sai-jin para tentara kasak-kusuk, Wan-taijin juga terperangah “baiklah siang-taihap, lalu sampai kapan mereka dipenjara?”

“kami akan ke kota Bao untuk menanyakan seorang tabib disana, semoga dia dapat memberi jalan pemulihan pada tokoh-tokoh ini.”

“hmh..baiklah kalau begitu siang-taihap, Liem-ciangkun giring mereka kepenjara.”

“terimakasih tai-jin, dan kami permisi dulu.” ujar Yo-hun, kemudian merekapun meninggalkan kota Kunming.

Disalah satu bagian lembah Jim-kok tersapat sebuah pondok, dan seorang lelaki tua berumur tujuhpuluh tahun lebih sedang menjemur obat-obatan didepan pondoknya yang lumayan besar, dia adalah wan-yokong (raja obat Wan), Wan-yokong menghentikan pekerjaannya ketika empat orang memasuki halaman rumahnya, mereka adalah Ui-hai-siang-liong dan Kao-hong-li

“maaf loncinpawe, apakah ini kediaman Wan-yokong?” tanya Yo-hun “benar.. dan kalian ini siapakah?”

“saya adalah Yo-hun dan ini ank dan istri saya, sementara yang ini adalah Kao-hong-li.” “hmh…sepertinya kalian dari perjalanan yang jauh, ada apakah menemui saya?”

“kami datang dari kota Kumning, hendak minta bantuan yokong, dan kami juga membawa pesan dari keponakan yokong Wan-sinse dari hwa-kok.” sahut Yo-hun sambil memberikan sepucuk surat kepada Wan- yokong, Wan-yokong membaca surat dari keponakannya.

Agak lama juga Wan-yokong membaca surat dan catatan keponakannya, setelah itu

“hmh…bagimana mereka dapat tertimpa hal seperti itu, sobat muda?” tanya Wan-yokong sambil menatap Yo-hun, Yo-hun langsung mengerti maksud pertanyaan Wan-yokong

“sesuatu yang serius akan menimpa dunia persilatan cianpwe, karena pah-sim-sai-jin telah kembali menancapkan tiraninya, dan kejadian ini bermula dari pertemuan di Sinyang untuk memilih bengcu, dan Pah-sim-sai-jin telah menjadikan para peserta pertemuan menjadi boneka hidup yang mengenaskan.”

“ck..ck… sungguh hal yang luar biasa jika pah-sim-sai-jin mampu melakukan hal ini, karena mampu mempengaruhi banyak orang dan dengan waktu yang sangat panjang.”

“untuk itulah kami datang meminta pendapat dan saran dari cianpwe, sungguh kasihan mereka itu, karena banyak dari mereka kalangan tua didunia persilatan.”

“hal ini merupakan pekerjaan yang sulit dan memakan waktu yang tidak lama sobat muda.” “jika memang ada jalan dan mampu untuk diusahakan, tentu akan kami coba usahakan.” “pengobatan syaraf kepala yang kacau akibat ilmu hitam ini adalah sesuatu yang langka.” “apakah yang bisa kita lakukan cianpwe?”

“saya akui, bahwa saya tidak akan mampu memberikan pengobatan pada penderita yang memiliki sin-kang di atas saya, tapi saya hanya dapat memberikan cara pengobatan pada orang yang memiliki sin-kang diatas dari para penderita ini.”

“maksud cianpwe sin-kang yang mengobati harus lebih tinggi dari yang diobati?” sela Kao-hong-li “benar nak, apakah kalian mampu untuk itu?”

“jika cara pengobatannya cianpwe ajarkan, mudah-mudahan kita dapat mengusahakan orang yang dapat melakukan hal tersebut.” ujar Yo-hun

“benar cianpwe, untuk penderita yang sepuluh orang yang berada ditangan kami, rasanya Ui-hai-siang-liong akan mampu atasi.” sela Kao-hong-li sambil menatap Yo-hun dan Lui-kim, Wan-yokong juga menatap Ui- hai-siang-liong

“hmh…jadi yang dihadapan saya ini Ui-hai-siang-liong?” tanya Wan-yokong mengaskan. “benar cianpwe, demikianlah orang kangowu menjuluki kami.” jawab Yo-hun “hmh…kalau begitu saya tidak ragu lagi, baiklah saya akan ajarkan cara pengobatannya.” “kami siap cianpwe untuk menerima petunjuk.” sahut Yo-hun

“marilah kita masuk kedalam pondok saya.” ujar Wan-yokong, kemudian merekapun memasuki rumah Wan- yokong.

