-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 12

Jilid 12

Ci-liong-ong tersenyum: “Sekarang aku mengerti, jika tenaga dalam seseorang sangat dalam maka ilmu meringankan tubuhnya pun pasti bagus!”

“Prinsip apa itu?” tanya Thi Gan tertawa dingin.

“Aku tidak bisa ilmu meringankan tubuh maka tidak akan mengerti seperti dirimu, tapi aku percaya dengan tenaga dalam ada hubungannya!”

Thi Gan terdiam, Ci-liong-ong melihat Liu Sian-ciu:

“Kalau kau mau keluar duluan, aku tidak akan menentang!”

Liu Sian-ciu menggelengkan kepala:

“Aku belajar ilmu silat terlalu banyak tapi tidak ada yang bisa kukuasai dengan baik, ilmu pedangku jauh dari Giok- koan To-heng, tendanganku tidak bisa menyaingi Pek-jin Taysu, ilmu meringankan tubuhku tidak seperti Thi Gan, kau masih punya tenaga dalam yang bisa diperagakan, sedangkan aku tidak tahu harus memperagakan ilmu apa.”

“Sifatmu tetap seperti itu tidak mau melakukan jika tidak yakin.” Kata Ci-liong-ong tersenyum.

“Kali ini aku tidak punya keyakinan!”

“Kalau begitu aku tidak enak memaksamu bertarung!” Ci-liong-ong dengan sikap malas-malasan berjalan ke depan Bok Touw-toh:

“Bagaimana denganmu?” Bok Touw-toh tertawa kecut:

“Yang aku pelajari adalah ilmu lweekang, tapi tenaga dalam Toa-suheng jauh lebih baik dariku!”

Ci-liong-ong tertawa dan berjalan lagi, dia adalah orang Bu-tai-pai, di kalangan persilatan itu sudah bukan rahasia lagi.

Beng To menatapnya lalu bertanya: “Apakah kau adalah orang yang paling kuat tenaga dalamnya?”

“Tidak juga”

“Lawanku yang paling kuat dalam mengadu tenaga dalam adalah Wan Fei-yang, apakah kau pernah bertarung dengannya?”

“Belum pernah, karena itu aku berani keluar.” “Kau lebih tenang dibandingkan yang lain!”

“Berlatih ilmu lweekang membutuhkan kesabaran, semakin sabar maka tenaga dalamnya akan semakin bagus jika tenaga dalam bagus kesabaran pun akan baik, dengan kesabaran yang baik, maka orang pun akan semakin tenang,” Ci-liong-ong tertawa, “kalau berlatih tenaga dalam tidak tenang maka akan tersesat!”

“Apakah benar seperti itu?”

“Inilah teori dari perkumpulan lurus, kau dari Mo-kauw tidak akan mengerti, kalau kami menamakannya berlatih hingga tersesat kalian menamakannya apa?”

Beng To terpaku.

“Kau tidak mengerti!” kata Ci-liong-ong. “Apa yang perlu dimengerti?”

“Tidak juga...”

“Ku rasa itu hanya sebuah prinsip sederhana, orang sepertimu yang memiliki ilmu lweekang tentunya harus mengerti!”

“Aku tidak mengerti dan kesabaranku pun kurang bagus!”

“Kalau begitu, aku harus curiga bahwa tenaga dalammu tidak didapat karena berlatih sendiri!”

Ci-liong-ong bertanya lagi: “Apakah benar kau bisa mendapatkan tenaga dalam melalui Ilmu Ih-hoa-ciap-bok yang kau peroleh dari Mo- kauw? Memindahkan tenaga dalam orang lain yang didapat dengan susah payah dengan mudah kau masukkan ke dalam tubuhmu sendiri?”

“Apakah kau tertarik?”

“Sebenarnya kesabaranku kalah dari Pek-jin Taysu, sifat dan pembawaanku sejak lahir sudah malas. Aku tidak senang menendang-nendang atau pukul memukul, maka aku memilih berlatih tenaga dalam yang dalam tidur pun bisa dilakukan. Orang yang malas bila memiliki cara berlatih begitu ringan, mana mungkin tidak tertarik?”

“Kau melihat dengan teliti!” Beng To mengangkat tangan kanannya menghadap ke arah Ci-liong-ong.

Kulitnya sudah kembali normal, yang di maksud dengan normal tetap saja tidak senormal orang biasa.

Ci-liong-ong ikut mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya lebih besar dan lebar dibandingkan orang biasa dan berwarna merah tua. Begitu melihat telapaknya sudah terlihat ilmu luar dan dalam orang ini sudah ada dasarnya dan sudah berhasil.

Beng To melihatnya, tapi dia seperti tidak mempermasalahkan. Secara berturut-turut dia sudah mengalahkan begitu banyak pesilat tangguh, kalau tidak percaya diri, itu baru aneh. Ilmu lweekangnya mulai dikerahkan, awalnya di tengah-tengah telapak tangannya muncul warna perak, kemudian dengan cepat meluas, seperti di dalam telapak tapi juga seperti di luar telapak, di bawah siraman sinar matahari terlihat sangat menarik perhatian. Ci-liong-ong melihat semua itu dengan jelas. Dia hanya menaruh sedikit curiga dengan penglihatan matanya, dia tidak begitu mengerti tentang tenaga dalamnya. Tapi dia tidak pernah melihat atau mendengar jenis tenaga dalam seperti ini.

Tenaga dalam Beng To bisa dipaksa keluar dari tubuhnya dan menjadi sebuah benda berbentuk.

Tadi Ci-liong-ong mengira dia sudah melihat dengan jelas, sekarang dia baru merasa walaupun sudah dekat dengan Beng To tapi dia belum bisa melihat dengan jelas.

Perubahan tenaga dalam Beng To sangat cepat, maka Ci- liong-ong mengerti mengapa Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin tidak bisa mendekati Beng To.

Tenaga dalamnya sangat aneh, dia bisa membuat Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin dalam jarak 3 depa tidak bisa mendekatinya. Beng To memang bertarung dengan tangan kosong, tapi sebenarnya dia seperti sedang mencengkeram sebuah senjata yang bisa memanjang atau memendek, bisa berbentuk bulat atau pun persegi, bisa menyerang juga bisa bertahan.

Mo-kauw bisa melatih muridnya hingga menjadi seperti ini, apakah perkumpulan lurus Tionggoan sudah waktunya harus musnah?

Ci-liong-ong sedang menaruh curiga waktu itu telapak tangan Beng To sudah berubah warna menjadi perak, di dalam telapaknya terlihat titik berwarna perak itu semakin membesar dan terus berputar-putar di tengah. Pelan-pelan bergeser ke depan, bersamaan waktu Ci-liong-ong merasa tertekan. Dia menarik nafas, lalu menghembuskannya. Menarik nafas lagi, tangan kanannya semakin lama terlihat semakin merah dia menyambut tangan kanan Beng To. Masih berjarak satu kaki Ci-liong-ong semakin mulai merasakan terkena sesuatu, dia membentak dan menendang, tangan kiri dan kanannya bergerak.

Tapi titik berwarna abu itu tidak memudar, malah terus berputar, akhirnya tangan kanan Ci-liong-ong bisa mendekat dan mengenai cahaya perak itu dan cahaya perak itu segera menjadi terang. Hal ini membuat Ci-liong-ong terpaku, dia merasa pusing, walaupun dia tidak mundur tapi dia merasa harus mundur.

Mulutnya menganga karena terkejut, cahaya abu itu tidak memudar, malah meledak menjadi benang dengan pelan menyebar, dan menyebar membentuk lingkaran dan menutupi Ci-liong-ong.

Dengan sekuat tenaga Ci-liong-ong memaksa tenaga dalam mengalir ke tangan kanannya karena tenaga dalam mengalir, bajunya tampak berkibar dan mengeluarkan suara. Tenaga Beng To yang mengeluar kan ribuan atau puluhan ribu benang seperti terhalang oleh tenaga dalam Ci-liong- ong. Gerakan maju untuk menutupi Ci-liong-ong terhenti dan benang-benang itu pun bergetar.

Ci-liong-ong merasa kepalanya bertambah pusing, benang-benang berwarna perak mulai menganyam dan dengan pelan membentuk sarang laba-laba.

Apakah semua nusi atau Kenyataan' Ci-liong-ong sedang menaruh curiga dan bersamaan waktu tenaga dalamnya terus mengalir ke telapak tangan kanannya.

Jala perak sudah berhenti dianyam, tapi tidak bisa hancur oleh tenaga dalamnya, berarti bila tenaga dalamnya tidak menyambung, jala itu akan menghampirinya.

Karena jala perak berhenti menganyam dia akan segera menyebar ke seluruh penjuru, kemudian menutupi tangan kanan Ci-liong-ong semakin kecil dan mengecil lalu menghilang.

Ci-liong-ong mengerti itu bukan menghilang melainkan karena mata tidak bisa melihat walaupun tenaga dalam sebagaimana kerap dan kuat tapi tetap tidak akan bisa melawan benang-benang yang ribuan jumlahnya dan lebih kecil dari jarum dan lebih kuat untuk menyerang.

