-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 14

Jilid 14

Dari balik pinggangnya orang tua itu mengeluarkan senjata api:

"Bahan peledak kalian sendiri yang menemukannya, tapi kalian berhenti pada tahap awal!"

Hati Wan Fei-yang bergetar, orang tua itu menggelengkan kepala:

"Aku tidak suka barang seperti ini, tapi aku termasuk orang dunia persilatan, senjata api adalah jenis senjata rahasia, memang tidak adil menghadapi orang tanpa senjata di tangan."

"Tapi kau tetap membawa senjata api itu!"

"Aku harus mengakui kehebatannya, walaupun binatang buas menyerangku, dengan tangan kosong aku bisa menghadapinya, mempunyai barang yang ada kegunaannya tanpa harus mengeluarkan tenaga besar, mengapa tidak digunakan saja?" orang tua itu menancapkan kembali senjata api itu ke dalam ikat pinggangnya.

"Inilah sikap kalian terhadap senjata api!"

"Rata-rata memang seperti itu, yang pasti bila pikiran sedang tidak labil ingin menjaga prinsip bukan hal yang gampang, hati yang serakah tetap berpengaruh!"

"Dengan gosip-gosip yang beredar, tindakan kalian benar-benar berbeda!"

"Gosip adalah gosip, mungkin itu adalah gosip puluhan tahun lalu!" orang tua itu seperti bicara sendiri, "manusia selalu bisa maju!"

"Maju?" Wan Fei-yang merasa asing dengan kata-kata ini. Orang tua itu melihatnya dan tertawa:

"Di tempat asing kau akan mempunyai perasaan seperti ini!"

"Perasaan apa?" tanya Wan Fei-yang.

"Tidak tahu apa yang disebut kemajuan?" orang tua itu menggelengkan kepala, "terhadap pertama kali masuk Tionggoan dengan kali ini tidak ada perbedaan!"

Wan Fei-yang menjadi bingung, orang tua itu berkata lagi:

"Kalau ada kesempatan kau mesti keluar untuk melihat- lihat, banyak hal yang harus kau lihat sendiri baru percaya!"

Wan Fei-yang bertambah bingung, dia tidak pernah terpikir akan meninggalkan Tionggoan.

Orang tua itu melanjutkan lagi:

"Kalian mempunyai pepatah, 'To-Ban-koan-sui, Pu-yu- seng-ban-li-lu' (Membaca ribuan buku, tetap lebih bermanfaat berjalan di luar, akan lebih banyak mendapat kebaikan) keluarlah, pandangan-mu akan bertambah luas!" Baru saja kata-katanya habis, dia sudah tertawa kecut dan berkata sendiri:

"Aku tidak menyangkal, taraf kematangan budi dan perasaan serakah seseorang akan berpengaruh setelah berjalan keluar!"

Wan Fei-yang terdiam, dia masih memikirkan kata-kata orang tua tadi, orang tua itu seperti bicara sendiri:

"Maka orang-orang kami merasa lebih baik jarang mendatangi Tionggoan."

"Kalau tidak, sifat serakah mereka akan semakin besar!" "Sampai-sampai aku yang sudah tua ini pun bisa

bergerak, apa lagi yang muda!" orang tua itu tertawa, "kecuali kalau kalian berusaha keras untuk kuat, kalau tidak... selamanya akan seperti ini, begitu terkena akan meledak!"

Wan Fei-yang mengangguk, orang tua itu tertawa: "Sebenarnya kata-kata ini bukan kami yang

mengucapkannya!"

"Kita adalah orang dunia persilatan!"

"Di negara kami sudah tidak ada lagi dunia persilatan!" Orang tua itu tertawa, "orang-orang setua kami, aku percaya merupakan kalangan persilatan generasi terakhir, anak muda kami sekarang ini kebanyakan menganggap berlatih ilmu silat hanya untuk kesehatan tubuh!"

Wan Fei-yang mengangguk, tawa orang tua itu berhenti: "Sekarang kau boleh menyerangku!"

Dengan aneh Wan Fei-yang menatapnya, orang tua itu tertawa:

"Pertarungan kali ini sangat adil, aku tetap seorang pesilat!" Dadanya dibusungkan, Wan Fei-yang melihat tekadnya dan percaya sampai titik darah terakhir, sampai mati pun dia tidak akan menyerang dengan senjata api.

Maka dia jadi bertanya:

"Apakah kau membutuhkan pertarungan ini?" Orang tua itu terpaku.

"Aku masih belum mengerti kalimatmu tadi, tapi aku akan berusaha untuk mengerti!"

Kata-katanya baru selesai, Wan Fei-yang membalikkan tubuh dan berjalan, gerakannya begitu ringan, tapi hatinya lebih berat dibandingkan ketika datang.

Pengetahuannya terbatas, itu yang paling disesalkan olehnya, banyak hal yang tidak bisa dibaca dengan jelas dan tidak tahu harus dengan cara apa menempatkannya, dia juga mengerti karena itu akan mengganggu cara dan kemampuannya menyampaikan. Walaupun ada kesempatan belum tentu bisa meraihnya dengan kuat.

Tapi tidak karena itu dia menjadi patah semangat.

Orang tua itu tidak menghadang Wan Fei-yang pergi, dia melihat Wan Fei-yang yang telah pergi jauh, postur tubuh yang tadinya tegak pelan-pelan membungkuk, seperti tiba- tiba menjadi tua.

Dia ingin bertarung, tidak peduli hidup dan matinya, bukan karena dia sudah tua melainkan karena dia masih seorang pesilat.

Di sana, dunia persilatannya sudah tenggelam, karena itu membuat dia... sebagai orang dunia persilatan lama- kelamaan kehilangan kegagahannya tempo hari.

Apakah dunia persilatan harus bertahan atau tidak, dia tidak tahu, kalau tidak, dia tidak akan begitu bimbang, tidak tahu mana yang harus diambil dan mana yang harus dibuang.

Sampai-sampai dia tidak bisa menentukan jalannya sendiri, karena di Tionggoan masih ada dunia persilatan. Di Tionggoan dia bisa mendapatkan kembali perasaan kebanggaan dan cita-cita luhurnya. Bila kembali ke negerinya, dia akan menjadi sekelompok orang yang terlupakan.

Tapi di Tionggoan dia termasuk orang dari Mo-kauw, tidak hanya akan didiskriminasi atau disingkirkan, lebih-lebih akan terus dikejar dan nyawanya akan melayang.

Setelah dipikir-pikir dia berpikiran ingin mati di depan Wan Fei-yang. Ketika dia mencari-cari Wan Fei-yang, gunung sudah sepi, bayangan Wan Fei-yang sudah tidak ada.

Akhirnya dia duduk di atas serpihan dinding, mencabut senjata api dan mengarahkan ke kepalanya.

... Wan Fei-yang mendengar suara letusan, dia berhenti dan menoleh, di hutan itu burung-burung terkejut lalu beterbangan, dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatnya tidak enak, kedua alisnya pun berkerut.

Dia ingin kembali ke sana untuk melihat, akhirnya dia menekan keinginannya ini, apapun yang terjadi dia tidak bisa menyelamatkan orang tua itu dengan kekuatannya.

Dia sangat mengerti kalau dia hanya manusia biasa, dengan kekuatan terbatas, hal yang terjadi hanya kalau waktu diputar baru bisa berubah, tapi manusia tidak bisa melakukannya.

Firasatnya tidak enak, membuatnya merasa bingung. Di benaknya orang tua berambut pirang itu bukan hanya mempunyai ilmu silat yang bagus dan sangat berpengalaman, seharusnya dia lebih mempunyai akal sehat. Tidak diragukan lagi, orang tua berambut pirang itu adalah seorang pesilat tulen, hanya melihatnya enggan menembakkan senjata api ke arah musuh sudah dapat diketahui sifatnya, karena dia adalah seorang pesilat tulen maka dia bisa memperhatikan masalah yang terjadi di dunia persilatan dan jauh-jauh datang ke Tionggoan.

Seorang pesilat tulen di dunia persilatan kalau tidak berada di dunia persilatan, maka kehidupannya tidak akan berarti.

Wan Fei-yang tidak lupa dengan apa yang dikatakan orang tua berambut pirang, di daerah mereka sudah tidak ada dunia persilatan. Dia juga ingat pada kata-kata Kouw- bok.

...orang yang berkecimpung di dunia persilatan, melakukan sesuatu di luar kemauannya sendiri.

Pada akhirnya Kouw-bok juga mati di dunia persilatan, apakah orang tua pirang itu juga seperti itu?

Burung terbang melewati kepala Wan Fei-yang dan terbang ke balik awan, akhirnya Wan Fei-yang melangkah lagi dan meneruskan perjalanannya.

...Jalan dunia persilatan.

0-0-0

Malam sudah larut, salju masih terus turun.

Sejak sore salju sudah turun, sudah berlangsung 2 jam lamanya. Fu Hiong-kun masih berlutut di depan kuil nikoh 'Kou-siu-an' sekarang sudah memasuki hari ketiga.