“pertama ramuan yang harus disediakan adalah jamur linzi, hati macan, empedu ular belang, dan akar pohon persik serta bunga teratai salju.”

“dimanakah mendapatkan jamur linzi cianpwe?” tanya Kao-hong-li

“jamur linzi dapat diperoleh di”goat-teng” (puncak bulan) di kota Lhasa, ular belang, banyak didapat di pulau neraka, dan teratai salju terdapat di pegunungan kunlun.”

“lalu ramuan ini di apakan cianpwe?” tanya Lui-kim

“hati macan dan empedu ular belang di rebus untuk diminum sipenderita, sedang jamur linzi, akar persik dan teratai salju digodok dalam satu gentong besar untuk rendaman bagi penderita, suhu air sesuai dan lebih kuat dari sin-kang sipenderita.”

“berapa lama waktu pengobatan cianpwe?” tanya Yo-hun

“itu tergantung kondisi pasien, pengobatan dihentikan jika ketika berendam asap warna merah darah keluar dari ubun-ubunya sampai habis, semakin tinggi sin-kang si pengobat maka akan semakin cepat asap warna merah itu keluar.”

“terus apakah ada yang lain cianpwe?” tanya Lui-kim

“hanya itu saja, setelah asap merah keluar maka si penderita tidak akan sadar sehari semalam, dan ketika siuman dia akan normal kembali.”

“hmh…..pengobatan yang sulit memang, namun akan kami coba cianpwe.” ujar Yo-hun “lalu bagaimana selanjutnya, apa yang mesti kerjakan dulu.” sela Lui-kim

“yang pasti menemui Im-yang-sin-taihap menjadi satu keharusan, karena hanya dia yang memiliki dua sin- kang dengan kekuatan luar biasa.”

“apakah kalian berencana menemuinya siang-taihap?” sela Wan-yokong “benar cianpwe.”

“kalau begitu kita harus bagi tugas.” “maksud cianpwe?” tanya Kao-hong-li

“pengadaan ramuan membutuhkan waktu, belum lagi menanggulangi kekacauan-kekacauan yang ditimbulkan boneka Pah-sim-sai-jin ini.”

“benar sekali cianpwe, sampaikanlah cianpwe bagimana kita harus memulai.” sela Yo-hun

“saya akan ke goat-teng untuk mengambil jamur linzi, dan yang lain terserah pada siang-taihap.” “hmh…demikian juga baik cianpwe, saya dan istri akan ke pulau neraka, karena kami dulu juga pernah kesana, dan nona Kao-hong-li menemui Im-yang-sin-taihap untuk menyampaikan usaha kita ini.”

“lalu bagaimana dengan Seng-ji Hun-ko?” sela Lui-kim

“Seng-ji biar ikut nona Kao menemui Im-yang-sin-taihap sekalian kita titip dia di pulau kura-kura, bagimana nona kao?”

“baiklah siang-taihap, saya akan membawa Yo-seng ke pulau kura-kura.” “Jika sudah sepakat kita berangkat besok.” ujar Wan-yokong

“benar dan kita akan berkumpul kembali di rumah cianpwe ini.” sahut Yo-hun.

Keesokan harinya merekapun berangkat melakukan tugas masing-masing, Kao-hong-li beserta Yo-seng menuju ke wilayah selatan, dan untuk mempermudah perjalanan Yo-hun membeli kuda untuk perjalanan Kao-hong-li dan Yo-seng, Yo-seng walaupun masih enam tahun memiliki kemauan yang kuat dan sudah memliki dasar ilmu tinggi yang telah diajarkan kedua orang tuanya

“pernakah bibi bertemu Im-yang-sin-taihap?” tanya Yo-seng pada satu kesempatan ketika mereka istirahat disebuah hutan di pinggir kota Hanzhong, Kao-hong-li tersenyum melihat Yo-seng, Kao-hong-li mengakui bahwa anak siang taihap ini luar biasa, selama empat bulan perjalanan, Yo-seng tidak pernah mengeluh, kemauannya kuat dan pembawaannya juga kalem.

“bibi pernah sekali bertemu, kenapa kamu tanyakan itu seng-ji?” “ayah dan ibu sangat mengaguminya.”

