-->

Kembalinya Si Manuisa Rendah (Sai Jin Lu) Jilid 5

Jilid 5

Kao-hong-li memasuki halaman rumah, tukang kebun tadi mengehentikan pekerjaannya dan menyambut Kao-hong-li dengan ramah

“selamat siang lopek!” “selamat siang lihap, siapakah lihap dan ada keperluan apakah?” “lopek saya ingin bertemu istri she-taihap.”

“ohh.. sebentar saya akan laporkan kedalam tentang kedatangan lihap.” sahut situkang kebun, kemudian ia masuk kedalam, tidak berapa lama situkang kebun keluar dengan kwee-kim-in

“silahkan masuk lihap..!” ujar Kwee-kim-in, Kao-hong-li masuk dan setelah duduk diruang tengah teh pun dihidangkan, ketika Kao-hong-li hendak berbicara, ketiga istri she-taihap yang lain keluar, Kao-hong-li terperangah ketika melihat Khu-hong-in dan Lauw-bi-hong

“Kao-hong-li! kamukah itu?” seru Lauw-bi-hong

“benar, ah… Hong-in, Bi-hong kalian….?” Sahut Kao-hong-li tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena terkejut

“hik..hik…. hong-li apa kabarmu? apakah kamu baik-baik saja?” sela Khu-hong-in “saya baik-baik saja hong-in, dan kalian sendiri bagaimana?”

“kami juga baik hong-in, dan kami sekarang tinggal disini bersama she-taihap suami kami.” “syukurlah jika memang demikian Hong-in, bahwa harapan kalian dapat terwujud.” “hmh..ternyata In-cici dan Hong-cici teman saudari, kenalkan saya adalah Kwee-kim-in.” “dan saya Cia-sian-li.” sela Cia-sianli

“sunngguh pertemuan ini sangat mengejutkan dan sekaligus menggembirakan hati saya, saya adalah Kao- hong-li dan ini adalah Yo-seng putra dari Ui-hai-siang-liong.” sahut Kao-hong-li sambil memperkenalkan Yo- seng, Yo-seng menjura kepada empat istri She-taihap.

“Ui-hai-siang-liong, hmh… kenapa dengan mereka Li-cici sehingga putranya bersamamu, dan hal apakah yang mau disampaikan sehingga menemui kami?” ujar Kwee-kim-in

“Kwee-moi keadaan Ui-hai-siang-liong baik-baik saja, kami hanya berbagi tugas.” “berbagi tugas bagaimana maksudnya Kao-cici?” sela Cia-sian-li

“ketahuilah oleh kalian bahwa Pah-sim-sai-jin telah kembali menebar keonaran dirimba persilatan.” “hmh….hal yang gawat kalau begitu Hong-li.” sela Lauw-bi-hong

“benar sekali bi-hong, karena itulah saya dan Ui-hai-siang-liong bahkan seorang tabib yang bergelar Wan- yokong berbagi tugas.”

“ada tamu rupanya!” terdengar suara dan Im-yang-sin-taihap muncul

“benar Bu-koko, Bu-koko dapatkah menebak siapa tamu kita ini?” sahut Khu-hong-in, Kao-hong-li menoleh dan beradu pandang dengan Kwaa-han-bu.

“salam jumpa she-taihap…” sapa Kao-hong-li “salam berjumpa Kao-siocia.”

“hik…hik… ternyata Bu-ko dapat menebak.” sela Lauw-bi-hong, Kao-hong-li dan Kwaa-han-bu tersenyum “saya juga tidak menyangka bahwa She-taihap masih ingat saya.” ujar Kao-hong-li

“hehehe…hahaha…. Kao-siocia bola matamu dengan sinar yang indah itu sulit untuk dilupakan.” sahut Kwaa-han-bu, mendengar itu panas terasa wajah Kao-hong-li karena jengah dan malu melirik keempat istri She-taihap, hatinya menggelepar hangat, jiwanya mereka sayang dan rindu.

“kau dengar itu Hong-li, she-taihap kesulitan melupakan tatapan matamu.” goda Khu-hong-in sambil senyum dan yang lainnya pun ikut tersenyum, Kao-hong-li makin malu, dan rona wajahnya semankin jelas. “sudahlah, saya ini kelaparan, marilah kita makan dulu, dan nanti baru kita lanjutkan pembicaraan, dan sobat kecil ini siapakah Kao-siocia?”

“dia adalah Yo-seng putra Ui-hai-siang-liong.”

“hmh….baiklah mari kita makan dulu.” sahut Kwaa-han-bu, kemudian merekapun menuju meja makan, para pelayan sibuk menghidangkan makanan.

Setelah makan siang, mereka kembali ke ruang tengah “kao-siocia bagaimana kabar Ui-hai-siang-liong?”

“mereka baik-baik saja she-taihap, dan sekarang mereka mengadakan perjalanan ke pulau neraka.” “hmh…..hal apakah yang membuat mereka menempuh perjalanan jauh dan berbahaya itu?”

“she-taihap! Pah-sim-sai-jin telah kembali membuat onar dan menancapkan kembali misi hidupnya di dunia kangowu.”

“hmh… hal yang gawat kalau begitu dan perlu kita waspadai.”

“benar she-taihap, sebenarnya Ui-hai-siang-liong yang hendak menemui she-taihap, namun karena kondisi yang aneh dan mendesak akhirnya saya diserahi tugas menemui she-taihap dan meniptipkan Yo-seng untuk sementara ditempat she-taihap, awalnya saya kira she-taihap berada dipulau kura-kura.”

“hal aneh dan mendesak yang bagaimana maksudnya kao-siocia?”

“Peremuan untuk pemilihan bengcu dikota Sinyang boleh dikatakan berakhir mengenaskan.” “apa yang terjadi?”

“menurut perkiraan Ui-hai-siang liong bahwa bengcu sekarang adalah Pah-sim-sai-jin, Pah-sim-sai-jin telah menghipnotis seluruh peserta pertemuan, sehingga mereka tidak sadar dan berlaku seperti boneka hidup yang melakukan berbagai kejahatan.”

“terus hubungannya dengan perjalanan Ui-hai-siang-liong?”

“satu ketika ditempat saya, di Hoa-kok di kota Kunming sepuluh orang datang mengacau, dilihat dari ilmu kesepuluh orang itu mereka itu adalah senior dan cianpwe rimba persilatan, saya akan tewas jika tidak ditolong oleh Ui-hai-siang-liong.”

“seterusnya apa yang terjadi?”

“oleh Ui-hai-sing-liong yang telah menelaah kondisi para pengacau ini sejak dari kota sinyang menduga ada kelainan dari para pengacau tersebut terlebih beliau mengenal dua dari mereka adalah ciangbujin dari hoasan-pai dan Kotong-pai, lalu kami minta pendapat seorang tabib setelah memeriksa keadaan mereka.”

“apa pendapat tabib tersebut?”

“pendapat sang tabib bahwa mereka memang benar tidak menyadari apa yang mereka lakukan, hanya dia tidak dapat mengobati, lalu disarankan supaya kami ke kota Bao dan menemui paman beliau Wan-yokong, dengan surat dari wan-sinse kami menemui Wan-yokong setelah memenjarakan sepuluh orang itu di kota Kunming.”

“lalu bagaimana selanjutnya kao-siocia?” “Wan-yokong tidak dapat mengobati pasien karena sin-kangnya bisa jadi dibawah pasien, tapi Wan-yokong memberikan cara pengobatannya dan menyampaikan ramuan yang harus diadakan.”

“apa saja ramunnya?”

“jamur linzi, hati macan, empedu ular belang, dan akar pohon persik serta bunga teratai salju, Ui-hai-siang- liong ke pulau neraka untuk mendapatkan empedu ular belang, Wan-yokong pergi ke kota Lhasa untuk mendapatkan jamur linzi dan saya di utus menemui she-taihap untuk membicarakan keadaan yang kita hadapi, sekaligus Ui-hai-siang-liong menitipkan Yo-seng untuk sementara disini.”

“Bu-ko!? apakah mungkin ayah juga ikut dalam pertemuan itu?” sela Cia-sian-li cemas “hmh….boleh jadi Li-moi, sebaiknya kita bergerak cepat.”

“apakah yang akan kita lakukan Bu-ko?” tanya Kwee-kim-in

“bagimanakah perkiraan Ui-hai-siang-liong tentang jumlah peserta pertemuan di kota sinyang?” tanya Kwaa-han-bu menatap Kao-hong-li

“menurut Ui-hai-siang-liong pertemuan itu mencapai ratusan lebih dan enam puluhan lebih sudah ditaklukkan Ui-hai-siang-liong semasa di kota Sinyang.”

“hmh…kalau begitu saya, Cia-moi dan Kao-siocia akan kembali ke wilayah timur untuk menyisir keadaan, dan Kwee-moi berangkat ke pulau kura-kura dan mengajak para suheng untuk menyisir wilayah barat, sementara Khu-moi, Lauw-moi disini menjaga Kwaa-thian-eng, Kwaa-hoa-mei, Kwaa-sin-liong dan Kwaa- swat-hong serta seng-ji.”

“baiklah Bu-ko.” jawab mereka serempak

“dan juga kami menyepakati bahwa setelah tugas masing-masing, kami akan bertemua ditempat Wan- yokong di Jim-ok untuk membicarakan rencana selanjutnya.” sela Kao-hong-li

“hmh…kalau begitu Kwee-moi dan para suheng nantinya juga menuju Jim-ok.” sahut Kwaa-han-bu, Kwee- kim-in mengangguk.

“tiga hari kemudian kita akan berangkat supaya Kao-siocia dapat istirahat yang cukup.”

Selama dua hari Kao-hong-li di jamu ramah oleh istri-istri She-taihap “bagaimana perasaanmu Hong-li?” tanya Lauw-bi-hong “hmh…alangkah nyamannya berada disisinya Bi-hong.”

