-->

Istana Hantu Jilid 04

Jilid 04

“Tak mungkin ia mau, isteriku. Ia hanya menghendaki supaya aku turut dengannya dan tinggal di puncak rajawali, hemm, baru kudengar nama puncak itu…… entah di mana puncak rajawali itu?”

“Kau ingin pergi kemana koko.......?”

“Tidak. Hanya aku baru pernah mendengar nama puncak Rajawali. O ya, Lan- moay....... sudahlah kejadian ini, mungkin salahku. Mungkin sudah menjadi hukuman buatku. Wang Ie kemarilah kau!”

Wang Ie berlutut di depan gurunya

“Dua bulan lagi, kami hendak meninggalkan puncak ini. Kau baik-baiklah di tempat ini. Kau harus patuh akan kata-kata Toan-lopek. Sementara kami pergi, A Toan akan mengawasi partai Tiang-pek-pay. Rajin-rajinlah kau berlatih!”

“Suhu........ kalau boleh teecu bertanya, hendak kemanakah tujuan suhu bila kembali ke puncak?”

“Kami hendak mengunjungi puncak Tay-san menghadiri pertemuan tokoh-tokoh dunia persilatan. Entah berapa lama mungkin satu, dua bulan ini!”

“Dengan siapa suhu pergi?”

“Tentu saja dengan subomu ini. Tadinya kami hendak membawamu pula, akan tetapi perjalanan ke puncak Tay-san sangat berbahaya dan tidak mudah. Maka sebaiknya kau tinggallah di sini.......!”

“Teecu hanya menurut perintah suhu saja!”

“Nah, sekarang kau pergilah ke belakang. Boleh beristirahat. Jangan kau cerita-ceritakan kepergianku ini kepada saudara-saudara yang lain, kelak nanti apabila saat tibanya, aku sendiri yang akan berbicara kepada mereka,” pesannya.

“Baik suhu!” Wang Ie berlalu.

Tiang Le memandang istrinya. Mencium keningnya.

Dan dengan mesrah sang suami mengecup bibir yang lembut dari sang istri. Lama Tiang Le dan Bwe Lan berkecupan menumpahkan gairah cinta yang memecah ria!

◄Y►

Bagaimana Bwe Hwa tahu-tahu telah muncul di puncak Tiang-pek-san dengan menunggang burung rajawali emas yang besar dan menurut akan perintahnya itu? Untuk mengetahui pengalaman Bwe Hwa yang sudah lama sekali kita tinggalkan, baiklah kita mengikuti pengalaman-pengalamannya.

Seperti telah diceritakan pada jilid pertama dalam cerita ini, setelah melihat adegan yang menyeramkan di gua di pantai laut Po-hay itu, Bwe Hwa menjadi marah sekali dan menempur Tiang Le. Sungguh panas bukan main pemandangan yang dilihatnya dalam gua itu.

Berhari-hari ia selalu menantikannya kedatangan Tiang Le di lembah Tai-heng-san antara cemas dan kuatir. Ehm, nggak tahunya di tempat ini Tiang Le dan Pei Pei sedang melakukan perbuatan mesum. Setan! Tentu saja Bwe Hwa menjadi kalap dan mengamuk menempur Tiang Le dan membabi buta.

Akan tetapi, seperti telah diceritakan di bagian depan, betapa Tiang Le dapat menandingi kepandaian gadis itu. Dan setelah merasa betapa ia tak kuat untuk mengalahkan Tiang Le, maka dengan perasaan kecewa dan penuh kemarahan. akhirnya Bwe Hwa pergi dari Tiang Le dan Pei Pei.

Ia hendak menjauhkan diri dari pemuda lengan buntung itu. Ia pergi jauh mengembara ke bagian barat.

Sesungguhnyalah bahwa ia tiada mempunyai arah tujuan. Ia berjalan berhari-hari kemana kakinya membawa dirinya. Tanpa disadarinya ia menuju ke barat. Kekecewaan hati yang meliputi hati Bwe Hwa membuat ia seakan-akan telah melupakan dirinya. Seorang diri ia terus berjalan.

Kadang-kadang berlari bagaikan setan cepatnya. Kadang-kadang ia menangis seorang diri di dalam hutan dan memanggil-manggil nama Tiang Le. Kadang-kadang pula ia menggerakkan tangannya memukul pohon sambil memaki-maki Tiang Le dan Pei Pei. Di wajahnya penuh amarah membunuh.

