-->

Istana Hantu Jilid 11

Jilid 11

Namun karena ia selalu berjalan di belakang secara sembunyi-sembunyi, dan lagi kurang cepat, akhirnya Wang Ie kehilangan jejak. Ia memasuki hutan dan tidak melihat Hong Kwi.

Dengan hati yang resah dan ngelamun, ia berjalan sambil tertunduk. Tiba-tiba telinganya yang terlatih dan tajam mendengar suara senjata beradu di depan hutan sebelah sana itu, cepat Wang Ie menuju ke sana.

Alangkah heran hatinya melihat bahwa seorang gadis terdesak hebat oleh seorang hwesio. Maka tanpa banyak cakap lagi ia terus menerjang hwesio itu. Dimainkan jurus-jurus ilmu silat sin-khauw-kun-hoat yang luar biasa itu.

Tidak heran, tentu saja Tiang Hin yang melihat pemuda itu bersilat menjadi terheran-heran karena sesungguhnya ilmu silat yang dimainkan oleh Wang Ie adalah berdasarkan ciptaan Sui-kek Siansu, maka gerak tangan dan kaki hampir bersamaan.

Hanya bedanya ilmu silat sin-khauw-kun-hoat yang dimainkan Wang Ie lebih asli dan masih berbau menurut gerakan-gerakan monyet. Sedangkan yang Tiang Hin pelajari dari dinding itu sudah banyak digubah oleh Sui-kek Siansu sendiri!”

Sehingga biarpun kelihatan agak berlainan, namun pada dasarnya sama. Karena Sin-khauw-kun-hoat adalah inti dari Thian-te Bu-tek-cin-keng, lebih asli dan murni.

Sebab itu begitu Wang Ie bergebrak, dalam beberapa jurus saja Bu Beng Hosiang menjadi kewalahan bukan main. Dan pada jurus yang kelima belas, tiba-tiba ia merasa dadanya terasa sakit dan nyeri.

Akan tetapi hwesio ini menjadi marah dan penasaran, tiba-tiba ia mengirimkan pukulan kuat ke arah punggung pemuda itu, dan cepat toyanya menyambar ke arah Hwe Lan. Sudah barang tentu gadis ini berkelit cepat menghindarkan diri dari sabetan toya dan balas mengirimkan totokan sulingnya ke arah punggung hwesio itu.

Akan tetapi gadis ini menjadi kecele, karena ternyata punggung hwesio itu demikian kebal dan tidak terluka atau terpengaruh oleh totokan si gadis. Hanya hwesio itu terhuyung-huyung mundur ketika untuk yang ke dua kalinya tangan kanan Wang Ie berhasil menerobos ke dada si hwesio dan meraba dada itu.

Akibatnya, bagaikan disentuh besi baja yang dibakar panas, terasa dadanya menjadi panas bukan main, napasnya sesak. Dan Ban Beng Hosiang muntahkan darah segar sambil matanya memandang ke arah pemuda itu membelalak.

“Lo-suhu, apakah masih kurang? Ingat dalam sepuluh hari kau tidak menyembuhkan luka di dalam dadamu itu, jangan salahkan aku kalau giam-lo-ong akan mencabut nyawa lo-suhu.

“Habis lo-suhu jahat sih, rasain dah lu ketula! Makanya jadi seorang hwesio nggak boleh berbuat jahat. Thian sangat mengutuk. Heran! Untuk apa sih bertempur dengan seorang gadis? Memalukan!”

“Bocah setan, mulutmu lancang....... kau auggg.......!” Bu Beng Hosiang muntahkan darah lagi, mendekap dadanya yang terasa sakit bukan main. Napasnya sesak.

“Nah, lo-suhu bandel sih, sudah pulang sono mensucikan diri bertobat!”

Bu Beng Hosiang tidak menyahut karena sukar untuk berbicara, napasnya sesak, kemudian ia menggerakkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dengan hati penuh kengerian.

Hwe Lan menghampiri pemuda itu dan memandangnya kagum.

“Terima kasih untuk pertolongan anda!”

Wang Ie juga menjura.

“Tidak apa nona, aku kebetulan saja melihat engkau terdesak hwesio tadi.......”

“Memang hwesio tadi lihay, sayang!”

“Apanya yang disayangkan? Malah mestinya kau harus bersyukur telah terhindar dari hwesio jahat itu!”

“Bukan begitu, kalau saja kepandaianku tinggi, tentu tak akan kuberi hati hwesio sesat tadi!”

“Sudahlah. Oya, hendak kemanakah tujuanmu nona?”

“Aku, entahlah!”

“Kalau begitu, sampai berjumpa nona. Aku harus mencari sumoayku. Oya, apakah kau melihat dua orang muda lewat di tempat ini?”

“Dua orang muda? Apakah gadis dan pemuda tampan itu?”

“Ya, dia, apakah kau melihat?”

Tiba-tiba Hwee Lan menarik tangan Wang Ie dan berkata,

“Tentu aku melihatnya. Cepat aku hendak bertemu dengan gadis yang menolongku. Tadi dialah yang telah membebaskan aku dari totokan hwesio keparat itu, mari lekas kita kejar! Mereka menuju ke sana,” berkata demikian Hwe Lan menarik tangan Wang Ie dan mereka terus berlarian dengan amat cepat.

Sayup-sayup Tiang Hin mendengar suara dua orang muda itu bercakap-cakap dengan mesra sekali. Dari kejauhan terdengar suara si pemuda bertanya kepada gadis baju merah:
“Nona, boleh aku tahu namamu?”

“Namaku, Hwe Lan dan namamu?” balas Hwe Lan bertanya.

“Namaku Wang Ie .”

“Wang Ie? Kau she apa?”

“Aku tak mempunyai she (nama keturunan)!”

“Heh? Mengapa begitu?”

Suara si gadis terdengar semakin tenggelam jauh. Di pinggir jalan kecil itu Tiang Hin termenung seorang diri.

Ia tak habis heran, mengapa gadis baju merah itu yang terhadap dirinya semalam begitu galaknya dan ketus, mengapa dengan pemuda yang bernama Wang Ie itu demikian akrab. Diam-diam Tiang Hin melirik ke arah pakaiannya.

Sekarang ia merasa rendah diri. Tentu saja gadis manakah yang memperhatikan dirinya yang seperti jembel ini? Pakaiannya penuh tambalan. Akh, memang aku yang tak tahu diri.

Dalam melamun demikian Tiang Hin melangkahkan kakinya. Ia menuju ke sebuah pancuran di dalam hutan itu dan mencuci muka, kemudian ia bersalin pakaian mengganti dengan pakaian yang bersih.

Lama sekali Tiang Hin berdiri di dekat air pancuran itu, mengawasi air bening yang mengalir pada selokan kecil. Dengan kakinya ia menguiskan rumput-rumput di bawah kakinya kemudian menatap ke arah sepatunya yang sudah minta diganti ini.

Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara orang mengeluh, cepat dengan sekali lompatan ia telah berlari ke arah suara itu. Alangkah heran hatinya, ketika sampai di tempat itu ia melihat seorang gadis jatuh terlentang oleh pukulan rambut si nenek.

Seperti telah ditutur di bagian depan dengan menggunakan gin-kangnya Tiang Hin berhasil mendekati gadis itu dan alangkah kagetnya hatinya setelah tahu bahwa pangkal lengan gadis itu patah oleh pukulan rambut si nenek yang panjang itu. Segera ia memeriksa lengan itu dan mengurutnya.

Dan akhirnya berhasil mengusir Sian Jiu Nio-nio dan membawanya pergi selagi nenek rambut panjang itu terluka oleh sebab pukulan yang membalik tadi.

◄Y►

Lily membuka matanya dan alangkah herannya begitu dlihatnya seorang pemuda berjongkok di dekatnya. Melihat ia membuka mata pemuda itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar cerah seperti bintang.

Lily menggerakkan tangannya untuk berbangkit dari duduknya, akan tetapi ia menggigit bibirnya menahan sakit yang luar biasa pada lengannya. Akan tetapi ia bergerak cepat mengirimkan tendangan dahsyat ke arah pemuda yang sedang berjongkok itu.

Melihat gerakan ini, buru-buru Tiang Hin mengangkat tangan dan berseru, “Eh, jangan tendang aku nona, aku....... tak bermaksud untuk berlaku kurang ajar kepadamu, aku.......”

Tiang Hin tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena tendangan kaki kiri gadis itu telah bersarang di lambungnya. Karena tak keburu lagi mengelak tendangan gadis ini, ia segera mengerahkan hawa sin-kang di bagian lambungnya dan membiarkan kaki kiri gadis itu menghantam lambungnya:

“Desss!” Tubuh Tiang Hin terlempar beberapa meter jauhnya oleh tendangan gadis itu.