Salju yang turun menutupi lututnya, karena udara begitu dingin membuat wajahnya menjadi pucat, tapi sikapnya masih sangat teguh, bola matanya seperti sudah membeku menjadi es, dia terus menatap pintu yang tertutup rapat.

Angin dingin terus berhembus, dua lampion bergetar tertiup angin. Di bawah sinar lampu yang redup, tiang di depan kuil tampak terus berkilau, seperti pedang-pedang tajam yang baru dikeluarkan dari sarungnya. Pedang yang tajam seperti tidak mempunyai perasaan dan begitu hikmat.

Di balik pintu masih ada cahaya lampu, lantunan suara orang membaca kitab suci masih terdengar.

Saat suara orang melantunkan kitab sud berhenti, ada suara yang berkata:

"Suhu..."

"Apakah Hiong-kun masih berlutut di luar?" suara tua itu bertanya.

"Lapor Suhu, dia sudah berlutut selama 3 hari 3 malam di luar!"

"Apa gunanya 3 hari 3 malam?" suara tua itu mengeluh, "bila belum mengerti arti kitab suci, berlutut selama 3 tahun pun percuma saja!"

Baru selesai berkata pintu terbuka. Ku-suthay keluar ditemani oleh 2 nikoh separo baya.

Murid-murid Heng-san-pai tidak banyak, tapi ilmu pedang mereka berbeda, di dunia per-silatan imu pedangnya mempunyai kedudukan yang mantap, hanya saja murid- murid Heng-san-pai adalah hweesio atau nikoh, mereka tidak banyak mengurusi masalah dunia ini, maka tidak dikenal oleh banyak orang.

Semenjak Ku-suthay mencukur rambut dan masuk Kou- siu-an lalu menjadi pemimpin Heng-san-pai, dia jarang keluar tapi orang dunia persilatan selain tahu di Heng-san- pai ada Kwa-suthay, masih ada Ku-suthay. Kwa-suthay melanglang buana di dunia persilatan dan kabarnya tidak terkalahkan, tapi di depan orang-orang dia selalu mengatakan ilmu Budha dan ilmu silatnya kalah oleh Sucinya, Ku-suthay.

Dari luar terlihat, Ku-suthay seperti tidak bisa ilmu silat sebab dia selalu memberi kesan ramah dan penuh kasih sayang.

"Pelajaran malam sudah selesai, kalian boleh istirahat dulu..."

Dia menyuruh kedua nikoh itu pergi dan menghampiri Fu Hiong-kun.

Di mata Fu Hiong-kun terlihat ada rasa girang, tapi Ku- suthay menggelengkan kepala dan menarik nafas:

"Anak bodoh!"

"Suhu, harap membantu Tecu mencapai tujuan dan membantu Tecu mencukur botak rambut-ku untuk menjadi seorang nikoh..." Fu Hiong-kun memohon.

"Kau sudah berlutut selama 3 hari 3 malam, berarti tekadmu sudah bulat. Mencukur rambut hanyalah sebuah upacara, yang penting apakah kau berjodoh dengan Budha? Dan apakah kau mengerti ajaran-ajaran Budha? Bagaimana perasaan hatimu sekarang ini?"

Melihat salju yang beterbangan, Fu Hiong-kun menjawab:

"Hati Tecu sebersih salju!" "Hati sebersih salju?"

Ku-suthay tertawa, dia mengangkat tangan dan menyambut salju yang turun, dia men-cengkeram dan membuka tangannya kembali:

"Di sini mana ada salju?" karena salju itu sudah mencair maka menetes di depan Fu Hiong-kun. Fu Hiong-kun terpaku, kata Ku-suthay lagi:

"Kau berada di kuil sudah 3 tahun, tapi guru merasa jodohmu dengan dunia sana belum selesai jadi kau tidak cocok menjadi seorang nikoh!"

"Tecu rela selamanya menemani Budha dan seumur hidup tidak menginjak keluar pintu kuil."

Mulut Fu Hiong-kun memang berkata seperti itu tapi hatinya terasa sepi dan sedih, sifat baik hati, yang jahat dan yang baik bisa dibedakan walaupun lahir di perkumpulan sesat di Siau-yau-kok, dia tetap bersih seperti sekuntum bunga teratai, maka ketika di Tai-san di puncak Giok-hong, pertarungan hidup dan mati antara Wan Fei-yang dan Tokko Bu-ti, Fu Giok-su, kakaknya ingin membunuh Wan Fei-yang. Diam-diam dia keluar untuk melarang.

Fu Giok-su mati ditikam oleh adiknya sendiri, dia merasa sedih, walau bagaimanapun Fu Giok-su adalah kakaknya, satu-satunya orang yang dekat dengannya.

Akhirnya Wan Fei-yang pergi tanpa pamit, sampai sekarang tidak diketahui jejaknya. Dia tidak tahu mengapa Wan Fei-yang bisa seperti itu, dia berusaha mencarinya tapi dia tidak tahu ke mana Wan Fei-yang pergi.

Dunia sangat luas, ingin mencari seseorang bukan hal yang mudah.

Akhirnya dia putus asa, dengan hati terluka dia masuk Kou-siu-an untuk menjadi murid Ku-suthay sudah berlangsung selama 3 tahun, tapi hatinya masih belum bisa tenang.

Karena itu terpikir untuk mencukur rambutnya untuk menjadi seorang nikoh. "Untuk apa?" Ku-suthay terlihat mengerti isi hati Fu Hiong-kun, dia mengelus-elus kepala Fu Hiong-kun, "tempat Budha bukan tempat untuk menyembunyikan cinta!"

"Tecu sudah berpikir matang!" mata Fu Hiong-kun berkaca-kaca.

Ku-suthay tetap menggelengkan kepalanya:

"Aku akan menunggumu 3 tahun lagi, kalau dalam waktu 3 tahun kau masih ingin menjadi nikoh, guru pasti akan membantumu mencapai keinginanmu!"

"Tiga tahun?" Fu Hiong-kun tertawa kecut.

"Dalam waktu 3 tahun, bila hatimu masih sebersih salju. Kau tidak perlu tinggal di kuil! Berdirilah, ada sesuatu yang harus kau lakukan!"

Dengan terpaksa Fu Hiong-kun berdiri, tapi karena terlalu lama berlutut, setelah berdiri dia tidak bisa berdiri dengan benar, tubuhnya oleng hampir ambruk, untung Ku- suthay segera memapahnya.

Salju masih turun, hati Fu Hiong-kun seperti salju yang jatuh ke atas tanah, tidak bisa berbuat apa-apa.

Sepucuk surat dan sebuah kotak yang sangat indah diberikan kepadanya, setelah menerima kedua barang itu, dia baru melihat sikap aneh Ku-suthay.

Dari dalam kuil terlihat asap terus melayang, sorot mata Ku-suthay menjadi bingung, seperti banyak pikiran.

Nada bicaranya terdengar sangat tidak tenang:

"Tahun depan saat 'Pek-hoa-ki' (Bunga seratus hari), antar surat itu ke Siong-san, Siauw-lim-si, waktu itu kau akan melihat akan ada seseorang bertarung dengan Sin-can Sangjin dari Siauw-lim-si, kalau yang menang adalah Sin-can Sangjin, biarkan saja, kalau bukan, serahkan kotak indah ini kepada orang itu, apakah kau mengerti?" "Tecu mengerti, siapa orang itu..." "Sampai waktunya nanti kau akan tahu."

Pelan-pelan Ku-suthay membalikkan tubuh, tiba-tiba dia berlutut di depan altar sembahyang:

"Budha yang baik hati, maafkan Tecu, berhati belum bersih..."

Fu Hiong-kun terkejut dan memapah gurunya berdiri, tapi Ku-suthay sudah menoleh, dari 2 alisnya terlihat dia sangat sedih.

"Jangankan kau, guru yang sudah masuk agama Budha selama 30 tahun pun sampai sekarang masih..." dia menggelengkan kepala sambil menarik nafas. Kata-katanya terhenti, Fu Hiong-kun melihat gurunya dengan bengong, dia tidak tahu apa yang mesti dia katakan.

Lama hati Ku-suthay baru tenang:

"Masih ada 2 kalimat yang harus kau sampaikan kepada orang itu."

Dia berbisik walaupun di kuil hanya ada dia dan Fu Hiong-kun, tapi tetap merasa tidak tenang.

Setelah mendengar bisikan gurunya, Fu Hiong-kun hanya mengkedipkan mata, tidak ada reaksi berlebihan. Dengan hati-hati Ku-suthay berpesan lagi:

"Bila dia yang menang, katakan kepadanya, kalimat pertama, kalau dia tidak menang, katakan kalimat kedua, apakah kau mengerti?"

"Tenanglah, Guru!" tiba-tiba Fu Hiong-kun menarik nafas.

Ku-suthay menundukkan kepala dan melafalkan ayat kitab suci, dia tidak bicara lagi.

