-->

Istana Hantu Jilid 13 (Tamat)

Jilid 13 (Tamat)

Pada saat itu entah dari mana datangnya, tahu-tahu seorang pemuda tampan sederhana telah berlari-lari dan tepat sekali menyambut tubuh Lily yang hampir mendekati Kwan-tiong Tok-ong yang siap melancarkan pukulan.

“Li-moay.......!” Pemuda itu mendekap tubuh Lily dan cepat menotok jalan darah di tubuh Lily.

Lily tersadar akan tetapi ia berteriak ngeri: “Ngong Lam koko……!”

“Dessss!!” Pukulan Kwan-tiong Tok-ong dengan tepat sekali menghantam punggung pemuda sederhana itu.

Cepat Lily mencelat dari dekapan si pemuda, dan hendak menerjang kakek tinggi besar yang ganas itu. Pedangnya tergetar hebat.

Akan tetapi ia menjadi heran, ketika melihat Kwan-tiong Tok-ong terhuyung-huyung dengan muka pucat, memandang melotot kepada pemuda sederhana yang masih berjongkok tak bergerak.

Hanya beberapa detik terjadinya pemuda itu bangkit dan menudingkan telunjuknya:

“Kakek kau keji dan jahat! Sepantasnyalah kau mampus oleh sebab kejahatanmu sendiri......” kata pemuda itu sambil tersenyum mengejek.

Kwan-tiong Tok-ong menggeram keras, ia hendak menerjang pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba ia terhuyung mundur mendekap dadanya yang terasa seperti dibakar.

“Uaggg........!” Darah merah bergumpal-gumpal telah keluar dari mulut kakek itu. Wajahnya menjadi hitam. Pandangannya membelalak menatap pemuda sederhana itu, kemudian roboh berkelojotan mati.

Sebuah bayangan berkelebat.

“Ayah........!” Kwan-kong Beng menubruk avahnya yang sudah mendelik dengan seluruh muka hitam. Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan orang-orang yang hadir di situ.

Sampai Thay-bengcu sendiri melengak. Bagaimana ini bisa jadi? Ia tidak melihat betapa Kwan-tiong Tok-ong memukul punggung pemuda itu, akan tetapi mengapa bukan pemuda sederhana itu yang mampus, sebaliknya menyerang Kwan-tiong Tok-ong?

Tentu saja mimpipun mereka tak pernah menduga. Yang dihadapinya adalah Sung Tiang Hin, pemuda perkasa gemblengan Bong Kwi Nio dari kitab dan tulisan-tulisan peninggalan Sui-kek Siansu yang kemudian diberi nama oleh Nenek Bong Kwi Nio menjadi ilmu silat Sui Kek Sin-ciang-hoat!

Pemuda yang sudah digembleng hebat oleh nenek Bong Kwi Nio dari lukisan dinding dan kitab itu. Tentu saja menghadapi pukulan kakek tinggi besar yang bersenjatakan tangan manusia ini, Tiang Hin menjadi terkejut sekali merasakan hawa panas yang berbau busuk ini menyambarnya.

Tahulah Tiang Hin bahwa kakek ini tentu mempergunakan racun pada cakar-cakar yang mengeluarkan bau tidak enak itu. Maka saking gemasnya melihat cara kakek ini datang-datang hendak mencabut nyawanya, tentu saja segera Tiang Hin memusatkan hawa sin-kang yang ke bagian punggung!

Dan mengembalikan serangan lawan, hingga saking cepatnya gerakan ini Thay-bengcu sendiri tidak melihat berapa cakar setan itu telah membalik dan menyerang leher Kwan-tiong Tok-ong!

Senjata makan tuan itu, sangat tidak terduga-duga datangnya membuat sekalian yang hadir di tempat itu menjadi terkejut dan terheran-heran!

Pada saat itu Kwan-kong Beng mendengar jeritan ayahnya telah mencelat keluar dan dilihatnya ayahnya telah mati dengan seluruh muka hitam. Tahulah ia bahwa ayahnya ini terserang racun hek-tok yang jahat dari senjata ayah sendiri.

Maka dengan mengeluarkan seruan keras Kong Beng menoleh ke arah Tiang Hin dan tanpa banyak cakap lagi tiba-tiba ia menjerit keras menerjang Tiang Hin!

Tentu saja Lily yang mengira Tiang Hin tidak mempunyai kepandaian apa-apa, segera maju menangkis pukulan bocah gundul ini.

Namun, begitu segebrakan ia menangkis lengan Kong Beng, tiba-tiba dirasakannya kepala Lily berputar dan terhuyung-huyung mundur.

Ternyata ia masih terpengaruh oleh sebab pukulan-pukulan Thay-bengcu dan Nakayarinta tadi.

Kong Beng yang sudah marah menerkam gadis yang tengah terhuyung-huyung itu. Namun sebuah lengan telah mendahuluinya menggunakan serangan mendorong sehingga Kong Beng cepat menggunakan kedua tangannya mendorong pula.

“Desss!”

Tubuh Kong Beng terpental ke belakang. Ia menjadi terkejut bukan main merasakan hawa panas menyelusup ke dalam dadanya, maka saking marahnya Kong Beng melakukan serangan yang lebih dahsyat pula.

Akan tetapi kali ini Tiang Hin tidak mau lagi bermain-main, maklum ia bahwa di tempat ini masih banyak lawan-lawan yang tangguh, maka begitu gerakan mencakar dari Kong Beng menyambar pundaknya. Ia sengaja tidak menangkis, hanya mengerahkan sin-kang di pundak.

“Brettt!” Hancurlah baju di pundak pemuda itu.

Namun bersamaan dengan gerakan tangan Kong Beng yang telah mampir di pundaknya, selagi Kong Beng terkejut merasakan betapa pundak pemuda itu tiba-tiba licin dan kuat laksana baja yang dilumuri minyak. Belum hilang kagetnya itu tiba-tiba sebuah tangan menyambar cepat.

Keruan saja Kong Beng menjerit ngeri begitu tiba-tiba tubuhnya melayang jauh dan membentur sebuah batu.

“Prakkk!” Kepala yang gundul itu tepat menghantam batu. Terdengar pekik mengerikan dari jeritan kematian Kong Beng bersamaan kepala yang gundul itu hancur tertimpa batu hitam!

Nakayarinta, Thay-lek Hui-mo dan beberapa kakek Istana Hantu yang berambut riap-riapan menjadi terkejut dan cepat mengurung pemuda itu.

Tiang Hin memegang baju di pundaknya yang robek-robek tercakar tangan Kong Beng tadi, kemudian tersenyum kepada Lily yang berdiri bengong.

“Jangan takut Lily, ada aku di sini. Seorangpun tiada dapat mengganggumu! Percayalah, biarpun aku bodoh, akan tetapi aku tidak bodoh seperti kerbau........” kata Tiang Hin mengeluarkan senyum manis.

Lily terheran-heran.

“Kau........ kau....... hebat Ngong Ma ko tidak kusangka kau bisa juga bermain silat. Hi-hikk........ biarpun kau bernama Ngong Ma, akan tetapi kau tidak setolol dugaanku. Sudah kuduga bahwa engkau........”

“Aku kenapa “

“Kau hebat!”

“Lebih hebat kau Lily!”

Pada saat itu Nakayarinta telah membentak keras,

“Kalian berdua menyerahlah, tiada guna melawan kami. Lihat, kau sudah terkurung. Lebih baik tidak mencari kematian!”

“Ngong Ma koko....... ibuku mati oleh sebab orang-orang ini, aku harus basmi mereka sampai titik darah penghabisan!” kata Lily gemas sambil menggenggam Toat-beng-kiam erat-erat.

“Jangan kuatir Li-moay aku akan membantumu, biar mengorbankan nyawa sekalipun!” kata Tiang Hin perlahan.

“Akan tetapi Ngong Ma, mereka itu lihay sekali.”

“Aku tidak takut. Dengan engkau yang gagah perkasa, biarpun menuju api neraka sekalipun aku tidak pantang mundur!” jawab Tiang Hin gagah mendekati gadis itu.

Dari balik bajunya ia mengeluarkan sebilah pedang yang tergulung. Inilah pedang pusaka yang didapat di dasar jurang itu.

Menurut keterangan Neneknya Bong Kwi Nio pedang ini biarpun tipis namun terbuat dari baja putih yang kuat sekali.

Besi biasa saja akan terbabat putus dengan mudah oleh pedangnya ini. Bong Kwi Nio memberi nama pedang ini, Mo-bin-sin-kiam (Pedang sakti muka iblis).

Melihat pemuda itu meloloskan pedang yang kelihatannya sederhana akan tetapi menyeramkan itu, Lily tersenyum kagum dan pandangannya berseri-seri menatap Tiang Hin,

“Aku sudah sangka bahwa kau bukan orang dusun yang bodoh dan Ngong Ma. Ternyata engkau bukan Ngong Ma sembarangan! Koko........ sebetulnya siapakah kau? dan apakah benar namamu Ngong Ma?”

Dipanggil koko, Tiang Hin bagaikan menari-nari hatinya. Akan tetapi ia menenangkan dirinya,

“Aku memang Ngong Ma, moay-moay. Ngong Ma yang bersedia mengorbankan selembar nyawanya untuk kau!”

Lily menoleh, untuk beberapa lama wajahnya menjadi merah. Akan tetapi entah mengapa hatinya menjadi bahagia bukan main. Apalagi pemuda itu tadi memanggilnya dinda alangkah merdunya sebutan itu.

Sambil tersenyum manis. Lily berkata pelan,

“Ngong Ma koko........ mengapa kau....... kau bersedia mengorbankan nyawamu untukku, mengapa?”

“Karena aku....... aku menyintaimu moay-moay karena........” Tiang Hin tak dapat meneruskan kata-katanya karena lima orang kakek rambut riap-riapan telah menerjang dan seorang di antaranya telah membentak,

“Dua orang muda bangsat! Bukan waktunya tempat ini untuk kalian berpacaran dan berkasih-kasihan. Nih, kukirim kau ke neraka untuk memadu kasih di sana!” bentak kakek tinggi kurus. berambut riap-riapan itu dibarengi dengan lima senjata yang bergerak sekaligus menyerang Tiang Hin dan Lily.

Tiang Hin membelakangi tubuh Lily dan berbisik, “Li moay-moay....... hati... hatilah kau.”

“Koko…… kaulah yang harus berhati-hati!” bisik Lily mesra sambil mencelat ke atas menghindarkan serangan kakek bongkok rambut riap-riapan yang memegang tongkat, dibarengi pula gerakan pedang yang kuat berdesing.