Tiang Hin terjerembab hampir masuk ke dekat solokan yang berair itu, kalau tidak buru-buru ia bergulingan dan rebah untuk beberapa lama di tanah yang berumput itu, ia merasakan yang hebat menyerang jantungnya.

Untung ia tadi dapat menyalurkan hawa sin-kangnya, kalau tidak tentu akan hancur tubuhnya terkena tendangan gadis yang kelibatannya juga galak ini. Pelan-pelan ia berbangkit bangun dan berdiri menjura ke arah gadis itu.

“Nona, harap jangan salah mengerti..... aku tadinya hanya ingin menolongmu saja. Kau..... kau terluka dilenganmu yang patah itu..... ahh, kau telah salah sangka nona. Kalau kau memang tidak senang akan pertolonganku yang bodoh ini, biarlah aku pergi saja!” berkata demikian Tiang Hin hendak melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu.

Lily cepat memanggilnya, “Eh, tunggu dulu!”

Tiang Hin menoleh. “Apa kau masih kurang puas menendangku, apa kau tidak memaafkanku? Biarlah lain kali aku tak mau usil tangan lagi!”

“Bukan begitu…... sebetulnya aku..... aku menyesal sekali menendangmu tadi. Kukira kau……” Lily tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menjadi heran bukan main.

Pemuda ini hebat juga, pikirnya, masa ia dapat menahan tendanganku barusan, padahal...... sungguh tak masuk diakal! Atau apakah tenagaku sudah habis, sehingga tendangannya tadi tidak melukai pemuda yang kelihatannya sederhana sekali itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang muda yang kelihatannya sederhana mempunyai kepandaian tinggi.

Wajah Lily menjadi merah sekali. Ia merasa sudah kesalahan tangan memukul pemuda ini, tadinya ia menyangka pemuda ini hendak mengganggunya, maka segera ia berkata,

“Maaf..... aku..... aku telah salah duga kepadamu, eh, di mana nenek rambut panjang bangsat itu?”

“Siapa maksudmu nona?”

“Nenek yang rambutnya panjang, apa kau melihat dia? Dia itu orang-orang lstana Hantu yang jahat, aku harus membasminya sekarang juga..... Aduhh, lenganku!” Lily menggigit bibirnya menahan rasa nyeri pada pangkal lengannya.

“Istana Hantu?” Tiang Hin berkata perlahan.

“Ya, dia itu orang Istana Hantu. Aiii, ibuku tertawan olek kakek tinggi besar dan kakek muka hitam. Aku harus segera menyusul ke sana.” Lily bergerak hendak bangkit akan tetapi ia merasakan kini lengannya menjadi lumpuh.

“Kau terluka pada pangkal lenganmu nona, harap jangan kau bergerak dulu. Berbahaya sekali, kalau sambungan sikumu ini putus....... tanganmu nanti akan menjadi bengkok jadinya. Diamlah biar aku urut!”

“Eh, kau bisa?”

Tiang Hin tersenyum dan memandang gadis itu.

“Kalau kau percaya padaku, aku akan berikhtiar untuk menyembuhkan tulangmu yang patah ini. Heran aku, mengapa kau bisa patah tulang. Apakah kau jatuh dari atas pohon di atas itu?” tanya Tiang Hin menunjuk ke atas.

“Tolol! Aku tadi bertempur dengan nenek rambut panjang, kaki tangan Istana Hantu tadi….. Heran kenapa dia pergi.......? Eh, kau lihat nggak nenek rambut panjang!”

“Nenek rambut panjang yang mana? Tadi cuma dapatkan engkau terkapar di sini dan memeriksa lenganmu yang terluka. Tidak aku melihat nenek itu, siapa dia?”

“Dia nenek siluman bangsat, tadi hampir saja membunuhku. Sudah, kalau kau tidak lihat tidak apa-apa. Eh, benar kau bisa menyembuhkan luka di lenganku ini?”

“Bisa tidaknya, belum pasti. Tapi biasanya sih kalau patah tulang saja aku belum pernah belajar dari ibu. Dulu, waktu aku panjat-panjat pohon pernah tulang kakiku patah dan remuk karena terjatuh dari atas, kemudian ibu menyembuhkannya Sekarang lihat nggak sakit lagi malahan bisa sembuh seperti semula!”

“Hebat! Siapa ibumu........?”

“Ibuku sudah meninggal, nona! Sudahlah, mau nggak nih kuobati? Kalau mau bilang cepat-cepat…… aku mau cari obatnya, kalau nggak percaya ya sudahlah!”

“Bukan begitu. Hanya....... hayo cepatlah obati lenganku ini. Aku harus cepat-cepat ke Istana Hantu menolong ibu yang tertawan! Eh, kau ini baik benar kepadaku! Namamu siapa sih?”

Tiang Hin tersenyum. Gadis ini rupanya lebih baik dari pada gadis yang semalam. Gadis ini tidak ketus hanya nampaknya kurang percaya orang. Dan keras hati.

Akan tetapi cantik dan mata itu, alangkah indahnya! Tanpa disadarinya Tiang Hin menjadi terpesona oleh mata yang redup dan menghanyutkan itu, bibir yang basah merah itu alangkah sedapnya dipandang.

“Eeee, kok ngeliatin saja. Siapa dong namamu? Keberatan ya, namanya kuketahui! Kalau kau enggak sudi memberitahukan nama, sudah aku tak perlu pertolonganmu!”

“Nanti dulu nona, jangan marah.........”

“Jangan panggil aku nona, namaku Lily!”

“Hemm, Lily namamu bagus ya.......”

“Hu, kau sudah tahu namaku, sekarang apa belum mau memberitahukan namamu? Kau tentu seorang penduduk dusun ya? Siapa dong namamu?”

Tiang Hin tersenyum geli. Pantas gadis yang semalam itu ketus terhadapnya mungkin gadis baju merah itu juga barang kali menyangkanya ia penduduk dusun, orang bodoh dan miskin. Tiba-tiba pemuda ini melirik ke arah pakaiannya yang putih sederhana terbuat dari kain yang kasar, akan tetapi rasa haru naik ke dadanya.

Biarpun kain kasar akan tetapi pakaian yang dipakainya adalah pemberian ibunya. Ia harus menghargai dan harus berbahagia. Teringat ibunya yang sudah meninggal, ia tersenyum pahit dan berkata,

“Aku seorang bodoh nona, penduduk dusun yang miskin... aku... namaku... oh, orang-orang menyebutku Ngong Ma (pemuda tolol).”

Lily mengerutkan alisnya yang berbentuk indah dan memandang pemuda itu seakan-akan tidak percaya.

“Siapa yang memanggilmu Ngong Ma begitu, ah yang benar, ah, namamu siapa sih?”

“Ya, Ngong Ma. Aahh, kau tentu merasa hina ya mendengar namaku yang nggak enak didengar ini, memang demikianlah adanya nona. Teman-temanku, tetangga-tetangga selalu memanggilku Ngong Ma begitu. Habis aku harus memberikan nama apakah kepadamu. Namaku Ngong Ma, ya tetap Ngong Ma!”

“Akan tetapi kulihat pada wajahmu, kau tidak kelihatan tolol,” Lily tersenyum.

“Memang aku tolol nona, masakan orang-orang memanggilku Ngong Ma!”

“Akan tetapi kau bisa menyembuhkan lukaku, masa kau tolol. Malah aku kagum sekali, oya, kita tak perlu banyak ngobrol ya Ngong Ma koko. Cepatlah kau periksa lenganku ini,” berkata demikian Lily merobek kain baju pada lengannya dan menyodorkan kepada Tiang Hin.

“Bukan begini caranya nona…..!”

“Namaku Lily....... “

“Aku harus mencari akar obat dulu. Kau tunggu di sini ya, sebentar saja. Di sebelah sana itu aku akan mencari daun-daun obat untuk lukamu……”

“Jangan lama-lama Ngong Ma-ko!”

Tiang Hin mengangguk. Dalam hatinya ia tersenyum dan terharu waktu gadis itu menyebutnya Ngong Ma-ko (kakak Ngong Ma) tentu gadis itu tahu kesopanan dan tata susila sehingga ia memanggilnya Ngong Ma-ko.

Sebetulnya bagi Tiang Hin tak perlu mencari daun-daun obat, cukup baginya hanya mengurut dan menyalurkan hawa sin-kang untuk merapatkan tulang-tulang yang patah dan remuk. Akan tetapi karena ia sengaja hendak menyembunyikan kepandaian, dan agar tidak menimbulkan rasa curiga di hati gadis ini, ia lalu sengaja mencari daun obat.

Dan mengambilnya sembarangan daun yang kemudian ditumbuk dengan sedikit air dan dibuburi di tempat luka si gadis. Dan kemudian mengurutnya perlahan-lahan.

