-->

Istana Hantu Jilid 05

Jilid 05

“Pendeta sialan, lekas serahkan kitab dan pedang!” Bu-tek Sianli yang tidak sabaran telah mengelebatkan tongkatnya menghantam kepala si kakek botak yang memakai anting pada telinganya. Akan tetapi tongkat itu telah ditangkis oleh Nakayarinta dengan tongkat ular cobranya.

“Sianli, nanti dulu! Biar kita bicara baik-baik. Seorang tamu tidak boleh berlaku kurang ajar dan tidak sopan kepada tuan rumah!” Nakayarinta mencegahnya sehingga Nenek itu mencelat mundur kembali dengan mengeluarkan suara mengejek.

Pada saat itu dari bawah puncak mendaki serombongan pengemis yang berikat pinggang sutera merah di pinggangnya. Bu-tek Sianli mengerutkan keningnya melihat kedatangan rombongan Ang-kin-kay-pang ini, nampak di tengah-tengah rombongan Can lo-kay berjalan dengan gagahnya.

Tak lama kemudian dari sebelah kiri bermunculan pula orang-orang gagah dari pulau sinar emas. Itulah rombongan Kim-kong-pay yang sudah tiba di tempat itu di bawah pimpinan Kiang Sun Hi dan Yap Sian Eng berjalan berdampingan dengan gagah.

Tak lama kemudian, dari balik batu muncul pula orang-orang gagah yang tak lain adalah Koay Lojin, Cui-sian Kong Sin Kek, dan tak ketinggalan pula si raja obat she Lo dengan didampingi oleh sahabatnya Kwa-sinshe, sedangkan di belakang mereka nampak dua orang muda, Lo Siauw Yang dan Go Sin Thong. Sedangkan dari sebelah kiri tidak ketinggalan muncul pula Pek-pek Hoatsu bersama muridnya Hay-tok Lhama, yang terus saja menghampiri rombongan Bu-tek Sianli.

“Celaka, benar-benar puncak Thay-san sudah dikurung oleh orang-orang kang-ouw yang rakus akan pedang dan kitab….. Sayang…... sayang mengorbankan nyawa hanya untuk barang-barang mati,” si kakek muka pucat berkata sinis.

“Ha-ha-ha Thay-san Sam-lo-jin, siapa bilang pedang dan kitab adalah benda mati. Semua orang tentu menghendaki barang itu, yang menghidupkan semangat dan kekuatan untuk menjagoi dunia persilatan....... ha-ha-ha,” Koay Lojin melirik ke kanan kiri dan suara tertawanya keras sekali.

“Hayaa, si tua dari Fu-niu-san juga tidak ketinggalan. Eh, Koay Lojin..... apakah kau pun ke puncak ini hendak mencari pedang dan kitab?”

“Tentu saja kalau berjodoh denganku. Siapa sih orangnya yang tidak lapar akan pusaka Sui-kek Siansu?”

“Sudah yakin kau pusaka peninggalan Sui-kek Siansu berada di puncak ini?” tanya lagi si kakek muka pucat.

“Begitulah kata orang!” Koay Lojin menyahut dan menoleh ke arah Bu-tek Sianli dan rombongannya. “Bukankah merekapun hendak mencari pusaka itu?”

“Ahh, kalian ini memang hendak membikin pusing kami saja, pergilah!” kakek muka bundar yang bertubuh gemuk itu menggoyang-goyangkan tangannya. Dan angin puyuh berputaran menyerang rombongan Koay Lojin dan Bu-tek Sianli.

“Lihai.......!” Koay Lojin memuji sambil mengangkat tangan pula membalas mendorong. Ia merasa tangannya kesemutan terbentur angin yang diputar-putar oleh si kakek muka bundar itu sedangkan beberapa orang yang tidak mempunyai kepandaian tinggi terjengkang ke belakang membuat untuk beberapa lama napasnya menjadi sesak dan sukar bernapas.

“Hebat!” Bu-tek Sianli juga memuji merasakan putaran tenaga angin yang keluar dari putaran tangan si muka bundar itu. Ia mencelat ke belakang dan membiarkan Nakayarinta maju ke depan.

“Thay-san Sam-lo-jin, kalian terlalu. Kami datang secara baik-baik. Nggak tahunya kalian sudah begini tak tahu sopan menyerang tamu-tamu yang berkunjung. Hemm, pantaskah perbuatan kalian? Biarlah aku yang mencobanya!”

Tangan kiri Nakayarinta bergerak seperti orang menunjuk, akan tetapi hebat bukan main. Dari telunjuk itu tiba-tiba memancar sinar merah.

Amat cepat sekali sinar itu menyerang si kakek muka pucat yang tengah meramkan matanya. Sehingga merasakan benda halus menyambarnya, segera saja ia menyampok dengan kebutan ujung bajunya.

Akan tetapi, sungguh luar biasa, benda itu demikian halus dan hampir tak mengeluarkan suara. Dua buah jarum yang bernama Ang-tok-ciam telah menyentuh kepala botak si kakek muka pucat, dan mukanya bertambah merah. Rasa panas seperti api dibakar di kepala kakek muka pucat ini menjerit dan menubruk Nakayarinta.

“Sute.......jangan.......!” akan tetapi teriakan si muka hitam yang seperti ji-lay-hud itu terlambat, karena si muka pucat sudah menerjangnya dengan serudukkan kepala ke arah perut Nakayarinta. Pendeta dari Anapura tertawa mengakak dan mengangkat tangannya.

“Prrakk!” Hancurlah kepala si muka pucat.

Akan tetapi Nakayarinta juga berteriak kaget merasakan tangannya yang memukul kepala tadi sudah berwarna merah pula. Cepat-cepat ia merogoh sakunya dan memupuri bubuk yang berwarna merah di tangannya.

“Lihay……..!”

“Nakayarinta kau sudah membunuh sute. Rasakanlah pembalasanku!” teriak si muka ji-lay-hud dan menggerakkan penggadanya menyerang Nakayarinta. Suara angin berciutan keras waktu penggada yang berat itu menyambar.

Bersamaan dengan bergebraknya kakek muka ji-lay-hud itu, Bu-tek Sianli juga sudah menerjang maju dan mengeroyok kakek yang memakai anting besar pada telinganya.

Sungguh hebat sekali pertandingan ini, Si kakek muka ji-lay-hud melawan Nakayarinta pertapa sakti dari Anapurna.

Kepandaian mereka rupanya berimbang. Tentu saja kakek yang berwajah seperti ji-lay-hud ini, bukan sembarang orang. Ia itu adalah pelayan-pelayan dari Sui-kek Siansu dan mempunyai kepandaian yang cukup hebat.

Namanya Bun Kong Sian sedangkan sute mereka yang sudah meninggal tadi adalah adik seperguruan dari Kong Sian bernama Ji Siang Hok, dan yang tengah dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan tiga orang temannya adalah Lauw Sui Kiat. Ketiga orang kakek kepala botak ini adalah pelayan-pelayan Sui-kek Siansu pada limapuluh tahun yang lalu.

Mereka pernah menerima latihan silat sambilan dari kakek sakti ini sehingga walaupun hanya latihan sambilan namun kepandaian mereka cukup tinggi dan duapuluh tahun yang lalu ketiga orang ini mendapat julukan Thay-san Sam-lo-jin atau tiga kakek aneh dari gunung Thay-san.

Tentu saja mengahadapi keroyokan secara pengecut, Ji Sian Kok terdesak hebat. Kalau saja Bu-tek Sianli sendiri yang menghadapi kakek ini, belum tentu dia dapat menangkan Siang Hok akan tetapi kali ini Bu-tek Sianli berlaku pengecut dan mengajak Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo untuk mengeroyoknya, sehingga ia menjadi kewalahan bukan main.

Apalagi ia mendengar suara jeritan ngeri waktu suhengnya Bun Kong Sian yang terhantam tongkat dari Nakayarinta dan pada saat itu juga mati dengan kepala pecah dan otak berhamburan oleh pukulan tongkat ular pertapa yang sakti itu. Kini Siang Hok tahu dirinya tak dapat lolos, maka ia mengeluarkan ilmu pedang yang sebagian ia pernah terima dari Sui-kek Siansu. Begitu pedang itu berkelebat, dalam waktu sepuluh jurus Bu-tek Sianli dan Thay-lek-hui-mo mencelat mundur dan memegangi lengannya yang terluka terserempet pedang.

“Lihai……. ilmu pedang apa itu?” bisik Thay-lek-hui-mo.

“Itulah ilmu pedang Thian-te Bu-tek-cin-keng….. he he dia inilah rupanya ahli warisnya. Tawan dia….. ha-ha-ha,” Nakayarinta tertawa, bergerak dan menubruk maju dengan sepasang tangannya.

Pada ketika itu Kwan-tiong Tok-ong juga sudah maju dengan sepasang tangan buatannya menyambar-nyambar mencakar pundak Siang Hok. Pada saat itu Siang Hok mainkan jurus Membabat Rumput Menggali Lubang dan pedangnya dengan aneh sekali berkelebat dan saking cepatnya jurus gerakan ini, membuat si Raja Racun menarik kembali lengannya dan mencelat ke belakang, pada saat itulah pukulan Nakayarinta bersarang di dadanya!

“Duk.......!” Sepasang lengan Nakayarinta dipukulkan ke dada Ji Siang Hok menghantam pundak tokoh Thay-san ini sehingga ia terjengkang roboh.

Pada saat itulah sesosok tubuh berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu tubuh Siang Hok telah lenyap dari hadapan Nakayarinta dan orang orang yang mengurungnya.

“Kejar. Si Pendekar Lengan Buntung muncul,” berkata Thay-lek-hui-mo yang bermata tajam dan yang melihat berkelebatnya bayangan yang demikian cepat akan tetapi berlengan buntung.

Nakayarinta menggeram dan menggerakkan tubuhnya mencelat jauh dengan diikuti oleh banyak tokoh-tokoh yang mengejarnya, namun bayangan Tiang Le sudah tak nampak lagi batang hidungnya. Mereka terheran-heran dan mencari-cari Pendekar Lengan Buntung.

Kemanakah perginya Tiang Le?

