-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 11

Jilid 11

Awalnya hanya berupa titik hitam dan muncul dari kejauhan, tapi semakin lama semakin cepat mendekati Wan Fei-yang.

Akhirnya sudah berada di depan Wan Fei-yang dengan jarak 10 tombak.

Wajah Beng To terlihat bengis dan jahat, dia tertawa terbahak-bahak, kemudian sorot matanya seperti kilat, tawanya seperti guntur, pikiran yang masih kosong segera menghilang dan berubah menjadi merah darah, api besar dari segala penjuru datang membakarnya.

Sepasang tangan raksasa milik Beng To mencengkeram Wan Fei-yang kemudian dengan cepat membungkusnya.

Waktu itu terjadi kegelapan total, tidak ada yang bisa dilihat Wan Fei-yang, tapi dia merasakan tekanan yang kuat, maka dia pun meronta dan berteriak.

Tentu saja semua itu hanya ilusi, Wan Fei-yang terkejut dan segera tersadar karena ilusi menakutkan itu, matanya segera membuka dengan lebar, tenaga di dalam tubuhnya segera melayang keluar, dia membentak.

Kepompong yang membungkus pun segera digetarkannya hingga pecah dan hancur berkeping-keping, Wan Fei-yang yang ada di dalam kepompong tampak berdiri tegak.

Dia segera mengerti apa yang terjadi, hatinya terus bergejolak, seperti ingin menangis.

Dulu dia terluka berat bukan hanya sekali dua kali, bahkan dia pernah hampir mati, tapi dia masih mempunyai sedikit kesempatan untuk hidup kembali. Kali ini setelah masuk masa hibernasi (Tidur panjang) dia mulai menduga semua itu karena perubahan Thian-can-sin- kang dan dia mempunyai perasaan untuk hidup, tapi perasaan seperti itu sudah sangat jauh, sekarang boleh dikatakan dia tidak ingat lagi.

Dia tidak menangis, tapi matanya tampak berkaca-kaca, sorot matanya melihat mayat Pei-pei.

Mayat Pei-pei masih tetap di tempat tadi. Tapi sekarang hanya tinggal tulang belulang, katanya orang yang memelihara guna-guna setelah meninggal harus cepat-cepat dibereskan kalau tidak ulat dan serangga peliharaan mereka akan berbalik menggigit tuannya sampai mati dan tidak bersisa.

Melihat tumpukan tulang belulang putih itu, Wan Fei- yang sempat membayangkan wajah Pei-pei, dia mengenang masa lalu akhirnya air matanya pun menetes.

Wan Fei-yang adalah seorang yang perasaan, Pei-pei bersamanya hanya dalam waktu yang singkat, tapi dia adalah gadis yang paling akrab dengannya, karena Pei-pei dia masuk ke dalam jebakan, tapi Pei-pei sama sekali tidak sadar karena dia sendiri ditipu dan diperalat Sat Kao, tapi terakhir demi dirinya Pei-pei harus mengorbankan nyawanya.

Gadis yang begitu baik berakhir seperti itu, siapa pun jadi terharu, masalah seperti ini sudah beberapa kali terjadi pada Wan Fei-yang, maka Wan Fei-yang tidak merasa bahwa hidup ini tidak perlu dicurigai, tidak karena itu dia berubah.

Dia rela menerima nasib mengaturnya, karena dia mengerti semua ini, manusia tidak akan bisa melawan atau menolaknya. Kalau orang baik harus meninggal, dia lebih memilih meninggal dan tidak akan menyesal.

Dia memegang pintu rahasia yang sudah dirusak oleh Beng To, dia berniat membuka pintu itu, dengan kepandaian Wan Fei-yang sekarang ini, itu hal yang mudah dilakukan.

Dia merasa tenaga dalamnya lebih kuat dibandingkan dulu. Apakah karena ada kemajuan, dia sendiri tidak tahu, tapi dia mulai memperhatikan kulit tubuhnya, kulitnya mengalami perubahan besar, menjadi bersih dan berkilau, sangat enak dan nyaman dilihat.

Perubahan aneh dari Thian-can-sin-kang membuatnya merasa aneh dan terkejut, akibat terjadinya perubahan ini membuatnya terharu.

Setelah keluar dari lorong bawah tanah, dia melihat tempat yang dirusak Beng To dan melihat dinding yang roboh, serta Tong Ling yang terkapar di belakang dinding di kamar rahasia.

Racun yang keras kabarnya merupakan obat pengawet yang sangat bagus, mayat Tong Ling tidak rusak, malah terlihat seperti masih hidup, hanya saja kulit tubuhnya berubah menjadi ungu kehitaman yang terang, seperti patung manusia yang diukir di atas kayu.

Melihat sepasang mata Tong Ling, Wan Fei-yang bisa merasakan hati Tong Ling yang belum mati, dia tambah terharu.

Matanya yang melotot dengan lebar terlihat di bola matanya kalau dia marah dan sedih, dia tampak putus asa.

Tidak ragu lagi, Tong Ling adalah gadis yang baik, karena ingin menolongnya, malah dia yang celaka.

Tidak hanya terharu, Wan Fei-yang pun merasa menyesal. Sudah berapa lama Wan Fei-yang berada di sini? Dimana sekarang Beng To berada? Dan sudah membuat pekerjaan apa saja?

Akhirnya Wan Fei-yang keluar dari tempat sembahyang

itu.

Tempat sembahyang itu tidak terlihat ada orang Biauw

yang pernah datang ke sana, Wan Fei-yang memutar sekali tempat sembahyang itu akhirnya dia mengambil keputusan untuk menghancurkan tempat sembahyang itu.

Baginya hal yang mudah setelah melihat tempat itu runtuh menjadi puing-puing, melihat serpihan tembok menjadi sebuah kuburan besar, dia baru meninggalkan tempat itu. Entah kapan dia akan kembali tapi walau bagaimanapun dia tidak berharap ada orang yang menemukan mayat Pei-pei dan Tong Ling.

Sebelumnya dia tidak merasakan seperti apa mempunyai nyawa yang pendek, kali ini perasaaan itu muncul lebih keras lagi.

Pagi hari, kabut belum sirna, matahari tampak sudah terbit di ufuk timur, kabut itu di bawah siraman sinar matahari berapa lama bisa bertahan?

Nyawa pun seperti kabut, tiba-tiba Wan Fei-yang merasakan perasaan seperti ini, dia teringat pada gurunya, guru sekaligus ayahnya, Ci-siong Tojin pernah mengatakan, dia berharap Wan Fei-yang dalam kehidupannya yang pendek ini bisa melakukan hal-hal yang berarti.

Hal apa yang dilakukan yang baru berarti? Sampai saat ini Wan Fei-yang masih merasa curiga, tapi sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Angin pagi terasa dingin, yang dirasakan Wan Fei-yang bukanlah dingin melainkan rasa dingin seperti es. Selama beberapa tahun ini dia sudah terbiasa mengalami kesepian yang kental, dia juga terbiasa berjalan tanpa pendamping maka perasaan sepinya sudah bisa diatasinya. Tapi sekarang ini dia mulai merasakan kesepian, dan perasaan ini lebih kuat.

Setelah Beng To menghancurkan Hoa-san-pai, pedang Kiam-sianseng dipatahkan karena orangnya pun sudah meninggal. Beng To marah karena Bu-tong-pai telah mencuri ilmu lweekang dari Mo-kauw dan sekarang dia membawa para pesilat dari Mo-kauw ke Bu-tong-san untuk membuat perhitungan atas hutang lama...

Kabar ini akhirnya terdengar ke telinga Wan Fei-yang, mungkin kabar yang beredar dibesar-besarkan dari kenyataan sebenarnya tapi bagi Bu-tong-pai semua tidak menguntungkan mereka.

Belum jauh meninggalkan tempat sembahyang, kabar dunia persilatan dengan cepat tersebar, tapi sampai ke tempat ini pun butuh beberapa hari, apakah sekarang Beng To sudah pergi ke Bu-tong-san? Apa yang akan dia lakukan terhadap Bu-tong-pai?

Wan Fei-yang terpaksa melakukan perjalana siang dan malam, dia tetap berharap saat dia pulang nanti di waktu yang tepat dan bisa menghadang pembunuhan yang dilakukan Beng To terhadap Bu-tong-pai.

Karena menyimpan harapan maka dia bisa berjalan sangat cepat sambil diliputi kecemasan.

Manusia hidup di dalam harapan, jika sebuah harapan hilang bisa muncul harapan lain, jika tidak ada harapan siapa yang bisa bertahan hidup?

Bok Touw-toh dari Bu-tai-san, ketua Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian-ciu, ketua Tong-teng-ouw Ci-liong-ong, ketua Tiam- jong-pai, Thi Gan, akhirnya tiba di Bu-tong-pai, mereka masing-masing membawa murid dengan jumlah yang lumayan banyak.

Kemunculan Kouw-bok membuat mereka terkejut, tapi mereka tidak seperti Giok-koan Tojin, yang menaruh sikap sangat hormat kepada Kouw-bok. Kouw-bok memang tidak mempunyai nama populer walaupun ada hanya sedikit. Tapi setelah lama waktu berlalu dan menghilang, mereka terkejut ternyata di Bu-tong-pai masih ada pesilat tangguh dari generasi atas, maka mereka tidak berani bersikap kurang ajar.

Di mata mereka kemampuan silat Pek-ciok Tojin masih tidak sejajar dengan mereka, mereka berharap Kouw-bok mempunyai ilmu tinggi dan bisa membantu mereka membereskan Beng To.

Kehancuran Hoa-san-pai dan kematian Kiam-sianseng membuat semua orang terkejut, begitu tahu Wan Fei-yang kalah di tangan Beng To, mereka menduga kembali kemampuan silat Beng To, kalau satu lawan satu mereka tidak percaya diri bisa unggul. Melihat Kouw-bok tampak begitu tenang seperti tidak ada yang di khawatirkan. Mereka secara tidak sadar menggantungkan harapan kepada Kouw- bok, yang pasti mereka akan mendukung Kouw-bok sebagai orang pertama yang menentang Beng To.