Tentu saja diam-diam ia mengerahkan hawa sakti di tangannya menekan tulang dan dengan mempergunakan hawa sin-kang sehingga tulang-tulang yang patah itu dapat bersambung kembali seperti sedia kala, akan tetapi untuk ini tentu saja memakan waktu beberapa hari lamanya.

Baru setelah tangan Tiang Hin mengurut-urut perlahan dan kemudian dibuburi oleh daun-daun dan akar-akar yang tadi sudah ditumbuk halus-halus, terasa kini lengan yang terluka itu tidak lagi menderita rasa sakit yang hebat. Diam-diam Lily menjadi heran dan memandang kagum ke arah tangan yang cekatan mengurut lengannya ini.

Tentu saja ia tak pernah menduga bahwa pada saat tangan Tiang Hin mengurut, pemuda ini mengerahkan tenaga sin-kang dan menyalurkan tenaga mujijat ini ke dalam darah untuk menghentikan peredaran darah ke arah lengan itu.

Akan tetapi. tiba-tiba Lily berseru heran dan berkata:

“Celaka...... kau…… kau rupanya salah urut, mengapa kini lenganku menjadi lumpuh?”

“Kenapa, sakit?”

“Sakit sih nggak lagi, cuma….. aduh, tanganku tidak bisa digerakkan. Lumpuh! Celaka, kalau tanganku ini menjadi lumpuh dan pian-sui, Wah!” Lily memandang Tiang Hin dengan cemas.

Tentu saja pemuda ini tahu, bahwa ia memang segaja kerahkan sin-kang menotok lengan gadis itu agar jalan darahnya tidak beredar di pangkal lengan. Sengaja ia lakukan ini agar sakit yang terasa itu tidak lagi terasa oleh si gadis dan membuat lengan itu menjadi lumpuh dan kebal, dan menghilangkan kekuatan gerak, sehingga waktu si gadis mengangkat lengannya, lengan itu seperti lumpuh dan ttdak bisa di gerakkan.

“Tidak usah kuatir Lily, percayalah padaku. Memang mulanya terasa lumpuh, akan tetapi kalau kelak tulang-tulangmu bersambung kembali kau akan dapat menggerakkan tangan lagi. Jangan takut, aku bukan hendak mencelakaimu!”

“Bukan begitu Ngong Lam-ko. aku....... aku kuatir tadi kau salah urut dan…….”

“Belum apa-apa kau sudah berkuatir. Apa kau tidak percaya kepadaku?

“Oya, Lily dimana rumahmu? Sebaiknya kau….... kau istirahatlah di rumah, kujamin dalam waktu tiga hari engkau pasti sembuh seperti semula!”

“Begitukah? Aku harus berterima kasih sebelumnya!”

“Kau memang bukan tukang urut yang jempolan, terasa sekarang lenganku tidak sakit lagi. Kau hebat!”

Tiang Hin tersenyum: “Percayakah kau, aku dapat menyembuhkanmu?”

“Aku percaya sepenuh hatiku. Dalam tiga hari ini aku pasti sembuh.”

“Nah, kau pulanglah Lily, tentu kau dicari oleh orang tuamu. Eh, dimana rumahmu. Bolehkah aku mengantarkanmu?”

“Aku tidak mempunyai rumah. Ngong Lam-ko. Aku dan ibu seorang perantau. Tak tentu tempat tinggalnya!”

Tiang Hin melirik ke arah pedang yang tergantung di punggung si gadis. Wajahnya bersinar cerah.

“Oh, tidak tahunya kau seorang lihiap (pendekar wanita) yang gagah perkasa, maafkan aku yang bodoh dan tidak mengenal orang gagah.”

“Ayaa, kau terlalu berlebihan Ngong Lam-ko. Aku hanya orang biasa saja dan hanya mengerti sedikit ilmu pukulan, eh….. mengapa kau menduga ke situ?”

Tiang Hin merasa ia sudah keterlepasan omong maka ia buru-buru berkata, “Tentu saja. Melihat pedang yang tergantung di punggungmu, siapakah yang tidak menduga bahwa engkau ini adalah seorang lihiap yang gagah perkasa. Senang sekali hatiku berkenalan denganmu yang cantik dan gagah ini!”

“Ah, kau bisa saja Ngong Ma!” berkata begitu Lily memandang tajam ke arah pemuda ini. Kemudian tersenyum lembut.

Menerima senyum ini Tiang Hin berdebar dadanya. Entah mengapa senyum gadis itu membuat hatinya riang dan ada perasaan aneh yang berdebur-debur yang selama ini belum pernah ia rasakan.

Selama hidupnya belum pernah ia melihat senyum yang seindah ini, apalagi waktu pandangan gadis itu merenggutnya. Ah, membuat jantung Tiang Hin berloncat-loncatan.

Beberapa kali ia mengerahkan tenaga bathin untuk mengusir perasaan yang membuat suaranya tergetar ini. Akan tetapi beberapa kali sudah semakin ditekan, semakin……. ah, susah dikata!

Sebaliknya, Lily juga mengalami hal yang selama hidupnya belum pernah ia alami. Sekalipun dalam mimpi belum pernah ia bertemu dengan pemuda yang kelihatannya sederhana dan bodoh ini, akan tetapi yang membuat heran, ia sudah percaya seratus persen bahwa luka lengannya ini segera sembuh oleh Ngong Lam-nya yang pinter mengurus ini!

Ada dua jam mereka di dalam hutan itu, tiba-tiba Tiang Hin berkata:

“Nona, kalau kau hendak sembuh benar-benar lukamu itu, sebaiknya kau istirahatlah di dusun sebelah sana itu. Aku kenal baik dengan kepala kampung dan ia tentu akan bersedia menerimamu untuk beberapa lama di sana.......”

“Tidak usah, Ngong Ma-ko, aku akan bermalam di sini saja dan besok pagi-pagi aku harus ke Istana Hantu. Eh, apakah kau pernah tahu dimana Istana Hantu itu?”

“Tahu sih tidak Lily aku cuma pernah mendengar saja. Kabarnya Istana Hantu itu....... ihh, serem…... banyak setannya!”

“Masa?”

“Betul, aku hanya mendengar dari dongeng-dongeng orang kampung bahwa di bukit Lu-liang-san di hutan kecil terdapat sebuah rumah tua yang sangat angker. Seringkali penduduk kampung mencari kayu melihat hantu-hantu berkeliaran di sekeliling rumah tua itu.

“Kabarnya menurut dongeng, barang siapa yang berani coba-coba ke tempat itu, pasti kaget dan jantungnya putus! Eh, mengapa kau hendak ke sana?” tanya Tiang Hin pura-pura bodoh dan mengarang cerita yang sebenarnya ia sendiri juga nggak tahu tentang suasana Istana Hantu. Hanya sebisa-bisanya ia berkata dan memberi keterangan kepada gadis ini.

Lily tersenyum girang dan memegang tangan Tiang Hin.

“Jadi kau tahu di mana Istana Hantu itu, kalau begitu besok pagi aku harus segera berangkat. Eh, Ngong Lam-ko tahukah kau, bahwa ibuku tertawan oleh orang-orang Istana Hantu.

“Akan tetapi bukan hantu yang kau maksudkan, melainkan hanya orang-orang jahat yang berkepandaian tinggi. Besok aku cepat-cepat ke sana.”

Tiang Hin memperlihatkan muka kaget.

“Kau hendak ke sana. Aduh, berbahaya sekali, lagi lenganmu itu belum sembuh betul. Kalau kau bawa bergerak-gerak lagi. Berbahaya, jangan-jangan tulang-tulangnya akan patah lagi, berabe.

“Eh, kalau kau enggak keberatan aku akan ikut kau, suatu ketika kalau lenganmu kenapa-kenapa, aku bisa urut lagi. Setujukah kau?”

“Ah, aku akan merepotkanmu saja, Ngong Lam-ko……, akan tetapi kalau memang tidak keberatan. Boleh saja, berjalan denganmu akan lebih memudahkan bagiku untuk menuju ke bukit Lu-liang-san itu. Apa kau tahu letaknya?”

“Tentu aku tahu……..”

“Nah, kalau begitu hayo kita berangkat! Tunggu apa lagi, lenganku sudah tidak terasa sakit.”

“Kau memang pintar Ngong Lam-ko, sekali lagi aku harus berterima kasih kepadamu.”

“Tak perlu berterima kasih Lily, sudah seharusnya aku membantumu dengan sedikit kepandaian menyambung tulang yang tak ada artinya ini.”

“Oya, mari kita cepat-cepat berangkat. Mudah-mudahan kita tidak kemalaman di hutan ini,” berkata demikian Lily menyambar tangan pemuda itu dan menariknya.

Ditarik begini Tiang Hin menjadi geli hatinya. Ia betul-betul seperti kerbau yang ditarik hidungnya. Maka dengan riang ia mengikuti gadis itu berjalan.

