-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 06

Jilid 06

Setelah melihat serangga-serangga itu pergi, dia baru bisa menghembuskan nafas tapi senjata rahasia yang ada di tangannya sudah dilemparkan ke arah Pei-pei.

Wan Fei-yang sekali lagi menyambut:

“Nona Tang, demi diriku, cukup sampai disini!

“Kalau kami terus bertarung apa yang akan kau lakukan?” tanya Tong Ling tiba-tiba.

“Tentu saja Wan-toako akan berada di pihakku, lalu kami akan memberi pelajaran kepadamu!” sela Pei-pei.

“Wan-toako adalah pendekar dari perguruan lurus, mana mungkin dia akan membantu orang yang sering menggunakan guna-guna dari Mo-kauw?”

“Aku tidak pernah menggunakan guna-guna untuk mencelakakan orang, aku bukan iblis, kalau bicara hati-hati, jangan menyerangku lagi!”

Tong Ling diam-diam meletakkan ke dua tangannya di bawah, dia sudah memegang senjata rahasia, setiap saat bisa melemparkannya. Entah Wan Fei-yang melihatnya atau tidak. “Kalau kalian terus begitu, biar aku saja yang pergi!” kata Wan Fei-yang marah.

“Kalau kau tidak ikut campur itu lebih baik, aku mempunyai cara tertentu menghadapi siluman kecil ini,” kata Tong Ling.

“Wan-toako, kau mau ke mana?” tanya Pei-pei.

“Kemana pun aku bisa pergi, asal tidak usah melihat kalian lagi!” jawab Wan Fei-yang.

“Tidak...” Pei-pei dan Tong Ling bersama-sama berteriak.

Akhirnya mereka mengerti alasan Wan Fei-yang pergi. “Aku harus mengikutimu!” kata Pei-pei.

“Kau tidak tahu malu!” Tong Ling marah, tangannya mulai melayang.

Pei-pei tidak takut:

“Silakan lemparkan senjata rahasiamu, biar aku ambruk karena senjata rahasiamu, aku tidak mau Wan-toako sedih!”

Tong Ling segera menurunkan tangannya:

“Kau benar-benar jahat, kau ingin membuat Wan-toako membenciku, aku tidak akan terpancing olehmu!”

Kepala Wan Fei-yang seperti akan terbelah menjadi dua.

Masalah paling sulit adalah menghadapi gadis, dari awal dia sudah tahu, tapi inilah pertama kali dia mengalami keadaan seperti ini.

Pei-pei segera kembali ke tempatnya mengambil mangkok dan sumpit. Tong Ling juga duduk kembali di tempatnya, dia melihat nasi yang ada di dalam mangkok, bulu kuduknya merinding lagi, dia seperti melihat ada ulat yang sedang merayap di dalam nasi.

“Kau mulai lagi!” Tong Ling berteriak lagi. “Apa maksudmu dengan mulai lagi?”

“Jangan begitu tegang!” mata Wan Fei-yang terlihat berputar.

Tong Ling baru bisa menghembuskan nafas karena di tangannya memang tidak ada apa-apa.

Wan Fei-yang meminta semangkok nasi lagi. Itu membuat Tong Ling merasa tenang dan lebih kagum kepadanya.

Pastinya makan malam kali ini berada dalam suasana tidak enak. Setelah makan Wan Fei-yang baru merasa tenang. Dia mengira tidak akan ada masalah yang muncul lagi, tapi masalah muncul di waktu dia sedang berpikir.

Kamar hanya ada 2, satu untuk Wan Fei-yang, satu lagi untuk Tong Ling dan Pei-pei. Biasanya dua gadis berada dalam satu kamar tidak akan terjadi masalah, tapi sewaktu tidur Pei-pei malah lari dan masuk ke kamar Wan Fei-yang.

Saat Pei-pei datang ke kamar Wan Fei-yang, Tong Ling mengikuti dari belakang. Dia memang selalu mengawasi Pei- pei tapi bukan masalah guna-guna.

Pei-pei sudah berjanji tidak akan menggunakan guna- guna lagi, supaya Wan Fei-yang tidak membencinya. Tong Ling sangat tenang mengawasi pei-pei karena dia tidak ingin Pei-pei mendekati Wan Fei-yang. Maka begitu Pei-pei meninggalkan kamar, dia segera mengejarnya dari belakang.

Baru saja Wan Fei-yang membuka pintu kamarnya dan Pei-pei sudah menerjang masuk, dia ingin bertanya tapi Pei- pei sudah menutup pintu, sebelum ditutup Tong Ling sudah melangkah masuk supaya pintu tidak bisa ditutup.

“Ada apa kau kemari?” tanya Pei-pei.

“Kalau kau sendiri kemari ada apa?” Tong Ling balik bertanya.

“Aku datang untuk melayani Wan-toako, ini adalah kebiasaan bangsa kami!” jawab Pei-pei.

“Aku rasa itu hanya kebiasaan dari dirimu sendiri!” “Apakah kau lupa aku adalah calon istrinya, melayaninya

adalah tanggung jawabku!” Pei-pei menjawab dengan serius. Tong Ling tertawa dingin, Pei-pei segera membereskan ranjang Wan Fei-yang, dia tidak mengeluarkan suara, juga

tidak melayaninya.

Tong Ling menatap Wan Fei-yang, dia tidak bereaksi sama sekali, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Wan Fei-yang memang sedang berpikir. Masa lalunya memang sangat pahit, tapi dia selalu mengingatnya.

Akhirnya Tong Ling tidak tahan lagi, dia berteriak: “Wan-toako...”

Wan Fei-yang seperti terbangun dari mimpi: “Ada apa?”

Tong Ling melihat Pei-pei:

“Kau benar-benar menerima layanannya?” “Melayani atau tidak, kukira tidak ada salahnya!” kata Wan Fei-yang.

“Kalau begitu, aku juga akan melayanimu!” dia melangkah ke depan Pei-pei dan merebut selimut yang ada di tangan Pei-pei.

“Apa hubunganmu dengannya?”

“Teman...” Tong Ling tertawa dingin, “aku tidak akan seperti kau memaksa mengakui diri jadi calon istrinya.”

“Kalau begitu, keadaan kita tidak sama, jangan terus mengikutiku, aku melakukan apa yang pantas kulakukan!”

“Siapa bilang aku tidak boleh melakukan semua ini, Wan- toako pun tidak melarangku, kau yang cerewet!”

“Kalau dia tidak menganggap semua ini masalah, aku juga akan seperti itu, apa yang kulakukan tidak ingin membuatnya marah, aku harus melaksanakan kewajibanku!”

“Apa yang akan kau lakukan?” Tong Ling melotot, matanya penuh dengan kobar permusuhan.

“Apa yang akan kulakukan itulah kewajibanku, tidak ada hubungannya denganmu!”

“Apa yang akan kau lakukan, aku juga bisa melakukannya!” kata Tong Ling.

Pei-pei menatapnya, diam-diam dia mundur ke sisi Wan Fei-yang, kemudian membalikkan tubuh memunggungi Wan Fei-yang.

Sewaktu Tong Ling melihat perbuatan Pei-pei, dia tampak bengong, kemudian berteriak: “Apa maksudmu?”

Reaksi Tong Ling membuat Wan Fei-yang merasa aneh. Pei-pei tidak menjawab, dia membalikkan tubuh, kedua tangannya terjulur ke bawah lalu diangkat, baju atasnya segera terlepas, muncullah dua buah gunung yang montok dan indah, putih seperti giok.

Ini benar-benar di luar dugaan Wan Fei-yang. begitu melihat, dia segera mengalihkan sorot matanya.

“Inilah tugas seorang istri!” “Kau tidak tahu malu!”

Pei-pei ingin mengatakan sesuatu. Wan Fei-yang segera membentak:

“Cepat pakai bajumu!”

“Wan-toako...” Pei-pei masih ragu. Tong Ling menyela:

“Orang terpencil tidak berbudaya, tidak bisa berubah, gampang memperlihatkan bagian tubuh, sedikit rasa malu pun tidak ada!”

“Sekarang atau nanti sama saja, aku tetap akan menjadi istrinya...”

“Cepat pakai bajumu!” bentak Wan Fei-yang.

Pei-pei mengambil kembali bajunya yang terjatuh. Kata Tong Ling:

“Kalau Wan-toako tidak menyukaimu, percuma saja kau berupaya dengan segala cara!” Sambil berkata dia mendekati Wan Fei-yang. Pei-pei merasa cemas, dengan tubuh telanjang dia segera mendekat dan ingin memeluk Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang selalu menoleh ke tempat lain, tapi dia masih merasakan Pei-pei mendekatinya. Dari sudut matanya dia melihat dada Pei-pei yang putih, dia segera bergeser sambil mengebutkan lengan bajunya.

