-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 16

Jilid 16

Orang itu mengejar Su Yan-hong terus, meng hantam dengan kepalan, menepis dengan telapak, menendang dengan kaki, serangannya kerap dan ganas, membuat Su Yan-hong terus mundur, di belakangnya ada dinding dan tidak ada jalan mundur lagi. Terpaksa harus membalas, tapi tetap serangannya lebih sedikit dari pada beijaga, dia sengaja mengalah 18 jurus dan terjatuh di sebuah kursi, bila sekali lagi diserang senjaga akan terguling dari kursi.

Orang dengan wajah ditutup itu seperti tahu apa yang akan dilakukan Su Yan-hong, dia tertawa terbahak-bahak dan berhenti menyerang lalu membuka baju hitam dan penutup kepalanya. Di balik baju itu ternyata orang berbaju raja dan memakai topi raja.

Bersamaan waktu seorang kasim kecil dan sekelompok pengawal keluar dari dua arah dan berlutut sambil berseru.

"Baginda semoga sehat selalu," sebenarnya orang itu adalah raja sekarang bernama Cu Hou-coh, beliau adalah anak tunggal dari Raja Kauw-cong, dilahirkan dari Permaisuri Cong. Usia 15 tahun sudah naik tahta, sekarang usianya belum mencapai 19 tahun.

Raja Kauw-cong mempunyai anak tunggal, maka di anggap pusaka, permaisuri Cong sangat menyayanginya. Apa lagi Raja Kauw-cong adalah anak yatim, semasa kecil pernah melewatkan hidup yang menyedihkan, maka dia sangat memanjakan anak tunggal ini, otomatis anak ini tumbuh menjadi orang yang selalu hidup di bawah ketiak orang tua, juga sangat nakal, dua kali lebih nakal dibandingkan dengan anak biasa sampai baginda merasa malu kepada rakyatnya, tapi keadaan sudah terlambat, dia hanya berharap anak buahnya bisa mendidiknya kembali ke jalan yang benar, menjadi seorang raja yang baik.

Bagi Raja Cu Hou-coh, orang-orang yang mendidiknya tidak sebaik 8 kasim yang mengurusnya.

Delapan kasim itu disebut 'Pat-houw' (8 macam) mereka adalah Ma Gong-ceng, Kao Hong, Lok Hiang, Wie Min, Ciu Ku, Ku Ta-gong, Thio Gong, dan Liu Kun. Mereka ada yang baik ada yang buruk. Ilmu silat mereka pun ada yang tinggi ada yang biasa, salah satu dari mereka yang paling jahat dan licik adalah Liu Kun.

Orang-orang ingin menjatuhkan Pat-houw, tapi raja mengeluarkan pengaruhnya. Pat-houw tidak jatuh malah posisinya lebih kuat, yang paling kuat tentu saja Liu Kun, dia tidak hanya mengangkat dirinya menjadi ketua dewan jenderal, dia masih menjadi komandan prajurit wilayah ke-

12. Kekuasa annya sangat besar.

Dewan jenderal bisa ikut rapat rencana ketentaraan negara, apa lagi kekuatan militer sudah berada di tangannya. Boleh dikatakan kedudukan Liu Kun kuat seperti Tai-san.

Yang menjadi raja malah seperti Liu Kun, karena raja memberi hak kepada dia.

Setelah 3 tahun lebih bertahta raja ini mulai mengerti, maka dia sering mencari Su Yan-hong. Keluarga Su Yan-hong secara turun temu-run mengabdi pada negara, Su Yan-hong pun tidak terkecuali. Setelah melihat raja berusaha keras, dia lebih giat lagi.

Saat bergurau seperti sekarang ini sudah biasa di terima Su Yan-hong, bagi seorang raja bergurau seperti ini memang sangat mustahil dan memalukan, tapi dibandingkan berkuda atau ber-buru kelinci, ini akan lebih aman!

Su Yan-hong pun tahu kalau raja ini penuh semangat, dan mengerti kalau raja bergurau seperti ini pasti ada tujuan lain.

Dia ingin berlutut tapi raja segera memapah: "Tidak usah!"

Baginda duduk dan tertawa:

"Jika tidak ingin mencoba ilmu yang sebenarnya, beberapa kali kau pura-pura kalah, tidak seru!"

"Kepandaian Baginda semakin bagus!"

"Tidak sebagus murid Kun-lun-pai!" Baginda tertawa.

Waktu itu Ih-lan masuk, melihat Baginda dia segera tertawa, tangan kecilnya dilambaikan dan ingin mendekat. Su Yan-hong segera membentak:

"Ih-lan, harus sopan santun!"

Baru saja Ih-lan ingin mengatakan sesuatu, dia segera berlutut dan menyembah:

"Baginda, Ih-lan memberi hormat kepada Baginda!" Baginda menggendong Ih-lan:

"Kali ini aku datang tergesa-gesa, lupa membawakan makanan dan mainan untukmu!"

"Kedatangan Baginda kali ini, apakah.

"Tiba-tiba aku hanya merasa sudah lama tidak bertarung secara bersahabat, sekarang aku mencarimu ingin mengajakmu keluar kota untuk berburu!" "Baginda mempunyai hobi seperti itu, hamba akan menemani Baginda."

"Apakah Ih-lan ingin ikut juga melihat-lihat keramaian?" Baginda bertanya kepadanya.

"Tentu saja ingin, apakah ayah akan mengijin kan aku ikut?"

"Berburu adalah permainan orang dewasa!" Su Yan-hong berkata lagi, "orang yang berhubung-an dengan kaisar yang bernama Lu Kian baru memperlihatkan surat-suratnya kepada Baginda, apakah Baginda sudah membacanya?"

Kasim kecil yang bernama Siau-te-lu terlihat tegang. Baginda seperti tidak sengaja menghalangi pendangan

Siau-te-lu kepada Ih-lan, dengan dingin melihat Su Yan-hong. Seperti tidak sengaja menjawab:

"Siapa yang tertarik pada benda itu, biar Liu Kun yang membereskannya."

Su Yan-hong adalah orang yang sangat pintar melihat, dia mengerti dan tertawa:

"Banyak orang yang bercerita tentang hal ini..."

"Biarlah mereka yang urus, besok pagi kita lihat panah siapa yang lebih cepat!"

0-0-0

Orang di atas kuda terlihat penuh semangat dan kehidupan. Kuda yang ditunggangi adalah kuda paling bagus, teknik menunggang kudanya mem-buat kuda ini bertambah bercahaya.

Kuda melaju seperti naga, seperti naga dalam diri manusia. Kemegahan Su Yan-hong tidak tertandingi. Di dalam hutan tidak ada binatang buas, hanya ada binatang seperti kelinci dan rusa jenis binatang yang tidak menyerang manusia. Baginda selalu menyukai berburu, dalam berburu beliau bisa mendapatkan rangsangan.

Orang-orang yang mengurusnya tidak bisa menghalangi niatnya, mereka boleh mencegah Baginda melakukan hal yang mengandung bahaya, tapi tidak bisa menghalangi hobi berburu Baginda.

Walaupun tempat berburu di sana sangat aman, tapi pasukan yang datang mengawal baginda jumlahnya sampai ratusan, mereka berada di kiri dan kanan baginda mengawasi.

Kasim kecil Siau-te-lu terus mengikuti di kiri dan kanan, tapi begitu perburuan sudah dimulai, dia tertinggal jauh. Kuda dan teknik menunggang kuda membuatnya tertinggal. Baginda dan Su Yan-hong bersama-sama mengejar seekor rusa. Kuda mereka berlari dengan cepat.

Panah mereka bersamaan waktu melesat meninggalkan busur. Melesat seperti bintang ter-jatuh dan mengenai tubuh rusa. Rusa itu sudah terluka dan berlari lebih cepat lagi. Hanya sebentar Siau-te-lu sudah tertinggal dan tidak terlihat batang hidungnya.

Rusa yang terluka setelah berlari sebentar lalu mati di balik semak-semak. Baginda dan Su Yan-hong jongkok di pinggir rusa mati itu, tawa mereka segera berhenti.

"Yan-hong, apakah kau tahu kau hampir membuat bencana?" suara Baginda menjadi berat.

"Apakah mengenai orang yang berhubungan dengan kaisar?" "Surat itu jatuh ke tangan Liu Kun." Baginda menarik nafas, "Liu Kun sudah membangun pagar di sisiku, kelak bila bicara denganku, harus hati-hati."

"Apakah Siau-te-lu orangnya?"

"Betul... Liu Kun sudah mengatur orang ini untuk mengawasiku!"

"Orang itu sangat keterlaluan, dia mulai berani secara terang-terangan menambah kekuatan, kalau tidak segera dihentikan akan sangat berbahaya!"

"Bagaimana cara menghentikannya?" kata Baginda tertawa kecut, "sekarang dia sangat berani, tidak takut pada siapa pun. Pastinya aku harus bertanggung jawab, dia menjadi seperti itu karena diriku juga."

"Tapi ini sudah menjadi sebuah bukti, sekarang tidak ada gunanya lagi, lihat saja, dia menamakan dirinya sendiri Kiu- cian-sui (9.000 tahun, Baginda=10.000 tahun) terlihat ambisinya sangat besar, Yan-hong, sekarang aku harus mengandal-kanmu lagi!"

"Tenanglah, Baginda!" Su Yan-hong ter-paksa berkata seperti tu.

"Kalau aku bisa tenang, itu lebih baik!"

"Mungkin aku tidak akan bisa membantu!" Baginda terlihat sedih, "aku harap dia bisa kuat!" kemudian matanya berputar, dia tertawa terbahak-bahak.

Tidak perlu melihat pun Su Yan-hong tahu kasim kecil Siau-te-lu sudah mendekati mereka, dia merasa sedih.

Tapi dia tetap bisa tertawa, tertawa lepas, karena dia tahu hanya dengan cara seperti itu baru bisa menutupi semua ini.

Pastinya orang yang menghubungi Kaisar, Lu Kian tidak sekuat besi, dia setia, berani bertingkah, berani bicara, maka dia disebut sebagai penghubung Kaisar terbuat dari besi. Dia adalah seorang pelajar, tidak perlu berlatih ilmu silat untuk menjaga diri, sekarang dia dihajar hingga berdarah.

Di kedua sisinya ada kasim, mereka adalah orang yang dipercaya Liu Kun, bila menggunakan alat penyiksa, tidak ada perasaan sedikit pun.

