-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 05

Jilid 05

Sat Kao dan Pei-pei merasa hati mereka bergetar dan mata mereka tidak berkedip, kedua orang yang bertarung tidak seperti bertanding ilmu silat terlihat mirip dengan ilmu sulap iblis.

Beng To masih berputar, akhirnya seperti gurdi menancap ke arah kepala Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang ikut berputar tapi dengan arah sebaliknya.Tubuh Beng To bersiap menancap tapi segera berubah menjadi seperti dinding tidak terlihat dan berhenti di tengah-tengah udara, dia bersiul keras. Di udara dia merubah gerakan sampai 7-8 kali, akhirnya dia pun turun. Sewaktu turun kedua telapak tangannya segera menepuk, putaran air seperti disayat-sayat menjadi ratusan lembar air dan air itu pun saling menabrak.

Air bermuncratan ke atas membuat suatu pemandangan indah.

Sebelah kaki Beng To menginjak air yang bermuncratan itu. Dia bisa naik pada ketinggian yang sama dengan Wan Fei-yang. Dia segera mendekat, menghantam Wan Fei-yang dengan telapaknya. Di tengah-tengah telapaknya terlihat bercahaya.

Kedua telapak tangan Wan Fei-yang pun dibalik, di tengah telapaknya seperti ada cahaya berkedip, dia menyambut kedua telapak tangan Beng To yang datang menyerangnya.

Tampaknya mereka sudah mulai mengerahkan Thian- can-sin-kang, saat kedua telapak tangan mereka bentrok, tidak ada suara yang keluar dan tanpa bersuara tangan mereka berpisah kembali. Tapi di celah antara kedua telapak tangan mereka terlihat ada serat benang dan benang itu terlihat saling menyambung, cahaya terus berkelebatan.

Sewaktu kedua telapak tangan mereka berpisah, benang sutra dari jaring laba-laba seperti ditarik panjang, memang mirip tapi dari warnanya terdapat perbedaan.

Thian-can-sin-kang dari telapak tangan Beng To berwarna perak keabu-abuan, sedang serat yang menyambung ke arah Wan Fei-Yang hampir transparan. Ke dua telapak tangan Beng To terlihat maju dan mundur. Gerakan Wan Fei-yang pun sama. Telapak tangan mereka menempel lagi. Beng To berteriak:

“Thian-can-sin-kang yang bagus...”

Tapi Wan Fei-yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun, keadaan seperti ini jika dia tidak mengakui Thian-can-sin- kang berasal dari Bu-tong, melain kan dari ilmu lweekang Mo-kauw, sudah tidak akan bisa lagi.

Di pinggir Sat Kao berdiri marah, berteriak: “Bunuh bocah dari Bu-tong-pai itu!”

Suaranya baru selesai, Wan Fei-yang dan Beng To bersama-sama membentak, bersama-sama meninggalkan batu besar itu dan mendarat di atas batu lainnya yang berjarak 3 tombak dari tempat tadi.

Baru saja Mereka mendarat, batu besar itu sudah meledak, mereka naik lagi dan berputar di udara seperti kincir angin.

Setelah berputar Sat Kao memang bisa menghitung berapa kali mereka berputar. Wajahnyapun ikut berputar dia adalah seorang pesilat tangguh, yang pasti dia bisa melihat sebagaimana jauh jarak ilmu silat ke dua orang itu.

Ternyata Beng To bukan tandingan Wan Fei-yang!

Sat Kao merasa yakin, sorot matanya terus berkelebat, seperti sedang mencari-cari jalan lain.

Wan Fei-yang dan Beng To berputar, akhirnya mereka bersama-sama terjatuh ke dalam air, dan telapak tangan mereka bisa berpisah, mereka bersama-sama menepuk ke dalam air.

Tubuh mereka sudah separuh tenggelam. Tepukan itu membuat tubuh mereka naik lagi dan mereka meloncat ke atas sebuah batu.

Suara genderang mulai terdengar saat itu. Wan Fei-yang melihat Sat Kao memukul terus genderang yang diletakan di pangkuannya, sikapnya pun mulai terlihat aneh.

Wan Fei-yang tidak tahu apa kegunaan genderang itu, tapi dia segera menghubungkannya dengan guna-guna.

Suara genderang itu membuat hatinya jadi tidak tenang. Sebaliknya Beng To malah terlihat semakin bersemangat.

Dia menginjak permukaan air sekali lagi dan menyerang ke arah Wan Fei-yang. Sepasang tangannya terus bergoyang- goyang ke atas dan ke bawah.

Wan Fei-yang mengatur nafasnya supaya hatinya kembali tenang, kemudian kedua telapak tangannya menyambut telapak tangan Beng To.

4 buah telapak bentrok lagi, tetap tidak ada suara yang keluar. Kali ini Wan Fei-yang tergetar hingga terbang, dia terbang ke belakang sebuah batu.

Beng To mengejarnya dan mendarat di atas batu besar itu. Dia seperti anak panah terus meluncur ke arah Wan Fei- yang.

Dua telapak Wan Fei-yang memukul air, membuat air muncrat dan menjadi tiang air, dia mengikuti arus air itu naik. Kedua telapak tangan Beng To sudah tiba di depannya, Wan Fei-yang membalikkan telapaknya menyambut serangan ke dua telapak tangan Beng To, lalu dia naik lagi.

Tubuhnya naik sambil menyerang. Beng To menyambut serangan Wan Fei-yang dan tubuhnya tenggelam ke dalam air.

Lalu Wan Fei-yang pun meluncur ke dalam kolam, tapi dia melihat di permukaan air banyak terdapat laba-laba beroman manusia, baik yang besar maupun yang kecil tampak sedang merayap.

Laba-laba itu seperti keluar dari dalam air juga seperti sudah ada di sana sebelumnya, hanya saja mereka baru muncul sekarang.

Dengan dingin Sat Kao menatap Wan Fei-yang. Tidak diragukan lagi laba-laba itu dia yang memanggilnya keluar, tujuannya adalah membantu Beng To.

Memang Wan Fei-yang tidak takut seperti saat masuk ke dalam gua, tapi tetap berusaha menghindar pada laba-laba beroman manusia, keada an seperti itu cukup membuat Beng To jadi berada di atas angin.

Bisa dikatakan Beng To menguasai ilmu lweekang Mo- kauw karena dibantu laba-laba itu.

Walau pun laba-laba menggigit tubuhnya tidak akan terjadi sesuatu padanya, apa lagi tubuhnya bisa mengeluarkan semacam bau yang membuat

Laba-laba senang mendekatnya tapi tidak sampai melukainya. Sampai-sampai dia bisa menggunakan laba-laba itu menyerang musimnya.

Sat Kao sangat mengerti keadaan ini maka dia terus memukul genderangnya, dia menunggu Wan Fei-yang mendekati air, dia akan mengatur laba-labanya menyerang Wan Fei-yang.

Terlihat Wan Fei-yang akan terjatuh ke dalam air, Sat Kao memukul genderang, Beng To sudah bersiap-siap, memilih posisi tepat untuk menyerang.

Suara yang menyuruh laba-laba menyerang juga sebagai isyarat rahasia, Wan Fei-yang sangat mengerti jelas.

Waktu itu Beng To tampak sedikit ragu-ragu, dia bisa saja tidak menerima semua itu tapi akhirnya dia tetap harus menerimanya.

Dari pertarungan tadi dia sadar masih bukan tandingan Wan Fei-yang, jika dilihat banyak orang mungkin dia akan kabur terlebih dulu. Kelak baru kembali lagi untuk bertarung dalam menentukan siapa yang menang atau kalah, tapi di sini hanya ada mereka berempat.

Di antara ke empat orang itu hanya Wan Fei-yang yang merupakan orang luar, jika terjadi sesuatu tidak akan sampai tersebar keluar.