Hatinya mulai terasa dingin, segera muncul pikiran untuk mundur, tapi saat itu dia mulai merasakan tangan kanannya seperti dilem.

Apakah ini ilusi atau kenyataan? Dia sendiri pun tidak yakin, tapi dia tidak akan mundur, kalah pun dia akan menerimanya. Tenaga dalamnya masih keluar, ilmu Iweekang 'It-tiauw-liong' (seekor naga) nya dikeluarkannya dengan sempurna dan habis-habisan.

Tapi itu hanya berlangsung sebentar, dia mulai merasakan tenaga dalam Beng To membentuk benang ribuan bahkan ratusan ribu helai di tubuhnya, perasaan yang paling keras adalah di tangan kanannya, tenaga yang keluar segera dililit kemudian dibagi menjadi ribuan helai.

Tenaga dalam Beng To masuk ke dalam tubuhnya, membuat tenaga dalamnya menjadi lamban dan tidak mengalir dengan lancar. Bisa dikatakan hampir berhenti, sebaliknya tenaga dalam Beng To semakin melilit semakin kencang, lalu mulai menyebar ke bagian atas tangan.

Ci-liong-ong benar-benar terkejut, dia mencegah tenaga dalam yang mengalir ke tangannya dan mengumpulkannya di tubuhnya.

Tapi walau bagaimanapun dia berusaha tetap tidak bisa membendung masuk tenaga dalam Beng To yang seperti ribuan helai benang dan bersamaan waktu dia melihat tawa Beng To seakan-akan sedang mengoloknya.

“Kau sudah tidak punya tenaga untuk menahan tenaga dalamku!”

Nada bicara Beng To tidak terjadi perubahan walaupun tenaga dalamnya keluar dan berubah-rubah. Baginya tidak terjadi gangguan apa pun, dia sudah mencapai pada taraf apa yang selama ini dia inginkan, inilah tahap tertinggi.

“Benarkah...” Ci-liong-ong hanya bisa mengucapkan kata- kata ini, selebihnya dia mulai merasakan sulit meneruskan kalimatnya.

“Tenaga dalamku masih terus berubah, apakah kau mau tahu perubahannya seperti apa?”

“Oh...” Ci-liong-ong terlihat curiga tapi dia ingin tahu dan perubahan seperti apa pada Beng To.

Beng To menatap Ci-liong-ong dan melihat keinginannya: “Perubahan berikutnya adalah menghisap tenaga dalam,

mungkin itu hal yang paling membuatmu tertarik!” “Apakah...   harus...   menerima...   menerima   nasihat...

tersebut...” ucapan Ci-liong-ong terpatah-patah tapi masih terdengar gagah, sebenarnya dia terpaksa bicara seperti itu.

Semua pesilat tidak bisa mendengar, mereka merasa Ci- liong-ong penuh wibawa dan gagah perkasa, tapi Pek-jin Taysu menggelengkan kepala:

“Dia sudah kalah!”

Dengan penuh rasa curiga Liu Sian-ciu berkata:

“Dia bicara dengan penuh wibawa, aku melihat dia masih bisa bertahan!”

“Bicara pun sudah terpatah-patah, dia masih bisa bertahan berapa lama?”

Liu Sian-ciu terpaku dan berkata: “Aku tidak berharap akan ada mujizat yang muncul, tapi dia adalah harapan kita satu-satunya...”

Dia tidak meneruskan kata-katanya karena dia mulai melihat wajah Ci-liong-ong terus berubah, keringat terus menetes dari dahinya.

***

BAB 14

Tenaga dalam Ci-liong-ong sudah dililit keluar oleh tenaga dalam Beng To. Sisa tenaga dalamnya berkumpul untuk menyelamatkan tangan kanannya tapi tenaga ini terlilit kembali dan seperti sedang ditarik oleh benang yang jumlahnya ribuan helai.

Bila tenaga dalamnya sudah dililit keluar dari tubuhnya Ci-liong-ong akan mengalami luka dalam atau kehabisan tenaga, butuh waktu lama untuk pulih kembali. Yang membuatnya terkejut adalah sisa tenaga dalamnya pun akan terhisap hingga bersih.

Selain hal ini, muncul perasaan bersalah, kalau tidak, dia tidak bisa membayangkan akan menjadi orang cacat.

Bila dasarnya hancur butuh waktu lama baru bisa pulih kembali. Ci-liong-ong benar-benar tidak bisa membayangkannya, dia meronta ingin keluar dari jeratan benang yang jumlahnya ribuan helai, tetapi semakin dia meronta semakin dililit dengan kuat. Sekarang malah menjalar ke tangan kiri.

Tawa Beng To terdengar semakin jahat, tiba-tiba dia bertanya:

“Sekarang kau tahu memang ada tenaga dalam seperti ini!” Beng To berkata lagi:

“Dulu selain Wan Fei-yang, kau adalah orang yang mempunyai tenaga dalam paling kuat, bila aku mengambil tenaga dalammu, maka aku akan bertambah kuat!”

“Oh   ” Ci-liong-ong berkeringat.

“Tapi sekarang walaupun tenaga dalammu tidak ada, tenaga dalamku akan terus mengalir karena dia bisa bertumbuh sendiri. Tahap penghisapan sudah berlalu, berarti tenaga dalammu tidak akan ada gunanya lagi bagiku, selain itu aku juga sudah tidak tertarik!”

“Apa maumu sekarang?” tanya Ci-liong-ong sambil menarik nafas.

“Apa mauku ” Beng To tertawa, “kalau kau berteriak di

depan semua orang bahwa kau telah kalah, aku akan melepaskanmu!”

Wajah Ci-liong-ong memucat. Beng To berkata lagi:

“Kali ini aku datang ke Bu-tong-san hanya untuk menebar kekuatan, tidak ada rencana lainnya!”

“Marga Beng   ” Ci-liong-ong sangat marah.

“Kesabaranku ada batasnya, kau tahu itu, kalau kau diam saja aku tidak akan menunggu lebih lama lagi!”

Dada Ci-liong-ong berdebar kencang, pikirannya kacau, dia mulai merasa tenaga di tangan kanannya mulai keluar.

“Aku terima kekalahan...” kata-kata ini baru terucap keluar, wajah Ci-liong-ong segera berubah menjadi ungu kemerahan. Dia sangat berpengalaman, kalah atau menang adalah hal biasa, hanya saja selama 20 tahun ini dia tidak pernah kalah. Dia adalah ketua Tong-teng-ouw yang mempunyai 36 cabang. Menginginkan dia tunduk dan bicara dengan nada memohon sungguh tidak mudah, apa lagi berteriak di depan banyak orang, 'aku terima kalah!' sungguh hal yang sulit.

Orang-orang Biauw dan golongan sesat bersorak-sorak. Suara mereka memenuhi lembah dan naik hingga menembus awan.

Beng To segera melepaskan cengkeramannya, dan perasaan tenaga yang ditarik berhelai-helai benang menghilang sangat cepat.

Ci-liong-ong segera merasa terlepas dari segala beban, sisa tenaganya yang sedikit ditarik kembali ke dalam tubuhnya, dengan cepat membesar dan masuk ke tempat semula.

Semua perubahan terjadi begitu cepat dan alami. Ci- liong-ong tidak perlu mengatur nafas bisa merasa sudah pulih kembali.

Dia menarik nafas, kembali ke posisi semula, terdengar Beng To tertawa terbahak-bahak.

Orang-orang suku Biauw dan golongan sesat Tionggoan terus bersorak, mereka bersama-sama menghampiri Beng To.

Orang-orang suku Biauw menganggap Beng To seperti dewa. Sedikit pun tidak merasa semua terjadi di luar dugaan, golongan sesat Tionggoan tadinya masih ragu, mereka datang hanya untuk melihat keramaian, bila terjadi peristiwa tidak sesuai dengan harapan mereka, maka setiap saat mereka bisa kabur, sekarang mereka merasa senang, lebih senang dari orang-orang Biauw bahkan sudah mencapai tahap gila.

Tentu saja Ci-liong-ong dan yang lainnya jadi menundukkan kepala, mereka seperti ayam jago yang kalah adu. Hanya Pek-jin   Taysu   yang masih   bisa menjaga ketenangannya:

“Kali ini Mo-kauw benar-benar senang dan lega.”

Giok-koan Tojin melihat Pek-jin Taysu lalu diam. Pek-jin Taysu berkata lagi:

“Kalah atau menang itu hal biasa, kesempatan ini bisa kita ambil untuk mawas diri.”

“Apakah kau tahu kalau kekalahan kita kali ini berdampak apa?” tanya Giok-koan Tojin.

“Kalau Beng To hanya memamerkan kekuatan dan wibawa perkumpulannya, seharusnya tidak berdampak jelek!” jawab Pek-jin Taysu.

“Bagaimana dengan nasib dunia persilatan Tionggoan nantinya...” kata Giok-koan Tojin.