Tentu saja mereka tak pernah bermimpi bahwa Tiang Le pada saat itu berada di tepi jurang. Dengan menggunakan ilmu cecak merayap di dinding, Tiang Le berhasil menempelkan tubuhnya di pinggiran tebing dan berkata kepada Ji Siang Hok,

“Locianpwee, harap kau serahkan kitab dan pedang Sui-kek Siansu. Berbahaya sekali kalau pusaka itu terjatuh ke dalam tangan Nakayarinta dan tokoh-tokoh kaum hek-to. Lebih baik kau serahkan kepada siauwte,” Tiang Le berbisik di dekat telinga Ji Siang Hok.

“Kau siapa,.......hmm, lenganmu buntung. Apakah kau Pendekar Lengan Buntung yang kesohor itu?”

“Betul Locianpwe……. siauwte yang muda dan bodoh dijuluki pendekar lengan buntung nama siauwte Sung Tiang Le,” sahut Tiang Le menahan tubuh Ji Siang Hok.”

“Ahh, kaupun menghendaki kitab dan pedang itu?”

“Tidak Locianpwe, hanya semata-mata siauwte hendak mengamankan benda itu agar tidak terjatuh ke dalam tangan orang jahat.”

“Kau betul Tiang Le sicu, akupun seandainya mendapatkan pusaka Sui-kek Siansu itu hendak melenyapkan benda yang sedang diperebutkan oleh anjing-anjing kelaparan di atas itu. Akan tetapi sayang aku sendiri tidak pernah tahu menahu tentang kitab dan pedang!” kata Siang Hok serius dan menatap Tiang Le dengan sungguh-sungguh.

“Ahh.......jadi, locianpwee ini tidak tahu tentang kitab dan pedang. Akan tetapi tadi siauwte lihat locianpwee ini memainkan ilmu silat Sui-kek Siansu, bukankah tadi jurus-jurus Thian-te Bu-tek-cin-keng?”

“Memang aku pernah menerima satu-dua jurus dari Sui-kek Siansu, karena aku dulu adalah pelayan-pelayan dari Sui-kek Siansu! Tentang pedang dan kitab, sungguh mati aku tidak pernah tahu! Sebenarnya sudah puluhan tahun Sui-kek Siansu meninggalkan kami dan kami sendiri tidak tahu entah hidup, entah mati manusia itu?”

“Akan tetapi mengapa para locianpwee di atas itu datang ke puncak hendak memperebutkan pedang dan kitab?”

“Mereka itu...... ahh, tidak tahu aku siapa gerangan yang membuat desas-desus ini sehingga mereka pada datang ke puncak. Jangan-jangan mereka itu hendak mengadu domba di antara orang-orang gagah untuk memperebutkan kitab dan pedang. Tiang Le biarlah aku ke atas dan menjelaskan ini kepada orang-orang gagah!”

“Jangan locianpwe, jiwamu terancam. Mereka menyangka kau sudah mendapatkan kitab itu melihat gerakan ilmu silatmu!”

“Aku tidak takut, aku harus menghadapinya. Seorang gagah demi kebenaran dan keadilan tidak takut mati!” berkata demikian kakek ini mencelat ke atas dan telah berdiri di tepi jurang.

“Bagus! Kau serahkanlah kitab dan pedang,” Nakayarinta memburu ke arah kakek itu dan diikuti oleh banyak orang mengelilingi tepi jurang.

Ji Siang Hok merangkapkan ke dua tangannya dan berkata keras, “Cuwi sekalian, terus terang saja pusaka Sui-kek Siansu tidak ada di sini. Harap cuwi percaya akan kata-kataku dan tidak mendesakku terus!”

“Ha-ha-ha, siapa yang tidak tahu bahwa kitab itu berada di tanganmu. Cepatlah berikan kepadaku, jangan sampai aku naik darah!” Bu-tek Sianli memaki sambil mengelebatkan tongkatnya

“Bu-tek Sianli, kau ini dimana saja selalu membuat onar. Kitab dan pedang tidak ada di sini kau mau apa?”

“Kau benar-benar sudah bosan hidup Ji Siang Hok. Apa kau tidak memandang mata akan tokoh-tokoh Kang-ouw yang sudah ke tempat ini untuk melihat pusaka itu. Lebih baik nggak cerewet dan serahkan kitab itu kepada kami, baru kami akan turun gunung dengan damai!” Koay Lojin juga berkata dan maju ke depan.

“Bohong belaka berita itu!” kata Ji Siang Hok.

“Tidak ada apa-apa di sini dan terus terang saja kami sendiripun tidak tahu apakah betul-betul ada pusaka itu. Kalaupun ada bukan diperuntukkan seorang di antara cuwi, bahkan kami sendiripun memilikinya!”

“Berani kau bersumpah bahwa pusaka itu tidak berada di tanganmu!” tanya seorang gendut pendek, murid Kim-kong-pay.

Ji Siang Hok memandangnya dengan mata mendelik. “Aku tidak bisa bersumpah, juga tidak biasa membohong, harap para locianpwe tidak mengotori puncak dengan niat yang bukan-bukan ini sambil berkata demikian Ji Siang Hok menghunus pedangnya.

Nakayarinta tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak, ia telah memegang tongkat ular cobra yang sudah dikeringkan. Mengerikan sekali keadaan kakek muka hitam ini, dengan tongkat ular cobra di tangan ia menggoyang-goyangkan tubuhnya dan berkata keras,

“Cuwi sekalian. Sudah terang bahwa Sui-kek Siansu meninggalkan pusaka, dan kalau pusaka itu tidak diwariskan kepada Thay-san-sam-lojin, berarti siapapun yang mendapatkan pusaka itu berarti menjadi ahli warisnya pula dan ia berhak menjagoi dunia persilatan.

“Sekarang karena dia nggak mau mengaku, biar kubereskan saja dan setelah itu kita berlumba siapa yang berjodoh mendapatkan pedang dan kitab Sui-kek Siansu ha-ha-ha!”

Suara ketawa dari Nakayarinta terdengar sampai jauh dan menyakitkan telinga.

Tiba-tiba suara ketawa ini dijawab oleh suara lain, suara yang keras sekali, yang mengatasi suara ketawa Nakayarinta dan tahu-tahu berkelebat bayangan yang cepat luar biasa, terbang di atas kepala mereka. Itulah seekor burung garuda yang indah dan kuat, dan di atasnya pada punggung garuda itu duduk seorang anak lelaki kepala botak yang melongokkan kepalanya ke bawah:

“Ayah, biar anakmu menggeledah di sekitar puncak ini siapa tahu Thay-san-sam-lojin menyembunyikan pedang dan kitab itu!”

“Anak setan. tidak boleh kau mengotori puncak!” Ji Siang Hok mendorongkan tangannya ke atas dan bulu-bulu burung garuda rontok terhantam pukulan jarak jauh dari sepasang tangan Siang Hok.

“Duk!” Untuk yang kedua kali burung garuda itu menggelepar miring-miring terhantam pukulan yang dahsyat.

Kwan-tiong Tok-ong marah dan sambil berteriak keras ia telah mengeluarkan sepasang senjata tangan yang disebut cap-tok-mo-jiauw (sepuluh cakar setan beracun) dan tanpa memberi peringatan lagi, tahu-tahu sepasang tangan itu terbang dan mencakar pundak Siang Hok.

Terdengar jeritan ngeri dari kakek itu yang tak dapat menghindarkan lagi serangan dari Kwan-tiong Tok-ong yang lihai itu. Keruan saja ia roboh dengan tubuh hangus terkena racun hitam itu.

Cuma sebentar kakek itu berkelojotan kemudian ia menghembuskan napasnya dengan mata mendelik dan seluruh muka menjadi hitam seperti pantat kuali, dari mulutnya mengalir darah hitam. Inilah kelihaian senjata Kwan-tiong tok-ong yang disebut cap-tok-mo-jiauw atau sepuluh cakar setan beracun!

Bersamaan dengan matinya Ji Siang Hok, tiba-tiba puncak Thay-san menjadi gelap. Angin keras bertiup dengan sangat kencangnya dan geledek menggelegar-gelegar memecah bumi. Suara kilat berkeredep saling sambung menyambung dan kemudian sebentar itu pula hujan turun dengan derasnya. Tanah-tanah di atas puncak menjadi longsor.

Sungguh suatu kejadian yang aneh dan mangerikan. Tokoh-tokoh kang-ouw yang tiba di tempat itu otomatis melihat suasana yang tidak menyenangkan ini menjadi membatalkan niatnya, dan turun gunung. Suara angin yang keras itu menumbangkan pohon-pohon yang besar sehingga terdengar sangat gaduh sekali.

Dalam suasana hujan lebat seperti ini manusia manakah yang begitu gila untuk terus tinggal di atas puncak yang dingin dan berbahaya sekali. Jalan-jalan tertutup kabut.

Sesungguhnyalah bahwa kitab dan pedang tidak diketemukan oleh orang-orang yang semula mendaki puncak. Hanya tiga sosok mayat itulah yang kemudian terbawa arus air hujan dan kemudian digulung oleh lumpur tanah longsor dan tertimbun sehingga tidak meninggalkan bekas.

Dalam kegelapan itu berkelebat banyak bayangan menuruni puncak. Nampak di antaranya Tiang Le dan Bwe Lan berkelebat cepat kembali ke Tiang-pek-san.

Hatinya menjadi kecewa dan sedih melihat tiga orang kakek penghuni Thay-san telah meninggal gara-gara hanya sebuah kitab dan pedang yang sesungguhnya tidak berada di tempat itu. Ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena tak mau memperlihatkan diri dihadapan Bu-tek Sianli yang ia tahu tentu sangat memusuhi dirinya.

Tujuannya ialah Tiang-pek-pay!

<>

Sementara itu di antara hujan lebat yang menderu-deru terhampar angin kencang, nampak beberapa bayangan berteduh di bawah pohon yang rindang menghindarkan dari serangan hujan yaug menggila. Dan diantara suara geledek menggelegar terdengar suara halus dari seorang gadis,

“Ayah, bagaimanakah pikiranmu?”

“Siauw Yang, pokoknya aku tidak suka kau berjodoh dengan murid Kwa-sinshe itu.”

“Ayah....... kau…… kau kejam!”

“Terserah tanggapanmulah. Pokoknya aku sudah menjodohkanmu dengan puteri Lim-wangwe di Kotaraja. Habis perkara, atau apakah kau hendak membuat malu nama ayahmu?