Dia masuk ke dalam air, di dalam air dia bergeser sejauh 1 tombak, menunggu Wan Fei-yang diserang oleh laba-laba setelah itu baru dia akan menyerang secara tiba-tiba dari dalam air. Akhirnya Wan Fei-yang turun ke dalam air, tapi tubuhnya sudah berputar dan di atas air dan timbullah pusaran air.

Laba-laba terdorong keluar dari pusaran air, kesempatan ini digunakan Wan Fei-yang untuk masuk ke dalam air.

Saat pusaran air mengecil, laba-laba kembali datang dari segala penjuru, dengan cepat mereka berkumpul, mereka membentuk sarang laba-laba yang sangat besar.

Karena setiap laba-laba membawa benang sarang laba- laba, mereka bisa menganyam sarang di atas permukaan air dan tidak tenggelam.

Wajah Sat Kao terlihat cemas, dia sadar kalau semua laba-laba itu tidak akan bisa mendekati Wan Fei-yang, semua tidak ada gunanya.

Tiba-tiba dia melihat sorot mata Pei-pei yang penuh curiga menatapnya.

“Suhu, ini tidak adil bagi Wan Fei-yang!” “Diam!” bentak Sat Kao.

Pei-pei ingin lagi mengatakan sesuatu, dia melihat di permukaan air semua laba-laba itu berhenti merayap, mereka kembali tenang, terlihat Wan Fei-yang dan Beng To sudah bersiap-siap bertarung kembali.

Wan Fei-yang sudah punya perhitungan bahwa Beng To akan menyerangnya kembali, karena itu setelah masuk ke dalam air dia segera beijalan ke tepi, bersamaan waktu dia membuat gelombang air mendorong ke arah Beng To.

Beng To menyerang Wan Fei-yang tapi meleset, sedangkan air sudah datang menimpanya, terpaksa Beng To mundur, dia tahu air yang datang menghampirinya tidak akan berbahaya, hanya saja cukup mengganggunya.

Saat dia mundur penglihatannya jadi terganggu, jaraknya dengan Wan Fei-yang semakin menjauh, bahaya yang datang pun sudah pasti berkurang.

Wan Fei-yang tidak mengejar Beng To, dia tetap berada di dalam air, berdasarkan pengalamannya saat menghadapi musuh, dia tahu ilmu silat Beng To masih lebih rendah darinya.

Sat Kao membantu menyerang dengan guna-guna semua itu sudah membuktikan, tapi kalau menginginkan Beng To mengaku kalah, itu bukan hal yang gampang.

Dari sikap Beng To mengijinkan Sat Kao ikut campur, Wan Fei-yang sudah bisa memastikan dia tidak akan mau kalah begitu saja, dan dengan segala cara akan mendapatkan kemenangan.

Dia tidak takut tapi dia harus memikirkan cara-cara untuk mengatasinya. Air danau yang dingin cukup bisa membuat hati siapa pum merasa tenang. Wan Fei-yang terlihat sangat tenang, sebaliknya Beng To terlihat cemas. Sejak dia terpilih menjadi murid Sat Kao, dia selalu giat belajar.

Kalau berhasil dia akan menjadi orang nomor satu di dunia ini, baginya itu adalah hal yang sangat besar.

Setelah dia menghancurkan kepompongnya, ilmu silatnya sudah hebat, sekarang Tong Pek-coan pun ini bukan lawannya. Seperti kata Sat Kao tadi dengan ilmunya dia sudah bisa mendapat kedudukan penting jika dia berkelana di Tionggoan.

Baginya itu adalah hal yang sangat menyenangkan, begitu ilmu lweekang dari pesilat-pesilat tangguh berhasil disedot olehnya dan sekali lagi dia keluar dari kepompongnya bukan hanya Sat Kao saja yang menganggapnya hebat, dia sendiri pun sudah menganggap dia bisa menjadi nomor satu di dunia ini.

Tapi begitu kepompongnya pecah, orang pertama yang ditemuinya sudah sangat tangguh dan ilmu silat orang itu satu aliran dengannya.

Asal dia bisa mengalahkan Wan Fei-yang, dia akan menjadi terkenal, sayangnya ilmu silat Wan Fei-yang masih berada di atasnya.

Untung di sini adalah wilayah suku Biauw dan tempat terlarang bagi suku Biauw, Selain Wan Fei-yang tidak ada orang lain, jadi kalau dia kalah hal ini tidak akan tersebar luas.

Maksudnya adalah asal mereka bisa mengalahkan Wan Fei-yang dengan cara apa pun tidak akan ada yang tahu.

Sekarang Wan Fei-yang masih berada di dalam air.

Air danau itu memang dingin tapi kobaran api kemarahan Beng To masih menyala, akhirnya dia mendekati Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang mulai bergeser.

Sat Kao melihat dengan jelas, kedua tangannya masih terus memukul genderang, suara genderang semakin keras. Dia tahu kalau suara genderangnya tidak akan bisa masuk ke dalam air. Tapi di hadapan Beng To bisa memaksa Wan Fei-yang keluar dari dalam air, dengan begitu laba-laba bisa merayap ke tubuh mereka. Asal saja Wan Fei-yang tergigit, menang atau kalah segera bisa diketahui.

Pei-pei terlihat sangat tegang, dia juga merasa aneh, Wan Fei-yang bisa bertahan lama di dalam air. Dia tidak tahu bahwa sewaktu Wan Fei-yang berlatih Thian-can-sin-kang semua organ dalam nya hampir tidak berfungsi dan dia dalam keadaan mati suri.

Pei-pei tahu kalau Wan Fei-yang dan Beng To sudah bersiap akan bertarung lagi, dia ingin melarang mereka tapi tidak terpikir caranya.

Akhirnya Wan Fei-yang dan Beng To berhenti melangkah, Di danau mulai berombak. Sosok Wan Fei-yang dan Beng

To di mata Pei-pei dan Sat Kao semakin tidak jelas, dari dalam danau terjadi pusaran air lagi. Beng To dan Wan Fei- yang yang bertarung di dalam air menghilang di depan mata mereka.

Mereka hanya lihat air danau yang terus bergoyang- goyang.

Sat Kao masih terus memukul genderangnya, matanya tidak berkedlip sekejap pun dia terus melihat ke dalam air. Dia juga menunggu Wan Fei-yang muncul dari dalam danau.

Pusaran air semakin mengencang tapi tiba-tiba berhenti, suara besar keluar dari sana. Tiang air yang tinggi dan besar melesat keluar, tiang air itu tingginya beberapa depa kemudian meledak dan teijadilah hujan besar.

Suara genderang tertutup oleh suara ledakan, maka semua laba-laba terlepas kontrol dari suara genderang Sat Kao.

Kemudian Wan Fei-yang dan Beng To terapung di atas permukaan air, ke dua telapak tangan mereka masih menempel, belum ketahuan siapa yang dan kalah siapa yang menang.

Karena suara genderang tertutup oleh suara ledakan tadi, Sat Kao terlihat marah, perhitungannya meleset semua, dan terjadi peristiwa di luar dugaannya, dia sadar laba-laba tidak akan bisa membantunya lagi, dia segera mengambil keputusan, melihat Wan Fei-yang muncul ke permukaan air, dengan cepat dia meloncat ke sana, genderang aneh itu dilemparkan, kedua lengan bajunya berkibar. Binatang beracun berwarna-warni segera menutupi kepala Wan Fei- yang.

“Awas...” teriak Pei-pei.

Dengan hati-hati Wan Fei-yang menggunakan kedua telapaknya untuk menekan, dia terbang melayang mengikuti arah permukaan air. Beng To malah terbang dengan arah terbalik, dia menabrak batu yang berada sejauh 3 tombak darinya.