Sedangkan mengenai asal usul Thian-can-sin-kang yang berasal dari Mo-kauw tampaknya mereka tidak tertarik.

Bu-tong-pai adalah perkumpulan lurus, walau pun setiap murid Bu-tong-pai menguasai Thian-can-sin-kang tidak membuat mereka terancam. Tapi kedatangan Mo-kauw membuat mereka tidak nyaman dan merasa jiwa mereka terancam. Dulu saat Mo-kauw menyerang dunia persilatan sehingga mendatangkan musibah, kejadian itu sudah tercatat. Sekarang dengan kehancuran Hoa-san-pai merupakan bukti yang bisa dilihat langsung.

Tidak ada masalah yang lebih penting dibandingkan melawan Mo-kauw, dulu gerakan Mo-kauw gagal karena kekompakan dunia persilatan Tionggoan, kali ini pun tidak terkecuali.

Mereka sangat percaya diri setelah mendengar Kouw- bok menjelaskan situasinya, mereka mengaku bila bertarung sendiri-sendiri belum tentu bisa menang dari Beng To. Mereka juga menaruh curiga apakah Beng To sanggup mengalahkan mereka satu per satu. Apakah yang datang hanya Beng To sendiri yang merupakan pesilat tangguh atau ada yang lainnya? Apakah para pesilat Mo-kauw akan datang dan mendukung Beng To?

Mereka tidak mendapatkan kabar mengenai Mo-kauw hanya mendapat kabar mereka sepenuh tenaga akan mendukung Beng To.

Kabar seperti ini semakin santer terdengar, para pesilat tangguh yang datang dari perkumpulan lurus terus berdatangan ke Bu-tong-san, banyak kabar buruk yang mereka bawa.

Walaupun demikian, di Bu-tong-san masih terdengar tawa lepas.

Orang yang tertawa lepas ada yang memang sejak lahir seperti itu, ada yang sengaja tertawa karena ingin membangkitkan semangat.

Di luar Bu-tong-san terlihat begitu tenang apalagi sebelum kedatangan Beng To. Menurut orang-orang sebelum badai datang biasanya langit terlihat lebih tenang dari biasanya.

Waktu perjanjian antara Wan Fei-yang dan sekelompok orang seperti Giok-koan Tojin dan lain-lain telah tiba. Wan Fei-yang tidak muncul, itu sudah dalam dugaan mereka, semua merasa kehilangan, apalagi murid-murid Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin dan Kouw-bok lebih-lebih merasakannya.

Matahari sudah bersinar di atas gunung di Sam-goan- kong. Semua orang berkumpul di depan Sam-goan-kong, kabar sudah menyebar Beng To sudah berada di kaki gunung Bu-tong-san dan sedang bersiap-siap. Pagi ini orang- orangnya naik gunung maka suara lonceng peringatan sudah terdengar, tidak ada seorang pun yang merasa terkejut, tapi tetap saja merasa jantung berdebar kencang.

Suara lonceng terus berdentang dari jauh mendekat, Beng To akhirnya muncul juga.

Dia duduk di atas orang-orang yang menggotongnya, berbaju dan berjubah merah, rambut panjangnya diikat ke belakang tertiup angin sehingga berkibar, terlihat kuat dan berwibawa.

Tempat di mana dia duduk adalah pundak orang, tampak tempat duduknya telah dipersiapkan dan tampak mewah, orang-orang suku Biauw itu terlihat semakin bersemangat.

Selain orang-orang suku Biauw masih ada sebagian orang dunia persilatan Tionggoan yang masuk Mo-kauw, mereka memang mempunyai nama jelek.

Orang-orang itu tidak sanggup membuat kacau dunia persilatan tapi mereka sudah melakukan banyak kejahatan. Mereka juga berniat membuat dunia kacau, setelah kesempatan datang tentu saja mereka tidak akan melepaskan kesempatan ini. Setelah mendengar Beng To akan bertarung dengan semua perkumpulan dunia persilatan Tiong-goan, mereka tertarik dan merasa senang. Maka mereka pun datang dari semua penjuru, lalu bergabung di bawah pemimpin Beng To. Mereka senang mendengar Hoa-san-pai telah hancur, mereka lebih senang saat mendengar Wan Fei-yang telah meninggal. Di dalam hati mereka Wan Fei-yang melambangkan kebenaran dan Wan Fei-yang adalah orang

nomor satu di dunia persilatan Tionggoan.

Mereka tidak pernah melihat Mo-kauw tapi pernah mendengar nama mereka, sangat cocok dengan pola pikir mereka, asalkan bisa mengalahkan semua perkumpulan besar Tionggoan, bisa membuat para iblis sukses, mereka sudah merasa puas.

Tentu saja Beng To tidak menolak mereka yang ingin bergabung, dia ingin melebarkan sayapnya, dia menerima mereka untuk menambah kekuatannya. Dia duduk di atas pundak orang-orang Biauw. Otomatis dia terlihat sangat berwibawa. Dia tidak perlu mengeluarkan apa pun, tapi mendapatkan perasaan seperti ini sudah membuatnya sangat senang.

Karena orang-orang itu terus membuatkan jalan untuknya, maka dia bisa menghindari banyak kesulitan sepanjang jalan, sehingga Beng To merasa lebih nyaman.

Mereka terus menjilatnya, sepanjang jalan mereka tidak hanya mengatur jalan, mereka pun memberikan kehidupan mewah untuk Beng To.

Beng To tidak pernah menikmati fasilitas seperti ini, dia jadi bertambah bersemangat untuk menguasai dunia persilatan dan dia mendengar setelah berhasil menguasai dunia persilatan dia masih akan menikmati banyak hal-hal seperti ini, maka semangatnya semakin berkobar dan tekadnya semakin kokoh.

Dulu Sat Kao memang sudah pernah memberikan petunjuk, tapi Sat Kao bukan orang Tiong-goan, mengenai dunia persilatan Tionggoan dia tidak begitu mengerti, dan tujuannya hanya ingin membuat perkumpulannya berjaya, tidak ada tujuan lainnya.

Setelah Giok-koan Tojin melihat orang-orang aliran sesat itu, kekhawatirannya bertambah lagi.

Apa yang mereka lakukan dia sangat hafal, apalagi setelah bergabung dengan Beng To, dia tidak merasa aneh, yang aneh adalah mereka melakukannya dengan cepat.

Bahaya sudah ada di depan mata.

Beng To berhenti di depan Kouw-bok, oranr-orang suku Biauw berteriakan.

Pertama-tama Ci-liong-ong yang memberikan reaksi, dia berkata dengan pelan:

“Apa yang mereka teriakan?”

Thi Gan dari Tiam-jong-pai segera menjawab sambil tertawa:

“Itulah teriakan untuk memamerkan kekuatan dan wibawa, tidak sulit untuk dipelajari!”

Ketua Tai-ouw segera menyambung:

“Mendengar kata-kata Lo-te tadi, apakah kita akan tunduk kepada mereka?”

Thi Gan tertawa:

“Bila ingin tunduk, lebih baik kepada Anda, setiap hari masih bisa makan kepiting gemuk hasil tangkapan Tai-ouw!”

Ci-liong-ong menyambung: “Kepiting Tong-teng-ouw tidak buruk, bila bosan dengan kepiting Tai-ouw, Anda boleh datang ke Tong-teng-ouw, ke tempatku!”

Thi Gan tertawa:

“Tampaknya marga Thi masih mempunyai daya tarik, baru membuka suara sudah membuat banyak orang memperhatikan kata-katanya.”

Baru selesai bicara, Beng To sudah berteriak: “Siapa yang mewakili Bu-tong-pai?”

Sebenarnya dia tidak sengaja berteriak dengan kuat, tapi suaranya bisa membuat semua orang yang ada di sana mendengar dengan jelas.

Tawa Thi Gan segera membeku, sebagai seorang pesilat tangguh, mana mungkin tidak mendengar teriakan itu, ilmu lweekang Beng To benar sudah mencapai tahap sangat tinggi.

Pesilat lainnya merasa jantung mereka berdebar kencang, mereka sudah mendengar Hoa-san-pai dihancurkan, mereka masih tidak percaya, mereka mengira semua itu hanya gosip, memang gosip terkadang dibesar- besarkan, tapi itu hanya sebagian, dengan kekalahan Kiam- sianseng oleh orang seperti Beng To, bukan hal aneh.

Wajah Kouw-bok tampak datar, dia hanya menatap Beng To, semua sorot mata melihat Kouw-bok, melihat tongkat bambunya sudah dikeluarkan.

Bekas rautan di tongkat bambu itu masih terlihat jelas, berarti belum lama diraut, dan bentuknya tampak sedikit aneh, semua untuk keleluasaan berilmu silat.

Dia tinggal di dasar lembah dalam waktu yang sangat lama, tentu saja dia menguasai ilmu silat yang bermacam- macam dan bisa digabung-gabungkan. Semua jurus bisa digunakan untuk menghasilkan kekuatan besar. Pek-ciok Tojin bisa melihat sewaktu Kouw-bok sedang mengajar murid-murid Bu-tong-pai, saat dia membuat tongkat seperti itu, Pek-ciok Tojin merasa aneh, dalam hatinya dia berkata seharusnya Kouw-bok tidak perlu menggunakan senjata lagi. Tapi setelah tongkat itu selesai diraut, Pek-ciok Tojin baru mengerti, dan tahu bahwa ilmu silat Bu-tong-pai masih banyak perubahannya karena itu Pek-ciok Tojin jadi tambah percaya diri.

Ilmu tongkat yang sudah digubah Kouw-bok, membuat semua murid Bu-tong terpesona melihat gerakannya, tongkat itu bisa bergerak hingga 13 kali perubahan.

Perubahan jurus-jurusnya bisa menambal kekurangan tenaga dalam, tampak Kouw-bok berpikiran seperti itu juga.

