-->

Istana Hantu Jilid 06

Jilid 06

Melihat tahu-tahu pemuda itu telah dibawa terbang oleh sabuk sutera merah di tangan si gadis, cepat A Kay dan A Yong memburu dan membentak, “Gadis usil, siapa kau dan berani lancang terhadap pelayan-pelayan Istana Hantu? Apakah kau yang begini cantik sudah bosan hidup?”

“Hi-hi-hi…… kalian ini…… kakek dan nenek gila nggak tahu malu mengeroyok pemuda yang sudah tak berdaya sungguh memalukan!” Suara si gadis terdengar merdu dan nyaring seperti suara bidadari.

Dalam berkata tadi sebuah senyum mengejek tersungging di bibirnya yang indah dan bagus itu, sedangkan matanya yang jernih melirik ke arah Nguyen Hoat.

“Setan! Apakah kau tidak kenal dan takut terhadap pelayan-pelayan Istana Hantu?” si kakek A Kay melototkan matanya membentak si gadis, sedangkan si nenek rambut panjang maju ke depan dan menudingkan telunjuknya ke hidung si gadis sambil mengomel.

“Gadis liar, kau anak siapa, mengapa begini lancang mencampuri urusan kami?”

“Nenek jelek, aku tidak takut siapa kalian. Biarpun dari Istana Neraka, atau Istana Setan sekalipun aku tidak takut, aku puteri Pendekar Lengan Buntung Sung…….”

“Sumoay.......!” terdengar teguran dari seorang pemuda tampan baju putih yang telah tiba di tempat itu. “Jangan sembarangan menyebut nama suhu di tempat ini..........”

“Huh......” si gadis mendengus. “Takut apa, biar dia tahu bahwa aku adalah puteri Sung Tiang Le!”

“Aha, pantas begini galak nggak tahunya gadis itu adalah puteri Si Lengan Buntung Sung Tiang Le. Biar kucoba sampai dimana kepandaiannya,” sahut si Nenek sambil mencelat dan tahu-tahu ia sudah menerjang si gadis, mengirimkan pukulan jarak jauh ke arah dada si gadis. Akan tetapi gadis ini dengan enaknya mengangkat tangan dan balas mendorong ke muka, dengan tidak menggerakkan tubuhnya dari punggung kuda.

“Dess! Dua tenaga yang amat dahsyat bertemu di udara. Nampak tubuh si gadis bergoyang-goyang di atas punggung kuda, setengah berdiri dengan tali menginjak kendali sedangkan tangan kiri menekan punggung kuda, sehingga gadis ini dalam posisi setengah berdiri di atas kuda. Ia tersenyum mengejek ke arah si nenek yang bersempoyongan hendak jatuh.

“Setan cilik siapa kau?”

Gadis itu menjawab dengan suara halus dan tenang, senyum mengejek masih menghias dibibirnya yang berkilat-kilat tertimpa sinar matahari.

“Sudah tahu aku setan cilik, mengapa bertanya lagi?”

Merasa dirinya diperolok demikian, nenek ini menjadi marah. Rambut di atas kepalanya menegang dan siap menyerang si gadis di depannya.

Matanya melotot berapi-api memandang dengan penuh kemarahan. Ia maju setindak.

“Kau...... berani main-main dengan pelayan Istana Hantu benar-benar gadis yang sudah bosan hidup!” bentaknya marah dan mendorong gadis ini dengan pukulan kedua tangan didorong ke depan.

Dalam marahnya, ia hendak bikin mampus gadis yang mengaku puteri si Pendekar Lengan Buntung ini dengan sekali pukul. Akan tetapi nenek ini menjadi terkejut melihat gadis itu sama sekali tidak bergerak dari punggung kudanya untuk mengelak atau menangkis.

Pukulannya yang dahsyat itu diterima begitu saja dengan dada terbuka! Sungguh berani mati gadis ini, pikir si nenek yang sudah merasa terlanjur dan terus mendorong ke muka mengarah dada si gadis.

“Bukk!” dada itu kena pukul dan tubuh si gadis kelihatan doyong ke belakang seakan-akan mengikuti pukulan si nenek sehingga hampir rebah ke belakang, dan sekelebatan nampak gadis itu mengangkat tangan kirinya menangkis ke atas.

Nenek ini menjadi terkejut setengah mati, ia merasa pukulannya mengenai dada yang empuk seakan-akan dada itu merupakan tempakan tempat kosong dan melumpuhkan tenaganya. Melihat gadis itu telah bangkit dan duduk di atas pelana kudanya dan tidak merasakan sakit bekas pukulannya nenek ini menjadi terheran-heran dan bengong. Tiba-tiba ia bergerak memukulkan tangannya ke kiri.

“Prakkk!” Batu yang hitam segede gajah itu hancur berantakan dan mengeluarkan bunga api yang berpijar laksana dipalu godam. Nenek ini menoleh ke arah si gadis.

“Hi-hi-hi, Nenek peot, masih ada lagikah pukulan bang-pakmu, kenapa begitu sinting memukul batu yang nggak punya salah? Wah-wah, jangan-jangan kau memang sudah sinting dan harus segera masuk rumah sakit jiwa!”

Olok si gadis sambil menaruh telunjuknya di atas keningnya dan tertawa terkikik-kikik sambil menutupi mulutnya yang kecil.

Nenek ini memandang terbelalak. Kalau ia tidak ngerasain sendiri, pasti ia tidak akan percaya. Masakah gadis ini dapat menahan pukulannya, padahal barusan tadi batu yang demikian keras hancur oleh pukulannya tadi, masa gadis ini masih dapat ongkang-ongkang kaki menghadapi pukulannya, setan!

Apakah Pendekar Lengan Buntung demikian sakti sehingga gadis ini dapat menahan pukulannya dengan tidak mengelak, sungguh tidak masuk diakal. Apakah dia tadi salah pukul dan pukulannya barusan tidak mengenai gadis itu.

Mungkin juga, ia melihat gadis itu tadi rebah di atas punggung kuda. Apakah gadis itu tadi mengelak atau tenaga pukulannyakah tiba-tiba menjadi lumpuh?

Si Nenek menggerakkan ke dua lengannya. Suara angin berciutan waktu tangan itu diputar-putar ke kiri dan kanan semakin lama semakin cepat, sehingga batu-batu yang di bawah kakinya bertebaran ke kanan dan kiri. Hawa panas mengalir dan berkumpul di kedua lengan itu.

“E, e, e, nenek peot……, apakah kau sedang menjual obat, menari-nari di sini?” Gadis itu mengejek lagi…….

Si Nenek yang mengaku pelayan Istana Hantu itu menjadi mengkalap. Ia mengeluarkan jeritan keras dan nyaring dan ke dua lengannya yang diputar-putar tadi sekali gus menghantam ke arah si gadis.

Seperti tadi, gadis itu tidak mengelak hanya mengangkat tangan kirinya dengan lima jari terbuka dan mengeluarkan bentakan pula yang nyaring:

“Haiiitt!!”

“Bukk!!” Suara bertemunya kedua tangan itu nyaring dan mengeluarkan asap dari sepasang lengan si nenek.

Akan tetapi sungguh hebat, bukan si gadis itu yang terjengkang dari punggung kuda, sebaliknya tubuh si nenek itulah yang bagaikan dilempar oleh tenaga dahsyat telah melayang ke belakang terhuyung-huyung seperti layang-layang putus talinya.

Dari mulut si nenek menjembur darah segar! Cepat Nenek itu berdiri dan memandangnya dengan wajah pucat. Ia segera menyusut noda darah pada bibirnya dan kemudian ia berkelebat lenyap sambil berkata kepada dua orang temannya:

“A Kay, A Yong mari kita pergi saja, gadis itu seperti setan lihainya!”

Tanpa menyahut apa-apa. A Kay dan A Yong yang juga terheran-heran melihat si Nenek dipecundang oleh gadis puteri Pendekar Lengan Buntung yang mereka telah saksikan sendiri kelihaiannya. Merekapun cepat berkelebat menyusul si nenek dan berlari cepat.

Merasa dirinya ditolong oleh gadis ini, Nguyen Hoat cepat menjura dan katanya, “Atas pertolongan anda, saya yang bodoh bernama Nguyen Hoat mengucapkan banyak-banyak terima kasih!”

Gadis itu tersenyum manis. Dan dada Nguyen Hoat berdebar menerima senyum yang begitu mempesonakan ini. Untuk beberapa lama ia memandang si gadis dengan kagum dan didengarnya gadis itu berkata,

“Tidak apa saudara Nguyen Hoat, kamipun hanya kebetulan lewat saja dan telah menolong anda, itupun secara kebetulan, jadi tak perlu anda berterima kasih kepada kami!”

“Kalau boleh aku tahu siapakah nama anda, supaya aku dapat mengingat orang yang pernah menolongku!”

“Aku she Sung, bernama Hong Kwi, puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le dan dia ini adalah suheng Wang Ie, murid ayah!” sahut si gadis yang bernama Sung Hong Kwi itu memperkenalkan pemuda yang di sebelahnya. Seorang pemuda tampan berpakaian baju putih sederhana dan yang tersenyum pula kepadanya.

Nguyen Hoat menjadi terkejut mendengar nama Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le. Pernah di puncak Thang-la suhunya menceritakan pendekar yang belum lama ini menanjak namanya dan terkenal dengan ilmu silat si tangan buntung yang luar biasa. Maka ia menjadi girang sekali dan cepat-cepat menjura.

