-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 04

Jilid 04

Apakah semua gadis di dunia ini sulit diatur? Wan Fei- yang hanya bisa tertawa kecut.

Pei-pei menatapnya dan berkata:

Aku mengerti kalau perasaan harus dibina, aku bisa menunggu!” Wan Fei-yang menghembuskan nafas.

“Kalau kau sadar dan langsung marah-marah kepadaku, berarti kau tidak menyukaiku, tapi kau tidak melakukannya, berarti kau tidak membenciku, setelah lewat beberapa hari kau pasti akan menyukai ku dan akan menikahiku!”

“Setelah lewat beberapa hari...” Tiba-tiba Pei-pei berteriak:

“Masih ada satu cara lagi!”

“Oh ya?” Wan Fei-yang melihat Pei-pei, dia tidak merasa Pei-pei memmpunyai cara yang lebih baik.

Pei-pei segera berjalan mendekati meja batu dan mengambil benda seperti kulit kerang, setelah itu dia kembali ke sisi ranjang segera meniup benda itu.

Suara yang keluar sangat indah tapi juga aneh. Setelah Wan Fei-yang mendengarnya, hatinya merasa nyaman. Apa pun yang dilihatnya sepertinya berubah menjadi indah, apa lagi perasaannya kepada Pei-pei, tidak perlu diucapkan lagi.

Pei-pei menatap Wan Fei-yang, dia meniup kulit kerang itu dengan penuh konsentrasi, di mata Wan Fei-yang, Pei-pei pelan-pelan berubah menjadi seperti dewi khayangan.

Tentu saja Wan Fei-yang belum pernah melihat dewi, tapi di matanya, Pei-pei seperti sedang menari di atas langit, seperti seorang dewi.

Tidak lama kemudian tiba-tiba ada suatu perasaan merayap ke tangannya, begitu dilihat dia menghembuskan nafas dingin, sebab di tangannya banyak ulat-ulat yang berkilauan sedang merayap ke bagian atas tubuhnya. Seekor demi seekor menempel menjadi satu, menjadi benda aneh yang berkilau, seperti benda cair yang sedang bergerak, Wan Fei-yang melihat lagi. Benda-benda itu sedang datang dari segala penjuru dengan cepat menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Apa ini?” Wan Fei-yang berteriak.

Pei-pei seperti mabuk terus meniup benda seperti kulit kerang itu, teriakan Wan Fei-yang telah membuatnya tersadar kembali dan pelan-pelan meletakkan kulit kerang itu ke atas meja. Benda-benda yang merayap itu adalah ulat sutra emas.

Bersamaan waktu ulat sutra emas itu pun berhenti merayap.

“Ulat sutra emas?” Wan Fei-yang segera ingat pada Thian-can-sin-kang.

Pei-pei menjelaskan bahwa itu adalah salah satu 'Ku'. “Ku..hati Wan Fei-yang terasa dingin:

“Kau bisa memakai Ku?” (ilmu guna-guna).

Pei-pei seperti tidak merasa bersalah dan menjawab: “Suhu mengajariku banyak hal, tapi kali ini untuk

pertama kalinya aku menggunakan Ku, aku yakin tidak salah menggunakannya.”

“Mengapa kau menggunakan Ku kepadaku?”

“Ketika Suhu mengajariku menggunakan ulat sutra emas beliau pernah mengatakan Kim-can-ku bisa membuat laki- laki yang kusukai akan setia selamanya dan terus berada di sisiku, dia tidak akan berpaling kepada orang lain!” kata Pei- pei berkata dengan jujur, sikapnya terlihat manja, sepertinya tidak ada perasaan jahat sedikit pun.

Wan Fei-yang menarik nafas:

“Memelihara guna-guna, berlatih ilmu guna-guna, itu pendapat masing-masing, aku tidak berani mengatakan kalau itu salah, tapi tujuan menggunakan guna-guna sudah sangat jelas!”

“Maksudmu, aku bersalah?”

“Gurumu tidak pantas mengajari hal seperti itu kepadamu!” jawab Wan Fei-yang sambil menarik nafas, “seorang laki-laki karena takut kepada Ku akan menyukaimu, hanya karena dia takut racun, maka pikiran, dan gerakan mereka akan dikuasai oleh Kim-can-ku (Guna-guna ulat sutra emas). Dengan terpaksa mereka akan tunduk kepada kehendakmu, dia akan menjadi seperti mayat hidup, rasa suka dan sayangnya bukan berasal dari lubuk hatinya.”

“Kim-can-ku yang kau maksud tadi terlalu menakutkan!” kata Pei-pei menggelengkan kepala.

“Apakah orang yang telah terkena guna-guna jika meninggalkan tempat ini akan sering kambuh dan keadaannya sangat teisiksa?”

“Tapi dia tidak akan mati!”

“Perasaan itu pasti akan membuat siapa pun dengan cepat mengubah keputusan awalnya!” kata Wan Fei-yang.

Pei-pei tidak mengaku juga tidak membantah, dia hanya menjawab: “Sebenarnya aku juga tidak tahu jelas, tapi Suhu mengatakan seperti itu!”

“Kalau orang yang sudah terkena guna-guna menyukaimu hanya karena pengaruh guna-guna, aku yakin nilainya akan berkurang!”

“Aku tidak pernah mendengar orang berkata seperti itu!” “Mungkin orang yang terkena guna-guna tidak berani bicara terus terang supaya dia tidak akan mendapat

kesulitan yang tidak diharapkan,” kata Wan Fei-yang. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Tanya Pei-pei.

“Semua berjalan secara alami, jangan dipaksa, jika berjodoh tentunya mereka akan bersatu!”

“Apakah jodoh ditentukan oleh Langit?” Tanya Pei-pei.

Wan Fei-yang segera teringat pada masa lalunya, dengan terpaksa dia menjawab:

“Manusia tidak bisa melawan kehendak Langit, kalau Langit sudah menentukan mereka tidak bisa bersatu, pada akhirnya mereka pun akan terpisah!”

Sambil mendengar perkataan Wan Fei-yang, terlihat Pei- pei mengangguk, tiba-tiba dia bertanya:

“Menurutmu, akhirnya kita akan seperti apa?” Wan Fei-yang tertawa kecut:

''Kalau bisa tahu tentu akan baik, jika aku mempunyai kepandaian seperti ini, walaupun hidup ku sangat hambar, aku bisa menghindari banyak masalah yang memusingkan kepala!” Masa lalu yang terpikir oleh Wan Fei-yang terlalu banyak, sebenarnya rasa pusingnya lebih banyak dari pada kesenangan, walaupun dia tidak peduli terhadap hidup dengan senang tapi banyak kesedihan yang menyakitkan yang tidak ingin dia temui lagi!

Tentu saja Pei-pei tidak merasakan apa yang Wan Fei- yang rasakan, dia juga tidak bisa membaca pikiran dan hati Wan Fei-yang. Melihat sikap Pei-pei yang tidak menentu, bisa terlihat akibat yang bisa dia bayangkan adalah hari indah dan baik!

Wan Fei-yang tiba-tiba memperhatikan Pei-pei, dia terpaku di sana, walaupun penglihatannya bukan penglihatan sangat khusus, begitu melihatnya dia sudah tahu diaa jenis orang seperti apa. Tapi sampai sekarang kesan yang diberikan Pei-pei adalah dia begitu naif dan bersih!

Dia tidak ingin menipu Pei-pei, memang dari awal dia tidak berniat menipu Pei-pei. Yang membuatnya bingung adalah hubungan ini sudah dimulai tentu saja harus diakhiri dengan cara yang baik pula.

Lama Pei-pei baru membuka suara:

“Kata-katamu memang masuk akal, perasaan harus dibina, mulai sekarang aku akan selalu berada di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu!”

Wan Fei-yang tertawa kecut, kata-kata seperti ini belum lama didengar dari mulut Tong Ling. Waktu itu dia merasa, Tong Ling saja sulit dilayani tapi jika dibandingkan sekarang dengan Pei-pei, Tong Ling lebih mudah dilayani.

Karena Tong Ling hanya berniat ikut ke perbatasan suku Biauw, sedangkan Pei-pei ingin menjadi istrinya.

Setelah berhasil menolong Tong Pek-coan, masalah Tong Ling tentu saja akan ikut beres, tapi masalahnya dengan Pei- pei entah kapan bisa selesai!

Gadis suku Biauw mudah jatuh cinta, dia sudah sering mendengar tentang hal itu. Gadis seperti Pei-pei harus ada yang bertanggung jawab.

