-->

Istana Hantu Jilid 10

Jilid 10

Tulisan itu diguratkan oleh jari telunjuk dan membekas dalam seperti diukir pada batu yang keras itu. Berbunyi:

“Kui-bo, hari ini Giam-lo-ong mengampuni nyawamu. Akan tetapi awas kau! Sekali lagi bertemu denganku, jangan harap untuk dapat hidup kembali!”

Melihat tulisan ini, keruan saja Sian Jiu Nio-nio melarikan diri dan ketakutan setengah mati.

Siapa dia....... siapa pemuda itu?

Dalam larinya tunggang langgang itu nenek ini tak habisnya berpikir dan tiba-tiba ia merasakan seluruh bulu tengkuknya berdiri dan cepat-cepat ia melompat jauh lari semakin cepat dengan hati penuh kengerian!!!

◄Y►

Ya, siapakah dia? Siapa pemuda yang sederhana dan sakti ini? Untuk mengenal pemuda perkasa ini baiklah kita menengok keadaan Pei Pei di jurang maut di pegunungan Ta-pie-san.

Seperti kita ketahui, Pei Pei yang malang itu terjatuh ke jurang oleh sebab tendangan Bu-tek Sianli yang keji dan ganas itu. Akan tetapi bersyukurlah kita bahwa menjelang ajalnya ini secara kebetulan sekali seorang yang ke dua kakinya buntung tengah berada di tepi jurang di tengah-tengah tebing yang amat tinggi itu.

Kebetulan ia berhasil menyelamatkan nyawa Pei Pei yang terjatuh, sehingga perempuan muda ini tidak terbanting seperti dugaan Tiang Le dan Bwe Lan yang mencari-cari di atas tebing itu.

Bersama nenek yang bernama Bong Kwi Nio itulah Pei Pei tinggal di sebuah gua yang terdapat di tebing pegunungan Ta-pie-san.

Nenek Bong Kwi Nio yang kedua kakinya buntung sangat sayang sekali kepada Pei Pei dan menganggap anak sendiri. Ini membuat Pei Pei terharu dan kasihan kepada nenek yang malang ini, rasanya ia lebih suka tinggal menyendiri di tempat ini bersama si nenek yang dianggap sebagai neneknya sendiri.

Akan tetapi setelah beberapa bulan Pei Pei tinggal di gua itu, atas pertolongan Bong Kwi Nio, Pei Pei melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sung Tiang Hin.

Lampu pelita yang tadinya hampir padam kini menyala kembali menerangi gua di tebing pegunungan Ta-pie-san itu.

Hari-hari dilaluinya dengan penuh kebahagiaan. Bocah cilik yang bernama Sung Tiang Hin ini, sangat mirip sekali dengan ayahnya Sung Tiang Le, sehingga Pei Pei sangat sayang sekali kepada anak tunggalnya ini.

Begitu pula Bong Kwi Nio. Setelah Tiang Hin berumur sepuluh tahun, nenek ini mulai mendidik Tiang Hin dengan ilmu silat yang pernah ia pelajari dari gambar-gambar di dalam dinding gua itu.

Sedangkan Pei Pei memberi pelajaran ilmu sastra kepada anak ini sehingga dalam usia hampir limabelas tahun Tiang Hin boleh dikata telah menjadi pemuda remaja yang pandai ilmu silat dan sastra (bun-bu-cwan-jay)! Semakin dewasa, wajah Tiang Hin mirip sekali dengan ayahnya sehingga membuat Pei Pei seringkali rindu untuk bertemu dengan Tiang Le, suaminya.

Kurang lebih hampir duapuluh tahun Pei Pei dan Bong Kwi Nio tinggal di tempat itu, yakni di sebuah gua yang terdapat di dalam jurang yang, tak berdasar, yang berada di puncak Ta-pie-san, yang sebetulnya merupakan lereng tersebut dari bukit itu.

Kalau di samping Pei Pei memberi pelajaran sastra kepada anaknya ini, juga ia menerima gerakan-gerakan ilmu silat yang ia dapat pelajari dari gambar-gambar di dinding gua. Bong Kwi Nio juga tidak tinggal diam.

Nenek ini melatih Tiang Hin dari dasar-dasar ilmu silat tinggi yang sebetulnya adalah ciptaan Sui-kek Siansu, akan tetapi karena ia tidak tahu judul ilmu silat ini maka Bong Kwi Nio memberinya nama ilmu silat Sui-kek-sin-ciang, sehingga dalam usia hampir limabelas tahun kemudian Tiang Hin langsung mempelajarinya dari kitab yang terdapat di dalam sebuah gua itu!

Sehingga atas gemblengan Bong Kwi Nio dan kitab peninggalan Sui-kek Siansu ini, dalam usia hampir sembilanbelas tahun. Tiang Hin bukan saja sudah matang ilmu silatnya, namun ia benar-benar digembleng kebathinan oleh ibu dan neneknya!

Memang sejak Bong Kwi Nio tinggal di gua ini hampir tujuhpuluh tahun......., ia merasa ketenangan bathin dan ketentraman hidup hasil dari pada kesendirian hidupnya di gua ini. Di tempat yang sunyi ini, nenek itu mendapatkan ketentraman hidup, apa lagi setelah Tiang Hin lahir.

Diam-diam nenek ini memusatkan pikirannya ke alam rohani dan mempertinggi pelajaran-pelajaran kebathinan yang ia dapat baca dari kitab-kitab yang terdapat di dalam gua itu, sehingga tak heran Tiang Hin selalu menerima pelajaran-pelajaran kebathinan yang sangat berharga itu.

Sehingga dalam usia yang masih sangat muda ini, Tiang Hin telah berpikir masak dan mempunyai pandangan hidup yang jauh!

Pada suatu hari, Pei Pei nampak murung bukan main. Ia memandang jauh ke sebuah lembah yang menghampar di bawah tebing ini.

Nampak dari sini, di bawah sana itu rumah-rumah penduduk dusun kelihatan kecil dan seperti kotak-kotak kecil yang hanya kelihatan samar-samar saja. Ia sudah lama sekali merindukan untuk kembali ke dunia ramai, baru sekarang ini terasa benar setelah Tiang Hin menjadi seorang pemuda.

Biar bagaimanapun, ia harus mencari jalan untuk keluar dari neraka ini. Berhari-hari ia memikirkan persoalan ini, sehingga hari itu Tiang Hin menghampirinya dan menegur.

“Ibu....... kelihatannya kau lesu benar. Sebenarnya apakah yang kau pikirkan?”

Pei Pei menoleh dan mengusap rambut anaknya yang berlutut di depannya.

“Sudah lama aku berpikir untuk keluar dari jurang ini, Hin-ji. Popo bilang katanya gua ini tidak mempunyai terusan untuk keluar dari sini. Aku…… aku sangat kuatir sekali Hin-ji!”

“Ibu, kau tidak usah kuatir. Jangan pikirkan itu. Di sini ada nenek, aku dan kau yang sangat mencintaiku, untuk apa kita berpikir yang tidak-tidak?”

“Akan tetapi Hin-ji, biar bagaimanapun juga kita harus berupaya untuk keluar dari jurang ini. Atau apakah kita diam saja, di sini, dan mati terkubur hidup-hidup.

“Kau....... kau mempunyai seorang ayah Hin-ji, kau harus ketemu dengan dia!” suara Pei Pei terdengar perlahan dan ia mengisak.

“Ibu....... dimanakah ayah? Siapa ayahku?”

“Ayahmu....... Pendekar Besar Sung Tiang Le, ia dijuluki orang Pendekar Lengan Buntung.

“Apa? Kenapa ayah dijuluki Pendekar Lengan Buntung? Apakah ayah benar-benar berlengan buntung, kenapa?”

“Nanti kau akan tahu sendiri Hin-ji. Sekarang mungkin ayahmu berada di Tiang-pek-san.

“Justeru karena itu aku berpikir bagaimana caranya kita harus keluar dari neraka ini. Aku tak ingin kau bersendiri di tempat ini Hin-ji, kau masih mempunyai seorang ayah, kau harus temui dia.”

“Ibu….... kalau begitu, besok pagi-pagi mencari jalan. Masak kita tidak keluar dari sini. Biar besok kutanya Popo, mungkin Popo tahu jalan keluar!”

“Popomu juga belum mendapatkan jalan keluar ini Hin-ji. Tebing di sana itu terlalu tinggi untuk kita dapat ke puncak, tak mungkin kita daki, sedangkan di samping kanan dan kiri gua ini terbentang jurang yang maha dalam.