Tentu saja menghadapi serangan ini Lily berlaku cepat, dengan sekali loncatan tinggi ia sudah dapat menghindarkan serangan dua orang kakek rambut riap-riapan itu, malah sambil mencelat di udara itu Lily mengirimkan pukulan dan serangan pedang yang amat dahsyat.

“Trang! Desss.......” bunga api memercik ke muka gadis itu, bersamaan dengan tergulingnya kakek bongkok terhantam pukulan tangan kiri Lily.

Sebuah pedang berdesing di sampingnya, cepat sekali Lily mengelak. Namun gerakan pedang ini sungguh aneh dan luar biasa, tak terduga serangan berikutnya oleh Lily.

Sambil mencelat ke udara Lily memekik kaget ketika merasakan pundaknya terasa nyeri. Begitu ia menengok ternyata pemuda yang berjuluk Thay-bengcu itu yang turun tangan!

“Keparat! Hari ini kau harus mengadu nyawa denganku!”

“Ha-ha-ha, kau gagah juga nona, akan tetapi terus terang saja kau tidak akan dapat mengalahkan ilmu pedangku!”

“Pemuda jahanam. Alangkah sombongnya hatimu! Kau kira aku takut? Majulah!”

Lily memekik keras melintangkan pedang di dada. Rasa nyeri di pundaknya segera didekap oleh tangan kiri dan menotok pundak untuk menghentikan jalannya darah yang mengucur keluar dari luka itu.

Dengan mulut masih tersenyum mengejek, Thay-bengcu memasang kuda-kuda. Tubuhnya merendah hampir berjongkok, pedangnya disembunyikan di balik baju sedangkan lengan kirinya bergerak lambat ke depan dan ke belakang.

Melihat betapa pemuda itu telah menyimpan pedangnya, Lily yang merasa segan menempur lawan dengan tanpa senjata, segera iapun menyembunyikan pedangnya di balik lengan kiri.

Begitu didengarnya pekikan dahsyat dari Thay-bengcu yang telah melayang menyambar dengan tangan diputar-putar, Lily bermaksud hendak mengadu kekuatan lawan.

Iapun menggerakkan lengannya hendak balas memukul pemuda tampan itu.

Akan tetapi Tiang Hin yang melihat cara Thay-bengcu menggunakan lengan diputar-putar, mengeluarkan suara keras. Ia maklum sekali akan keselamatan gadis pujaan hatinya ini bila menangkis sepasang lengan itu, maka sambil membabatkan pedangnya merangsek lawan menggunakan lengan kiri mendorong ke muka, ia telah memapaki pukulan dari tangan Thay-bengcu dengan lengan kiri diputar-putar pula!”

“Dessss!” Dua tenaga dahsyat bertemu di udara.

Thay-bengcu tergempur kuda-kudanya akan tetapi Tiang Hin menggigil keras dan muntahkan darah.

Melihat Ngong Ma terluka, segera Lily memeluk pemuda itu dan berkata cemas,

“Ngong Ma ko....... kau....... kau terluka........”

Namun Tiang Hin menggelengkan kepala. Mengusap darah yang menodai bibirnya dan tersenyum pahit.

“Aku hanya terluka dalam sedikit. Jangan kuatir moay-moay....... hati-hati pemuda tampan itu lihai luar biasa!” bisik Tiang Hin.

Mengelebatkan pedangnya waktu pendengarannya yang tajam merasakan angin pukulan di belakangnya.

Begitu pedang Sin-bin-mo-kiam berkelebat terdengar jeritan mengerikan. Dua orang pembokongnya telah tertembus pedang Tiang Hin.

“Traasss!” Darah merah menetes-netes di ujung pedang pemuda itu. Dua orang penyerangnya berkelojotan dan mati dengan dada tertembus pedang!

Pada saat itu terdengar suara aba-aba:

“Kepung! Kurung…… Serbu dua orang muda itu, jangan biarkan ia lolos!” aba-aba itu terdengar nyaring dan merdu.

Limapuluh kakek rambut riap-riapan yang berpakaian serba hitam bergerak mengurung dengan senjata di tangan.

Tak lama kemudian terjadilah pertempuran yang hebat. Dua orang muda ini terus mendesak ke dalam istana hantu sambil mengamuk.

Terlebih lagi pedang di tangan Tiang Hin bagaikan halilintar menyambar mengiringi kematian bagi pengeroyoknya. Sebentar saja di ruang istana Hantu menggeletak banyak korban.

Namun, kakek Nakayarinta dan tokoh Istana hantu lainnya tidak nampak di tempat itu. Tiang Hin menarik tangan Lily.

“Mereka tentu lari! Mari kita kejar ke dalam!”

“Koko kau hebat....... aku kagum sekali padamu......... Ayo, lukamu itu…… masih sakitkah dadamu koko?” tanya Lily dengan suara cemas.

Tiang Hin dalam larinya ke dalam menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

“Hanya sakit sedikit moay-moay....... Lihat kau juga terluka, biar kubalut dulu lukamu agar tidak banyak darah yang keluar dari lenganmu,” berkata demikian Tiang Hin berhenti. Dan cepat merobek bajunya sendiri membalut luka di lengan gadis itu.

Lily memandang pemuda itu sayu.

“Kau baik sekali koko........”

Ucapan itu hanya disebut oleh senyum Tiang Hin,

“Kau juga sangat baik kepadaku moay-moay,” sahutnya.

“Koko.........?!” Lili memandang dengan mata sayu.

“Hendak mengatakan apa kau moay-moay?”

“Mengapa kau sebaik ini kepadaku?” tanya Lily sambil memandang ke arah lengannya yang terbalut oleh baju Tiang Hin.

Tiang Hin diam.

“Mengapa koko, mengapa kau sebaik ini........? Padahal kita beberapa hari saja berkenalan....... tapi....... budi baikmu........ sudah bertumpuk-tumpuk denganku....... Bagaimana nanti kubalas?”

“Jangan bilang begitu Lily, aku melakukan semua ini karena hatiku yang tulus menolongmu. Kau luar biasa perkasa....... aku kagum sekali........”

“Hanya itu?”

“Ya, aku kagum dan mencintaimu!” bisik Tiang Hin.

Pada saat itu Lily lelah bukan main. Ia menyenderkan tubuhnya di bahu si pemuda. Pandangan matanya tiba-tiba menjadi basah.

“Sungguhkah kau menyintaiku koko, setulus hatimukah?”

“Tentu saja aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Dengan segenap jiwaku, dan segala kuatku! Selama hayat masih dikandung badan aku akan melindungimu! Lily....... marahkah kau kukatakan ini?”

Tiang Hin memeluk gadis itu. Ia sendiri sudah lelah bukan main, sambil memeluk gadis itu ia menyenderkan dirinya ke tembok.

“Senang sekali hatiku koko.”

“Lily katakanlah apakah kau juga mencintaiku?”

Lili tak kuasa untuk menyahut, hanya sebuah anggukkan itu yang memberi kepastian kepada pemuda itu. Waktu Lily menengadahkan wajahnya, Tiang Hin menundukkan mukanya.
Mengecup lama-lama.

Aduhai betapa indahnya dunia ini. Segala kelemahan akan berganti dengan tenaga yang maha mujijat. Itulah cinta.

Cinta membuat mereka terlupa bahwa hidup ke dua orang muda itu berada di sarang harimau dan di mulut naga, yang siap mengoyak-ngoyakkan tubuhnya. Berpuluh mata memandang ke arah dua orang muda yang saling berkecupan itu.

Mereka berdua terlupa bahwa pada saat itu berkelebat banyak orang mengurung tempat itu. Langkah-langkah kaki mereka demikian ringan seperti kucing berjalan. Pandangan mata mereka berapi-api menatap ke arah dua tubuh yang saling mereguk dalam kecupan yang menghanyutkan!

Tiang Hin dan Lily tidak sadar bahwa pada saat itu Thay-bengcu sudah memberi aba-aba kepada orang-orangnya untuk memasang barisan panah, sedangkan puluhan tokoh dari Lu-liang-pay telah tiba di tempat itu.

Nampak diantaranya seorang pemuda bernama Temu Khan, Na Khardu, Seng Lay Kok dan Hay Sun Nio telah tiba di tempat itu. Beberapa perwira Mongol telah tiba di tempat itu.

Akan tetapi mereka ini diam tak bergerak seperti patung memagari tempat itu!

Lily melepaskan pelukan pemuda itu, akan tetapi betapa kaget dan malu mereka ini tiba-tiba gerakannya itu diiringi oleh suara tertawa mengejek dari Thay-bengcu,

“Haaaaaa.......! Sudah puaskah kalian memadu kasih? Sebentar lagi kalian akan kawin piknik ke neraka ha-ha-ha!”

Suara tertawa Thay-bengcu diiringi dengan gerak tangannya memberi aba-aba kepada barisan panah dari tiga penjuru menghujani ke dua orang muda itu.

Tiang Hin dan Lily terkejut sekali, cepat mereka memutar pedangnya menangkis serangan anak panah yang menjepret dengan amat kerasnya.

Saking malunya pemuda ini atas adegan yang tanpa disadarinya tadi ditonton oleh begini banyak orang, pemuda perkasa ini memekik keras dan sambil menggerakkan pedangnya bergulung-gulung melindungi tubuhnya. Tiang Hin mengenjot tubuh ke kiri dan melayang ke barisan panah samping kiri.

Pedang Sin-bin-mo-kiam berkelebat cepat laksana kilat. Terdengar pekik mengerikan. Darah merah muncrat membasahi tembok, dua kepala manusia yang terlepas dari tubuhnya.

“Crattt........ sett....... sett........ trikkkk,” hebat sekali sepak terjang pemuda ini. Puluhan anak buah Istana Hantu barisan panah terbabat pedang pemuda perkasa itu.

Melihat dua puluh orang sudah menggeletak mandi darah, teman-temannya yang lain cepat meloncat mundur.

Te Thian Lomo dan Sian Jiu Nio-nio bergebrak maju, dibarengi oleh berkelebatnya tubuh Nakayarinta, yang telah mengeroyok Tiang Hin.

Menghadapi gelombang serangan yang dahsyat ini, tentu saja Tiang Hin harus mengeluarkan kepandaiannya dan bersilat dengan hati-hati dan waspada.

Meskipun demikian, tiga sabetan dari Thay-bengcu telah melukai pundaknya.

Darah merah menodai pundak yang terobek sampai ke lengan baju. Dua pukulan dari Te Thian Lomo membuat tubuh Tiang Hin terpental menghantam dinding.

Lily cepat berkelebat menghampiri pemuda itu dan menggerakkan pedangnya merangsek Thay-bengcu yang hendak menerjang Tiang Hin.