Pei-pei mengambil cangkang kulit kerang dan mulai meniup lagi, suara yang keluar kali ini tidak ada bedanya bagi Wan Fei-yang dengan suara tadi, perasaan nyaman muncul lagi, tapi Kim-can (ulat sutra emas) malah pelan-pelan mundur dan menghilang karena suara itu.

Wan Fei-yang melihat semua itu, tidak ada perasaan enteng di hatinya berubah semuanya terasa lebih berat.

Akhirnya Pei-pei meletakkan benda seperti cangkang kerang itu dan membuka tali yang mengikat Wan Fei-yang.

Tali itu disimpul hidup maka dengan mudah Pei-pei membuka talinya tapi Wan Fei-yang malah merasa kepalanya pusing.

Pei-pei memapah Wan Fei-yang duduk dan bertanya: “Apakah perasaanmu tidak nyaman?”

“Tidak, aku baik-baik saja...” Wan Fei-yang memang baik- baik saja, hanya perasaannya waktu itu sangat aneh, dia seperti tidak bertenaga. “Apakah kau mau makan?” tawar Pei-pei.

“Aku tidak lapar!” Wan Fei-yang melihat sekelilingnya, “apakah kau hanya tinggal sendiri di sini?”

“Orang lain tidak boleh masuk!” angguk Pei-pei. “Oh...?” Wan Fei-yang merasa aneh.

“Ini adalah tempat terlarang bagi suku kami!” Wan Fei- yang berpikir sebentar dan bertanya lagi:

“Kedudukan Nona di suku kalian pasti tidak biasa!”' Dengan manja Pei-pei berkata:

“Coba kau tebak!”

“Apakah Nona seorang putri?” Wan Fei-yang sembarangan menebak.

“Dari mana kau bisa tahu?” Pei-pei berteriak. “Sebelum masuk ke mari aku pernah bertanya dan tahu di sini adalah tempat tinggal raja suku Biauw...”

Pei-pei menggelengkan kepala:

“Ayahku tidak tinggal di sini, dia sibuk dan banyak masalah yang harus dibereskan, dia harus terus bersama dengan orang-orangnya.”

“Lalu tempat terlarang ini...”

“Tempat ini adalah tempat di mana kakekku dan gurunya berlatih silat, aku senang berlatih silat, maka aku tinggal di sini.”

Wan Fei-yang membereskan bajunya:

“Kau bisa menotok...”

“Kau masih ingat?” Pei-pei merasa bersalah, “selain hal ini aku tidak tahu harus dengan cara apa menahanmu!” “Aku hanya berpikir gurumu tentu bukan berasal dari suku yang sama denganmu!” kata Wan Fei-yang.

“Dia bukan dari suku Biauw juga bukan dari suku Han.” Tiba-tiba Pei-pei bertanya:

“Apakah Seng-cu-hai berada di Tionggoan?”

“Mungkin tidak ada di Tionggoan, aku tidak pernah mendengar di Tionggoan ada tempat seperti ini, apakah gurumu dari Seng-cu-hai?”

“Benar, beliau bernama Sat Kao...” itu bukan nama orang Han.

Wan Fei-yang tertawa:

“Caranya mengajar menotok, aku lihat itu bukan cara dari perkumpulan di Tionggoan!”

“Apakah di Tionggoan banyak perkumpulan silat?” “Memang banyak, di setiap gunung, di setiap propinsi

selalu ada perkumpulan!”

“Menarik sekali, di perbatasan suku Biauw tidak ada yang seperti itu! Apa tujuanmu ke perbatasan suku Biauw, apa untuk melancong?”

“Untuk mencari seseorang!”

“Itu hal yang mudah, kalau orang itu berada di sini sangat mudah untuk ditemukan.”

Wan Fei-yang tidak meragukan kata-kata Pei-pei, karena ayahnya adalah raja di sini, di bawah perintah ayahnya semua orang suku Biauw akan mencari dan menemukan orang itu.

“Siapa yang kau cari?” tanya Pei-pei. “Aku sendiri tidak tahu siapa sebenarnya dia, hanya tahu kalau dari sepasang tangannya bisa keluar sesuatu mirip serat sutra dari ulat sutra!”

Dari gendongannya dikeluarkan sebuah bungkusan dan dibukanya, di dalam bungkusan berisi segumpal serat dari ulat sutra.

Benda itu diambil dari mayat-mayat orang dunia persilatan yang dibawa ke Bu-tong-pai.

Begitu Pei-pei melihat gumplana itu, sikap-nya terlihat aneh. Dia melihat ke sana-kemari, akhir-nya dia pun bertanya:

“Kau datang untuk mencari kakakku?”

Wan Fei-yang terpaku, dia benar-benar merasa aneh, bisa tepat dan kebetulan.

“Selain kakakmu apakah ada orang yang menguasai ilmu ini?”

Kemudian dia balik bertanya:

“Ada apa kau mencarinya?”

“Pertama, aku harus yakin apakah dia adalah orang yang sedang kucari, kalau bukan, tidak ada masalah apa pun!”

“Dia berada di sini!”

“Apakah kau bisa membawaku menemuinya?” “Mengapa tidak?” tangan Pei-pei masuk ke dalam

genggaman tangan Wan Fei-yang, “setelah bertemu dengan kakakku lalu bertemu dengan ayahku, masalah kita ini harus diberitahukan kepada mereka!” Wan Fei-yang selain ingin tertawa dia juga merasa bersalah, karena dia sedang memperalat Pei-pei.

Akhirnya dia mengambil keputusan, setelah yakin orang itu adalah orang yang dicarinya, dia akan menjelaskan semuanya kepada Pei-pei.

Tempat di mana Beng To tinggal di daerah ini juga, tidak banyak barang tapi kulit binatang banyak tergantung di dinding gua.

Gua ini memberi kesan kasar dan terbuka, sampai dia melihat ada laba-laba.

Semua laba-laba itu bersembunyi di bawah kulit-kulit binatang itu, setiap ekor besarnya sebesar kepalan tangan manusia. Wan Fei-yang tidak sengaja melihat ke bawah kulit binatang itu, hatinya terus bergetar. Dia menyibak kulit binatang itu dan di bawahnya ternyata banyak laba-laba.

Dia tidak memegang labah-labah itu maka tidak ada reaksi apa pun, tapi hatinya terasa dingin.

Pei-pei seperti sudah tahu ada laba-laba di sana dan tidak terlihat heran. Pei-pei malah merasa aneh dengan reaksi Wan Fei-yang.

“Apa ini?” tentu saja Wan Fei-yang bukan tidak pernah melihat laba-laba tapi dia tetap bertanya.

“Apakah di Tionggoan tidak ada laba-laba?” Wan Fei-yang terpaku:

“Bukan tidak ada hanya saja tidak sebesar ini, apakah memang ada laba-laba sebesar ini?”

Pei-pei menggelengkan kepala: “Mereka sengaja dipilih sebagai bibit Ku, diberi makan Kim-can (ulat sutra emas) dan kaki seribu, maka mereka tumbuh menjadi besar seperti ini!

“Bibit Ku?” Wan Fei-yang teringat apa yang dikatakan Kouw-bok.

“Apakah kau tahu apa itu bibit Ku?”

“Aku pernah mendengarnya, apakah kakakmu memelihara guna-guna dan bisa menaruh guna-guna juga?”

“Dia tidak begitu mengerti. Laba-laba ini dipelihara oleh Suhu, ini benda yang harus dipakai saat sedang berlatih ilmu!” Pei-pei seperti tidak tahu ada bahaya.

Wan Fei-yang tidak merasa aneh, dia percaya pada Pei- pei karena dia masih polos dan tidak berniat jahat, dia juga mengerti Pei-pei tumbuh di lingkungan seperti ini maka memelihara guna-guna atau membubuhkan guna-guna adalah hal wajar bukan sesuatu yang jahat, maka dia tidak menyangka bahwa bibit guna-guna itu menakutkan.

Wan Fei-yang melihat sekeliling, di dalam gua itu tidak ada seorang pun. Mata Pei-pei berputar, dia segera berkata:

“Dia tidak ada di sini pasti ada di sana!” “Di mana?” tanya Wan Fei-yang.

“Tempat di mana dia berlatih silat! Tapi lebih baik kita tunggu di sini sampai dia pulang!”

“Apakah tempat itu sangat jauh?”