“Bagaimana kita harus keluar dari sini…….. Hin-ji, aku….. aku… kalau kita akan terkubur hidup-hidup di sini…….” Pei Pei mengeluarkan air matanya. Ia menangis sedih.

Tiang Hin memegang telapak tangan ibunya dan berkata, “Ibu, tak usah kuatir. Di dalam segala sesuatu, baiklah serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

“Aku percaya masakan Thian tidak menuntun kita dan memberi jalan untuk keluar dari jurang ini. Tentu Thian lebih berkuasa, ia yang akan mengatur dan memberi jalan asalkan kita mau berdaya upaya untuk mencari jalan keluar dari sini!”

“Kau benar anakku, dalam segala hal rupanya kau lebih tabah. Maafkanlah kelemahan ibumu ini!”

Demikianlah berhari-hari itu, Tiang Hin dan Pei Pei mencari jalan keluar dan menyelidiki keadaan di jurang ini. Akan tetapi sampai berbulan-bulan lamanya, ternyata mereka tidak menemukan jalan yang kiranya dapat keluar dari jurang ini. Hingga Tiang Hin yang berhati tabah, akhirnya berkata,

“Ibu, kita ternyata harus terkubur hidup-hidup!”

Pei Pei memandang anaknya,

“Tidak, Hin-ji, tak boleh itu terjadi. Biar bagaimanapun juga kita harus keluar dari neraka ini!”

“Akan tetapi tempat ini terpisah oleh jurang dan tebing yang sangat tinggi itu, bagaimana kita harus keluar?” Berkata demikian Tiang Hin mengalihkan pandangannya ke atas tebing yang tidak kelihatan puncaknya, tertutup oleh awan di atas.

Tebing yang tinggi itu penuh dengan pepohonan yang tumbuh di sana, kadang-kadang nampak putih-putih oleh sebab tanah kapur yang tidak ditumbuhi pepohonan. Awan putih menutupi puncak tebing itu saking tingginya.

Pei Pei juga mendongakkan kepalanya ke atas.

“Kita harus mendaki tebing ini, baru kita dapat keluar dari sini,” bisik Pei Pei memandang ke atas.

“Tak mungkin ibu, tebing ini terlalu tinggi. Bagaimana kita mendakinya?” tanya Tiang Hin.

Tiba-tiba Pei Pei menoleh, memandang anaknya dengan wajah berseri, “Hin-ji..... mengapa sekarang kau yang berputus asa? Bukankah kau sudah mempelajari ilmu silat tinggi dan tenaga sin-kang kurasa dapat membantu engkau keluar dari sini!”

“Akan tetapi ibu, bagaimana denganmu?”

“Aku juga akan ikut mendaki denganmu Hin-ji. Dengan menggunakan ilmu cecak merayap di atas dinding, masakah kita tidak bisa menaiki tebing ini?”

“Begini tinggi?”

“Memang besar risikonya Hin-ji, akan tetapi kurasa jalan inilah satu-satunya. Tak ada jalan lain, ingat…... Sui-kek Siansu bisa keluar dari gua ini tentu merayap di tebing itu, masakan ia bisa terbang ke atas. Kalau Sui-kek Siansu suhu bisa merayap, mengapa kita tidak?”

“Akan tetapi suhu lain ibu. Dia sih sudah mempunyai kesaktian yang luar biasa. Bagaimana bisa disamakan denganku!”

“Kalau suhu bisa, tentu kita juga harus bisa Hin-ji. Eh, mengapa kau begini lemah hati? Hayo cepat kau beritahukan Popomu kita harus segera berangkat sekarang juga!”

“He? Mengapa harus sekarang?”

“Habis tunggu apa lagi?”

“Ayaaa, ibu tentu sudah kangen sama ayah ya? Baik, sekarang juga kuberitahukan Popo. Kita mendaki tebing itu..... mudah-mudahan berhasil.....”

“Pergilah cepat!” Pei Pei mendorong lengan anaknya. Tiang Hin masuk ke dalam gua kemudian keluar lagi bersama-sama Bong Kwi Nio.

“Pei Pei, apa maksudmu…..? Kau... kau... hendak mendaki tebing itu. Sangat berbahaya sekali!” Datang-datang si nenek menegur.

“Habis bagaimana Popo? Apakah kita harus mati bertiga di sini? Jalan lain tidak ada. Jalan satu-satunya kita harus mendaki tebing itu. Mati dan hidup kita harus berusaha untuk keluar dari neraka ini. aku........ aku tak ingin…….”

Melihat ibunya hampir menangis, Tiang Hin menghampiri Poponya dan berkata: “Benar kata ibu, Po…... Jalan satu-satunya kita harus mendaki tebing ini!!”

Bong Kwi Nio menggelengkan kepala.

“Tidak bisa dengan cara begitu Hin-ji, tebing ini sangat tinggi. Bagaimana kalau kita tergelincir jatuh?? Ah sudahlah, jangan pikirkan itu!!”

“Popo, aku tak mau..... kita mati di sini…. aku kasihan kepada Hin-ji… ia… ia harus menemui ayahnya, hu... hu… hu…” Pei Pei menangis sedih dan menutupi mukanya dengan tangan.

“Ibu sudahlah, jangan nangis dulu. Popo bagaimana menurut pikiranmu? Benar kata ibu, popo. Aku hendak bertemu dengan ayah dan ibu juga sudah rindu sama ayah. Popo maklumilah kami.......”

Bong Kwi Nio memandang ke atas.

“Berbahaya sekali kalau kita terpeleset Hin-ji……..”

“Soal itu biarlah kita serahkan kepada Thian, Popo. Bukankah kau selalu memberi wejangan kepadaku, bahwa kita hidup ini harus berusaha dan berharap kepada Thian.

“Mengapa kita sekarang ini tidak berusaha untuk keluar dari tempat ini. Dan soal berhasil tidaknya mengapa kita tidak mengharap kepada Thian Yang Maha Kuasa?

“Popo tadi ikut bilang suhu Sui-kek Siansu dapat keluar dari sini hanya melalui jalan ini. Kalau kita mempergunakan kepandaian mengapa kita tidak keluar dari sini?”

Bong Kwi Nio menoleh dan memandang cucunya ini. Melihat wajah Tiang Hin yang begitu serius, nenek ini menarik napas panjang dan akhirnya berkata:

“Terserah pada kalianlah. Kalau kalian mau berusaha dengan jalan itu, aku tidak bisa bilang apa-apa. Hanya aku kuatir Hin-ji, kalau..... kalau… kau dan ibumu tidak sampai ke tempat tujuan!”

“Popo, aku akan berusaha menjaga ibu. Harap Popo tidak menguatirkan kami. O ya, apakah Popo juga hendak ikut?” tanya Tiang Hin dengaa wajah yang berseri-seri dan penuh harapan membayang di wajahnya.

“Aku sudah tua, Hin-ji. Tak perlu lagi kembali ke dunia ramai. Biarlah dari sini aku berdoa untuk keselamatan kalian berdua.......”

“Popo…...!!” Pei Pei dan Tiang Hin menubruk nenek itu dan bertangis-tangisanlah mereka ini.

Bagi Pei Pei sebetulnya sangat berat sekali hatinya berpisah dengan nenek yang sangat dicintainya ini. Budi baik nenek ini sukar sekali untuk terkatakan.

Karena nenek inilah yang pernah menyelamatkan jiwanya sehingga terlahir puteranya Tiang Hin di tempat ini. Sekarang, ia akan meninggalkannya nenek ini. Seakan-akan perpisahan ini merupakan kematian saja.

“Popo….. saya…… banyak berhutang budi denganmu. Entah bagaimana aku dapat membalasnya? Popo....... kau turutlah kami mendaki tebing itu . Marilah kita tinggalkan tempat ini!”

Suara Pei Pei terisak dan memandang nenek yang kedua kakinya buntung itu, dan tengah bersimpuh di depan gua. Tangan si nenek mengelus rambut Pei Pei.

“Pei Pei….. jangan bilang begitu. Jangan bicara tentang budi. Mati dan hidup manusia Thian yang menentukan.

“Aku tidak merasa menaruh budi kepadamu Pei Pei, harap kau lupakanlah itu dan usahakanlah agar keberangkatan kalian ini tidak sia-sia. Kegagalan berarti maut yang menyambut kalian.

“Jangan pikiri aku di sini. Aku sudah tua dan cacad ini untuk apakah kembali ke dunia ramai, akan menyusahkan bagi yang hidup saja. Biarlah aku di tempat ini.

“Kalian berangkatlah. Hati-hati Hin-ji, jagailah ibumu, mudah-mudahan kalian selamat!”

