-->

Istana Hantu Jilid 07

Jilid 07

“Lung Nam, bicaralah yang betul, jangan pakai rasa-rasa segala. Betulkah yang memondongmu itu Sung Tiang Le yang lengannya buntung?”

“Teecu yakin, orang itu Sung Tiang Le....... ia....... ia berlengan buntung….. Sekali bergerak tangan kiri itu....... entah dengan cara bagaimana tahu-tahu teecu dan Niang Pek Tojin telah terluka hebat. Untung teecu dapat bertahan dan tidak mati seperti Niang Pek Tojin,” sahut Lung Nam Taysu.

Cin Cin Taysu mengerutkan keningnya, “Kalau begitu, kau selidikilah Tiang Le. Lung Nam setelah kau sembuh benar kalian bertiga Kun-lun Sam-lojin berangkatlah ke Tiang-pek-san, minta tanggung jawab Sung Tiang Le dan cari Hek Gan Taysu. Apabila keadaan gawat, lekas laporkan kepadaku, biar aku yang akan turun tangan sendiri menghadapi Tiang Le. Sungguh berani sekali dia!”

“Kami menurut perintah su-couw,” sahut ke tiga orang Kun-lun Sam-lojin

“Sekarang kau istirahatlah Lung Nam, apabila kau telah sembuh benar boleh kalian berangkat!” perintah Cin Cin Taysu.

Kakek ini usianya sudah tua sekali. Hampir seratus tahun, tubuhnya sudah kurus kering dan berjenggot panjang.

Sebenarnya Cin Cin Taysu ini sudah mengundurkan diri dari Kun-lun-pay, akan tetapi mendengar bahwa sutenya Hek Gan Taysu lenyap dan diculik oleh seseorang berlengan buntung maka ia keluar dari pertapaannya dan untuk sementara waktu menetap di puncak.

Ia sendiri pernah mendengar si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, namun belum pernah bertemu muka. Maka ia mengutus Kun-lun Sam-lojin.

Demikianlah tiga hari kemudian, tiga orang kakek yang terkenal dijuluki Kun-lun Sam-lojin itu turun gunung menuju puncak Tiang-pek-san. Ia berjalan cepat sekali. Berhari-hari mereka melakukan perjalanan cepat, pada suatu hari mereka melewati hutan kecil di kaki gunung Lu-liang-san.

Dilihat dari jalan-jalan yang rapih di sepanjang jalan kecil hutan itu, mudah diduga bahwa hutan ini tentu sering kali dilalui penduduk dusun. Mereka bertemu dengan beberapa penebang kayu. Nampak mereka terengah-engah sekali berjalan dan begitu melihat ke arah tiga orang tosu, seorang di antara penebang kayu itu berkata,

“Sam-wi locianpwe…… hendak pergi ke manakah?”

Melihat orang setengah tua ini yang menegurnya, Lung Nam Thaysu tersenyum dan balas bertanya:

“Lopek, apakah hutan ini terus menembus kaki gunung Tiang-pek-san?”

“Tiang-pek-san? Apakah sam-wi hendak pergi ke Tiang-pek-san?” tanya orang itu heran.

Hay San Taysu mengangguk.

“Benar lopek, kami hendak menuju ke Tiang-pek-san, apakah melalui jalan ini masih jauh?”

“Aii, sam-wi salah jalan. Kalau hendak menuju ke Tiang-pek-san bukan dari sini jalannya. Tiang-pek-san berada di utara, kalau hutan ini….... tembus-tembusnya di kaki gunung Lu-liang-san. Aiii, sebaiknya sam-wi tidak menerusi perjalanan dari hutan ini. Sangat berbahaya!”

“Sangat berbahaya? Ada apakah? Apakah banyak perampoknya di hutan ini? Biar pinto yang membasmi mereka supaya tidak mengganggu penduduk dusun!” Tosu tinggi besar yang bernama Hay San Taysu itu mengetuk-ngetuk toyanya yang berat ke tanah.

Sedangkan Hay Kui Taysu merabah gagang pedangnya dan berkata gagah,

“Benar lopek, kalau memang di hutan ini berkeliaran perampok-perampok, biar Kun-lun Sam-lojin yang melenyapkannya dari muka bumi!”

Orang tua penebang kayu itu menjura hormat.

“Haya……. kiranya Kun-lun-sam-lo-jin yang berhadapan dengan boanpwe…... maaf… maaf…….!”

“Eh, lopek….. sebenarnya ada apakah di hutan ini? Mengapa kami nggak boleh melintasi daerah ini, kenapakah?”

“Itulah aku katakan. Kalau sam-wi percaya, turutlah omonganku yang tua ini. Di hutan ini banyak hantu-hantunya, apalagi di dekat telaga itu....... hi-hi-hiikkk....... Rumah tua itu kabarnya tempat tinggal hantu-hantu.”

“Apa? Hantu, di hutan ini ada hantu……? Yang benar lopek, masak ada hantu?”

“Aii masak aku tukang bohong sih! Kalau sam-wi nggak percaya coba tanya penduduk dusun di luar hutan ini. Mereka sering menemukan mayat-mayat yang bergantungan di rumah tua itu…… Kabarnya mayat-mayat itu adalah mayat-mayat para ciang-bun-jin (para pemimpin besar partai persilatan).......!”

“Hah, mayat Ciang-bun-jin……. yang benar ah lopek, mana mungkin para ciang- bun-jin digantung di situ. Kan Ciang-bun-jin mempunyai ilmu silat tinggi. Ahh lopek ini doyan ngibul ahh, nggak percaya pinto!” Hay San Taysu tertawa mengejek.

“Terserahlah kalau sam-wi nggak percaya, ya sudah!” berkata demikian orang tua penebang kayu itu mengangkat pundaknya dan berlalu meninggalkan Kun-lun-sam-lo-jin.

Kun-lun-sam-lo-jin saling pandang.

“Sute, apakah benar kata-kata penebang kayu tadi?” tanya Hay San Taysu kepada adiknya.

Hay Kui Taysu menggelengkan kepala,

“Bohong ahh! Mana ada hantu sih di dunia ini! Kakek tadi mungkin sudah miring otaknya. Untuk apa kita harus ladeni, hayo kita teruskan perjalanan kita!”

“Jalan sana itu?”

“Apakah kau takut hantu suheng?”

“Bukan begitu, kan katanya kita salah jalan, sebaiknya kita ambil jurusan utara. Untuk apa kita ke kaki gunung Lu-liang-san,” sahut Lung Nam Taysu.

“Alaa, mungkin lopek itu juga tadi ngibul. Mending dia tahu jurusan Tiang-pek-san. Mari kita berangkat!”

“Betul suheng! Barang kali lopek itu sudah sinting, masa kita percaya omongannya?”

“Marilah kita berangkat!” sahut Lung Nam Taysu dan melangkahkan kakinya menuju jalan kecil itu. Dua orang sutenya berjalan di belakang. Mereka berjalan cepat.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai di daerah yang kelihatannya sangat liar, rumput-rumput tumbuh tinggi. Pohon-pohon besar penuh dengan kelabang-kelabang. Bau busuk entah darimana datangnya menyengat hidung mereka.

Hay San Taysu menoleh kiri kanan,

“Suheng!”

“He? ada apa sute.......?”

“Serem……!”

“Alaaa........ kau takut hantu, begini siang-siang mana ada hantu sih?” Lung Nam Taysu mengejek dan melangkahkan kakinya.

Tiba-tiba terdengar suara berkeresek, tahu-tahu seekor ular besar menyambar kepala Lung Nam Taysu. Melihat ini, cepat Hay San Taysu yang berjalan di belakang berkelebat dan mencelat menghantam kepala ular.

“Dukkk!” Kepala ular itu bergoyang-goyang terhantam toya di tangan Hay San Taysu. Namun ular yang besar ini bukan menjadi takut malah merentang mulutnya lebar-lebar. Lung Nam cepat menyingkir dan mencabut pedangnya.

“Ular siluman! Mampuslah kau!” bentak Lang Nam Taysu dan menggerakkan pedangnya membabat leher ular itu.

Namun di luar dugaan ternyata ular ini gesit bukan main. Melihat datangnya sinar pedang berkelebat, cepat ia mengegoskan kepalanya dan meluncur turun dan menyerang Hay San Taysu menggeleser di tanah dan kepalanya terangkat ke atas.

Melihat ular ini demikian gesit dan seakan-akan tahu gerakan ilmu silat, Hay Kui Taysu segera mengeluarkan sepasang pedang pendeknya dan ia menyerbu ular itu. Namun sungguh mengagumkan sekali, ular sebesar paha ini demikian gesit dan gerakannya seperti orang bersilat.

Kadang-kadang kepalanya mendongak ke atas. Kadang-kadang meluncur cepat mengirimkan serangan merupakan pagutan ke arah tangan yang memegang pedang merupakan ilmu serang yang bukan main lihainya.

Kun-lun Sam-lojin menjadi terkejut bukan main, masing-masing sudah mencabut senjatanya dan siap mengeroyok ular ini. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendesis dari atas.

Lung Nam Taysu menengok dan menjadi heran melihat pemuda botak yang kelihatannya ketolol-tololan, sedang nangkring di atas pohon yang penuh kabang-kabang sambil makan buah. Mulutnya mengeluarkan desis, merupakan perintah kepada ular yang terus saja menggeser masuk ke dalam semak-semak.

“Bocah gundul, siapa kau?” Hay Kui Taysu membentak mengacungkan pedang pendeknya.