“Tidak, hanya saja Suhu melarang siapa pun masuk ke sana, aku pun dilarang ke sana, apa lagi kau!” “Apakah kau bisa mempersilahkan kakakmu keluar untuk bertemu denganku!”

“Mungkin saja bisa, tidak disangka kau juga orang yang tergesa-gesa!”

“Masalah kalau bisa lebih cepat dibereskan itu akan lebih baik!”

“Kau belum memberitahuku apa permasalahannya.” “Sampai waktunya nanti kau akan tahu!” setelah kata-

katanya terucap keluar, Wan Fei-yang merasa bersalah dan berdosa.

Pei-pei tidak memperhatikan sikap Wan Fei-yang, dia juga tidak bertanya lebih jauh, dia hanya terus mendekati Wan Fei-yang. Di dalam hatinya dia sudah menganggap Wan Fei-yang adalah suaminya.

Setelah keluar dari gua di mana Beng To tinggal, Pei-pei segera menuntun Wan Fei-yang naik gunung.

Di luar gunung ada gunung, gunung-gunung di sana berbentuk aneh, disebut indah bisa,disebut misterius pun tidak salah.

Setelah melewati dua gunung, terlihat ada sebuah danau di antara dua gunung, di depan danau ada sebuah gunung yang tampak ditumpuk oleh papan dari batu.

Papan batu itu ada yang panjang ada yang pendek, ada yang tebal ada yang tipis, dengan posisi tidak teratur ditumpuk menjadi satu, memberi kesan berbahaya dan misterius, di tengah-tengahnya terdapat pintu.

“Apakah kakakmu berada di sana?” Pei-pei mengangguk, dia meloncat ke atas sebuah sampan yang berlabuh di sisi danau.

0-0-0

Beng To sedang duduk bersila di dalam gua di atas sebuah batu, tubuhnya penuh dengan benda seperti benang tenun seperti serat sutra laba-laba, dia duduk dengan posisi seperti dalam sebuah kepompong. Kali ini bukan benang berwarna abu keputih-an tapi hitam keunguan.

Di depan Beng To, duduklah Tong Pek-coan seperti sebuah patung batu, kedua matanya terpejam dan dia tidak bergerak.

Sikapnya tetap terlihat keras, kesedihan dan rasa sakit terlihat dari kerutan di antara kedua alisnya, kulit di seluruh tubuhnya sudah berubah menjadi putih, sepertinya dalam waktu dekat ini, dia sudah banyak menelan rasa sakit.

Suara gemuruh masih berbunyi di dalam gua, sekali demi sekali bercampur dengan kejahatan. Suara itu seperti suara orang melafalkan mantera.

Laba-laba beroman manusia karena suara itu melalui benangnya merayap ke tubuh Beng To. Setiap benang sutra itu dimulai dari Tong Pek-coan.

Setiap helai benang sutra itu seperti ditarik keluar dari tubuh Tong Pek-coan. Setelah dilihat dengan teliti, dari telinga dan hidung Tong Pek-coan terlihat ada laba-laba beroman manusia berbentuk kecil, mereka keluar masuk dari sana.

Laba-laba beroman manusia itu benar-benar sangat kecil, dengan laba-laba yang merayap ke tubuh Beng To berbeda 2%,

Tentu saja dengan keluar masuknya laba-laba itu membuat Tong Pek-coan merasa tidak nyaman, terlihat dari otot wajahnya terus gemetar untuk menahan rasa sakit.

Dalam desisan suara seperti melafalkan mantra tiba-tiba terdengar dentang lonceng, suara lafalan mantera semakin mengecil.

Dentang lonceng semakin mendekat, terlihat ada seorang orang tua berambut putih dan panjangnya hingga mencapai tanah memasuki gua. Telinganya lebar, di pahanya tergantung penuh lonceng besar dan kecil berwarna besi, ternyata suara mantera itu keluar dari mulutnya.

Dia berhenti di sisi kolam, suara lafalan mantera pun berhenti, sambil tertawa dia berkata kepada Tong Pek-coan: “Hei marga Tong, kau masih bisa bertahan berapa

lama?”

Akhirnya Tong Pek-coan membuka matanya, matanya terlihat penuh dengan syaraf merah, dia berteriak:

“Sat Kao, dengan ilmu guna-guna melukai orang, itu bukan perbuatan seorang laki-laki sejati bukan tindakan seorang pahlawan!” “Kalau kau dengan baik-baik memberikan tenaga dalammu kepada muridku ini, kau tidak perlu merasa tersiksa seperti ini!” kata Sat kao tertawa.

“Kalian juga sama-sama dari kalangan persilatan, kalian bisa-bisanya menggunakan cara seperti ini?” Tong Pek-coan marah.

Sat Kao menggelengkan kepala:

“Ilmu lweekang muridku harus meminjam tenaga dalam dari para pesilat tangguh baru ilmunya bisa mencapai puncak, menjadi pesilat nomor satu di dunia ini, hal yang begitu berarti harus kau dukung dengan sepenuh hati!”

“Ilmu sesat...” dari dahi Tong Pek-coan terlihat keluar keringat besar-besar.

“Kau masih bisa bertahan berapa lama?”

Tong Pek-coan terdiam, dia tahu dia tidak akan bisa bertahan lama. Laba-laba yang keluar masuk membuat tenaga dalamnya berkumpul tanpa sadar.

Jika tenaga dalamnya bisa terkumpul, Beng To dengan gampang akan memancing tenaga dalamnya keluar dari tubuhnya.

Tong Pek-coan tahu laba-laba itu adalah salah satu bentuk guna-guna, keluar masuknya laba-laba kecil itu memang membuatnya sulit untuk bertahan, kalau ingin merasa lebih nyaman dia harus menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit, jika tenaga dalamnya sudah digunakan sulit ditarik kembali, dia akan dikait dan dikumpulkan seperti benang laba-laba. Laba-laba itu sepertinya hanya bertanggung jawab memancing keluar tenaga dalamnya. Setelah itu pekerjaan selanjutnya akan di ambil alihkan pada laba-laba besar. Tong Pek-coan punya perasaan seperti itu.

Sampai-sampai dia berperasaan serat sutra dari laba- laba besar itu sebenarnya bertujuan memancing tenaga dalamnya keluar ke arah Beng To, dia tahu sebagaimana berbahayanya tapi dia tidak bisa mencegat.

Sat Kao tidak berkata apa-apa, dia mundur seperti setan gentayangan, sewaktu dia mundur suara lafal mantera keluar lagi.

Keringat Tong Pek-coan keluar lebih banyak lagi. Laba- laba kecil yang keluar dari mulut, karena lantunan mantera itu bertambah aktif dan gerakan laba-laba besar pun bertambah cepat.

Suara seperti guntur mulai terdengar di dalam gua itu.

Akhirnya mereka berhenti di luar gua, sikap Pei-pei terlihat selalu santai, tapi begitu mendengar suara seperti guntur itu dia terlihat sangat tegang.

Suara itu terdengar dari luar gua tidak terlalu besar tapi tetap saja membuat orang merasa geger.

Wan Fei-yang mulai memperhatikan:

“Suara apa itu?”

“Suhu sedang menaruh serangga!” Wan Fei-yang bergetar:

“Apakah serangga itu lebih lihai dari Kim-can-cong?”

“Itu sudah pasti! Dari suaranya saja bisa kita bayangkan!” “Apakah dia tahu kalau ada orang mau masuk?” Wan Fei-yang menaruh curiga.

“Kau kira beliau meletakkan guna-guna untuk menghadapimu? Antara kau dan dia tidak ada perselisihan, dia tidak akan melakukannya!”

“Katanya orang yang sangat pandai menaruh guna-guna jika ada yang mencarinya, dia sudah tahu sebelumnya...”

“Kecuali kalau di tubuh orang yang akan datang sudah ada guna-guna yang pernah dia taruh maka dia akan tahu! Apakah ini pertama kalinya kau datang kemari?”

“Betul, ini pertama kalinya aku ke mari, sampai sekarang aku tidak tahu seperti apa wujud gurumu?”

Pei-pei melihat ke dalam gua:

“Hari ini kau tidak akan bisa bertemu dengan mereka!” “Apakah kakakmu juga tidak bisa kutemui?”

“Dia sedang berlatih ilmu silat dan tidak bisa dialihkan perhatiannya, Suhu tidak suka di saat seperti sekarang ini ada yang mengganggunya!”

“Apakah berlatih ilmu silat ada hubungannya dengan menaruh guna-guna?”

