-->

Istana Hantu Jilid 12

Jilid 12

“Kalian siapa, hendak berbuat apa mendaki Lu-liang-pay, ada kartu tanda pengenal?” tanya orang itu dalam bahasa Han yang kaku dan hanya sedikit dimengerti oleh Hong Kwi dan Nguyen Hoat.

“Kami mau ke Lu-liang-pay atau kemana saja, apa urusannya denganmu? Pegunungan ini bukan milikmu pribadi, siapa saja boleh ke tempat ini,” sahut Hong Kwi ketus dan bertolak pinggang dengan senyum mengejek.

Melibat sikap gadis ini yang kurang sopan dan memanaskan hati, orang Mongol itu membentak keras:

“Perempuan liar, apakah kau buta tidak mengenal Lu-liang-pay milik orang-orang Mongol.”

“Hi-hik-hik, milikmu! Bagus memang kami hendak menghancurkan partai Lu-liang-pay keparat!” Hong Kwi tersenyum mengejek.

“Gadis liar, bosan hidup. Apakah kalian tidak mengenal tingginya Lu-liang-pay. hayo lekas berlutut dan mengaku dosa!”

“Engkau yang harus berlutut!” berkata demikian tiba-tiba Hong Kwi, menggerakkan sabuk suteranya dan tahu-tahu sabuk sutera merah ini telah meluncur cepat.

Orang Mongol ini bukanlah orang lemah. Melihat datangnya sinar berkelebat menyambar pinggangnya cepat ia membabatkan goloknya yang besar dan tajam itu ke samping dengan maksud membuat putus sabuk sutera merah yang meluncur itu.

Akan tetapi alangkah herannya hatinya. Begitu goloknya membabat sabuk sutera, tahu-tahu bagaikan ular merah yang hidup, sabuk sutera itu mengejang keras bagaikan tongkat.

Terasa tangannya bergetar dan golok yang dipegangnya terlepas. Belum lagi hilang kagetnya tahu-tahu sabuk sutera itu bagaikan tongkat baja telah meluncur ke tulang keringnya dan menghantam.

“Duuk!” keruan saja orang itu jatuh mengeloso dan berlutut di depan Hong Kwi, karena tak kuasa lagi berdiri dan rasa sakit hebat menyerang kakinya sampai menyelusup seperti ditusuki jarum.

“Bagus, kau sudah berlutut sekarang mengaku dosa kepada nona besarmu,” bentak Hong Kwi keren.

Namun bentakannya ini membuat puluhan orang Mongol bergerak mengurungnya dengan senjata di tangan, mereka membentak-bentak dalam bahasa Mongol yang tidak dimengerti oleh Hong Kwi dan Nguyen Hoat.

“Bangsat, bosan hidup……, kalian datang ke wilayah Lu-liang-pay dan tidak mempunyai ijin, benar-benar mencari mati.”

Orang-orang Mongol ini serentak sudah mencabut senjata mengurung Hong Kwi dan Nguyen Hoat. Seorang tua tinggi besar keturunan bangsa Han maju ke depan dan menjura:

“Orang muda tak guna kalian melawan bangsa kami yang jaya. Lebih baik kau menyerah saja dan ikut kami.”

Mendengar ini keruan saja Nguyen Hoat tertawa keras. Suaranya bergelombang panjang pendek dan mengeluarkan gema, karena sengaja pemuda ini mengerahkan khi-kang yang dikirim melalui suara.

Pemuda ini tertawa geli melihat orang tua bangsa Han ini menyebut dirinya bangsa Mongol. Sungguh lucu sekali. Bunglon dan ular berkepala dua! Maka dalam sengitnya ia tertawa dan berkata menyindir,

“Ha-ha-ha beginikah orang Mongol yang terkenal itu hendak menghasut kami masuk sekutu, persetan! Kami tidak sudi, kedatangan kami adalah hendak mengganyang kalian-kalian ini!”

“Pemuda liar, sombong dan bosan hidup!” bentakan kakek orang Han ini disertai dengan serbuan senjata menyambar Nguyen Hoat dan Hong Kwi. Namun begitu tubuh dua orang muda ini berkelebat tahu-tahu tiga orang Mongol terguling roboh dengan lengan terluka pedang.

Tentu saja melihat sepak terjang ke dua orang muda yang lihai ini, para orang-orang Mongol menjadi kaget dan heran. Akan tetapi sungguh hebat sekali orang-orang Mongol ini, biarpun banyak sudah yang berjatuhan namun mereka ini masih terus mengurung rapat! 

Memang sejak dahulu, bangsa Mongol ini terkenal sekali dengan rasa setia kawan sehingga semboyan bagi mereka adalah patah tumbuh hilang berganti. Sebab itulah suku bangsa Mongol yang kecil ini berkembang dan mengalami kemajuan pesat!

Hong Kwi tidak mau sembarangan membunuh, hanya dengan kebutan-kebutan tangan kirinya yang lihay itu saja ia melempar dan mendorong-dorong sehingga banyak orang Mongol terpental oleh pukulannya dan tak dapat bangun lagi karena tulang pundak dan kaki patah terserempet angin pukulan yang dahsyat itu.

Lain lagi dangan Nguyen Hoat, pemuda ini benar-benar telengas dan memperlihatkan kepandaiannya. Pedangnya berkelebat dan darah muncrat apabila pedang itu menemui sasaran, beberapa orang roboh seketika dengan tubuh mandi darah.

Pada saat itu, berkelebat sebuah bayangan. Bentakan yang keras dan berpengaruh menggema di lereng bukit. Hebat serangan bentakan ini, membuat semua senjata tertahan dan terhenti bagai ditahan oleh tenaga yang amat dahsyat!

“Tahan senjata!”

Orang Mongol yang mendengar suara ini segera menjatuhkan diri dan berlutut. Seorang pemuda gagah, tinggi tegap berdiri di atas sebuah batu besar dengan pandangan yang tajam menatap Hong Kwi dan Nguyen Hoat. Tiba-tiba ia tersenyum dan mengangkat tangan memberi hormat:

“Jiwi yang gagah perkasa, maafkan orang-orangku yang telah berlaku lancang dan tidak tahu bahwa dua orang gagah datang sebagai sahabat! Biarlah aku akan menegur atas kelancangan mereka ini. Sekarang marilah silahkan jiwi berkunjung ke Lu-liang-san, kebenaran sekali kami juga hendak ke sana.”

Mendengar ini, keruan saja Nguyen Hoat menjadi melengak dan Hong Kwi merasa tak enak hati melihat kebaikan pemuda ini yang kelihatannya sangat berpengaruh sekali dan ditakuti oleh orang-orang Mongol.

“Sahabat ini siapa?” Nguyen Hoat mengangkat tangannya menjura.

“Aku yang rendah putera Temu Chin, namaku Temu Khan.”

Untuk kedua kali Hong Kwi dan Nguyen Hoat melengak. Tidak tahunya yang di depannya itu adalah Temu Khan yang sering ia dengar sebagai putera pemimpin Mongol. Sungguh tak disangka.

“Maaf..... maaf, tidak tahunya kami berhadapan dengan Khan dari Mongolia, sungguh mati kami yang sudah buta!” Nguyen Hoat memberi hormat lagi.

Temu Khan berpaling kepada orang-orangnya, “Kalian memang lancang. Tidak mengenal sahabat. Hayo lekas singkirkan mayat-mayat ini dan segera berangkat ke puncak!!!”

Mendengar perintah ini, keruan saja para orang-orang Mongol ini sibuk sekali dan buru-buru mengangkat mayat dan membersihkan tempat itu. Kemudian barisan itu bergerak lagi ke Lu-liang-pay.

Nguyen Hoat berjalan di samping Temu Khan, dikawal oleh puluhan serdadu Mongol.

“Alangkah senangnya hatiku berkenalan dengan jiwi enghiong yang gagah perkasa. Tidak tahu siapakah nama jiwi yang mulia dan murid siapa?”

Di sepanjang perjalanan itu Temu Khan bertanya sambil melirik ke arah Hong Kwi.

Nguyen Hoat berpaling dan terseyum memandang putera Mongol ini, sahutnya, “Aku bernama Nguyen Hoat dari puncak Thang-la guruku adalah Bu-beng Sianjin dan ini temanku, Sung Hong Kwi putera Pendekar Lengan Buntung.”

Mendengar ini sepasang mata dari Temu Khan itu menjadi terbelalak dan pada wajahnya menampakkan kegirangan hati, wajahnya berseri-seri:

“Aha, kiranya Lihiap ini puteri locianpwe Sung Tiang Le yang kesohor itu, senang sekali hatiku berkenalan dengan jiwi yang luar biasa ini!”

Hong Kwi tersipu-sipu kemaluan, dan katanya pelan: “Terima kasih, Khan Muda, terlampau menghormat!”

Temu Khan hanya tersenyum dan mereka terus mendaki Lu-liang-pay. Salah seorang perwira Mongol dengan menunggang kuda sudah menuju duluan membawa surat Temu Khan untuk Pay-cu Lu-liang-pay minta dijemput. Tentu saja sampai di pintu gerbang Lu-liang-pay ini, mereka disambut luar biasa oleh orang-orang Lu-liang-pay.

Di sini Temu Khan menyaksikan gedung-gedung indah dan megah persembahan dari ayahnya kepada bekas Jenderal Song yang dikenalnya baik itu.

Di sepanjang jalan memasuki Lu-liang-pay, barisan ini dikawal oleh orang-orang Lu-liang-pay dan baru pada pintu gerbang kedua mereka disambut oleh serombongan gadis-gadis cantik yang mengantarkannya di ruang dalam.

Pay-cu Lu-liang-pay yang bernama Song Cie Lay duduk dengan angkernya di kursi kebesaran. Begitu melihat rombongan dari Mongol ini, dia berdiri dan mengangkat tangan menjura,

“Selamat datang di Lu-liang-pay,” katanya singkat kemudian duduk kembali.

Dua orang penyambut mempersilahkan Temu Khan duduk di hadapan Song Cie Lay, sedangkan Nguyen Hoat dan Hong Kwi diperkenalkan oleh putera Mongol ini.

“Pay-cu, dua orang muda ini adalah murid Bu-beng Sianjin dan puteri Sung Tiang Le, namanya Nguyen Hoat dan Sung Hong Kwi!”

Song Cie Lay menengok dan senyuman menghias bibirnya dan menatap tajam ke arah Hong Kwi.

“Nona, benarkah kau puteri Tiang Le?”

Melihat sikap ketua yang begini angkuh dan kelihatannya amat sombong, rasa simpati Hong Kwi menurun. Ia hanya mengangguk dan tidak menyahut.

“Sung Tiang Le adalah suteku waktu di Tiang-pek-san dulu, akan tetapi sekarang sudah lama aku tak pernah bertemu dengannya, kabarnya ilmu silatnya luar biasa. Akan tetapi belum tentu di bawah puteriku, ha-ha-ha!”

Temu Khan tertawa pula menimpali.