“Ah tidak tahunya saya berhadapan dengan puteri dan murid locianpwe Sung Tiang Le yang terhormat. Sungguh sangat menggembirakan hati dan merupakan suatu kehormatan dapat berkenalan dengan jiwi yang muda dan lihai!”

Melihat sikap pemuda ini demikian halus dan sopan dan pandai merendahkan diri. Diam-diam Hong Kwi menjadi senang sekali dan tersenyum lagi kepadanya.

“Saudara Nguyen Hoat ini murid siapakah?”

“Saya pernah mendapat petunjuk beberapa jurus ilmu silat dari suhu Bu-beng Sianjin dari Thang-la.”

“O, pantas tadi kami lihat kau demikian lihai dan dapat menandingi tiga orang pelayan-pelayan Istana Hantu yang terkenal lihai dan kejam!” berkata pula Wang Ie.

“Lihai apanya? Tadi kalau tidak ada nona Hong Kwi yang menolong, entah bagaimana nasibku!”

“Ah, saudara Nguyen Hoat terlalu merendah. Kepandaianmu juga hebat dan belum tentu kalah oleh tiga orang pelayan itu. Oya, sebenarnya hendak kemanakah tujuanmu?”

“Sebenarnya saya tidak ada tujuan, saudara Wang, cuma saya hendak meluaskan pergaulan di dunia kang-ouw dan mencari pengalaman. Aku baru saja turun dari Thang-la dan pengalamanku masih dangkal……!”

“Kalau begitu, marilah bersama-sama dengan kami merantau ke selatan, kami hendak mencari ayah dan ibu yang sudah turun gunung,” tiba-tiba saja Hong Kwi berkata.

Pandangan matanya begitu cerah menatap Nguyen Hoat, sehingga Wang Ie melihat pandangan sumoaynya ini menjadi tak enak hati. Dan ia memandang pula kepada Nguyen Hoat yang ketika itu mengangkat tangan dan menjura kepada Hong Kwi.

“Sungguh merupakan suatu kehormatan nntuk mengadakan perjalanan bersama dengan jiwi yang gagah. Terima kasih, sungguh membuat jiwi repot saja!”

“Jangan berkata begitu Nguyen-twako,” tiba-tiba Hong Kwi menyebut twako kepada Nguyen Hoat membuat dada pemuda ini berdebar dan ia tertunduk malu. “Kita adalah orang sendiri, untuk apa berlaku sungkan, bukankah begitu suheng Wang Ie?”

Wang Ie mengangguk. Meskipun dirasakannya hatinya tidak enak benar. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya seperti ini. Gila, apakah aku cemburu melihat Hong Kwi akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya itu, pikirnya dan berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar bergetar.

Ia menekan perasaannya dan berkata: “Memang demikianlah saudara Nguyen Hoat, diantara orang sendiri kita tak perlu sungkan!”

Hong Kwi tertawa senang. Dan berkata kepada Wang Ie, “Suheng, kau boncenglah saudara Nguyen Hoat di belakang kudamu. Mari kita meneruskan perjalanan!”

“Tidak usah, Hong Kwi siocia, biar aku berjalan di samping kalian dan……”

“Mana boleh begitu? Kami menunggang kuda, masa kau hendak berjalan. Nguyen twako, kau naiklah di punggung kuda di belakang suheng……” Hong Kwi berkata mempersilahkan.

“Tidak apa Hong Kwi siocia, aku bisa mengikuti kalian. Tak biasa aku menunggang kuda........!” sahut Nguyen Hoat.

Akhirnya Hong Kwi tersenyum dan menarik tali kendali kudanya berjalan diikuti oleh Nguyen Hoat yang berjalan di sampingnya dengan enaknya saja. Sedangkan Wang Ie membedal kudanya lebih cepat lagi mendahului mereka.

“Eh, e, Wang Ie suheng, mengapa buru-buru amat?” Hong Kwi menegur di belakang.

Tanpa menoleh Wang Ie berkata: “Sumoay, aku jalan duluan kita akan bertemu nanti di luar hutan ini di sebuah dusun!” berkata demikian kudanya dikeprakkan membalap cepat sekali meninggalkan debu yang berterbangan di belakang.

“Suhengku orangnya aneh!” sahut Hong Kwi kepada Nguyen Hoat dan membalapkan kudanya pula.

“Siapa namanya suhengmu tadi Hong Kwi siocia, maaf tadi aku lupa!”

“Namanya Wang Ie!” sahut Hong Kwi singkat tanpa menoleh.

“Wang Ie?”

Si gadis menoleh.

“Kenapa?” tanyanya.

Nguyen Hoat tersenyum.

“Tidak apa-apa Hong Kwi siocia, hanya saja aku teringat akan seseorang yang namanya hampir mirip dengan dia, akan tetapi ia itu seorang pendekar tingkat tinggi. Mungkin setingkat dengan nama ayahmu.”

“Siapa dia?” tanya Hong Kwi tertarik.

“Suhu pernah menyebut-nyebutnya. Namanya Wang Yu!”

“Ya, Wang Yu adalah Pendekar Lengan Buntung pula. Suhu pernah sekali bertemu dengan orang itu waktu beliau masih muda namun sayang sekali sejak kematian kekasihnya yang bernama Chio Chio, ia patah hati dan melenyapkan diri.

“Dan sejak itu namanya tidak pernah didengar lagi. Mungkin pendekar buntung itu sudah meninggal, mungkin pula telah melawat ke Asia dan menetap di Hong Kong.”

“Ooo?”

“Justru itu beberapa tahun kemudian muncul Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, ayahmu itu. Mulanya suhu mengira si Wang Yu itulah yang kembali dari Hong Kong dan menjagoi dunia persilatan, eh nyatanya bukan! Ternyata Pendekar Lengan Buntung sekarang adalah ayahmu,” Nguyen Hoat tersenyum kepada Hong Kwi.

“Hemm, sekarang kalau ada si Pendekar Lengan Buntung selain ayahku, tentu pendekar buntung palsu!”

“Orang buntung banyak nona, akan tetapi yang mendapat julukan Pendekar Lengan Buntung adalah ayahmu seorang, tidak ada lain orang!”

“Siapa bitang tidak ada? Justru ini yang membuat ayah dan ibu penasaran sehingga turun gunung,” Hong Kwi berkata gemas.

“He?” Nguyen Hoat terheran-heran.

“Ceritanya panjang Nguyen-twako. Nanti kuceritakan kepadamu!”

Berkata demikian Hong Kwi menoleh dan menjadi heran bukan main melihat betapa Nguyen Hoat dapat merandengi larinya di samping kudanya yang berlari cepat. Ia menarik kendali kuda dan membalap kudanya lebih cepat lagi ternyata Nguyen Hoat dapat mengimbangi dan berlari di sampingnya. Diam-diam gadis ini kagum sekali akan gin-kang pemuda itu.

Akan tetapi begitu mereka meninggalkan hutan kecil dan tiba di sebuah dusun. Alangkah kagetnya Hong Kwi melihat suhengnya sedang bertempur dan dikeroyok oleh tiga orang tua yang berpakaian seperti tosu.

Dilihat dari cara tosu ini bermain pedang mudah diduga bahwa mereka itu tentulah tosu Kun-lun-pay tingkat tiga. Nampak permainan pedang mereka itu demikian kuat dan cepat mendesak Wang Ie suhengnya.

Bagaimana Wang Ie tahu-tahu telah dikeroyok oleh tiga orang tosu Kun-lun-pay itu?

<>

Ternyata begitu tadi Wang Ie membalapkan kudanya cepat meninggalkan Hong Kwi dan Nguyen Hoat, dengan hati tak enak pemuda ini bermaksud untuk jalan duluan dan menanti sumoaynya di luar hutan. Namun siapa sangka begitu setibanya di luar hutan dan ia menghentikan kudanya berjalan congklang, tiba-tiba terdengar suara dari belakang membentak,

“Orang muda perlahan!”

Wang Ie menghentikan kudanya dan menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia begitu melihatnya tiga orang tosu Kun-lun-pay berjalan dengan cepat menghampirinya dengan senjata sudah terhunus.

Ia mengenali tosu ini yang pernah datang ke Tiang-pek-san beberapa hari yang lalu, cepat-cepat Wang Ie mengangkat tangan dan menjura: “Ada apakah sam-wi taysu menghadang perjalanan siauwte?”

Dalam beberapa lompatan saja ketiga tosu itu telah berdiri di depan Wang Ie dan seorang yang berjubah kuning dan memakai ikat kain di kepalanya berkata, “Orang muda, bukankah kau ini adalah murid si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le?”

“Betul Taysu, siauwte yang muda dan bodoh adalah murid suhu Sung Tiang Le, dan……”

“Bagus!” Tosu yang berwajah pucat dan kurus membentak sambil menggerakkan pedangnya berdesing di depan dada, “Kau muridnya tentu tahu, kemana perginya Sung Tiang Le si buntung keparat itu?!”

“Maaf sam-wi taysu, saya tidak dapat memberi keterangan kepada kalian karena sesungguhnya saya sendiri tidak tahu kemana suhunya pergi. Tiga hari yang lalu memang suhu dan subo turun gunung, akan tetapi entah kemana perginya!”

“Alaaah, alasan saja itu. Masa muridnya tidak tahu kemana gurunya pergi. Jangan bohong kau anak muda? Kun-lun Sam-lo-jin tidak boleh dibohong-bohongi, tahu!” Tosu yang tinggi besar dan bercambang bauk meraba pedangnya dengan sikap menantang.