Tiang Hin berlutut memeluk nenek ini dan mengangis tersedu-sedu, “Popo……. Kau… kau….... selamat tinggal Popo. Mohon doa restumu......”

“Berangkatlah Hin-ji!”

“Popo, selama kami merayap ke atas tebing itu, mohon doa sembahyangmu agar kami dapat selamat tiba di atas itu…...” berkata pula Pei Pei sambil mencium pipi nenek itu dan berlutut tiga kali dihadapan si nenek.

Bhong Kwi Nio buru-buru mengangkat bangun Pei Pei dan katanya:

“Jangan begitu Pei Pei, lekaslah kau berangkat, dan sudahkah kau bersiap-siap dengan alat-alatmu untuk mendaki. Hati-hati Hin-ji, apalagi di sebelah sana itu terdapat tanah kapur yang mudah longsor. Kalian pergunakanlah tenaga sin-kang merayap seperti cecak. Aku yakin, kalian selamat..... nah berangkatlah!”

“Popo…...!”

“Lekaslah..... jangan perdulikan aku Hin-ji. Aku akan selalu berdiam di sini memandang perjalananmu dan berdoa. Bangunlah nak! Thian menyertai kalian!”

Demikianlah Pei Pei dan Tiang Hin menuju ke jurang sebelah kiri dan mempergunakan sepasang pedang yang diambilnya di dalam goa. Akan tetapi setelah sampai di tebing sebelah sana itu, alangkah girangnya pemuda itu melihat pada dinding-dinding tebing yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon yang mempunyai akar yang kuat-kuat dan ulet.

Dengan girang sekali Tiang Hin menoleh kepada ibunya,

“Ibu, tebing ini akarnya cukup tahan. Kita tak perlu mempergunakan pedang dulu. Sebaiknya dengan bantuan akar-akar ini kita dapat memanjat ke atas.

“Ibu kau panjatlah duluan, biar anak memanjat di bawah. Hati-hati ibu, akar ini licin sekali biar pedang aku yang pegang dulu. Nanti kalau perlu akan kuberikan kepadamu.”

“Hin-ji, sudah kau bersembahyang mohon kekuatan dari yang Maha Kuasa?” tanya Pei Pei mencoba untuk tersenyum. Matanya basah memandang anaknya yang sangat dicintainya.

Melihat mata ibunya basah, Tiang Hin mengusap pipi ibunya dengan sayang, “Jangan kau kuatir ibu, hati-hatilah........”

Tiang Hin memandang ibunya yang telah menjambret akar pohon yang bergelayutan itu. Kemudian dengan ke dua kakinya ia menjejakkan tebing yang penuh dengan akar-akar pohon itu.

Melihat ibunya sudah memanjat, pemuda itu cepat mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas dan menyambar sebuah akar pohon. Sekali lagi ia menoleh ke arah gua dan berteriak kepada neneknya yang tengah memandang di luar gua itu.

“Popo........ selamat tinggal…….!”

“Hati-hati Hin-ji..... Tuhan besertamu…..” terdengar neneknya berseru pula.

Dan mendengar seruan yang terakhir ini, Tiang Hin menjadi tabah dan ia terus merayap bergelayutan dari akar pohon ke akar pohon lainnya yang lebih tinggi. Ia terus menggunakan cara berpegangan pada akar pohon ini sambil berkali-kali ia memberi peringatan kepada ibunya.

Demikianlah, dua orang itu mulai merayap naik. Mulanya memang tidak terlalu sukar merayap ke atas dengan berpegangan pada akar-akar pohon yang cukup kuat ini. Akan tetapi setelah mereka sudah sampai ketinggian seratus meter, tiba-tiba perjalanan terasa amat sukar bukan main.

Berapa kali tubuh Pei Pei hampir tergelincir akibat akar pohon yang dipegangnya jebol. Dan untung Tiang Hin berada di bawahnya dan cepat-cepat telah memegang lengan ibunya.

Tiba-tiba udara menjadi mendung. Kabut tebal menaungi di atasnya dan hujan turun dengan lebatnya. Hal yang tak tersangka-sangka ini terjadi sudah.

Kedua orang yang sedang merayap itu bertambah sukar lagi dalam keadaan yang sangat licin ini. Tubuh ke duanya sudah bermandikan air hujan dan basah kuyup.

Ketika itu Pei Pei sudah lemah sekali. Beberapa kali ia hampir jatuh dan kehilangan pegangan kalau tidak buru-buru Tiang Hin menyambar tangan ibunya dan menyodorkan akar pohon yang lebih kuat.

“Hin-ji.......!”

“Ibu jangan berhenti, terus jalan. Kalau lama-lama akar ini menahan tubuh kita akan longsor, cepatlah ibu…...!”

Tiang Hin kuatir sekali melihat keadaan ibunya yang sudah lelah ini. Ia sendiri kalau tidak mempunyai sin-kang yang luar biasa ditubuhnya, niscaya tak dapat bertahan lama melakukan perjalanan merayap seperti ini.

Sekali saja pegangan tangan pada akar pohon itu terlepas, niscaya akan terguling tubuhnya masuk ke jurang. Namun demikian, dalam keadaan yang amat sukar dan berbahaya ini, Tiang Hin selalu memperhatikan keadaan ibunya.

“Hin-ji…… aku….. aku...... tak tahan lagi….. aduuh!” terdengar lagi di antara deraian hujan yang lebat suara ibunya mengeluh.

Cepat dan cekatan Tiang Hin mendekati ibunya dan memeluk tubuh ibunya yang tak kuasa untuk berpegangan itu.

“Ibu…… kuatkan hatimu, jangan kau…… lepaskan pegangan ini….. Ingat ibu, kita harus sampai ke atas sana. Ayah sedang menantikan kita, jangan putus asah ibu!”

“Hin-ji…… aku… aku……!”

“Ibu, jangan memandang ke bawah! Lihatlah ke atas, jangan lemah ibu, Sebentar lagi kita akan sampai ke atas itu.”

“Kau..... kau bersemangat dan tabah Hin-ji. Kau mengingatkan aku kepada ayahmu……!”

“Kita akan bertemu dengan ayah, ibu…… kuatkan hatimu, mari kita mendaki lagi... jangan lama-lama bergelayutan di sini, takut akarnya tidak kuat.......” Tiang Hin memberi akar pohon yang lain.

Dengan amat sukar sekali Pei Pei memanjat ke atas. Ia benar-benar sudah lelah sekali, hampir-hampir tak kuat mengangkat tubuhnya memanjat.

Untung Tiang Hin tidak lengah dan senantiasa menjaga ibunya. Dan berkali-kali ia menyalurkan hawa sin-kang ke pundak ibunya supaya ibunya dapat tenaga baru, dengan demikian perlahan dan lambat mereka terus merayap ke atas.

Sementara itu hujan bertambah deras. Udara dingin bukan main membuat Pei Pei bertambah pucat sekali kelihatannya.

Sedangkan Tiang Hin sendiri, merasa tubuhnya sakit-sakit terkena duri-duri pohon yang menyeret dan membeset kulit tubuhnya. Sepatu yang dipakainya sudah bolong-bolong dan hancur dan bajunya basah kuyup, robek sana sini terkait akar-akar pohon.

Akan tetapi mereka ini sungguh tabah. Biarpun Pei Pei sudah lelah bukan main dan kedua kaki dan tangannya terasa menggigil, namun ia terus merangkak ke atas dengan dibantu Tiang Hin yang juga kelihatan sudah lelah sekali karena menahan tubuh ibunya dari bawah. Sekali saja pegangan tangan terlepas, pasti tubuhnya akan hancur di bawah jurang.

Untuk melakukan perjalanan merayap seperti ini, mereka benar-benar mempunyai ketabahan yang luar biasa pada saat itu. Agak sukar mencari orang kedua yang seperti Tiang Hin, yang begini tabah, ulet dan mempunyai tenaga sin-kang yang demikian tinggi dan tanpa ia sadari.

Apalagi setelah tiba di bagian tebing yang penuh dengan tanah-tanah kapur, hampir-hampir saja Tiang Hin celaka karena pegangan tangannya yang memondong tubuh ibunya terlepas. Namun pemuda ini demikian tabah dan tidak pernah takut.

Begitu tubuhnya meluncur ke bawah, cepat ia mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya dan menjambret akar pohon, membetulkan letak posisi pada pegangan tangannya pada ibunya. Kemudian dengan menggunakan ilmu merayap di atas dinding tangan dan kaki pemuda ini bagaikan melekat di tepi tebing dan perlahan-lahan ia menarik ibunya yang sudah kepayahan bukan main.