“bagaimana gambaran seng-ji tentang Im-yang-sin-taihap dari kekaguman kekaguman ayah ibu mu?” “Im-yang-sin-taihap itu seorang yang sangat bijak, sakti dan tampan.”

“benar sekali seng-ji, memang demikianlah Im-yang-sin-taihap.” “apakah dia orang tersakti dikalangan rimba persilatan?”

“mungkin saja seng-ji, karena sampai saat ini belum ada yang dapat mengatasinyai.” “bibi, katanya bahwa penghuni pulau kura-kura adalah orang-orang hebat.”

“benar, karena leluhur mereka adalah orang luar biasa, dan luar biasanya baik kebaikan dan kesaktian dapat diwariskan hingga ratusan tahun.

“ayah dan ibu sangat berharap saya dapat menjadi murid Im-yang-sin-taihap.” “jika harapan itu tercapai, alangkah beruntungnya kamu Seng-ji.”

“ayah, ibu dan bibi kenyataannya tidak sering bertemu muka dengan Im-yang-sin-taihap, namun kenapa sepertinya kalian sangat kenal dengan Im-yang-sin-taihap?”

“itu karena santer dan cemerlangnya julukan dan keturunan mereka seng-ji.” “maksudnya bagimana bibi?”

“awalnya pulau kura-kura tiga ratus tahun yang lalu dihuni oleh Kim-khong-taihap, beliau seorang yang bijak dan budiman serta memiliki kesaktian tanpa tandingan, bahkan seorang bengcu seluruh wilayah, dan keturunannya juga mewarisi semua kelebihan-kelebihan itu, dan generasi berikutnya sudah kenal kelebihan-kelebihan penghuni pulau kura-kura ini sejak mereka lahir, sebagaimana yang kamu alami akibat puja pujian orangtuamu, jadi baik kakekmu, ayahmu, kamu sendiri mengenal kelebihan she-taihap sejak lahir.” “hmh..alangkah luarbiasanya keluarga seperti itu bibi.”

“benar seng-ji, she-taihap memang keluarga luabiasa, tidak ada seorangpun yang memungkirinya, keluarga yang sakti, budiman, mengagumkan tanpa sedikitpun cacat”

“hmh…sudah, kita lanjutkan perjalanan kita seng-ji.”

“baiklah bibi..” sahut Yo-seng sembari berkemas, lalu merekapun memacu kuda memasuki kota Hanzhong.

Kota Hanzhong sudah selama sebulan berada dalam kungkungan ketakutan, karena sebulan yang lalu ada dua puluh orang persilatan memasuki kota Hanzhong, ketika mereka memasuki kota, rumah seorang hartawan bermarga Gak menjadi sasaran kebrutalan mereka, dan bahkan setelah membunuh keluarga Gak, mereka mendiami tempat itu dan berbuat semaunya pada penduduk, penduduk menjadi gelisah dan ketakutan.

Hari itu tujuh orang dari mereka memasuki sebuah penginapan, seorang pelayan menyambut dan mempersilahkan mereka duduk, setelah pesanan dihidangkan, ketujuhnya bersantap dengan lahap, sementara dimeja kasir Yap-ling putri dari Yap-cun pemilik likoan sedang menjaga kasir, wajah Yap-ling tergolong cantik dengan tubuh montok.

Dua orang dari ketujuh orang itu tiba-tiba berdiri dan mendekati meja kasir, dengan tatapan jalang kedua orang itu menangkap tangan Yap-ling, Yap-lin yang tidak menduga terkejut dan berteriak, lima orang penjaga kemanan langsung masuk kedalam dan menarik kedua orang yang sedang memegangi putri majikan mereka, Yap-ling terlepas dari geranyangan kedua orang itu, dan pertempuran antara para penjaga dengan dua orang itu membuat susana jadi hiruk pikuk. Dan para tamu menghindar keluar, kedua orang itu babak belur karena mendapat pukulan keras dari kelima penjaga, lalu lima orang yang lain berdiri dan menyerang para penjaga, pertempuran pun terjadi didalam rumah makan, kursi dan meja menjadi hancur beratakan bahka tangga dan ketingkat atas jebol dan hancur, namun pertempuran terus berlanjut.