Pei-pei mengangguk:

“Suhu menaruh guna-guna untuk membantu Kokoku berlatih ilmu silat, seperti apa detailnya aku juga tidak tahu dengan jelas!”

“Sekali berlatih ilmu silat butuh berapa lama.” “Tidak tentu, 3-4 bulan sudah biasa!” Pei-pei memegang tangan Wan Fei-yang, “lebih baik kita cari ayah dulu, di sana lebih ramai dan sehari-hari bisa berlalu dengan cepat!”

“Kau senang dengan keramaian?”

“Tidak terlalu senang, tapi mungkin karena tinggal di sini terlalu lama maka aku merasa pergi ke tempat ramai tidak akan merasa tidak suka!”

“Kadang-kadang aku pun seperti itu!” angguk Wan Fei- yang.

“Dari awal aku sudah tahu sifat kita memang mirip, kita adalah sepasang kekasih ideal.”

Perkataan ini keluar dari mulutnya tapi seperti tidak keterlaluan, karena perasaan ini keluar dari hatinya yang terdalam!

Bagaimana menangani perasaan seperti ini? Wan Fei- yang termangu melihat Pei-pei, sulit untuk memberi komentar. BAB 05

“Kami adalah...” Pei-pei segera memutar tubuhnya, waktu itu terdengar suara jeritan memilukan keluar dari dalam gua. Wan Fei-yang dan Pei-pei tampak terkejut.

Jeritan itu terus terdengar, semakin lama terdengar semakin menyedihkan.

Wan Fei-yang melihat Pei-pei:

“Siapa yang berteriak itu?”

“Bukan mereka!” dengan yakin Pei-pei menjawab, “aku tidak akan salah dengar!”

“Apakah sebelumnya pernah terjadi seperti ini?” “Tidak... siapa yang berteriak?”

“Aku akan coba masuk untuk melihat apa yang terjadi!” kata Wan Fei-yang di segera berlari ke arah gua, “di dalam gua mungkin terjadi bahaya kau tunggu di sini!”

Pei-pei tertawa kecut:

“Di dalam gua pasti ada bahaya yang berada di sini seharusnya kau bukan aku!” dia juga berteriak, “hati-hati dengan laba-laba beroman manusia.” Wan Fei-yang sudah melihat laba-laba itu sedang merayap ke arah mereka!

Di bawah batu-batu stalaktit terdapat banyak sarang laba-laba besar dan kecil, yang kecil pun ternyata lebih besar dibandingkan dengan laba-laba yang biasa terlihat, bagaimana dengan yang besar, tidak bisa dibayangkan. Walaupun laba-laba itu tidak bergerak dan berada di sarangnya, tapi tetap saja membuat bulu kuduk merinding. Sewaktu Wan Fei-yang melewati sarang laba-laba dengan sorot mata tajam dan keputusan yang tepat, dia sama sekali tidak mau menyentuh sarang-sarang itu.

Ada 2 ekor laba-laba hampir jatuh ke atas tubuhnya, tapi sebelum laba-laba itu jatuh, dia sudah tahu dan dengan tenaga dalamnya, dia mengantarkan laba-laba itu kembali ke sarangnya.

Jalan yang benar-benar sulit dilewati, berlapis-lapis batu stalaktit harus dilewatinya, akhirnya dia tiba di depan sebuah kolam, keadaan di sana aneh, membuat hatinya dingin dan langkahnya berhenti.

Yang berteriak memilukan tadi bukan Beng To atau Sat Kao. Melainkan orang ketiga yang berada di sana... Tong Pek-coan.

Dia tetap duduk di depan Beng To, di antara mereka tersambung oleh benang-benang sarang laba-laba yang tampak berkilauan, di atas benang laba-laba itu ada sesuatu yang terus merayap.

Laba-laba kecil terus keluar dari mulut dan hidung Tong Pek-coan, kali ini hanya keluar tidak ada yang masuk.

Rambut putihnya setiap helai berdiri satu persatu, tidak ada angin tapi rambut itu bergoyang sendiri, hanya seperti itu saja sudah membuat orang merasa dingin.

Keringat sudah berhenti mengalir, otot-otot di wajahnya mulai keriput dan menciut, kulitnya sedang mengalami perubahan dan warnanya menjadi seputih lilin. Tapi Beng To yang ada di belakangnya tidak mengalami perubahan, dia tetap bersembunyi di dalam kepompongnya. Melihat kepompong itu Wan Fei-yang terlihat lebih terkejut lagi dari pada saat melihat keadaan Tong Pek-coan.

“Thian-can-sin-kang...” Wan Fei-yang berteriak. Sebenarnya dia tahu bahwa itu bukan Thian-can-sin-kang, tapi tiba-tiba saja dia merasa memang seperti itu.

Tong Pek-coan masih terus berteriak memilukan, setelah mendengar teriakan Wan Fei-yang tadi teriakannya pun berhenti dan dia berkata:

“Ilmunya bukan Thian-can-sin-kang, orang ini pun bukan Wan Fei-yang!”

“Lo-pek...” Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi dia segera terdiam karena dia tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Mata Tong Pek-coan terlihat seperti akan pecah, dari sudut matanya sudah keluar darah, dia memelototi Wan Fei- yang:

“Aku rasa kau pasti bukan orang jahat, kalau kau orang dunia persilatan yang menjaga keadilan, aku lihat kau mempunyai ilmu tinggi, jadi cepatlah tinggalkan tempat ini, tempat ini bukan tempat yang bagus, dan kau bukan lawan orang ini!”

“Orang ini...”

“Ilmunya juga bukan Thian-can-sin-kang tapi tidak seperti ilmu silat biasa, kita sama-sama orang dunia persilatan, tinggalkan tempat ini segera, memberitahu kepada teman-teman dunia persilatan, jangan menaruh prasangka kepada Wan Fei-yang...”

“Lo-cianpwee adalah...”

“Tong-bun, Tong Pek-coan!” suara Tong Pek-coan semakin melemah, suaranya baru selesai kemudian dia berteriak memilukan lagi.

Hati Wan Fei-yang bergetar, dia berlari mendekati Tong Pek-coan, dia melihatnya terlihat cemas juga marah, dia berteriak dengan histeris:

“Cepat pergi...” suara orang mengutuk semakin mendekat. Sat Kao muncul dari antara batu-batuan stalaktit, dia menggelengkan kepala:

“Kemana kau menyuruhnya pergi?”

Mata Tong Pek-coan tampak berputar, lalu melihat Wan Fei-yang, dia menarik nafas dengan sedih:

“Anak ini...”

Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Sat Kao sudah tertawa:

“Kau benar-benar berani datang kemari!”

“Apakah kau Sat Kao?” Wan Fei-yang mencoba mencari tahu.

Sat Kao terpaku:

“Kau tahu namaku? Tampaknya kau bukan orang biasa,” “Orang yang ada di dalam kepompong apakah Beng To?” “Siapa kau?” Sat Kao balik bertanya.

“Wan Fei-yang...”

Sat Kao terpaku, dia berteriak: “Kau Wan Fei-yang, orang yang menguasai Thian-can-sin- kang... Wan Fei-yang itu?”

Beng To yang berada di dalam kepompong hitam seperti mendengar percakapan mereka, sebab terlihat tubuhnya bergetar. Apa lagi Tong Pek-coan, terlihat dia terpaku, rasa sakitnya pun seperti sudah terlupakan, dengan termangu dia menatap Wan Fei-yang, mulutnya menganga tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Kalian memindahkan petaka kepada orang lain dan aku adalah orang lain itu!”

“Awalnya kami tidak tahu di mana keberadaanmu, maka kami tidak berniat untuk memindahkan petaka ini kepadamu, orang lain sudah salah sangka, itu tidak ada hubungannya dengan kami!”

“Apakah benar?” Wan Fei-yang setengah percaya.

“Kalau kau sudah menguasai Thian-can-sin-kang, kau pasti terkenal di dunia persilatan, tapi 5 tahun yang lalu kau tidak begitu terkenal!”

“Apakah 5 tahun yang lalu, Tuan sudah mundur dari dunia persilatan?” Wan Fei-yang balik bertanya.

“Saat itu aku sedang mengajarkan ilmu silat kepada Beng To, dia adalah orang yang berbakat, dia tidak mengecewakanku dia cocok dengan apa yang kuharapkan!”

“Sederetan pembunuhan terjadi di dunia persilatan, apakah pelakunya Beng To?”