“Tentu saja di kolong langit ini siapakah yang dapat menandingi Thay-bengcu? O ya Pay-cu….. ayah menitipkan surat ini kepadamu!” berkata Temu Khan memberikan sepucuk surat dan mengeluarkan hadiah-hadiah lainnya yang dibawa oleh salah seorang Mongol ke muka Song Cie Lay.

“Ini sekedar untuk oleh-oleh dari Mongol, Pay-cu dan inilah suratnya,” Temu Khan sendiri menyerahkan surat bersampul merah itu kepada Pay-cu Lu-liang-pay.

Sambil membaca surat itu, Song Cie Lay tertawa bergelak-gelak.

Melihat cara orang tua ini yang kelihatannya sombong bukan main, Hong Kwi mengerutkan kening menandakan hati tak senang akan tetapi ia diam saja dan didengarnya pay-cu itu berkata kepada Temu Khan,

“Ha-ha Khan muda, ayahmu memandang ringan terlalu. Nanti sampaikan pesanku bahwa Siauw-lim-pay, Hoa-san-pay, Kun-lun-pay dan Tiang-pek-pay masih membandel dan tidak mau bersekutu dengan kita. Akan tetapi jangan kuatir, mereka itu sudah kubereskan dan kita tinggal melihat keruntuhannya saja!”

“Bagaimana dengan Thay-bengcu?”

“Ia baik-baik saja. Kini sedang berada di Istana Hantu. Kabarnya seorang wanita yang lengannya buntung sedang dalam tawanannya karena memberontak.

“Aku sendiri belum melihat siapa bangsat ini, yang sudah berlaku kurang ajar itu. Besok pagi-pagi ia akan digantung di depan istana Hantu…… ha-ha-ha!”

“Kau sungguh banyak maju saja Song Pay-cu!”

Song Cie Lay menoleh dan mengajak mereka ini ke ruang dalam dimana sebuah meja telah tersedia lengkap dengan makanan dan minuman. Ruangan dengan bangku-bangku yang serba lux ini, penuh dengan hiasan-hiasan dinding gedung yang terukir indah, mengagumkan hati siapa saja yang ke ruangan ini.

Di ruang sebelah dalam ini lebih lengkap dan menyenangkan. Patut menjadi tempat tinggal seorang pemimpin besar.

Setelah duduk dan arak dikeluarkan oleh pelayan yang terdiri dari wanita-wanita cantik, Song Pay-cu berkata,

“Dalam waktu yang singkat, Lu-liang-pay pasti akan menjumpai nama menjulang tinggi. Dan akan menaklukan Siauw-lim-pay, Kun-lun-pay dan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le dan Pay-cu Kong-hwa-pay harus mengakui berdirinya partai Lu-liang-pay yang terbesar....... ha…….ha!”

Berseri wajah Temu Khan mendengar ini. Betapapun, apabila Lu-liang-pay ini bisa menjagoi dunia persilatan, bukankah nama ayahnya di Mongol akan turut harum, karena atas dukungannya ini?

Hong Kwi menjadi amat terheran-heran mendengar omongan pay-cu yang kelihatannya miring otak ini. Masakan partai ini hendak menaklukan Siauw-lim-pay yang sudah berdiri ratusan tahun lamanya. Lebih gila lagi ayahnya hendak ditaklukkan pula.

Setan! Saking gemasnya ia hampir saja mengeluarkan bentakan dan makian kepada pay-cu yang sombong dan tekebur itu. Akan tetapi ia menahan mulutnya ketika didengarnya Nguyen Hoat mengangkat bicara:

“Sungguh patut dipuji sekali Lu-liang-pay atas pimpinan Pay-cu. Memang sudah lama siauwte yang mudah dan bodoh ini mendengar akan pergerakan Lu-liang-pay yang sudah meluas sampai di Kotaraja dan di mana-mana.

“Terutama sekali siauwte tertarik sekali akan pengangkatan Thay-bengcu, memang di dalam dunia kang-ouw ini untuk menertibkan orang-orang gagah, mereka itu harus mempunyai pimpinan.

“Tepat sekali kalau pay-cu mengangkat seorang beng-cu (pimpinan) yang siauwte pernah dengar yang bernama Thay-bengcu. Entah, bagaimana orangnya siauwte yang muda dan bodoh ini ingin sekali berkenalan dan kalau mungkin menyediakan tenaga membantu suksesnya rencana pay-cu!”

Mendengar perkataan pemuda ini, Song Cie Lay menoleh dan pada wajahnya menandakan hati yang senang.

Lain lagi dengan Hong Kwi, ia merasa heran dan tak mengerti mengapa temannya ini berkata begitu? Mengapa malah hendak bersekutu, bukan membasmi?

Ia menoleh kepada temannya dengan pandang mata penuh pertanyaan, akan tetapi Nguyen Hoat pura-pura tidak melihatnya. Hati Hong Kwi dongkol sekali dan ia kehilangan keseimbangannya.

“Nguyen-twako, omongan apa yang tadi kau keluarkan?” tanyanya dengan pandang mata tak senang.

Akan tetapi Nguyen Hoat mengedipkan matanya dan tersenyum memberi isyarat kepada gadis ini. Tentu saja Hong Kwi menjadi kheki bukan main.

Demikianlah sampai di kamar yang disediakan di komplek Lu-liang-pay yang serba lux dan megah ini, Hong Kwi masih marah-marah kepada Nguyen Hoat,

“Kau terlalu lancang twako, belum tahu, belum apa mengapa telah begitu rendah menyediakan tenaga untuk membantu pergerakan Lu-liang-pay, kau ini ahh!”

“Kwi-moaymoay, tenangkanlah hatimu. Kau tahu bukan setiap orang mempunyai cita-cita. Aku juga, sejak semula pun aku mempunyai cita-cita yang tinggi untuk berkenalan dan bergaul dengan tokoh-tokoh kang-ouw.

“Di sini ini kita bisa mengenal mereka, dan kalau kita menyediakan tenaga. Di Lu-liang-pay ini, kita mendapat kedudukan yang cukup dan senang, apalagi partai ini sendiri atas dukungan Temu Chin, siapakah yang berani menentangnya?”

Hong Kwi menjadi mendongkol sekali dan membantingkan pintu sambil katanya ketus,

“Aku tak sudi bersekutu dengan orang-orang sombong itu. Sudah, Nguyen toako, besok pagi-pagi kita harus pergi dari sini, kalau memang kerasan tinggal, kau tinggallah, biar aku……!”

“Jangan begitu moay-moay!” dari balik pintu Nguyen Hoat berkata.

“Nguyen toako aku tak sejalan denganmu. Biarlah kau mengambil jalan masing-masing.”

Nguyen Hoat berdiri di depan pintu yang sudah tertutup itu, hatinya bagaikan teriris-iris rasanya mendengar perkataan gadis tadi. Baru sekarang selama ia bergaul dengan Hong Kwi mendengarkan omongan yang ketus dari gadis itu, Diam-diam hati Nguyen Hoat tidak enak sekali.

Kalau besok ia ikut Hong Kwi turun gunung, bagaimana ini? Kesempatan yang baik akan terlepas dari tangannya. Akan tetapi, rasanya berat ia meninggalkan gadis itu.

Entah mengapa hatinya terisi oleh wajah puteri Pendekar Lengan Buntung. Nguyen Hoat benar-benar sudah jatuh di tangan Hong Kwi. Hmm, dalam berjalan itu, Nguyen Hoat melamun menuju ke kamarnya.

Tiba-tiba seorang anggota Lu-liang-pay menghampiri dan berkata sambil menyodorkan sepucuk surat,

“Nguyen Tayhiap, Pay-cu mengharapkan kedatangan anda sekarang juga di ruang kerjanya. Harap Tayhiap menerima undangan ini??”

Nguyen Hoat menerima surat itu dan sambil tersenyum ramah ia mengucapkan terima kasih kepada pesuruh itu dan cepat-cepat ia menuju ke ruang dalam di tempat Song Cie Lay.

Ia membuka pintu.

“Haa….. Nguyen Hoat, mari silahkan masuk!”

Ternyata Song Pay-cu telah menantinya di situ seorang diri. Sambil memberi hormat Nguyen Hoat berkata,

“Ada apakah gerangan pay-cu, memanggil saya?”

“Haha, duduklah…… marilah temani ku duduk minum ciu…… Orang muda, aku kagum sekali kepadamu, terlebih lagi kau mempunyai kepandaian tinggi. Justru itu yang menyenangkan hatiku ha-ha-ha-ha!”

“Siauwte yang bodoh mohon petunjuk Pay-cu!” Nguyen Hoat berkata merendahkan diri.

Melihat pemuda yang tahu kesopanan ini, Song Pay-cu bertambah senang hatinya, menuangkan arak ke sebuah cawan sambil tertawa-tawa menyodorkan cawan itu kepada Nguyen Hoat.

“Orang muda terimalah secawan arak sebagai persahabatan dariku!”

Nguyen Hoat menerima cawan arak itu, akan tetapi alangkah kagetnya dia ketika merasa sebuah angin menyambar ke arah dadanya. Cepat ia mengangkat tangannya seperti orang menjura di depan dada mengerahkan tenaga lwekang menolak angin pukulan yang dahsyat itu.

Nampak tubuh Nguyen Hoat seperti orang menggigil kedinginan akan tetapi tiba-tiba cawan yang dipegang pay-cu itu terlontar ke atas dan berhenti di udara. Nguyen Hoat membuka mulutnya dan menerima air arak yang tumpah dari cawan yang terguling di udara.

Kemudian tangan kirinya terangkat menyambut cawan yang terjatuh. Meletakkan cawan yang sudah kosong itu di meja dan berkata kepada Pay-cu: “Terima kasih!”

“Hebat, orang muda kau patut menjadi murid Bu-beng Sianjin yang kesohor.”

Nguyen Hoat tertunduk malu.

Tiba-tiba pandangan Song Cie Lay menatap pemuda ini tajam dan tersenyum:

“Nguyen Hoat, dengan Hong Kwi puteri Pendekar Lengan Buntung itu, ada hubungan apakah kau?”

Dltanya seperti ini Nguyen Hoat terkejut dan menerima pandangan yang tajam dari Song Cie Lay, namun begitu cepat-cepat Nguyen Hoat menyahut.

“Siauwte hanya bersahabat saja dengan Hong Kwi, oh, kenapakah Pay-cu menanya kan ini?”

“Kau mencintainya?” tanya Cie Lay lagi.

Nguyen Hoat tidak menjawab, hanya mengangguk perlahan.

Terdengar suara Song Pay-cu tertawa keras

“Bagus mari kita rayakan ini ha-ha-ha!”

Nguyen Hoat memandang heran. Akan tetapi tiba-tiba ia menerima suara yang sangat halus sekali. Waktu ia melihat bibir Song Pay-cu bergerak-gerak.

“Nguyen Hoat, akuilah bahwa kau mencintai Hong Kwi. Bagus, dengan resminya dia menjadi istrimu, tentu kau akan menjadi menantu Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le.