Wang Ie menyapa ke tiga orang tosu yang dijuluki Kun-lun Sam-lo-jin (tiga orang tua dari Kun-lun-pay) ini. Tentu saja ia mengenal ketiga orang yang tempo hari datang ke Tiang-pek-san dan menuduh suhunya menculik ketua mereka yang bernama Hek Gan Taysu, sehingga terjadi pertempuran dengan tiga tosu itu. Akan tetapi karena suhunya lebih tinggi kepandaian silatnya Kun-lun Sam-lo-jin ini dapat diusir dan sejak kejadian-kejadian aneh itulah akhirnya suhu dan subonya turun gunung untuk menyelidiki dunia kang-ouw.

Dan ketiga orang kakek Kun-lun ini, mereka itu bukanlah tosu-tosu sembarangan, melainkan tokoh Kun-lun-pay tingkat tiga yang ternama dan di dunia kang-ouw mereka disebut Kun-lun Sam-lo-jin (tiga orang kakek dari Kun-lun-pay). Mereka terkenal dengan permainan pedang Kun-lun-kiam-sut.

Yang tertua, tosu muka pucat dan kurus kering adalah Lung Nam Taysu, terkenal dengan ilmu pedangnya yang dahsyat dan menduduki tingkat tiga di Kun-lun-pay. Sedangkan yang kedua, tosu tinggi besar yang memegang toya itu dikenal bernama Hay San Taysu, sedangkan tosu ketiga yang paling muda, adalah Hay Kui Taysu adik kandung dari Hay San Taysu.

Melihat betapa Kun-lun Sam-lo-jin sudah mengurungnya dengan sikap mengancam, Wang Ie tersenyum pahit dan katanya: “Sam-wi Taysu ini memang keterlaluan. Apakah aku yang muda harus membohongi kalian?

“Ketahuilah oleh sam-wi bahwa aku Wang Ie tidak suka dan tidak biasa membohongi orang. Memang kepergian suhu, sama sekali aku tidak tahu kemana perginya. Nah, aku sudah katakan. Terserah apakah sam-wi percaya atau tidak!”

Habis berkata demikian, pemuda itu menarik kendali kudanya dan berjalan, akan tetapi tiba-tiba berdesir suara senjata menyambar di belakangnya. Cepat Wang Ie mengelak ke kiri dan ia melihat tosu muka pucat yang bernama Lung Nam Taysu sudah menyerang dengan sabetan pedangnya ke arah punggung.

Suara pedang berdesing keras waktu ia menundukan kepalanya dan kemudian mencelat ke atas menghindarkan serangan toya yang lewat di bawah kakinya. Ternyata Hay San Taysu sudah menyerang pula dengan sodokan toyanya yang berat dan mengeluarkan suara mengaung.

Dengan gerakan yang indah dan ringan tubuh Wang Ie melayang ke atas dan hinggap di tanah tidak jauh dari kudanya. Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu Hay Kui Taysu sudah menerjangnya dengan tusukan sepasang pedang pendek dengan gerakan sabetan dari kiri dan kanan.

Akan tetapi Wang Ie adalah murid Pendekar Lengan Buntung, tidak percuma kalau menghadapi serangan begitu saja harus gugup dan panik, maka sambil mengelak dan menggeser gerakan kaki memainkan jurus-jurus Ji-cap-it sin-po.

Ia sudah dapat menghindari serangan sepasang pedang pendek yang bergerak-gerak menggunting dari kiri dan kanan. Malah, begitu terlolos dari serangan lawan Wang Ie menggunakan gerak tangan kilat dan entah bagaimana caranya tahu-tahu dada Hay Kuy Taysu sudah kena dorong dan tergempur kuda-kudanya.

“Sam-wi Taysu, harap…… jangan mendesak...... dan…….”

“Setan! Kau muridnya si Buntung Tiang Le, tentu kalian bersekongkol dan tidak memberitahukan ke mana perginya gurumu itu. Orang muda rasakanlah toyaku!”

“Wesss...... ngungg…!” Toya yang besar dan berat itu menyambar mengemplang Wang Ie. Hebat sekali kemplangan toya yang beratnya seratus kati ini. Kalau Wang Ie tidak buru-buru mengelak tentu ia akan pecah kepalanya terhantam toya Hak San Taysu.

Dan belum lagi ia sempat menghindarkan kemplangan toya itu tiba-tiba sebuah pedang berkilat menyambar dahsyat ke arah dadanya dan dibarengi dengan sabetan sepasang pedang pendek yang bergerak menggunting cepat dan kuat.

Kali ini Wang Ie tidak berlaku lambat ia mainkan jurus-jurus ilmu silat sin¬khauw-kun-hoat (ilmu silat monyet sakti) yang pernah ia dapati dari kitab dan bukan ajaran dari suhunya. Ilmu silat ini semacam kun-tauw yang bergerak mengandalkan kelincahan tubuh dan kekuatan sepasang lengan.

Entah bagaimana caranya tiba-tiba pemuda itu bergoyang-goyang dengan kaki terungkit di atas sedangkan tangan kiri menutupi kepala. Nampak lucu sekali gerakan yang kelihatan aneh ini, namun ajaib.

Sepasang pedang pendek di tangan Hay Kui Taysu terhenti di udara seakan-akan tertahan sebuah tangan kuat tidak kelihatan. Sebaliknya toya dan pedang yang bergerak menyodok dan menusuk tadi bagaikan menusuk bayangan saja lewat di samping pemuda itu, menimbulkan suara berdesir dan mengaung keras, sedangkan tahu-tahu Lung Nam Taysu dan Hak San Taysu terdorong ke depan ngusruk mencium tanah!

Tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Kun-lun Sam-lo-jin yang sudah dibuat marah menggeram keras dan menyerang dengan sungguh-sungguh. Pedang dan toya berkelebatan amat cepat dan kuat, namun bagaikan menghadapi bayangan saja, tubuh pemuda itu tidak pernah tersentuh oleh senjata mereka.

Jangankan tubuhnya, bajunya saja tidak pernah mereka sentuh. Padahal mereka melihat pemuda ini bersilat acak-acakan seperti monyet menari yang kadang-kadang melompat-lompat lucu dan kadang-kadang berputaran dengan tangan ditaruh di pinggang, namun harus diakui bahwa gerakan ini cepat bukan main!

Pada saat kedatangan Hong Kwi dan Nguyen Hoat, pemuda itu merubah cara bersilat, nampak ia begitu terdesak mainkan jurus-jurus yang pernah dipelajari dari suhunya Tiang Le. Memang, sesungguhnya Wang Ie tidak begitu dalam menerima ilmu silat dari Tiang Le, hanya pada dasar-dasarnya saja. Sehingga gerakan pemuda ini nampak masih kaku ketihatannya dan lemah.

Pada ketika itu sebuah pukulan toya menghantam pundaknya. Wang Ie terkejut sekali.

Sebetulnya ia bisa menghindarkan diri dengan ilmu silat monyet sakti. Namun karena ia merahasiakan ilmu ini di depan Hong Kwi maka sambil mengerahkan sin-kang di pundak, ia menerima datangnya toya si tosu.

“Bukk!” Tubuh Wang Ie terlempar jauh.

Hak San Taysu memburu dengan toya di tangan dibarengi berkelebatnya bayangan Hay Kui Taysu dan Lung Nam Taysu menggunakan pedangnya menusuk ke arah iga si pemuda. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dan tahu-tahu pedang dan toya sudah tertangkis oleh Hong Kwi yang menolong dengan cepat.

“Tosu bau, beraninya main keroyokan. Curang!” Hong Kwi memaki dan melototkan matanya ke arah Lung Nam Taysu yang memandangnya dengan terbelalak.

“Kau…… kau…… puteri Sung Tiang Le?”

“Benar, tosu bau. Akulah puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le. Lekas minggir dan berlutut minta maaf kepada suhengku ini. Kau sudah menghadiahkan sebuah gebukan kepadanya, hayo terlutut untuk hukuman dosamu!” suara Hong Kwi terdengar ketus dan galak.

Memang sudah menjadi watak Hong Kwi kalau mengatai seenaknya saja. Gadis ini memang cerewet, nampak sebuah tahi lalat kecil yang menghias di atas bibirnya.

Tentu saja Kun-lun Sam-lo-jin menjadi mendelik dimaki habis-habisan oleh gadis puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le.

Hay San Taysu yang berwatak nggak sabaran sudah mengangkat toyanya dan membentak, “Gadis liar, berani kau memaki Kun-lun Sam-lo-jin?”

“Siapa yang memaki kalian? Kalian inilah keledai-keledai tak tahu malu yang telah melakukan pengeroyokan terhadap seorang muda, cih sungguh tak tahu malu……” Hong Kwi membuang ludah di tanah, membuat wajah ke tiga orang kakek Kun-lun ini menjadi merah seketika.

“Gadis kurang ajar!” seorang di antara ke tiga toosu Kun-lun-pay yang tinggi besar sudah melompat dengan gerakan ringan di depan Hong Kwi.

Gadis ini melihat gerakan kakek tinggi besar yang kelihatan galak mengacung-acungkan toyanya, maklum bahwa sesungguhnya ke tiga orang Kun-lun-pay mempunyai kepandaian tinggi. Ia pernah melihat kakek ini dahulu ketika mereka bersama dataag ke puncak Tiang-pek-san.

Memang kakek Hay San Taysu mendongkol mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Sung Tiang Le, siang-siang Hay San Taysu sudah menjadi gemas bukan main dan kalau mungkin tidak memandang kedua orang saudara seperguruannya, ia akan menerjang gadis yang begini tajam mulut dan liar!

“Kau mau apa?” Hong Kwi juga menantang dengan sikap tenang tak mengenal takut.