Apabila kemarahannya itu memuncak, selalu ia muntahkan darah segar. Sehingga kian hari wajah Bwe Hwa menjadi pucat dan seperti orang yang hilang ingatan.

Memang demikianlah adanya. Kasihan sekali Bwe Hwa ini. Ia sudah merupakan seorang yang setengah gila. Kadang-kadang bersikap lembut dan manis, kadang-kadang pula kejam bagaikan iblis. Ia cantik jelita seperti bidadari, ia juga kejam dan telengas terhadap setiap lelaki yang dianggapnya jahat.

Tentu saja biarpun Bwe Hwa kehilangan lengan kirinya yang pernah ia buntungi di lembah Tai-hang-san itu, akan tetapi karena ia mempunyai wajah yang manis dan jelita, membuat setiap lelaki yang dijumpainya selalu menarik napas dalam, dan memandangnya dengan penuh kagum. Kebuntungan tangan kirinya tidaklah mengurangi kecantikan gadis yang bernama Lie Bwe Hwa itu.

Pada suatu hari ia memasuki wilajah Tibet. Suku bangsa Tibet yang ramah tamah ini membuat ia menghentikan perjalanannya dan memasuki kota Pin-niang yang cukup ramai dan banyak dikunjungi oleh orang-orang asing. Disepanjang jalan banyak sekali dilihatnya orang-orang Han yang berdagang membuka toko, ada yang membuka rumah makan, restoran dan malah ada yang menjajahkan harang dagangannya di kaki lima.

Memang ramai sekali kota Pin-niang ini, karena kota ini adalah sebuah kota yang menghubungi perbatasan daerah Tiongkok dan merupakan pintu gerbang bagi Kotaraja dan Mongolia. Apalagi di situ banyak suku bangsa Tibet asli dan suku bangsa An-hui yang ramah tamah dan berkebudayaan tinggi, sehingga kota Pin-niang ini merupakan kota yang terbesar di daerah Tibet.

Pada hari itu udara panas bukan main. Musim kemarau yang amat lama terasa sekali di daerah ini. Di jalan-jalan orang merasa segan sekali untuk keluar rumah pada waktu panas terik seperti ini. Lebih nikmat rasanya berdiam di rumah atau bagi para tamu-tamu hotel mereka duduk-duduk di bawah pohon yang rindang sambil mengobrol.

Rumah-rumah makan juga penuh oleh para tamu yang berbagai ragam roman mukanya. Ada orang Han, ada juga beberapa laki-laki Shan-tung yang memegang bendera sebagai lambang perkumpulan ekspedisi pengantar barang, ada pula yang berpakaian seperti pelajar-pelajar.

Pokoknya di kota ini segala suku bangsa apapun ada! Mereka ini ada yang datang untuk berdagang, atau pelancong, ada pula yang hanya sebagai tukang catut barang dagangan yang mereka seludupkan dari Afganistan. Sebab itulah kota Pin-niang, yang terletak dekat sungai Zhe-kiang amat ramai dan hingar-bingar!

Begitu Bwe Hwa memasuki pintu gerbang Pin-niang, banyak orang yang memperhatikan perempuan muda ini. Ada yang merasa iba lihat seorang wanita muda yang begini cantik, akan tetapi sudah kehilangan lengan kirinya. Ada pula yang terus saja kagum akan kecantikan wanita itu.

Dan beberapa laki-laki hendak menggodanya. Akan tetapi begitu melihat langkah-langkah kaki si wanita yang demikian cepat dan pedang pendek di punggung, mereka hanya bengong dan tak berani menggoda.

Karena jalan-jalan berdebu dan panas. Dengan lirikan matanya, Bwe Hwa mencari-cari rumah makan. Ia tidak mengerti tulisan-tulisan yang tertera di rumah-rumah makan. Karena setiap tulisan-tulisan di sana, baik nama jalan maupun nama toko, selalu ditulisnya dengan bahasa asing yang tidak dimengertinya.

Dan begitu ia mencium bau masakan yang lezat, yang membuat perutnya menjadi lapar, segera ia tahu bahwa itulah rumah makan. Maka cepat-cepat ia menuju ke rumah makan tersebut dan memasuki gedung yang cukup besar dan bercat merah itu.

Seorang pelayan menghampiri dan berbicara dalam bahasa Han yang agak kaku, tetapi dimengerti oleh Bwe Hwa,

“Nona, hendak pesan masakan apakah?”