Bulan dua, angin musim semi terasa lembut seperti air, meniup jalanan panjang di kota kecil itu. Jalan itu adalah jalan paling ramai di kota kecil ini, tapi sekarang hanya terlihat Fu Hiong-kun yang sedang berjalan seorang diri.

Toko-toko di kedua sisi jalan semua sudah tertutup rapat hingga suasana sangat sepi, Fu Hiong-kun merasa aneh.

Apakah telah terjadi sesuatu? Baru saja terbersit pikiran itu, terdengar suara tangisan anak kedi, Fu Hiong-kun mengikuti suara itu untuk melihat, dalam jarak beberapa depa darinya di sebuah tiang terlihat ada seorang anak perempuan berumur 5-6 tahun terikat di tiang itu.

Wajah anak perempuan itu pucat, melihat Fu Hiong-kun mendekatinya, dia malah bertambah takut, tangisannya bertambah keras.

Fu Hiong-kun berhenti di depan tiang itu, ketika dia akan meloncat membuka ikatan talinya dan menanyai anak kecil itu, tiba-tiba pintu penginapan itu terbuka.

Fu Hiong-kun segera melihat ke arah itu, terlihat seseorang berbaju mewah keluar dari penginapan.

Orang itu sudah separo baya. Kumis yang tumbuh di atas bibirnya membuatnya bertambah dewasa, walaupun baju mewahnya tidak terkesan menarik, tapi membuat orang yang melihatnya merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.

Gerakannya tenang, di bawah sinar matahari terlihat wajahnya yang tersenyum enak dipandang. Fu Hiong-kun mempunyai perasaan kalau dia bukan orang jahat, tapi orang itu mengeluarkan kata-kata aneh:

"Anak ini jangan diusik!"

"Apakah kau yang mengikatnya?" Fu Hiong-kun mendesak.

Orang itu menggelengkan kepala, Fu Hiong-kun bertanya lagi: "Siapa kau?"

"Orang yang lewat di sini!"

"Di jalan bertemu dengan ketidak adilan, sudah seharusnya mencabut pedang untuk membantu, tapi kau yang lewat hanya berpangku tangan melihat, sekarang malah menghalangi orang yang ingin menolong," Fu Hiong- kun tertawa dingin.

Orang berbaju mewah itu tertawa:

"Aku hanya merasa khawatir, kau tidak akan sanggupmenghadapi orang yang akan datang."

"Walau bagaimanapun anak kecil ini patut dikasihani, aku harus menolongnya." Fu Hiong-kun segera meloncat.

Orang berbaju mewah itu ikut meloncat dan menghalangi Fu Hiong-kun dengan kedua tangan-nya. Ke lima jari Fu Hiong-kun segera menotok nadi di pergelangan tangan orang itu, reaksi orang itu sangat cepat, dengan jurus 'Hwan-hoa-ho-liu' (Mengganti bunga dan pohon Liu yang melambai) dia menerima 3 jurus serangan dari Fu Hiong- kun.

Mereka naik ke atas sebentar lalu tampak turun, Fu Hiong-kun tertawa dingin:

"Ku lihat kau berilmu tinggi, memang tidak meleset!"

Fu Hiong-kun menyerang lagi dengan tangan nya, orang ini mundur 7 langkah, setelah menerima 10 kali serangannya, dia segera membalikkan tubuh meloncat masuk ke dalam penginapan, Fu Hiong-kun mengejar, dia ikut masuk ke dalam penginapan dan kedua tangan menyerang lagi.

Orang itu menghindar ke kiri dan ke kanan, dengan jurus burung membalikkan tubuh, dia berlari ke belakang Fu Hiong-kun, kemudian menutup pintu dan berkata: "Mereka sudah datang!"

Gerakan Fu Hiong-kun jadi berhenti, orang itu meloncat ke depan jendela, membuka sedikit jendela atas, dari lubang kertas dia melihat keluar.

Fu Hiong-kun melihat perbuatannya, dia mendengar sebentar lalu ikut melubangi kertas jendela, melihat keluar.

Jalan sepi tidak ada seorang pun, anak perem puan yang diikat di tiang pun tidak menangis lagi, dia terkejut melihat Fu Hiong-kun dan orang berbaju mewah itu terus meloncat dan berlari.

Angin berhembus lewat, suara baju yang terkena angin terdengar jelas. 4 orang berbaju putih turun dari atap, kemudian diikuti 4 orang yang berbaju merah, 4 orang berbaju biru, dan 4 orang berbaju kuning, terakhir adalah 4 orang berbaju hijau.

Dua puluh orang dengan baju berbeda warna ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, dan sepertinya mereka sudah terlatih dengan tekun, dengan cepat mereka membuat sebuah pemandangan menyolok di jalanan itu, berkumpul dan berpencar lagi.

Di jalan masuk menuju jalan panjang ini terlihat asap berwarna-warni, ratusan orang berbaju putih, kuning, merah, biru, hijau keluar dari balik asap berwarna-warni itu, mereka menggotong dua tandu yang tidak tertutup di atas pundak mereka dan berjalan menuju tiang itu.

Masing-masing tandu berisi seorang laki-laki paro baya berbaju perak, berwajah pucat dan tinggi, berkumis juga bertubuh kerempeng, mereka benar-benar seperti mayat hidup.

Wajah kedua orang itu sangat mirip, sikapnya pun mirip, siapa pun yang telah melihat mereka akan merasa takut. Tandu diturunkan, mata mereka terbuka. Warna putih lebih banyak dibandingkan yang hitam, mata mereka seperti siluman sekarang sedang melihat ke arah tiang, kemudian mejamkan mata dan mengangguk bersamaan.

Dua orang berbaju putih segera meloncat ke atas tiang, membuka ikatan yang mengikat gadis kecil itu, kemudian membawa gadis kecil itu turun.

Dua orang berbaju hijau segera membuka karung dan menyambut dua orang berbaju putih itu, dengan tepat memasukkan gadis kedi itu ke dalam karung, mengikat mulut karung lalu melempar ke dalam kotak yang digotong oleh dua orang berbaju biru.

Di dalam kotak kayu itu ada karung yang sama.

Setelah menutup kotak itu barisan mereka berjalan lagi. Fu Hiong-kun tidak tahan lagi:

"Mereka adalah..."

"Murid-murid Pek-lian-kauw." (Perkumpulan Teratai Putih) jawab orang berbaju mewah dengan suara rendah, "orang yang digotong di atas pundak adalah bawahan Kauwcu bernama Thian, Te dan Jin (Langit, bumi, manusia), mereka ketua Thian dan Te, bergelar Ku-hai-siang-yauw (sepasang siluman Ku-hai)".

"Oh ya? Untuk apa mereka menangkap gadis kecil itu?" Tidak ada jawaban, Fu Hiong-kun melihat ke sisinya,

jendela di sebelah sana sudah terbuka, orang itu sudah menghilang, dia meloncat ke sana untuk melihat. Asap berwarna di jalanan belum menyebar hingga bersih, tapi orang itu sudah menghilang.

Dia berpikir sejenak kemudian dia pun bergerak, dan berlari keluar. Sore, Fu Hiong-kun berjalan di sebuah jalan di gunung kecil.

Sore hari awan terlihat indah, tapi Fu Hiong-kun tidak tertarik menikmatinya, dia hanya berkonsentrasi mengawasi barisan orang Pek-lian-kauw.

Dari atas melihat ke bawah, dia bisa melihat dengan jelas, barisan Pek-lian-kauw itu masih terus berjalan. Fu Hiong-kun tidak tahu mereka akan pergi ke mana juga tidak bisa menebak apa tujuan mereka menangkap gadis kecil itu.

Orang berbaju mewah yang selalu melayang-layang itu pun membuatnya bingung, dengan terpaksa dia harus mengejar mereka untuk mengetahui apa alasan melakukan semua ini.

Orang berbaju mewah tadi sepertinya bukan orang jahat, Pek-lian-kauw dalam bayangannya pun tidak terlalu jahat.

Dia tahu kalau Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan setengah terbuka, kadang-kadang disebut Beng-kauw, terkadang disebut Bi-lek-kauw (Bi-lek=nama dewa) mereka membakar dupa untuk bersembahyang, memasang lampu, juga vegetarian, dan harus melakukan sembahyang di waktu yang dipentingkan, mereka percaya kalau Bi-lek-hud akan turun ke dunia ini untuk menjadi raja Beng di dunia ini.

Sebenarnya nama aslinya adalah Beng-kauw disebut Mo- li-kauw. Seseorang dari Negara Fo-se, menyatukan namanya menjadi Fo-se-pek-huo-kauw (Agama menyembah api) dengan agama Budha di India, agama Kristen dari Yunani, menjadi sebuah agama baru. Mereka berpendapat bahwa meraka harus memasang lampu semalam suntuk, dengan berperang melawan kegelapan. Makanan vegetarian, dengan maksud mereka tidak makan daging, bukan daging ayam, sapi, kambing, melainkan kelompok bawang- bawangan. Di malam tertentu dalam jangka waktu satu bulan harus berkumpul secara rahasia. Di jaman dinasti Tong mereka sudah masuk Tionggoan, sampai pada dinasti Song ajaran mereka semakin besar kekuatannya dan pernah melakukan pemberontakan melawan pemerintah.