Akan tetapi Nguyen Hoat yang bermata tajam dan tahu bahwa ketiga orang tosu tak boleh dipandang ringan, berkata:

“Hong Kwi siocia, harap sabar,” kemudian ia berkata kepada Hay San Taysu sambil menjura dengan hormat. “Sam-wi taysu boleh aku bertanya, mengapa kalian datang-datang memusuhi Hong Kwi menyerang mati-matian kepada pemuda suheng temanku ini?”

Hay San tanpa ragu-ragu menuding ke arah Hong Kwi dan Wang Ie sambil berkata,

“Mereka adalah murid dan puteri si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, kami sengaja memang hendak menawan mereka sebagai tanggung jawab ayahnya yang telah menculik ketua kami. Dan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le harus dihadapkan di meja pengadilan Kun-lun-pay untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang tidak memandang mata akan dunia persilatan!”

Hong Kwi mengeluarkan suara mengejek lalu melompat ke atas kudanya dan berkata kepada Nguyen Hoat,

“Saudara Nguyen Hoat untuk apa melayani orang-orang yang sedang miring otak? Mari kita lanjutkan perjalanan. Suheng....... sebaiknya kita tidak melayani keledai dungu ini yang bisanya membikin kacau saja itu!”

Tentu saja dimaki keledai dungu, ketiga tosu ini menjadi mendongkol bukan main. Hay Kui Taysu yang bersenjata sepasang siang-kiam membentak merah.

“Gadis lancang, kau tidak memandang mata kepada partai besar Kun-lun-pay. Lekas kau menyerahkan diri dan menjadi tawanan kami sampai ayahmu mempertanggung jawabkan perbuatannya, baru kami beri ampun!”

Lung Nam Taysu yang sejak tadi diam saja kini membuka mulut. Sinar matanya yang berwibawa menentang pandangan si gadis.

Melihat mata yang tajam dan berpengaruh, tahulah Hong Kwi bahwa tosu muka pucat dan kurus kering ini mempunyai tenaga lwekang yang tinggi dan ahli tenapa khi-kang. Diam-diam ia menjadi terkejut, akan tetapi ia tidak takut. Malah menoleh dan mengawasi tosu itu dengan kening dikerutkan seperti orang tak senang.

“Urusan hilangnya ketuamu, bukanlah urusan kami! Harap tidak mendesak kami dan sehingga kami yang muda berlaku lancang kepada kalian……”

“Suheng! tangkap saja bocah ini!” seru Hay San Taysu yang sudah menjadi marah sekali, kemudian tanpa banyak bicara ia sudah menyerbu dan menubruk Hong Kwi dengan terjangan toyanya yang besar dan berat. Memang diantara ketiga orang Ku-lun-sam-lojin yang paling nggak sabaran adalah Hay San Taysu, tosu tinggi besar yang berwatak berangasan.

Melihat datangnya terjangan toya yang menubruk dengan gerakan cepat dan kuat, Hong Kwi menjadi terkejut. Suara mengaung terdengar waktu toya itu digerakkan, mudah diduga bahwa tosu tinggi besar ini mempunyai tenaga gwa-kang yang tinggi dan tidak boleh dibuat gegabah, maka Hong Kwi tidak berani menangkis melainkan melompat dari atas kudanya, berjungkir balik dan turun dua tombak dari atas kudanya.

Terdengar suara kuda meringkik dan kuda tunggangan yang ditinggalkan Hong Kwi itu kena sodokan toya Hay San Taysu sehingga menimbulkan suara berdebuk keras dan terguling roboh.

“Tosu bau, kau telah mencelakakan kudaku, hayo ganti dengan kepalamu!” seru Hong Kwi yang cepat menggerakkan tangan kirinya dengan gerakan kilat yang sukar diikuti oleh pandangan mata dan tahu-tahu toya di tangan Hay San Taysu bergetar hebat dan dari mulutnya keluar darah segar. Cepat sekali tosu tinggi besar itu bersila dan meramkan matanya mengatur pernapasan yang terasa sesak dan sakit.

“Gadis liar, kau kejam!” Lung Nam Taysu menghadang si gadis yang hendak menubruk Hay San Taysu yang sudah tak berdaya. Pedangnya mendesing dan langsung menyerang si gadis dengan terjangan-terjangan dari jurus-jurus ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang kuat dan lihai.

“Roboh kau, tosu bau!” Hong Kwi berseru dan seperti tadi tangan kirinya bergerak cepat dan menyelinap masuk di antara putaran pedang lawan.

Akan tetapi merasa serangan pedang lawan ini demikian kuat dan cepat, gadis itu menarik kembali tangannya dan berganti dengan mengibaskan lengan bajunya ke arah dada si tosu. Ia sudah memperhitungkan bahwa kibasan lengan bajunya itu tentu akan merobohkan tosu ini, karena ia percaya akan kepandaiannya sendiri.

Memang sudah menjadi watak Hong Kwi, karena terlalu dimanja oleh ibunya sehingga ia menganggap bahwa di kolong langit ini, dia sendiri itulah yaug paling lihai. Oleh sebab itu menghadapi terjangan-terjangan pedang Lung Nam Taysu, ia hanya mengibas dengan lengan bajunya.

Suara angin kibasan lengan baju itu berderu keras. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kibasannya yang cepat sekali itu mengenai tempat kosong karena Lung Nam Taysu sudah dapat mencelat ke samping dan bahkan membalas menyerang dengan pukulan tangan kosong yang digunakan oleh tangan kirinya.

Saking cepatnya pukulan tangan kiri itu, amat jitu sekali mengenai pundak Hong Kwi.

“Plakkk!”

Sung Hong Kwi terhuyung ke belakang, akan tetapi Lung Nam Taysu tiba-tiba merasa tangannya panas, tanda ia terserang oleh tenaga pukulannya sendiri yang membalik ketika bertemu dengan pundak gadis itu. Hal ini menjadi bukti bahwa lweekang gadis yang menjadi puteri Sung Tiang Le demikian tinggi dan membuat dalam benturan saja tangannya sudah terasa panas.

Pantas dalam segebrakan tadi sutenya telah muntahkan darah. Sungguh hebat sekali gadis ini!

Lung Nam Thaysu menjadi terkejut dan maklumlah ia bahwa harapannya untuk melawan gadis ini tidak mungkin dilakukan lagi, baru saja menghadapi gadis puteri Sung Tiang Le saja merupakan lawan yang berat, apalagi kalau orang muda itu turun tangan, celaka!

“Jie-sute, lekas kembali ke Kun-lun, laporkan kepada suheng....... biar su-couw Cin Cin Taysu yang turun tangan!” berkata demikian ia mengibaskan lengan bajunya dan berkelebat lenyap diikuti oleh kedua orang saudaranya yang merasa gentar menghadapi gadis itu!”

“Kabur…… nggak tahu malu!”

Hong Kwi mengirim suara jarak jauh sehingga terdengar oleh ke tiga tosu itu yang menjadi panas hatinya dan menggeram mengertukkan gigi saking gemasnya. Rasa benci dan penasaran kepada Tiang Le memuncak, hendak ia serbu Tiang-pek-san nanti, pikirnya berlari cepat.

Sementara itu, Hong Kwi mendekati kudanya. Begitu dilihatnya kudanya sudah hampir mati dan telah menggeletak di tanah akibat pukulan toya si tosu tadi, Hong Kwi mengangkat tangannya menghantam kepala kuda.

“Prakk !”

Untuk beberapa lama kuda itu meringkik panjang dan mati seketika. Wang Ie mendekati si gadis dan bertanya heran,

“Sumoay, mengapa kau bunuh kudamu?”

Hong Kwi menoleh dan tersenyum. “Dari pada dia menderita seperti itu, lebih baik mati dan bebas dari penderitaan. Bukankah dengan cara itu kita sudah menolong dia?”

Wang Ie mengangguk. Ia membenarkan perkataan gadis sumoaynya ini. Memang bukan ia tidak tahu, pukulan toya si tosu tadi membuat jantung si kuda putus dan sekarat hendak mati. Dan perbuatan sumoaynya berurusan, baik juga.

“Sumoay, mari kita lanjutkan perjalanan!” kata Wang Ie menoleh kepada sumoaynya.

Namun Nguyen Hoat berkata perlahan,

“Nanti dulu saudara Wang Ie, kuda ini masa kita biarkan saja menggeletak di pinggir jalan. Kalau nanti ia membusuk, baunya akan mengganggu orang yang lewat, sebaiknya mari kita kuburkan dulu!”

“Betul perkataan saudara Nguyen Hoat, suheng! Kita harus mengguburkan dulu, kasihan kudaku mati menggeletak tanpa di kubur:.......!” Hong Kwi membenarkan perkataan Nguyen Hoat.

Entah mengapa hati Wang Ie tidak enak sekali. Ia merasa senang sumoaynya ini membenarkan perkataan pemuda Nguyen Hoat yang baru dikenalnya.

Gila mengapa aku berpikiran begitu, Setan! Tak boleh aku mencintai sumoay. Wang Ie menekan perasaan hatinya dan berkata,

“Untuk apa kita susah-susah menggali lubang? Kita kasih tahu saja orang dusun, mereka tentu akan mengambil dagingnya dan dapat dimanfaatkan untuk orang banyak, dari pada dibuang cuma-cuma lebih baik kita kasih orang dusun. Mereka tentu mau!”

“Kalau begitu baik juga, saudara Wang Ie. Biar nanti aku yang gotong kuda ini membawa ke dusun!” sahut Nguyen Hoat.

“Kau…... kau hendak memondong kuda ini, begitu berat?” tanya Hong Kwi heran, matanya yang bening indah itu membelalak memandang Nguyen Hoat.

