-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 10

Jilid 10

Tapi Beng To seperti tidak mengalami kesulitan, waktu itu telapak tangannya sudah berubah menjadi putih keperakan dan di sekelilingnya seperti ada asap dan kabut yang sedang mengepul.

Kiam-sianseng merasakan tekanan semakin kuat. Dia semakin sulit mendorong pedangnya, di depan mata banyak orang dia jadi merasa malu. Maka tenaga dalamnya dikerahkan sepenuhnya, disalurkan ke pedangnya.

Tapi pedangnya tetap tidak bisa maju, setelah bertahan lama malah menjadi melengkung, dan tiba-tiba saja pedangnya lurus kembali seperti masuk ke dalam telapak tangan Beng To, ternyata telapak Beng To sudah mencengkram punggung pedangnya sedalam 3 inchi. Kiam- sianseng mengira dengan tenaga dalamnya yang kuat, ujung pedangnya akan menusuk ketiak Beng To tapi tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya, seperti masuk ke dalam lautan dan hanya sekejap menghilang.

Pedang masih berada dalam posisi semula, tapi setumpuk benda seperti sarang laba-laba juga seperti serat benang ulat sutera pelan-pelan keluar dari telapak tangan Beng To, kemudian melilit pedang Kiam-sianseng, semakin Kiam-sianseng mengerahkan tenaga dalamnya, benang itu pun semakin bertambah banyak.

Melihat ini, Kiam-sianseng segera menarik kembali pedangnya, tapi pedangnya sama sekali tidak bisa digerakkan, dia mulai merasa tenaga dalam yang dia kerahkan terus keluar dan tidak bisa dihentikan.

Dia juga merasa tenaga dalamnya seperti terus tersedot, awalnya dia masih merasa tidak yakin, akhirnya dia benar- benar merasakannya.

Bisa dikatakan dia mengetahui hal ini dalam waktu sekejap. Tapi saat ingin menarik kembali tenaga dalamnya, ternyata bukan hal yang mudah. Seperti kaki yang sudah masuk ke dalam lumpur untuk menarik kembali akan sangat sulit.

Untung itu hanya lumpur bukan pasir penghisap. Akhirnya Kiam-sianseng bisa memaksa tenaga yang melilit pedangnya digeser ke samping, sehingga dia bisa menarik kembali tenaga dalam yang dia keluarkan, tapi kekuatannya sudah berkurang banyak, memang tujuannya hanya ingin melepaskan diri dari tenaga yang melilitnya.

Kesannya terhadap sarang laba-laba dan serat benang sutera adalah sama, seperti ada ratusan helai benang yang terus masuk dan hampir melilit dengan rapat dan liat.

Saat Kiam-sianseng terlepas dari tenaga itu, dia melihat ada kabut dan asap mengelilingi telapak tangan Beng To dan terus mengepul. Seperti ada ribuan sampai puluhan ribu ekor ulat sebesar rambut mengejar dan ingin melilit pedangnya lagi.

Kiam-sianseng mulai merasa tertekan lagi oleh tindakan Beng To.

Walaupun tahu tenaga dalam lawannya sangat hebat dan aneh, tapi sebelum merasakan dan melihat dengan mata kepala sendiri Kiam-sianseng tidak percaya begitu saja, maka telapak tangan kirinya segera menyerang lagi.

Tangan kiri Beng To yang kosong segera dibalik, dia menyambut serangan tangan kiri Kiam-sianseng, seluruh telapaknya sudah menjadi putih keperakan, seperti ada segumpal asap dan kabut.

Asap dan kabut itu seperti ular beracun yang jumlahnya ribuan, sedang masuk dan keluar, setiap saat siap mematuk telapak tangan kiri Kiam-sianseng.

Kiam-sianseng gemetar, telapaknya yang menghantam dirubah jadi menotok, asap dan kabut masih membungkus tangan kiri Beng To, kabut yang menyebar segera berkumpul kembali. Jari Kiam-sianseng terasa seperti tenggelam di laut, dia membentak 3 kali, menyentil dengan jarinya, tapi reaksinya tidak mengubah keadaan.

Perubahan terjadi sangat cepat, saat jari kirinya mendekat, tangan kanan mengikuti gerakan tangan kiri meluncur ke depan.

Sekali lagi Kiam-sianseng membentak dan meloncat ke atas, kali ini tekanan sedikit mengendor, mula-mula Kiam- sianseng merasa senang, tapi perasaan itu hanya sebentar lalu menghilang, hatinya kembali terasa tenggelam, di tengah udara dia malah terpaku dengan posisi kaki di atas.

Karena tangan kanan Beng To masih menempel di pedangnya, dia hanya bisa mengangkat tangan kanannya, tapi pedang Kiam-sianseng tidak bisa terlepas dari genggaman Beng To karena itu posisi tubuhnya seperti capung terbalik.

Kalau dalam keadaan posisi terbalik di tengah udara, tenaga dalamnya pasti sulit untuk dikeluarkan, sebab jika dipaksakan akan menimbulkan masalah lain dan tenggelam dalam berbagai kesulitan. Hati Kiam-sianseng benar-benar terasa berat.

Murid-murid Hoa-san-pai tidak bisa melihat isi hati Kiam- sianseng tapi mereka bisa melihat jelas tangan kanan Beng To selalu menempel di pedang Kiam-sianseng, mereka seperti bermain akrobat.

Mereka juga melihat Kiam-sianseng berusaha melepaskan pedangnya dari genggaman tangan kanan Beng To, tapi tidak berhasil, dalam hati mereka masih yakin Kiam- sianseng pasti mempunyai cara untuk mengatasinya.

Tangannya tidak berhasil menarik pedangnya, dia sudah memikirkan akibatnya kalau terus mengeluarkan tenaga dalam. Beng To seperti tidak merasakan apa pun, dia tetap tersenyum, terlihat tenang dan santai, melihat keadaan itu hati murid-murid Hoa-san-pai menjadi goyah.

Kemudian telapak tangan Beng To mulai diangkat dan disatukan, menjadi sikap seperti 'Tong-cu-pai-kwan-im' (anak kecil menghormat dewi Kwan-im), pedang jadi terjepit diantara kedua telapaknya, ujung pedang itu menunjuk ke arah kepala Beng To asal tidak berhati-hati ujung pedang nisa menancap ke dalam otaknya dan dia akan segera mati.

Sorot mata Kiam-sianseng menatap kepala Beng To, dia sangat percaya dia bisa menancapkan pedangnya kepada kepala Beng To, dia juga melihat jelas kedua tangan Beng To tampak terus menerus bercahaya, asap yang membungkus kedua tangan Beng To mulai terlihat lagi, dalam waktu yang bersamaan ada hawa dingin menyerang wajahnya.

Tangan kiri Kiam-sianseng segera memegang pegangan pedangnya, diiringi bentakan tenaga dalam nya dikerahkan.

Pedangnya seperti bersinar, tenaga dalam Kiam-sianseng yang di salurkan ke pedang itu, tampak bergerak turun tapi tidak sampai 1 inchi sudah berhenti.

Kiam-sianseng merasa ada gelombang kuat yang menahan gerakannya, tapi dia sudah melakukan persiapan, dia masih mempunyai tenaga simpanannya, dia sedang menunggu kesempatan yang tepat.

Tapi dia tidak mempunyai kesempatan, sebab tenaga dalamnya terasa lagi seperti masuk ke dalam laut. Dalam waktu yang bersamaan telapak tangan Beng To terlihat lebih terang, telapak tangannya seperti bergetar sampai ke pegangan pedang.

Tanpa terasa tenaga dalam Kiam-sianseng sudah dikerahkan seluruhnya bahkan hingga tenaga simpanannya, sebenarnya dia sendiri pun tidak merasa, ketika tenaga dalamnya seperti dililit oleh Beng To, dia baru tersadar.

Cadangan tenaga dalamnya sudah di kerahkan, tapi tidak ada hasilnya.

Pedangnya menjadi seperti jembatan penghubung tenaga dalam yang masuk dan keluar, bukan senjata untuk membunuh lagi. Bagi Beng To bukan merupakan ancaman lagi.

Belum selesai rasa terkejutnya, Kiam-sianseng mulai merasakan tenaga dalam terus mengalir, kedua tangannya seperti ditempel sesuatu, dia melihat tangan Beng To seperti ada asap yang keluar melewati pegangan pedang dan sampai di kedua telapak tangannya.

Terlihat seperti kabut tapi Kiam-sianseng seperti merasakan ada sesuatu, begitu dia melihat lagi ternyata kulit di kedua tangannya sudah ada sarang laba-laba dan benang sutera.

Sarang laba-laba dan benang sutera itu bukan terkumpul di permukaan kulit melainkan seperti masuk ke dalam kulit.