Akhirnya berkat keuletan dan ketabahan Tiang Hin dalam usahanya ini, sampailah mereka di atas tebing. Alangkah senangnya hati Tiang Hin menghirup udara puncak gunung yang begitu menyegarkan.

Akan tetapi begitu ia menarik tangan ibunya, ternyata ibunya telah kepayahan bukan main. Napasnya satu-satu dan mengap-mengap kecapean seperti ikan kehabisan air.

Melihat keadaan ibunya seperti ini, pemuda itu terkejut dan cepat-cepat memeriksa tubuh ibunya yang kemudian dicelentangkan di atas rumput tebal di pinggiran jurang.

“Ibu....!” Tiang Hin menanggil ibunya dengan berkuatir.

“Hin-ji...... aku...... aku…. ahhh...... uggh,” tiba-tiba Pei Pei memuntahkan darah segar menyembur dada anaknya.

Wajahnya semakin pucat dan napasnya kelihatan mengap-mengap bukan main. Perempuan setengah tua ini memandang anaknya sayu.

Tiang Hin membuka jubah luarnya dan dengan bajunya ia menyeka darah yang ke luar dari pinggiran mulut.

“Ibu........ kau……, sakitkah dadamu?” berkata begitu pemuda itu mengurut dada ibunya. Pandangan ibunya semakin meredup.

Ternyata Pei Pei sudah terluka dalam yang amat hebat akibat menahan letih waktu mendaki tebing tadi. Hanya kekerasan dan kemauan yang keras saja yang membuat Pei Pei berhasil bertahan sampat di puncak ini. Namun demikian ternyata paru-parunya telah pecah. 

“Hin-ji….... aku……. aku tak dapat bertahan lagi….. agggh…….”

Pei Pei memuntahkan darah lagi.

Kaget sekali pemuda ini melihat keadaan ibunya seperti ini, cepat ia mencelat turun gunung dan bermaksud hendak mencari ahli pengobatan.

Akan tetapi, di puncak gunung ini di mana ada shin-se. Ia berlari-lari menuju dusun, akan tetapi orang-orang dusun inipun tidak mengerti ilmu pengobatan.

Maka dengan bingung dan tak tahu lagi apa yang mesti ia perbuat. Tiang Hin berkelebat ke arah puncak mempergunakan gin-kangnya yang tinggi. Hingga melihat pemuda sederhana itu tahu-tahu sudah lenyap, gemparlah penduduk dusun di kaki gunung Ta-pie-san.

Bagaimana pemuda itu tahu-tahu bisa menghilang dihadapan mereka? Banyak penduduk dusun menduga tentu semacam hantu yang menjelma menjadi seorang pemuda, maka tahayul ini membuat beberapa penduduk lantas saja membakar menyan agar terhindar dari mara bahaya.

Sementara itu, begitu sampai di puncak Tiang Hin berteriak kaget melihat ibunya ternyata telah tak bernyawa. Seluruh baju pada dadanya terdapat banyak darah yang keluar dari mulut, cepat-cepat pemuda itu mengangkat kepala ibunya yang penuh berlumuran darah.

“Ibu...... ibu……!”

Bagaikan orang gila Tiang Hin berlari cepat menuruni puncak sambil memondong tubuh ibunya. Ia tidak menyadari kala itu tubuhnya bagaikan bayangan saja berkelebat cepat berloncatan dari jurang ke jurang.

Tiang Hin seperti orang hilang ingatan memanggil-manggil nama ibunya sambil berlari cepat tak tentu arah tujuan. Air matanya bercucuran menangisi ibunya.

Tiba-tiba, seorang hwesio tua tahu-tahu telah memegang lengannya dan berkata, “Nak, sadarIah, ibumu sudah meninggal, mengapa kau berlaku seperti orang gila begini?”

Bagaikan disiram oleh air dingin di atas kepala, Tiang Hin tersadar dan menghentikan larinya.

Dilihatnya di depannya nampak seorang hwesio tua tengah berjongkok dan memeriksa luka di kaki seorang pengemis yang terkapar di tepi jalan. Melihat hwesio ini membawa ramuan obat-obatan, Tiang Hin menjadi girang sekali dan buru-buru berlutut di depan hwesio tua itu.

“Lo-suhu, siauwte Sung Tiang Hin……, mohon lo-suhu yang berhati welas asih segera menyembuhkan ibuku, lo-suhu tolonglah ibuku ini.......”

Dengan tidak menengok hwesio tua itu berkata sambil tangannya tetap membalut kaki pengemis yang terluka,

“Orang muda, ibumu sudah meninggal...... mengapa kau tidak lekas-lekas menguburnya?”

“Apa? Ibuku meninggal.......? Ibuku mati?”

Tiang Hin menundukkan mukanya memandang ibunya.

Dilihatnya ibu itu diam tak bergerak, ia memegang lengan ibunya terasa dingin.

“Ibuku mati?” bisiknya perlahan memandangi wajah ibunya yang sudah tak bercahaya lagi.

Pelan-pelan ia melepaskan rangkulannya dan kemudian memandang si hwesio tua. Dan sepasang mata hwesio itu nampak tajam akan tetapi lembut menandakan kesempurnaan bathin hwesio ini, lalu tersenyum,

“Anak muda, itulah kematian. Kematian datangnya seperti pencuri, siapa yang menduga. Berbahagialah segala manusia yang telah mempersiapkan diri menjelang tibanya kematian yang gelap itu.

“Berbahagialah manusia yang sadar...... Suatu ketika kelak kematian akan datang menjemputnya, berbahagialah bagi mereka yang mati, karena dengan hanya kematian ia akan terbebas dari tuntutan hidup yang menyengsarakan badan!

“Lo-suhu..... ibuku ini mati, apakah yang harus siauwte perbuat?”

Tiang Hin yang sampai saat ini belum pernah mengenal orang mati, menjadi bingung. Mimpipun tak pernah ia waktu di jurang itu, bahwa orang mati itu harus ditanam dan dikuburkan, dan di sembahyangkan. Karena soal-soal kematian dan cara-cara mengurus orang mati, tak pernah ia dengar dari nenek dan ibunya.

Memang harus diakui bahwa Tiang Hin ini, berhubung hidupnya belum mengenal masyarakat. Sehingga ibunya matipun tak tahu bagaimana dia harus perbuat.

Hwesio tua itu memandang pemuda itu, seakan-akan ia merasa heran mendengar perkataan pemuda ini tadi. Akan tetapi dengan penuh kesabaran, hwesio ini berkata:

“Marilah, kau turutlah pinceng........ bawa jenazah ibumu itu!” berkata demikian hwesio itu lalu berjalan.

Tiang Hin dengan memondong mayat ibunya berjalan mengiringi hwesio tua itu. Sampai di dalam hutan, hwesio itu berhenti dan berkata,

“Orang yang sudah mati harus dikuburkan. Ini untuk kesehatan bagi manusia hidup agar mayat si mati tidak membusuk.

“Dan juga manusia mati harus dikubur, adalah manusia mempunyai prikemanusiaan, rasa bakti kepada orang yang mati untuk merawatnya dalam saat terakhir. Nah, kau bantulah aku menggali lubang!”

“Lo-suhu, biarlah siauwte yang menggali,” berkata demikian pemuda itu telah mengeluarkan pedangnya dan dengan menggunakan lwekangnya yang tinggi, sebentar saja ia telah membuat sebuah lubang yang cukup besar.

Melihat gerakan pemuda ini dalam menggali lubang, diam-diam hwesio ini terkejut bukan main. Itulah pengerahan tenaga sin-kang yang luar biasa!

Setiap gerakan pedang pemuda itu yang menggali tanah, seperti dipacul oleh sepuluh mata pacul yang kuat dan besar sehingga dalam waktu beberapa menit saja pemuda itu telah membuat lubang yang cukup dalam dan besar.

Demikianlah atas petunjuk-petunjuk hwesio tua ini, Tiang Hin memakamkan ibunya di sebuah hutan di bawah sebuah pohon besar. Sesudah selesai pemakaman itu, lalu Tiang Hin membuat tanda berupa tulisan di sebuah batu besar yang diletakkan di muka pekuburan.

Lalu ia memasang hio dan berlutut di muka pekuburan yang masih baru itu. Terdengar anak muda itu berbisik,

“Ibu, tenangkanlah batinmu. Tak lama lagi aku akan mencari ayah, mohon petunjukmu ibu agar aku boleh segera sampai di Tiang-pek-san!”

Hwesio tua itu terkejut dan sesudah dilihatnya pemuda itu berdiri, ia lalu bertanya, “Anak muda, kau ini sebenarnya siapa.........? Apa hubunganmu hendak ke Tiang-pek-san?”