Pei-pei terbanting ke tempat tidur karena kebutan lengan baju Wan Fei-yang, dia merasa kesal karena disalahkan, air matanya pun mengalir keluar. Saat itu tiba- tiba dia melihat ada laba-laba beroman manusia.

Laba-laba sebesar kacang kedelai tapi bukan berwarna hitam, melainkan berwarna putih keabuan dan hampir tembus pandang.

Pei-pei segera termangu setelah tahu ada laba-laba beroman manusia, dia juga tahu apa kegunaan laba-laba jenis ini.

Wan Fei-yang dan Tong Ling tidak melihat ada laba-laba itu, walaupun mereka melihatnya, pereka tidak akan terlalu memperhatikannya.

Pei-pei mengenakan bajunya kembali, diam-diam melihat ke mereka berdua lalu menunduk dia berjalan melewati mereka, membuka pintu dan keluar dari kamar.

Wan Fei-yang masih berdiri termangu. Begitu pintu tertutup, dia baru menghembuskan nafas panjang. Apakah masalah ini bisa diselesaikan dengan baik? Kalau tidak, apa yang harus dia lakukan? “Aku harus memberi pelajaran kepadanya agar kelak dia tidak akan membuat masalah yang memalukan!” kata Tong Ling, “aku benar-benar tidak pernah melihat ada gadis yang tidak tahu malu seperti dia!”

Akhirnya Wan Fei-yang membuka suara:

“Dia hanya gadis polos, apa yang dia lakukan dan pikirkan langsung dilakukan, dia bukan gadis jahat!”

“Kakak dan gurunya saja orang jahat, apa yang disaksikan atau didengar adalah kejahatan...”

“Dia seperti apa, aku yakin kau bisa melihatnya sendiri!” kata Wan Fei-yang.

Tong Ling terdiam sambil menggigit bibir. Wan Fei-yang melanjutkan lagi:

“Jumlah orang baik tidak banyak, kita mengenalnya, seharusnya kita menghargainya!

“Aku tahu dia gadis baik-baik, tapi aku tidak terima...” Tong Ling tidak meneruskan kata-katanya.

“Hampirilah dia dan hibur dia demi aku!”

“Kalau aku tidak setuju, kau pasti akan pergi ke sana, aku akan berusaha menasihatinya, tapi akibatnya seperti apa, aku tidak akan bertanggung jawab!”

Wan Fei-yang tertawa kecut. Asal kedua gadis itu tidak saling menyerang, dia sudah merasa cukup puas.

Kalau perlu, mungkin dia akan pergi karena orang baik di dunia sudah tidak banyak, mengapa harus membuat mereka sedih? Tong Ling kembali dengan cepat, katanya Pei-pei tidak ada di kamarnya. Wan Fei-yang tidak merasa terkejut, Tong Ling merasa karena terguncang maka Pei-pei pergi, setelah kemarahannya mereda tentu akan kembali. Tapi semalam sudah berlalu Pei-pei masih tidak muncul.

Saat dia meninggalkan tempat ini saat itu adalah malam hari, tidak ada seorang pun yang melihatnya pergi, maka sulit melacak jejaknya.

Wan Fei-yang merasa bingung.

Waktu sudah semakin mendesak mereka harus mencari sendiri, terlambat sehari pun sudah tidak bisa.

Satu-satunya yang membuat tenang adalah ilmu silat Pei-pei cukup tinggi, selain itu dia mengerti ilmu guna-guna untuk menjaga dirinya, jadi tidak akan terjadi masalah.

Awalnya Tong Ling merasa sangat senang karena kepergian Pei-pei tapi setelah melihat Wan Fei-yang gelisah seperti itu, dia pun ikut terganggu. Sebenarnya Tong Ling tidak berhati jahat, tapi begitu melihat Pei-pei mendekati Wan Fei-yang, rasa cemburunya segera muncul maka kata- kata yang keluar selalu terbawa emosi.

Laki-laki atau perempuan sulit terlepas dari fasa tertarik dan tidak bisa berjiwa besar dalam masalah cinta.

Saat ini Pei-pei sedang berada di sebuah kamar rahasia di sebuah tempat sembahyang. Tempat sembahyang seperti ini banyak terdapat di wilayah suku Biauw tapi yang megah dan besar sangat sedikit. Tempat ini berada di salah satu tempat sembahyang, tempat ini dibangun dan diawasi oleh Sat Kao. Di bawah tempat sembahyang itu ada sebuah terowongan rahasia dan bisa menembus ke sana-ke-mari.

Kalau Wan Fei-yang mempunyai banyak waktu, dia tidak akan sulit mencari Pei-pei dan akan menemukan tempat ini, tapi ruangan rahasia atau jalan rahasia tetap ada penghalangnya.

Ruangan rahasia atau jalan terowongan itu pasti mempunyai tempat masuk atau keluar, dan itulah celahnya.

Beng To dan Sat Kao berada di dalam sana untuk memulihkan luka-luka mereka, walaupun luka dalam Sat Kao sangat berat tapi setelah beristirahat dan berobat, dia sudah bisa berjalan dengan lancar dan tenaga dalamnya pun pelan- pelan mulai pulih kembali.

Dia terluka seperti luka biasa, asal ada waktu untuk beristirahat dia bisa cepat pulih.

Keadaan Beng To tidak sama, dia sangat percaya diri bahwa dia bisa menang, maka dia menyerang dengan sekuat tenaga, sehingga tenaga untuk menyerang sangat besar, maka tenaga balik Wan Fei-yang menyerang semua jalan darah di tubuhnya.

Memang nadinya tidak tergetar hingga putus, tapi luka akibat getaran tidak berbeda jauh dengan nadi yang tergetar hingga putus. Tenaga dalamnya tergetar hingga terpencar, walaupun dia masih mempunyai sisa tenaga tapi tetap sudah tidak bisa berkumpul lagi.  Sat Kao berusaha membuat tenaga dalamnya bisa berkumpul kembali.

Tapi dia tidak menjelaskannya dengan detail, dia berusaha menutupi keadaan sebenarnya. Dia takut Beng To akan menelantarkan dirinya sendiri dan tidak berniat untuk maju. Mencari orang sebagai pengganti Beng To, sama sekali tidak membuatnya percaya diri, tapi jika ada yang cocok dia tetap akan siap!

Tapi selain Beng To rasanya tidak ada orang yang cocok lagi. Beng To bukan hanya harapannya juga harapan dari Mo-kauw. Apakah Mo-kauw bisa terkenal di Tionggoan? Semua harus melihat tekad Beng To.

Jadi selama masih ada sedikit harapan, dia tidak akan melepaskan, dia akan berusaha menolong Beng To.

Sampai saat ini luka Beng To sudah jauh lebih baik. Sat Kao hanya khawatir Beng To akan patah semangat. Ilmu Iweekang yang Beng To latih adalah ilmu Iweekang aliran Mo-kauw. Sebenarnya dengan ilmu lweekangnya dia bisa mengobati lukanya, dan ilmu Iweekang Beng To kebanyakan didapatkan dari hasil Ih-hoa-ciap-bok. Jika bisa mendapatkan orang yang cocok tidak sulit untuk memulihkan tenaga dalam-nya yang sudah lenyap.

Masalahnya Sat Kao sendiri juga terluka, jika ingin mencari seorang lawan yang mempunyai tenaga dalam kuat lalu dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok, digunakan oleh Beng To, dia tidak sanggup. Tapi Sat Kao berusaha dan melihat-lihat di mana ada pesilat seperti itu. Akhirnya dia melihat Wan Fei-yang, Tong Ling, dan Pei-pei. Diam-diam dia mencari kesempatan melumpuhkan Wan Fei-yang, tapi kesempatannya tidak ada, dia malah melihat Pei-pei masuk ke kamar Wan Fei-yang.

Pei-pei bisa mendekati Wan Fei-yang, kalau dia bisa membantu mereka meringkus Wan Fei-yang, itulah hal yang bisa membuatnya senang.

Sat Kao melepaskan laba-laba kecil berwarna abu keputihan. Walaupun laba-laba itu kecil tapi merupakan bibit laba-laba langka, bisa mengirim informasi sangat tepat. Begitu melihat laba-laba itu Pei-pei sudah tahu Sat Kao berada di sekitar sini, dia juga mengkhawatirkan luka Beng

To, maka dia pun keluar mencari mereka.

Dari luar luka Beng To tampak tidak apa-apa, setelah Pei- pei melihat keadaan Beng To, dia merasa agak tenang dan ingin kembali ke sisi Wan Fei-yang.

SatKao mengijinkan dan mengemukakan permintaannya, agar sewaktu Pei-pei mendekati Wan Fei-yang menggunakan guna-guna untuk memikat Wan Fei-yang.

Pei-pei segera menggelengkan kepala, dia tidak lupa pada pesan Wan Fei-yang dan dia siap menunggu.

“Mungkin kau bisa bersabar menunggu tapi jangan lupa di sisi Wan Fei-yang ada Tong Ling...” kata-kata Sat Kao menggetarkan hati Pei-pei.