Ini adalah pertarungan terakhirnya, maka dia siap mempertaruhkan segalanya. Maka dia menguras pikiran dan akan mengeluarkan semua ilmu silatnya. Sebelum membuat tongkat itu dia sudah memilih berbagai macam senjata, tapi tidak ada yang cocok dan terakhir setelah diubah-ubah baru tongkat bambu ini yang sesuai dengan keinginannya.

Dengan tongkat di tangannya membuat dia percaya diri. Dia mengerti bahwa rasa percaya diri ini melambangkan sesuatu bila tidak ada rasa percaya diri, keberanian untuk bertarung pun tidak ada.

Kouw-bok maju 3 langkah, dia menunjuk Beng To dengan tongkatnya:

“Di Bu-tong-san orang yang mengambil keputusan harus orang Bu-tong-pai!”

“Apakah kau adalah pemimpin Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin?” tanya Beng To. “Pinto ada di sini!” Pek-ciok Tojin menjawab dari tempat jauh.

Beng To tidak melayani Pek-ciok Tojin, dia bertanya kepada Kouw-bok:

“Kau siapanya Bu-tong-pai?” “Namaku Kouw-bok...”

Mata Beng To tampak berputar, lalu melihat orang-orang yang ada di sekeliling yang berekspresi terkejut, dia merasa aneh dan bertanya:

“Kayu apa pun boleh (Kouw artinya kayu yang sudah lapuk), yang penting kau bisa mewakili orang lain.”

“Masih harus melihat hal lain...” Beng To tertawa terbahak-bahak:

“Dunia persilatan Tionggoan masih seperti sepiring pasir, tidak bisa dipersatukan!”

Dengan tenang Kouw-bok berkata:

“Untuk sebagian orang yang otaknya sederhana, yang pasti semua itu sama, tidak ada bedanya!”

Beng To terpaku:

“Kau adalah seorang tua bangka yang pandai bicara, akulah orang yang kau maksud berotak sederhana, tujuanku hanya ingin menguasai dunia persilatan Tionggoan, sekarang aku ingin membicarakan tentang hal ini!”

“Apakah hanya bicara saja?”

“Kalau bisa bicara mengapa tidak? Paling sedikit aku bisa mengirit tenaga!”

“Apa maumu?” tanya Kouw-bok.

“Memilihku sebagai pemimpin dunia persilatan, memberiku sebuah gedung besar!” Beng To seperti dengan enteng mengucapkan, “bila gedung itu sudah jadi, dan aku sudah menjadi pemimpin dunia persilatan, semua orang harus datang untuk memberikan ucapan selamat kepadaku, nanti setiap tahun di hari yang sama, kalian harus menyuruh orang mengantarkan hadiah untukku, tapi tenang saja, kalau tidak ada hal penting aku tidak akan membuat kalian kesulitan!”

Kouw-bok sama sekali tidak memberikan reaksi, semua orang terdiam karena semua itu sudah ada dalam pikiran mereka, maka mereka tidak merasa aneh.

Beng To menunggu sebentar, melihat semua orang tidak ada seorang pun yang mengeluarkan pendapat. Dia segera tertawa:

“Kalau kalian diam, berarti hal ini akan dijalankan seperti yang kukatakan!”

“Lelucon seperti ini jarang ada kesempatan bagi kami untuk mendengarkannya, maka reaksi kami lamban, ingin tertawa pun tidak sempat, yang pasti reaksi yang lainnya pun sama!”

Kouw-bok baru berhenti bicara, Giok-koan Tojin dan yang lain segera tertawa terbahak-bahak, mereka benar- benar tidak menyangka Kouw-bok ternyata penuh rasa humor.

Ci-liong-ong tertawa dan berkata kepada Liu Sian-ciu yang ada di sisinya:

“Jahe tua tetap yang paling pedas!”

“Aku rasa Beng To tidak akan kuat mendengar tawa ini!” kata Liu Sian-ciu.

Benar saja, wajah Beng To segera berubah murung: “ Baiklah, kita tidak perlu bicara lagi!”

Dengan santai Kouw-bok berkata:

“Masakah ini tidak bisa dibereskan hanya dengan bicara!” tongkat yang ada di tangannya segera diletakkan di bawah, “Merebut kekuasaan dunia persilatan bila tidak dengan kekuatan, dulu belum ada sekarang pun tidak mungkin ada!”

“Tujuanku adalah tidak ingin membuat semua orang malu, jadi kalau kalian tidak sudi menerima kebaikanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

“Kau bisa menghancurkan Hoa-san-pai mana mungkin kau peduli pada perkumpulan lain di dunia persilatan Tionggoan?”

“Itu berbeda!”

“Kalau Hoa-san-pai tidak dihancurkan, semua orang tidak akan peduli padaku, tapi aku memilih Hoa-san-pai bukan karena alasan lain, hanya karena Hoa-san-pai sedang bernasib sial!”

“Seharusnya kau memilih Bu-tong-pai!” kata Kouw-bok. “Awalnya aku bermaksud seperti itu, tapi Bu-tong-san

terlalu jauh, aku tidak sempat!” Beng To tertawa lagi. “Apalagi aku yakin setelah aku mengalahkan Wan Fei-

yang itu sudah cukup!”

“Apa benar Wan Fei-yang mati di tanganmu?”

“Ilmu silatnya sudah menyebar ke mana-mana, dan dia sudah seperti orang cacat, di dalam tubuhnya masih ada induk serangga yang akan terus menggerogoti rohnya, dengan demikian apakah masih ada kesempatan untuk hidup?”

“Apa maksudmu dengan induk serangga?” tanya Kouw- bok.

“Diberitahupun kau belum tentu mengerti, lebih baik tidak usah dibicarakan!” kata Beng To.

“Dari awal aku sudah curiga Mo-kauw seperti kalian pasti akan menggunakan cara licik menyerang Wan Fei-yang...” Beng To baru sadar dia sudah salah bicara, dengan cepat dia membela diri:

“Dengan kemampuan ilmu silatku sekarang, Wan Fei- yang bukan tandinganku lagi, untuk apa menggunakan cara licik, induk serangga masuk ke dalam tubuhnya dengan bebas, itu tidak perlu dirisaukan!”

“Apa yang kau katakan kami terpaksa harus mempercayainya!” Kouw-bok terpaksa menjawab seperti itu.

Apa yang sebenarnya terjadi dia tidak tertarik, dia hanya ingin tahu hidup dan matinya Wan Fei-yang.

Oooo oooO BAB 13

“Kalian jangan lupa. Thian-can-sin-kang milik Bu-tong-pai adalah ilmu yang dicuri dari ilmu lweekang Mo-kauw, kalau sudah diadu akan tahu mana yang bagus dan mana yang jelek!”

“Ilmu lweekang Mo-kauw mengandalkan ilmu guna-guna dan menyedot tenaga dalam orang lain menjadi miliknya sendiri. Thian-can-sin-kang milik Bu-tong-pai sudah mendekati ilmu-ilmu perkumpulan lurus, orang yang berlatih Thian-can-sin-kang mengandalkan usaha sendiri dan tidak usah melanggar aturan langit!”

Sebenarnya Kouw-bok tidak terlalu mengerti ilmu Thian- can-sin-kang, karena itu dia mengatakan Thian-can-sin-kang harus mengandalkan kekuatan sendiri, tapi Beng To tidak mengerti, sambil tertawa dingin berkata:

“Walau bagaimana pun Thian-can-sin-kang adalah ilmu lweekang Mo-kauw!”

“Memang kenyataannya begitu!” Kouw-bok mengangguk, “di antara murid-murid Bu-tong-pai hanya Wan Fei-yang yang berhasil menguasai ilmu ini. Kau sudah mengambil ilmu Wan Fei-yang lalu menanamkannya di tubuhmu sendiri, jadi kita tidak saling berhutang!”

Beng To memotong:

“Aku datang bukan untuk membuat perhitungan, kalau tidak, perkumpulan pertama yang harus dihancurkan adalah Bu-tong-pai, aku datang kemari karena di sini banyak orang penting dunia persilatan Tionggoan, setahuku mereka bisa mewakili perkumpulan mereka, kesempatan seperti ini tidak banyak!” berhenti sebentar tanyanya lagi, “Apakah kalian tertarik berbicara denganku?” “Katanya orang Biauw bersifat terbuka dan selalu terus terang, Tuan bukan tipe orang seperti itu, kau orang yang pelupa!”

Beng To terpaku lalu tertawa:

“Benar, tadi aku yang tidak mau mengobrol dengan kalian, tapi ada satu hal yang harus aku jelaskan!”

“Sebelum kau bertanya, tidak ada yang tertarik dengan apa yang akan kau katakan!”

“Tidak disangka, usiamu sudah tua tapi masih bisa berkata dengan jujur dan terus terang!”

“Apalagi anak muda, tentunya harus lebih jujur dan terus terang!” Kouw-bok menunjuk Beng To dengan tongkatnya.

“Bagaimana denganmu dulu?” tanya Beng To.

“Aku yakin semua orang tidak ada yang setuju!” kata Kouw-bok.

Tentu saja semua setuju dengan perkataannya, sorot mata Kouw-bok jatuh ke wajah Pek-ciok Tojin. Pek-ciok Tojin segera maju selangkah dan berkata:

“Murid...”

Baru saja kata 'murid' diucapkan, Kouw-bok segera memotong:

“Kalau aku roboh, kau harus bisa mengambil keputusan...” wajah Pek-ciok Tojin berubah, kata-kata Kouw- bok sudah jelas, dia siap bertarung dengan Beng To hingga titik darah penghabisan. Giok-koan Tojin mendengar semuanya, terhadap tetua Bu-tong-pai ini dia jadi bertambah hormat.

“Kau adalah ketua perkumpulan, kau harus tahu apa yang harus kau lakukan!” kata Kouw-bok.

“Murid mengerti...” Pek-ciok Tojin menarik nafas. Tongkat Kouw-bok diayunkan, dia meloncat tinggi, layaknya seekor burung, naik dan turun secara alami, tidak diragukan lagi ilmu lweekangnya sudah mencapai tahap yang tinggi.