“Hayaaa……. untung kau belum membunuh hek-coa, kalau ular mati tentu kalian akan kuputuskan batang lehermu!”

“Anak setan, turun kau!”

“Tosu-tosu sialan, gua sedang enak-enak makan buah di sini, lu ganggu keparat!” Tahu-tahu dari tangan anak itu menyambar dua buah benda yang berwarna merah berkilat.

Lung Nam Taysu cepat berkelit dari benda yang berwarna merah itu. Namun sebuah benda kecil menyambar sikunya membuat si tosu menjadi terkejut merasa tangannya menjadi kesemutan dan hampir lumpuh. Begitu ia melirik ternyata benda itu adalah biji ang-to yang berwarna merah.

Sialan, masak disambit sama buah ang-to saja tangan gua begini kesemutan, sialan banget! Lung Nam Taysu mengerutu dan tahu-tahu ia sudah mencelat ke atas mengirim terjangan pedang yang demikian luar biasa kuatnya.

Suara pedang berdesing keras. Namun pemuda gundul ini ternyata gesit juga, tahu-tahu ia sudah mencelat dan pindah ke pohon yang lain.

Hay San Taysu dan Hay Kui Taysu hendak memburu, akan tetapi tiba-tiba dari angkasa seekor burung garuda terbang dengan amat cepatnya ditunggangi seorang kakek tinggi besar yang melongok ke bawah dan berseru, “Kong Beng, lekas pergi!”

“Ayah, tosu bau ini jahat, datang-datang mereka menyerang hek-coa!” si pemuda gundul mengadu,

Burung garuda yang ditunggangi kakek tinggi besar itu menukik ke bawah dan tahu-tahu sudah menyambar tangan Kong Beng. “Anak bengal! Ngelayap melulu....... lekas kembali!”

Burung itu terbang semakin tinggi Kun-lun Sam-lo-jin memandang ke angkasa, “Aii, siapa kakek itu?” tanya Lung Nam Taysu.

“Entahlah, pemuda tolol tadi hebat bukan main. Untung kita tidak mencari gara-gara dengan ayah anak itu........”

“Ah, apakah orang tua tinggi besar itu bukan Kwan-tiong Tok-ong? Ya ya, siapa lagi manusia yang menunggang burung garuda selain Kwan-tiong Tok-ong si Raja Racun dari Barat!”

Hay San Taysu terkejut bukan main, ia memandang suhengnya dan berkata: “Untung kita tidak mencari setori dengan mereka. Hayo cepat kita lanjutkan perjalanan!”

Kemudian Kun-lun Sam-lojin berjalan cepat memasuki hutan, semakin dalam semakin menyeramkan. Bau busuk bertambah menyengat hidung. Dan kelelawar hitam berterbangan di atas, tiap-tiap pohon besar penuh dengan sarang laba-laba yang membuat suasana di situ sangat menyeramkan.

Tiba-tiba dari arah hutan sebelah berlarian tiga orang yang kelihatannya seperti piauwsu. Yang seorang gemuk pendek, memegang golok dan seorangnya tinggi besar bercambang bauk, sedangkan seorang lagi memegang sepasang siang-kiam, orang kurus pendek. Mereka berlari saking cepatnya dan seperti orang ketakutan hampir saja menubruk Kun-lun Sam-lojin, kalau tidak buru-buru mereka menggeser kaki.

“He, sobat mengapa lari-lari seperti itu, ada apakah?”

Orang yang gemuk pendek memegang golok menengok dan buru-buru berhenti berlari, “Celaka di hutan itu....... di rumah….. tua itu tergantung sesosok mayat...... Kami….. kami hendak menolong....... tahu-tahu....... muncul hantu yang sangat menyeramkan….. hi-hik-hiik!”

“Apa, ada hantu....... mayat....... mayat siapa?” Lung Nam Taysu mulai tertarik akan cerita orang-orang yang kelihatannya seperti piauw-su ini dan mengerti ilmu silat.

Tiga orang itu berhenti dan memandang Kun-lun Sam-lo-jin, “Sam-wi ini siapakah...... dan hendak kemana?”

“Kami tiga orang tua dari Kun-lun-pay,” sahut Hay Kui Taysu. “Kalian berlari ada apakah?”

“Maaf, kiranya sam-wi locianpwe adalah Kun-lun Sam-lojin yang kesohor......., ah, kebenaran sekali......! Lekas sam-wi tolong...... hi-hikkk......” si gemuk pendek itu bergidik memandang temannya seperti orang ketakutan.

“Ada apa sih?”

“Rumah hantu…… mayat…… se….. setan....... hi-hi!”

“Dimana?”

“Di…… di….. situ....... di dekat telaga di rumah tua...... hi-hi-hikk, rumah hantu,” sehabis berkata demikian tiga orang yang berpakaian seperti piauw-su itu berlari-lari terbirit-birit ketakutan.

Kun-lun Sam-lojin saling pandang.

Lung Nam Taysu mengerutkan keningnya dan berkata kepada Hay San Taysu: “Sute, barang kali cerita penebang kayu itu ada benarnya. Coba kita lihat ke sana!”

“Benar, kita harus lihat!”

“Kalau memang benar ada hantu, bagaimana suheng…..?” tanya tosu gemuk pendek itu.

“Eh, apakah kau takut sama hantu?”

“Takut sih, tidak, ya…… begitulah.......!”

“Tolol, di dunia ini mana ada hantu. Hantu adalah hayalan belaka dari orang-orang yang tengah ketakutan. Kita tidak percaya hantu, untuk apa takut?” berkata Lung Nam Taysu sambil berjalan di depan. Ia bersiap-siap dengan pedang di tangannya.

Sedangkan Hay San Taysu yang gemuk pendek itu mencari-cari dengan pandangan matanya dan mereka terus memasuki hutan yang semakin jauh, semakin seram pemandangan di sana. Kalau pada mulanya tadi sering-sering kali mereka lihat manusia-manusia yang lalu-lalang, di sini ini tidak ada sepotong pun manusia.

Bau busuk bertambah memuakkan. Suara burung goak mengoak panjang dan sekali-sekali nampak kelelawar hitam berterbangan di atas. Siang hari itu, matahari telah naik di atas kepala dan mengintip dari cela-cela daun pohon yang penuh kabang-kabang.

Tiba-tiba Hay San Taysu berjingkat kaget dan mulutnya berrseru: “Iihh!”

“Ada apa sute?” Lung Nam Taysu menoleh ke belakang.

“Lihat suheng.......i… itu…. teng....... tengkorak manusia-manusia ihh…ih!” Hay San Taysu yang memang takut akan tulang belulang manusia melotot memandang di bawah kakinya. Ternyata tadi ia kesandung kepala tengkorak manusia!

“Benar-benar daerah yang menyeramkan!” Hay Kui Taysu yang sejak tadi berdiam diri saja membuka suara, memandang heran ke arah kepala tengkorak manusia di bawah kaki itu.

“Mari terus kita jalan......” Lung Nam Taysu yang bernyali segede gajah memerintahkan kedua sutenya untuk maju.

Suara burung terdengar mencicit. Bau busuk semakin menyengat.

Tiba-tiba Hay San Taysu menunjuk ke samping dan berkata gagap seperti melihat setan: “Suheng, lihat…… i i i itu, ru ru rumah hantu….., hi hiiii!!!”

Lung Nam Taysu dan Hay Kui Taysu menoleh ke kiri dan benar saja, di samping kiri tidak jauh dari situ terdapat sebuah rumah tua, bertingkat dua. Atapnya dari genteng batu, tiang-tiang yang bergambar naga masih tegak berdiri terbuat dari kayu yang tebal dan mengkilap.

Kesunyian mencekam alam di sekelilingnya. Bau busuk menyebar dari halaman rumah tua itu.

Ternyata di halaman itu penuh dengan tulang belulang. Udara di sekitar rumah tua itu menjadi sangat menyeramkan dan penuh hawa kematian dari bangkai-bangkai manusia yang berserakan.

Kun-lun Sam-lojin untuk beberapa lama berdebar hatinya melihat tiga sosok tubuh. Ada tiga sosok tubuh manusia tergantung di depan rumah tua itu. Lung Nam Taysu menjerit tertahan dan melompat ketika mengenali salah satu dari ketiga mayat yang ada di situ,

“Suhuuuu!!!”

Mendengar suhengnya menyebut nama suhunya, keruan saja kedua orang Kun-lun Sam-lojin mencelat dan beberapa kali lompatan saja mereka sudah sampai di tempat itu.

Mereka menghampiri sesosok mayat yang tergantung. Lung Nam Taysu cepat menggerakkan pedangnya dan membabat putus tali ikatan yang menggantung Hek Gan Siansu.

“Suhuuu!!” ketiga orang murid Kun-lun-pay itu berteriak dan menangisi mayat suhunya yang sudah rusak itu.

Seluruh mukanya sudah hitam. Ke dua matanya sudah cekung bekas dikorek, jantungnya sudah lenyap pula, menandakan dada ketua Kun-lun-pay ini bolong bekas dirogoh orang. Sungguh keadaan yang sangat sadis dan menggenaskan hati.

“Suhu…… siapa yang melakukan ini.......?” Lung Nam Taysu menangis dan menutupi muka mayat Hek Gan Siansu.

Tiba-tiba berkelebat sebuah benda menyambar Lung Nam Taysu yang cepat mengelak dan benda itu menggelinding di dekat Hay San Taysu. Ternyata sebuah carikan kain.