Serangga beracun milik Sat Kao meleset, dia bersalto di atas dan mengejar Wan Fei-yang, kedua telapaknya ikut menyerang ke arah kepala Wan Fei-yang. Wan Fei-yang bersalto, di tengah-tengah udara dia menyambut ke dua telapak tangan Sat Kao dan menginjak permukaan air terus menerjang ke depan.

Mereka beradu telapak tangan sampai 18 kali dan keduanya mendarat di atas sebuah batu besar.

Wan Fei-yang lebih awal mendarat kemudian dia mengumpulkan tenaga dalamnya, dengan Thian-can-sin- kangnya segera menghantam keluar. Sat Kao segera tergetar dan darah menyembur keluar dari mulutnya.

Di tengah udara dia berteriak:

“Beng To...”

Beng To sudah terjatuh di atas batu besar, dia berusaha berdiri, dari sudut mulut masih terlihat darah menetes. Melihat Sat Kao terjatuh ke dalam air dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tadinya Sat Kao ingin Beng To membantu supaya saat dia terjatuh ke dalam air tidak dengan cara memalukan seperti itu. Kalau Beng To tidak terluka parah ini adalah pekerjaan yang mudah dilakukan, tapi begitu melihat Beng To tidak bereaksi, dia sadar Beng To bukan hanya kalah di tangan Wan Fei-yang, dia juga sudah terluka berat.

Bersamaan waktu itu dia jatuh ke dalam air.

* * * BAB 06

Air danau terasa dingin, hatinya lebih dingin lagi begitu dia mengumpulkan tenaga dalamnya berturut-turut sebanyak 3 kali, tenaganya baru saja sedikit terkumpul, dia sudah terapung di atas permukaan air.

Pei-pei meloncat mendekatnya:

“Koko!” dia ingin melihat keadaan kakaknya dengan teliti.

Beng To berteriak:

“Pergi kau...” lukanya memang lumayan berat jadi suaranya tidak sekuat tadi.

“Dari awal aku sudah tidak setuju kalau kalian bertarung...” sahut Pei-pei.

“Diam...” Beng To berteriak histeris, “pergi kau...” kemudian dia melayangkan telapaknya untuk menampar.

Otomatis Pei-pei menghindar kemudian dia meloncat ke arah Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang masih berdiri di atas batu besar itu dan tidak bergerak sama sekali. Begitu Pei-pei mendekatinya segera berkata:

“Berjanjilah jangan melukai kokoku lagi!”

“Aku memang tidak berniat untuk melukainya, tapi aku tidak bisa memilih jalan yang lebih baik!”

“Apakah benar? Aku tidak salah lihat, kau orang yang baik!”

Dia berkata lagi: “Koko, kau tidak perlu khawatir, Wan-toako tidak akan melukaimu!”

“Pergi kau, jangan sembarangan bicara!” Beng To membentak dengan marah.

Pei-pei merasa disalahkan, dia melihat Wan Fei-yang lagi. Sorot mata Wan Fei-yang dan Pei-pei beradu, dia menarik nafas di dalam hati, ini bukan kejadian pertama yang dilihatnya, dia juga merasa aneh mengapa gadis-gadis yang baik, di sisi mereka selalu dikelilingi oleh orang-orang

berhati jahat.

Sat Kao turun ke sisi Beng To, dia tampak basah kuyup. Dalam keadaan seperti itu kewibawaannya masih tidak menghilang dan bertanya:

“ Apakah keadaanmu baik-baik saja?”

“Aku tidak tahu mengapa tenaga dalamku tiba-tiba tidak bisa terkumpul!” tanya Beng To.

“Mungkin sutra beracun dari Thian-can-sin-kang sudah masuk ke dalam tubuhmu dan mungkin saja sudah menghambat jalan darahmu...”

Wajah Beng To berubah:

“Satu-satunya rencana terbaik adalah meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu, jika aku tidak mati kita akan membuat perhitungan dengannya di kemudian hari!” jelas Sat Kao lagi.

Sat Kao segera mencengkeram genderang aneh itu, seperti suara hujan lebat dipukulnya genderang itu. Laba-laba segera naik merayap ke atas batu di mana Wan Fei-yang dan Pei-pei sedang berdiri, benar-benar menjijikkan.

Wan Fei-yang membentak keras, suaranya menutup suara genderang Sat Kao. Semua laba-laba itu segera berhenti merayap.

Sat Kao berteriak aneh, genderang dilempar ke atas dan dia mengeluarkan kepalannya menghantam, suara genderang kembali berbunyi dengan dahsyat.

Darah mengalir dari mulutnya, terlihat dia dengan sekuat tenaga menghantam genderang itu dan sudah menghamburkan banyak tenaga dalam, dia sudah terluka dalam.

Semua laba-laba terlihat lebih bergairah lagi, Wan Fei- yang mengambil nafas dalam-dalam. Sekali lagi membentak sangat keras, suaranya benar-benar menggetarkan langit dan bumi, langit seperti bisa terbelah. Suara genderang tertutup oleh suara keras itu, laba-laba itu berhenti merayap lagi. Lalu tempa ragu-ragu lagi dengan kedua lengan bajunya Wan Fei-yang menyapu laba-laba yang sedang merayap naik, laba-laba itu meledak di tengah-tengah udara hancur berkeping-keping.

Sat Kao benar-benar orang keji, genderangnya dilepas dan meledak di tengah-tengah udara. Asap tebal keluar dari dalam genderang yang pecah itu, dan dengan cepat asap menyebar. Dia dan Beng To berada dalam kurungan asap itu. Kedua telapak Wan Fei-yang kembali dikibaskan, asap semakin cepat menyebar hingga ke permukaan air.

Wan Fei-yang tidak menyerang, dia berdiri di atas batu dan mendengar.

Dalam kepulan asap mereka menghilang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Setelah itu Wan Fei-yang baru menghembuskan nafas lega.

Jika Sat Kao dan Beng To keluar dari balik asap dan menyerangnya, terpaksa dia harus membalas. Sat Kao sudah terluka, jika lukanya bertambah lagi, mungkin dia akan mati. Bagaimana dia harus menjelaskannya kepada Pei-pei.

Pastinya Pei-pei sangat khawatir, dengan termangu dia melihat ke arah permukaan air yang penuh asap.

Akhirnya asap pun menghilang tertiup angin gunung.

Beng To dan Sat Kao sudah meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua kabur dengan cara memalukan, mereka melewati gunung dengan kelelahan dan kehabisan tenaga.

Keadaan Sat Kao lebih baik dari Beng To, dia masih bisa memapah Beng To berjalan melewati gunung dan lembah. Tubuh Beng To terlihat sangat lemah, perasaan kecewa terus menyerangnya.

“Suhu, tampaknya aku sudah tidak kuat lagi..” Beng To berkata demikian.

“Jangan sembarangan bicara, hanya sedikit kegagalan itu wajar!”

Sat Kao sangat mengerti jalan pikiran Beng To. “Tenagaku benar-benar sudah tidak bisa terkumpul...” “Tenanglah! Pernafasanmu tidak teratur aku akan membantumu mengatur nafas dan tenaga!”

“Apakah masih bias?“ Beng To merasa curiga.

“Ilmu lweekang dari Mo-kauw tidak akan begitu gampang putus dan selesai begitu saja!” Sat Kao berkata dengan penuh percaya diri.

Mata Beng To terlihat bercahaya lagi.

“Butuh berapa lama baru bisa pulih kembali?” “Tidak akan lama!”

Dia sama sekali tidak tahu seperti apa luka Beng To? Tapi dari nada bicaranya terdengar dia begitu yakin.

Wajah Beng To terlihat sedikit tenang, dia memang punya pikiran yang cepat, tapi dengan pola pikir Sat Kao yang sangat dalam pasti berbeda jauh.

Dia menarik nafas:

“Aku yakin bisa menjadi orang nomor satu di dunia persilatan!”

“Kalah atau menang adalah hal biasa, tidak perlu ditaruh di dalam hati!”