Lu Kian terus berteriak kesakitan, dua kasim yang memukul seperti tidak mendengar teriakannya, setelah puas baru berhenti. 4 orang kasim yang memegang kaki dan tangan baru melepaskannya.

Lu Kian bernafas ngos-ngosan, dia meronta dan berteriak, akhirnya dia merangkak.

Waktu itu dua barisan kasim keluar dari ruangan, di tengah-tengahnya adalah Liu Kun.

Melihat dari sudut mana pun tidak terlihat dia mirip orang jahat, kalau tidak begitu dia tidak akan mendapatkan kepercayaan dari kaisar dan bisa menduduki posisi seperti sekarang.

Dia orang Soa-sai, bermarga Than, marganya jarang ada, ketika dia baru dikebiri, dia menjadi murid seorang kasim bermarga Liu, maka marganya pun diubah menjadi Liu, kemudian oleh Kaisar Sian-cong, dia diberi tugas mengurus pelacur yang diakui oleh pemerintah. Maka Kaisar Sian-cong waktu itu selalu mencarinya, dia jadi sangat disukai oleh Kaisar.

Katanya kematian Kaisar Sian-cong disebabkan terlalu banyak makan obat kuat, seharusnya Liu Kun yang bertanggung jawab akan hal ini, tapi tidak ada seorang pun yang berani mengusut perkara ini.

Sampai pada jaman Kaisar Siau-cong, karena kehidupan pribadinya sangat serius, jadi tidak membutuhkan orang seperti Liu Kun, dan kedudukannya digeser ke dekat kuburan Sian-cong, sampai seka-rang Kaisar telah tumbuh dewasa dan senang main, setelah mengetahui Liu Kun sangat hafal dalam bidang ini, dia menarik kembali Liu Kun ke istana. Kesempatan begitu baik pasti tidak akan dilepaskan Liu Kun, dia berusaha mengubah cara membuat Kaisar ini semakin menyukainya.

Dalam hati kecil Kaisar, tidak ada orang yang lebih baik dari pada Liu Kun, Liu Kun berusaha merangkak naik, walaupun harus menggunakan segala cara.

Pejabat kerajaan semua takut kepadanya dan menganggap dia sebagai Kiu-cian-sui, hanya Lu Kian yang tidak, dia menulis surat kepada Kaisar mengungkapkan kesalahannya, jadi mana mungkin Liu Kun akan melepaskannya.

"Sebetulnya kau tidak takut!" kata-kata ini keluar, Liu Kun segera duduk.

Kasim yang ada di belakang sudah menyiapkan kursi untuk mengkordinasi gerakannya.

"Liu Kun pengkhianat, penjahat!" Lu Kian marah.

Liu Kun sama sekali tidak takut, jangankan Lu Kian yang telah terluka parah, jika di kiri dan kanannya banyak pendukung, dia pun tidak takut, apa lagi sekarang ada Hongpo Tiong dan Hongpo Ih yang selalu melindungi dia.

Dua bersaudara itu adalah keturunan Hong-po, mereka masing-masing menggunakan sepasang Poan-koan-pit, di dunia persilatan di juluki Im-yang-pit (Pena Im-yang), mereka sudah tinggal di istana selama beberapa tahun, mereka adalah 2 pesilat tangguh di antara 5 pesilat lainnya. Di istana dia dipimpin langsung oleh Liu Kun, mereka sangat setia kepada Liu Kun.

Mereka tidak takut kepada Lu Kian, dan segera berteriak: "Diam..." dan Lu Kian pun pingsan. Tidak usah diberitahu kasim di sebalah kiri dan kanan segera menyiram Lu Kian

dengan air.

Lu Kian terbangun kembali, kali ini dia tidak sanggup bergerak lagi, tapi dia tetap terlihat marah:

"Pengkhianat, penjahat..."

"Kau benar-benar pemberani, kau kira aku tidak berani membunuhmu?"

"Keluarga Lu tiga generasi secara turun temur-un adalah pejabat yang jujur, kami diberi kebaikan oleh kerajaan, kalau kau mau membunuh-ku, aku tidak takut kecuali Kaisar sendiri yang memberi perintah!"

"Apakah benar?" Liu Kun tertawa.

Lu Kian ingin mengatakan sesuatu, tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya pingsan kembali.

"Kembalikan dia ke rumah!" kata Liu Kun dengan suara hidung.

"Baik..." Empat orang kasim segera menarik Lu Kian keluar dari sana.

"Di mana Kaisar sekarang?" tanya Liu Kun. "Lapor Kiu-cian-sui, kaisar berada di rumah Pau!"

"Baik..." Liu Kun tertawa lagi, "kita pergi ke rumah Pau Pang. jangan lupa suruh Tiang Seng ikut!"

"Baik, Kiu-cian-sui!"

Mendengar panggilan itu, Liu Kun merasa sangat gembira, memang jarak Kiu-cian-sui hingga Ban-sui masih ada 1.000 Sui, tapi dia tidak perlu merasa cemas karena kesempatan belum datang. Kalau dia tidak sabar, tidak akan mendapatkan posisi setinggi sekarang.

Pau Pang adalah tempat Kaisar bermain, berada di belakang kuil Sie-tan, di jalan kecil sana, ada Vila Li-kong-pie- goan.

Membangun vila Li-kong-pie-goan itu juga ide Liu Kun, dibangun dan direncanakan oleh Goan Te orang Vietnam.

Goan Te sudah berada di Tiongkok selama 4 generasi, keluarganya secara turun temurun membangun istana kerajaan, keahliannya membangun sangat tinggi, sampai generasinya, sayapnya lebih diperlebar lagi. Tidak diragukan lagi dia adalah orang berbakat dalam bidang arsitek, ditambah lagi dia adalah anak buah Liu Kun yang selalu memper-jelas Goan Te, karena hobi Kaisar ini maka istana dibangun dengan struktur aneh, kuat, leluasa, dan indah. Dari luar melihat rumah yang ada di kiri dan kanan sangat biasa, tapi setelah masuk, terlihat aneh. Pintu-pintu, air, gunung, hutan buatan semua ada, jalan pun sambung- menyambung. Istana ini benar-benar sangat misterius,

Dana untuk membangun, kuli bangunan, butuh berapa pun selalu ada, maka istana ini dengan cepat selesai dibangun. Kaisar sendiri yang memberi nama ’Tai-su' kolam di depan "Tian Go ruang rahasia bernama 'Houw-pang' (Kamar Harimau), Kaisar secara tidak sengaja melihat harimau dan macan tutul, maka dia mengubahnya menjadi 'Pau Pang' (kamar Pau).

Memang Kaisar sangat menyukai tempat itu, tapi tidak ada hati untuk menikmatinya, apa lagi sekarang ini.

Selama beberapa tahun ini apa yang dilakukan Liu Kun sangat dipahaminya, dia juga tahu masalah Lu Kian, dan itu akan membuat Liu Kun datang kemari, maka begitu Siau-te- lu melapor, dia tidak terkejut, malah merasa lebih plong. Walaupun dia mulai bisa bersabar, tapi semakin cepat masalah beres maka akan semakin baik.

Kaisar tidak merasa aneh dengan kemuncul-an Tiang Seng, karena kasim ini memang orang kepercayaan Liu Kun dan sekarang dia menjadi gubernur Tong-tiang.

Dia tidak menyukai kasim ini, tapi dia harus mengakui, kasim ini mempunyai ilmu tinggi dan tahu itu alasan Liu Kun menyukainya

Liu Kun membawa anak buahnya itu di sampingnya, sepertinya dia mempunyai tujuan yang harus dicapai. Kaisar berharap Liu Kun jangan bersikap keterlaluan, jangan membuat dia merasa sulit menjadi Kaisar.

Setiap saat wajah Liu Kun yang merah dan lembab selalu tersenyum, sebaliknya wajah Tiang Seng selalu pucat seperti baru sembuh dari sakit berat. Setahun penuh wajahnya pucat tidak terlihat ada darah, kecuali sepasang matanya selalu penuh dengan urat-urat merah, di sekeliling matanya ber-wama merah, sepertinya sengaja dilukis tapi sejak lahir memang seperti itu.

Umurnya belum terlalu tua, tapi rambut putihnya lebih banyak dari rambut hitam, alisnya pun seperti itu, ada orang yang bilang karena ilmu lweekang yang dilatihnya.

Katanya ilmu lweekang yang dilatihnya adalah ilmu lweekang aliran sesat. Apa pun yang dikatakan orang, kesan yang diberikan adalah sesat dan jahat.

Siau-te-lu tahu keadaan ini, dia segera keluar meninggalkan Kaisar, Liu Kun, dan Tiang Seng.

"Lu Kian bersekongkol dengan kekuatan dunia persilatan golongan hitam, diam-diam memperbesar kekuatan dan berencana memberontak!" Liu Kun terus terang. "Apakah betul?" kata Kaisar pura-pura.

"Kami sudah menyelidikinya dengan teliti, harap Baginda segera menurunkan perintah, menghukum dia!"

"Berencana memberontak... dosa besar, harus dibunuh!" "Apakah ada buktinya?"

"Tiang Seng adalah bukti kuat, karena dia bertanggung jawab menyelidiki masalah ini, maka semua bukti sudah di tangannya!"

"Oh!" Kaisar mengerutkan alis.

"Jangan sampai terlambat, hamba sudah menyiapkan surat perintah, Baginda bisa melihatnya." Liu Kun membawa surat.

Kaisar mengambilnya, dia mengerutkan alis:

"Selama 3 generasi Lu Kian adalah pejabat yang setia, memang dosa selama hidup tidak bisa diampuni, dosa mati pun tidak bisa dilaksanakan, bagaimana kalau dia menjadi tentara di perbatasan?"

"Dia merencanakan memberontak, seharusnya seluruh keluarganya dipenggal, sekarang hanya tinggal membunuh Lu Kian, hamba sudah memikirkan banyak hal untuk Baginda."

"Cepat buatkan tinta untuk Baginda!" pesan Liu Kun kepada Tiang Seng.

Sebenarnya tinta sudah dibuat, Tiang Seng segera memberikan Pit kepada Kaisar. Kaisar tahu ini sudah mereka rencanakan maka dia mengambil Pit tapi tetap bengong, setetes tinta menetes ke bawah dan menjadi sebuah noda tinta.

Liu Kun melihatnya:

"Kau tidak hati-hati, cepat minta maaf pada Baginda." "Hamba pantas mati, hamba pantas mati..." tangan Tiang Seng membersihkan noda tinta di atas meja, dua tangannya menjadi hijau dan dia menge-lap meja, meja langsung menjadi putih.