“Ayah, aku tidak mau berjodoh dengan putera Lim wan-gwe, aku……”

“Siauw Yang!” suara angin yang menderu-deru itu mengguntur bentakan dari seorang laki-laki yang tegap dan berjenggot tipis. Dia itulah Yok-ong Lo Ban Theng, ayah dari Siauw Yang tadi membentak anaknya.

“Kalau ayah memaksa menjodohkanku dengan putera Lim wan-gwe....... aku hendak membunuh diri saja ayah

Sang ayah menoleh. Menatap tajam anaknya.

“Apa kau bilang Siauw Yang ……?”

“Aku tidak ingin menikah dengan siapapun kecuali dengan Sin Thong!”

“Ahh kau memang keras kepala Siauw Yang. Baik! Kalau kau berkeras hendak berjodoh dengan murid Kwa-sinhe itu, boleh saja. Akan tetapi dia harus mengalahkanku dulu!”

“Ayahhh.......!”

Hujan bertambah deras turunnya bersama pula semakin derasnya air mata Siauw Yang berderai-derai memandangi ayahnya. Kemudian dengan sekali berkelebat, Siauw Yang sudah berlari-lari di antara hujan yang turun menggila.

“Siauw Yang.......!” Yok-ong Lo Ban Theng lari pula mengejar anaknya. Namun Siauw Yang terus berlari meninggalkan puncak Thay-san di antara gemuruhnya suara hujan dan angin.

Dua bayangan berkelebat menuruni puncak pegunungan Thay-san yang terkenal tinggi dan berbahaya itu. Beberapa kali Siauw Yang, terjungkal terpeleset oleh sebab tanah yang licin di hari hujan, namun apabila ia dengar suara ayahnya memanggil di belakang gadis itu bangun lagi dan terus lari.

Hatinya menjadi kecewa sekali. Ia hendak dijodohkan dengan putera Lim-wangwe di kota raja. Setan! Buat apa kawin dengan laki-laki lemah dan kutu buku.

Tidak! Dan Siauw Yang terus menangis diantara kabut-kabut tebal di lereng gunung Thay-san dan mempercepat larinya kembali ke rumahnya dan hendak dia katakan ini kepada ibunya bahwa ia tidak sudi dijodohkan kepada si kutu buku itu.

Hanya kepada ibunyalah ia hendak mengadu!

◄Y►

Panggung lui-tay yang didirikan di depan rumah Yok-ong Lo Ban Theng sudah penuh sesak oleh penduduk kota yang hendak melihat pertempuran adu kepandaian silat antara Yok-ong Lo Ban Theng dengan pemuda cebol yang bernama Go Sin Thong. Di antara sekian banyak penduduk yang berjubel-jubel di bawah lui-tay itu, ada juga diantaranya orang-orang muda yang mengerti ilmu silat dan duduk di bangku di sekitar lui-tay.

Nampak di antara sekian banyaknya orang-orang muda yang tampan dan ganteng, di antaranya terdapat Go Sin Thong yang hendak diuji kepandaian silatnya oleh Yok-ong. Tentu saja orang-orang muda ini mengenal Go Sin Thong murid Kwa-sinshe yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi.

Akan tetapi menghadapi Yok-ong, entah apakah pemuda cebol ini dapat menandinginya?

Wajah Go Sin Thong kelihatan murung dan tidak ada semangat. Sebetulnya ia segan sekali bertempur dengan orang tua ini, akan tetapi berhubung Yok-ong menantangnya, maka dengan hati enggan akhirnya ia memenuhi juga undangan itu!

Ia tahu pula bahwa kekalahannya menghadap si raja obat ini berarti pula kehilangan kekasihnya yang bernama Lo Siauw Yang dan itu tidak dihendakinya karena ia benar-benar mencintai Siauw Yang dan Siauw Yang pun demikian mencintai kepadanya. Hanya Yok-ong itulah yang kelihatannya tidak setuju dan mengajaknya bertanding.

Inilah yang memberatkan hatinya. Sebetulnya ia tidak mau meladeni orang tua itu, akan tetapi karena Siauw Yang mendesaknya untuk menerima tawaran ini dan bersedia menandingi Yok-ong dalam pibu.

Penduduk kota berdesak-desakan hendak melihat jalannya pertandingan yang aneh ini. Mereka sudah mendengar tentang tragedi dalam rumah tangga si Raja Obat ini.

Siauw Yang yang jatuh hati kepada murid Kwa-sinshe yang bernama Go Sin Thong, akan tetapi tidak disetujui oleh ayahnya. Namun karena Siauw Yang berkeras maka ayahnya mengajak Sin Thong berpibu untuk menentukan kalah dan menangnya pemuda itu.

Suara tepik sorak menyambut naiknya Yok-ong ke atas punggung lui-tay. Sesudah menjura ke empat penjuru, orang tua sbe Lo ini berkata dengan suara yang nyaring dan singkat.

“Cuwi sekalian warga kota yang kami hormati. Terima kasih atas kesediaan hati cuwi yang telah meringankan kaki untuk menyaksikan pibu ini. Dan dengan demikian bahwa cuwi inilah yang menjadi saksi atas pertandingan di tempat ini.

“Seperti cuwi ketahui bahwa hari ini kami sekeluarga hendak menguji kepandaian orang muda yang bernama Go Sin Thong. Sekiranya ia dapat mengalahkan kepandaianku maka ia berhak untuk memiliki puteriku yang tunggal bernama Lo Siauw Yang.

“Sebaliknya jikalau ia kalah melawanku, maka seperti yang telah dirundingkan semula, ia bersedia untuk meninggalkan kota ini dan perjodohan dengan anakku tentunya tidak memenuhi syarat. Dan seterusnya anakku Siauw Yang akan kunikahkan dengan seorang pemuda putera Lim-wangwe di Kotaraja!”

Terdengar suara tepuk tangan riuh rendah.

Yok-ong mengangkat tangannya.

“Sekarang, tanpa embel-embel pertandingan akan dimulai dan cuwi warga kota inilah yang menjadi saksinya. Orang muda yang bernama Go Sin Thong....... naiklah ke atas panggung dan layanilah ilmu pedangku,” sambil berkata demikian Yok-ong meloloskan pedangnya dan berkata kepada Sin Thong yang masih ragu-ragu untuk mencelat ke panggung.

“Sin Thong, naiklah!” katanya dingin.

Sambil menghela napas berat akhirnya Sin Thong mencelat ke atas lui-tay, gerakannya demikian ringan dan indah membuat warga kota yang menonton di bawah panggung bertepuk tangan menyambutnya.

Sampai di atas panggung Sin Thong menjura dan berkata kepada Yok-ong “Siauwte yang mudah dan bodoh mohon petunjuk kepada lo-enghiong!”

“Tak perlu embel-embel, lihat serangan!” Pedang di tangan Yok-ong berciutan waktu menyerang Go Sin Thong.

Serangan yang dahsyat merupakan jurus maut yang dalam segebrakan saja sudah dilancarkan kepada pemuda kate itu. Tentu saja Sin Thong berlaku waspada dan tidak ingin memandang ringan lawan, maka ia mencelat ke belakang dan meloloskan pedang samurainya.

Melihat gaya Sin Thong bersilat seperti orang Jepang ini, keruan saja para penonton bertepuk tangan senang dan sebentar saja dua orang itu saling serang dengan sengitnya. Kalau Sin Thong bertahan untuk mempertahankan diri dan belum mau menyerang adalah Yok-ong ini begitu bernapsu untuk cepat-cepat merobohkan Sin Thong sehingga pedangnya yang kuat dan lihai berkelebat bagaikan segulung sinar perak yang mendesak pemuda kate ini.

Siauw Yang yang menonton pertempuran ini menjadi sedih hatinya. Ia tahu bahwa ayahnya memang tidak setuju ia memilih Sin Thong.

Entah mengapa dan sengaja orang tua itu mengajak bertanding, dan tentu saja karena kepandaian ayahnya memang sudah tinggi, mana dapat Sin Thong mengalahkan ayahnya. Air mata Siauw Yang bercucuran memandang jalannya pertempuran itu.

Dan benar saja seperti dugaannya, belum lagi limapuluh jurus, Sin Thong sudah terdesak hebat oleh serangan-serangan Yok-ong yang luar biasa kuat dan ganasnya. Memang orang tua she Lo ini mengeluarkan jurus-jurus yang terlihai untuk cepat-cepat merobohkan pemuda kate ini dan mengusirnya jauh-jauh agar jangan lagi ia mengganggu Siauw Yang anaknya, maka pada jurus keempatpuluh sembilan ia berhasil menerobos masuk ke dalam pertahanan pedang samurai Sin Thong dan menyerempetkan pedangnya membabat tangan pemuda kate itu.

Sin Thong yang tak keburu menangkis menjadi kaget dan cepat ia menarik serangan samurainya dan ia merasakan seluruh tangannya menjadi kaku dan sakit, ternyata lengan kirinya sudah terbabat pedang lawan dan mengeluarkan banyak darah. Sin Thong mencelat ke belakang dan menjura,

“Lo-enghiong aku........ mengaku kalah!”

“Bagus Sin Thong kau sudah kalah. Dan sesuai dengan janji kita, kau belum memenuhi syarat untuk berjodoh dengan anakku Siauw Yang, nah tunggu apalagi?”

Hebat sekali tusukan yang menghunjam jantung pemuda kate itu. Kalau saja ujung pedang yang menembus dadanya tidaklah sesakit ini waktu ia menerima kata-kata dari orang tua she Lo ini, dengan hati pedih ia mencelat dan berkelebat lenyap dari pandangan mata para penonton, hanya suara pemuda kate itu saja yang terdengar tertuju ke arah Siauw Yang.

“Siauw Yang moay-moay...... selamat berpisah.......” suara itu demikian sandu dan merupakan keperihan hati yang terluka.

Siauw Yang cepat menghapus air matanya dan mencelat pula menyusul bayangan Sin Thong.

“Thong-koko....... tunggulah aku menyusulmu......!”

Yok-ong menjadi kaget setengah mati dan memandang marah ke arah anaknya, namun anaknya sudah lenyap pula menyusul bayangan Sin Thong.