Entah mengapa hatinya menjadi girang bukan main berkenalan dengan gadis yang hebat ini. Sering-sering kali dadanya berdebar-debar tak keruan rasa. Waktu tangan gadis itu memegang telapak tangannya, terasa kedua tangan itu menggigil dan berkeringat.

Mereka berjalan pelan-pelan keluar hutan kecil ini mencari rumah penginapan di sebuah dusun yang terdapat di luar hutan ini.

Ketika mereka sampai di dusun itu, hari telah menjadi gelap. Di atas langit biru berkelip bintang kecil bermain mata.

Langit biru begitu cerah, secerah hati kedua orang muda yang berjalan memasuki dusun itu. Hati itu, satu sama lain saling mengajuk. Tak ada perkataan yang terungkapkan, akan tetapi pandangan mata mereka, seringkali berbicara lembut.

Dan apabila sudah begitu selalu Tiang Hin lah yang terlebih dahulu tertunduk dan tak kuasa menentang tatapan si gadis yang luar biasa tajam dan lembutnya ini!

Apabila pemuda itu tertunduk, maka tersenyumlah gadis ini dalam hatinya berbisik: “Aku yakin dia tidak setolol dugaan orang!”

Ngong Ma!

◄Y►

Sebagaimana telah dituturkan di dalam cerita Pendekar Lengan Buntung, Song Cie Lay, murid Swie It Tianglo yang kemudian pernah belajar ilmu silat tinggi dari seorang pertapa sakti dari Hong-san.

Akhirnya pada peperangan di lembah Tai-hang-san itu ia tertawan oleh tentara Mongol dan kemudian dibawanya ke Mongolia.

Masih untung bagi Cie Lay yang bernasib baik ini akhirnya ia tidak mengalami aniaya. Dan di negeri Mongolia ia dibebaskan dari segala tuduhan-tuduhan pemberontak.

Malahan raja mongol sendiri merasa tertarik sekali melihat ilmu pedang pemuda perkasa ini. Maka atas kebijaksanaan Temu Chin, perdana Menteri Mongolia yang gagah perkasa itu akhirnya Cie Lay diangkat sebagai perwira tingkat tinggi dalam barisan Istana Mongolia.

Sebetulnya Cie Lay hendak menolak anugerah ini. Akan tetapi ia yang cerdik mengambil kesempatan ini untuk melangsungkan hidupnya di Mongolia, ditengah-tengah bangsa Mongol.

Dan akhirnya berkenalan dengan puteri seorang Mongol yang cantik jelita, mirip dengan bekas kekasihnya Lim Sian Hwa. Wanita Mongol keturunan Han ini bernama Han Lian Hwa, gadis cantik yang mempunyai persamaan yang hampir mirip dengan Lim Sian Hwa yang telah meninggal di lembah Tai-hang-san.

Oleh sebab itulah akhirnya Cie Lay mengambil keputusan untuk tetap tinggal di Mongolia dan hidup bersama isterinya yang tercinta.

Pada waktu itu, adalah jaman keemasan bagi bangsa Mongol. Kemudian atas pimpinan Temu Chin, Mongolia ini berkembang dan terkenal di seluruh dunia.

Dan dalam waktu yang singkat saja, kerajaan Mongol ini sudah menaklukkan beberapa negara kecil termasuk pedalaman Tiongkok yang bernama Kerajaan Cin. Dengan berdirinya Kerajaan Cin ini, akhirnya Cie Lay yang dipercayai oleh Temu Chin dikirim kepedalaman Kotaraja Tiongkok dan di sana ia sekeluarga hidup sebagai Jenderal Song yang terkenal itu.

Berkat kepandaiannya yang tinggi ini, akhirnya dalam waktu yang singkat di Istana Kotaraja itu ia terkenal dengan sebutan Jenderal Song yang paling disegani dan dihormati.

Hasil dari perkawinannya dengan Han Lian Hwa, Cie Lay mempuayai seorang puteri yang cantik jelita bernama Song Cu Ling. Akan tetapi setelah gadis ini menanjak dewasa dan berusia sudah mencapai tujuhbelas tahun, Cie Lay akhirnya mengirimkan surat kepada Temu Chin di Mongolia untuk mengundurkan diri dari urusan politik karena mengingat usia tua!!!

Alasan ini diterima baik oleh Raja Mongol. Dan untuk jasa-jasa Cie Lay, ia dianugerahkan sebuah perumahan yang sangat lux dan indah sekali di pegunungan Lu-liang-san.

Tentu saja hadiah ini membuat pembesar lainnya di kota raja menjadi iri dan tak senang, maka dengan diam-diam banyak menteri dan pembesar-pembesar mulai menaruh sentimen kepada Jenderal Song ini.

Malahan kaisar sendiri mulai berlaku terhasut oleh omongan-omongan yang tidak-tidak dari para pembesar-pembesarnya.

Dan diam-diam pembesar di kotaraja ini menaruh rasa penasaran dan tak senang.

Di puncak Lu-liang-san inilah Cie Lay mendirikan sebuah partai persilatan yang cukup kuat, bernama Lu-liang-pay. Tentu saja berkat pimpinan Cie Lay yang sakti ini, sehingga dalam waktu yang amat singkat partai persilatan ini mulai terkenal dan mempunyai murid lebih dari seratus orang.

Memang cita-cita Cie Lay untuk mendirikan partai ini adalah untuk meneruskan cita-cita mendiang gurunya yang telah gagal memimpin Tiang-pek-pay.

Ia sengaja dengan diam-diam mendirikan partai ini untuk mempertunjukkan kepada dunia, terutama kepada saudara seperguruannya, Sung Tiang Le, bahwa iapun sanggup mendirikan partai ini dan malah lebih hebat dari partai-partai besar lainnya, seperti Kun-lun-pay, Tiang-pek-pay, Hoa-san-pay, dan lain-lain, karena hanya partai Lu-liang-san dalam pimpinan Song Cie Lay inilah yang satu-satunya partai persilatan yang mendapat sambutan hangat dari Raja Mongol.

Malah Temu Chin sendiri menjadi penasehat dan pelindung berdirinya partai ini! Tentu saja kejadian ini sangat menggemparkan dunia persilatan.

Bukan saja Lu-liang-pay ini adalah satu-satunya partai yang paling terbesar dan terkuat dijaman itu juga dalam usaha meluaskan perkembangannya ini. Diam-diam Cie Lay bercita-cita untuk mendirikan partainya lebih tinggi dengan partai-partai besar lainnya dan menaklukan sekalian orang gagah di dunia kang-ouw ini.

Kemudian apabila partai sudah kuat, ia akan menghancurkan kotaraja yang berkeadaan buruk dan lemah pada masa itu!

Bukan saja Cie Lay mempunyai kepandaian tinggi dan hebat bukan main dengan ilmu silatnya yang bernama Hong-san-cap-ji-liong-sin-kun-hoat (duabelas pukulan naga sakti dari gunung Hong-san). Sehingga dengan ilmu silat tinggi ini, banyak sudah Cie Lay menarik orang-orang gagah dan menaklukkannya menjadi para sekutunya, malahan ada pula yang masuk jadi anggota Lu-liang-pay.

Tentu saja Cie Lay yang cerdik ini dengan kekuasaan uang yang berlimpah-limpah dari Temu Chin yang menjaminnya, dapat menaklukkan banyak tokoh-tokoh hitam seperti Nakayarinta, Bu-tek Sianli, Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo, Kwan-tiong Tok-ong sekeluarga, Bong Kek Cu dan banyak lagi tokoh-tokoh dunia persilatan.

Dan dari tokoh-tokoh yang mempunyai kepandaian selangit ini, Cie Lay membuat sebuah terowongan dan Istana di bawah tanah di bukit Lu-liang-san, di hutan kecil itu. Terkenal dengan sebutan Istana Hantu.

Dan ia mengangkat anaknya Song Cu Ling yang cantik jelita ini menjadi Thay-bengcu yang amat disegani oleh para sekutunya. Malah boleh dibilang Thay-bengcu ini menjadi raja kecil di istana itu.

Tentu saja Cie Lay yang cerdik dan bercita-cita besar untuk menaklukkan seluruh orang gagah ini tidak lupa pula mendidik Cu Ling sejak di Mongol dengan ilmu silat tinggi.

Setelah seluruh kepandaiannya diturunkan kepada puterinya ini, ia memanggil mahaguru-mahaguru untuk mengajar Cu Ling. Di samping itu pula, Cu Ling yang sejak kecil senang sekali berpakaian pria, mendapat didikan pula keperwiraan dari Temu Chin sendiri.

Akan tetapi Cie Lay masih belum puas dengan pengaruh kekuasaannya yang dekat dengan Temu Chin. Akhirnya Cie Lay berhasil mengambil sebuah buku kuno di Istana Mongolia dan membawa kitab itu dan diberikan kepada puterinya.