Serangan gadis ini, amat dahsyat sekali membuat Thay-bengcu berteriak kaget dan membuang dirinya ke kiri, namun sebuah serangan pukulan dari tangan kiri Lily menyerempet ke arah kepala lawannya.

“Aiiiii........!” jeritan itu, suara jeritan wanita.

Lily sampai mencelat mundur melihat betapa rambut dari pemuda tampan Thay-bengcu itu tergerai panjang.

Ternyata Thay-bengcu yang kesohor itu adalah seorang wanita cantik. Dengan terlepasnya mahkota di atas kepalanya membuka tabir bahwa Thay-bengcu itu adalah seorang wanita cantik dan berkepandaian tinggi.

Namun Lily yang sudah tidak memberi hati kepada Thay-bengcu ini, merangsek hebat dengan pedangnya.

Lima orang anak buah Istana Hantu menerjang maju. Lily menggerakkan pedangnya menangkis, akan tetapi sebuah pukulan dari salah seorang kakek tinggi besar bersorban membuatnya ia terhuyung-huyung hendak jatuh.

Ternyata yang menyerangnya barusan adalah Na Kardhu orang Mongol yang sudah ke tempat itu diiringi pula oleh berkelebatnya tubuh Hay Sun Nio dan Seng Lay Kok yang terus merangsek Lily.

“Dukkk!” Lily terpelanting begitu lengan kirinya bertemu dengan kepalan tangan Hay Sun Nio yang kurus kering ini. Ternyata nenek ini ahli tenaga gwakang sehingga lengannya terpukul mundur.

Untung begitu ia terhuyung-huyung cepat tubuhnya mencelat tinggi karena lima buah senjata pedang dan golok di tangan kakek baju hitam telah menyambarnya cepat. Te Thian Lomo mengangkat tangannya, mengirimkan pukulan jarak jauh ke atas waktu tubuh gadis itu melayang turun.

Namun sungguh luar biasa sekali gin-kang gadis. Biarpun ia tengah berada di udara, namun berkat gin-kangnya yang tinggi Lily meminjam tenaga lawan dan membalik memapaki pukulan Te Thian Lomo.

“Desss!” Di udara tubuh Lily berputar-putar terhantam pukulan Te Thian Lomo. akan tetapi di lain pihak sebaliknya Te Thian Lomo pun mundur sambil memegangi lengannya yang seakan-akan seperti dibakar.

Dadanya terasa sakit bukan main, cepat ia meloncat mundur dan berhasil karena terasa napasnya menjadi sesak.

Nakayarinta dan Sian Jiu Nio-nio bergerak berbareng menyambut turunnya gadis itu, akan tetapi pada saat itu sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu tubuh Lily telah berada dalam pondongannya.

Semua mata membelalak melihat seorang lelaki setengah tua dengan gagahnya berdiri di samping Lily. Akan tetapi begitu melihat lengan laki-laki itu buntung sebelah, keruan saja orang-orang Istana Hantu ini mundur dengan hati keder. Banyak mulut berbisik,

“Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le!”

Mendengar bisikan-bisikan ini, keruan saja Lily dan Tiang Hin memandang dengan hati tak keruan rasa. Tiang Hin memandang dengan hati kagum, dan dadanya menahan keharuan dan iba melihat ayahnya benar-benar lengannya buntung.

Dengan cepat ia berlutut di depan laki-laki itu dan berkata,

“Ayah……!”

Kalau Tiang Le dan Bwe Lan terkejut tak mengerti melihat seorang pemuda sederhana dan nampak sudah penuh noda pada bajunya adalah Lily ia memandang kepada laki-laki yang berlutut itu berganti-ganti.

Sebentar ia memandang ke arah Tiang Hin sebentar pula berganti mengawasi Sung Tiang Le, laki-laki lengan buntung yang telah membuntungi lengan ibunya!

Dilihatnya pendekar itu mengangkat bangun pemuda yang berlutut di depannya dan berkata,

“Anak muda kau sebenarnya siapa?” tanya Tiang Le dengan dada berdebar keras.

Tiang Hin menjura dan memberi hormat.

“Ayah, aku adalah puteramu. Ibuku bernama Cia Pei Pei!”

“Apa? Kau anak Pei Pei, Ya, Tuhan, jadi kau anakku?” Dengan mata basah Tiang Le memeluk pemuda sederhana yang gagah itu.

Pada saat itu Tiang Le mengegoskan diri ke samping merasakan angin senjata menyambar belakangnya.

“Sung Tiang Le, laki-laki bangsat! Hari ini aku harus membuat perhitungan denganmu!”

Ternyata Lily telah menyerbu Tiang Le dengan pedangnya. Namun Tiang Hin lebih cepat menangkis pedang gadis itu.

“Li moay-moay....... jangan........ jangan........ kau......”

“Bangsat! Kau juga harus mampus!” Lily membentak pemuda itu dengan tusukan dahsyat.

Akan tetapi dengan mudahnya Tiang Hin mengelak ke kiri dan cepat menubruk gadis itu.

“Moay-moay....... kau....... jangan serang ayah....... Dia itu ayahku moay-moay. Jangan begini!”

“Jahanam, dia itu telah membuntungi lengan ibu. Aku harus balas penghinaan ini……. Kau…. ahhh betapa kecewanya hatiku!” Sambil menangis Lily melancarkan pukulan tangan kiri mendorong pemuda itu.

Saking bingung dan tak mengerti mengapa gadis yang menjadi pujaan hatinya menyerang ayahnya, maka dorongan tangan kiri Lily tak keburu dielakkan lagi.

“Bukkk!” Tiang Hin terpental jauh. Dari mulut mengalir darah.

Lily memburu dengan pedang di tangan dan mengelebatkan pedang itu.

Sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu sebuah sabuk sutera merah telah melibat pedang si gadis.

Lili menoleh ke arah perempuan setengah tua dengan pandangan berapi-api.

“Kau…….?”

“Bocah gila! Kau bukan saja hendak membunuh ayahmu sendiri malah hendak mencelakai saudaramu! Benar-benar anak put-hauw!” Saking marahnya Bwe Lan membentak marah.

“Kau……. kau siapa?”

“Aku isteri Sung Thiang Le, namaku Liang Bwe Lan. Akan tetapi suamiku ini juga mempunyai seorang kekasih yang bernama Lie Bwe Hwa, yang kemudian melahirkan engkau.

“Pemuda itu adalah anak Cia Pei Pei bekas kekasih suamiku, jadi kalian ini adalah anak-anaknya. Mengapa kau begini tidak tahu budi?”

“Apa? Dia ayahku........!” Pedang di tangan Lily menggigil menunjuk kepada Pendekar Lengan Buntung.

Akan tetapi pertanyaannya ini disambut oleh suara tertawa Nakayarinta yang mengekeh seakan-akan mentertawakan sebuah kejadian yang dianggapnya lucu!

“He-he-he……. dasar si Tiang Le mata keranjang hidung belang! Punya bini nggak cukup satu akhirnya beginilah jadinya....... he-he-he........!”

“Nakayarinta! Tutup mulutmu!”

“Ha-ha-ha Tiang Le, kalau dulu kalian boleh jadi dapat lolos dari sini, akan tetapi sekarang jangan harap. Lihat, seluruh gedung ini sudah terkurung oleh orang-orang Istana Hantu ha-ha-ha-ha!”

Akan tetapi dengan tenang, Tiang Le maju ke depan dan membentak, “Muka hitam, buka matamu lebar-lebar! Yang mengurung Istana Hantu ini adalah tiga partai besar yang siap hendak menghancurkan Istana Hantu, lihatlah baik-baik!

“Jangan seperti orang mengigau kalian di sini, haaaa tinggal berapa puluh orang lagi saja, akan tetapi lihatlah limaratus orang gagah siap menanti kalian di hutan sana itu, kalian hendak meloloskan diri ke mana, haaaaa!”

“Sung Tiang Le manusia sombong, hari ini kau harus mampus di tanganku!” bentaknya Nakayarinta ini dibarengi dengan kelebatan tongkatnya mengarahkan tempat-tempat yang berbahaya di tubuh Tiang Le dengan menggunakan serangan tongkat dari jurus yang sangat dahsyat.

Tiang Le dengan senyum mengejek menanti datangnya serangan ini. Ia mengumpulkan tenaganya, menanti datangnya tongkat lawan sampai dekat, kemudian sekaligus ia melompat dengan dua macam gerakan.

Tangan kirinya bergebrak menggunakan jurus Tok-pik-kiam-hoat sedang gerak tangan kilat membarengi secepat itu pula. Ia mencabut pedang buntungnya menangkis serangan tongkat yang datang dengan gerakan dahsyat itu.

“Trangkkk!” tongkat ular kobra di tangan Nakayarinta menjadi buntung ujungnya ketika bertemu dengan pedang pusaka buntung Tiang Le. Dan dalam kagetnya Nakayarinta sampai kurang memperhatikan datangnya hawa pukulan dari tangan kiri Tiang Le yang bergebrak menggunakan gerak tangan kilat!

Tiba-tiba kakek itu berteriak dan terhuyung-huyung mundur sampai tiga tindak, terkena pukulan tangan kiri Tiang Le pada dadanya. Pucat wajah Nakayarinta.

Tidak hanya tongkatnya telah menjadi buntung. Terutama sekali karena hebatnya gerak tangan kilat dari Tiang Le yang hawa pukulannya dengan tepat telah mengenai dadanya.

Baiknya ia adalah seorang yang sudah memiliki hawa sin-kang di tubuhnya sehingga hawa ini secara otomatis telah dapat menolak pukulan gerak tangan kilat yang luar biasa dahsyatnya itu.

Namun karena pukulan Tiang Le ini hebat bukan main, tenaga sin-kangnya masih kalah kuat, membuat kakek muka hitam Nakayarinta terhuyung-huyung dan menderita luka dalam di dadanya.

Ia merasa dadanya sakit dan napasnya sesak akan tetapi dengan pengerahan lwekang tingkat tinggi ia dapat mempertahankan dirinya.

Dan berdiri dengan muka pucat dan malu. Dalam segebrakan saja ia sudah terluka. Sungguh memalukan.

Saking marahnya kakek ini kemudian menyerbu dengan mengeluarkan gerengan yang dahsyat, dibarengi pula bergeraknya tubuh Sian Jiu Nio-nio dan Tung-hay Nio-nio!

Menghadapi serbuan ini, Tiang Le bergebrak dengan Tok-pik-kun-hoat yang memang lihay itu.

Ia tidak gentar menghadapi orang-orang ini, namun demikian ia harus berhati-hati, karena lawan-lawannya ini cukup tangguh dan bukan manusia sembarangan!