“Dan tepat sekali untuk menerimamu di sini! Dengan demikian Pendekar Lengan Buntung akan tunduk dan menjadi sekutu kita pula……., ha-ha-haaa!”

Nguyen Hoat terhuyung mundur seakan-akan perkataan tadi bagaikan mimpi didengarnya. Ia berjodoh dengan Hong Kwi? Menjadi menantu Pendekar Lengan Buntung, alangkah indahnya kenyataan itu. Dengan muka sebentar pucat sebentar merah, Nguyen Hoat tertawa.

Ciu sudah tiga cawan ditenggaknya.

Song Cie Lay menepuk-nepuk pundak pemuda itu!

◄Y►

Gedung besar dan mewah itu merupakan pusat kegiatan dari Lu-liang-pay, terletak di sebelah tenggara dari komplek perumahan Lu-liang-pay di puncak pegunungan Lu-liang-san yang tinggi dan megah. Di depan gedung itu terdapat taman bunga teratai.

Memang indah sekali gedung itu dan di atas pintu gerbang terdapat papan nama dengan tulisan yang besar dan indah,

“Lu-liang-pay”.

Di dalam gedung. yang besar dan mewah itu telah berkumpul banyak sekali orang. Mereka itu adalah para tokoh-tokoh Lu-liang-pay yang tengah menyambut tamu agung dari Mongolia. Yakni pangeran Temu Khan, putera Raja Mongol yang bernama Temu Chin!

Suara tertawa mereka terdengar sampai keluar gedung ini, semua orang duduk di meja bundar menghadapi hidangan yang lezat dan bau arak wangi berhamburan di ruang itu.

Nguyen Hoat nampak ganteng sekali dengan pakaian sutera merah didampingi oleh Sung Hong Kwi yang kelihatannya kurang gembira dan sejak tadi diam saja. Ia sebetulnya hendak berangkat meninggalkan puncak ini, namun Nguyen Hoat menahannya untuk tinggal barang semalaman lagi.

Maka terpaksa Hong Kwi membatalkan niatnya dan pada malam itu dengan rasa berat hati ia menerima juga tawaran undangan dari Song Pay-cu dalam penyambutan pestanya untuk putera raja Mongol yang terhormat ini. Maka ia pun pada malam itu terpaksa menemani temannya Nguyen Hoat menghadiri pesta itu!

Temu Khan nampak gagah sekali, sikapnya agung dan keren. Pakaiannya yang ber warna biru muda terbuat dari sutera halus menampakkan kewibawaan yang menonjol.

Ia didampingi oleh Na Khardu dan Seng Lay Kok yang duduk dengan gagahnya pula. Sementara tentara-tentara Mongol berpesta pora pula di meja lain di ruang belakang.

Song Pay-cu tertawa terbahak-bahak sambil menenggak araknya seperti orang yang sudah mabok, akan tetapi matanya melirik tajam ke arah Hong Kwi dan berkali-kali menawar makanan dan minuman dengan ramah!

“Sung-lihiap, hayo makanlah! O ya…… ini arak tulen dari Kang-lam, cicipi….. dan ini masakan yang sengaja kupanggil tukang-tukang masak dari dapur kaisar, ha-ha-ha!”

Nguyen Hoat melirik ke arah temannya ini. Dan dengan isyarat matanya supaya gadis itu tidak menolak perjamuan ini.

Karena tidak enak hati, akhirnya Hong Kwi menerima juga arak yang disorok di sodorkan oleh Nguyen Hoat. Ia menenggak sedikit, terasa harum dan menyegarkan!

Dengan senyumnya Nguyen Hoat menyatakan terima kasih kepada gadis itu. Dan memandang ke samping begitu dilihatnya rombongan orang mendatangi ke tempat itu.

Salah seorang dari anggota Lu-liang-pay tingkat tiga datang menghadap, lalu memberi hormat kepada Song Cie Lay, “Pay-cu ya, lapor Thay-bengcu dari Istana Hantu telah tiba!”

Belum lagi habis orang itu berkata, rombongan orang yang terdiri dari lima orang kakek ini telah memasuki ruangan dengan didahului oleh langkah-langkah tegap dari seorang pemuda tampan yang berpakaian indah dan mentereng memakai topi kebesaran seperti kaisar.

Jadi inikah Thay-bengcu yang sering didengarnya? pikir Hong Kwi dan ketika bengcu itu berlalu didekatnya, pemuda itu tersenyum mengejek sambil melirik berkata: “Aha, kiranya puteri Pendekar Lengan Buntung, juga hadir di sini?”

“Bengcu-ya, benar dia inilah Sung Hong Kwi, puteri pendekar Lengan Buntung dan temannya Nguyen Hoat murid Bu-beng Sianjin dari Thang-la. Dua orang muda ini mempunyai kepandaian yang amat tinggi dan telah masuk ke dalam sekutu kita!”

Thay-bengcu menatap tajam dan ia tersenyum memperlihatkan sederetan gigi yang putih bersih teratur.

Menerima senyum ini berdebar dada Nguyen Hoat, senyum itu alangkah manisnya. Seperti senyum wanita! Dan Hong Kwi menjadi kagum bukan main. Inikah Thay-bengcu yang kesohor itu?

Tiba-tiba sang pay-cu berdiri dan mengangkat tangan,

“Kami girang sekali mendapat kunjungan dari saudara-saudara yang datang jauh-jauh dari Mongolia. Dan pada kesempatan ini, kami menyampaikan rasa terima kasih dan persahabatan yang erat kepada Temu Chin lewat puteranya yang gagah yang bernama Temu Khan.

“Kiranya dengan kunjungan saudara-saudara dari Mongol, hubungan Lu-liang-pay dan Mongolia bertambah erat dan berkembang terus. Mari kuperkenalkan dulu dengan tokoh-tokoh Lu-liang-pay!”

Pay-cu ini menunjuk ke arah tokoh-tokoh yang duduk di situ dan memperkenalkan seorang demi seorang.

Setelah acara perkenalan itu selesai, lalu Pay-cu ini memperkenalkan Nakayarinta, Kwan-tiong Tok-ong, Te Thian Lomo, Tay-lek-hui-mo dan Bu-tek Sianli. Yang tadi mengiringi Thay-bengcu dari istana hantu!

Mendengar bahwa orang-orang ini bukanlah orang sembarangan, Nguyen Hoat merasa gembira dapat berkenalan dengan mereka, akan tetapi Hong Kwi terbelalak terkejut.

Ia pernah mendengar dari ayahnya Bu-tek Sianli dan Nakayarinta yang jahat dan keji. Celaka, tidak tahunya di sini ini bermunculan tokoh-tokoh hitam yang berkepandaian tinggi.

Diam-diam Hong Kwi sudah tidak kerasan lagi di tempat ini. Ia jarang sekali bicara.

Hanya sebagai pelepas waktunya sebentar-sebentar saking isengnya berkali-kali menenggak arak menahan guncangan hatinya yang tidak enak saat itu. Apalagi pandangan pemuda yang berjuluk Thay-bengcu itu selalu terhias dengan senyum mengejek yang membakar hatinya!

“Lie-ji, bagaimana dengan Istana Hantu? Kudengar seorang wanita telah masuk ke dalam tawananmu, siapakah dia?” tanya Song Pay-cu.

Pemuda tampan itu tersenyum mengejek dan mengedikkan kepalanya seperti ayam jago hendak berkelahi,

“Entah siapa, aku tidak tahu. Wanita itu lihai sekali, berlengan buntung! Besok pagi baru diadakan pemeriksaan, kalau masih membandel, gantung saja, beres!”

“Aku akan ke sana nanti!”

“Apakah ayah tertarik kepada wanita lengan buntung? Ia memang sangat cantik sekali, wajahnya mirip dengan ibu!”

Akan tetapi Pay-cu Lu-liang-pay ini tidak menyahut dan menengok ke arah Hong Kwi. Ia tersenyum begitu dilihatnya Hong Kwi sudah mabok tertidur di meja di samping Nguyen Hoat.

Kemudian dengan tertawa ramah Song Pay-cu memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Nguyen Hoat ke kamar yang terindah, dan memberikan senyum arti kepada pemuda itu.

Nguyen Hoat memapah tubuh Hong Kwi yang sudah mabok. Ia dibawa masuk ke ruang dalam yang mempunyai kamar indah dan perabotan yang komplit.

Di kamar itu bau harum menyengat dan sangat merangsang sekali, membuat dada Nguyen Hoat berdebar-debar keras sekali dalam memondong tubuh Hong Kwi. Ia meletakkan gadis temannya ini di sebuah pembaringan yang bersih dan bertilamkan sutera merah jambu.

Akan tetapi, alangkah kagetnya pemuda ini mendengar Hong Kwi dalam ngigaunya itu menyebutkan nama seorang pemuda. Pemuda yang pernah dikenalnya waktu pertama kali bertemu dengan Hong Kwi ini, Wang Ie? Mengapa Hong Kwi menyebut-nyebut nama Wang Ie?

Untuk beberapa lama Nguyen Hoat memandang tubuh Hong Kwi yang telentang dalam keadaan tak sadarkan diri dan mengoceh menyebut-nyebut nama Wang Ie.

Entah perasaan apa yang menghinggapi dirinya, Nguyen Hoat menghampiri Hong Kwi dan mengelus pipi gadis itu dengan sentuhan mesra. Akan tetapi, perasaannya tak enak bukan main begitu gadis itu menyebut nama Wang Ie dengan panggilan mesra,

“Wang Ie Koko…… Wang Ie…..”

“Hong Kwi kau tenanglah, tidurlah!” berkata Nguyen Hoat mengelus kepala Hong Kwi dengan mesra.

Tiba-tiba Hong Kwi membuka mata dan pandangan itu bersinar aneh.

“Wang Ie……. aku..... aku... ohh..... ahh.......”

“Hong Kwi-moay….. kau........ kenapa?” tanya Nguyen Hoat heran dan ia tak dapat melanjutkan kata-katanya ketika tiba-tiba saja Hong Kwi menubruknya dan mencium dengan gairah.

Tentu saja mendapat sambutan ini, hendak meledak rasanya dada pemuda itu. Ia memang sudah lama mencintai Hong Kwi, akan tetapi...... aduhai!

Baru kali ini ia menciumnya! Alangkah sedapnya, alangkah begitu menggairahkan!

Hawa dan bau harum di dalam kamar itu membuat Nguyen Hoat seakan-akan masuk ke dalam dunia luar yang serba indah dan romantis. Harum hio wangi yang begitu merangsang membuat keduanya terlupa.

Mereka telah masuk ke dalam keinginan hati untuk saling menjamah, saling menumpahkan perasaan hati yang berdentum-dentum di dalam dada itu!

Tak sadar Hong Kwi kalau pada saat itu tangan Nguyen Hoat yang kuat telah menghempas tubuhnya yang polos ke dunia yang hitam dan gelap, dunia yang begitu menakutkan dan seakan-akan gadis itu hilang pegangan. Menyebut-nyebut nama ayah ibunya……. seakan-akan tak sanggup ia menghadapi kegelapan yang aneh ini.