Kaisar melihat itu dan wajahnya berubah. Liu Kun membentak:

"Mundur..." Tiang Seng mundur ke belakang Liu Kun. Liu Kun baru berkata, "Silakan, Baginda..."

Akhirnya kaisar berkata:

"Bila Lu Kian berniat ingin memberontak, dia pantas mati!" Pit pun akhirnya turun.

Setelah Lu Kian pulang, dia kembali pingsan, begitu sadar, dia benar-benar sudah sadar dan bisa berpikir banyak, dia langsung berteriak:

"Tan-ji..."

"Aku di sini!" Lu Tan dari awal selalu berada di sisi ranjang Lu Kian.

Hati Lu Kian agak tenang, dengan nada marah dia berkata:

"Liu Kun adalah seorang penjahat..." kata-kata berikutnya belum menyambung, dia hampir pingsan lagi.

"Ayah, jaga dirimu baik-baik, kita punya banyak kesempatan!"

"Penjahat ini benar-benar jahat, aku yakin surat-suratku tidak akan sampai ke tangan Kaisar!"

"Hari ini dia sudah memukulkan 80 papan kepadaku, mungkin dia hanya melampiaskan sedikit, tapi dia adalah orang licik, aku yakin dia tidak akan berhenti sampai di sini!"

"Ada putramu di sini, ayah bisa tenang!"

Lu Kian melihat wajah putranya, dia ber-pesan: "Jangan gegabah!" dia tahu putranya bersifat membela keadilan, melindungi orang yang diperlaku kan dengan tidak adil, bisa membedakan mana yang ! benar dan yang mana yang salah, dari kecil dia diantar ke Bu-tong-san dan sudah menguasai ilmu tinggi.

Lu Kian sering merasa bangga mempunyai putra seperti dia, walau pun hanya putra tunggal ini, tapi dia tidak seperti orang biasa terlalu memanjakan kepada putranya, kalau tidak dia tidak akan mengantarkan putranya ke Bu-tong-san, dia sering mendorong putranya melakukan hal yang berarti, tapi tidak kali ini.

"Orang-orang takut kepada Liu Kun, tapi aku tidak!"

Lu Tan mengepalkan tangannya.

"Di istana banyak pesilat tangguh, apa lagi Liu Kun, kau hanya sendiri, apa gunanya?"

"Aku akan berhati-hati..."

"Kalau sekali pukul tidak kena, tidak akan ada kesempatan lagi, kalau sampai jatuh ke tangan Liu Kun, akibatnya tidak terbayangkan!"

"Ayah sering mengajarkanku, walau mati tapi harus ada artinya..."

"Kematian ada yang berat seperti Tai-san, ada yang ringan seperti bulu. Orang yang ingin membunuh Liu Kun sangat banyak, maka dia sudah mempersiapkan segalanya, ingin membunuh dia sangat sulit!" Lu Kian menarik nafas, "keluarga Lu selama 3 generasi adalah pejabat yang setia, semua orang tahu tentang ini, dia menjerumuskan aku, dosa karena memenggal sekeluarga besar kita, tapi kali ini hanya aku yang dipenggal, tidak akan berdampak pada keluarga lain!" Lu Tan tidak terpikir hal ini, setelah mendengar kata-kata ayahnya dia terpaku.

"Ingat ayah bisa seperti ini karena keras kepala dan terlalu percaya diri.

"Kita pergi dari sini..."

"Tidak bisa!" Lu Kian menggelengkan kepala, "kalau kita pergi berarti kita melarikan diri setelah berbuat kesalahan, saat itu masuk laut pun tidak akan bisa mencuci bersih nama baik kita, apa lagi Liu Kun sudah mempersiapkan semuanya..."

Kata-katanya belum selesai, suara teriakan Seng-ci-to sudah terdengar (perintah kaisar).

"Ayah..." wajah Lu Tan berubah.

"Mereka datang begitu cepat!" Lu Kian malah tertawa, "hidup atau mati ditentukan oleh nasib, pejabat jahat dan tidak setia akan mendapat karma."

Kemudian dia membentak:

"Pelayan, bantu aku berganti baju untuk menerima perintah baginda!"

Keluarganya tergesa-gesa masuk, Lu Tan terdiam, dia berlutut di belakang Lu Kian.

Dengan tenang Lu Kian mengganti dengan baju bagus dipapah oleh keluarganya dia masuk ke ruang tamu.

Lu Tan melihat ayahnya, dia melotot, hatinya dipenuhi kemarahan, siap meledak.

Di sisinya ada secangkir arak yang telah diberi racun, maksudnya Lu Kian harus bunuh diri. Hongpo Tiong dan Hongpo Ih datang bersama-sama, dari sisi terlihat tekad Liu Kun.

Lu Kian menerima perintah Baginda, cangkir arak diambilnya dan tertawa dingin: "Lu Kian mati tidak apa-apa, hanya sayang kekuasan akan diambil alih oleh kasim, kerajaan Beng akan hancur di tangan kasim jahat ini!"

"Diam..." Hongpo Tiong berteriak.

Lu Kian melihat Hongpo Tiong, dia tidak marah tapi penuh dengan wibawa.

Hongpo Tiong tidak tahan mundur beberapa langkah.

Lu Kian tidak bicara apa-apa lagi, arak beracun segera diteguknya hingga habis.

0-0-0

Malam sudah larut, di rumah makan itu hanya tersisa 3 orang tamu.

Sebenarnya Lu Tan baru datang belum begitu lama tapi 3 poci arak sudah habis di minum, dia mulai terlihat mabuk. Seorang tua dan Siau-cu si penjual obat dari tadi sudah berada di sana. Waktu itu Lo-thauw-ji sudah mabuk dan tertidur di meja, suara mengoroknya terdengar seperti guntur.

Siau-cu sedang makan kacang, dia melempar kacang tinggi-tinggi, semua kacang masuk ke dalam mulutnya, tidak ada yang meleset.

Mereka tidak melihat Lu Tan, walaupun Lu Tan menggebrak meja mengeluarkan suara menggetarkan langit, tapi mereka tetap tidak bereaksi.

Lu Tan menggoyang poci dan berteriak: "Pelayan, bawa arak!"

Pelayan sangat berpengalaman, dia tahu tamu yang sedang mabuk seperti ini jangan sampai membuatnya marah, buru-buru mengantarkan arak. Baru saja Lu Tan mengambil poci arak, kacang yang digenggam seseorang terjatuh di atas meja, dia melihat ke atas, Siau-cu sedang tertawa.

"Minum arak sendirian seperti ini, akan cepat mabuk." "Pergi... " Lu Tan melayangkan tangan.

Siau-cu menggelengkan kepala:

"Aku orang yang tidak bisa mendengar orang minum arak terus mengomel." Dia tidak pergi malah duduk di depan Lu Tan.

Lo-thauw-ji seperti sedang mengigau:

"Untuk apa minum arak? Kalau tidak ada gunanya untuk apa minum arak?"

Dengan dingin Lu Tan menatap Lo-thauw-ji, Siau-cu berkata:

"Dia adalah Suhuku, jangan lihat dia mabuk dan sembarangan bicara, sebenarnya banyak hal yang sangat masuk akal yang dikatakannya."

"Apa hubungannya semua ini denganku!" Lu Tan melambaikan tangan:

"Kita tidak saling kenal, lebih baik kau pergi, jangan menghalangi aku minum arak!”

Dia mengangkat poci siap minum lagi, tapi entah bagaimana pocinya sudah direbut Siau-cu.

"Semua adalah sahabat, apakah kau tidak mengerti?" Siau-cu minum setegak arak.

"Kembalikan!" Lu Tan ingin merebut poci itu kembali tapi poci berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan, kemudian dari tangan kanan ke tangan kiri Siau-cu, bersalto tiga kali di udara, kemudian turun dan duduk bersila di atas meja.

Sebenarnya Lu Tan tidak peduli pada poci arak itu, tapi setelah kedua tangannya selalu tidak mengenai sasaran. Hati yang selalu ingin menang mulai muncul, dia menyerang Siau- cu dan berteriak:

"Kukembalikan padamu..." poci arak didorong ke depan Lu Tan. Ketika Lu Tan ingin mengambilnya, Siau-cu menariknya kembali dan pada kesempatan ini dia mengambilnya dan bersalto dari atas Lu Tan.

Lu Tan membentak, dia berputar, kakinya menendang Siau-cu yang sedang turun, tapi dalam situasi seperti itu Siau-cu masih sempat berputar dan turun ke meja yang lain.

"Ilmu yang bagus, pantas berani mengolok diriku dengan jurus Bu-tong 'Pat-kwa-yu sin-ciang'." (Tangan dan tubuh berpindah-pindah) dia segera datang merebut arak yang ada di dalam poci.

Dari kiri ke kanan Siau-cu terus menghindar, tapi tidak selincah tadi. Ketika Lu Tan akan mencengkeram poci itu, poci dilempar ke atas, Lu Tan ikut meloncat, Siau-cu pun tidak kalah cepat.

Mereka bergerak sangat cepat, tapi ada tangan yang lebih cepat dari mereka. Ada orang yang mengambil kesempatan ketika mereka sedang berebut poci yang akan terjatuh, dia adalah Lo-thauw-ji.

Poci diambil dan langsung meloncat ke atas tiang, dengan posisi setengah tubuh di atas tiang setengah tergantung, dia minum arak:

"Arak di dalam poci ini benar-benar enak pantas kalian berdua berebut."

Kedua matanya setengah terpejam, seperti dalam mabuk dan belum sadar. Tubuhnya bergoyang-goyang sepertinya setiap saat akan terlempar ke bawah.

Melihat orang tua berkelakuan seperti itu Siau-cu terlihat biasa-biasa saja, tapi Lu Tan sudah melepaskan kata-katanya: "Jangan minum arak lagi!"

Lo-thauw-ji mendengar dan melihat ke bawah, dia seperti lupa masih tergantung di atas, dan segera berdiri. Lu Tan tergesa-gesa akan menyambutnya, tapi orang tua itu seperti seekor belut, berputar di tengah-tengah udara dan meloncat kembali ke atas tiang, kemudian minum arak lagi.

"Arak yang harum, arak yang enak..." dia menggoyang- goyang kepalanya, "sebenarnya aku sudah kenyang, tapi arak ini begitu enak, sayang bila disia-siakan begitu saja!"

Lu Tan sadar bahwa orang tua itu benar-benar mempunyai kepandaian yang hebat, dia tertawa kecut.