Pek-lian-kauw bisa dikatakan cabang agama Budha yang menyembah O-mi, To-hud, semakin lama agama ini semakin diterima rakyat, apa lagi waktu itu suasana sedang penuh kekacauan.

Sejarah agama Bi-lek paling misterius dan tidak banyak tercatat. Katanya wajah Bi-lek-hud terlihat sangat ramah dan selalu tersenyum, karena itu dia disebut Siau-hud (Budha tertawa). (Bi-lek-hud atau Siau-hud adalah Budha berperut besar, biasanya orang Tionghoa bila ke kuil ingin meraba perut atau wajahnya, kabarnya setelah meraba perut dan wajahnya kita akan selalu tertawa, artinya tidak ada yang perlu menekuk wajah lagi) kehidupan dan usaha pun akan lancar.

Bi-lek-hud katanya orang yang kedua setelah Budha Sakyamuni menjadi dewa Budha.

Tiga agama dengan asal usulnya berbeda, pada akhir dinasti Goan selalu digunakan oleh pemberontak melawan kerajaan Goan mengembalikan kejayaan dinasti Song dan menutupi gerakan mereka. Karena tujuan yang sama lama- kelamaan mereka bersatu dan bercampur dari 3 agama itu.

Fu Hiong-kun mempunyai pengetahuan yang salah.

Melawan dinasti Goan tidak akan bisa mengembalikan kejayaan dinasti Song. Cu Goan-ciang menyatukan seluruh Tiongkok dan mendirikan dinasti Beng. Katanya dia pernah dipilih menjadi pemimpin Beng-kauw, Pek-lian-kauw, dan Bi- lek-kauw, setelah naik tahta karena jasa masing-masing, dia memberi anugerah kepada 3 agama ini, maka ketiga agama itu tidak muncul lagi.

Semenjak Fu Hiong-kun berkelana di dunia persilatan, untuk pertama kali dia bertemu dengan orang-orang Pek- lian-kauw, dia merasa aneh dengan kemunduran mereka juga mengkhawatirkan keselamatan gadis kecil itu.

Malam semakin terasa dingin, akhirnya murid-murid Pek- lian-kauw berhenti di sebuah lapangan terpencil.

Fu Hiong-kun bersembunyi di sebuah pohon, terus mengawasi mereka.

Di lapangan rumput itu tidak ada yang aneh. Barisan murid Pek-lian-kauw seperti tidak siap menginap di lapangan berumput itu, tapi mereka berdiri dalam barisan 5 kelompok berwarna, mereka seperti sedang menunggu sesuatu.

Sebelum mereka datang, sebagian murid Pek-lian-kauw sudah berkumpul di sana. Tidak diragukan lagi ratusan orang dengan jabatan tertinggi adalah Thian-te-sian-cun. Melihat Siang-cun datang mereka segera menyambutnya.

Sebuah lampu merah menyala di lapangan berumput itu, kemudian disusul lampu biru, kuning , putih, dan hijau.

Lima barisan berwarna dengan warna lampu tidak sama menyala, warnanya sangat jelas, barisan pun terlihat sangat rapi, di dalam pekatnya kegelapan terlihat sangat aneh dan indah.

Cahaya lampu menyinari lapangan berumput itu menjadi terang. Fu Hiong-kun baru melihat dengan jelas di depan murid-murid Pek-lian-kauw berhenti sebuah lampu emas yang sangat besar, di bawah sinar lampu emas ada sebuah bunga teratai putih yang sangat besar, tapi belum mekar, bunga teratai itu di bawah siraman lampu tampak berkilau. Di depan bunga teratai putih itu terlihat ada 3 teratai putih kecil. Di kiri dan kanan duduk Thian-te-siang-cun, tapi salah satu kursi tampak kosong.

Lampu emas besar itu akhirnya menyala, di bawah cahaya itu terlihat pengikut Pek-lian-kauw bersorak:

"Bunga teratai yang suci, terang, sangat senang, Bi-lek lahir untuk menolong semua orang menjadi baik."

Ketika pengikut Pek-lian-kauw bersorak, teratai putih besar itu mekar di bawah siraman cahaya lampu emas itu.

Di tengah-tengah teratai duduk bersila seorang tua berbaju emas, rambut dan janggutnya sudah memutih.

Ke dua tangan orang tua itu menekan sebuah kecapi tua, kedua alisnya panjang juga putih tampak terangkat, matanya dengan pelan membuka. Sorot matanya tampak seperti dua kilat, tidak terlihat sedang marah tapi sangat berwibawa.

Sorot matanya melihat tempat duduk teratai yang kosong, pelan-pelan bertanya:

"Manajin-cun?"

Nada bicaranya tidak tinggi tapi setiap orang bisa mendengar dengan jelas.

"Lapor Kauwcu, Jin-cun sudah menghilang selama 3 tahun!" Jawab Thian-cun dengan cepat.

Orang tua itu adalah orang yang dikabarkan dunia persilatan mempunyai kepandaian sangat tinggi dan tidak bisa diduga kehebatannya. Identitasnya sangat misterius dan mempunyai julukan 'Pu-lo-sin-sian' (Dewa yang tidak pernah tua) dia adalah Kauwcu dari Pek-lian-kauw yang sudah lama menghilang.

Wajahnya langsung terlihat marah: "Selama 20 tahun ini pertama kalinya aku Cu-koan (keluar dari latihan) berani-beraninya dia tidak datang untuk bertemu denganku, apakah aku tidak berharga di matanya?" Thian-te-siang-cun tidak berani menjawab, pengikut Pek- lian-kauw dan 5 kelompok sewarna lampu pun hanya diam tidak ada seorang pun yang berani menjawab, hingga

lapangan berumput itu jadi sepi dan hening.

Put-lo-sin-sian melihat semua orang dan berkata:

"Di malam rapat akbar Pek-lian-kauw, ada dua hal yang harus kalian tahu, 20 tahun yang lalu aku dan Sin-can Sangjin dari Siauw-lim-pai berjanji akan bertarung di Tai-san, semua karena gaya dan pandangan kami berbeda. Pek-lian-kauw dianggap perkumpulan sesat, karena itu kami berjanji 20 tahun kemudian di hari Pek-hoa di Siong-san, kami akan bertarung, yang kalah harus membawa murid-muridnya bergabung dengan perkumpulan lawan, kalau kalian masih curiga kepadaku, silakan tinggalkan Pek-lian-kauw, aku tidak akan memperpanjang masalah!"

"Kepandaian Kauwcu begitu hebat, Pek-lian-kauw pasti menang dan Siauw-lim-pai akan kalah!" pengikut Pek-lian- kauw seperti sudah ada pengerti-an yang tidak perlu diungkapkan, mereka serentak berkata dan bersorak.

"Baik sekali, Siauw-lim-pai pasti akan kalah," Put-lo-sin- sian tertawa, "mencukur rambut menjadi hweesio, setiap hari memukul kentongan dan ikan kayu, apakah akan cocok untuk kalian? Kalau aku kalah bertarung dan kalian melihat tanda-tanda yang kuberikan, segera turun gunung dan tinggalkan tempat itu!"

Pengikut Pek-lian-kauw saling pandang tapi tidak bersuara, Put-lo-sin-sian selalu mengaku tidak terkalahkan, sekarang dia bicara seperti itu, apakah dia tidak yakin? Sorot mata Put-lo-sin-sian melihat Thian-te-siang-cun: "Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan

terorganisasi, Pek-lian-kauw juga perkumpulan suci, karena dianggap sebagai perkumpulan sesat walau pun aku melakukan Pi-koan (tutup pintu) untuk berlatih silat, tapi apa yang terjadi di dunia persilatan ini aku tetap tahu, seperti tahu detil jari dan tanganku sendiri. Katanya ada banyak pengikut Pek-lian-kauw yang sering berbuat kejahatan, apa- kah itu benar?"

Thian-cun seperti tidak ada masalah yang terjadi, dia menjawab:

"Murid-murid perkumpulan kita mengikuti peraturan dan kebiasaan dengan patuh, banyak gosip mengatakan seperti itu, aku takut ada yang bermaksud jahat!"

Dari balik bajunya Put-lo-sin-sian mengeluarkan sebuah plakat giok, dengan plakat itu dia menghadapi semua orang:

"Di bawah perintah giok hijau ini, kalau ada yang menutupi kenyataan sebenarnya, akan dihukum sesuai peraturan perkumpulan!"

Semua murid Pek-lian-kauw tampak ketakutan dan menyembah.