Tiang Hin tersenyum.

“Lo-suhu, sebenarnya aku adalah putera Pendekar Lengan Buntung. Sengaja memang aku hendak ke sana untuk menemui ayah. Apakah kau kenal dengan ayahku lo-suhu?”

“Hanya kebetulan sekali, orang muda. Tentu saja aku pernah mendengar Sung Tiang Le Pendekar Lengan Buntung yang gagah perkasa itu. Suhuku pernah menyebut pendekar yang gagah perkasa itu, orang muda.

“Kalau begitu mari kau ke tempat pinceng di kuil Han-liong-sie. Senang sekali hati pinceng bertemu dengan putera Pendekar Lengan Buntung!”

“Terimakasih untuk kebaikanmu, lo-suhu! Maaf, siauwtee hendak segera menuju ke Tiang-pek-san, apakah lo-suhu tahu letaknya pegunungan Tiang-pek-san?” tanya Tiang Hin menjura hormat.

Hwesio itu tertawa senang.

“Gunung Tiang-pek-san masih cukup jauh, kalau berjalan cepat harus melintas bukit Lu-liang-san. Eh, apakah kau tidak mampir di tempat pinceng dulu?”

“Lain kali saja lo-suhu, maaf siauwte tidak dapat lama-lama!” Sehabis menjura pemuda ini berkelebat lenyap dan gerakan ini membuat si hwesio menjadi kagum bukan main.

Ia sebetulnya murid Thian Thian Losu, di Siauw-lim-pay tentu saja mengenal baik akan Pendekar Lengan Buntung itu. Biarpun belum pernah bertemu, akan tetapi sekarang bertemu dengan puteranya saja ia sudah dibuat kagum bukan main!

Rasa kagum ini membuat ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kuil Han-liong-sie dan bercerita kepada tua-tua di kelenteng tersebut.

<>

Sementara itu, Tiang Hin berlari cepat sekali. Jarang sekali berhenti kalau bukannya perutnya berkeroncongan minta diisi.

Ia hendak segera sampai di Tiang-pek-san dan bertemu dengan ayahnya, Pendekar Lengan Buntung yang gagah perkasa itu.

Senang sekali hatinya, bisa menjumpai ayah seperti Pendekar Lengan Buntung yang kesohor. Maka dari itu cepat-cepat ia mempergunakan gin-kangnya berlarian menuju ke arah Utara.

Ketika itu hari hampir menjelang senja ketika ia memasuki sebuah dusun kecil di tepi hutan. Akan tetapi alangkah herannya dia, ketika di luar dusun itu terdengar orang bertempur.

Cepat-cepat Tiang Hin melangkahkan kakinya dan alangkah gemas hatinya ketika melihat bahvva seorang gadis tengah dikeroyok oleh puluhan orang-orang kasar.

Tadinya Tiang Hin hendak membantu gadis itu, akan tetapi melihat cara gadis ini bersilat amat hebat dan bersenjatakan sebuah kipas dan suling, keruan saja Tiang Hin menjadi memandang ke arah jalannya pertempuran dengan hati kagum.

Ternyata gadis yang dikeroyok ini, demikian lihay. Begitu kipasnya bergerak mengebut, begitu pula dua-tiga orang-orang kasar itu terjungkal dan telah tertotok oleh gagang kipas, sedangkan yang lebih mengagumkan lagi adalah gerakan-gerakan suling ditangan si gadis. Sungguh aneh dan ajaib sekali.

Tentu saja Tiang Hin yang telah mempelajari ilmu sastra dapat menangkap gerakan-gerakan yang kadang-kadang seperti huruf-huruf yang digerakkan oleh suling di tangan gadis ini. Sama lihainya seperti kipas di tangan kirinya tadi, suling inipun luar biasa sekali karena begitu gadis ini bergebrak menulis huruf-huruf di udara.

Tiba-tiba entah bagaimana caranya lima orang kasar yang mengeroyoknya terpelanting roboh, dan bagaikan kilat tangan si gadis bergerak cepat dan menyambar tubuh seorang laki-laki yang bercambang bauk. Dan dengan merenggut baju di lehernya, tiba-tiba laki-laki cambang bauk itu bagaikan dibawa terbang ke atas dan tahu-tahu ia sudah berada di atas pohon yang tinggi tergantung.

Terdengar suara gadis itu berkata ketus,

“Perintahkan anak buahmu untuk meninggalkan dusun ini, kalau tidak nona besarmu tidak akan memberi ampun lagi!”

“Ampun lihiap....... kami… kami berjanji untuk pergi dari sini….. dan.... dan….”

“Melepaskan pekerjaan merampok!” sambung si gadis dengan suara sengaja mempergunakan suara khi-kang sehingga terdengar oleh mereka bagai petir yang memekakkan anak telinga.

“Kami berjanji....... untuk tidak merampok lagi… lihiap…… ampunkan kami!” laki-laki tinggi besar bercambang bauk yang tergantung di atas pohon yang tinggi itu berkata jeri dan memandang ke bawa ketakutan. Sedangkan duapuluh anak buahnya yang lain cepat-cepat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Benar kalian sungguh-sungguh bertobat?” Si gadis ini bertanya dengan suara keren dan bertolak pinggang.

“Kami benar-benar bertobat lihiap….. ampun!”

Tangan gadis itu bergerak. Serangkum angin pukulan menyambar ke atas dan terdengar ranting pohon patah dan tubuh kepala rampok itu terdengar jatuh ke tanah bergedebuk dan meringis menahan sakit karena pantatnya terhantam batu. Sakit dan mulas.

Gadis itu menyepak tubuh laki-laki cambang bauk itu dan membentak,

“Lekas minggat dari sini, awas lain kali kulihat kalian masih melakukan pekerjaan merampok. Tahu sendiri!”

“Baik lihiap!”

Maka bagaikan anjing digebuk pantatnya orang-orang kasar itu mengangkat kaki seribu dan berlari terbirit-birit.

Pada suatu saat itu bermunculan banyak penduduk dusun yang terus saja menjatuhkan diri berlutut dihadapan si gadis.

“Pouw-sat terima kasih atas pertolongan Pouw-sat yang telah mengusir perampok-perampok itu,” seorang kakek maju ke depan dan berlutut.

Buru-buru gadis ini berjongkok menarik punggung kakek itu.

“Jangan begitu lopek, tak perlu kalian berlutut seperti itu. Aku bukan pouw-sat yang harus kalian sembah-sembah. Aku hanya gadis biasa, berdirilah!” kata gadis itu membangunkan si kakek.

“Sekarang dusun ini tidak lagi diganggu oleh perampok-perampok itu. Kalian tenanglah!”

“Terima kasih lihiap....... untuk kebaikanmu ini. Bolehkah kami mengetahui nama lihiap…..? Agar supaya dapat mengingat dewi penolong kami,” seorang kakek yang rupanya menjadi kepala dusun di sini bertanya sambil menjurah.

Gadis itu tersenyum dan tidak menyahut melainkan melirik ke arah sulaman baju di dadanya yang bergambar walet merah terbang di langit biru. Para orang-orang dusun itu melihat pula gambar yang terhias indah itu.

Keruan saja salah seorang pemuda yang ikut-ikutan berlutut berkata lantang,

“Si Walet Merah!”

Lopek itu melirik ke arah seorang pemuda sederhana yang berkata tadi, kemudian dengan tertawa girang kakek ini lalu berkata kepada gadis itu,

“Bagus! Tepat sekali bahwa Walet Merah adalah penolong Penduduk dusun Sin-an-bun, Walet....... Merah!”

“Eh, kemana perginya gadis itu? Si Walet Merah menghilang!” Orang dusun berteriak kaget, karena tiba-tiba saja gadis itu lenyap dari pandangan mata, juga pemuda sederhana tadi turut lenyap pula. Aneh.

Sementara itu, jauh di luar dusun pada sebuah jalan kecil yang penuh debu, seorang pemuda berlarian mengejar seorang gadis yang rupanya sengaja tidak menghiraukan panggilan pemuda itu.

“Walet Merah!” perlahan….. panggilnya.

Namun gadis itu tidak menengok atau menghentikan kakinya, malah tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap. Ia kini menggunakan gin-kangnya berlari cepat.

Setelah jauh dan merasa pemuda ini tidak lagi mengejarnya, ia tiba di sebuah sungai di tepi hutan kecil. Si gadis berhenti dan duduk pada sebuah batu di pinggir sungai.