Hay San Taysu mengambil dan membuka gulungan kain itu. Tiba-tiba tosu Hay San Taysu ini menjerit dan membentak, “Keparat Sung Tiang Le, tunggulah pembalasan Kun-lun-pay.......”

Lung Nam Taysu meraih gulungan kain itu dan bertulisan dengan darah. Merah wajah tosu ini membaca tulisan warna merah, yang berbunyi demikian:

“Sung Tiang Le menanti kedatangan kalian!”

“Keparat! Aku harus mengadu jiwa dengan manusia she Sung itu…… suhu, teecu bersumpah untuk membasmi Tiang-pek-pay!”

“Ha-ha-ha!” suara tertawa itu bergemuruh seperti geledek yang hendak pecah di angkasa: “Anak murid Kun-lun-pay, kalau kalian hendak menuntut balas, datanglah ke Tiang-pek-san!”

Lung Nam Taysu mencelat ke arah datangnya suara itu, namun ia tidak melihat orangnya yang tertawa tadi. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat siapa-siapa.

Mendongkol sekali hati tosu ini. Begitu pedangnya bergerak, batu besar yang berbentuk patung singa-singaan yang terdapat di depan rumah tua itu mengeluarkan api saking kerasnya benturan pedang Lung Nam Taysu.

“Sung Tiang Le, tunggulah kedatanganku, bangsat!”

“Suheng, mari kita mengubur jenasah suhu ini dan…… jenasah dua orang itu, mungkin........”

“Mari sute…...”

Demikianlah ketiga orang itu memakamkan tiga mayat ketua tokoh besar dunia persilatan di depan gedung tua itu. Acara pemakaman amat sederhana sekali.

Selesai menguburkan tiga mayat ketua tokoh besar partai persilatan itu, tiga orang tosu Kun-lun-pay itu cepat-cepat pergi menuju ke Tiang-pek-san. Perjalanan mereka dilakukan amat cepat sekali.

Lung Nam Taysu bermaksud untuk menghadap ke Tiang-pek-san sendiri, sedangkan ke dua orang sutenya ini lalu mengambil arah ke Thay-san-pay dan Bu-tong-pay untuk memberitahukan peristiwa ini.

Hay San Taysu menuju ke Thay-san-pay sedangkan Hay Kui Taysu menuju ke Bu-tong-pay.

Tentu saja mendengar berita ini, baik di Thay-san-pay, maupun di Bu-tong-pay menjadi gempar bukan main. Dengan perasaan marah wakil pimpinan dari Bu-tong-pay dan Thay-san-pay ikut dengan kedua orang tosu itu untuk melihat mayat ketua mereka yang kabarnya sudah dimakamkan oleh Kun-lun Sam-lo-jin.

Dari pihak Thay-san-pay limabelas tokoh-tokoh Thay-san-pay yang dipimpin oleh Bu Ci Goat, adik seperguruan dari Bu Beng Cu yang telah lenyap, sedangkan dari pihak Bu-tong-pay sepuluh orang tokoh-tokoh Bu-tong-pay turun gunung di bawah pimpinan Giam-ong Ma Ek.

Tentu saja melihat tiga gundukan tanah di muka rumah tua yang amat menyeramkan itu, Bu Ci Goat marah bukan main dan menggeramkan giginya, “Awas kau Sung Tiang Le, akan tiba masanya Thay-san-pay akan menghancurkan Tiang-pek-pay!”

“Bu Lo-enghiong, kalau begitu marilah kita menyerbu Tiang-pek-san. Kita harus minta pertanggungan jawab dari si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le!” berkata Giam-ong Ma Ek yang juga marah bukan main melihat pemandangan ini.

“Hari ini Kun-lun-pay akan memutuskan hubungan dengan Tiang-pek-pay,” berkata pula Hay San Taysu dengan berapi-api.

“Bu Tayhiap, apakah kita tidak membawa mayat suhu ke Thay-san-pay sebagai saksi bagi saudara-saudara kita di Thay-san bahwa Pay-cu kita telah binasa di tangan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le?” berkata salah seorang murid Thay-san-pay.

“Benar katamu. Ji-wi locianpwee........ biarlah kami hendak membawa jenasah ketua kami ke Thay-san dan baru setelah itu kami akan menyerbu Tiang-pek-san!” berkata Bu Ci Goat.

Akan tetapi Hay San Taysu berkata,

“Mengapa begitu, Bu Tayhiap? Sebaiknya di tempat ini kita bakar jenasah ketua kita dan kemudian abunya baru kita bawa ke tempat partai masing-masing, bukankah dengan demikian lebih singkat dan tidak merepotkan?”

“Betul! Kalau begitu, mari kita gali makam ketua kita dan masing-masing membakarnya dan mengumpulkan abunya!” Giam-ong Ma Ek berkata memerintahkan anak buahnya untuk membongkar makam yang di sebelah kiri di mana Pay-cu Bu-tong-pay dikuburkan oleh Kun-lun Sam-lojin.

Demikianlah, di depan rumah tua yang sungguh menyeramkan itu, orang-orang Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Bu-tong-pay mengadakan acara pembakaran mayat dengan sederhana dan hikmat. Mereka satu persatu berjanji untuk membasmi Tiang-pek-pay!

Api mengebul membumbung ke atas. Asap berbau sangit menyebar sampai ke dalam hutan. Tiga orang tokoh partai persilatan itu berlutut di dekat api yang sedang berkobar-kobar dan mereka bersumpah disaksikan oleh langit dan bumi untuk membunuh dan membalas sakit hati ini!

Empatbelas tahun telah lewat dengan cepatnya………. Wang Ie telah menjadi seorang pemuda berusia delapanbelas tahun lebih, tubuhnya tegap dan wajahnya tampan.

Dan Sung Hong Kwi telah menjadi seorang gadis yang usianya hampir mencapai enambelas tahun. Berwajah cantik dan manja, menampakkan wajah yang selalu cerah riang gembira laksana sinar matahari yang bersinar terang.

Senyumnya yang jenaka selalu menghias bibirnya. Dan sebuah tahi lalat hitam kecil menghias di atas bibir yang indah itu, menandakan bahwa gadis ini doyan sekali bicara dan kata-katanya ketus dan tajam.

Dalam bimbingan ayah bundanya yang mempunyai kepandaian tinggi ini, sehingga dalam usia hampir enambelas tahun itu Hong Kwi telah mencapai tingkat tinggi ilmu silatnya. Dari ayahnya yang berjuluk Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, ia menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi Tok-pik-kun-hoat, dan Gerak Tangan Kilat yang luar biasa itu.

Sedangkan dari ibunya, ia mempelajari dulu ilmu bermain sabuk dan tongkat yang tak kalah lihaynya dari ilmu silat yang dipelajari dari ayahnya sehingga dalam usia yang sangat muda ini Hong Kwi telah menguasai ilmu-ilmu silat yang luar biasa lihaynya. Dan karena itu, murid-murid Tiang-pek-san yang lain merasa sayang dan memanjakan gadis ini!

Sebaliknya Wang Ie, sejak suhunya Sung Tiang Le mendapatkan seorang puteri yang bernama Sung Hong Kwi itu, kurang lagi memperhatikan dirinya. Latihan silat yang diterimanya dari suhunya amat jarang sekali dan hanya merupakan dasar-dasar ilmu silat yang tidak tinggi.

Sebetulnya Tiang Le tidak mau membeda-bedakan puteri dan muridnya, akan tetapi karena desakan-desakan Liang Bwe Lan untuk tidak melatih Wang Ie dengan sungguh-sungguh maka Tiang Le pun asal melatih saja. Biar bagaimanapun juga ia lebih sayang kepada puterinya dan oleh sebab itulah kasih sayangnya lebih besar dicurahkan untuk puterinya.

Namun demikian kepada murid-murid Tiang-pek-pay yang lain, Tiang Le dan Bwe Lan tidak meninggalkan tugasnya untuk melatih mereka. Malah karena Tiang le merasa perlu untuk memperkuat partainya, ia menjadi sungguh-sungguh melatih ke limapuluh orang muridnya.

Namun demikian ia tidak melatih langsung, melainkan tugas ini diserahkan kepada A Toan, si kakek bongkok dan seorang kakek Tiang-pek-san lainnya yang bernama Lie Su Hian. Kedua orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi karena langsung dilatih oleh Tiang Le, merupakan sepasang harimau Tiang-pek-san!

Wang Ie bukan tidak mengetahui perubahan dari suhu dan subonya ini, namun karena ia tahu diri dan merasa bahwa suhu dan subonya itu sudah menolong jiwanya dari korban kelaparan dan malah telah membawanya ke Tiang-pek-san. Ia tidak iri hati melihat kemajuan Hong Kwi dan saudara-saudara seperguruannya di Tiang-pek-san.

Dan ia juga tidak minta dilatih ilmu silat Tok-pik-kun-hoat, seperti yang pernah ia lihat Tiang Le melatih puterinya dan dua orang murid utama Tiang-pek-san yakni A Toan dan Su Hian, dan kedua orang ini toh yang mewakili Tiang Le melatih murid-murid Tiang-pek-san yang lain.

Wang Ie adalah seorang yang tahu diri, biarpun subonya tidak menyatakan isi hatinya, namun pemuda ini dapat menduga bahwa ibu gurunya ini tidak suka kepadanya. Malah sejak Hong Kwi berusia duabelas tahun, subonya ini tidak pernah lagi melatih dirinya.

