-->

Kembalinya Si Manuisa Rendah (Sai Jin Lu) Jilid 2

Jilid 2

Empat bulan kemudian sampailah Pah-sim-sai-jin di sebuah lembah yang bernama”Hek-In-kok” (lembah awan hitam) disebelah utara kota Dali, ketika Pah-sim-sai-jin sedang makan binatang buruannya, seorang kakek berpunuk muncul dari kedalaman hutan, kakek itu sudah sangat tua, umurnya lebih delapan puluh tahun, namun langkahnya yang di topang oleh tongkatnya demikian kokoh.

“hehehe…hehehe…. ternyata ada orang makan batu.” ujar si kakek, serta merta Pah-sim-sai-jin melihat panggang ayam hutan yang dimakannya, dan alangkah terkejutnya ia, bahwa yang dipegangnya ternyata sebongkah batu, Pah-sim-sai-jin mengerahkan ilmu”Toat-beng-hoat-sut”

“bukan! ini adalah ayam panggang” sahutnya, namun berkali-kali ia mengerahkan kekuatannya, tetap saja yang dipegangnya adalah sebongkah batu

“hehe….hehe… orang gila lagi menghayal, mengatakan ayam pada sebongkah batu.” ujar si kakek, tiba-tiba Pah-sim-sai-jin bertopang dagu dan mulutnya komat-kamit, kemudian Pah-sim-sai-jin melemparkan benda ditangannya

“ayam..eh bukan, tapi batu, eh bukan batu tapi ayam.” Kalimat itu dibolak balik sambil mengambil batu dan kemudian melemparkannya kembali, lalu Pah-sim-sai-jin tertawa sambil bertopang dagu, kemudian menagis sesugukan sambil tengkurap, bahkan kemudian Pah-sim-sai-jin merobek-robek bajunya sambil menari, kemudian kembali kekalimat yang dibolak-baliknya antara ayam dan batu.

Kakek tua itu ketawa terpingkal-pingkal menyaksikan kelakuan Pah-sim-sai-jin sambil menggerogoti ayam panggang ditangannya, demikian nikmat si kakek menikmati kunyahanya pada daging panggang yang aromanya memenuhi selera, setelah makanannya habis, si kakek meninggalkan Pah-sim-sai-jin yang masih berkelakuan aneh, sampai setengah hari Pah-sim-sai-jin berkelakuan aneh seperti itu, dan ketika hampir sore batulah Pah-sim-sai-jin sadar, dan mengingat-ingat yang terjadi

“sialan benar kakek itu.” Gerutunya, lalu Pah-sim-sai-jin terus masuk kedalam hutan kearah datangnya si kakek.

Setelah malam tiba Pah-sim-sai-jin menemukan sebuah pondok kayu, yang dari keadaanya yang tertata menunjukkan pondok itu berpenghuni, Pah-sim-sai-jin tanpa sungkan memasuki pondok, dengan anteng Pah-sim-sai-jin membaringkan tubuhnya di sebuah dipan, karena dia berencana melewatkan malam di pondok tersebut.

Ketika larut malam sebuah gerakan halus mengagetkan Pah-sim-sai-jin, dengan ringan ia melompat keatas dan duduk di kuda-kuda atap, tidak lama kemudian pintu terbuka, ternyata sikakek yang tadi pagi bertemu Pah-sim-sai-jin yang yang masuk, kakek itu membawa buntalan yang isinya ternyata orok bayi yang mati bersimbah darah, si kakek kemudian meletakkan orok itu dalam wajan, kemudian menyalakan api, lalu orok bayi itupun dimasak, Pah-sim-sai-jin memperhatikan semua yang dilakukan si kakek

“eh orang gila, kamu sekarang jadi monyet, sehingga kamu nagkring di situ.” ujar si kakek sambil menoleh ke atas, serta merta Pah-sim-sai-jin berkelakuan seperti monyet dan mengeluarkan suara seperti monyet, sikakek tertawa sambil memegang perutnya, apes bagi Pah-sim-sai-jin semalaman bahkan sampai tiga hari ia menjadi monyet di pondok sikakek, bahklan disuruh mencari buah dan berburu ayam untuk makanan si kakek.

Pada hari keempat, si kakek membuyarkan sihirnya, dan Pah-sim-sai-jin pun sadar, Pah-sim-sai-jin tercenung didepan si kakek, Pah-sim-sai-jin memikirkan hal yang ia alami

“kakek, siapakah kamu, kenapa kamu mempermainkan aku sedemikian rupa?”

“kok malah bertanya siapa aku, harusnya kamu yang mengatakan siapa dirimu, kamu masuk pondokku tanpa seizinku.” sahut si kakek

“kakek tua jangan kamu main-main denganku, kamu ini tidak tahu berurusan dengan siapa.” ujar Pah-sim- sai-jin ketus

“heehehe…hehehe… sudah jadi bahan mainan, tapi masih saja sombong, sifat yang menarik.” sahut si kakek

“memangnya kamu siapa pemuda burik!?” tanya si kakek “phuah…aku adalah Pah-sim-sai-jin.”

“hehehe..hehehe julukan yang luar biasa, aku suka..aku suka..”

“serendah apakah dirimu Pah-sim-sai-jin!?” tanya si kakek dengan senyum senang

“kakek bongkok, aku adalah manusia tersadis dikolong langit ini, ilmuku luar biasa, dan kejahatanku sudah menyelimuti seluruh wilayah tionggoan ini.” jawab Pah-sim-sai-jin dengan nada bangga

“hehehe..hehehe… luar biasa kamu burik, siapakah suhumu yang demikian berhasil mengajarimu.”

“phuah….kalau aku kasih tahu, tentu kamu tidak akan kenal, karena aku saja tidak kamu kenal, walhal aku sudah menggemparkan seluruh Tionggoan.”

“hehehe…hehehe…., benarkah, lalu kenapa kamu kesasar kesini?”

“aku tidak kesasar, seluruh Tionggoan tunduk dibawah kakiku, apalagilah hanya pondok kecilmu ini.” “apakah itu artinya kamu akan mengambil alih pondokku!?”

“iya, kalau kamu tidak bermamfaat untuk saya.”

“badebah haram jadah, si burik jelek! apa yang kamu andalkan didepan saya, hah!?” bentak si kakek

“phuah…nih rasakan thian-te-ong akan menghajarmu.” tantang Pah-sim-sai-jin sambil menyerang dengan cepat, si kakek berkelit, namun alangkah terkejutnya si kakek menerima serangan yang bertubi-tubi, dan dia merasakan aroma yang tidak baik dari hawa tubuh yang keluar dari Pah-sim-sai-jin, serta merta si kakek melompat keluar dan menjauh.

“tunggu dulu, jangan main-main denganku, kalau tidak kamu akan kujadikan ulat busuk.” teriak si kakek, mendengar itu Pah-sim-sai-jin terpaksa berhenti

“pah-sim-sai-jin, aku suka dengan sikapmu, mungkin kamu memang sakti, namun dengan sihirku kamu itu tidak apa-apa di hadapanku.”

“lalu apa maumu!?” sahut Pah-sim-sai-jin

“hehehe..hehhe… luar biasa..luar biasa aku suka gayamu Pah-sim-sai-jin.” ujar sikakek “kamu memang aset dunia hitam yang luar biasa.”

“memang aku adalah penguasa dunia hitam.” “ya…ya…aku akui itu, jadi marilah kita bicara baik-baik, kita ini adalah orang segolongan.” “segolongan kalau tidak ada mamfaatnya untuk apa, lebih baik kamu mati saja.” “hehehe..hehehe….sudah sadis, rendahan dan bahkan tidak tahu diri.” puji si kakek

“jika kekuatanmu sekarang di tambah ilmu yang ada padaku, maka tentunya kamu akan menjadi manusia tidak terkalahkan.”

“hmh… apakah itu artinya kamu mau membagi ilmu sihirmu padaku!?”

“tentu, aku senang memberikan ilmuku padamu, karena kamu adalah kemala hek-to yang jarang bandingannya.”

“hmh….kalau begitu siapakah kamu sebenarnya kakek bongkok.” “hehehe…hehehe… aku adalah”hoatsut-sian” (dewa sihir) “kenapa kamu mengasingkan diri disini.”

“aku terikat perjanjian dengan seseorang yang mengalahkan aku puluhan tahun yang lalu.” “siapa yang mengalahkanmu!?”

“aku dulu dikalahkan Kwee-sun-hok anak dari Kwee-sin-peng dari pulau kura-kura.” “kamu dikalahkan cucunya Kim-khong-taihap?”

“benar, apakah kamu tahu dengan she-taihap?”

“aku tahu dengan mereka, karena mereka adalah musuh besarku.”

“kalau begitu kita jodoh Pah-sim-sai-jin, aku senang mewariskan ilmuku padamu.”

“aku juga senang menerima ilmu sihirmu yang luar biasa, karena dengan ilmu itu aku akan dapat menghabisi turunan terakhir dari she-taihap.”

“hmh… apa maksudmu dengan turunan terakhir?”

“phuah…kamu tidak tahu bahwa aku telah membabat habis she-taihap, di empat wilayah,”

“oh..ya luar biasa kalau begitu, tapi bagimana kamu tidak bisa membunuh turunan terakhir mereka?”

“turunan terakhir she-taihap yang berjulukan Im-yang-sin-taihap memiliki kesaktian yang luar biasa, dia bisa memisahkan raganya sehingga menjadi dua, sehingga ilmuku mentah dihadapannya, sementara para pendahulunya tidak seperti itu, sehingga aku berhasil menewaskan mereka semua.”

“hmh… sungguh menarik Pah-sim-sai-jin, dan jika engkau dapat menguasai ilmuku, maka sudah jelas kamu akan bisa menghabisi nyawa turunan she-taihap tersebut.”

“aku kira juga demikian, hanya aku ragu, apakah ilmu sihirmu akan dapat mengatasi ilmu pemisah raga dari Im-yang-sin-taihap.”