Dari kitab yang sudah tak bernama inilah akhirnya Cu Ling menjadi seorang gadis yang benar-benar paling tinggi ilmu silatnya, sehingga dalam beberapa jurus saja gadis ini dapat mengatasi Nakayarinta, Thay-lek-hui-mo dan lain-lain.

Sebab itulah Cu Ling yang berjuluk Thay-bengcu itu sangat disegani dan ditakuti oleh para sekutunya. Sehingga sebentar saja berkat kekuasaan uang Cie Lay telah berhasil menarik banyak orang-orang gagah ke dalam sekutunya dan mereka-mereka ini ditampung di sebuah gedung di bawah tanah yang bernama Istana Hantu!

Pada suatu hari, ketika matahari baru saja muncul dan memancarkan cahayanya yang kemerahan di permukaan pedang rumput di kaki pegunungan Lu-liang-san, kelihatan serombongan orang berjalan, di dahului oleh bayangan mereka.

Dilihat dari cara pakaian mereka ini, mereka itu seperti serdadu kerajaan yang berjalan berbaris dengan amat rapinya. Dipimpin oleh seorang pemuda tampan yang berkuda jalan di depan.

Di kiri kanan pemuda tampan itu berbaris pula lima barisan kuda yang kuat-kuat dan terdiri dari seorang hwesio tinggi besar, berjubah kuning dengan kepala botak kelimis, akan tetapi bermata lebar mencorong seperti mata harimau.

Hwesio ini bukanlah hwesio dari kuil Siauw-lim-sie. Karena orang pertapa berjubah kuning ini adalah asli suku bangsa Mongol, bernama Na Khurdu, pertapa dari Himalaya yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi.

Dan dua orang lagi adalah seorang nenek-nenek kurus kering, berambut panjang riap-riapan tidak terurus, matanya sipit dan selalu tertutup seperti orang mengantuk. Cara berpakaian nenek ini, seperti orang Mongol.

Dalam berjalan di punggung kuda ini, nenek itu selalu melenggut seperti orang mengantuk. Ia itulah, Hay Sun Nio peranakan Mongol yang terkenal di sana.

Sedangkan yang di sebelah kiri adalah seorang laki-laki tinggi kurus. Ia adalah putera Sun Nio yang telah menjanda bernama Seng Lay Kok si cagak maut yang juga berpengaruh di Istana Mongolia.

Dan yang lainnya terdiri lebih dari limapuluh orang itu, yang berjalan rapih seperti serdadu-serdadu Monggolia dalam rombongan orang Mongol dan inilah pasukan pilihan yang dipimpin sendiri oleh putera Temu Chin, seorang pemuda yang berusia paling banyak duapuluh tahun.

Temu Khan kelihatan gagah sekali dengan tubuhnya yang kekar kuat. Wajahnya yang segi empat membusung, pundaknya bidang dan langkahnya seperti langkah harimau.

Sepasang matanya sipit dan kecil, dan selalu seperti ada dua titik api bernyala di dalam sepasang mata itu. Telinganya lebar dan panjang dan biarpun wajahnya tak dapat disebut tampan, namun Temu Khan ini benar-benar gagah!

Mereka ini berjalan teratur sekali. Temu Khan menunggang kuda di depan dikawal oleh dua pengawalnya Na Khardu dan Seng Lay Kok mendampingi Hay Sun Nio.

Pada waktu itu mereka sudah tiba di kaki bukit Lu-liang-san, nampak dari sini gedung berdiri megah di puncak sana. Itulah Lu-liang-pay.

Temu Khan tersenyum bangga mendongak ke atas.

Seorang Mongol yang tinggi besar akan tetapi kurus, dengan jenggot pendek, mendahului kawan-kawannya untuk menyusul Temu Khan.

“Khan Yang Mulia, kawan-kawan sudah lelah sekali, bagaimana kalau kita beristirahat di tempat ini sebentar saja?” ia melapor sambil mengusulkan kepada pemimpin muda itu.

Tanpa menoleh sedikitpun Raja muda ini berkata kepada anak buahnya di sampingnya: “Lu-liang-pay sudah kelihatan dari sini. Tak perlu mengaso, nanti kalau mau istirahat di sana saja!”

“Akan tetapi Khan Muda, mereka itu lelah sekali. Lihat, banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah hampir tak kuat berjalan!”

“Aloha, kita takkan mengaso sebelum sampai di puncak Lu-liang-san, perjalanan kita hampir sampai. Sebaiknya kita mengaso di sana saja!” Suara Temu Khan berwibawa dan ia memandang ke arah orangnya ini dengan pandangan tajam.

Kemudian melihat pandangan mata ini, orang Mongol itu tak berani lagi membantah. Ia berjalan lagi ke barisan belakang.

Akan tetapi, apa yang dilihatnya di barisan belakang itu? Ternyata teman-temannya sudah mengeroyok dua orang muda yang berkepandaian hebat luar biasa!

Di sana sini terdengar jeritan-jeritan ngeri begitu bayangan pedang berkelebat cepat dan dua orang perwira Mongol yang tak sempat lagi mengelak dari samberan pedang itu menjerit merasakan sakit yang luar biasa waktu pedang yang berkelebat itu telah menghantam pundak dan lengannya.

Sepak terjang dua orang muda ini menggentarkan para pengeroyoknya, sehingga perwira Mongol yang bernama Aloha itu cepat-cepat berlari ke barisan depan dan melapor.

Melihat perwira ini datang lagi, Temu Khan mengerutkan kening menandakan hati tak senang. Akan tetapi ia menjadi kaget mendengar laporan Aloha dengan suara tergetar:

“Khan Yang Mulia, di barisan belakang terjadi pertempuran hebat, dua orang muda bangsa Han mengamuk!”

“Apa?”

“Teman-teman sedang bertempur mengeroyok dua orang muda yang berkepandaian tinggi. Hamba melapor!”

“Bangsat! Kau....... kau pengecut, mengapa kau tidak membantu teman-temanmu dan ke mari, memang kau harus diberi hajaran!”

Temu Khan membentak sambil mendorong ke depan. Angin pukulan dahsyat menyambar dan Aloha terpental ke belakang dengan mata mendelik dan napas putus.

Semua orang terkejut, dan memandang pemimpin muda yang telah menarik pedang panjang dan sakali pedang itu bergerak, darah merah muncrat dan leher Aloha putus oleh sambaran pedang panjang yang berkilat-kilat tertimpah matahari.

Tubuh itu menggeletak miring, darah merah membanjiri rumput di tanah.

“Aku benci dengan segala macam bangsa pengecut, teman berperang mengadu nyawa. Ia bukan maju membantu, apa gunanya melapor kepadaku?

“Eh, Na Khar Du, kau lihatlah siapa yang sedang beraksi di belakang itu, Seng Lay Kok, temani lo-suhu! Bawa pengacau itu kemari! Biar aku tunggu di sini!”

Dengan gerak tangannya Khan Muda menghentikan barisannya dan ia sendiri duduk di sebuah batu yang menonjol di bawah pohon.

Dari situ ia memandang ke arah belakang dan melihat pertempuran yang amat menarik hatinya.

Akan tetapi tiba-tiba ia menjadi berdiri dan terkejut melihat dua orang muda bangsa Han sedang dikeroyok oleb anak buahnya itu diumpamakan sebagai sekumpulan laron yang mendekati api unggun. Begitu dekat begitu roboh oleh permainan pedang dari dua orang muda yang hebat dan luar biasa itu.

Ternyata yang dikeroyok oleh anak buahnya adalah seorang pemuda dan seorang gadis remaja!

Siapakah dua orang muda itu? Yang seorang adalah seorang pemuda berusia sekitar duapuluh tahun, tubuhnya ganteng dan tegap.

Wajahnya tampan dan sepasang matanya bersinar-sinar cerah dan selalu bergerak-gerak bola matanya, menandakan kecerdikan hati dan ketabahan yang luar biasa. Pakaiannya terbuat dari sutera hijau dan memakai jubah putih bersih dan menandakan sikapnya yang gagah.

Dan yang seorang lagi, adalah gadis remaja berusia tujuhbelas tahun, lincah dan manis. Pada wajah yang jelita itu terbayang kejenakaan dan kegembiraan hidup.

Sepasang matanya laksana bintang pagi yang berseri-seri. Mulutnya kecil bagus terhias oleh sepasang bibir yang indah dalam senyum-senyum simpul.

Di atas bibir sebelah kiri itu terdapat sebuah tahi lalat kecil hitam, membuat gadis ini bertambah manis dan jelita.

Pemuda itu bukan lain adalah Nguyen Hoat dan gadis jelita bertahi lalat hitam itu adalah Sung Hong Kwi. Bagaimana Hong Kwi dan Nguyen Hoat berada di tempat ini dan dikeroyok oleh orang-orang Mongol anak buah Temu Khan yang hendak ke Lu-liang-pay itu?