"Aku tahu selama beberapa hari ini ada orang dengan kata-kata jahat mengancam dan memaksa orang desa yang lugu menyerahkan anak laki-laki dan anak perempuan mereka untuk dilatih yang dikatakan Pek-kut-mo-kang (Umu iblis tulang putih), aku memberikan peringatan terakhir, peri-laku sesat itu segera harus berakhir, kalau tidak, setelah masalah di Siong-san selesai, aku akan membunuh orang seperti itu!" Semua orang terdiam, Thian-te-siang-cun tidak bereaksi apa-apa, sepertinya masalah ini tidak ada hubungan dengan mereka dan tidak tahu menahu tentang hal ini.

"Aku akan memperlihatkan benda itu kepada kalian!" Put-lo-sin-sian tepuk tangan.

Dua murid Pek-lian-kauw keluar dari hutan dan menggotong sebuah kotak besar, melihat kotak kayu itu wajah Thian-te-siang-cun segera berubah.

Kotak kayu itu diletakkan di depan Put-lo-sin-sian, dua murid Pek-lian-kauw itu segera mundur.

"Inilah benda perkumpulan kita, apa isinya, kalian pasti sudah tahu, cepat keluarkan!" Put-lo-sin-sian membentak.

Empat murid Pek-lian-kauw keluar dari hutan, mereka adalah orang yang tadi menggotong kotak itu ke hadapan Thian-te-siang-cun.

"Orang dan benda curian tertangkap basah, apa yang akan kalian katakan?"

"Kauwcu menyalahkan kami yang tidak bersalah... " empat murid Pek-lian-kauw itu segera berlutut.

"Kalian berani bicara lagi!" Kedua alis Put-lo-sin-sian terangkat, "biar kalian merasakan apa yang disebut Leng- yan-soh-hun!"

Kata-katanya baru selesai, jari tengah Put-lo-sin-sian menyentil, suara keras memecah langit, 4 murid Pek-lian- kauw tadi telah roboh dan mati seketika.

Semua orang tampak ketakutan, hanya Thian-te-siang- cun terlihat tenang, mereka tahu Put-lo-sin-sian akan melindungi mereka, karena telah menghukum 4 pengkhianat, untuk sementara tidak akan diusut lagi.

Benar saja, Put-lo-sin-sian tidak berkata apa-apa lagi, dia mengibaskan lengan bajunya, angin kencang terus menggulung kotak kayu itu belah, tapi dua karung yang tersimpan di dalamnya tidak terganggu.

"Buka ikatannya..." pesan Put-lo-sin-sian.

Dua murid Pek-lian-kauw segera membuka ikatan karung dan terpaku di sana, karena di dalam karung berisi 2 ekor babi kecil.

Thian-te-siang-cun dan semua murid Pek-lian-kauw tampak terkejut, Put-lo-sin-sian pun terpaku.

Fu Hiong-kun yang berada di atas pohon melihat semuanya, dia segera berpikir itu tentu prkerjaan orang berbaju mewah itu, kemudian dia melihat 2 ekor babi kecil terus berlarian dan barisan murid Pek-lian-kauw tampak jadi ribut, dia tertawa hingga mengeluarkan suara.

Put-lo-sin-sian segera bereaksi, dua alisnya segera terangkat, kemudian tertawa dingin:

"Menukar matahari dengan bulan, baiklah! Kalau Tuan di depan Siang-cun bisa melakukan jurus ini, berarti Tuan memang hebat, biar mereka tahu di atas langit sana masih ada langit yang lebih tinggi, di atas manusia sana masih ada manusia yang lebih kuat!"

Wajah Thian-te-siang-cun tidak ada ekspresi sedikit pun, tapi dari mata mereka memancarkan aura membunuh.

Fu Hiong-kun tidak bisa melihat reaksi Thian-te-siang- cun, tapi kata-kata Put-lo-sin-sian semua terdengar jelas. Dia sadar tawanya tadi sudah diketahuii oleh Put-lo-sin-sian.

"Kalian berdua sudah lama mencuri dengar rapat kami, sudah waktunya kalian pergi!" kata Put-lo-sin-sian.

Fu Hiong-kun merasa aneh, seseorang sudah turun dari atas pohon seperti seekor kera, dia adalah orang berbaju mewah itu.

"Maksudnya adalah kita!" Wajah orang itu penuh tawa. Fu Hiong-kun melihatnya dan tidak bersuara. Kata-kata Put-lo-sin-sian terdengar lagi:

"Malam ini aku ada urusan penting, tidak leluasa melayani kalian, kelak bila ada kesempatan aku akan meminta petunjuk kepada kalian berdua, sekarang dengan iringan suara kecapi ini aku akan mengantarkan tamu-tamu pergi!"

Tawa orang berbaju mewah segera berhenti, dia segera berkata:

"Nona, cepat pergi! Suara kecapi Jit-sat (7 roh jahat) tidak akan bisa membuat kita kuat bertahan!" dia segera berlari.

Fu Hiong-kun ingin bertanya tapi suara kecapi sudah terdengar, seperti suara guntur, walaupun tenaga dalamnya lumayan tinggi tapi dia tetap tergetar oleh suara kecapi dan dia merasa bergoyang goyang, dia segera meloncat dari atas pohon.

Dia mencari orang itu tapi sudah tidak ter-lihat jejaknya.

Fu Hiong-kun tertawa kecut sambil menggelengkan kepala. "Orang itu..." suara kecapi terdengar lagi untuk kedua

kalinya. Fu Hiong-kun segera berlari dengan cepat dan menghilang di dalam kegelapan.

Put-lo-sin-sian tidak memetik kecapi untuk ketiga kali, dia membiarkan Fu Hiong-kun dan orang berbaju mewah itu pergi. Baginya tidak ada hal lebih penting dari pertarungannya dengan Sin-can Sangjin di Siong-san.

Fu Hiong-kun mengendarai kuda dan saat ini dia sudah tiba di Siong-san, setelah melakukan perjalanan selama 3 hari dia berhenti mengikuti aturan Sia-be-pak (tugu turun dari kuda) kemudian berjalan kaki menuju Siauw-lim-si. "Hari ini dan esok, Siauw-lim-si tidak menerima tamu, harap Sicu kembali lagi nanti!" dua orang hweesio menahan Fu Hiong-kun di luar kuil.

"Aku adalah murid Heng-san-pai dari Kou-siu-an, aku diperintahkan guruku datang kemari untuk menemui pemimpin kalian!" Fu Hiong-kun mengeluarkan sepucuk surat.

Dua orang hweesio yang bertugas melayani tamu segera melihat surat itu dan saling bertukar pandang. Yang satu membawa surat itu masuk, yang satu lagi merangkapkan telapak tangannya berkata:

"Harap Sicu menunggu sebentar!"

Baru saja Fu Hiong-kun akan menjawab, dia melihat hweesio yang bertugas melayani tamu, melihat ke arah jauh, mengikuti arah pandangannya. Benar saja ada orang sedang berjalan mendekatinya, dia adalah orang berbaju mewah itu. Melihat Fu Hiong-kun ada di situ, orang berbaju mewah terlihat terkejut. Setibanya di sisi Fu Hiong-kun dia baru

berkata:

"Sungguh kebetulan!"

"Ke mana aku pergi, kau juga pasti akan pergi ke sana, benar-benar sangat kebetulan!" jawab Fu Hiong-kun dengan santai, "tapi sayang Siauw-lim-si hari ini dan esok tidak menerima tamu!"

"Benarkah?" orang berbaju mewah itu segera berbicara kepada hweesio yang bertugas melayani tamu, "Aku persilahkan guru melapor, bahwa orang yang datang dari ibu kota sudah tiba!"

Hweesio itu terpaku:

"An-lek-hou..." dengan cepat dia memberi hormat. (Hou=gubemur, An-lek= jabatan). "Tuan Su sudah datang, kami..."

Orang berbaju mewah melambaikan tangannya: "Tidak usah seperti itu..."

"Silakan masuk dan duduk di dalam!" "Di sini pun sama!"

"Orang dunia persilatan harus menghormati aturan dunia persilatan!"

"Biar aku melapor kepada Hong-tiang!" kata hweesio itu dan segera membalikkan tubuh dan berlari.

"Apakah Anda An-lek-hou, Su Yan-hong?" tanya Fu Hiong-kun.

"Benar!" Su Yan-hong tampak terkejut. "Nona..."

"An-lek-hou adalah orang berilmu tinggi juga menguasai sastra tinggi, dan murid Kun-lun-pai Tiong Toa-sianseng, di dunia persilatan ini siapa yang tidak tahu Anda?"

"Oh!" Su Yan-hong memberi hormat. "Siapakah nama Nona?"

"Fu Hiong-kun dari Heng-san-pai!"

"Oh!" Su Yan-hong tidak berkata apa-apa lagi, menilik sikapnya kepada Fu Hiong-kun yang datang dari Heng-san- pai dia punya sedikit kesan.

"Anda tidak menikmati hidup di ibu kota, lalu datang ke Siauw-lim-si, ada keperluan apa?"

Su Yan-hong hanya tertawa, tidak menjawab. Fu Hiong- kun pun tidak bertanya lagi.