“hehehehe….hehehe….., itu tergantung bagaimana engkau mengukur dirimu, jika engkau mengukur dirimu lebih hebat dari im-yang-sin-taihap atau pun seimbang, maka ketahuilah bahwa seluruh kesaktianmu tidak akan dapat mencelakakanku, karena sebelum engkau mengerahkan kesaktianmu, engkau telah ada dalam kekauasaan sihirku, kamu bergerak jika hanya kuperintahkan, dan itu akan berlaku jika selama aku dekat denganmu, kamu itu ibarat kambing yang akan kugiring kemana aku suka, dan sangat mudah jika aku ingin menyembelihmu.” sahut Hoatsut-sian, pah-sim-sai-jin terdiam dan tidak menyangkal akan kenyataan betapa sampai tiga hari ia dikuasai oleh sihir si kakek. “Hoatsut-sian, jika aku berhasil membunuh im-yang-sin-taihap, maka halangan terbesar misi hek-to akan lenyap, dan itu artinya kejahatan selamanya akan berada diatas kebaikan.”

“benar pah-sim-saijin, dari dulu she-taihap adalah musuh utama bagi kita, hek-to selama ini terisolasi karena keberadaan she-taihap, dan jika benar bahwa she-taihap hanya tinggal turunan terakhir, maka alangkah sudah dekatnya kejayaan hek-to.”

“kalau begitu apa selanjutya Hoatsut-sian?”

“kamu harus belajar ilmu dariku, dan saya yakin selama tiga atau empat tahun, kamu akan dapat menyempurnakan ilmu sihir yang kamu pelajari dariku.”

“hmh…baiklah hoatsut-sian, aku akan mempelajari ilmu yang kamu ajarkan.”

“hehehe…hehehe…baiklah dan hal yang pertama yang harus kamu lakukan adalah”Wei-eng-siulian” (semedi bayangan rasa) selama satu bulan, dan makananmu selama sebulan adalah cacing tanah.”

“bagaimana kalau aku tidak makan?”

“tidak bisa, kamu harus makan setidaknya satu ekor satu hari.” “hmh..baiklah kalau begitu, semedi itu akan aku lakukan.”

Malam harinya Hoatsut-sian membawa Pah-sim-sai-jin memasuki sebuah goa yang ada di bukit sebelah barat dari pondoknya, goa itu cukup dalam sehingga membuat dalam goa remang-remang kurang cahaya, didinding goa sebelah dalam ada liang sedalam tujuh meter, dan hanya bisa dimasuki dengan merangkak, liang itu amat gelap, kemudian bagian bawah liang ada lubung sedalam tujuh puluh senti dan panjangnya dua meter.

“Pah-sim-sai-jin, kamu lihat liang itu!?” tanya Hoatsut-sian, Pah-sim-sai-jin mengangguk

“kamu masuklah dengan merangkak keliang itu, dan didalam liang itu akan kamu temui lubang sedalam tujuh puluh senti, lalu kamu baringkan tubuhmu di situ.” ujar Hoatsut-sian

“baik, akan aku lakukan.” sahut Pah-sim-sai-jin, lalu ia pun masuk kedalam liang, dan setelah merangkak sedalam tujuh meter, lubang yang dikatakan Hoatsut-sian pun dijumpainya, lalu ia pun memberingkan tubuhnya dengan posisi telentang, kemudian terdengar suara lapat-lapat

“dalam semedi ini dawamkan dalam hatimu perkataan “kekuatan adalah kekuasaan”

Pah-sim-sai-jin pun melapalkan ucapan itu dalam hati, sementara Hoatsut-sian kembali ke pondoknya, hari demi hari berlalu, setiap hari Hoatsut-sian datang secara ruh memebrikan cacing sebagai makanan Pah- sim-sai-jin, pada malam ke sepuluh Pah-sim-sai-jin dalam semedinya didatagi lelaki tinggi besar dengan seguci arak yang besar dan sebuah buntalan

“apakah kamu mau minum arak?” Tanya lelaki itu “tentu, aku sangat suka arak.”

“kalau begitu minumlah.” sahut lelaki itu sambil menuangkan arak itu pada sebuah cangkir yang, dan mengangsurkannya pada Pah-sim-sai-jin, Pah-sim-sai-jin menerima dan langsung meneggak arak tersebut

Setelah Pah-sim-sai-jin minum

“hahaha..hahaha..bagus, sekarang makanlah isi buntalanku ini.” ujarnya sambil mebuka buntalan, ternyata isi buntalan adalah kepala-kepala bayi, lelaki itu memukul kepala bayi itu hingga pecah dan otaknya berurai, otak itu di tarok dalam sebuah wajan perak, kemudian memberikannya kepada Pah-sim-sai-jin, Pah-sim-sai- jin pun menerimanya, dan kemudian memakan otak bayi itu, rasanya asin dan anyir, tapi Pah-sim-sai-jin merasa tersedak, namun segera ia meminum arak dan mendorong makanan itu tertelan. Otak kepala bayi habis dimakan Pah-sim-sai-jin sebanyak tiga

“anak manusia, sungguh kamu telah lulus dalam hal ini, dan ketahuilah bahwa minuman arak akan menekan akalmu sehingga kamu menjadi berbuat tanpa pemikiran, otakmu adalah jatah perutmu, itulah symbol otak bayi yang kamu makan ini, jadi kamu telah menjalani hidup sesuai hasratmu tanpa harus menimbang ini dan itu dengan akalmu.” ujar lelaki itu dan kemudian lelaki itu pun hilang.

Pada malam kedua puluh Pah-sim-sai-jin didatangi seorang lelaki dengan wajah yang sangar dan bengis, lelaki itu memanggul gada berduri, disamping lelaki itu sangar itu, dia juga sedang menyeret tiga orang, yakni seorang lelaki dan perempuan dan digendongan perempuan itu ada bocah berumur tiga tahun.

“Pah-sim-sai-jin memperhatikan empat orang itu, lelaku sangar itu membentak dan menarik rantai yang mengikat kedua orang itu sehingga tubuh mereka jatuh didepan Pah-sim-sai-jin

“ini gada, pegang dan gunakanlah.!” ujar lelaki sangar itu “apakah maksudmu aku harus membunuh ketiga orang ini!?”

“terserah padamu, ada gada ditanganmu, ada tiga manusia didepanmu, apa yang akan kamu perbuat?” jawab lelaki sangar itu, Pah-sim-sai-jin tanpa basa-basi langsung mengayun gada menghantam kepala si lelaki yang berwajah arif tersebut

“prak….” Kepala lelaki itu hancur remuk dan darah muncrat kemana-kemana, terdengar jeritan histeris si wanita, matanya memendang Pah-sim-sai-jin dengan penuh iba, dan

“prakkk..” Pah-sim-sai-jin mengayunkan gadanya ke kepala si wanita, kembali darah muncrat dari kepala yang remuk pecah.

Wanita itu tergeletak, dan kemudian si bocah duduk sambil senyum memandang Pah-sim-sai-jin dengan matanya yang bening polos, dan

“prak…” kepala kecil bocah itu hancur luluh lantak dan darahpun muncrat membasahi muka Pah-sim-sai-jin.

“bagus anak manusia, kamu telah melakukannya dengan tanpa sedikitpun riskan dan sungkan, kamu telaah lulus dalam hal ini, dan ketahuilah bahwa lelaki itu adalah symbol kearifan dan tanggung jawab, dan kamu tidak membutuhkan itu sehingga kamu membunuhnya, kemudian wanita itu adalah symbol harga diri, namun bagimu harga diri juga tidak diperlukan, sehingga kamu juga telah menewaskannya, dan bocah itu adalah symbol welas asih, namun bagimu welas asih juga tidak di butuhkan, sehingga kamu pun membunuhnhya.” ujar lelaki berwajah sangar, dan kemudian menghilang.

Dan pada malam ketiga puluh seorang wanita cantik mendatangi Pah-sim-sai-jin, beserta wanita itu ada tiga wanita, yang seorang sangat tua, yang kedua wanita dewasa, yang ketiga anak perempuan kecil, ketiga wanita     itu     berwajah     buruk,     ketiga     wanita     itu     duduk     di      hadapan      Pah-sim-sai-jin “tiga wanita ini ada dihadapanmu, apa yang hendak kamu lakukan, lakukanlah!” ujar perempuan cantik itu.

Pah-sim-sai-jin menatap ketiga wanita dihadapannya, kemudia ia meraih anak perempuan kecil itu dan mempermainkannya dengan jalang, anak perempuan itu menjerit-jerit histeris, dengan brutal Pah-sim-sai-jin merejang anak kecil itu hingga mati, kemudian hasratnya disalurkan kepada wanita dewasa, wanita dewasa itu melayaninya dengan tidak kalah agresifnya, perhelatan birahi itu sangat lama, sehingga siwanita mengerang-erang kesakitan, namun bagi Pah-sim-sai-jin wanita itu harus direjang dan dipermainkan sepuas-puasnya, akhirnya wanita itu lemas dan tidak kuat lagi dan kemudian tewas.

Pah-sim-sai-jin meraih wanita tua itu dan melakukan hal yang sama, wanita tua itupun megap-megap meracau dengan kotor, namun setelah sekian lama ia pun tewas, Pah-sim-sai-jin masih mempermainkan mayat si wanita tua tanpa henti, sampai sekian lama Pah-sim-sai-jin belum juga berhenti, tiba-tiba wanita cantik itu membuka pakaiannya dan dengan erotis melangkah kearah Pah-sim-sai-jin, membeludak birahi setan Pah-sim-sai-jin melihat tubuh aduhai perempuan itu, dengan sigap Pah-sim-sa-jin memeluk wanita bertubuh hangat dan lembut itu, wanita itu dengan mesra dan penuh gairah melayani Pah-sim-sai-jin, entah sudah berapa lama mereka melakukan kemesuman itu, kemudian siwanita tersenyum dan menolak tubuh Pah-sim-sai-jin “bagus anak manusia, kamu telah lulus dalam semedi ini, ketahuilah bahwa ketiga wanita itu adalah symbol nafsu tanpa batas, dan ternyata kamu memulainya dari anak perempuan kecil dan berakhir pada wanita tua, itu artinya bahwa nafsu birahimu tidak mengenal indah dan cinta, dan nafsu birahimu juga tumbuh tanpa mengenal batas, dan aku adalah symbol akhir dari nafsumu yang tiada batas, dengan nafsumu itu kamu akan meraih keindahan dari segala rasa, puncak dari segala keindahan.” ujar perempuan itu, dan kemudian menghilang.