“Apa saja pokoknya yang enak,” sahut Bwe Hwa singkat sambil memesan menghampiri tempat duduk yang disediakan oleh pelayan.

Baru saja ia duduk dan memandang ke depan, tiba-tiba empat orang tamu memasuki rumah makan dengan langkah-langkah lebar dan semua tamu terkejut sekali kedatangan empat orang ini. Malah pelayan rumah makan dengan sikap membungkuk-bungkuk menghampiri mereka menyambut dengan ramah sekali,

“Sie-wi enghiong (Tuan berempat yang gagah) selamat datang di restoran kami dan silahkan duduk,” sambut pelayan itu dengan hormat dan sikap yang dibuat-buat karena takut.

Bwe Hwa melihat seorang nenek di antara ke empat orang itu, menjadi terkejut. Diam-diam ia memperhatikan nenek yang duduk tidak jauh darinya.

Nenek itu sudah tua sekali. Rambutnya yang hitam riap-riapan sebatas pundak dibiarkan berkibar dipermainkan angin yang menerobos dari jendela rumah makan. Wajahnya sangat menyeramkan, penuh dengan keriput-keriput dan matanya yang cekung memancar seperti api.

Tentu saja Bwe Hwa mengenal wanita ini. Nenek itulah bekas pay-cu Sian-li-pay yang berjuluk Bu-tek Sianli, sedangkan tiga orang kawannya, ia tidak mengenalnya, yang seorang tinggi besar, seorang laki-laki suku bangsa Tibet dan di sebelah laki-laki tinggi besar itu duduk seorang wanita suku bangsa Han, meskipun usianya sudah setengah tua akan tetapi masih kelihatan cantik.

Dan seorang lagi, adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai kepala gundul, berusia sekitar duapuluhan, akan tetapi wajah itu kelihatannya seperti wajah kanak-kanak, wajah yang bodoh dan bundar!

Berdebar badan Bwe Hwa. Ia pernah sekali bertemu dengan Nenek Bu-tek Sianli itu waktu di lembah Tay-hang-san pada waktu menghadapi penyerbuan tentara Mongol. Malah ia pernah merasa kelihayannya. Dan terluka oleh pukulan Nenek yang lihay. Diam-diam ia memperhatikan ke empat orang yang dudak di belakangnya itu.

Akan tetapi telinganya yang tajam dapat mendengar suara Bu-tek Sianli yang tertuju kepada dirinya.

“Tok-ong, dia itulah sumoay dari Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le!”

Bwe Hwa melirik dan pada waktu itu Bu-tek Sianli dan orang Tibet yang tinggi besar itu menoleh kepadanya.

“Hanya seorang wanita buntung saja, apanya yang mesti kita takuti?”

“Akan tetapi dia itu lihay sekali Tok-ong, belum lagi suhengnya yang berjuluk Pendekar Lengan Buntung, lebih hebat lagi. Sayang aku belum ketemu lagi dengannya.

“Kalau ketemu denganku, ingin sekali dengan tanganku ini membuntungi lengannya yang tinggal satu itu. Biar buntung ke dua-duanya. Pingin tahu aku, apakah setelah kehilangan kedua lengan ia masih dapat bertingkah denganku?” Suara Nenek Bu-tek Sianli terdengar agak keras, sambil matanya melirik ke arah Bwe Hwa.

“Sianli, rupanya kau benci sekali dengan orang buntung itu?” tanya lagi orang tinggi besar sambil menenggak arak di meja.

“Memang aku benci. Benci dan menjijikkan!” Suara Bu-tek Sianli sengaja dikeraskan, membuat untuk seketika merah pada telinga Bwe Hwa.

Ingin menurut hatinya menggempur nenek itu. Akan tetapi mengingat keadaan yang tidak mengijinkan dan lagi ia tidak ingin membuat kacau di rumah makan ini. Maka Bwe Hwa menahan hatinya yang mulai panas dan sambil menguping ia mulai bersantap siang.

“Sianli, urusan pribadi sebaiknya kita ke sampingkan dulu, kita perlu cepat-cepat menghadap Thay-bengcu, Yang Mulia di Istana. Sebaliknya jangan kita menunda-nunda perjalanan hanya karena lalat buntung yang menjijikkan!” terdengar suara nyaring dari seorang wanita setengah tua yang terus saja berdiri hendak meninggalkan rumah makan.