Tiba-tiba Ci-liong-ong memotong:

“Aku setuju dengan pendapat Pek-jin heng, ada saingan baru akan mengalami kemajuan, apa lagi tampaknya Beng To bukan orang yang sangat jahat!”

Giok-koan Tojin mengangguk:

“Melihat keadaan sementara, memang seperti itu!” “Maksudmu, kau khawatir golongan sesat Tionggoan

akan berbuat kejahatan?”

“Sifat-sifat orang seperti itu harus dimengerti!” kata Giok-koan Tojin.

“Percuma saja kita khawatir, apakah kita harus masuk Mo-kauw lalu menasehati Beng To agar menjadi orang baik?”

Liu Sian-ciu tidak bisa berkata apa pun. “Inilah cara yang baik!” kata Pek-jin Taysu. Ci-liong-ong menggelengkan kepala: “Apakah kalian tidak melihat Beng To bersifat iblis dan sesat, tidak diobok-obok oleh golongan sesat Tionggoan pun tetap tidak akan menjadi lurus!”

Pek-jin Taysu terdiam, tentu saja dia sudah melihat kenyataannya.

“Melihat keadaan dunia persilatan Tionggoan saat ini aku rasa sulit mencari orang yang bisa mengalahkan Beng To, tapi semua ilmu silat pasti ada kelemahannya...”

“Maksudmu adalah...” Thi Gan dengan cepat memotong. “Beritahu semua pesilat tangguh dari semua perkumpulan seperti apa keadaan hari ini, apakah kita bisa mencari kelemahannya, kemudian bersama-sama mencari

cara untuk memecahkannya!” kata Ci-liong-ong.

“Terpaksa kita harus menggunakan cara ini!” kata Giok- koan Tojin.

“Kalau tidak mendapatkannya?” tanya Liu Sian-ciu. “Harus melihat seberapa besar bencana yang akan dia

lakukan, bila mencapai taraf di mana semua orang sudah tidak tahan lagi, waktu itu semua orang harus berkumpul dan dengan sekuat tenaga mengusirnya dari Tionggoan!” kata Ci-liong-ong.

“Apakah sekarang semua orang bisa bertahan atas kegagalan ini?” Tiba-tiba Giok-koan Tojin bertanya.

“Ilmu silat kita di bawahnya, hanya saja dia bukan orang Tionggoan!” kata Ci-liong-ong.

Hati Giok-koan Tojin bergetar, dia merasa di balik kata- kata Ci-liong-ong ada maksud lain, dia segera melafalkan “O- mo-to-hud!”

Mata Ci-liong-ong berputar: “Sekarang kita dengarkan dulu apa yang diinginkan orang Mo-kauw yang tidak terkalahkan itu, mereka ingin kita melakukan apa?”

Beng To sudah kembali ke atas kain yang ada di pundak orang-orang suku Biauw, kedua tangannya melayang, sorakan riuh segera berhenti. Pelan-pelan dia berkata:

“Aku sudah memilih tempat, aku akan meninggalkan gambar kemudian aku akan mengunjungi beberapa perkumpulan besar di Tionggoan, aku harap setelah membereskan pekerjaanku, kalian harus bersiap-siap membangun!”

“Tenanglah, apa yang sudah kami janjikan akan kami melaksanakan!” kata Ci-liong-ong.

“Dengan kondisi tenaga dan dana perkumpulan Tionggoan sekarang, itu hal yang mudah didapat!” kata Beng To.

“Tenanglah!” kata Ci-liong-ong.

“Apa yang harus kukatakan?” Beng To berpikir sebentar baru berkata lagi, “Terima kasih!”

Kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Kata-katanya terdengar sangat sungkan tapi tawanya penuh penghinaan.

Semua pesilat golongan putih marah mendengar tawanya itu tapi apa boleh buat, keahlian mereka di bawah orang yang menertawakan mereka.

Lukisan gedung yang akan dibangun diterima oleh Ci- liong-ong, setelah Beng To dan lain-lain turun gunung mereka baru membuka lukisan itu. Begitu melihat lukisan itu mereka terkejut dan berseru:

“Astaga!”

Giok-koan Tojin dan lain-lainnya segera mendekat, setelah melihat lukisan itu mereka benar-benar terkejut. Lukisan itu sangat bagus dan teliti, sampai-bahan-bahan dan campuran bangunan pun tertulis semua, termuat terhitung dengan jelas, dan cara membangun pun tertulis jelas di sana.

Itu bukan bangunan ala Tionggoan, hanya melihat denahnya sudah dapat dirasakan kemegahan gedung ini.

Ci-liong-ong melihat lukisan itu sekilas dan berkata pelan-pelan:

“Denah bangunan ini dibuat dengan teliti juga menghabiskan waktu yang sangat panjang, orang yang merancang bangunan ini pasti bukan orang Tionggoan!”

“Apakah kau menduga Beng To orang Biauw itu bisa merancang rumah?” tanya Thi Gan.

“Dia tidak terlihat seperti orang yang bisa merancang dan menggambar bangunan!” kata Ci-liong-ong.

“Dia dari suku bangsa Biauw, dia juga murid Mo-kauw dari negeri barat.”

“Apakah ini bangunan dari negeri barat?” tanya Thi Gan. “Sepertinya begitu!” sorot mata Ci-liong-ong tampak

berputar, “aku merasa aneh, sampai sekarang Mo-kauw dari barat belum muncul hingga saat ini!”

“Mungkin sesudah beberapa kali dipukul kalah oleh dunia persilatan Tionggoan, maka mereka tidak percaya diri!” jelas Giok-koan Tojin.

“Atau mereka mempunyai rencana busuk, diam-diam menyiapkan segalanya, bila Beng To kalah mereka akan segera bertindak!” kata Liu Sian-ciu.

“Aku juga merasa seperti itu!” kata Ci-liong-ong, “setelah mengalami beberapa kali kegagalan, mereka pasti akan lebih berhati-hati!”

“Pantas kau selalu melarang kita bergabung untuk menghantam Beng To!” kata Giok-koan Tojin. Dengan santai Ci-liong-ong berkata:

“Aku menentang karena Beng To selalu bertarung sendirian!”

“Apakah orang-orang Mo-kauw diam-diam..”

“Ini hanya dugaan, sebab gaya Mo-kauw selalu seperti itu, kalau mereka tetap seperti itu berarti mereka tidak percaya kepada Beng To, kalau Beng To sampai kalah mereka diam-diam akan mundur dan menunggu kesempatan datang lagi.”

Tiba-tiba Ci-Liong-ong

“Kita tidak perlu sembarangan menduga-duga, orang- orang Mo-kauw muncul atau tidak sekarang apa bedanya, bukankah Beng To sudah mendapat kemenangan dari kita semua?

Giok-koan Tojin terdiam, Liu Sian-ciu bertanya:

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, apakah benar kita harus pergi ke Kiu-hoa-san untuk membangun gedung yang dimintanya?”

“Kita sudah berjanji untuk melakukannya!” kata Ci-liong- ong sambil tertawa, “apakah kita melakukan hal yang salah?”

Liu Sian-ciu terpaku, Pek-jin Taysu menyela:

“Walau bagaimana semua ini bagi kita merupakan semacam tenaga untuk membangitkan tekad berjuang!”

Ci-liong-ong menatap langit dan tertawa, dia setuju dengan apa yang dikatakan Pek-jin Taysu, membangitkan semangat juang, apakah akan berhasil?

Beng To bukan hanya sudah mengalahkan dia, juga memukul hancur kepercayaan dirinya.

Bagaimana dengan yang lain? Saat Wan Fei-yang kembali ke Bu-tong-san, Beng To sudah meninggalkan Bu-tong-san hampir sebulan lamanya. Bersamaan waktu Ci-liong-ong dan lain-lainnya juga telah meninggalkan Bu-tong-san. Murid-murid Bu-tong-pai yang pergi ke Kiu-hoa-san untuk membantu membangun gedung itu pada hari ke-3 baru berangkat.

Ruangan utama gedung itu sudah ditentukan. Berarti hari itulah hari di mana Mo-kauw dari negeri barat masuk ke Tionggoan.

Tampak semua tindakan Beng To sudah direncanakan dan diatur dengan rapi, pastinya semua itu adalah ide Sat Kao. Walau pun sekarang Sat Kao sudah mati tapi Beng To tetap mengikuti rencana semula, apakah karena dia menghormati gurunya ataukah masih ada rencana lainnya, hanya dia sendiri yang tahu.

Orang-orang dunia persilatan Tionggoan atau pesilat golongan sesat semua mengira di belakang Beng To ada banyak pesilat tangguh dari Mo-kauw, mereka menunggu waktu yang tepat untuk bertindak, setelah beberapa kali gagal mereka bisa menyembunyi kan kekuatan mereka.

Bila kemunculan Beng To adalah gerakan awal dari Mo- kauw, apa gerakan berikutnya? Semua orang dunia persilatan mengkhawatirkan keadaan ini. Tidak terkecuali golongan sesat.