Tidak lama kemudian, sekelompok hweesio keluar dan dalam kuil. Fu Hiong-kun memang tidak mengenali mereka, tapi dia bisa menebak siapa saja, yang paling depan adalah Hong-tiang Siauw-lim-si, Bu-go Taysu. "Lihat! Hongtiang Siauw-lim-si sendiri yang keluar menyambutmu!" nada bicara Fu Hiong-kun bertambah dingin.

Su Yan-hong hanya tertawa.

Tapi begitu tiba di hadapan mereka, Bu-go Taysu malah menyapa Fu Hiong-kun dan bertanya:

"Bagaimana keadaan gurumu? Apakah dia baik-baik saja?"

Fu Hiong-kun merasa terkejut, tapi dia tetap tidak lupa untuk bersikap sopan:

"Baik..."

"Antarkan Nona Fu ke Ceng-sin-goan untuk beristirahat!" pesan Bu-go Taysu.

Fu Hiong-kun tidak banyak bertanya lagi, setelah di Ku- siu-an selama 3 tahun dia menjadi sangat bisa menguasai diri.

Bu-go Taysu berkata kepada Su Yan-hong:

"Hou-ya, silakan ke ruang tamu untuk mengobrol!"

Yang berbicara di ruang tamu hanya ketua Siauw-lim-pai, Bu-go Taysu, tianglo Siauw-lim-si, Bu-wie Taysu dan Su Yan- hong.

"Baginda sudah beberapa kali memberikan banyak sumbangan, sekarang Hou-ya sendiri yang datang ke Siauw- lim-si, apakah ada firman dari baginda?"

Bu-go Taysu tidak berbelit-belit langsung bertanya. "Siauw-lim-si adalah tempat belajar agama Budha secara

tepat dan lurus, Siauw-lim-si juga tempat asal ilmu silat Tionggoan. Baginda sudah lama berencana menginginkan Hong-tiang datang ke ibu kota untuk mempropagandakan agama Budha, beliau juga ingin mengangkat Taysu menjadi Koksu." "Pinceng terima kebaikan baginda di dalam hati!" Bu-go Taysu melafalkan bacaan Budha.

"Maksud baginda terasa tulus dan iklas..."

"Pinceng mengerti, hanya saja pinceng telah mengabdi kepada Budha, maka sudah tidak tertarik pada semua itu..." Bu-go Taysu berkata sambil menarik nafas, "apalagi Siauw- lim-si akan menghadapi sebuah halangan, mengurus sendiri pun masih merasa kewalahan." 

"Maksud Taysu apakah masalah pertarungan antara Put- lo-sin-sian dan Sin-can Sangjin?"

"Perjanjian pertarungan akan dilakukan esok hari, pertarungan menyangkut hidup dan mati Siauw-lim, maka malam ini di Siauw-lim-si akan diadakan membaca ayat suci Budha untuk menyam-but tetua Siauw-lim Cu-koan (keluar dari tempat latihan silat)."

"Sebelum Sin-can Sangjin Jit-koan, namanya sudah menggetarkan dunia persilatan. Golongan sesat dan siluman sangat takut pada beliau, jadi Taysu tidak perlu merasa khawatir!"

"Aku berharap begitu!" Bu-go Taysu menarik nafas panjang.

"Baginda..."

Bu-go Taysu melayangkan tangan memotong, dia mengalihkan pembicaraan:

"Apakah keadaan Tiong Toa-sianseng baik-baik saja?" "Setiap tahun aku pasti pergi ke Kun-lun, Suhu baik-baik

saja dan dalam keadaan sehat!"

"Sebelum tetua Jit-koan (masuk berlatih silat) beliau sudah 3 kali mengunjungi Kun-lun menenui Tiong Toa- sianseng untuk mengobrol secara luas, waktu itu pinceng selalu ikut, setelah dihitung-hitung tidak terasa sudah lewat 23 tahun." Bu-go Taysu menghembus nafas panjang.

Su Yan-hong masih belum mengerti Bu-go Taysu sudah bersikeras, dia masih bertanya:

"Apakah Taysu bisa mempertemukan aku dengan tamu yang ada di Teng-toh-goan?"

"Oh?" Bu-go Taysu terpaku. "Ini adalah kehendak baginda!"

Bu-go Taysu melihat Bu-wie, Bu-wie tertawa dan berkata:

"Ini adalah kehendak Langit!"

"Kehendak Langit sulit ditebak." Bu-go Taysu melafalkan ayat suci Budha lagi.

Tong-toh-goan (Ruangan mendengar gelombang) yaitu mendengar suara alunan gelombang bambu. Teng-toh-goan adalah sebuah rumah ber-loteng kecil, bila kita duduk di atas loteng dan angin kencang berhembus lewat, kita seperti duduk di atas sampan yang sedang berjalan di atas gelombang besar.

Wan Fei-yang sudah tidak punya perasaan seperti itu, mungkin karena dia sudah terbiasa atau karena perasaannya sudah mati.

Dia sendiri menganggapnya seperti itu, tapi begitu dia melihat Su Yan-hong, dia tidak bisa menguasai diri dan datang menyambutnya.

"Apa kabar, Hou-tayjin?" nadanya masih penuh dengan kehangatan.

"Baik!" Su Yan-hong memegang erat kedua tangan Wan Fei-yang, "Lo-te, masalahnya sudah lewat..."

Wan Fei-yang mengangguk:

"Terima kasih Hou-ya sudah menolong nyawaku..." "Lagi-lagi kau mengatakan masalah ini lagi, sebenarnya tidak ada hubungannya denganku," Su Yan-hong tertawa.

"Tiga tahun yang lalu, ketika di Tai-san saat aku menyambut pukulan Tokko Bu-ti, sekalipun menang tapi nadi-nadiku sudah banyak yang putus, kalau bukan karena bertemu dengan Hou-ya, dan memberikanku obat Cian-lian- ciap-su lalu mengantarkan aku ke Siauw-lim-si, dibantu oleh Bu-go Taysu dengan ilmu tusuk jarum, sehingga membuat nadiku tersambung kembali seperti semula, kalau tidak, walaupun aku tidak mati, aku percaya aku sudah menjadi orang cacat."

Inilah alasan mengapa diam-diam dia mening galkan Fu Hiong-kun, dia sadar kalau dia tidak akan bisa hidup lama, untuk apa membuat Fu Hiong-kun sedih, maka dia hanya bisa bersembunyi, tidak disangka dia bertemu Su Yan-hong, akhirnya dirinya malah tertolong.

"Cian-lian-ciap-su adalah benda yang diberikan pejabat daerah kepada baginda, aku hanya mengambilnya saja! Kalau Bu-go Taysu tidak punya hati seperti Budha walaupun aku mempunyai obat itu pun percuma saja," kata Su Yan- hong sambil tertawa, "semua sudah berlalu, jangan dibicarakan lagi!"

"Apa tujuan Hou-ya datang kemari kali ini?" "Sebenarnya aku diperintahkan oleh baginda raja!" "Bila ada masalah, katakanlah langsung."

"Baginda ingin bertemu denganmu!"

Wan Fei-yang terkejut, lama baru berkata:

"Aku adalah orang desa, tidak tahu sopan santun, lebih baik tidak bertemu dengan baginda!"

"Terus terang saja..." dengan serius Su Yan-hong berkata, "kekuasaan kerajaan sekarang jatuh ke tangan Liu-kun, Liu- kun adalah orang serakah di kerajaan, dia selalu menyingkirkan orang yang tidak sependapat dengannya, dan menarik orang-orang sesat, maka baginda ingin kau masuk ke istana untuk membantu beliau!"

"Orang dunia persilatan tidak..." Su Yan-hong memotong:

"Apakah kau tega melihat negara kita jatuh ke tangan orang licik?"

"Hou-ya, kata-katamu terlalu berat!" Wan Fei-yang tertawa. Su Yan-hong adalah murid terbaik Tiong Toa- sianseng, ilmu silat dan kepintaran nya lebih tinggi dari orang lain, "Hou-ya di sana, siapa yang berani membuat baginda susah?"

"Kalau hanya sendiri sulit bertahan.

"Besok Siauw-lim-pai dan Pek-lian-kauw akan bertarung, apakah Hou-ya sudah tahu?" Wan Fei-yang mengalihkan pembicaraan.

Su Yan-hong tertawa:

"Bagaimana pertarungannya menurutmu?" "Kalah menang sudah terlihat jelas!"

"Oh!" Su Yan-hong tidak mengerti.

"Aku hanya percaya, yang sesat tidak akan bisa menang dari yang lurus!" kata Wan Fei-yang tertawa, "kepandaian Sin-can Sangjin adalah Kim-kong-sin-hoat (Ilmu pukulan Kim- kong) beliau juga menciptakan Ho-bu-kiu-thian (Sembilan hari bangau menari), dia Pi-koan selama 20 tahun, aku percaya beliau sudah sampai pada taraf bisa menggeser bentuk dan mengganti bayangan. Siauw-lim-si sudah berdiri selama beberapa ratus tahun, mana mungkin beliau dengan mudah terkalahkan?" "Kalau begitu pertarungan besok, Pek-lian-kauw pasti kalah!"