Betapapun juga Pendekar Lengan Buntung ini patut dikagumi. biarpun hanya bersilat dengan sebelah tangan, yaitu tangan kiri yang memegang pedang.

Namun ia masih berhasil mempertahankau diri sampai puluhan jurus biarpun dikeroyok oleh tiga orang yang berkepandaian tinggi ini.

Nakayarinta menjadi penasaran dan marah biarpun tongkatnya sudah buntung sebagian, akan tetapi tidak mengurangi kelihaiannya dan masih cukup kuat!

Sementara itu, Bwe Lan juga tidak tinggal diam. Biarpun ia bersenjatakan sabuk sutera merah dan tongkat ranting kecil di tangannya.

Akan tetapi nyonya pendekar buntung ini sangat gagah dan luar biasa sepak terjangnya, kemana saja sabuk sutera merah itu melayang, di situ ia mencabut nyawa manusia.

Dalam beberapa jurus saja sabuk suteranya itu berhasil melemparkan tiga orang kakek lstana Hantu dengan kepala pecah membentur tembok, sedangkan tongkat ranting kecil di tangannya, entah berapa banyak lawannya yang jatuh tertotok oleh gebrakan-gebrakan tongkat kecil yang lihai ini!

Sementara itu, Tiang Hin yang dikeroyok oIeh Na Kardhu dan Seng Lay Kok dan Hay Sun Nio telah kehilangan jejak Lily.

Sambil bersilat ini, hati pemuda perkasa itu, tidak enak bukan main karena Lily tidak lagi dilihatnya di situ, maka ia mempercepat gerakan-gerakan pedangnya hendak merobohkan lawan-lawannya yang mengeroyok ini.

Pedangnya bagaikan halilintar menyambar-nyambar dahsyat.

Pada jurus kelimapuluh dua, dengan dua macam gerakan sekali gus ia telah dapat memukul dada Na Khardu dan Seng Lay Kok sehingga dua orang dari Mongol ini terhenyak jatuh dengan dada hitam oleh sebab pukulan-pukulan tangan kiri Tiang Hin yang lihai, sedangkan pedangnya berkelebat merangsek Hay Sun Nio.

Tentu saja menghadapi gelombang serangan yang dahsyat ini, Hay Sun Nio napasnya sudah empas empis kewalahan menghadapi pemuda yang tangguh ini.

Apalagi setelah mendengar jeritan mengerikan barusan dari anaknya dan Na Khardu, ia menjadi marah dan gerakannya asal saja.

Sehingga suatu kesempatan bagi Tiang Hin pedangnya menerobos masuk dan tanpa berteriak lagi, tubuh Hay Sun Nio telah tertembus pedang Sin-bin-mo-kiam yang sudah berlumur darah itu.

Akan tetapi sungguh kuat sekali nenek ini biarpun dadanya sudah tertembus pedang sampai ke punggung, namun ia tidak mengeluarkan jeritan malah tangan kirinya bergerak menampar dahsyat, mengiringi tubuhnya yang sudah terhuyung-huyung roboh!

Pada saat itu, Tiang Hin sudah lelah bukan main. Bukan saja ia harus mengerahkan tenaga yang kuat dalam pertempuran barusan juga luka di pundak dan lengannya banyak sekali mengucurkan darah.

Ditambah lagi melihat Lily yang sudah tidak kelihatan di situ, maka pada pukulan Hay Sun Nio yang terakhir, ia tak dapat mengelak lagi. Punggungnya yang sudah terluka itu tersambar pukulan yang kuat dari nenek itu.

“Blukkk!” Tiang Hin terjengkang ke belakang, membentur tembok dan menggeloso jatuh. Pandangannya berkunang-kunang, kepalanya pening bukan main.

Cepat pemuda itu pejamkan matanya dan apabila dirasa kepalanya tidak mutar lagi, ia memandang ke depan.

Nenek yang tadi tertembus pedangnya sudah roboh tak bernapas lagi.

Sementara dilihatnya puluhan orang gagah menyerbu ke tempat itu dan terjadilah perang yang cukup hebat di dalam gedung Istana Hantu itu.

Dilihatnya ayahnya mengamuk hebat, pedang pusaka buntung menetes-netes darah.

Melihat betapa ayahnya begini semangat bangkit pula tenaga Tiang Hin perlahan ia berbangkit dengan terhuyung. Dan dengan memegangi tepi tembok pemuda ini berjalan mencari Lily!

<>

Kemanakah perginya Lily?

Lily yang merasa kecewa sekali melihat keadaan pemuda yang bernama Ngong Ma itu yang ternyata adalah putera Pendekar Lengan Buntung sakit hatinya apalagi tadi mendengar pengakuan pemuda itu.

Jadi pemuda itu adalah putera Pendekar Lengan Buntung dan bernama Sung Tiang Hin ahhh........ mengapa pemuda itu menyembunyikan keadaan dirinya....... mengapa ia mengaku bernama Ngong Ma?

Melihat betapa dengan penuh kasih sayang pemuda itu dipeluk oleh Tiang Le.

Gugur bendungan airmata Lily betapapun juga merindukan seorang ayah, dan ayahnya itu adalah Sung Tiang Le.

Bagaimana ini? Tiba-tiba Lily teringat akan pesan kakek Sin Kun Bu-tek sebelum menjelang kematiannya:

“Lily........ kau........kau tidak boleh bertempur dengan ayahmu, ayah kandungmu. Tak baik kau menyerangnya, tidak boleh begitu Lily.

“Seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya. Kau seharusnya mencari Tiang Le dan membawanya kepada ibumu!”

Gugur lagi bendungan air mata Lily. Benarkah kata-kata kakeknya itu bahwa Sung Tiang Le adalah ayahnya, tapi mengapa ibunya hendak menuntut kebuntungan lengannya?
Apa ayahnya telah membuntungi lengan ibunya?

Mengapa pula ayahnya berlengan buntung siapakah yang membuntungi?

Pusing Lily memikirkan ini. Terlebih lagi begitu melihat pemuda yang bernama Sung Tiang Hin itu sudah bertempur membantu ayahnya.

Sampai untuk beberapa lama, Lily bengong. Hatinya pada saat itu seperti di remas-remas!

Ada perasaan kecewa dan sedih, melihat keadaan pemuda yang tadinya amat dikaguminya itu, kini ternyata adalah putera Sung Tiang Le.

Ahh, terlebih suka kalau pemuda itu sebagai Ngong Ma! Dan tidak seperti keadaan sekarang. Tiba-tiba, pendengaran yang tajam mendengar suara langkah-langkah kaki yang berjalan di ruang sebelah.

Cepat ia mencelat ke kiri dan dilihatnya seorang laki-laki berpakaian mewah dengan membawa pedang di tangan membalikkan diri kepadanya, melitat bahwa pada dada laki-laki setengah tua itu bertulisan Pay-cu Lu-liang-pay.

Lily menjadi terkejut dan demikianlah seperti yang telah dituturkan di bagian depan, ia berhasil membunuh pay-cu Song Cie Lay dengan mudah sekali karena orang setengah tua ini entah mengapa tidak menangkis serangannya!”

Rasa herannya itu lenyap, begitu seorang jelita puteri dari pay-cu ini telah menubruknya dengan terjangan-terjangan cukup hebat.

Tahulah Lily bahwa ternyata gadis Thay-bengcu yang kesohor itu adalah puteri Pay-cu Song Cie Lay!

Pertempuran di ruang itu cukup hebat. Setelah bertempur limapuluh jurus, nampak sekarang Lily terdesak hebat.

Baru sekarang ia tahu bahwa gadis yang menjadi Thay-bengcu ini sungguh dahsyat permainan pedangnya, malah tokoh-tokoh seperti Bu-tek Sianli dan Nakayarinta tidak dapat menandingi ilmu pedang gadis itu.

Pantas saja gadis yang teguh ini dapat menaklukan mereka!

Memang Song Cu Ling hebat! Kalau tidak masakan ia dapat mengangkat diri menjadi Thay-bengcu?

Ini disebabkan ia telah menghisap seluruh kitab pelajaran silat dari perpustakaan kaisar di Mongol. Sehingga permainan pedangnya sungguh mengagumkan!

Pedang di tangan Cu Ling biarpun bukan pedang pusaka akan tetapi cukup kuat dan kalau tidak terkena secara tindih, belum tentu terbabat putus.

Namun demikian gadis yang bernama Song Cu Ling ini mempunyai tenaga lwekang yang cukup tinggi, maka dengan gerak pedangnya itu ia hendak mendesak Lily!

Memang Lily sudah terdesak pada saat itu sebuah tamparan tangan kiri gadis itu bersarang di pelipis Lily, membuat Lily terhuyung ke belakang.

Sebuah kilatan pedang di tangan Song Cu Ling meluncur cepat menusuk ke arah Lily yang tengah sempoyongan itu, Lily cepat berkelit ke kiri dengan membuang diri. Namun terlambat lengannya terserempet pedang.

Darah mengucur deras di lengan Lily yang buru-buru mendekap lengannya.

Ia meringis menahan nyeri, karena serempetan pedang tadi membuat pedang tadi membabat daging dilengannya terkelupas sampai kelihatan tulangnya.

Cu Ling mengejek, mengelebatkan pedang di depan dada berdiri angkuh,

“Hemm, permainan pedangmu boleh juga. Aku kagum kepadamu sobat, akan tetapi kau…… kau telah mencelakakan ayah….. kau telah membunuhnya. Maka terpaksa aku harus membunuhmu pula!”

Sambil meringis Lily membentak, menggenggam pedangnya erat-erat:

“Gadis siluman! Ibuku juga mati karena engkau. Kau........ kau lebih kejam daripada iblis!”

Song Cu Ling tersenyum manis.

“Ibumu mati karena selaku orang gagah, ia tidak tunduk denganku. Terpaksa orang-orangku membereskannya!”

“Keparat, kau manusia tak berjantung!”

Saking panasnya hati Lily, gadis ini menerjang mengelebatkan pedangnya menusuk dada lawannya. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek, Cu Ling mengelak ke kiri dan mengebaskan lengan bajunya menampar lengan Lily yang memegang pedang.

Tamparan lengan baju ini membuat Lily yang memang sudah lelah bukan main, menjadi terjerembab dan jatuh telungkup.

Pada saat itulah sebuah bayangan berkelebat dan menangkis pedang yang sedianya hendak, ditusukkan ke arah Lily.

“Trangggg!”

Song Cu Ling terhuyung oleh benturan pedang.

Ternyata Tiang Hin telah berdiri di situ dengan pedang di tangan. Buru-buru ia memeluk Lily yang jatuh tertelungkup. Dari bibir gadis itu mengalir darah.