“terlebih jika engkau masuk bagian kami Hong-li.”

“besar harapanku demikian, namun entahlah, apa yang terjadi nantinya.”

“kalimat awal pertemuan kamu dengan Bu-ko sudah membuka pertalian hati Hong-li, entah kamu dapat merasakan atau tidak.”

“rasanya memang demikian, tapi aku merasa bingung dan merasa terlalu muluk.”

“dalam perjalanan nanti, kamu akan tahu Hong-li, harapan kami termasuk Kwee-kim-in selaku istri pertama Bu-ko semoga kamu dapat tempat dihati Bu-ko.”

“apakah Kwee-moi tahu keadaan hatiku?”

“dia sudah tahu, sejak Bu-ko memuji bola matamu yang indah.” “Hong-li dimanakah kamu selama ini?” “aku menyendiri di hwa-kok, dan baru karena urusan kangowu ini aku keluar.” “tentunya kamu mengenang Im-yang-sin-taihap bukan?”

“memang demikianlah Bi-hong, aku merasa hidup dengan kenangan figur she-taihap.” “lalu kalian bagaimana ceritanya hingga dipersunting she-taihap?”

“aku dan Hong-in tidak setabah dirimu, kami terpapar karena rindu dan cinta, sehingga kami berkelana sampai keselatan, dan ternyata impian kami terwujud.”

“bukanlah aku lebih tabah dari kalian, hanya aku lebih penakut dari kalian, kalian demikian terbuka masalah perasaan, sementara aku tidak.”

“wah…asik benar pertemuan dengan kawan lama Lauw-cici?” sela Kwee-kim-in yang muncul memasuki taman belakang

“hik..hik….maklum lam tidak berjumpa Kwee-moi, ada apakah?” “tidak ada apa-apa, hanya saja aku juga ingin cari angina.”

“kesinilah Kwee-moi, kalian kan akan berangkat besok, dan tentunya akan mengadakan perjalanan yang panjang.” sahut Lauw-bi-hong, Kwee-hong-in duduk sambil menikmati belaian hembusan angin yang sejuk

“Kwee-cici, bagimana she-taihap tinggal disini dan meninggalkan pulau kura-kura?”

“Bu-ko masih tetap bagian dari penghuni pulau-kura-kura, hanya sanya Bu-ko ingin tinggal di kota kelahirannya dan membaur dengan orang banyak.”

“lalu siapakah yang sekarang yang tinggal di pulau kura-kura?” “disana ada para suheng bagian dari memimpin Pat-hong-heng-te.” “sepertinya pulau-kura-kura tidak asing bagimu Kao-cici?”

“semua kalangan rimba hijau sangat mengenal pulau kura-kura kwee-moi, sudah ratusan tahun denyut dunia persilatan ada di pulau kura-kura.”

“hmh…ucapanmu kao-cici memang benar, kiranya usaha kita dalam menanggulangi makar Pah-sim-sai-jin dapat berhasil.”

“manusia ganjil itu memang luar biasa, semoga kali ini she-taihap dapat menammatkan hidupya.”

“benar, karena kali ini pah-sim-sai-jin memiliki ilmu yang luar biasa, hingga dapat mengendalikan pikiran orang, semoga saja thian memberi jalan keluar pada kita untuk mengatasinya.” sela Lauw-bi-hong, dan tidak lama kemudian senja pun semakin temaram, Kwee-kim-in mengajak masuk kedalam.

Keesokan harinya Kwaa-han-bu, Cia-sian-li dan Kao-hong-li berangkat meninggalkan kota Kun-leng, dan pada tengah hari Kwee-kim-in pun berangkat menuju pulau kura-kura, perjalanan Kwee-kim-in dilakukan dengan cepat karena perjalanan yang akan dilakukannya akan lebih panjang dari suaminya.

Kota Ken-lung kota ditepi pantai laut kuning aktivitas warga berjalan sebagaimana biasanya, orang belanja hilir mudik dan para pedagang rebut menjajakan dagangannya, rumah makan padat di kunjungi orang untuk makan siang, sepasang pendekar berjalan gagah memasuki sebuah liokoan, melihat kedatangan pengelana jauh itu pelayan dengan sigap menyambut dan mempersilahkan duduk, sepasang pengelana itu adalah Ui- hai-siang-liong yang sudah mengadakan perjalanan delapan bulan dari kota Bao, setelah memesan makanan merekapun bersantap dengan lahap.

“pelayan kami hendak membeli perahu, dapatkah anda menunjukkan siapa yang menjual perahu?” tanya Yo-hun “oh, itu bisa diatur taihap, hah..itu teman saya, majikannya biasanya menjual perahu, A-ming…A-ming…” sahut si pelayan, seorang lelaki setengah baya yang dipanggil dengan A-ming datang mendekat

“ada apa A-siong?”

“apa majikanmu masih ada perahu, tuan ini butuh perahu.” “ada..ada tiga buah perahu lagi.”

“saya ingin membeli sebuah perahu, bisakah kami menemui majikanmu?”

“ya..ya setelah makan siang, tuan akan saya antar kekediaman majikan saya.” sahut A-ming, kemudian A- ming pun memesan makanan.

U-hai-siang-liong memasuki sebuah rumah yang mewah di pinggiran pantai, pemilik rumah adalah Ma-taijin. “sebenarnya ada tiga lagi perahu yang akan dijual, namun semalam ada dua orang membeli ketiga perahu tersebut.”

“lalu apakah tidak ada lagi taijin?”

“ada taihap, tapi perahunya hari ini baru ditambal karena ada sedikit yang bocor.” “apakah besok dapat selesai taijin?”

“kemungkinan besar tidak taihap.”

“hmh…lalu apakah adakah saran taijin supaya kami dapat perahu?” tanya Yo-hun, dan tiba-tiba seorang datang melapor

“Tai-jin..! gawat kedua orang itu ternyata bajak laut.” “darimana kamu tahu?”

“saya bertemu dengan seorang anak buah Cu-taijin di kedai A-hok, dan dia menceritakan musibah yang menimpa majikannya, dua orang itu katanya hanya dalih menawar perahu untuk membaca situasi rumah.”

“kamu jangan sembarangan menuduh A-bin!”

“benar tuan, saya tidak sembarangan, teman saya itu melihat keduanya datang waktu malam, dan sesampai didalam rumah seorang dari keduanya langsung menyergap Cu-taijin dan mengancam Cu-taijin untuk menyerahkan semua harta, sementara semua anak buah Cu-taijin diperdaya oleh seorang lagi dengan ilmu totokan yang hebat.”

“hmh…kalau begitu perketat penjagaan, bisa jadi nanti malam mereka akan datang kesini.” “baik taijin..” sahut A-bin dan langsung keluar.

“tidak usah panik taijin, saya dan istri saya akan coba menghentikan aksi kedua bajak itu.” “aih..terimakasih taihap, kalau begitu menginaplah malam ini disini.”

“baiklah taijin, kami akan berjaga malam ini.” sahut Yo-hun

Malam kian merambat dua puluh anak buah Ma-tai-jin hilir mudik disekeliling rumah dan gudang kayu, Ui- hai-siang liong berada disebuah kamar yang disediakan oleh Ma-taijin, setelah agak larut dua orang bayangan gesit mengendap-endap diatas genteng rumah, namun keduanya terkejut ketika sebuah teguran datang tepat dibelakang mereka

“sungguh mengendap diatas rumah orang tidak baik.” Keduanya langsung menoleh, setelah saling memandang keduanya langsung menyerang Yo-hun yang berdiri tenang, namun lagi-lahi mereka tekejut karena yo-hun dengan gesit berkelit, dan kali kedua mereka menyerang dan “plak…plak….” dua tamparan bersarang di pipi mereka, dengan amarah yang memuncak mereka menyerang dan

“duk…duk…” dua tendangan entah bagaimana bersarang diperut mereka hingga keduanya jatuh terlempar kebawah, saat bangkit mereka hendak lari, namun totokon Yo-hun sudah membuat mereka kaku.

Dua puluh anak buah Ma-tai-jin susul menyusul mendatangi halaman belakang, kemudian mereka melapor kepada Ma-ta-jin, Ma-tai-jin keluar dan memperhatikan keduanya, dan memang keduanya adalah orang yang menawar perahunya, apes memang kedua bajak, karena bertemu Ui-hai-siang-liong, sehingga keduanya di penjarakan oleh Ma-taijin.

Keesokan harinya Ui-hai-siang-liong mendapatkan perahu dengan harga miring karena ucapan terimakasih dari Ma-taijin, Yo-hun mendayung perahu dari bibir pantai dan hal itu membuat takjub anak buah Ma-taijin karena dayungan yang berhawa sin-kang itu melempar perahu melejit diatas permukaan laut dan dalam waktu sebentar saja perahu U-hai-siang-liong hanya berupa titik saja di hamparan samudra luas itu.

Setelah dua hari, Ui-hai-siang-liong sudah mendekati pulau neraka yang berwarna hitam pekat, Ui-hai- siang-liong merapat dan mendarat dibibir pantai

“apakah kita akan langsung masuk kedalam hutan, Hun-ko?” tanya Lui-kim

“siang ini kita berburu ular hitam dan malam kita kembali kepantai ini.” jawab Yo-hun, lalu kemudian keduanya masuk kedalam hutan, baru satu jam mereka memasuki hutan tiba-tiba serombongan orang- orang aneh muncul

“penghuni pulau neraka, hati-hati Kim-moi” bisik Yo-hun, gerombolan itu menyerang sambil berteriak-teriak, gerakan mereka lincah dan gesit, Ui-hai-siang-liong tanpa membuang waktu mengerahkan ilmu Pek-lek-jiu, kibasan pukulan mereka yang penuh tenaga sin-kang menderu laksana halilintar menyambar.