Hanya pada penghabisan kali itu subonya melatihnya dan berkata:

“Wang Ie, mulai hari ini kami tidak akan melatihmu, kami terlalu sibuk oleh urusan partai. Oleh sebab itu, kalau kau memang suka dengan ilmu silat....... boleh kau berlatih atas bimbingan A Toan dan berlatih bersama-sama murid Tiang-pek-pay yang lain, mengertikah kau?”

Tentu saja Wang Ie tidak menyatakan kekecewaan hatinya. Dan ia memang sudah dapat meraba betapa subonya ini, entah mengapa menaruh hati yang tidak senang kepadanya.

Namun demikian Wang Ie bersikap tetap baik dan tidak menunjukkan kekecewaan hatinya. Ia amat sopan serta taat terhadap Tiang Le dan Bwe Lan, pendiam dan tak pernah berkelakar.

Semakin hari, sikap Wang Ie semakin pendiam malah kadang-kadang anak muda ini tidak keluar dari kamarnya. Dan tidak ikut berlatih dengan murid-murid Tiang-pek-pay, yang lain, sehingga A Toan yang merasa bertanggung jawab atas anak didiknya dan untuk kemajuan murid-murid Tiang-pek-pay, pada suatu hari ia menegur Wang Ie,

“Kau jarang sekali ikut berlatih, kenapa Wang Ie?”

Wang Ie terkejut dan tidak enak hati ditegur demikian oleh kakek bongkok ini. Biar bagaimanapun juga, kakek bongkok ini selalu bersikap baik terhadapnya dan tidak pernah menyakiti hatinya.

Sekarang kakek itu menegurnya. Ia jadi tidak enak dan malu.

“Kau harus tahu Wang Ie,” demikian kakek bongkok itu melanjutkan kata-katanya. “Sebagai anak murid Tiang-pek-san, kau juga harus rajin berlatih, seperti saudara-saudaramu. Jangan memalukan partai kita, oleh sebab punya murid goblok-goblok dan nggak becus apa-apa.

“Wang Ie, beberapa hari ini aku heran sekali melihat sikapmu, kau selalu kelihatan kurang bersemangat dalam latihan tidak seperti dulu-dulu, mengapakah? Apakah kau sudah tidak suka, akan ilmu silat?”

Akan tetapi sungguh diluar dugaan dari kakek bongkok ini, Wang Ie berkata demikian,

“Toan-lopek, aku ucapkan banyak terima kasih atas perhatianmu kepadaku, akan tetapi entah mengapa….... aku mungkin tidak ada bakat untuk bermain silat. Toan-lopek…... kalau memang boleh, biarlah aku di sini sebagai tukang kuda saja dan tidak ikut dalam latihan. Bagaimanakah menurut pendapat lopek?”

A Toan memandang heran.

“Kau....... kau hendak menjadi tukang kuda? Wang Ie omongan apa yang kau keluarkan ini! Bukankah kau murid langsung dari suhu Sung Tiang Le, mengapa kau berkata begitu?”

“Maaf Toan lopek, sekarang ini aku bukan murid suhu Tiang Le lagi, suhu sudah lama tidak melatihku dan subo juga.......” suara Wang Ie terdengar sedih.

“Akan tetapi kau sudah diserahkan kepadaku....... dan akulah yang harus melatihmu….... Wang Ie jangan kau bilang menjadi tukang kuda segala, kalau suhu tahu omonganmu ini, tentu engkau akan kena marah!”

Wang Ie tersenyum dan memegang lengan kakek bongkok ini: “Toan-lopek, apakah sebagai tukang kuda itu adalah merupakan pekerjaan yang hina dan rendah?”

“Bukan begitu maksudku Wang Ie….. Eh, sebenarnya mengapa kau memilih pekerjaan itu. Di sini sudah ada tukang kuda, khusus untuk merawat kuda-kuda di Tiang-pek-pay!”

“Aku tahu lopek, akan tetapi aku segan untuk latihan silat. Percuma kalau aku terus berlatih, karena tidak ada semangat. Aku tak akan maju, Toan lopek! Belajar silat bukankah harus ada bakat dan kemauan yang keras?

“Kalau aku tidak ada semangat bagaimana aku bisa menjadi jago Tiang-pek-pay, tentu akan memalukan saja. Lebih baik aku tidak turut berlatih dan menjadi tukang kuda. Kan itu ketahuan dan tidak memalukan namamu yang melatihku bukan?”

Pada saat itu berkelebat sebuah bayangan dan tahu-tahu Bwe Lan sudah berdiri di depan Wang Ie dan A Toan. Pandangannya menyambar Wang Ie dengan alis dikerutkan seperti orang tak senang:

“Wang Ie, kau benar-benar malas. Mengapa beberapa hari ini kau tidak turut latihan?”

“Subo…… maafkan teecu ingin menjadi tukang kuda di sini!”

“Apa? Kau hendak menjadi tukang kuda?”

“Begitulah subo!”

“Hemm, apa alasanmu?”

“Karena teecu tidak ada semangat untuk melatih diri!”

Bwe Lan menoleh kepada A Toan, suaranya keras dan tajam,

“Dengar A Toan, bocah ini sudah bilang demikian. Terserah kepadanya. Mulai hari ini kau tidak boleh melatih Wang Ie lagi, biar kalau dia mau menjadi tukang kuda.

“Berikan ia tempat di dekat kamar Pek Bo di sebelah kiri kandang kuda. Biar ia mengurus kudaku dan kuda milik Hong Kwi, tiap hari kuda harus dicarikan rumput, dibersihkan, dan tiap-tiap sore dimasukkan ke dalam kandang. Mengertikah kau Wang Ie?”

Wang Ie tertunduk dan berkata pelan:

“Teecu mengerti dan akan mematuhi perintah subo!”

“Setan! Kau tidak boleh memanggilku subo, karena kau bukan murid kami. Mengerti!”

Wang Ie terkejut sekali dan mengangkat wajahnya dan memandang perempuan setengah tua itu dengan mata sedih,

“Habis…… teecu harus panggil apa?”

“Seperti Pek-bo memanggilku dan membahasakan dirinya. Kau tidak boleh menyebut teecu lagi, karena kau mulai hari ini bukan murid Tiang-pek-pay!”

Sehabis berkata demikian Bwe Lan berkelebat lenyap dan langsung menuju ke kamar Tiang Le dan berkata dengan senyum sindir, “Bagus! Wang Ie sekarang bukan murid Tiang-pek-pay lagi!”

Tiang Le menoleh dan memandang isterinya heran. Ia meletakkan pit di atas meja dan mengerutkan keningnya.

“Apa….. apa kau bilang tadi?”

“Wang Ie…… memang anak pemalas. Sudah hampir sebulan ini ia tidak turut latihan. Tadi ia datang kepadaku dan menyatakan tidak ingin berlatih lagi atas petunjuk A Toan. Dia bilang ingin menjadi tukang kuda saja….. Bukankah itu namanya pemalas?”

“Wang Ie…… dia…… dia hendak menjadi tukang kuda. Mengapa….?” Tiang Le bertanya heran dan menatap isterinya tajam.

“Kau tanyalah sendiri!” Bwe Lan mengerut hendak marah.

Tiang Le menghampiri isterinya dan memegang lengan yang halus itu,

“Kenapa kau mengerut begitu, sayang? Ada sesuatu urusan bicaralah baik-baik!” kata Tiang Le.

“Aku sudah katakan baik-baik, kau…… kau seakan-akan tidak percaya. Nah, kalau tidak percaya kau tanyalah pada anak itu. Memang dari dulu juga aku nggak senang terhadap anak dusun itu!”

“Eh, mengapa kau selalu membenci Wang Ie. Heran!”

“Heran!? Tentu saja aku lebih sayang lepada anakku sendiri. Oleh sebab itulah aku melarang melatih Wang Ie. Seharusnya anak sendirilah yang harus dididik yang benar!”

“Bwe Lan kau pilih kasih begitu? Ingat, ia adalah murid kita. Tak boleh kau bicara demikian,” sahut Tiang Le.

“Apanya yang menjadi murid kita. Suruh berlatih saja dia malasnya setengah mati. Uh, tidak kepingin aku mempunyai murid seperti dia!”

“Tentu dia tak mau dilatih oleh A Toan, isteriku, bukankah waktu aku yang melatih dulu, ia rajin dan baik?”

“Justru itu, aku tak memperkenankan kau melatihnya. Sekarang ada Hong Kwi. Anak kita itulah yang harus kita latih baik-baik…....”

“Sudahlah Bwe Lan, eh…… mana Hong Kwi?”

“Entah, dia tentu di belakang latihan. Kelak Hong Kwi harus menjadi jago nomor satu di dunia ini……”

“Ha-ha-ha isteriku, kan jangan tekebur. Di dunia ini banyak sekali orang pandai. Kita tak boleh berpendapat begitu. Ingat sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan terjatuh juga…….!”

“Tiang Le koko.......”

“Ada apa Lan-moay.......?” tanya Tiang Le.

“Aku kuatir, kelak apabila Hong Kwi dewasa ia....... ia akan berhubungan rapat dengan Wang Ie!”

“He? Mengapa kau mempunyai pikiran demikian.......?”

“Entah mengapa aku curiga terhadap Wang Ie, pokoknya dia tidak boleh berhubungan dengan Hong Kwi!”

“Kau jangan menuduh yang bukan-bukan Lan-moay. Anak kita masih bau kencur, belum waktunya untuk pacar-pacaran. Juga Wang Ie, tentu ia tidak akan berani gila mencintai puteri kita......”