Untuk mengetahui semua ini, baiklah kita mundur dulu dan mengikuti perjalanan kedua orang muda ini!

<>

Seperti telah dituturkan di bagian depan, betapa Nguyen Hoat bertemu dengan Hong Kwi dan berkenalan di hutan itu.

Memang luar biasa sekali pemuda ini, bukan saja Nguyen Hoat ini lihai ilmu silatnya sehagai murid Bu Beng Siangjin, akan tetapi juga mempunyai pikiran yang cerdik dan bercita-cita besar!

Dan hal yang sudah menjadi dasar dari pemuda ini betapa ia amat pandai membawa diri dan tahu menyesuaikan diri sehingga dalam perjalanan dengan puteri Pendekar Lengan Buntung ini, ia sangat disenangi oleh Hong Kwi. Ia cukup sopan dan halus tutur katanya.

Dan lagi mempunyai pengalaman-pengalaman yang cukup luas, sehingga berjalan dengan pemuda ini sungguh sangat menyenangkan hati Hong Kwi. Hubungan dengan pemuda itu bertambah semakin intim dan akrab!

Pada suatu hari Nguyen Hoat dan Hong Kwi memasuki Kotaraja. Baik Nguyen Hoat maupun Hong Kwi sangat tertarik sekali oleh gedung-gedung yang bertingkat tinggi dan hiasan-hiasan yang terdapat di dinding kota orang-orang yang berlalu lintas banyak sekali dan jalan-jalan penuh dengan berbagai macam suku bangsa yang membuka barang dagangan di pinggir-pinggir jalan.

Memang kedua orang muda ini baru kali ini ia melihat Kotaraja yang terkenal itu. Hong Kwi sengaja mengajak Nguyen Hoat memasuki sebuah restoran yang cukup besar dan paling terkenal. Ke situlah ia mengajak pemuda ini untuk bersantap pagi.

Begitu mereka masuk ke sebuah restoran Hay-lam, mereka disambut oleh seorang pelayan dengan anggukan hormat, “Selamat datang....... silahkan masuk!!!”

Pelayan itu mengantarkan Nguyen Hoat dan Hong Kwi ke bangku yang kosong di sudut kiri dekat jendela. Hong Kwi mengambil tempat duduk dan membaca daftar makanan yang tertulis rapih di atas sebuah dinding. Lama ia mencari-cari makanan yang dianggap enak, kemudian ia memesan,

“Masakah kami dua porsi cah udang, babi panggang dan dua mangkok nasi putih!”

“Minumannya???”

“Arak Hang-ciu,” Nguyen Hoat menyahut.

Hong Kwi menoleh.

“Eh, kau doyan arak Nguyen-twako?”

“Doyan sih nggak, cuma aku kepingin ngerasain arak Hang-ciu yang terkenal itu.”

Hong Kwi tersenyum.

Bau masakan dari ruang dalam sangat menyengat hidungnya sehingga membuat perut Hong Kwi bertambah keroncongan dan buru-buru ia memanggil pelayan untuk dibuatkan secepatnya.

Tidak lama kemudian, masakan yang dipesan sudah terhidang di meja. Sambil memain-mainkan hidungnya mencium bau yang sedap itu, Hong Kwi mempersilahkan kepada Nguyen Hoat.

“Hayo twako, mengapa dilihatin saja? Sikat!”

Nguyen Hoat tersenyum dan menegak secawan arak.

“Wah, ini hari kau yang menjadi cukong ya Hong Kwi-moay, baiklah, hayo kita sikat!”

“Kau ini bisa saja twako, siapa yang menjadi cukong? Duit kita cuma lima tail cukup untuk bayar masakan ini. Besok gantian kau yang mesti mentraktirku, okey?!”

“Ha-ha-ha! Kau sih curang Hong Kwi-moay, duitku juga tinggal dua tail lagi. Wah berabe kalau besok kau minta dicukongin ke tempat restoran yang mahal-mahal, celaka! Bisa-bisa nggak kebayaran!”

“Masak sekarang kau sudah bokek lagi. Bukankah baru tiga hari yang lalu kita boleh “pinjam” di rumah Ang-wangwe. Kau ini royal sih?”

“Sudah, sudah! Mari sikat makanan ini, soal u-lui dan bo-lui itu urusan nanti saja, yang terpenting sekarang kita harus isi perut!”

Hong Kwi tak menyahut, ia menyambar sumpit dan menggosokkan dengan kertas lap kemudian sambil melirik ke arah pemuda di depannya itu. Ia mulai sikat masakan cah udang dan babi sek-ba panggang dengan lahapnya. Waktu diliriknya pemuda temannya ini Nguyen Hoat makan dengan pelan-pelan dan tenang!

Pada saat itu, tiba-tiba dari depan mendatangi lima orang tamu dengan langkah lebar. Belum lagi mengambil tempat duduk, orang itu sudah berteriak,

“He, Ayong-ma, keluarkan ciu yang paling baik dan kacang tung-kwan, lekas!”

Keruan saja melihat datangnya ke lima tamu ini pelayan-pelayan di situ menjadi kaget dan menampakkan wajah yang takut dan jeri.

Cepat-cepat dua orang pelayan mengeluarkan ciu yang paling terbaik dan kacang tung-kwang, sikap pelayan-pelayan ini nampak hormat sekali dan membungkuk-bungkukkan badannya.

“Silahkan minum Loya........!”

“Ayo Peng Kim Jiu......... kau kan setan arak, nih ciu dari Kang Lam sudah puluhan tahun tersimpan, baunya sedapp!” berkata orang yang tinggi besar yang memegang golok besar, pakaiannya seperti seorang jago silat dan sebatang golok digantungkan di dinding belakang mejanya.

“Betul, setelah kita cia ciu, baru kita bereskan dua bangsat tikus rawa itu. Sekarang mari kita minum sepuas-puasnya!” menimpali laki-laki bopeng yang memegang sapu tangan yang dikebut-kebutkan seperti orang kegerahan.

Orang yang baru berbicara tadi berusia tigapuluh tahun dan wajahnya belang-belang dan bertotol-totol hitam seperti bekas dihinggapi penyakit cacar, sedangkan hidungnya mencuat ke atas.

Diam-diam Hong Kwi melirik dan memperhatikan orang-orang yang baru datang ini. Pakaian mereka seperti pengemis, akan tetapi terbuat dari bahan pakaian yang cukup mewah, yang bopeng bersepatu sebelah, sepatu baru pula.

Dia itulah tokoh Hwa-ie-kay-pang bernama Hwa-ie-sin-kay Peng Kim Jiu, orang tua pengemis muka bopeng yang berkepandaian tinggi. Bersenjata sebuah sapu tangan merah yang luar biasa lihaynya.

Dan tiga orang lainnya, memakai baju hitam, yang seorang tinggi kurus, sikapnya lemah lembut tapi sepasang matanya tajam bagaikan pisau dan jika ia memandang orang seakan-akan sinar matanya menembus dan menikam jantung.

Berusia sekitar limapuluh tahun, di pinggangnya terdapat sabuk sutera hitam. Dua orang lainnya yang duduk di depannya itu mempunyai wajah yang aneh dan menyeramkan.

Seorang di antara mereka adalah seorang hwesio gundul tapi berpakaian mewah terbuat dari sutera. Tubuhnya gemuk pendek dan mukanya selalu tersenyum mengejek. Dan yang satunya lagi seorang pengemis berpakaian dekil dan compang-camping, rambutnya riap-riapan menutupi muka.

Setelah mereka makan minum dan nampak di meja itu tiga botol ciu sudah habis ditenggak oleh setan-setan arak ini, tiba-tiba orang yang tinggi besar bersenjata golok itu berteriak keras memanggil si pelayan.

“Hitung, minuman ini....... masukan ke dalam rekeningku. Habis bulan baru bicarakan semuanya padaku, mengerti?” kata orang tinggi besar itu dengan sikap galak! Kemudian berlalu bersama-sama dengan kawan-kawannya itu.

Keruan saja si pelayan jadi menggerutu:

“Sialan, bisanya hutang melulu. Hutang sudah bertumpuk, kapan mau bayarnya?”

Hong Kwi yang mendengar gerutuan si pelayan ini tersenyum dan berkata: “Eh, lopek apakah rumah makan di sini boleh dihutang?”

“Tentu saja tidak boleh, akan tetapi orang-orang tadi sungguh berengsek. Hutang hutang, tapi bayarnya kagak! Mentang-mentang tukang pukul Bong Tayjin.”

“Siapa mereka tadi lopek?” Nguyen Hoat yang tertarik lantas bertanya sambil berdiri dan mengeluarkan beberapa tail perak.

“Mereka itu bajingan-bajingan sialan, kongcu, pemogoran Kotaraja yang selalu berbuat kejahatan! Eh, kabarnya mereka hendak mencegat perjalanan Lim-wangwe ke Hay-nam, jangan-jangan.......”