Di pagi hari angin masih berhembus dingin, siang dan malam Wan Fei-yang terus melakukan perjalanan, akhirnya dia sampai juga di Bu-tong-san, hatinya terasa agak tenang.

Sepanjang jalan banyak berita yang sudah didengarnya. Semua mengatakan Beng To telah membawa banyak orang- orang golongan sesat naik ke Bu-tong-san, mereka membuka puasa tidak membunuh, sampai ayam dan anjing pun tidak ketinggalan. Awalnya dia curiga kalau gosip itu hanya dibesar-besarkan, tapi setelah beberapa kali mendengar, rasa percaya dirinya mulai goyah karena kesan Beng To terlalu buruk untuknya.

Setibanya di daerah dekat Bu-tong-san, gosip seperti itu tidak terdengar lagi dan di sana terlihat sangat tenang, walaupun mereka hanya rakyat kecil tapi bila di Bu-tong-san telah terjadi sesuatu mereka pasti akan terganggu karenanya.

Setelah masuk wilayah Bu-tong-pai, suasana memang tenang tapi ketenangan ini bukan ketenangan biasanya.

Setelah sampai di dekat batu Kie-kiam-yan (batu tempat melepas pedang) tidak ada seorang pun murid Bu-tong-pai yang berjaga, untuk pertama kalinya Wan Fei-yang melihat keadaan seperti ini, dia menjadi sangat khawatir.

Sesudah lama melakukan perjalanan dan tidak beristirahat, sebenarnya dia sudah merasa sangat lelah, dia sadar bila sudah terjadi sesuatu pun, cepat-cepat ke sana percuma saja, tapi dia tetap ingin cepat-cepat tiba di Bu- tong-san.

Sesampainya di Sam-goan-kong, hati Wan Fei-yang yang dingin mulai terasa hangat, begitu melihat murid-murid Bu- tong-pai sedang berlatih ilmu silat, hatinya baru merasa agak tenang.

Pek-ciok Tojin sendiri yang mengawasi murid-murid Bu- tong-pai berlatih, karena Wan Fei-yang datang dari arah yang memunggunginya maka dia tidak tahu bahwa Wan Fei- yang sudah berjalan mendekatinya, tapi dia melihat murid- murid Bu-tong-pai satu per satu melotot dan berhenti bergerak, lalu bengong di tempat mereka masing-masing. Hatinya bergetar, dia segera menoleh tadinya dia mengira ada musuh kuat yang akan menyerang Bu-tong-pai, setelah melihat yang datang adalah Wan Fei-yang, dia pun segera terpaku.

“Wan Fei-yang...” murid-murid Bu-tong-pai di saat yang sama tiba-tiba berteriak, kemudian berlari ke arahnya.

Pek-ciok Tojin pun tidak terkecuali, pertama dia berlari ke hadapan Wan Fei-yang, mencengkeram pundaknya, rasa haru membuatnya tidak bisa bicara.

Murid-murid Bu-tong-pai mengelilingi Wan Fei-yang, ada yang matanya berkaca-kaca, ada yang tidak bisa berkata apa-apa, sebab Wan Fei-yang adalah satu-satunya harapan mereka, tadinya mereka sudah putus asa.

“Ciang-bun Suheng...” panggil Wan Fei-yang.

Pek-ciok Tojin tertawa, tadinya dia ingin menangis tapi yang keluar malah tawa, tawa terharu bukan menangis.

Tawanya malah memancing murid-murid Bu-tong-pai lainnya menangis.

Wan Fei-yang melihat mereka, dia pun ikut terharu tapi dia berusaha menguasai diri, sampai semua sudah tenang, baru berkata:

“Aku sudah tahu masalah Beng To!”

“Semua sudah berusaha!” jelas Pek-ciok Tojin pelan- pelan.

Wan Fei-yang mengangguk:

“Dengan kemampuan ilmu silatnya sulit ada orang yang bisa mengalahkan dia!” kemudian dia bertanya, “mengapa aku tidak melihat...

Pek-ciok Tojin tahu dia menanyakan Kouw-bok, dengan sedih dia menjawab:

“Dia sudah roboh di tangan Beng To!” “Seharusnya aku tidak mengganggunya, biar dia hidup tenang di dasar lembah itu!”

“Yang paling membuatnya sedih adalah kau kalah di tangan Beng To...”

Wan Fei-yang menarik nafas, teringat pada percakapan mereka sebelum Kouw-bok kemari.

Orang persilatan akan mati! Dia menarik nafas dan berkata:

“Tenaga dalam dan kemampuanku sudah diambil Beng To, tapi aku masih bisa bertahan hidup, perubahan Thian- can-sin-kang memang ajaib, tapi boleh dikatakan aku belum waktunya harus mati.”

“Thian-can-sin-kang membuat orang mati bisa hidup kembali, apakah kau sudah menguasai...”

“Selama masih ada sedikit kesempatan hidup, perubahan itu akan terjadi!” Wan Fei-yang melihat langit, Pek-ciok Tojin ikut melihat ke atas:

“Langit melindungi Bu-tong!”

Wan Fei-yang tertawa kecut, Pek-ciok Tojin bertanya: “Mengenai membangun gedung, apakah kau sudah

mendengarnya?”

“Katanya semua orang setuju membangun gedung untuknya?”

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Ilmu silat kita berada di bawalinya, mau tidak mau harus menyetujui keinginannya, murid-murid Bu-tong-pai mulai berangkat ke sana!”

“Ternyata begitu, tadi aku masih merasa khawatir mengapa murid-murid Bu-tong-pai hanya sedikit...” “Apakah kau merasa aneh murid-murid Bu-tong-pai yang menjaga Kie-kiam-gan sudah ditarik? Aku melakukan semua ini karena ada tujuan.”

“Aku hanya berpikir dari pada bertahan di sana lebih baik kembali ke kuil untuk berlatih ilmu silat.”

Wan Fei-yang mengangguk:

“Menurunkan pedang di sana hanyalah satu formalitas, bila Bu-tong-pai ingin dihormati harus punya kekuatan sendiri, jangan melihat angkatan tua kita yang dulu membuatnya. Suheng bisa mengerti, aku yakin Bu-tong-pai pasti akan punya hari baik.”

“Apakah Beng To tahu Sute hidup kembali?” dia bertanya tapi menjawab sendiri, “tampaknya dia tidak tahu, kalau tidak, dia akan menunggumu di sini.”

“Sekarang kemana dia?”

“Mungkin ke Kai-pang, apakah kau ingin mengejar dan mengajaknya bertarung?”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Aku akan menunggunya di gedung baru yang dia bangun!”

“Apakah kau tidak yakin bisa mengalahkannya?” “Tidak...” Wan Fei-yang sedikit mengeluh.

“Dengan Ih-hoa-ciap-bok dia menghisap tenaga dalam orang lain, maka kemampuannya terus bertambah, apakah ada batas tertentu, aku pun tidak tahu jelas, kalau tidak...”

“Kau harus segera mencarinya, kalau tidak, jarak antara ilmu silat kalian akan semakin jauh!”

“Kalau begitu mungkin ilmu silatnya sudah berada di atasku?”

“Kalau kau bisa segera menemukannya, kau bisa menang dengan mantap!” “Aku hanya ingin bertarung dengannya secara adil! Hanya dengan cara begitu baru bisa mencuci bersih nama jelek Bu-tong-pai yang dikatakan sudah mencuri ilmu lweekang Mo-kauw. Karena ulah seorang murid Bu-tong-pai maka murid Mo-kauw bisa menguasai ilmu iblisnya, sebenarnya hutang ini sudah bisa diperhitungkan dengan jelas.”

Pek-ciok Tojin mengangguk, tanya Wan Fei-yang: “Setelah Hoa-san-pai, apakah Beng To masih

sembarangan membunuh?”

“Tidak, karena itu pula semua orang tidak bergabung untuk melawannya!” jawab Pek-ciok Tojin dingin, “inilah salah satu kepintarannya.”

Wan Fei-yang bertanya:

“Dia memilih Kiu-hoa-san untuk membangun gedung, apa tujuannya?”

“Ci-liong-ong menduga, mungkin Kiu-hoa-san adalah tempat di mana suku asing tinggal, di sana dibangun gedung agar lebih terasa ramah.”

Wan Fei-yang tidak bertanya lagi karena rasa lelah sudah menyerang hatinya.

Pek-ciok Tojin segera bertanya:

“Apakah kau sudah melakukan perjalanan jarak jauh?” “Tidak jauh juga! Tapi aku ingin pergi ke suatu tempat”. Pek-ciok Tojin tahu Wan Fei-yang ingin pergi ke mana,

karena dia tahu Wan Fei-yang seperti apa karena mereka sudah lama bergaul.

Kuburan baru, kuburan baru atau lama tetap melambangkan kematian.