“Mengapa Thian-can-sin-kang bisa mengalahkanku?” “Karena pengalaman dan waktu untuk berlatih ilmu itu,

sebentar lagi mungkin saja kau bisa menang darinya!” kata Sat Kao.

“Semua gara-gara Pei-pei, kalau tidak, mana mungkin Wan Fei-yang akan kemari!” kata Beng To.

“Mungkin orang itu bernasib baik!” “Kalau tidak karena nasibnya memang baik!” kata Beng To dengan suara kecil, “kalau nasibnya buruk, mana mungkin dia bisa sukses menguasai Thian-can-sin-kang dan menjadi pesilat nomor satu di dunia persilatan!”

“Bagaimanapun juga kita harus meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu, setelah lukamu sembuh baru kita susun rencana lain.”

“Sepertinya kita akan sulit berdiri dalam barisan pesilat di dunia persilatan Tionggoan!” terlihat sorot mata Beng To sedikit ragu, “Tong Pek-coan sudah dibawa pergi, rahasia kita akan terbongkar, kalangan persilatan Tionggoan akan membuat perhitungan dengan kita...”

“Aku rasa kau seperti sangat menyukai Tong Pek-coan!” Beng To terdiam, Sat Kao tertawa:

“Tidak apa! Apa pun yang kau lakukan aku akan tetap mendukungmu karena aku membutuhkan murid yang berani melakukan tindakan!”

Beng To tertawa, tiba-tiba dia teringat pada Tong Ling, dia tidak tahu mengapa perasaannya kepada gadis itu begitu berkesan. Hal ini telah dilihat Sat Kao, dia pun hanya bisa terdiam dan menarik nafas panjang.

Sekarang mereka berdiri di sisi sebuah jurang, walaupun jurang itu tidak begitu dalam, tapi tetap sulit untuk turun. Sat Kao mengatur nafas, organ dalamnya segera terasa sakit, apakah ilmu silatnya telah musnah?

Beng To melihatnya:

“Suhu, apakah lukamu berat!' “Kita benar-benar sedang sial hingga bisa seperti ini!” Sat Kao menarik nafas panjang.

“Hutang ini harus dibayar!” Beng To marah.

“Sekarang kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini!” dia segera memeluk Beng To, lalu berbaring di bawah dan menggulingkan diri ke bawah gunung.

Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk meninggalkan tempat itu.

Beng To mengerti tapi tetap saja dia merasa ingin tertawa. Dulu mereka bisa terbang dan berlari, gunung yang tinggi dianggap sebagai dataran rendah, jurang seperti ini tidak mereka anggap sulit sedikit pun.

Yang paling berpengaruh menggunakan cara ini turun gunung yang terluka tentu saja Sat Kao.

Sedangkan dia tidak akan terluka, Sat Kao sudah dalam keadaan tersiksa, walaupun dia tidak bersuara tapi dari wajahnya yang penuh tanah dan bajunya compang-camping, keadaan itu cukup membuatnya terlihat sangat memalukan.

Sampai di dasar jurang, mereka masih terus berguling dan berhenti, lalu berdiri. Sat Kao segera memapah Beng To berdiri.

“Kalian sedang apa?” terdengar suara dari samping mereka.

Karena suara itu begitu tiba-tiba terdengar, Sat Kao sangat terkejut hingga berteriak, juga mundur 3 langkah.

Suara asing tapi orang yang datang tidak asing bagi Beng

To. ... Tong Ling, dia hampir berteriak memanggil namanya.

Orang yang tiba-tiba muncul memang Tong Ling, dia benar-benar hebat bisa mencari hingga kemari.

Melihat orang yang tidak dikenal datang, Sat Kao sudah bersiap-siap untuk bertarung tapi segera dilarang oleh Beng To. Refleknya sangat cepat, dia tahu kalau Beng To melarang melakukan sesuatu pasti ada alasannya maka hawa membunuhnya pun segera menghilang.

“Nona, tolonglah kami!..” akhirnya Beng To keluar suara.

Hal ini benar-benar membuat Sat Kao terkejut dan merasa aneh, tapi dia tidak berkata sepatah katapun.

“Apa yang terjadi?” tanya Tong Ling. Beng To menunjuk ke atas jurang.

“Kami dirampok penjahat, setelah mereka mengambil uang dan harta kami mereka masih ingin membunuh kami untuk menutup mulut, maka kami menggulingkan diri ke dasar jurang baru bisa terlepas dari mereka.”

Setelah itu dia bernafas ngos-ngosan. Semua itu bukan pura-pura nafasnya memang sudah sulit diatur.

Mata Tong Ling berputar:

“Tidak disangka di sini ada orang yang jahat dan kejam juga, sekarang aku yang harus mengurus semua masalah ini!”

Tong Ling melempar sebungkus obat luka untuk Beng To: “Oleskan obat itu di atas luka kalian supaya tidak terjadi infeksi, kalian tunggu aku di sini, aku akan ke atas dulu menangkap para penjahat itu supaya harta dan uang kalian bisa diambil kembali!”

Obat itu segera diambil Beng To terus men rus mengucapkan terima kasih. Tong Ling tidak berkata apa-apa lagi, seperti seekor burung walet terbang ke atas jurang.

Beng To terus melihat Tong Ling sampai sosok Tong Ling tidak tampak lagi. Baru melihat bungkusan obat itu. Sat Kao ikut melihat, dia hanya menarik nafas, sekarang dia baru membuka suara:

“Ilmu meringankan tubuh gadis itu benar-benar bagus!” Beng To seperti terbangun dari mimpi:

“Ilmu senjata rahasianya lebih bagus!” “Apakah dia orang Tong-bun?”

“Cucu perempuan Tong Pek-coan!” “Mengapa dia bisa datang kemari?”

“wan fei-yang bisa datang kemari, orang-orang Tionggoan lainnya bisa kemari juga, sepertinya bukan hal aneh!”

“Betul...” Sat Kao menarik nafas, “untung dia tidak mengenalimu!”

“Saat masuk Tong-bun, untung aku menutup wajahku!” Beng To menarik nafas, dia seperti kehilangan sesuatu.

Malam itu dia ingin membuka penutup wajahnya supaya ong Ling bisa melihatnya dengan jelas. Kalau hal ini terjadi apa yang akan terjadi berikutnya?

Sat Kao bisa menilai ekspresi seseorang, dia pun mulai mengerti, sambil tersenyum berkata: “Kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini!”

“Jika dia bertemu dengan Wan Fei-yang semua rahasia ini akan terbongkar!” kata Beng To sambil menatap ke atas jurang.

Suaranya rendah lalu menggeser kakinya, tapi sosok Tong Ling tetap berada di dalam hatinya.

Sewaktu Tong Ling bertemu dengan Wan Fei-yang, dia masih berada di atas batu besar di danau itu, Pei-pei berada di pangkuannya.

Awalnya Tong Ling tidak tahu kalau orang itu adalah Wan Fei-yang, dia berlari ke sana kemudian setelah dekat dia baru melihat dengan jelas kalau orang itu adalah Wan Fei- yang dan Pei-pei yang ada dalam pangkuannya, dia segera berhenti melangkah.

Wan Fei-yang terlihat sedikit terkejut. “Ternyata kau!”

“Tentu saja aku, kau mengira karena aku tidak dibawa jalan olehmu maka aku akan tersesat?”

Saat Tong Ling bicara dengan Wan Fei-yang tapi matanya terus melihat Pei-pei.

“Siapa dia?” tanya Pei-pei kepada Wan Fei-yang. “Namaku Tong Ling, aku adalah teman baik Wan-toako!”

jawab Tong Ling.

Pada kata 'Wan-toako' dan 'teman baik' nada bicaranya lebih ditekankan.

Tapi Pei-pei seperti tidak memperhatikannya, dia menjawab: “Aku adalah calon istri Wan-toako...”