Setelah perempuan cantik itu hilang, tiba-tiba terdengar suara

“pah-sim-sai-jin keluarlah!” mendengar suara yang ia tahu suara hoatsut-sian, Pah-sim-sai-jin pun bangkit dan merangkak keluar, setelah keluar dari liang, pah-sim-sai-jin keluar dari dalam goad an menemui Hoat- sut di depan goa

“bagus Pah-sim-sai-jin, kamu telah melakukan semedi selama lima puluh hari, dan sekarang marilah kita kembali kedalam pondok untuk mempersiapkan latihan kamu selanjutnya.” ujar Hoatsut-sian, kemudian merekapan turun dari bukit dan kembali kepondok.

“Pah-sim-sai-jin, persiapan latihanmu selanjutnya, kita harus mengumpulkan tujuh kepala binatang.” “binatang apa sajakah itu Hotsut-sian?”

“kepala burung hantu, burung gagak, dan kelelawar, kemudian kepala anjing, kepala babi, kepala macan, dan kepala ular yang bisa terbang.”

“sepertinya akan sulit mengumpulkan tujuh kepala itu hoatsut-sian.”

“benar, dan ini akan memakan waktu, dan yang sulit mendapatkannya hanya kepala ular terbang, kren ular itu tidak kita dapatkan ditempat ini.”

“dimanakah kita mendapatkan ular terbang?”

“kita hanya mendapatkan itu di pulau neraka, jadi besok berangkatlah menuju pantai laut kuning, dan berlayarlah ke pulau itu, dan saya akan gambarkan letak pulau itu padamu.”

“baiklah hoatsut-sian, aku akan melakukan perjalanan untuk mendapatkan kepala ular itu.”

“keuletanmu memang luar biasa Pah-sim-sai-jin, dan juga ketahuilah bahwa selama dalam masa peroses latihan ini, kamu harus menghindari pertempuran dengan apapun.”“jika saya mengalami pertempuran, apa yang akan terjadi?” tanya Pah-sim-sai-jin dengan nada heran

“jika kamu melanggar pantangan ini, maka kamu akan gila selamanya, dan kamu tidak akan lagi menyukai berhubungan dengan manusia kecuali hanya dengan binatang.” jawab Hoatsut-sian, merinding bulu roma Pah-sim-sai-jin mendengar akibat pantangan itu.

Keesokan harinya Pah-sim-sai-jin berangkat menuju laut kuning, dia membawa peta pulau neraka, karena bahaya jika ia bertemu dengan orang, maka Pah-sim-sai-jin mengambil jalan yang sepi dan sunyi di lembah dan gunung, medan perjalanan ini sangat sulit dan penuh halangan, oleh karena itu membuat perjalanan Pah-sim-sai-jin sangat lambat.

Disebuah bukit sebelah utara Kota Cang-bun, dua orang sedang memanggang binatang buruan, keduanya adalah Ouw-ciong dan Lu-eng-hwa, mereka adalah dua rekan Pah-sim-sai-jin yang juga melarikan diri dari hadapan Im-yang-sin-taihap

“sebaiknya kamu menghilangkan warna tubuhmu, karena hal itu amat menyolok dan memudahkan bagi Im- yang-sin-taihap untuk mengikuti jejak kita.” ujar Lu-eng-hwa

“hmh.. benar juga, lalu kemanakah rencana kita selanjutnya?” “untuk sementara ini kita harus sembunyi dulu.”

“kemana kita akan sembunyi?”

“kita akan ketempatku di kota Hailar di wilayah timur, itu tempat yang aman bagi kita.” “kalau begitu marilah kita lanjutkan.” sahut Ouw-ciong, kemudian berangkatlah kedua orang dengan perjalanan yang sangat cepat.

Selama perjalanan hubungan kedua dedengkot hek-to itu semakin akrab, Lu-eng-hwa berumur lima puluh lima tahun sementara umur Ouw-ciong tiga puluh lima tahun, walaupun kedua umur mereka bebeda jauh namun hasrat untuk saling menyenangkan terjalin baik diantara keduanya, terlebih rasa senasib sepenanggungan dalam baying-bayang ketakutan pada Im-yang-sin-taihap.

Enam bulan kemudian mereka sampailah di”In-tek-san” tempat Lu-eng-hwa dulunya menimba ilmu “tempat yang indah dan menyenangkan.” gumam Ouw-ciong

“apakah menurutmu kamu akan betah disini Ouw-ciong?”

“tentu, rasanya aku akan betah berada disini, terlebih kamu kamu berada disisiku.” “hik..hik… jangan merayu Ouw-ciong, aku ini sudah tua tentu tidak menaarik lagi

“benar Eng-hwa kamu itu sudah tua, namun kamu tetap kelihatan cantik, bagian-bagian tubuh yang sensual masih menyimpan kobaran gairah yang melelapkan.”

“ah..sudahlah, sebentar lagi malam akan tiba, dan tempat ini akan berhalimun, jadi lakukanlah apa yang kamu ingin lakukan untuk menghangatkan kita, aku sudah tidak kuat lagi mendengar rayuanmu.” ujar Lu- eng-hwa, dengan senyum dengan helaan nafas yang memburu, Ouw-ciong memeluk dan menggendong Lu-eng-hwa dan memasuki sebuah goa yang, ditengah keremangan dan gelapnya goa, kemesuman yang merupakan kebanggaan bagi kedua manusia nista ini berlangsung riuh gairah.

Keesokan harinya keduanya keluar dari dalam goa disambut matahari yang sudah naik tinggi, lalu keduanya menuju sumber air dan dengan canda nakal dua makhluk yang sudah tergolong tua itu mandi bersama, setelah itu keduanya mulailah membangun pondok untuk tempat mereka, dan selama dua minggu pondok itupun dapat diselesaikan.

“apa yang akan kita lakukan selanjutnya Eng-hwa?” “kita akan menetap disini, dan melatih ilmu-ilmu kita.”

“pemikiran yang bagus, bahkan kalau dapat kita akan coba menggabung ilmu kita dan menciptkan jurus- jurus ampuh sebagai modal membalas dendam pada Im-yang-sin-taihap.” sahut Ouw-ciong

“benar sekali Ouw-ciong, alangkah puas dan leganya jika kita dapat menghabisi nyawa Im-yang-sin-taihap, penciptaan jurus itu akan kita saring dengan jeli sehingga merupakan intisari dari kedua ilmu kita, yang tentunya akan memeliki keampuhan yang luar biasa.

“kalau begitu marilah kita berpibu untuk mengambil intisari ilmu kita, dan nantinya setelah itu kita akan rangkai menjadi sebuah jurus.” sahut Ouw-ciong, kemudian keduanya pun berdiri dan kemudian keduanya saling menyerang, ilmu-ilmu andalan dikeluarkan, dalam pibu tangan kosong yang memakan waktu dua jam penuh, keduanya sudah melihat bagian-bagian inti gerakan lawan.

Setelah itu keduanya mengeluarkan senjata, dua pedang saling berkeredapan menyabet diantara tubuh- tubuh yang bergerak lincah dan gesit, gulungan sinar pedang demikian menyilaukan, pibu dengan senjata ini berlangsung sampai sore hari, setelah itu keduanya berhenti dan menggeloso ditanah, Ouw-ciong mendekati tubuh Lu-eng-hwa yang rebah mandi keringat, dan dengan nakal meremas tubuh Lu-eng-hwa

“aih….ih…kamu nakal.” jerit Lu-eng dengan nada manja

“habis kamu menggemaskan Eng-hwa, bagian dadamu ini begitu menantang dan amat menggemaskan birahi

“hmh…aku bau dan berkeringat..”

“justru karena keringat ini yang membuat lekuk tubuhmu menimbulkan rangsangan lebih.” “ah..kamu ini ceriwis, tapi kalau pengen kenapa hanya dibicarakan, ayok mana tindakannya.” tantang Lu- eng-hwa, mendengar itu Ouw-ciong menunggangi Lu-eng penuh gairah, menjilati seluruh tubuh Lu-eng, sehingga membuat Lu-eng-hwa menggeliat menggelinjang kenikmatan

Pesta gairah itu pun berlangsung sampai malam tiba, dan setelah itu mereka pergi membersihkan diri kesumber air ditengah gelapnya malam, kemudian malampun dilewatkan dengann kemesraan dan pelukan hangat serta perbincangan tentang hal-hal yang akan dilakukan esok dan rencana kedepan membalaskan dendam pada Im-yang-sin-taihap.

Kota hehat yang ramai penuh kesibukan sebagaimana biasa, siang yang cerah itu sepasang pendekar memasuki kota, mereka adalah Ui-hai-liong-siang Yo-hun dan Siangkoan-liu-kim, Liu-kim menggendong bocah laki-laki berumur dua tahun, anak mereka yang bernama Yo-seng.

Ui-hai-liong-siang memasuki sebuah likoan dan memasan Yo-hun memesan makanan untuk mereka, tidak lama kemudian pesanan pun dihidangkan, lalu keduanya bersantap dengan nikmat, demikian juga Yo-seng yang disuapi ibunya, sementara asik menyantap makanan, terdengar suara tertawa dari sebuah meja yang di isi empat orang lelaki tegap dan tampan.

“memang wanita baru melahirkan mempunyai daya pikat yang luar biasa, hal itu sering kulihat pada wanita hamil sampai melahirkan.”