Penghuni pulau neraka semakin lama semakin banyak, namun tubuh mereka susul menysul ambruk dihantam pukulan pek-lek-jiu, karena semakin banyaknya para pengeroyok Ui-hai-siang-liong mencabut pedang, dua kilatan cahaya pedang dengan rangkaian ilmu”te-thian-it-kiam” menggulung memporak- porandakan serangan penghuni pulau neraka, pertempuran semakin liar dan seru, untuk merobohkan gerombolan pengeroyok yang memiliki ilmu-ilmu aneh sangatlah sulit, walaupun sudah banyak yang roboh, namun semakin renggang keroyokan itu maka semakin hebat serangan para pengeroyok.

Ui-hai-siang-liong harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk bertahan dan menyerang, tidak terasa siang sudah berganti malam, namun pertempuran itu kian berlansung seru, pepohonan disekitar tempat pertempuran sudah porak-poranda, dan sulitnya bagi Ui-hai-siang-liong tiba-tiba suara gaung tawon terdengar smentara keroyokan dari penghuni pulau neraka semakin kuat

“kita menghindar dulu ke pantai Kim-moi.” bisik Yop-hun sambil meraih tangan istrinya, denagn sekali hentakan tubuh keduanya melenting keudara dan keduanya terbang dari pohun-ke pohon menuju pantai, penghuni pulau neraka mengejar hingga kepantai.

“ditepi pantai pertempuran dilanjutkan, dan Ui-hai-siang-liong dengan sabar dan telaten bertahan dan menyerang lawan, beberapa lawan sudah ambruk tidak bernyawa oleh sambaran pedang dan sambaran pedang, akhirnya saat menjelang pagi tinggal empat orang yang masih bertahan, namun mereka langsung masuk kedalam hutan.

Ui-hai-siang-liong duduk menenangkan pernafasan setelah melalui pertempuran yang melelahkan, saat matahari terbit dua puluh mayat penghuni pulau neraka dibuang Yo-hun kelaut, setelah itu Yo-hun menangkap ikan sementara Lui-kim menyalakan api, lalu merekapun membuat ikan panggang, setelah masak merekapun makan dengan lahap, namun sebelum selesai lima belas orang penghuni pulau neraka keluar dari hutan.

Diantara mereka ada seorang lelaki yang sudah tua dan uban yang memutih, dia adalah Ouw-ong pimpinan pulau neraka

“hahaha..hahhaa…haram jadah, kalian ini siapa yang telah mengacau pulau dan membunuhi anak buahku.” teriak Ouw-ong “kami kalau tidak diganggu juga tidak akan telengas menjatuhkan tangan maut.” sahut Yo-hun

“hahaha..hahaha…anak kurangajar siapa yang mengganggu dan siapa yang diganggu, pulau ini kami yang menghuni, kalian ini adalah pendatang.”

“benar cianpwe, tapi kami diserang tanpa bertanya, jadi kami hanya membela diri.” “hahaha..hahaha…sialan kalian ini siapa, cepat beritahu sebelum kucabut nyawa kalian.”

“kami adalah suami istri dari daratan besar dan kami memasuki pulau hanya untuk menangkap ular belang.” “pulau dan isinya adalah milikku, kalian sudah berbuat lancang.”

“maaf kalau begitu, ularnya pun belum kami dapat dan sudah terjadi benturan dengan kalian penghuni pulau neraka, lalu apa yang hendak kalian lakukan?”

“hahaha..hahhhaa, nyalimu luar biasa, demikian tenang dan percaya diri, kalian tidak boleh mengambil ular belang.”

“jika dengan cara baik-baik tidak diperkenankan, terpaksa kami memaksa untuk mendapat ular-ular tersebut.”

“hahaha..hahaha…kamu tidak memandang sebelah matapun kepadaku, sehingga berani menantangku, ciaattt…” Ouw-ong melompat laksana harimau marah, Yo-hun dengan gesit menghindar dan membalas serangan, duel yang segit dan serupun berlangsung cepat, anak buah Ouw-ong berbarisi menonton dan dibagian lain Lui-kim dengan waspada dan siap memperhatikan jalannya pertempuran.

Yo-hun mengerahkan pukulan-pukulan saktinya, dan sudah berkali-kali beradu tenaga sehingga menimbulkan dentuman keras memekakkkan gendang telinga, hingga seratus jurus lebih kedudukan masih imbang, namun pada dua puluh jurus berikutnya Yo-hun terpaksa bertahan dan mengurangi serangan, karena serangan Ouw-ong makin kuat dan ganas.

Lui-kim yang melihat suaminya terdesak dengan cepat terjun karena pertempuran mengeroyok Ouw-ong, Ouw-ong yang merasa sudah diatas angin menjadi terdesak, dua gulungan pedang yang laksana air bah menutup gerak perlwanan Ouw-ong, hanya tiga puluh jurus Ouw-ong bertahan sehingga pada satu kesempatan pukulan Yo-hun mdenghantam pundak kanannya, dan sebuah sabetan kilat dari Lui-kim melukai pergelangan tangan, Ouw-ong makin marah dan nekat, dia kembali menyerang, dan setengah jam kemudian dua tusukan pedang mengarah dada dan lambungnya, Ouw-ong melompat kebelakang sehingga tusukan Lui-kim yang mengarah lambung luput, namun serangan pada dadanya tidak dapat terhindar kecuali mengorbankan perutnya.

“ouw-ong tersenyum sambil memegang perutnya.

“seraaaang….” Perintah Ouw-ong kepada anak buahnya, empt belas orang itu merangsak maju, nanun dua kibasan yang berada dipuncak kegesitan merobohkan enam orang pengeroyok dengan urat leher putus, bahkan dua orang dari mereka lehernya hampir putus, dan tidak lama empat orang menyusul roboh, Ouw- ong nekat melompat membantu empat anak buahnya.

Dengan komando Ouw-ong serangan-serangan yang dilancarkan sangat berbahaya, namun Yo-hun adalah pendekar pilihan, dengan gerakan gesit, Yo-hun menyalib diantara kelima lawannya, dalam sepuluh jurus, Yo-hun terdesak hebat, lalu Lui-kim masuk kembali kedalam pertempuran, dan keadaanpun berbalik, Ouw- ong dan anak buahnya tercerai berai, dan pedang Lui-kim dengan cepat menyambar leher dua orang hingga putus.

Akhirnya penghuni pulau neraka harus mengakui kekosenan Ui-hai-siang-liong, Yo-hun dan istrinya istirahat untuk melepaskan lelah

“sebelum sore kita akan masuk kembali kedalam hutan untuk menangkap ular belang.” ujar Yohun, istrinya mengangguk setuju. Ui-hai-siang-liong dengan gerakan gesit dan waspada memburu ular-ular belang yang memang banyak berkeliaran dihutan pulau neraka, sebelum sore hari ratusan ular belang sudah didapatkan, dan keduanya kembali keluar hutan dan istirahat dihamparan pasir yang landai.

Keesokan harinya Ui-hai-siang-liong membelah perut-perut bangkai ular dan mengambil empedunya dan memasukkan kedalam guci berisi arak yang sudah disediakan.

“apakah kira-kira sudah cukup Hun-ko?”

“rasanya empat ratus empedu ular belang sudah lebih dari cukup jika memperkirakan peserta pertemuan.” “benar juga Hun-ko, lalu apakah siang ini kita akan berlayar kembali?”

“benar, kita akan berlayar siang ini.” sahut Yo-hun, lalu keduanya berkemas dan menaiki perahu.

Kota Nancao termasuk daerah yang ramai dan padat penduduk, dan siang hari yang cerah itu tiga orang kakek memasuki kota, tatapan ketiganya tajam dan menggetarkan siapa saja yang beradu pandang dengan mereka, mereka adalah Mo-san-lohap, Wan-kui, dan Bu-seng yang keduanya adalah Tung-san-sian-ji, ketiganya disambut seorang pelayan ketika memasuki sebuah likoan

”silahkan para cianpwe duduk, dan hendak memesan apakah?” “sediakan arak dan makanan.” ujar Wan-kui

“baik, segera cianpwe.” sahut pelayan dan beranjak dari depan ketiganya, tidak berapa lama makananpun dihidangkan, lalu ketiganya makan

Ketika pelayan sedang lewat didepan meja mereka, tiba-tiba tubuh pelayan itu melayang keatas “iihh..tolooong…tolong..” jeritnya dengan wajah pucat

“pelayan tunjukkan pada kami kediaman kungcu!” bentak Bu-seng, orang-orang yang menyaksikan terperanjat, keadaan menjadi gaduh

“kalian semua harus tunduk pada kami.” sela Wan-kui, semuanya terdiam hening, kemudian pelayan yang sedang mengapung itu turun dan menjejak lantai

“ayok tunjukkan kediaman kungcu!” bentak Bu-seng

“ba..baik..” sahut pelayan dengan tubuh genetar, lalu mereka keluar dari likoan, si pelayan membawa ketiganya kekediaman Tio-kungcu

“inilah kediaman kungcu.” ujar sipelayan setelah sampai didepan pagar kediaman kungcu, empat orang penjaga mendekati mereka

“siapa kalian dan ada urusan apa datang kesini!?” tanya seorang penjaga, namun dengan tidak diduga Wan-kui menampar sipenjaga sehingga terjengkang dan ambruk dengan kepala pecah, tiga orang rekannya terkejut dan hendak menyerang, namun ketiganya mengalami nasib yang sama, ketiganya ambruk dengan kepala pecah akibat tamparan Wan-kui

Sipelayan dengan wajah pucat pias menyaksikan keganasan itu hingga dia terduduk karena tidak mampu berdiri dan malangnya ditengah rasa takut yang sangat kepalanya diketuk Bu-seng dan tak bersambat nyawa si pelayan melayang.