Ia tak sadar, ia telah menjerit lirih tatkala permata itu telah terlepas dari pegangannya dan direnggut hancur oleh keperkasaan seorang pemuda bernama Nguyen Hoat.

Terbosai ia, terlena dalam keletihan yang amat sangat. Ia bermimpi, alangkah indahnya!

◄Y►

Apabila mimpi berakhir, bagaikan disengat ular berbisa Hong Kwi mencelat dari pembaringan sehingga mengejutkan Nguyen Hoat yang rupanya masih tertidur dan ia meloncat pula. Ia hendak bertanya sesuatu kepada gadis itu, akan tetapi alangkah kagetnya hatinya ketika tiba-tiba Hong Kwi telah mencelat dan mengirim serangan yang amat dahsyat dibarengi dengan pekikan gadis itu yang bergema seakan-akan hendak meruntuhkan langit-langit gedung.

“Manusia keparat, jay-hoa-cat hina..... Aku harus menebus penghinaan ini. Mampuslah!” bentakan gadis ini dibarengi dengan gebrakan tok-pik-kun-hoat yang luar biasa lihainya.

Saking cepatnya pukulan ini tak kuasa lagi Nguyen Hoat untuk menghindarkan diri, maka terpaksa ia mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya dan mengangkat tangan dengan gerakan seperti orang gugup,

“Dessss...... brakkk,” tubuh Nguyen Hoat terpental ke belakang dan menghantam dinding di belakangnya sehingga jebol.

Cepat pemuda itu menggunakan ilmu trenggiling bergulingan ke belakang menghindarkan serangan Hong Kwi yang sudah menjerit pula meloncat ke dekatnya mengirimkan serangan dahsyat.

“Hong Kwi-moay, tahan! Dengarkan dulu omonganku,” kata Nguyen Hoat berusaha berkelit menghindarkan diri dari serangan gadis yang sudah marah bukan main itu.

Akan tetapi Hong Kwi sudah tak memberi kesempatan lagi, dengan mata basah ia sudah maju menerjang pula menggunakan gerak tangan kilat yang luar biasa dahsyatnya.

“Bukkk!” Kali ini punggung Nguyen Hoat terhantam pukulan tangan kiri Hong Kwi, bagaikan gasing tubuh pemuda berputaran ke belakang. Dan ia terjerembab jatuh di sudut kiri.

Dari mulut pemuda itu keluar darah merah. Nguyen Hoat meringis menahan nyeri pada punggung dan dadanya.

Dengan mata basah Hong Kwi menggerakkan tangannya dan maju beberapa lagi menghampiri Nguyen Hoat yang sudah tak dapat bangun lagi.

“Tidak kusangka kau berbathin begini rendah, Nguyen Hoat. Aku menganggapmu sebagai pemuda baik-baik dan ahh… ah…… kau iblis jahanam, kau….... kau telah membiusku sehingga aku lupa diri. Persetan!”

“Kwi moay-moay……., dengarlah keteranganku…… Aku…….!” akan tetapi Nguyen Hoat menghentikan kata-katanya begitu sebuah pukulan tangan kiri Hong Kwi bersarang dilehernya.

“Dukk!” Kasihan sekali pemuda ini. Pukulan tangan kiri Hong Kwi yang dimiringkan membuat tubuh Nguyen Hoat terpelanting lagi dan diam.

“Ha-ha-ha……. iblis jahanam, manusia berhati setan, kucabut jantungmu, kuminum darahmu!”

Kata-kata Hong Kwi ini bergema menggetarkan dinding dan air matanya menetes turun. Ia tertawa bergelak-gelak dalam deraian air mata.

Bayang-bayang impian semalam bagaikan kematian yang menjemputnya. Sangat menyeramkan dan gelap.

“Wang Ie koko……. Kau…. kau lebih putih dan bersih dari hati pemuda jahanam ini. Wang Ie koko…… kau maafkanlah aku….. aku…. aku tak layak bertemu denganmu……. koko….. aduuuh!

“Koko….. jahanam ini yang telah merusak hidupku. Aku….. aku harus mampuskan dia, aku harus cabut jantungnya!”

Berkata demikian Hong Kwi tertunduk dan memandang Nguyen Hoat yang telah diam tak bergerak. Hong Kwi meragu. Matikah pemuda itu?

Tiba-tiba ia menoleh dan pintu kamar terbuka. Dua orang kakek Lu-liang-pay masuk sambil membentak,

“Bangsat, siapakah kau telah…… aauuup!”

Tiba-tiba tangan kiri Hong Kwi menggelegak menghantam ke arah orang-orang ini. Keruan saja bagai dicekek setan, dua orang ini diam dengan mata mendelik. Ternyata pukulan jarak jauh Hong Kwi dalam segebrakan itu sudah memutuskan jantungnya.

“Kalian ini…… bangsat-bangsat…… Kalian harus mampus, aku harus membasmi kalian!” berkata demikian karena mengira Nguyen Hoat sudah mati. Gadis ini berkelebat dan berlari ke arah gedung Lu-liang-pay.

Hebat sekali sepak terjang gadis ini. Begitu bertemu dengan manusia-manusia di tempat itu tanpa banyak cakap tangan kirinya bergerak dan menyebar kematian tanpa pilih kasih.

Tentu saja kejadian ini menggemparkan, dan salah seorang anggota Lu-liang-pay cepat-cepat berlari ke gedung Song Pay-cu dan melapor.

Tentu saja Song Pay-cu menjadi kaget dan heran melihat anak buahnya datang menghadap dengan tubuh menggigil dan muka pucat. Sampai berdiri, Song Pay-cu bertanya dengan suara keren,

“Kay-san! Ada apa kau pagi-pagi begini datang ke tempatku?”

“Ampun pay-cu, hamba melapor karena puteri Pendekar Lengan buntung mengamuk hebat. Teman-teman banyak yang binasa, mohon bantuan!”

Mendengar ini Song Cie Lay mengerutkan alisnya dan dengan isyarat tangan ia menyuruh orang yang melapor itu untuk pergi. Ia sendiri sambil menyambar pedangnya yang di dinding telah mencelat keluar dengan pedang telanjang.

Ketika tiba di luar gedung, alangkah herannya terkejut ketika melihat gadis puteri Pendekar Lengan Buntung ini benar-benar mengamuk dan sedang dikeroyok oleh orang-orang Mongol yang sudah menyerbu ke tempat itu. Dan di sana sini dilihatnya tergeletak banyak anak buahnya yang telah tewas.

Keadaan gadis itu sungguh menyeramkan, sambil memaki kalang kabut ia memainkan pukulan-pukulan tangan kirinya yang dahsyat sedangkan tangan kanannya telah memegang sabuk sutera bagaikan ular merah yang amat dahsyat.

Song Cie Lay segera menuju ruang dalam, akan tetapi tokoh-tokoh Lu-liang-pay tidak terdapat di sini. Dengan heran sekali ia menyambar tangan salah seorang anak buahnya dan membentak:

“Dimana Temu Khan, tamu kita dan tokoh-tokoh Lu-liang-pay?”

“Pay-cu…… mereka….. semua sedang menuju ke Istana Hantu. Pagi-pagi tadi Thay-bengcu memanggil!”

“Setan, di sini sedang kacau, mengapa pergi ke sana, siapa yang suruh?”

“Yang suruh Thay-bengcu sendiri, Pay-cu!”

Song Cie Lay cepat berkelebat ke dalam dan menekan tombol yang terdapat di dinding. Tiba-tiba tembok itu terbuka dengan mengeluarkan suara menggetar keras.

Song Cie Lay meloncat masuk sambil siap dengan pedang di tangan. Sebetulnya jalan rahasia merupakan terowongan yang menembus ke bawah tanah.

Memang terowongan ini sengaja dibuatnya dengan biaya besar untuk menghubungkan Istana Hantu di hutan kecil di kaki bukit Lu-liang-san.

Akan tetapi sesampai di hutan kecil di rumah tua itu, alangkah herannya Song Cie Lay ketika melihat tempat itu sudah dikurung oleh puluhan bahkan ratusan orang gagah dari partai-partai besar. Ia kenal orang-orang dari Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay ini, maka dengan hati jeri ia menutup kembali pintu rahasia itu dan mengambil jalan lain menuju ke dalam Istana Hantu, gedung megah di bawah tanah.

Untuk yang kedua kali ia menjadi terkejut dan terbelalak heran, karena begitu dilihatnya di ruang itu terdengar suara senjata beradu dan pertempuran terjadi dengan hebatnya. Cie Lay cepat menutup pintu batu.

Akan tetapi ia meloncat mundur ketika di belakangnya tahu-tahu telah berdiri seorang gadis muda dan cantik memandangnya laksana seekor harimau yang hendak menerkam:

“Orang tua kau...... kaukah Pay-cu Lu-liang-pay?”

Cie Lay menenangkan hatinya dan menjawab tenang.

“Benar, kau ini siapa dan…….?”

“Keparat! Aku Lie Lily........ puteri Lie Bwe Hwa yang mati oleh orang-orangmu. kini aku harus mencabut nyawamu!” bentakan gadis ini diiringi berkelebatnya sinar pedang.

Pedang Toat-beng-kiam yang masih berlumuran darah itu menembus dalam sampai ke punggung Song Cie Lay. Orang tua itu roboh terjengkang dan memandang gadis itu dengan terbelalak, darah merah mengucur dari bajunya.

“Kau..... kau puteri Lie Bwe Hwa-sumoay........ ya. Ayaaa!”

Gadis itu tersenyum pahit.

Ia melangkah maju setindak, menodongkan pedang Toat-beng-kiamnya di dada yang sudah tertembus pedangnya tadi.

Dasar Cie Lay ini kuat luar biasa, biarpun ia terluka hebat namun ia belum juga mati. Malah dengan tangan menggigil ia hendak memeluk Lily.

“Baru kau tahu..... ibuku mati karena orang-orangmu. Demi arwah ibu, aku harus mengirimkanmu ke neraka!”

Pedang gadis itu ditusukkan ke depan. Dan seperti tadi, entah mengapa orang she Song yang gagah perkasa ini tidak menangkis dan membiarkan untuk yang kedua kali dada kanannya tertembus pedang.

“Crattt!” Darah merah memancur membasahi tangan Lily waktu pedangnya dicabut. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring,

“Gadis liar kau....... kau telah mencelakai ayahku, mampus kau!” Sebuah bayangan berkelebat dan langsung mengirimkan serangan tusukan pedang ke arah si gadis.

Lily cepat mengangkat pedangnya dan menangkis.

“Trang!” Bunga api berpijar.

Terdengar suara keluhan dari Cie Lay yang telah menubruk gadis itu dan berkata gagap dan pelan,

“Cu Ling kau jangan bertempur, cepatlah kau pergi jangan menunjukkan dirimu sebagai Thay-bengcu. Tempat ini sudah terkepung, pergilah kau nak.”

“Ayah..... aku... aku harus mengadu nyawa dengan gadis itu, kau celaka di tangannya...... uhh…. Uhh!”