“jadi twako apakah hanya melihat tanpa mau mencicipi?” “hahahaa…hahaha… kucing manalah mau melewatkan mangsanya.”

“hahaha..hahha….lalu kalau mangsa didepan mata ini bagaimana twako!?” sahut mereka sambil tertawa. “yang ini sepertinya ranum dan nikmat, cantik yang luar biasa.” Jawan si twako

“hahaha..hahaa.. twako sudah kemencer tidak ketulungan.”

“hush..kemencer iya tapi aku tetap dalam kendali, agar bunga nan cantik penuh aroma mewangi tidak luluh lantak ketika kupetik

“hahaha..hahha tidak disangka ternyata twako romantis juga.” “haah…sudahlah! sekarang mari kita bicarakan ide selanjutnya.” sahut si twako

Yo-hun dan Lui-kim tidak menggubris pembicaraan dan tetap dengan santapan mereka, setelah makan selesai

“Kita akan menginap disini untuk beberapa hari.”

“baiklah Hun-ko, dan sepertinya Seng-ji butuh istirahat yang cukup, setelah itu baru kita lanjutkan perjalanan.”

“baiklah Kim-moi, aku akan menyewa kamar pada pemilik likoan.” Ujar Yo-hun sambil bangkit dan mendekati pemilik likoan

“loya, kami mau menyewa sebuah kamar, apakah masih ada?”

“masih ada sicu, A-ping… antarkan tamu kita kekamarnya!” jawab pemilik likoan sambil menyeru seorang pelayan, pelayan yang bernama A-ping itu datang menghadap dan menjura kepada Yo-hun

“mari kongcu saya antar ke kamar.” ajak A-ping, Yo-hun dan Lui-kim mengikuti si pelayan dan memasuki sebuah kamar yang cukup rapi dan besar

Suami istri itu pun istirahat, Lui-kim menidurkan anaknya Yo-seng, sementara di atap kamar dua bayangan sedang mengintai kedalam kamar, Yo-hun yang mengetahui gelagat tidak baik langsung keluar kamar dan melompat ke atas atap dan memergoki dua orang yang sedang mengintai “sungguh perbuatan tidak sopan yang kalian lakukan ini, mengintai kamar orang lain.” tegur Yo-hun, kedua orang itu terkejut karena tidak menduga mereka akan dipergoki suami perempuan yang mereka intai.

“mari kita robohkan suaminya dulu!” teriak seorang dari keduanya, keduanya merangsak menyerang dengan ganas dan bertubi-tubi, Yo-hun dengan tenang berkelit, gerakannya luar biasa ringan, setelah sepuluh jurus berlalu, Yo-hun mulai membalas serangan, dengan tidak kalah hebatnya membangun serangan-serangan dahsyat sehingga membuat kedua orang itu kalang kabut dan terdesak, keduanya melompat kebawah hendak melarikan diri, namun bayangan Yo-hun selalu mengintai keduanya

“buk…dess…” sebuah pukulan mengenai seorang dan sebuah tendangan menghantam pundak yang lain, kedua pengintai terjungkal dan ambruk, ketika hendak bangkit, dua buah tamparan keras mengenai kedua wajah pengintai, kembali mereka ambruk ketanah, kemudian dua bayangan yang lain datang membantu, namun sekali berpoksai Yo-hun menghindar dan dengan kecepatan kilat menyusulkan serangan mematikan

“prak…buk..” kepala seorang dari lawannya hancur remuk hingga orang itu tewas seketika sementara yang lain dadanya berguncang akibat pukulan geledek Yo-hun, tiga orang itu menggeloso tidak berdaya sementara satu dari mereka tewas.

“siapakah kalian yang menyimpan niat jahat kepada kami!?” tanya Yo-hun, ketiga orang itu terdiam dan meringis kesakitan

“ampunkan kami taihap, kami hanya iseng.”

“iseng yang tidak sopan dan hendak berbuat tidak senonoh dengan istri orang, begitu maksudmu!?” bentak Yo-hun.

“maaf taihap kami jera dan tidak akan mengulang lagi.” sahut pimpinan dari empat orang itu. “katakana siapa kalian!?”

“kami hanya anak buah hek-tiauw bukoan.”

“apakah kauwsumu tidak mengajarkan tata kerama pada kalian, sehingga kalian berbuat tidak patut!?” “maafkan kami taihap…”

“baik kali ini kalian dimaafkan, dan kalau lain kali, kita bertemu dengan hal seperti ini, kalian akan kuhajar sampai tewas, pergi kalian!” sahut Yo-hun, tiga orang itu bangkit dan dua orang dari mereka membawa kawan mereka yang tewas.

Yo-hun kembali kekamar mereka

“siapa mereka Hun-ko!?” tanya Lui-kim sambil turun dari ranjang dan mendekati suaminya “mereka murid nakal dari hek-tiuaw-bukoan.” jawab Yo-hun

“sudah, marilah kita istirahat!” ajak Lui-kim sambil meraih tangan suaminya, keduanya lalu berdiri dan naik keatas ranjang, dengan seulas kemesraan suami istri itu menjemput tidur.

Keesokan harinya ketika Ui-hai-liong-siang sedang makan segerombolan orang mendatangi likoan

“mana orang yang sudah berani lancing pada hek-tiauw-bukoan!?” tanya seorang lelaki gagah dengan nada marah.

“itu mereka suheng!” jawab salah seorang yang dipecundangi Yo-hun tadi malam, dengan muka marah Yo- hun bangkit

“hmh… ternyata permintaan maaf kalian semalam hanya helah untuk menyelamatkan diri, kalian akan menerima akibat keculasan kalian.” ujar Yo-hun melangkah mendekati sepuluh orang itu. “heh..kamu yang telah menewaskan satu suteku, jadi kamu harus membayarnya dengan nyawamu!” bentak pimpinan rombongan

“katakan, apa kamu kauwsu dari hek-tiauw-bukoan!?” tantang Yo-hun

“benar, jadi kamu akan menerima akibat binasa karena berani berurusan dengan saya.”

“bagus..kalau begitu jangan banyak bacot, terimalah ini!” tantang Yo-hun sambil menyerang, si kauwsu berkelit dan membalas menyerang, namun serangan Yo-hun demikian cepat dan berbahaya, si kauwsu terus mengelak dan membalas, si kauwsu tidak menyangka bahwa lawannya ini luar biasa.

Si kauwsu dengan mengerahkan seluruh kepandaian mencoba mengimbangi serangan Yo-sun yang lincah dan kuat, pada jurus keempat puluh, si kauwsu harus rela menerima sebuah tendangan yang bersarang diperutnya

“dess..hehgg..” tubuh si kauwsu terlempar tiga meter, badannya ambruk ketanah dengan perut mual, si kauwsu muntah, lalu dia berdiri

“seraaaang…” teriaknya kepada sute dan anak buahnya, sembilan orang yang mengikutinya langsung menyerang mengeroyok Yo-hun, Yo-hun tanpa memberi hati langsung menampari kepala pengeroyoknya, sehingga dalam waktu setengah jam sembilan orang itu roboh tidak berdaya sambil meringis kesakitan, dan dua dari mereka tidak dapat ditolongan karena keduanya tewas setelah menerima tamparan tangan Yo-hun.

Si kauwsu terbelalak tidak percaya, bahwa lawannya ternya demikian sakti, si kauwsu langsung mengindar dan menyikir melarikan diri, tujuh anak buahnya berusaha lari juga, namun lima dari mereka terpaksa ambruk lagi karena serangkum pukulan sakti Yo-hun menerpa mereka

“kalian tidak akan kemana-kemana, cepat kalian bawa saya ke perguruan kalian!” bentak Yo-hun, lalu lima orang itu membawa tiga mayat rekan mereka dan terpaksa mengikuti perintah Yo-hun membawa pendekar itu ke bukoan mereka.

Sesampai di bukoan tiga puluh orang mencegat mereka

“cepat kalian panggil kauwsu kalian, kalau tidak akan kuhancurkan bukoan kalian ini!” bentak Yo-hun, tiga puluh orang itu mengurung Yo-hun

“seraaaang..!” teriak salah seorang dari mereka, Yo-hun merasa gemas, sehingga gerakannya yang luar biasa semakin gencar menjatuhkan para pengeroyoknya, dan dalam lima gebrakan empat orang sudah ambruk tidak bernyawa.

Pengeroyoknya terus merangsak maju, bagi yo-hun lawan ini bagikan tahu lunak, bergerak cepat dengan kepalan pukulan geledek yang luar biasa, tubuhnya bergerak gesit diantara senjata lawannya, dan pukulannya yang luar biasa dalam setiap gerakan mendapatkan korban, sehingga dalam dua puluh jurus, tujuh orang roboh tidak bernyawa dan empat orang luka parah, akhirnya sisanya melarikan diri.

Yo-hun masuk kedalam bukoan dan membakar tempat itu, setelah api berkobar Yo-hun kembali ke likoan, sementara Lui-kim menunggu suaminya sambil bermain dengan Yo-seng

“apa yang kamu lakukan dengan mereka Hun-ko?”

“bokoan mereka saya baker, biar tahu rasa mereka.” Jawab Yo-hun dengan kesal “apa kita akan meninggalkan kota hehat, atau bagaimana Hun-ko.”

“kita dua hari lagi disini untuk mengistirahtkan Seng-ji.” jawab Yo-hun

Peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan warga, terbakarnya bukoan Hek-tiauw disambut rasa lega warga yang merasa tertindas dengan kesewenang-wenangan perguruan itu, dan julukan Ui-hai-liong-siang makin dielukan orang.

Dua hari kemudian Ui-hai-liong-siang meninggalkan kota, namun baru setengah hari perjalanan dari pintu gerbang kota empat orang lelaki gagah mencegat mereka “apa kalian Ui-hai-liong-siang!?”