Wajah dan suara Kouw-bok masih terngiang dengan jelas, walaupun saat mereka berkumpul tidak lama tapi kesan orang tua itu kepada Wan Fei-yang begitu mendalam, apa lagi saat dia merasa berada di dunia persilatan tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang Wan Fei-yang juga seperti itu.

Kalau Kouw-bok masih tinggal di lembah itu tidak diragukan lagi dia akan melewati masa tuanya dengan tenang, itu jelas hidupnya tidak ada artinya, paling sedikit Kouw-bok sudah mempunyai perasaan seperti itu.

Mungkin dia sendiri sudah bosan hidup di dasar lembah yang tenang itu. Hanya saja bila Wan Fei-yang tidak muncul, mungkin dia tidak akan naik dan mengabdikan dirinya kepada Bu-tong-pai.

Walaupun dia berhak untuk memilih, tidak ada seorang pun yang akan memaksanya, tapi saat melihat kuburannya, Wan Fei-yang tetap merasa bersalah. Saat Kouw-bok kembali ke Bu-tong untuk memimpin Bu-tong, Wan Fei-yang sama sekali tidak menyangka bahwa kematian akan begitu cepat menjemput Kouw-bok.

Sambil berjalan Pek-ciok Tojin menceritakan tentang pertarungan sengit saat itu, Wan Fei-yang bisa mengerti apa yang dipikirkan Kouw-bok waktu itu.

Di depan batu nisan Kouw-bok dia pun berlutut, menyembah 3 kali, hatinya benar-benar terasa kacau.

Pek-ciok Tojin melihatnya:

“Orang yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup kembali, Sute tidak perlu merasa terlalu sedih!”

“Memang Susiok-kong juga sangat kukuh, kematian kadang-kadang tidak bisa membereskan masalah!”

Pek-ciok Tojin menarik nafas:

“Kalau dia sudah menentukan jalan hidupnya, tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya bukan?” “Bu-tong-pai benar-benar membutuhkan tetua seperti dia,” Wan Fei-yang teringat pada Yan Cong-thian dan ayahnya Ci-siong Tojin.

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Karena Kouw-bok, semua orang jadi bersemangat, dia sangat menguasai ilmu silat Bu-tong-pai, setelah memberi pengertian semua masalah ilmu silat yang sulit bisa diatasi, karena itu ilmu silat murid-murid Bu-tong-pai maju pesat.”

“Susiok-kong tinggal di dasar lembah selama puluhan tahun, tidak ada seorang pun yang mengerti jelas ilmu silat perguruannya sebaik dia.”

“Susiok-kong tidak bosan-bosannya mengajar dan tidak membedakan murid-murid Bu-tong!” Pek-ciok Tojin masih terus bercerita, “aku percaya inilah cita-citanya, dia berharap murid-murid Bu-tong-pai dari atas sampai bawah bisa kompak berlatih dan bisa mengembangkannya!”

“Bu-tong-pai sudah beberapa kali mengalami musibah, banyak pesilat tangguh menunjuk ke Bu-tong-pai, kita harus ulet dan kuat baru bisa berdiri di dunia persilatan!” Wan Fei- yang menarik nafas.

“Semua murid Bu-tong-pai mengerti, mereka tidak bisa hidup karena nama besar orang yang sudah terkenal di Bu- tong-pai!” kata Pek-ciok Tojin.

Sebenarnya Bu-tong-pai sudah beberapa kali kalah oleh Bu-ti-bun, karena Tokko Bu-ti menguasai dunia persilatan maka Bu-tong-pai telah dianggap kalah di mata semua orang, itu wajar dan sudah biasa, tidak ada yang peduli!

Yang pasti selain Bu-tong-pai, perkumpulan lainnya tidak ada yang berani melawan Bu-ti-bun. Bu-tong-pai yang beberapa kali kalah malah jadi lambang kebenaran, paling sedikit golongan sesat dan siluman menganggapnya seperti itu, perkumpulan lurus lain tidak mengaku juga tidak membantahnya.

Bu-ti-bun sangat kuat, kalau hanya menunjuk Bu-tong- pai, perkumpulan mana yang mau ikut campur, mereka takut akan terkena imbasnya, karena Wan Fei-yang telah mengalahkan Tokko Bu-ti maka Bu-tong-pai secara otomatis menggantikan posisi Bu-ti-bun.

Kekuatan Bu-tong-pai seperti apa? Murid-murid Bu-tong- pai sangat mengerti hal ini, sebenarnya mereka hanya mengandalkan Wan Fei-yang seorang.

Kemunculan Kouw-bok benar-benar membuat mereka senang, mereka benar-benar membutuhkan seorang tetua untuk bertahan dari badai dunia persilatan, maka di bawah petunjuk Kouw-bok murid-muird Bu-tong-pai berubah menjadi rajin.

Beng To naik Bu-tong-san dan memberi tahu Wan Fei- yang sudah kalah di tangannya, bagi murid Bu-tong-pai itu adalah pukulan besar, tapi mereka masih mempunyai Kouw- bok.

Tapi Kouw-bok pun akhirnya roboh, tentu saja murid- murid Bu-tong jadi sangat sedih, tapi mereka tidak loyo, seperti perkataan Pek-ciok Tojin mereka mengerti semangat tetap harus ada.

“Itulah kata-kata Susiok-kong!” kata Pek-ciok Tojin.

Apa karena ini maka Susiok-kong memilih bertarung mati-matian dengan Beng To?”

“Bagaimanapun juga, semua orang terharu dengan semangat Susiok-kong!” kata Pek-ciok Tojin menarik nafas.

“Mungkin kau tidak tahu, semua orang datang dengan sukarela kemari untuk berlatih!”

“Baik sekali   ” “Yang ingin pergi dari awal sudah pergi, yang tidak pergi tidak merasa ragu lagi, mereka rela hidup atau mati bersama Bu-tong-pai, walau tidak ada yang bisa diandalkan, tapi semangat harus bangkit, hanya kita yang harus mempunyai harapan ke depan. Untung kau pulang dengan bersemangat, membuat semua orang bertambah percaya diri!” kata Pek- ciok Tojin. Dia menyambung lagi, “Beng To secara berturut turut mengalahkan pesilat dari semua perkumpulan yang ilmu silatnya sudah sangat tinggi, mungkin hanya kau yang sanggup mengalahkan dia!”

Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu, tapi Pek-ciok Tojin sudah berkata lagi:

“Di sini hanya ada kita berdua, jadi kau tidak perlu merasa sungkan!”

“Di luar langit masih ada langit lain, masih ada orang yang berilmu lebih tinggi lagi, aku belum tentu bisa mengalahkan Beng To, orang yang bisa mengalah kan Beng To tentu masih banyak...”

“Tapi pesilat tangguh seperti yang kau katakan sampai sekarang belum muncul!”

“Apakah kau punya rasa percaya diri bisa mengalahkan Beng To?”

“Ada atau tidak, aku tetap akan mencobanya!” “Sute...”

“Suheng harus tahu aku bukan orang yang senang bicara sungkan!”

“Walaupun di sini hanya ada kita berdua...”

Kata-katanya belum selesai dari balik semak-semak kiri muncul 2 orang laki-laki separo baya, mereka mengenakan baju hitam dan wajah mereka terlihat mirip.

Pek-ciok Tojin melihat wajah kedua orang itu: “Kalian berdua adalah...”

“Dua bersaudara Co dan Yu dari Tong-bun terpaksa masuk ke tempat terlarang Bu-tong-pai, harap maafkan kami!” kata sepasang laki-laki berbaju hitam itu.

“Apakah kalian menerima kabar dari sesama murid Tong- bun dan datang kemari?”

“Apakah Wan-tayhiap melihat orang-orang kami?” tanya Tong Thian-co.

“Hanya orang kalian yang berjalan dengan jarak denganku, aku buru-buru kemari...” Wan Fei-yang mengangguk.

“Kami mengerti, di tengah perjalanan murid-murid Tong- bun tidak berani mengambil keputusan!” kata Tong Thian- yu.

“Kalian ingin tahu...”

“Mengenai beradaan ketua Tong-bun!” Tong Thian-yu menarik nafas:

“Tetua kami telah dibunuh oleh Sat Kao dan Beng To, sudah dikuburkan di daerah Biauw, kami sudah menerima kabar ini dari ketua kami melalui surat yang diantar burung merpati. Seharusnya ketua kami sudah berada di Tionggoan, tapi setelah kami menunggu lama tidak terdengar kabar beritanya.”

“Demi menolongku, dia kembali ke daerah suku Biauw...” jelas Wan Fei-yang.

“Sekarang dia ada di...”

“Dia sudah meninggal,” suara Wan Fei-yang terdengar sangat berat.

“Apakah Beng To yang membunuhnya? tanya dua bersaudara Tong Thian-co dan Tong Thian-yu. “Dia kalah bertarung dengan Beng To dan akhirnya tertangkap, lalu dengan senjata rahasianya dia berusaha bunuh diri!” jawab Wan Fei-yang jujur.