Dengan bersungut-sungut orang tua itu masuk ke dalam dan menggerutu, “Inilah akibatnya kalau terlalu dimanja oleh ibunya. Hatinya keras dan membawa kemauan sendiri, dasar anak put-hauw!”

“Suamiku…… sudahlah....... apa kau uring-uringan begitu. Siauw Yang memang sudah tidak sudi dijodohkan olehmu dengan putera Lim-wangwe, mengapa kau selalu mendesaknya?

“Ingat anak kita kan sudah dewasa dan mempunyai pilihan hati sendiri. Dasar kau orang tua yang tidak bijaksana, beginilah jadinya Siauw Yang sekarang kabur…… kau....... kau....... carilah dia.......” Lo-hujin menangis tersedu-sedu melihat perginya Siauw Yang.

“Ahh, dia anak bandel, keras kepala…… biarkanlah!” Yok-ong membantingkan dirinya di atas kursi dan mendekapkan kepala dengan kedua tangannya.

“Dia memang anak put-hauw, sudah dijodohkan dengan putera Lim-wangwe tidak mau, mau bagaimana denganku? Ahh sangat memalukan sekali.”

“Suamiku....... kalau memang Siauw Yang menolak, kau katakanlah kepada Lim-wangwe bahwa perjodohan dibatalkan. Buat apa pusing-pusing?”

Yok-ong menoleh kepada istrinya. “Enak saja kau bicara....... soal perjodohan bukan urusan gampang tahu?”

“Salahmu sendiri mengapa kau cepat-cepat mengambil keputusan menerima tawaran Lim-wangwe sebelum kau berunding dengan Siauw Yang. Emangnya kau yang kawin, begitu diterima begitu jadi. Gadis sekarang kan tidak sama seperti kita tempo dulu, ia berhak memilih atas pilihan hatinya sendiri.......!”

“Ahh, pusing aku gara-gara Siauw Yang, beginilah jadinya.......”

“Gara-gara Siauw Yang….?? Kenapa Siauw Yang yang mesti disalahi? Engkau yang salah terburu-buru menerima lamaran orang?”

“Hemm, kau memang selalu menangkan Siauw Yang, selalu memanjakannya, pantas dia kepala batu. Apa-apa juga engkau!”

Ditunjuk-tunjuk seperti itu Lo-hujin tidak berkata lagi melainkan membenamkan dirinya di atas tumpukan bantal dan munangis tersedu-sedu, sedangkan Yok-ong mondar-mandir di kamarnya. Ia pusing sekali menghadapi persoalan ini!

<>

Sementara itu, sambil memanggil-manggil nama Sin Thong yang berlari dengan amat cepatnya, Siauw Yang mengikuti bayangan pemuda itu. Dan mengejarnya pula.

Namun Sin Thong berlari terus tak menghiraukan panggilan Siauw Yang di belakangnya. Ingin sekali menurut hatinya ia berhenti dan menanti kedatangan gadis itu dan memeluknya. Dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya, akan tetapi apabila ia teringat akan kata-kata ayah gadis itu, ia menjadi kecewa dan mengeraskan hatinya untuk terus berlari.

“Thong-koko…… kau tunggulah aku!” Siauw Yang memanggil dan mempercepat larinya.

“Siauw Yang, kau kembalilah kepada ayahmu. Aku sudah kalah tak boleh aku mendekatimu lagi. Aku tak sesuai denganmu Siauw Yang…….”

“Koko........ aku........ pokoknya aku harus ikut dengan kau!”

“Jangan Siauw Yang....... kau harus menurut orang tuamu…….”

“Tidak…..!”

Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Siauw Yang sudah berdiri di depan Sin Thong dan memandangnya dengan pandangan basah.

“Aku……. aku tak mau kembali kepada ayah.........”

Sin Thong segera memeluk pundak Siauw Yang dan berkata perlahan:

“Yang-moay, tenangkanlah hatimu dan jangan bersedih. Ayahmu memang tidak setuju denganku, maka ia mengambil jalan pibu untuk melemparkan diriku jauh dari padamu.....

“Sayang sekali Yang-moay kepandaianku tidak setinggi ayahmu….. sehingga kalaupun aku sudah berusaha memeras kepandaianku, namun aku tak dapat menangkan ayahmu……. Kau maafkanlah aku Yang-moay…….”

“Thong koko, ayah terlalu....... aku...... aku tidak mau kembali kepada ayah. Aku tak mau dijodohkan dengan orang she Lim itu.”

“Tak baik berkata begitu Yang-moay. Seorang anak seharusnya menurut kehendak orang tua, baru itu namanya berbakti!”

Siauw Yang tidak menyahut melainkan ia menangis sedih dan menjatuhkan dirinya ke dalam rangkulan si pemuda kate. Dan menangis tersedu-sedu sambil mengeluh,

“Ayah....... ayah.......!”

“Aku tak dapat menyalahkan ayahmu Yang-moay, seorang ayah memang berhak untuk menjodohkan anaknya dengan pilihan orang tua,” kata Sin Thong dengan sejujurnya dan menjatuhkan diri di atas rumput.

“Koko........ jadi bagaimanakah baiknya?”

“Kau pulanglah dan........”

“Aku tak mau!”

“Yang-moay....... jangan kau begini....... tak baik kalau kau mengikutiku. Ingat aku sudah berjanji dengan ayahmu, untuk tidak mengganggumu lagi!”

“Koko....... tapi...... tapi……”

“Yang-moay, sudahlah tak usah kau kuatir. Untuk sementara waktu biarlah kita menjauhkan diri dan jangan kuatir, bukankah masih ada aku yang melindungi dan mencintaimu....... Begini saja Yang-moay, kalau kau memang tidak mau kembali kepada ayahmu sementara ini, baiknya kau kirimkanlah surat kepada ibumu agar orang tuamu tidak berkuatir atas dirimu!”

Mendengar kata-kata ini, terhibur juga hati Sauw Yang dan gadis ini lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya.

“Thong koko, hanya engkau yang kucintai dan aku bersumpah untuk tidak menikah dengan laki-laki lain!”

“Yang-moaymoay alangkah bahagianya hatiku,” sahut Sin Thong membalas memeluk si gadis.

Keduanya kini saling berangkulan di dalam hutan yang sepi itu di atas rumput yang tebal laksana permadani hijau menghampar di bawahnya. Sedangkan di atas mereka sepasang merpati sedang berkasih-kasihan saling menyentuhkan paruh mematuk-matuk.”

Berhari-hari mereka hidup di dalam hutan kecil di kaki pegunungan Ta-pie-san, mereka berlatih silat dan bersenda gurau dengan mesra dan tawa riang dari mereka kadang-kadang mengejutkan burung-burung yang bertengger di dahan di atas pohon itu. Sungguh mereka merupakan pasangan yang cocok dan ideal sekali, walaupun sesungguhnya dilihat agak janggal karena keadaan tubuh Sin Thong yang kate sehingga tingginya sebatas pundak.

Siauw Yang sangat mencintainya seperti laki-laki kate ini jatuh cinta kepadanya. Berhari-hari mereka tinggal di dalam sebuah goa di dalam hutan yang indah sekali pemandangannya merupakan sepasang pengantin yang rukun dan damai.

Tidak ada pertengkaran dan perselisihan-perselisihan yang terjadi. Karena laki-laki kate yang bernama Go Sin Thong itu sangat pandai menyesuaikan diri dengan tabiat Siauw Yang yang kadang-kadang keras seperti baja dan kadang-kadang halus dan lembut seperti sutera!

Biarpun perhubungan kedua anak muda ini mesrah sekali, namun mereka selalu menjaga dan membatasi hati mereka hingga tidak mau melanggar batas susila.

Mereka ini dapat menekan dari perasaan hati yang kadang-kadang timbul napsu buruk dan rendah.

Dalam Cerita Pendekar Lengan Buntung, Sin Thong sudah mengenal Siauw Yang karena dia seringkali mengunjungi toko obat orang tua she Lo itu yang sahabat karib dengan suhunya bernama Kwa-sinhe. Sering kali Sin Thong berkunjung ke rumah itu dan mengantarkan akar-akar obat yang dikirimkan oleh gurunya untuk Yok-ong Lo Ban Theng yang membuka toko obat di kota Wei An.

Dan disitulah Sin Thong bertemu pandang dengan puteri Yok-ong yang cantik jelita, yang bernama Lo Siauw Yang. Entah tenaga gaib apa yang membuat kedua-duanya saling tertarik dan bersimpati sehingga dari pandangan mata itu tertanam dan bersemi sudah bibit-bibit cinta satu sama lain.

Memang cinta tumbuh tidak mengenal keadaan. Dan Siauw Yang tidak merasa rendah mencintai laki-laki kate yang bisa bermain pedang samurai dan berjiwa gagah!

Hampir sebulan Siauw Yang dan Sin Thong berdiam di dalam hutan itu dan setiap hari berpindah tempat mencari tempat yang lebih indah dan menyenangkan. Pada suatu hari mereka tiba di sebelah timur hutan dan tiba-tiba mereka mendengar suara orang bertempur.

Ketika Sin Thong dan Siauw Yang cepat memburu ke tempat itu, mereka terkejut sekali oleh karena melihat bahwa yang bertempur itu adalah Biauw Eng dan Hok Sun yang pernah dikenalnya sedang melawan seorang laki-laki bangsa Tibet yang bersenjatakan sepasang tangan.

Dilihatnya Biauw Eng dan Hok Sun sedang didesak hebat oleh sepasang tangan yang aneh itu. Sepasang tangan yang bergerak-gerak mencakar itu mengurung rapat Biauw Eng dan Hok Sun yang cuma bisa mengelak dan menangkis dengan pedangnya.

Dan dalam keadaan yang terjepit, cepat Sin Thong melompat dengan samurai di tangan dan sekali ia bergebrak, pedang samurai itu sudah membabat tangan kiri yang dipegang oleh laki-laki tinggi besar itu. Akan tetapi betapa heran dan terkejut laki-laki pendek ini begitu pedangnya menyentuh tangan yang sudah dikeringkan itu tiba-tiba pedang samurainya terlepas dan dia mencium bau anyir dari lengan itu dan terhuyung-huyung roboh.