“Mengapa bisa terjadi?” tanya Tong Ling setengah berteriak.

“Tentu saja setelah masuk ke daerah ini...”

“Cepat sekali   ” Tong Ling menatap Wan Fei-yang,

“kau kemari untuk mencari pembunuh atau mencari istri?”

Wan Fei-yang tidak menyangka kalau nada bicara Tong Ling begitu pedas, dia merasa malu dan tidak bisa menjawab.

“Apakah dari dulu kalian sudah saling kenal?” “Dia kemari dan bertemu denganku!” “Berapa lama?” Tong Ling tertawa.

Tong Ling menatap Wan Fei-yang:

“Orang-orang menyebut kau adalah Tay-enghiong, ternyata tidak salah!”

Wan Fei-yang berpikir: perempuan, itu akan bertambah hebat lagi!'

Tong Ling menyindir.

Wan Fei-yang hanya bisa tertawa kecut. Tong Ling bertanya kepada Pei-pei:

“Kata orang, perempuan suku bangsa Biauw selalu menggunakan guna-guna, dengan guna-guna apa hingga membuat pahlawan hebat ini begitu cepat menyukaimu?”

“Aku tidak menggunakan guna-guna. ”

“Kalau begitu, pada pandangan pertama dia langsung jatuh cinta padamu?” tanya Tong Ling tertawa dingin. “Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku semakin cinta padanya!” kata Pei-pei, “aku belum pernah melihat di dunia ini ada orang begitu baik!”

Apa yang Pei-pei pikirkan langsung diutarakan. Dengan aneh Tong Ling berkata:

“Itu artinya kau bertepuk sebelah tangan!”

“Aku tahu, suatu hari nanti dia akan suka kepadaku, aku rela menunggu dia!”

“Kau gadis tidak tahu malu!” “Apakah aku salah?”

“Masuk ke dalam pelukan seorang laki-laki, itu saja sudah salah!”

“Tapi aku merasa aku tidak bersalah, aku harus menikah dengannya...” kata Pei-pei.

Tong Ling menjadi marah:

“Berbicara dengan orang dari suku tidak berbudaya memang sulit! Wan Fei-yang, apa yang akan kau lakukan?'

“Aku melakukan hal yang memang pantas aku lakukan!” “Seperti berpacaran dengan perempuan ini?”

Wan Fei-yang tertawa kecut, dia ingin menga takan sesuatu tapi Tong Ling sudah berkata lagi:

“Mana penjahatnya? Mereka ada di mana?”

“Penjahat apa” tanya Wan Fei-yang dengan aneh.

“Kau hanya senang dengan hal pencabulan, ada penjahat yang menodong dan merampok pun kau tidak pedulikan!” Tong Ling menyindir lagi. “Inilah tempat terlarang bagi suku bangsa Biauw, mana mungkin ada perampok di sini, pasti kau salah lihat..” sela Pei-pei.

“Apa yang kau tahu?”

“Perintah ayahku tidak boleh dilanggar dan tidak ada yang berani melawan perintah ayahku!”

“Siapa ayahmu?”

Pei-pei masih belum sadar kalau kata-kata Tong Ling menyerangnya.

“Beliau adalah raja di sini!”

Tong Ling terpaku tapi segera membentak:

“Wan Fei-yang, sebentar lagi kau akan menjadi menantu seorang kaisar, selamat ya!”

Wan Fei-yang memotong:

“Siapa yang memberitahu padamu di sini ada perampok?”

“Tentu saja dari orang yang telah dirampok!”

“Seorang pemuda dan seorang orang tua berambut kumis panjang hingga terjulur ke bawah dan di tubuhnya tergantung banyak lonceng?”

“Apakah penjahat itu dirimu?”

Wan Fei-yang mengangguk. Tong Ling terpaku, dia sudah terpikir jika penjahat itu adalah Wan Fei-yang, dua orang yang mengaku dirampok itu pantas dicurigai.

Akhirnya Tong Ling tersadar bahwa dua orang tadi memang tidak seperti orang kebanyakan: 'Aku memang menaruh curiga pada mereka!” “Yang satu adalah dukun di sini juga tetua Mo-kauw di sini!”

“Yang satu lagi siapa?” “Dia adalah Kokoku!”

“Pangeran di sini!” kata Tong Ling tertawa dingin, “tapi kelihatamnya begitu kewalahan, dia tidak mirip seorang pangeran!”

“Dia terpukul Wan-toako hingga terluka.”

“Apa kali karena dia tidak setuju kalau adik perempuannya menikah denganmu, maka kalian bertengkar dan akhirnya dia yang terluka?”

“Tidak begitu..” kata Pei-pei.

“Siapa yang berbicara denganmu, aku tidak pernah melihat ada gadis seperti dirimu, kakak sendiri terluka pun dibiarkan begitu saja, malah bermesraan dengan orang yang telah melukai kakaknya!”

“Kau tidak mengerti!”

“Hal yang sudah terjadi tidak akan bisa membohongimu, orang yang membunuh orang-orang dunia persilatan bernama Beng To dan ternyata Beng To adalah Kokonya!” jelas Wan Fei-yang.

Reaksi Tong Ling sangat cepat, dia segera berkata: “Karena menyukai gadis ini maka kau mengajarkan ilmu

Thian-can-sin-kang kepadanya”

“Aku baru pertama kali ke mari, bagaimana aku mengajarkannya, apa lagi dia berlatih ilmunya bukan ilmu Thian-can-sin-kang melainkan semacam ilmu lweekang Mo- kauw!”

Dengan penuh rasa curiga Tong Ling melihatnya kemudian Wan Fei-yang menjelaskan lagi:

“Ilmu lweekang Mo-kauw berbeda sekali dengan ilmu Thian-can-sin-kang, dia mengandalkan guna-guna untuk membantu kemajuan ilmu silatnya kemudian dengan Ih-hoa- ciap-bok, ilmu lweekang dari pesilat tangguh lain disedot ke dalam tubuhnya!”

“Apakah karena itu dia menculik kakekku?” Wan Fei-yang mengangguk:

“Kakekmu berada di dalam gua itu!”

“Apa?” Tong Ling tampak terkejut, dia segera berlari masuk ke dalam gua.

“Hati-hati, ada laba-laba beroman manusia!” Wan Fei- yang dan Pei-pei mengejarnya dari belakang.

Tapi laba-laba itu sudah pergi karena genderang Sat Kao tadi, jadi Tong Ling bisa dengan mudah masuk ke dalam gua. Tong Pek-coan terlihat masih duduk, walaupun dia sudah disiksa hingga keadaannya tidak keruan tapi Tong Ling masih

bisa mengenalinya.

“Kongkong...” Tong Ling memanggil.

Tong Pek-coan mulai tersadar, dia berusaha membuka matanya:

“Apakah Ling-ji?”

“Ling-ji tidak berguna, sampai sekarang baru bisa kemari hingga membuat keadaan Kongkong menjadi seperti ini!” Tong Ling benar-benar tidak tega melihat Kongkongnya. “Ini bukan salahmu!” suara Tong Pek-coan terdengar

sangat rendah tapi tetap teratur:

“Malam itu Kongkong sudah salah paham kepada Wan Fei-yang, kalian pasti sudah membuat Wan Fei-yang repot, kau harus memberi tahu mereka kalau orang yang menculikku bukan Wan Fei-yang, melain kan orang Biauw bernama Beng To!”

“Aku akan melakukannya!” jawab Tong Ling. Dia menatap Wan Fei-yang masuk ke dalam gua.

“Lo-cianpwee...” Wan Fei-yang jongkok di sisinya, dia langsung menekan jalan darah Tong Pek-coan ingin mengalirkan tenaga dalamnya kepada Tong Pek-coan, tapi Tong Pek-coan menolaknya:

“Jangan sia-siakan tenaga dalammu, tenaga dalamku sudah tersedot semua, nadi-nadiku sudah ditutup oleh benang laba-laba beracun, hidupku tidak akan lama lagi!”

