-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 02

Jilid 02

Akhirnya Beng To mengeluarkan ekspresi aneh, biasanya setiap kali dia menyalurkan tenaga dalamnya kepada korbannya, tenaga dalam korban akan segera keluar untuk melawan, maka dia segera melancarkan ilmu Ih-hoa-ciap- bok, agar tenaga dalam korbannya bisa dipancing keluar dari tubuh Tong Pek-coan dan masuk ke dalam tubuhnya, racun yang terkandung di dalam tenaga dalam akan tertinggal di tubuh korbannya untuk menusuk tenaga dalamnya.

Sekarang tenaga dalamnya sudah masuk, awalnya tanpa halangan terus mengalir, dia merasa nyaman dan enak, tapi kemudian ada perasaan kosong, seperti orang yang sedang berjalan tiba-tiba menginjak tempat kosong. Dia merasakan kekuatan tenaga dalam Tong Pek-coan, tapi tidak bisa dipancing keluar, sehingga dia tidak bisa menggunakan Ih-hoa-ciap-bok

Seperti melihat ikan besar dan gemuk berada di dalam kolam, sebuah jala ditebarkan, walaupun tidak bisa menjala semua ikan, tapi pasti ada hasinya. Tepat, tapi itu adalah kesalahan besar sebab ikan-ikan itu masih kecil walau lubang jalanya tidak besar, tapi ikannya tetap bisa keluar dari jala itu.

Sewaktu jala besar diangkat, jala itu kosong dan tidak memperoleh hasil yang diinginkan.

Lama... Beng To baru sanggup menenangkan pikirannya, dia menghirup udara kemudian menyalurkan tenaga dalamnya lagi, telapaknya menjadi terang dan serat sutra benang sarang laba-labanya tertebar lagi.

Tidak diragukan lagi jalanya sekarang lebih lebar dari jala tadi, lebih luas dari jala tadi dan lubangnya bertambah kecil.

Tenaga dalamnya menyebar ke semua arah, benang dari sarang laba-laba dipaksa tenaga dalamnya menganyam bertambah rapat.

Tapi Tong Pek-coan masih seperti tadi, tetap tenang, seperti tidak tahu ada tenaga dalam yang memaksa masuk.

Beng To tidak menunggu reaksi Tong Pek-coan, dia segera menghisap dan menelan, berusaha menarik kembali tenaga dalam yang sudah dia keluarkan, tapi dia segera merasa itu adalah tenaga dalamnya sendiri, dia tidak berhasil juga tidak mengalami kerugian! Tong Pek-coan tertawa, akhirnya dia membuka mulut: “Kalau Iweekang Tong-bun tidak istimewa bagaimana

bisa menghadapi ilmu Iweekang yang begini ajaib!” “Baik...” kata Beng To terpaku.

“Aku sudah berlatih Iweekang hingga tingkat ke-9, tenaga dalamnya setiap saat stabil seperti ini, kalau kau tidak percaya, kau boleh mencoba lagi!”

Beng To menggelengkan kepala:

“Tidak perlu mencobanya lagi.” Dia melepaskan kedua tangannya tapi tiba-tiba menekan lagi jalan darah yang lain, caranya secara tiba-tiba dan secara tiba-tiba menyerang, dia berharap Tong Pek-coan tidak sadar akan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, tapi Tong Pek-coan seperti sudah membaca pikirannya, dia tidak terpengaruh juga tidak bereaksi apa-apa.

Beng To sudah mengeluarkan tenaga dalamnya beberapa kali lipat hingga mencapai titik yang dia kuasai, tapi tetap tidak berhasil.

Tong Pek-coan melihatnya, dia tertawa terbahak-bahak: “Sepertinya kau orang yang sangat pintar, tapi ternyata

sangat bodoh!”

Beng To ikut tertawa:

“Betul, aku tidak terpikir, Tong-bun terkenal karena senjata rahasianya, dan cara menggunakan senjata rahasianya sering dilakukan secara tiba-tiba, menyerang orang yang tidak bersiap siaga..”

“Ini adalah cara yang paling rendah!” “Reaksi yang sangat hebat, semua murid Tong-bun pasti mempunyai tenaga ini, apa lagi ketuanya, maka jika aku menyerang seorang ketua tiba-tiba, bukankah berarti aku tidak tahu diri?”

“Kulihat kau memang tidak menyerangku!” Tong Pek- coan tertawa terbahak-bahak lagi.

“Dengan cara apa aku bisa meminjam tenaga dalammu?” tanya Beng To dengan tenang.

“Ada, tapi beritahu apa tujuanmu! Aku tahu kau adalah seorang laki-laki sejati ”

“Jangan banyak bicara omong kosong!”

“Aku hanya bertanya bagaimana kau akan menanganiku?

Menurutku cara yang terbaik adalah ”

“Membunuhmu!” “Ha..ha..ha”

“Aku memang tidak sepintar yang kau sangka, tapi walau bagaimanapun juga aku tidak bodoh hingga membunuh ayam yang bisa bertelur emas!”

“Kalau begitu, harus melihat apakah kau yang lebih sabar atau aku yang lebih sabar!” Tong Pek-coan tertawa penuh percaya diri.

“Jahe tua tetap lebih pedas, kesabaran orang biasanya yang lebih tua yang lebih kuat!” Beng To pelan-pelan melonggarkan cengkeraman ke dua tangan, lalu bertanya:

“Apakah kau mengira aku akan terus berdiam diri di sini menunggu kesempatan untuk bertarung?” “Tidak akan,” jawab Tong Pek-coan, “lalu apa rencanamu?”

“Aku akan mengantarkanmu ke tempat yang lebih cocok!”

“Dan itu adalah sarangmu, tempat di mana kau berlatih silat, apakah di sana akan menemukan caranya?” Tong Pek- coan menertawakan.

“Kalau aku tidak menemukan caranya, guruku pasti bisa!”

“Siapa gurumu? tentu kau tidak akan memberitahu!” “Kalau aku memberitahu aku takut kau akan bersiap

siaga, lebih baik ini jadi kejutan!”

Dia segera mengambil sehelai kain hitam dan menutup mata Tong Pek-coan, setelah menghabiskan waktu 1 jam dia selesai menutup 4 nadi lain Tong Pek-coan, dengan begitu nama Tong Pek-coan akan menghilang.

Berdasarkan pengalamannya, Tong Pek-coan pasti tahu apa maksud Beng To, tapi dia sama sekali tidak mampu melawannya.

Mulai saat itu dia tersesat.

0-0-0 Pagi hari di gunung ada kabut, kicauan burung tertutup oleh suara deru air terjun.

Air terjun seperti terjun dari langit masuk ke kolam yang penuh dengan batu, menimbulkan asap air seperti kabut.

Air asap dan kabut menyatu membuat keadaan sekelilingnya menjadi buram. Pohon masih terlihat walau tidak begitu jelas, tapi air terjun terlihat sangat jelas.

Air terjun jatuh ke sebuah batu besar, karena sudah lama tertimpa oleh air terjun maka batu itu terlihat licin. Tapi sekarang di atas batu besar itu duduk seseorang, dia menggantikan posisi batu menerima jatuhnya air terjun.

Tenaga air sangat besar dan kuat tapi orang itu sama sekali tidak terganggu olehnya, dia seperti sebuah batu berbentuk manusia dan menyatu dengan batu itu, dan tidak bisa dipisahkan.

Dia duduk di sana sudah begitu lama, seperti seorang pendeta tua yang sedang bertapa.

Anak muda biasanya jarang bisa melakukan hal seperti yang dia lakukan, bersemangat dan begitu teguh, tapi dia benar-benar seorang pemuda.

Pemuda itu pasti bukan pemuda biasa, beberapa tahun yang lalu dia hanya pemuda sangat biasa, dia hanya seorang pekerja Bu-tong bagian mengambil air dan kayu bakar dari hutan, dia juga ditempatkan di bagian dapur. Karena identitasnya tidak jelas maka dia sering dihina atau diolok- olok oleh murid-murid Bu-tong yang muda lainnya. Waktu itu tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah putra ketua Bu-tong-pai.

Ci-siong Tojin adalah ketua Bu-tong, dia juga seorang tosu, dia mempunyai istri dan anak, yang pasti dia mengalami kesulitan yang sulit diutarakan, tapi walau bagaimanapun dia bisa membawa putranya Wan Fei-yang ke Bu-tong-san, dengan identitas misterius diterima menjadi muridnya, dan diam-diam diajarkan inti sari ilmu silat Bu- tong, juga diajarkan dasar silat yang kuat.

Tapi semua itu adalah masa lalu, semua sudah lewat.

Orang yang tidak biasa pengalamannya pun pasti tidak biasa, seperti jodoh dan ada kesempatan dia bisa menguasai Thian-can-sin-kang, walau Bu-ti-bun yang diwakili Tokko Bu- ti ilmu silatnya sudah dilatih hingga tingkat ke-10 dan dia bisa menguasai ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat (Ilmu merusak tubuh untuk mendapatkan tenaga lebih), tapi dia tetap kalah oleh Wan Fei-yang.

Pada pertarungan itu dia melakukan tidak sedikit pengorbanan hingga membuatnya menjadi orang nomor satu di dunia persilatan dan di hormati oleh semua orang.