Kiam-sianseng segera mengerti, saat kedua tangannya sudah ditempel benda seperti itu, otomatis dia terkejut dan rasa terkejutnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tenaga dalam yang tidak berbentuk menjadi berbentuk, kalau bukan karena melihat dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan percaya? Akhirnya keringat Kiam-sianseng keluar dan menetes ke bawah, tapi di tengah jalan keringat itu sudah menguap dan terbang ke udara.

Tenaga dalamnya segera dipaksakan berkumpul di kedua tangannya, dia berusaha memaksa tenaga dalam lawan yang masuk bisa keluar dari tubuhnya, tapi baru saja tenaga dalam sampai di kedua tangannya, dia segera sadar telah berbuat salah, sebab tenaga dalam Beng To yang masuk bukan hanya tidak bisa dikeluarkan malah melilit tenaga dalamnya, kemudian bersama-sama melesak maju, dalam waktu yang bersamaan menyedot tenaga dalamnya agar keluar dari tubuhnya.

Dia benar-benar terkejut dan ingin melepaskan diri dari lilitan tenaga dalam itu, sampai tidak terpikirkan lagi untuk membalas serangan Beng To.

Semakin ingin melepaskan diri, dia semakin terlilit kencang. Tenaga dalam Beng To semakin masuk ke dalam tubuhnya dan menyedot tenaga dalamnya.

Keringat di dahinya semakin banyak, tubuhnya yang terbalik terasa membeku dan menjadi keras, bajunya pun berkibar ke atas.

Baju Beng To pun berkibar sepasang tangannya menjadi semakin terang.

Asap dan kabut dari tenaga dalam Beng To sudah membungkus setengah tubuh Kiam-sianseng, akhirnya Kiam- sianseng menarik nafas.

“Aku sudah mengerti...”

“Akhirnya kau mengerti, tujuanku adalah membunuh pesilat-pesilat tangguh Tionggoan!”

“Kau menyedot tenaga dalam mereka!” Kiam sianseng tertawa dingin, “pantas kau selalu bergerak secara rahasia, tenaga dalam mereka membuatmu bisa mencapai hingga tahap seperti sekarang ini!”

“Salah...” Beng To tertawa senang, “semua ini karena jasa Wan Fei-yang!”

“Semua karena Wan Fei-yang?” kata Kiam-sianseng tidak percaya. “Ilmu lweekang yang kami latih berbeda tapi berasal dari sumber yang sama, maka aku menyedot semua tenaga dalamnya dan membuat ilmu silatku meningkat setingkat demi setingkat!”

“Wan Fei-yang bisa salah perhitungan...”

“Siapa pun ada kekurangan, apalagi Wan Fei-yang hanya manusia biasa.”

“Apakah kau tidak...?”

“Aku sangat berhati-hati, kalau tidak, mana mungkin aku bisa begitu mudah mengalahkanmu?”

“Aku belum tentu akan kalah!” suara Kiam-sianseng terdengar gemetar karena tenaga dalamnya benar-benar sudah terkuras banyak.

Dengan santai Beng To berkata lagi:

“Tenaga dalammu hampir tersedot habis, apakah kau mau menjadi seorang pahlawan?”

“Dari semula seharusnya aku berhati-hati terhadap ilmu Ih-hoa-ciap-bok (Geser bunga sambung kayu) dari Mo- kauw!”

“Kau juga mengerti tentang jurus Ih-hoa-ciap-bok?”

“Mo-kauw sudah beberapa kali menyerang Tionggoan, mereka mengandalkan Ih-hoa-ciap-bok,” Kiam-sianseng tertawa dingin.

“Berusaha menyedot ilmu lweekang orang lain, membuat dirinya maju walaupun hebat tetapi tetap saja itu seperti pencuri!”

“Ini adalah cara tercepat orang yang tidak mau menjalankan jurus itu adalah orang bodoh!” kemudian Beng To menghembuskan nafas panjang.

Kiam-sianseng segera merasakan ada tenaga yang sangat kuat menarik. Tenaga dalam dari dalam tubuhnya terus di tarik keluar dia membentak berusaha menarik kembali tenaga dalamnya, tenaga yang menariknya segera menghilang, tenaga yang datang dari tangan pun sama-sama menghilang.

Kedua tangan Beng To yang menjepit pedang Kiam- sianseng akhirnya dilepaskan.

Begitu tenaga mengikat pedang terlepas, saat itu tenaga dalam Kiam-sianseng tertarik kembali, tubuhnya seperti anak panah melesat ke atas.

Beng To segera memutar kencang tubuhnya, kedua tangannya dirapatkan, timbul angin berputar yang sangat keras lalu pasir dan tanah ikut berputar naik ke atas, pusaran angin itu seperti topan.

Orang-orang suku Biauw berteriak terkejut. Murid-murid Hoa-san-pai pun tidak ketinggalan ikut berteriak mereka tidak tahu bagaimana keadaan Kiam-sianseng, tapi mereka mengakui ilmu silat Beng To berada di atas Kiam-sianseng.

Kiam-sianseng melihat angin keras yang datang tapi dia sudah tidak bisa menghindar, karena tenaganya sudah habis. Saat tubuhnya terpental ke atas, tubuhnya sudah tidak bisa di tahan, ingin menetapkan tubuh pun sudah tidak sanggup, apalagi angin keras sudah tiba, maka tubuhnya mengikuti

Pusaran angin dan berputar-putar, terus naik ke atas, hingga kedua tangan Beng To dibalik kembali.

Suara yang keluar sangat besar, sewaktu telapak tangannya dibuka udara yang berputar seperti dibom dan pecah berantakan.

Tubuh Beng To yang sedang berputar pun berhenti, dia seperti seekor burung berturut-turut berubah dengan gaya terbang sebanyak 7-8 kali baru mendarat. Gaya Kiam-sianseng pun beraneka ragam, tapi tidak seindah Beng To, kaki dan tangannya seperti terlempar kesana dan kemari di tengah-tengah udara. Karena tidak bisa menguasai diri, dia hanya bisa mengikuti putaran udara.

Akhirnya dia berhasil mendarat ke bawah, yang pasti dia sadar begitu turun kakinya yang akan mendarat dulu, tapi setelah menapak bumi tiba-tiba dia terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Pedang yang masih dipegangnya segera ditancapkan ke dalam tanah, akhirnya dengan pedang dia bisa menahan tubuhnya, membuatnya tidak terjatuh.

Beng To berdiri di depannya, berkata sambil tersenyum: “Baikkah!”

“Aku kagum...” baru saja kata-katanya habis, dari mulut Kiam-sianseng menyembur darah.

Beng To menatap langit:

“Walaupun ilmu silatku adalah ilmu sesat, tapi kekuatannya sangat dahsyat cukup membuatku merasa bangga!”

“Aku salut dengan keberhasilanmu dalam ilmu silat!” Kiam-sianseng menarik nafas, “tapi sayang pikiranmu tidak lurus!”

“Siapa pun kalau sudah punya ilmu setinggi aku, selalu ingin memperlihatkan dengan rasa bangga, ilmu yang tinggi merupakan manifestasi yang bernilai!”

Kiam-sianseng memuntahkan darah kembali, tiba-tiba pedang yang menahan bobot tubuhnya patah jadi dua bagian. Dia segera kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi telentang.

Murid-murid Hoa-san-pai segera menghampirinya dengan berteriakan, Kiam-sianseng dengan suara terpatah- patah, berkata: “Aku wanti-wanti jangan...” darah muncrat lagi dari mulutnya, tanpa sempat melanjutkan dia mengghembuskan nafas terakhir. Organ dalamnya sudah hancur karena tergetar tenaga dalam Beng To. Dia bisa bertahan sampai saat ini bukan hal yang mudah.

Dia tersiksa seperti ini mana mungkin tidak tahu bahwa semua murid Hoa-san-pai bukan tandingan Beng To. Tapi saat dia ingin menurunkan perintah agar tunduk kepada Beng To merupakan hal yang memalukan, tapi kata-katanya sangat sulit terucap keluar. Dia sudah tidak sempat untuk bicara lagi.

'Aku wanti-wanti, jangan...' kata-katanya sudah tertutup oleh teriakan murid-murid Hoa-san-pai apalagi suaranya sudah sangat lemah.

Melihat murid-murid Hoa-san-pai datang mengepungnya, Beng To terlihat sangat tenang dan berkata: “Pesan terakhir Kiam-sianseng dia wanti-wanti agar jangan...” suara Beng To menang tidak besar tapi murid- murid Hoa-san-pai bisa mendengar dengan jelas tapi mereka

tidak peduli dan mulai mengayunkan senjata mereka.