“Aku akan dapat memondongnya Hong Kwi!”

“Serrrr!” Untuk yang ke dua kali dada Wang Ie berdebar tak enak hati. Pemuda itu memanggil nama Hong Kwi demikian saja seperti sudah demikian akrab hubungan mereka!

Hemm! Wang Ie kau gila, mengapa kau berpikir sampai begitu bodoh, tak tahu diri! Kau ini siapa, Hong Kwi itu siapa? Mengapa berpikir yang tidak-tidak! Tolol! Tiba-tiba Wang Ie mengeplak kepalanya.

“Eh, kau kenapa suheng.......? Mengapa kau mengelepaki kepalamu. Apa kau sakit kepala? Sayang aku nggak bawa bintang tujuh nomor enambelas hi-hik!” Hong Kwi tertawa. Ia memegang lengan suhengnya.

“Biar kupijit kepalamu ya, kau mabok suheng?”

Aduhai, suara itu demikian mesra bagi pendengaran Wang Ie dan untuk beberapa lama ia menjadi tersipu-sipu malu dan berkata gagap.

“Nggak....... nggak……”

“Nggak....... nggak kenapa?”

“Hong Kwi, kau berikanlah Fung-yu-cing ini kepada saudara Wang Ie, mungkin ia sakit kepala. Minyak Fung-yu-cing ini manjur sekali untuk kepala pusing,” berkata Nguyen Hoat sambil memberikan minyak angin kepada Hong Kwi.

Hong Kwi menerima dan membuka tutupnya.

“Kau pakai Fung-yu-cing ini ya, suheng?”

Buru-buru Wang Ie menahan gerakan sumoaynya yang hendak mengoleskan minyak angin di kepalanya. Ia malu bukan main, akan tetapi juga, entah mengapa hatinya girang setengah mati! Akan tetapi mulutnya berkata,

“Sudahlah sumoay, aku tidak sakit kepala. Tadi aku mengelepaki kepalaku, karena....... karena eh.......”

“Karena apa suheng?” tanya Hong Kwi perihatin.

“Saudara Nguyen Hoat…… benar juga,” Wang Ie mengalihkan pembicaraannya kepada Nguyen Hoat. “Tak usah kau membawa kuda ini, cukup kita beritahu penduduk dusun saja, dan mereka itulah yang nanti akan menggotong beramai-ramai kuda ini!”

“Apakah mereka doyan daging kuda ini suheng?”

“Tentu…… sudah, mari kita berangkat, biar aku jalan duluan, kau bersama-sama saudara Nguyan Hoat menyusul!” Tanpa menanti perkataan apa-apa lagi dari Hong Kwi dan Nguyen Hoat, pemuda itu mencelat pergi dan berkelebat cepat menuju sebuah dusun.

Habis memberitahukan penduduk dusun bahwa di hutan itu ada seekor kuda yang mati dan menyuruhnya untuk dibawa ke dusun dibagi-bagi. Wang Ie terus berkelebat lenyap dan ia meninggalkan sepucuk surat untuk sumoaynya bahwa ia hendak mengadakan perjalanan seorang diri.

Tentu saja Hong Kwi dan Nguyen Hoat menjadi heran dan menyusul pemuda itu ke arah selatan mengadakan perjalanan cepat. Sebentar saja hubungan Hong Kwi dengan Nguyen Hoat sudah begitu akrab dan masing-masing sudah biasa berguyon dan tertawa-tawa senang di sepanjang jalan.

Mereka terus ke Selatan!

◄Y►

Hari itu udara sedikit mendung. Segumpalan awan hitam berterbangan menutupi sinar matahari di atas kepala sehingga suasana di kaki bukit Hoa-san tidak begitu panas terik seperti biasanya.

Angin sejuk berhembus sepoi-sepoi basah. Pohon-pohon yang-liu yang ramping bergoyang-goyang dipermainkan angin yang datang dari arah utara, sehingga merupakan tarian ke kanan dan kiri disertai suara berkeresek suara daun beradu.

Pada saat itu, dari kaki bukit nampak tiga orang laki-laki dengan gerakan kaki seakan-akan terbang naik ke Hoa-san. Yang seorang bertubuh tinggi kurus dan berwajah pucat, dilihat dari cara berpakaian laki-laki itu mudah diduga bahwa ia itu seorang tosu, yang terkenal di Kun-lun-san dengan nama Lung Nam Taysu, orang pertama dari Kun-lun Sam-lo-jin.

Orang kedua dan ketiga adalah kakek-kakek berjubah aneh, yakni berwarna belontang-belontong terdiri dari warna merah, putih dan kuning. Yang pertama adalah seorang kakek bongkok yang memegang tongkat hitam di tangan kanan dan tongkat putih di tangan kiri, sedangkan orang kedua adalah seorang kakek botak yang pada punggungnya terdapat sepasang pedang.

Yang bongkok itu adalah tokoh ketiga dari Bu-tong-pay, bernama Jin Jin Hoatsu, berjuluk Hek-pek-siang-tung (Sepasang Tongkat Hitam Putih). Yang kedua bertubuh besar pendek adalah tokoh keempat dari Cay-san-pay, bernama Su Tek Lay berjuluk Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis).

Mereka ini memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan tokoh-tokoh yang cukup terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah orangnya yang tidak pernah mendengar tokoh Kun-lun-pay yang berjuluk Kun-lun Sam-lo-jin, tokoh Bu-tong-pay, Jin Jin Hoatsu yang lihai bermain sepasang tongkat hitam dan putih, sedangkan orang ketiga adalah Su Tek Lay si Sepasang Pedang Iblis.

“Hmm, Hoa-san-pay begini sunyi mati, heran!” kata Hek-pek-siang-tung Jin Jin Hoatsu.

“Memang Hoa-san-pay sudah hampir bankrut, akan tetapi sudah berani main gila dengan kita, mencari kematian saja!” kata Su Tek Lay.

“Semasa Tiong Gi Tojin masih hidup Hoa-san-pay merupakan partai yang paling berpengaruh dan amat disegani oleh banyak orang gagah akibat wibawa orang tua itu, namun sekarang Hoa-san-pay menjadi berengsek. Sejak Tiong Gi Tojin wafat, Hoa-san-pay dipegang oleh Siang Siang Tojin, si kakek lengan buntung yang berkepandaian hebat, akan tetapi sudah sangat tua usianya, dan kurang berwibawa memimpin.

“Kabarnya orang tua buntung itu tidak memperdulikan lagi urusan partai mengasingkan diri di lembah Im-kan-kok dan pemimpin diserahkan kepada Niang Pek Tojin ini tidak mau mengumpulkan murid-muridnya. Dan kalau tidak salah Hoa-san-pay sudah begitu sepi dan hampir gulung tikar!”

“Itulah yang menyebalkan, masih hampir bangkrut masih saja berbuat sombong dan berani mati, telah datang ke Kun-lun menculik ketua kami Hek Gan Taysu. Bukankah ini merupakan suatu penghinaan hebat dan mencari kematian saja?” sahut Lung Nam Taysu sengit, mendongakkan kepalanya ke atas puncak yang tertutup kabut.

“Memang Siang Siang Tojin bangsat! Ia juga berani mati mengacau di Bu-tong-pay dan membawa pergi ketua kami.”

“Pay-cu Bu Beng Cu juga lenyap. Kabarnya Siang Siang Tojin itulah yang telah datang ke Thay-san, heran! Untuk apakah dia membawa ketua kita?” berkata Su Tek Lay dengan nada tak senang,

“Itulah sebabnya, kami harus menyeret Siang Siang Tojin dan membawanya ke meja hijau Kun-lun-pay.”

“Dia juga harus kami seret ke Thay-san-pay!”

“Hem, kalau ketangkap denganku. Hendak kupatahkan batang lehernya si bangsat buntung itu dan menyiksa di Bu-tong-pay!”

Pada saat ketiga orang kakek itu tengah berlari-lari mempergunakan gin-kangnya yang tinggi menaiki puncak Hoa-san, melompati jurang-jurang dengan gerakan laksana burung walet terbang.

Pada saat itu Niang Pek Tojin sedang duduk di luar pondok bersama ke duapuluh lima orang muridnya.

Nampak dari pakaian mereka yang serba putih dan tanda hitam dibahunya merupakan tanda perkabungan, sedangkan di depan mereka nampak sebuah meja sembahyang yang mengebulkan asap dari hio yang dibakar. Dan di balik meja sembahyang itu, nampak pula sebuah peti mati yang siap hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.

Niang Pek Tojin berlutut dan diikuti oleh ke duapuluh lima orang murid-murid Hoa-san-pay. Kemudian satu persatu mereka maju dan membakar hio dan bersembahyang mengacungkan tiga batang hio di atas kepala dan mengheningkan cipta. Sesudah demikian, hio itu ditancapkan di sebuah hio-low di tengah-tengah meja sembahyang.

Nampak kemudian di balik hio-low yang besar itu terpampang sebuah potret seorang kakek yang sudah tua usia dan berlengan buntung sebelah kiri. Dalam gambar itu, kakek itu sekitar usia sembilanpuluh tahun. Rambutnya sudah putih semua, berjenggot putih pula, matanya cekung menampakkan wajah yang kurus seperti orang yang sudah lama dihinggapi penyakit.

Siapakah kakek itu? Dia itulah Siang Siang Tojin yang telah meninggal dunia.