Tapi kalau dia meneliti lebih jauh, dia ingin memiliki hidup yang wajar, maka setelah mengalahkan Tokko Bu-ti, dia tinggal di daerah Bu-tong-san, tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan.

Dia hidup tenang, tidak ada hal aneh yang terjadi, murid- murid Bu-tong-pai sangat mengerti keinginannya dan jarang datang dan mengganggunya. Sebenarnya semenjak kemunculan Bu-ti-bun sampai perkumpulan itu musnah, selalu terjadi pertarungan tanpa berhenti. Orang yang mati dan terluka sudah banyak, hingga kekuatan Bu-tong-pai sudah menurun banyak, tapi semua perkumpulan tidak tertarik untuk membuat masalah lagi.

Orang sesat memang tidak menyukai ketenangan tapi mereka pun sama sekali tidak tertarik ingin mengganggu, apa lagi setelah mengetahui di Bu-tong-pai ada pesilat sangat tangguh, mereka tidak berani datang membuat masalah ke Bu-tong-san.

Hidup Wan Fei-yang sangat tenang tapi setelah melewati hari-hari tenang jika malam tiba dia sering terpikir bahwa di hatinya tetap masih terus bergejolak.

Setiap kali jika hatinya bergejolak, dia akan datang kemari dan duduk di atas batu besar itu membiarkan tubuhnya terkena air terjun.

Air deras membuat hatinya menjadi tenang dan lama- kelamaan menjadi terbiasa.

Kesedihan pada kejadian dulu membuatnya meneteskan air mata, air matanya pun diseka oleh air terjun ini.

Dengan kehebatan tenaga dalamnya seharusnya dia tidak perlu memakai cara seperti ini untuk menenangkan hatinya, hanya saja dia tetap seorang anak muda.

Air mata dan gairah, mana mungkin bisa begitu cepat menghilang?

Air terjun terus mengalir. Sesaat Wan Fei-yang merasa hatinya menjadi tenang, kedua matanya terbuka, dia berdiri dengan tenang di atas batu besar itu, dengan cara apa pun dia menggeser tubuhnya, dia pasti dengan gampang turun dari batu itu.

Dia menginjak batu besar itu lalu masuk ke dasar kolam.

Menuju air dangkal kemudian naik ke darat

Walaupun kedalamannya mencapai 2 tombak lebih, tapi dia bisa berjalan dengan tenang, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat terakhir.

Setelah naik ke darat dia segera berjalan, baju basah yang masih menempel di tubuhnya tertiup angin, bajunya dengan cepat sudah mengering.

Angin tidak berhembus begitu besar, tapi dia menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat bajunya cepat kering, dia tidak sengaja memamerkannya, hanya ada sedikit pikiran kekanak-kanakan bermain dengan tenaga dalamnya!

Setelah melewati banyak masalah dan kesulitan, dia masih bisa mempertahankan sifat kekanak-kanakannya.

Setengah jam kemudian dia masuk ke sebuah kuil.

Di luar maupun di dalam kuil itu terdapat banyak kertas yang ditempel, semua kertas itu ditulis memuji pada seorang tabib ajaib.

Dialah tabib ajaib itu, dulu dia adalah tabib biasa. Kemudian Hai-liong Lo-jin mengajarnya membuat obat, walaupun Hai-long Lo jin menganggap itu adalah teknik biasa tapi orang lain tidak sanggup melakukannya, ditambah lagi tenaga dalamnya yang kuat, maka penyakit berat apa pun masih bisa diatasinya.

Awalnya semua tanpa sengaja, kemudian dia merasa dia bisa menyembuhkan pasien, membuat orang sakit terlepas dari sakitnya semua itu hal yang menyenangkan baginya.

Kuil seperti itu ada 4 buah, semua terpencar di 4 arah yang berbeda di wilayah Bu-tong-san, dia datang mengunjungi kuil itu secara bergiliran, di tempat yang didatangi selalu ada pasien yang sedang menunggu atau orang yang sudah sembuh datang kembali untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.

Pasiennya datang dari desa di sekitarnya, ada juga yang datang dari jauh karena kagum pada kemampuannya. Kadang-kadang orang kaya memintanya datang ke rumah mereka, tapi dia selalu tidak tertarik pada undangan semacam ini.

Awalnya ada yang mengundang dengan cara paksa, tentu saja tidak berhasil, setelah mendengar tabib ajaib ini adalah orang yang sangat terkenal... Wan Fei-yang, mereka pun terkejut.

Terhadap orang seperti itu, Wan Fei-yang tidak berbuat apa-apa, karena dia adalah orang yang ramah, tapi sekarang dia bisa mengatasi dengan caranya sendiri.

Orang akan bertumbuh dewasa.

Hari masih pagi, tapi di kuil itu terlihat sudah ada pasien yang menunggu, seorang perempuan dengan wajah ditutup secarik kain hitam. Melihat perempuan itu hati Wan Fei-yang merasa tidak enak. Penampilan perempuan itu sudah memberitahunya kalau perempuan itu adalah orang persilatan, dari penampilannya sudah terlihat, jika dia menyerang pasti sangat cepat dan lincah. Itu pun tidak penting, yang terpenting seluruh tubuhnya memancarkan aura membunuh.

Tidak perlu melihat sorot matanya, Wan Fei-yang sudah bisa merasakan ada hawa membunuh. Setelah melihat dengan jelas sorot matanya, malah membuat Wan Fei-yang bingung.

Itulah sepasang mata yang sangat asing.

Tapi Wan Fei-yang tetap mendekatinya, semakin dekat hawa membunuhnya semakin terasa. Walau begitu dia berpura-pura tidak tahu.

Perempuan itu melihatnya duduk di sebuah meja, baru membuka suara:

“Apakah kau adalah tabib Wan Fei-yang?”

“Anda sepertinya tidak sakit!” ucap Wan Fei-yang.

“Aku memang tidak sakit, aku datang kemari menyelidiki kuil milikmu!” nada bicaranya seingat ringan.

“Oh ya, lalu kau melihat apakah aku mempunyai penyakit?” Wan Fei-yang tertawa.

“Apakah kau tahu siapa aku?” perempuan itu membuka kain penutup wajahnya, terlihat seraut wajah cantik di depan Wan Fei-yang. Wan Fei-yang mengakui perempuan itu sangat cantik, tapi setelah mengging-ingat dia tetap merasa tidak ingat pernah bertemu dengan gadis ini di mana.

“Aku tidak tahu siapa kau!” Dia menggelengkan kepala.

“Ingat namaku Tong Ling, aku dari Tong-bun!”

“Tong Ling, orang Tong-bun, sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya!” kata Wan Fei-yang.

“Kau benar-benar sakit!”

“Sakit apa? otak Wan Fei-yang sedang berputar tetap tidak mengerti.

“Hilang ingatan..” Tong Ling tertawa dingin.

Dengan termangu Wan Fei-yang menatap Tong Ling, matanya terlihat bening, sewaktu sorot mata Tong Ling beradu pandang dengan sorot mata Wan Fei-yang, dia pun merasa aneh, mengapa orang yang berbohong sorot matanya bisa seperti itu?

Tong Ling malah mempunyai perasaan asing, dia seperti belum pernah melihat mata itu.

Wan Fei-yang melihat Tong Ling, bertanya: “Maksudmu, kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Kau sangat pandai berpura-pura tapi sayang tidak pintar, selalu menganggap orang lain bodoh!'

“Aku memang bukan orang pintar!”

“Kalau tidak, kau tidak akan muncul di sini!” Suara Tong Ling terdengar semakin dingin: “Baiklah, mana orangnya?” “Orang?” Wan Fei-yang terpaku lagi.

“Kongkongku, ketua Tong-bun! Kau serahkan dulu orangnya baru membuat perhitungan atau setelah membuat perhitungan baru menyerahkan orang, kedua-duanya akan ku setujui!”

“Tampaknya di antara kita telah terjadi salahpaham!” kata Wan Fei-yang.

Tong Ling tertawa dingin, tiba-tiba melayang ke belakang ke tiang rumah. Pada saat yang sama puluhan senjata rahasia sudah dilemparkan keluar ke arah Wan Fei-yang.

Jarak mereka begitu dekat dan semua itu begitu tiba- tiba, senjata rahasia yang dilemparkan sudah diseleksi, dilemparkan oleh seorang ahli senjata rahasia, benar-benar sulit diatasi.

Tapi walau Wan Fei-yang terdesak dia mempunyai cara mengatasinya.

Dia tidak meninggalkan bangkunya hanya mengangkat kedua tangannya, di tengah telapaknya terlihat ada cahaya, gerakannya sangat sederhana. Tapi semua senjata rahasia itu berhasil disambut oleh kedua tangannya. Tong Ling yang berada di atas melihat dengan jelas, tadi dia masih merasa curiga tapi sekarang kecurigaannya sudah tersapu bersih.

Sikap Beng To saat menyambut senjata rahasia tidak seindah Wan Fei-yang, tapi gerakan mereka tidak berbeda jauh. Itu karena mereka menggunakan benda yang keluar dari bagian tengah telapak untuk menyambut senjata rahasianya. Benda yang keluar dari tangan Wan Fei-yang berupa serat sutra seperti benang, tapi enak dilihat tidak seperti milik Beng To, membuat orang merasakan hawa jahat dan sesat.