“Moay-moay.......!” Tiang Hin memeluk dan berusaha hendak membangunkan pujaan hatinya.

Akan tetapi Lily yang menjadi kecewa melihat bahwa pemuda itu adalah putera pendekar lengan buntung Sung Tiang Le dengan cepat membalikkan tubuh dan bergebrak memukul dada Tiang Hin.

“Desss!” Saking kerasnya pukulan Lily membuat tubuh Tiang Hin terpental dan tiba-tiba dari mulut pemuda itu muntahkan darah segar.

Tiang Hin mengusap darah yang berlumuran di dadanya dan menarik napas lemah, “Moay-moay....... mengapa kau menyerangku? Apa salahku!”

“Kau........ jahanam! Telah mempermainkan aku dengan memakai nama Ngong Ma. Kau....... kau....... ahh, kau benar-benar mengecewakan hatiku........” Lily tak dapat meneruskan kata-katanya.

Ia menodongkan ujung pedangnya di depan dada Tiang Hin.

“Kau telah menipuku mengaku bernama Ngong Ma, padahal kau....... kau musuh besarku!”

Bibir Tiang Hin tersenyum duka, “Moay-moay jangan....... jangan kau bilang begitu............. kau maafkanlah aku, namaku memang bukan Ngong Ma. Aku Sung Tiang Hin, kau maafkanlah aku!”

“Maafkanmu? Enak saja kau ngomong! Tiang Hin, tahukah kau bahwa ibuku lengannya dibuntungi oleh Sung Tiang Le dan aku aku harus buntungi lengan Pendekar Lengan Buntung.

“Aku sudah bersumpah hendak membunuh dan membasmi seluruh keturunan Pendekar Lengan buntung, termasuk kau!” tangan Lily yang memegang pedang sudah memegang siap untuk menyerang.

Tiang Hin memandang sayu ke arah gadis yang dalam pandangannya itu demikian cantik luar biasa, akan tetapi begitu pandangan Lily menatapnya berapi-api. Tiang Hin menarik napas duka, wajahnya bertambah pucat dan sinar matanya layu.

“Lily simpan pedangmu mari kita bicara baik-baik!”

“Setan! Kau hendak merayuku. Sung Tiang Hin kau putera Pendekar Lengan Buntung, hayo lekas berdiri dan siap uatuk bertempur mati-matian.” Lily menantang sambil membantingkan kakinya.

Sementara mereka tidak memperdulikan lagi akan Song Cu Ling. Gadis itu mengangkat jenasah ayahnya dan berlalu pergi, membiarkan dua orang muda yang dianggapnya gila itu saling bertengkar.

Tiang Hin juga, yang tidak bernapsu lagi hatinya untuk bertempur, hanya memandang perginya gadis yang bernama Song Cu Ling itu. Kemudian menoleh kepada Lily yang tengah membanting-banting kaki menantangnya.

“Pengecut! Apa kau takut menghadapi pedangku?”

“Sesukamulah. Kau boleh memaki aku apa saja. Akan tetapi yang penting aku tidak sanggup melawanmu, moay-moay! Kemarilah!”

Akan tetapi perkataannya disambut dengan kelebatan pedang yang demikian cepat dari Lily yang sudah menjadi marah.

Tiang Hin tidak bergeming, bergerak sedikitpun tidak. Akan tetapi terdengar baju sobek dan darah mengucur keluar dari pundak kirinya, membasahi bajunya yang berwarna putih. Sebentar saja baju Tiang Hin menjadi merah oleh darahnya sendiri!

“Moay-moay begitu bencikah hatimu padaku, kau hendak membunuhku? Bunuhlah moay-moay, mati di tanganmu aku bahagia.

“Akan tetapi mengapa kau bertindak kepalang tanggung, dan mengapa kau selewengkan ke pundak? Inilah dadaku Lily moay, kau tusuklah.”

“Kau....... kau....... mengapa tidak mengelak?” Lily berdiri dengan muka pucat, matanya terbelalak lebar, bibirnya gemetar dan tangan yang memegang pedang menggigil. Ngeri ia melihat darah membasahi baju di dada Tiang Hin.

“Sudah kukatakan tadi aku tak sanggup melawanmu Li-moay. Biarlah kalau kau benci kepadaku aku bersedia untuk mati, mati di tanganmu gadis yang pernah kucintai!”

Dua titik air mata snelompat keluar dari sepasang mata Lily ketika ia mendengar pengakuan pemuda itu. Akan tetapi ia menggigit bibir mengeraskan hatinya.

“Kau putera Sung Tiang Le aku…… ahh, aku lebih suka kepada Ngong Ma akan tetapi betapa kecewanya hatiku, aku benci!”

Lily menangis mendekapkan tangannya pada wajahnya, dari balik jari tangan yang lentik itu mengalir air matanya yang lewat dari cela-cela tangan Lily.

Tiang Hin mengeluh. Tiba-tiba tubuhnya roboh terguling.

Lily cepat menubruk pemuda itu, “Koko.......!”

Ternyata saking banyaknya darah yang mengucur di lengan dan pundak itu, membuat pandangan Tiang Hin berkunang-kunang dan gelap. Seluruh ruangan terasa berayun-ayun dan merasakan ada gempa yang hebat.

Dalam kegelapan ini ia mendengar namanya dipanggil oleh Lily. Cepat ia menggapekan tangannya merenggut tangan itu, merenggutnya erat-erat.

Sayup-sayup namanya didengar seperti orang memanggil-manggilnya semakin jauh panggilan itu, semakin jauh!

Tiba-tiba ia terhempas, terhempas jauh sekali. Terbang ke angkasa yang tinggi. Ia berusaha menarik tangan Lily, namun dirasakannya pegangan Lily terlepas. Ia menjerit sekuat hatinya.

Sekuat-kuatnya ia menjerit memanggil nama gadis itu,

“Lily.......!”

“Tiang Hin koko………!!”

Sebuah ledakan berdentum amat kerasnya. Dinding-dinding tembok beruntuhan. Tanah di pegunungan Lu-liang-san bergoyang bagaikan ada gempa yang maha dahsyat.

Tanah-tanah longsor. Api mengebul tinggi bergulung-gulung dari sebuah rumah tua di tengah hutan kecil.

Dalam sekejap mata saja, rumah tua yang bertingkat dua itu sudah hancur berkeping-keping kena ledakan yang amat dahsyat. Para orang gagah yang sedang bertempur, bagaikan diberi isyarat oleh dentuman tadi, berkelebat menjauhi rumah tua itu. Di sana sini, di halaman rumah tua yang sudah ambruk itu menggeletak puluhan mayat manusia yang sudah tak bernyawa.

Darah merah membanjir di sana sini, memercik di antara rerumputan dan daun-daun. Senjata pedang, golok dan toya malang melintang menancap di tanah, suasana menjadi hening setelah ledakan yang amat dahsyat tadi.

Hening dan mati.

Gerimispun mulai turun. Udara tiba-tiba mendung. Awan hitam memberat di hutan kecil itu.

Burung gagak beterbangan di atas, bermandikan air hujan yang mulai turun rintik-rintik. Sebuah kilat menyambar dari atas puncak Lu-liang-san, diiringi suara geledek yang mengguntur, mengejutkan.

Hujanpun turunlah.

Bertambah lebat!

◄Y►

Puncak pegunungan Lu-liang-san tertutup kabut mega mendung. Segumpalan awan hitam menaungi puncak itu, sementara hujanpun turun dengan lebatnya membasahi tanah di atas puncak pegunungan Lu-liang-san yang penuh dengan mayat manusia yang bergelimpangan bermandikan darah.

Pertempuran di atas puncak itu terjadi amat seru dan dahsyat, sesosok tubuh seorang gadis yang sudah berlumuran darah mengamuk dengan hebat.

Setiap kali kilatan pedangnya menyambar tentu dua atau tiga orang lawannya roboh dengan tubuh mandi darah.

Sebuah kilat menyambar menerangi suasana yang samar-samar itu, dibarengi dengan kilatan pedang si gadis amblas masuk ke dalam dada seorang Mongol yang tak keburu mengelak dari sambaran pedang yang dahsyat itu.

Suara mengerikan membahana di puncak, sementara pengurungan dari orang-orang Lu-liang-pay bertambah ketat.

Bertambah banyak memenuhi puncak itu, namun meskipun sudah banyak korban yang jatuh di tangan pedang gadis itu, akan tetapi tetap saja pengurungan bertambah ketat.

Hujan berderai lebat, angin kencang berhembus dengan amat kencangnya. Suasana menjadi gelap. Hanya sekali-sekali sambaran petir itu saja yang menerangi alam sekitarnya.

Gadis yaug mengamuk dengan hebatnya itu adalah Sung Hong Kwi. Seperti telah dituturkan pada bagian depan, gadis ini terbius oleh pemuda temannya yang bernama Nguyen Hoat.

Setelah itu tak sadarkan diri, setelah itu barulah ia tahu bahwa kehormatannya telah direnggut oleb Nguyen Hoat, maka begitu sadar, Hong Kwi mengamuk hebat.

Pemuda yang bernama Nguyen Hoat itu, entah hidup entah mati menggeletak dalam kamar terkena pukulan gerakan tangan kilat yang luar biasa hebatnya dari tangan kiri si gadis yang telah menjadi marah.

Kemudian, ia meninggalkan kamarnya itu dan mengamuklah ia dengan sengitnya membunuhi semua tokoh-tokoh Lu-liang-pay. Namun seperti kita ketahui, partai Lu-liang-pay ini merupakan salah satu partai yang sudah mencapai maju dan banyak anggotanya.

Begitu mengamuk, tentu saja orang-orang Lu-liang-pay maju mengurung gadis itu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat!

Tiga orang kakek tokoh pertama dari Lu-liang-pay ini, maju merangsek. Yang seorang kakek gemuk pendek berpakaian serba hitam memakai senjata ruyung sedangkan dua orang kakek lainnya, bermuka pucat, tubuhnya kurus kering seperti tengkorak bersenjata rantai baja yang besar dan berat.

Dua orang inilah yang terkenal di Lu-liang-pay. Mereka ini dijuluki Siang-pian-sin-kek (sepasang pendekar rantai baja) Mo Yung, dan Mo Siang, sedangkan kakek gemuk pendek tadi adalah Coa Ong Jin, disebut si Ruyung Sakti.

Namun ketika orang ini begitu bergebrak alangkah kagetnya mereka ini, karena benturan rantai Mo Yung tergetar hebat begitu terkena tangkisan pedang lawannya, sedang kan Mo Siang berteriak kaget merasakan angin pukulan yang maha dahsyat merempet pinggangnya dan kalau tidak ia buru-buru menghindarkan diri, tentu ia akan celaka.