Ketiganya memasuki halaman kediaman kungcu dan dipintu gerbang lima puluh orang pengawal sudah siap dengan senjata telanjang, sesaat ketiganya melihat barisan pengawal dan kemudian Bu-seng melompat dan menghantamkan sebuah pukulan dahsyat, suara gemuruh dan kisuran angin kencang melanda barisan pengawal sehingga membuat barisan itu porak-poranda, dua kali kibasan tenaga sakti Bu-seng telah melumpuhkan lima puluh orang tersebut, yang memiliki tenaga dan kemampuan lebih berusaha melawan Bu-seng, namun ditengah sesak nafas akibat benturan tenaga sakti Bu-seng, mereka hanya seperti laron menabrak api, tubuh mereka melayang dan terlempar beberapa tindak dan ambruk ketanah. Tio-kungcu dan keluarganya tidak ketinggalan dibantai habis tiga kawanan itu, sebagian kecil dari pengawal kungcu menyerah dan tunduk pada perintah, keadaan nancao geger akan peristiwa di kediaman Tio-kungcu dan penginapan.

Diruangan tengah didalam rumah Tio-kungcu ketiga kawanan itu sedang berembuk “bagaimana hal selanjutnya lohap?” tanya Bu-seng

“selanjutnya kita mengumpulkan pembantu-pembantu dalam melakukan misi penaklukan dan penyebaran momok sebagian wilayah barat dan sebagian wilayah selatan.”

“bagaimana rencana lohap untuk mewujudkannya?”

“kita datangi bukoan dan piauwkiok untuk menarik ketua dan kauwsu bergabung dengan kita.” “kapan hal itu kita lakukan?”

“kita perlu data keberadaan bukoan dan piauwkiok di kota ini.”

“kalau begitu kita panggil para pembantu yang sudah tunduk kepada kita.” Sela Wan-kui

“tidak usah dipanggil, sebaiknya kumpulkan saja mereka di aula pertemuan.” sahut Mo-san-lohap, kemudian ketiganya keluar dan menyuruh sisa pengawal berkumpul

Tiga puluh orang berkumpul di dalam aula, ketiga kawakan itu dengan angker berdiri dihadapan para pengawal

“kami ingin mengetahui berapa bukoan dan piauwkiok yang berada di kota ini, jadi beritahukan ada berapa?!” ujar Mo-san-lohap, seorang dari pengawal berdiri

“Bukoan ada lima sementara piauwkiok ada tiga.”

“baik kalau begitu, dua orang dari kalian, membawa saya ketempat itu dan demikian juga dengan dua rekan saya ini.” ujar Mo-san-lohap, kemudian tiga kawanan itupun berpencar menjadi tiga rombongan.

Mo-san-lohap dan dua orang pengawal sampai di”Hek-tung-bukoan” (perguruan tongkat hitam) yang guru besarnya adalah Lie-kang yang berumur lima puluh tahun, saat kedatangan Mo-san-lohap, Lie-kang sedang memperhatikan tiga murid utamanya melatih lima puluh orang muridnya.

Kedatangan tiga orang tanpa diundang itu kontan menghentikan latihan, seorang murid utama bernama A- sung mendekati Mo-san-lohap

“ada keperluan apa sehingga kalian lancing memasuki tempat ini!”

“plak….” Sebuah tamparan menghantam pipi A-sung, untung tidak menewaskannya tapi membuat dia pening sehingga ia limbung

“siapa yang menjadi kauwsu disini!?” bentak Mo-san-lohap sambil menatap Lie-kang yang duduk diserambi rumahnya, dan melihat kejadian cepat dan tidak terduga itu Lie-kang langsung meloncat dan mendarat ringan didepan Mo-san-lohap.

“siapa kamu? dan kenapa membuat kekacauan disini?” “apakah kamu kauwsu perguruan ini?”

“benar.. lalu apa maksudmu?” tantang Lie-kang

“bagus, sebelum kamu menyesal sebaiknya kumpulkan murid utama yang kamu asuh dan kalian bergabung dengan kami dirumah kungcu.”

“kenapa kami harus bergabung?!” “untuk keselamatan nyawa kalian, jawab setuju atau tidak, dan saya hanya sekali meminta? sahut Mo-san- lohap, Lie-kang meragu dan melihat A-sung yang masih terduduk dengan keadaan pening

“Sebutkan dulu kamu siapa dan apa untungnya bagi kami bergabung.”

“wuut….prak…buk…” tangan Mo-san-lohap bergerak dan dengan susah payah Lie-kang menghindar kebelakang, namun gerakan Mo-san-lohap luarbiasa cepat dan kibasan tangan berikutnya tidak bisa dihindarkan sehingga kepala Lie-kang pecah berantakan dan sebuah pukulan menghantam perutnya, Lie- kang ambruk tewas, semua muridnya terkejut menyaksikan kejadian cepat dan luarbiasa itu.

Sebagian merangsak maju untuk membalas kematian kauwsu mereka, namun dalam empat gebrakan Mo- san-lohap sudah merubuhkan mereka dengan tangan maut yang dahsyat, dua puluh orang tergeletak tewas termasuk tiga murid utama, sisanya lemas bertekuk lutut meminta ampunan pada Mo-san-lohap, namun Mo-san-lohap tanpa berkata sudah mengantar mereka semua pada kematian.

“kamu kumpulkan harta berharga perguruan ini dan bawa ke kediaman kita, dan kamu ikut saya ke tempat berikutnya!” ujar Mo-san-lohap, seorang dari dua pengawal tinggal ditempat dan seorang lagi membawa Mo-san-lohap ke sebuah piauwkiok yang bernama”Hui-coa” (ular terbang).

Hui-coa dipimpin oleh Song-Hui seorang lelaki tampan berumur empat puluh tahun, dua orang penjaga mendekati Mo-san-lohap yang memasuki halaman piauwkiok

“saya ingin bertemu dengan pangcu kalian, suruh dia keluar!” ujar Mo-san-lohap, dua penjaga itu kontan marah

“orangrtua tidak tahu diri, bicara seenaknya.” bentak seorang penjaga, dan beberapa orang sudah berdatangan dan mengurung Mo-san-lohap.

Mo-san-lohap yang mendapat hinaan tersebut langsung bergerak bagaikan setan membinasakan tujuh orang didepannya, ketujuh orang itu tidak menduga akan serangan luarbiasa cepat itu terlebih sipenjaga yang membentak, tanpa mereka sadari pukulan maut itu telah menewaskan mereka, saat Mo-san-lohap hendak bergerak menyerang enam orang disampingnya Song-hui muncul

“maaf cianpawe.. ada apa ini, kenapa membunuhi anak buah saya?” “apakah kamu pangcu disini?”

“benar cianpwe..”

“baik..saya perintahkan kamu bergabung dan tunduk pada kami dan ikut ketempat kungcu.” ujar Mo-san- lohap, Song-hui yang melihat kehebatan Mo-san-lohap ciut nyalinya

“baiklah… saya akan ikut ketempat kungcu dan bergabung dengan kalian.”

“bagus, dan kalau ada yang bisa diandalkan dari anak buahmu ini bawalah sekalian!”

“Cu-sute, Coa-sute ikutlah dengan saya!” ujar Song-hui menatap kedua adik seperguruannya. Dua orang yang dipanggilpun maju dan mengikuti Song-hui, ketiganya berjalan dibelakang Mo-san-lohap.

Selama satu hari itu pekerjaan ketiga kawanan itu selesai, dan mereka mendapatkan pendukung sebanyak lima belas orang dari dua piauwkiok dan dua bukoan. Lima belas orang itu dijadikan pasukan inti gerakan mereka.

Seminggu kemudian ketiga kawanan itu kembali berpencar, dan kali ini Mo-san-lohap menuju kota Wuhan, Bu-seng kekota Tian-an dan Wan-kui kekota Wujin, ketiga kota itu berada diwilayah barat, gerakan ketiga kawanan itu memang luarbiasa dalam menundukkan para pendekar, kauwsu dan pangcu yang berada di wilayah barat dan selatan, dalam jangka empat bulan tujuh puluh pasukan khusus sudah direkrut yang kesemuanya pendekar dengan kemampuan tingkat tinggi, dan seratus pasukan inti dengan kemampuan dua tingkat dibawah pasukan khusus. Dan tidak hanya anak buah yang dikumpulkan bahkan harta benda juga dikumpulkan, sehingga ketga kawanan itu laksana kaisar, dan mereka dikenal dengan sebutan”Nancao-mo-sam” (tiga iblis dari Nancao) kondisi ini sudah barang tentu mengguncangkan dunia persilatan, kabar terus merebak menembus keutara sampai ketimur, terlebih pada masa empat bulan itu Kota Lijiang juga mengalami hal yang sama dengan munculnya julukan”Lijiang-ok-sam” (Tiga sijahat dari Lijiang) dan disusul kemudian kota Hehat dengan julukan”Hehat-kui-sam” (tiga siluman dari Hehat) dan terakhir kota Hanzhong dengan munculnya”Hanzhong-koai-sam” (sitiga aneh dari Hanzhong) kota-kota tersebut dikuasai tiga kawanan sakti luarbiasa.

Pagi itu kota Nancao dimasuki lima orang pendatang baru, salahsatu dari mereka adalah seorang perempuan luarbiasa cantik, dia adalah istri Im-yang-sin-taihap Kwee-kim-in, dan empat orang tua yang sudah berumur yakni Sim-couw-peng, Li-wan-fu, Cu-kang dan Lauw-kun, mereka adalah she-taihap dari pulau kura-kura.

Ketika Kwee-kim-in memasuki istana pulau kura-kura Kwee-kim-in disambut penuh suka cita para suheng dan sosonya.

“hmh…kemanakah Kwaa-sute sumoi? apakah kalian baik-baik saja?” tanya Coa-ban-kui. “suamiku baik-baik saja Coa-suheng.”