Tiga hari yang lalu Niang Pek Tojin dikejutkan oleh bayangan seseorang yang bertempur dengan Siang Siang Tojin. Amat cepat sekali gerakan orang itu sehingga hanya dalam sekelebatan saja ia dapat melihat orang itu yang juga berlengan buntung dan begitu orang lengan buntung itu lenyap, tahu-tahu Siang Siang Tojin telah roboh dan memuntahkan darah segar. Dan roboh dengan wajah hitam diduga akibat pukulan tangan kosong yang penuh racun.

“Supek........!” Niang Pek Tojin memburu dan menotok jalan darah di leher Siang Siang Tojin yang kemudian membuka matanya, berkata lemah: “Niang Pek…... dia itu bahaya sekali….. Su….. augh…..”

“Supek…..!” murid-murid Hoa-san-pay yang lain menjerit ternyata supek mereka telah meninggal dengan amat mengenaskan.

Niang Pek Tojin termenung sejenak.

“Bangsat! Siapa lagi kalau bukan Sung Tiang Le yang melakukan perbuatan keji ini,” tiba-tiba Niang Pek Tojin berteriak marah, mengepalkan tinjunya.

“Sung Tiang Le?” Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian bertanya heran. Dan memandang Niang Pek Tosu.

“Kalau tidak salah, tentu dia itulah sute! Siapa lagi orangnya yang berlengan buntung yang demikian lihai. Tadi supek bilang dia itu Su....... hemm! Sung Tiang Le! Benar Sung Tiang Le, awaslah kau jahanam!”

Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian memegang lengan suhengnya dan pandangan matanya seakan-akan tak percaya.

“Suheng sudah yakinkah kau si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le yang melakukan perbuatan keji ini? Setahuku, Tiang Le adalah seorang pendekar yang mulia dan entah ada permusuhan apakah dengan supek sehingga ia melakukan pembunuhan ini?”

“Siapa tahu sute? Tiang Le berkepandaian tinggi, hemm, sayang aku hanya melihat sekelebatan saja. Yang jelas orang itu berlengan buntung, gin-kangnya sangat tinggi. Siapa lagi kalau bukan Sung Tiang Le?”

“Kita harus menyelidiki ini suheng. Sekarang marilah kita urus jenasah supek dulu, baru kita kemudian membicarakan tentang si Pendekar Lengan Buntung itu, kalau memang dia orangnya. Biar nanti kita menyerbu ke Tiang-pek-san!”

Demikianlah, Niang Pek Tojin dan murid-murid Hoa-san-pay mengadakan acara sembahyang dan berkabung atas kematian supek mereka! Niang Pek Tojin dan murid-muridnya bersembahyang di depan pondok. Hari itu adalah hari ketiga dimana peti hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.

Setelah mereka semua berlutut dan memasang hio sebagai penghormatan atas arwah supek Siang Siang Tojin, Niang Pek Tojin segera menggeser meja sembahyang dan memerintahkan kepada empat orang muridnya untuk mengangkat peti.

Tiba-tiba Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian berkata,

“Ada tamu datang!”

Niang Pek Tojin mengangguk-angguk karena kakek ini juga sudah tahu. Adapun murid-murid Hoa-san menoleh dan celingukan ke sana ke mari mencari-cari karena mereka belum melihat tamu yang dikatakan tadi oleh Ju Hian.

Baru saja mereka hendak bertanya, dari samping kiri berkelebat tiga bayangan dan sekejap kemudian tiga orang kakek berdiri di dekat samping pondok sambil tersenyum menyindir. Dan mengawasi meja sembahyang yang sudah dipindahkan ke sebelah kiri. Dan memandang peti mati.

“Hemm, tidak kusangka bahwa nama besar Hoa-san-pay begini pengecut, berani berbuat nggak berani bertanggung!” Su Tek Lay berkata mengejek dan hendak menghampiri peti mati.

Namun dua orang murid Hoa-san bergerak dan menghadangnya dan memandang dengan mata curiga, “Orang tua siapakah kau dan hendak berbuat apa di sini?”

“Aha, kaliau tidak kenal dengan kami. Begini sombongkah murid-murid Hoa-san-pay sehingga tidak mengenal kami?” Tek Lay menoleh ke arah Niang Pek Tojin.

“Maaf, kami sedang berkabung. Entah apakah Sam-wi ini hendak memberi penghormatan, atau sengaja hendak menghina……?” Niang Pek Tojin menjura.

“Aha, Niang Pek Toyu, apakah kau belum mengetahui kedatangan kami? Aku adalah Su Tek Lay, dari Thay-san-pay, dan dua orang sobat masing-masing dari Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay....... Kami hendak bertemu dengan Siang Siang Tojin dan minta keterangan mengapa orang tua itu berani lancang menculik ketua kami!” berkata Sun Tek Lay menatap tajam Niang Pek Tojin.

Dua orang tokah Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay tidak berkata apa-apa, akan tetapi mereka telah menggerakkan kedua tangannya dan bagaikan dua ekor burung mereka melayang ke atas, menginjak pecahan genteng dan mengintai ke dalam. Mereka mencari Siang Siang Tojin yang disangkanya bersembunyi di dalam pondok. Kemudian mereka kembali melayang ke bawah, gerakan mereka sangat ringan menunjukkan bahwa gin-kang ke dua orang kakek ini sudah mencapai tingkat tinggi.

Melihat kehebatan gin-kang kedua orang ini, diam-diam Niang Pek Tojin terkejut, demikian pula Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian. Menghadapi kedua orang kakek tokoh Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay mereka tidak takut, akan tetapi melihat gerakan itulah yang diperlihatkan oleh dua orang tadi benar-benar hebat sekali.

Niang Pek Tojin berdiri dan menjura ke arah ke tiga orang kakek yang baru datang itu,

“Selamat datang di puncak Hoa-san-pay, sam-wi bengyu (tiga orang sahabat). Pinto mengenal kalian sebagai tokoh-tokoh Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Bu-tong-pay yang terkenal. Akan tetapi sangat disesalkan sekali bahwa perbuatan sam-wi bengyu tidak memandang mata kepada Hoa-san-pay yang tengah berkabung malah telah merusak pondok. Ini merupakan suatu penghinaan dan…….”

“Ha-ha-ha.......” tokoh Bu-tong-pay Jin Jin Hoatsu tertawa bergelak dan matanya menyapu tempat itu. Akhirnya ia memandang kepada Niang Pek Taysu dengan mata mendelik.

“Setan! Kami yang menghina kalian ataukah kalian yang telah menghina kami. Berani mati menculik ketua partai besar Kun-lun-pay, Bu-tong-pay dan Thay-san-pay?”

“Kata-kata beng-yu seperti ngelindur, entah apakah kalian ini sudah miring otak sehingga memaki-maki Hoa-san-pay, kalau memang ada urusan penting katakanlah. Tak usah plintat-plintut seperti mulut perempuan!” Niang Pek Tojin berkata keras. Ia sangat tidak mengerti kata-kata ketiga orang ini.

Lung Nam Taysu maju ke depan dan menjura, “Selamanya Kun-lun-pay tidak pernah mempunyai permusuhan dengan Hoa-san-pay. Entah, Siang Siang Tojin pribadi. Ia telah datang ke Kun-lun dan dengan cara yang pengecut telah menculik ketua kami Hek Gan Taysu, hayo jawab!

“Mengapa Siang Siang Tojin sudah begitu pengecut dan berani mati, malah bukan ketua kami saja yang telah diculik, akan tetapi ketua Thay-san-pay, Bu-tong-pay juga sudah lenyap! Sungguh perbuatan yang berani dan tidak memandang mata dengan sahabat dunia persilatan!”

Tentu saja Niang Pek Tojin dan murid-murid Hoa-san-pay menjadi terkejut mendengar omongan tosu dari Kun-lun-pay ini. Dan mereka saling memandang heran.

Niang Pek Tojin yang merasa bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menimpah Hoa-san-pay melangkah maju dan berkata kepada tosu Kun-lun-pay ini:

“Sam-wi beng-yu, urusan tentang ketua kalian yang lenyap, sesungguhnya kami tidak tahu menahu……. maaf!”

“Apa? Tidak tahu……? Apakah kalian sekongkol dengan Siang Siang Tojin dan hendak menutup-nutupi perbuatannya yang jahat dan pengecut itu?!” Su Tek Lay maju ke depan dan memandang si tosu dengan pandangan tajam.

Niang Pek Tojin tertawa bergelak dengan lagak mengejek sekali, “Ha-ha-ha, kalian ini bertiga sedang bermimpi atau sedang miring otak. Bagaimana kalian menyangka supek kami yang melakukan perbuatan menculik ketua kalian dan.......”

“Lihat! jiwi cianpwe, betapa sombongnya orang Hoa-san-pay. Sudah berbuat tidak berani bertanggung jawab! Sungguh pengecut!” Jin Jin Hoatsu tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, tangannya bergerak tongkatnya berkelebat dan ia berdiri dengan sepasang tongkat hitam dan putih melintang di depan dada.

“Jin Jin beng-yu, kau selalu mengatakan bahwa Hoa-san-pay selalu bersikap pengecut. Pengecut apakah kami?”

“Setan! Sudah tahu ketuamu Siang Siang Tojin yang mengacau di puncak Kun-lun beberapa hari yang lalu dan kalian hendak bilang apakah?” Lung Nam Taysu mencela.

“Apakah beng-yu tidak salah duga?”

“Siapa lagi laki-laki lengan buntung kalau bukan Siang Siang Tojin!”

“Setan! Kau selalu menuduh supek berbuat kejahatan, apakah kau sengaja hendak mengacau di Hoa-san?” Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian berseru dan meloncat ke depan.