Melihat Sin Thong dalam segebrakan itu sudah roboh, Siauw Yang menggeram keras dan mengelebatkan pedangnya merangsek orang tinggi besar yang tengah mendesak Siauw Eng dan Hok Sun.

Melihat datangnya seorang gadis yang dikenalnya membantunya ini, Biauw Eng menoleh dan alangkah girangnya ketika melihat bahwa yang membantunya adalah Siauw Yang dan Sin Thong yang sudah roboh. Cepat ia memperingati teman yang membantunya ini:

“Siauw Yang, hati-hati dengan sanjata tangannya itu, berbahaya sekali penuh dengan racun!”

“Ha-ha-ha tikus-tikus kecil datang menyerahkan nyawa, bagus! Kalian inilah yang telah mengacau dan bersekutu dengan si buntung he? Biarlah kalian mampus duluan!” teriak orang tinggi besar yang bukan lain adalah Kwan-tiong Tok-ong si Raja Racun dari Barat dan dengan sikap mengancam ia menyerbu memutar sepasang tangannya yang disebut Cap-tok-mo-jiauw yang lihai itu.

Akan tetapi Siauw Yang yang sudah marah karena melihat Sin Thong telah roboh tidak menghiraukan lagi cakar setan itu dan terus saja merangsek memainkan pedangnya. Hebat sepak terjang gadis ini, pedangnya berkelebat dahsyat dan kuat menyambar-nyambar bagaikan kilat mengarah pada Kwan-tiong Tok-ong.

Akan tetapi tentu saja menghadapi Kwan-tiong Tok-ong yang lihai ini mana dapat Siauw Yang menandinginya dan sebentar saja sepasang tangan Cap-tok-mo-jiauw itu bergerak dari atas ke bawah merupakan gerakan menggunting dan mencakar yang demikian amat cepatnya ini.

Diserang secara demikian Siauw Yang terkejut sekali. Ia merasa betapa sukarnya untuk mengelakkan dari serangan atas dan bawah itu, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu ia telah mempergunakan gin-kangnya dan tubuhnya mendahului gerakan tangan itu mencelat ke atas. Akan tetapi Kwan-tiong Tok-ong menjadi girang sekali dan tertawa keras dan tangan itu tiba-tiba meluncur ke atas seperti terbang demikian cepat mengejarnya.

Siauw Yang terkejut setengah mati dan tiba-tiba ia menggunakan gerakan menendang sambil berpok-sai di udara namun ia menjadi menjerit ngeri ketika sebuah cakar mencengkeram kaki di dekat betisnya. Siauw Yang menjerit keras dan mengelebatkan pedangnya membabat tangan yang mencakar itu dan ia sendiri mencelat menjauhi dan merasakan kakinya gatal bukan main. Tahulah ia bahwa kakinya telah keracunan dan terasa lumpuh.

Pada waktu itu Hok Sun berteriak keras dan membabatkan pedangnya mendesak Kwan-tiong Tok-ong diikuti oleh gerakan Biauw Eng yang menyerang dahsyat. Namun begitu Kwan-tiong Tok-ong menggunakan sepasang kakinya menendang, kedua tubuh Biauw Eng dan Hok Sun telah terlempar jauh dan sambil tertawa mengakak Kwan-tiong Tok-ong mencelat pergi. Suara gemanya masih terdengar dari jauh.

Hok Sun segera bangkit dan merasakan tulang belakangnya sakit bukan main, cepat ia merangkak menghampiri Biauw Eng yang masih pingsan didekatnya. Dan berkata lirih menahan sakit yang nyeri bukan main di tulang belakangnya yang terhantam tendangan lawannya.

Untung orang tinggi besar itu tidak menghendaki nyawa mereka, sehingga Kwan-tiong Tok-ong tidak menggunakan cap-tok-mo-jiauwnya, hanya sebuah tendangan yang kuat itulah yang telah membuat tubuh Biauw Eng dan Hok Sun terlempar jauh dan untuk beberapa lama mereka tidak dapat bangun dan merebahkan dirinya saling berpelukan.

Ada dua jam kemudian, Biauw Eng sadar dari pingsannya dan ia melihat Hok Sun menggeletak di sampingnya. Segera saja ia meraba kepala Hok Sun dan panggilnya “Sun-koko!”
Hok Sun membuka matanya.

Ia segera bangkit duduk dan memandang ke sekeliling.

“Eh, mana Sin Thong dan Siauw Yang? Bukankah ia tadi membantu kita?” tanya Hok Sun teringat kepada Siauw Yang dan Sin Thong.

“Dia telah pergi, entah kemana!” sahut Biauw Eng pelan. Padahal ia sendiri tidak tahu bagaimanakah nasib Sin Thong dan Siauw Yang itu!

Tentu saja baik Biauw Eng maupun Hok Sun tidak tahu bahwa waktu keduanya itu tak sadarkan diri, Sin Thong yang hanya pingsan oleh sebab bau anyir yang keluar dari sepasang lengan lawannya itu hanya pingsan dan begitu sadarkan diri ia mendapatkan tubuh Siauw Yang menggeletak, segera saja ia memanggul tubuh itu dan memasuki hutan di mana ia tinggal di dalam sebuah goa.

Dengan terhuyung-huyung Sin Thong membawa tubuh kekasihnya ke dalam hutan di mana ia tinggal. Ia sendiri merasa tubuhnya lemah sekali, kepalanya pening dan segera saja ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya dan berjalan pelan-pelan menuju ke dalam hutan kecil.

Sampai di depan goa di dalam hutan itu ia meletakkan tubuh Siauw Yang di atas rumput dan memeriksa kaki kekasihnya itu yang terasa panas sekali seperti dibakar. Tentu saja sebagai murid Kwa-sinshe (ahli pengobatan she Kwa) sedikit banyak Sin Thong dapat mengerti tentang pengobatan.

Dan alangkah terkejutnya hatinya melihat betis Siauw Yang sudah membusuk akibat racun yang jahat. Buru-buru ia menuju ke pancuran dan membasuh carikan bajunya untuk menyadarkan Siauw Yang dari pingsannya. Kain basah itu diusap-usapkannya di atas kening Siauw Yang yang panas seperti dibakar.

Beberapa menit kemudian, Siauw Yang membuka matanya dan mengawasi Sin Thong.

“Kakimu terluka Yang-moay.......syukur kau sadar.......”

“Thong koko…… badanku panas sekali. Aduh…. betisku mengapa gatal bukan main?”

“Itulah racun Ang-tok, Yang-moay……. engkau telah terkena racun merah dan lihat kakimu, merah seperti dibakar. Celaka, lama-lama bisa menjalar ke tubuh dan jantungmu bisa hangus.......!” sahut Sin Thong khawatir.

“Habis apa yang mesti dilakukan koko? Sayang tidak ada obat di sini.... Kalau aku di rumah tentu mudah sekali mendapatkan obat-obatan!”

“Percuma Yang-moay....... jalan satu-satunya hanya.......” Sin Thong memandang kekasihnya dengan ragu.

“Kau hendak bilang apa koko?”

“Yang-moay, jalan satu-satunya hanya dibuntungi kakimu ini, baru kau terhindar dari racun merah yang jahat itu!” sahut Sin Thong dengan suara tergetar.

“Dibuntungi?”

Sin Thong terdiam.

“Apakah tidak ada jalan lain, koko?”

“Kurasa tidak ada. Suhu pernah bilang, orang yang terkena racun merah, apalagi kulit itu sudah merah membara seperti hangus. Itu tandanya racun sudah menjalar di dalam darah dan kalau darah itu naik ke atas ke bagian tubuh yang terpenting niscaya akan berbahaya!

“Tidak ada obatnya?”

Sin Thong menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu Yang-moay.......”

“Kalau begitu, cepatlah kau buntungi kakiku ini dari pada aku mesti mati konyol nanti!” berkata Siauw Yang, pasrah melonjorkan kakinya yang terluka di atas tanah.

Sin Thong memandangi kaki yang mulus itu. Dan bengong.

“Eh, mengapa kau diam saja! Cepatlah buntungi!”

“Aku tak tega moay-moay,” sahut Sin Thong dengan suara hampir tak terdengar, ia berdiam diri Dan tidak tahu apa yang mesti ia lakukan.

Tiba-tiba Siauw Yang mengelebatkan pedangnya dan darah merah menyembur dari kaki yang sudah buntung itu.

“Yang-moay kau!” Sin Thong berteriak kaget.

Siauw Yang mengerutkan keningnya menahan rasa nyeri yang hebat. Ia memandang kakinya sebatas paha yang sudah buntung, dan darah merah membanjiri rumput yang gemuk dan tebal.

Sin Thong cepat menubruk tubuh kekasihnya itu dan dibawanya masuk ke dalam goa, kemudian ia sendiri berkelebat lenyap untuk mencari obat luka bagi kaki kekasihnya yang telah buntung

◄Y►

Puncak pegunungan Thang-la pada pagi hari itu, tertutup oleh kabut tebal yang menutupi di atasnya, sehingga apabila dilihat dari bawah kaki gunung akan nampak betapa puncak itu tertutup oleh awan putih saking tingginya. Memang puncak pegunungan Thang-la ini jarang sekali didatangi oleh manusia. Jangankan sampai ke puncak yang begitu tinggi sedangkan hutan-hutan yang lebat dan liar saja jarang didatangi oleh pemburu karena terkenal dengan binatang-binatangnya yang besar dan buas.

Malahan apabila musim salju itu datang nampak puncak itu penuh diselimuti oleh salju es sehingga tak mungkin bagi manusia untuk sampai ke atas sana. Pada musim salju jalan-jalan merupakan sungai es yang licin dan berbahaya! Oleh sebab itulah jarang manusia yang berani mencoba-coba untuk pergi ke sana.

Akan tetapi orang akan merasa kagum dan terpesona melihat keindahan-keindahan alam yang demikian mempesonakan di atas puncak itu dan orang akan selamanya betah untuk tinggal di sana. Pemandangan alam demikian indah dan mentakjubkan! Demikian hening dan damai, sehingga merupakan pintu sorga bagi orang yang berdiam di atasnya.

Jauh dari pada dunia ramai. Tiap hari hanya terdengar suara nyanyian burung berkicau, bunga-bunga yang bermekaran indah dan tidak pernah dipetik oleh manusia. Dia bersemi dan tumbuh sampai layu di tempat itu, tiada manusia yang mengambil usil kepadanya.