“lalu kenapa dia tidak ikut bersamamu?” “kami sedang membagi tugas suheng.” “tugas… tugas apakah itu sumoi?”

“Pah-sim-sai-jin telah kembali, dan telah membuat hal yang luar biasa.” “apakah hal yang luarbiasa itu sumoi?” sela Kam-hong

“Kam-suheng, Pah-sim-sai-jin telah menjadikan para pendekar pada pertemuan pemiluhan bengcu menjadi boneka, mereka semua dikendaalikan oleh Pah-sim-sai-jin untuk melakukan penindasana dan kejahatan.”

“hmh…gawat kalau begitu.” sela Lou-bhong

“Dan suami saya  menyuruh  saya  kesini untuk menyampaikan kepada  para  suheng  dan juga  Bu-ko menyuruh saya dan para suheng untuk menyisir barat sampai kota Bao di wilayah timur.”

“Kekota Bao? ada apa dengan kota Bao?” tanya Wan-gak

“kita akan berkumpul disana baik Bu-ko, Wan-yokong, Ui-hai-siang-liong dan yang lain-lain.” “jadi kita tidak boleh berlama-lama.” gumam Coa-ban-kui

“benar sekali Coa-suheng.” Sahut Kwee-kim-in

“baiklah kalau begitu, besok sumoi beserta Sim-couw-peng, Li-wan-fu, Cu-kang dan Lauw-kun akan berangkat menyisir ke wilayah barat sebagaimana pesan Kwaa-sute, sementara saya dan tiga sute yang lain akan mengantisipasi wilayah selatan.”

“baik suheng…” jawab mereka serempak.

Keesokan harinya she-taihap pun keluar dari pulau menuju daratan besar, perjalanan mereka tidak tergesa- gesa, karena penyisiran dilakukan dengan jeli dan teliti, namun ketika sampai dikita Hopei terdengar berita pergolakan di kota nancao, dan para pendekar banyak yang tunduk dibawah tiga kawanan sakti yang bermarkas di nancao.

She-taihap memasuki likoan dan memesan makanan, Kwee-kim-in yang melihat wajah-wajah penduduk sepanjang perjalanan dari Hopei ke nancao sudah paham, karena kelihatan jelas para penduduk dalam tekanan dan ketakutan “suheng apakah rencana kita selanjutnya?”

“kita harus datangi secara terang-terangan tiga kawanan itu.” jawab Li-wan-fu “menurut saya tidak demikian.” sela Sim-couw-peng

“menurut Sim-suheng bagaimana?” tanya Kwee-kim-in

“kita harus menyusun rencana dan strategi yang matang, karena yang kita hadapi bukan hanya tiga kawanan tersebut, bahkan kumpulan pendekar kalangan atas.”

“lalu ide Sim-suheng bagaimana?”

”pertama kita selidiki dulu peta kekuatan mereka.” “demikian juga baik.” sela Lauw-kun

“jadi setidaknya dua hari kedepan kita sudah dapat mengetahui keadaan”Nancao-mo-sam” ujar Sim-couw- peng

Malam harinya kelima she-taihap menuju markas Nancao-mo-sam, tempat itu sepi dan hening, peronda malampun tidak ada, Kwee-kim-in mengendap-endap diatas genteng rumah induk yang mewah, sementara empat bayangan she-taihap juga beraksi dibangunan lain.

Kwee-kim-in semakin waspada dengan kondisi yang demikian tenang dan mencekam, disebuah ruangan yang besar dan redup karena hanya diterangi sebuah lilin tiga orang tua sedang duduk siulian, Kwee-kim-in dengan mengerahkan gin-kangnya mengendap-endap untuk memperhatikan   tiga   orang   tersebut “luar biasa desahan nafas ketiganya nyaris tidak terdengar.” pikir Kwee-kim-in, Kwee-kim-in secara seksama mempelajari seluk bangunan induk yang ditempati Nancao-mo-sam.

Selama dua jam Kwee-kim-in berada diarea bangunan induk, lalu kemudian dia keluar dan kembali kepenginapan, satu jam kemudian keempat suhengnya muncul

“bagaimana hasil penyelidikanmu Lauw-sute?” tanya Sim-couw-peng

“tempat itu menurut saya aneh, semua orang yang saya lihat dalam bangunan itu tidur pulas.” “saya juga mendapatkan hal yang serupa.” sela Li-wan-fu

“benar sekali, satu hal janggal bahwa kumpulan sebesar itu tidak memiliki struktur keemanan.” sela Kwee- kim-in

“apa aktivitas dari tiga kawanan itu sumoi?”

“mereka bertiga seperti tenggelam pada siulian, layaknya orang yang mati.” “hmh..lalu apa yang kamu dapati semalam Cu-sute?”

“bangunan yang saya datangi hanya berupa sebuah gudang berisi ransum.”

“walaupun markas itu kelihatan janggal menurut pengamatan saya pada bangunan yang saya datangi semalam, mereka terdiri dari tiga tingkatan.”

“tingkatan bagaimana menurut Sim-suheng?” tanya Li-wan-fu

“pertama tentu”nancao-mo-sam” kemudian dua bagian yang lain adalah orang-orang yang ada dibangunan yang saya datangi dan yang didatangi oleh Li-sute.” jawab Sim-couw-peng

“kalau begutu apa tindakan kita selanjutnya?” tanya Cu-kang

“jika mendatangi secara terang-terangan tentu kita akan kalah jumlah dan kekuatan, jadi kita harus memcah belah kumpulan mereka.” “maksudnya bagaimana Sim-suheng?” tanya Kwee-kim-in “ada dua cara menurut saya menghadapi mereka.”

“apa itu Sim-suheng?” tanya Lauw-kun

“pertama kita mengajukan tantangan pada Nancao-mo-sam untuk pibu.” “lalu yang kedua?” sela Cu-kang

“yang kedua kita membakar gudang ransum dan mengambil harta mereka, dan kita usahakan mereka terpencar pada tiga jurusan”

“sebaiknya kedua ide Sim-suheng sama-sama kita jalankan.” Sela Kwee-kim-in “maksudmu bagaimana sumoi?” tanya keempat suhengnya serempak

“maksudnya aku akan mengajukan tantangan pada Nancao-mo-sam dan kemudian para suheng melaksanakan ide kedua, sehingga dengan demikian nancao-mo-sam tidak dapat tidak membagi kekuatannya.”

“hmh…demikian    juga    bagus,    tapi    apakah    sumoi    dapat    mengatasi    nancao-mo-sam?” “semoga saja, saya dapat mengatasinya suheng, dan kalau dapat korban tewas tidak ada, kalaupun ada kita berusaha meminimalisir”

“baiklah kalau begitu, sumoi akan mengadakan pibu dua hari didepan di hutan persik dan besok malam kita menjalankan trik kedua.” ujar Sim-couw-peng

Keesokan harinya Kwee-kim-in bergerak menuju markas nancao-mo-sam, Kwee-kim memasuki halaman kediaman nancao-mo-sam, keadaannya sama seperti malam ketika dia datang, tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangannya

“nancao-mo-sam..!” teriak Kwee-kim-in dengan pengerahan sin-kang luar biasa, sehingga tempat itu laksana dilanda gemuruh, dan dalam waktu sekejap ratusan orang sudah mengelilingi halaman dengan tatapan bringas, Nancao-mo-sam juga muncul dengan dan berdiri di selaras rumah induk, Kwee-kim-in dengan tatapan tajam memandang pada tiga lelaki tua yang berdiri gagah diselaras rumah.

“Nancao-mo-sam! saya adalah Kwee-kim-in” “katakan maksudmu sebelum kamu mati disini.”

“Nancao-mo-sam saya ingin mengajukan tantangan pada kalian bertiga untuk mengadakan pibu dua hari mendatang di hutan persik, datanglah kalian kalau kalian punya nyali.”

“sialan…ciaatt…..” Bu-seng dengan lompatan gesit menerjang Kwee-kim-in, namun dengan gesit Kwee- kim-in menhgindar, Bu-seng menjadi penasaran dan menerjang lagi dengan kekuatan penuh, namun sampai sepuluh jurus Bu-seng tidak mendapatkan sasaran.

“aku sudah mengajukan tantangan, jadi jangan buat malu muka Pah-sim-sai-jin.” ujar Kwee-kim-in sambil menghilang dari hadapan mereka

“ini tidak boleh, perempuan itu harus ditewaskan.” teriak Bu-seng karena marahnya, kedua rekannya juga menjadi sangat marah, muka mereka makin merah laksana udang rebus, hal ini disebabkan nama Pah-sim- sai-jin disebut.

“baik..nanti kita penuhi tantangannya dan saat itu ia tidak boleh lagi hidup.” ujar mo-san-lohap dengan nada geram, kemudian ketiganya kembali kedalam, dan anak buahnya juga meninggalkan halaman rumah. Pada malam esoknya pibu empat she-taihap beraksi, Cu-kang dan Lauw-kun membakar gudang ransom, dengan cepat api menjalar melahap bangunan, para penghuni panik dan kacau, ketika Nancao-mo-sam keluar melihat gudang, Sim-couw-peng dan Li-wan-fu membobol kamar penyimpanan harta, empat peti berisi emas dan uang diangkut keduanya menuju selatan, sementara Lauw-kun dan Cu-kang lari ke utara. menjelang pagi Nancao-mo-sam makin marah setelah menyadari harta mereka juga hilang, dengan segera semua anak buah dikumpulkan

“cepat pasukan inti mengejar pengacau yang membakar gudang dan pasukan khusus menyelidiki pencuri harta.” ujar Mo-san-lohap

Pagi itu dua pasukan berpencar melaksanakan tugas yang diberikan ketua mereka, sementara Nancao-mo- sam berangkat ke hutan persik. Ketika pasukan inti keluar dari gerbang sebelah utara, jumlah mereka lebih dari tujuh puluh orang Lauw-kun dan Cu-kang menghadang mereka di pinggir sebuah hutan

“siapa kalian cepat menyingkir!” bentak salah seorang dari mereka “kamilah yang membakar gudang ransom kalian.”