Orang-orang Biauw terus berteriak, tapi tangan Beng To diangkat, mereka segera berhenti, kemudian Beng To membentak:

“Yang menurut kepadaku akan hidup yang melawan harus mati...” teriakannya baru selesai, dua pedang sudah sampai di depannya, tapi dua orang murid Hoa-san-pai segera berputar dan terpelanting, yang satu ke kiri yang satu ke kanan. Kemudian beng To menarik murid-murid yang datang belakangan.

Suara tulang hancur dan patah terus terdengar, puluhan murid Hoa-san-pai terguling karena tertabrak oleh dua murid Hoa-san-pai yang terpelanting setelah semua terhenti, seorang murid Hoa-san-pai sudah meninggal.

Beng To seperti seekor kelelawar terbang, bertemu satu murid langsung mencengkeram satu, lalu dilempar ke sebuah tempat, setelah puluhan murid terlempar, terlihat bertumpuk seperti sebuah gunung manusia, mereka terus merintih kesakitan, murid-murid Hoa-san-pai lainnya terlihat terkejut, tentu saja semangat juang mereka pun ikut hancur. Mereka mulai mundur, waktu itu Beng To tampak bersalto menuju gunung manusia, dia berdiri dengan satu kaki menginjak tubuh salah satu murid Hoa-san-pai dan

membentak:

“Apakah kalian akan tunduk kepadaku?”

Salah seorang murid Hoa-san-pai yang berada dalam tumpukan itu segera berteriak:

“Sampai mati pun kami tidak akan tunduk!”

“Aku akan membantu kalian!” salah satu kakinya diturunkan, tenaga dalamnya pun dikerahkan.

Gunung manusia itu segera mengeluarkan suara teriakan, suara tulang patah dan berderak terus terdengar, murid-murid Hoa-san-pai yang ada di dalam gunung manusia itu memuntahkan darah, terakhir yang ada di bawah kaki Beng To segera dibunuhnya.

Dalam waktu bersamaan Beng To sekali lagi meloncat dan menari-nari di udara, kedua lengan bajunya dilebarkan kemudian berputar dan kembali ke tempat di mana dia datang dengan cara digotong.

Para prajurit Biauw berteriak gembira, mereka mengangkat golok dan tombak tinggi-tinggi, Beng To melihat dari atas, sisa murid-murid Hoa-san-pai sudah melemparkan senjatanya dan melarikan diri dari sana. Beng To tidak memerintahkan orang-orangnya mengejar, dia hanya tertawa, orang-orangnya terus bersorak, membuat gunung itu bergetar.

Murid-murid Hoa-san-pai tahu dalam pertarungan ini mereka telah kalah dan Hoa-san-pai sulit untuk berdiri tegak lagi di dunia persilatan.

Mereka mengaku sedang sial karena Hoa-san-pai menjadi sasaran pertama Beng To, tujuan Beng To adalah menunjukan ilmu silatnya untuk mencari nama, maka dia tidak melarang berita ini disebar luaskan.

Setelah mendengar Hoa-san-pai mengalami musibah, musuh-musuhnya pasti akan datang untuk mengambil kesempatan menyerang mereka, maka selain murid-murid Hoa-san-pai yang masih setia dan siap sehidup semati dengan Hoa-san-pai, kalau tidak, siapa yang berani kembali ke Hoa-san-pai?

Murid-murid yang setia semua sudah mati di bawah kaki Beng To.

Berita ini dengan cepat tersebar luas, semua perkumpulan di Tionggoan sudah tahu, Beng To bertambah gagah, orang-orang Biauw pun berubah jadi pesilat-pesilat tangguh yang sanggup melawan ratusan orang.

Ada yang mengatakan bahwa Beng To dalam satu jurus berhasil membunuh Kiam-sianseng, dan murid-murid Hoa- san-pai hampir mati semua.

Tapi ada juga yang menaruh curiga apalagi orang-orang yang mengenal dan berteman dengan Kiam-sianseng, mereka mengaku orang yang sanggup membunuh Kiam- sianseng tidak diragukan lagi pasti seorang pesilat tangguh, dia secara terang-terangan menantang para pesilat Tionggoan dan pasti memiliki tujuan tertentu. Siapa korban berikut Beng To? Tidak ada seorang pun yang tahu, perkumpulan yang berada di dekat Hoa-san-pai sudah siap siaga dan memerintahkan murid-murid mereka yang berada di luar untuk segera kembali ke perkumpulan mereka.

Dari Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin, Siauw-lim-pai, Pek-jin Taysu, Bu-tai-san, Bok Touw-toh, Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian- ciu, Tong-teng-kun-san Ci-liong-ong, Tiam-jong-pai, Thi Gan, enam orang yang namanya terkenal di dunia persilatan, membawa beberapa pesilat tangguh datang ke Bu-tong-san.

Karena waktu yang mereka sepakati dengan Wan Fei- yang sudah hampir habis.

Mereka sudah tahu bahwa Hoa-san-pai sudah dihancurkan oleh seorang pesilat tangguh dari Mo-kauw yang bernama Beng To, mereka memilih pemimpin lain karena Kiam-sianseng sudah tewas di tangan Beng To, karena itu mereka membatalkan tujuan mereka ke Hoa-san untuk melihat keadaan, sebab mereka tahu kalau mereka pergi ke sana, tidak akan ada gunanya dan mereka juga tahu orang yang bernama Beng To menggunakan ilmu silat sejenis Thian-can-sin-kang.

Dari kabar yang mereka dengar, Beng To sudah mengaku bahwa dulu orang yang membunuh banyak pesilat tangguh dari semua perkumpulan adalah dirinya dan tidak ada hubungannya dengan Wan Fei-yang. Sekarang Wan Fei-yang pun sudah roboh di tangan Beng To.

Thian-can-sin-kang dari Bu-tong sebenarnya mencuri dari ilmu lweekang Mo-kauw, berita ini pasti akan bocor, setelah mendengar kabar ini, Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu, dan Bok Touw-toh jadi mengerti mengapa Wan Fei-yang bisa begitu yakin memberi tahu mereka dan meminta mereka untuk kembali lagi ke Bu-tong-san sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Di mata mereka, Wan Fei-yang sudah tahu bukan dia yang melakukannya dan ingin mencuci bersih namanya setelah mereka pergi dia menemui Kouw-bok yang mengetahui rahasia Thian-can-sin-kang, dia pun mencari tahu dan pergi ke perbatasan suku Biauw.

Mereka tidak salah menilai Beng To.

Beng To secara terang-terangan telah membuka rahasia bahwa Bu-tong-pai mencuri ilmu lweekang Mo-kauw, setelah itu dia akan ke Bu-tong-pai untuk membuat perhitungan.

Jadi karena itu mereka langsung datang ke Bu-tong-san menunggu kedatangan Beng To.

Tentu saja Bu-tong-pai telah mendengar kabar itu, kebanyakan murid-murid Bu-tong-pai masih bisa menjaga ketenangan, beberapa kali mereka mendapat bencana besar membuat mereka lebih tegar, mengenai Thian-can-sin-kang yang katanya dicuri dari Mo-kauw, mereka merasa terkejut.

Selain ketua Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin yang mengetahui tentang Thian-can-sin-kang dengan jelas adalah Kouw-bok, karena itu mengenai kepergian Wan Fei-yang ke perbatasan suku Biauw, dia menjadi sangat khawatir.

Wan Fei-yang memang sudah menguasai Thian-can-sin- kang tapi lawan pun menguasai ilmu sejenis, dan asal muasal ilmu iblis itu walaupun beraliran sesat, entah sampai dimana kekuatannya? Apakah berada di atas Thian-can-sin-kang? Tidak ada seorang pun yang tahu, sebab ilmu iblis itu baru sekarang muncul. Kouw-bok tidak merasa yakin, walaupun dia berpengalaman di segala bidang, dia tidak tahu Thian-can- sin-kang dengan detil, apalagi ilmu iblis itu.

Saat Pek-ciok Tojin datang kepadanya, dia sedang bersemedi di kamar Yan Cong-thian dulu. Hari sudah sore, semenjak dia kembali ke Bu-tong-san dia selalu mengajarkan ilmu silat kepada murid-murid Bu-tong-pai dengan teliti. Semua ilmu silat milik Bu-tong-pai pun dikuasainya dengan lancar, dia juga bisa mengerti perubahan-perubahannya, dia mengajarkannya dengan pas.

Sebenarnya dia juga sudah berusaha, ilmu silat murid- murid Bu-tong diajarkan olehnya, bisa dikatakan mereka jadi mengalami kemajuan pesat.

Setelah melalui beberapa bencana, sisa murid-murid Bu- tong tidak diragukan lagi adalah murid-murid yang setia dan mereka sudah bertekad ingin menguasai ilmu silatnya dan mengabdikan diri pada Bu-tong-pai.

Kesuksesan Wan Fei-yang bagi mereka merupakan semacam rangsangan kecuali merasa bangga mereka juga merasa senang.