Walaupun 2 bersaudara ini telah menduganya tapi reaksi mereka terlihat sangat terharu. Kesetiaan murid-murid Tong-bun sangat terkenal di dunia persilatan. Sebelumnya mereka sudah berusaha mencari keberadaan tetua mereka dan Tong Ling.

“Aku mengebumikan Tong Ling di daerah Biauw!” jelas Wan Fei-yang.

“Terima kasih atas bantuan Wan-tayhiap...” Tong Thian- yu dan Tong Thian-co pun berlutut.

“Dia meninggal gara-gara aku, aku harus melakukan sesuatu untuknya, aku harus membuat perhitungan dengan Beng To!”

“Murid Tong-bun rela membantu!”

“Kata-kata kalian terlalu berat!” dengan bersungguh- sungguh Wan Fei-yang berkata lagi, “aku mengerti isi hati murid-murid Tong-bun, aku juga tidak memandang remeh murid-murid Tong-bun, tapi ilmu silat Beng To berbeda dengan yang lain, semakin banyak orang semakin menguntungkan baginya!”

Tiba-tiba Tong Thian-yu bertanya:

“Apakah ilmu silat orang itu mirip dengan Wan-tayhiap?” “Thian-can-sin-kang berasal dari perkumpulannya, itu

sudah bukan rahasia lagi!”

“Memang senjata rahasia kami tidak bisa membantu Thian-can-sin-kang milik Wan-tayhiap, tentu juga bagi Beng To, kami yang tadinya ingin membantu malah akan membuat Wan-tayhiap terganggu!” kata Tong Thian-co. “Tapi bila membutuhkan bantuan, kami tetap akan ikut membantu!” kata Tong Thian-yu.

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Bila aku mati, semua orang harus bertoleransi, senjata rahasia Tong-bun memang dibutuhkan, mungkin perubahannya akan membuat kalian menang.”

“Kami sudah tahu apa yang harus kami lakukan!” ucap Tong Thian-yu.

“Apakah ketua kami meninggalkan pesan?” tanya Tong Thian-co.

“Kalian harus kompak dan bersatu, sama-sama memuliakan kejayaan perkumpulan!” ini adalah isi hati Wan Fei-yang, tapi dia mengucapkannya dengan sungguh- sungguh seperti pesan Tong Ling saja.

Tong Thian-yu dan Tong Thian-co tidak menaruh curiga, setelah mengucapkan terima kasih mereka pun meninggalkan tempat itu, kedudukan mereka berdua di atas Tong Ling, dari kecil mereka melihat Tong Ling tumbuh dewasa dan mereka sangat hafal dengan sifatnya, mereka juga tahu Tong Ling menyukai Wan Fei-yang.

Mereka tidak bisa melarang tindakan Tong Ling, belakangan mereka mengikuti jejak Tong Ling, mereka berharap Wan Fei-yang bisa melindungi Tong Ling.

Sebelum bertemu dengan Wan Fei-yang mereka masih terus berharap.

Setelah melihat Tong Thian-co dan Tong Thian-yu pergi, Wan Fei-yang bertambah sedih lagi. Pek-ciok Tojin baru bertanya:

“Menurut perkiraan Sute, tindakan apa yang akan mereka ambil?” “Berlatih ilmu senjata rahasia membutuhkan kesabaran luar biasa, ilmu senjata rahasia mereka tingkatnya lebih tinggi dari Tong Ling, mereka pasti orang-orang yang sangat tenang dan tidak akan bertindak gegabah!”

“Pasti akan ada suatu tindakan!” “Berharap sesudah aku mati!”

“Berharap?” kata Pek-ciok Tojin, dengan aneh melihat Wan Fei-yang.

“Aku tidak bisa melarang atau menguasai tindakan orang lain, kalau bisa, banyak hal tidak akan terjadi!” kata Wan Fei- yang sambil menundukkan kepala.

Pek-ciok Tojin juga ikut menundukkan kepala, kemudian Wan Fei-yang dengan suara serak berkata: “Aku percaya pada nasib!”

Nasib menentukan semuanya bukan manusia yang bisa mengubahnya.

Pek-ciok Tojin merasakan nada bicara Wan Fei-yang yang tidak berdaya juga merasakan hati Wan Fei-yang yang galau, seakan lebih tua darinya yang menjadi Suheng nya.

Tidak lama kemudian Wan Fei-yang baru bicara:

“Tapi aku percaya bantuan yang maha kuasa dan kekuatan sendiri, kalimat ini terus meronta-ronta di dalam hatiku.”

“Meronta?” Pek-ciok Tojin tertawa kecut. Sebenarnya dia juga punya perasaan seperti itu, hanya saja tidak setajam Wan Fei-yang, dan kehidupannya tidak berliku-liku seperti Wan Fei-yang, bisa dikatakan hidupnya sangat datar.

Perlahan Wan Fei-yang mengangkat kepala:

“Kadang-kadang aku merasa bahwa aku hanya sebuah mainan, karena ini pula maka masalah yang tadinya tenang berubah menjadi beraneka warna dan beraneka ragam...” “Bagaimanapun hidupmu lebih berarti dibandingkan orang lain!” kata Pek-ciok Tojin.

“Tapi aku lebih rela hidup tenang dan hidup wajar!” kata Wan Fei-yang sambil tertawa.

“Kalau kau percaya pada nasib, kau harus berterima kasih karena ingin berusaha, kau harus berusaha sampai akhir dan semampu yang kau bisa!”

“Maksudku memang seperti itu!” kata Wan Fei-yang sambil berdiri.

Angin kencang meniup bajunya, seperti ingin meniupnya ke atas langit, dia mempunyai perasaan seperti itu, tapi kedua kakinya dengan mantap menapak di sana.

Pastinya angin tidak akan meniupnya, Pek-ciok Tojin melihat Wan Fei-yang, dia menarik nafas:

“Kau benar-benar percaya pada nasib!”

“Aku merasa takut pada nasib,” Wan Fei-yang menatap langit, “aku hanya bisa meronta demi diriku sendiri.”

“Apakah kau bisa?”

“Tidak bisa,” Wan Fei-yang menggelengkan kepala, “kalau tidak, aku tidak akan merasa seperti sebuah mainan, tapi kalau tidak percaya diri, hidup ini tidak ada artinya.”

“Kalau kehidupanku seperti dirimu, mungkin aku bisa lebih mengerti jalan pikiranmu.”

“Kehendak Langit sulit diduga, perasaan tidak bisa diapa- apakan, benar-benar sulit diterima!”

“Hati ingin melakukannya tapi tenaga tidak sampai, itu juga salah satu jenisnya!” kata Pek-ciok Tojin.

Wan Fei-yang terdiam dan menarik nafas.

Angin kencang terus berhembus, daun yang berjatuhan tampak beterbangan. Sekarang sudah musim gugur, dalam suasana seperti ini hati siapa pun semakin sedih. Wan Fei-yang mencengkeran sebuah daun yang gugur sambil menarik nafas:

“Hidup manusia di alam ini banyak waktu yang tidak bisa diatur olehnya sendiri!”

Pek-ciok Tojin menatapnya seperti sedang melihat orang asing, kata-kata seperti ini biasanya bukan kata-kata dari seorang Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melepaskan cengkeramannya, angin meniup daun itu hingga terbang dalam pusaran angin.

BAB 15

Di kabupaten Ceng-yang di bagian selatan ada sebuah gunung bernama Kiu-d-san, tinggi gunung mencapai ratusan tombak, di sana ada sembilan gunung yang berdiri berdempetan, seperti sebuah bunga teratai.

Sewaktu penyair terkenal melancong ke Kiu-hoa-san, bersama penyair satunya lagi yang bernama Sang-bun, mereka menciptakan sebuah puisi.

Puisi itu sebuah puisi biasa, tapi Li-pek adalah seorang penyair yang sangat terkenal, hal ini tidak ada seorang pun yang memungkirinya, gunung Kiu-ci-san yang tidak terkenal setelah dibuatkan puisi oleh seorang penyair terkenal gunung itu pun ikut menjadi terkenal. Yang pasti gunung itu sendiri memang mempunyai keistimewaan tersendiri.

Lekukan sungai mencapai Ta-tong, dari Ta-tong berjalan darat ke Ceng-yang, dari Ceng-yang menuju utara, mulai masuk ke Kiu-hoa-san. Kiu-hoa-san terkenal karena penyair Li-Pek, mendapatkan nama itu karena Kim Jiau-ku.

Kim Jiau-ku adalah dewa tanah.

Empat gunung terkenal di Tiongkok, Bu-tai-san adalah tempat dewa Si Bun-su, Go-bi-san adalah tempat dewa Po- lam, Po-tuo -san adalah tempat dewi Kwan-im, dan Kiu-hoa- san adalah tempat dewa tanah.

Kim Jiau-ku adalah seorang hweesio tinggi dari barat, beliau juga pangeran Sin-lok, pada zaman dinasti Tong, dia bertapa selama 10 tahun lebih, dan pada akhirnya menjadi dewa bumi.

Kim Jiau-ku sebenarnya juga seorang penyair, dia bisa membuat puisi Tionggoan.