“sialan..seraaang…!” teriaknya dengan kesal dan marah, sepuluh orang langsung mengurung kedua she- taihap, she-taihap tanpa basa-basi bergerak cepat merubuh para pengeroyok, dan dalam dua puluh jurus sepuluh orang rubuh dan digantikan lima berang lainnya menerjang dan mendesak kedua she-taihap, namun dengan kemampuan keduanya yang memang jauh diatas para lawannya, keduanya tidak gugup, dan laksana seringat wallet dan sedahsyat rajawali keduanya membabat barisan pengeroyok, keduanya berusaha teidak membunuh, hanya membuat mereka luka-luka dalam yang membuat mereka tidak berdaya.

Dalam jangka tiga setengah hari tujuh puluh lebih pasukan inti menggeloso tidak berdaya. “kalian semua harus ikut perintah, kami tidak akan membunuh kalian.” ujar Lauw-kun “baiklah taihap, kalau boleh kami tahu, dengan siapakah kami berhadapan?”

“kami ini datang dari pulau kura-kura.” “ohh..kalau begitu ampunkan kami she-taihap.”

“ampunan itu akan kalian dapatkan asal saja kalian tidak lagi berbuat aniaya dan mengikut langkah Nancao- mo-sam.”

“kami ini jauh diatas ketiganya, bagaimana kami menghindar dari tekanannya?”

“kalian tetaplah dihutan ini dan tunggu kondisi, semoga saja sumoi kami dapat menaklukkan Nancao-mo- sam.”

“baiklah she-taihap kami akan menunggu disini.”

“ya…jika kami besok tidak datang maka kalian boleh memasuki kota Nancao, sekarang kami pergi.” ujar Lauw-kun, lalu keduanya segera memasuki kota dan bersegera menuju pintu gerbang sebelah selatan.

Dipintu gerbang selatan kota terjadi pertempuran segit dimana dua she-taihap dikeroyok sepuluh orang kosen, tapi walaupun demikian dua she-taihap masih gigih mengadakan perlawanan, sementara dua puluh orang lain masih mengurung dan bersiap untuk menyerang, dan lima orang dari mereka sudah ada yang tergeletak tidak berdaya.

Gerakan Sim-couw-peng dan Li-wan-fu demikian mantap dan gesit, para pengeroyoknya yang terdiri dari pasukan khusus terus menyerang dengan ledakan marah yang semakin menjadi-jadi, Lauw-kun dan Cu- kang segera terjun kemedan pertempuran membantu kedua suheng mereka, dengan munculnya dua kekuatan luar biasa ini kontan sepuluh orang itu tercerai berai, dan dalam waktu yang tidak lama empat dari pengeroyok terlempar dan ambruk tidak berdaya.

Delapan orang langsung memasuki pertempuran menggantikan empat orang kawannya yang ambruk, pertempuran semakin seru dan riuh, suara benturan sin-kang memekakkan telinga dan kilatan pedang bersileweran mengiriskan mata yang menontonnya, setengah jam kemudian empat orang dari pasukan khusus ambruk lagi, dan kontan enam orang masuk menggantikan, pertempuran terus berlangsung dan semakin seru walaupun senja sudah datang, empat she-taihap dengan gigih dan sabar merobohkan para pengeroyok, beberapa luka sabetan sudah diterima empat she-taihap, namun karena hanya luka ringan pasukan khusu Nancao-mo-sam harus rela bahwa disaat malam tiba tiga puluh orang dari mereka sudah rebah tidak berdaya, sepuluh diantaranya tewas dan yang lainnya menderita luka parah.

Lima orang pasukan khusus terpaksa bertekuk lutut menyerah

“kami maklum kalian terpaksa melakukan penindasan kepada orang lain, dan harapan kami kalian kembali pada kebenaran dan tidak lagi mengikuti Nancao-mo-sam.” ujar Sim-couw-peng

“apa yang bisa kami perbuat she-taihap! jika Nancao-mo-sam masih ada ditengah-tengah kami.”

“berdoalah kita semoga saja sumoi kami dapat menaklukkan tiga kawanan itu, dan perlu kalian ketahui bahwa kondisi nancao-mo-sam tidaklah normal, ketiganya berada dalam kendali.” sahut Sim-couw-peng

“oh…dibawah kendali siapakah ketiganya she-taihap?” “mereka dibawah kendali Pah-sim-sai-jin.”

“baiklah kami akan tinggalkan kalian, dan tolong saudara-saudara yang tewas dikuburkan dan yang luka segera dibantu untuk berobat.” ujar Sim-couw-peng, lalu keempat she-taihap berkelabat meninggalkan mereka.

Sementara itu di hutan persik saat Kwee-kim-in berhadapan dengan Nancao-mo-sam “sungguh bernyali kamu nona menantang kami!” ujar Wan-kui

“menyaksikan kejahatan kalian sungguh saya harus melupakan kebodohan diri sendiri.” sahut Kwee-kim-in

“jika memang ingin mati maka rasakanlah ini!” bentak Bu-seng sambil menerjang dengan pukulan sakti yang mengeluarkan hawa panas, Kwee-kim-in yang sudah waspada dengan tenang menyambut pukulan tersebut

“blamm…” suara hentakan dahsyat meldak membuat tempat itu bergetar, Bu-seng terlempar tiga meter sementara Kwee-kim-in hanya bergetar, Bu-seng yang tidak mengira kekuatan lawan dengan rasa jengkel menyerang lagi, Kwee-kim-in dengan ilmu”im-yang-sian-sin-lie” memapaki serangan, Wan-kui yang juga tidak menyangka melihat rekannya terlempar demikian rupa bersamaan menyerang Kwee-kim-in.

Pertempuran tingkat tinggi yang amat luar biasa berlangsung seru, tarian im-yang yang dikeluarkan Kwee- kim-in sungguh gesit, indah dan luar biasa, diselingi suara gemerisik yang membuat daya serangan kedua lawannya mental dan meleset, kedua lawannya berusaha merubuhkan Kwee-kim-in, namun kali ini mereka harus puas dengan kondisi terdesak hebat, kibasan-kibasan ujung sabuk Kwee-kim-in membuat mereka terkejut, belum lagi dua serangan tangan dan suara gemerisik yang mematahkan semangat tempur mereka.

Pada jurus keseratus sebuah tamparan keras mengenai bahu kiri Wan-ki dan akibatnya Wan-ki terpapar kesamping sambil memuntahkan darah segar, Mo-san-lohap langsung bergerak membantu kedua rekannya, dan kali ini tiga cianpwe tingkat senior menjajal kehebatan Kwee-kim-in.

Kwee-kim-in meningkatkan kehebatan ilmu”im-yang-sian-sin-lie” kandungan langkah-langkah”kim-peng-hok- te-pat” dan”sin-tiauw-poh-chap-sha” membuat ketiga lawannya bagai bermain dengan bayangan sendiri, Nancao-mo-sam mengerahkan segala kemampuan untuk merobohkan lawan yang amat handal ini, namun sampai tiga ratus jurus mereka belum dapat mendesak Kwee-kim-in, daya serang Kwee-kim tetap kuat dan dahsyat berkat”liong-tin-siulian” yang luar biasa, ketiga lawannya sudah mandi keringat dan nafas sudah mulai memburu, sementara Kwee-kim hanya dahinya yang berkeringat dan nafasnya demikian tenang.

Ketika malam sudah tiba Nancao-mo-sam sudah sangat kepayahan, sehingga dua pukulan dan satu tentangan menghantam tubuh ketiganya, dan kembali ketiganya memuntahkan darah segar untuk kesekian kalinya, dan kali ini Wan-kui tidak bisa mempertahankan nyawanya karena pukulan pada dadanya telah meremukkan jantung hingga ia tewas, Mo-san-lohap dengan kalap menerkam

“duk…….plak…” dua pukulan beradu, Mo-san-lohap terlempar dengan nyawa putus karena pembulu darahnya hancur berantakan dan kepalanya pecah akibat kepretan ujung sabuk. Saat itu empat she-taihap muncul, Bu-seng yang hendak berdiri namun tidak kuasa dan diapun limbung dan jatuh tergeletak pingsan.

“bagaimana keadaanmu sumoi?” tanya Sim-couw-peng

“saya baik-baik saja suheng, bagaimana dengan anak buah nancao-mo-sam?” “mereka sudah ditundukkan, dan sebagian kecil tewas.”

“hmh… hanya satu dari mereka ini yang tidak tewas.” ujar Kwee-kim-in sambil melihat keadaan Bu-seng. “lalu apa yang kita perbuat dengan orang tua ini?” sela Cu-kang

“kita harus penjarakan dia dikota terdekat sebagaimana yang dilakukan Ui-hai-siang-liong pada pendekar yang lain.” sahut Kwee-kim-in.

“benar, setidaknya kita bisa minta bantuan pemerintah di Wuhan, karena keadaan nancao sekarang tidak stabil dan kekosongan pemerintahan.” sela Lauw-kun

“baik..marilah kita kembali ke dalam kota untuk bermalam, dan besok kita akan melanjutkan perjalanan ke kota Wuhan.” ujar Sim-couw-peng, lima she-taihap pun kembali kedalam kota dan melewatkan malam dipenginapan, keesokan harinya lima she-taihap dan Bu-seng meninggalkan kota Nancao.