Tapi di mata Tong Ling semua sama, tidak ada bedanya, maka dia segera berteriak:

“Orang she Wan, kau masih ingin membela diri dengan cara licik?”

Wan Fei-yang melihat senjata yang ada di tangan Tong Ling, dia menggelengkan kepala:

“Aku tidak mengerti!”

“Apakah ilmu silatmu memakai Thian-can-sin-kang?” Wan Fei-yang mengangguk:

“Kalau tidak mengunakan Thian-can-sin-kang, aku tidak akan bisa menyambut senjata rahasiamu!”

“Selain kau, siapa lagi yang menguasai ilmu Thian-can- sin-kang?”

“Sepertinya tidak ada!”

“Kalau kau sudah mengakuinya, untuk apa membantah begini licik?” tubuh Tong Ling bergeser, puluhan senjata rahasia dilemparkan lagi.

Senjata rahasia yang tadi disambut Wan Fei-yang masih berada di tangannya, bersamaan waktu itu pun dilemparkan keluar, gerakannya memang tidak selincah Tong Ling, tapi semua tidak ada yang meleset, semua dilemparkan tepat ke arah senjata rahasia yang datang! Dua senjata dari dua arah saling beradu di udara, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, semua terjatuh ke bawah.

Yang pasti karena benda yang keluar dari telapak Wan Fei-yang adalah sisa senjata rahasia, maka senjata rahasia yang keluar dari tangannya menjadi lembut juga ringan.

Senjata rahasia Tong Ling yang dilemparkan kedua kali kekuatannya melebihi dari lemparan yang pertama, jumlahnya lebih 2 butir, dan 2 butir senjata rahasia itu tetap bisa lewat dan tetap mengarah pada Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang hanya mengangkat tangannya, berhasil menyambut senjata rahasia itu:

“Mengapa kau tidak duduk dulu dan menjelaskan semuanya, baru bertindak!”

“Menghadapi orang keji seperti dirimu, tidak perlu banyak cerita!”

Wan Fei-yang tertawa, ini bukan untuk pertama kedinya dia dituduh tidak adil oleh orang lain, tapi perkara itu akhirnya menjadi jelas, dan terbukti dia memang tidak bersalah. Tapi perasaan menerima perlakuan tidak adil itu benar-benar tidak enak, dari peristiwa itu yang terluka atau terbunuh seharusnya tidak perlu terjadi, maka dia berharap semuanya bisa dijelaskan sebelum bertindak.

Tong Ling tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Walaupun Wan Fei-yang tertawa dan tidak berniat jahat. Tapi bagi Tong Ling semua itu adalah penghinaan, maka dia bergeser, dan senjata rahasianya keluar lagi dengan jumlah puluhan. Tong Ling tahu walau pun senjata rahasia yang keluar semakin banyak tapi bagi Wan Fei-yang semua itu tidak berguna. Tujuan Tong Ling hanya ingin mencegah Wan Fei-yang mendekatinya.

Wan Fei-yang tidak mendekatinya, maka setelah melemparkan 2 kali senjata rahasianya Tong Ling segera keluar melalui jendela.

Ratusan murid Tong-bun bersamaan waktu muncul di luar jendela, tangan mereka memegang senjata rahasia, bersiap-siap menyerang. Masih ada murid-murid Tong-bun yang tampak melayang-layang di udara. Di atas genting mereka sedang menebarkan jala besar yang terbuat dari tali urat sapi, dengan tepat dipasang di atas genting kuil itu.

Karena Beng To mendobrak pecah genting di Tong-bun dan melarikan diri, maka kali ini murid-murid Tong-bun mengambil pengalaman dari kegagalan mereka dan menyiapkan jala besar itu.

Setelah keluar melalui jendela, Tong Ling membentak: “Siapkan senjata rahasia!”

Semua murid Tong-bun sudah mengambil posisi mereka dengan tepat.

Dengan tenang tangan Wan Fei-yang menyedot senjata rahasia yang datang pertama, kemudian dengan senjata rahasia yang menyerangnya dia melemparkan senjata rahasia itu menghadang serangan lawan yang kedua kalinya. Sorot matanya melihat Tong Ling yang pergi. Tapi dia tidak bergerak, jala dari urat sapi sudah terpasang di atas genting, dia merasa semakin aneh. Terlihat orang-orang Tong-bun datang dengan penuh persiapan. Dia tahu pasti telah terjadi kesalahpahaman, tapi dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.

Buat dia ini bukan untuk pertama kalinya mendapat kesalahpahaman seperti ini, tapi hingga saat ini dia tidak mempunyai cara yang lebih baik, biasanya dia selalu menunggu terjadinya perubahan dan percaya pada akhirnya semua masalah akan menjadi jelas.

Sekarang dia mempunyai perasaan seperti itu kesalahpahaman ini tidak bisa dia jelaskan sekarang ini, maka dia hanya bisa menunggu terjadinya perubahan, yang pasti dia harus berpikir bagaimana cara mengatasi serangan senjata rahasia itu.

Dengan cepat Tong Ling muncul di luar kuil: “Wan Fei-yang, apa keputusanmu?”

“Aku sudah menjelaskan semuanya kalau ini hanya kesalahpahaman, kakekmu tidak ada di sini!”

“Kau kira kau kebal dengan senjata rahasia kami?” “Senjata rahasia kalian adalah nomor 1 di dunia

persilatan dan aku sudah berada dalam kurungan kalian, mana mungkin aku bisa membunuh kalian!”

“Maksudmu, kau menganggap kami dengan jumlah banyak menghina kau yang sendiri!”

“Aku hanya ingin kalian mencari tahu dulu, baru berkomentar, jangan terhasut oleh omongan orang lain!”

“Selain kau, siapa lagi yang menguasai Thian-can-sin- kang?” “Tidak ada...”

“Apakah orang itu menggunakan Thian-can-sin-kang?” “Apakah kakekmu telah salah lihat?”

“Serahkan Kongkongku!” Wan Fei-yang tertawa kecut.

“Thian-lo-te-bong!” bentak Tong Ling.

Murid-murid Tong-bun bersiap siaga dan segera melemparkan senjata rahasia, suara mereka memecahkan suasana di sana.

Tidak diragukan lagi mereka sudah tahu keadaan di sini sebelumnya dan posisi mereka sangat menguntungkan. Mereka sanggup menutup semua celah. Kemana pun Wan Fei-yang bergeser tetap terserang oleh senjata rahasia mereka.

Senjata rahasia itu di udara menganyam menjadi sebuah jala berkilau dan menutupi Wan Fei-yang, sebagian malah datang dari arah bawah.

“Thian-lo-te-bong (Jala langit jaring bumi) yang hebat...” Wan Fei-yang tampak terkejut. Dia segera mengangkat meja yang terbuat dari batu dan memutarnya di udara, kemudian dia bersembunyi di bawah meja.

Semua senjata rahasia jadi tertuju ke atas meja, kebanyakan terbang ke tempat lain, setelah menyentuh meja batu yang kuat, ada pula yang menancap di atas meja.

Wan Fei-yang tahu dari arah mana senjata itu datang, dia keluar dari kolong meja dan naik ke atas meja. Meja kembali ke posisi semula, dia hanya berhenti sebentar di atasnya, lalu berlari ke pintu kuil. Terlihat Tong Ling berdiri di sana.

Reaksi murid Tong-bun pun tidak lamban, senjata rahasia tetap dilemparkan keluar untuk mengejar Wan Fei-yang.

Dengan cepat Wan Fei-yang berlari di atas terjangan senjata rahasia.

Senjata yang datang dari depan disambut dengan kedua tangannya, tetapi begitu sampai di pintu kuil serangan senjata rahasia itu segera berhenti sebab khawatir akan terkena orang sendiri.

Tong Ling yang ada di depan terpaksa mundur sebab kurang efektif jika melemparkan senjata rahasia dalam jarak terlalu dekat.

Dengan tenang Wan Fei-yang menyambut senjata rahasia itu, setelah mundur dari kuil dia segera naik ke atas genting. Beberapa murid yang berjaga di atas genting melihat kedatangan Wan Fei-yang, maka senjata rahasianya di berondong keluar, bayangan seseorang berkelebat, mereka sudah berada di atas Wan Fei-yang.

Tidak perlu dipesan oleh Tong Ling, murid-murid Tong- bun sudah berpencar. Ada yang berada di atas pohon dan melihat Wan Fei-yang tidak bergerak, senjata rahasia mereka pun di pegang tangannya dengan erat.

Setelah Tong Ling naik ke sebuah pohon besar, dia tertawa dingin: “Wan Fei-yang, kau bisa berlari hari ini tapi besok kau tidak akan bisa lari!”

Wajah Wan Fei-yang tiba-tiba terlihat terkejut sebab matanya melihat asap dari kembang api berwarna merah dan sedang meletus.

Murid-murid Tong-bun yang satu arah dengan Wan Fei- yang juga dengan sorot mata aneh melihat ke arah sana.