Yap-cun panik sementara putrinya lari kedalam dengan ketakutan, akhirnya lima orang penjaga itu kewalahan, dua orang dari mereka sudah tewas, kemudian dua orang lagi ambruk pingsan dan seorang melarikan diri, Yap-cun tidak mengira bahwa serangan selanjutnya diarahkan kepadanya, sebelum tendangan menghantam kepalanya, serangkum pukulan melanda tubuh sipenendang hingga terlempar dan melabrak tiang, dan tidak ayal mulut dan hidung orang itu luka dan berdarah.

Enam rekannya langsung menyerang keluar melabrak Kao-hong-li yang berada di depan likoan, Kao-hong-li dengan gesit mengerahkan pukulan sakti

“blam… enam orang itu terjungkal kembali masuk kedalam rumah makan, Kao-hong-li setelah melihat sinar mata enam orang itu, mengetahui bahwa para pengacau ini adalah bonekanya Pah-sim-sai-jin, Kao-hong-li pun tidak memberi kesempatan, dengan pukulan yang kuat dan gerakan pedang yang luar biasa mencecar para pengeroyok, dalam waktu yang tidak berapa lama ketujuh orang itu ambruk tidak berdaya.

“tolong supaya ada dari para sicu yang melapor pada ciangkun dikota ini supaya datang ketempat ini untuk memenjarakan orang-orang ini.” ujar Kao-hong-li, dua orang dari mereka segera menuju tempat kediaman kungcu dan melaporkan kejadian di penginapan, berselang satu jam sepuluh orang polisi datang, dan ketika mereka mengikat tujuh orang itu, tiga belas orang mendatangi likoan, semua orang yang menonton kejadian itu menyingkir, Kao-hong-li yang tanggap akan keadaan langsung keluar dari likoan menyambut ketiga belas orang itu.

Tanpa sedikitpun mengeluarkan kata-kata mereka langsung menyergap Kao-hong-li, Kao-hongli dengan tenang dan cekatan bergerak diantara kepungan pengeroyok, dua puluh jurus kemudian empat orang sudah ambruk tidak berdaya, pertempuran masih berlangsung segit, para pengeroyok masih merangsak maju dengan tiada gentar mencoba mendesak Kao-hong-li, namun usaha mereka gagal, karena Kao-hong-li masih jauh diatas mereka, sepuluh jurus kemudian tiga orang ambruk dan tidak lama kemudian akhirnya para pengeroyok menggeloso tidak berkutik, lima dari mereka tewas ditempat.

“sicu mereka ini adalah orang yang dihipnotis, mereka ini tidak sadar apa yang mereka lakukan, jadi suatu saat saya akan datang lagi untuk mengobati mereka.” ujar Kao-hong-li kepada pimpinan polisi, pimpinan polisi mengangguk dan mengucapkan terimakasih, kemudia lima belas orang diikat dan digiring kepenjara. Setelah keadaan terkendali, Kao-hong-li dan Yoseng duduk dan memesan makanan, pelayan pun dengan sigap melayani pesanan Kao-hong-li, karena merasa takluk akan kehebatan wanita pendekar itu, Yo-seng makan dengan lahap, setelah selesai makan

“bibi apakah pulau kura-kura itu masih jauh?”

“masih Seng-ji, tapi kita ini sudah berada di wilayah selatan.” “apakah kita langsung berangkat setelah makan bibi?”

“hari sudah sore, sebaiknya kita menginap disini dan besok kita lanjutkan perjalanan.” jawab Kao-hong-li, Yo-seng mengangguk, lalu Kao-hong-li menyewa sebuah kamar.

“bibi, tentunya orang yang menguasai pikiran para pendekar itu adalah orang yang luar biasa, apakah ayah dan bibi akan dapat mengatasinya?”

“kalau hanya kami bertiga tentu tidak akan mampu seng-ji, namun dengan keberadaan Im-yang-sin-taihap maka peluang sangat besar untuk mengatasi Pah-sim-sai-jin.”

“Pah-sim-sai-jin siapakah dia sebenarnya bibi?”

“pah-sim-sai-jin adalah seorang penjahat luar biasa dan ganjil.” “apa maksud ganjilnya bibi?”

“Pah-sim-sai-jin sulit untuk mati karena betapa besarpun luka tubuhnya akan segera sembuh, tubuhnya mengeluarkan bau apek yang membuat lawannya terbius dan hilang keseimbangan.”

“wah..kalau begitu sangat sulit untuk membunuhnya.” “benar seng-ji.”

“lalu bagaimana Im-yang-sin-taihap mengatasinya?”