Kendati demikian tetap saja ia terhuyung mundur dengan muka pucat.

Hong Kwi tertawa mengejek, mematukan ilmu pedang Tok-pik-kiam-hoat yang dahsyat bagaikan halilintar menyambar ini.

Dibarengi dengan bentakan-bentakan yang merampas semangat lawan, karena ia sengaja mengerahkan khi-kang tinggi melumpuhkan semangat lawan.

“Anjing-anjing Lu-liang-pay, majulah! Rasakanlah ini!” bentakan gadis ini bagaikan guruh yang menggelegar, karena begitu sinar pedang berkelebat, terdengar suara kesakitan dua orang pengeroyoknya terluka hebat oleh sambaran pedang itu.

Melihat keganasan gadis ini, Mo Yung memberi tanda mengeroyok gadis itu. Tigapuluh orang berpakaian baju hitam bergerak berbareng.

Senjata golok, pedang, toya dan rantai baja, saling dulu meluncur ke arah tubuh Hong Kwi. Namun sambil mengeluarkan pekikan dahsyat Hong Kwi sudah mencelat tinggi.

Dan begitu tubuhnya turun menukik, terdengar jeritan kematian dari dua orang pengeroyoknya di bawah. Sebuah lengan manusia jatuh berdebuk, darah merah menyembur dari tangan yang buntung itu.

Hong Kwi tak memberi hati lagi kepada pengeroyoknya ini, menerjang dengan tusukan pedang yang begitu cepat laksana kilat menyambar.

“Blesss!” Dua tubuh manusia tertembus pedang jadi satu bagaikan tusukan sate, Hong Kwi menekan pedangnya.

“Crassss! Crass........!” Darah merah mengucur dari ujung pedang yang ditarik dan ditekan oleh gadis yang luar biasa ini. Tubuh manusia terbelah dua, usus dan jantung berantakan oleh sabetan si gadis.

Melihat keganasan gadis ini. Mo Siang menjadi marah dan memerintahkan kepada teman-temannya untuk mengeluarkan barisan panah.

Tigapuluh orang barisan panah maju ke depan dan menarik gendewanya, suara jepretan keras mengiringi meluncurnya puluhan batang anak panah.

Cepat Hong Kwi memutar pedangnya dan semua anak panah terpukul runtuh oleh putaran pedang si gadis.

Akan tetapi, ternyata para barisan panah ini cukup cerdik. Mereka tidak melakukan serangan sekali gus, melainkan beruntun.

Kalau rombongan pertama selesai, disusul kemudian oleh barisan kedua, lalu terus disambung pula oleh rombongan lain yang menggerakkan tali gendewa. Dengan demikian anak panah yang menghujani Hong Kwi tak pernah berhenti!

Hong Kwi mendongkol bukan main, ia kini sudah menjadi marah dan nekat. Sambil memutar terus pedangnya sehingga tubuhnya tidak kelihatan oleh gulungan sinar pedangnya sendiri, Hong Kwi memekik keras.

“Anjing-anjing Lu-liang-pay bangsat, hayo kalian semua maju. Aku puteri Pendekar Lengan Buntung takkan mundur barang setapakpun!”

Akan tetapi jawabannya ini disambut oleh puluhan anak panah yang menyambar, malahan di antaranya terdapat pula senjata rahasia seperti pisau terbang, jarum, dan lain sebagainya!

Hong Kwi menggigit bibirnya, menahan rasa sakit waktu ia merasakan tiga buah jarum telah menembus kulit di punggungnya, gerakannya menjadi lemah. Pada saat itutah sebuah anak panah dengan tepat sekali telah menancap di lengannya.

Darah merah mengucur dari lengan itu. Akan tetapi sambil menahan rasa sakit, gadis yang luar biasa perkasanya ini masih terus bertahan malah melancarkan serangan-serangan yang lebih ganas lagi.

Sabuk suteranya terlolos dari pinggangnya. Sekarang dengan pedang di tangan kanan dan sabuk sutera di tangan kiri gadis ini mengamuk hebat!

Hong Kwi mongeluarkan seruan pekikan yang sangat memekakkan telinga. Begitu tangan kirinya bergerak, sabuk sutera merah itu melayang ke atas dan turun bergerak-gerak bagaikan ular naga yang siap merebut mustika. Sabuk ini meluncur cepat ke arah barisan panah yang bergerak hendak mundur.

Namun begitu cepatnya sambaran sabuk ini seorang di antara rombongan panah terjirat lehernya dan terangkat naik. Hong Kwi menghentakkan tangannya ke atas, dan tiba-tiba saja terdengar jeritan mengerikan dari orang itu.

Tubuhnya terlempar ke atas dan melayang jatuh menimpa batu.

“Prakkk!” pecahlah kepala orang itu dengan tidak bersambat lagi.

Darah dan otak berhamburan pada batu hitam itu.

Dibasahi oleh air hujan yang mulai turun dengan lebatnya. Muka Hong Kwi sudah pucat bagaikan mayat, seluruh pakaiannya sudah basah kuyup.

Dingin yang luar biasa ini membuat pedang yang terpegang di tangan menggigil, dan membeku.

Akan tetapi gadis yang perkasa ini tidak mundur, malah semakin lama semakin dahsyat gerakan-gerakannya.

Pada saat itu, Hong Kwi sudah lelah sekali. Juga darah yang mengucur keluar dari luka anak panah di lengannya itu, semakin basah oleh darah dan terasa tangannya sakit dan lumpuh.

Baiknya anak panah itu masih menancap sehingga darah yang keluar dapat tertahan dan tidak begitu banyak. Kalau tidak demikian tentu dalam gerakan ilmu silat, otot-otot yang bergerak dan mengejeng membuat darah keluar banyak sekali!

Hong Kwi mengerahkan tenaga, keuletan dan kepandaian untuk melindungi diri, juga untuk membalas serangan lawan.

Sudah berapa puluh orang yang ia robohkan. Baru-baru ini dapat merobohkan Mo Yung dan Mo Siang sehingga dua orang ini binasa dengan leher terbabat putus oleh pedang, sedangkan kakek yang satu lagi yakni Coa Ong Jin menjerit kaget begitu sabuk sutera gadis itu membelit ruyungnya.

Pada saat itu selagi ia kaget dan gugup, Hong Kwi menggerakkan pedangnya.

“Crassss!”

“Bretttt!” Hong Kwi menarik pedangnya yang amblas tertancap di dada orang itu.

Darah merah mengucur dari ujung pedang. Gadis itu tertawa keras mengawasi pedangnya yang berlumur darah.

Pada saat itu, dari dalam gedung berlompatan banyak bayangan orang.

Tahu-tahu Sian Jiu Nio-nio, dan Tung Hay Nio-nio sudah menerjang Hong Kwi dalam deraian hujan yang bertambah lebat.

Melihat munculnya orang-orang ini, Hong Kwi tertawa keras, “Haaaa majulah........ majulah akan kukirim kalian ke neraka!”

“Bocah sombong jangan banyak lagak!” bentak Tung Hay Nio-nio yang menerjang dengan tongkat kecilnya.

Menghadapi sambaran tongkat kecil ini Hong Kwi tertawa keras, menyabetkan sabuk suteranya ke arah tongkat ranting yang berkelebat di sampingnya.

Namun pada saat itu, kakek Lu-liang-pay menerjang dengan pukulan cengkeraman Eng-jiauw-kang yang terkenal itu, sedangkan Sian Jiu Nio-nio telah menggerakkan rambutnya menyerang.

Tentu saja menghadapi tiga pukulan sekali gus ini, Hong Kwi yang sudah lelah sekali tak dapat bergerak cepat waktu pukulan rambut Sian Jiu Nio-nio tiba-tiba melibat lengannya, dan ia tertarik oleh sentakan rambut lengannya, dan ia tertarik oleh sentakan rambut itu.

Kakek Lu-liang-pay menyerbu dengan pukulan tangan kiri.

Tentu saja karena Hong Kwi dalam keadaan terhuyung-huyung ia tak dapat lagi menangkis serangan pukulan lawan.

“Bukkkk!” Tubuh Hong Kwi terhantam pukulan tangan kiri si kakek dengan kerasnya. Bagaikan gasing tubuhnya berputar, bersamaan dengan itu tongkat Tung Hay Nio-nio berkelebat.

“Dessss!” Hong Kwi menggeloso jatuh.

Sian Jiu Nio-nio menerjang dengan cengkeraman tangan kanan dan pukulan rambut yang kuat memukul kepala Hong Kwi yang sudah menggeletak diam.

“Ha-ha-ha gadis liar, mampuslah kau!” Tiga orang lawannya ini melakukan pukulan berbareng.

Pada saat itu kilat menyambar. Sesosok tubuh manusia berkelebat cepat dan menggerakkan kedua tangannya.

“Dessss....... brettt dukkk!” Aneh sekali, tiga orang penyerang Hong Kwi mencelat mundur, karena pukulan mereka tiba-tiba menjadi membalik.

Rambut Sian Jiu Nio-nio banyak rontok, sedangkan tangan kiri si kakek terkena angin pukulan dahsyat sehingga terasa panas bagaikan terbakar, sedangkan Thung Hay Nio-nio menjerit kaget.

Begitu tongkatnya yang hampir menyentuh kepala si gadis terpental ke belakang dan hampir menghantam dadanya sendiri.

Dalam suasana remang-remang ini ketiga orang ini, melihat seorang pemuda dan seorang gadis telah berada di tempat itu berdiri dengan keren.

Si pemuda berjongkok menyentuh punggung Hong Kwi yang menggeletak tak sadarkan diri, begitu pemuda ini menotok punggung itu Hong Kwi mengeluh dan cepat ia meloncat berdiri.

“Kau.......?” Pandangan Hong Kwi membelalak dan sinar matanya yang kuyu itu untuk seketika bercahaya.

Akan tetapi apabila Hong Kwi teringat keadaan dirinya, pandangannya jadi meredup kembali seperti lampu kehabisan minyak.

“Jangan takut Kwi moay-moay....... aku datang membantumu!”

“Kau Wang Ie?”

Wang Ie tersenyum. Wajahnya yang berseri-seri itu ditimpah hujan lebat. Pada saat itu, Hwe Lan sudah bergebrak dikeroyok oleh orang-orang Lu-liang-pay yang masih berada di tempat itu.

Akan tetapi begitu gadis puteri Kong-hwa-pay ini bergerak, terdengar jeritan di sana sini, karena pukulan tangan kanan gadis itu sudah merobohkan dua orang pengeroyoknya.