Inilah hal yang membuat Kouw-bok senang, karena itu dia pun semakin bersemangat mengajari mereka. Setiap kali kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dia merasa tubuhnya lelah, Pek-ciok Tojin sangat mengerti keadaannya, maka tidak pernah mengganggunya, memang sejak Bu-tong- pai kedatangan orang-orang yang dipimpin Kiam-sianseng untuk menanyakan tindakan Bu-tong sampai saat ini mereka terlihat tenang, seperti tidak ada masalah yang terjadi.

Kouw-bok sangat mengerti isi hati Pek-ciok Tojin, sekarang kedatangan Pek-ciok Tojin ke kamarnya karena dia mengetahui sesuatu dan segera terpikir pada Wan Fei-yang. Apakah telah terjadi sesuatu pada Wan Fei-yang? Melihat sikap Pek-ciok Tojin, Kouw-bok tahu bahwa ini bukan berita yang bagus dan dia tetap merasa curiga.

Dengan ilmu silat Wan Fei-yang, siapa yang tidak bisa dia hadapi?

Kouw-bok sepertinya tetap tidak tahu, dia membiarkan Pek-ciok Tojin menceritakan kabar yang telah dia dengar dengan jelas, mendengar bahwa Wan Fei-yang telah dikalahkan Beng To, dia mulai bereaksi.

Selesai bercerita, Pek-ciok Tojin menarik nafas dan berkata:

“Tecu datang saat Susiok-kong sedang beristirahat..” Kouw-bok segera memotong:

“Semua sudah terjadi, tahu sekarang atau nanti sama saja!”

“Katanya Beng To dengan orang-orangnya sedang menuju Bu-tong-san.”

“Hutang lama memang sudah waktunya diperhitungkan.”

“Maksud Susiok-kong, kita akan menunggu kedatangan mereka ke Bu-tong-san?”

“Kalau kita mujur ini bukan bencana, kalau bencana kita tidak akan sanggup menghindar lagi!”

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Orang yang bernama Beng To sudah mengatakan akan membuat perhitungan dengan Bu-tong-pai, bila kita menghindar terus, mungkin nanti sulit untuk berdiri di dunia persilatan...”

00 - © - 00 BAB 12

“Pepatah mengatakan: Karena nama kosong maka kita harus memikulnya dengan susah, demi nama kosong ini murid-murid Bu-tong-pai harus menghadapi musibah besar lagi!”

Pek-ciok Tojin terdiam, Kouw-bok menarik nafas lagi: “Untuk kalangan persilatan, masalah di luar kemauan

mereka, maka pepatah seperti ini punya alasan yang kuat!” Dia bertanya lagi:

“Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu serta yang lain seharusnya sudah tiba!”

“Ada kabar yang mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan kemari!”

“Kabar mengenai Beng To sudah tersebar luas, mereka seharusnya tahu, Wan Fei-yang sudah dijadikan kambing hitam, jadi semua ini tidak ada hubungan dengan Bu-tong- pai!”

“Mereka pasti ingin mencari Beng To untuk membuat perhitungan!”

“Para tetua itu masing-masing mempunyai pendapat, mereka sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, setelah tahu duduk persoalannya, mereka tidak akan berpangku tangan begitu saja!” kata Pek-ciok Tojin.

“Karena mereka masing-masing mempunyai pendapat, mereka pasti akan datang, tapi mungkin masalah akan datang lebih dulu, mereka akan menunggu kita yang membuat perhitungan terlebih dulu dengan Beng To, setelah itu baru mencari Beng To untuk membuat perhitungan lagi!” “Tidak mungkin!” Pek-ciok Tojin menundukkan kepala, “Bu-tong-pai secara berturut-turut sudah mengalami musibah, kalau bukan karena Wan Fei-yang, saat mereka datang kemari sudah...”

“Karena menguasai Thian-can-sin-kang, Wan Fei-yang menjadi tersohor juga membuat Bu-tong-pai terkenal, tapi karena Thian-can-sin-kang disalahartikan, maka Fei-yang pergi ke wilayah suku Biauw untuk mencari tahu kenyataan sebenarnya...” Kouw-bok menarik nafas panjang dan melanjutkan lagi:

“Apakah semua ini karena spekulasi?” “Kalau dikatakan...” kata Pek-ciok Tojin. Kouw-bok menyela:

“Aku mengerti maksudmu, karena Bu-tong-pai dituduh telah mencuri Thian-can-sin-kang untuk menguasai dunia persilatan, kalau Thian-can-sin-kang tenggelam lagi sepertinya itu sangat masuk akal, dulu aku pernah bicara kepada Fei-yang, yang penting Bu-tong-pai tidak menggunakan Thian-can-sin-kang melakukan kejahatan di dunia persilatan...”

“Tapi keinginan Langit tidak bisa di duga, maka ada hal lain yang harus dipertimbangkan!”

Pek-ciok Tojin mengangguk, Kouw-bok menyi pitkan matanya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, lalu berkata:

“Fei-yang adalah orang baik, apakah menjadi orang baik tidak akan panjang umur?”

“Wan Fei-yang orang yang sangat baik hati, tadinya dia melakukan pengobatan di kaki gunung untuk penduduk di sekitar ini, dan dia ingin melakukannya seumur hidup...” jelas Pek-ciok Tojin.

“Orang persilatan tetap orang persilatan,” Kouw-bok bertanya, “apakah murid-murid Bu-tong yang ada di atas gunung telah diberitahu mengenai masalah ini?” “Tecu memberanikan diri menyuruh mereka memilih, yang ingin tinggal atau ingin pergi dari Bu-tong-san, silahkan mereka yang mengambil keputusan!

“Baik...” Kouw-bok mengangguk, “mereka masuk Bu- tong-pai dan belajar ilmu silat Bu-tong-pai, tapi mereka tidak perlu demi Bu-tong-pai sampai harus menjual nyawa!”

“Tapi mereka lebih memilih tinggal di Bu-tong-san!” jelas Pek-ciok Tojin.

“Baik juga!” Kouw-bok tertawa, “memang jika ingin pergi dari Bu-tong-san mereka pasti sudah pergi dari dulu!”

“Tecu pun berpikir demikian!” kata Pek-ciok Tojin. “Menurut berita yang kudapatkan, Beng To datang ke

Hoa-san membunuh Kiam-sianseng serta murid-murid Hoa- san-pai hingga tidak ada satu pun yang tersisa, apakah berarti Hoa-san-pai telah musnah?”

“Kabar yang Tecu dengar pun seperti itu...”

“Kalau itu benar, kabar tidak akan datang begitu cepat karena Beng To ingin membuat namanya tersohor dan dikagumi orang-orang, bila dia ganas dan kejam itu tidak mengherankan!”

“Bagaimana ilmu silat Kiam-sianseng?” tanya Kouw-bok lagi.

“Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu dan lain-lain menganggap Kiam-sianseng pemimpin mereka, dia adalah salah satu dari beberapa pesilat tangguh yang ada sekarang ini, yang pasti dari generasi tertinggi!”

Kouw-bok menggelengkan kepala:

“Yang ingin aku ketahui kemampuan ilmu silatnya sampai sejauh mana?”

“Tecu tidak tahu. Kalau tidak salah dia sudah 20 tahun lebih tidak bertarung!” jawab Pek-ciok Tojin. “Berarti ilmu silatnya tidak terlalu bagus!” Kouw-bok menarik nafas lagi, “sebenarnya percuma aku bertanya sebab Fei-yang pun kalah dari Beng To, dari sini dapat diketahui ilmu silat Beng To sudah mencapai tahap tertinggi!”

“Apakah kepandaian Wan Fei-yang berada di posisi tertinggi di Bu-tong-pai?” tanya Pek-ciok Tojin.

“Buat apa kau bicara berputar-putar? Langsung saja pada topik yang ingn kau tanyakan, di antara aku dan Wan Fei- yang siapa yang ilmu silatnya lebih tinggi.”

“Tecu tidak berani!” kata Pek-ciok Tojin gugup.

“Aku bukan lawan Wan Fei-yang!” Kouw-bok mengaku dengan jujur, “sebab Wan Fei-yang menguasai Thian-can-sin- kang!”

Pek-ciok Tojin mengangguk, Kouw-bok melanjutkan lagi: “Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk bicara

seperti ini, tapi kalau dikatakan lebih awal atau nanti pun sama saja, kenyataan adalah kenyataan, ilmu silat kalah dari orang lain bukan hal yang buruk!”

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Tecu hanya curiga Thian-can-sin-kang Beng To dengan Thian-can-sin-kang Wan Fei-yang...”

“Wan Fei-yang kalah di tangan Beng To, dengan aturan yang semestinya, kita menduga Wan Fei-yang kalah dalam teknik, hanya saja Beng To dari Mo-kauw.”