"Anak muda, bagaimana kalau menemani Lo-thauw-ji minum?"

"Suruh Siau-cu saja yang menemani Anda!" Lo-thauw-ji melihat Siau-cu:

"Maksudmu Siau-cu? Tidak! Tidak! Minum 3 cangkir langsung mabuk, tidak seru!"

Siau-cu segera berbisik kepada Lu Tan:

"Jangan percaya pada kata-katanya, bila taruhan minum, dia yang mabuk terlebih dulu!"

"Tidak pernah terjadi seperti itu, aku tahu ketika aku mulai mengerti minum arak, dia masih bergelut dengan dewa kematian, nasi yang di makannya lebih sedikit dari arak yang kuminum! Cepat, bawa cangkir kemari!"

Lu Tan segera membawa cangkir arak lalu diletakkan di atas meja.

Lo-thauw-ji meloncat ke atas, mulut poci di kebawahkan, arak tumpah dengan pas secangkir pun tidak ada yang tumpah.

Lu Tan terkejut, tenaga dalam Lo-thauw-ji begitu tinggi benar-benar di luar dugaannya. "Lo-cianpwee   " Baru saja sebutan ini keluar. Lo-thauw-

ji sudah turun di depannya.

"Panggil aku Lo-thauw-ji..." orang tua itu mengangkat poci arak dan berkata lagi, "mari bersulang...." Dia menghabiskan arak di dalam poci, kecepatannya benar- benar jarang ada. Lu Tan masih terpaku di sana. Siau-cu dengan cepat menutup setengah wajahnya dan berteriak:

"Celaka. "

"Lihat, siapa yang berani bertanding minum denganku?" Lo-thauw-ji menggoyangkan poci kosong nya:

"Sekarang giliranmu..." ketika Lu Tan akan minum, tiba- tiba Lo-thauw-ji sudah terguling ke bawah.

"Lo-cianpwee " Lu Tan berteriak.

Tapi suara ngorok Lo-thauw-ji sudah terdengar keluar, Siau-cu menepuk pundak Lu Tan:

"Tidak apa-apa, tadi memang sudah mabuk, sekarang dia minum lagi, maka dia bertambah mabuk!"

Lu Tan ingin mengatakan sesuatu, tapi Siau-cu sudah berkata:

"Takaran minum sudah ada dari lahir, ditambah latihan dari lahir, tidak diukur dengan usia, Lo-thauw-ji selalu tidak mengerti aturan ini, dia mengira karena dia lebih tua minum pun pasti lebih kuat dibandingkan denganku, sebenarnya tidak seperti itu!"

Kemudian dia mengambil arak Lu Tan dan meminumnya. Baru saja selesai meneguk, cangkir-nya dikembalikan kepada Lu Tan, Lu Tan beniat mengambilnya, Siau-cu sudah terjatuh ke bawah sambil membawa cangkir araknya.

"Kau " Lu Tan tertawa kecut. Pelayan melihat semuanya, dia menggelengkan kepala. Melihat reaksi Lo-thauw-ji dan Siau-cu seperti ini sepertinya bukan pertama kalinya terjadi.

"Apa pekerjaan mereka?" tanya Lu Tan pada pelayan. "Tukang obat!" dia mulai bercerita, "biasanya mereka

bisa mabuk selama 1-2 jam lalu sadar kembali tidak perlu khawatir."

Lu Tan berpikir sebentar, melihat Siau-cu dan Lo-thauw-ji yang masih tergeletak di bawah, dia tertawa kecut:

"Semua makanan dan minuman mereka, biar aku yang bayar!"

Dari balik bajunya dia mengeluarkan uang dan meletakkanya di atas meja, kemudian dia keluar dari rumah makan itu.

Pelayan melihat Lu Tan pergi, dia menggaruk-garuk kepala:

"Aneh!" Ketika pelayan ingin menyimpan uang perak itu tanpa menimbang-nimbang berat uang perak itu, "Sungguh royal, uang perak ini paling sedikit bisa beli 3 poci arak terbaik."

Pelayan itu terpaku, uang dan tempat arak yang seperti Ho-lou sudah diserahkan kepada pelayan, Lo-thauw-ji berpesan:

"Siram semua arak ke dalam Ho-lou." Pelayan itu tertawa kecut.

Tadinya jalanan ramai, sekarang karena sudah malam para pejalan kaki sudah tidak ada. Tapi tiupan angin malam tidak membuat Lu Tan bertambah sadar, pikirannya malah bertambah kacau dan tidak tahu harus pergi ke mana.

Bila dia pulang ke rumah, dia akan teringat pada ayahnya, akan bertambah sedih dan marah, niatnya membunuh Liu Kun akan semakin berkobar, dari mana dia harus mulai.

Dari kecil dia sudah belajar ilmu silat di Bu-tong-san dan mulai mandiri, tapi mandiri dan terkucil adalah dua hal berbeda, yang dia rasakan sekarang dia terkucil.

Terkucil dan tidak ada yang membantu, sampai orang yang bisa diajak bicara pun tidak ada, maka dia ingin minum arak untuk membuang semua kecemasannya.

Dia tidak tahu Liu Kun adalah orang yang punya rencana panjang, bila ingin melayani seseorang, dia pasti akan mencari tahu asal-usul orang itu, maka di keluarga Lu Kian orang yang dia layani adalah Lu Tan.

Hanya Lu Tan yang bisa membuat Liu Kun merasa terancam.

Bila mencabut rumput tidak sampai akarnya, begitu angin musin semi berhembus rumput akan tumbuh lagi. Lu Tan adalah akar dari keluarga Lu Tan yang sangat berbahaya, mana mungkin Liu Kun akan melepaskannya begitu saja!

Yang bertanggung jawab atas masalah Lu Kian adalah Hongpo Tiong dan Hongpo Ih, sekarang mereka berdua berada di sebuah rumah makan, yang ikut bersama mereka adalah seorang laki-laki separo baya bertopi caping.

Laki-laki setengah baya itu terlihat pendek dan kekar.

Sepasang mata di bawah topi caping mengeluarkan cahaya dingin, seperti mata seekor ular beracun.

Melihat sorot mata seperti itu, Hongpo Heng-te tidak merasa tidak dingin tapi gemetar, dan sangat berharap orang itu cepat-cepat pergi.

Laki-laki separo baya itu baru masuk, dia segera bertanya:

"Apakah dia sudah datang?" "Kau datang tepat pada waktunya!" Hongpo Tiong melihat ke jalan, "pemuda berbaju putih itu adalah Lu Tan!"

Setelah laki-laki separo baya itu melihat Lu Tan dia malah berkata:

"Sebenarnya kalian bisa menyerangnya!" "Apakah kau lupa, posisi kami seperti apa?"

"Dengan kedudukan kalian bergerak di ibu kota memang sangat tidak leluasa!" kata dia tertawa, "sebenarnya menjadi seorang pejabat bukan hal enak!"

"Untung kami punya teman sepertimu!"

"Ada uang ada kawan!" laki-laki setengah baya itu sangat jujur.

"Uang sudah kami bayarkan kepadamu!" "Tenanglah!"

"Lam-touw-pak-to..." (Pencuri selatan peram pok utara) kata-kata Hongpo Tiong terucap keluar, laki-laki setengah baya itu sudah melambaikan tangan memotong.

"Harus mengatakan Pak-to-lam-touw!" Laki-laki setengah baya itu segera memperbaiki urutan penyebutannya.

"Kalau Pak-to tidak tenang, siapa yang bisa tenang?" kata Hongpo Tiong.

Pak-to tidak bicara lagi, dia berdiri dan berjalan keluar.

Keahlian Lam-touw-pak-to masing-masing adalah ilmu mencuri atau merampok, semua orang dunia persilatan sangat takut kepada mereka, apa lagi terhadap Pak-to.

Lam-touw mencuri perhiasan dan mereka mempunyai prinsip kuat, sebenarnya mereka adalah orang yang membela keadilan. Tapi Pak-to selain merampok perhiasan, dia juga merampok kepala orang. Ada uang apa pun jadi. Kadang-kadang dia juga menjadi pembunuh bayaran, maka Hongpo Heng-te (dua bersaudara Hongpo) bisa mencarinya. BAB 19

Semakin mereka berjalan tampak jalanan semakin sepi, memang ingin pergi menuju kediaman keluarga Lu harus melalui lereng bukit ini.

Bila siang hari, di sini adalah tempat bermain anak-anak dan sangat ramai, tapi pada malam hari, tempat ini berubah menjadi sebuah tempat yang seperti ada setannya. Pak-to ternyata sangat hafal dengan situasi di sini, karena itu dia memilih tempat ini untuk membunuh.

Lu Tan tidak tahu bahaya sudah berada di depan mata. Setelah ada angin berhembus rasa mabuknya barulah hilang, Pak-to sudah turun dari sebuah pohon besar, goloknya dengan cepat menepis ke belakang kepalanya.

Baju Pak-to diikat kencang, maka saat bergerak tidak menimbulkan angin keras dan tidak mengeluarkan suara. Serangan golok ini cukup mem buat siapa pun mati, dengan cara ini Pak-to sudah banyak mencabut nyawa orang.

Saat Lu Tan merasa ada yang menyerangnya, golok sudah sangat dekat dengannya, dengan cara apa pun menghindar pasti akan terkena serangan golok itu. Waktu itu sebuah batu melesat dan mengenai mata golok.

Golok terpukul ke pinggir, Pak-to segera siap siaga, goloknya dilintangkan di depan dada.

Lu Tan melihatnya:

"Siapa kau?"

Pak-to tidak melayani dia, matanya terus berkedip, dia sedang mencari orang yang menghalangi niatnya.

Dari arah batu terdengar suara seorang tua, menjawab pertanyaan Lu Tan: "Orang menyebutnya Pak-to, dia adalah perampok tunggal, asal melihat uang dia akan tertawa, kali ini dia akan merampok kepalamu!"

Mendengar suara itu, wajah Pak-to segera mengencang. "Siapa yang menyuruhmu membunuhku? Liu Kun kah?"

Bentak Lu Tan.

Pak-to bertanya kepada suara itu:

"Apakah itu dirimu?"

Seseorang turun dari pohon besar, dia adalah Lo-thauw-ji yang tadi mabuk dan berbarengan minum arak di rumah makan itu, dia membawa Ho-lou sambil meneguk arak dan menjawab:

"Kau benar-benar tidak ada kemajuan, sekarang malah menjadi budak seorang kasim, malah teman-teman dunia persilatan menjejerkan namaku dengan namamu!"