Sian Jiu Nio-nio dan Thung Hay Nio-nio maju menerjang Wang Ie. Cepat Wang Ie menggeser kakinya dan begitu tangan kiri dan kanan melakukan gerakan memutar dengan tubuh agak sedikit jongkok.

Tahu-tahu entah bagaimana caranya. Thung Hay Nio-nio telah sempoyongan dan merasakan tulang pundaknya menjadi pegal-pegal dan lumpuh.

Demikian pula dengan Sian Jiu Nio-nio, begitu tadi pukulan rambutnya menyebar mengirimkan pukulan totokan yang lihai, akan tetapi entah bagaimana caranya tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang sangat kuat sekali merenggut rambutnya sehingga saking kerasnya renggutan ini, membuat Sian Jiu Nio-nio meringis, dan ternyata segumpal rambut itu telah rontok beterbangan di tanah.

Sambil memekik keras, dan menahan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya, nenek ini tiba-tiba mengelebatkan tubuhnya dan lari dari tempat itu, diikuti pula oleh Thung Hay Nio-nio yang menjadi jeri menghadapi pemuda aneh yang mempunyai ilmu silat siluman tadi!

Sedangkan limabelas anak buah Lu-liang-pay yang melihat para pemimpinnya ambil langkah seribu, cepat-cepat merekapun bergerak turun puncak!

Guntur menyambar memekakkan telinga.

Wang Ie memeluk tubuh gadis yang terluka parah itu. Tubuh Hong Kwi sudah menggigil dan pucat bukan main.

Cepat ia membawa tubuh itu ke tempat di bawah pohon yang terhindar dari serangan hujan, kemudian ia memeriksa luka di lengan yang tertancap anak panah, akan tetapi pemuda ini berseru kaget ketika begitu dipegangnya, ternyata darah Hong Kwi sudah keracunan!

Cepat Wang Ie mencabut anak panah yang tertancap di lengan Hong Kwi, kemudian luka itu ditempeli obat.

Rasanya dingin sekali setelah Wang Ie menempeli dengan daun obat yang ditumbuk halus.

Sementara Hwe Lan telah membuat api untuk memasak air buat menggodok akar obat.

Tentu saja gadis puteri Kong-hwa-pay ini pandai sekali ahli pengobatan karena ayahnya sendiri Ho Siang, adalah ahli pengobatan dan ahli silat.

Melihat bahwa wanita itu terluka oleh jarum yang beracun, segera saja gadis ini mengeluarkan benda semacam salju es yang sudah dikeringkan, kemudian benda itu ditempeli di pundak Hong Kwi yang terserang oleh tiga anak jarum berbisa.

Sungguh mujijat sekali, begitu benda salju itu ditempel, tiga buah jarum halus yang menancap di dada di dalam daging di pundak Hong Kwi tercabut keluar.

Darah hitam turut tersedot pula, sehingga benda salju jang tadinya berwarna putih mengkilap kini semakin hitam oleh darah!

Ketika Hong Kwi siuman kembali, ia telah dibaringkan di atas rumput tebal di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya sehingga hujan gerimis tidak menimpah tubuhnya. Ia melihat Wang Ie duduk berjongkok di dekatnya sementara dekat api yang sedang menyala itu seorang gadis jelita sibuk memasak air untuk menggodok obat.

Hong Kwi tidak kenal wanita itu, ia memandang redup ke arah Wang Ie. Terasa tangannya dipegang oleh pemuda itu dengan sentuhan mesra,

“Hong Kwi-moay....... sudah baikkankah?”

Hong Kwi berusaha untuk bangun akan tetapi sebuah tangan menyentuh pundaknya.

“Hong Kwi-moay jangan banyak bergerak dulu karena kau masih lemah, sebentar kau akan minum obat!”

“Biarkan aku duduk Wang Ie,” kata Hong Kwi pelan. Ia bangkit untuk duduk, dipapah oleh sepasang tangan pemuda itu.

Pada saat itu Hwe Lan mendatangi dengan membawa semangkok obat yang baru saja digodok. Bau obat pahit menyengat hidung.

“Sung Lihiap harap minumlah obat ini panas-panas. Akar obat ini berguna sekali untuk mencucikan darah di tubuhmu yang keracunan!” Hwe Lan menyerahkan mangkok itu ke tangan Wang Ie, minta pemuda itu yang memberikan dan meminumkan kepada si gadis.

Hong Kwi memandang Hwe Lan, dan menoleh kepada Wang Ie.

Wang Ie tersenyum, menyodorkan mangkok obat.

“Kau minumlah Kwi-moay. Untung ada Hwe Lan yang pandai ilmu pengobatan, kalau tidak tentu repot sekali, karena aku yang bodoh nggak becus mengobatimu!”

“Dia siapa Wang Ie?”

“Dia puteri Pay-cu Kong-hwa-pay, namanya Khu Hwe Lan,” memperkenalkan Wang Ie.

Hong Kwi mengangguk, mengangkat tangannya menjura menyatakan terima kasih.

Akan tetapi begitu melihat pandangan Hwe Lan terhadap Wang Ie begitu mesra dan intim, dirasakannya hatinya tak enak benar. Apa lagi teringat akan dirinya yang telah ternoda oleh Nguyen Hoat.

Tiba-tiba Hong Kwi bangkit berdiri dan berkelebat ke dalam gedung. Ia teringat kepada Nguyen Hoat yang menggeletak di dalam kamar, maka dengan mengertak gigi ia berlari ke kamar itu.

Wang Ie terkejut sekali, cepat ia sudah mencelat pula mengejar Hong Kwi.

“Hong Kwi-moay........!!”

Hong Kwi terus berlari. Akan tetapi begitu sampai di kamar, tidak nampak tubuh Nguyen Hoat yang tadi menggeletak di situ. Dengan menggertakkan gigi Hong Kwi memaki sengit!

“Bangsat Nguyen Hoat! Aku harus membuat pembalasan!” teriak Hong Kwi kalang kabut memukul tempat pembaringan yang menampakkan noda-noda darah bekas semalam ditidurinya bersama Nguyen Hoat.

Saking marahnya gadis ini, sampai ia muntahkan darah segar dari mulutnya dan terhuyung-huyung. Dirasakannya berat bukan main. Ia hampir saja roboh kalau tidak keburu Wang Ie yang sudah sampai ke tempat itu mencelat dan memondongnya.

“Kwi moay-moay........ kau........ kau kenapa?”

Hong Kwi membuka matanya. Tiba-tiba mata itu menjadi basah. Memeluk Wang Ie. Membenamkan kepalanya di dada pemuda itu sambil menangis.

Wang Ie mengusap kepala Hong Kwi dengan sentuhan mesra.

“Moay-moay........ tenanglah apakah yang terjadi, jangan kau begini moay-moay!”

Bertambah deras air mata Hong Kwi membasahi dada pemuda itu. Hong Kwi menangis sedih, apabila tangan lembut pemuda ini mengelus kepalanya dengan sayang, kemudian begitu tadi Wang Ie memanggilnya “Moay-moay” Hong Kwi bertambah sedih lagi.

“Koko kau........ kau maafkanlah aku.”

Wang Ie menundukkan mukanya, memandang wajah Hong Kwi dalam-dalam.

“Seharusnya aku yang minta maaf kepadamu moay-moay, bukankah aku yang telah meninggalkanmu?”

Hong Kwi menangis sedih, air matanya bercucuran memandang pemuda itu. Sementara melihat gadis ini menangis sedih, hati Wang Ie seperti diremas-remas rasanya.

Ia memeluknya erat-erat. Hong Kwi membalas pelukan pemuda itu.

Teramat mesra.

Sepasang mata melihat adegan ini dengan mata basah, tiba-tiba Hwe Lan membalikkan tubuhnya dan menangis pula.

Ahh, tidak disangka bahwa Wang Ie mempunyai kekasih, mengapa ia begini bodoh? Selama perjalanannya dengan pemuda itu, Hwe Lan jatuh hati kepada pemuda itu.

Dan diam-diam ia mencintai pemuda itu. Akan tetapi sekarang?

Terasa hatinya sakit sekali. Seperti ditusuk-tusuk rasanya. Wajahnya merah dan panas. Perasaannya tidak keruan macam, ada rasa benci, terharu dan iri melihat betapa pertemuan Wang Ie dengan Hong Kwi begitu mesra begitu intim.

Tak boleh aku mengganggu Wang Ie, tak boleh ini sambil terisak, Hwe Lan mengelebatkan tubuhnya dan tahu-tahu bayangannya telah lenyap dari tempat itu. Ia berlari cepat menuju Kong-hwa-san.

Akan tetapi kaki itu terasa berat untuk kembali ke Kong-hwa-pay, di dalam hutan itu Hwe Lan menangis sedih. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tanah berumput.

Pakaiannya yang bekas kehujanan tadi masih basah kuyup rambutnya yang panjang bergerai terlepas dari ikatannya.

Pada saat itu, tiba-tiba ia bangkit berdiri begitu pendengarannya yang tajam mendengar langkah-langkah kaki mendatangi ke tempat itu.

Serombongan orang berlari dengan cepatnya. Hwe Lan memekik girang dan mengelebatkan tubuhnya mengejar rombongan itu ternyata di antara rombongan itu terdapat ayah bundanya.

“Eh, anak bengal kenapa kau menangis? Mengapa wajahmu begitu pucat?” tanya Ho Siang begitu melihat anaknya berlari menghampiri.

Sementara Nyuk In memeluk anaknya dan berkata,

“Hwe Lan kau…… kau terlalu, telah berani turun gunung tanpa memberitahukan kepada kami. Sehingga kami mencari-carimu setengah mati. Kau, menyusahkan hati orang tua saja!”

Hwe Lan memeluk ibunya, tiba-tiba perasaannya yang tadi tertekan, ditumpahkan pada ibu ini.

Ia menangis tersedu-sedu karena ingat masa yang silam, sewaktu masih berada dipangkuan ayah bundanya.

“Eh, eh, eh........ mengapa datang-datang kau menangis?”

“Ibu kau maafkanlah aku.......!” Itu yang dikatakan Hwe Lan. Akan tetapi sebenarnya hatinya merana pada saat itu.

Hatinya merenyuh sakit apabila teringat pemandangan-pemandangan barusan antara Hong Kwi dengan Wang Ie.

Hatinya terasa sakit dan marah! Sakit, karena orang-orang yang selama ini menjadi impiannya dan dikagumi ternyata mencintai gadis lain, pantas sikap Wang Ie selama itu sangat dingin terhadapnya.