“Apakah dalam pertarungan itu ada jebakan atau ada alasan lain? Tidak ada seorang pun yang tahu, Wan Fei-yang mempunyai kepandaian yang hebat, tapi dia bersifat jujur, bila dia dijebak dia tidak akan sadar!”

“Itu yang Tecu khawatirkan!” “Bila Wan Fei-yang jatuh ke tangan lawan, perubahan yang terjadi pada ilmu silat Beng To seperti apa pun tidak akan aneh!”

“Tecu tidak mengerti!” kata Pek-ciok Tojin.

“Ilmu Iweekang Mo-kauw katanya hasil dari Ih-hoa-ciap- bok, mengambil tenaga dalam milik orang lain disedot ke dalam tubuhnya, kemudian dimanfaatkan, kita dari Bu-tong- pai justru merasa cara ini terlalu licik maka mencari alternatif lain, iblis-iblis dari Mo-kauw tidak akan melepaskan jalan pintas ini, sebelumnya sudah banyak pesilat tangguh Tionggoan yang dibunuh, aku yakin semua karena alasan ini!”

“Kalau sampai Wan Fei-yang jatuh ke tangan Beng To...” Pek-ciok Tojin tampak terkejut.

“Dia tidak akan menyia-nyiakan tenaga dalam Wan Fei- yang yang kuat, apalagi ilmu silat mereka mempunyai dasar yang sama, keuntungan yang didapat pasti sangat banyak!”

Kouw-bok menghela nafas:

“Harap saja dugaan Tecu salah!” begitu selesai bicara di depannya terdengar suara, Pek-ciok Tojin dan Kouw-bok tampak terkejut.

Karena di sana adalah tempat terlarang selain ada hal yang penting yang harus dilaporkan kalau tidak, dilarang untuk memukul gentong.

Bu-tong-pai selalu mendapat musibah, kalau terjadi ini pasti bukan hal yang baik.

“Apakah Beng To begitu cepat tiba?”

Kouw-bok seperti mengerti Pek-ciok Tojin, dia berkata dengan santai:

“Kapan pun dia datang sama saja!”

“Tecu terlalu tegang!” kata Pek-ciok Tojin terpaku. “Tegang bukan hal yang buruk!”

Sewaktu mereka sedang bicara, ada dua murid Bu-tong- pai berumur separo baya berada di luar kamar, tidak menunggu mereka membuka suara, Pek-ciok Tojin sudah bertanya dengan terburu-buru:

“Apa yang terjadi?”

“Pek-jin Taysu dari Siauw-lim-pai, Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai...”

“Apakah mereka sudah tiba?” tanya Pek-ciok Tojin. “Mereka sedang menunggu di ruangan...” kedua murid

Bu-tong-pai itu tampak begitu ketakutan.

“Masih ada sisa waktu satu hari lagi sebelum tiba batas waktu yang telah ditentukan, tidak disangka mereka semua sudah tiba dulu!”

“Lapor Ketua, yang datang hanya Giok-koan Tojin serta murid-murid dari Pek-jin Taysu!”

“Mengapa bukan sejak tadi dikatakan dengan jelas?” seru Pek-ciok Tojin.

“Kau yang tidak memberi waktu pada mereka untuk menjelaskannya!” kata Kouw-bok sambil menggelengkan kepala, “pikiranmu sedang kacau, jadi bukan salahmu juga!”

Pek-ciok Tojin tertawa kecut:

“Tecu yang salah!”

“Ini bukan suatu kesalahan dan hal seperti ini tidak pantas kau katakan,” Kouw-bok menggelengkan kepala, “sebagai ketua perkumpulan kau harus punya wibawa seorang pemimpin!”

Pek-ciok Tojin ingin mengatakan sesuatu, Kouw-bok sudah melambaikan tangannya: “Kita ke ruang depan untuk melihat...” baru saja kata- katanya selesai, dia turun dari ranjang dan mengambil sebuah tongkat bambu lalu melangkah keluar kamar.

Pek-ciok Tojin dengan cepat mengikuti dari belakang, kedua murid Bu-tong-pai itu dengan cepat mengikuti pemimpin mereka.

Melihat Kouw-bok, Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu merasa aneh, sebab mereka belum pernah melihat orang tua ini juga tidak tahu bahwa Bu-tong-pai masih punya generasi tua. Dari sikap Pek-ciok Tojin yang penuh dengan rasa hormat, tidak diragukan lagi urutan generasi orang tua ini berada di atas Pek-ciok Tojin.

Giok-koan Tojin To-jin melihat Pek-jin Taysu yang berada di samping, lalu berkata:

“Generasi atas Bu-tong-pai masih ada siapa lagi?” “Pinceng tidak tahu.”

“Apakah Taysu tidak mempunyai bayangan sama sekali?” “Tidak ada!” Pek-jin Taysu mengawasi Kouw-bok lagi.

Giok-koan Tojin mengangkat bahu:

“Bu-tong-pai selalu membuat orang-orang bingung dan selalu begitu terus!”

Setelah Kouw-bok duduk, dia melihat Giok-koan Tojin: “Bagaimana keadaan gurumu, apakah beliau baik-baik

saja?”

Giok-koan Tojin tampak terkejut, dia melihat Pek-ciok Tojin, Kouw-bok tertawa dingin:

“Aku bertanya kepadamu!” “Aku?”

“Apakah Sian-in Cinjin bukan gurumu?” Giok-koan Tojin benar-benar terkejut, Sian-in Cinjin adalah gurunya tapi sudah meninggal 20 tahun yang lalu, sekarang di Ceng-sia- pai generasi dialah yang tertua. Selama 10 tahun ini tidak ada seorang pun yang menanyakan keadaan gurunya, sekarang tiba-tiba saja ada yang berkata seperti itu, hingga dia merasa aneh, Pek-ciok Tojin yang berdiri di sisi juga merasa aneh dan menyela:

“Dia dari Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin!” Kouw-bok dengan dingin berkata:

“Aku hanya tahu dia murid Sian-in Cinjin.” Dengan bingung Giok-koan Tojin melihat Kouw-bok, lalu bertanya:

“Apakah Lo-cianpwee sahabat dari almarhum guruku?” Kouw-bok berkata dengan penuh keharuan: “Apakah

Sian-in Cinjin telah meninggal?” “Sudah hampir 20 tahun..

Kouw-bok hanya bersuara “Oh!” setelah itu baru menatap Giok-koan Tojin lagi:

“Kau juga sudah menjadi seorang tua!”

“Siapa sebenarnya Lo-cianpwee?” tanya Giok-koan Tojin, rambut dia semua sudah memutih, di dunia persilatan generasinya sangat tinggi, orang yang usianya lebih tua darinya bisa dihitung dengan jari, tapi orang tua ini walaupun dia sudah berusaha mengingat-ingat tapi sama sekali tidak ada bayangan, tapi Kouw-bok pun sepertinya sedang bercanda.

“Lo-cianpwee...” terpaksa dia memanggil. Mata Kouw-bok tampak berkedip:

“Bekas luka di dahimu, kau ingat karena apa?”

Giok-koan Tojin mengelus dahi sebelah kanan, di sana memang ada bekas luka berbentuk bulan, seperti bekas gigitan dan sangat jelas.

Pikirannya kembali menggali ke beberapa puluh tahun yang silam, dia berkata dengan pelan:

“Itu pemberian dari Yan-suheng!' “Waktu itu Yan Cong-thian dan kau masih kecil, walaupun bertarung secara persahabatan tapi kalian menyerang secara serius!”

Giok-koan Tojin berteriak:

“Anda adalah orang yang membantu menahan serangan pedang dari Yan-suheng, apakah Anda adalah Pui Siok-siok yang menolongku waktu itu?”

“Tetapi aku tetap terlambat sedikit, kalau saat itu tidak segera menolongmu, sekarang ini mana mungkin aku bisa mengenalimu si anak kecil itu?”

Giok-koan Tojin terpaku, kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun berlalu, dia seperti bermimpi, Kouw-bok terlihat terharu.

Pek-jin Taysu yang berdiri di sampingnya tampak terkejut, Giok-koan Tojin terlihat agak tenang, baru bertanya:

“To-heng, Lo-cianpwee ini adalah...” Giok-koan Tojin berteriak:

“Beliau adalah Bu-tong-thi-han (Laki-laki berhati besi dari Bu-tong-pai), Pui Bu-ki!”

Pek-jin Taysu seperti teringat sesuatu, tapi Kouw-bok sudah berkata lagi:

“Pui Bu-ki sudah tidak ada...”

Tiba-tiba Giok-koan Tojin seperti sadar, dia berteriak: “Kouw-bok Cinjin...”

Kouw-bok tertawa terbahak-bahak. “Daya ingatmu tidak jelek!”

“Saat muda Boanpwee pernah datang ke Bu-tong-san mengunjungi Lo-cianpwee, tapi...”