Tong Pek-coan menyela: Dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok (Geser bunga sambung kayu) dia mengambil tenaga dalam orang lain untuk dijadikan miliknya dan berlatih ilmu sesat ini!

“Apakah ini cara ketiga untuk berlatih Thian-can-sin- kang?” tanya Wan Fei-yang.

“Apakah karena kau tidak tahu maka bisa berkata seperti itu?” tanya Sat Kao dengan dingin.

Ini bukan Thian-can-sin-kang!, Wan Fei-yang terpaku dan menarik nafas.

“Apakah kau tahu apa sebenarnya Thian-can-sin-kang itu?”

Wan Fei-yang mengangguk.

Sat Kao dengan dingin berkata lagi:

“Tidak bertanya lebih dulu langsung mengambil, dan menjadikannya milik sendiri, apakah ini adalah gaya dunia persilatan Tionggoan yang biasa kalian sebut perkumpulan lurus?

“Tapi walau bagaimana Bu-tong-pai belum pernah berbuat sewenang-wenang dengan Thian-can-sin-kang!”

“Maling tetap maling, Bu-tong-pai tidak berani mengungkapkan rahasia ini, berarti takut ketahuan, Sat Kao tertawa dingin.

“Benar atau salah, aku adalah angkatan muda Bu-tong- pai, aku tidak bisa memastikannya, tapi Thian-can-kang, Thian-can-sin-kang dengan alasan apapun tidak perlu sampai mengambil nyawa orang lain!” “Kalau begitu, mengapa kau langsung berteriak Thian- can-sin-kang!”

“Tuan jangan memakai alasan yang tidak masuk akal, aku tidak bisa mengatakan apa-apa!” kata Wan Fei-yang.

“Kalau begitu, tinggalkan Thian-can-sin-kang mu, aku akan melepaskan dan membiarkan kau hidup!” kata Sat Kao.

Wan Fei-yang belum menjawab, Tong Pek-coan sudah berteriak histeris:

“Di dunia ini mana ada orang bodoh seperti itu, Wan Fei- yang... jangan begong lagi, cepat maju dan bunuh 2 iblis ini!” “Lo-cianpwee...” kata-kata ini baru terucap keluar segera

dipotong.

“Bunuh mereka...” walaupun Tong Pek-coan sudah tersiksa berat tapi sifatnya tetap keras.

Wan Fei-yang melihat Sat Kao.

“Anak muda, kau menginginkan apa?” kata Sat Kao sambil tertawa.

Wan Fei-yang menunjuk Tong Pek-coan:

“Aku harus membawa dia pergi, tentang kebajikan dan dendam di antara kita baru kita buat perhitungan di lain waktu!”

“Apakah kau sanggup membawanya pergi?”

“Maaf   ” Wan Fei-yang berjalan ke arah Tong Pek-coan

tapi tangan Sat Kao sudah melayang, asap dan kabut muncul dan menghampiri Wan Fei-yang. Asap itu berwarna-warni dan sedap dipandang mata.

Tong Pek-coan berteriak: “Hati-hati itu racun!”

Tangan Wan Fei-yang segera dikebutkan keluar, tenaga dalam yang kuat menyambut asap berwarna-warni itu. Asap dan kabut tidak bisa maju, dan menggulung kembali, tapi Sat Kao tidak menghindar dia membiarkan asap itu menutupi tubuhnya. Kemudian kedua tangannya tampak melayang, dua cahaya berwarna emas keluar dari lengan baju dan melesat ke arah Wan Fei-yang.

Tampaknya itu adalah 2 buah senjata rahasia, sebenarnya adalah 2 ekor ular emas. Mata Wan Fei-yang melihat sangat cepat, awalnya dia berniat menyambut tapi tiba-tiba berubah menjadi 2 kekuatan yang menggulung ke depan. Dua ekor ular emas itu seperti menabrak sebuah dinding yang tidak terlihat. Di tengah-tengah udara 2 ekor ular itu terus meloncat dan bersalto kemudian jatuh ke bawah. Sebelum sampai di tanah, mereka sudah digulung lagi oleh tenaga dalam Wan Fei-yang dan dilempar ke sebuah batu.

Sat Kao melihatnya, dia segera bersiul, tapi dua ekor ular itu tidak bereaksi. Setelah menabrak batu ular itu hancur lebur.

“Kau berani membunuh Kim-li (Budak emas) milikku?” wajah Sat Kao benar-benar terlihat marah, suaranya pun menjadi tajam. “Maaf!” baru saja Wan Fei-yang berkata itu tampak beberapa ekor laba-laba beroman manusia sebesar kepalan tangan sudah datang dari udara, dia sangat mengerti laba- laba itu sangat beracun, dia pun menyentil dengan jarinya, tenaga besar datang mengenai laba-laba itu.

Laba-laba itu satu per satu disentil ke atas udara kemudian terjatuh, setelah meronta sesaat mereka segera mati. Sat Kao melihat jelas semua itu, wajahnya terus berubah, dari mulutnya keluar suara aneh dan laba-laba semakin banyak yang muncul, mereka menyerang dari semua penjuru.

Dua telapak tangan Wan Fei-yang berputar, baju dan rambut tampak berkibar, membuat laba-laba itu kembali kepada Sat Kao.

Sat Kao tampak marah, dia seperti kelelahan, Wan Fei- yang sekali lagi menyerang, setelah berhasil menghindar Sat Kao menggunakan batu stalaktit sebagai tameng. Sewaktu dia ingin menyerang lagi, terdengar Tong Pek-coan berteriak lagi, suaranya terdengar sangat menyedihkan membuat suaranya bergema di dalam gua, bulu kuduk pun berdiri.

Terlihat tubuh Tong Pek-coan terus menciut, kedua matanya pun sepertinya akan meloncat keluar karena daging di wajahnya terus menciut.

Melihat reaksinya bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang dialaminya sangat hebat, bibirnya pun tampak bergetar, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar. Mata Wan Fei-yang tampak berputar, dia segera menyerang Beng To. Bersamaan waktu kabut berwarna- warni menggulung datang ke arahnya, asap berkilau mengandung racun sangat kental.

Suara Sat Kao melantunkan mantera seperti ujung jarum terus menusuk telinga Wan Fei-yang. Wan Fei-yang segera mengatur nafas, kedua telapak tangannya menepis.

Dalam lantunan mantera yang keras tampak kabut datang kembali, Sat Kao keluar dari dalam kabut, kedua tangannya terlihat bersinar terang ternyata dia sudah mengeluarkan senjatanya, lalu tangannya direntangkan lebar-lebar dan diayunkan kepada Wan Fei-yang. 

Pisau beroda terus melesat, tempat di mana senjata itu lewat tampak batu stalaktit terpotong seperti tahu, terlihat bagaimana tajamnya pisau beroda itu.

Wan Fei-yang terus berkelebat ke sana-ke mari menghindari pisau beroda dan berusaha mendekati kolam, kemudian dia menepuk Beng To.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan:

“Jangan lukai Kokoku...” telapak tangan Wan Fei-yang berhenti di tengah-tengah udara. Dia bersalto turun di bawah Tong Pek-coan lalu telapak tangannya terayun, benang-benang sutra dari sarang laba-laba segera terputus.

Sat Kao mengambil kesempatan ini untuk menepis. Pei- pei berteriak:

“Suhu, semua hanya salah paham, jangan bertarung lagi!” “Salah paham apa?” Sat Kao terpaku.

“Dia hanya mendengar ada teriakan memilukan, maka dia masuk untuk melihatnya!”

“Apakah kau yang membawanya masuk?” Pei-pei mengangguk, wajahnya memerah:

“Dia... dia..” kata-kata berikutnya tidak di teruskan.

Sat Kao segera mengerti apa yang terjadi, kedua alisnya berkerut, tangan yang sedang meme-gang pisau beroda tampak berdiri tidak bergerak.

Wan Fei-yang mengangkat Tong Pek-coan berjalan melewati kolam dan turun di sisi Pei-pei.

Sat Kao hanya melihat, dari sudut mulutnya terlihat tawa sinis, dia sudah melihat ilmu lweekang Tong Pek-coan tersedot hingga kering, dia sudah menjadi orang tidak berguna.

Tampaknya Pei-pei baru pertama kali tahu hal ini, dia melihat Tong Pek-coan, dengan aneh bertanya:

“Lo-pek ini ada keperluan apa di sini?”