Tong Ling pun ikut menoleh, tapi dia segera berkata: “Bukan dari pihak kita...”

Salah satu murid Tong-bun berkata:

“Itu dari Sam-goan-kong.” “Betul!” jawab Wan Fei-yang.

“Walaupun murid-murid Bu-tong datang kemari, kami tidak akan mundur!”

Wan Fei-yang menggelengkan kepala:

“Mereka tidak akan kemari!”

Tong Ling adalah gadis yang sangat pintar, dia segera bertanya:

“Apakah di Sam-goan-kong terjadi sesuatu dan meminta tolong?”

“Benar, sudah terjadi sesuatu, tanda tadi menyuruhku agar cepat ke sana!”

“Masalah yang kau buat benar-benar banyak!”

“Yang membuat masalah belum tentu aku, seperti sekarang ini...”

“Kau masih ingin membela diri dengan licik?” Wan Fei-yang menggelengkan kepala dan tertawa dengan kecut:

“Masalah Tong-bun...”

“Asal kau melepaskan Kongkongku, perhitungan bisa dilakukan setelah masalah Bu-tong selesai!”

Wan Fei-yang ingin menyampaikan sesuatu tapi suara lonceng berdentang panjang sudah terdengar lagi. Wajahnya dengan cepat berubah.

Itulah suara lonceng yang menandakan ada hal yang penting, tidak diragukan lagi di Bu-tong-pai telah terjadi sesuatu. Suara lonceng menyuruh semua murid Bu-tong yang ada di daerah segera kembali dengan cepat.

Tong Ling terus melihat perubahan di wajah Wan Fei- yang din dia melambaikan tangan memberi isyarat kepada murid-murid Tong-bun agar mencegat Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang melihatnva, dia menarik nafas:

“Orang-orang yang hidup di dunia persilatan benar- benar tidak bisa hidup tenang!”

“Ada orang seperti kau yang mencari nama, mana mungkin dunia persilatan bisa tenang!”

Wan Fei-yang tertawa, dia tahu dalam keadaan seperti ini banyak berkata-kata tidak akan ada gunanya. Suara lonceng berdentang untuk ke dua kalinya.

“Maafkan...” begitu kata-kata ini terucap keluar, Wan Fei-yang sudah berlari di atas udara. Senjata rahasia Tong Ling sudah dilemparkan lagi, murid- murid Tong-bun tidak mau kalah, mereka pun melemparkan senjata mereka sambil mengejar Wan Fei-yang.

Arah lari Wan Fei-yang menuju Tong Ling maka senjata rahasia yang tadi disambut dan dibuang keluar.

Senjata rahasia yang pertama datang dari Tong Ling.

Lemparan ke dua belum dilepaskan tampak senjata rahasia Wan Fei-yang sudah tiba. Tapi reaksi Tong Ling sangat lincah, dia meloncat kesana-kemari, semua senjata rahasia disambutnya.

Melalui lowongan ini Wan Fei-yang berlari melewati Tong Ling. Murid-murid Tong-bun terus mengejarnya karena mereka khawatir Tong Ling terluka maka mereka tidak berani melemparkan senjata rahasianya. Tong Ling pun demikian, karena jaraknya dengan Wan Fei-yang terlalu dekat tidak sampai 1 kaki maka dia tidak bisa melemparkan senjata rahasianya.

Tapi perubahan gerak Tong Ling sangat cepat, senjata rahasia yang ada di tangannya segera dipakai sebagai senjata biasa, dia menusuk ke arah perut dan dada Wan Fei-yang. Tangan kanan Wan Fei-yang melayang, ujung jarinya pelan- pelan menarik ke dua pergelangan tangan Tong Ling.

Waktu itu Tong Ling merasa dia seperti terkena petir. Tangannya melonggar, semua senjata rahasianya terjatuh, saat itu kedua kaki Wan Fei-yang sudah memanjat naik ke atas pohon, kemudian menyentak, dia sudah berlari ke arah di mana petasan tadi meledak. Murid-murid Tong-bun khawatir Tong Ling terluka, maka mereka tidak berani melemparkan senjata rahasia. Begitu mereka sadar Tong Ling dalam keadaan baik-baik saja semua sudah terlambat, Wan Fei-yang sudah menghilang.

Wan Fei-yang turun dan naik dari pohon satu ke pohon lain, dia berlari dengan cepat.

Tong Ling dan murid-murid Tong-bun terus mengejar, bayangannya terlihat dengan jelas karena jarak mereka semakin dekat.

Suara lonceng masih terus berdentang dan semakin cepat.

Setelah suara lonceng sudah terdengar 9 kali, Wan Fei- yang sudah berada di atas batu Kie-kiam-gan (Batu tempat melepas pedang). 8 murid Bu-tong dengan wajah terkejut menunggu di sana, melihat Wan Fei-yang datang, mereka segera menyambut kedatangannya.

“Siapa yang datang?” dia melihat 8 murid Bu-tong tidak terluka sama sekali dia agak tenang, walaupun tidak tahu siapa yang datang tapi pedang-pedang yang ditinggalkan di Kiam-ti-yan memberi tahukan bahwa yang datang bukan orang persilatan biasa.

Bu-tong-pai sudah beberapa kali dirampok, keadaan mereka sudah lemah, kalau sekarang terjadi pertempuran akibatnya tidak bisa di bayangkan akan seperti apa.

Delapan murid Bu-tong dipimpin oleh Tong Coan menjawab: “Dari Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Tong-teng-kun-san, Tai-ouw-sui-cai, Bu-tai-san, Ceng-sia-pai, Siauw-lim-pai, semua datang...”

“Apa tujuan mereka?” tanya Wan Fei-yang.

“Mencari Susiok... Anda, meminta keadilan!” jawab Tong Coan.

“Mencariku?” walaupun Wan Fei-yang sudah memperkirakan semua ini ada hubungan dengannya, tapi dia tetap merasa terkejut.

“Mereka masing-masing menggotong sebuah peti mati, di dalam peti berisi ketua atau tetua mereka, katanya mereka semua mati karena Susiok!”

Wan Fei-yang tertawa kecut, Tong Coan berkata lagi: “Kami curiga semua ini adalah rencana busuk, Susiok

selalu mengobati orang di sekitar ini, mana mungkin pergi begitu jauh hanya untuk membunuh?”

Dia bicara dengan jujur dan sebenarnya, Wan Fei-yang merasa sangat berterima kasih, walau pun bagaimana murid-murid Bu-tong sangat percaya kepadanya, jadi dia tidak usah bersusah payah menjelaskan semuanya, baginya itu hal yang baik, dengan begitu dia bisa dengan tenang menghadapi orang-orang yang datang untuk meminta keadilan kepadanya.

“Tapi mereka sangat yakin dan mempunyai bukti kuat!” jelas Tong Coan.

“Oh ya! Apa buktinya?” “Mayat-mayat yang berada di dalam peti mati itu, dari luar terlihat bahwa mereka mati karena Thian-can-sin-kang!” jawab Tong Coan.

“Apakah menurutmu memang mirip?” Tanya Wan Fei- yang.

“Aku tidak pernah melihat seperti apa orang mati oleh Thian-can-sin-kang, tapi sepertinya mereka tidak bicara sembarangan dan di luar mayat pun ”

“Yang pasti di luar mayat ada tanda-tandanya maka hal itu membuat kalian sangsi!”

“Ciri kematian semua mayat sama, kecuali mereka ada rencana busuk dan bersekongkol ”

“Tidak, kalau mayatnya adalah tetua atau ketua mereka, tidak mungkin mereka akan membunuhnya lalu menuduhkan semua petaka ini padaku?” dia tertawa dan menyambung lagi, “aku tidak ingin berkelana di dunia persilatan, aku juga bukan siapa-siapa di dunia persilatan ini!”

“Dengan kemampuan Susiok sebenarnya Anda bisa menjadi nomor satu tapi Susiok bukan orang seperti itu!”

Wan Fei-yang melihat di jalanan sudah banyak murid- murid Tong-bun yang bermunculan.

Tong Coan dan lain-lain juga melihatnya, mereka merasa terkejut. Wan Fei-yang berkata lagi:

“Murid-murid Tong-bun pun datang kemari untuk mencariku untuk membuat perhitungan, mereka menuduh aku menangkap ketua mereka.” Tong Coan terpaku melihatnya, Wan Fei-yang menarik nafas panjang:

“Suatu hari nanti semuanya akan menjadi terang dan jelas, apakah benar?”

Tong Coan terdiam, dia tahu Susioknya mi pernah merasa kesal karena disalahkan.

“Aku berharap kali ini tidak akan mengalami kesulitan besar” kata Wan Fei-yang sambil menarik nafas.

Tong Ling sudah datang, masih berada di tengah-tengah udara, 12 senjata rahasianya sudah dilemparkan ke arah Wan Fei-yang.

Tong Coan dan lain-lain segera mencabut pedang. Wan Fei-yang mencengkeram sebuah batu besar, menahan batu itu di depan tubuhnya.

Senjata rahasia yang melesat membuat batu besar itu meledak, hancur dan jatuh berserakan ke bawah.