Dengan penuh rasa percaya diri Pei-pei menjawab: “Wan-toako tidak akan menyukainya!” “Kalau dia tidak suka, mengapa membiarkan gadis itu berada di dekatnya?”

Pei-pei harus mengakui kata-kata Sat Kao masuk akal, Sat Kao pandai menilai reaksi seseorang, dia berkata lagi:

“Gadis itu pintar bermain taktik, dia ingin mengusirmu dan merebut Wan Fei-yang dari sisimu!”

“Aku tidak akan gampang tergeser!”

“Tapi dia dengan segala upaya akan berusaha menggeser dan menyerangmu, apakah kau tidak sadar?” Sat Kao menaruh curiga.

“Wan-toako adalah orang yang mengerti aturan!”

“Tapi mereka sama-sama dari suku Han, lebih gampang berkomunikasi. Jika ada masalah Tong Ling hanya butuh satu kalimat untuk menjelas-kannya sedangkan kau butuh 10 kalimat!”

Pei-pei mengangguk, Sat Kao berkata lagi:

“Aku melihat dia lebih pintar bicara dibandingkan denganmu, kalau kalian bersengketa yang kalah pasti dirimu, di depan Wan Fei-yang kau akan terlihat lebih jahat!”

Pei-pei memang tidak tahu seperti apa perasaan Wan Fei-yang, tapi setelah Sat Kao berkata seperti itu dia baru merasa khawatir. Sat Kao yang jahat sudah melihat reaksi Pei-pei, dia berkata lagi:

“Suku bangsa Han sangat menepati janji, apa lagi Wan Fei-yang adalah orang terkenal, jika dia telah menjanjikan sesuatu kepada Tong Ling. kau tidak akan mempunyai harapan lagi!” “Tapi...” Pei-pei ingin mengatakan sesuatu.

“Masuk desa harus mengikuti aturan di sana, setelah keluar desa keadaan akan berbeda lagi, hal seperti ini bukankah sudah ada banyak contoh?”

“Tapi Wan-toako bukan orang seperti itu!” walaupun Pei-pei berkata seperti itu tapi nada bicaranya mulai sangsi. Sat Kao yang berpengalaman bisa melihatnya dengan jelas, dia berkata lagi:

“Kau siap menanggung resiko ini, aku tidak akan bisa membantumu lagi!”

Pei-pei berpikir sebentar:

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” “Aku sudah menjelaskannya bukan!”

“Apakah benar-benar harus memakai guna-guna?”

“Asal dia mengijinkanmu mendekatinya, itu sudah ada cukup, ilmu silatnya memang tinggi asal dia tidak waspada kepadamu, masukkan ulat ke dalam tubuhnya itu sebenarnya tidak sulit?”

“Aku tidak mengerti!”

“Guna-guna yang kau pilih semacam guna-guna yang bisa membuat dia lupa segalanya dan bisa membuatnya hidup sampai tua di perbatasan Biauw, untuk menemanimu seumur hidup!”

“Aku tidak mempunyai jenis guna-guna seperti ini...” “Aku bisa memberikan kepadamu dan cara menguasai

guna-guna ini tidak rumit!” Akhirnya Pei-pei mengerti juga: “Setelah dia terkena guna-guna ini apakah dia akan terluka?”

“Tidak, hanya saja pola pikirnya menjadi sederhana, setelah itu dia hanya akan setia kepadamu!”

“Maksudnya, kalau aku tidak mau dia kembali ke Tionggoan, dia pasti tidak akan pulang ke Tionggoan?”

“Itu sudah pasti, selamanya dia akan tinggal di perbatasan suku Biauw!”

“Tapi dia pendekar terkenal di Tionggoan!”

“Seorang pendekar pasti akan berkelana dan kau tidak bisa seterusnya mengikuti dia, lebih-lebih sulit menerima jika dia ke mana-mana akan menabur cinta!”

Pei-pei menundukkan kepala. Sat Kao masih terus memutar lidahnya yang seperti tidak bertulang:

“Pertama, Tong Ling saja sudah cukup membuatmu kalang kabut, kalau ditambah dengan perempuan lain, seumur hidup kau tidak akan bisa hidup tenang!”

Pei-pei mengangguk:

“Kalau menyuruhnya tinggal di perbatasan Biauw, sangat tidak menguntungkan karena ilmu silatnya…”

Sat Kao tertawa:

“Setelah terkena guna-guna pola pikirnya bisa kita kuasai, ilmu silatnya pun tidak terganggu, kau tetap bisa membuat ilmu silatnya maju, dengan ilmu silatnya yang tinggi itu seharusnya dia bisa berkembang di perbatasan Biauw ini!”

“Setelah itu apa yang harus kulakukan?” “Tentang dia kau yang mengaturnya, kau bisa membuatnya mengabdi kepada orang suku Biauw dan membuat kebaikan untuk orang suku Biauw!”

Sat Kao menarik nafas:

“Kalian suku Biauw selalu dianggap rendah oleh suku Han, setelah ada Wan Fei-yang yang berilmu tinggi di sini, dia pasti akan membantu kalian menaikkan derajat kalian. Semua itu asal kau bisa mengaturnya!”

Tampaknya Pei-pei mulai tertarik. Sat Kao melihatnya:

“Untuk kakakmu juga ada kebaikannya!” “Apa kebaikannya?”

“Setelah Kokomu pulih, dia akan berjaya di Tionggoan dan tidak akan terkalahkan!”

“Ilmu silat Koko katanya sangat tinggi, tapi dia di bawah Wan-toako, kalau Wan-toako tidak berada di Tionggoan maka Tionggoan pasti akan berada dalam genggamannya!”

“Betul, Kokomu dari suku Biauw, di Tiong-goan atau di daerah Biauw pesilat tangguh sama-sama dari suku Biauw, bukankah itu adalah suatu kebanggaan bagi orang Biauw?”

Pei-pei terdiam, Sat Kao berkata lagi:

“Tidak perlu banyak berpikir lagi!” Pei-pei masih terdiam.

“Demi suku Biauw, kau harus melakukannya!”

Pei-pei masih berpikir. Sat Kao sudah mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik bajunya dan berkata: “Kalau serangga biasa dengan ilmu lweekang Wan Fei- yang, sulit untuk masuk ke dalam tubuhnya, hanya dengan induk serangga ini...”

“Induk serangga?”

“Hanya dengan induk serangga ini baru berguna!” Sat Kao membuka kotak yang terbuat dari batu giok, di dalamnya terdapat seekor ulat kecil transparan dalam keadaan telungkup!

Sat Kao melayangkan kotak itu dengan pelan, induk serangga itu jatuh di atas telapak tangannya, dari luar terihat tidak ada keistimewanya, kalau tidak dilihat dengan teliti tidak akan bisa melihat keberadaan sesungguhnya.

Pei-pei pun terkejut:

“Apakah ini induk serangga yang tadi Suhu maksud?

Sepertinya tidak ada keistimewaannya!”

“Jika kau ingin mendapatkan Wan Fei-yang dan hati Wan Fei-yang, induk serangga ini sangat berguna!”

Pei-pei melihat ke kiri dan ke kanan: “Bentuknya sangat lucu!”

Bentuk induk serangga itu seperti diukir dari batu transparan, tidak buruk, sama sekali tidak menjijikan!

Semakin dilihat Pei-pei semakin menyukai-nya, dia bertanya:

“Suhu, apakah induk serangga ini untukku?”

“Kalau kau mengambil untuk melayani Wan Fei-yang, silakan!”

“Melayani?” Pei-pei mengerutkan alis. Kata-kata Sat Kao membuatnya merasakan aura permusuhan.

Sat Kao sadar dia telah salah bicara, dia segera berkata: “Maksudku dengan melayani sebenarnya adalah

merawat!”

“Seperti apa merawatnya?” tanya Pei-pei.

“Biarkan dia memakan induk serangga ini, sepertinya tidak akan sulit bagimu untuk melakukannya!” kata-kata Sat Kao sangat ringan dan lembut!

“Asal dia sudah memakannnya, dia akan menjadi milikmu, tidak ada yang bisa merebutnya dari sisimu!”

“Apakah Tong Ling juga tidak akan bisa?”

“Sudah pasti, siapa Tong Ling itu? Dia bukan orang penting!”

Terlihat sudut mulut Pei-pei terangkat dan dia tertawa. “Orang yang lebih sulit dari Tong Ling masih sangat

banyak!” kata SatKao.

“Sebenarnya dia tidak jahat kepada orang Biauw, dia hanya berprasangka, mungkin semua ini ada hubungan dengan kematian kakeknya!” Pei-pei tetap mempunyai sisi baik.

“Walaupun bukan karena kakeknya, dia tetap akan memandang remeh kepada orang Biauw!” Sat Kao tertawa dingin, “Didepan matanya, kau tidak pantas berpasangan dengan Wan Fei-yang, walau pun dia sendiri tidak tahu apakah Wan Fei-yang suka atau tidak kepadamu!”