“benar, dan ada apa maksud kalian mencegat kami.” jawab Yo-hun

“kalian telah menghina bukoan sute kami, dan kamu harus menerima balasannya.” “hmh..katakan siapa kalian!?” sahut Yo-hun tenang

“kami adalah murid kepala Pah-sim-sai-jin.”

“ooo, ternyata kalian adalah sebaran momok busuk dari Pah-sim-sai-jin, majulah kalian biar kuhajar!” tanyang Yo-hun, empat orang itu melabrak Yo-hun, gerakan mereka luar biasa, dan serangan mereka demikian gencar dan saling melengkapi, namun walaupun demikian Yo-hun tidak gugup, dengan cekatan dia membendung serangan empat lawannya, selama empat puluh jurus Yo-hun masih membaca kekuatan lawan, Lui-kim yang duduk bersandar disebuah pohon merasa tenang melihat bahwa suaminya tidak akan kalah.

Empat puluh jurus kemudian Yo-hun mengubah gerakan bertahan dan membangun serangan-serangan yang lumayan gencar, empat lawannya berusaha mengimbangi dengan mengerahkan seluruh kemampuan, dua puluh jurus kemudian Yo-hun sudah mulai mendesak empat lawannya, ilmu”pek-lek-jiu” menggetarkan pertahanan empat lawannya, sehingga sebuah pukulan telak menghantam lambung seorang lawannya, lawannya terpapar dan berusaha tidak jatuh, dan tiga lawannya serempak membalas, namun ilmu Yo-hun memang luar biasa, dua senjata di kebas dua tangannya yang mengandung hawa sakti sehingga melenceng dan sebuah tendangan mengenai perut seorang lawanya, orang itu ambruk dengan perut mulas, dia hendak berdiri, namun tidak kuasa karena dia kembali limbung sebab perutnya sangat sakit melilit, dua orang sudah tidak berdaya, dan dua orang lainnya masih gencar merangsak maju.

Yo-hun tiba-tiba menyentil pergelangan tangan seorang lawannya, sehingga pedangnya jatuh dan sungguh hebat, gagang pedang disambut tendangan Yo-hun sehingga pedang itu meluncur cepat dan “cep…buk…” pedang itu menancap dipaha seorang lawannya yang tidak menduga, dan sebuah pukulan menghantam muka lawannya yang kelepasan pedang, keempatnya menggeloso ditanah dengan wajah kesakitan bercampur takut dan jerih.

Ui-hai-liong-siang meninggalkan mereka

“ternyata sebaran anak buah Pah-sim-sai-jin yang berulah.” gumam Yo-hun

“benar dan itu merupakan usaha terakhir dari Pah-sim-sai-jin dalam menyelamatkan prinsip yang diajarkannya.”

“sungguh manusia durjana itu a lot dan ulet, dan terakhir kita dengar dia melarikan diri dari hadapan Im- yang-sin-taihap.” sahut Yo-hun

“dan besar kemungkinan ia akan kembali lagi membangun tirani di Tionggoan.” ujar Lui-kim.

“kita waspadai saja perkembanganya.” sahut Yo-hun, kemudian mereka mempercepat lari mereka.

Tiga bulan kemudian mereka sampai di kota Sinyang “sebaiknya kita menetap saja disini Hun-ko.” ujar Lui-kim

“benar Kim-moi, aku juga berpikiran begitu, karena menurut saya tempat ini sangat cocok untuk menetap.” sahut Yo-hun, sejak hari itu Ui-hai-liong-siang menetap di kota sinyang dengan usaha dagang rempah- rempah dan membesarkan Yo-seng.

Setahun kemudian Lui-kim hamil, alangkah bahagianya rasa suami istri itu, suatu hari Yo-hun sedang melayani para pembeli, dan diantara mereka ada seorang perempuan cantik, ketika tiba giliran perempuan itu, Yo-hun heran karena perempuan itu hanya tersenyum padanya.

“siocia, apakah yang hendak anda beli?” “tidak ada yang mau saya beli.” Jawab perempuan itu “kalau begitu apakah maksud siocia datang kemari?”

“saya tertarik dengan taihap.” sahut perempuan itu, Yo-hun terkejut “apa maksudmu siocia!?”

“saya tertarik dengan anda, apakah itu kurang jelas.”

“siocia pergilah dari tempat ini, aku sedang sibuk.” ujar Yo-hun, saat itu Lui-kim keluar “ada apakah Hun-ko!?”

“apakah dia itu istrimu!?” sela wanita itu

“benar saya adalah istrinya, dan kamu ini siapa?” sahut Lui-kim tegas, perempuan itu tersenyum “sungguh serasi Ui-hai-liong-siang.”

“apakah maksudmu nona memuja-muji kami!? tanya Lui-kim penuh selidik

“aku datang dengan damai, baiklah lain kali aku akan datang lagi.” sahut wanita itu, dan kemudian pergi dari tempat itu.

“apakah Hun-ko tidak mengenalnya? tanya Lui-kim

“aku tidak meneganalnya, dan sikapnya sangat aneh.” jawab Yo-hun “aku yakin perempuan itu asuhan dari Pah-sim-sai-jin.” ujar Lui-kim “bagaimana Kim-moi meyakini hal itu?”

“dari caranya mengutarakan maksudnya, aku mendengar ketertarikanya padamu Hun-ko, dan ungkapan itu bagi seorang perempuan sangat vulgar dan memalukan.” jawab Lui-kim.

“sudahlah, untuk apa memikirkannya, sebaiknya kamu gantikan aku menjaga took, karena aku mau menemui saudara Lu, semalam dia berkata bahwa kiriman rempah-rempah dari kota thiansan akan sampai hari ini, jadi saya mau mengambil persedian rempah-rempah.”

“baiklah Hun-ko, kalau dapat jangan sampai malam, aku sudah memasak makanan kesukaanmu untuk kita makan bersama.” sahut Lui-kim, Yo-hun mengangguk dan keluar dari toko.

Yo-hun ditengah jalan berpapasan dengan wanita cantik itu “eh, kamu lagi nona.” sela Yo-hun terkejut

“benar taihap, aku sengaja menemuimu.”

“nona, kamu ini siapa dan apa maumu dengan keganjilan sikapmu ini?” tanya Yo-hun agak kesal, wanita itu tersenyum

“aku adalah Khu-in-hong.”

“darimanakah asalmu Khu-in-hong dan apakah benar kamu adalah asuhan dari Pah-sim-sai-jin?” “hmh…kenapa kamu menduga seperti itu?” tanya Khu-in-hong

“karena istri saya mengatakan, bahwa ungkapan kamu itu terlalu tabu untuk seorang perempuan, dan hanya perempuan dari golongan hitam yang tidak mengenal tata bicara.” “hik..hik… dugaan istrimu memang benar, aku adalah murid dari”Im-kan-kok-sianli-sam”

“pantas kalau begitu, lalu apakah kamu akan memaksakan ketertarikanmu padaku!?” tanya Yo-hun langsung dengan sikap tenang.”

“hik..hik…luar biasa sekali kamu Hun-ko.”

“sudahlah nona, kamu ini nampak saya sudah berumur, dan saya juga demikian, sangat kekanak-kanakan sikapmu ini.” tegur Yo-hun

“bukankah cinta tidak mengenal batasan Hun-ko, aku memang sudah berumur namun sampai hari ini aku belum menikah.”

“dan aku sudah menikah, bahkan sudah punya anak, jadi kamu ini salah, karena akan menggangu kenyamanan keluargaku.”

“Hun-ko beberapa tahun yang silam aku bertemu dengan Im-yang-sin-taihap, dan dikatakannya bahwa cintaku hanya sebatas birahi, selama ini aku berpikir apakah demikian, dan kemungkinan besar apa yang dikatakannya itu benar, namun aku sekarang melihatmu, dan aku hanya ingin perhatian sedikit darimu disamping istrimu, bukankah itu tidak semata-mata karena birahi?”

“In-hong, untuk apa kamu mencari perhatian sedikit dari seorang lelaki, jika kamu bisa mendapatkan perhatian penuh, kamu ini cantik walaupun kamu sudah berumur, namun saya yakin banyak lelaki yang masih sendiri akan suka padamu.

“tapi tidak ada yang seperti kalian dari golongan taihap, aku hanya ingin mencari pasangan yang mendapat predikat taihap.”

“kenapa harus taihap, nona Khu?”

“karena taihap akan dapat mengayomi diriku yang terlunta-lunta, sejak Im-yang-sin-taihap menilaiku, aku jadi merasa berkecil hati, dan ingin menunjukkan bahwa cintaku juga memiliki prinsip yang suci, dan itu dapat ku wujudkan dalam bayangan dirimu taihap,”

“tidak demikian harusnya nona Khu, penilaian dari Im-yang-sin-taihap padamu, memang benar dan kamu juga mengakuinya, dan berakibat baik bahwa hatimu terpicu untuk lebih baik, namun nona Khu, kalau benar prinsip cintamu suci, janganlah dilandasi rasa kecil hati, karena itu tidak akan bertahan.”

“jadi harusnya bagaiamana taihap?”

“sebagai pemicu, kecil hati boleh-boleh saja, tapi seharusnya lama kelamaan prinsip cinta dilandasai kesadaran bahwa memang demikianlah kebenaran dari prinsip cinta, yakni tidak semata-mata birahi, dan hal ini dapat kita ukur.”

“bagaimana mengukurnya taihap?”

“cinta yang berlandaskan karena terpicu dari rasa kecil hati, sehingga ingin menunjukkan bahwa anda tidak sebagaimana yang dinilai, jika cintamu saya tolak, maka cintamu itu akan menjadi bumerang bagimu untuk bertindak tidak baik karena kecewa, tapi jika karena kesadaran, apapun jawaban saya maka kamu aku tetap merasa lega, dan tetap memegang prinsip kebenaran dan kesucian cintamu.”