Tong Ling sadar kekuatannya tidak akan sedahsyat itu. Dia juga sadar apa yang telah terjadi, walaupun bermusuhan, dia harus mengakui bahwa Iweekang Wan Fei- yang memang sangat tinggi.

Tong Ling segera mendarat. Senjata rahasia lainnya tidak dilemparkan keluar, dia hanya melihat Wan Fei-yang dengan sorot dingin.

Murid-murid Tong-bun sudah tiba, melihat Tong Ling berlaku seperti itu mereka pun berdiam, senjata rahasia berada di tangan masing-masing. “Apakah hanya dengan ilmu silat ini, kau ingin membuat kami meninggalkan tempat ini?” tanya Tong Ling.

“Aku tidak ingin ada yang terbunuh ataupun terluka, karena kesalahpahaman yang sudah terjadi akan bertambah menjadi lebih dalam lagi!” jelas Wan Fei-yang.

“Kalau begitu, serahkan Kongkongku dan jelaskan yang keadaan sebenarnya!”

“Aku akan menjelaskan tapi tidak sekarang!” Wan Fei- yang tertawa kecut.

“Di ulur panjang pun tidak akan berguna!” bentak Tong Ling.

“Apa yang terjadi di Bu-tong-san sekarang ini, katanya ada hubungannya dengan Thian-can-sin-kang milikku...” kata Wan Fei-yang.

“Aku tahu, sebenarnya kami datang bersamaan kemudian aku melihat keadaan yang terjadi pada kami tidak sama, karena orang-orang mereka sudah menjadi mayat!”

Wan Fei-yang terdiam. Kata Tong Ling lagi:

“Tapi Kongkongku telah dibawa kabur, apa tujuanmu?” “Kalian tidak percaya bukan aku pelakunya, tapi aku

tidak memaksa kalian harus percaya, kalau masalahnya sama, lebih baik kita bersama-sama ke atas gunung untuk membereskan semuanya.”

Tong Ling melihat 2 laki-laki separo baya, kedua orang itu mengangguk, kemudian salah satu berkata: “Ketua, dia tidak akan bisa melarikan diri, kita dengar seperti apa penjelasannya!”

Tong Ling mengangguk, dia berkata kepada Wan Fei- yang:

“Jika mereka menyerangmu, orang-orang Tong-bun tidak akan ikut campur, kau bisa tenang!”

“Terima kasih!” kata Wan Fei-yang memberi hormat “Semua karena Kongkong berada di tangan mu, hidup

atau matinya masih belum jelas!” Tong Ling tertawa dingin.

Wan Fei-yang terdiam lagi. Tong Ling berkata lagi:

“Sekarang kau pasti tidak akan bisa bicara, tapi hari ini jika Tong-bun tidak datang, kau pun cukup repot menghadapi mereka!”

Wan Fei-yang membalikkan tubuh dan berjalan, dia mengerti pikiran Tong Ling, tapi dia juga tidak peduli apa yang diperkirakan Tong Ling. Kalau dia orang yang licik, hal yang terjadi pasti seperti ini dan hal seperti ini sudah sering kali terjadi, walaupun sekarang dia sudah tidak seperti dulu lagi, tapi perasaannya tetap sama.

Dulu di kehidupannya ada peristiwa sedih juga ada yang menggembirakan.

Dari Siauw-Iim-pai datang Pek-jin Taysu, Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin, Bu-tai-san, Bok Touvv-toh, Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian-ciu, Tong-teng-kun-san, Ci-liong-ong, Tiam-jong-pai, Thi Gan, Hoa-san-pai, Kiam-sianseng. Mereka menunggu Wan Fei-yang di Sam-goan-kong. Mereka adalah para pesilat tangguh dunia persilatan. Murid-murid mereka pun datang, maka barisan yang datang sangat besar dan komplit.

Walaupun liang-bu-jin Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin sangat luas pergaulannya di dunia persilatan, tapi menghadapi begitu banyak pesilat tangguh, dia cukup kalang kabut juga.

Jika dibandingkan dengan Pek-jin Taysu, Giok-koan Tojin, Bok Touw-toh, Kiam-sianseng, Ci-liong-ong, dia masih termasuk angkatan muda.

Ilmu silatnya pun tidak begitu tinggi, sejak Bu-tong-pai diserang, banyak pesilat tangguh mereka yang meninggal, ditambah dia orang yang sangat jujur, maka posisi ketua Bu- tong-pai jatuh ke pundaknya, maka dia dengan baik hati mengurus Bu-tong-pai.

Sekarang dalam menghadapi banyak pesilat tangguh, dia tetap melayani mereka dengan sangat baik, yang paling penting adalah dia sangat tahu jelas siapa Wan Fei-yang.

Sewaktu pesilat-pesilat mengatakan Wan Fei-yang telah membunuh semua orang-orang itu tapi dia yang sering bertemu dengan Wan Fei-yang sangat tahu jelas Wan Fei- yang berada di daerah mana di Bu-tong-san.

Dia juga tahu kalau pesilat-pesilat itu pasti tidak akan percaya, dia adalah orang Bu-tong-pai, maka dia pasti akan membela Wan Fei-yang.

Bagaimana Wan Fei-yang bisa melepaskan diri dari tuduhan ini, dia sendiri tidak tahu, tapi satu-satunya yang membuatnya merasa agak tenang adalah karena Wan Fei- yang sudah beberapa kali dituduh tapi dengan kesabaran dia bisa mengatasi. Dalam kesulitan bisa bertahan hidup maka kepahitanpun akan pergi dan yang datang adalah rasa manis, nasibnya memang tidak jelek.

Hal yang membuatnya merasa aneh adalah mayat-mayat itu dari luar terlihat seperti mati oleh Thian-can-sin-kang, dia sendiri tidak tahu apakah ada tenaga dalam yang mirip dengan Thian-can-sin-kang, dia juga tidak tahu apakah Thian-can-sin-kang pernah jatuh ke tempat lain?

Banyak orang yang datang mencari Wan Fei-yang maka dia terburu-buru menyuruh Wan Fei-yang naik gunung dan berharap Wan Fei-yang bisa membereskan semua masalah ini.

Melihat Wan Fei-yang masuk, baru dia merasa tenang. Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu, Bok Touw-toh, Kiam- sianseng, dan Thi Gan, pernah melihat Wan Fei-yang. Mereka mendapat kesan Wan Fei-yang adalah pemuda yang baik!

Setelah berunding mereka ingin memberi kesempatan pada Wan Fei-yang memberi penjelasan kepada mereka, karena itu dari awal Tong Ling tidak campur tangan dengan mereka. Sekarang dia tetap ikut masuk ke dalam Sam-goan- kong.

Dipimpin oleh Kiam-sianseng, mereka mengatakan kepada Wan Fei-yang bagaimana orang-orang itu mati oleh Thian-can-sin-kang.

Setelah melihat dengan jelas orang yang menjadi mayat, hati Wan Fei-yang menjadi dingin, sebab mereka adalah para pesilat tangguh yang mempunyai nama terkenal dan juga tetua-tetua dunia persilatan, mereka sangat berpengaruh di dunia persilatan, siapa pun mereka, jika mati akan membuat dunia persilatan berguncang, dalam waktu yang begitu singkat mereka telah tewas, apa yang terjadi?

Munurut perkiraan Kiam-sianseng, musibah dunia persilatan mulai terjadi.

Begitu melihat mayat-mayat itu hati Wan Fei-yang mencelos dan bertambah sesak, mulut dan hidung para pesilat itu tersumbat oleh benda seperti benang sutra.

Dia mempunyai perasaan itu bukan benang sutra, tapi dari telapaknya pun keluar benda seperti bukan benang sutra. Ulat sutra hanya simbol, yang pasti ulat sutra bisa membuat kepompong untuk mengurung diri mereka, bisa mengorbankan diri untuk semua orang, sebenarnya benda ini tidak ada hubungannya dengan ulat sutra.

Pesilat-pesilat itu jika dikatakan mati karena Thian-can- sin-kang pasti akan banyak orang yang percaya, di dunia ini ada ilmu begitu mirip, benar-benar di luar dugaannya.

Waktu itu tiba-tiba dia teringat akan banyak hal, Thian- can-sin-kang miliknya bukan diwariskan dari Bu-tong, Thian- can-sin-kang milik Bu-tong boleh dikatakan hanya diajarkan melalui mulut ketuanya dan tidak dicatat di dalam buku, tapi bukan berarti hanya ketua baru yang boleh menerima pelajaran ini. Sebelumnya apakah ketua Bu-tong-pai lainnya pernah mengajarkan kepada orang luar dan berhasil melatihnya? Wan Fei-yang merasa tidak yakin.

Setelah melihat mayat-mayat itu pikirannya menjadi kacau.

Kiam sianseng bertanya:

“Sekarang kau mengerti mengapa kami mencarimu kemari?”

“Mereka benar-benar seperti mati karena Thian-can-sm- kang!” Wan Fei-yang mengangguk.

“Dulu ketika Tokko Bu-ti roboh di depanmu, keadaan mayatnya seperti mayat mereka ini!”

Thi Gan menyela:

“Thian-can-sin-kang dari Bu-tong-pai katanya diajarkan langsung dari mulut ketua Bu-tong-pai dan ilmu ini tidak dicatat di dalam buku, selain Yan Cong-thian Lo-cianpwee yang menguasainya, hanya kau yang mengerti Thian-can-sin- kang.”