“Aku hanya kuatir koko……”

“Sudahlah, Lan-moay…… Kau selalu menguatirkan yang tidak-tidak. Biar nanti kalau Wang Ie…… bersikap mencurigakan, aku yang akan menegurnya. Bagaimanapun juga Hong Kwi tidak boleh mencintai sembarangan orang, apa lagi Wang Ie memilih sebagai tukang kuda……” 

Sebuah isakan terdengar di atas genting. Isakan yang perlahan sekali namun cukup terdengar oleh Tiang Le dan sekali mencelat Tiang Le sudah melompat ke atas genting dan membentak,

“Siapa?”

Akan tetapi di atas genting itu sepi-sepi saja. Tidak nampak bayangan orang.

Bwe Lan telah mencelat pula di atas genting dan memandang ke kanan kiri. Ia tadi juga mendengar suara seperti orang menangis yang tertahan, buru-buru ia mencelat ke atas, namun di atas tidak ada orang.

“Heran....... siapa yang di atas tadi?”

“Barangkali kita salah dengar koko, masakah kalau orang seperti setan saja cepatnya tahu-tahu sudah lenyap,” berkata Bwe Lan.

Mereka kembali mencelat ke bawah dan masuk ke dalam gedung.

<>

Sementara itu, seorang pemuda berjalan menuntun seekor kuda yang berbulu hitam mengkilap. Ia berjalan menuju sebuah sungai kecil dan memandikan kuda itu di sana dan menyikat bulu-bulunya. Sesudah itu ia membawa segumpal rumput dan diberikan kepada kudanya dan ia sendiri kemudian menyenderkan tubuhnya di belakang pohon besar yang tumbuh di tepi sungai.

Ketika itu hari hampir menjelang senja, matahari bersinar lemah di balik bukit. Suara suling mengalun perlahan ditiup oleh orang muda tadi.

Suara irama suling amat perlahan dan kemudian bergetar-getar melagukan irama suling di senja hari. Entah perasaan apa yang sedang dialami oleh orang muda sederhana itu, suara sulingnya terdengar melagukan lagu sedih.

Sementara suara keciprakan air sungai memberikan dendang irama lembut sehingga suara suling yang ditiup oleh anak muda itu demikian serasi oleh keciprakan air sungai. Burung-burung beterbangan di atasnya.

Saking asyiknya pemuda itu meniup suling sampai ia tidak menyadari seorang gadis cantik jelita telah berdiri di belakangnya di pinggir sungai dengan mata basah. Gadis itu adalah Sung Hong Kwi.

Ia sudah mendengar dari A Toan bahwa Wang Ie akan tinggal di gedung dekat kandang kuda dan buat seterusnya pemuda itu akan mengurus kuda-kuda di Tiang-pek-san. Gadis ini kemudian mencari-cari pemuda itu dan didapatinya Wang Ie di tepi sungai sambil meniup suling.

“Wang Ie suheng……” panggil Hong Kwi setelah beberapa lama memandang punggung pemuda itu.

Mendengar namanya dipanggil pemuda itu, ia menoleh ke belakang dan melepaskan sulingnya di bibir.

“Ahh, kiranya kau Hong Kwi siocia.......”

“Suheng….. mengapa kau berubah terhadapku, mengapa kau memanggilku siocia segala……?” Hong Kwi mengerutkan alis dan memandang pemuda itu.

“Hong Kwi siocia.......”

“Jangan panggil aku siocia…… kau, Wang Ie kau betul-betul aneh. Tadi kudengar dari Toan-lopek katanya kau….. kau hendak menjadi tukang kuda, betulkah?”

“Betul nona…..”

“Jangan panggil aku nona!”

“Hong Kwi….. perlu kau ketahui bahwa aku bukan murid Tiang-pek-pay, aku hanya seorang tukang kuda saja. Harap kau mengerti ini!”

“Wang Ie kau……?”

“Kenapa Hong Kwi, herankah kau?”

“Kenapa kau memilih jalan itu, kenapakah kau?” berkata demikian Hong Kwi memegang lengannya.

Untuk seketika berdebar dada Wang Ie. Ia tersenyum membalas pandangan si gadis.

“Apakah kau merasa hina aku menjadi tukang kuda, Hong Kwi,” tanyanya.

“Bukan begitu Wang Ie suheng........”

“Jangan sebut aku suheng, Hong Kwi. Aku adalah Wang Ie temanmu dan bukanlah suheng, karena aku kini bukan murid Tiang-pek-pay lagi.”

“Mengapa begitu?”

Kini Wang Ie yang memegang lengan si gadis dan menariknya duduk di sebelahnya.

Hong Kwi membiarkan tangannya ditarik dan ia duduk di sebelah pemuda itu di atas rumput di bawah pohon yang rindang.

“Tak perlu heran, Hong Kwi, Sebab suhu tidak melatihku lagi, untuk apakah aku belajar silat?”

“Akan tetapi kau kan dilatih oleh A Toan.”

“Justru itu aku tidak suka. Sebenarnya aku murid suhu Sung Tiang Le, karena suhu tidak mau lagi melatihku, ya sudah........! Untuk apa aku dilatih oleh A Toan lopek?”

“Wang Ie.......”

“Hemmm!”

“Kalau begitu biarlah aku yang akan melatihmu, maukah kau?”

Wang Ie tersenyum.

“Betulkah?”

“Mengapa tidak?” balas Hong Kwi bertanya.

Gadis ini menampakkan wajah yang serius. Untuk beberapa saat ia memandang pemuda di sebelahnya lama-lama.

“Kau mau kulatih, Wang Ie?” tanyanya lagi.

“Bagaimana kalau orang tuamu tahu?”

“Aku yang tanggung jawab, mau kau? Kalau memang mau biarlah tiap hari kita bertemu di tempat ini dan aku akan memberimu petunjuk-petunjuk ilmu silat yang pernah ku pelajari dari ayah!”

“Terimakasih Hong Kwi, kau baik sekali. Kalau begitu baiklah tiap sore, sehabis mencuci kuda aku akan datang ke tempat ini…..” Wang Ie menghentikan sebentar kata-katanya dan memandang kepada Hong Kwi seakan-akan hendak manyampaikan sesuatu yang penting,

“Hong Kwi, dapatkah kau menyimpan rahasia?”

“Tentu saja!”

Pada waktu itu Hong Kwi baru berusia empatbelas tahun dan sifatnya masih kekanak-kanakan, maka ia ingin sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh Wang Ie.

“Hong Kwi, harap jangan katakan kepada siapa juga, sebetulnya aku sedang mempelajari ilmu silat yang kudapat dari sebuah kitab yang kiranya tidak kalah lihai dengan Tok-pik-kun-hoat. Kalau kau memang mau tetap bersahabat denganku dan datang ke tempat ini setiap sore, sebagai budi baikmu, aku juga akan memberikan ilmu pukulan yang aneh-aneh! Asalkan kau dapat, merahasiakan ini kepada kedua orang tuamu dan murid-murid Tiang-pek-pay!”

Hong Kwi maklum bahwa kepandaian Wang Ie masih jauh kalau hendak dibandingkan dengannya, maka kata-kata itu tentu saja menimbulkan senyum.

“Wang Ie, pantesan kau rupanya sedang mempelajari ilmu baru sehingga tidak mau berlatih atas bimbingan paman A Toan. Coba kau perlihatkan dulu, hendak kulihat ilmu pukulan macam apa yang pernah kau pelajari.

“Kalau memang cukup hebat, aku ingin belajar darimu. Akan tetapi, kalau memang jelek. Buat apa?”

Wang Ie menunjuk kepada sebatang pohon yang berbunga. Bunganya berwarna putih dan berada agak tinggi, paling rendah lima tombak dari tanah.

“Hong Kwi, kalau kau hendak mengambil bunga di tangkai pohon itu, bagaimana caramu yang terbaik?” tanyanya.

Hong Kwi menggerakkan sepasang alisnya sambil memandang ke atas. Lalu tersenyum, “Tentu saja gampang, sekali loncat dengan mengandalkan tenaga gin-kang, bisa saya memetik bunga itu.”

“Ah, kalau bagitu namanya bukan memetik dengan mengandalkan pukulan. Maksudku mengambil bunga itu dengan tidak melompat. Dari bawah ini dan mendapatkan bunga itu tanpa rusak, bagaimana!”

Hong Kwi memandang ke atas lagi,

“Kalau begitu jalan satu-satunya, ya, memanjat saja. Pohon ini cukup tinggi. Siapa yang bisa?”

“Nah, nah, artinya kau tidak bisa ya?”

“Siapa yang tidak bisa, lihat!” Sambil berkata demikian, sambil duduk Hong Kwi mencelat ke atas dan tahu-tahu dua bunga telah terpegang di tangannya.

“Nih siapa yang tidak bisa. Dalam sekejap mata aku sudah dapat memetik bunga ini!”

“Memang bisa dengan jalan itu, akan tetapi cabang pohon basah dan kotor, lihat, waktu kau duduk di dahan pohon tadi pakaianmu sudah menjadi kotor dan basah. Untung di atas itu tidak banyak semutnya, kalau banyak semut….. hayaaa, kau akan dikeroyok dan digigit.”

“Habis kalau kau bagaimana akan kau lakukan, Wang Ie?” tanya Hong Kwi.

“Itulah, aku mempunyai semacam ilmu pukulan yang sambil duduk di sini akan dapat dipergunakan untuk mengambil semua bunga yang kau inginkan, tanpa ada resiko sesuatu.”