“Kongkong, kau tidak akan mati!” Tong Ling berteriak. “Anak bodoh...” kata Tong Pek-coan sambil tertawa,

“Kongkong sudah tua dan sudah sepantas-nya mati!” “Mengapa kau masih bengong di sana!” Tong Ling

membentak Wan Fei-yang.

“Aku selalu mengajarkan kepadamu, jika berbicara dengan orang lain harus sopan!”

“Mengapa dia berpangku tangan hanya melihat saja?” “Tidakkah kau dengar, tadi aku sudah berpesan agar

jangan menyia-menyiakan tenaga dalamnya?” Tong Pek- coan tertawa kepada Wan Fei-yang, “cucuku dari kecil sudah terlalu disayang olehku maka kelakuannya seperti ini, jangan salahkan dia!”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Aku mengerti, dia hanya mengatakan apa adanya, sebenarnya tidak berniat jaliat!”

“Apakah pada pertarungan tadi kau yang menang?

Apakah Beng To kabur bersama gurunya?”

Wan Fei-yang mengangguk, Tong Pek-coan tertawa: “Dari awal aku sudah tahu kalau kau bukan orang yang

kejam, tapi kau masih terlihat muda!”

Dia tidak sadar apa akibatnya melepaskan harimau pulang ke hutan, bencana apa yang akan datang di kemudian hari yang tidak kunjung habis.

“Kongkong tidak tahu, adik perempuan Beng To adalah calon istri Wan Fei-yang!”

Tong Pek-coan mengangguk:

“Aku sudah tahu, dia adalah gadis yang baik” Tong Ling tercengang dia menatap Pei-pei: “Aku tidak percaya!”

Tong Pek-coan tidak melayaninya, dia terus menatap Wan Fei-yang.

“Jangan membunuh Beng To, bunuhlah Sat Kao!” “Apakah kalau tidak ada Sat Kao, Beng To tidak akan bisa

berlatih ilmu lweekang Mo-kauw?” tanya Wan Fei-yang.

Tong Pek-coan menggelengkan kepala: “Sebenarnya Beng To tidak terlalu jahat, Sat Kao lah orang yang mempunyai ambisi jahat dan bersifat kejam!” “Oh...” tapi Wan Fei-yang tidak melihatnya. “Melihat matanya saja sudah bisa terlihat!” Tong Pek-coan terengah- engah, “orang-orang Mo-kauw selalu ingin melewati batas, sebelum ini mereka sudah membawa banyak kerepotan bagi dunia persilatan Tionggoan kadang-kadang malah mendatangkan bencana!”

“Aku pun pernah terpikir akan hal itu, Beng To membunuh banyak pesilat Tionggoan bukan karena niat dari dirinya sendiri!”

Tiba-tiba Tong Pek-coan menarik nafas panjang:

“Kita kembali ke pembicaraan semula, kalau bukan karena Beng To juga bersifat iblis, dia tidak akan mau bekerja sama dengan Sat Kao, selanjutnya apa yang harus kita lakukan, kau harus mengambil keputusan sendiri!”

Wan Fei-yang mengangguk. Tong Pek-coan berpesan kepada Tong Ling:

“Jalanmu masih panjang, jika aku mati nanti kuburkan saja aku di sini...”

“Kongkong...” Tong Ling berteriak. Tong Pek-coan tertawa:

“Orang sudah mati jika dikubur akan tenang, kalau kau anak baik jangan membuat arwahku nanti tidak tenang!”

Setelah itu, nafasnya putus tubuhnya melengkung seperti udang kering, kulitnya pun mengering.

Awalnya Tong Ling masih termangu-mangu, lalu baru menangis sejadi-jadinya. Sewaktu mengebumikan kakeknya terlihat mayat kakeknya mulai membusuk, rupanya Tong Pek-coan tahu racun laba-laba ini sangat jahat, jasadnya tidak bisa dibawa ke Tionggoan dan setiap saat bisa membusuk.

Akhirnya Tong Ling mengerti alasan mengapa Tong Pek- coan tidak mau dikubur di Tionggoan. Setelah merasa sedih, kemarahannya pun muncul, semua kemarahan dilampiaskannya kepada Pei-pei.

Gerakannya sangat cepat dan tiba-tiba Wan Fei-yang sendiri pun tidak sempat mencegah. Tangan kecilnya dibalik sebuah pisau tipis sudah berada di depan tenggorokan Pei- pei!

Pei-pei terkejut dan perlahan mundur, Tong Ling tertawa dingin:

“Kalau kau bergerak, pisauku akan menggorok lehermu!”

Tangan yang memegang pisau menghalangi jalan mundur Pei-pei.

“Apa maksudmu?” tanya Pei-pei. “Di mana kakakmu bersembunyi?” “Aku tidak tahu...”

“Kalau kau tidak memberitahu, aku akan membunuhmu sekarang!”

“Dia benar-benar tidak tahu!” sela Wan Fei-yang.

“Kau kenal dia berapa lama, apakah kau tahu semuanya dengan jelas?” tanya Tong Ling.

“Mana ada tempat berlatih ilmunya yang lebih rahasia?” kata Wan Fei-yang. “Sekarang dia sedang mencari tempat untuk memulihkan lukanya, apakah selain gua ini tidak ada tempat yang lebih rahasia?” tanya Tong Ling.

“Sekalipun ada, kalau Pei-pei tahu pun tidak akan mau mengantar ke sana, apakah kau tidak takut Pei-pei akan membawa kita ke sana?”

“Sampai kakak kandungnya pun berani dikhianati, adik seperti ini memang jarang ada!” Tong Ling tertawa didingin.

“Dia tidak berniat jahat dan tidak terpikir akibatnya akan berat seperti ini, aku pun tidak pernah menjelaskan kepadanya!” kata Wan Fei-yang.

“Kalau begitu, peralat saja dia!” usul Tong Ling.

Wan Fei-yang merasa malu, Pei-pei malah membelanya: “Wan-toako bukan orang seperti itu, sebenarnya dia

tidak sengaja melukai Kokoku, dia hanya ingin Kokoku jangan sampai melukai orang lain lagi, aku juga seperti itu.”

“Kalau begitu, cepat beritahu tempat di mana Kokomu bersembunyi, biar aku sendiri yang ke sana untuk membunuhnya!” nada bicara Tong Ling sangat dingin.

“Kalau kau berniat seperti itu, walaupun aku tahu tempatnya, aku tidak akan memberitahumu!”

“Kalau begitu, kau tidak menginginkan nyawamu lagi?” Wan Fei-yang tertawa:

“Dia hanya berkata asal-asalan, kau juga bukan orang yang tidak tahu aturan dan sembarangan membunuh!”

“Aku mempunyai cara tertentu supaya dia mau bicara!” “Mengapa tidak tanya saja kepadaku?” usul Wan Fei- yang.

“Kau tahu juga? Kau tahu dari mana?” tanya Tong Ling. “Ilmu yang dilatihnya adalah ilmu lweekang Mo-kauw

dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok, menyedot tenaga dalam dari pesilat tangguh lain, sekarang dia sedang terluka, dia butuh lebih banyak tenaga dalam dari orang lain untuk mengobati dan memulihkan lukanya, di daerah suku Biauw ini memang ada pesilat tinggi tapi tidak banyak, jadi dia harus ke Tionggoan lagi!”

“Apakah kau tahu kalau Tionggoan itu sangat luas?” tanya Tong Ling.

“Bagaimanapun itu arah tujuannya tetap, dia tidak akan berputar-putar di daerah suku Biauw!” kata Wan Fei-yang.

“Baik! Kita segera kembali ke Tionggoan, dengan cara apa pun kita harus mencari Beng To!” kata Tong Ling.

“Aku ikut!” kata Pei-pei segera.