Bersamaan waktu Beng To meloncat meninggalkan bahu orang-orang Biauw-nya. Di tengah udara dia tampak berputar dengan pose yang sangat indah. Gerakannya lancar dan penuh dengan tenaga, tempat yang di mana dia lewat tampak debu dan tanah beterbangan.

Setelah melakukan gerakan sebanyak 18 kali, dia baru mendarat, dia turun di depan Kouw-bok dengan jarak 10 depa, orang-orang dari aliran sesat bersorak-sorak, sampai Beng To menginjak tanah mereka baru berhenti bersorak.

Walaupun tidak ada sorakan keadaan Beng To tetap menarik perhatian Kouw-bok dan lain-lain, mereka tahu Beng To sengaja memamerkan kekuatan dan wibawanya, tapi melihat dia begitu kuat dan gagah perkasa, mereka tidak bisa berkata apa-apa.

Tongkat Kouw-bok menunjuk Beng To:

“Ilmu yang bagus!”

“Apakah kau menerima kekalahanmu?”

“Orang Biauw tetaplah orang Biauw!” Kouw-bok tetap menunjuk Beng To dengan tongkatnya.

“Kalian selalu menganggap rendah orang orang Biauw, hari ini aku akan menunjukan pada kalian bahwa orang Biauw tidak sebodoh yang kalian kira selama ini!”

Tiba-tiba Kouw-bok menarik nafas, dia tidak bermaksud seperti itu, karena Beng To sangat lancang, orang memuji bagus dia segera menganggap orang itu telah mengakui kekalahannya, tidak bisa menerima kerendahkan hatinya. Maka kalimat itu bisa terucap keluar, setelah merasa bersalah tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya.

“Karena kau sudah tua, aku akan mengalah tiga jurus!” “Sudah lewat dari 3 jurus!” kata Kouw-bok.

Beng To terpaku, kemudian tertawa keras, dia langsung menyerang dan Kouw-bok melayang menyambut serangannya, di tengah udara tongkat sudah digerakkan, 6 jurus inti sari ilmu silat Bu-tong-pai dan perubahan tongkatnya segera dikeluarkan, tongkat dan orang seperti menyatu.

Sasaran tongkat adalah tempat-tempat penting di tubuh Beng To dan serangannya sangat tepat. Tenaga dalam Kouw- bok dilancarkan terus menerus melalui tongkat itu, asal terkena pukulan tongkat

Kouw-bok walaupun tenaga dalam Beng To bisa melindungi tubuhnya, tetap saja akan cedera.

Jelas sekali, Kouw-bok ingin bertarung mati-matian, maka seluruh tenaga dalamnya dikerahkan. Dia berharap bisa menyelesaikan pertarungan ini dalam waktu yang singkat.

Orang-orang yang berkerumun di sana, semua terkejut melihat kemampuan silat Kouw-bok. Tidak terkecuali Beng To, dia merasa Kouw-bok adalah seorang pesilat tangguh yang pertama ditemuinya.

Perubahan jurus tongkatnya benar-benar membuat mata orang-orang di sana berkunang-kunang dan membuat siapa pun tidak bisa menduga arahnya.

Murid-murid Bu-tong-pai yang menonton, matanya tidak berkedip sedetik pun, ada yang melihat seperti tergila-gila dan mabuk, mereka hafal dengan jurus-jurus yang dipakai oleh Kouw-bok. Tapi mereka tidak menyangka, jurus-jurus itu bisa dipakai secara bervariasi.

Tentu saja Pek-ciok Tojin pun sangat mengerti, dia adalah pemimpin Bu-tong-pai, walaupun belum menguasai semua ilmu silat Bu-tong-pai, tapi dia sudah membaca semua buku mengenai inti sari ilmu silat Bu-tong. Sebab hanya seorang pemimpin baru berhak melakukan hal ini.

Di juga tahu, tongkat itu dibuat sendiri oleh Kouw-bok, sekarang dia bisa melihat dengan jelas kegunaan tongkat itu. Semakin dilihat dia merasa semakin khawatir, sebab perubahan jurus tongkat Kouw-bok sudah mencapai titik terakhir, tapi Beng To masih bisa meng hadapi Kouw-bok

dengan tenang.

Giok-koan Tojin dan yang lainnya bermata jeli dan berpengalaman banyak, mereka menonton pertarungan dangan mata tidak berkedip. Walaupun merasa terkejut dengan perubahan jurus tongkat Kouw-bok, mereka juga melihat ancaman dari tongkat Kouw-bok kepada Beng To semakin melemah. Tapi mereka tidak melihat ada keanehan apa dari ilmu silat Beng To.

Dua jurus telapak Beng To tidak terlihat rumit, malah cenderung terlihat sederhana, tapi dia mampu di saat yang tepat mencegat serangan Kouw-bok.

Tongkat Kouw-bok selalu mendekati jalan darah Beng To tapi sekarang serangan itu menjadi melamban. Dia sepertinya tahu Beng To akan mencegatnya, maka dia terpaksa mengubah jurusnya, menyerang ke tempat lain, dengan harapan bisa mendapatkan peluang lebih bagus.

Tapi kejadian sebenarnya bukan seperti itu. Tongkat Kouw-bok sama sekali tidak bisa menyerang masuk, baru akan mendekat, segera diusir oleh tenaga dalam Beng To. Tenaga dalam itu sebenarnya tidak kuat juga tidak mengumpul, seperti benang laba-laba, hanya begitu serangan mendekat terasa serangannya dililit, maka Kouw- bok dengan terpaksa menarik mundur tongkatnya.

Sedikit banyak Kouw-bok mengetahui kekuatan Thian- can-sin-kang. Perubahan ini pasti mendekati perkiraannya, kalau sudah terlilit sulit untuk melepaskannya, dan Beng To akan mengambil kesempatan ini untuk masuk!

Setelah ratusan jurus berlalu hati Kouw-bok mulai terasa dingin, dia mulai merasa Beng To seperti laba-laba besar yang diam di sarangnya. Jika ingin mengalahkan dia harus menghancurkan sarangnya terlebih dulu. Tapi berresiko dililit oleh sarang laba-laba itu, malah kalau tidak berhati- hati dia akan terperosok masuk ke dalam lilitan sarang laba- laba dan menunggu untuk dibunuh.

Kouw-bok merasa rasa ingin matinya semakin lama semakin dekat. Pertemuan ini seperti sebuah jarum tajam yang menusuk hatinya yang terdalam, membuatnya merasa dingin juga sakit. Dia membentak dengan suara besar!

Bumi dan langit seperti akan pecah oleh bentakannya. Dia terbang, tongkat dan tubuhnya seperti sebuah anak panah terus melesat ke arah dada Beng To.

Sarang laba-laba itu seperti sudah tertusuk dan terbuka, maka tongkatnya bisa langsung mengancam keselamatan Beng To.

Tapi perasaan seperti itu hanya sebentar, tiba-tiba dia merasa tongkatnya tidak hanya tidak bisa menusuk masuk, malah tongkat dan dirinya bersama-sama sudah dililit oleh sarang laba-laba, dia melihat tongkatnya sudah berada dalam genggaman Beng To dan dijepit dengan kuat. Sekali lagi dia membentak, semua tenaga dalamnya dialirkan ke tongkatnya, dengan seluruh kekuatan dia menusuk Beng To. Saat itu dia merasa ada tenaga besar menghisapnya melalui tongkat, sekali dia mengangkat tenaga dalamnya, segera terasa tenaga dalamnya diikat dan dibawa kembali oleh tenaga yang menghisapnya.

Jalannya tenaga dalamnya seperti masuk ke lautan luas. Dia segera mengerti apa yang terjadi, dia berteriak:

“Kau sudah berlatih hingga tahap Pek-coan-cu-hai!” (Beratus dataran berkumpul di laut).

Tanpa menunggu jawaban Beng To dia membentak lagi, dia mengeluarkan ilmu Sin-liong-si-sui (Naga sakti menghisap air), berusaha menghisap kembali tenaga dalamnya yang sudah keluar.

Sin-liong-si-sui adalah ilmu Iweekang Bu-tong-pai yang sulit dipelajari, karena sulit dipelajari setelah menguasai jurus ini pun jarang digunakan maka murid-murid Bu-tong- pai tidak tertarik berlatih ilmu ini. Ilmu ini dilatih Kouw-bok saat dia berada di dalam lembah, karena bosan dan tidak ada pekerjaan, maka dia melatih semua kepandaiannya, termasuk ilmu Sin-liong-cu-hai. Bisa dikatakan dia adalah murid Bu-tong-pai yang paling menguasai ilmu ini.

Sewaktu berada di dalam lembah dengan ilmu ini dia mengerahkan tenaga dalamnya menghisap ikan sampai keluar dari dasar danau, dia sendiri pun mengira ilmu ini tidak ada gunanya, tidak disangka hari ini dia mempunyai kesempatan menggunakannya.

Hisapannya benar-benar berhasil, maka tenaga dalamnya dengan cepat di tarik kembali. Karena bangga dan puas diri gerakan tubuhnya berubah menjadi enteng. Wajahnya pun tersenyum tapi semua itu hanya berlangsung sebentar kemudian membeku kembali.

Sebab tenaga dalam yang kembali bukan sedikit dan perlahan melainkan bergelombang. Awalnya seperti mengalir lama-lama bergolak dan bertentangan, saling tarik menarik!

Kouw-bok sadar dia tidak akan bisa menerima tenaga dalam yang berkumpul dan saling tarik menarik seperti ini, segera dia mengambil keputusan, dengan kedua tangannya dia menggetarkan tongkat dan berencana mundur. Ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Tapi di antara keduanya ada tongkat, di tongkatnya seperti ada banyak benang yang tidak terlihat dan saling mengikat. Walaupun dia sudah meronta untuk melepaskan diri tapi sudah terlambat sedikit.

Tongkatnya seperti sudah dipasang alat peledak setelah disulut akan meledak dan akan hancur menjadi serpihan.

Tubuh Kouw-bok tergetar dan terhuyung-huyung, telunjuk, ibu jari, dan jari tengahnya hampir putus karena tergetar, dia bersiul, tubuhnya bergerak seperti kincir angin, berputar-putar di udara lalu menerjang ke arah Beng To.