Pei-pei mengangguk, Sat Kao berkata lagi: “Tidak diragukan lagi Wan Fei-yang sangat menyukaimu!”

“Maksud Suhu...”

“Kalau dia tidak menyukaimu, dia tidak akan membiarkanmu ikut, yang pasti Tong Ling tidak suka karenanya, maka dia berusaha merusak hubungan kalian!”

“Betul seperti itulah Tong Ling!”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” tangannya melayang. Induk ulat itu sudah dikembalikan ke dalam wadah. Ulat itu seperti bukan ulat hidup.

Sat Kao menyerahkan kotaknya pada Pei-pei: “Menguasai induk serangga ini tidak perlu dengan benda

khusus, cangkang kerang yang biasa kau pakai saja itu sudah cukup, setelah berhasil langsung bawa Wan Fei-yang ke perbatasan Biauw!”

“Masih ada banyak hal di Tionggoan yang harus dia bereskan!” Pei-pei belum mau menerima kotak dari giok itu.

“Beng To akan membantu membereskan masalahnya, dia sudah menjadi orang Biauw! Dia harus mengurus masalah orang Biauw dulu!” Sat Kao tertawa lagi.

“Kecuali kalau kau tidak menyukainya dan tidak peduli gadis lain mengambilnya dari sisimu, kalau tidak, kau tidak perlu banyak berpikir lagi, karena ini bukan masalah rumit!”

Sekali lagi kotak giok itu diserahkannya kepada Pei-pei, kali ini Pei-pei mau menerimanya.

Induk serangga itu tetap terlihat lucu, sampai sekarang Pei-pei tidak merasa jijik, semakin dilihat dia merasa semakin senang dan semakin suka, dia percaya induk serangga itu akan menghubungkan dia dan Wan Fei-yang selama- lamanya.

Dia memang tidak berpengalaman, dia tidak tahu bahwa dunia ini banyak terdapat orang jahat, dia juga tidak tahu seperti apa kehidupan di dunia ini, kecuali cinta masih ada banyak hal yang lebih penting.

Benda yang terlihat lucu dari luar, belum tentu benar- benar lucu. Seperti semacam bunga yang ada di daerah Biauw bunga yang paling beracun. Bunga itu berwarna-warni saat mekar dan sangat indah, siapa pun akan menyukainya, tapi jika ter-kena kulit akan membuat daging membusuk dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya.

Jadi begitu bunga beracun itu terlihat yang lain akan menghindarinya, karena dari luar terlihat jelas, tidak seperti induk serangga itu, dia akan men-dengar perintah dan setelah masuk ke dalam tubuh seseorang baru berguna.

Sampai sekarang Beng To tetap berpikiran, apapun harus diukur berdasarkan kepentingan suku Biauw. Sat Kao melihat jelas hal ini, maka dia pun tidak tergesa-gesa. Siapa pun Beng To, asal dia mengaku dia adalah murid dari Mo- kauw, itu sudah cukup.

Hanya Beng To yang bisa membuat Mo-kauw jadi terkenal, dia tidak peduli apa yang akan dilakukan Beng To.

Dia berada di daerah Biauw, dia mengerti sifat orang Biauw, ambisi Beng To sangat besar, tapi ada batas-batas tertentu, dia sudah lama menyayangkan hal ini. Mo-kauw dari barat akan membuat dunia kacau, tapi Beng To hanya ingin menguasai dunia persilatan saja, dia tidak akan melakukan masalah besar supaya dunia menjadi kacau dan bergejolak.

Bagi orang persilatan merebut kekuasaan adalah hal yang sangat membanggakan, tapi pikiran mereka terbatas.

Orang persilatan bisa berdiri terus. Pemerintah jarang bertanya-tanya, asalkan sikap mereka tidak kelewatan.

Mo-kauvv berasal dari negari barat memiliki agama di luar bangsa. Baru mulai ingin menguasai dunia persilatan, sebelum berhasil dia hanya berpikir semua baru dimulai, bukan hal yang aneh.

Keserakahan seseorang biasanya karena dia telah berhasil dan bertambah hebat.

Keserakahan Beng To belum cukup besar, begitu juga Sat Kao. Maka di masa depan belum terlihat bahaya dari mereka.

Pengalaman Wan Fei-yang pun masih sangat dangkal, dia tidak bisa melihat kejadian sebenarnya, apa lagi Pei-pei.

Orang seperti mereka boleh dikatakan tidak berpengalaman, di dunia persilatan tidak banyak orang seperti mereka, tapi apakah sekarang dengan pengalaman dangkal tidak akan mengalami hal seperti ini juga? Orang harus bisa bertumbuh menjadi dewasa.

Di malam yang sama, tapi bagi Wan Fei-yang tidak sama, bukan karena malam ini dia sudah meninggalkan tempat orang Biauw, sehingga dia bisa kembali lagi ke tempat orang Han dan dia merasa akrab dan hangat, tapi dia malah merasa kebingungan sebab belum tentu dia bisa bertemu dengan Pei-pei lagi!

Selama beberapa hari ini tidak terlihat Pei-pei, walaupun Wan Fei-yang selalu berhati-hati dan teliti dalam mencari.

Pastinya Tong Ling melihat sikap Wan Fei-yang yang berbeda, dia juga mengerti apa yang sudah terjadi. Gadis ceroboh tapi dalam perasaan cinta dia menjadi sensitif, sebagai pesilat tangguh dalam senjata rahasia dia mempunyai mata jeli, perubahan sikap Wan Fei-yang tidak bisa lolos dari pengamatannya.

Sebenarnya Tong Ling tidak terlalu membenci Pei-pei tapi begitu melihat Pei-pei mendekati Wan Fei-yang, dia menjadi marah.

Selama beberapa hari tidak melihat Pei-pei, sebenarnya dia merasa khawatir, dia pernah merasakan kesepian dan kebingungan tapi begitu terpikir Pei-pei menghilang masih di daerah Biauw, tempat di mana Pei-pei sangat hafal, ditambah lagi dia adalah seorang putri, pasti tidak akan mengalami hal yang merepotkan, dia baru merasa sedikit tenang.

Dia ingin dengan alasannya mencoba menasihati Wan Fei-yang, tapi begitu melihat Wan Fei-yang seperti tidak bersemangat dan masa bodoh, api kecemburuannya segera muncul. Kata-katanya yang sudah ada di depan bibir, ditelannya kembali. Pastinya semakin jauh dari wilayah Biauw, dia akan merasa semakin tenang, dia tidak percaya Pei-pei yang bertubuh lemah bisa mencari mereka sampai ke Tionggoan.

Dulu Tong Pek-coan selalu mengajarkan agar dia jangan salah perkiraan dan meremehkan musuh. Di depan musuh dia tidak ragu-ragu lagi, dia melakukan semuanya dengan baik, tapi tetap saja dia meremehkan Pei-pei, karena dia tidak menganggap Pei-pei adalah musuh. Dia tidak tahu dalam medan percintaan dan dalam medan pertarungan sebenarnya tidak jauh berbeda!

Walaupun dia adalah seorang gadis, kadang-kadang karena perasaan cintanya dia akan menjadi kuat!

Tapi Tong Ling sama sekali tidak berpengalaman, sampai sekarang laki-laki yang bisa membuatnya tertarik hanya Wan Fei-yang.

Sewaktu Pei-pei berada di sisi Wan Fei-yang, dia hanya ingin dia sendiri yang diperhatikan oleh Wan Fei-yang, makan atau tidur pun tidak enak. Setelah Pei-pei meninggalkan mereka, dia baru merasa tenang, dia pun tidak mengganggu Wan Fei-yang lagi.

Malam ini sewaktu Pei-pei kembali, Tong Ling sudah tertidur dengan nyenyak.

Apakah ini malapetaka baginya atau malapetaka bagi Wan Fei-yang?

Pei-pei sangat berhati-hati, dia berusaha tidak membuat Tong Ling terbangun, jadi dia tidak melewati kamar Tong Ling. Dia juga tidak mengetuk pintu kamar Wan Fei-yang, dia mendorong jendela di kamar Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang segera terbangun, begitu melihat yang masuk adalah Pei-pei, dia malah bengong.

Tidak diragukan lagi semua ini di luar dugaan Wan Fei- yang.

Jari telunjuk Pei-pei segera diletakkan di mulut memberi isyarat agar Wan Fei-yang jangan bersuara.

Wan Fei-yang tahu karena di sebelah kamarnya adalah kamar Tong Ling, walaupun dia tidak bersuara tapi dia tertawa kecut.

Melihat Pei-pei telah kembali dia sangat senang, tapi begitu memikirkan masalah yang akan muncul kemudian, dia bingung lagi.