“Ling-ji, ayahlah yang salah. Thian menghukum kita...... Kau lekaslah pergi, larikan diri jangan sampai kau tertangkap dengan para ciang-bun-jin di luar Istana Hantu…… Ambil jalan..... punn.......ahh!”

“Ayah!” Cu Ling menggoyangkan tubuh ayahnya dan menangis keras.

Pada saat itulah sebuah benda dingin menyambar di belakangnya, cepat Cu Ling menggerakkan tangan mengibas ke belakang dan terdengar seruan kaget dari Lily, karena tangannya yang memegang pedang kesemutan disampok oleh gadis itu!

Cu Ling memondong tubuh ayahnya.

Akan tetapi Lily tak memberi ampun, menggerakkan pedang Toat-beng-kiamnya menerjang gadis itu! Hebat sekali gadis ini, sangat cepat dan cekatan sekali seakan-akan terlebih dahulu gadis itu sudah tahu arah tujuan pedangnya, dengan mudah saja serangan pedangnya sudah dapat dihindarkan.

Rasa penasaran ini membuat Lily menjadi marah dan ia mainkan ilmu silat Pek-hwa-kiam-sut yang dipelajari dari ibunya mendesak gadis ini. Tentu saja Cu Ling menjadi terkejut dan karena ruangan di situ tidak lebar maka ia meletakkan jenazah ayahnya dan dengan sengit ia balas menerjang gadis itu.

Hebat sekali pertempuran di ruangan kamar yang berukuran empat persegi itu. Ke dua orang gadis ini ternyata sama-sama lihai, akan tetapi agaknya gadis yang bernama Song Cu Ling ini sungguh luar biasa.

Begitu ia mengeluarkan jurus-jurus aneh dan cepat, tahu-tahu Lily kehilangan lawannya dan ia mulai terdesak oleh gadis yang bagaikan setan ini. Gin-kang Cu Ling ternyata lebih hebat dan lincah! Terpaksa Lily mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk bertahan dari serangan pedang gadis ini.

<>

Bagaimana tahu-tahu Lily sudah berada di tempat itu dan mengamuk hebat. dan banyak para orang gagah telah mengurung Istana Hantu itu.

Untuk mengetahui itu, baiklah kita mundur sebentar dan seperti kita ketahui Sung Tiang Le berhasil meloloskan diri dari Istana Hantu.

Setelah luka-lukanya sembuh ia langsung menuju ke Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Go-bi-pay untuk memberi tahukan bahwa penculikan para ciangbunjin adalah dilakukan oleh orang-orang Istana Hantu, maka tentu saja mendengar ini ketiga partai besar itu menyerbu ke bukit Lu-liang-san dan mengurung tempat itu.

Akan tetapi alangkah herannya Tiang Le dan Bwe Lan, ketika sampai di tempat itu ia menemukan jenasah Bwe Hwa yang telah mati tergantung di hutan pada penglari rumah tua itu!

“Hwa-moay.......!” Tiang Le berkelebat dan sekali merenggut tali penggantungan itu putus.

Dengan tangan kirinya segera ia memeluk Bwe Hwa dan mengguncangkan tubuh itu, namun Bwe Hwa sudah diam tak bergerak! Nyawanya sudah melayang, sejak dua jam yang lalu, tubuhnya dingin dan dari muka sampai ke leher bertanda biru yangg menggurat panjang.

Dengan perlahan Tiang Le meletakkan perempuan malang itu di tanah dan menoleh kepada Bu Ci Goat tokoh dari Bu-tong-pay dan berkata:

“Cuwi sekalian, lihatlah contohnya, sumoayku mati oleh kekejian orang-orang Istana Hantu. Harap cuwi tunggu di sini dan biarlah siauwte menerjang ke dalam, dan tolong Bu loenghiong merawat jenasah sumoayku ini baik-baik!” kata Tiang Le dengan suara sedih. 

Namun para pimpinan partai ini tidak mau tinggal dan membiarkan Pendekar Lengan Buntung menerjang ke dalam maka Hay-kui Thaysu buru-buru berkata:

“Sung Tiang Le….... aturan apa ini, kau menghadapi bencana masa kami harus membiarkanmu. Biar aku juga ikut denganmu membasmi orang-orang Istana Hantu!”

Serentak dua orang tokoh dari Thay-san-pay juga berkata, “Akuuurrr! Kami juga dari pihak Thay-san-pay tidak ingin berpeluk tangan saja. Kami harus maju menerjang!”

Maka terdengar sorakan-sorakan dari puluhan anak buah Kun-lun-pay bersorak-sorak hendak menerjang maju, akan tetapi Tiang Le tidak menghendaki ini, ia cepat-cepat mengangkat tangannya dan bicara:

“Saudara-saudara harap tenang……! Urusan ini memang tanggung jawab kita bersama. Oleh sebab itu, kita sebagai orang gagah yang menjunjung tinggi keadilan, sudah menjadi kewajiban kita untuk berjuang menumpas bangsat-bangsat Istana Hantu.

“Tugas kita sebaiknya begini saja….. Cuwi anggauta dari Kun-lun-pay dan Thay-san-pay sebaiknya mengurung tempat ini di bagian belakang, dan cuwi dari Bu-tong-pay harap tinggal di sini……, seorang pun tak boleh kita biarkan lolos!

“Ketahuilah oleh cuwi bahwa rumah tua itu, adalah pintu masuk yang bisa menembus gedung di bawah tanah itu yang dinamakan Istana Hantu dan aku kira jalan hanya melalui tempat ini. Maka dari itu biarlah siauwte para pemimpin tiga partai besar saja yang menyerbu ke dalam. Kalau memang nanti bantuan cuwi diperlukan aku akan memberi tanda untuk menerobos ke dalam!”

“Akurrr…….!”

“Bagus kalau begitu, ehm lihat siapa yang datang itu…..?” Tiang Le tiba-tiba menunjuk ke dalam hutan.

Serombongan orang-orang gagah yang terdiri dari puluhan pengemis baju kembang dan orang-orang gagah lainnya telah berlari dengan cepatnya dan sebentar saja dua orang laki-laki dan perempuan setengah tua telah berdiri di hadapan Tiang Le dan menjura,

“Tiang Le sicu, kami dari Kim-kong-pay dan Hwa-ie-kay-pang datang membantu!” berkata Kiang Sun Hi sambil menggerakkan orang-orangnya memberi isyarat menyebar mengurung tempat itu.

Tiang Le tersenyum girang,

“Bagus….. hari ini Istana Hantu mengalami kehancuran! Kita serbu ke dalam, sebagian tunggu di luar,” berkata demikian Tiang Le telah mencelat masuk dan diikuti oleh Kiang Sun Hi bersama istrinya yang gagah perkasa bernama Yap Sian Eng kemudian dituruti oleh langkah-langkah lebar dari Kun-lun Sam-lo-jin, Bu Ci Goat, dan Giam-ong Ma Ek dari Thay-san-pay.

Sampai di dalam rumah tua itu, Tiang Le menunjuk kepada orang gagah yang mengikutnya.

“Cuwi sekalian, inilah pintu masuk. Tembok ini bisa terbuka dari dalam. Terpaksa kita menjebol dari sini, kalau tidak begitu sukar untuk masuk!” Tiang Le menunjuk ke tembok dinding yang kotor dan penuh kembang-kembang.

Suasana di dalam rumah tua itu sungguh sangat menyeramkan, bau busuk menyengat hidung, di sana sini terdapat rangka-rangka tulang manusia dan tengkorak-tengkorak menggeletak begitu saja. Meja dan kursi yang terdapat di ruangan tengah itu penuh dengan debu dan kabang-kabang.

Hay-san Taysu tokoh ketiga dari Kun-lun Sam-lo-jin maju ke depan,

“Biar aku yang menjebol dinding ini!” katanya sambil menggerak-gerakan toyanya yang besar dan berat. Suara angin mengiung waktu toya yang berat itu diputar oleh tosu itu dan siap untuk menghantam tembok dinding.

“Bummm!” Terdengar suara keras mendentum waktu toya di tangan Hay-san Taysu menghantam dinding tembok.

Debu-debu runtuhan dan eternit rumah menggetar saking kerasnya pukulan toya yang beratnya lebih seribu kati itu. Akan tetapi sungguh heran sekali orang-orang yang berada di situ, biar pun tembok itu runtuh dan menggugurkan kapur-kapur akan tetapi tidak bolong terhantam toya si tosu.

Saking penasaran tosu ini menghatam lagi toyanya dengan pengerahan tenaga lwekang yang sepenuhnya.

“Bummm…… brakkkk!” Atap genteng runtuh dan debu mengepul meruntuhkan dinding-dinding itu. Akan tetapi sungguh kuat sekali tembok ini.

Namun Tiang Le yang sudah tidak sabaran lagi maju ke depan dan dengan sekali mengerahkan pukulan gerak tangan kilat yang luar biasa itu, terdengar suara bagaikan gempa waktu telapak tangan kiri Tiang Le menghantam dinding.

“Brass!” Dinding itu hancur dan bolong kena pukulan yang dahsyat itu, tiba-tiba terdengar suara keras tembok itu bergerak dan menggeser berpindah tempat.

Lima orang kakek berambut riap-riapan telah datang dan dengan seram langsung menyerang Tiang Le. Namun Pendekar Lengan Buntung ini sekali menggerakkan tangannya dua orang kakek rambut riap-riapan itu telah terpental dan mendelik mati terkena angin pukulan Tiang Le.

Cepat Tiang Le menarik tangan Bwe Lan memasuki ruangan di bawah tanah itu diikuti oleh para orang gagah lainnya. Akan tetapi baik Tiang Le maupun Bwe Lan menjadi terkejut dan heran karena begitu mereka memasuki ruangan itu nampak di sana sini penuh dengan tubuh manusia yang sudah tak bernyawa lagi.

Darah merah tergenang di lantai, bekas-bekas terjadi pertempuran masih hangat. Tembok dinding bernoda darah, pedang dan golok malang melintang di tanah, dan tubuh-tubuh orang Istana Hantu sudah pada menggeletak mandi darah.

Dengan heran sekali Tiang Le menerobos masuk dan ia dengan Bwe Lan mengambil ruangan jalan ke kiri sedangkan para orang gagah lainnya mengambil ruangan jalan kanan. Mereka ini memasuki gedung Istana Hantu dengan berpencar. Akan tetapi berlaku waspada terhadap segala kemungkinan.

Tiba-tiba Tiang Le dan Bwe Lan mendengar suara senjata beradu di ruang sebelah kiri. Cepat Pendekar Lengan Buntung ini melayang dengan diikuti gerakan nyonya ini dengan gerakan yang ringan dan perkasa.

Di ruang sebelah kiri, apa yang mereka lihat?