“Aku sedang menyembunyikan diri!” kata Kouw-bok sambil mengibaskan rambut panjangnya, “karena menyembunyikan diri, aku bisa melepaskan banyak masalah yang merisaukan hati juga bisa melepaskankan kebajikan dan dendam dunia persilatan, hingga aku bisa bertahan hidup sampai setua ini!”

“Almarhum guruku pernah mengatakan kalau dunia persilatan sangat berbahaya tapi kalau sudah masuk dunia persilatan ingin menarik diri pun bukan hal yang mudah!” kata Giok-koan Tojin.

“Orang persilatan akhirnya pun akan mati di dunia persilatan juga!” kata Kouw-bok menghela nafas, “seperti aku yang sudah tua ini dan sudah menyembunyikan diri sejak lama, tapi pada akhirnya aku harus keluar juga!”

“Kata-kata Lo-cianpwee terlalu berat...”

“Menjadi seorang angkatan tua pasti ada kebaikannya, kalau mengatakan buruk kepada dirinya sendiri, malah dianggap merendahkan diri!” Kouw-bok berkata dengan nada haru.

Giok-koan Tojin tidak bertanya terus, terhadap angkatan tua yang pernah menolongnya dulu, tidak diragukan lagi dia memang selalu terkenang dan berkesan baik.

Pek-jin Taysu adalah seorang hweesio, tentu saja adatnya lebih tenang, Kouw-bok melihat mereka dan bertanya:

“Apakah kalian sudah tahu masalah Wan Fei-yang?” “Menurut gosip dunia persilatan, dia mati di tangan Beng

To, tapi Boanpwee merasa, pemuda itu seharusnya tidak berumur pendek!”

“Apakah kau bisa Kua-mia (meramal)?” tanya Kouw-bok. “Boanpwee tidak begitu mengerti, jadi tidak merasa

begitu yakin!” kemudian Giok-koan Tojin berkata lagi, “dulu di antara kami ada sedikit kesalah pahaman...” “Aku tidak menyalahkan kalian, selama beberapa tahun ini Thian-can-sin-kang hanya muncul dari Bu-tong-pai, dan pada generasi sekarang hanya Fei-yang yang menguasainya, sebelum Beng To muncul secara terang-terangan, kalau tidak mencurigai Fei-yang siapa yang akan kalian akan curigai?”

Giok-koan Tojin berpikir sebentar, lalu menatap Kouw- bok, sebelum membuka suara, Kouw-bok malah sudah bertanya:

“Dulu apakah kau tahu bahwa Thian-can-sin-kang seperti yang tersebar di dunia persilatan berasal dari ilmu lweekang Mo-kauw?”

“Maafkan Boanpwee yang tidak sopan!” Giok-koan Tojin adalah orang yang blak-blakan, tapi di depan Kouw-bok, hatinya yang dipenuhi dengan beban tidak berani sembarangan bicara.

Kouw-bok mengerti jalan pikirannya, dengan tenang dia berkata:

“Ini adalah sebuah kenyataan, tapi bila mau menuntut dengan keras, tidak bisa juga, ilmu dari Mo-kauw itu secara terang-terangan terukir di sebuah tugu di daerah Biauw, dan bercampur dengan ilmu guna-guna, maka tidak semuanya milik Mo-kauw.”

“Ilmu lweekang Mo-kauw dan ilmu guna-guna adalah ajaran iblis dan sesat, aku kira...” kata Giok-koan Tojin.

Kouw-bok menjawab dengan dingin:

“Memang ilmu lweekang dari Mo-kauw ini dicampur dengan ilmu guna-guna, tapi saat di Bu-tong-pai semua sudah diubah, cara berlatih dengan perkumpulan lurus lainnya tidak berbeda jauh!” “Boanpwee tidak berani menaruh curiga atas apa yang Lo-cianpwee katakan...”

“Berarti kau masih punya sedikit rasa curiga, tapi itu bukan salahmu!” kata Kouw-bok lalu bertanya lagi, “aku ingin bertanya, apakah ada murid Bu-tong-pai setelah menguasai Thian-can-sin-kang melakukan kejahatan?”

“Tidak ada!” jawab Giok-koan Tojin dengan tulus.

“Lalu apa bedanya dengan perkumpulan lurus?” Kouw- bok menarik nafas lagi, “murid Bu-tong-pai, Wan Fei-yang setelah menguasai Thian-can-sin-kang tidak pernah mencelakai kalangan persilatan, malah menolong orang yang sedang menghadapi bahaya juga memapah orang yang lemah!”

“Boanpwee mengerti!”

“Menurutku kau belum mengerti, kalau tidak, kau tidak akan datang dengan berkelompok ke Bu-tong-san untuk mencela dan menunjuk dosa-dosa Wan Fei-yang!”

Dengan cepat Giok-koan Tojin menjelaskan:

“Sebab orang yang mati itu seperti mati karena Thian- can-sin-kang!”

“Tapi kalian tidak memikirkan sifat Wan Fei-yang dan bagaimana cara dia menghadapi orang!”

“Kami pemah memikirkannya!”

“Tapi kalian ingin memperalat kepandaian Wan Fei-yang untuk membantu kalian mencari penjahatnya!” Kouw-bok tertawa dingin, “tidak diragukan lagi itu adalah cara yang sangat baik!”

Wajah Giok-koan Tojin terlihat malu, Pek-jin Taysu akhirnya bicara:

“Maafkan Pinceng menyela, kalau bukan karena terlalu mirip dengan Thian-can-sin-kang, kami tidak akan menyulitkan Wan Fei-yang, sebenarnya kami juga tidak salah sasaran, setelah bertemu dengannya, kami baru tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia mencari sampai ke daerah Biauw!”

Itu karena aku belum meninggal, sehingga Wan Fei-yang tahu ternyata Thian-can-sin-kang masih ada banyak rahasia yang belum tersingkap, sebelumnya dia tidak tahu apa-apa.”

Kouw-bok tertawa dingin lagi:

“Seperti yang kalian katakan, memang kalian tidak salah sasaran, kalau tidak, dia tidak akan jauh-jauh mencariku untuk menanyakannya dengan jelas!”

“Inilah suatu rahasia, Bu-tong-pai tentu tidak akan mengumumkan ke seluruh dunia, Bu-tong-pai hanya ingin menyelesaikan secara pribadi, kami ingin membantu pun tidak bisa!” kata Pek-jin Taysu.

“Kau adalah hweesio yang pengertian!” tiba-tiba Kouw- bok menggelengkan kepala dengan terharu, “kalau mengadu kelincahan lidah, Wan Fei-yang menghadapimu seorang saja sudah sulit apalagi masih ada yang lainnya! Mana mungkin tidak akan membuatnya terjebak?”

Pek-jin taysu terpaku, dia melihat Giok-koan Tojin, Giok- koan Tojin hanya bisa tertawa kecut, dia terpaksa mengakui bahwa pada mulanya dia memang sengaja membuat Wan Fei-yang masuk jebakan dan menyetujui mengejar pembunuh sebenarnya.

Kouw-bok berkata lagi:

“Sebenarnya tidak ada hubungan sedikit pun dengan Wan Fei-yang, tapi dia malah harus memikulnya sendiri, sekali berjanji beratnya seperti memikul banyak emas, walaupun mati tidak akan menyesal, Bu-tong-pai bisa punya murid seperti dia merupakan kebanggaan kami!” Pek-jin Taysu berkata lagi:

“Seharusnya dia menjelaskan kepada kami dan bersama- sama mencarinya ke daerah Biauw untuk mengetahui kenyataan sebenarnya!”

“Salah, seharusnya dia diam-diam mengendalikan tenaga untuk mendorong, akhirnya orang yang bernama Beng To itu akan muncul!” Kouw-bok berkata sambil melihat Pek-ciok Tojin, “tapi kita harus menunggu selama 2-3 bulan, padahal kita tidak bisa menunggu lama-lama!”

“Karena kami sama-sama ingin tahu apakah benar ada orang yang telah berlatih dan menguasai ilmu iblis itu?” kata Pek-ciok Tojin.

“Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita!” kata Kouw-bok, “apa alasannya, kita sendiri tahu dengan jelas!”

Pek-ciok Tojin mengangguk, kata Kouw-bok sambil tertawa kecut:

“Karena kita percaya pada ilmu silat Wan Fei-yang dan yakin tidak ada masalah yang tidak bisa dibereskan, kita semua harus bertanggung jawab atas kematiannya!”

Pek-ciok Tojin menundukkan kepala, akhirnya Pek-jin Taysu berkata:

“Sebenarnya kami pun bermaksud seperti itu ingin meminjam kepandaian Wan Fei-yang...”

“Taysu lebih jujur!” kata Kouw-bok, kemudian dia melanjutkan, “apakah tujuan kalian datang kemari?”