Dia sama sekali tidak menyangka kesulitan yang akan datang bukan dari Tong Ling, kesulitan ini bukan menyangkut masalah perasaan yang sedehana, melainkan suatu malapetaka. Malapetaka yang akan langsung mengancam keselamatan nyawa nya.

Pei-pei seperti seekor kucing masuk ke kamar Wan Fei- yang, diam-diam menutup jendela, lalu masuk ke dalam pelukan Wan Fei-yang.

Waktu itu Pei-pei hanya menangis dan mata nya sudah berkaca-kaca.

Melihat mata Pei-pei tampak berkaca-kaca, tanpa terasa Wan Fei-yang memeluknya, dia sadar kalau dia sekarang mendorong Pei-pei jauh-jauh, itu adalah tindakan yang sangat kejam.

Wan Fei-yang tidak tahu berpelukan seperti ini bukan hanya dia saja yang terhanyut, Pei-pei pun bisa teijerumus dan keadaan tidak akan tertolong.

Pei-pei yang berada dalam pelukan Wan Fei-yang, terus mengeleng-gelengkan kepala, air matanya dengan cepat mengalir membasahi baju bagian dada Wan Fei-yang. Sebenarnya dia ingin menangis sepuas-puasnya, tapi dia takut membuat Tong Ling yang ada di kamar sebelah terbangun.

Wan Fei-yang merasakan gejolak hati Pei-pei juga merasakan bajunya basah karena air mata Pei-pei, tapi dia tidak merasakan induk serangga itu.

Induk serangga itu sedang merayap keluar dari dalam lengan baju Pei-pei, sambil merayap warna tubuhnya mengikuti warna keadaan di sekelilingnya. Induk ulat begitu kecil ditambah bisa berubah warna, benar-benar sulit dibedakan, apa lagi Pei-pei sedang menangis tersedu-sedu.

Ilmu silat Wan Fei-yang memang sangat tinggi, reaksinya pun cepat, jika saat itu ada yang menyerang dengan senjata rahasia atau dengan cara lain, dia tetap bisa menghadapinya, tapi jika serangan dilakukan dari pihak Pei- pei, belum tentu dia bisa menghindar.

Jika Pei-pei ingin membunuhnya benar-benar sekarang adalah kesempatan baik. Tapi yang pasti, saat muncul aura membunuh, sedikit atau banyak, Wan Fei-yang pasti akan merasakannya.

Tapi sekarang yang dia rasakan hanyalah kekesalan hati Pei-pei karena disalahkan oleh Tong Ling.

Ternyata induk serangga itu sudah tahu apa tugasnya, dia meloncat dan merayap di tubuh Wan Fei-yang. Posisi induk serangga itu saat meloncat atau merayap sangat aneh, seperti berubah menjadi binatang jenis lain.

Wan Fei-yang tidak melihatnya dia membelai rambut Pei-pei:

“Ke mana kau pergi selama beberapa hari?”

Begitu dia membuka mulut untuk bicara induk serangga itu berhenti merayap tapi tubuhnya akan menekuk, seperti anak panah siap meluncur keluar.

Waktu itu Wan Fei-yang sedang mengatakan 'ke mana', serangga itu sudah meluncur masuk ke dalam mulut Wan Fei-yang.

Perasaan Wan Fei-yang waktu itu seperti ada seekor nyamuk terbang masuk ke dalam mulutnya, dan tiba-tiba saja dia merasa ada bahaya menghampirinya.

Waktu itu pun mulutnya terasa kaku, rasa berikut menjalar ke seluruh tubuh.

Pei-pei memang tidak melihat reaksi di wajah Wan Fei- yang, tapi dari reaksi tubuh Wan Fei-yang, dia sudah tahu bahwa induk serangga itu sudah masuk ke dalam tubuh Wan Fei-yang, dia menengadah untuk melihat lebih jelas. Wan Fei-yang menatap Pei-pei, dari sikap-nya dia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi sepatah kata pun tidak bisa keluar, hanya sorot matanya yang tadinya terlihat lincah sekarang seperti membeku.

“Wan-toako...” Pei-pei memanggil.

Wan Fei-yang mendengar panggilan itu kedua alisnya berkerut, dia seperti ingin menatap Pei-pei lebih jelas, tapi dengan cepat dia melonggar-kan pelukannya.

Tapi sorot mata kaku dan beku itu mulai berubah dia terlihat lincah lagi, tapi tidak setajam tadi, matanya seperti tertutup oleh kabut tipis, dan dia terlihat linglung.

“Wan-toako...” sekali lagi Pei-pei memanggil.

Reaksi Wan Fei-yang sekali ini berbeda dibandingkan tadi, kedua tangannya bertambah erat memeluk Pei-pei, lalu mencium mulut Pei-pei, leher, juga dadanya.

Pei-pei merasa terkejut sekaligus senang dan malu.

Pei-pei jadi mengerti induk serangga itu sudah mulai melakukan tugasnya, dia juga tahu apa yang akan dilakukan Wan Fei-yang, dia sudah siap, tapi sewaktu hal ini datang dia tetap merasa bimbang.

“Suhu tidak berbohong kepadaku...” pikiran ini baru muncul. Pei-pei merasa Wan Fei-yang sudah membuka baju bagian dadanya, dia merasa malu dan menoleh ke arah lain.

Sebelumnya dia pernah membuka baju di depan Wan Fei-yang. Memang saat itu dia ingin bersaing dengan Tong Ling, waktu itu dia sedang marah, maka dia tidak merasakan apa-apa, sekarang hanya ada mereka berdua, dia tahu apa yang akan dilakukan Wan Fei-yang, dia tetap merasa bingung.

Dia meronta, rontaan ini semakin membuat Wan Fei- yang bersikap kasar dan gila.

Akhirnya Pei-pei telanjang bulat dan digendong ke ranjang.

Sekarang pikiran Wan Fei-yang sudah terbakar oleh nafsu birahi, tidak ada hal lain yang dipikirkannya.

Induk serangga itu memang sudah mulai bekerja, serangga lain tidak akan bisa berbuat seperti induk serangga ini, serangga ini bisa menguasai pikiran Wan Fei-yang, selain itu bisa menggali nafsu paling primitif manusia, nafsu birahi yang tersimpan di dalam semua orang. Pei-pei pun tidak terkecuali, nafsu birahi Pei-pei tergali oleh Wan Fei-yang, dia lupa pada semua hal, dia menikmati nafsu birahi sepuasnya. Suara dengusan ke dua orang ini membuat Tong Ling yang ada di kamar sebelah kamar jadi terbangun, dia berdiri di depan jendela, dia menggigit bibirnya sampai berdarah.

Suara mereka memang tidak terlalu besar, tapi pendengaran Tong Ling sangat tajam, mana mungkin dia tidak akan mendengarnya? Apa lagi setiap saat dia selalu waspada dengan kedatangan Pei-pei, dia ingin mencari tahu bagaimana keadaan Wan Fei-yang.

Selama beberapa hari ini Pei-pei menghilang, Tong Ling tetap mengkhawatirkan dia. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia bisa seperti itu. Dia pergi ke kamar Wan Fei-yang, tapi semua itu sudah terlambat.

Dia adalah seorang gadis, dia tidak mengerti apa yang telah terjadi antara Pei-pei dan Wan Fei-yang. Tadinya dia ingin menendang pintu kamar, tapi dia masih berusaha menahan diri. Setelah lama berpikir dia melubangi kertas jendela untuk mengintip situasi di dalam kamar, setelah cukup lama ragu-ragu dia memutuskan untuk melakukan pengintaian.

Astaga...! Wajahnya segera menjadi merah dan jantungnya berdebar-debar. Dia cepat-cepat memalingkan wajahnya melihat ke tempat lain.

Dalam hati dia berteriak:

“Wan Fei-yang, ternyata kau bajingan!' bibirnya di gigit, air matanya pun segera menetes.

Terdengar suara Pei-pei yang sedang terbawa kemikmatan surga dunia. Tong Ling benar-benar tidak tahan melihat mereka, dia meng-hentakkan kaki dan pergi dari sana.

“Aku tidak sudi melihatmu lagi!' Tong Ling terus berteriak di dalam hati, sambil berjalan air matanya pun tidak terbendung lagi.

Sebelumnya tidak pernah ada lawan jenis yang bisa menarik perhatiannya, lebih-lebih di sukainya. Wan Fei-yang adalah laki-laki pertama yang menarik perhatiannya, apa sebabnya dia sendiri pun tidak tahu. Cinta memang aneh, kalau bisa melihat perubahannya, di dunia ini tidak akan banyak laki-laki atau perempuan yang mabuk cinta.

Mungkin ini adalah kehendak Langit, akhirnya Wan Fei- yang tidak bisa lari dari malapetaka ini.

Sewaktu Wan Fei-yang bangun, hari sudah terang, dia masih dalam keadaan telanjang, begitu juga Pei-pei.