Kota Lijiang di sebuah rumah mewah sedang terjadi pertemuan penting, dalam ruangan itu tiga orang tua yang ditakuti dengan sebutan Lijiang-sam-ok, mereka adalah Sin-ciu-sian, Lou-ciangbujin dan Song- ciangbujin, sudah delapan bulan ketiga kawanan kosen itu membuat Lijiang resah, dalam menjalankan tindak kejahatannya ketiga orang itu bekerja tanpa kaki tangan, mereka membantai habis para pendekar yang menantang mereka, para hartawan juga tidak luput dari keganasan ketiga kawanan ini, kemudian hartanya dirampas.

Hari itu kota Lijiang diguyur hujan lebat, jalanan yang biasanya ramai nampak lenggang, disebuah penginapan tamanya nampak berjubel, karena para pedagang jalanan yang sudah selesai makan tertahan untuk menunggu hujan reda, sementara para tamu juga terus berdatangan.

Lima orang pendatang baru sedang melintasi jalan raya, dengan mantel dan tudung kepala kelimanya menapak jalan penuh genangan air, ketika kelimanya manatap penginapan yang berjubel, mereka melewati pinginapan tersebut, sudah empat likoan she-taihap lewati, namun karena berjubelnya tamu, she-taihap terus menyusuri jalan untuk mencari likoan yang tidak padat oleh tamu.

Akhirnya diujung gang, sebuah likoan kecil masih dapat menampung tamu, kelimanya memasuki likoan, dan nempaknya ada dua meja yang kosong, seorang pelayan menyambut mereka dan mempersilahkan mereka duduk.

“apa yang hendak dipesan tuan?”

“sediakan dulu teh hangat!” ujar Sim-couw-peng, tidak berapa lama teh hangatpu datang, benerapa saat kemudian merekapun memesan makanan, disamping mereka seorang lelaki tua sedang makan dengan tenang, kemudian dua orang memasuki likoan sementara meja sudah penuh, kedua orang itu mendekati pak tua

“pak tua menyingkirlah, kami hendak memakai tempat dudukmu!” bentak seorang dari keduanya yang berkepala botak dan ikat kepala warna hitam

“silahkan saja ambil kursi dan duduklah, meja ini dapat kita pakai bersama.” sahut lelaki tua itu

“tidak bisa, lebih baik kamu pergi sebelum kamu dapat masalah.” Bantah orang berambut tebal dan berowok yang lebat

“sicu, aku sedang makan, jadi janganlah memaksakan kehendak.” sahut si pak tua

“sialan..kamu mau cari mampus tidak menurut pada”tiat-bouw-ji” (dua harimau besi).” bentak sikepala botak “sicu, kalian janganlah memaksakan kehendak, saudara tua itu telah mau berbagi meja, dan seharusnya tida ada yang perlu diributkan.” sela Cu-kang, kedua orang itu menatap Cu-kang dengan pandangan berkilat marah

“jangan ikut campur urusan”tiat-bouw-ji” kalau mau selamat.”

“jangan sesumbar dan memandang remeh orang lain.” sahut Cu-kang

“sialan…! kamu berani menantang Tiat-bouw-ji, rasakan ini..!” teriak sikepala botak dan melepaskan pukulan sakti, namun

“heghh…..” sikepala botak terduduk dengan nafas sesak, karena pukulannya sendiri balik menghantam dadanya, darah meleleh dari sudut bibirnya, para tamu sontak panik dan menyingkir

Sirambut tebal terbelalak melihat rekannya pucat meringis kesakitan, dengan pandangan marah siberowok lebat menerjang Cu-kang

“aduowwwhhhh…” si berowok menjerit sambil memegang kakinya, karena sumpit Cukang menusuk telapak kakinya sehingga membuat darahnya tersirap dan mengepos detakan jantungnya, rasa sakit membuat bulu romanya berdiri, keduanya dengan wajah pucat berdiri dan dengan tertatitih meninggalkan penginapan.

“terimakasih taihap…”ujar si pak tua

“sama-sama cianpwe, mereka memang tidak tahu diri dan berlaku kasar.” sahut Cu-kang “sepertinya kalian ini pendatang baru.”

“benar cianpwe, kami datang dari selatan.” “saya juga pendatang baru.”

“hendak kemanakah tujuan cianpwe?”

“saya hendak kembali ke timur, dan para sicu hendak kemanakah?” “kami juga hendak menuju ke timur.”

“wah kenapa mengambil jalan memutar sicu, kenapa tidak dari selatan langsung ke timur?” “perjalanan kami juga sedang menyisir keadaan cianpwe.”

“menyisir tionggoan merupakan tradisi she-taihap, apakah saya berhadapan dengan she-taihap?” “benar cianpwe, tapi apa maksud cianpwe menyisir tionggoan tradisi she-taihap?”

“mungkin she-taihap tidak menyadari apa yang telah dilakukan generasi she-taihap dari dulu, hampir disetiap generasi she-taihap ada yang menyisir daerah tionggoan sebagai amanah yang diwariskan pendahulu kalian, pendahulu kalian tidak dipungkiri adalah bengcu, posisi bengcu memang tidak diwariskan, namun semangat dan tanggung jawab bengcu sudah menjadi bagian dari she-taihap.

“kami tidak menyadari hal itu cianpwe, dan kalau boleh tahu siapakah cianpwe?” “saya hanya seorang tabib she-taihap, saya bermarga wan”

“oh…tak disangka kita dapat bertemu disini cianpwe.” sela Kwee-kim-in.” “eh…apa maksudnya she-taihap?”

“tentunya cianpwe adalah wan-yokong, bukan?” “hmh…benar, orang memanggilku seperti itu.” “perkenalkan saya adalah Kwee-kim-in dan ini empat suheng saya, dan kami termasuk bagian dari misi tugas yang cianpwe sepakati dengan Ui-hai-siang-liong.”

“oh..begitu rupanya, jadi Im-yang-sin-taihap tentu sudah mengetahui keadaan yang melanda dunia persilatan.”

“sudah cianpwe, dan kami telah bertemu dengan Kao-hong-li, dan apakah cianpwe sudah memperoleh jamur Linzi?”

“sudah, saya sudah mendapatkannya didaerah Tibet.”

“syukurlah kalau begitu, karena tujuan kita sama-sama kekota Bao di timur alangkah baiknya jika kita mengadakan perjalanan bersama.”

“demikianpun bagus sumoi, bagaimana cianpwe?” sela Sim-couw-peng

“tentu aku juga tidak keberatan she-taihap, dan kapankah perjalanan kita mulai?”

“tentunya kita harus membereskan Lijiang-ok-sam cianpwe, karena kami yakin bahwa ketiga kawanan ini juga boneka bagi Pah-sim-sai-jin.”

“hmh….saya juga sudah mendengar sepak terjang mereka sebelum memasuki kota Lijiang.”

“jadi malam ini kita akan menginap untuk menundukkan Lijiang-sam-ok.” ujar Sim-couw-peng, dan makan pun dilanjutkan.

Malam harinya Kwee-kim-in mengunjungi kediaman Lijiang-ok-sam, Kwee-kim-in dengan ilmu gin-kangnya yang luarbiasa mengendap-endap, disebuah ruangan nampak empat orang sedang duduk, Kwee-kim-in tidak menduga bahwa orang keempat itu adalah Pah-sim-sai-jin

“kalian bertiga persiapkan diri, karena mungkin dalam jangka dekat akan datang lawan berat bagi kalian, ketiga rekan kalian di kota Nancao telah ditaklukkan.”

“kami siap….kami akan menghadapi lawan berat.”

“mereka adalah she-taihap, musuh besar saya dan harus kalian bunuh, walaupun kalian harus ikut tewas.” “kami akan membunuh musuh pah-sim-sai-jin walaupun harus tewas.”

“bagus, saya akan berada di belakang kalian.” ujar Pah-sim-sai-jin dan kemudian suasana hening kembali.

Kwee-kim-in segera meninggalkan tempat itu dan kembali kepenginapan “suheng, kali ini kita harus lebih hati-hati, karena pah-sim-sai-jin ada disini.” “hmh…kalau begitu hal ini berat bagi kita.” sahut Li-wan-fu

“benar, dan Pah-sim-sai-jin sudah mengetahui bahwa bonekanya di nancao sudah takluk dan mengetahui juga bahwa kitalah yang menaklukkannya.”

Lalu bagaimana selanjutnya, apa yang harus kita perbuat?” sela Lauw-kun, sesaat semuanya terdiam “menurut saya, kita tetap harus bertemu dengan Lijiang-ok-sam dan melawan mereka.”

“lalu bagaimana dengan pah-sim-sai-jin sendiri, kita jelas tidak tahu kekuatan dan kemampuan Lijiang-ok- sam, dan yang pasti kita berempat di bawah tingkat pah-sim-sai-jin.” sela Cu-kang.

“bagaimana pendapatmu sumoi?” tanya Sim-couw-peng

“saya sependapat dengan Wan-cianpwe, pilihan kita hanya itu, dan perkiraan saya, kita masih dapat mengatasinya, jika sekiranya saya tidak terganggu dengan ilmu hipnotis pah-sim-sai-jin.” “untuk hal itu saya hanya bisa sedikit membantu.” sela Wan-yokong

“bagaimana cianpwe, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi ilmu hitam pah-sim-sai-jin?” “siapa yang akan menghadapi pah-sim-sai-jin?” tanya Wan-yokong

“saya cianpwe.” jawab Kwee-kim-in

“menurut pengalaman saya ilmu hipnotis pah-sim-sai-jin amat luar biasa, dan jujur saya katakan bahwa saya juga tidak tahu apakah akan berhasil.”

“katakanlah wan-yokong, dan tidak ada salahnya untuk mencoba.” Sela Sim-couw-peng

“cara yang saya ketahui untuk menangkal hipnotis adalah memakai tutup kepala emas dan telapak kaki maupun tangan harus dilumuri dengan darah yang sulit dan tidak mampu kita dapatkan.”