“Orang ini adalah musuh kita, mereka datang dan membuat repot, maka dia kami tangkap!”

Tampaknya Pei-pei tidak curiga dengan ucapan Sat Kao, dia bertanya:

“Suhu memberi guna-guna apa hingga membuatnya menjadi seperti ini?”

“Ini bukan guna-guna!” “Lalu apa?” “Anak perempuan jangan banyak bertanya, bukankah aku sudah berpesan tidak boleh ada yang kemari?”

“Tapi...”

“Cepat keluar!” Sat Kao membentak.

Pei-pei melihat Wan Fei-yang, dia ingin mengatakan sesuatu tapi Beng To yang berada dalam kepompong sudah membuka suara:

“Biarkan mereka berada di sini!”

Alis Sat Kao yang berkerut segera terlihat rata, alis Wan Fei-yang malah yang pelan-pelan berkerut.

Kata-katanya baru selesai serat benang laba-laba yang ada di tubuh Beng To mengelupas, Laba-laba yang di atas tubuhnya satu per satu terjatuh. Tadinya berwarna hitam sekarang menjadi warna gelap tidak terlihat bercahaya.

Begitu serat sutra laba-laba itu terkelupas, wajah Beng To sekarang terlihat jelas, kulit yang tadinya berwarna abu keputihan sekarang berubah menjadi putih keperakan dan tampak licin seperti sutra.

Pei-pei melihatnya dia berteriak terkejut: “Koko,    bagaimana    keadaanmu?” “Baik ” jawab Beng To.

“Apakah benar kau baik-baik saja?” tanya Sat Kao. “Aku baik-baik!”

“Kau sungguh tidak menyia-nyiakan usaha gurumu!” Sat Kao tertawa aneh.

“Kalian sedang membicarakan apa?” Tanya Pei-pei. “Koko berlatih dari dulu sekarang baru bisa berhasil, di dunia yang begitu luas ini tidak ada seorang pun yang bisa melawanku.” kata Beng To.

“Selamat, Koko!” Beng To tertawa:

“Aku harus berterima kasih kepadamu, Dik! Kalau bukan karena kau yang mencegah pukulan Wan Fei-yang, mungkin aku akan gagal total.”

Pei-pei melihat Wan Fei-yang:

“Dia tidak akan melukaimu, di antara kalian terjadi kesalahpahaman!”

“Tidak...” Beng To tertawa kepada Wan Fei-yang “Apakah benar, Lo-te?”

“Banyak pesilat-pesilat tangguh di Tionggoan yang mati, apakah kau yang telah membunuh mereka?”

“Sekarang sudah seperti itu, aku tidak perlu membohongimu lagi!”

Sat Kao menyela:

“Dia bisa mencarimu sampai kemari, banyak hal yang sudah dia tahu dengan jelas!”

“Tentang apa?” tanya Pei-pei lagi.

Sat Kao menatap Beng To, Beng To tertawa:

“Biar saja dia tahu, itu akan lebih baik dari pada mencari- cari alasan untuk menjelaskannya!”

“Masuk akal!” jawab Sat Kao. Beng To berkata kepada Pei-pei: “Tenaga dalam yang kulatih jika hanya mengandalkan usaha sendiri membutuhkan waktu 20-30 tahun, tapi kalau melalui jalan pintas dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok aku bisa menyedot tenaga dalam orang lain, lalu memakainya seperti tenaga dalam sendiri, bukan hanya bisa mempersingkat waktu, kekuatan-nya pun bisa lebih dahsyat!”

Sat Kao menyela:

“Inilah perbedaan orang tua dan anak muda, anak muda terlihat penuh semangat, mudah dikembangkan, maka walau pun Suhu mendapatkan jalan menuju ke sana, tapi Suhu tidak memaksamu harus berlatih.”

“Apa yang disebut dengan meminjam tenaga dalam orang lain?” tanya Pei-pei.

“Dengan guna-guna langsung atau tidak langsung dan memancing tenaga dalam lawan keluar, kemudian tenaga itu disedot dan diubah menjadi tenaga dalam sendiri!” jelas Beng To.

“Setelah dipakai apakah kemudian dikembali kan kepada lawan?”

“Setelah habis dipakai mana mungkin masih ada sisa tenaga untuk dikembalikan? Apa lagi setelah tenaga dalam orang itu disedot hingga habis paling sedikit keadaan lawan sudah seperti orang cacat, walaupun kau mengembalikan tenaga dalam-nya kembali kepadanya, dia tidak akan bisa menerimanya kembali!”

“Apakah berubah seperti orang tua ini?” tanya Pei-pei sambil melihat ke arah Tong Pek-coan. “Sebenarnya dia bisa saja merasa nyaman tapi dia menolak mengeluarkan ilmu lweekangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa menyuruh Suhu menggunakan guna-guna memancing tenaga dalamnya keluar.”

“Kalau dia menolak kita bisa mencari orang lain!” kata Pei-pei.

“Orang yang kubutuhkan bukan orang biasa, dia harus seorang pesilat tangguh yang mempunyai ilmu lweekang tinggi. Pesilat tangguh seperti dia, mencari satu pun harus dengan susah payah!”

“Kalau dia menolak...”

“Terpaksa dipaksa!” kata Beng To sambil tertawa, “sebenarnya siapa yang rela menyerahkan tenaga dalamnya yang sudah susah payah di latih selama puluhan tahun kepada orang lain!”

Pei-pei terus menatap Beng To dengan pandangan aneh, walaupun dia mempunyai ilmu tinggi tapi pengalamannya kurang juga karena dia adalah seorang putri, tidak pernah meninggalkan perbatasan Biauw, mengenai masalah baik dan jahat, dia tidak terlalu dalam mengetahuinya.

Di depan mata tampak yang satu gurunya sedang yang satu lagi adalah kakaknya. Sepanjang hidupnya dia tidak merasa kalau mereka berbuat kesalahan, sekarang setelah mendengar semua penjelasan guru dan kakaknya, dia merasa semua itu masuk akal, hal inilah yang membuatnya merasa aneh! Wan Fei-yang melihatnya, diam-diam menarik nafas, akhirnya dia tidak tahan dan berkata:

“Itu sifat seorang perampok!”

“Bisa dikatakan seperti itu!” kata Beng To.

“Tapi kalau kau berdiri di pihak seorang pesilat, dia harus melakukan hal seperti ini, untuk membaktikan kalau ilmu silat jenis ini benar-benar ada, dia harus melebarkan ilmunya.”

“Apakah tetua tidak merasa semua ini terlalu egois?” Wan Fei-yang melihat Sat Kao dengan serius.

“Kalau aku egois, aku tidak akan menerima murid kemudian mengajarkan ilmu ini kepadanya!” jawab Sat Kao.

Wan Fei-yang tidak bisa berkata lagi dia hanya tertawa kecut.

“Pengalamanmu di dunia persilatan sangat sedikit karena itu kau tidak bisa menerimanya, tapi aturan itu berada di hati setiap orang...” kata Wan Fei-yang.

Sat Kao menggelengkan kepala:

“Mempunyai hak adalah aturan umum, seperti Bu-tong- pai yang telah mengambil Thian-can-sin-kang dan menjadikan ilmu itu menjadi miliknya.”

“Ini mungkin kesalahan perguruan kami, tapi kami sudah menggubah rumus Thian-can-sin-kang sehingga tidak perlu mengorbankan orang lain lagi.,.”

“Maksudmu, kalau kami pergi ke Bu-tong-pai, mereka akan memberi tahu cara berlatih Thian-can-sin-kang? Apakah betul Bu-tong-pai bisa mempunyai jiwa yang begitu besar?” tanya Sat Kao.

“Asal tujuan kalian benar, aku percaya...” Sat Kao tertawa dan memotong:

“Apakah tujuannya benar atau tidak, itu hanya kata-kata dari satu pihak, kau hanya bisa percaya saja!”

Wan Fei-yang terdiam lagi, dia teringat dulu di Bu-tong- pai dia pernah menjadi seorang kuli dan dihina!

Sat Kao menatapnya dan berkata:

“Ilmu silat tidak bisa diduakan, di Bu-tong-pai orang yang seperti kau sepertinya tidak ada!”

“Memang tidak banyak, tapi tetap ada!” kata Wan Fei- yang.

Kouw-bok dan Pek-ciok Tojin adalah orang seperti itu, tapi murid Bu-tong yang lain apakah ada yang seperti mereka?