Pei-pei belum bangun, melihat Pei-pei dalam keadaan tertidur pun tampak dia masih merasakan kelembutan cintanya.

Begitu melihat Pei-pei telanjang bulat, Wan Fei-yang tampak terkejut, nafsu birahinya mulai terbakar lagi.

Dia ingin mendekati Pei-pei lagi, tapi kali ini dia berusaha menekan nafsu birahi ini, kemudian dia melihat tetesan darah di atas seprai.

“Mengapa bisa terjadi seperti ini?” Wan Fei-yang menggelengkan kepala. Apa yang terjadi semalam, mulai berkelebat dalam pikirannya satu persatu. Akhirnya dia teringat ada nyamuk yang masuk ke dalam mulutnya.

“... guna-guna!” kata-kata ini muncul di otak Wan Fei- yang.

Pertama kali saat dia bertemu Pei-pei, Pei-pei di gua itu pernah meniup cangkang kerang untuk menguasai sekelompok ulat yang merayap ke tubuhnya. Tujuannya adalah memaksa Wan Fei-yang untuk menerima cintanya, tapi terakhir dia menarik ulat-ulat itu kembali ke sarangnya karena nasehat Wan Fei-yang. Dia melihat kejujuran Pei-pei tapi apa alasan yang membuatnya berubah?

Kemudian dia teringat Pei-pei meninggalkannya selama beberapa hari juga teringat pada Tong Ling, dia tertawa kecut.

Pei-pei pergi karena Tong Ling, itu pikiran Wan Fei-yang, sebenarnya itu hanya salah satu alasannya. Kalau bukan karena petunjuk Sat Kao, walaupun Pei-pei marah kepada Tong Ling, dia akan tetap akan berada di sisi Wan Fei-yang.

Anak gadis paling sensitif mengenai masalah percintaan, Pei-pei pasti pernah berpikir kalau semua itu hanya akal- akalan Tong Ling, maksudnya adalah supaya dia meninggalkan Wan Fei-yang.

Teringat pada Tong Ling, Wan Fei-yang terpikir lagi, jika Tong Ling melihat kejadian tadi, apa reaksinya?

Dia tidak tahu bahwa Tong Ling sudah melihat semuanya dan dengan marah sudah meninggalkan tempat itu.

Melihat Pei-pei yang telanjang, dia mulai merasa panas dan darahnya bergejolak kembali, dia merasa aneh karena bisa mempunyai perasaan seperti itu. Wan Fei-yang masih mengira semua itu karena guna-guna yang belum bersih yang ada di dalam tubuhnya ditambah lagi Pei-pei telanjang di depan matanya.

Diam-diam dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Pei-pei yang telanjang, kemudian dia duduk bersila di atas ranjang untuk mengatur nafas. Saat nafasnya diatur tidak terasa ada perasaan lain dan tidak ada perbedaan apa pun, Wan Fei-yang baru merasa tenang.

Dia melihat Pei-pei tetap terasa nafsu birahinya bergolak kepada Pei-pei, hanya saja tidak sekuat tadi. Perasaan seperti ini tidak pernah dirasakannya sebelumnya, dia menganggap semua itu hanya reaksi biasa dari seorang pria, tapi dia harus mengakui kalau Pei-pei benar-benar seorang gadis cantik dan menarik!

Yang tidak dia sukai adalah Pei-pei menggunakan cara seperti ini untuk memikatnya. Tapi dia memaafkan perilaku Pei-pei karena mencintainya.

Akhirnya Pei-pei terbangun juga. Reaksi pertamanya adalah menyembunyikan tubuhnya yang telanjang ke balik selimut kemudian terlihat wajahnya menjadi merah.

Wan Fei-yang merasa kasihan tapi juga mencintainya, dia menarik nafas:

“Mengapa harus menggunakan cara seperti ini?

Pei-pei diam-diam melirik Wan Fei-yang, dengan jujur dan takut-takut dia menjawab:

“Aku tahu kau akan marah karena kelakuanku ini, tapi aku juga tidak tahu mengapa induk serangga itu bisa membuatmu menjadi seperti ini!”

“Induk serangga? Induk serangga apa?”

“Suhu yang memberikan kepadaku!” jawab Pei-pei pelan-pelan, “menurut Suhu asal kau sudah makan induk serangga ini, kau tidak akan menyukai gadis lain, kau hanya akan menyukaiku saja selamanya.”

Wan Fei-yang terdiam, hatinya yang sudah tenang kembali resah lagi. Dia tidak percaya tujuan Sat Kao hanya sesederhana itu.

Pei-pei melihat Wan Fei-yang, dia menundukkan kepala: “Suhu tidak berbohong padaku, kau benar..”

Kata-katanya tidak dilanjutkan, wajahnya bertambah merah, kemudian dia masuk ke dalam pelukan Wan Fei- yang.

Tubuh Wan Fei-yang mulai bergetar lagi, dia berusaha menekan perasaannya yang bergejolak lalu bertanya:

“Sat Kao masih mengatakan apa lagi kepadamu?” “Menurutnya, aku bisa menguasaimu dan bisa

membuatmu berada di sisiku selamanya dan selamanya akan diam di daerah Biauw!”

Wan Fei-yang terpaku, sebelum membuka suara Pei-pei sudah berkata lagi:

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu, terserah kau akan pergi ke mana, asal aku bisa berada di sisimu, aku sudah merasa puas!”

Wan Fei-yang hanya bertanya:

“Apakah induk serangga itu masih berada di dalam tubuhku?”

“Betul! Tapi tenang saja, serangga itu tidak akan melukaimu, aku tidak akan membiarkan induk serangga itu melukaimu!” “Apakah kau benar-benar bisa menguasai induk serangga itu?”

Pei-pei mengangguk:

“Menurut Suhu hal itu tidaklah sulit, asalkan aku meniup cangkang kerang itu!”

Wan Fei-yang menarik nafas:

“Itu hanya kata-kata gurumu, tujuannya adalah meminjam dirimu agar aku terus tinggal di daerah Biauw ini.”

Pei-pei menjawab ya.

Wan Fei-yang bertanya lagi:

“Mengapa dia tidak melakukan semuanya sendiri?” “Hanya aku yang bisa mendekatimu, kalau dia muncul di

depanmu kau pasti akan bersikap waspada dan tidak akan membiarkan dia men-dekatimu!”

“Karena itu dia memperalatmu, orang dari Mo-kauw menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya!”

“Suhu tidak mempunyai tujuan tertentu, yang terpenting dia hanya ingin membantuku saja dan tidak ingin aku kehilangan dirimu,” Pei-pei membela Sat Kao.

Wan Fei-yang menatap Pei-pei, melihat mata Pei-pei yang bening dan jernih, dia tahu apa yang Pei-pei katakan tadi semua adalah perkataan yang jujur. Dia sama sekali tidak tahu apa yang Sat Kao rencanakan juga secara tidak sengaja membela Sat Kao. Wan Fei-yang mengakui kalau Pei-pei adalah seorang gadis polos. Lebih-lebih setelah melihat kekejian dan sifat rendah Sat Kao.

Sebenarnya Sat Kao masih punya rencana busuk lainnya, dia memperalat kekurangan Pei-pei, menipu perasaan percaya Pei-pei kepadanya dan menaruh induk serangga ke dalam tubuhnya.

Apakah induk serangga itu masih ada kegunaan lain? Walaupun Wan Fei-yang tahu tapi kalau dipikir-pikir dia tetap saja merinding.

Pei-pei mulai memperhatikan perubahan sikap Wan Fei- yang, dia bertanya:

“Apa yang kau pikirkan?”

“Kalau kau benar-benar mencintaiku, usir induk serangga itu keluar dari tubuhku!”

Pei-pei terpaku, lanjut Wan Fei-yang lagi: “Kalau kau menganggap aku orang seperti yang gurumu katakan dan ingin induk serangga itu terus tinggal di dalam tubuhku, aku tidak bisa berbuat apa-apa juga tidak akan memaksamu!”

Pei-pei menggelengkan kepala:

“Sebenarnya aku tidak melarangmu menyukai gadis lain, asalkan kau membiarkanku tinggal di sisimu, itu sudah cukup bagiku!”

Dengan sikap tidak rela dia bangun dari sisi Wan Fei- yang:

“Cangkang kerang itu berada di kantong dari kulit.” Sorot mala Wan Fei-yang bergeser dari tubuh telanjang Pei-pei:

“Kita pakai baju dulu...”

“Kau...” Pei-pei berkata dengan malu.

“Aku takut aku tidak bisa menahan diri lagi!” sambil mengenakan baju dia berkata lagi, “aku juga khawatir Sat Kao mempunyai rencana lain!”

Tiba-tiba Pei-pei bertanya:

“Apa wajahku buruk?”

“Kalau wajahmu buruk, aku tidak perlu merasa khawatir “Bukankah karena pengaruh induk serangga itu?” tanya

Pei-pei.