Saking mendongkolnya atas kedatangan ketiga orang tua yang rupanya sengaja hendak mengacau di Hoa-san dalam suasana perkabungan seperti ini Ju Hian yang biasanya penyabar kini berkata lagi:

“Suheng, tiga orang gila ini dengan sengaja mengacau hari perkabungan kita. Lekas bereskan agar mereka tidak mementang bacot yang tidak-tidak!”

Diejek demikian tokoh dari Thay-san-pay menjadi marah dan membentak.

“Bangsat kecil, kau rasakanlah pembalasanku!” bentaknya dan sepasang pedang iblisnya bergerak ganas menyerang Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian.

Jago pedang dari Hoa-san-pay ini tidak menjadi gentar dan menangkis dengan sepasang pedangnya pula. Terdengar suara nyaring dan bunga api bertebaran ketika dua senjata bertemu.

Sebentar saja mereka sudah saling terjang dan ternyata ke dua-duanya itu adalah ahli dalam memainkan sepasang pedang. Sudah barang tentu, karena tokoh Hoa-san-pay ini dijuluki Hoa-san Siang-sin-kiam dan tentunya permainan sepasang pedang saktinya demikian kuat dan luar biasa.

Sebaliknya lawannya pun disebut Siang-mo-kiam Su Tek Lay, sepasang pedang yang tak kalah hebatnya dari sepasang pedang sakti Lim Ju Hian. Hanya dalam hal tenaga Ju Hian menang setingkat, dan ini dibuktikan dari benturan kedua senjata yang telah membuat tangan Su Tek Lay tergetar dan beberapa kali hampir saja sepasang pedangnya terlepas.

Namun demikian dalam jurus-jurus ilmu silat tokoh Thay-san-pay ini tidak kalah lihainya. Pedangnya berkelebat cepat dan ganas merupakan sepasang naga yang berebut mustika yang saling dulu menyambar-nyambar dengan dahsyat.

Serangan-serangan sepasang pedang iblis itu amat aneh, memang sumber ilmu pedang dari Thay-san-pay ini agak sedikit ganas, sebab ia langsung dididik oleh seorang tokoh hitam bernama Thian Te Siang-mo. Akan tetapi setelah orang tua sakti itu meninggal, Thay-san-pay dipimpin oleh Bu Beng Cu dan mendapat kemajuan pesat.

Namun demikian ilmu pedang mereka tetap saja ganas dan keji karena bersumber dari ciptaan Thian Te Siang-mo yang luar biasa. Baru setelah Bu Beng Cu mengangkat diri menjadi ketua, sumber pedang ini agak dirubah dan diberi nama Thay-san Siang-sin-kiam-hoat Sepasang Pedang Sakti dari Thay-san-pay!

Melihat betapa sutenya sudah bergebrak dan bertempur seru dengan tokoh dari Thay-san-pay ini, Niang Pek Tojin maju dan menghampiri Lung Nam Taysu, membentak,

“Kalian betul-betul keras kepala! Tidak menghormati perkabungan orang. Supek Siang Siang Tojin sudah meninggal, sekarang kalian mau apa?!”

“Bagus, kalau memang Siang Siang Tojin sudah meninggal coba kuperiksa peti matinya. Jangan-jangan dia hanya bersembunyi dan takut mempertanggung jawabkan perbuatannya!”

Lung Nam Taysu maju menghampiri peti. Tangannya bergerak hendak membuka peti mati itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu Niang Pek Tojin dan ke duapuluh lima murid-murid Hoa-san sudah mengurungnya dengan pedang di tangan.

“Siapapun orangnya, tidak diperkenankan membuka peti mati ini!” suara Niang Pek Tojin terdengar tergetar menahan gelora hatinya yang meledak menahan amarah!

Melihat sikap tosu ini dan murid-muridnya yang mengurungnya dengan pedang ditangan, Lung Nam Taysu tertawa mengejek:

“Ha-ha-ha bagus!” Hari ini Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay merupakan musuh besar. Aku harus membasmi sampai keakar-akarnya!”

“Suhu biar teecu hajar tosu berengsek ini!” seorang anak murid Hoa-san-pay yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi mencelat maju dan menggerakkan pedangnya.

Suara pedang berdesing keras, Lung Nam Taysu tertawa keras, dan mengelak dari sambaran pedang itu dan membalas dengan sebuah dorongan jarak jauh setengah dan membentak,

“Robohlah kau!” bentakan ini disusul dengan bergeraknya kedua tangan mendorong ke muka.

Terdengar jeritan kaget dari orang Hoa-san-pay yang menyerangnya itu. Ia tidak sangka tosu ini dapat mengirim pukulan demikian cepatnya.

Melihat datangnya hawa pukulan yang demikian kuat dan menimbulkan hawa panas segera ia mencelat ke kiri membuang diri dan menghindarkan pukulan jarak jauh si tosu. Namun rupanya Lung Nam Taysu tidak hanya sampai bergebrak di situ, tiba-tiba kakinya mengirim tendangan berantai dan sebuah tendangan ketiga tepat mengenai lambung murid Hoa-san-pay.

“Bukk!” Murid Hoa-san-pay itu terlempar jauh dan menggeliat di tanah.

Perutnya dirasakan sakit bukan main, namun ia telah dapat berdiri dan menggerakkan pedang. Dengan pedangnya yang masih dipegang di tangan kanannya itu ia hendak menyerang lagi!

Tiba-tiba tubuhnya terhenti di tengah serangan ini karena lengan kanannya dipegang orang dari belakang. Pegangan yang amat kuat dan membuatnya tidak berdaya.

“Pek Sin, minggir kau! Biar pinto yang herkenalan dengan tokoh Kun-lun-pay ini!” Ternyata Niang Pek Tojin yang mencegatnya.

Diam-diam ia menarik napas lega. Tadinyapun ia telah merasa bahwa ia bukan tandingan tosu Kun-lun-pay ini dan kini biarpun ia mengundurkan diri, ia bersiap-siap dengan pedang di tangan yang suatu ketika pasti bergebrak apabila ketua mereka berada dalam keadaan gawat di tangan tosu ini!

“Orang tua Kun-lun-pay, ketahuilah bahwa hari ini Hoa-san-pay tengah mengadakan perkabungan oleh sebab kematian supek kami Siang Siang Tojin. akan tetapi karena kalian mendesak kami terpaksa kami melupakan hubungan baik dengan Hek Gan Taysu di Kun-lun dan melayani kalian, majulah!”

“Bagus! Terimalah ini!” Lung Nam Taysu sudah mengirimkan serangan dahsyat dan pedangnya bertubi-tubi mengirimkan tusukan yang cukup hebat. Namun jago Hoa-san ini bukanlah orang sembarangan, ia adalah murid pertama dari Siang Siang Tojin, ilmu pedangnya sangat kuat dan berisi.

Tentu saja ia dapat mengimbangi orang pertama dari Kun-lun Sam-lo-jin ini. Dan malah ia telah mulai melancarkan serangan-serangan balasan yang tak kalah ganasnya.

Pada saat itu terdengar suara pedang beradu, bunga api berpijar di udara dan bersamaan dengan itu terdengar pekikan mengerikan. Ternyata Jin Jin Hoatsu sudah bergebrak dan dikeroyok oleh ke duapuluh lima murid-murid Hoa-san-pay. Tentu saja menghadapi tokoh Bu-tong-pay yang lihai ini, sebentar murid-murid Hoa-san-pay pada roboh oleh sebab permainan tongkat yang luar biasa hebatnya.

Perlu diketahui bahwa semenjak Tiong Gi Tojin meninggal dunia, partai Hoa-san ini menjadi banyak kehilangan murid oleh sebab dalam pimpinan Siang Siang Tojin, ia hanya membatasi menerima murid, malah banyak pula murid-murid Hoa-san-pay yang bertebaran dimana-mana segan untuk kembali ke puncak.

Ada lebih seratus murid Hoa-san-pay yang bertebaran di daerah-daerah menjadi piauw-su, nelayan dan penduduk biasa. Sehingga sekarang di Hoa-san ini menjadi sepi, murid-murid tinggal duapuluh lima orang saja. Itupun tidak begitu lihai, sebab Siang Siang Tojin segan sudah melatih mereka, sehingga Hoa-san-pay menjadi partai yang lemah dan tidak ada semangat.

Dan sebentar saja ke duapuluh lima murid Hoa-san-pay ini sudah menggeletak mandi darah dalam amukan tongkat tokoh Bu-tong-pay. Beberapa orang lagi yang masih kuat berjalan malarikan diri, akan tetapi banyak pula yang mati.

Melihat ini Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian menjadi marah. Ia menjadi nekad dan mengamuk melawan tokoh Thay-san-pay ini, sepasang pedangnya berkelebat ganas. Lebih seratus jurus mereka bertempur, namun mereka belum juga ada yang kalah, mereka sama-sama tangguh, sama-sama lihai!

Sebuah guntur menyambar. Tidak mereka sadari udara di atas gelap menutupi mereka. Hujan turun dengan lebatnya. Suasana di puncak Hoa-san-pay agak remang-remang.

Pada ketika itu, terdengar suara mengakak keras dan di atas ketinggian batu gunung berkelebat sesosok tubuh dan langsung saja ia menyambar Ju Hian dan Tek Lay, begitu tangannya bergerak. Bagaikan sebuah kilat menyambar tubuh ke dua orang yang tengah bertempur itu terlempar jauh dan mati seketika.

“Ha-ha-ha, Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay saling cakar-cakaran, Bu-tong-pay tidak lama lagi akan mengalami kehancuran di tangan Thay-san-pay, ha-ha-ha-ha-ha!” suara yang keras ini amat menyeramkan.