“bagimana jika aku menolak cintamu, akankah timbul kekecewaan?” tanya Yo-hun dengan nada iba, sejenak Khu-hong-in terdiam dan menunduk, terasa hatinya teriris sakit, kemudian Hong-in menatap wajah Yo-hun, tatapan itu berkilat, tiba-tiba Yo-hun berkata

“nona Khu, maukah kamu mendengar saranku?” mendengar itu mata yang berkilat itu meredup “katakankanlah apa saramnu itu?”

“saya melihat bahwa kamu sangat mencintai Im-yang-sin-taihap.” “bagimana kamu berkata demikian walhal Im-yang-sin-taihap menilai lain.”

“mungkin saat ia mengatakan hal itu memang benar, namun saat ini aku melihat sebaliknya.” “maksudmu apa taihap?”

“apa yang kamu ingin tunjukkan sebenarnya bukan pada siapa-siapa melainkan kepada Im-yang-taihap sendiri, jika engkau sabar dan kuat maka kamu akan mendapatkan lahanan cinta sucimu pada diri Im-yang- sin-taihap.”

“apakah menurutmu hal itu bisa terjadi taihap?” “sangat bisa jadi nona Khu.”

“kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi taihap?”

“nona Khu, she-taihap sangat unik memahami cinta, salah satunya adalah prinsip berbagi cinta selama ia pada prinsip benar dan seimbang, apa yang kamu tawarkan pada saya dengan istilah mengambil sedikit tempat di samping istri saya, satu hal sering terjadi pada turunan Kim-khong-taihap, jadi tawaranmu itu akan mendapat peluang yang besar dihadapan she-taihap, hanya kamu butuh kesabaran sehingga bertemu dengan Im-yang-sin-taihap, dan tanpa kamu katakan pun itu pada she-taihap, dia akan melihat dan mengetahuinya.”

“sepertinya taihap sangat mengenal she-taihap.”

“bagaimana tidak nona Khu, kita ini hidup dengan bayang-bayang kim-khong-taihap dan turunannya, keunikannya, kebijaksanaannya, kepiawaiannya dan kebaikannya.”

“saranmu sangat mengena dalam hati saya taihap.”

“syukurlah kalau demikian nona khu, jadi bersabarlah dan carilah Im-yang-sin-taihap, pada pertemuan kalian yang kedua, saya yakin kamu akan melihat kebenaran yang aku katakan.”

“baiklah taihap, dan terimakasih.” ujar Khu-hong-in dan segera berlalu dari hadapan Yo-hun, Yo-hun tersenyum sambil melanjutkan perjalanannya menuju kediaman she-Lu.

Setelah urusannya dengan she-Lu selesai, dengan buru-buru Yo-hun kembali ke rumahnya karena malam sudah tiba, sesampai di rumah, istrinya menyambut dengan mesra

“maaf Kim-moi saya sedikit terlambat.” ujar Yo-hun

“tidak apa Hun-ko, malam pun baru saja tiba, jadi sekarang marilah kita makan” sahut Lui-kim, Yo-hun duduk dan makanan pun di hidangkan istrinya, kemudian keduanya pun bersantap malam.

Ketika keduanya diatas peraduan, sebelum tidur biasanya ada saja hal yang mereka bicarakan sambil bermesraan

“Kim-moi tahukah kenapa saya terlambat?”

“tidak Hun-ko, memangnya kenapa Hun-ko terlambat.”

“ditengah jalan saya berpapasan dengan wanita yang mendatangi toko kita tadi siang.” “hmh..dia lagi, sungguh tidak mempunyai rasa malu.” cela Lui-kim

“nanti dulu Kim-moi, kita tidak seharusnya mencela demikian, tapi malah harus iba padanya.” ujar Yo-hun, Lui-kim menatap dalam pada suaminya.

“bagaimana maksudya Hun-ko?” “perempuan itu adalah Khu-hong-in, murid dari”Im-kan-kok-sianli-sam” dia itu tertaut hati dengan Im-yang- sin-taihap, namun sepertinya cintanya tertolak.”

“lalu bagaimana kita iba, terlebih dia adalah pentolan hek-to, cinta di tolak memang menyakitkan, namun untuk iba pada pentolah hek-to untuk masalah itu, merupakan hal yang aneh.” ujar Lui-kim tegas dengan nada sedikit tidak senang, Yo-hun mendengar nada suara istrinya jadi tersenyum

“kim-moi, kalau ceritanya hanya sampai disitu, mungkin benar apa yang kim-moi sampaikan.” “memangnya ada lagi yang lain?” sela Lui-kim

“ada, dan itulah yang menyebabkan kita iba padanya.” “apa itu Hun-ko?” tanya Lui-kim penasaran

“Hong-in itu tertolak karena Im-yang-sin-taihap menilai cintanya hanya sekedar birahi, oleh karena itu ia berkecil hati dan terpicu untuk menunjukkan bahwa cintanya bukan sebagaimana telah dinilai, dia terpaut dengan saya, dan rasa suka itu tidak ada keinginan mutlak untuk memiliki saya, bahkan dia hanya meminta sedikit perhatian dari saya disamping kamu.”

“enak saja dia, dengan meminta seperti itu, itu artinya dia mau merusak keluarga kita.” sela Lui-kim lantang dengan nada tidak senang

“mungkin saja, tapi itukan jika aku menerimanya.” sahut Yo-hun, Lui-kim terdiam dan menatap dalam kemata suaminya, Yo-hun dengan senyum mesra mengecup mata istrinya dan berkata

“aku tidak menerimanya Kim-moi, dan ketika keberikan padanya saran, pada saat itulah aku iba padanya.” “apa yang Hun-ko sarankan padanya?”

“aku menyarankan supaya dia bersabar dan berusaha menemukan Im-yang-sin-taihap.” “kenapa Hun-ko menyarankan seperti itu?”

“karena perlakuaanya kepada kita hanya supaya Im-yang-sin-taihap tahu bahwa ia tidak seperti yang dinilai, saya melihat betapa seorang dedengkot hek-to, dapat berubah halaun karena kepincut cinta, dan penolakan yang diterimanya mengakibatkan motivasi baik dalam memahami cintanya kepada Im-yang-sin-taihap.”

“apakah dia menerima saran dari Hun-ko?”

“ya, dia sangat menerima saranku, dan binary semangat hidup yang tadi redup karena penolakanku sekana dapat pegangan dan bersinar lagi.”

“bagaimana bisa begitu Hun-ko?”

“karena aku meyakinkan dirinya bahwa peluang cintanya sangat besar jika dihadapkan kepada Im-yang-sin- taihap.”

Maksudnya bagaimana Hun-ko?”

“cinta she-taihap kim-moi adalah type yang unik dan luar biasa, para istri-istri mereka sangat merasa lega jika ada wanita lain yang mengambil tempat disisi mereka, jika sudah demikian, bukankah Hong-in memiliki peluang yang besar kalau hanya untuk meminta tempat dihati Im-yang-sin-taihap.” jawab Yo-hun, Lui-kim manggut-manggut.

Keesokan harinya Yo-hun kebali pada aktiviatsnya, hari itu para pembeli tidaklah seberapa, dan ketika hendak makan siang, seorang lelaki tua mendekati took, Yo-hun mencoba mengingat-ingat, karena wajah itu rasanya pernah dijumpai, setelah ingat senyumnya pun mengembang

“cianpwe Ui-hai-sian!” seru Yo-hun, lelaki tua yang mendekati tokoh menatap terkejut “eh…siapa yah! eh…kamu, bukankah kamu Ui-hai-liong-siang!?”

“benar cianpwe, salam bertemu cianpwe dan marilah masuk sebentar!” ajak Yo-hun, Ui-hai-sian memenuhi ajakan itu dan diapun masuk. Didalam rumah, Lui-kim menyambutnya dengan ramah

“wah kiranya cianpwe Ui-hai-sian yang berkunjung.”

“hehehe… Lui-kim sebenarnya tidak berkunjung, tapi hanya mau membeli bumbu untuk bekal perjalanan, dan tidak dinyana bahwa pemilik took ini kalian.”

“ya..ya.., lalu bagaimana kabar cianpwe selama ini?” tanya Lui-kim “kabarku baik-baik saja, dan bagaimana dengan kalian?”

“kami juga baik-baik cianpwe, oh ya kebagian mana lagi cianpwe akan berpetualang?” “saya berencana akan keselatan setelah selama ini berada di utara.”

“apakah ada yang menarik hati cianpwe diselatan?” sela Yo-hun

“tidak ada, saya hanya ingin melihat perkembangan tionggoan setelah Pah-sim-sai-jin menghilang.” “Apakah cianpwe terus mengikuti perkembangan usaha Im-yang-sin-taihap selama ini?”

“bisa dikatakan seperti itulah Yo-hun, ternyata Im-yang-sin-taihap tidak dapat juga menewaskan Pah-sim- sai-jin.” Jawab Tio-can dengan nada sedikit sumbang, kedua suami istri itu saling pandang.

“tapi menurut saya cianpwe, apa yang telah dikerjakan oleh Im-yang-sin-taihap sudah merupakan hal yang luar biasa.”

“itu karena kamu sudah terlanjur terpengaruh akan kehebatan she-taihap, Yo-hun.”

“bukan demikian cianpwe, saya hanya membandingkan dengan diri saya, karena Pah-sim-sai-jin seorang manusia ganjil yang memiliki ilmu yang hebat, dan saya tidak yakin akan dapat mengalahkannya.” “sudahlah urusan tentang Im-yang-sin-taihap itu, apakah cianpwe tidak ada rencana menetap di suatu tempat?” sela Lui-kim

“belum terpikirkan oleh saya, namun entahlah jika saya sudah sampai diselatan.” jawab Ui-hai-sian

“kalian ternyata sudah menetap disini dan anak kalian sudah tumbuh besar, siapakah namanya Yo-hun?” ujar Tio-can sambil menatap Yoseng yang bermain dipangkuan ibunya.

“namanya Yo-seng cianpwe.” jawab Yo-hun

“aku suka dengan anakmu ini Yo-hun, jika ada kesempatan aku ingin mewariskan satu dua ilmu padanya.”