"Kita lihat saja besok!" kata Su Yan-hong.

Wan Fei-yang tidak menjawab, tiba-tiba dia berkata: "Dengar..." terdengar suara gagah sedang melantunkan

ayat kitab suci, suara ini mengikuti arah angin, Wan Fei-yang berkata sendiri, "Siauw-lim-si patut disebut Siauw-lim-si, semua orang bersatu, apakah bisa membuatku tidak percaya yang lurus mengalahkan yang sesat, Siauw-lim-si tidak musnah Sin-can Sangjin pasti menang?"

"Dua ekor harimau bertarung pasti ada yang terluka," Su Yan-hong menarik nafas, "melihat keadaan sekarang, orang- orang jahat tampaknya sedang memegang peran, kalau orang dunia persilatan bisa menyingkirkan perbedaan perkumpulan dan bersama-sama membantu membantu kerajaan.."

"Hou-ya mulai lagi!" Wan Fei-yang memotong kata- katanya dan tertawa.

"Mendengar suara yang melantunkan ayat suci, aku terpikir kalau pesilat di ibu kota biar pejabat bagian tentara atau ekonomi bisa kompak seperti murid Siauw-lim-si, dinasti Beng pasti akan kuat, rakyat akan hidup tenang, tidak akan seperti sekarang ini," ucap Su Yan-hong.

Wajahnya memang tertawa, tapi sorot matanya terlihat penuh kekhawatiran.

Matahari sudah terbit, orang yang melantunkan ayat suci masih belum berhenti.

Di gua Yan-sia, Bu-go Taysu dan para hweesio tidak terlihat lelah, sikap mereka terlihat tenang, berbaris begitu teratur. Pintu gua Yan-sia akhirnya terbuka pelan-pelan. Sinar matahari masuk, menyinari Sin-can Sangjin yang berambut dan berkumis putih, rambutnya terjuntai panjang hingga ke bawah.

Dua ekor bangau berdiri di atas pundaknya, dia tersenyum seperti datang dari Kim-thian tempat bermukim para dewa.

Suara orang melantunkan ayat suci tiba-tiba berhenti, semua hweesio bersorak:

"Tecu menyambut Tianglo Cu-koan."

Sin-can Sangjin melambaikan tangan, bangau putih terbang ke angkasa dan masuk menembus awan putih.

Bu-go Taysu segera membawa satu setel jubah hweesio berwarna merah, berjalan ke depan-nya.

Setelah memakai jubah merah itu, Sin-can Sangjin bertambah gagah, di depan ruangan di atas panggung dia duduk bersila. Menerima pemberian hormat semua murid Siauw-lim-si. Lalu dia berkata: "20 tahun yang lalu aku dan Pek-lian-kauw-cu, Put-lo-sin-sian bertemu di Tai-san, aku memberi khotbah selama 3 hari 3 malam kepada Put-lo-sin- sian, tapi hati Put-lo-sin-sian tidak tergerak sedikit pun dan berjanji bertemu kembali 20 tahun kemudian, hari ini, yang kalah harus membawa semua muridnya masuk ke perkumpulan lawan. Aku percaya Budha selalu ada dan jalan lurus selalu akan menang, maka aku menyetujui perjanjian ini. Murid-murid Siauw-lim-si bila takut kalah dan tidak mau tunduk kepada lawan, boleh pergi dulu meninggalkan Siauw- lim, kami tidak akan mengusut lebih jauh."

Mereka berlutut, tidak ada seorang pun yang meninggalkan tempat, semua sesuai dengan perkiraan Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong, mereka merasa murid Siauw- lim memang berbeda dengan murid Pek-lian-kauw, mereka bersungguh-sungguh.

"Baik!" Sin-can Sangjin tertawa, "Jit-sat-kim dari Pek-lian- kauw-cu akan membuat rohmu hancur, dengan keadaan kalian sekarang belum tentu kalian kuat bertahan dan mengendalikannya, aku harap kalian keluar dulu dari kuil ini, mengurangi yang terluka dan nyawa yang tidak perlu dikorbankan."

"Tecu mengikuti perintah!" jawab semua murid Siauw- lim-si.

Sin-can Sangjin melihat Fu Hiong-kun:

"Aku tahu hubungan antara gurumu dan Pek-lian-kauw- cu mengenai apa yang diminta guru-mu, aku tidak ada komentar lain."

Fu Hiong-kun tidak tahu menahu apa yang dituliskan oleh Ku-suthay, tapi dia tetap mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Lalu Sin-can Sangjin melihat Su Yan-hong:

"Apakah Tiong Toa-sianseng masih terus melancong mengelilingi dunia?"

"Selama 20 tahun ini masih tetap seperti itu!" jawab Su Yan-hong dengan sikap hormat. Dia adalah keturunan raja Tiong-san dan menjadi pejabat, tapi di dunia persilatan, dia tetap menghormati aturan dunia persilatan.

"Baik!" Sin-can Sangjin sangat gembira.

Waktu itu terdengar suara musik aneh datang dari jauh.

*** BAB 17

"Put-lo-sin-sian benar-benar menepati janji!" kata Sin- can Sangjin, "kita sambut para tamu..."

Bu-go Taysu melafalkan bacaan Budha, dia yang memimpin barisan menyambut tamu.

Wan Fei-yang yang sedang berada di Teng-toh-goan setelah mendengar alunan musik yang aneh, malah duduk bersila untuk mengatur nafas. Dan sikapnya makin tenang.

Yang masuk ke lapangan di depan ruang Siauw-lim-si hanya Pek-lian-kauw-cu, Put-lo-sin-sian sendiri. Dia memeluk kecapi tuanya, pelan-pelan berjalan menuju panggung yang berada di depan Sin-can Sangjin lalu duduk bersila.

Sin-can Sangjin segera membaca:

"O-mi-to-hud..."

Dengan tenang Put-lo-sin-sian meletakkan kecapi tuanya dan tertawa:

"Sin-can Sangjin, apa kabar?" "Baik!"

"Siong-san Siauw-lim-si sungguh gunung terkenal dan kuilnya sudah kuno, sungguh luar biasa!"

"Kuil Siauw-lim sudah biasa dibuka untuk umum dan kegagahannya bukan hanya Kauwcu yang menyebutkannya!"

"Tapi aku sangat menyayangkan karena besok di saat yang sama seperti sekarang ini, Siong-san Siauw-lim-si akan hancur!"

"Belum tentu!"

"Sin-can Sangjin, kata-katamu 20 tahun lalu apakah kau menyesalinya?" "O-mi-to-hud," kata Sin-can Sangjin sambil tertawa, "hweesio dilarang berkata sembarangan, bila sudah mengeluarkan kata-kata tidak boleh ada penyesalan, apakah Kauwcu..."

"Aku tidak merasa menyesal, pertarungan hari ini kalau tidak bisa menggetarkanmu hingga hancur, maka aku yang kalah!"

Kedua alis putih Put-lo-sin-sian terangkat. Sin-can Sangjin tertawa:

"Budhaku yang baik, suara kecapi Jit-sat memang sangat lihai, tapi belum tentu semua sesuai keinginan Kauwcu!"

"Baiklah, Sin-can Sangjin, aku terima jurus Ho-bu-kiu- thian, kemudian aku akan memecahkan Kim-kong-ting!" Put- lo-sin-sian tertawa.

"Aku akan menuruti perintahmu!" kata Sin-can Sangjin tidak mengganti posisinya.

Put-lo-sin-sian membentak, langit seperti akan terbelah, guntur seperti berbunyi keras, diiringi bentakannya dia meninggalkan panggung itu, langsung menyerang Sin-can Sangjin. Saat lewat seakan angin berhembus kencang, batu dan pasir beterbangan, murid-murid yang sedang berdiri tampak bajunya terus berkibar tertiup angin.

Sin-can Sangjin memang meninggalkan panggung, tapi posturnya masih tetap bersemedi.

Put-lo-sin-sian menyerang terlebih dulu, kepalan tangan dan kaki sama-sama menyerang, sampai-sampai lututnya pun menjadi alat untuk menyerang. Tubuhnya seperti tidak bertulang, bisa berputar sesuai dengan keinginannya sendiri dan menyerang musuh dengan arah berbeda.

Ada orang yang melukiskan kelincahan seorang pesilat tangguh seperti seekor landak, sekarang melihatnya seperti itu benar-benar memang mirip landak, mungkin hanya Put- lo-sin-sian saja yang seperti itu.

Bu-go Taysu, Fu Hiong-kun, dan Su Yan-hong melihat seluruh bagian tubuh Sin-can Sangjin menjadi sasaran empuk Put-lo-sin-sian juga sangsi apakah gerakan Sin-can Sangjin bisa sama cepatnya.