Hati Lu Tan berteriak:

"Ternyata Lo-cianpwee adalah bagian Lam-touw-pak-to, Lam-touw-nya!"

"Apakah kau tidak mendengar jelas?" Lam-touw memelototi Lu Tan, "Lam-touw adalah Lam-touw, mengapa harus memanggil berbarengan!"

Lu Tan ingin menjawab, Pak-to sudah tertawa dingin:

"Lo-thauw-ji, kita seperti air sungai, tidak mengganggu air sumur..."

"Air sungai atau air sumur sama-sama air, apakah kau tidak mengerti?" kata Lam-touw tertawa, "pantas tidak mengerti, orang di dunia ini harus mengurusi hal yang terjadi di dunia ini!"

"Betulkah kau akan ikut campur?" "Betul!" Lam-touw minum arak lagi. "Apa hubunganmu dengannya?" "Arak yang kuminum sekarang adalah dia yang membelikannya!" Lam-touw menepuk Ho-lou yang berisi arak.

"Aku bisa memberimu untuk membeli arak!" uang perak segera dilemparkan oleh Pak-to.

Lam-touw seperti ingin menyambut uang yang terbang tapi tiba-tiba dia berputar menendang uang yang terbang itu:

"Uangmu terlalu kotor, arak pun akan menjadi gila arak, mungkin aku tidak akan pirnya anak atau cucu, singkat kata tidak akan punya keturun-an!"

Pak-to menyambut uangnya kembali, dia menarik nafas: "Kau tetap seperti dulu, tidak mau lepas," dia bertanya,

"sudah berapa lama kita tidak bertarung?"

"Siapa yang tertarik mengingat hal seperti itu?"

"Kecuali bertarung, setiap kali kita bertemu selalu tidak ada hal yang bisa kita lakukan."

"Karena kau senang bertengkar!" Lam-touw menggulung lengan bajunya.

Pak-to menarik nafas, lalu dengan golok di tangan dia terbang menghampiri dan menepis Lam-touw. Kilatan golok seperti salju yang turun, ini adalah jurus 'Swat-hoa-kai-teng' (Salju menutup kepala).

"Jurus Swat-hoa-kai-teng yang bagus!" Lam-touw memeluk Ho-lou dan berputar ke belakang Pak-to, kemudian Ho-lou didorong ke depan, menghantam punggung Pak-to.

Pak-to menghindar dengan cara telungkup ke bawah kemudian berguling, golok berputar untuk menepis kaki Lam-touw.

"Baik... jurus Lo-su-poa-hen (Pohon tua melipat akar)," Lam-touw tertawa, "kau masih seperti dulu, tidak punya jurus baru!" dia memeluk Ho-lou-nya lalu berguling ke bawah untuk meng-hindari serangan.

Pak-to hanya diam, tubuh dan goloknya terus terus berguling. Awalnya masih terlihat sosoknya dalam kelebatan sinar golok. Lama-kelamaan tidak terlihat lagi begitu juga dengan golok, yang terlihat hanya cahaya terang.

Golok digunakan begitu dahsyat dan gerakan berubah begitu cepat, yang pasti Lu Tan bisa melihat ilmu golok ini bukan seperti yang dikatakan Lam-touw 'Swat-hoa-kai-teng, Lo-su-poa-hen', begitu sederhana, maka jantungnya berdebar kencang. Kalau dia bukan Lam-touw, semua ini pasti akan menjadi masalah besar.

Pengalamannya di dunia persilatan tidak banyak, ilmu golok seperti milik Pak-to, pertama kali dilihatnya.

Cara Lam-touw mengatasi serangan pun di luar dugaannya, Lam-touw sebaliknya dengan Pak-to, tubuhnya malah bergerak semakin pelan.

Lu Tan dengan jelas melihat perubahan Lam-touw juga dengan jelas melihat Lam-touw mengantarkan Ho-lou ke dalam kelebatan cahaya dan kemudian Ho-lou itu hancur, cahaya tiba-tiba menghilang kemudian terlihat golok dan tubuhnya. Pak-to memegang golok, dengan cara bersalto dia keluar dari lingkaran pertarungan.

Waktu itu bagian bawah Ho-lou sedang ditekan ke tangan yang memegang golok. Walaupun Lu Tan melihat tapi tidak yakin Pak-to telah ditahan oleh Ho-lou hingga meninggalkan arena pertarungan atau malah dia sendiri yang berniat meninggalkan arena pertarungan. 

Lam-touw tidak mengejar, dia meloncat dan minum arak lagi, sambil tertawa melihat Lu Tan: "Tubuh dengan golok bisa berubah menjadi sebuah cahaya, yang sanggup melakukan hal seperti itu tidak banyak!"

Lu Tan setuju, walaupun dia tidak pernah melihatnya. Kalau Lam-touw sudah berkata seperti itu, pasti ada buktinya.

"Aku tidak suka dengan gaya hidupnya, tapi aku tetap menikmati golok kilatnya!" Lam-touw menghembuskan nafas panjang.

"Untung aku tidak begitu mabuk, kalau sudah mabuk, aku tidak bisa membedakan di mana cahaya paling lemah berada, itu akan membuatku celaka!"

Pak-to meloncat ke atas sebuah pohon besar, dia tidak melihat Lam-touw, dia hanya diam.

Lu Tan dengan perhatian mendengar.

"Cahaya paling lemah adalah tempat di mana kita memegang golok, hanya menyerang titik ini pasti akan berhasil, tapi kalau kurang jeli melihat dan tubuhnya kurang lincah, sebelum golok dan tubuhnya menjadi gulungan cahaya kau harus menyerang terlebih dulu!" kata Lam-touw kepada Lu Tan, tapi matanya terus melihat ke arah Pak-to.

"Terima kasih atas ajaran Lo-cianpwee!" kata Lu Tan. "Kalau kau tidak percaya diri, lebih baik kabur!" tiba-tiba

dia menggelengkan kepala, "tidak! Jangan kabur, lebih baik aku memohon kepadanya!"

Lu Tan ingin melarang, tapi Lam-touw sudah berteriak kepada Pak-to:

"Bagaimana? Apakah persoalan ini sampai di sini saja?" Pak-to tertawa dingin, Lam-touw berteriak lagi:

"Aku tidak suka setiap hari membuntuti pemuda ini juga tidak suka setiap hari bertemu orang jahat seperti mu!" Maksudnya apa Pak-to setuju, kalau tidak dia akan terus melindungi Lu Tan.

Pak-to hanya bertanya:

"Apakah kau tahu siapa dia?" Lam-touw malah balik bertanya:

"Apakah kau tidak tahu dia adalah putra Lu Kian?"

Lu Tan tertawa kecut, Lam-touw pun menggelengkan kepala dan berkata sendiri:

"Orang menyebut Lu Kian sebagai orang yang berhubungan dengan Kaisar dari besi, dia mengira dia benar- benar terbuat dari besi..."

"Ayahku..."

Lam-touw memotong kata-kata Lu Tan:

"Kecuali harus mati, aku tidak melihat perilakunya seperti itu, apa gunanya?"

Lu Tan terpaku, orang tua yang ada di depan matanya selalu minum arak dan selalu mabuk, jarang bisa berpikir jernih, tepi ternyata pikirannya lebih jernih dari orang lain.

Tiba-tiba Pak-to menyela:

"Kau tahu terlalu banyak!" "Aku tahu apa?"

"Orang dunia persilatan lebih baik mengurusi dunia persilatan!"

"Aku memang orang dunia persilatan?" Lam-touw seperti baru teringat, dia menggaruk-garuk kepalanya, "bagaimana denganmu?"

Pak-to menarik nafas:

"Yang ingin membunuh dia adalah Liu Kun, bila aku tidak membunuhnya, orang lain..." "Aku hanya minta kau jangan mengganggu nya!" Lam- touw tertawa.

"Tiga tahun yang lalu, sewaktu di Sie-ouw, kau pernah menolong nyawa ibuku..."

"Apa?" Lam-touw terpaku.

Melihat reaksinya, dia seperti tidak tahu siapa yang telah ditolongnya. Pak-to dengan ringan berkata lagi:

"Kita adalah musuh, sampai mati pun tidak akan akur, tapi semua begitu kebetulan, begitu banyak kebajikan dan dendam."

Lam-touw menggelengkan kepala.

"Aku tahu kau bukan orang yang minta balas budinya, tapi walau bagaimana pun masalah malam ini harus kita hapuskan!" kata Pak-to.

Begitu kata-katanya habis, dia seperti mengikuti arah angin melayang dan pergi entah ke mana,

"Mengapa semua bisa begitu kebetulan?" Rambut putihnya dicakar-cakar menjadi seperti sarang ayam.

"Lo-cianpwee!" Lu Tan datang menghampirinya.

"Apakah kau sudah dengar, Liu Kun tidak akan melepaskanmu, maka ambil kesempatan ini untuk menghindarinya!"

"Aku tidak takut..."

"Kau tidak takut, tapi aku takut!" Alis Lam-touw dikerutkan tiba-tiba dia bertanya, "kalau kau mati begitu saja, apakah akan ada gunanya?"

Lu Tan terpaku, Lam-touw menepuk-nepuk pundaknya: "Kalau sudah terpikir beritahu aku, otakku ada

penyakitnya jadi tidak lancar berputar dan tidak bisa berpikir!" setelah itu dia pergi ke bawah lereng. Lu Tan mengejar, Lam-touw menoleh, lalu kedua tangannya terus digoyangkan:

"Jangan terus mengikuti, aku tidak takut mati, tapi takut direpotkan!"

Tiba-tiba dia menampar dirinya sendiri:

"Mati berat seperti gunung Tai, ringan seperti bulu, apakah kau tidak mengerti dan tidak takut mati?"

Dia marah kepada dirinya sendiri, tapi Lu Tan seperti disiram oleh seember air dingin. Dia ingat pesan terakhir ayahnya, mengapa bisa begitu mirip dengan kata-kata Lam- touw.

Saat terakhir ayahnya sudah sadar, apakah dia yang menjadi putranya harus mengulangi kesalahannya?

Mati seperti ini apa gunanya? Sekarang kemana dia harus pergi? Apa yang harus dia laku-kan sekarang? Hatinya terasa kacau saat dia sadar Lam-touw sudah pergi entah ke mana.

Dia tidak tahu harus pergi ke mana, kakinya diangkat, dia malah berjalan menuju rumahnya.