Kiam-sianseng menarik nafas:

“Yan-heng begitu muda sudah meninggal, bukan hanya Bu-tong-pai yang merasa kehilangan dirinya, juga kerugian bagi golongan yang menjaga keadilan!”

Wan Fei-yang sangat mengerti, katanya dengan ringan: “Benar, di Bu-tong-pai hanya aku yang berhasil

menguasai Thian-can-sin-kang, tapi kematian mereka tidak ada kaitannya denganku!” “Apakah hilangnya Kongkongku juga tidak ada kaitannya denganmu?” Tong Ling menyela.

Kiam-sianseng dengan dingin melihat Tong Ling, dia bertanya lagi kepada Wan Fei-yang:

“Ketua Anda yaitu Pek-ciok Tojin mengatakan Anda selalu berada di Bu-tong-san, tapi sayang dia tidak mempunyai saksi.”

“Apa rencana kalian...” tanya Wan Fei-yang. Tong Ling memotong lagi:

“Lepaskan Kongkongku dulu!”

Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Liu Sian-ciu dari Tai-ouw berkata:

“Masalah Kongkongmu kita bicarakan saja nanti!” “Orang yang pertama kali menemukan Wan Fei-yang

adalah kami!” kata Tong Ling.

Liu Sian-ciu tertawa:

“Tapi sayang, kalian tidak bisa menangkapnya, malah harus ke Sam-goan-kong.”

“Di Sam-goan-kong ini kami dipimpin oleh Kiam- sianseng, lebih baik kau jangan banyak bicara!” kata Tong- teng-kun-san, Ci-liong-ong.

“Tapi Tong-bun tidak membutuhkan keputusan dari Kiam-sianseng!” kata Tong Ling.

“Aku juga tidak berani mengambil keputusan untuk Tong-bun!” kata Kiam-sianseng.

“Kalau begitu, cepat suruh orang-orang kalian jangan banyak bicara!” kata Tong Ling, setelah keluar kata-kata ini. Tong Ling sadar dia telah kelewatan, tapi kata-kata itu sudah terlanjur keluar seperti ludah sudah terciprat tidak bisa ditelan kembali.

Giok-koan Tojin tidak tahan lagi:

“Gadis ini benar-benar tidak tahu diri walau pun kakekmu di sini, beliau pun tidak akan berani berkata seperti itu!”

Sifat keras Tong Ling muncul, dia tertawa dingin, aku tidak pernah menceritakan orang-orang ini!

“Apakah beliau pernah menanyakan tentang Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai?”

“Siapa Giok-koan Tojin?”

Tong Ling tidak peduli murid-murid Tong-bun memberi isyarat untuk mundur, dia melihat Giok-koan Tojin.

“Aku terkena semprotan!”

Bok Touw-toh melantunkan bacaan Budha:

“Kembalilah ke tempat yang benar, sekarang belum terlambat!”

Kiam-sianseng kembali melihat Tong Ling, dengan tenang berkata:

“Kalau Tong-bun ingin membuat perhitungan dengan Bu- tong-pai, kami tidak akan melarangmu, silakan saja!” dia mundur selangkah supaya Tong Ling bisa menghadapi Wan Fei-yang. BAB 03

Tong Ling terpaku di sana. Kalau dia tadi bisa menaklukkan Wan Fei-yang, untuk apa mengikutinya dari kuil itu ke mari, walaupun di ruangan ini tidak banyak murid Bu-tong-pai, mereka tidak akan berpangku tangan begitu saja, maka pertarungan tidak bisa dijadikan pegangan, jika kalah di depan mereka dan kabar ini tersebar luas ke dunia persilatan, tentu akan memalukan Tong-bun, wibawa mereka akan tercoreng.

Walaupun Tong Ling bersifat keras, tapi dia bukan gadis yang tidak ada perhitungan, dia teringat bahwa dia baru menjadi ketua, jangan sampai membuat nama Tong-bun tercoreng.

Karena itu dia memutar otak dan dengan dingin berkata: “Tong-bun ingin membuat perhitungan, tapi kami bukan orang-orang yang menjual ilmu silat untuk mencari nafkah, kalian tidak pantas berada di sini untuk menonton

keramaian.”

Kata-kata ini membuat wajah Kiam-sianseng berubah, Thi Gan dari Tiam-jong-pai membentak:

“Hati-hati kalau bicara, orang she Tong!” Tong Ling melihat Thi Gan:

“Bukankah tadi kalian mengatakan kalau semua keputusan diwakili oleh Kiam-sianseng, siapa kau, berani- beraninya kau mewakili Kiam-sianseng berkomentar!” Thi Gan terpaku, kemudian Kiam-sianseng menarik nafas dan berkata:

“Seumur hidupnya Tong Pek-coan sangat berhati-hati, mengapa generasi penerusnya malah seperti ini...”

“Siapkan senjata rahasia!” bentak Tong Ling.

Murid-murid Tong-bun bersiap siaga, senjata rahasia sudah berada di tangan:

“Siapa yang menghina Tong-bun dan mencari kesalahan Tong-bun, kami akan bertarung mati-matian menjaga nama baik Tong-bun!”

Ci-liong-ong tertawa:

“Setelah kami pulang, kami akan memberi tahu murid- murid kami supaya jangan mengucapkan kata Tong-bun agar tidak mendapat musibah.”

“O-mi-to-hud...” dari Siauw-lim-pai, Pek-jin Taysu sekarang baru keluar suara.

Tong Ling tidak peduli, dia melihat Wan Fei-yang:

“Tadi aku sudah mengemukakan apa yang kuinginkan, Tong-bun siap melayani!”

Dia segera membalikkan tubuh dan keluar dari sana. Melihat Tong Ling, Wan Fei-yang teringat pada Tokko

Hong. Pertama kali saat bertemu Tokko Hong, dia juga seperti sebongkah api besar, bersifat keras dan meledak- ledak.

Tapi Wan Fei-yang percaya setelah Tong Ling mendapatkan pelajaran beberapa kali pasti akan berubah, dia hanya berharap Tong Ling saat diberi pelajaran jangan terlalu keras.

Memang Tong Ling sama sekali tidak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan, tapi Wan Fei-yang tetap tidak merasa membencinya Paling sedikit Tong Ling bicara terus terang, membuatnya tahu apa yang Tong Ling inginkan, harus dengan cara apa mengatasi sifat keras Tong Ling.

Tapi Kiam-sianseng memberikan kesan bahwa jahe semakin tua semakin pedas. Dia harus berhati-hati menghadapinya.

Melihat Tong Ling dan sekelompok murid-murid Tong- bun menghilang, Kiam-sianseng baru berkata:

“Sekarang kita bisa membicarakan dengan tenang!” “Apakah masih akan membicarakan topik tadi?” tanya

Wan Fei-yang.

“Mungkin masalah ini tidak ada hubungannya denganmu, tapi tidak bisa kau sangkal bahwa orang-orang ini mati karena Thian-can-sin-kang,” jelas Kiam-sianseng.

“Paling sedikit ini sejenis ilmu silat yang mirip Thian-can- sin-kang. Sebenarnya aku bisa membuktikan perbedaannya dengan Thian-can-sin-kang tidak jauh, maka aku tidak percaya diri untuk menjelaskannya kepada kalian!” kata Wan Fei-yang-

“Kalau kau bisa membuat kami percaya itu bukan Thian- can-sin-kang, kami bisa terima, tapi kau tidak menyangkal mempunyai hubungan dengan Bu-tong-pai.” “Sebenarnya sampai sekarang ini pertama kalinya kami melihat ada ilmu lweekang seperti itu!”

“Kalau dikatakan ilmu itu keluar dari Bu-tong-pai, itu juga bisa!”

“Mungkin kalian akan curiga bahwa aku yang mengajarkannya bukan?” Wan Fei-yang tertawa kecut, “singkat kata, aku tidak bisa terlepas dari kecurigaan kalian!”

Kiam-sianseng tersenyum:

“Kami percaya pada seorang Wan Fei-yang, kami bertemu dengan keadaan seperti ini.”

“Tapi kalian...”

“Mungkin itu rencana busuk dunia persilatan, mereka berusaha membuat orang dunia persilatan yang lurus saling membunuh, lebih baik kita berhati-hati dan mencari tahu apakah ini ada hubungan dengan Bu-tong-pai, apakah ada hubungan dengan Thian-can-sin-kang.”

“Yang pasti harus oleh orang yang mengerti Thian-can- sin-kang baru bisa jelas,” kata Wan Fei-yang.

“Betul, hanya kau yang bisa menjelaskan semuanya kepada kami!” kata Kiam-sianseng.

“Berikan waktu kepadaku!” “Apakah 3 bulan cukup?”

“Baiklah, 3 bulan lagi harap kalian datang ke mari lagi, yang pasti jika 3 bulan belum tiba dan aku sudah selesai menyelidikinya, aku akan memberi tahui kalian.”

“Kami berjanji...” Kiam-sianseng sangat jujur dan terus terang. Dari tadi Pek-ciok Tojin selalu berkata sungkan, setelah Kiam-sianseng dan lain-lainnya pergi, dia baru berkata dengan serius.