Sin-can Sangjin tidak menerima juga tidak pasrah sama sekali, sebab dia sudah tidak ada di tempatnya, dia sudah keluar dari sasaran serangan Put-lo-sin-sian.

Gaya duduknya tidak banyak berubah, sekali pun ada kemungkinan tidak secepat Put-lo-sin-sian, tapi dia sanggup melakukannya.

Hanya Put-lo-sin-sian yang tahu alasan sebenarnya karena di matanya Sin-can Sangjin bukan hanya ada satu tapi berubah menjadi beberapa puluh, dia tidak bisa tahu di mana Sin-can Sangjin yang sebenarnya, bila dia salah menyerang akan terjadi hal yang tidak dia inginkan.

Saat pesilat tangguh bertarung tidak boleh membuat kesalahan, Put-lo-sin-sian bergerak dan menyerang dengan cepat, Sin-can Sangjin tidak bisa membalas menyerang.

Gerakannya pelan tapi tepat, dia mulai mengelilingi Put- lo-sin-sian.

Put-lo-sin-sian berubah lagi sambil tertawa berkata: "Ilmu It-seng-hoan-eng yang hebat..." (meng geser

bentuk menukar bayangan), suaranya tenang tidak terganggu dengan perubahan tubuhnya. Sorot matanya segera melihat ke bawah, Sin-can Sangjin memang berubah menjadi puluhan sosok tapi di bawah sinar matahari, bayangan yang ada di bawah hanya ada satu.

Bayanga semakin mengecil, kedua tangan Sin-can Sangjin melayang. Dengan jurus bangau naik ke langit, dia segera naik ke atas, melihat sorot mata Put-lo-sin-sian melihat ke bawah dia sadar tidak bisa menyembunyikan bentuknya lagi maka dia segera terbang ke atas.

It-seng-hoan-eng adalah sebuah ilmu meru-bah tubuh yang didukung dengan perubahan tenaga batin (hipnotis), yang dimaksud tenaga batin seperti ilmu dari Mo-kauw, ilmu mengganti roh. Ilmu keluarga Lamkiong Se-sin-sut dan hipnotis dari Bi-cong. Put-lo-sin-sian tidak mau melihat mata Sin-can Sangjin, maka dia tidak terganggu oleh ilmu sihirnya dan mengambil kesempatan melihat bayangan di bawah sinar matahari, maka kesempatan pun menghilang.

Put-lo-sin-sian tidak bergeser, dia tertawa:

"Sin-can Sangjin, kau sudah Jit-koan selama 20 tahun, malah belajar ilmu-ilmu dari Mo-kauw!"

"Budha bukan iblis, iblis bukan Budha, iblis juga Budha, bukan iblis bukan Budha!" kata Sin-can Sangjin di tengah- tengah udara tampak terbang.

"Sembarangan bicara!" kata Put-lo-sin-sian tertawa dan dia juga naik ke atas.

Sin-can Sangjin terbang seperti bangau, ke dua lengan bajunya seperti bangau yang sedang menari saat bermain di Kiu-thian (tempat para dewa).

Put-lo-sin-sian juga terbang, ke kiri 3 kali ke kanan 3 kali, tapi tetap tidak bisa mengejar Sin-can Sangjin.

Di udara Sin-can Sangjin terus menari-nari seperti seekor bangau, dia terbang di atas kepala Put-lo-sin-sian, kedua tangannya berubah menjadi paruh bangau, kemudian berubah menjadi cakar bangau. Mematuk dan mencakar, dengan cepat memaksa Put-lo-sin-sian turun. Put-lo-sin-sian dengan miring kembali ke arah panggung, kemudian mencengkeram kecapi kunonya, kecapi sudah berada di atas pangkuannya.

Bersamaan waktu Sin-can Sangjin juga turun di panggung sebelah sana.

"Ho-bu-kiu-thian memang hebat, awalnya aku tertipu oleh It-seng-hoan-eng juga Ho-bu-kiu-thian, aku kalah," Put- lo-sin-sian tertawa.

Bu-go Taysu, Su Yan-hong, dan Fu Hiong-kun serta murid-murid Siauw-lim melihatnya. Begitu mendengar kata- kata Put-lo-sin-sian, wajah mereka segera terlihat senang, ilmu silat Sin-can Sangjin lebih tinggi dari yang mereka duga, tadi mereka terlalu tegang, sekarang bisa lebih tenang.

"Aku ingin tahu ilmu Kim-kong-can-ting mu seperti apa?" "Selama 20 tahun Kim-kong-can-ting (Kim-kong bersemedi) ingin   meminta petunjuk Jit-sat-kim I nya

Kauwcu!”

"Sobat satu hati sulit ditemui, aku akan I memetik lagunya dengan sungguh-sungguh!" Put-lo-sin-sian membereskan kecapi kunonya.

Sin-can Sangjin melihat, dia segera melambaikan tangan: "Kalian pergilah keluar!"

Bu-go Taysu melantunkan ayat kitab suci, membawa semua orang keluar. Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong terpaksa mengikuti dari belakang.

Sin-can Sangjin menurunkan tasbih dari lehernya, memejamkan matanya sambil menghitung butiran tasbih, dia juga melafalkan ayat kitab suci di dalam hati.

Put-lo-sin-sian membereskan bajunya juga membereskan rambutnya yang berantakan. Bu-go Taysu duduk bersila di lapangan berum put, dia juga menurunkan tasbih dari lehernya dan dengan diam menghitung, Bu-wie Taysu dan anak buahnya serentak ikut menurunkan tasbih dari leher masing-masing.

Su Yan-hong melihat semua hweesio di sana, kemudian melihat Fu Hiong-kun berpesan:

"Hati-hati, Nona!"

Fu Hiong-kun tidak bersuara, dia duduk di atas batu besar sedang mengatur nafas, siap mena-han nada Jit-sat- kim milik Put-lo-sin-sian. Waktu dia memetik kecapi dengan asal-asalan untuk mengantarkan para tamu, itu saja sudah membuat hatinya bergetar, sekarang dia harus sepenuh hati mempersiapkan diri.

Dengan hati-hati Sin-can Sangjin memerintah kan semua orang keluar dari kuil. Fu Hiong-kun tidak menganggapnya berlebihan.

Akhirnya kedua tangan Put-lo-sin-sian menekan senar kecapi. Suaranya seperti guntur membuat tanah bergetar.

Tubuh Sin-can Sangjin bergetar tapi dia segera menenangkan diri, wajahnya tidak berubah, Put-lo-sin-sian melihatnya, dia tertawa dingin, jarinya diputar, suara kecapi berdenting lagi. Dari alunan pelan hingga mengencang, begitu gagah lalu seperti bisa menggeser gunung, menumpahkan air laut.

Burung-burung yang diam di sana segera beterbangan, daun-daun terus berguguran.

Suara kecapi dipetik dengan tenaga dalam, tidak hanya mendesak hati dan roh, juga bisa membunuh makhluk hidup di dunia ini. Sin-can Sangjin seperti tidak punya perasaan, tasbih diputar dengan teratur, bibirnya terus bergetar, dia diam melafalkan ayat kitab suci.

Suara kecapi terdengar keras dan aneh, seperti dipetik asal-asalan tapi jika didengar dengan teliti seperti ada nadanya.

Sepertinya ini adalah alunan musik paling aneh juga penuh dengan hawa siluman.

Sin-can Sangjin tidak mendengar petikan kecapi, awalnya dia hanya melafalkan ayat kitab suci, kemudian dia juga tidak melafalkannya, dia sudah berada pada tahap kosong, semua kosong.

Suara kecapi semakin lihai, semakin aneh, juga penuh dengan hawa siluman.

Bu-go Taysu tidak sekuat Sin-can Sangjin, dari luar terlihat tidak berperasaan tapi dalam hati mulai terkejut dan mulai mengeluarkan keringat dari dahinya.

Ekspresi Su Yan-hong semakin serius, alis Fu Hiong-kun berkerut, tidak sulit melihat dia tampak sedang berusaha menjaga ketenangan.

Para hweesio memiliki reaksi tidak sama, ada yang tubuhnya bergoyang, ada yang menutup telinga, ada yang berguling-guling di padang berumput itu.

Semakin Put-lo-sin-sian memetik kecapi terdengar semakin cepat, jarinya terus menari-nari di atas senar. Jarinya terlihat semakin putih dan semakin mengkilat, akhirnya menjadi 10 batang giok.

Sin-can Sangjin tetap memejamkan mata, tangannya tetap menggulir tasbih, gerakannya semakin pelan, daun yang gugur semakin banyak. Akhrinya dari dahi Fu Hiong-kun keluar keringat, kedua tangan tidak bisa menutup telinganya, dan SRAAT, tusuk konde yang ada di kepal-anya tiba-tiba putus dan melesat keluar.

Su Yan-hong terkejut, dia mengangkat tangan dan tepat bisa menyambut tusuk konde itu, lalu tertawa kecut kepada Fu Hiong-kun.

Fu Hiong-kun segera melihat ke tempat lain.