Hong Kwi tertawa dan merasa kasihan kepada Wang Ie. Baru kepandaian seperti itu saja dibanggakan. Pikirnya, “Ah, Wang Ie! Apa sih sukarnya? Kalau itu yang kau kehendaki akupun dapat meruntuhkan semua kembang itu dengan pukulan-pukulan lwekang dari tempat ini!”

“Dengan pukulan Tok-pik-kun-hoat?”

“Betul, nah….. kau saksikan ini!” Hong Kwi menggerak-gerakan lengan kirinya secara aneh, tiba-tiba ia memukul ke arah atas pohon. Angin pukulan dahsyat menyambar, cabang-cabang pohon bergoyang-goyang seperti ada tangan kuat yang menggoyangkannya. Beberapa tangkai kembang jatuh ke bawah, bersama banyak daun-daun yang melayang-layang.

“Bukan itu caranya yang terbaik Hong Kwi,” Wang Ie menggeleng-gelengkan kepala dan mencela: “Dengan pukulan tadi, tentu bunga-bunganya pada rontok. Lihat!”

Wang Ie mengambil sekuntum bunga yang sudah hancur akibat angin pukulan tadi, “Bunga ini mana sedap lagi dipandang, sudah rontok begini! Maksudku tadi mengambil bunga ini dengan cara tanpa merusak bunga.”

“Habis bagaimana caramu?” Hong Kwi penasaran karena dicela, padahal pukulannya tadi hebat sekali. Dan patut dipuji, sedangkan ia tahu ilmu kepandaian Wang Ie belum sampai pada tingkat penggunaan tenaga lwekang seperti tadi.

Ia tadi telah mempergunakan jurus pukulan Tok-pik-kiam-hoat yang disebut, Badai Mengamuk, Menggetarkan Gunung, dan dengan tenaga lwekang yang dikerahkan, hanya hawa pukulan saja dapat membuat semua bunga-bunga itu rontok dan berjatuhan.

“Kau lihat caraku ini, Hong Kwi. Nanti baru kau boleh menilainya,” sambil berkata demikian Wang Ie lalu duduk bersila dan menahan napas, mengerahkan tenaga bathin di kedua pasang matanya dan telunjuknya menunjuk ke depan, kemudian ia menoleh ke arah Hong Kwi sambil katanya:

“Hong Kwi, lihat, pandanglah aku....... di tanganku ini ada dua kuntum bunga, tanpa kugerakkan memukul ke depan. Bukankah dengan cara ini bunga di tanganku ini lebih sedap dipandang dan masih segar?”

Hong Kwi menoleh, dan ia mengucekkan matanya. Benar-benar aneh, ilmu sihir apa yang dilakukan oleh pemuda ini, sehingga tiap bunga yang ditunjuknya, segera patah tangkainya dan melayang perlahan ke bawah, lalu diterima dengan tangan kiri Wang Ie dan benar saja bunga-bunga itu masih utuh.

Hanya dengan menunjuk-nunjuk ke arah bunga-bunga di atas, Wang Ie telah menurunkan sepuluh bunga-bunga. Kemudian ia tersenyum, memegang bunga-bunga itu, pada tangkainya menjadi satu dan memberikannya kepada Hong Kwi.

“Kau lihat, bunga ini seperti baru dipetikkan, masih segar dan harum!”

Hong Kwi menerima bunga-bunga itu dan ia terkejut dan heran bukan main. Ia tidak percaya bahwa apa yang diperlihatkan tadi adalah demonstrasi tenaga lweekang yang luar biasa. Ia mengira bahwa tentu Wang Ie mempergunakan ilmu sihir.

“Ilmu hoat-sut!” seru gadis itu perlahan.

“Nah, Hong Kwi, sekarang boleh kau nilai. Ilmu tadi dan aku sendiri tidak mengetahui namanya, boleh juga kau sebut ilmu hoat-sut, pokoknya aku sudah memperlihatkan dan membuktikan omonganku, bukan?

“Nah, kau juga harus membuktikan janjimu. Dan tidak menceritakan kepada siapa-siapa kalau kau hendak melatihku di tempat ini dan tiap sore kita bertemu. Kalau kau memang suka ilmu tadi, kelak akan kuajarkan kepadamu. bagaimana?”

“Hoat-sut termasuk ilmu sesat, seringkali ayah mengatakan ini kepadaku. Aku takkan sudi untuk mempelajarinya,” tiba-tiba Hong Kwi berkata keras.

“Jangan bilang begitu Hong Kwi. Buat jaman sekarang ini. Tidak perlu lagi baik atau tidaknya suatu ilmu. Baik tidaknya tergantung kepada orang yang memakainya. Kalau ilmu tadi kupergunakan untuk memetik bunga, bukankah sangat menguntungkan bagiku, sehingga tidak susah-susah aku dapat memetik kembang-kembang itu?”

“Kalau hanya untuk memetik kembang, untuk apakah?” tanya Hong Kwi menjindir.

“Terserah kepadamulah. Bagiku sih, kalau memang aku mau, bisa saja menghadapi lawan!”

“Berguna untuk pertandingan, betul?”

“Ya, berguna untuk menghadapi pertempuran dengan lawan yang bagaimanapun juga.”

“Bagus kalau begitu mari kita coba, kau hadapi Tok-pik-kun-hoat dengan ilmumu yang aneh tadi. Kalau benar-benar kulihat ilmu itu berguna, aku tidak berkeberatan untuk mempelajarin ya!”

“Boleh, kau........ kau hendak bertempur denganku, dengan ilmuku tadi?” Wang Ie bertanya dan memandang tajam ke arah Hong Kwi, dan kemudian katanya lagi, “Lihatlah, kalau kau memang hendak bertempur lawanlah itu!”

Wang Ie menunjuk ke arah sebatang pohon. Tiba-tiba Hong Kwi menubruk batang pohon itu dan melancarkan serangan-serangan dahsyat. Pohon besar itu bergoyang-goyang keras terhantam pukulan tangan kiri yang luar biasa hebatnya.

Dengan gemas gadis itu terus menyerang batang pohon yang dalam pandangannya adalah Wang Ie, yang menangkis pukulannya. Dan baru ia sadar ketika banyak daun-daun yang rontok dan cabang-cabang pohon telah banyak yang patah.

Ketika itulah terdengar teguran Su Hian, murid kedua dari ayahnya yang memandangnya heran.

“Eh, Hong Kwi sumoay kenapakah kau…... mengapa kau mengamuk di sini dan hendak kau apakan pohon ini?” tanya Su Hian heran bukan main melihat gadis puteri suhunya ini mencak-mencak seperti orang bersilat memukuli pohon sehingga mengeluarkan getaran-getaran hebat.

Mendengar suara Su Hian, seperti baru disiram dengan air dingin di kepalanya. Hong Kwi sadar, dan alangkah herannya dia ketika pohon di depannya itu sudah hancur-hancur batangnya terhantam pukulan-pukulannya tadi, daun-daun banyak yang rontok betebaran.

Baru sekarang ia merasa betapa lelahnya dia. Matanya celingukan ke kanan dan ke kiri mencari-cari.

“Mencari siapa kau Hong Kwi?” tanya Su Hian.

“Anu…… eh....... nggak….. mari kita pulang, Hian suheng!” berkata demikian gadis itu sudah mencelat pergi.

Sengaja ia memutar jalan melewati kandang kuda dan ia melihat Wang Ie sedang menuntun kuda memasuki kandang, dalam hatinya gadis itu menggerutu,

“Sialan, benar-benar Wang Ie mempunyai ilmu siluman, aku telah dikelabuhi. Kukira tadi Wang Ie, nggak tahunya batang pohon yang kuhajar setengah mati.”

Akan tetapi diam-diam gadis itu tidak menceritakan keanehan yang dialaminya. Dan cepat-cepat ia menuju ke gedungnya dimana ayah bundanya telah menanti untuk makan sore!

◄Y►

Malam harinya Hong Kwi benar-benar tidak dapat memejamkan matanya. Kejadian-kejadian tadi sore sungguh membingungkan hatinya. Ia sangat heran dan tak habis mengerti, bagaimana bisa mungkin, sekali tunjuk saja Wang Ie dapat meruntuhkan bunga-bunga yang agak tinggi di atas pohon itu.

Apakah Wang Ie mempunyai tenaga sin-kang yang tidak kelihatan sehingga hanya dengan telunjuknya saja pemuda itu dapat merontokkan bunga-bunga di atas pohon tanpa merusak.

Sungguh aneh! Hampir saja ia tidak akan percaya sendiri kalau tidak menyaksikannya tadi. Ilmu Hoat-sut apakah yang dimiliki Wang Ie?

Benarkah pemuda itu mempunyai ilmu sihir sehingga pandangan matanya telah dikelabui dan membuat ia mengamuk menghantam batang pohon. Gila! Mengapa batang pohon itu yang kuhantam setengah mati, mengapa tiba-tiba Wang Ie menjadi batang pohon? Heran!

Dalam pandangannya tadi ia benar-benar menempur Wang Ie dan memukulnya dengan pukulan-pukulan Tok-pik-kun-hoat yang luar biasa. Akan tetapi mengapa batang pohon itu yang diserangnya?

Apakah aku ini sudah gila, setan! Tentu Wang Ie menyihirku, sehingga pandanganku tadi dikelabui olehnya. Sungguh memalukan benar!