Setelah melewati lereng gunung dan masuk ke sebuah gang, jalan ini adalah jalan pintas, tapi begitu masuk Lu Tan segera menyesal, karena dia sudah merasa ada hawa membunuh, tangan kanan tidak sengaja sudah berada pada pegangan pedang.

Pedang belum dicabut dari sarungnya. Hongpo Heng-te sudah keluar dari 2 sudut gang. Pena berada di tangannya, seperti sudah memvonis kematian Lu Tan.

"Ternyata kalian!" pedang sudah ada di genggamnya. "Nasibmu lumayan bagus!" Hongpo Tiong tertawa, "tapi

hanya lumayan saja!" "Lam-touw dan kau berjalan berbeda arah, kau bisa memilih jalan ini buat kami dua bersaudara merasa semua ini di luar dugaan, kalau Lam-touw tidak tenang dan kembali mencarimu, dia tidak akan kemari! Malam ini kau harus mati!"

"Tadinya kami tidak ingin membunuhmu dengan tangan kami, tapi bila keadaan cocok, tidak apa-apa juga." Hongpo Tiong mulai melangkah ke depan.

Hongpo Ih mengikutinya:

"Kau harus menyalahkan ayahmu mengapa dia mengirimmu ke Bu-tong-san, kalau kau tidak menguasai ilmu silat, paling sedikit sekarang kau tidak akan mati!"

Lu Tan tertawa dingin. Dia melindungi dada dengan pedangnya, Hongpo Heng-te sudah bergerak. Dengan Poan- koan-pit mereka nenotok jalan darah vital Lu Tan, Lu Tan menyerang mereka seorang demi seorang, sebab kalau tidak dia akan diserang oleh 2 orang sekaligus, tapi ilmu silatnya di bawah Hongpo Heng-te. Dia sudah menyerang 21 jurus, tapi serangan nya tidak membuat Hongpo Tiong mundur, sewaktu dia akan mengeluarkan jurus ke-22 Hongpo Ih sudah datang menyerang.

Mereka sengaja menyerang cepat agar tidak muncul banyak kerepotan, serangan mereka sangat ganas dan kejam, hanya beberapa kali menyerang baju Lu Tan sudah berlubang empat.

Gang itu panjang juga sempit, menyerang dengan pedang tidak akan leluasa, tidak seperti Poan-koan-pit yang kecil dan gampang digerakkan, apa lagi dua bersaudara itu biasa bekeija sama, maka Lu Tan merasa tertekan sekali, beberapa kali dia berada dalam bahaya. Hongpo Heng-te memilih tempat ini untuk membunuh Lu Tan, tentu saja mereka tahu kelebihan Lu Tan, setiap senjata mereka menyerang selalu menimbulkan bahaya besar, semakin dekat kekuatannya semakin besar, sekarang Lu Tan berada dalam kondisi krisis.

Pedang panjang sulit disapukan ke kiri dan ke kanan. Hanya dengan langkah Tai-ci, pedangnya bisa berputar untuk melindungi dirinya, bersamaan waktu tubuhnya ikut berputar dengan cepat.

Dia bukan tidak mau bertarung, tapi keadaan tidak menguntungkan baginya, bertarung pun percuma, dia mulai tenang dan bisa berpikir, bertarung harus mempunyai berarti, lawannya adalah Liu Kun bukan Hongpo Heng-te.

Sekarang yang dipikirkan adalah bagaimana caranya meloloskan diri dari mereka.

Tampak Hongpo Heng-te seperti tahu apa yang sedang dia pikirkan, mereka membentak bersama-sama:

"Mau kabur ke mana? Tidak akan segampang itu..." sepasang Poan-koan-pit Hongpo Ih menghadang bagian bawah Lu Tan dan maju lagi menusuk ke arah kedua kaki Lu Tan.

Tempat itu tidak terjaga oleh Lu Tan terpaksa Lu Tan meloncat naik, tubuh dan pedangnya ber putar di udara, kepala di bawah dan kaki di atas.

Perubahan ini sudah ada dalam perhitungan Hongpo Heng-te, karena itu Poan-koan-pit yang satu menyerang nadi penting yang satu lagi mencegat jurus pedang Lu Tan.

Reaksi Lu Tan sangat lincah, tangan kiri dengan gaya cakar Harimau mencakar ke atas dinding, pedang menyerang ke kiri dan ke kanan, menahan 4 Poan-koan-pit, lalu tubuhnya berbalik naik ke atas genting. Waktu itu Poan-koan-pit yang ada di tangan Hongpo Heng-te bersama-sama dilemparkan ke arah Lu Tan, ujung pena itu disambung dengan seuntai rantai, karena ada rantai maka serangan Poan-koan-pit bisa mencapai lebih jauh.

Hal ini membuat Lu Tan terkejut, dia mengira Hongpo Heng-te tidak bisa melihat perubahan pada dirinya, tapi setelah sadar sudah masuk perangkap, untuk merubah gerakan pun dia sudah tidak keburu.

Tapi pedangnya masih berusaha melakukan manuver walaupun dia tahu hanya sepasang Poan-koan-pit yang bisa ditahan, sisa dua lagi pasti akan mengenai tubuhnya, walaupun tidak mengenai tempat penting tapi karena Poan- koan-pit tersambung dengan rantai, maka dia bisa terpelanting dan Poan-koan-pit akan langsung menyerang lagi.

Saat sedang berpikir Poan-koan-pit sudah datang menyerangnya dan bersamaan waktu, dia merasa kaki kanannya seperti mengencang, lalu melayang ke atas.

Empat Poan-koan-pit lewat di depannya, saat dia masih terkejut, tubuhnya sudah mendarar di atas genting. Pedangnya siap menyerang. Tiba-tiba dia merasa ada yang mencengkeram kakinya, segera dia melepaskan cenekeraman itu dan berguling menjauh, kemudian bersalto dan berdiri tegap.

Lu Tan tidak jelas melihat wajahnya tapi dari perubahan tubuhnya dia tahu siapa orang itu dan berteriak:

"Siau-cu..."

Siau-cu tertawa, dia menekan bibir dengan jarinya dan berbisik:

"Jangan keras-keras, bila mereka tahu, bias repot!" Lu Tan tahu bahwa Siau-cu sedang bercanda, dia hanya bisa tertawa kecut, sebab Hongpo Heng-te sudah mengejar ke atas genting mana mungkin mereka tidak tahu.

"Siapa sobat di atas?" Hongpo Tiong menunjuk Siau-cu dengan Poan-koan-pitnya.

Reaksi Siau-cu tampak terkejut:

"Bukan Tong-tiang, bukan Sie-tiang, juga bukan Lei- tiang." (Pabrik timur, pabrik barat, pabrik dalam).

"Tapi kau berani melawan orang Lei-tiang," Hongpo Ih tertawa dingin.

"Aku tidak melakukan itu!" Siau-cu menggoyangkan tangannya.

"Untuk ini Lo-thauw-ji bisa menjadi saksi, dia hanya senang bermain, bukan secara sengaja, juga bukan tidak mempunyai maksud!" suara malas-malasan terdengar dari jauh.

Hongpo Heng-te mengikuti suara itu dan melihat ke arah sana, terlihat Lam-touw membawa Ho-lou sedang berbaring di atas genting.

Wajah mereka segera berubah, mereka tahu seberapa tinggi ilmu Pak-to tapi setelah bertemu dengan Lam-touw, Pak-to harus mengalah, jadi kesimpulannya Lam-touw adalah orang yang sulit dihadapi.

Kalau yakin bisa menang, tadi di lereng gunung mereka pasti sudah bertarung, apa lagi sekarang ditambah dengan Siau-cu.

"Tidak sengaja berarti punya maksud!" Jawab Siau-cu. Kata-kata ini membuat Lam-touw sadar, dia berteriak: "Apa yang harus kulakukan? Biar Suhu minta kepada

mereka supaya mereka mau memaafkanmu..." "Tidak perlu..." Hongpo Tiong dengan dingin memotong, "kami dua bersaudara berat mendapat permintaan maaf ini!"

Lam-touw terpaku kemudian tertawa:

"Lo-thauw-ji hanya bicara asal-asalan, apakah kalian percaya?"

Hongpo Heng-te terpaku, tapi Siau-cu menghibur mereka:

"Jangan masukkan ke dalam hati apa yang dikatakan, Suhuku memang seperti itu, orangnya selalu sableng dan senang bercanda!"

Kata-katanya belum selesai, Lam-touw sudah bersalto di atas dan mendarat di depan Siau-cu

"Kau tidak sopan kepada orang yang lebih tua!" Lam- touw menampar Siau-cu.

Siau-cu bersalto ke belakang. Hongpo Heng-te berteriak: "Aku bantu dengan mulut, kalian bantu dengan tangan!"

Hongpo Heng-te tertawa dingin, Poan-koan-pit mereka sama-sama menyerang Lam-touw yang datang.

"Kalian adalah orang yang melayani kasim, mengapa mau saja mendengar perintah Siau-cu?" Lam-touw menunjuk Siau-cu.

"Apakah kau juga ingin masuk perkumpulan untuk menjadi murid kasim?" Dengan cepat Siau-cu bicara.

Dia seperti ingin memukul Siau-cu.

"Siapa bilang aku seperti itu, untuk membuktikan Siau-cu tidak bermaksud seperti ini, maaf, Siau-cu terpaksa harus menyerang kalian berdua!" Siau-cu menendang punggung Hongpo Heng-te. Hongpo Heng-te menghindar ke kiri dan ke kanan, mereka memutar tubuh untuk menghadapi Siau-cu. Lam- touw sudah datang dan berteriak:

"Walau bagaimanapun dia adalah murid Lo-thauw-ji, sebelum semuanya jelas, kalian tidak boleh menyerangnya dengan senjata, kalau..." kata-katanya belum selesai, Poan- koan-pit milik Hongpo Heng-te sudah menyapu kepadanya. Lam-touw berputar-putar dan berteriak dengan terkejut:

"Baik, ternyata ini salah satu jebakan, senjata kalian untuk menghadapi Lo-thauw-ji."

Sepasang Poan-koan-pit menyerang bertambah cepat, Lam-touw terus berputar-putar. Sampai di depan Siau-cu dia menjulurkan tangannya:

"Pinjam penamu sebentar, hari ini Lo-thauw-ji harus menghajar muridku yang tidak sopan ini!" tangan terulur kepada Hongpo Ih.