Beng To tidak menghindar, kedua telapaknya diturunkan, tubuh Kouw-bok yang masih berputar-putar segera berhenti. Kedua kakinya yang masih berputar berada di tangan Beng To, bersamaan waktu siulannya berhenti, tubuh bagian atas Beng To berputar, sedang tangan kirinya sudah menempel di atas kepala Kouw-bok.

Lalu kedua tangan Beng To menepuk, tubuh Kouw-bok terbanting, tangan kirinya menancap ke dalam tanah sampai pergelangan tangannya, kaki kanan Beng To menginjak pundak Kouw-bok dan bertanya: “Apakah kau menerima kekalahanmu?”

Kata-katanya baru selesai, tubuh Kouw-bok berputar, tangan kanannya menyabet ke tenggorokan Beng To, jurus yang dipakainya tidak ada dalam catatan ilmu silat. Karena tubuhnya berputar tangan kirinya pun putus karena terpilin, tapi jurus ini bisa dikeluarkan dengan sempurna.

Jurus ini benar-benar membuat Beng To terkejut, tapi reaksinya pun sangat cepat, kedua tangannya segera menghantam tangan kanan Kouw-bok.

Tangan Kouw-bok hancur, lengannya terlepas dari bagian pundak sebab pukulan Beng To menggunakan kekuatan penuh.

Saat kedua telapaknya menghantam, tenaga dalam yang memenuhi tubuhnya, keluar melalui tangan kanannya, tangan kiri Kouw-bok yang diinjak Beng To sekarang semuanya sudah melesak masuk ke dalam tanah. Tenaga dalam yang masih masuk ke dalam tubuh Kouw-bok, menghantam organ dalam Kouw-dok sehingga hancur. Darah muncrat keluar dari mulutnya dia langsung mati seketika.

Akhirnya semua berakhir seperti itu. Yang pasti semua itu di luar dugaan Beng To. Setelah menghancurkan Hoa-san- pai, dia tidak berniat membunuh lagi karena dia berpikir, kalau semua pesilat tangguh terbunuh hingga habis, menjadi nomor satu di dunia pun tidak akan ada artinya lagi.

Jika dia bukan orang yang menyukai keramaian, dia tidak akan muncul dengan cara sepert ini.

Yang pasti dia berpikir bila dia banyak membunuh, lawan akan merasa benci dan sedikit banyak akan mengganggunya saat dia menguasai dunia persilatan. Keberanian Kouw-bok bukan hanya Beng To yang merasa ini di luar dugaannya, semua orang yang ada di sana pun merasa seperti itu. Saat itu suasana menjadi hening, entah karena terkejut atau karena alasan lain.

Pek-ciok Tojin yang pertama yang bereaksi, dia segera berkata:

“Ketua Bu-tong-pai ingin minta pelajaran!” kemudian dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, tangan kiri memegang pedang lalu maju ke depan.

Sorot mata Beng To jatuh ke wajah Pek-ciok Tojin, sikap gilanya muncul lagi, sambil tertawa dia berkata:

“Apakah di Bu-tong-pai tidak ada pesilat tangguh lainnya lagi?”

Pek-ciok Tojin menekan kemarahannya. Dia menunjuk Beng To dengan pedangnya:

“Silakan...” jurus pedang segera diperagakan itulah jurus Bu-tong-pai yang murni, sebab dia mempelajari ilmu pedangnya dengan tekun maka begitu diperagakan sudah terlihat kegagahannya.

Beng To melayang mundur dan bertanya:

“Bagaimana perbandingan antara ketua Hoa-san-pai dan ketua Bu-tong-pai?”

Pek-ciok Tojin tidak menjawab, kegagahan ilmu pedangnya bertambah nyata, dia mengejar Beng To tapi selalu dalam jarak setengah kaki.

“Kiam-sianseng bukan lawanku, apalagi kau!” kata Beng

To.

Walaupun Beng To sedang bicara tapi jarak mereka tidak

berubah. Beng To mulai melayang, Pek-ciok Tojin ikut meloncat, jurus pedangnya terus berubah, 13 kali pedangnya menyerang. Setiap kali menyerang selalu mengarah tempat lemah di tubuh Beng To.

Tubuh Beng To selalu ada kelemahan bila pedang Pek- ciok Tojin masuk pasti akan membuat nyawa Beng To terancam, tapi jarak setengah kaki tidak bisa diperpendek lagi.

Tubuh Beng To terus berputar naik mengikuti jurus pedang, ke kiri atau ke kanan, terkadang saat tubuhnya di udara tampak ringan seperti kapas, seperti terapung di awan, seperti karena dikejar oleh pedang Pek-ciok Tojin dia memang menjadi seperti itu.

Giok-koan Tojin dan yang lainnya melihat situasi yang terjadi, mereka meneteskan keringat dingin, di tengah udara Beng To seperti tidak menggunakan tenaga sama sekali.

Dan juga terlihat begitu tangannya terulur dia bisa mencengkeram tubuh Pek-ciok Tojin dan langsung mencabut nyawanya. Saat Beng To ber-tarung dengan Kouw-bok. Yang mana yang kuat dan yang mana yang lemah tidak terlihat.

Begitu Pek-ciok Tojin menghadapi Beng To yang bagus dan yang buruk segera terlihat. Sebab ilmu silat mereka terlalu jauh, Pek-ciok Tojin sangat mengetahui hal ini. Maka sewaktu tangan kanan Beng To menekan ke atas kepalanya, dia tidak merasa semua itu di luar perkiraannya. Tenaga di dalam tubuhnya bersamaan waktu menyebar, jurus pedangnya pun terhenti bukan untuk menyerang, tapi tenaga untuk mengangkat pedang sudah tidak ada.

Saat pedangnya terjulur ke bawah, semangat berjuangnya pun ikut runtuh, bukan karena dia tidak punya keinginan untuk melawan melainkan karena jarak ilmu silatnya terlalu jauh. Tubuh Beng To sama sekali tidak terkena serangan pedangnya, bagaimana mereka bisa bertarung? Hanya sedikit tenaga yang bisa terkumpul di kedua kakinya, dia mempunyai perasaaan bila Beng To ingin membuatnya berlutut dia lebih memilih kedua kakinya dipatahkan atau mati di sana.

Beng To menekan kepala Pek-ciok Tojin dengan tangannya, dia seperti seekor capung yang sedang terbang, dia memang bermaksud menyuruh Pek-ciok Tojin berlutut untuk mengikis semangat para pendekar. Tetapi dia juga melihat perasaan Pek-ciok Tojin seperti itu maka dia tidak memaksa, hanya bertanya:

“Apakah kau menerima kekalahanmu?”

Pek-ciok Tojin diam, dia harus mengakui kalau ilmu silat Beng To berada di atasnya, sudah menguasai ilmu silat begitu tinggi memang membuat siapa pun akan kagum. Tetapi dalam situasi seperti ini, mana mungkin dia akan berkata seperti itu.

Walaupun senjata sudah dipegang di tangan, murid- murid Bu-tong-pai tidak berani bergerak. Giok-koan Tojin dan yang lainnya pun tidak berani berbuat apa-apa, secepat apa pun gerakan mereka tetap akan kalah dari Beng To.

“Apa pun yang terjadi, kau harus mengakui kalau kau telah kalah di tanganku!” kata Beng To kepada Pek-ciok Tojin.

“Bila ingin membunuhku, sekaranglah saatnya!” Pek-ciok Tojin tertawa dingin.

“Di saat gedung diresmikan, aku masih butuh para pemimpin perkumpulan datang untuk memberikan selamat kepadaku!” Beng To tertawa, dia turun dari atas tubuh Pek- ciok Tojin, kemudian mengangkat Pek-ciok Tojin membuat posisi kepala Pek-ciok Tojin di bawah dan kaki di atas. Orang-orang suku Biauw dan golongan sesat bersorak- sorak atas kemenangan Beng To. Ilmu silat Pek-ciok Tojin memang tidak bagus tapi dia tetap seorang pemimpin Bu- tong-pai. Pertarungan ini dimenangkan Beng To dengan indah.

Dalam suara sorakan itu terlihat tangan Beng To mendorong Pek-ciok Tojin sehingga posisi Pek-ciok Tojin kembali ke tempatnya.

Setelah Pek-ciok Tojin terlepas dari pengaruh Beng To, di tengah udara dia memberontak, tapi tubuhnya tetap tidak bisa dikuasai. Tubuhnya berbalik dan tepat berada di tempatnya tadi. Dengan wajah menghadap ke arah Beng To, hanya kedua kakinya sedikit lagi akan menginjak tempat di mana tadi dia berdiri tadi. Ini saja sudah membuatnya malu, dan membuat semua pendekar terkejut.

Murid-murid Bu-tong-pai berdatangan untuk memapah Pek-ciok Tojin, Pek-ciok Tojin tampak berdiri dengan tenang di sana, dia melambaikan tangan:

“Aku tidak apa-apa!”

Sekarang tenaga dalamnya sudah terkumpul, setelah mengatur nafas tidak ada yang tidak terasa tidak nyaman.

Beng To seperti tahu dan berkata:

“Tenang saja, aku tidak melukaimu!”

Pek-ciok Tojin menatap Beng To, dia tidak tahu harus berkata apa.

Kata Beng To:

“Biasanya ketua sebuah perkumpulan adalah orang yang ilmu silatnya tertinggi di perkumpulannya, mengapa ketua Bu-tong-pai bukan Wan Fei-yang atau Kouw-bok yang tadi?”

Pek-ciok Tojin merasa sedih, bukan karena ilmu silatnya lebih rendah dari Kouw-bok atau Wan Fei-yang melainkan karena terharu. Karena Bu-tong-pai sudah beberapa kali mengalami musibah, para pesilat tangguh Bu-tong-pai banyak yang terluka dan gugur, maka dengan kemampuan ilmu silatnya yang hanya sampai di sana, dia bisa menjadi seorang ketua.