Pada zaman dinasti Tong, Cukat Ku membangunkan untuknya sebuah rumah, muridnya pun semakin banyak, dia meninggal saat sedang duduk, setelah meninggal rohnya berbeda dengan orang lain, wajahnya terlihat sangat mirip dengan dewa bumi yang terdapat dalam kitab suci Budha, maka orang-orang percaya kalau beliau adalah dewa bumi yang terlahir kembali.

Karena itu kerajaan Tong memberi nama kuil nya 'Kota Hoa' sejak dinasti Tong, Kiu-hoa-san sudah menjadi tempat suci bagi dewa bumi.

Kim Jiau-ku adalah dewa bumi yang terlahir kembali, dewa bumi adalah dewa yang bagaimana?

Menurut catatan dalam kitab suci Budha, dewa itu adalah dewa Sakyamuni, menolong semua orang yang ada di dunia ini dan sering muncul di neraka untuk menolong orang yang disiksa. Orang menyebutnya penanggung jawab roh halus di bawah tanah. Catatan dewa bumi dalam kitab suci adalah seorang dewa dengan pembawaan tenang dan tidak bergerak seperti bumi, diam berpikir dalam-dalam, dan teliti seperti khazanah, maka dia disebut sebagai dewa bumi.

Mo-kauw pertama kali masuk ke Tionggoan bertekad harus menang, maka tempat yang mereka inginkan menjadi landasan di mana mereka sangat teliti memilih, golongan sesat menganjurkan Kiu-hoa-san.

Sekelompok pesilat sesat ini adalah kelompok orang yang tidak mempunyai pengetahuan dan ingin membuat dunia kacau, mereka hanya tahu kalau Kim Jiau-ku adalah hweesio dari negeri barat dan dari suku berbeda. Tentang Sin-lok berada di barat atau timur mereka tidak peduli.

Hweesio suku lain dari barat tinggal di Tionggoan dan berkembang menjadi besar, ini sangat cocok dengan keinginan Mo-kauw dari barat. Kata-kata Mo-kauw barat datang dari neraka, Kim Jiau-ku merupakan sebutan sebagai penanggung jawab roh halus.

Tapi Mo-kauw barat tidak banyak mengetahui tentang budaya Tionggoan juga tidak terpikir kalau itu semua adalah embel-embel golongan sesat di Tionggoan. Begitu mendengar nama itu mereka menganggap Kiu-hoa-san adalah tempat yang paling cocok, maka mereka pun mulai membangun. Para pesilat Tionggoan dari aliran lurus mulai merasa aneh, awalnya mereka mengira yang datang adalah hweesio Budha, tapi dengan cepat mereka mengerti ternyata bukan seperti itu.

Sewaktu membangun Kiu-hoa-san, Mo-kauw mulai bergerak, mereka berharap begitu bangunan selesai mereka pun bisa menguasai Tionggoan, dan perkumpulan besar di Tionggoan harus ada yang datang untuk mengunjungi dan memberi mereka selamat.

Tapi keinginan mereka semua gagal, seperti pepatah, "Pohon besar roboh, kera-kera pun bubar." Akhirnya rumah istimewa itu tidak selesai dibangun.

Ini adalah cerita lama, setelah itu Mo-kauw dari negeri barat beberapa kali menyerang Tiong-goan ingin menguasai dunia persilatan Tionggoan, tapi selalu gagal, maka istana yang dibangun di Kiu-hoa-san tidak pernah disentuh lagi.

Tapi sekarang cita-cita ini bisa dilaksanakan oleh seorang suku Biauw yang bernama Beng To. Beng To adalah murid Mo-kauw, tapi dia tidak pernah mempunyai hubungan dengan orang-orang dari Mo-kauw, dia juga tidak tahu cara menghubungi mereka, ini adalah salah satu kegagalan gurunya, Sat Kao.

Sat Kao tinggal di daerah perbatasan suku Biauw untuk meneliti ilmu lweekang Mo-kauw, dia tidak tahu kapan baru bisa berhasil, maka dia tidak pernah menghubungi sesama anggota Mo-kauw lainnya.

Selain itu dua tempat itu berjarak sangat jauh, lalu lintas ke daerah Biauw pun tidak leluasa. Walaupun masalah ini bisa beres, menghubungi temannya pun menjadi masalah.

Yang penting adalah kepercayaan diri. Sat Kao sebenarnya adalah orang berbakat, tapi dia tidak mempunyai bahan berlatih ilmu lweekang Mo-kauw.

Dia heran dengan kemunculan Beng To, keberhasilan Beng To juga membuatnya terkejut, dalam kegembiraannya dia ingat harus menghubungi murid-murid satu perkumpulan dengannya, hanya satu hal yang belum terpikirkan olehnya.

... kematiannya begitu cepat menjemput. Kalau dia tahu, dia akan cepat mengatur semuanya dengan baik tapi walau bagaimanapun dia tidak salah memilih murid. Karena kematiannya Beng To tidak mengalami perubahan, dia tetap muncul membawa nama Mo-kauw.

Orang-orang dunia persilatan Tionggoan tidak tahu- menahu tentang hal ini. Mereka mengira di balik Beng To ada banyak pesilat tangguh dari Mo-kauw, mereka sedang menunggu kedatangan anggota Mo-kauw dan siap bertindak.

Kalau sampai bangunan utama istana Beng To sudah jadi dan akan diadakan upacara, apakah para pesilat tangguh dari Mokauw akan muncul?

Banyak orang yang menaruh curiga.

Istana dibangun di gunung Thian-tai, di sana merupakan tempat dengan pemandangan paling indah di Kiu-hoa-san, sebuah sungai yang jernih mengalir melewati gunung. Gunung bertumpuk, air sungai mengalir dengan deras, dan tanah hitam pekat menandakan subur, jurang pun terjal seperti ditepis pisau, dengan kedalaman mencapai ratusan tombak. Semua ini seperti diukir oleh tangan manusia, yang paling aneh, pohon-pohon cemara hijau tumbuh di sela-sela bebatuan, tampak indah seperti bonsai.

Di atas gunung ada sebuah jurang, di sana tertulis, "Bukan dunia nyata." artinya adalah di sana merupakan lingkungan dewa, tapi di mata orang-orang persilatan, di sana adalah tempat iblis.

Istana Beng To sudah selesai dibangun, bisa dikatakan istananya sangat megah, sayang tidak cocok dengan pemandangan sekitar seperti terbang menembus masuk dari langit. Bangunan model barat terlihat di gunung terkenal di Tionggoan benar-benar terasa aneh. Semua sudah berada dalam dugaan Ci-liong-ong, tapi bila sudah berada dalam bangunan itu tidak hanya merasa aneh juga akan terasa tertekan.

Kai-pang dan perkumpulan lainnya ada yang datang, Beng To sudah mengelilingi Tionggoan, dia memang tidak terkalahkan.

Setelah istana selesai dibangun semua merasa sedih, Ci- liong-ong malah tertawa.

Dengan sorot mata heran semua orang menatapnya.

Giok-koan Tojin yang pertama tidak tahan:

"Aku tidak melihat ada yang pantas mem-buat kita senang?"

Kata Ci-liong-ong tertawa:

"Kita membangun istana ini mengikuti denah, bahan yang dipakai pun tidak jauh dengan yang ada di catatan, waktunya pun selesai sesuai perkiraan, perhitungannya sangat tepat, rencananya sangat sempurna, pertama kalinya aku mengalami hal ini juga melihat sendiri, benar-benar mengagumkan!"

"Dari sini terlihat bahwa sesuatu yang disiapkan sempurna dan dilakukan dengan betul, hasilnya akan terasa lebih besar, dari sini kita bisa banyak belajar."

"Inilah hal yang mengerikan dari Mo-kauw!" kata Pek-jin Taysu.

Ci-liong-ong mengangguk:

"Gerakan Mo-kauw sangat teliti dan rahasia, kalau dikatakan tindakan Beng To tepat sesuai rencana, aku tidak percaya!" "Tapi sampai sekarang orang-orang dari Mo-kauw belum ada seorang pun yang muncul, bukankah ini aneh?" tanya Pek-jin Taysu.

"Apa yang sedang mereka tunggu? Apakah keberhasilan Beng To belum cukup untuk membuat mereka tenang?" tanya Ci-liong-ong.

"Berarti ilmu silat Beng To masih mempunyai titik kelemahan yang belum kita lihat!' kata Giok-koan Tojin.

"Mungkin seperti itu!" Ci-liong-ong berkata, "tapi kalau begitu, orang-orang Mo-kauw harus melindunginya dari samping, apakah mereka tidak sanggup melakukannya?"

"Mungkin juga!" kata Giok-koan Tojin. Pek-jin Taysu menyela:

"Kita kembali ke topik tadi, dengan gaya Mo-kauw kalau ada hal seperti ini seharusnya menghapus semua tindakan menunggu kesempatan ini!"