Buah-buahpun tumbuh dengan masak bergentayutan memerah pada dahan-dahan yang penuh dengan buah yang lezat dan masak. Rumput-rumput pun menghijau menghampar di tanah.

Jurang yang menganga di samping-sampingnya meskipun ngeri bila mata memandang ke bawah namun tak dapat disangkal pemandangan di bawah jurang itu sungguh indah dan mempesonakan. Pohon-pohon nampak kelihatan kecil dan sungai-sungai bagaikan ular putih melingkar-lingkar.

Di atas puncak itu terdapat sebuah tanah datar yang cukup luas dan sepenuhnya menerima cahaya matahari. Di belakangnya menjulang tinggi batu karang, dan di sebelah kanannya terdapat jurang yang amat curam dan dalam.

Di sebelah kirinya terdapat sebuah makam yang masih baru dan berhadapan dengan pondok kayu sederhana. Di balik makam itu nampak seorang pemuda tengah berlutut tak bergerak bagaikan patung. Kemudian hanya suaranya saja yang terdengar memecah di kesunyian merupakan sebuah doa.

“Suhu, teecu Nguyen Hoat. Mohon bimbingan suhu karena sebentar lagi teecu hendak turun gunung dan kembali ke dunia ramai untuk mengamalkan ilmu yang suhu turunkan kepada teecu. Semoga teecu berada di jalan yang benar berkat bimbingan arwah suhu yang sudah meninggalkan budi baik ini kepada teecu.”

Setelah berkata demikian lalu pemuda itu berlutut dan menganggukkan kepala tiga kali. Kemudian pada sebuah batu besar ia meletakkan tangannya dan menggurat huruf-huruf yang berbunyi,

“Makam Suhu Bu-beng Sianjin”

Setelah menulis huruf-huruf pada batu di muka pekuburan itu lalu pemuda itu mendongak ke atas memandang ke arah matahari yang sudah meninggi. Kemudian dengan langkah-langkah yang lebar ia meninggalkan puncak pegunungan Thang-la.

Pemuda itu berusia sekitar sembilanbelas tahun. Wajahnya tampan dan berpakaian biru dengan pedang tergantung di punggungnya. Nampak gagah sekali pemuda itu, bibirnya yang kecil seperti mulut wanita itu bergerak-gerak menampakkan senyum.

Matanya bulat bening menandakan kecerdikan dan kekerasan hati. Ia berjalan lambat-lambat menuruni puncak, langkah-langkah kakinya demikian ringan seakan-akan tidak menginjak tanah. Walaupun ia berjalan perlahan sekali namun sebentar saja ia telah jauh meninggalkan puncak.

Siapakah pemuda tampan itu?

Dia adalah murid Bu-beng Sianjin dan bernama Nguyen Hoat.

Seperti telah diceritakan pada Cerita Pendekar Lengan Buntung, Lie Bwe Hwa mengamuk dan membunuh seluruh keluarga Nguyen karena Nguyen-loya ini hidup memeras rakyat dan sewenang-wenang. Pada waktu itu hampir saja Bwe Hwa membunuh anak kecil putera Nguyen loya kalau tidak saja datang Bu-beng Sianjin dan menyelamatkan anak itu kemudian dibawanya ke tempat Pertapaannya di bukit harimau di atas puncak Thang-la.

Orang tua pertapa itu menaruh kasihan sekali kepada bocah yang bernama Nguyen Hoat itu dan diambilnya menjadi muridnya. Digemblengnya dengan ilmu silat tinggi, sehingga dalam usia hampir sembilanbelas tahun Nguyen Hoat sudah mempunyai ilmu silat yang cukup tangguh. Dan dasar ia mempunyai kecerdikan yang luar biasa, maka seluruh kepandaian Bu-beng Sianjin sudah dikuras di dalam otaknya dan tinggal mencari pengalaman saja.

Bu-beng Sianjin yang sudah tua itu akhirnya meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di depan pondok oleh muridnya yang terkasih. Sedangkan Nguyen Hoat sendiri, karena suhunya sudah meninggal dan lagi ia sudah merasa cukup tinggi ilmunya untuk merantau maka sehabis bersembahyang di depan makam suhunya dia lalu turun gunung.

Laksana burung yang baru terlepas dari sangkarnya! Girang sekali hati Nguyen Hoat, karena baru kali ini ia turun gunung seorang diri.

Dan pemandangan di kanan kirinya membuat ia berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan alam. Angin puncak yang sejuk menampar mukanya dan ia merasa sehat dan segar. Sekali lagi ia menoleh ke atas puncak dan tersenyum.

Ia teringat kepada suhunya yang baik hati Bu-beng Sianjin. Air matanya mengembang karena terharu. Ia sangat disayang sekali oleh orang tua itu, sehingga bagi Nguyen Hoat ia sudah menganggap sebagai kakek dan orang tuanya saja.

Ia mendengar cerita dari suhunya bahwa ia ditolong dari sebuah dusun yang terancam bahaya kelaparan. Semua orang tuanya mati kelaparan dan pada waktu itulah ia ditolong oleh suhunya dan kemudian dibawanya ke puncak.

Tentu saja Bu-beng Sianjin tidak menceritakan bahwa orang tua anak ini mati terbunuh oleh seorang gadis yang cantik jelita yang berjuluk Kwan Im Sianli, takut kalau Nguyen Hoat mendendam kepada gadis itu dan ia tidak menghendaki. Karena ia tahu bahwa dalam pembunuhan itu adalah karena salahnya orang tua she Nguyen itu yang memeras rakyat dan berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk. Sudah sepantasnya gadis yang berjuluk Kwan Im Sianli itu mengamuk dan membunuh seluruh keluarga Nguyen!

Setelah melakukan perjalanan jauh, makin terbukalah mata Nguyen Hoat bahwa sesungguhnya ia telah mewarisi ilmu silat tinggi dari suhunya. Di antara ilmu silat tinggi yang ia terima dari suhunya, ia menerima pula ilmu lari cepat dan ilmu melompat jauh yang disebut Liok-te-hui Teng-kang-hu.

Ketika berada di atas puncak, tak ada kesempatan bagi Nguyen Hoat untuk menggunakan ilmu lari cepat itu, karena puncak di atas sangat sempit dan tidak leluasa. Hanya ilmu melompat jauh itu yang sering dicoba-cobanya dengan melompat jurang-jurang yang lebar dan curam.

Tentu saja untuk bisa berbuat ini, memerlukan tenaga gin-kang yang tinggi itu diterimanya pula dari suhunya. Sehingga apabila ia menggunakan gin-kang (meringankan tubuh) terasa tubuhnya ringan sekali bagaikan kapas.

Ia sendiri merasa tertegun ketika melihat hasil latihannya. Ilmu melompat jauh itu setelah dicobanya, ia merasa tubuhnya bagaikan dilontarkan oleh tenaga yang kuat sekali sehingga ia bagaikan setengah melayang-layang di udara!

“Sungguh hebat suhu, ia telah melatihku dengan penuh perhatian. Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan hati suhu dan mengangkat namanya, supaya tidak sia-sia beliau melatihku siang malam,” katanya perlahan.

Dan kembali air matanya berlinang penuh dengan keharuan kalau ia teringat akan suhunya yang sangat menyayanginya itu. Maka dengan mempercepat larinya untuk segera cepat-cepat meninggalkan puncak Thang-la dan terjun ke dalam dunia ramai untuk mengamalkan ilmu silat yang ia pelajari dari mendiang Bu-beng Sianjin.

Pada suatu pagi setelah keluar dari deretan hutan-hutan besar, tibalah ia di sebuah dusun yang rumah-rumahnya amat sederhana. Tak sebuah pun diantara rumah-rumah itu yang beratap genting, semua beratap daun kering.

Alangkah miskinnya penduduk dusun ini, pikir Nguyen Hoat. Akan tetapi setelah ia memasuki dusun ia menjadi heran sekali.

Ternyata bahwa dusun itu kosong, tidak ada seorangpun kelihatan di luar pintu yang terbuka dan keadaannya amat sunyi. Akan tetapi jelas nampak rumah-rumah itu belum lama ditinggalkan para penghuninya. Pelatarannya masih bersih bekas disapu.

Rasa herannya itu membuat ia menjadi penasaran dan mengetuk pintu rumah penduduk yang ditutup. Beberapa kali ia mengetuk, pintu belum juga dibuka.

Karena merasa tentu rumah ini pun tidak berpenghuni lagi, ia mendorong daun pintu dan suara menderit terdengar keras waktu pintu yang terbuat dari bambu itu terbuka. Nampak sepi-sepi saja di dalam rumah.

Nguyen Hoat melangkah maju ke dalam, ia heran sekali mengapa rumah-rumah penduduk di sini tidak berpenghuni? Apakah semua penghuninya sudah pergi ke sawah untuk bekerja. Rasa penasaran ini membuat ia menyelidiki ke dalam rumah, berindap-indap seperti pencuri.

Namun ia tidak mendapatkan seorangpun yang berada di dalam. Nguyen Hoat keluar lagi, akan tetapi alangkah herannya dia ketika di pelataran itu nampak bertumpuk-tumpuk mayat manusia yang sudah dijejerkan seperti jemuran ikan asin.

Dada Nguyen Hoat berdebar keras. Ia tadi melewati pelataran itu dan tidak mendapatkan mayat-mayat di situ, kenapa baru saja sebentar ia masuk ke dalam. Eh, mayat-mayat manusia itu berjejer, siapa manusianya yang telah berlaku begini keji?

Saking terkejut dan herannya Nguyen Hoat untuk beberapa saat menjadi bengong. Tiba-tiba bulu romanya berdiri waktu mendengar suara meringkik seperti suara setan.

Suara itu tajam dan mengiris jantung, cepat Nguyen Hoat mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya dan menoleh ke belakang. Dan apa yang dilihatnya?

Sesosok tubuh manusia tua berdiri memegangi kepala manusia yang berlumuran darah. Manusia itu entah laki-laki atau perempuan tidak lagi dikenali keadaannya, rambutnya panjang sebatas pantat, kotor dan menjijikan. Pakaiannya seperti pakaian petani itu dekil dan penuh lumuran darah segar.