“Dengan kebiasaan Mo-kauw, kalau tidak kami tidak yakin dia tidak akan bertindak, bila sudah bertindak harus sampai mati baru berhenti, setelah peristiwa Hoa-san-pai, mungkin Bu-tong-pai adalah tujuan mereka berikutnya!”

“Mereka menyerang Hoa-san-pai, Boanpwee percaya mereka ingin memamerkan kekuatan dan wibawa Beng To, dengan alasan Bu-tong-pai berutang dan minta membayar kembali, karena dari cara mereka membuka rahasia Thian- can-sin-kang, bisa dibayangkan!”

“Kalau begitu, kalian datang untuk menonton keramaian?” tanya Kouw-bok sambil tertawa dingin.

Giok-koan Tojin menjelaskan:

“Beng To pernah memberi tahu janji pertemuan antara kami dengan Wan Fei-yang, kalau ada beberapa orang dari beberapa perkumpulan datang ke Bu-tong-san, dia tidak akan melepaskan kesempatan memamerkan wibawa dan kekuatannya, maka kami mengambil kesempatan ini untuk mengadu kepandaian!”

Pek-jin Taysu menyambung:

“Mo-kauw sudah beberapa kali mendatangi dunia persilatan Tionggoan, karena kekompakan perkumpulan silat di Tionggoan mereka kalah dan mundur dari Tionggoan, kali ini pun tidak terkecuali!”

“Begitukah?” tanya Kouw-bok.

Pek-jin Taysu melafalkan bacaan Budha:

“Pinceng sudah berpesan kepada para murid Siauw-lim- pai yang ikut kemari untuk kembali ke Siauw-lim, dan minta para pesilat tangguh Siauw-lim-pai datang kemari untuk membantu!”

Giok-koan Tojin ikut bicara:

“Murid-murid Ceng-sia-pai pasti setelah mendapat kabar sedang menuju Bu-tong-san!”

Akhirnya wajah Kouw-bok terlihat tenang, dia mengangguk:

“Baguslah, dunia persilatan sudah lama tidak ramai seperti ini!” “Asalkan dunia persilatan Tionggoan bersatu Mo-kauw pasti akan gagal...” kata Giok-koan Tojin.

“Mungkin kali ini agak berbeda!” kata Kouw-bok.

“Lo-cianpwee terlalu mengangkat tinggi Mo-kauw!” kata Pek-jin.

“Berdasarkan tindakan Mo-kauw yang kutahu, pada akhirnya akan bertarung secara serabutan, sebab pesilat mereka tidak ada yang sanggup menangani tugasnya secara mandiri dengan pesilat tangguh yang tidak terkalahkan, apalagi dunia persilatan menolak kata sepakat dengan cara saling mengalah!” kata Kouw-bok.

“Kali ini pun kami tidak akan berkompromi!” kata Giok- koan Tojin.

“Tapi mereka sudah mempunyai pesilat tangguh yang sangat lihai!”

“Beng To? Tapi dia hanya sendiri!”

“Demi berlatih ilmu iblis itu Beng To sudah banyak membunuh pesilat tangguh, para pesilat yang terbunuh itu menurut Pek-ciok Tojin adalah orang-orang yang sanggup menangani pekerjaan secara sendiri dan mandiri, maka sisa pesilat yang ada di Tionggoan dengan kondisi seperti sekarang sudah tidak banyak lagi!”

Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin harus menyetujui pendapat Kouw-bok.

Kouw-bok menatap mereka:

“Seperti apa ilmu silat Fei-yang, aku sendiri pun belum tahu, tapi melihat sifatnya aku percaya dia bukan tipe orang yang memperebutkan nama dan kekayaan!”

“Memang dia bukan tipe orang seperti Tokko Bu-ti, Bu-ti- bun (perkumpulan tidak terkalahkan) didirikan Tokko Bu-ti, dia menantang semua pesilat tangguh dunia persilatan dan tidak terkalahkan, banyak kalangan mengira dia benar-benar tidak terkalahkan!” kata Giok-koan Tojin.

Pek-ciok Tojin menyela:

“Memang semenjak dia mendirikan Bu-ti-bun, selain perkumpulan kami, perkumpulan lain punya dendam atau tidak, setiap 10 tahun sekali diadakan pertarungan, pada pertarungan terakhir dia mencari masalah dengan dunia persilatan dan tidak ada seorang pun yang berani menghadapi Bu-ti-bun!”

“Tapi akhirnya dia kalah oleh Wan Fei-yang, singkat cerita apakah Wan Fei-yang pantas dikatakan tidak terkalahkan di dunia ini?”

Giok-koan Tojin mengangguk:

“Menurut gosip dunia persilatan, Wan Fei-yang adalah pesilat muda yang selama ratusan tahun ini tidak terkalahkan!”

Tiba-tiba Kouw-bok berkata:

“Di mata kalian ini hanya sekedar gosip belum tentu benar!”

“Pertarungan antara Wan Fei-yang dan Tokko Bu-ti katanya tidak ada yang menyaksikan!” kata Giok-koan Tojin.

Dengan santai Kouw-bok berkata:

“Walau bagaimana pun di atas langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia lainnya, kenyataan membuktikan ilmu silat Beng To berada di atas Wan Fei- yang!”

“Mo-kauw adalah perkumpulan sesat, pertarungan yang terjadi pun belum tentu akan berjalan adil, mungkin Beng To memenangkannya dengan cara licik!” kaa Giok-koan Tojin. “Kabar akan datang lebih jelas, jika benar ilmu silat Beng To sangat tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkannya...” kata Kouw-bok,

“Kita bersatu...” kata Pek-jin Tojin.

“Kalau dia menantang kita satu persatu, dan berhasil mengalahkan kita satu persatu bagaimana?” tanya Kouw- bok.

Pek-jin Taysu terpaku. Kouw-bok menarik nafas:

“Setelah beberapa kali Mo-kauw kalah dari pesilat- pesilat Tionggoan dan tahu memilih cara apa yang cocok untuk mengalahkan pesilat-pesilat Tionggoan, akhirnya mereka memerlukan seorang pesilat tangguh!”

“Menurut kabar, pertarungan yang terjadi di Hoa-san hanya Beng To yang bertarung!” kata Giok-koan Tojin.

“Dari sini dapat diketahui jiwa pahlawan seseorang seperti kertas, bagaimana dengan pesilat tangguh Tionggoan?”

“Apakah harus dengan jumlah banyak orang menyerang dia yang seorang diri?”

Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin tertawa kecut. Kouw-bok berkata lagi:

“Kabarnya orang yang bernama Beng To hanya membawa orang-orang dari suku Biauw!”

Giok-koan Tojin mengangguk:

“Kami sudah menyuruh orang untuk mencari tahu, kabarnya sampai saat ini belum ada orang-orang dari Mo- kauw yang muncul!”

“Apakah mereka masih menyimpan rencana busuk lainnya? Dan sedang menunggu kesempatan lain?” Kouw- bok menundukkan kepala. Giok-koan Tojin mulai melihat keresahan Kouw-bok, dia berkata:

“Lo-cianpwee tidak perlu merasa khawatir...” Kouw-bok memotong:

“Apakah kalian dulu pernah ikut dalam pertarungan antara pesilat Tionggoan dengan Mo-kauw?”

“Waktu itu Boanpwee masih kecil!”

“Waktu itu pun Pinceng hanya seorang hweesio kecil!” Pertarungan antara Mo-kauw dengan dunia persilatan

Tionggoan sudah berlangsung beberapa puluh tahun yang lalu, hanya orang seumur Kouw-bok dan berhasil menjadi seorang pesilat tangguh baru bisa punya kesempatan untuk ikut!

Kouw-bok melihat Pek-jin Taysu dan Giok-koan Tojin, lalu menarik nafas:

“Pantas kalian begitu optimis!”

Dengan aneh Giok-koan Tojin bertanya: “Memangnya keadaan dulu seperti apa?”

“Awalnya keadaan ilmu silat Tionggoan seperti sepiring pasir, begitu setiap perkumpulan merasa di ambang bahaya, mereka baru mau bekerja sama tapi Mo-kauw telah menyusun rencana, maka pertarungan kali itu dimenangkan dengan susah payah. Boleh dikatakan semua itu karena faktor keberuntungan, yang terluka dan yang mati sangat banyak, setelah sekian lama baru bisa kembali normal, dengan kejadian sebelumnya tidak ada perbedaan.”

“Maksud Lo-cianpwee mengenai kekompakan dunia persilatan?” tanya Giok-koan Tojin.

“Sekarang pun masih seperti dulu!” Kouw-bok menarik nafas. “Mo-kauw hanya terdiri dari satu perkumpulan tentu lebih kompak...” kata Giok-koan Tojin k lagi.