Ia menanti perahu yang masih ditengah-tengah itu, yang sedang menuju ke tepi. Akan tetapi alangkah herannya hati gadis ini begitu menengok ke belakang, dilihatnya pemuda tadi telah berdiri di belakangnya sambil bersedekapkan tangan memandang jauh ke arah sungai.

Tiba-tiba gadis itu berdiri dan bertolak pinggang. Sikapnya galak dan kata-katanya terdengar ketus,

“Pemuda dusun, kurang ajar..... mengapa kau membuntutiku?”

Tiang Hin tersenyum dan seperti seorang kota yang terpelajar, yang tahu akan tata kesopanan, ia mengangkat kedua tangannya dan berkata:

“Jangan marah dulu, lihiap…… aku tak pernah merasa membuntutimu. Untuk apa membuntutimu?”

“Kau memang kurang ajar! Tadi mengapa panggil-panggilku, ada apakah?” Gadis itu memandang penuh selidik.

“O, jadi hanya soal itu sehingga kau marah? Memang tadi aku memanggil-manggilmu. Nih, sapu tanganmu jatuh..... aku tadi bermaksud mengembalikannya. Sayang kau tinggi hati tidak meladeni panggilanku......”

“Untuk apa aku meladenimu,” berkata demikian gadis itu menggerakkan tangannya dan tahu-tahu sapu tangan merah yang disodorkan Tiang Hin sudah herpindah tangan ke tangan si gadis itu. Kemudian tanpa bilang apa-apa gadis itu lalu menggerakkan tubuhnya mencelat ke arah perahu yang sudah menepi.

Kemudian ia memerintahkan kepada tukang perahu untuk mendayung perahunya ke tengah, akan tetapi tiba-tiba Tiang Hin berteriak,

“He…… lopek tukang perahu, minggirkan dong perahunya, aku hendak menumpang!”

Si kakek tukang perahu lantas mendayung perahunya ke tepi. Tiang Hin dengan berpegangan pada tangan si kakek telah menarik ke dalam perahu dan ia mendengar gadis itu menggerutu,

“Sungguh menyebalkan!”

Tiang Hin menoleh. Akan tetapi gadis itu telah membalikkan tubuhnya membelakangi. Ia melihat gadis ini usianya tidak lebih dari delapanbelas tahun dari potongan tubuhnya ramping dan menggairahkan, kulitnya kuning langsat berpakaian sutera merah yang indah, wajah gadis itu cantik, akan tetapi sombong terlalu, demikian pikir Tiang Hin.

Kemudian tanpa bilang apa-apa kepada gadis itu, ia duduk di samping si kakek dan mengambil sebuah dayung dan turut mendayung.

Senang sekali kakek tukang perahu ini melihat penumpangnya telah mau membantunya mendayung perahu. Memang pada saat itu arus sungai agak deras dan perahunya mengambil arah yang berlawanan dengan arus sungai itu sehingga terasa perahunya berat.

Untung pemuda ini terus membantu. Dan alangkah herannya kakek ini begitu perahunya didayung oleh pemuda sederhana itu, perahunya meluncur dengan amat cepat memecah arus sungai.

Diam-diam tukang perahu ini kagum melihat cara pemuda ini mendayung. Ia sendiri, yang sudah puluhan tahun menjadi tukang perahu belum tentu dapat mendayung perahunya secepat itu.

Sampai di laut luas, malampun tiba. Bulan hersinar terang di ujung laut merupakan bola merah yang bersinar memancarkan sinar emasnya.

Air laut yang tertimpa cahaya keemas-emasan itu berkilat-kilat diusap bulan. Beberapa perahu lain kelihatan jauh di sebeleh sana.

Merasa bahwa suasana ini menjadi kaku dan sepi, karena gadis itu ternyata diam saja. Tiba-tiba Tiang Hin berdiri dan bernyanyi mengetuk-ngetukkan tangkai dayungnya ke badan perahu memberi irama pada nyanyiannya.

Suaranya bersih dan merdu. Kata-kata yang dilagukan adalah nyanyian yang pernah ia pelajari dari ibunya waktu di jurang Ta-pie-san. Terdengarnya lagu itu sedih dan pilu.

Sudah lama tak kembali
peristiwa lama teringat kembali
seperti dalam mimpi
bertemu dengan kekasih
hati yang penuh cinta
seperti dahulu.......

Teringat masa lalu
bergembira bersama-samamu
bunga merah dan hijau bersemi lagi
musim salju di gunung
berganti tahun dan bulan
cepat menghilang bagaikan angin

Kasih.......
aku di sini
menanti!

Habis Tiang Hin membawakan nyanyian ini, tiba-tiba gadis itu menoleh kepadanya dan berkata

“Nggak bisa diam ya, nyanyi-nyanyi melulu kayak orang gila. Mending suaramu merdu kayak kaleng rombeng!”

“E, e, e, mengapa kau yang marah. Aku menyanyi karena hatiku ingin menyanyi tidak seperti engkau cemberut melulu, tampang asam!” Tiang Hin balas memaki.

Si kakek tukang perahu buru-buru memegang lengan si pemuda.

“Sudah, sudah kongcu. Malam terang bulan seperti ini tak baik bertengkar. Hidup rukun dan damai, demikian ujar-ujar nabi Kong Cu!”

“Pemuda sinting!” Si gadis memaki lagi sambil membelakangi tubuhnya memandang ke bulan.

Sebetulnya Tiang Hin ingin membalas memaki namun si kakek tukang perahu menyentuh lagi tangannya memberi isyarat untuk berdiam dan tidak meladeni gadis galak itu.

“Kongcu, lagumu tadi bagus sekali! Coba kau nyanyikan lagi sebuah lagu. Terang bulan begini paling enak mengadakan perjalanan sambil nyanyi!”

“Lopek, sukakah kau akan nyanyian?”

“Tentu! Setiap orang pasti suka menyanyi. Hati yang riang membawa mulut untuk bernyanyi, dan ini membawa umur panjang dan banyak rejeki ha-ha-ha!”

“Betul lopek! Orang yang gembira hidupnya, adalah orang yang berbahagia. Panjang umur, banyak rejeki.....”

“Pepatah bilang, orang pemarah itu cepat tua!”

“Kalau sudah tua gigi pada ompong, muka kerisut….. orang yang cantik menjadi jelek kayak nenek-nenek! Betul, di dunia ini tidak ada yang kekal!” Tiang Hin mengoceh.

Tiba-tiba gadis itu menoleh dan tahu-tahu sebuah tamparan melayang di pipi Tiang Hin.

“Seniman sinting, tak perlu ocehanmu!”

“E, e, e kenapa di situ yang marah?”

“Aku benci mendengar ocehanmu!”

“Benci ya sudah, jangan dengerin.”

“Bagaimana aku tidak ngedengerin, bacotmu terlalu keras! Pusing kepalaku mendengarnya. Awas kau sekali kuat mengoceh, telingamu hilang!” berkata demikian gadis itu menggerakkan kipasnya dan mengibas. Terdengar suara keras, pinggiran perahu somplak dikebut oleh pukulan si gadis.

“Wah, galak!”

“Memang aku galak kau mau apa, menyesal aku menumpang perahu ini........ bertemu dengan…… ahh, kau berengsek!”

“Kongcu jangan ladeni. Mari bantu aku mendayung. Lihat kita sudah hampir memasuki sungai Huang-ho, malam begini airnya deras. Kau hebat, tenagamu seperti kerbau!”

“Memang dia kerbau!” Gadis yang membelakangi itu memaki.

Akan tetapi sekarang Tiang Hin diam saja, karena sebuah perahu besar mendekati perahunya dan sebuah kepala melongok dari dalam perahu.

“Minggir! Kalau tidak kutubruk perahumu!!!”

Tiba-tiba si tukang perahu menjadi pucat. Segera memutar perahunya dan menjauhi. Akan tetapi tiba-tiba perahunya bergoyang-goyang keras ternyata perahu besar itu sudah menubruk perahunya.

Sebuah bayangan merah berkelebat ke atas perahu besar dan memaki, “Bangsat! Rasakanlah.......!”

Terdengar jeritan orang itu, dan tak lama kemudian di dalam perahu besar itu terdengar suara hiruk pikuk beradunya senjata. Ternyata gadis perkasa itu sudah melompat ke atas perahu besar dan menerjang orang-orang yang di dalam perahu itu.

Tentu saja Tiang Hin yang berada di dalam perahu kecilnya tidak pernah menyadari bahwa gadis baju merah itu tengah menghadapi pertempuran yang hebat di atas perahu besar. Baru setelah agak lama ditunggu-tunggu gadis itu tidak muncul lagi, pemuda ini menjadi curiga dan cepat-cepat ia berkata kepada tukang perahunya dan memberikan uang.