Mukanya kotor dan penuh kerisut, bibirnya yang tebal itu penuh pula dengan lumuran darah dan putih-putih dari otak manusia yang dimakannya. Nguyen Hoat menjadi bergidik dan merobah pandangnya. Tahulah ia tentu manusia inilah yang telah membunuhi penduduk dusun.

“He-he-he, orang muda cakap....... kau di sini belum mati..... he-he-he....... ngumpet di mana kau........ hi-hi-hi, mampus ya mampus! Enak mampus….. nggak mikirin apa-apa lagi....... hi-hi-hi...... anak muda cakap mampus ya, mampus!” nenek itu berbicara tidak keruan junterungannya.

Nguyen Hoat telah menarik pedangnya.

“Siapakah, iblis atau setan? Kalau setan pergilah, jangan mengganggu manusia,” bentaknya.

“He-he-he, anak muda cakap....... kalau belum mampus belum jadi setan, akan tetapi memang aku iblis....... iblis Istana hantu…… hi-hi-hi……”

“Iblis jejadian....... manusia neraka kau mampuslah!” Pedang Sin-liong-kiam Nguyen Hoat berkelebat ke arah leher manusia iblis itu.

Suara pedang berdesing keras, namun nenek gila itu tidak menangkis malah ia menundukkan kepalanya menggerogoti kepala manusia dan menghisap darah yang mengucur dari leher kepala itu.

Tiba-tiba setelah ujung pedang itu hampir menyentuh leher si Nenek gila, tahu-tahu pedang Nguyen Hoat sudah terpental ke belakang waktu tangan kiri Nenek yang kurus kering itu menggunakan kukunya menyentil pedang. Terkejut sekali pemuda ini. Masa hanya disentil olah jari-jari yang kotor itu pedangnya terpental?

Dan ia merasakan sebuah hawa panas menyambar dari tangan nenek itu. Cepat sekali Nguyen Hoat mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas menghindarkan sodokan tangan kiri si Nenek yang mengeluarkan cahaya panas.

“Prakk!” Pohon besar yang di belakang Nguyen Hoat hancur berantakan dan daun-daun menjadi hangus oleh sambaran angin pukulan si nenek.

Nguyen Hoat menjadi bergidik. Ia merasakan hawa panas bukan main waktu tangan itu menyerangnya tadi, untung ia berlaku waspada dan telah mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas.

Kalau tubuhnya yang kena terpukul tangan kurus kering itu, niscaya ia sudah menjadi hangus seperti pohon itu. Keringat dingin mengucur dari kening Nguyen Hoat.

“He-he-he berani kau menghadapi pelayan Istana Hantu, mampus kau!”

Untuk yang kedua kali tangan kiri nenek itu menjulur ke depan memukul ke arah dada Nguyen Hoat. Namun karena nenek ini tidak mengenal siapa sebetulnya pemuda ini dan hanya mengira bahwa pemuda ini tentu penduduk dusun yang kebetulan sedang keluar terhindar dari kematiannya, maka ia tidak mempengunakan seluruh tenaganya bahkan pukulannyapun tidak berbahaya bagi Nguyen Hoat.

Nguyen Hoat mendengar sambaran angin pukulan yang tidak berapa hebat, cepat mengangkat tangan kirinya menangkis, sambil mengerahkan tenaga lwekang dan berbareng kedua kakinya menotol tanah dengan gerakan naga terbang ke langit, sebuah gerakan yang disertai gin-kang amat tinggi.

“Plak…..!” kedua lengan, satu besar dan satu kurus kering itu beradu amat kerasnya.

“Ayaaa.......!” Nenek itu berseru saking terkejutnya.

Ia merasa betapa lengan pemuda itu empuk seperti kapas dan amat dingin seperti salju sehingga tenaganya sendiri lenyap disedot oleh hawa dingin yang keluar dari tangan pemuda itu. Ia menjadi terkejut dan amat terheran oleh karena maklum bahwa itulah penggunaan lwekang tinggi.

Orang yang dapat menggunakan im-kang (tenaga im) sampai mengeluarkan hawa dingin atau mempergunakan yang-kang sampai mengeluarkan hawa panas bukanlah orang sembarangan dan hanya dapat dilakukan oleb ahli-ahli silat kelas tinggi.

Bagaimana seorang pemuda yang kelihatannya lemah ini dapat menangkis serangannya dengan tenaga Im-kang demikian hebatnya?

Lebih-lebih ketika ia melihat betapa sambil menangkis tadi tubuh pemuda itu telah mencelat seperti kilat cepatnya, melompat dengan kedua tangan dikembangkan seperti sayap dan beberapa kali kedua lengan bergerak sehingga tubuh pemuda itu terapung-apung di udara seperti seekor burung garuda yang sedang terbang dan menggerak-gerakkan sepasang sayapnya. Hal ini tentu saja membuat kagum si Nenek sehingga ia jadi bengong dan mengawasi pemuda untuk beberapa lama!”

“Kau kejam.... tentu kau pula yang membunuh penduduk dusun ini ya?”

“He-he-he, betul aku yang bunuh orang-orang ini....... karena aku hendak mengambil otak dan jantungnya dikeringkan baik sekali untuk obat, ha-ha-ha!”

“Keparat, nenek keji, siluman neraka. Aku, Nguyen Hoat tak dapat berpeluk tangan, kau harus mampus!”

“Siiiing!” pedang Sin-liong-kiam ditarik dari sarungnya. Ia siap hendak menerjang nenek gila itu.

“He-he-he, kau cakap dan gagah. Aku tidak akan membunuhmu orang muda. Mari ikut ke Istana dan.......”

“Keparat! Rasakan tajamnya pedangku,” Nguyen Hoat menyerang dahsyat merupakan serangan pertama dari jurus Sin-liong-kiam-sut yang ia terima dari Bu-beng Sianjin.

Pedangnya bergerak cepat ke depan dan terus ditekan ke bawah. Ia bermaksud hendak merobek isi perut nenek yang dibencinya ini dengan gerakan ditekan dari atas itu sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam melakukan gerakan memukul jarak jauh ke arah dada si nenek sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

Inilah keistimewaan ilmu pedang ciptaan Bu-beng Sianjin. Bukan saja pedang itu dapat digerakkan menyerang lawan, namun tangan kiri tidak tinggal diam dan selalu melakukan gerakan menyerang pula menurut jurus-jurus Sin-liong-kun-hoat membarengi serangan pedang yang bergerak menusuk ke arah dada.

Akan tetapi, begitu si nenek tertawa keras mengakak, tahu-tahu rambutnya yang panjang dan kotor itu bergerak dan entah bagaimana caranya pedangnya sudah terlibat oleh segumpal rambut itu. Nguyen Hoat segera menggunakan gerakan membabat dengan maksud hendak memutuskan rambut-rambut itu.

Namun untuk ketiga kalinya pemuda dari gunung Thang-la ini menjadi terkejut dan heran merasa pedangnya mental waktu membabat rambut si Nenek, seakan rambut itu sudah menjadi segulungan kawat baja yang amat kuat dan tak bisa diputuskan oleh sabetan pedang, malah pedang sin-liong-kiamnya sendiri itulah yang terlibat rambut dan tak dapat ditarik kembali. Saking sengitnya, tangan kiri Nguyen Hoat menggunakan pukulan sepenuhnya dengan tenaga lweekang tingkat tinggi.

Nampak nenek itu mengangkat tangan kirinya menangkis.

“Plakk-plakk,” tangan Nguyen Hoat tergetar.

Sedangkan si nenek tertawa terkekeh-kekeh dan menggoyangkan kepalanya, tangan kanan Nguyen Hoat yang memegang pedang tiba-tiba menjadi kaku oleh goyangan rambut-rambut si nenek. Cepat-cepat ia melepaskan pedangnya, dan pada ketika itulah tangan kiri si nenek yang berkuku panjang-panjang itu bergerak hendak menotok leher Nguyen Hoat.

Tentu saja Nguyen Hoat tidak menyerah sampai di situ, tiba-tiba ia menggunakan gin-kangnya dan mencelat tinggi menghindarkan totokan tangan kiri si nenek. Angin berciut waktu tangan si nenek yang berbau amis itu menyambar dekat telinga Nguyen Hoat. Diam-diam pemuda ini menjadi jijik dan ngeri hatinya.

Cepat sekali dia berpok-sai di udara dan waktu kakinya menotol tanah, tangan sudah menyambar pedang yang tadi terlempar oleh rambut si nenek.

“He-he kau lihai juga orang muda he-he!”

“Nenek pemakan bangkai. Aku Nguyen Hoat mengadu nyawa denganmu!” pedang Nguyen Hoat berciutan menyambar si nenek.

“Anak bandel, robohlah!”

Kini bukan sepasang tangan si nenek yang membalas memukul melainkan pukulan rambut itu yang menyerang Nguyen Hoat. Pemuda itu cepat menggeser ke kiri dan membabatkan pedangnya.

“Ting-ting-ting!” pedang itu bagaikan terbentur kawat baja yang kuat dan tahu-tahu telah melibat tubuh Nguyen Hoat dan pemuda itu tidak berdaya menghadapi pegangan rambut yang kuat bukan main.

Segera dia mengerahkan lwekangnya, untuk memberontak dari pelukan rambut yang berbau busuk itu, sehingga membuat napas Nguyen Hoat menjadi sesak dan sukar bernapas. Namun semakin keras dia memberontak, semakin kuat rambut itu membelitnya.

“He-he-he, berontaklah……, he-he-he!” mulut nenek itu terbuka, bau busuk menyerang hidungnya. Hampir saja Nguyan Hoat jauh pingsan mencium bau yang memuakkan itu, buru-buru ia menggeser kepalanya membelakangi muka si nenek.

“Lepaskan aku, lepaskan!”

“He-he-he kau tidak boleh lepas. Hi-hi-hi, dagingmu masih sehat dan segar….. hu-hussst betapa lezatnya dan darahmu yang masih begini muda…… Alangkah nikmatnya, sebentar lagi engkau akan kupanggang…… he-he-he-he!”

Celaka! pikir Nguyen Hoat, ternyata aku terjatuh ke dalam tangan nenek gila yang berkepandaian tinggi ini. Berbahaya.