“Salah! Mo-kauw terdiri dari 10 perkumpulan dari barat, tapi mereka sangat kompak!”

“Katanya di tanah barat mereka pun seperti itu, setiap tahun pasti akan memilih sebuah tempat dan saling berunding serta bertanding, yang menang akan merasa bangga, yang kalah pun tidak akan merasa itu adalah sebuah penghinaan!” kata Kouw-bok.

“Kalau itu kenyataan, rasanya untuk mencapai tujuan seperti itu bukan hal yang mudah!” kata Giok-koan Tojin.

“Lihatlah dunia persilatan Tionggoan yang sudah terkenal, mereka selalu bersembunyi karena takut kalah dan ambruk, ingin bertukar pikiran dan bertukar ilmu, itu hal yang tidak mungkin, kalau saling sikut itu sudah tidak aneh!” Giok-koan Tojin dan Pek-jin Taysu mengangguk, ternyata dunia persilatan Tionggoan tetap seperti itu, tidak terjadi

perubahan.

Kata Kouw-bok:

“Kabarnya setiap perkumpulan Mo-kauw ilmu mereka selalu maju pesat, mungkin alasannya karena mereka bisa menyerap kelebihan ilmu silat Tionggoan kemudian mengubahnya, tapi kita para pesilat Tionggoan selalu menganggap ilmu silat Mo-kauw adalah ilmu sesat dan tidak patut dilihat, maka keadaan kita semakin buruk!”

“Untuk pertama kalinya kami mendengar komentar seperti itu!” Giok-koan Tojin menarik nafas.

“Sebenarnya semua itu sangat beralasan, kalau dunia persilatan menginginkan nama perkumpulan nya naik paling sedikit ilmu silat mereka harus ada kemajuan,” kata Pek-jin Taysu. “Tidak mungkin, perkumpulan mana yang mau menerima kelebihan ilmu silat suku Biauw?” Kouw-bok menarik nafas panjang.

“Pendapat Lo-cianpwee memang tepat...”

“Tapi aku pun baru mengerti mengenai alasan ini.”

Kemudian dia tertawa kecut, kalau dia tidak berkepala batu dia tidak akan mempertahankan prinsipnya dan bersembunyi di dasar gunung selama beberapa puluh tahun. Giok-koan Tojin tidak tahu mengenai hal ini, maka dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Kouw-bok tapi Pek-ciok

Tojin mengerti, dia memotong:

“Sekarang kalau kita memperbaiki, apakah sudah terlambat?”

“Yang takut tidak akan mau memperbaiki, yang mau diperbaiki tidak akan terlambat!” Kouw-bok tertawa kecut, “berpikir memang mudah, tapi prakteknya berbeda!”

Pek-jin Taysu melantunkan bacaan Budha:

“Pinceng setuju dengan perubahan ini tapi aku tidak bisa mengambil ketentuan dan nanti setelah kembali ke Siauw- lim-si, aku akan membicarakan masalah ini kepada para tetua di Siauw-lim-si!”

“Boanpwee pun harus mendapatkan persetujuan dulu dari para tetua Ceng-sia-pai!” kata Giok-koan Tojin.

“Apakah kalian tidak mempunyai rasa percaya diri untuk menyakinkan mereka?” tanya Kouw-bok.

Pek-jin Taysu membaca bacaan Budha lagi, Giok-koan Tojin menarik nafas:

“Tampaknya butuh waktu yang lama!” Kouw-bok tertawa dingin:

“Angkatan tua seperti mereka sangat keras kepala dan sepanjang tahun tinggal bersembunyi di gunung dan mereka tidak tahu jelas keadaan sekarang, ingin menasihati mereka tidak mudah malah cenderung sulit!”

“Asalkan kita terus berusaha pada akhirnya akan berhasil, kita akan menanamkan pola pikir seperti ini kepada murid-murid kami...” kata Giok-koan Tojin.

Tiba-tiba dia berhenti bicara, sebab tidak terasa telah mengungkapkan kekhawatiran yang bercokol di dalam hatinya. Ternyata dia tidak percaya diri bisa menasihati para tetuanya, hanya berharap pada generasi yang lebih muda.

Kouw-bok lebih terharu dibandingkan Giok-koan Tojin, dia menarik nafas panjang:

“Sepertinya sudah tidak bisa melihat hari-hari seperti itu lagi, hanya berharap hari-hari seperti itu datang tidak terlalu lama!”

Kemudian dia berkata:

“Lebih baik kita bersiap-siap, menghadapi kedatangan Mo-kauw!”

“Kecuali kalau dia tidak punya niat menguasai Tionggoan, kalau tidak, dia pasti akan datang pada saatnya!” kemudian dia menusuk lurus tongkat bambu yang dipegangnya dan berkata:

“Walau bagaimanapun orang pertama yang menerima pertarungan adalah orang dari Bu-tong-pai!”

“Tenanglah, Lo-cianpwee, kami akan berbuat sekuat tenaga mendukung Bu-tong-pai!”

Kouw-bok terdiam, dengan terharu menatap Giok-koan Tojin.

Orang-orang ini berusaha memperalat Wan Fei-yang berarti ilmu silat mereka di bawah Wan Fei-yang, sedangkan Wan Fei-yang bukan lawan Beng To, apakah orang-orang akan seperti itu juga? Apakah Langit iri kepada orang berbakat? Orang baik jarang ada yang panjang umur. Teringat pada Wan Fei-yang hati Kouw-bok benar-benar seperti daun yang layu.

0-0-0

Wan Fei-yang masih berada di ruang rahasia di tempat sembahyang, bila ada orang datang, lalu melihat keadaannya sekarang, mereka tidak akan mengenalinya. Sekarang dia tidak seperti seorang manusia, seperti hidup dan seperti mati.

Sebab tubuhnya sudah terbungkus dalam kepompong ulat sutera. Kalau di tempat terang mungkin jelas terlihat bahwa di dalam kepompong bersembunyi seseorang. Di kamar rahasia itu hanya ada sebuah lampu tempel yang selalu menyala dan sekarang sudah padam, di bawah cahaya redup benar-benar sulit melihat benda yang ada di dalam kepompong.

Kepompong itu tidak sekuat kepompong yang benar, begitu kecil, hanya berupa selapis lapisan tipis, bila disentuh mungkin bisa hancur.

Perubahan seperti itu terjadi untuk kedua kalinya. Pertama sewaktu dia berlatih Thian-can-sin-kang dan Sen Man-cing menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Wan Fei- yang. Tenaga dalam yang berada di tubuh Sen Man-cing sudah tidak ada gunanya malah menjadi beban, setelah dialirkan ke tubuh Wan Fei-yang, tenaga dalam itu menjadi kekuatan yang dahsyat. Bisa membantu Wan Fei-yang melancarkan aliran darah ke semua nadi dan tidak berhenti.

Awalnya dia hanya pelan-pelan masuk ke dalam keadaan hibernasi, tenaga dalam yang keluar dari tubuhnya, kemudian menjadi benda seperti kepompong, mungkin benda itu bisa melindunginya, tapi efeknya tidak akan keluar paling sedikit dilihat dari luar akan seperti itu.

Saat pertama kali dan sekarang ini dia tidak sampai diserang, semuanya dalam keadaan tenang dan kepompong itu pun berhasil dibuat.

Tapi kulit kepompong sekarang ini dengan kepompong saat pertama mengalami perbedaan. Waktu itu seperti kepompong ulat biasa, kali ini kepompong mengeluarkan cahaya berwarna kuning muda, kepompong ini seperti dianyam oleh sutera berwarna kuning menjadi kepompong emas.

Di ruang rahasia itu tidak ada angin, tapi kepompong emas itu terus bergerak-gerak, gerakannya tidak seperti tertiup angin dan tidak terjadi di bagian tertentu, hampir di semua bagian kepompong, terlihat berirama.

Sebelumnya Wan Fei-yang sudah tersadar. Tapi matanya tetap terpejam, sewaktu dalam keadaan hibemasi, dia bernafas melalui kulit, alat pernafasannya setelah dia tersadar baru berfungsi dan melakukan tugas sebagaimana mestinya.

Perubahan yang terjadi tampak begitu alami, Wan Fei- yang sendiri pun merasa tidak ada masalah dengan perubahannya, dia hanya merasa sekarang dia sudah menjadi seperti dewa melayang di dunia dewa! Tidak terasa tubuh yang berat, tidak merasa ada yang mengekang.

Di sekelilingnya tampak kosong. Kekosongan ini biasanya digunakan oleh seorang pertapa hingga bisa mencapai tahap seperti ini. Ada orang yang seumur hidupnya tidak bisa mencapainya, ada yang bisa mencapai tahap ini hanya sebentar, atau melewati nya dengan sangat cepat. Sekarang Wan Fei-yang berada dalam keadaan pikiran kosong sampai akhirnya Beng To muncul.