“Siapa Lim-wangwe?”

“Orang tua she Lim itu baik sekali kongcu, akan tetapi entah mengapa….. rupanya ia tidak betah ke Hay-nam,” sahut si pelayan itu.

“Jadi apa hubungannya dengan lima orang tadi?” tanya Hong Kwi.

“Tentu mereka akan mencegat perjalanan orang she Lim itu dan...... merampok! Apalagi?”

“Ah, merampok?”

Akan tetapi si pelayan tidak lagi menyahut. Ia buru-buru masuk ke dalam. Ketika dilihatnya majikannya mendelik kepadanya dan menegur,

“A Song, kau banyak mulut. Hati-hatilah, kalau kedengaran sama orang-orang Bong tayjin, lehermu bisa putus?”

Hong Kwi melirik kemudian menarik tangan temannya dan keluar dari rumah makan itu.

“Twako, kita harus kejar lima kunyuk bajingan itu,” berkata Hong Kwi sesampainya di luar Kotaraja.

“Betul Hong Kwi-moay, aku juga curiga kepada orang-orang itu!”

“Hayo cepat kita berlari ke selatan, perjalanan mereka ke Hay-nam tentu mengambil jalan arah selatan. Kita harus basmi kunyuk-kunyuk tadi. Menyebalkan benar,” kata Hong Kwi sambil meloncat jauh dan berlari cepat mempergunakan gin-kangnya.”

Akan tetapi alangkah herannya ke dua orang muda ini, karena begitu berlari lebih tiga lie, dilihatnya di sebelah depan terjadi pertempuran yang hebat. Cepat Hong Kwi mencelat dan sekali loncatan saja ia sudah tiba di tempat pertempuran itu.

Dilihatnya dua orang setengah tua dikeroyok oleh lima orang yang tadi dilihatnya di rumah makan. Akan tetapi sungguh diluar dugaannya, karena dua orang ini nampak lihai sekali permainan pedangnya.

Laki-laki setengah tua itu, biarpun nampak seperti orang lemah dan berpakaian sastrawan, namun permainan pedangnya sangat hebat dan ganas. Tubuhnya lincah sekali berkelebat laksana garuda terbang menyambar mangsanya.

Sedangkan perempuan yang menggendong anak kecil itu, juga lihai sekali. Permainan pedangnya juga hebat.

Wanita setengah tua ini cantik sekali, menggendong seorang anak perempuan yang masih kecil dipoodongannya. Nampak anak kecil itu menjerit-jerit dalam pondongan ibunya,

“Ibu….. jangan belantem…… Ing Ing akut....... aiii…. Ibu….. uh uhhu….”

Anak kecil itu menangis menutupi matanya. Tubuhnya yang kecil tergoncang oleh gerakan....... dari ibunya yang mencelat ke sana ke sini menghindari datangnya serangan senjata-senjata lawan yang lihai ini.

Ibu itu dikeroyok oleh seorang hwesio dan si pengemis muka bopeng. Biarpun dua orang lawannya ini nampaknya hebat dan sangat ganas, namun dengan lincahnya wanita setengah tua ini dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan senjata lawan.

“Mey Ing.... kau diamlah! Ibu akan hancurkan bangsat-bangsat ini. Kau diam jangan menangis,” kata ibu itu kepada anaknya sambil mencelat tinggi menghindarkan serangan sabetan toya di tangan si hwesio.

“Ing Ing, aku takut…... mama, aku……”

“Kalau takut jangan buka mata, diam-diam saja, meremin.”

“Mama….. ati-ati.......hwecio icu....... alak.”

“Diamlah. Mama akan hancurkan orang-orang ini dan hwesio sesat ini. Kau berpegangan keras-keras, awas jangan terpelanting,” berkata demikian tubuh ibu itu dimiringkan ke kiri.

Dan pada waktu sodokan toya lewat di sampingnya, tapi tangan kiri wanita tua itu dengan amat cepatnya berkelebat dan langsung menyodok perut si hwesio gemuk pendek itu sehingga mengeluarkan suara “duk” dua kali. Dan keruan saja hwesio gendut pendek itu meringis-ringis menahan mules pada perutnya.

Pada saat itulah saputangan menyambar di muka ibu itu, cepat ibu itu mengelak ke kiri dan kanan tetapi tiba-tiba ia merasakan kepalanya pening bukan main. Ternyata dari sambaran sapu tangan merah itu berhamburan bubuk merah yang memabokkan.

Pada saat itulah si pengemis muka bopeng Peng Kim Jiu tertawa bergelak-gelak dan tangan kirinya diputar-putar siap hendak melancarkan serangan maut ke arah si wanita tua yang terhuyung-huyung ke belakang.

“Biauw Eng....... kalian suami istri keras kepala, tidak tunduk akan kekuasaan Thay-bengcu yang jaya, maka aku harus mencabut nyawamu!”

“Weess-wes-wes……” lengan si pengemis muka bopeng berputar-putar mengeluarkan angin pukulan yang dahsyat.

Pengemis ini tersenyum mengejek dan melancarkan pukulan maut di atas kepala wanita tua yang dipanggilnya Biauw Eng tadi. Akan tetapi belum lagi pukulan itu tepat mengenai sasarannya, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar suara keras:

“Dukk!” Tiba-tiba si pengemis muka bopeng terpental ke belakang dan memegangi lengannya yang menjadi hangus oleh tangkisan tangan Hong Kwi yang telah mencelat menangkis pukulan pengemis muka bopeng itu.

Peng Kim Jiu mendelik dan menggereng membentak marah: “Setan cilik siapa kau?”

“Sudah tahu aku setan cilik yang hendak melenyapkan setan besar mengapa hendak bertanya lagi?”

“Keparat! Kau mampuslah.”

“Kau yang harus mampus!” Maki Hong Kwi sambil cepat menggeserkan kakinya mengikuti jurus langkah ajaib menghindarkan serangan saputangan merah yang berkelebat bagaikan ular merah yang hidup menyambar-nyambar.

Pada saat itu, si hwesio gemuk pendek yang tadi terpental sudah menyerang wanita setengah tua yang menggendong anak. Akan tetapi sekarang ibu ini sudah lenyap peningnya dan kembali membalas serangan dengan pedangnya yang cukup lihai ini.

Sedangkan anak kecil yang digendongnya ini, tak mengoceh lagi. Hanya memandang ke arah jalannya pertempuran, dan sekali-sekali anak ini memandang ayahnya yang dikeroyok hebat oleh tiga orang yang mempunyai kepandaian tinggi.

Siapakah orang tua yang dikeroyok hebat ini?

Mereka itu adalah Biauw Eng dan Hok Sun. Seperti telah dituturkan di bagian depan, sejak mereka hampir saja binasa di tangan Kwan-tiong Tok-ong, Hok Sun mengajak Biauw Eng ke kota raja dan berkat wibawa almarhum ayah gadis itu, akhirnya Biauw Eng tinggal dengan pamannya dan menikah dengan Hok Sun. Dan mempunyai seorang anak perempuan yang kecil yang diberinya nama Sie Mey Ing!

Akan tetapi, Biauw Eng dan Hok Sun ini biarpun hidup sebagai pembesar-pembesar di Kotaraja, namun tak lupa, dua orang melakukan tugasnya sebagai kesatria yang selalu menentang kejahatan-kejahatan.

Dengan kepandaiannya yang tinggi ini, sebentar saja Hok Sun dan Biauw Eng amat disegani di kotaraja. Akan tetapi setelah berdirinya partai Lu-liang-pay tiba-tiba Hok Sun dan Biauw Eng didatangi orang-orang Lu-liang-pay untuk mengakui berdirinya partai besar Lu-liang-pay dan ikut menjadi sekutu Istana Hantu yang di bawah pimpinan Thay-bengcu itu.

Sudah barang tentu, Biauw Eng dan Hok Sun menolak sekali berdirinya partai ini. Karena mereka sudah mendengar betapa Lu-liang-pay hendak menaklukkan seluruh orang-orang gagah di kolong langit dan mengangkat Thay-bengcu sebagai Pemimpin Besar.

Penolakan ini, membuat Bianw Eng dan Hok Sun dikejar-kejar oleh orang-orang dari Lu-liang-pay. Ini membuat mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan Kotaraja dan mengasingkan diri di Hay-nam.

Akan setapi siapa sangka justru di tengah perjalanannya ini, tiba-tiba dihadang oleh lima orang antek-antek Lu-liang-pay yang hendak menawannya untuk ikut ke Istana Hantu.

Sudah barang tentu, Biauw Eng dan Hok Sun menolak sekali dan terjadilah pertempuran yang seru.

Hok Sun menjadi kaget bukan main begitu ia merasakan datangnya serangan ini. Ternyata ke lima orang ini sungguh lihay dan berkepandaian yang tinggi pula.