“Kalau kau sendiri, bagaimana caramu mendekatiku?” tanya Wan Fei-yang lagi.

Dengan senang dan malu-malu, Pei-pei mengenakan bajunya. Setelah itu Wan Fei-yang bertanya:

“Apakah Sat Kao berada di sekitar sini?”

“Suhu berada di tempat sembahyang, tidak jauh juga tidak dekat dari sini.”

“Lebih baik dia tidak berada di daerah sini!” “Kalau dia ada di sini, aku bisa tahu!”

“Luka dalamnya hampir sembuh, dengan ilmu silatnya yang tinggi...”

“Kecuali ilmu guna-gunanya dimusnahkan, kalau tidak, aku bisa tahu dia berada di sekitar sini!”

“Aku sebenarnya tidak percaya tapi aku percaya apa yang kau katakan semua kenyataan sebenarnya!” Sampai sekarang dia percaya pada keanehan ilmu guna- guna hanya saja kalau digunakan pada jalan lurus, paling sedikit ilmu guna-guna itu akan memberi kesan seperti itu.

Dari nada bicara Wan Fei-yang, Pei-pei tahu Wan fei- yang tidak suka, dengan pelan dia bertanya:

“Kau marah?”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Hal yang sudah terjadi untuk apa dibicarakan lagi?” “Aku akan segera mengusir induk serangga itu dari dalam

tubuhmu!” dari dalam kantong dari kulit Pei-pei mengeluarkan cangkang kerang.

Begitu Wan Fei-yang melihat cangkang kerang itu, dia segera terpikir sesuatu, tangannya digerakan untuk mencegah:

Tunggu dulu!” “Ada apa?”

“Kau meniup cangkang kerang, bukankah sama dengan memberi tahu kepada gurumu kalau induk serangga itu sudah berhasil masuk ke dalam tubuhku?”

“Dia tidak akan mendengarnya...”

“Induk serangga itu dia sendiri yang memeliharanya, dia pasti mempunyai cara tertentu untuk mengetahui keadaan induk serangga ini!” dia memang tidak tahu banyak bagaimana menaruh guna-guna, tapi dia tetap terpikir pada cara itu.

Kata-kata ini membuat Pei-pei tersadar, dia tampak berpikir sebentar baru berkata: “Sebelum dia datang, aku harus mengeluarkan induk serangga itu dari dalam tubuhmu!”

“Aku yakin dia sudah terpikir akan hal ini, induk serangga itu tidak akan gampang diusir keluar dari dalam tubuhku!”

“Induk serangga itu bisa kukuasai...”

“Itu siasatnya memancingmu supaya mau meletakkan guna-guna itu, kalau dia tidak mengatakan hal seperti itu, kau pasti akan memikirkan masalah lain,” Wan Fei-yang tertawa kecut.

“Soal memelihara serangga dan meletakkan guna-guna, aku tidak mengerti sama sekali, tapi kalau dilakukan dengan cara biasa, induk serangga akan lebih tunduk kepada orang yang memelihara-nya!”

Pei-pei mengangguk dia mulai merasa khawatir dan bertanya:

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Menurutku seperti yang biasa dilakukan orang persilatan, menutup pintu untuk meningkatkan ilmu silat untuk mengobati, tapi supaya aman dan tidak diganggu orang luar, harus ada yang melindungi dan menjagaku.”

“Kau akan mencari siapa?” tiba-tiba Pei-pei berteriak, “Tong Ting!”

“Terpaksa kita harus mencari dia!” “Aku...” Pei-pei ingin mengatakan sesuatu. “Kau masih mengkhawatirkan apa lagi?” Wajah Pei-pei menjadi merah: “Coba ke kamar sebelah apakah dia masih berada di sana?”

“Bukankah dia ingin selalu bersamamu?'

“Seharusnya dia sudah muncul! Dia adalah pesilat ahli senjata rahasia, mata dan telinganya lebih tajam dari orang lain, mungkin dia sudah tahu kedatanganmu!”

“Mengapa dia mengijinkanku ada di sisimu?”

Wan Fei-yang hanya tertawa, Pei-pei segera teringat apa yang terjadi kemarin malam. Wajahnya menjadi merah lagi. Pei-pei dari awal sudah menyukainya. Satu-satunya yang bisa dijelaskan mungkin karena mereka berjodoh.

Saat Pei-pei kabur beberapa hari, Wan Fei-yang merasa kehilangan.

Tapi terkadang dia merasa kehilangan malah lebih baik.

Perubahan kali ini benar-benar di luar dugaannya, yang paling tidak terduga adalah Pei-pei sudah menjadi istrinya.

Apa yang terjadi sudah terjadi, dia harus menanggung akibatnya.

Perasaan ini membuatnya harus lebih berhati-hati dan teliti, membuatnya harus lebih banyak berpikir. Memikirkan hal sekarang juga masa yang akan datang.

Perasaan inin menjadi sebuah beban.

Perkiraan Wan Fei-yang tidak salah. Tong Ling sudah tahu apa yang terjadi semalam antara dia dan Pei-pei, diam- diam dia pergi meninggalkan tempat itu. Walaupun dia sudah menduganya sewaktu Pei-pei memberitahu tidak ada Tong Ling di kamarnya, dia tetap merasa bengong. Kemudian dia melihat kertas di jendela kamarnya berlubang, dia tertawa kecut. Dia tidak memberi tahu Pei-pei karena Pei-pei akan merasa malu, dan tidak ada kebaikan untuknya!

Dia juga bisa menebak Tong Ling tidak akan kembali lagi, tidak ada orang yang akan melindunginya, dia juga merasa khawatir di penginapan ini Pei-pei akan meniup cangkang kerang.

Ingin mengeluarkan induk serangga dari dalam tubuhnya dan mencari suatu tempat yang aman. Sat Kao berada di sekitar sini, mereka harus pergi ke tempat yang jauh dari sini.

Pei-pei sangat menurut kepada Wan Fei-yang, dia sudah menjadi istri Wan Fei-yang maka semua harus mengikuti kemauan Wan Fei-yang.

Setelah melihat jelas keadaan sekeliling penginapan dan yakin tidak ada yang mengawasi mereka, dia pergi bersama Pei-pei dari sana. Dia sangat yakin tidak ada yang mengawasi mereka.

Mereka tidak salah, Sat Kao tidak menyuruh seseorang mengawasi mereka. Wan Fei-yang adalah pesilat tangguh, mata dan telinganya sangat peka, dia tidak melihat ada orang yang patut dicurigai.

Sebenarnya Sat Kao tidak perlu harus menyuruh seseorang mengawasi mereka, sebab induk serangga yang berada di dalam tubuh Wan Fei-yang atau berada di tangan Pei-pei bisa membuatnya mengetahui keberadaan mereka. Ulat itu dinamakan induk serangga, pasti lebih istimewa dan lebih mengerti dibanding serangga lain, antara induk serangga itu dan Sat Kao sudah terjadi hubungan yang erat.

Pei-pei dan Wan Fei-yang tahu Sat Kao adalah majikan dari induk serangga itu tapi mereka tidak tahu ke mana mereka harus pergi, induk serangga itu akan terus hidup dan Sat Kao akan tahu keberadaan mereka. Pei-pei mengetahui ilmu guna-guna tapi kemampuannya masih terbatas, kalau tidak, mana mungkin dia akan begitu mudah tertipu.

Seseorang yang bersifat jujur terhadap ilmu hitam pasti dari lahir sudah terbawa kebiasaan untuk menolak. Walaupun gurunya akan mengajarkan dia sebanyak mungkin tentang guna-guna, tapi murid yang jujur ini tidak akan bisa belajar ilmu seperti ini dengan sempurna.

Seorang Suhu yang jahat akan tahu kejujuran muridnya kalau tidak, dia tidak akan mengajarkan semua ilmu guna- guna itu kepada muridnya ini.

Kejahatan bisa ditutupi, kebaikan dan kejujur an sulit untuk ditutupi, kecuali Sat Kao orang bodoh. Kalau tidak, mana mungkin dia tidak tahu Pei-pei adalah gadis jujur dan baik?

Justru dia tahu sangat jelas, maka kali ini dia memperalat Pei-pei.

Siang hari matahari siang terasa lembut seperti air, angin gunung berhembus dengan sejuk. Dengan suasana seperti ini berjalan di pegunungan, ini adalah hal yang seingat nyaman. Sambil berjalan Pei-pei juga meloncat-loncat, terlihat dia sangat polos. Wan Fei-yang benar-benar merasa dia sangat beruntung dan ingin memeluk Pei-pei. Saat itu ada terdengar genderang berbunyi.

Bunyi genderang terdengar lembut dan irama nya ringan, menjadikan alunan sebuah musik yang enak didengar.