Diam-diam Nguyen Hoat mengerahkan ilmu melemaskan tulang dan menciutkan tubuh sehingga tubuhnya menjadi ciut dan kecil. Dan begitu merasa dirinya tidak lagi kencang dalam cengkraman si nenek, segera ia berseru keras,

“Aiitt…… yaaa!” Tahu-tahu ia sudah dapat meloloskan diri dari pegangan rambut yang kuat itu.

Buru-buru Nguyen Hoat mencelat jauh dan merasa bahwa ia bukan tandingan si nenek, cepat-cepat ia menggunakan gin-kangnya mencelat jauh melarikan diri. Ia tidak berani lagi mencoba untuk mengadu kepandaian, dan melarikan diri secepat mungkin. Girang hatinya karena ternyata bahwa dalam hal gin-kang, ia masih mengatasi Nenek itu.

Si Nenek gila mengejar terus, akan tetapi makin lama makin tertinggal jauh. Akan tetapi sambil mengejar nenek itu berteriak-teriak:

“A Kay…… A Yong….... tangkap pemuda itu, dia kurang ajar menghina Thay-bengcu kita.”

Mendengar ini, Nguyen Hoat maklum bahwa nenek ini tentu masih mempunyai kawan-kawan yang tentu berkepandaian tinggi.

Maka ia lalu mempercepat larinya sehingga tak lama kemudian ia telah jauh meninggalkan nenek gila yang menjadi bingung karena kehilangan jejak pemuda yang dikejar-kejarnya.

Akan tetapi, tiba-tiba Nguyen Hoat mendengar bentakan keras dari belakang: “A Kay inilah orangnya, tangkap!”

Cepatlah dia menoleh dan melihat seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti pelayan membawa-bawa golok dapur yang besar seperti golok pemotong babi, sedangkan laki-laki yang satu lagi memegang jepitan panjang. Kakek itu larinya cepat sehingga kedua kakinya sampai tak menginjak tanah, seperti terbang.

Nguyen Hoat menjadi terkejut menyaksikan cara kakek ini berlari cepat. Ia telah mempelajari ilmu berlari cepat dari Bu-beng Sianjin akan tetapi baru sekarang ia tahu ada orang berlari dengan kaki seakan-akan tidak menginjak tanah. Hebat.

“Jangan harap bisa melarikan diri!” kakek yang memegang jepitan panjang itu berseru keras dan jepitannya bergerak cepat, menotok ke arah pinggang Nguyen Hoat.

Seperti juga kesalahan si Nenek gila tadi, kakek yang memegang jepitan dan yang bernama A Kay inipun ternyata amat memandang ringan Nguyen Hoat, yang hanya dikiranya pandai berlari cepat saja. Oleh karena itu totokan jepitannya juga tidak berbahaya, hanya cukup untuk merobohkan pemuda itu saja.

Nguyen Hoat yang sudah tajam sekali pendengarannya, tahu bahwa totokan jepitan panjang itu tidak berbahaya baginya, maka ia mengerahkan sin-kangnya sambil terus berlari. Ujung jepitan panjang itu mengenai jalan darah di pinggangnya, akan tetapi alangkah terkejutnya hati kakek A Kay ketika merasa betapa jepitan panjangnya melengkung dan terpental seakan-akan menotok baja!

Pada saat itu berkelebat bayangan, kakek yang memegang golok babi yang bernama A Yong telah mencelat tinggi dan tahu-tahu sudah berada di depan Nguyen Hoat.

“Orang muda perlahan dulu!”

“Lopek, kau……. mengapa kau mencegatku?”

“Kau telah menghina Thay-bengcu, patut dihukum!” sahut kakek pemegang golok babi dengan keren dan pada saat itu mendatangi A Kay sambil mengacung-acungkan jepitannya.

“Benar ia telah menghina Thay-bengcu, A Yong kemplang saja pantatnya, dia anak bengal! Kalau Thay-bengcu tahu tentu kita dihukum rangket sepuluh hari!” kata kakek yang memegang jepitan.

“Kalian ini kakek-kakek gila!” Nguyen Hoat memaki.

“Nah, dia menghina kita. Menghina kita sih nggak apa, tapi Nio-nio bilang dia tadi menghina Thay-bengcu!”

“Anak muda yang berani mati benar kau menghina Thay-bengcu kami?” tanya si kakek pemotong babi.

“Siapa yang menghina Thay-bengcu kalian, siapa Thay-bengcu kalian?” Nguyen Hoat mendongkol dan membantingkan kakinya.

“Thay-bengcu adalah Pemimpin besar kami di Istana Hantu!”

“Istana Hantu?” Nguyen Hoat bertanya heran.

“Ya, Istana Hantu, adalah istana kami. Kami adalah pelayan-pelayan istana, tak boleh kau menghina Thay-bengcu kami!”

“Kakek gila, kapan aku menghina Thay-bengcu kalian. Kalian ini sudah gendeng barangkali. Gila!”

“Pokoknya kau ikut kami menghadap hakim Istana Hantu dan pengadilan kami yang memutuskannya!” sahut si kakek pemegang jepitan.

“Benar, kau turutlah undang-undang istana Hantu, baru kami tidak akan menempur engkau!”

“Kalau aku tidak sudi?.”

“Kau terpaksa kami tawan!”

“Kalau aku melawan?”

“Kau tak dapat menangkan kami!”

“Bagus, coba rasai pedangku!” teriak Nguyen Hoat marah, dan sekali pedangnya bergerak gulungan sinar perak sudah menerjang A Kay dan A Yong dengan gerakan yang cukup hebat.

“Kau keras kepala, patut ditawan!”

“Orang kepala batu, harus ditaklukkan!”

Kedua kakek ini lalu bergerak merangsek Nguyen Hoat. Kepandaian dua orang kakek ini memang lihai sekali. Jepitan panjang di tangan A Kay tidak boleh dipandang enteng, biarpun jepitan itu sudah hitam bekas ngorek-ngorek arang di dapur Istana Hantu dan sudah karatan, namun besi itu terbuat dari baja yang hanya terdapat di negara Nepal.

Sebaliknya kakek yang bersenjata golok besar ini yang bernama A Yong adalah tukang masak di Istana Hantu. Pekerjaannya tiap hari potong daging dan sayur, namun dimainkan dengan ilmu silat tinggi.

Golok yang berat dan besar itu merupakan segulung sinar yang berbahaya dan beberapa kali pedang Nguyen Hoat membentur golok itu ia merasa tangannya tergetar dan sakit. Kagetlah pemuda ini.

Baru menghadapi pelayan-pelayannya saja ia sudah menjadi kewalahan apa lagi kalau Thay-bengcu itu turun tangan. Celaka! Siapakah Thay-bengcu? Orang bagaimanakah dia?

Tak banyak berpikir pemuda murid Bu-beng Sianjin ini, karena pada saat itu berkelebat sesosok tubuh dan tahu-tahu Nio-nio si nenek pemakan bangkai dan bersenjata rambut itu sudah menyerangnya. Sebentar saja Nguyen Hoat terdesak bukan main dan seluruh tubuhnya sudah bermandikan keringat.

Namun demikian, berkat gemblengan Bu-beng Sianjin pertapa dari puncak Thang-la, membuat tubuh Nguyen Hoat merupakan pertahanan yang kuat dan ulet. Meskipun sudah lelah sekali dan beberapa kali ia kena serempet golok A Yong pada pahanya, sehingga pada pahanya itu mengucur darah yang menodai celananya dan terasa kaku dan nyeri, namun Nguyen Hoat terus mempertahankan diri dan mainkan pedangnya lebih cepat lagi menggunakan jurus-jurus terlihai dari Sin-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Bu-beng Sianjin.

Pada saat itu, dari kejauhan mendatangi dua orang penunggang kuda yang membalap kudanya dengan cepat sekali. Yang seorang pemuda tampan berusia delapanbelas tahun, berpakaian baju putih dengan pedang nampak di punggung, dan yang seorang lagi adalah seorang gadis remaja yang berusia tidak lebih delapanbelas tahun, cantik jelita dan ia membalapkan kudanya dengan cepat dan dikejar oleh si pemuda dari belakang.

Suara kaki kuda berderap dan menimbulkan debu yang mengebul ke atas. Pada waktu si gadis melihat di depannya ada orang bertempur.

Dia melihat seorang pemuda tampan sedang dikeroyok oleh dua orang kakek dan seorang nenek rambut panjang. Ia menghentikan kudanya dan memandang ke depan.

Pada saat itu rambut yang panjang dari si nenek berhasil menampar punggungnya Nguyen Hoat sehingga murid dari Bu-beng Sianjin ini terhuyung-huyung dan ia merasakan punggungnya sakit bukan main tertampar rambut yang hanya beberapa lembar itu saja. Pada waktu ia terhuyung-huyung hendak jatuh, pada saat itulah sebuah jepitan panjang bergerak ke depan menggunakan gerakan menggunting.

Cepat Nguyen Hoat mencelat ke atas dan menggunakan kaki kanannya menendang jepitan. Namun rambut si nenek sudah datang menyerbu dan membelit ke dua kakinya sehingga pemuda itu terlempar tidak jauh, di dekat si kakek yang memegang golok besar.

Nguyen Hoat terkejut bukan main melihat datangnya golok mengkilap ke arah kakinya. Cepat ia bergulingan menghindarkan diri dari sabetan golok dan sebuah suara bergemuruh menyambar di atas kepalanya.

Rambut nenek gila bergemuruh menyambar di atas kepala Nguyen Hoat yang cepat bergulingan menjauhi diri dari serangan senjata rambut yang luar biasa hebatnya, namun meskipun ia sudah bergerak cepat tetap saja beberapa lembar rambut telah memukul lengannya sehingga ia terpental ke kiri oleh dorongan rambut yang luar biaasa itu.

Keringat dingin membasahi baju Nguyen Hoat, akan tetapi pada saat yang berbahaya bagi keselamatannya itu tiba-tiba ia merasa dirinya ditarik oleh sebuah tenaga yang amat kuat dan tubuhnya melayang di udara dan tahu-tahu ia jatuh dihadapan seorang gadis yang cantik jelita.

Nguyen Hoat cepat berdiri dan bersiap-siap kalau-kalau gadis di depannya itu adalah teman si kakek dan si nenek yang ia telah dirasai kelihaiannya itu!