Sat Kao tertawa lagi, lalu mengganti topik pembicaraan: “Orang yang mati di tangan Beng To seperti mati karena

Thian-can-sin-kang. Maka perkumpulan dan teman dari orang-orang yang mati itu mencari Bu-tong-pai, dan mereka memaksamu harus mencari tahu bukan?”

“Benar...” jawab Wan Fei-yang, dia berkata kepada Beng To, “sebenarnya Tuan tidak perlu sampai membunuh!”

“Awalnya aku tidak bisa menguasai diri dan tidak mempunyai cara lain, kalau kau mengira aku sengaja memindahkan malapetaka ini ke bahumu, kau salah!” “Thian-can-sin-kang dari Bu-tong-pai belum lama muncul, setelah Beng To dicurigai sebagai Wan Fei-yang, kami baru menaruh perhatian.”

“Kami sudah terpikir kalau kau akan datang kemari, hanya saja tidak menyangka, kau akan datang begitu cepat, ini di luar dugaan kami!”

“Aku sudah datang maka aku harap hal ini bisa dibereskan!”

“Dengan cara apa kau bisa membereskan semua ini?” tanya Beng To.

“Mengaku kalau semua ini adalah hasil perbuatanmu kepada khalayak dunia persilatan, kau harus jujur!”

“Aku memang berniat seperti itu!” kata Beng To. “Kapan?”

“Sekarang...” jawab Beng To.

Wan Fei-yang terpaku. Pei-pei merasa terkejut juga senang melihat Beng To:

“Kami sudah menyalahkanmu!”

“Aku tinggal di sini pun tidak ada artinya lagi!” kata Beng

To.

“Apakah karena kau sudah menguasai ilmu seperti Thian-

can-sin-kang itu?” tanya Wan Fei-yang secara tiba-tiba.

“Kau datang pada saat yang tidak tepat, kalau tidak, kau pasti bisa mencegatku!”

“Kau kira Thian-can-sin-kang yang kau miliki ini tidak terkalahkan oleh siapa pun dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu?” “Itu sudah terbukti!” jawab Beng To begitu yakin.

“Walau bagaimana aku tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi. Teman-teman dunia persilatan pasti akan tahu bahwa pembunuhnya bukan aku!”

“Aku tidak ingin memalsukan identitasmu, orang curiga kepadamu tidak ada hubungannya denganku!” kata Beng To. “Sebelum berhasil kau tidak ingin orang lain tahu identitasmu yang sebenarnya supaya tidak muncul kesulitan

di kemudian hari!”

“Aku memang tidak takut direpotkan, tapi aku tetap tidak mau semua itu mengganggu laju karirku!”

“Takutnya setelah diumumkan kau akan menemui banyak rintangan, apakah kau sudah siap menghadapinya?”

“Harus melihat bagaimana reaksi mereka, kalau tahu mereka bukan lawanku, tapi tetap tidak mau tunduk terpaksa aku membuka puasa untuk tidak membunuh!”

“Lalu apa tujuanmu?”

“Dulu apa cita-cita Tokko Bu-ti dari Bu-ti-bun?”

“Tidak terkalahkan dan menjadi pemimpin dunia persilatan.”

“Apakah itu juga cita-citamu?” tanya Wan Fei-yang lagi sambil menarik nafas.

“Tidak ada hal yang lebih berarti dari pada tujuan itu, orang Han selalu menganggap remeh suku Biauw dan mengira suku Biauw adalah suku terbelakang...”

“Mungkin hanya sebagian suku Han saja...” “Kau bukan orang suku Biauw jadi kau tidak merasakannya, aku lihat kau pertama kali datang kemari dan kau sama sekali tidak tahu bagaimana orang suku Han bergaul dengan orang suku Biauw, orang Han selalu menjebak gadis Biauw, menipu mereka.”

“Dan kau berhasil, sampai-sampai adikku...” kata Beng To sambil tertawa

“Koko...” Pei-pei berteriak.

Pei-pei menghentakkan kaki tapi dia terlihat tersenyum, Beng To tertawa:

“Adik, nasibmu sungguh baik, tidak salah mencari orang. Walaupun dia tidak segagah dan seperkasa seperti kakakmu ini tapi dia adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan Tionggoan.”

“Tapi mengapa kau galak kepadanya!” tanya Pei-pei pelan.

Mata Beng To berputar:

“Tenanglah, apakah aku yang menjadi kakakmu tidak bisa melihat bahwa kau benar-benar menyukai Wan Fei- yang?”

“Pantas orang Han selalu mengatakan bahwa perempuan selalu mementingkan keluarga suami, belum menikah pun kau sudah...”

“Koko...”

“Marga Wan, apa pendapatmu?” “Kau bertanya kepadaku...” “Aku lihat kau bukan orang bodoh, kau seharusnya mengerti maksudku!”

“Kita sudah menjadi satu keluarga, apakah harus saling membunuh?”

Wan Fei-yang terpaku di sana, Beng To berkata lagi:

“Aku berpikir, kau mempunyai Thian-can-sin-kang dan itu tidak mudah diperoleh, asal kau tidak membuatku repot, aku tidak akan membuatmu sulit!”

Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Beng To sudah berkata lagi:

“Yang pasti lebih baik kita bekerja sama!”

Sat Kao mendengar semua percakapan itu, dia segera menyela:

“Kalau kalian bekerja sama tidak ada yang bisa mengalahkan kalian di dunia ini.”

“Wan-toako, setuju lah!” bujuk Pei-pei.

Wan Fei-yang tertawa dengan kecut, bertanya:

“Kalau orang Tionggoan tidak bisa menerimanya, bagaimana caramu menghadapinya?”

Beng To bersikap meremehkan:

“Aku akan membunuh mereka satu per satu, sampai mereka semua tunduk kepadaku!”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala, Sat Kao berkata: “Aku tidak pernah melihat ada orang yang tidak takut

mati!”

“Kau salah, Sat Lo-cianpwee!”

Wan Fei-yang menatap Tong Pek-coan. Wajah Sat Kao terlihat marah. Sewaktu dia akan mengatakan sesuatu, Beng To sudah menyela:

“Marga Tong ini sudah tua, mungkin dia sudah bosan hidup...”

Dia tidak meneruskan kata-katanya, dia seperti tidak punya cukup alasan dan sepertinya dia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Orang seperti ini di antara sepuluh ribu tidak ada satu!” kata Sat Kao.

“Tapi di depan mata sudah ada 2 orang Tionggoan dan kedua-duanya sudah...” kata Wan Fei-yang.

“Apakah kau juga bosan hidup?” tanya Beng To memotong.

“Ini bukan masalah bosan atau bukan.”

“Apakah kau berniat berseberangan denganku?”

“Kalau kau menjadikan orang Tionggoan sebagai musuh, aku adalah salah satunya, aku tidak bisa berpangku tangan hanya melihat saja!”

“Apakah kau mendengar ucapannya?” Beng To melihat Pei-pei.

“Sepertinya dia juga salah!”

“Aku yakin kau akan berpihak kepadaku dan menasihati dia,” kata Beng To tertawa dengan dingin.

Pei-pei menggelengkan kepala, dia ingin mengatakan sesuatu. Beng To sudah mengayunkan telapaknya, tenaga besar menghantam Pei-pei. Pei-pei merasa nafasnya sesak nafas, dia pun mundur! Beng To melayangkan tangan ke arah Wan Fei-yang: “Ayo ”

“Apakah kau sudah mengambil keputusan?” Wan Fei-yang tetap bertanya.

“Ucapan seorang laki-laki yang sudah keluar tidak akan ditarik kembali, kau masih menunggu apa lagi?” bentak Beng To.

Sat Kao tiba-tiba tertawa:

“Aku belum pernah melihat ada orang sebodoh ini, dia harus tahu, dia tidak akan bisa melawanmu!”

“Aku tidak melarang adikku menyukai orang bodoh seperti ini!”

“Dari mana kau tahu kalau dia bodoh?” Tanya Pei-pei. “Ilmu silat yang kita latih adalah sejenis, tapi dia masih

seperti manusia biasa, coba lihat aku...”

Dari tadi Pei-pei sudah memperhatikan kulit Beng To yang berbeda. Sekarang setelah dilihat dengan teliti, dia mulai merasakan hatinya menjadi dingin.

Beng To mengatur nafas, otot di tubuhnya terus bergetar, dengan dingin dia berkata:

“Mungkin inilah kehendak Langit, setelah orang Bu-tong- pai mencuri ilmu ini mungkin merasa bersalah sebab tidak seluruh ilmunya berhasil dicuri mereka!”