Hongpo Ih hanya melihat ada bayangan tangan bergerak, tahu-tahu sepasang tangan Lam-touw sudah berada di depan, mencengkeram Poan-koan-pit dari tangan kanannya. Karena terkejut tangan kanan ditarik dengan cepat, tapi pena di tangan kiri sudah menyerang tangan kanan Lam- touw, jurus tangan kanan Lam-touw hanya bergerak setengah jalan langsung berubah dan tangannya tepat menyambut Poan-koan-pit yang menyerang tangan kirinya.

Tangan kiri Hongpo Ih yang memegang pena segera merubah jurus, tapi nadi di pergelangan tangannya sudah terasa kaku, ke lima jarinya pun membuka, pena sudah jatuh ke tangan Lam-touw.

Hongpo Tiong dengan jelas melihat tangan kanan Lam- touw terulur dan jari tengah menyentil nadi di pergelangan. Dia ingin berteriak "Hati-hati!" tapi sudah tidak keburu. Lam-touw melihat Poan-koan-pit di tangannya: "Jenis pena ini tidak bisa dipakai untuk menulis!"

"Apakah Suhu ingin memperagakan ilmu kaligrafi?" tanya Siau-cu.

"Aku ingin menutup mulutmu dengan tulisan!" Lam- touw melotot.

"Begitu seriuskah?" tanya Siau-cu, "untung pena ini hanya untuk menotok jalan darah!"

"Menotok jalan darah?" Lam-touw melihat Hongpo Ih, "Aku ingin menotok Kang-tai-hiat!"

Hongpo Ih terpaku:

"Jalan darah itu bukan.. ."sambil menghindar.

"Yang penting jalan darah," Lam-touw mengayunkan penanya dan membentak lagi, "Ku-ci-hiat, Leng-ho-hiat, Tai- yang-hiat..."

Apa yang diucapkan dengan jalan darah yang ditotok sama sekali berbeda, tapi terlihat dia lancar-lancar saja bergerak. Pena di tangannya tidak meno-tok jalan darah yang disebut tapi menotok jalan darah lain dan tidak meleset.

Terhadap jalan darah yang disebut Hongpo Ih sangat hafal karena terlalu hafal maka mendengar teriakan jalan darah yang dimaksud Lam-touw. Dia merasa bingung, sewaktu dia sadar sudah terlambat, keterlambatannya ini cukup membuatnya kalang kabut.

Lam-touw hanya menotok 17 jalan darah di tubuh Hongpo Ih, walaupun Hongpo Ih tidak ter-luka tapi cukup membuatnya terkejut.

Dia mengakui gerakan tangan Lam-touw memang sangat cepat, asal Poan-koan-pit bergerak, dia akan tertotok, bagi Lam-touw itu adalah hal yang sangat mudah. Hongpo Tiong melihat jelas bahwa Lam-touw tidak bersungguh-sungguh ingin mencelakakan mereka, dia hanya sedang bercanda dengan Hongpo Ih. Dia tidak mengerti, gosip yang beredar mengatakan tangan orang ini sangat cepat dan ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tahap tinggi, di waktu malam bisa masuk ribuan rumah, pagi- pagi bisa mencuri di ratusan rumah, sedangkan ilmu silatnya biasa saja, tapi setelah melihatnya sekarang, ilmu silat Lam- touw ternyata berada di atas mereka tampak dia merupakan salah satu pesilat tangguh di dunia persilatan, yang bisa bersaing dengannya, sepertinya tidak banyak.

Tapi apa hubungan orang ini dengan keluarga Lu? Hongpo Tiong tidak tahu, tapi bisa dipastikan Jika mereka ingin membunuh Lu Tan yang berada dalam lindungan Lam- touw, walaupun Lam-touw tidak melukai mereka, tapi kalau terus bercanda seperti itu benar-benar tidak ada gunanya.

Akhirnya Hongpo Tiong menyerang, dia melayangkan tangan dan berteriak:

"Hong-kin-ce-ho!"

Hongpo Ih segera meloncat menjauh, Lam-touw tertawa: "Kalau ingin kabur ya kaburlah, tidak perlu berteriak Ce- ho, Ce-ho, apakah kau lupa kau adalah pejabat bukan orang

dunia persilatan?"

Hongpo Heng-te tidak melayaninya, mereka segera berlari dengan cepat, mereka mengira Lam-touw akan mengejar mereka, siapa yang tahu Lam-touw bukan hanya mengejar, dia juga seperti ingin berada di belakang Hongpo Ih.

Hongpo Ih mendengar ada angin serangan, Tubuhnya berputar dengan cepat, sepasang Poan-koan-pit segera menyerang Lam-touw, Hongpo Ih pun tidak bergerak lambat.

"Pena ini bila disimpan oleh Lo-thauw-ji pun tidak akan ada gunanya, kukembalikan saja kepadamu!" pena dimasukkan ke tangan Hongpo Ih, Hongpo Ih terkejut langsung mencengkeramnya, Lam-touw sudah bersalto kembali.

"Lo-toa..." Hongpo Ih tertawa kecut, "kita..." "Kepandaian kita tidak sebaik orang lain, kita harus

mengakuinya," Hongpo Tiong tertawa kecut.

Mereka berdua tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Lam-touw tidak mengejar mereka, dia berlari ke depan

Lu Tan. Tiba-tiba bertanya:

"Ada pepatah mengatakan, 'Tidak men-dengar nasehat orang tua, akibatnya apa.'."

"Aku tahu!" Siau-cu segera menyambung, tapi Lam-touw sudah menamparnya. Reaksi Siau-cu memang cepat, dia bersalto ke belakang Lu Tan, masih tertawa berkata:

"Ternyata yang ditanya adalah kau, tapi kau boleh tidak menjawabnya!"

Lu Tan tertawa kecut, dia memberi hormat: "Terima kasih Lo-cianpwee sudah menolongku!" Lam-touw menggelengkan kepala:

"Lo-thauw-ji hanya merasa 2 bocah tua itu mudah untuk dipermainkan, aku tidak bermaksud menolongmu!"

"Lo-cianpwee..."

"Panggil aku Lo-thauw-ji," Lam-touw melihat Lu Tan, "kau tidak perlu menyambung-nyambungkan seperti apa hubungan kita!"

Siau-cu menyela: "Liu Kun pasti akan membunuhmu, lebih baik kami tidak mempunyai hubungan apa pun dengan mu, itu akan lebih aman!"

"Betul!" Lam-touw memuji, "kau sudah lama i ikut denganku akhirnya bisa menguasai ilmu tahu diri!"

Lu Tan mengangguk:

"Betul, untuk sementara aku harus bersembunyi sambil menunggu waktu."

Siau-cu bertanya kepada Lam-touw:

"Kali ini yang datang adalah Pak-to dan Hongpo Heng-te, kali berikutnya siapa yang akan i muncul?"

"Kau mengira aku ini dewa bisa tahu masa lalu dan masa depan?" mata Lam-touw melotot dengan besar.

"Semua orang tahu bahwa Suhu selalu berpikiran tepat bukan?" Siau-cu terus menjilat, "siapa yang akan..."

"Yang pasti orang yang lebih lihai dari Pak-to dan Hongpo Heng-te!" Lam-touw meng-garuk-garuk kepala, "ketiga orang itu sudah mem-buat kepalaku besar, sudahlah, cepat pergi! Pergi!" akhirnya Lu Tan sudah terbiasa dengan cara bicara-nya dan memberi hormat. 

"Aku pamit dulu!" dia langsung membalikkan tubuh. Siau-cu melihat dan bertanya dengan terkejut:

"Kau masih akan kembali ke rumahmu?"

Karena jalan yang akan ditempuh Lu Tan adalah jalanke rumahnya. Dia berhenti dan berkata:

"Aku pulang untuk membereskan barang-barang untuk kubawa!"

"Apakah bisa kau tidak perlu pulang untuk membereskan barang-barangmu?" tanya Siau-cu.

"Mungkin di rumahnya banyak baju bagus, maka harus dibereskan untuk dibawa!" Jawab Lam-touw. Lu Tan terpaku, Siau-cu menggelengkan kepala:

"Aku lihat dia bukan orang yang keras kepala, pasti takut di tengah jalan nanti akan lapar dan pulang untuk mengambil uang!"

"Sembarangan bicara, dia punya ilmu silat tinggi, juga bukan orang yang tidak pernah ber-kelana, masa tidak tahu cara mencari uang di jalan?"

"Maksudmu menyuruhnya jadi perampok?" kata Siau-cu terlihat bengong, tiba-tiba dia berteriak, "murid sudah mengikutimu sejak lama, sekarang baru tahu kalau kau mempunyai keahlian seperti ini, cepat ajarkan aku..." dengan cepat dia bersalto ke belakang.

Lam-touw menamparnya tapi tidak kena sasaran. Dia marah:

"Apakah ilmu seperti itu perlu diajarkan?"

"Aku tidak tahu, hanya tahu bila lapar bisa berburu ayam hutan atau kelinci liar."

Lu Tan menarik nafas, dia menyela:

"Terima kasih sudah memberi petunjuk!" kakinya melangkah lagi, dengan arah tetap seperti tadi. Lam-touw berteriak:

"Mengapa kau tetap berjalan ke arah sana?"

Lu Tan ingin menjawab tapi Lam-touw sudah berkata sendiri:

"Aku mengerti, kau adalah orang yang bisa menghitung dan tahu bila terjadi bahaya pasti ada orang yang akan menolongmu!"

Siau-cu bertanya dengan aneh:

"Kekuatannya dalam bukan main, kecuali Suhu, siapa yang berani ikut campur?"

Lu Tan memotong: "Anak buah Liu Kun pasti mengira aku tidak berani pergi ke sana, aku sengaja pergi ke sana, malah..."

Kata-katanya belum selesai, Lam-touw sudah tepuk tangan:

"Memang pintar..." tiba-tiba dia berteriak lagi, "aku melihatmu seperti orang lugu dan jujur, ternyata kau juga orang yang bisa mencari ide!"

"Lebih baik kita pergi dari sini, kalau tidak berhati-hati kita akan masuk ke dalam perangkapnya, itu akan lebih celaka!"

"Betul sebaiknya kita pergi dari sini," sahut Lam-touw, dia segera bersalto, Siau-cu pun tidak ketinggalan, murid dan guru melewati genting, menghilang di dalam kegelapan.

Melihat mereka pergi, Lu Tan tertawa kecut. Sikap mereka memang tidak pernah serius, tapi sekarang entah harus pergi ke mana.

0-0-0

Pagi hari.