“Lopek, terimakasih untuk pertolonganmu dan lekas kau pergi, aku hendak menyelidiki gadis itu. Tentu ia tertawan di tangan orang-orang jahat di atas perahu itu. Kau menyingkirlah,” berkata demikian Tiang Hin sudah mengelebatkan tubuhnya menghilang dari pandangan si kakek.

Pemuda itu telah mencelat ke atas perahu besar.

Ia sengaja mempergunakan gin-kangnya sehingga datangnya ini tidak diketahui oleh orang-orang di dalam perahu, dan berindap mengintai ke dalam.

Alangkah terkejutnya pemuda itu, ketika melihat gadis baju merah tadi ternyata telah tertawan oleh dua orang kakek yang berambut riap-riapan. Kakek ini biarpun kelihatannya berpakaian sutera yang indah dan mahal namun kelihatannya seram sekali.

Rambutnya menutupi muka sehingga sukar mengenali orang itu. Sedangkan di dalam nampak puluhan orang laki-laki yang kelihatannya seperti bajak laut. Dan di lantai perahu itu menggeletak gadis baju merah tadi, rupanya sudah terkena totokan lihai.

Terdengar kakek rambut riap-riapan yang tanda elang di dadanya sebagai kepala bajak Elang Sakti berkata dengan suara yang keras dan parau,

“Bagus! Gadis ini kita pergunakan sebagai umpan untuk memancing munculnya ke dua orang tuanya dari Kong-hwa-san. Segera kirim surat ke Kong-hwa-pai untuk menjemput gadis ini, sementara kita kirimkan gadis ini ke Istana Hantu untuk dihadapkan kepada Thay-bengcu!”

“Bila kita bawa gadis ini Tay-ong?” tanya salah seorang anak buah bajak laut yang ditugaskan untuk mengantar gadis ini ke Istana Hantu.

Akan tetapi orang tinggi kurus berwajah pucat yang duduk di sebelah kepala bajak itu berkata cepat-cepat: “Tay-ong, gadis ini berbahaya sekali kalau terlepas. Kepandaiannya tinggi, berbahaya sekali kalau A Yam yang mengantarkan!”

Kepala bajak yang rambutnya riap-riapan menutup kepala itu mengangguk-angguk, “Kalau begitu biarlah, lo-suhu saja yang membawanya, bagaimana?”

Hwesio tinggi besar yang memegang toya itu, tersenyum lebar dan dengan sombongnya mengedikkan kepala, “Pinceng akan menjamin, tidak akan ada manusia yang menjaili perjalanan pinceng!”

“Bagus, kalau begitu, harap lo-suhu sekarang juga membawa gadis ini ke Istana Hantu. Sampaikan kami dari Huang-ho Sie-eng kepada Thay-bengcu. Sekedar jasa lo-suhu, terimalah ini!”

“Tidak usah Tay-ong!! Biarlah uang itu untuk kalian saja, pinceng tidak memerlukan uang sebanyak itu!!”

“Harap lo-suhu jangan terlalu seji-seji, maka terimalah!!”

Didesak demikian oleh kepala bajak itu akhirnya hwesio ini menerima juga hadiah yang disodorkan oleh kepala bajak itu, tetapi tiba-tiba hwesio ini menggerakkan toyanya ke samping dan terdengar suara keras, dinding perahu jebol dan sesosok tubuh berkelebat cepat menyelinap dan hilang.

Hwesio ini merasa penasaran sekali, dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya melongok ke luar, ternyata di luar tidak ada siapapun juga.

“Siapa lo-suhu??” tanya kepala bajak itu.

“Entah, mungkin.......”

“Sudahlah lo-suhu, sebaiknya sekarang saja kita berangkat supaya besok pagi bisa sampai di Istana Hantu. Lebih cepat lebih baik bukan??”

“Baiklah!”

Kepala bajak itu memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengeluarkan perahu kecil, nampak bayangan hwesio itu berkelebat ke atas perahu kecil dan terus saja perahu itu didayung oleh sepasang lengannya yang besar dan kuat.

Perahu kecil itu meluncur dengan cepat.

Sebuah bayangan berkelebat ke atas perahu besar.

Terdengar jeritan mengerikan dari dua orang anggota bajak yang tiba-tiba merasakan tubuhnya terangkat naik dan melayang keluar perahu.

Ternyata Tiang Hin telah bergerak menggunakan pukulan-pukulan mautnya, setiap kali tubuhnya berkelebat dua-tiga orang anak buah bajak itu terlempar keluar dari perahu. Dua orang kepala bajak keluar dan membentak marah:

“Bangsat besar, apakah sudah bosan hidup mencari kematian di tempat ini?” bentakan kepala bajak ini disertai dengan angin pukulan yang keras ke arah pemuda itu.

Namun Tiang Hin yang sudah tidak lagi memberi hati kepada kepala bajak ini. Ia mengangkat tangannya dan mengerahkan tenaga sin-kang di tangan membalas mendorong.

“Desss!” Tubuh kepala bajak laut itu terlempar ke belakang membentur dinding perahu dengan amat kerasnya.

Hebat sekali pukulan tangan kanan pemuda itu, sehingga dalam segebrakan saja kepala bajak itu sudah terpental dan memuntahkan darah segar.

Melihat kehebatan pemuda ini, dua orang lainnya menyerbu dan membentak marah, “Bangsat, bosan hidup! Mampus kau!”

Sebuah pisau pendek berkelebat di depan pemuda itu yang dengan mudah saja mengelak dan mengirim serangan siku yang ditonjokkan ke depan.

“Dukk!” Muka orang yang berwajah pucat itu terhantam sikutnya Tiang Hin dan dari hidungnya keluar kecap.

Belum lagi hilang kagetnya tiba-tiba dengan gerakan jurus Menangkap Ikan, Melempar Jala, tahu-tahu tangan kiri Tiang Hin bergerak cepat dan tubuh orang berwajah pucat itu sudah terlempar ke laut.

Hebat sekali sepak terjang Tiang Hin ini, memang sejak tadipun ia sudah menyerbu dan mengobrak abrik sarang bajak ini akan tetapi melihat tadi di situ ada seorang hwesio, segan rasanya hati orang muda ini untuk mengacau.

Maka tadi ia mengintip saja. Siapa sangka justru hwesio tadi dapat mendengar dan mengirim serangan tongkatnya yang membuat jebol dinding perahu.

Untung ia berlaku waspada mendengar pukulan kuat dari balik perahu. Cepat ia mencelat dan terjun ke air menempelkan tubuhnya ke dinding perahu di dalam air sehingga waktu si hwesio keluar tadi, hwesio itu tidak melihat yang Tiang Hin bersembunyi di dalam air.

Sekarang melihat hwesio itu, pergi dan melawan gadis baju merah. Cepat Tiang Hin bergerak dan mengobrak-abrik orang-orang bajak ini.

Heran sekali dia, karena ternyata bajak-bajak ini terdiri dari orang-orang kasar saja dan begitu tubuhnya berkelebat, sebentar saja ke limapuluh bajak-bajak itu sudah dilemparkan ke laut dalam keadaan tubuh terluka!

Beberapa menit saja ke limapuluh bajak laut itu sudah masuk ke dalam air, pada penghabisan sekalinya Tiang Hin cepat mengeluarkan jurus yang terhebat mempergunakan gin-kangnya melompat ke air dan berjalan di air, seperti orang berjalan di darat saja, tangannya tiba-tiba terayun dan salah seorang kepala bajak yang berwajah pucat kurus ini ditarik ke atas dan membentak keras:

“Katakan kemana perginya hwesio tadi!”

“Ampun Hay-ong, ampunkan…… hamba!”

“Kau tidak bicara, he, kupendam kau ke dasar laut ini! Aku Hay-ong (raja laut) sudah lama melihat tingkah laku kalian yang mengotori kediamanku ini. Hayo lekas katakan siapa hwesio itu, kemana perginya?”

Suara Tiang Hin sengaja dikeraskan menggunakan tenaga khi-kang sehingga terdengar oleh kepala bajak, muka pucat seperti guntur yang menggelegar di langit.

Keruan saja mendengar suara yang menggeledek ini, dan melihat pemuda itu dapat berdiri di atas air laut dengan seenaknya saja, orang itu bertambah pucat mukanya dan tubuhnya menggigil keras.

“Hay-ong…… ampun….. hwesio itu….. Ban Beng Hosiang adalah...... anggota Istana Hantu... ia membawa gadis pay-cu Kong-hwa-pay untuk diserahkan kepada Thay-bengcu di Istana Hantu!”