“Ilmu lweekang Mo-kauw tidak mudah diberhentikan!” kata Sat Kao.

Wan Fei-yang menggelengkan kepala: “Ilmu lweekang Mo-kauw berbeda dengan ilmu lweekang perguruan lurus, ilmu itu terlalu kejam, Couw-su tidak ingin melukai orang yang tidak bersalah maka Thian- can-sin-kang diperbaikinya lagi. Berlatih Thian-can-sin-kang tidak perlu melukai orang karena cara berlatihnya tidak sama maka hasilnya pun berbeda”

“Apakah itu benar?” Sat Kao setengah percaya.

“Kalau begitu, mungkin perlu dicoba, kalau bertarung di dalam gua aku yang akan beruntung, karena aku sangat hafal dengan tempatnya, jika kau kalah pasti tidak akan menerimanya!”

“Bagaimana kalau bertarung di luar gua? Atau kau mau memilih sendiri tempat dan waktunya?”

Setiap perkataan Beng To terdengar selalu penuh keyakinan bisa menang. Sat Kao berseri-seri dia juga merasa bangga terhadap muridnya.

Dari menemukan rahasia ilmu lweekang, sampai memilih Beng To menjadi murid yang belajar ilmu ini, telah membuat Sat Kao menghabiskan banyak jerih payah. Keberhasilan Beng To adalah panen terbesar baginya.

Wan Fei-yang tampak berpikir sebentar baru menjawab: “Di luar gua.”

Kemudian dia meletakkan kedua tangannya di  pundak Tong Pek-coan.

Beng To tertawa dingin:

“Tenanglah, aku tidak akan membunuh dia, sepertinya kau benar-benar orang yang menjaga keadilan, dirimu pun belum tentu bisa dilindungi, masih memperhatikan orang lain!”

Wan Fei-yang mengangguk:

“Kalau aku kalah, aku tidak akan bisa membawanya pergi!

“Kau tidak kemari pun aku akan tetap akan mengantarkan dia kembali ke Tong-bun, tidak perlu mengkhawatirkan orang tua ini!”

Sorot matanya terlihat khusus, walaupun Wan Fei-yang mengawasi, dia tidak tahu apa alasannya.

Kedua tangan Beng To dibuka, seperti seekor kelelawar terbang keluar gua. Kepompong yang sudah mengering terjatuh dari tubuhnya, setelah terjatuh kepompong itu segera menciut.

Sat Kao berseri-seri, dia terbang ikut di belakang Beng To. Lonceng bersinar emas terus berdentang, rambut yang panjang terus melayang. Dilihat dari arah mana pun dia tidak seperti seorang manusia, benar-benar seperti siluman.

Wan Fei-yang belum bergerak. Pei-pei sudah menarik tangannya:

“Apakah benar kau ingin bertarung dengan Kokoku?” “Tidak ada cara untuk membereskan masalah ini!”

“Aku harus melakukan apa lagi? Berdiri di pihakmu atau di pihak Kokoku?”

Wan Fei-yang hanya bisa tertawa dengan kecut, dia tidak bisa menjawab. Di dasar danau terdapat banyak batu besar yang bermunculan ke permukaan. Beng To menunggu di salah satu batu besar itu.

Sat Kao duduk bersila di atas sebuah batu lain. Dia membawa sebuah genderang berbentuk aneh. Melihat Wan Fei-yang keluar dari gua, dia seperti tidak sengaja memukul dengan pelan genderang itu 3 kali.

Suara genderang terdengar sangat berat, jantung terasa berdebar-debar. Sorot mata Wan Fei-yang menatap ke arah genderang itu.

Sat Kao segera berkata:

“Tenanglah, aku jamin pertarungan ini pasti dilakukan dengan adil!”

“Karena kau yakin kalau muridmu yang akan menang?' “Walaupun Mo-kauw dipandang rendah dan keji, tapi

dibanding Bu-tong-pai mencuri ilmu Mo-kauw kemudian menampilkannya dengan wajah baru dan menamakannya Thian-can-sin-kang, sekarang menghadapi ilmu Iweekang asli dari Mo-kauw, aku yakin kau pasti yang akan kalah!”

“Kalau kau mau berlutut memohon ampun, mungkin aku akan melepaskanmu!” kata Beng To sambil tertawa.

“Koko...”

Mata Beng To berputar:

“Maksudku dengan melepaskan dia adalah pada bagian ilmu silat, biasanya orang Tionggoan selalu kasar dan tidak tahu aturan, kalau dia mempunyai ilmu tinggi dan ingin tinggal di perbatasan Biauw, itu bukan hal gampang, lebih baik dia menjadi orang biasa. Dan dia bisa menemanimu seumur hidup!”

“Tapi dia tidak akan hidup senang atau bahagia!” “Sekarang kakak juga tidak merasa senang atau

bahagia!” kata Beng To sambil tertawa, dia melambaikan tangan kepada Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melayang di atas air dan turun di atas batu tidak jauh dari Beng To.

Melihat gaya melayang Wan Fei-yang tampak ilmu silatnya memang tidak rendah!

Setelah turun Wan Fei-yang tidak bergerak tapi dilihat- lihat lagi seperti sedang bergerak.

Mata Beng To tampak bercahaya, kemudian dia membentak, batu besar yang diinjaknya segera pecah berantakan seperti dibom!

Beng To terjatuh, tapi dia melayangkan tangannya. Batu- batu yang hancur itu menyatu kembali dan terbang menerjang ke arah Wan Fei-yang.

Semua terjadi begitu tiba-tiba dan mengguncangkan bumi. Pei-pei belum pernah melihat keadaan begitu mencengangkan dia terkejut dan berteriak.

Sat Kao pun seperti terkejut, apa yang Beng To lakukan memang di luar dugaannya.

Sikap Wan Fei-yang masih terlihat seperti biasa, kedua tangannya menyambut batu yang menyerangnya. Gerakannya sangat cepat, batu-batu hancur itu dicengkeram dan dikumpulkannya, walau pun tidak bisa kembali ke bentuk semula tapi sudah berkumpul menjadi sebongkah batu, dia melempar batu itu ke dalam air, batu itu hancur.

Tawa Sat Kao berhenti.

Wan Fei-yang seperti tidak pernah terjadi sesuatu, dia tetap melihat wajah Beng To. Setelah dia melempar batu itu dia pun mundur, sekarang dia duduk di atas sebuah batu besar melihat cara Wan Fei-Yang menangani serangannya.

Permukaan air kembali tenang. Wajah Wan Fei-yang tetap tidak terjadi perubahan, dia bersiap menyambut serangan Beng To berikutnya.

Tiba-tiba Beng To membentak, dia terbang meninggalkan batu tempat di mana dia duduk dan menerjang ke arah Wan Fei-yang.

Batu besar itu seperti diikat oleh sesuatu, menempel di kedua kaki Beng To, Beng To berputar, batu besar itu pun ikut berputar.

Beng To berputar semakin cepat di tengah udara, batu itu pun ikut berputar dengan cepat, kemudian batu itu terlepas dan terbang ke arah Wan Fei-yang.

Melihat batu besar itu datang-menyerang, kedua tangan Wan Fei-yang seperti gelombang terus bergerak, dan mengeluarkan suara PIUHU!

Batu besar terlepas dari putaran gasing. Beng To mengikuti arah putaran batu bersalto ke belakang, kedua telapaknya terus menghantam batu besar. Batu besar itu sudah mendekati kedua telapak tangan Wan Fei-yang. Batu datang dengan kuat dan cepat, ditambah kedua telapak tangan Beng To yang menghantam, yang pasti tenaga yang dihasilkan semakin besar.

Ke dua tangan Wan Fei-yang bergantian menyambut, 36 jurus tangan kosongnya sudah dikeluarkan, setiap kali menepuk batu besar yang datang kakinya tenggelam sedalam 1 inchi.

Sampai pukulan terakhir tubuhnya sudah menekuk.

Setiap kali menepuk batu besar disingkirkannya ke samping, sedikit demi sedikit hingga yang terakhir, batu itu terbang keluar dan jatuh ke dalam air.

Karena batu itu berputar-putar baru terjatuh maka tidak terjadi cipratan air. Sebelum masuk ke dalam air, air tampak berputar-putar, sampai batu-batu itu masuk, air masih terus berputar.

Pusaran air semakin kencang juga mengeluar kan suara aneh.