“memangnya darah apakah wan-cianpwe?” sela Lauw-kun

“darah bayi yang baru lahir.” Jawab wan-yokong, lima she-tai-hap terkejut. “apakah darah itu satu kemestian cianpwe?”

“benar kalau ingin daya tangkal lebih baik.”

“apakah artinya pakai penutup kepala emas sudah bisa dipadakan?”

“dipadakan sih bisa lihap, tapi apakah akan mampu lihap hadapi, masalahnya untuk dua syarat itu saja, saya tidak tahu apakah akan mampu menagkal hipnotis pah-sim-sai-jin yang demikian hebat sehingga mampu menguasai orang yang ribuan mil jauhnya, dan itu bukan hanya seorang tapi bahkan ratusan orang, dan faktanya orang-orang itu memiliki sin-kang yang tidak rendah”

“dasarnya tentu sin-kang cianpwe, bukankah begitu?” sela Li-wan-fu

“benar, jika sin-kang jauh diatas si pemilik ilmu hitam, tentunya mampu diatasi, tapi siapakah yang memiliki tujuh kali lipat sin-kang pah-sim-sai-jin?” sahut Wan-yokong, semuanya terdiam dan tercenung

“memang sungguh sulit kalau begitu, menurut perkiraan saya Bu-ko sendiri tidak akan sampai tujuh kali lipat diatas pah-sim-sai-jin.” gumam Kwee-kim-in.

“lalu taroklah cianpwe tidak yakin dengan penutup kepala emas dan darah tersebut, apakah tetap akan ada pengaruh jika memakai dua syarat itu.” sela Cu-kang

“tetap akan berpengaruh terlebih kalau sin-kang sipemakai diatas pah-sim-sai-jin.” “kalau begitu pantas dicoba penutup kepala emas tersebut.” sela Kwee-kim-in

“tapi kalau hanya tutup kepala tanpa darah, sangat berbahaya sumoi.” sela Sim-couw-peng

“tidak mengapa suheng, hanya apakah wan-cianpwe memiliki pendapat mengatasi bau amis yang dikeluarkan pah-sim-sai-jin?”

“kalau hal itu saya hanya dapat sarankan laihap makan bunga kanoka dan mengoleskan bubuk ginseng naga dibawah hidung.”

“dimana kita dapatkan ginseng naga itu?”

“saya memiliki bubuk ginseng naga itu, dan bunga kanoka ada saya lihat tumbuh dipintu gerbang barat.” “bagaimana sumoi adakah kita akan lanjut menghadapi pah-sim-sai-jin?” “benar suheng, kita tidak akan surut mundur, semoga para suheng dapat mengatasi Lijiang-ok-sam dan saya sedaya yang ada akan menghadapi pah-sim-sai-jin.”

“baiklah kalau begitu, besok kita akan ketempat kungcu atau hartawan. dan Cu-sute akan kepintu barat untuk mengambil bunga kanoka.” ujar Sim-couw-peng.

“dan biarlah saya disini untuk mempersiapkan bubuk ginseng naga tersebut.” sela Wan-yokong.

“baiklah cianpwe.” sahut Sim-couw-peng, lalu merekapun bubar, Kwee-kim-in kembali kekamarnya, begitu juga dengan Li-wan-fu, Cu-kang dan Wan-yokong.

Keesokan harinya cukang menuju gerbag kota sebelah barat dan empat she-taihap keluar mencari kungcu atau hartawan, empat she-taihap tidak dapat menjumpai kungcu, karena kungcu di Lijiang sudah tewas, dan pemerintahan kosong dipegang oleh seorang ciangkun tapi kondisinya juga parah dan tidak bisa diharapkan, karena kekayaan sudah dikuras Lijiang-ok-sam, namun oleh ciangkun she-taihap disuruh menemui Ma-wangwe

“Ma-wangwe seorang yang culas dan berkepandaian tidak rendah.”

“apakah hanya dia hartawan yang tidak diganggu LIjiang-ok-sam?” tanya lauw-kun

“benar, karena ketika Lijiang-ok-sam memasuki kota, dia telah memberikan gedung mewah miliknya untuk ditempati Lijiang-ok-sam, dan bahkan memberikan daftar para hartawan untuk diganyang Lijiang-ok-sam.”

“baiklah kalau begitu ciangkun, kami akan menjumpai Ma-wangwe.” ujar Sim-couw-peng.

ketika empat she-taihap memasuki halaman rumah Ma-wangwe, empat penjaga dengan wajah sangar mendekat

“cepat enyah dari sini, ini kediaman Ma-wangwe!” “kami mau bertemu Ma-wangwe.” sahut Lauw-kun

“tidak boleh, Ma-wangwe sedang istirahat dan tidak menerima tamu.” “kalau tidak boleh, kami akan memaksa.” tantang Lauw-kun

“kalian mau cari mati..!” bentak lelaki bertubuh besar dan memukul dengan tangannya yang kekar, Lauw- kun menagkap tangan dan langsung meremasnya, si penjaga menjerit-jerit kesakitan sembali melayangkan sebuah pukulan, namun apes baginya, tanyannya yang sebelah juga ditangkap dan diremas, urat lehernya menggembung menahan sakit, karena kedua pergelangan tangannya seperi dijepit baja yang kuat.

Lauw-kun melemparkan tubuh penjaga tersebut kearah rekan-rekannya, sehingga mereka rubuh bersama, karena keributan tersebut puluhan pengawal Ma-wangwe sudah mengepung she-taihap.

“seraang….” teriak pimpinan pengawal, puluhan orang langsung menerjang maju,namun mereka harus terbentur kekuatan dahsyat yang dikeluaarkan empat she-taihap, puluhan orang yang menerjang terlempar melayang empat sampai lima meter

“sebelum lebih parah, kalian semua mundur dan biarkan kami menemui majikan kalian.” ujar Sim-couw- peng, kumpulan pengawal merasa ciut melihat puluhan rekan mereka ambruk tidak berdaya.

“siapa pengacau-pengacau ini!” teriak seorang lelaki tua dengan pakaian mentreng keluar dari dalam rumah

“maaf tuan, empat orang ini hendak memaksa menemui tuan.” Sahut seorang sambil berlutut didepan Ma- wangwe.

“siapa kalian, cepat enyah dari sini dan jangan mengganggu saya.” bentak Ma-wangwe dengan sinis. “kami butuh bantuan dari Ma-wangwe.” sahut Sim-couw-peng “heh..saya ini bukan pekerja social, Pergilah…! kalian salah alamat.” “tidak, hal yang kami butuhkan hanya ada pada Ma-wangwe.” “heh…apa yang kalian butuhkan!?”

“kami minta bantuan pada Ma-wangwe untuk menyumbangkan emas untuk membuat sebua mahkota.” “enak saja kalian, ngomong seenaknya, aku tidak akan memberikan hartaku pada kalian.”

“jika diminta tidak diberi, terpaksa kami ambil dengan paksa, jadi silahkan tuan pilih.”

“sialan! bunuh para pengacau ini!” teriak Ma-wangwe, puluhan pengawalnya bukan malah maju tapi mundur karena melihat akibat yang diderita teman-temannya.

“heh..! kenapa mundur? cepat enyahkan mereka!” teriak Ma-wangwe makin marah, muka para pengawalnya meragu, namun ciutnya nyali mereka lebih menguasai hati mereka, sehingga sebagian besar dari mereka menyingkir.

“sialan..kalian semua, susah-susah saya melihara, ternyata semua tidak ada gunanya.”

“sudahlah Ma-wangwe, sebaiknya anda menyerah daripada mengalami hal yang lebih fatal.” sela Li-wan-fu,

Ma-wangwe menatap empat she-taihap “baik…apa yang yang harus saya lakukan!?”

“berikanlah kami emas untuk dilebur menjadi sebuah mahkota.” “apakah jika saya penuhi, saya akan kalian ampuni?”

“benar Ma-wangwe.” sahut Li-wan-fu

“baik tunggu sebentar, saya akan ambilkan.” ujar Ma-wangwe, Ma-wangwe masuk kedalam rumah, dan beberapa lama kemudian dia keluar membawa tujuh batang emas dengan ukuran sebesar telapak tangan dewasa dengan ketebalan empat inci.

Sim-couw-peng menerima tujuh batang emas “apakah ini sudah bisa membuat sebuah mahkota?” “sudah cukup untuk kepala yang besar.”

“tentu Ma-wangwe tahu tempat pengolahan mata benda berharga, dimanakah kami dapat orang yang mengolahnya?” tanya Lauw-kun.

“kalian ketempat Tio-gan disebelah barat kota, dia mantan pengerajin benda-benda kerajaan.”

“terimakasih Ma-taijin, maaf telah merepotkan!” sela Kwee-kim-in, dengan jumawa Ma-wangwe menatap Kwee-kim-in, tapi mukanya tiba-tiba pucat pias, ketika empat she-taihap menghilang didepan matanya, tubuhnya menggigil sehingga terduduk.

Empat she-taihap memasuki kediaman Tio-gan yang sedang sibuk diruang kerjanya

“apakah kami berhadapan dengan Tio-gan?” tanya Lauw-kun, Tio-gan menatap empat she-taihap sembari berdiri kemudian mengambil kain lap membersihkan tangannya.

”siapakah kalian? dan apa keperluan kalian sehingga datang kesini?”

“kami dari pulau kura-kura, dan hendak minta bantuan Tio-sicu untuk melebur emas untuk dibuatkan mahkota untuk kepala perempuan.” “apakah kalian she-taihap?” seru Tio-gan

“dunia kangowu menamakan kami demikian.” sahut Sim-couw-peng, lelaki berumur lanjut itu pun membungkuk

“selamat datang di pondok saya ini she-taihap, maaf tidak menyambut sebagaimana harusnya.” “ah…tidak mengapa Tio-sicu, dan dapatkah Tio-sicu membantu kami dalam hal tadi?”