Suara itu bagi Wan Fei-yang dan Pei-pei adalah suara yang membuat mereka resah dan menggetarkan hati mereka. Pei-pei yang sedang meloncat loncat tadi segera berhenti meloncat, dengan cepat dia masuk ke dalam pelukan Wan Fei-yang. Wan Fei-yang dengan cepat memeluknya, waktu itu dia merasa takut kalau sampai kehilangan Pei-pei.

Pei-pei pun seperti itu, dengan cepat masuk ke dalam pelukan Wan Fei-yang, tubuhnya terus bergetar.

Suara genderang seperti semakin dekat, mereka berdua tidak memiliki perasaan yang lain.

“Suhu datang...”

Akhirnya Pei-pei berkata seperti itu.

“Dia benar-benar sudah melakukan persiapan” kata Wan Fei-yang sambil menghembuskan nafas panjang, “apa arti genderang itu?”

Pei-pei menggelengkan kepala:

“Ini pertama kalinya aku mendengar suara genderang ini!”

“Biasa kalau dia memukul genderang dalam situasi seperti apa?” Tidak banyak berpikir Pei-pei segera menjawab: “Mengusir guna-guna...”

“Seperti tempo hari di dalam gua batu stalaktit itu?” “Betul! Apakah kau merasa tidak nyaman?”

“Tidak!”

“Lalu untuk apa dia memukul genderang?”

“Apa kau tidak merasa suara genderang itu penuh dengan nada gembira?”

Tapi aku tetap tidak mengerti!”

“Mungkin dia merasa sudah berhasil karena aku akan jatuh ke tangannya!”

Ilmu silatmu berada di atasnya...” “Jangan lupa dengan induk serangga itu!”

“Sekarang aku akan mengusir induk serangga yang di dalam tubuhmu!” Pei-pei melepaskan diri dari pelukan Wan Fei-yang. Dia segera mengeluarkan cangkang kerang itu.

“Aku rasa tidak perlu kau lakukan lagi!”

“Bukankah setelah kita pergi dari kota ini tujuannya adalah mengusir induk serangga itu?”

“Jika dalam keadaan aman, tujuan kita meninggalkan kota itu hanya untuk menjauhkan kita dari Sat Kao,” kata Wan Fei-yang.

“Sekarang kita bukan hanya tidak bisa terlepas dari Suhu, kita malah semakin mendekati-nya!”

“Kita harus segera mengusir induk serangga dari dalam tubuhmu, kita harus berusaha!” kata Pei-pei bersemangat. “Sifat asliku kalau tidak sampai terakhir tidak akan menyerah, tapi entah mengapa kali ini aku merasa kurang bersemangat untuk berjuang!” kata Wan Fei-yang.

“Apakah gara-gara aku yang mempengaruhi dan memaksamu melakukan hal yang tidak kau sukai, aku juga menekanmu untuk tunduk kepada guruku!”

“Seharusnya demi dirimu, aku harus berusaha, tapi...” tapi dia tidak meneruskan, hanya duduk bersila untuk mengatur nafas.

Setelah mengatur nafas, dia merasa tidak ada yang tidak beres. Hanya saja dia merasa malas.

Setelah Wan Fei-yang menghembuskan nafas, Pei-pei baru bertanya:

“Bagaimana? Apa ada yang tidak nyaman?”

“Aku merasa nyaman-nyaman saja, malah merasa ingin tidur, aku melihat masalahnya di sini!”

“Apakah dulu kau seperti ini?”

“Aku tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini sebelumnya!”

“Kalau bukan karena induk serangga itu berarti itu serangga itu bukan induk serangga yang paling beracun!”

“Mungkin itu serangga yang paling beracun sebab di Kong-ciok-lim ada semacam Tho-hoa. Di luar terlihat sangat bagus dan berwarna cerah...” kata-kata berikutnya segera ditelannya kembali karena dia tidak mau Pei-pei khawatir. Tapi Pei-pei sudah mengerti, dia sedang melihat ke arah di mana suara genderang itu berbunyi. Akhirnya dia duduk di depan Wan Fei-yang dan meniup cangkang kerangnya.

Suara cangkang kerang bercampur dengan suara genderang menjadikannya sebuah alunan musik yang sangat indah.

Pei-pei tidak merasa apa-apa dia sepertinya tenggelam dalam suasana itu. Suara cangkang kerang semakin cepat dan semakin enak didengar.

Tiba-tiba Wan Fei-yang mulai waspada.

Saat baru mulai meniup cangkang kerang, dia mempunyai perasaan aneh, di dalam tubuhnya seperti ada sesuatu yang sedang bergerak-gerak dan merayap. Setelah itu perasaan tadi menghilang, sebelum dia merasakan perasaan itu berasal dari tubuh bagian mana perasaan itu sudah hilang.

Wan Fei-yang sangat berhati-hati.

Semakin lama dia merasa dia seperti sedang bertamu di daerah suku Biauw, dan orang-orang Biauw yang bersahabat menyambut kedatanganya, di depannya mereka memainkan musik.

Seharusnya semua itu adalah perasaan baik, tapi sekarang dia malah merasa geli.

Dengan termangu dia menatap Pei-pei, dia merasa suara cangkang kerang menyatu dengan suara genderang, berarti dia sudah dikuasai oleh suara genderang. Tapi Wan Fei-yang tidak berkata sepatah kata pun apalagi melarang, diam-diam dia mengatur nafas, tapi tidak ada apa-apa yang bisa dia dapatkan. 

Di larang mengutip, tokopi, memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit

BAB 08

Suara genderang mulai melambat, Pei-pei meletakan canggkang kerang. Sorot mata yang tadi terlihat seperti bingung sekarang kembali bercahaya, dia seperti baru terbangun dari mimpi dan seperti teringat sesuatu. Sorot matanya melihat Wan Fei-yang, dengan cemas bertanya:

“Wan-toako, bagaimana perasaan mu?” “Alunan musik dari cangkang kulit kerang tadi memang enak didengar!” jawab Wan Fei-yang sambil tertawa kecut.

Pei-pei terpaku dan bertanya:

“Apakah induk serangganya sudah terusir keluar?” kata- katanya belum Selesai dia sudah tertawa kecut, “tadi aku sedang apa? Mengapa aku tidak ingat apa pun?”

“Kau terus meniup kulit kerang itu, awalnya aku merasa kau sedang mengusir induk serangga tapi itu hanya awalnya saja!” kata Wan Fei-yang.

“Setelah itu bagaimana perasaanmu?” “Suara kulit kerang itu bercampur dengan suara genderang dan kalian sangat kompak menjadikannya sebuah lagu yang sangat merdu, kalau tidak mendengar sendiri, siapa pun tidak akan percaya dua alat itu bisa menghasilkan suara begitu indah!”

“Aku sepenuh hati berniat mengusir induk serangga itu dari tubuhmu!”

“Aku tidak sedang menertawaimu, sebenarnya suara kulit kerang dengan suara tabuhan genderang tidak mengembangkan reaksi apa pun!” kata Wan Fei-yang.

“Kalau begitu, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini...” “Walaupun tidak terganggu oleh suara genderang itu,

aku percaya suara kulit kerang tadi pun tidak ada gunanya!” kata Wan Fei-yang lagi, “seperti soerang tabib, jika mengobati orang sakit dan resepnya tidak tepat, tidak akan ada gunanya.”

Pei-pei melihat kulit kerang itu tiba-tiba dia berteriak: “Wan-toako, cepat kita pergi dari sini!”

Dengan tenang Wan Fei-yang bicara lagi: “Gurumu sudah datang!”

Pei-pei melihat ke depan, terlihat Sat Kao duduk di atas sebuah batu besar. Dia memunggungi matahari, di depannya banyak genderang baik besar maupun kecil juga berbentuk aneh, tapi kedua tangannya memegang sebuah mangkok hweesio berwarna hitam mengkilat. Entah mangkok itu terbuat dari bahan apa. Dia tampak sedang tertawa.

Mungkin dengan memunggungi matahari jadi wajahnya terlihat menyeramkan tapi penuh dengan tawa.

“Suhu!...” teriak Pei-pei.

“Hai muridku yang baik!” Sat Kao tertawa. “Suhu, induk serangga itu...” “Aku tahu kau sudah berhasil memasukan-serangganya ke dalam tubuh Wan Fei-yang, kalau tidak, aku tidak akan sanggup mencari sampai kemari!” lalu mangkok yang ada di tangannya dibalikkan ke arah Wan Fei-yang.

Di dalam mangkok itu berisi air bersih tapi air tidak menetes keluar. Sewaktu dibalikkan mangkok itu memantulkan cahaya matahari ke wajah Wan Fei-yang.

Waktu itu pun Wan Fei-yang merasa pusing, sebab dia melihat di dalam air ada bayangannya dalam posisi terbalik, juga ada seekor ulat sangat besar, seperti bergerak-gerak juga sepertinya tidak. Seperti ada seperti tidak ada, tapi begitu dilihat dengan teliti, di sana tidak ada apa-apa.