Dua orang muda, yang satu seorang perempuan cantik yang pernah dilihatnya di dalam hutan sebagai puteri Bwe Hwa, atau boleh dikatakan sebagai puteri Pendekar Lengan Buntung sedang mengamuk hebat dikeroyok oleh banyak orang yang berpakaian serba hitam. Sedang seorang pemuda dengan tubuh sudah mandi darah tengah dikeroyok oleh Nakayarinta, Thay-lek-hui-mo dan Te Thian Lomo sedangkan nampak pula Thung Hay Nio-nio dan Sian Jiu Nio-nio mengeroyok gadis yang gagah perkasa itu!

Siapakah dua orang muda itu?

Mereka adalah Lily dan Tiang Hin!

<>

Seperti telah kita ketahui, Lily terluka oleh Sian Jiu Nio-nio pada lengannya sehingga tulang lengan itu patah dan ditolong oleh seorang pemuda yang bernama Ngong Ma.

Pemuda, bernama Ngong Ma ini ternyata pinter sekali. Seperti apa yang ia katakan bahwa dalam wakku tiga hari lengannya akan sembuh. Demikianlah setelah tiga hari lamanya, lengan itu benar-benar sembuh seperti sedia kala!

Lily tersenyum girang dan menggerak-gerakan tangannya bermain pedang. Terasa tidak sakit sama sekali, saking girangnya gadis itu, ia memeluk Tiang Hin dan menciumnya sambil berkata,

“Ngong Ma koko, kau ternyata tidak bodoh seperti kata orang itu. Kau pinter sekali koko, terima kasih banyak. Aku telah sembuh kembali sekarang, ya berkat urutan yang maha mustajab itu. Ngong Ma-ko kau pinter!”

Sambil berkata demikian Lily mengangkat jempolnya dan tersenyum manis dalam pelukan pemuda yang bernama Ngong Ma itu.

Dipeluk seperti itu keruan saja Tiang Hin merasakan dadanya berdebar aneh sampai sesak napasnya. Gadis ini ternyata polos dan tidak malu-malu lagi.

Untung waktu Lily memeluknya dan menciumi bibirnya tadi, mereka tengah berada dalam sebuah hutan kecil yang tidak dilihat orang namun begitu wajah Tiang Hin sebentar pucat sebentar merah.

Entah perasaan apa yang menggerakkan dia untuk mengangkat dagu, gadis itu dan mengangkatnya lagi. Lalu tertunduk dan mengecup bibir yang indah merekah itu.

Lama Tiang Hin berbuat begini, perasaan hatinya membuncah-buncah bukan main riangnya. Seakan-akan pada saat itu ia kepingin menari saking girangnya.

Akan tetapi, tiba-tiba tangan kiri Lily melayang di pipinya,

“Plaak.......!” Lima tanda jari membekas di pipi sebelah kanan Tiang Hin.

Pemuda itu mengusap pipinya yang terasa perih dan seperti orang bodoh ia memandang Lily dengun heran.

“Kau……. kau benar-benar Ngong Ma?” maki Lily dengan muka merah dan mengusap bibirnya yang tadi bekas dikecup Tiang Hin.

“Kenapa aku, apa salahku?”

“Kau, kurang ajar, berani menciumku, setan?”

Bagaikan ditodong oleh pisau yang amat tajam, pemuda ini terhuyung mundur dan mukanya merah sampai ke telinga. Sekali ia meraba pipinya yang masih bertanda merah itu,

“Mengapa kau marah Li-moay……? Bukankah tadi kau yang terlebih dahulu menciumku?” tanyanya penasaran.

Kini Lily yang tertunduk malu.

“Aku menciummu, bukan karena itu……, aku cuma girang bahwa lenganku telah sembuh, ahh, dasar kau memang Ngong Ma...... Ngong Ma……!”

Tertusuk sekali hati Tiang Hin.

“Jadi..... kau… kau ciumku tadi…… bukan karena perasaan bahwa kau sayang kepadaku bukan?”

“Setan apa sayang-sayangan segala! Enggak ada itu di dalam kamus hatiku! Sudahlah, kau benar-benar Ngong Ma!” kembali Lily memaki dengan gemas dan banting-bantingkan kakinya, tiba-tiba matanya menjadi basah.

“Sekarang aku baru tahu mengapa kau disebut Ngong Ma, karena sesungguhnya kau memang tolol, seperti kerbau!”

Untuk seketika muka Tiang Hin menjadi merah. Ia dikatai Ngong Ma, apa sebabnya ia dianggap tolol? Salah apakah dia?

Tak enak rasanya hati pemuda ini, akan tetapi karena ia sengaja menyembunyikan keadaan dirinya, sambil memegangi pipinya yang tadi kena tampar si gadis, Tiang Hin tertawa bodoh,

“Memang aku bodoh, pantas semua orang memanggilku Ngong Ma (si tolol). Aku memang tolol, tolol seperti kerbau…..

“Atau apakah barangkali aku setiap hari berkawan dengan kerbau sehingga aku menjadi tolol? Kau juga menganggapku Ngong Ma, memang aku tolol?”

Kini Lily tidak marah lagi. Entah perasaan apa yamg menghinggapi hatinya saat itu…….. mendengar kata-kata Ngong Ma barusan seakan-akan hatinya seperti ditusuk-tusuk.

Ia memandang Tiang Hin dengan iba dan air mata yang masih bergelantungan di bulu mata itu menitik turun, meleleh perlahan di pipi. Namun begitu sebuah senyum mencercah di bibirnya.

“Ngong-ma koko, jangan salah mengerti. Aku tidak menganggapmu tolol...... Kaumaafkanlah aku! Kalau kau senang, biarlah kau tampar pipiku ini!” sambil berkata demikian menarik tangan Tiang Hin dan membawanya ke pipinya.

Sambil katanya lagi, “Kau tamparlah aku koko, aku memang orang tak kenal budi!”

Tiang Hin menarik tangan itu. Dan seperti tadi dalam dadanya berkecamuk perasaan aneh yang ia sendiri tak mengerti, mengapa ia mempunyai perasaan aneh ini. Rasanya baru kali ini perasaan itu menghinggap di hatinya. Dan terlebih lagi tak mengerti waktu gadis itu tiba-tiba berkata,

“Ngong Ma koko aku mengucapkan banyak terima kasih, kau telah menyembuhkanku. Budi baikmu takkan kulupakan.

“Sekarang aku harus berpisah denganmu, aku harus menolong ibu yang tertawan oleh orang-orang Istana Hantu. Sekiranya aku berhasil menolong ibu aku akan mencarimu lagi. Nah, selamat berpisah koko, aku pergi!”

Tiang Hin hendak membuka mulut, akan tetapi tahu-tahu gadis itu telah mencelat jauh dan sekali berkelebat, bayangan gadis itu sudah tak nampak lagi dari pandangannya. Sebetulnya Tiang Hin hendak mengejar, akan tetapi teringat bahwa ia kini tengah menyembunyikan keadaan dirinya maka dengan langkah lemas ia mengikuti bayangan gadis itu.

Ia berlari cepat pula. Entah mengapa dalam perjalanannya itu wajah Lily selalu membayang di matanya. Senyum gadis itu, alangkah indahnya.

Begitu menggairahkan hidupnya. Dan mata gadis itu, aduhai bagaikan ada magnit yang berkuasa untuk menariknya.

Menyesal ia mengapa tadi dia melepaskan kepergian gadis itu, mengapa ia tidak buru-buru berkata, “Lily, aku tak dapat berpisah denganmu...... jangan kau pergi Lily..... berat rasa hatiku!”

Namun kata-kata itu tak terucapkan. Ia hanya berdiri bengong waktu bayangan gadis itu lenyap dihadapannya.

Hanya untuk beberapa lama ia merenungi perkataan gadis tadi. Lily memanggilnya koko (kanda) alangkah mesranya sebutan itu, bagaikan nyanyian abadi yang begitu merdu, merdu mengusap hatinya.

Sepanjang jalan itu Tiang Hin hilang kegembiraan. Ia banyak sekali melamun.

Segala daun-daun di hutan itu selalu membayangi wajah Lily, senyum-senyum yang manis dari gadis itu selalu membuntuti hidupnya. Akan tetapi segalanya teringat bahwa ia kini sendiri….. alangkah hampanya hidup ini!

Tiang Hin tersentak kaget. Dan mengelepakkan kepalanya. Gila! Apakah aku sudah tergila-gila kepada gadis itu, tak boleh ini! Aku tak boleh melamun terus.

Lily sedang menuju ke Istana Hantu, tentu ia dalam bahaya! Mengapa tidak cepat-cepat mengejarnya dan membantunya?

Berpikir demikian bagaikan diingatkan sesuatu Tiang Hin cepat mengelebatkan tubuhnya berlari menggunakan gin-kangnya mengejar gadis yang bernama Lily, gadis yang sudah menambat hatinya!

Sementara itu, bagaikan bayangan iblis tubuh Lily berkelebat cepat menuju bukit Lu-liang-san. Ia sengaja berlari cepat agar segera sampai di Istana Hantu.

Mudah saja bagi Lily menuju ke Lu-liang-san karena puncak gunung yang tinggi itu dari sini sudah kelihatan menjulang tinggi. Dengan girang sekali Lily berlari cepat menuju ke sana. Namun, biarpun ia sudah berlari cepat tetap saja ia harus menempuh perjalanannya hampir setengah hari lamanya!

Dalam berlarinya itu, hati Lily teringat selalu kepada pemuda yang bernama Ngong Ma. Timbul penyesalan di dalam hatinya kini!

Mengapa ia harus tinggalkan Ngong Ma dan membiarkan pemuda itu berdiri bengong di hutan kecil. Mengapa….. ahh? Lily tak habis mengerti mengapa hanya pemuda itu yang selalu dipikirinya.

Setan! Seharusnya ia memikiri keselamatan ibunya! Berpikir ke situ, Lily mempergunakan ilmu lari cepat dan sebentar saja ia sudah memasuki kaki bukit Lu-liang-san.

Mudah saja baginya bertanya kepada penduduk dusun di luar hutan itu, menanyakan rumah tua yang disebut Istana Hantu. Karena memang rumah tua yang amat angker dan menyeramkan itu sudah dikenal oleh penduduk dusun sebagai rumah tua yang banyak sekali ditinggalkan oleh hantu-hantu yang bergentayangan di dalam hutan dekat telaga kecil itu!

Cepat Lily menuju ke sana.

Akan tetapi apa yang dilihatnya? Dari kejauhan ini ia sudah melihat sebuah rumah tua yang berdiri dengan meganya dan nampak angker sekali.

Rombongan burung gagak beterbangan di atas rumah yang bertingkat dua itu. Bau mayat menusuk ke hidung Lily, sesosok tubuh tergantung!

Berdesir dada Lily, mayat siapa itu?

Perasaan tak enak membuat dia mempercepat langkah kakinya. Tiba-tiba sampai di halaman rumah tua itu, Lily terbelalak lebar dan menjerit,

“Ibuuuu…...!!”

Cepat gadis itu telah mencelat ke atas dan merenggut tali penggantung pada leher ibunya. Ternyata yang tergantung itu adalah tubuh Bwe Hwa!