“Sute, apakah kali ini kau tertipu!” “Apa boleh buat!”

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Terus terang saja, luka mereka sama dengan luka karena Thian-can-sin-kang! Aku tidak melihat ada perbedaan sedikit pun!”

“Ilmu lweekang yang sangat jarang ada, tapi setelah menelitinya akan terlihat perbedaannya!”

“Maksudmu, benda seperti benang sutra itu?”

“Betul, walaupun disebut Thian-can-sin-kang, sebenarnya tidak ada hubungan dengan ulat sutra!”

“Dulu Tokko Bu-ti kalah di tangan Sute, keadaannya dengan mayat yang datang hari ini tidak berbeda!”

“Perbedaannya sulit dijelaskan, juga sulit membuat orang yang belum pernah berlatih Thian-can-sin-kang akan percaya di mana perbedaannya.”

“Apakah karena benangnya?” tanya Pek-ciok Tojin. “Benang itu berwarna abu keputihan, tampak benang itu

beracun, dan benang Thian-can-sin-kang berwarna putih keperakan hampir transparan, kalau tidak diteliti secara jelas, tidak akan bisa membedakannya, apakah itu beracun atau tidak, sulit dibuktikan!” Dengan aneh Pek-ciok Tojin melihat Wan Fei-yang. Sebenarnya dia tidak memperhatikan keistimewaan benang sutra itu. Wan Fei-yang menghela nafas lagi.

“Orang dunia persilatan hanya tahu Thian-can-sin-kang, hanya tahu Thian-can-sin-kang bisa mengeluarkan benang sutra, bisa dan menembus masuk ke kulit, bisa menutup jalan darah manusia juga bisa melilit jalan darah lawan dan mencegah tenaga dalam lawan sampai ke jantung.”

“Jika kau bisa tahu sebegitu banyak memang tidak gampang,” kata Pek-ciok Tojin.

“Semua ini keistimewaan juga kedahsyatan Thian-can- sin-kang, semua orang memperhatikan hal pertama.”

Pek-ciok Tojin mengangguk:

“Malah yang paling mudah dilihat tidak mereka perhatikan seperti warna sutra dan kualitasnya...”

“Mungkin karena tidak ada gunanya!”

“Tapi apa yang telah terjadi ke dua tenaga dalam itu memang ada kemiripan!” kata Wan Fei-yang.

“Kulihat sama persis dengan Thian-can-sin-kang!” kata Pek-ciok Tojin.

“Aku duga jika kedua macam lweekang ini digunakan pasti ada perbedaannya!” Wan Fei-yang tertawa kecut.

“Tapi kau tidak melihat dengan mata kepala sendiri mana mungkin bisa menyatakan hal seperti itu, mungkin ke dua lweekang ini saat digunakan bisa sama!”

“Apakah Suheng curiga bahwa ilmu itu adalah Thian-can- sin-kang?” “Ilmu lweekang berbeda-beda tapi fungsinya sama, seperti Iweekang ini, mana mungkin bisa disebut sama,” ucap Pek-ciok Tojin.

“Aku bisa menguasai Thian-can-sin-kang karena orang Bu-tong membantunya, aku curiga apakah Thian-can-sin- kang..”

Wan Fei-yang tidak meneruskan kata-katanya tapi Pek- ciok Tojin menyambung:

“Apakah gurumu pernah mengajarkan Thian-can-sin- kang kepada orang lain?”

“Tidak ada!” Wan Fei-yang menggelengkan kepala.

“Yan-supek selalu berada di Bu-tong-san!” Pek-ciok Tojin terus berpikir.

Wan Fei-yang terdiam, Pek-ciok Tojin berkata lagi: “Apakah selain mereka berdua, masih ada yang lain...” “Apakah ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini?”

tannya Wan Fei-yang.

Tiba-tiba Pek-ciok Tojin teringat sesuatu dan berkata: “Ada satu orang, tapi apakah dia masih hidup atau

meninggal aku tidak tahu.” “Siapa?

“Kouw-bok...”

Di Bu-tong-pai generasi Bok berada di atas generasi 'Siong'. Kouw-bok adalah Susioknya Ci-siong dan Yan Cong- thian, katanya ilmu silatnya berada di atas generasi Bok. Liang-bok Cinjin yang mengasingkan diri juga orang yang eksentrik, karena Kouw-bok tidak disukai oleh gurunya yang juga ketua Bu-tong-pai saat itu, maka posisi ketua diberikan kepada Liang-bok Cinjin, karena marah maka Kouw-bok bersembunyi di Gunung Sam-cong, lama dia tidak pernah muncul. Kebanyakan murid Bu-tong-pai tidak tahu menahu soal orang ini. Pek-ciok Tojin bisa tahu karena sewaktu dia membereskan barang-barang ketua Bu-tong-pai setelah beliau meninggal dia menemukan buku itu.

Dalam buku catatan Liang-bok Cinjin, beliau selalu memuji Kouw-bok adalah orang yang pintar dan berbakat, serta mempunyai ingatan yang kuat, dalam beberapa generasi murid Bu-tong yang pernah ada dia adalah orang yang paling berbakat dan berhasil.

Ilmu silatnya telah mencapai pada tahap mana? Apakah beliau mengusai Thian-can-sin-kang atau tidak hal itu tidak tercatat di dalam buku itu.

Pek-ciok Tojin dan Wan Fei-yang merasa aneh.

Sewaktu Yan Cong-thian masih muda dulu mengapa tidak pernah mencari orang itu dan minta petunjuk?

Ci-siong Tojin dan Yan Cong-thian tidak pemah menceritakan orang ini. Apakah orang itu masih hidup atau sudah meninggal, mereka tidak tahu, tapi jika ingin tahu harus mencari dan bertanya-tanya.

Ini satu-satunya harapan mereka.

Berjalan ke Sam-cong-hong semakin berjalan semakin menanjak, juga semakin berbahaya, tapi semua ini tidak membuat Pek-ciok Tojin dan Wan Fei-yang gentar, sampai di gunung terakhir Pek-ciok Tojin benar-benar merasa kecewa karena jurangnya terjal seperti ditepis oleh pedang. Dia melihat ke bawah, tampak penuh dengan kabut, entah berapa ketinggian gunung ini, yang membuatnya mengeluh adalah karena di jurang itu tidak tumbuh sebatang pohon maupun rumput, maka tidak benda untuk pegangan saat meluncur turun.

“Kalau mengatakan di dasar jurang ini ada yang tinggal, benar-benar sulit dipercaya!” Pek-ciok Tojin menarik nafas.

“Aku juga merasa curiga tapi kita sudah datang kemari kita harus turun untuk melihat keadaan sebenarnya, Ciang- bun Suheng...”

Pek-ciok Tojin memotong:

“Aku merasa tidak sanggup!”

Dia berkata jujur dan apa adanya, itu adalah alasan mengapa dia disukai oleh angkatan yang lebih tua.

Wan Fei-yang juga orang seperti itu, maka mereka bisa mengobrol dengan akrab:

“Tempat ini memang berbahaya, Ciang-bun Suheng masih mempunyai banyak tanggung jawab, jangan menghadapi bahaya seperti ini.”

“Sute sudah menguasai Thian-can-sin-kang, jika ingin turun, tidak masalah, hanya saja kau tetap harus berhati- hati!”

“Aku akan berhati-hati, hanya saja di tempat seperti ini mencari seseorang membutuhkan waktu lama, jadi Suheng tidak perlu menunggu di sini!” “Betul juga, setelah Kiam-sianseng dan lain-lain membuat keributan, murid-murid Bu-tong akan merasa was- was, aku memang tidak bisa berlama-lama meninggalkan Bu- tong-san.”

Dia terus menasihati Wan Fei-yang agar berhati-hati setelah itu baru meninggalkan tepi jurang itu. Setelah Suhengnya jauh, Wan Fei-yang baru menelungkup untuk melihat dengan teliti dasar jurang itu, juga memilih tempat yang cocok untuk meluncur turun ke dasar, dia memang orang yang sangat berhati-hati, bukan karena sudah terkenal dan penting dia menjadi sok, semua itu dilakukannya karena nyawanya seringkali terancam akibat tidak berhati-hati.

Karena tidak berhati-hati dia hampir mati, walaupun tidak sampai mati tapi cukup membuatnya merasa menyesal seumur hidup.

Setelah berpikir selama 15 menit, dia baru mencopot sepatunya, kaki dan tangan digunakan untuk merambat turun. Tempat yang cocok di-tambah dengan berhati-hati dan berilmu tinggi membuatnya berhasil dengan selamat sampai di dasar jurang.

Dia tidak terus merambat turun, dengan pandangan matanya yang jeli, dia bisa tahu di sana ada yang bersembunyi atau ada tempat untuk bersembunyi. Dia tidak akan melepaskan hal itu tapi selama dia meluncur turun dari atas tidak ada seorang pun yang dilihatnya.

Semakin turun kabut semakin tebal, pandangan pun semakin pendek, tapi kakinya semakin bisa digeser. Setelah turun sejauh 20 tombak, tidak ada orang yang dicarinya, tapi kabut semakin tipis di sana, membuatnya merasa semakin tenang, di dinding jurang terlihat tumbuhan, kemudian dia mencium wewangian.