Giok-koan Tojin menyela:

“Setiap perkumpulan mempunyai aturan dalam memilih ketua mereka, hal ini tidak ada hubungannya dengan Mo- kauw!”

“Aku hanya merasa aneh, siapa berikutnya! Kau?” Beng To tertawa.

“Pinto Giok-koan Tojin!”

Giok-koan Tojin mencabut pedangnya. “Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai!”

Pedangnya tidak diragukan lagi pedang yang bagus. Begitu dia mencabut pedang dari sarungnya, tampak sinar terang dan berkilau, sahut Giok-koan Tojin:

“Harap kau mengeluarkan senjatamu!”

Dia adalah pesilat dari kalangan lurus, begitu tangannya memegang senjata tajam, dia tidak mau mengambil keuntungan pada saat musuh tidak memegang senjata.

Tapi Beng To hanya tertawa:

“Dengan kemampuan ilmu silatku, kau masih mengira aku butuh pecahan tembaga dan rongsokan besi?”

“Pedang yang ada di tanganku ini bukan pedang biasa, dia keras dan tidak terpatahkan, Ceng-sia-pai terkenal dengan ilmu pedangnya...”

“Silahkan kau memakai pedang itu!”

“Aku sudah menjelaskan, aku tidak ingin mengambil keuntungan darimu!” “Walaupun pedangmu kuat, asal aku menggunakan pedang apa pun, pedangmu pasti akan putus!”

“Ayo...” Beng To memberi isyarat.

Giok-koan Tojin mengangkat pedangnya, pedang itu seperti bertambah terang, Beng To melihat nya dan berkata: “Pedang itu benar-benar pedang bagus, hanya sayang aku tidak menguasai ilmu pedang yang bagus, kalau tidak,

aku akan tertarik pada pedangmu!”

Giok-koan Tojin membentak, pedang dan tubuhnya terbang ke arah Beng To, ilmu pedang Ceng-sia-pai terkenal karena tubuhnya yang ringan, sekarang Giok-koan Tojin benar-benar seperti seorang dewa.

Beng To melihat ilmu pedang tosu ini lebih bagus dibandingkan ilmu pedang Pek-ciok Tojin.

Dia memang berkata seperti itu tapi sepertinya terjadi sesuatu, sepasang tangannya terjulur ke bawah hingga Giok- koan Tojin mendekat.

“Awas pedang!” Giok-koan Tojin adalah orang lurus, tidak lupa memperingati Beng To.

“Aku tidak buta!” Beng To menyambut serangan Giok- koan Tojin kedua tangannya menepuk, tapi tidak terdengar suara sedikit pun.

Jarak masih jauh, tapi Giok-koan Tojin sudah merasakan kekuatan telapak Beng To. Perasaannya seperti ada ribuan atau puluhan ribu tekanan, tapi tidak terkumpul menjadi satu, dia belum pernah menyentuh tenaga seperti ini, bisa dikatakan belum pernah terdengar, rasa terkejut membuatnya gentar.

Dia mulai merasakan tekanan angin pukulan dengan berat ribuan bahkan puluhan ribu kati, kekuatan ini melilit pedangnya, ilmu pedang yang tadinya ringan dan melayang sekarang berubah menjadi lamban.

Benar-benar seperti sulap, sekarang dia jadi mengerti, tadi pada awalnya Kouw-bok bertarung dengan lancar, kemudian menjadi lamban dan tidak bertenaga semua karena tekanan yang tidak terlihat.

Pikirannya segera berputar, pedangnya segera digerakkan, dia berusaha menepis tekanan ini dan menepis Beng To.

Kalau benda tidak berbentuk ditepis dengan pedangnya yang tajam, itu sangat mudah, tapi sekarang yang terjadi adalah pertarungan tenaga dalam, walaupun pedangnya sangat tajam, percuma saja.

Pedang mengeluarkan cahaya berkilau tapi hanya bisa berkilau di depan Beng To sebanyak 3 kali. Orang yang tidak tahu akan mengira Giok-koan Tojin sedang memamerkan kepandaiannya. Orang yang bisa melihat akan terkejut karena tenaga dalam Beng To begitu kuat. Ci-liong-ong (Raja naga ungu) bisa melihatnya, Pek-jin Taysu menarik nafas:

“Tidak disangka pemuda ini begitu kuat!” Liu Sian-ciu ikut nimbrung:

“Giok-koan Tojin memang mempunyai senjata tajam, tapi jika tenaga dalamnya seimbang, dia bisa menang, jika tidak sulit untuk mengembangkan kemampuannya!”

Ci-liong-ong menggelengkan kepala:

“Orang menggunakan tenaga dalam sebagai senjata sangat banyak, tapi mereka tidak sekuat dia!”

“Pedang Giok-koan Tojin sama sekali tidak bisa mendekatinya, itu saja sudah membuatnya tidak terkalahkan!” kata Liu Sian-ciu. “Kalau tidak terkalahkan bukan berarti dia akan menang!” Ci-liong-ong memang tidak ingin mengatakannya tapi dia sudah kelepasan bicara akhirnya malah tertawa kecut.

Semua orang merasa hati mereka menjadi berat.

Hati Giok-koan Tojin serasa tenggelam, perubahan ilmu pedangnya sudah mencapai tahap terakhir, tenaga yang tidak terlihat tetap tidak bisa diatasi, malah dia merasa kakinya seperti menginjak lumpur, setelah perasaan seperti itu muncul, jurus pedangnya pun ikut berhenti.

Inilah reaksi orang yang masuk ke dalam lumpur, setelah merasa terkejut dan kacau kemudian akan kembali tenang. Katanya bila sudah muncul perasaan seperti itu, semakin meronta akan semakin tenggelam dan tidak bisa bergerak, kemungkinan gerakan akan lebih lamban.

Giok-koan Tojin mulai merasa pedang di tangannya tidak begitu berat lagi, dengan cepat dia menarik pedangnya kembali.

Begitu pedangnya bergerak, perasaan kaki yang seperti masuk ke lumpur terasa lagi, dan lebih hebat, kemudian Giok-koan Tojin memperhatikan wajah Beng To, tampak dia sedang tertawa dan sikapnya penuh dengan ejekan.

Waktu itu Beng To membuka suara:

“Aku rasa lebih baik pedang itu kau lepaskan dan kau mengaku kalah!”

Giok-koan Tojin tampak terkejut dan marah, pedang dicabut, terlihat Beng To bergeser ke depan. Seperti tertarik pada ilmu pedang Giok-koan Tojin.

Inilah kesempatan Giok-koan Tojin mengeluarkan ilmu pedangnya menyerang Beng To. Jarak antara Beng To dan pedangnya sangat dekat. Ilmu pedang Giok-koan Tojin sudah berada pada tahap pedang dan tubuh menyatu, berarti pedangnya bisa berjalan dulu, sayang sekarang pedangnya dililit oleh tenaga tidak terlihat.

Waktu itu dia mempunyai suatu perasaan aneh, dia melihat kedua tangan Beng To mendekati pedangnya, asalkan bisa memutar tangannya dia bisa menepis putus kedua tangan Beng To. Tapi pedang yang dipegangnya seperti diganduli ribuan kati benda, tenaganya sudah siap tapi bergerak dengan lamban.

Akhirnya pedangnya bisa diputar balik, hanya saja dia kalah cepat dari kedua tangan Beng To, sabetan pedangnya tidak mempan, malah dijepit oleh kedua tangan Beng To.

Dia merasakan ada tenaga dalam yang mengalir ke pedangnya sehingga pedang seperti terjepit oleh dua ekor kepiting baja.

Beng To tetap bicara dengan tenang:

“Giok-koan Tojin, kau sudah kalah!”

Giok-koan Tojin membentak, tangan kirinya segera memegang pedang, dia mendorong pedangnya, pedang bertambah berkilau, kedua tangan Beng To menjadi terang, cahaya yang berkilau membuat hati siapa pun menjadi dingin.

Di sana seperti ada sesuatu, tapi Giok-koan Tojin tidak bisa melihatnya dia hanya merasa nafasnya sesak.

Kedua tangan Beng To masih maju, Giok-koan Tojin melihatnya mendekat, tapi dia tidak merasakan apa pun dia merasa ada tenaga tidak terlihat jatuh ke atas tubuhnya.

Tampaknya dari awal memang sudah ada dan sudah melingkupi Giok-koan Tojin, karena itu dia merasa nafasnya menjadi sesak. Sekarang benda itu seperti bertambah berat, jika orang biasa dari tadi sudah roboh. Karena Giok-koan Tojin pernah berlatih ilmu kura-kura beristirahat, maka dia bisa bertahan. Tapi sampai kapankah dia bisa bertahan? Dia sendiri tidak tahu hanya terpikir kalau kematian Kouw-bok begitu menyedihkan tapi terlihat gagah.

Beng To terus mengawasi perubahan sikap Giok-koan Tojin, akhirnya dia menggelengkan kepala:

“Kalian para orang tua jika tidak diberi pelajaran tidak akan mau menundukkan kepala!”

Kata-katanya terhenti, kedua tangannya di longgarkan, Giok-koan Tojin segera merasa terlepas dari tekanan, baru saja jurus-jurus pedangnya siap digunakan, tapi tubuh dan pedang seperti terbawa oleh tenaga tidak terlihat, terbang ke atas, dia bersiul panjang, kemudian kedua tangannya terus berputar, setelah tubuhnya berputar-putar di udara, akhirnya jurus pedangnya bisa diperagakan, tenaga tidak terlihat bisa ditepis hingga terbelah, tubuh dan pedang akhirnya mendapat kebebasan.

Kenyamanan yang dirasa tidak terlukiskan, Giok-koan Tojin bersiul panjang di udara dia terus berputar, kemudian seperti seekor burung dia pun turun.

Ci-liong-ong dan yang lainnya menyaksikan semua itu, mereka bersorak.

Bersamaan waktu itu kedua tangan Beng To bertepuk, tenaga dalam Beng To gelombang demi gelombang menerjang Giok-koan Tojin yang sedang turun dari atas.