“Im-yang-sin-taihap hanya mampu mengalahkannya dan belum dapat membunuhnya.” “apakah dulu Pah-sim-sai-jin memiliki ilmu yang dapat menguasai pikiran orang.” “tidak, dan itu artinya Pah-sim-sai-jin bertambah kehebatannya.”

“lalu apakah menurut bibi, Im-yang-sin-taihap akan dapat mengalahkan pah-sim-sai-jin?” “menurut bibi, Im-yang-sin-taihap masih mampu mengalahkannya.”

“kenapa bibi bisa seyakin itu?”

“karena Im-yang-sin-taihap merupakan gudangnya ilmu-ilmu silat tinggi.” “apa maksud gudangnya ilmu bibi?”

“maksudnya Im-yang-sin-taihap itu tidak hanya memiliki ilmu-ilmu yang hebat, tapi lebih dari itu, Im-yang- sin-taihap mampu menciptakan ilmu-ilmu yang luar biasa.”

“sudahlah seng-ji, kita istirahat dulu, karena perjalanan kita masih jauh.”

“baiklah bibi.” sahut Yo-seng lalu membaringkan badan diatas tikar yang digelar diatas lantai, benaknya membayangkan dua tokoh yang baru saja di tanyakannya, pah-sim-sai-jin dan Im-yang-sin-taihap.

Keesokan harinya Kao-hong-li dan Yo-seng melanjutkan perjalanan, dua bulan kemudian mereka sampai dikota Kun-leng, keduanya memasuki sebuah likoan untuk makan siang

“A-hui kamu dengar tidak kejadian yang menimpa kota kicu?” “tidak, memang apa yang terjadi dikota kicu?”

“kota itu didatangi dua puluh orang pengacau aneh.” “aneh..? maksudnya bagaimana, A-lung?”

“dua puluh orang itu berbuat aniaya tanpa identitas, mereka berbuat aniaya tanpa sedikitpun berbicara, mereka itu memiliki kesaktian hebat, namun sepertinya mereka bisu, dan katanya wajah mereka itu dingin dan bringas.”

“hmh…apakah Im-yang-sin-taihap sudah mengetahui hal ini?”

“tidak tahu A-hui, dan bagimana kalau kita menjumpai she-taihap setelah makan.” “hmh…baiklah A-lung, kita menjumpai she-taihap dirumahnya.”

Kao-hong-li yang mendengar percakapan itu tergetar, hatinya tiba-tiba berdegup kencang, orang yang memenuhi relung batinnya akan segera ditemuinya.

“mari seng-ji…” ujar Kao-hong-li bergegas untuk mengikuti kedua orang yang sudah keluar likoan, dua orang itu memasuki sebuah gang dan diujung gang sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih, dua orang itu memasuki halaman rumah, keduanya disambut seorang tukang kebun berumur lima puluh tahun lebih

“lopek… taihap ada?” tanya A-lung “tidak ada, lagi keluar, ada apa?”

“tidak ada apa-apa, hanya pingin ngobrol saja, nanti sajalah, kami permisi dulu.” sela A-hui, keduanya pun keluar, Kao-hong-li yang melihat keduanya kembali

“sicu…! Kenapa kalian kembali?

“eh…bukankah kamu salah satu tamu dalam kedai?” tanya A-hui sambil memperhatikan wajah Yo-seng “benar sicu, saya juga ingin menemui Im-yang-sin-taihap.” jawab Kao-hong-li

“She-taihap tidak dirumah.” sela A-lung

“sicu kalau boleh tahu, sudah berapa lama she-taihap berada di Kun-leng?” “sudah hampir dua tahun, saudari siapa?”

“saya dari wilayah timur, dan keponakan saya ini dari utara.”

“wah..tentu sesuatu yang penting yang hendak dibicarakan dengan she-tahap, sehingga perjalanan demikian jauh ditempuh.” sela A-hui

“demikianlah sicu, didalam rumah she-taihap siapa saja?”

“keempat istrinya istrinya, sebaiknya saudari masuk saja, dan menemui istri she-taihap, mereka sangat baik dan ramah kok.” sela A-lung.

“baiklah, kami akan masuk.” sahut Kao-hong-li dengan rasa hangat dan haru, perasaan ini tiba-tiba muncul ketika mendengar perkataan empat istrinya, terbit rasa haru dalam hati Kao-hong-li yang menimbulkan hangat rasa ingin cepat bertemu dengan keempat istri she-taihap.