“terimaksih cianpwe, akan aku ingat hal itu, jika saatnya tepat tentu akan kuanjurkan pada Seng-ji.” sahut Yo-hun

“baiklah Yo-hun, aku pemit dulu, dan tolong bungkuskan untukku rempah-rempah untuk bumbu bekal perjalananku.”

“baiklah loncinpawe.” sahut Yo-hun dan segera berdiri dan membungkus rempah-rempah. “ini cianpwe dan tolong jangan ditolak karena berupa pemberian.” ujar Yo-hun

“terimakasih kalau begitu Yo-hun selamat tinggal.” sahut Tio-can, kemudia Ui-hai sian meninggalkan suami istri tersebut.

“dia masih seperti dulu, tidak suka pada Im-yang-sin-taihap, walaupun kenyataan Im-yang-sin-taihap berhasil membuat Pah-sim-sai-jin melarikan diri.” ujar Yo-hun “itu haknya memiliki pendapat lain Hun-ko.” sahut Lui-kim

“memang benar Kim-moi.” ujar Yo-hun, dan kemudian mereka masuk kedalam.

Ui-hai-sian melakukan perjalanan cepat, sehingga sebulan kemudian dia sudah disebuah bukit disebelah utara timur kota Kunming, segerombolan penjahat mencegatnya

“tinggalkan barang bawaan kalau masih sayang nyawa!” bentak pimpinan rampok “kalian tidak mengenal orang sehingga sesumbar demikian rupa.” sahut Ui-hai-sin

“sialan, malah menantang, ayok ringkus kakek tidak tahu diri ini!” teriak pimpinan rombongan

Lima dari anak buahnya maju kedepan dan mengamangkan senjata kearah Ui-hai-sian, namun alangkah kaget mereka, karena sebelum bergerak pedang mereka sudah berpindah tanngan, Ui-hai-sian sudah terlebih dahulu mempreteli senjata mereka, nyali kelima orang itu ciut dan undur dua langkah.

Pimpinan rampok juga terkesima, namun dengan nekat dia melompat sambil berteriak,”habisi laki-laki tua ini!” sepuluh orang serempak maju dan menyerang UI-hai-sian, pimpinan rampok dengan gesit melancarkan serangan, Ui-hai-sian berkelit dengan tidak kalah cepatnya, tubuhnya yang ringan bergerak diantara para pengeroyok, kibasan tangannya melencengkan semua senjata lawan, bahkan ada yang kembali memakan tuannya sendiri, sehingga beberapa orang berteriak histeris kesakitan karena terluka senjata sendiri.

Ui-hai-sian mencecar pimpinan rampok, pimpinan rampok jadi kalang kabut mengelak mempartahankan diri, namun serangan Ui-hai-sian sangat cepat dan dahsyat, sehingga dalam lima gebrakan berikutnya senjata pimpinan rampok terlepas dan sekali ayun pedang itu meluncur menembus jantung sang pimpinan, pimpinan itu menjerit dan tubuhnya ambruk lalu tewas seketika

“anak buahnya yang hanya tersisa tujuh orang langsung ambil langkah seribu menyelamatkan diri, sementara yang lainnya sudah tewas, hanya dua orang yang masih hidup dengan luka parah, Ui-hai-sian tanpa menggubris yang luka, meninggalkan bukit dan menuju gerbang kota Kunming.

Didalam sebuah likoan Ui-hai-sian istirahat dan memesan makanan, dan diantara tamu itu ada seorang wanita cantik yang sangat dikenal Ui-hai-sian, dia adalah Kao-in-hong, Kao-in-hong yang melihat Ui-hai-sian juga bersikap mendiamkan, bahkan setelah selesai makan Kao-in-hong keluar dari likoan tanpa menoleh Ui- hai-sian.

Ui-hai-sian penasaran dan ingin menantang perempuan yang pernah berduel dengannya, saat itu dia terpaksa lari karena dia dikeroyok tiga, Ui-hai sian cepat menyelesaikan makannya, dan segera mengikuti Kao-In-hong, Kao-in-hong menururuni sebuah lembah dengan buntalannya yang lumayan besar.

Saat menjelang sore Kao-in-hong sampai disebuah pondok dilembah yang cukup sejuk dan indah, Ui-hai- sian berdiri disamping sebuah pohon yang besar dan rimbun sambil memperhatikan ke arah pondok, ketika malam sudah tiba, Ui-hai-sian mengendap-endap mendekati pondok kao-in-hong, dengan gerakan halus dan ringan Ui-hai-sian mengintai dari atap pondok

Kao-in-hong sedang berpakaian setelah mandi, pemandangan erotis bagi sepasang mata tua itu, Ui-hai- sian mengupat dalam hati sehingga ia membuat gerakan yang mencurigakan, Kao-in-hong terkesiap dan dengan cepat memakai bajunya dan bergerak keluar

“penguntit busuk keluar kamu!” bentak Kao-in-hong sambil melompat ke atas atap, Ui-hai-sian tidak sempat melarikan diri, dengan muka merah ia turun dan diikuti oleh Kao-in-hong

“heh ternyata kamu Ui-hai-sian, apakah kamu sudah demikian latah hingga mengintip aku.” bentak Kao-in- hong

“siapa yang mengintip, aku tidak bermaksud mengintipmu.” sahut Ui-hai-sian “kalau tidak mengintip untuk apa kamu berada diatas atap pondokku!?”

“aku hanya ingin melihat apa yang kamu kerjakan.” “huh, sama saja, memangnya apa urusanmu denganku!?”

“heh nona, kita masih punya hutang piutang yang harus diselesaikan.” “hmh…apa kamu ingin melanjutkan pertempuran tempo dulu!?”

“ya dan hari ini akan kuhajar kamu habis-habisan.”

“sebenarnya aku tidak suka mengungkit masa lalu, tapi kalau kamu memaksa aku akan siap menghadapimu.” tantang Kao-in-hong

“katakana saja kamu takut, alasan saja tidak mau mengungkit masa lalu.” cemooh Ui-hai-sian

“orang tua majulah jika memang urusan itu mau anda tuntaskan.” Tantang Kao-in-hong dengan memasang kuda-kuda

“baik…terimalah seranganku!” sahut Ui-hai-sian, kemudia keduanyapun bertarung dengan gesit, Kao-in- hong mengerahkan seluruh kemampuan menghadapi orang tua kosen ini, namun karena ilmunya memang dibawah Ui-hai-sian, pada jurus keseratus Kao-in-hong sudah terdesak dan tidak mampu untuk membalas serangan, Kao-in-hong mempertahankan diri dengan gigih.

Namaun lima puluh jurus kemudian sebuah tamparan Ui-hai-sian menghantam pundaknya, remuk rasanya tulang bahunya, namun dengan cekatan Kao-in-hong meloncat menjauh dan berusaha untuk tidak jatuh, serangan susulan Ui-hai-sian demikian dahsyat dan

“plak..buk…” sekali lagi bahunya kena tamper dan sebuah pukulan menghantam perutnya, Kao-in-hong tidak dapat bertahan dan akhirnya ia terduduk menahan sakit yang nyeri pada bahunya dan rasa mual pada perutnya.

Wajahnya pucat dan nafasnya sesak, Kao-in-hong menatap Ui-hai-sian pasrah, kemudian memjamkan mata untuk menerima pukulan terakhir Ui-hai-sian yang akan menewaskannya, namun sampai lama pukulan itu tidak kunjung datang, Kao-in-hong membuka matanya, dan melihat Ui-hai-sian duduk ditangga rumahnya

“kenapa kamu tidak lanjutkan menjatuhkan tangan maut pada saya?” “kenapa kamu demikian pasrah dan tenang?” Ui-hai sian balik bertanya

“tidak ada yang kusesali dalam hidup ini, dan kematian sesuatu yang jamak pada setiap kehidupan.”

“aneh.., he nona, kamu itu adalah pentolan hek-to murid dari Im-kan-kok-sian-li –sam tampuk pimpinan Tung-kek-hek-te, seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu.”

“aku harus bersikap bagaimana orangtua!?

“harusnya kamu masih dengan kesombonganmu dan berhelah untuk menyelamatkan diri.” “orangtua mungkin kalau aku Kao-in-hong yang dulu, mungkin saja pandanganmu itu.”

“heh..apa maksudmu nona, apa kamu sudah berubah haluan, berubah menjadi orang baik-baik?” “aku hanya berusaha untuk menjadi orang baik, apakah itu tidak boleh!?”

“boleh saja nona, karena itu hakmu, namun bagaimana bisa orang seculas kamu bisa seperti ini.” “hal itu rasanya tidak perlu kamu ketahui, dan aku tidak mesti menceritakannya padamu.” “hehehe…hehehe… hebat..hebat…apakah ini akibat kekalahan kalian dengan Im-yang-sin-taihap!?” “orangtua sudah aku katakan, kamu tidak perlu tahu, dan jangan mencampuri urusan pribadiku.” “luar biasa, heh nona jika kamu merasa sakit hati karena kekalahan malam ini, kamu boleh menantang saya lain kali.”

“pergilah orangtua, aku tidak ada lagi urusan denganmu.”

“apakah kamu tidak sakit hati dengan kekalahanmu ini?” tanya Ui-hai-sian berusaha menyinggung harga diri Kao-in-hong

“orangtua mengikut perasaan tidak benar akan mencelakakan diri sendiri.” “apa maksudmu dengan perasaan tidak benar?”

“sakit hati dan dendam adalah perasaan tidak benar, jadi untuk apa diturutkan?”

“heh..hahaha..hehehe…prinsip seorang lihap sejati, tidak kusangka aku melihat keanehan ini pada diri seorang penjahat.”

“terserah apapun penilaianmu orang tua, tinggalkanlah aku, kalau kau tidak akan menjatuhkan tangan maut padaku.”

“ck..ck…ck…hmh….baiklah nona selamat tinggal” ujar Ui-hai-sian dan meninggalkan Kao-in-hong.