Bagi rumah di An-lek-hou, pagi ini tidak ada yang istimewa, tapi lain bagi Ih-lan sebab begitu bangun, dia mendengar ada suara aneh yang menderu, mengikuti suara itu dia melihat, di bawah jendela yang tadinya tidak ada sesuatu apa pun, sekarang ada sebuah kurungan kecil terbuat dari bambu. Dua ekor tikus berada dalam kurungan itu mereka sedang bermain.

Dua ekor tikus berwarna putih keperakan, gerak-gerik mereka lucu, tidak seperti tikus biasa yang membuat siapa pun benci karena kelicikan mereka. Ih-lan sangat menyukai dua ekor tikus ini, maka dia pun meloncat turun dari ranjang, berlari mendekati tikus itu melihat ke kiri juga ke kanan.

Dua ekor tikus putih itu sedikit pun tidak takut kepada manusia, mereka terus bermain. Ih-lan tertawa kemudian matanya berputar mencari-cari.

"Sukong! SukongL." dia berteriak, "aku tahu kau di sini, di mana kau bersembunyi?"

Jendela di depan Ih-lan tiba-tiba terbuka, seorang tua berambut dan berjanggut putih masuk:

"Aku di sini..." tawa lembut dan suara seperti suara anak- anak terdengar, Ih-lan segera tertawa terbahak-bahak dan memegang janggutnya.

"Apakah kau suka?" orang tua itu tertawa. Saat berkata janggutnya yang panjang terus bergerak gerak membuat Ih- lan tidak bisa memegang janggutnya.

Janggut orang tua itu masih bergerak-gerak dengan berirama, kalau tidak punya ilmu yang tinggi tidak mungkin bisa membuat janggut terus bergoyang-goyang. Orang tua itu bukan orang lain, dia adalah orang Kun-lun-pai, Tiong-ta Sianseng, angkatan paling tinggi dalam Kun-lun-pai, dia juga pesilat tangguh yang keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Orang yang mengenalnya tahu dia sangat ramah, tapi kalau tidak melihat sendiri bagaimana bisa percaya, pikirannya kadang-kadang seperti anak kecil, seperti sekarang sifat kekanak-kanakannya muncul. Dia sedang bergurau dengan Ih-lan, tidak terpikir bahwa umurnya sudah tua, dan dia adalah tetua dunia persilatan.

Dia selalu berkelana di dunia persilatan dan tidak pernah terlihat jejaknya, seperti sekarang tiba-tiba muncul di rumah An-lek-hou. Mungkin Su Yan-hong sendiri juga tidak menyangka gurunya bisa datang.

Ih-lan terus mencengkeram janggut Tiong-ta  Sianseng, tapi dia tidak marah, malah tepuk tangan dan tertawa.

Janggut Tiong-ta Sianseng berhenti bergerak, dia tertawa:

"Kau belum menjawab pertanyaan Sukong."

"Tentu saja aku sangat suka!" Ih-lan membawa kurungan bambu itu, "sekarang aku baru tahu tidak semua tikus berwarna hitam."

Tiong-ta Sianseng mengangguk:

"Tikus berbulu perak jarang ada, Sukong pun pertama kali melihatnya."

Tiba-tiba Ih-lan bertanya:

"Apakah mereka jantan?" "Satu jantan, satu betina!"

"Aku tidak mengerti," Ih-lan melihat ke kiri lalu ke kanan, lantas mengerutkan alis.

"Kau tidak mengerti apa?" Tiong-ta Sianseng merasa aneh.

"Mengapa binatang yang jantan dan betina sama-sama berjanggut?" Ih-lan bertanya dengan serius.

Tiong-ta Sianseng terpaku, kemudian tertawa. Ih-lan berteriak:

"Sukong, apakah kau tahu apa sebabnya, beri tahu aku!"

Tiong-ta Sianseng terpaku lagi, dia mengelus-elus janggut putihnya:

"Sukong juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu."

"Apakah Sukong tidak berbohong?" "Mana mungkin Sukong berbohong kepada Ih-lan." Tiba- tiba Tiong-ta Sianseng seperti teringat sesuatu, "Tikus berwarna putih keperakan ini hanya makan sayur dan buah- buahan, tidak makan daging!"

"Apakah mereka boleh makan manisan tusuk?"

"Tentang hal ini..." tiba-tiba Tiong-ta Sianseng menarik nafas, "mengapa pertanyaanmu selalu tidak bisa dijawab Sukong?"

"Kata ayah kepandaian Sukong sangat tinggi, ternyata masih banyak yang Sukong tidak mengerti!" Ih-lan terus tepuk tangan.

"Di mana ayahmu?"

"Ternyata Sukong paling menyayangi Ih-lan, baru datang yang pertama dicari adalah Ih-lan!"

"Cepat bawa aku mencari ayahmu!"

"Kalau ayah tidak ada di kamar pasti berada di taman sedang berlatih silat!" Ih-lan terus bercanda dengan dua ekor tikus putih itu.

"Mengapa tidak ikut Sukong ke taman belakang?" Tiong- ta Sianseng seperti bisa membaca pikiran Ih-lan, "apakah kau takut disuruh berlatih ilmu silat?"

"Aku lelah berlatih ilmu silat'" Jawab Ih-lan.

"Kalau tidak lelah, mana mungkin bisa mencapai ilmu yang tinggi?"

"Ayah juga berkata seperti itu, tapi kalau setiap hari begitu melelahkan, Lan-lan jadi takut!"

Tiong-ta Sianseng tertawa:

"Untung Sukong belum lupa jalan menuju taman belakang!"

Tiong-ta Sianseng sudah membalikkan tubuh, Ih-lan melambaikan tangan dan terus bermain dengan tikusnya. Pagi-pagi Su Yan-hong sudah berlatih di taman belakang. Dia berlatih silat, ilmu tenaga dalam, kaki dan tangan, sampai senjata tajam.

Pedang di tangannya seperti bernyawa, tampak terang dan menyilaukan, terlihat lincah dan terbang menjadi ilusi, terus berubah-rubah. Ilmu pedang Kun-lun-pai biasanya memang berubah-rubah, bisa berlatih sampai pada tahap ini memang tidak banyak yang bisa.

Walaupun sudah lama berlatih tapi dia tidak terlihat lelah, dari sini dapat diketahui tenaga dalamnya sangat tinggi.

Begitu berlatih, seperti ada yang dipikirkan untuk diubah, maka dia mulai dari awal lagi.

Perubahan kali ini bertambah lagi. Tiong-ta Sianseng adalah pemimpin Kun-lun-pai, dia sangat hafal ilmu pedang Kun-lun-pai. Dia mengawasinya tadinya dia ingin berjalan ke arah sana, sekarang malah berhenti dan melihat.

Terakhir dia membentak:

"Bagus..."

Mendengar suara ini Su Yan-hong segera berhenti dan: "Suhu..." dia memanggil.

"Teruskan!" Tiong-ta Sianseng membentak, kemudian pedang sudah keluar dari sarungnya, seperti kilat menyerang Su Yan-hong.

"Maafkan murid..." Su Yan-hong segera menyambut serangan pedang Tiong-ta Sianseng dan mulai balas menyerang. Dia sangat hafal sifat gurunya, dengan sekuat tenaga dia menyerang termasuk perubahan-perubahan jurus yang baru tadi didapatkannya. Tiong-ta Sianseng terus berteriak bagus, perubahan jurus pedang Su Yan-hong tidak menjadi ancaman bagi Tiong-ta Sianseng, tapi semua jurus diterima dengan baik.

"Kau bisa mengembangkan begitu banyak perubahan, benar-benar tidak gampang, tapi perubahan-perubahan ini tidak menjadi ancaman bagi lawan juga tidak sulit untuk diatasi!" kata Tiong-ta Sianseng dengan santai.

Dua pedang beradu mengeluarkan suara sangat nyaring. Tiap pedang saling bentrok di tempat yang berbeda, suara yang dihasilkan pun berbeda.

Ilmu pedang Su Yan-hong sudah mengalami perubahan baru, terciptanya perubahan ini akhirnya membuat Tiong-ta Sianseng harus mundur selang-kah.

Perubahan baru berikutnya muncul lagi, pedang di tangan Tiong-ta Sianseng terus menyerang, tapi sampai akhir dia tetap harus mundur. Dia terus berteriak:

"Gabungkan dengan jurus Thian-liong-pat-si..."

Tubuh Su Yan-hong mulai berputar, ilmu pedang mulai ditunjukkan lagi, perubahan masih tetap yang tadi. Pedang Tiong-ta Sianseng juga terbang, perubahan tubuhnya sama dengan Su Yan-hong, tapi jurus pedangnya bisa memecahkan serangan Su Yan-hong.

Walaupun berhasil dipecahkan, Su Yan-hong masih menari-nari di tengah udara, serangan-nya muncul lagi.

Tubuh Tiong-ta Sianseng ikut berubah, dia tidak selincah Su Yan-hong, tapi dia bisa memecahkan serangan Su Yan- hong.

Su Yan-hong terus merubah jurusnya, semakin lama semakin cepat. Berturut-turut terjadi 6 perubahan, ilmu pedangnya sangat tepat. Terakhir 3 jurus Su Yan-hong menjadi gerakan perorangan, tubuh dan pedang menyatu menjadi sebuah tali cahaya, menari-nari sebentar baru turun di depan Tiong-ta Sianseng.

"Baik, baik sekali," Tiong-ta Sianseng tertawa sampai mulutnya tidak bisa ditutup

"Harap Suhu memberi petunjuk!" Su Yan-hong berkata dengan hormat.

"Kalau bagus Suhu akan bilang bagus, dari awal Suhu sudah melihat kau adalah orang berbakat dan cepat mengerti, kau mempunyai bahan baik untuk berlatih silat, sekarang kau sudah membuktikan pandangan Suhu tidak salah, perubahan ilmu pedang bisa dilatih sampai pada tahap sepertimu, di antara murid Kun-lun-pai tidak banyak, begitu pun dengan ilmu lweekang, tentang Thian-liong-pat- si, aku yang menjadi Suhu pun kalah darimu."

"Suhu terlalu memuji!"

"Tidak disangka selama 3 tahun ini ilmu silatmu maju pesat, katanya setiap hari kau giat belajar dan tidak pernah berhenti."

"Aku terpaksa!"

"Apakah keadaanmu tidak baik?" "Sangat buruk..."

"Apakah kepergianmu ke Siauw-lim-si tidak berhasil?" "Sin-can Sangjin sudah menjadi abu karena kecapi Jit-sat