Wewangian masuk ke hidungnya, dia hampir menaruh curiga dengan penciumannya, kemudian dia merasa gembira, kaki dan tangan semakin cepat bergerak dan meluncur ke bawah.

Tidak lama kemudian dia berhasil melewati kabut dan apa yang muncul di depannya dia tidak hanya melihat dasar jurang, dia juga melihat cahaya yang menancar dari langit.

Di dasar jurang ada sebuah kolam besar, ke dua sisi kolam adalah dinding jurang, di sebelah air terjun adalah dinding jurang, dari sini air kolam mengalir turun.

Air terjun ini sangat unik, air memancar keluar dari sela- sela batu, kemudian masuk ke dalam kolam.

Walaupun terdengar suara air tapi suara itu seperti suara musik, membuat orang merasa nyaman saat mendengarnya.

Di tengah-tengah kolam ada beberapa batu-batuan besar, di atas batu-batuan itu ada sebuah rumah kecil.

Seorang orang tua kurus sedang duduk di depan rumah kecil itu, di atas sebuah batu sedang memanggang ikan. Wewangian itu ternyata berasal dari ikan panggang yang sedang dipanggang.

Tempat ini benar-benar seperti tempat dewa-dewi. Setelah Wan Fei-yang meluncur turun ke bawah dia merasa lebih nyaman lagi. Setelah melihat sekeliling, dia baru melangkah menuju orang tua itu.

Orang tua itu seperti tidak merasa ada yang datang, dia masih terus membakar ikan.

Sederetan batu yang bermunculan dari dasar kolam menyambung ke batu besar yang ada di rumah kecil itu. Wan Fei-yang berjalan ke rumah itu dengan meloncati bebatuan.

Orang tua itu tidak bereaksi tapi setelah Wan Fei-yang tiba di depan rumah, dia baru bertanya:

“Apakah kau murid Bu-tong?”

Nada bicaranya tidak begitu tinggi tapi sangat jelas. “Boanpwee murid Bu-tong-pai!” Wan Fei-yang men-

jawab dengan sikap hormat.

Orang tua itu menoleh, kepalanya hampir botak, hanya tersisa beberapa helai rambut berwarna abu keputihan, wajahnya penuh dengan keriput, tapi tidak memberikan kesan bahwa dia sudah tua, hanya terlihat dia seperti malas- malasan.

Saat Wan Fei-yang melihat ke arahnya, dia jadi benar- benar ingin berbaring di atas batu itu, melempar semua kepusingannya lalu dengan nyaman tidur dulu di sana.

“Kau masih muda!” kata orang tua itu sambil tertawa, “dengan usiamu yang masih begitu muda bisa berlatih hingga mencapai tahap seperti ini benar-benar jarang ada!”

Setelah itu tiba-tiba saja dia tertawa: “Aku masih saja bicara seperti itu!”

“Boanpwee tidak mengerti!” Wan Fei-yang terpaku.

Orang tua itu seperti teringat sesuatu yang membuatnya gembira, lalu dengan riang berkata:

“Aku tinggal di sini selama puluhan tahun dan terisolasi dengan dunia luar, tapi pola pikirku dengan saat baru pindah ke mari tidak ada bedanya, sampai sekarang aku baru mengerti apa yang disebut dengan istilah mendarah daging, jika ingin berubah, tidak gampang.”

“Maksud Lo-cianpwee tinggal di sini adalah untuk menghindar dari keramaian dan hidup sendiri, hidup dengan banyak orang sebenarnya sama!”

“Awalnya memang terasa berbeda!” kata orang tua itu lantas tertawa.

“Awalnya karena sifatku yang keras, aku benci dengan sifat manusia yang egois, maka aku ke mari, terakhir Yan Cong-thian meluncur turun kemari, aku baru sadar kalau aku juga mempunyai banyak kekurangan dan membuat orang jadi benci kepadaku, kemudian aku melihat semua orang sama. Asalkan kebaikannya lebih banyak dari sifat buruk- nya, itu sudah cukup!”

“Kapan Yan-supek ke mari?” tanya Wan Fei-yang.

“Kau memanggilnya Supek? Kalau begitu kau harus memanggilku Susiok-kong!”

Sewaktu Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu, tiba- tiba orang tua itu bertanya:

“Sekarang kau pasti tahu siapa aku?...” Wan Fei-yang mengangguk, orang tua itu menggelengkan kepala:

“Kayu yang sudah lapuk, tidak bisa diukir, Kouw-bok (kayu yang lapuk) juga seperti itu.”

Tidak diragukan lagi maksud Kouw-bok adalah dirinya, dia berkata lagi:

“Jika dihitung-hitung saat Yan Cong-thian datang kemari sudah ada 30 tahun yang lalu, apakah hatinya masih dipenuhi dengan kebencian?”

“Dia tidak pernah membicarakan tempat ini, aku baru tahu tempat ini tadi pagi!”

“Dia memberitahumu tapi mengapa dia sendiri tidak turun bersamamu?”

“Bukan dia yang memberitahu!” Wan Fei-yang akhirnya menjawab, “setahun yang lalu Yan-supek sudah...”

“Meninggal?” potong Kouw-bok. Wan Fei-yang hanya mengangguk. Kouw-bok terpaku, lama baru bicara:

“Yang pantas mati tidak mati, yang tidak pantas mati malah meninggal terlebih dulu!”

“Siapa yang pantas mati?

“Tentu saja aku!” Kouw-bok menatap Wan Fei-yang, “otakmu seperti tidak berputar, bisa dikata kan kau bodoh, tapi itu pun belum tentu tidak baik, manusia kalau terlalu sempurna malah akan cepat meninggal!”

Kouw-bok bertanya lagi: “Saat aku masih muda dulu, aku benci pada masyarakat dan adat istiadat, aku juga orang yang fanatik, jiwaku sempit, banyak hal yang tidak aku setujui, bahasaku pun tidak sopan. Setelah turun ke mari dan hidup beberapa puluh tahun di sini, aku baru bisa menjadi seperti ini, tulang dan ototku menjadi malas, aku tidak tertarik untuk meninggalkan tempat ini, katakan saja orang seperti diriku ini apa ada gunanya, lebih baik aku cepat mati!”

Kouw-bok melanjutkan lagi:

“Tapi aku jarang sakit, mungkin aku bisa hidup sampai seratus tahun lebih!”

“Di Bu-tong-pai banyak murid berbakat, setelah kau dekat denganku, aku baru tahu?”

“Tecu sudah bersalah!”

“Apa kesalahanmu?” tanya Kouw-bok, dia tertawa lagi, “dulu sewaktu Yan Cong-thian ke mari masih di dinding jurang saja aku sudah merasakan kehadirannya.”

“Sekarang kalau bukan karena ilmu silatku yang sudah mundur pasti karena ilmu silatmu lebih tinggi dari Yan Cong- thian!”

“Yan-supek...”

“Kau bukan orang yang senang bicara sungkan, jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja!”

“Tecu datang demi Thian-can-sin-kang!”

“Aku sudah menduganya, dulu Yan Cong-thian turun ke mari pun karena hal itu, sekarang kau turun kemari pun dengan keinginan sama, sudah berapa tahun berlalu tapi mengenai Thian-can-sin-kang kalian masih tidak bisa melupakannya. Apakah kalau tidak ada Thian-can-sin-kang, di dunia persilatan Bu-tong-pai tidak bisa berdiri dengan kepala tegak?”

“Kali ini Tecu mengalami kesulitan tersendiri maka dengan terpaksa datang ke mari!”

“Kalau begitu, kau turun ke mari bukan karena ingin bertanya kepadaku bagaimana cara berlatih Thian-can-sin- kang?”

“Tecu sudah menguasainya!”

“Apa? Kau sudah menguasai ilmu itu? Kau sudah tahu rahasia yang ada di dalamnya?”

“Tecu...” kata-kata Wan Fei-yang belum selesai, Kouw- bok sudah menyambung:

“Pantas gerakan tubuhmu begitu ringan, bagaimana dengan Yan Cong-thian?”

“Yan-supek juga sudah berhasil!” “Dengan cara apa kalian bisa berhasil?”

“Karena terluka parah ilmu silat Yan-supek musnah, dalam keadaan mati suri lalu dimasukkan ke dalam peti mati dan dikubur, akhirnya dia bisa hidup kembali...”

“Itulah jurus ulat sutra membuat kepompong untuk mengikat diri, dan berubah membentuk nyawa baru, ini pun cara berlatih Thian-can-sin-kang!” kata Kouw-bok lagi, “apakah kau juga seperti itu?” “Tecu berhasil menguasai Thian-can-sin-kang karena ada seseorang yang gagal berlatih ilmu ini lantas dia mengalirkan tenaga dalamnya kepadaku, tidak sengaja malah berhasil.”

“Mengupas kepompong mengambil sutranya untuk kebaikan dan bekerja keras tapi sama sekali tidak ada hasilnya, melihat orang lain baru melihat ada hasil. Perasaan setelah menang malah tidak enak, kau bisa bertemu dengan orang seperti itu, itulah nasib baikmu!”