“Buat apa kau ikut kami? Apakah kau senang melihat kakakmu mati di tangan orang lain!” tanya Tong Ling.

Pei-pei menatap Wan Fei-yang:

“Aku akan ikut dia ke mana pun dia pergi!” “Apa maksudmu?”

“Ini adalah aturan suku Biauw.”

“Ku kira itu hanya alasanmu saja, kau ingin mencari kesempatan mendekati Wan-toako!”

“Aku mendekatinya pun pantas, tidak perlu mencari-cari alasan, apakah kau lupa aku adalah calon istrinya?” “Kurasa cintamu hanya bertepuk sebelah tangan!”

Pei-pei menatap Wan Fei-yang lagi, Tong Ling segera bertanya:

“Wan-toako, apakah seperti itu?'

Wan Fei-yang tampak berpikir sebentar: “Ini adalah masalah pribadi...”

Tong Ling memotong:

“Apakah kau mempunyai rahasia yang sulit diutarakan?

Apakah siluman kecil ini memakai cara tidak benar...”

“Aku punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah ini dan tidak ada hubungannya dengan Nona!” kata Wan Fei- yang.

“Aku hanya khawatir kau akan dihina” Tong Ling pelan- pelan berkata lagi, “kalau kau tidak suka, aku tidak akan bicara tentang hal ini lagi!”

“Apakah kau harus ikut dengan kami?” tanya Wan Fei- yang kepada Pei-pei.

“Menurut kata orang-orang, Tionggoan adalah tempat bagus, aku ingin berjalan-jalan ke sana, kesempatan ini tidak akan kusia-siakan!” jawab Pei-pei.

“Bagaimana dengan ayahmu...”

“Ayah terlalu banyak urusan, kami kakak beradik tidak akan dikhawatirkan, dia pun tidak pernah mengurus kami!”

“Kau ikut kami juga ada kebaikannya sebab kami butuh orang yang bisa berkomunikasi dengan orang Biauw supaya tidak terjadi masalah!”

“Lebih baik dibunuh saja!” sela Tong Ling lagi. Wan Fei-yang melihatnya, dia segera menutup mulutnya, dia sendiri jadi bingung mengapa sekarang dia begitu takut Wan Fei-yang marah.

Pei-pei juga melihatnya:

“Sebenarnya Kokoku orang baik!”

“Dia sudah membunuh banyak orang, kau masih mengatakan dia orang baik, berarti orang baik seperti dia benar-benar banyak!” Tong Ling tertawa dingin.

“Mungkin itu adalah ide guruku!”

“Apakah dia boneka yang bisa diatur-atur oleh orang lain dan tidak mempunyai pendirian sendiri?” Tong Ling tertawa dingin.

Pei-pei tidak bisa menjawab, Wan Fei-yang mulai berpikir apa yang Tong Ling katakan tadi memang masuk akal.

Tidak diragukan lagi, Pei-pei adalah gadis lembut, walaupun Tong Ling bersifat keras tapi dia juga mempunyai sisi lembut.

Maka dua gadis itu berjalan berbarengan. Jika mereka di depan Wan Fei-yang tidak terlihat ada masalah, tapi di balik semua itu kelembutannya sudah tidak ada, yang ada mereka saling tidak mau mengalah dan saling menjegal lawan untuk mendekati Wan Fei-yang. 

Tong Ling yang menjadi inisiatif karena dia tidak rela melihat Pei-pei menempel terus pada Wan Fei-yang. Walaupun dia tahu perempuan dari suku Biauw sangat bebas perilakunya dan tidak banyak aturan kaku. Awalnya Pei-pei tidak memperhatikan sikap Tong Ling, dia mengira Tong Ling hanya ingin melampiaskan dendam kepada kakaknya melalui dirinya tapi lama kelamaan dia sadar bukan seperti itu.

Dia juga melarang Tong Ling mendekati Wan Fei-yang, percekcokan pun mulai terjadi.

Wan Fei-yang melihat mereka dan mengerti, hanya saja dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab dia tidak berpengalaman menghadapi perempuan, sekalipun ada yang berpengalaman menghadapi 2 gadis seperti mereka pasti akan angkat tangan.

Yang satu menguasai ilmu senjata rahasia yang sangat tinggi, lahir di Tong-bun sebuah perkumpulan yang sangat terkenal, dan dia juga ditunjuk oleh Tong Pek-coan menjadi pemimpin Tong-bun.

Hubungan mereka memang kakek dan cucu, tapi seorang Tong Pek-coan demi masa depan Tong-bun tidak akan sembarangan mencomot seseorang menjadi pemimpin. Dia pasti tahu sampai di mana ilmu silat Tong Ling.

Mengenai Pei-pei, dia menguasai ilmu guna-guna tapi dia gadis yang baik, dia tidak akan menggunakan ilmu perdukunan yang jahat untuk mencelakakan orang. Masalahnya dia tidak tahu kalau ilmu perdukunan ini mana yang jahat dan yang mana yang tidak jahat, sebelumnya dia tidak pernah mencelakakan orang, dia tidak tahu dalam keadaan apa ilmu guna-gunanya baru boleh digunakan. Sebenarnya 2 orang gadis ini sangat berbahaya, mereka sangat lihai, jika mereka bertarung akibatnya benar-benar tidak bisa dibayangkan, tapi kalau tidak bisa saling mengendalikan diri akibatnya mereka pasti akan bertarung.

Sepanjang jalan Tong Ling selalu menyindir, Pei-pei pun tidak mau kalah.

Tapi yang pertama menyerang malah Pei-pei, ini di luar dugaan Wan Fei-yang, dia tidak keburu menghalangi mereka karena dia tidak mengerti apa isi hati Pei-pei dan tidak mengerti ilmu perdukunan dia tidak tahu kapan Pei-pei akan menyerang Tong Ling.

Pei-pei mulai memakai guna-gunanya, saat itu mereka sedang makan malam.

Tapi Tong Ling adalah pesilat tangguh ahli senjata rahasia, pengamatannya sangat jeli. Begitu mangkok nasi diangkat, dia melihat sebutir nasi di dalam mangkoknya terus bergerak.

Pertama dia mengira dia telah salah melihat, tapi begitu melihat lagi dengan teliti dia baru sadar kalau dia tidak salah lihat. Nasi di dalam mangkok itu segera dibuang ke bawah meja.

Wan Fei-yang segera melihat sikap Tong Ling yang aneh, sorot matanya mengawasi gerakan mangkok dan bertanya:

“Ada apa?”

Kata-kata baru terucap keluar, dia melihat butiran nasi aneh itu. Sumpit yang ada di tangan Tong Ling segera digunakannya untuk mengorek-ngorek nasi itu, dia segera berteriak terkejut.

Di dalam tumpukan nasi terlihat beberapa puluh ekor ulat kecil berwarna abu keputihan, mata ulat-ulat itu berwarna abu, kaki mereka sangat banyak, kalau tidak dilihat dengan teliti tidak akan bisa membedakannya.

Kaki-kaki kecil ulat-ulat itu terus bergerak-gerak tapi tubuh mereka tidak bergeser dengan cepat. Warna ulat-ulat itu hampir sama dengan warna butiran nasi, maka sulit membedakan apa lagi kalau sudah tertutup oleh nasi.

Jika ulat-ulat dan nasi itu dimakan dan masuk ke dalam perut, apa yang terjadi kemudian kita tidak akan tahu, tapi melihat ulat-ulat kecil itu cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Mata Tong Ling segera berputar:

“Pelayan!” dia berteriak.

Seorang pelayan segera datang menghampiri, Tong Ling ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Tapi Wan Fei- yang sudah bertanya terlebih dulu:

“Siau-ko, nasi dan sayur kami apakah sudah lengkap?” Pelayan itu tertawa:

“Tidak lama lagi, Tamu boleh makan dulu, pesanan berikutnya segera akan diantar!”