Kao-in-hong kembali masuk kedalam pondoknya dengan rasa nyeri di pundaknya, Kao-in-hong membaluri pundaknya dengan obat bubuk, hatinya puas sambil membayangkan Im-yang-sin-taihap

“Bu-ko..alangkah nikmatnya kekalahan jika didasari pikiran jernih, semoga prilakuku sesuai dengan pandanganmu saying.” bisik hatinya mesra, luar biasa perubahan Kao-in-hong setelah bertemu dengan Im- yang-sin-taihap, Kharisma she-taihap demikian menancap dalam sehingga membuat dedengkot dunia hitam ini takluk lahir batin, mereka memang tidak mendapat perhatian dari Im-yang-sin-taihap kala pertemuan pertama, namun bagi Kao-in-hong tidak menjadi masalah, mengikuti prinsip hidup pujaan hatinya sudah cukup baginya, hatinya sudah merasa nyaman dapat bertahan dalam bayangan kharisma sang pujaan hatinya.

Kao-in-hong sejak berpisah dengan Im-yang-sin-taihap sudah menyendiri di lembah yang indah itu, lembah itu bernama”hwa-kok” (lembah bunga), dan sudah hampir empat tahun ia berada dilembah itu, Kao-in-hong hanya hidup dengan gambaran kharisma dan kebaikan-kebaikan she-taihap, yang dalam hal ini adalah figur Im-yang-sin-taihap.

Ui-hai-sian melanjutkan perjalanan, perubahan yang terjadi pada Kao-in-hong menjadi bahan pikiran yang melahirkan rasa penasaran dibenaknya, dua bulan kemudian Ui-hai-sian sampai di kota Hanzhong, dia memasuki sebuah likoan, dan ketika sedang makan, seorang perempuan cantik berumur tiga puluh tahun memasuki likoan, dan Ui-hai-sian tidak dapat tidak harus memperhatikannya, karena perempuan ini juga dikenal oleh Ui-hai-sian, perempuan itu adalah saudara seperguruan dari Kao-in-hong, yang bernama Lauw-bi-hong 

“pelayan, tolong nasi dan lauknya di bungkus.” “baik siocia, ada lagi lagi yang lain siocia!?” “tidak, hanya itu saja, dan tolong cepat.”

“baik…” sahut pelayan dan segera memutar badan, Lauw-bi-hong duduk dekat meja pembayaran sambil sesekali memperhatikan tamu-tamu yang makan, dan tidak berapa lama nasi bungkus yang dipesanpun datang, Lauw-bi-hong membayar makanan dan kemudian melangkah keluar likoan.

Sewaktu melintas didepan Ui-hai-sian, keduanya saling memandang “hahaha..hehehe… ternyata murid Im-kan-kok-sian-li-sam.”

“apa kabar cianpwe.” sahut Lauw-bi-hong, tersedak Ui-hai-sian mendengar sapaan ramah itu, sehingga dia terbatuk-batuk, segera Ui-hai-sian minum untuk meredakan batuknya, Ui-hai-sian menatap Lauw-bi-hong dengan pandangan heran

“maaf cianpwe, aku dalam perjalanan, jadi tidak bisa beramah tamah lebih jauh.” “tunggu dulu nona!” sela Ui-hai-sian makin bingung

“apa lagi cianpwe!?” tanya Lauw-bi-hong sambil menoleh

“aku tidak habis mengerti akan keanehan yang aku lihat ini, jadi duduklah sebentar.”

“aih..maaf cianpwe aku terpaksa mengecewakan anda, benar aku sedang memburu waktu.” sahut Lauw-bi- hong, kemudian melangkah keluar likoan, Ui-hai-siang melonggo tak dapat berbuat apa-apa.

Ui-hai-sian segera membayar makanannya dan segera menyusul Lauw-bi-hong “nona tunggu dulu, aku mau bicara!”

“oh cianpwe, ada apakah!?”

“nona, kamu dan saya masih ada urusan yang belum selesai.” “urusan apakah itu cianpwe, rasanya kita tidak punya urusan.”

“urusan kita adalah urusan ketika kalian mengeroyok aku sehingga membuat aku malu.”

“ooh, jika pertemuan dulu yang cianpwe maksud, saya sungguh menyesal bahwa hal itu telah terjadi, dan hari ini saya akan minta maaf pada cianpwe.” sahut Lauw-bi-hong, Ui-hai-sian makin merasa penasaran, ada apa dengan orang-orang ini, pikirnya

“nona, kita adalah kalangan liok-lim, rasa penasaran harus dituntaskan dan ganjalan hati harus diselesaikan.”

“maksud cianpwe, apa dan bagaimana?”

“nona, aku akan penasaran jika kita tidak melanjutkan pertandingan dulu.”

“cianpwe, rasanya apa yang terjadi dulu adalah sesuatu yang jamak dan tidak perlu diperpanjang, rasa ingin lebih     unggul,     kita     sama-sama     tahu     bahwa     cianpwe     lebih     kuat     dari     saya.” “benarkah demikian? kalau iya coba buktikan!? ujar Ui-hai-sian sambil menyerang dengan cepat, Lauw-bi- hong terpaksa mengerahkan gin-kangnya untuk berkelit dari serangan gesit dan luar biasa itu.

Pertempuran seru terjadi di gang yang sunyi itu, serangan Ui-hai-sian tidak dapat dia anggap remeh, karena sekali lalai akan menghabisi nyawa, Lauw-bi-hong dengan sendirinya terpaksa mempertahan diri sekuat tenaga dan kemampuan, selama seratus jurus lebih kedaan masih seimbang, namun lama kelamaan Lauw- bi-hong semakin terdesak, ketika sebuah roda bergigi senjata Ui-hai-sian mencecar kakinya, Lauw-bi-hong melakukan poksai kebelakan, namun serangkum tenaga sakti tidak dapat dihindarkan Lauw-bi-hong, sehingga tubuhnya sempoyongan dan jatuh terjengkang, posisi yang berbahaya ketika senjata Ui-hai-sian bergasing meluncur ke-arahnya.

Lauw-bi-hong memjamkan matanya, karena senjata itu akan perutnya, dan

“trang…!” sebuah pedang meluncur dari arah samping menghantam roda senjata Ui-hai-sian, pedang itu patah, sementara roda itu ambruk ketanah sebelum mencapai tubuh Lauw-bi-hong, Lauw-bi-hong membuka matanya, dan seorang perempuan cantik berumur dua puluh satu tahun berdiri disampingnya.

“hmh… siapakah kamu yang lancang ikut campur!?” tanya Ui-hai-sian

“orang tua aku adalah Cia-sian-li, dan aku tidak mungkin membiarkan kekejaman berlaku didepan mataku.” jawab perempuan yang ternyata Cia-sian-li Cia-sian-li adalah putri dari Cia-cungcu desa Kanghu, setelah berpisah dengan Im-yang-sin-taihap, dia menjalani kehidupan dibawah naungan cinta dan janji Im-yang-sin-taihap, Cia-sian-li semakin pendiam, dan gigih berlatih ilmu silat dari kedua orangtuanya yang bekas putra-putri ciangbujin kunlunpai dan thaisan-pai.

Karena itu ilmu silatnya makin maju pesat, sehingga orangtuanya sudah tidak mampu lagi mengatasinya, hal itu sebenarnya membanggakan Cia-peng dan Tang-siulan

“sungguh kemajuan yang kamu raih sangat membuat ayah bangga.” ujar Cia-peng “benar Li-ji, kegigihanmu membuat kami bangga sekaligus heran.” sela Tang-siulian “aih..kenapa ibu heran?” tanya Cia-sian-li

“karena sejak pertemuan dengan Im-yang-sin-taihap kamu banyak diam dan giat melatih ilmu silat, apakah ada hubungan dengan Im-yang-sin-taihap anakku?” tanya Tang-siulian, Cia-sian-li tertunduk membayangkan wajah Im-yang-sin-tai-hap, sudah dua tahun sejak mereka berpisah, mekar sedikit kerinduan didadanya.

“kenapa kamu diam Li-ji, kamu dengarkan pertanyaan ibumu?” sela Cia-peng

“aku dengar ayah, jujur aku akui, benar bahwa apa yang berlaku padaku karena Im-yang-sin-taihap.” jawab Cia-sian-li, ibunya tersenyum maklum

“hmh…apakah ada hubungan yang tidak kami ketahui nak?” “ibu, aku sangat menyukai Im-yang-sin-taihap.”

“pertemuan yang hanya sekali tidak menutup kemungkinan apa yang kau rasakan, namun apakah Im-yang- sin-taihap tahu akan hal ini? nak merajut impian janganlah terlalu muluk.”

“ibu, apa yang aku rasakan diketahui benar oleh Im-yang-sin-taihap.” “lalu apa tanggapan she-taihap?” sela Cia-peng

“aku lega dengan jawabannya walaupun itu baru sekedar janji ayah.” “maksudmu kamu dan she-taihap sudah mengikat janji?”

“benar ayah, dan aku yakin she-taihap arif dengan janjinya.”

“hal itu tidak dipungkiri Li-ji, bahwa she-taihap adalah orang yang arif, lalu apa rencanamu selanjutnya?” sela ibunya

“ibu, Bu-ko berjanji akan datang menemuiku setelah urusan Pah-sim-sai-jin dapat di selesaikan, dan saya akan menepati perintah Bu-ko menunggu disini.” jawab Cia-sian-li

“hmh..jika demikian, lakukanlah yang terbaik menurutmu Li-ji, saya dan ibumu akan ikut merasa bahagia jika apa yang kamu impikan selama ini dapat terwujud.”

“jadi ayah dan ibu akan merestui perasaanku kepada she-taihap?”

“tentu anakku, pilihanmu luar biasa tepat, tidak ada yang dapat mengingkari dan bahkan menjadi harapan bagi siapapun jika ada celah dapat menghubungkan diri dengan she-taihap.” jawab Cia-peng.