Ci-liong-ong melambaikan tangan:

"Kita tidak perlu berdebat, kecuali kalau kita menemukan kelemahan Beng To, kalau tidak, apa pun tindakan Mo-kauw, bagi kita sama saja, tidak ada bedanya!"

Pek-jin Taysu menundukkan kepala, Giok-koan Tojin seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak jadi. Seorang anak buah Ci-liong-ong berlari ke arah mereka.

"Apa yang terjadi di sana?" tanya Ci-liong-ong.

"Apakah bangunan ada masalah, tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan kita, apakah bagus atau tidak kuat apa peduli kita, apakah istana itu sudah ambruk?" tanya Liu Sian- ciu sambil tertawa.

"Tidak ada hubungannya dengan kita, kita sudah membangun istana sesuai dengan denah, kita tidak mengurangi bahan atau yang lain-lain!" kata Ci-liong-ong. Anah buah Ci-liong-ong sudah berada di depan mereka, dengan tegang dia melapor:

"Sekelompok orang dengan identitas tidak jelas sedang masuk ke dalam istana."

"Mereka dari mana?" tanya Ci-liong-ong.

"Mereka datang secara tiba-tiba dan bergerak cepat, jumlah mereka 20-30 orang, begitu melihatnya mereka sudah masuk melewati tembok dan langsung masuk ke dalam!"

"Apakah tidak ada yang mengenali mereka?" tanya Ci- liong-ong.

"Mereka memakai mantel dan bertopi, wajah mereka terbenam di dalam topi itu, kami tidak melihat bentuk wajah mereka tapi mereka sangat hafal jalan masuk ke istana!"

"Apa anehnya?" Ci-liong-ong tertawa.

"Maksudmu, mereka adalah orang-orang Mo-kauw?" tanya Giok-koan Tojin.

"Selain mereka siapa yang bisa masuk ke dalam?" Ci- liong-ong balik bertanya.

"Seharusnya memang seperti itu!" kata Giok-koan Tojin, "hanya mereka yang bertindak mencuri-curi, pura-pura misterius dan berlagak!"

Dia tidak berkesan baik terhadap Mo-kauw karena di depan banyak orang dia dikalahkan oleh Beng To, dia tidak bisa menerima kekalahannya. Ci-liong-ong dan lain-lain baru mengetahau bahwa orang yang biasanya tenang seperti seekor bangau liar. Pendeta yang dianggap mengetahui semuanya dengan jelas, ternyata tidak seperti itu. Dia yang dianggap sangat penting kedudukannya, ternyata jiwanya sempit hingga di luar dugaan mereka. Mereka kalah oleh Beng To, menerimanya dengan jiwa yang besar, mereka hanya ingin setelah itu menganalisis kembali kekalahan mereka untuk meningkatkan ilmu silatnya, bila ada waktu bertarung lagi dengan Beng To, tapi Giok-koan Tojin seperti tidak tertarik, dia hanya bicara terus, begitu ada kesempatan pasti akan menyerang Beng To. hati Giok-koan Tojin begitu sempit, dia tidak akan merasa teman- teman menunjuknya.

Pek-jin Taysu adalah orang yang bisa diajak mengobrol oleh Giok-koan Tojin, melihat sikap Giok-koan Tojin seperti itu dia merasa terkejut, tapi dia telah terbiasa, maka dia hanya berkata:

"Akhirnya orang-orang Mo-kauw muncul juga!"

"Apa pun yang terjadi, semua masalah sudah jelas, kita tidak perlu khawatir lagi!"

Pek-jin Taysu mengangguk:

"Bila mereka masih bersembunyi dan tidak muncul, kita yang rugi, karena dikhawatirkan mereka mempunyai tujuan lain, kita akan cukup pusing!"

"Sekarang mereka pasti mempunyai tujuan lain!" kata Giok-koan Tojin dengan dingin.

"Senjata terang lebih mudah ditahan!" kata Ci-liong-ong sambil tertawa.

"Kali ini mereka benar-benar datang secara terang- terangan, kalah atau menang menggunakan kepandaian sendiri!" kata Pek-jin Taysu.

"Setahuku, dari awal mereka selalu seperti itu, bila kalah mereka akan naik darah karena malu mereka akan bertarung dengan kacau dan berharap akan ada mujizat yang muncul, supaya mereka bisa tenang kembali!" kata Ci-liong-ong. "Sekarang lebih baik kita tunggu mereka muncul, sesudah tenang..."

Ci-liong-ong tidak membantah, dia hanya tertawa, yang pasti dia tidak tahu bahwa orang Mo-kauw itu tidak seperti yang dia pikirkan, begitu terus terang dan terbuka, seperti Sat Kao tidak hanya perutnya yang dipenuhi dengan rencana busuk, dia pun mengerti kegunaan ilmu guna-guna untuk mencelakai Wan Fei-yang.

Apakah karena tinggal di daerah suku Biauw maka Sat Kao berubah menjadi seperti itu atau sewaktu berada di negeri barat dia memang sudah seperti itu? Yang pasti hanya Beng To yang tahu, apakah sifat Mo-kauw dari barat sudah berubah, yang pasti kemunculan mereka bagi dunia persilatan Tionggoan hanya ada kesan buruk dan tidak baik, satu Beng To saja sudah cukup merepotkan.

Pek-jin Taysu tidak melayani Giok-koan Tojin, dia melihat Ci-liong-ong, tiba-tiba menarik nafas:

"Jujur saja, aku tidak mengkhawatirkan Beng To atau orang-orang Mo-kauw."

"Bagaimana dengan para pesilat Tionggoan golongan sesat?" tanya Ci-liong-ong.

Pek-jin Taysu mengangguk:

"Beng To tidak berbeda dengan suku Biauw biasa, mereka pemberani dan senang bertarung, bila bersatu dengan pesilat Tionggoan yang beraliran sesat, lambat laun dia akan melakukan kejahatan!"

"Apakah sampai waktunya tiba kita baru akan bertindak?" tanya Giok-koan Tojin.

Ci-liong-ong tertawa:

"Sayang kita kalah bertarung dan tidak cepat naik pitam!" "Kita lahir di tempat yang ada sopan santunnya, berbeda dengan orang biadab dan kurang ajar," kata Giok-koan Tojin. Ci-liong-ong tertawa dan bertanya kepada anak buahnya:

"Apakah ada orang di dalam istana itu?" "Tidak ada..."

"Baiklah, paling sedikit bisa mengurangi pertarungan yang tidak diperlukan," kata Ci-liong-ong.

"Begitu Beng To sampai, kita akan tahu lebih jelas!"

Tiba-tiba Thi Gan bertanya:

"Mengapa orang Bu-tong-pai belum ada yang muncul?" "Murid-murid Bu-tong-pai ada yang datang kemari

membangun istana Beng To, berarti dalam masalah ini, tidak ada yang tidak sependapat!" kata Ci-liong-ong.

"Apakah akan terjadi musibah lagi?"

"Nasib Bu-tong-pai memang tidak baik!" Ci-liong-ong melihat murid-murid Bu-tong-pai yang berkumpul di depan istana. Tidak diragukan lagi, mereka terlihat ketakutan, karena pemimpin mereka, Pek-ciok Tojin sampai saat ini belum muncul. Waktu itu ada kabar berita yang mengatakan bahwa Beng To berada di kaki gunung.

Beng To duduk di atas kain di pundak orang-orang Biauw, yang pasti kain itu sudah diganti menjadi lebih mewah, bersamaan waktu baju orang-orang Biauw pun sudah diganti, mungkin karena nasihat pendekar-pendekar Tionggoan beraliran sesat, selain itu tidak ada perubahan lain. Terlihat sejak pertarungan di Bu-tong-san, dia hanya bertekad menaklukkan semua perkumpulan besar Tionggoan. Pesilat-pesilat golongan sesat itu mengikuti kehendak Beng To juga tidak ada waktu memancing melakukan kejahatan. Orang-orang suku Biauw yang mengikutinya, tidak ada yang gugur, berarti tindakannya selama ini sangat berhasil, dia menjadi inti dan dia pun tidak membuat pengikutnya kecewa.

Yang membuatnya merasa menyesal adalah dunia persilatan Tionggoan terpencar di mana-mana.

Jalan lurus yang ditempuhnya terlalu jauh, sampai di istana yang sudah selesai dibangun, dia belum menaklukkan semua pesilat tangguh di Tionggoan.

Walaupun begitu, semua orang sudah mengakui bahwa dia orang nomor satu, yang pasti sebutan ini datang dari para pesilat beraliran sesat.

Awalnya mereka hanya ingin menonton keramaian, sekarang malah merasa cocok dengan Beng To, mereka sepenuhnya mendukung Beng To, juga meren canakan semua hal untuk Beng To, yang merencanakan semakin banyak macamnya.

Semua tidak ditolak oleh Beng To, memang dia tidak merasa ada keburukan. Karena mereka mem buatnya lebih hafal dengan keadaan dunia persilatan Tionggoan, sehingga semua tindakannya lebih lancar dan lebih berjaya.