Tong Ling terpaku, dia melihat Wan Fei-yang, Wan Fei- yang tertawa:

“Kita akan menginap di sini, makan malam dengan waktu yang agak lama pun tidak masalah!” Tong Ling ingin bertanya tapi Wan Fei-yang sudah menunjuk mangkok nasi, dia segera melihatnya ternyata ulat-ulat kecil itu sudah tidak ada, dia terpaku lagi.

Ulat-ulat itu datang cepat, pergi pun cepat. Di dalam mangkok tidak terlihat ada ulat, dia tidak bisa marah lagi.

Pelayan itu sudah pergi. Tong Ling menatap Wan Fei- yang:

“Apakah mataku yang sudah rusak?” Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Coba kau lihat lagi!”

Begitu Tong Ling melihat mangkok nasi itu tampak ulat- ulat kecil itu muncul lagi. Akhirnya dia melihat Pei-pei yang duduk di sisinya dan dari tadi tidak bereaksi apa-apa.

“Apakah kau yang menaruhnya?” suara dan wajah Tong Ling mulai melotot dengan perasaan tidak suka.

“Betul! Aku yang menaruhnya!” Pei-pei mengakuinya. “Benda apa itu?”

“Ku...” Pei-pei tidak merasa bersalah.

“Dari awal aku sudah tahu kau adalah siluman kecil yang sering menggunakan ilmu hitam, kau berhati jahat dan selalu mencari kesempatan ingin mencelakaiku!”

“Ku ini...”

Tong Ling memotong:

“Untung aku mengetahuinya, kalau makhluk makhluk ini dimakan panca inderaku akan keluar darah dan aku akan mati seketika!”

Pei-pei menggelengkan kepala: “Ku ini hanya untuk menakut-nakuti setelah memakannya pun tidak akan terjadi apa-apa!”

“Berarti seperti cairan penghancur mayat, setelah disiram tulang pun akan hancur dan tidak tersisa apa-apa!” kata Tong Ling.

“Maksudku, ulat-ulat itu hanya untuk menakut-nakuti setelah dimakan ulat-ulat itu akan mati, tapi manusia tidak akan merasakan yang tidak enak!”

“Kau kira aku percaya pada kata-katamu?” bentak Tong Ling kepada Pei-pei.

“Dengan Ku, kakakmu sudah membuat Kong kongku meninggal, kau ingin menggunakan Ku membuat celaka aku, kalian kakak beradik bukan orang baik-baik, masih mengaku orang baik!”

“Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”

“Tentu saja sebab kau sudah berbuat salah, Wan- toako...” Tong Ling melihat Wan Fei-yang, “dari awal aku sudah mengatakan kau sudah salah menilai orang!”

“Aku percaya apa yang dikatakannya tadi!” kata Wan Fei- yang.

“Bukti sudah ada di depan mata, kau sendiri juga melihatnya, mengapa masih membelanya?”

“Kalau dia benar-benar ingin kau makan nasi tadi, ulat- ulat yang ada di dalam nasi itu tidak akan bergerak!”

“Ulat-ulat itu memang selalu bergerak!” Tong Ling tertawa dingin. Kata-katanya baru terucap keluar, dia melihat ulat-ulat yang ada di dalam nasi semua berhenti bergerak seperti menjadi kaku.

“Jika aku menyuruh mereka tidak bergerak, paling sedikit kau akan makan sesuap!” bela Pei-pei.

“Sembarangan bicara!”

“Semua adalah sebenarnya!” jawab Pei-pei.

“Aku tidak akan makan sesuap nasi pun, kalau aku telah memakan...” nada bicara Tong Ling makin meninggi. Orang- orang yang ada di rumah makan itu terus melihat ke arah mereka. Wan Fei-yang melihatnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Seharusnya aku tidak banyak bicara, apakah benar, Wan-toako?” tanya Pei-pei.

Wan Fei-yang hanya menarik nafas dan tidak bersuara.

Pei-pei berkata kepada Tong Ling:

“Karena Wan-toako, aku jadi mengenalmu...”

“Apa hubungannya Wan-toako mengenalku denganmu?” “Karena aku adalah calon istrinya!”

“Itu hanya keinginanmu, tidak ada yang mengakuinya!” “Asal Wan-toako mengakuinya, itu sudah cukup!” Pei-pei

mendekati Wan Fei-yang, “aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau sukai!

Wan Fei-yang hanya bisa menarik nafas panjang, Pei-pei berkata lagi:

“Tapi marga Tong ini benar-benar membuatku repot!” “Apa yang kau katakan tadi?” bentak Tong Ling. “Kalau sepanjang peijalanan kau tidak cerewet dan tidak membuatku tersinggung, mana mungkin aku akan memakai guna-guna?”

“Aku punya kebebasan, apakah setiap perkataanku harus ada ijinmu?”

“Tapi kau selalu menyindirku!”

“Siapa suruh kau ingin menjatuhkan reputasiku?” “Kaulah yang selalu menjatuhkan reputasiku!” “Kau adalah musuh keluargaku!”

Pei-pei tidak bisa menjawab apa yang dilaku kan Beng To kepada kakek Tong Ling membuat Pei-pei merasa bersalah.

“Aku hanya menggeretkan mulut tidak menggerakkan tangan, sedangkan kau sudah menggerakkan tangan, terpaksa aku juga harus menggerakkan tanganku!”

Tangan kanannya melayang, beberapa butir senjata rahasia dilemparkan ke arah tangan dan pundak Pei-pei. Walaupun sasarannya bukan nadi penting tapi cukup membuat siapa pun terkejut.

Pei-pei ingin menghindar tapi Wan Fei-yang sudah mengayunkan tangan untuk menyambut senjata itu.

Tong Ling melempar untuk kedua kalinya, Wan Fei-yang tetap menyambutnya.

“Wan-toako, minggirlah, hari ini aku harus memberi pelajaran kepada dia!” Tong Ling bersiap-siap untuk melempar lagi. Pei-pei bersembunyi di balik tubuh Wan Fei-yang- Karena tidak ada cara lain Tong Ling hanya bisa menghentakkan kaki dan marah-marah:

“Siluman kecil, kalau kau pemberani, jangan bersembunyi di balik Wan-toako!”

“Wan-toako tidak suka kalau kita bertarung, jangan membuatnya repot!”

“Kau hanya tidak berani menyambut senjata rahasiaku!” “Walaupun aku tidak bisa menyambut senjata

rahasiamu, tapi sebelum senjata rahasiamu mengenai-ku, guna-gunaku sudah melekat di tubuhmu!”

“Baiklah! Keluar dari sini, aku ingin tahu dengan cara apa kau menabur guna-guna itu ke tubuhku?”

Baru saja kata-katanya habis, tiba-tiba dia merasa di tangannya seperti ada sesuatu, begitu melihatnya, dia segera berteriak.

Karena tangannya penuh dengan ulat kecil-kecil yang sedang merayap. Ulat-ulat kecil itu saat berada di dalam mangkok nasi tidak begitu kentara, sekarang setelah merayap di tangannya, dia bisa melihat dengan jelas. Memang tidak terlihat kalau ulat-ulat itu jahat, tapi begitu melihat banyak ulat yang sedang merayap di tangannya membuatnya geli dan merasa jijik. Ini pertama kalinya Tong Ling mengalami kejadian seperti ini, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Wan Fei-yang melihat Pei-pei dan membentak:

“Pei-pei...” “Wan-toako...” Pei-pei menunduk.

“Jangan main-main lagi, cepat tarik kembali guna- gunamu!”

Pei-pei melihat Tong Ling, mulutnya bergerak-gerak dan ulat-ulat yang sedang merayap di tangan Tong Ling segera pergi. Sekarang Tong Ling baru melihat ulat-ulat kecil itu mempunyai sepasang sayap tembus pandang.