Tidak begitu jelas orang itu. Hanya nampak rambutnya panjang riap-riapan menutupi mukanya, pakaiannya hitam sudah basah oleh air hujan, hanya nampak lengan sebelah kanan yang buntung sebatas pundak.

Mendengar suara ini, Lung Nam Taysu dan Niang Pek Tojin menghentikan gerakan serangannya. Jin Jin Hoatsu juga memandang terbelalak. Mereka seakan-akan melihat setan.

Orang buntung lengannya itu tidak begitu jelas, karena ditutupi oleh rambut yang riap-riapan panjang. Tubuhnya agak pendek. Kurus kering dan menyeramkan!

“Setan dedemit, siapakah kau?” kata Niang Pek Tojin bertanya sambil maju selangkah. Pada saat itu hampir berbareng, Jin Jin Hoatsu dan Lung Nam Taysu memandang terbelalak dan berkata,

“Dia…… dia bukan Tiang Le, dia....... dia yang membunuh supek Siang Siang Tojin……..”

“Betul dia inilah orangnya yang membawa ketua Bu-tong-pay, dan Kun-lun-pay….... dan…… Thay-san-pay!”

“Ha-ha-ha! Kalian orang-orang goblok! Akan tetapi kami tidak akan membunuh kalian…… ha-ha-ha!”

“Setan, jangan berlagak di Hoa-san-pay!” Pedang Niang Pek Tojin berdesing menyambar tubuh orang itu.

Diikuti gerakan sepasang pedang dari tongkat hitam dan putih dari tokoh Bu-tong-pay, Jin Jin Hoatsu, berbareng berdesing pula pedang di tangan Lung Nam Taysu. Suara desingan pedang menyambar-nyambar dari ke tiga penjuru.

Beberapa menit kemudian orang aneh itu mencelat ke kiri. Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh ketiga orang tokoh Hoa-san-pay, Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay. Suara itu kedengaran seperti geluduk, karena datangnya dari angkasa.

“Bok Beng Cu, habisi saja orang-orang itu. Tak guna untuk dibawa ke Istana!”

Habis suara itu bergema, tahu-tahu orang aneh itu mainkan silatnya luar biasa dan dalam bebarapa gebrakan saja ke tiga tokoh dari Bu-tong-pay, Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay sudah menggeletak mandi darah.

Terdengar suara bergelak lama. Seperti suara iblis yang bergemuruh menyaingi datangnya petir berkilat di udara. Kemudian sekali menggoyangkan tubuhnya, orang aneh itu telah lenyap dan hanya terdengar suara ketawanya saja mengakak seperti burung hantu.

Udara bertambah gelap. Angin dingin bertiup dengan kerasnya.

Tiba-tiba terdengar ledakan keras dan tahu-tahu dari dalam peti mati itu keluar sesosok tubuh yang kurus kering, berjalan perlahan melangkahi mayat-mayat orang Hoa-san-pay yang sudah mati. Ia menggumam sendiri:

“Awas kau! Siluman-siluman Istana Hantu, awas kau Bok Beng Cu akan datang masanya Siang Siang Tojin menghancurkan Istana kalian!”

Siang Siang Tojin berjalan perlahan, kilat dan petir menerangi tempat itu. Sementara hujan turun dengan derasnya membanjiri puncak Hoa-san-pay!

Sunyi dan sunyi.

◄Y►

Sesosok tubuh seorang kakek tua kurus kering yang berambut riap-riapan berjongkok dan mengangkat sebuah tubuh Lung Nam Taysu yang sudah pingsan. Darah merah menodai jubahnya. Wajah tosu itu pucat dan sekarat hendak mati.

Orang aneh itu membawanya dan sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah lenyap dari puncak Hoa-san dan berlari cepat menuju Kun-lun-san. Amat cepat sekali bayangan orang ini berkelebat, sehingga menjelang tengah hari mereka memondong tubuh Lung Nam Taysu, sampailah ia di kaki bukit Kun-lun-san. Pada waktu itu udara sudah gelap hampir menjelang malam, burung-burung beterbangan di atas.

Kakek rambut riap-riapan itu meletakkan tubuh Lung Nam Taysu di dekat sebuah batu besar di kaki bukit Kun-lun-san. Pada sebuah batu yang besar, ia menggoreskan huruf-huruf yang berbunyi demikian:

“Kalau ada nyali dan hendak membalas dendam dan mencari Hek Gan Taysu, datanglah ke puncak Tiang-pek-san.

Sung Tiang Le sedang menanti!”

Sesudah menulis huruf-huruf demikian, kakek itu menggerakkan tangannya menotok kepala Lung Nam Taysu. Setelah berbuat demikian ia berkelebat lenyap dan meninggalkan tubuh Lung Nam Taysu yang pingsan.

Malam mengembangkan sayapnya.

Udara di kaki bukit Kun-lun-san hitam pekat. Lolongan anjing hutan terdengar dari kejauhan. Angin malam amat kencangnya. Suara kentongan malam terdengar tiga kali, menandakan waktu sudah hampir menjelang pagi.

Dari arah selatan dua dua orang murid Kun-lun-pay yang meronda sampai ke kaki bukit nampak berjalan dengan membawa lui-teng di tangan. Cahaya lampu menerangi jalan. Tiba-tiba seseorang yang kelihatannya mempunyai roman muka lonjong dan pucat nampak lebih pucat lagi waktu ia melihat sesosok tubuh menggeletak di dekat batu besar.

“Twako…… lihat, bukankah itu It-suheng....... eh, mengapa ia ada di sini?”

“Benar itu suheng Lung Nam Taysu, cepat lote, ia kelihatannya tidak sadarkan diri!” berkata pula orang kedua yang memegang lui-teng menghampiri tubuh Lung Nam Taysu dan terus saja dipondong oleh si muka pucat menaiki puncak.

Untuk yang kedua kali gemparlah tokoh-tokoh di Kun-lun-san. Mereka cepat memeriksa luka di dalam dada Lung Nam Taysu dan diberinya obat. Dua orang termuda dari Kun-lun-sam-lo-jin bertanya kepada dua orang yang menemukan tubuh Lung Nam Taysu,

“Jiwi lote, di manakah kalian temukan suheng Lung Nam Taysu?”

“Di kaki bukit Kun-lun-san. Siauwte dapatkan It-suheng sudah pingsan, entah siapa yang melakukan perbuatan ini!”

“Hayo kau antarkan aku ke tempat itu,” berkata Hay San Taysu tosu tinggi besar yang bersenjata toya.

Belum lagi ke dua orang murid Kun-lun-pay menjawab, Hay San Taysu sudah berkelebat lenyap dan menuruni puncak dengan diikuti oleh murid-murid Kun-lun-pay.

Mereka berlari cepat menuruni puncak.

Ketika itu hari sudah menjelang pagi. Matahari membersit hangat dari punggung bukit dan menampakkan sinarnya yang kemerah-merahan, laksana tebaran cahaya kemerahan yang melingkar-lingkar. Di sepanjang kaki bukit udara sudah mulai nampak terang oleh sinar matahari pagi yang cerah.

Ke lima orang tosu Kun-lun-pay itu berhenti di sebuah batu besar yang terdapat tulisan coret moret yang dikerahkan oleh tenaga lweekang tinggi. Nampak tulisan itu sebesar telunjuk jari yang ditekankan pada batu hitam itu. Dari cara ini saja mudah diduga betapa tinggi lweekang si penulis pada batu ini.

Akan tetapi yang membuat Hay San Taysu merah mukanya adalah membaca tulisan yang berbunyi demikian: “Kalau ada nyali dan hendak membalas dendam dan mencari Hek Gan Taysu, datanglah ke puncak Tiang-pek-¬san. Sung Tian Le sedang menanti!”

Hebat sekali bunyi tantangan ini, membuat darah di dada Hay San Taysu dan murid-murid Kun-lun-pay yang lainnya berdebar-debar menahan amarah.

“Si Pendekar Lengan Buntung? Benarlah dugaan kita, siapa lagi kalau bukan dia?”

“Laporkan kepada sucouw Cin Cin Taysu, lekas!” berkata demikian dua orang Kun-lun-sam-lo-jin sudah mencelat dan mendaki puncak Kun-lun-san, sedangkan murid-murid yang lain membawa batu hitam yang bertulisan itu untuk dihadapkan kepada Cin Cin Taysu.

Mendengar laporan ini hampir saja Cin Cin Taysu tidak percaya, kalau saja tidak melihat tulisan yang tertera pada batu hitam itu. Ia menatap tajam ke arah Lung Nam Taysu yang sudah sadar diri, akan tetapi belum pulih benar kesehatannya!

“Lung Nam ceritakanlah apa yang terjadi atas kunjunganmu ke Hoa-san-pay dan bagaimana dengan saudara-saudara dari Thay-san-pay dan Bu-tong-pay!”

Lung Nam Taysu berlutut dan berkata:

“Ampunkan teecu sucouw, sesungguhnya entah bagaimana teecu tidak ingat lagi akan peristiwa kejadian itu, teccu merasa diri teecu dipondong oleh seorang tua yang lengannya buntung dan berambut riap-riapan....... Ia sudah membunuh Jin Jin Hoatsu, Niang Pek Tojin dan Su Tek Lay. Selanjutnya teecu tidak mengetahui lagi!”

“Apakah mungkin Tiang Le yang memondongmu?” tanya lagi Cin Cin Taysu.

“Rasanya....... begitulah sucouw….. teecu....... teecu rasa Sung Tiang Le itulah yang berbuat.”