Giok-koan Tojin menyambut tenaga tepukan Beng To, satu demi satu lalu berhenti, siulannya pun terputus, tubuhnya terangkat oleh keluatan telapak Beng To sehingga dia naik lagi ke atas. Kemudian Beng To meloncat, sekali lagi menepuk tangannya, tenaga dalam yang kuat terus menerjang Giok- koan Tojin, tubuh Giok-koan Tojin naik lagi ke atas hingga 3 kali.

Tenaga dalam Giok-koan Tojin berada di bawah Beng To, apalagi di tengah udara dia tidak punya kesempatan untuk mengeluarkan tenaganya, maka perbedaannya pun semakin jauh. Tubuh Giok-koan Tojin semakin naik, apa yang Beng To inginkan dia tidak tahu dan tidak bisa berbuat banyak.

Tubuh Beng To jungkir balik di udara, kedua tangannya secara bergantian mendorong, yang satu mendorong ke bawah yang satu lagi mendorong Giok-koan Tojin, hanya sekejap sudah membuat tubuh Giok-koan Tojin naik setinggi

10 tombak, orang orang Biauw dan golongan sesat jadi bersorak-sorak, Ci-liong-ong dan Pek-ciok Tojin sudah tidak bisa tertawa, wajah mereka berubah terus.

Apa yang sedang diperbuat Beng To, mereka tidak mengerti, mereka hanya tahu bila Giok-koan Tojin sampai terbanting ke bawah, tentu akan berakibat fatal.

Setelah sampai pada ketinggian 5 tombak Beng To baru turun, gayanya saat turun tidak begitu indah, tapi tidak diragukan lagi sangat tenang dan tanpa mengeluarkan suara. Saat itu juga Giok-koan Tojin turun, dia turun dengan keadaan kalang kabut, ilmu meringankan tubuhnya sebenarnya bagus tapi terjatuh dari tempat setinggi itu belum pernah dialaminya, ditambah terganggu tenaga dalam Beng To, tubuhnya jadi tidak bisa bergerak dengan leluasa. Karena gugup pedangnya otomatis menunjuk ke

bawah. Pedang turun terlebih dulu, tubuhnya mengikuti dengan kencang, dengan kemampuan ilmu silatnya asal ada peluang luncuran tubuhnya tentu bisa diperlambat.

Sewaktu dia sedang berpikir, Beng To sudah melayang dan kedua tangannya menghantam, dia tidak akan bisa menghindari serangannya, yang membuatnya menyesal dia tidak punya kesempatan menyambut serangan.

Ci-liong-ong dan yang lainnya melihat dengan jelas. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka melihat Beng To menyerang Giok-koan Tojin.

Anehnya serangan ini tidak mengeluarkan suara, Giok- koan Tojin jelas-jelas dihantam oleh telapak Beng To tapi dia tidak bereaksi apa pun, hanya terlihat tubuhnya berguling- guling seperti sebuah bola yang padat akhirnya dia turun dengan posisi berdiri.

Wajah Giok-koan Tojin terlihat murung tapi dia tampak tidak terluka, dia juga bisa berdiri dengan tegak lalu menarik nafas panjang:

“Tenaga dalam orang ini tidak terukur, aku bukan lawannya, pantas Wan Fei-yang bisa kalah darinya!”

Ci-liong-ong dan Pek-jin Taysu baru merasa tenang, sebab Giok-koan Tojin terlihat tidak kurang sesuatu, tidak ada yang terluka sedikit pun.

Pek-jin Taysu tertawa kecut:

“Dia sengaja memamerkan kepandaiannya!”

“Dia ingin menunjukan bahwa kemampuannya sudah mencapai tingkat seperti itu, kita tidak bisa berkata apa-apa lagi!” kata Ci-liong-ong.

Tiba-tiba Liu Sian-ciu bertanya kepada Giok-koan Tojin: “Menurutmu, kalau kita bergabung, apakah kita bisa

mengalahkan dia?” Tanpa berpikir lagi Giok-koan Tojin langsung berkata: “Bertarung satu lawan satu pada akhirnya mungkin akan

berakhir seperti diriku, seharusnya aku tidak berkata seperti ini, tapi tenaga dalam orang itu benar-benar tidak terukur, kita tidak bisa mendekatinya sama sekali, punya senjata di tangan pun percuma, kalau kita bergabung dan menyerangnya, mungkin tenaga dalamnya tidak akan bisa menguasai ke seluruh penjuru, tapi mungkin...” Giok-koan Tojin berhenti bicara.

Kata Liu Sian-ciu:

“Jika bergabung kita mungkin kita bisa mengalahkan dia, tapi itu baru kemungkinan, walau bagaimana nama kita akan tercoreng, sebab dengan jumlah banyak menghadapi lawan yang berjumlah sedikit, nama kita jadi tidak enak untuk disandang!”

“Aku sudah terpikirkan akan hal ini!” kata Giok-koan Tojin, “saat Mo-kauw menyerang Tiong-goan, selalu berhasil dikalahkan oleh pesilat Tiong-goan, maka mereka akan bersama-sama menyerang terlebih dulu!”

“Itu karena setiap kali menyerang satu lawan satu, lebih banyak kalahnya dari pada menangnya, maka dengan terpaksa mencoba-coba dulu, tapi keada an sekarang sangat berbeda,” Ci-liong-ong tertawa kecut, “dengan adanya Beng To yang begitu kuat, mana mungkin mereka tidak akan memperalatnya?”

“Benar...” jawab Pek-jin Taysu, dia teringat pada perkiraan Kouw-bok, Giok-koan Tojin pun demikian.

Dia menarik nafas:

“Perkumpulan bisa melakukannya tapi kita tidak, kalau tidak, di dunia ini tidak akan ada berbedaan antara yang sesat dan yang lurus,” lalu dia melanjutkan lagi, “lawan datang dengan jantan menantang kita, kita pun harus dengan jujur menyambut tantangan mereka!”

“O-mi-to-hud!” Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha, sorot mata Giok-koan Tojin menatap Pek-jin Taysu, dia menggelengkan kepala:

“Tadi aku hampir mati!”

Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha lagi:

“Kalau keahliannya tidak setinggi lawan, kalah adalah hal biasa, itu bukan suatu penghinaan, hanya saja kita sudah tua, mungkin tidak akan mengalami kemajuan lagi!”

“O-mi-to-hud...” sekali lagi Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha, dia sangat emosi.

Giok-koan Tojin kalah dalam pertarungan ini, l lalu berpikir untuk bergabung dan menyerang Beng To, cara ini bagi orang lain lebih terpikir lagi.

Tawa Beng To memecah keheningan: “Berikutnya siapa?”

“Pek-jin Taysu dari Siauw-lim-pai..

Pek-jin Taysu membawa singkupnya dan mendekati Beng

To.

“Menurut kabar   Siauw-lim-pai   mempunyai   72   ilmu

istimewa yang sangat terkenal, hari ini aku senang punya kesempatan menyaksikannya,” kata-kata Beng To terdengar sangat sungkan, tapi tidak terlihat dari sikapnya.

“72 jurus Siauw-lim, aku hanya mempelajari 45 jenis saja,” singkup Pek-jin Taysu mulai bergerak, jurus 'Kang-mo- cap-pwee-sut' sudah dikeluarkan (18 jurus penakluk iblis).

Singkup tidak setajam pedang Giok-koan Tojin, tapi beratnya 10 kali lipat dari pedang Giok-koan Tojin. Disapukan oleh kedua tangan Pek-jin Taysu, gerakannya cepat dan menimbulkan gelombang keras, tempat yang dilewatinya tampak debu dan tanah beterbangan dengan hebat, sungguh membuat siapa pun jadi gentar.

Tapi senjata apa pun bagi Beng To tidak ada bedanya. Sesudah Pek-jin Taysu menyerang hingga jurus ke-9, singkup sudah tidak bergerak dengan leluasa, akhirnya dia mengerti apa yang dikatakan Giok-koan Tojin 'tidak terukur' sekarang dia pun harus mengakui bahwa benar-benar tidak terukur.

Singkup sudah tidak bisa digunakannya lagi. Selain hanya menghabiskan tenaga dalam, dia merasa tidak ada gunanya. Tapi ingin membuang singkup itu pun bukan hal yang mudah. Kekuatan tidak terlihat dari Beng To seperti mengikat kedua tangan dan singkup itu. Akhirnya singkup berhasil ditancapkan ke tanah, baru kekuatan itu menghilang dan bisa bertarung dengan tangan kosong.

Tenaga dalamnya segera disalurkan ke jari tengah tangan kanannya, kemudian diringi 'Say-cu-houw' (auman singa) jari tengahnya menunjuk dada Beng To.

'Say-cu-houw' dan 'Kim-kong-ci' (Jari Kim-kong) adalah salah satu dari 72 jenis ilmu istimewa Siauw-lim, ilmu ini sulit dilatih dan sulit berhasil sampai tahap memuaskan jika bukan karena Pek-jin Taysu luar biasa sabar, dia tidak akan melatih kedua jenis ilmu ini. Pek-jin Taysu bisa melatih kedua ilmu ini sampai tingkat atas.

Auman itu membuat angin dan awan seperti ikut terkejut, Beng To juga terpaku, saat itu Kim-kong-ci segera menyerang Beng To.

CES CES terdengar, Pek-jin Taysu merasa tenaga dalam Beng To yang keluar, terpecah oleh kekuatan Kim-kong-ci nya. Tapi perasaan Beng To sangat tajam, reaksinya pun sangat cepat, segera tangan kanannya mengepal, dia menyambut Kim-kong-ci yang menyerangnya.

Kepalan tangan kanannya dijulurkan, warnanya putih tidak seperti kulit manusia biasanya, tidak diragukan lagi semua tenaga dalamnya sudah ter kumpul di sana.