Inilah hebat sekali, kedua kaki Lily menggigil menurunkan tubuh ibunya dan menotok leher ibunya yang sudah membiru itu! Air mata Lily berderai jatuh menimpa pipi ibunya.

“Ibu........ kau, bangunlah, ibu…...” Lily menangis dan mengguncang-guncangkan ibunya.

Ibu itu membuka mata, akan tetapi tatapan mata Bwe Hwa sudah menyuram sayu. Lama ia memandang anaknya tiba-tiba bibir Bwe Hwa bergerak-gerak hendak mengatakan sesuatu!

Melihat ini, cepat Lily mendekatkan telinganya ke mulut ibunya,

“Ibu……. kau hendak bilang apa, katakanlah ibu…… Jangan kau begini….. uh........ uhhh,” Lily menangis meletakkan kepalanya di dada ibunya itu.

“Li-jie……, kau!” suara Bwe Hwa lemah sekali.

“Ibuuu……!!”

“Lily….. kau….. pergi dari sini....... berbaha..... aghghh…..!” tak kuasa lagi Bwe Hwa, kepalanya terkulai dalam pangkuan anaknya.

Lily terbelalak memandang ibunya.

“Ibuuu…… ooooo……. Ibu……!”

Suara tangis gadis itu tiba-tiba disambut oleh suara tertawa seperti iblis. Dibarengi dengan berkelebat banyak bayangan keluar dari rumah tua itu.

Ternyata yang telah berdiri di situ adalah Nakayarinta, Bu-tek Sianli dan beberapa tokoh-tokoh Istana Hantu.

“Ha-ha-ha……, siapa mengira bahwa yang datang ini adalah anaknya, bukan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le…… ha-ha-hahhkk.” Suara tertawa Nakayarinta ini menggeletar meruntuhkan daun-daun di atas pohon itu.

Lily menengok dan berdiri,

“Singgg,” Pedang Toat-beng-kiam telah tercabut di tangan. Dengan wajah sebentar merah sebentar pucat, gadis ini menudingkan pedangnya ke arah pertapa muka hitam Nakayarinta.

“Orang muka hitam, apakah kau yang telah membunuh ibuku?” Suara Lily tergetar dan giginya bergemeretuk. Dadanya turun naik menahan amarah yang menggelombang dahsyat.

Si kakek muka hitam tertawa mengejek. Kemudian menoleh kepada Bu-tek Sianli:

“Sianli, apa jawabmu? Anaknya yang datang, kau hadapilah hahaha, kau mencari penyakit!”

Bu-tek Sianli mencelat ke depan dan menudingkan telunjuknya, membentak: “Gadis liar, ibumu mati oleh sebab atas kehendakku yang menggantungnya.Kau mau apa?”

“Jahanam keparat! Hari ini juga kau harus mampus di tanganku!”

“Ha-ha-ha, kau benar-benar seperti katak dalam tempurung bocah gila. Apakah kau tidak menyadari dengan siapa kau berhadapan?” Bu-tek Sianli tersenyum mengejek.

“Jangan banyak bacot. Makan ini!” Pedang Toat-beng-kiam di tangan Lily berkelebat cepat.

Hebat sekali gerakan ini. Namun Bu-tek Sianli tentu saja sangat memandang rendah sekali, maka begitu datangnya serangan pedang si gadis, ia sambil tersenyum mengejek memapaki dengan sepasang lengannya mengirimkan jurus Sin-kun-bu-tek dengan maksud sekali mendorong dengan tenaga sin-kang akan membuat gadis itu terjengkang dan roboh, seperti biasanya bila ia menghadapi lawan yang dianggapnya tidak tangguh.

Akan tetapi inilah kesalahan Bu-tek Sianli. Mimpipun ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dihadapinya ini adalah ahli waris tunggal dari kakek Sin Kun Bu-tek Lim Heng San bekas kekasihnya itu!

Dan begitu melihat sepasang lengan si nenek bergerak dengan jurus Memukul Gunung Mengaduk Lautan, tentu saja Lily mengenal baik gerakan ini, maka tanpa memberi kesempatan lagi pedangnya terayun ke samping sedangkan pukulan Bu-tek Sianli disambutnya dengan telapak tangan yang terbuka pula sedangkan pedang Toat-beng-kiam meluncur dengan amat dahsyatnya tak memberi ampun.

“Dess!” Pukulan Bu-tek Sianli tertahan oleh telapak tangan kiri si gadis. Nampak tubuh nenek bergoyang keras, pada saat itulah tanpa diduganya sebuah sinar pedang berkelebat dari samping menyabet leher Bu-tek Sianli.

“Aiii...!” Bu-tek Sianli menjerit kaget merasakan hawa dingin yang luar biasa disampingnya, cepat ia berkelit ke belakang, namun pada saat itulah sebuah pukulan lagi dari Lily menghantam dada si nenek dengan jurus terlihai dari Sin Kun Bu-tek pula, yakni Menampar Ombak Menenangkan Lautan.

Cepat sekali tangan kiri gadis itu telah menyentuh dada si nenek. Bu-tek Sianli terkejut dan mengangkat tangannya pula menangkis.

“Deesss…….!” Lengan Bu-tek Sianli menggigil, namun gadis yang sudah marah itu tak memberi ampun lagi, sebuah jurus Pek-hwa-kiam-sut menyambar.

Kilatan pedang tak kenal ampun dari ilmu silat yang dipelajari oleh Bwe Hwa dari kakek Pek-moko membuat Bu-tek Sianli berteriak kaget seperti tadi. Dan cepat membuang diri ke belakang.

“Nenek gila, kau harus menyusul ibuku ke akherat dan minta ampun!”

Bentak gadis yang bergema memekakkan anak telinga bagi yang mendengar ini disertai dengan gebrakan tangan kiri yang menggunakan jurus Merogo Jantung, Menyambar Hati. Inilah jurus maut Sin-kun-bu-tek ciptaan Lim Heng San.

Bu-tek Sianli menggigil dan ia berteriak ngeri mengiringi kematian ketika tangan gadis itu dengan dahsyatnya amblas masuk ke dalam dada Nenek itu dan sebuah benda merah tergenggam di tangannya.

Dengan wajah beringas Lily mendongak ke atas:

“Ibu tenangkanlah hatimu, anakmu telah mengeluarkan jantung manusia jahanam ini.......!”

Nakayarinta cepat mengeluarkan tongkatnya, ia sendiri terbelalak heran dan kaget. Jurus apa itu tadi? Luar biasa sekali.

Segera ia memberi aba-aba kepada anak buahnya. Lima orang kakek Istana Hantu yang berambut riap-riapan dan memakai jubah hitam menerjang maju.

Akan tetapi begitu tangan kiri Lily bergerak, salah seorang di antaranya berteriak ngeri dan roboh berkelonjotan. Ternyata Lily yang tengah menggenggam jantung Bu-tek Sianli, saking marahnya menimpukkan benda itu ke arah penyerangnya.

Kakek ini tak keburu menangkis, dan sebuah benda berlumur darah bagaikan kilat cepatnya telah meluncur dengan hebat. Kakek itu menjerit ngeri.

Segumpal jantung manusia menembus dada si kakek. Dan sambil memekik ngeri kakek itu roboh dengan tubuh berkelojotan memegangi dada yang tertembus senjata jantung!

Gegerlah suasana di luar rumah tua itu. Lily mengamuk hebat. Pedang di tangannya ini ternyata betul-betul pedang ampuh yang luar biasa ganasnya.

Pantas saja disebut Pedang Penyabut Nyawa, karena ditangan Lily benar-benar pedang itu berubah bagaikan malaikat yang haus darah mencabuti nyawa manusia.

“Minggirlah semua, biar aku yang melayani gadis itu, lekas lapor kepada pay-cu!”

Bentakan Nakayarinta itu membuat tiga orang berbaju hitam mencelat mundur dan lari masuk ke dalam Istana!

“Kakek muka hitam, kau juga orang-orang Istana Hantu harus mampus!” Lily membentak dengan mengirimkan tusukan pedang yang luar biasa lihaynya.

Tentu saja Nakayarinta yang telah menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis ini menjadi terheran-heran, dan beberapa kali bibirnya hendak bertanya. Akan tetapi menghadapi gerakan-gerakan yang luar biasa ganasnya ini saking penasaran pertapa dari Anapura itu membentak.

“Eh kau, apa hubunganmu dengan Pek Moko?”

“Setan muka hitam, Pek Moko adalah kakek guruku, kau mau apa?”

“Ha-ha-ha kebetulan sekali! Pek Moko itu adalah musuh besarku yang telah membunuh seorang muridku, maka kau harus berlutut kepadaku meminta ampun, hayo berlutut kau!” bentak kakek muka hitam ini mengeluarkan suara khi-kang tingkat tinggi, sehingga ke dua kaki Lily terasa mau lumpuh dan hampir saja ia menjatuhkan diri berlutut.

Namun gadis yang keras hati dan pantang menyerah ini, mengempos hawa murni dan membentak,

“Kakek bangsat muka hitam! Kalau kakek guruku hidup kau juga harus mampus! Kau jahat siluman hitam, mampus kau!”

Dengan wajah sengit sekali gadis Lily ini mainkan ilmu pedang Pek-hwa-kiam-sut yang ganas ini, sedangkan dengan tangan kirinya ia melanjutkan pukulan-pukulan maut yang luar biasa lihaynya!

Tentu saja setelah bergebrak mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh, Nakayarinta hampir tak kuat melayani gadis ini, diam-diam ia mengeluh.

Dan merah mukanya saking malu, kalau ia sampai kalah oleh gadis ini betapa akan memalukan saja, maka cepat-cepat ia merubah gerakan tongkatnya dan mainkan ilmu tongkat siluman puncak Himalaya.

Jarang sekali kakek ini memainkan ilmu ini, karena bukan saja gerakan-gerakan tongkat Nakayarinta kuat dan ganas. Namun sekarang ia mainkan tongkatnya dengan mulut kemak-kemik seperti orang membaca doa, akan tetapi sungguh hebat sekali.

Tiba-tiba Lily merasakan dalam pandangan Nakayarinta telah menjelma menjadi sepuluh orang. Dan puluhan tongkat mengurung dirinya dengan ketat, tentu saja didesak begitu Lily menjadi terkejut dan terheran-heran.

Gerakannya mulai kacau karena ia tidak tahu lagi yang manakah asli lawannya yang muka hitam ini. Ia bagaikan dikeroyok sepuluh orang muka hitam.

Benar-benar luar biasa sekali.

Dalam detik-detik selanjutnya kakek muka hitam Nakayarinta sudah mulai mendesak gadis lawannya ini. Berkali-kali dari mulut kakek itu keluar bentakan-bentakan yang membuat ke dua kaki Lily menggigil karenanya dan hendak berlutut.

Namun hanya kekerasan dan keuletan inilah yang menolongnya sehingga ia tidak terpengaruh benar oleh hoat-sut dari kakek itu.