Ia benar-benar buta, mencintai pemuda yang sudah mempunyai kekasih, gemas sekali hatinya. Gemas, menyesal dan malu, bercampur aduk! Kini ia hanya menangis di depan ibunya.

Ho Siang menarik tangan anaknya.

“Hwe Lan, diamlah kau, apa kau tidak malu sama banyak orang. Di sini ada Locianpwe Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, dan isteri. Dan tokoh-tokoh dari partai besar. Sudah jangan menangis. Dasar kau memang cengeng!”

Mendengar ayahnya menyebut Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, Hwe Lan menoleh. Dilihatnya laki-laki setengah tua berlengan buntung tersenyum ramah padanya. “Inikah anakmu Siang?” tanya Tiang Le.

“Dia inilah anak tunggal kami, puteri pertama yang bandel dan nakal, namanya Khu Hwe Lan!”

Hwe Lan menghapus air matanya. Tiba-tiba mulutnya berkata, “Cianpwe apakah puterimu yang bernama Hong Kwi?”

Tiba-tiba Bwe Lan mencelat ke dekat Hwe Lan dan berkata, “Kau pernah bertemu dengan puteri kami di manakah dia, dimana Hong Kwi?”

“Betul Lan, kami sedang mencari-cari puteri Locianpwe ini yang bernama Sung Hong Kwi, apakah kau pernah mengenal?”

“Dia……. dia....... di puncak Lu-liang-san terluka.......”

“Apa? Hong Kwi di puncak sana itu, terluka! Tiang Le koko hayo kita ke sana!” Bwe Lan yang berkuatir akan hal anaknya cepat berkelebat dan sebentar saja orang-orang ini telah berada di puncak Lu-liang-san.

Hwe Lan menunjukkan kepada Tiang Le dan membawanya ke dalam gedung Lu-liang-pay. Mereka terus memasuki ke dalam.

Akan tetapi begitu sampai di ruang itu, Tiang Le dan orang-orang gagah lainnya mendengar suara seorang gadis yang berkata dengan terputus-putus dalam tangisan.

Kata-kata itu membuat wajah Tiang Le sebentar pucat sebentar merah. Bwe Lan tak dapat melanjutkan langkah kakinya. Terhenyak di depan pintu.

Terdengar suara Hong Kwi berkata: “Wang Ie koko….. aku....... aku tak layak lagi untukmu....... aku te....... telah ternoda.”

“Hong Kwi, moay-moay....... sudahlah, kau lupakanlah itu....... biar bagaimanapun juga aku....... aku tetap cinta kepada dirimu,” terdengar Wang Ie berkata dengan nada suara lemah,

“Tapi........ tapi........ aku........ aku telah diperkosa........oleh.......,” gadis itu tak kuasa untuk meneruskan kata-katanya begitu tiba-tiba terdengar pintu kamarnya terbuka dari arah luar.

Terlihat Tiang Le sudah berdiri di muka pintu dengan pandangan sebentar pucat sebentar merah.

Dadanya terasa turun naik, apabila dilihatnya Hong Kwi telah berada dalam pelukan pemuda bekas muridnya, Wang Ie!

“Jahanam kau........ kau telah merusak kehormatan dari anak saya Hong Kwi....... kau jay-hoa-cat!”

Tiang Le memaki keras dan begitu pedang buntungnya berkelebat, terdengar Wang Ie berteriak kaget dan cepat ia mengelak ke belakang menarik tubuh Hong Kwi. Namun demikian cepat ia sudah mengelak, tetapi tetap saja pundaknya tersayat oleh gerakan pedang yang luar biasa cepatnya itu.

Wang Ie meringis merasakan pundaknya sakit bukan main, darah merah mengalir bercucuran membasahi lengannya, menetes-netes ke lantai.

Sementara wajahnya semakin pucat begitu dilihatnya Tiang Le dan Bwe Lan, dan banyak orang gagah telah memasuki kamarnya.

“Suhu........” panggilannya perlahan.

“Kau.......? Kau telah memperkosa Hong Kwi, jahanam!” bentaknya.

Tiba-tiba Tiang Le menubruk lagi, menggerakkan pedangnya dengan hebatnya diarahkan ke batang leher pemuda itu.

Wang Ie dengan gerakan seperti orang mabok karena desakan bekas gurunya ia hanya bisa mengelak lompat ke kiri, sedang suara pedang berdesing di sampingnya laksana kilat guntur yang menggelegar.

“Suhu....... tahan!” kata Wang Ie minta ampun.

“Ayah....... ja....... jangan kau bunuh Wang Ie!” Hong Kwi juga memekik ngeri melihat ayahnya sudah mengamuk menempur karena perbuatan pemuda itu.

Tentu saja melihat pemuda ini dapat menghindarkan serangannya, bertambah paras hati Tiang Le.

Kata-kata yang didengarnya barusan, bahwa Hong Kwi, anaknya telah diperkosa membuat pendekar ini menjadi mata gelap.

Ia menubruk lagi Hong Kwi dengan tendangan kaki kiri dan tusukan pedang yang luar biasa cepatnya.

Tentu saja Wang Ie yang tidak mengerti datang-datang suhunya ini marah-marah dan menyerangnya menjadi bingung.

Gerakannya menjadi kurang cepat, sebuah tendangan Tiang Le yang beruntun, dengan jitu sekali mengenai lambungnya. Wang Ie terhenyak.

Diam seketika itu Hong Kwi memeluk Wang Ie dan melindungi pemuda itu dari terjangan pedang Tiang Le.

“Cesss!” Pundak Hong Kwi tertembus pedang Tiang Le.

Bwe Lan menjerit kaget dan menggerakkan tangannya menggempur Tiang Le.

“Dessss!” Tubuh Tiang Le terpental oleh pukulan tangan kiri Bwe Lan yang menggunakan gerak tangan kilat. Saking hebatnya pukulan ini, Tiang Le terhuyung ke belakang dan muntahkan darah.

Bwe Lan sudah mencabut tongkatnya. Pada saat itu Ho Siang mencelat dan menangkis tongkat nyonya ini yang hendak ditusukkan ke arah dada suaminya.

“Tahan Toanio.......!”

Bwe Lan tergetar memegang tongkat.

“Dia........ dia....... suami gila, membunuh anak sendiri, Keparat!” Nyonya ini memaki

“Sabar Toanio........ urusan ini sebaiknya kita tanyakan dulu, jangan terburu napsu! Bu Ci Goat yang telah menolong Hong Kwi dan Wang Ie menoleh. Ia sudah menotok pundak Hong Kwi yang bercucuran darah.

Bwe Lan menatap anaknya dengan pandangan basah.

“Hong Kwi.......!” Nyonya ini menubruk anaknya. Memeluk Hong Kwi

“Ibu.............!” Hong Kwi memanggil lemah.

Sementara itu Tiang Le telah berdiri. Kepalanya terasa pening bukan main. Ia berpegangan pada tembok. Ketika itulah Hong Kwi menubruk kakinya dan menangkis.

“Ayah…….. kau....... kau......... ampunilah anakmu, aku.........”

“Hong Kwi! Bilanglah kau........ kau.......”

“Ayah…….!?”

“Siapakah yang memperkosamu. Hayo bilang! Wang Ie...... dia itukah?” Tiang Le menunjuk ke arah pemuda yang memandangnya dengan wajah pucat seperti mayat.

“Bukan....... dia........ ayah........ ahh, aku telah mencemarkan namamu....... aku……, biarlah aku mati....... ayah kau ampunilah!” berkata demikian Hong Kwi menubruk pinggang ayahnya dan mencabut pedang pusaka buntung. Dengan gerakan yang demikian cepat tahu-tahu pedang itu telah berkelebat menusuk dada Hong Kwi.

“Ceppp!” Darah segar menyembur keluar ke dada Tiang Le.

Tiang Le memekik keras menubruk anaknya.

“Hong Kwi.......!”

Sebuah bayangan berkelebat, ternyata Wang Ie telah menubruk Hong Kwi. Akan tetapi Bwe Lan sudah merenggut tubuh Wang Ie dan melempar. Sehingga dengan terhuyung-huyung pemuda itu terjerembab jatuh.

Nyonya ini menubruk anaknya.

“Hong Kwi………!”

Tiba-tiba Hong Kwi mengibaskan pelukan ibunya dan menubruk Wang Ie. Kedua orang muda ini saling berpelukan. Mereka sudah bermandikan darah.

“Koko....... aku....... aku.......”

“Hong Kwi moay-moay...... kau....... kau…… mengapa kau lakukan ini....... mengapa?”

“Koko……. aku......... aku....... telah tercemar oleh Nguyen Hoat....... telah dibius....... oleh Temu Khan dan…… dan Song Pay-cu mereka memberiku bius dalam perjamuan makan....... koko...... kau....... ampunilah aku!”

“Hong Kwi aku mengampunimu akan tetapi mengapa kau lakukan ini, mengapa?” Wang Ie mencucurkan air matanya. Mendekapkan dadanya ke dada si gadis yang terluka hebat, darah merah menetes-netes turun.

“Aku, aku cinta padamu… akkhgg…agh…..” Tubuh Hong Kwi mengejang.

Tiba-tiba ia menoleh kepada ayah yang tengah memandangnya dengan wajah pucat.

“Ayaah, iiiibuuu.......!!' Tiba-tiba kepala itu terkulai di dada Wang Ie.

“Hong Kwi.......!!”

Wang Ie mendekap kepala si gadis. Perlahan ia merebahkan tubuh gadis itu di atas rumput.

Kemudian ia menoleh kepada Tiang Le dan Bwe Lan, tertunduk.

Akhirnya tinggal kenangan dan penyesalan yang menyelubungi mereka dan saling menyalahkan diri sendiri adanya.

“Hong Kwi.......” Bwe Lan berjongkok ke dekat gadis itu menangis keras.

Sementara Tiang Le berdiri tak bergerak seperti patung mengawasi anaknya yang telah membujur kaku.

Semua orang gagah yang hadir di situ menangis melihat adegan yang sangat memilukan hati. Mereka pasti akan terkutuk atas perbuatannya yang sangat kejam dan keji.

Bwe Lan tahu-tahu berlari turun gunung menangis tersedu-sedu. Air matanya berderai.

Angin gunung berhembus sejuk. Daun bergoyang-goyang terhembus angin lalu.

Hujan masih turun rintik-rintik membasahi tanah pekuburan yang masih baru.

Di sinilah Hong Kwi beristirahat untuk selamanya di bawah naungan pohon kamboja yang teduh itu.

Hilangnya kabut hujan yang laksana ikut berduka cita atas gugurnya Hong Kwi berganti menjadi terang, sang surya menyinari dunia, maka selesailah cerita ini dengan semoga gembira para pembaca!

T A M A T