“Istana Hantu? Dimana letaknya?”

“Di....... di hutan kecil di bukit Lu-liang-san…… auppp….. aupppp!” orang itu kelegapan karena tiba-tiba tangan Tiang Hin yang mengangkat tubuh kepala bajak itu terlepas sehingga orang itu gelagapan dan terus tenggelam.

Setelah mendapat keterangan ini, segera Tiang Hin berkelebat cepat berlarian di atas air laut.

Dan sebentar saja ia sudah dapat membayangi perahu yang ditumpangi hwesio yang bernama Ban Beng Hosiang itu.

Sebetulnya pemuda ini ingin sekali menerjang hwesio ini akan tetapi karena ia ingin juga menyelidiki Istana Hantu, maka hatinya tertarik dan ia hanya membayangi saja ke mana perginya hwesio itu.

Alangkah kagetnya hati pemuda ini, begitu sampai di darat, tiba-tiba ia melihat gadis yang ditawannya oleh hwesio itu mencelat tinggi dan langsung menyerang si hwesio.

Tentu saja hwesio ini menjadi heran dan cepat ia mengelak dari serangan kipas yang dikebutkan si gadis ke mukanya. Pucat hwesio ini begitu merasa hawa pukulan yang luar biasa dinginnya mengusap muka. Cepat ia melompat mundur dan menarik senjata toyanya.

“Kurang ajar, apakah kau sudah bosan hidup. Berlutut!” Ban Beng Hosiang membentak marah kepada gadis ini.

Diam-diam ia heran bukan main, mengapa gadis ini tiba-tiba bisa melepaskan totokannya yang lihai. Tadi malam ia lihat gadis itu masih berada di dalam totokannya.

Tak disangkanya bahwa gadis ini telah dapat melepaskan diri dari ilmu totoknya yang lihay itu. Jarang sekali orang yang dapat melepaskan diri dari totokannya.

<>

Benarkah gadis ini dapat meloloskan diri dari totokan Ban Beng Hosiang yang lihay?

Sesungguhnya bukan demikianlah jadinya. Tadi waktu hwesio ini memondong si gadis dari atas perahunya dan berkelebat masuk ke dalam hutan, tiba dua orang muda lewat di depannya.

Yang seorang gadis cantik jelita menunggang kuda. Dan seorang lagi, seorang pemuda tampan dan dilihat dari cara mereka melarikan kuda ini, mudah diduga bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan.

Memang mereka itu adalah Nguyen Hoat dan Hong Kwi yang melakukan perjalanan ke utara. Dan secara kebetulan sekali Hong Kwi melihat seorang hwesio memondong seorang gadis yang kelihatannya tak berdaya dalam totokan.

Segera saja waktu si hwesio itu berlalu di sampingnya, Hong Kwi menggerakkan tangannya dan dengan amat cepatnya, telah dapat membebaskan totokan yang lihai di tubuh gadis itu. Kemudian ia mengajak temannya membalapkan kudanya lebih cepat lagi.

Tentu saja Ban Beng Hosiang tidak pernah bermimpi bahwa dua orang yang baru lewat itu telah membebaskan totokan pada tubuh si gadis yang dipondongnya. Baru ia kaget setengah mati ketika tiba-tiba gadis dalam pondongannya mencelat ke atas dan mengirim serangan kipas yang luar biasa.

Hebat sekali serangan kipas ini, namun seperti tadi gadis baju merah ini ternyata tidak dapat mengalahkan Ban Beng Hosiang.

Hwesio ini ternyata sakti dan lihai ilmu toyanya, apalagi pukulan-pukulan tangan kiri hwesio itu sungguh hebat dan kuat. Maka sebentar saja gadis baju merah ini sudah terdesak hebat oleh permainan toya si Hwesio.

Tentu saja, mimpipun tidak pernah gadis baju merah ini bahwa yang dihadapinya ini adalah tokoh kedua dari Siauw-lim-pay yang bernama Ban Beng Hosiang. Murid langsung dari ciangbunjin (ketua) Siauw-lim-sie yang bernama Thian Thian Losu, ketua Siauw-lim-pay yang sakti itu.

Akan tetapi sayang sekali bahwa hwesio tua ini mempunyai bathin yang rendah sekali, ia tak puas hidup di Siauw-lim-sie maka ia mengembara dan bertemu dengan Thay-bengcu. Berkat hadiah-hadiah yang sangat muluk-muluk yang dijanjikan akhirnya

Ban Beng Hosiang tertarik dan bersekutu dengan orang-orang Istana Hantu. Tugasnya adalah mencari pay-cu Kong-hwa-pay, yang bernama Khu Ho Siang itu.

Akan tetapi pendeta ini menjadi kecewa setelah diketahuinya bahwa Ho Siang ternyata menolak tawarannya untuk bersekutu dangan Istana Hantu maka Ban Beng Hosiang segera kembali ke Istana Hantu.

Namun siapa sangka justeru di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan puteri Ho Siang yang bernama Hwe Lan ini. Maka segera saja ia menawannya untuk dibawa ke Istana Hantu sebagai pancingan untuk memanggil ayahnya ke Istana Hantu!!!

Oleb sebab inilah, ia sengaja tidak membunuh gadis ini. Ia berusaha untuk menawannya saja. Maka ia perlihatkan permainan toya Siauw-lim-si yang terlihay.

Tentu saja menghadapi tokoh Siaw-lim-pay ini, Hwe Lan menjadi sibuk bukan main dan ia berusaha menghirdarkan diri dari serangan-serangan toya yang luar biasa ganasnya. Namun biarpun gadis ini terdesak hebat tidak gampang-gampang bagi Ban Beng Hosiang untuk menawannya hidup-hidup, maka hampir seratus jurus itu ia hanya dapat mendesak si gadis dan belum dalam menawannya.

Tiang Hin yang melihat gadis baju merah yang galak ini terdesak, segera ia hendak terjun membantu, akan tetapi belum lagi ia bergerak, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan.

Tahu-tahu seorang pemuda telah menerjang si Hwesio dengan pukulan dahsyat dan aneh. Sambil menerjang demikian pemuda itu menoleh kepada si gadis dan berkata:

“Jangan takut nona, aku membantumu!”

Aneh sekali. Kali ini Hwe Lan tidak marah-marah seperti waktu dengan Tiang Hin tadi.

Malah gadis itu tersenyum manis sambil mengelak ke kiri menghindarkan serangan toya si hwesio yang lihai.

“Terima kasih, hati-hati, toyanya lihai!”

Hwe Lan memberi peringatan kepada pemuda tampan itu. Dan ia kagum bukan main melihat bahwa cara pemuda bersilat ini sangat aneh dan sungguh lucu, kadang-kadang seperti orang menari, kadang-kadang seperti orang yang ketakutan berloncatan ke sana ke mari. Namun demikian patut dipuji bahwa gerakan-gerakan pemuda ini sungguh cepat dan lincah.

Yang membuat kaget dan heran adalah Tiang Hin, dari tempat persembunyiannya ini. Ia dapat melihat betapa pemuda itu bersilat mirip dengan apa yang pernah ia pelajari pada gambar-gambar dinding gua di dalam jurang itu.

Hanya bedanya gerakan-gerakan pemuda itu kelihatannya lucu dan hampir bukan merupakan orang bersilat. Namun demikian pada dasar gerakan-gerakan kaki dan tangan sangat mirip sekali dengan ilmu silatnya yang dipelajarinya.

Tentu saja Tiang Hin tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Wang Ie.

<>

Seperti telah dituturkan dalam bagian depan, Wang Ie memisahkan diri dari Nguyen Hoat dan Hong Kwi, ia menuju ke arah utara, mengembara seorang diri.

Akan tetapi hanya seminggu lamanya Wang Ie merasakan hidupnya menjadi kosong dan hampa. Ia terkenang kepada Hong Kwi, menurut hatinya ingin sekali ia kembali kepada gadis itu, akan tetapi ia merasa malu dan tidak enak hati karena dilihatnya hubungan Hong Kwi dengan Nguyen Hoat demikian akrab.

Pada suatu hari, di sebuah rumah makan ia melihat Hong Kwi dan Nguyen Hoat berlalu di jalan itu. Ingin hatinya menegur, akan tetapi entah mengapa. Mulut ini tiba-tiba menjadi bisu.

Ia diam saja dan secara diam-diam ia membuntuti sumoaynya ini. Ternyata Hong Kwi dan Nguyen Hoat menuju ke arah utara pula, maka ia terus membuntuti dengan berlari cepat.