Namun begitu masih terpengaruh oleh pandangan matanya melihat kakek muka hitam telah berubah menjadi sepuluh orang dan tongkat ular cobra di tangan kakek itu bergulung-gulung dahsyat mendesaknya. Merupakan tangan-tangan maut yang setiap waktu dapat mencabut nyawa lawan.

Sementara itu dari dalam rumah tua itu berkelebat banyak bayangan dan tiga orang kakek telah berdiri di dekat pertempuran yang berjalan dengan seru-serunya. Yang baru datang itu Kwan-tiong Tok-ong, Sian Jiu Nio-nio dan Thay-lek Hui-mo.

Mereka ini kaget sekali melihat seorang gadis bertempur dengan Nakayarinta. Sedangkan terlebih lagi mereka melihat tubuh Bu-tek Sianli menggeletak di situ dalam keadaan tubuh tak berryawa lagi.

Tidak jauh dari situ menggeletak mayat Bwe Hwa, segera Kwan-tiong Tok-ong menyuruh orang-orangnya untuk menggantung itu di atas penglari di depan rumah tua! Akan tetapi baru saja orang itu menggantungkan tubuh Bwe Hwa, sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu orang itu memekik ngeri karena pedang di tangan Lily sudah menabas lehernya.

Lily hendak mencelat ke atas tiang penglari mengambil jenasah ibunya yang digantung, pada saat itu Kwan-tiong Tok-ong dan Sian Jiu Nio-nio sudah menggerakkan senjata masing-masing menerjang gadis yang perkasa itu.

Sepasang tangan Kwan-tiong Tok-ong berdesir menyambar leher lawannya dengan gerakan mencengkeram sedangkan Sian Jiu Nio-nio sudah menggerakkan rambut menyabet ke arah gadis, dibarengi kemudian oleh bayangan Nakayarinta yang telah mencelat menerjang dengan pukulan tongkat mautnya!

Menghadapi tiga serangan sekaligus itu, Lily menjadi sibuk. Dengan gerakan ringan tubuhnya sudah melayang tinggi ke atas menghindarkan sabetan rambut Sian Jiu Nio-nio sedangkan sambaran sepasang tangan dari Kwan-tiong Tok-ong dibarengi dengan kilasan pedang membuat gerakan membabat.

Sementara pukulan tongkat Nakayarinta ia barengi dengan pukulan telapak tangan kiri menggunakan jurus Kwi-eng-cu-hoat (Pukulan Bayangan Iblis) yang luar biasa itu!

Dengan gerakan yang cepat sekali bagaikan bayangan iblis, tubuhnya miring sehingga ujung tongkat ular cobra itu meleset dari dadanya. Tangan kiri memukul pangkal lengan yang memegang tongkat, tangan kanan menggunakan jurus Pek-hwa-kiam-sut yang terlihai menyabet ke bawah mengarah pusar lawan!

Melihat gerakan yang sekali gus dapat mematahkan serangannya, Nakayarinta kaget setengah mati. Gerakan yang dilakukan oleh Lily adalah gerakan ilmu silat tinggi dan tidak disangkanya sama sekali gadis ini demikian lihai.

Akan tetapi tentu saja dengan munculnya kawan-kawannya yang memang sudah turun membantunya tadi, yakni Kwan-tiong Tok-ong dan Sean-jiu Nio-nio, kakek muka hitam ini tidak ingin memperlihatkan sikap takut di depan mereka. Maka menghadapi serangan ini ia masih dapat tersenyum mengejek dan mengelak dari pukulan tangan kiri lawan ke arah lengan kanannya yang memegang tongkat.

Sementara serangan pedang ke arah pusarnya hanya dielakkan ke kiri dengan menggeser bhesinya.

Namun gerakan ini kurang cepat, akibatnya hebat sekali terdengar suara “cratt”, pedang di tangan Lily dengan jitunya telah merobek paha kakek muka hitam itu.

“Celaka.....!” Nakayarinta melompat ke belakang sambil meringis karena dari pangkal pahanya mengucur darah dengan derasnya membasahi celananya yang hitam. Terasa sakit dan lumpuh.

Segera ia merogo sakunya dan menyambitkan beberapa hek-to-ciam ke arah lawannya yang sudah menerjang dengan jeritan sengit ini. Akan tetapi sambil tersenyum, mengejutkan Lily menyampok jarum-jarum itu, hanya dengan kebutan lengan tangan kirinya.

“Kakek muka hitam, sekarang ajalmu sudah sampai untuk pergi ke neraka. Bersiap-siaplah kau untuk mampus!” bentak Lily menerjang dengan tubuh laksana terbang menyambar kakek muka hitam mengirimkan serangan-serangan dari atas.

Hebat gin-kang gadis ini, membuat Nakayarinta menjadi terkejut dan melempar dirinya ke belakang bergulingan menghindarkan terjangan-terjangan pedang yang dahsyat dan tak kenal ampun ini!

Pada saat itu dua orang kawannya. anggota Istana Hantu yang berdiri di dekatnya, dengan berbareng lalu menerjang maju dengan golok mereka.

Lily yang sudah dibuat sengit, merasa ada angin pukulan di belakangnya segera membalikkan tubuh dan melancarkan pukulan tangan kiri yang dahsyat.

“Desss….., dessss……., dessss!”

Dua orang penyerangnya yang di belakangnya itu terpental ke belakang dengan memuntahkan darah segar. Ternyata dengan sekali pukul saja, Lily sudah dapat membuat dua penyerangnya terjungkal dengan luka dalam yang cukup parah di dadanya!

Kepandaian Lily ini sudah mencapai tingkat yang amat tinggi. Tidak saja dia memiliki tenaga lwekang yang sudah tinggi sekali, juga ilmu pedangnya amat aneh dan gerakannya dahsyat tak terduga, cepat dan ganas.

Pantas saja pada puluhan tahun yang lalu pada jaman Hek Pek Moko ilmu pedangnya itu pernah dijuluki Sepasang Pedang Iblis, karena memang ilmu pedangnya ganas laksana iblis kuat dan dahsyat.

Pada saat itu terdengar bentakan yang amat berpengaruh: “Mundur!”

Mendengar suara yang dikenalnya ini, Nakayarinta dan Kwan-tiong Tok-ong mencelat mundur ke belakang. Nampak tidak jauh dari situ serombongan barisan yang terdiri dari kakek-kakek berambut panjang riap-riapan telah berdiri di situ mengapit seorang pemuda tampan yang tersenyum mengejek melihat gadis yang perkasa ini.

“Bocah lancang kau telah mengacau Istana Hantu. Tahukah kau apakah hukumannya?”

Heran sekali, suara pemuda itu terdengar merdu dan bersih. Dalam herkata tadi sebuah senyum mengejek menghias bibirnya memperlihatkan kilatan gigi yang putih dan teratur.

Kagum sekali hati Lily, melihat ketampanan pemuda ini. Akan tetapi melihat pemuda itu berada ditengah-tengah orang-orang Istana Hantu, hatinya menjadi panas dan menudingkan pedangnya ke depan sambil membentak keren.

“Kau siapa?”

Pemuda itu tertawa kecil.

“Akulah Thay-bengcu, kau harus tunduk kepadaku dan berlutut.”

Suara itu terdengar merupakan gema yang sangat menyakitkan anak telinga. Terkejut sekali Lily, tahulah ia bahwa pemuda tampan ini, tidak di bawah kepandaiannya oleh kakek yang menyerangnya tadi.

“Bagus, kau Pay-cu Istana Hantu tentu kaulah yang merencanakan mencelakai ibuku, betul?”

“Hi-hik ……, tentu saja aku, siapa lagi. Ibumu terlalu sombong dan keras hati. Telah memilih jalan kematian, itulah hukumannya!”

“Jahanam keparat. Rasakanlah pembalasannya,” Bentak Lily membarengi berkelebatnya tubuh mengirimkan serangan yang dahsyat menerjang pemuda itu.

Namun dengan sekali menggerakkan kakinya pemuda yang dijuluki Thay-bengcu itu telah menyelinap di balik orang-orangnya dan tiga buah senjata telah menangkis senjata Lily. Tiga orang kakek berambut riap-riapan tertawa mengakak mengeluarkan suara yang serak seperti burung goak sambil menekan pedang Lily.

Pandangan Lily memancar laksana api menyapu orang-orang ini. Tiba-tiba saja sambil mengeluarkan pekik dahsyat tubuh gadis itu telah melayang ke atas dan menukik turun mengeluarkan jurus Rajawali Sakti Sambar Hati.

Tentu saja kakek ini terkejut bukan main melihat tahu-tahu gadis itu telah berada di udara dan mengirimkan serangan dari atas, maka cepat merekapun mencelat ke atas membarengi gerakan gadis itu menangkis senjata pedang dan mengirimkan pukulan jarak jauh dengan tangan kiri.

“Trangggg!”

Bunga api berpijar oleh sebab bertemunya senjata-senjata mereka, tiga buah pukulan kakek itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Lily. Kemudian gadis itu berpok-say turun di dekat Thay-bengcu mengirimkan serangan pedang yang dahsyat, namun pada saat itu Kwan-tiong Tok-ong sudah menggerakkan senjatanya mencakar pundak Lily!

Merasakan hawa busuk dan amis menyambar di belakangnya, cepat laksana kilat Lily mengelak ke kiri. Akan tetapi siapa kira bahwa pada saat itu tangan kiri Thay-bengcu melancarkan serangan tin-san-kang dengan tubuh agak dijongkokkan dan tangan terbuka.

Lily kaget bukan main, merasakan segumpalan hawa dingin menyambar di sampingnya. Cepat ia mengibaskan lengan bajunya dengan maksud menampar angin pukulan itu.

Akan tetapi siapa sangka justru gerakkan yang lembut ini laksana es menimpa lambungnya. Karena tak keburu lagi menangkis atau mengelak, cepat ia mengerahkan hawa sin-kang di bagian samping menggunakan sikut mengibas ke samping.

“Desss!”

“Celaka!” Lily menjerit kaget ketika tubuhnya terpental ke arah kakek muka hitam. Ia terhuyung-huyung dan seluruh tubuhnya menggigil. Pada saat itu sambil tertawa mengekeh tangan kiri Nakayarinta mendorong ke depan menyambut tubuhnya.

“Brasss!” Untuk yang kedua kali tubuh Lily terpental melayang ke arah Kwan-tiong Tok-ong yang segera menyambutnya pula dengan cakaran cap-tok-mo-jiauw yang mematikan ini.

Thay-bengcu tersenyum pahit melihat Kwan-tiong Tok-ong menyambut tubuh si gadis dengan cakaran sepuluh racun berbisa yang luar biasa jahatnya. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya tubuh itu terhantam sepuluh cakar setan yang penuh racun ini.

Semua orang-orang yang berdiri di situ menjadi tegang. Tubuh gadis cantik jelita itu meluncur ke arah Kwan-tiong Tok-ong seperti bola yang dilontarkan.

Sementara sambil tertawa-tawa keras si kakek tinggi besar yang dijuluki Raja Racun itu mengayunkan sepasang cakar setannya ke arah pundak si gadis!