Hong Kwi merasa gelisah memikirkan itu. Matanya tak dapat dipejamkan untuk tidur. Ia merasa panas sekali di kamarnya. Dan penasaran benar akan kejadian tadi sore, membuatnya ia bangun dan membuka jendela.

Angin malam berhembus dari balik jendela, sejuk dan nyaman. Ia membuka jendela lebar-lebar supaya hawa di kamarnya tidak terlalu pengap. Dari balik jendela ia melihat bulan berbentuk sabit terhalang sedikit mega hitam. Angin malam berhembus nikmat.

Tiba-tiba pandangan Hong Kwi yang tajam dapat melihat sesosok tubuh berkelebat dari sebuah rumah gedung di sebelah utara dekat kandang kuda. Cepat-cepat ditutup kembali jendelanya dan mencelat keluar mengejar bayangan yang tadi dilihatnya. Akan tetapi gerakan bayangan itu demikian gesit dan luar biasa cepatnya.

Begitu ia sampai di gedung sebelah utara, ia telah kehilangan jejak. Tak nampak lagi bayangan apa-apa yang dilihatnya. Ia menjadi heran bukan main, kalau bayangan itu adalah murid-murid ayahnya.

Ia kenal betul dan itu tak mungkin. Yang ia tahu bayangan tadi demikian gesit, ini saja sudah menandakan betapa tinggi tingkat kepandaian yang diperlihatkan oleh bayangan tadi. Siapakah orang itu?

Tiba-tiba Hong Kwi teringat kepada Wang Ie. Mungkinkah bayangan tadi adalah Wang Ie. Heran! Kalau memang Wang Ie mau apakah dia gentayangan di malam-malam begini?

Teringat kepada pemuda itu, segera saja Hong Kwi mencelat ke genting lain dan mengitari dari atas genting dengan membuka sebuah genting dan melongok ke bawah. Akan tetapi di dalam kamar tidak terlihat Wang Ie, segera Hong Kwi menutup kembali dengan meletakkan sebuah genting pada tempat semula.

Kemanakah Wang Ie?

Hong Kwi menjadi heran. Ia berjalan melewati kandang kuda, namun tidak nampak pemuda yang dicarinya itu.

Angin malam berhembus sejuk. Alangkah nikmat sekali jalan-jalan di tempat terbuka seperti ini. Bulan di atas terhalang mega mendung, sinarnya hanya remang-remang menerangi bumi. Suara air terjun di sebelah selatan terdengar di kesunyian malam hari.

Entah perasaan apa yang membuatnya gadis ini melangkahkan kakinya berjalan ke air terjun. Semakin dekat, semakin deras suara itu bergemuruh.

Inilah air terjun yang sangat deras airnya di puncak Tiang-pek-san. Dari kejauhan saja suaranya sudah bergemuruh memecah kesepian malam.

Cepat-cepat Hong Kwi mempergunakan gin-kangnya berlari ke tempat itu. Ingin sekali, dalam keadaan hati resah seperti ini, ia hendak menyendiri di dekat air terjun itu. Maka ia cepat berlari dan menuju ke tempat air terjun.

Akan tetapi gadis itu menghentikan larinya ketika dilihatnya sesosok tubuh laki-laki muda dalam keadaan telanjang bulat berada di tengah-tengah air terjun. Melihat pemandangan ini, sekelebatan saja Hong Kwi mengalihkan pandangannya dan mukanya menjadi merah.

Setan! Siapa orang itu, di malam buta begitu berada di tengah-tengah air terjun? Akan tetapi berpikir demikian gadis ini menjadi tertarik sekali dan menurut hatinya ingin ia menoleh ke arah air terjun tadi. Ia mengenal air terjun di puncak ini. Sangat deras sekali airnya!

Dulu pada waktu ia masih kecil pernah ayahnya berlatih lwekang dengan berdiri di bawah air terjun dan menerima datangnya tenaga air yang deras itu. Akan tetapi ayahnya sendiri tidak tahan untuk diam lama-lama di bawah air terjun.

Dinginnya bukan main! Belum lagi tenaga yang beratnya seribu kati yang terbawa dari air terjun itu. Sungguh manusia manakah yang dapat bertahan berdiam diri lama-lama di bawah air terjun itu?

Diam-diam Hong Kwi melirikkan matanya. Alisnya yang lentik sengaja dipicingkan supaya tidak melihat pemandangan di bawah air terjun itu dengan sepenuhnya, hanya samar-samar saja.

Ia melihat betapa orang itu masih berdiri di bawah air terjun dengan tangan bersedekap di dada. Akan tetapi yang membuat gadis ini tak berani memandang karena orang itu bertelanjang bulat!

Sungguh gila, Hong Kwi memaki di dalam hati dan ia membalikkan tubuhnya membelakangi air terjun itu dan menantinya di tempat ini kalau-kalau orang itu akan keluar dari bawah air terjun itu. Ingin sekali hatinya tahu siapa gerangan orang gila itu dan memberikan sedikit hajaran, karena telah begitu kurangajar bertelanjang bulat di depan matanya!

Namun demikian tak dapat disangkal perbuatan orang itu sungguh sangat mengagumkan hatinya. Ia sendiri belum tentu sanggup menerima derasnya air terjun yang begitu keras. Hanya orang yang telah memiliki lwekang tingkat tinggi itulah yang baru mampu untuk berdiam di bawah air terjun.

Ia pernah melihat batu besar yang berhari-hari menerima air terjun di bawahnya itu menjadi bolong dan berlubang oleh sebab derasnya air menimpa. Kini orang muda itu, sungguh luar biasa. Sedang ngapain dia berdiam dibawah air terjun dan menerima derasnya air yang luar biasa kuatnya menimpah tubuhnya itu? Heran!

Hong Kwi melirik lagi. Akan tetapi ia menjadi heran ketika melihat ke air terjun. Ia tidak lagi melihat pemuda itu. Kapan pemuda itu lenyap dan bilakah ia naik mengapa ia tidak mendengarnya?

Padahal sejak tadi ia sengaja memasang telinga untuk mendengar kalau-kalau orang muda itu keluar dari tempat itu dan ia kepingin melihat siapakah sebenarnya orang gila itu. Makanya ia menanti di tempat itu dan membelakangi tubuhnya.

Akan tetapi diluar tahunya orang sudah pergi. Kemanakah perginya, kenapa ia sendiri tidak tahu?

Gadis ini menjadi kheki bukan main, sekali loncat saja ia sudah tiba di dekat air terjun dan benar saja orang yang tadi dilihatnya berdiri di atas batu hitam ini sudah tidak nampak lagi. Entah pergi kemana.

Untuk sejenak gadis itu memandangi air terjun yang luar biasa derasnya, batu hitam di bawah air terjun itu telah menjadi berlubang dan hancur menerima datangnya pukulan air yang sangat deras itu. Sedangkan suaranya bagaikan gemuruh yang memekakkan anak telinga.

Tiba-tiba gadis itu teringat akan sesuatu dan cepat tubuhnya sudah mencelat jauh dan berlari cepat ke tempat dimana Wang Ie tinggal. Ia merasa curiga sekali kepada pemuda itu, apakah benar yang dilihatnya di bawah air terjun tadi adalah Wang Ie? Wang Ie yang tadi dilihatnya telanjang bulat di dalam air terjun tadi?

Teringat ini telinga Hong Kwi menjadi merah saking malunya. Kalau memang betul bayangan tadi adalah Wang Ie, tentu pemuda itu akan tahu bahwa ia sedang mengintainya di tempat itu akan tahu bahwa ia sedang mengintainya di tempat itu membelakangi tubuh? Sialan benar, gua harus cepat-cepat menyelidiki!

Dalam beberapa menit saja gadis ini sudah tiba di atas genteng di mana Wang Ie tinggal.

Seperti tadi, ia membuka sebuah genting dan mengintainya. Dari dalam kamar itu terdengar suara orang tidur dengan nyenyaknya, tentu Wang Ie yang sudah tidur. Tapi kenapa tadi ia tidak melihat Wang Ie di kamar itu?

Kalau memang Wang Ie yang dilihatnya di bawah air terjun tadi, mengapa cepat benar pemuda itu sudah tiba di rumah dan telah ngorok pula. Mendongkol sekali hati gadis ini, ia sengaja membanting genting sehingga menimbulkan suara keras.

Gadis itu mengintai. Namun suara mengorok itu menandakan pemuda itu sudah pulas benar-benar. Apakah Wang Ie tidak mendengar genting pecah?

Kalau memang Wang Ie mempunyai kepandaian tentu ia akan mendengar. Hong Kwi melongo lagi, tiba-tiba ia menutup genting di atas dan mencelat ke bawah ketika ia melihat pemuda itu terbangun dan membuka jendelanya.

Ketika itu Hong Kwi mendatangi dari pintu depan dan mengetuk daun pintu Tiga kali ia mengetuk, baru terdengar suara,

“Siapa?”

“Aku……” sahut Hong Kwi.

“Siapa......” suara itu terdengar lagi dari dalam. Namun daun pintu belum lagi terbuka.

“Tok-tok-tok!” Hong Kwi mengetuk lagi.

“Siapa?”

“Aku.......” sahut Hong Kwi.

“Aku siapa?”

“Aku....... ya aku…… tolol! Buka pintu!” Hong Kwi menjadi kesal dan mengetuk daun pintu keras-keras.

Dan pintu terbuka dan Wang Ie tersenyum lebar.

“Aha, kiranya nona Hong Kwi yang berkunjung ke tempat hamba, silahkan masuk.......!” Wang Ie dengan tangannya mempersilahkan si gadis masuk ke dalam.