Arah Kim-kong-ci milik Pek-jin Taysu tidak berubah dan menusuk kepalan tangan kanan Beng To, Pek-jin Taysu tahu jika dia menyerang bagian lain tentu akan lebih baik hasilnya. Tapi dia juga tahu Beng To akan merobah gerakan dengan cepat, akhirnya Kim-kong-ci tetap akan mengenai kepalan Beng To, Pek-jin Taysu juga tahu semakin lama bertarung kekuatan Kim-kong-ci akan semakin melemah.

Sewaktu dia sedang berpikir, jari dan kepalan tangan sudah mengenainya, tapi dia melihat jarak jarinya dengan kepalan Beng To masih ada 3 inchi lagi.

Kemudian jarinya merasa seperti mengenai sebuah benda kuat dan liat. Pek-jin mengeluarkan aumannya dan Kim-kong-ci bisa masuk sedalam 1 inchi lagi.

Bersamaan waktu Beng To pun membentak, kemudian kepalan tangan kanannya didorong ke depan, dia memang tidak pernah berlatih Say-cu-houw tapi tenaga dalamnya sangat kuat, bentakannya menggetarkan langit dan bumi, bahkan bisa menutupi auman Pek-jin Taysu.

Bersamaan waktu tubuh Pek-jin Taysu tergetar oleh kepalan tangan Beng To hingga terdorong sejauh 2 depa. Kepalan tangan kiri Beng To menusul menghantam, kedua kepalan tangannya silih berganti menghantam sebanyak 7 kali dan membentak beberapa kali, memaksa Pek-jin Taysu mundur hingga 10 depa. Suara yang keluar besar dan kuat, tidak ada yang bisa menandingi. Pek-jin Taysu mundur dan terus mundur lagi. Karena kekuatan tenaga dalam Beng To, Kim-kong-ci tidak bisa dikeluarkan kedahsyatannya, dia menarik nafas panjang,

Beng To tidak menyerang lagi, terlihat dia tertawa: “Apakah Taysu mengaku kalah?”

“Terimalah jurus kakiku 'Kwan-im-cu'!” (Kaki Kwan-im), Pek-jin Taysu mengangkat kaki kirinya, dia berdiri dengan sebelah kakinya, melayang ke atas, kemudian kaki kanannya menendang Beng To.

Kwan-im-cu termasuk salah satu dari 72 jurus Siauw-lim- si, kekuatannya berada di atas Kim-kong-ci, bila tidak punya tenaga dalam yang kuat, tidak akan bisa memperagakan ilmu ini.

Yang pasti sekarang Pek-jin Taysu tidak menyimpan semua perubahan Kwan-im-cu dia sudah bergerak tidak tanggung-tanggung di tengah udara. Ketika tendangan belum habis tendangan kedua sudah dikeluarkan secara berturut-turut sebanyak 36 kali, menyerang dari seluruh penjuru yang berbeda. Ada serangan kosong ada yang isi, siapa pun sulit untuk menduganya.

Beng To pun tidak bisa menduga serangannya, tapi tenaga dalamnya terus berputar, tubuhnya seperti dibungkus oleh sebuah kantong kuat dan berangin, tendangan Pek-jin dari arah mana pun baginya tidak ada bedanya.

Begitu pun bagi Pek-jin Taysu, setelah tendangannya habis, tidak menunggu Beng To datang membalas langsung kembali ke tempat semula.

“Apakah kepandaian Taysu hanya begitu saja?” kata Beng To tertawa Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha: “Kang-mo- cap-pwe-sut, Kim-kong-ci, Say-cu-houw, Kwan-im-cu, sudah kukeluarkan, tapi kau lihat sendiri hasilnya seperti ini!”

“Tidak disangka Taysu mau bicara jujur!” Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha lagi, dia berkata kepada Ci-liong- ong dan Liu Sian-ciu:

“Seumur hidupku pertama kali aku bertemu dengan pesilat yang begini tangguh, tenaga dalamnya kuat dan aneh, dia tidak bergerak tapi saat kita ingin mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh kita, ternyata tidak mudah. Apalagi dia bisa setiap saat mengatur tenaga dalamnya menyerang kita!”

“Apakah kita harus menerima kekalahan ini?” tanya Ci- liong-ong.

Pek-jin Taysu menggelengkan kepala:

“Aku mendukung semua orang bergabung dan bertarung dengannya, mungkin ada salah satu dari kita bisa melihat diamana kelemahannya!” Ci-liong-ong tertawa:

“Maksudku pun seperti itu, dia tidak memakai senjata tapi bisa mengalahkan kita, dia juga tidak terlihat lelah, dan tampak dia juga belum mengeluarkan seluruh tenaganya, hanya dengan ini saja dia sudah bisa menyombongkan dirinya, kita harus mengakui kepandaian kita masih berada di bawahnya, melihat keadaannya kita masih harus bertarung sekali lagi, bila kita bisa mendapatkan kelemahannya, itu lebih bagus!”

Pek-jin melantunkan bacaan Budha, Ci-liong-ong berkata: “Sekarang giliran naga malas meluruskan otot-ototnya!”

Baru saja kata-katanya habis, seluruh tubuhnya sudah mengeluarkan bunyi berderak seperti kacang goreng, semua orang tahu bahwa dia berlatih ilmu 'Cap-sa-tay-po' dan sudah mencapai taraf golok dan tombak tidak bisa menembus tubuhnya. Tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat ke-12, dia bisa melukai orang dengan daun atau bunga, baginya keahlian seperti ini hanya masalah kecil.

Dari awal dia sudah ingin mencoba bertarung ilmu lweekang dengan Beng To tapi Ci-liong-ong memang bersifat malas, melihat ada orang yang berebut ingin bertarung dengan Beng To, dia lebih suka melihat saja dari pinggir, dan melihat seberapa kuat Beng To sebenarnya.

Hingga saat ini dia belum bisa melihat dan merasa menyesal mengapa bukan dia yang pertama yang bertarung dengan Beng To, kalau saja dia yang pertama bertarung, itu akan lebih meringankannya, dan rasa percaya dirinya lebih tinggi.

Tapi sekarang rasa percaya dirinya sudah hilang walau dia tetap akan berusaha, tidak percaya diri bukan berarti tidak mempunyai peluang,

Karena itulah tawa dan gerakannya terlihat malas- malasan.

Baru melangkah satu langkah, Thi Gan dari Tiam-jong Pai berkata:

“Lebih baik kau perhatikan dulu, biar aku yang bertarung dulu!”

Dia segera meloncat keluar, saat Ci-liong-ong melihatnya, dia tertawa:

“Semua orang tahu ilmu meringankan tubuh Tiam-jong- pai paling bagus, aku ingin merebut pun tidak akan bisa!”

Kalimatnya belum selesai, Thi Gan sudah melewati kepala Beng To, tangannya memegang sepasang Yan-leng-to dan terjulur ke bawah. (Pisau berbentuk bulu ekor burung walet). Pisau itu benar-benar seperti ekor burung walet begitu tipis seperti kertas khusus untuk memecahkan tenaga dalam.

Thi Gan selalu memperhatikan Beng To, juga memperhatikan saat Giok-koan Tojin bicara kepada Pek-jin Taysu, satu-satunya kesimpulan yang dia dapatkan adalah tenaga dalam Beng To sangat kuat dan berada di puncaknya. Jika ingin mengalahkan dia harus menghancurkan kantong pelindungnya, saat Kim-kong-ci dan Sau-cu-houw keluar secara tiba-tiba hampir membuat Pek-jin Taysu berhasil tapi akhirnya tetap kalah, bagi Thi Gan bukan karena kepandaian Pek-jin Taysu kurang bagus, melainkan karena Kim-kong-ci nya kurang tajam dan kurang cepat.

Kalau gerakannya lebih cepat ditambah dengan adanya senjata tajam, mungkinkah bisa berhasil mengalahkan Beng To? Thi Gan pun tidak tahu, tapi dia percaya kegunaan sepasang Yan-leng-to nya dan tentu saja percaya pada kecepatannya.

Waktu itu dia merasa tenaga dalam Beng To dan tenaga pisaunya dengan cepat terpisah dan pisaunya bisa menepis kepala Beng To, tapi itu hanya sebentar, kemudian perasaan itu sudah menghilang.

Sebab begitu Yan-eng-to bertemu dengan tenaga yang kuat langsung mental, begitu mental gerakan tubuhnya jadi terganggu, tadinya Yan-leng-to bisa bergerak maju dan lurus, sekarang menjadi miring dan terbang ke atas.

Sewaktu dia turun, dia melihat sepasang pisau nya seperti telah tertempel sesuatu, hingga pisau itu menjadi gelap. Dia terkejut, dari sudut matanya dia melihat Beng To sudah berlari ke arahnya. Kecepatan Beng To masih berada di atasnya, ketika sepasang pisau menyambutnya, saat itu Beng To sudah menghampiri Thi Gan. Tenaga kuat segera datang menerjang.

Sepasang pisau itu dengan cepat diayunkan, tapi tenaga dalam yang datang menerjang membuat tubuhnya menjadi miring, Beng To pun lewat di sisinya, Thi Gan menyapu ke belakang dengan pisaunya, tapi tenaga besar sudah mengenai pinggangnya, membuat tubuhnya naik.

Di udara dia merubah gerakan sebanyak 7 kali, tiba-tiba dia melihat Beng To di atas kepalanya, tubuhnya sudah berubah secara total, tapi Beng To belum merubah gerakannya, dari belakang Beng To menepuk punggungnya.

Tepukan ini sangat keras hingga Thi Gan berteriak, tubuhnya berguling-guling di udara, lalu terbanting ke bawah ke tempat di mana dia berdiri tadi. Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu dengan cepat berlari ke tempat Thi Gan jatuh, dengan baju yang digulung mereka mengangkat tubuh Thi Gan yang terbanting. Thi Gan turun dengan cara berguling-guling, wajahnya benar-benar terlihat marah, kedua pisaunya dimasukkan ke dalam sarungnya, sepatah kata pun tidak terucap keluar.

Ci-liong-ong mengerutkan alisnya:

“Lo-te...”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...” kata Thi Gan sambil marah, “orang itu sengaja memamerkan kepandaian dan kekuatannya, hanya ingin mempermalukan kita di hadapan banyak orang.”