Apa lagi setelah ia merasakan datangnya serangan pukulan-pukulan dari orang tinggi kurus yang berpakaian hitam ini, membuat gerakannya agak mundur dan terjepit hebat.

Siapakah orang tinggi kurus bersorban itu? Tentu saja Hok Sun tidak tahu bahwa lawannya ini adalah Hay-tok Lhama, pendeta dari Tibet murid Ciu Cin Hoatsu.

Serangan-serangan angin pukulan Hay-tok Lhama memang lihay sekali, penuh lwekang yang tinggi dan kuat.

Namun demikian Hok Sun bukanlah disebut Hui-eng Lim Hok Sun kalau menghadapi serangan-serangan ini ia harus mudah menyerah. Sesuai dengan julukannya si Garuda Terbang, tubuh Hok Sun berkelebat ringan dan permainan pedangnya amat hebat sehingga tidak mudah bagi Hay-tok Lhama untuk mengalahkan lawannya ini.

Melihat Hay-tok Lhama belum juga merobohkan si garuda terbang, dua orang temannya yang berpakaian hitam pula menerjang maju!

Mereka itu adalah si Golok Sakti Lo Sin Tat dan seorang lagi disebut si Gagak Maut, permainan sepasang siang-keknya sangat lihay dan cepat sekali gerakannya.

Munculnya dua orang ini, Hui-eng Lim Hok Sun harus benar-benar mempergunakan gin-kangnya untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut di tangan Go Beng Tat si Gagak Maut dan samberan-samberan dahsyat dari golok Lo Sin Tat.

Akan tetapi, biar bagaimanapun cepatnya Hok Sun mengelak dari tiga sambaran yang sekali gus ini, namun sebuah pukulan dahsyat dari Hay-tok Lhama menggegar di lambungnya.

Hok Sun menjerit ngeri dan terlempar.

Mendengar jeritan suaminya ini, Biauw Eng menoleh, akan tetapi alangkah kagetnya ia begitu melihat tubuhnya Hay-tok Lhama berkelebat cepat dan dengan suatu gerakan yang luar biasa cepatnya, sepasang lengan pendeta dari Tibet itu sudah bergerak cepat menghantam kepala Hok Sun yang sudah tidak keburu lagi menangkis.

“Prakk!” Pecahlah kepala si garuda terbang Lim Hok Sun. Putih-putih dari kepala itu berhamburan keluar. Tubuh Hok Sun berkelonjotan, lalu mati!

“Sun koko…..!” Biauw Eng menjerit keras dan cepat luar biasa ia menggunakan pedangnya menggunakan jurus maut Setan Iblis Pengacau Daratan, dan pedang di tangan Biauw Eng berdesing keras dibarengi suara menjerit kuat mengerahkan khi-kang tinggi dan dengan menggeretakkan gigi Biauw Eng menubruk maju.

“Bless!” Ujung pedangnya memasuki tubuh hwesio gemuk pendek yang tak sempat menangkis lagi.”

Dengan berteriak keras hwesio itu roboh mandi darah.

Dengan pedang berlumur darah yang menetes-netes, wanita itu berkelebat dan menggerakkan pedangnya menerjang Hay-tok Lhama namun kedatangannya ini disambut oleh si Golok Sakti dan si Cagak Maut, terpaksa ia meladeni orang-orang baju hitam ini.

Namun hampir saja Biauw Eng menjerit kaget merasakan cagak di tangan Go Beng Tat yang hebat ini. Ia terhuyung-huyung dan hendak roboh.

Pada saat itu terdengar bentakan keras.

“Manusia-manusia pengecut dan rendah, minggirlah!” sekali tangan kiri Nguyen Hoat mendorong si Cagak Maut terpental ke belakang oleh angin pukulan yang luar biasa dari tangan kiri pemuda tampan itu.

Go Beng Tat mendelik dan menggereng keras tanpa berkata apa-apa ia menerjang dengan sepasang siang-kek yang mendapat julukan si Cagak Maut ini!

“Trang cring........!” Nguyen Hoat dengan gerakan kilat sudah mengeluarkan pedangnya dan membabat sepasang cagak yang bergerak menusuk dari samping kanan dan kiri.

Go Beng Tat terkejut bukan main merasa tangannya nyeri akibat tangkisan pedang di tangan pemuda tampan ini.

Namun saking marahnya ia menggunakan kaki kanannya dengan jurus menendang bertubi-tubi.

Akan tetapi ia sekarang menghadapi Nguyen Hoat, pemuda gemblengan pertapa sakti Bu Beng Sianjin dari puncak Harimau di pegunungan Thang-la maka dalam beberapa jurus saja pemuda itu bergebrak, Go Sin Tat memekik keras dan melemparkan cagaknya merasa lengannya sakit bukan main terserempet pedang di tangan pemuda itu.

Belum lagi hilang kagetnya, tiba-tiba sebuah dorongan tangan kiri pemuda itu bergebrak ke depan dan tahu-tahu bagaikan layangan putus tubuh Go Beng Tat dan Lo Sin Tat telah terpental ke belakang tak dapat bangun lagi karena sepasang tulang kering di kakinya telah terkena tendangan yang kuat dari kaki pemuda itu.

Tulang kering itu remuk dan sukar untuk berdiri lagi.

Melihat datangnya pemuda yang luar biasa ini Hay Tok Lhama menjadi kaget setengah mati. Apalagi melihat bahwa temannya si pengemis muka hitam Peng Kim Jiu telah terluka pula oleh gebrakan Hong Kwi. Keruan saja pertapa ini meloncat pergi dan lari diikuti oleh teman-temannya yang lari terpincang-pincang.

Hong Kwi mendekati nyonya itu dan memegang pundak nyonya yang sedang menangis itu,

“Toanio…… yang sudah, sudahlah…… suamimu meninggal selaku orang gagah, tak perlu bersedih lagi.”

Biauw Eng menoleh dan mengangkat kepalanya.

Sepasang matanya basah.

“Lihiap……, terima kasih atas pertolonganmu.”

“Tidak apa Toanio. Sudah seharusnya orang hidup saling menolong. Eh, mengapa kalian dikeroyok oleh bajingan tadi?” tanya Nguyen Hoat.

Biauw Eng mengepalkan tinjunya.

“Ini gara-gara berdirinya Istana Hantu!”

“Ha, Istana Hantu!” Hong Kwi tertarik.

“Ya, Istana Hantu menyuruh kami mengakui pengangkatan Thay-bengcu. Kami memang menolak, dan orang-orang Istana Hantu dari Lu-liang-pay memusuhi kami. Yang lima orang tadi itu, adalah orang-orang sewaan Thay-bengcu untuk menawan kami!” Biauw Eng menangis teringat kepada suaminya.

“Lu-liang-pay hendak menaklukkan seluruh orang-orang gagah dipermukaan daratan Tiongkok ini. Keparat!”

“Alangkah sombongnya. Lu-liang-pay itu dimana Toanio, biar kuberi hajaran!”

“Tentu saja di puncak gunung Lu-liang-san. Partai ini adalah sokongan Temu Chin keparat yang mendukung berdirinya Lu-liang-pay!”

Hong Kwi menoleh kepada Nguyen Hoat dan menarik lengan pemuda itu.

“Kalau begitu, mari kita ke Lu-liang-san twako, hendak kuberi hajaran orang-orang Lu-liang-pay yang sombong itu!” kata Hong Kwi kemudian berkelebat lenyap diikuti oleh bayangan Nguyen Hoat yang mengejar dari belakang.

<>

Demikianlah seperti apa yang dituturkan terlebih dahulu di bagian depan, Nguyen Hoat dan Hong Kwi mengadakan perjalanan cepat ke Lu-liang-san.

Tidak sulit untuk mengadakan perjalanan ke sana, karena pegunungan Lu-liang-san yang tinggi dan terkenal itu mudah saja dituju oleh kedua orang muda ini.

Berhari-hari Hong Kwi dan Nguyen Hoat berjalan cepat ke Lu-liang-pay, semakin dekat ke pegunungan itu, semakin banyak yang didengarnya tentang partai Lu-liang-pay yang sudah mulai berkembang dan terkenal itu.

Akan tetapi yang membuat sengit dalam hati Hong Kwi berapa partai didukung oleh orang-orang Mongol dan sebagian besar biaya-biaya yang besar dan kuat dijamin oleh Temu Chin. Tentu saja Hong Kwi tidak simpati akan partai persilatan yang besar ini, akan tetapi membawa kuasa bagi bangsa Mongol!

Maka begitu mereka sampai di kaki bukit Lu-liang-pay, mereka bertemu dengan barisan orang-orang Mongol. Tentu saja melihat dua orang muda yang membawa-bawa pedang ini hendak mendaki Lu-liang-pay, salah seorang bangsa Mongol yang tinggi tegap itu bertanya dengan keren.