Hong Kwi tak berkata apa-apa telah mendahului masuk ke dalam dan duduk di meja dekat tempat pembaringan.

“Wang Ie, kau tidurnya kebluk benar sih, aku mengetuk-ngetuk pintu kau nggak bangun-bangun juga, dasar babi. Tidur saja suka ngorok!” Hong Kwi mengomel.

Pandangnya menyapu ruangan di situ. Sebuah ruangan dengan kamar tidur yang sangat bersahaja.

Ia melihat Wang Ie mengambil sebuah kendi (tempat minum yang terbuat dari tanah) dan mengeluarkan air putih yang dituangnya ke dalam cawan. Lalu menyodorkan cawan minuman itu kepada tamunya.

“Hamba tidak mempunyai arak wangi, air dingin ini cukuplah untuk menghilangkan dahaga!”

“Hamba-hamba! Hamba kepalamu.......eh. Wang Ie tadi kulihat ada sesosok bayangan di atas gentingmu..... dan....... eh, apakah kau melihatnya?”

“Bayangan-bayangan……. bayangan apa?” tanya Wang Ie bodoh.

Hong Kwi membantingkan kakinya.

“Bayangan orang tentu, masa setan! Kau lihat nggak?”

“Mana aku lihat, aku kan tidur?”

“Memang kau tukang tidur!” Kebluk Hong Kwi mengomel.

Wang Ie terdiam.

Hong Kwi juga terdiam.

Tiba-tiba Wang Ie menguap, menutupi mulutnya dengan tangan.

Hong Kwi menoleh.

“Kau ngantuk, ya?” tanyanya sambil memandang.

“Nggak!”

“Kalau ngantuk teruskanlah tidurmu, biar aku pergi!” Hong Kwi bangkit dari duduknya dan hendak berjalan, namun Wang Ie telah menyentuh lengannya dan berkata,

“Mengapa begitu buru-buru Hong Kwi, sebenarnya…...”

Hong Kwi menoleh. Ia sudah duduk kembali.

“Sebenarnya apa, kau ngomong nggak ada kepala, nggak ada buntut!”

“Kau datang ke sini……. sebenarnya…… ada apakah?”

“Nggak ada apa-apa. Cuma aku hendak menanyakan apakah kau melihat seseorang tidak. Tadi aku melihat bayangan yang gesit di atas gentingmu. Kemudian…….”

“Kau mengejarnya, kau membuntutinya?” tanya Wang Ie.

Hong Kwi menoleh. Memandang pemuda itu heran dan curiga.

“Eh, kenapa kau tahu?”

Kini Hong Kwi menjadi curiga.

Wang Ie menuang air di kendi. Dan di minumnya beberapa teguk,

“Minumlah Hong Kwi!”

“Jawab dulu pertanyaanku. Mengapa kau tahu aku membuntuti orang itu, apakah........ apakah kau........”

“Tentu aku tahu, Hong Kwi!”

“Kau?”

Hong Kwi memandangnya heran. Rasa curiganya timbul.

“Kalau kau tahu….., tentu…… apa kau…?”

“Tentu aku tahu, Hong Kwi. Dari ucapanmu tadi. Katanya kau melihat bayangan di atas genting ini, dan kau bilang mengejarnya........”

“Aku nggak mengejarnya!” Hong Kwi membohong.

“Siapa yang tidak menduga kau mengejar. Tentu kau mengejar bayangan itu, karena kau curiga. Betul tidak?”

“Wang Ie, sebetulnya apakah kau pada waktu itu…... tidak …...eh, kau tidak pernah malam-malam mandi di air terjun di sebelah sana itu?” tanya Hong Kwi menyelidik.

“Mandi di air terjun, mampus dong aku malam-malam begini. Lagi siapa sih orangnya yang begitu gila mau ke situ. Air terjun itu berbahaya sekali, kalau kau terseret oleh air, kau akan masuk jurang!”

“Bukan begitu Wang Ie, ku kira kau….. kau yang berada di situ tadi, potongan tubuhnya persis seperti engkau?”

“Ah, kau bisa saja Hong Kwi. Kau kan tahu, dari sore sudah aku masuk kamar dan tidur,” sahut Wang Ie serius.

“Kalau begitu ya sudah! Kukira.......”

Wang Ie menyodorkan minuman di cawan.

“Minumlah Hong Kwi, kau……”

“Kenapa aku?”

“Kau sudah begitu baik, malam-malam ke tempatku!”

“Memangnya kenapa?” tanya Hong Kwi.

“Kalau ibumu tahu, tentu kau diomeli, lagi tidak pantas bagi seorang gadis malam-malam begini ke tempatku.”

“Eh, apakah kau tidak senang?”

“Tentu aku senang Hong Kwi!”

“Benar kau senang?”

Wang Ie tersenyum.

Keduanya saling pandang. Dada Wang Ie berdebar-debar menerima pandangan Hong Kwi yang dalam penglihatannya demikian jelita.

Waktu gadis itu tersenyum hampir saja pemuda itu menjadi semaput dan tak kuat lagi berdiri. Senyum itu mempesonakan!

Sampai lama mereka saling berpandangan akhirnya Hong Kwi memegang lengan Wang Ie dan berkata, “Besok sore kita bertemu lagi di tepi sungai itu!”

“Benar kau hendak....... memberi petunjuk ilmu silat kepadaku, Hong Kwi?”

“Mengapa tidak? Aku sudah janji. Sekali bicara, tak mungkin kujilat kembali. Pokoknya kau tunggulah aku di sana, benar ya?”

Bagaikan terkena hikmat dan terpesona, Wang Ie tersenyum lebar dan berkata: “Baik akan kutunggu kau di sana!”

“Sekarang aku akan kembali ke rumahku, Wang Ie....... kau.......”

“Ada apakah?”

“Benar kau akan mengajariku ilmu siluman yang tadi sore kau perlihatkan itu?” Sambil berkata demikian sepasang tangan itu merenggut tangan si pemuda yang menggigil dan berdebar girang.

“Kalau kau memang suka, mengapa tidak.”

“Janji nih?”

Wang Ie tersenyum dan mengangguk cerah. Entah mengapa berdekatan dengan gadis ini, dunia selalu akan tertawa. Hatinya selalu riang dan berdebar-debar aneh.

Ia memandangi perginya gadis itu. Sampai lama ia berdiri di depan pintu menghayali pertemuan-pertemuan barusan, Demikian mengesankan, waktu tangan si gadis merenggut tangannya.

Dan senyum itu, aduhai betapa indahnya. Ingin lama-lama ia memandangi gadis itu dan….. dan....... ahh, terlalu banyak yang ia khayalkan, dan apabila teringat akan keadaan dirinya.

Hatinya menjadi kecil bakan main. Mana pantas aku berdampingan dengan Hong Kwi, puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, sedangkan aku ini siapa?

Tanpa terasa lagi air mata pemuda itu menetes turun. Teringat ia akan perkataan orang tua Hong Kwi yang telah didengarnya.

Meskipun tidak jelas benar, namun perkataan yang diucapkan oleh Tiang Le, sungguh merupakan tusukan pedang yang menghujam ulu hatinya dan yang membuat kedua kakinya lemas.

“Jangan kau menuduh yang bukan-bukan Lan-moay, anak kita masih bau kencur, belum waktunya untuk pacar-pacaran. Juga Wang Ie tentu ia tidak akan berani main gila mencintai puteri kita.”

“Aku…… hanya… kuatir koko.......”

“Sudahlah Lan-moay, kau selalu menguatirkan yang tidak-tidak. Biar nanti kalau Wang Ie bersikap mencurigakan, aku yang akan menegurnya. Bagaimanapun juga Hong Kwi tidak boleh mencintai sembarang orang....... apalagi Wang Ie memilih sebagai tukang kuda……”

Tanpa terasa lagi kedua mata Wang Ie menjadi merah dan mengembangkan air mata. Ia berdiri di depan pintu seperti itu dengan air mata bercucuran.

Dilihatnya bulan di atas berseri-seri memancarkan cahayanya menerangi alam. Tiba-tiba dalam pandangannya sebuah wajah menyembul dari balik bulan, wajah yang cerah yang tersenyum amat manis kepadanya.

Wang Ie menatap dalam-dalam wajah itu, namun hatinya berteriak,

“Aku…… aku tak pantas untuk Hong Kwi, aku……. bagaikan pungguk merindukan, bulan.... Hong Kwi itu siapa dan aku ini siapa? Tidak, aku tidak boleh mencintai Hong Kwi. Tak boleh ini terjadi…....” bisiknya.

Dan waktu ia merasa pundaknya ditepuk orang, Wang Ie sadar dan buru-buru mengusap air matanya. Kiranya Pek Bo, si kakek gemuk pendek tukang merawat kuda telah berdiri di sampingnya dan menegurnya.

“Wang Ie, mengapa kau menangis di sini? Apakah kau menyesal menjadi tukang kuda?”

“O, saya tidak melihat kedatangan Pek Bo lopek, apakah lopek belum tidur?” tanya Wang Ie mencoba untuk bersenyum dan menekan perasaan hatinya yang kala itu sedang nelangsa dan merana.

“Hari sudah malam, Wang Ie, tak baik kau berdiri di sini seperti itu sambil menangis. Apa sih yang kau tangisi?”

“Aku…… hatiku sedih lopek, teringat diriku yang sebatang kara ini,” bohong Wang Ie.