“Nanti dulu Nio-nio, kau duduklah!” suara orang tinggi besar itu berwibawa memerintah wanita setengah tua itu.

“Ayah, biar aku bereskan wanita buntung itu!”

“Kong Beng, jangan lancang!”

“Tok-ong, anakmu memang pantas untuk menghadapi si buntung itu,” menyelak Bu-tek Sianli.

“Bangsat! Lalat-lalat hijau membuat pening kepala saja sungguh menjijikan. He, pelayan.......!”

Tiba-tiba Bwe Hwa menggebrak, meja itu amblas hampir setengahnya membuat tamu-tamu yang berada di situ kaget setengah mati. Dua orang pelayan rumah makan buru-buru menghampiri dan berkata sambil membungkuk-bungkukkan badannya.

“Ada apakah siocia memanggil kami?”

“Hitung berapa duit makanan yang ku pesan tadi!”

“Baik siocia,” sahut si pelayan cepat-cepat menyambar si-poa dan mulai menghitung.

Bwe Hwa cepat mengulurkan uang dan tanpa berkata apa-apa lagi segera dia meninggalkan rumah makan tersebut, hatinya mendongkol bukan main kepada ke empat orang yang di belakangnya itu. Waktu dia berlalu sengaja Bwe Hwa melemparkan pandangan mengejek ke arah Bu-tek Sianli. Kemudian cepat-cepat ia berlalu meninggalkan rumah makan.

Dengan gin-kangnya yang tinggi sebentar saja ia sudah jauh meninggalkan kota Pin-niang. Pada saat itu udara yang tadinya panas terik tiba-tiba menjadi gelap. Mendung hitam bertebaran di atas.

Udara sejuk sekali membuat Bwe Hwa menghentikan larinya dan berjalan pelan-pelan. Di hadapannya terhampar sawah-sawah yang luas menghijau, batang-batang padi sudah pada merunduk menandakan buahnya yang masak dan tiba saatnya untuk dituai.

Para petani nampak kelihatan riang berada diantara sela-sela rerumpun padi. Senandung mereka menyambut datangnya musim hujan menandakan keriangan hati.

Seorang anak kecil duduk asyik di atas punggung kerbau sambil meniup serulingnya. Suara kerbau menguak panjang.

Bwe Hwa berjalan pelan-pelan di antara pematang sawah yang luas menghijau. Angin hitam memberat di angkasa.

Pada saat itu tiba-tiba Bwe Hwa dikejutkan oleh suara menggelepar di atas. Tiba-tiba ia terhuyung ke belakang oleh tamparan burung garuda yang besar dan kuat. Kaget bukan main Bwe Hwa, baru pertama kali ia melihat burung yang demikian luar biasa besarnya. 

Dan lebih heran lagi adalah di atas punggung burung itu duduk seorang laki-laki botak yang kelihatan ketolol-tololan yang tadi siang pernah dilihatnya di rumah makan.

Celaka, kalau lelaki tolol ini sampai ke tempat ini jangan-jangan Bu-tek Sianli dan dua orang kakek dan nenek itu akan menuju kemari pula. Belum lagi hilang herannya tiba-tiba burung jang besar itu menukik lagi dari atas menggerakkan cakarnya yang besar.

“Celaka!” Bwe Hwa herseru kaget dan menggerakkan pedangnya membabat kaki garuda yang hendak mencengkram kepalanya itu. Ia mengelebatkan pedang pendeknya dengan maksud membabat kaki itu, akan tetapi terdengar suara keras

“Ting!” Bukan kaki burung itu yang membabat putus melainkan pegangan pedang Bwe Hwa yang hampir terpental saking kuatnya kuku garuda itu membentur pedangnya.

Kagum sekali Bwe Hwa melibat keampuhan kuku garuda itu, padahal kalau hanya membentur pedang biasa saja, pedang pendeknya akan dapat membuntungi pedang lawan. Akan tetapi kuku garuda ini kuat bukan main!

Pada saat itu berkelebat tiga bayangan yang terus saja menyerbu Bwe Hwa. Ternyata yang telah datang adalah Bu-tek Sianli dan dua orang yang tadi dilihatnya di rumah makan.

Seperti kita pernah mengenalnya, dua orang setengah tua itu bukanlah orang sembarangan. Mereka itu adalah Kwan-tiong Tok-ong, si Raja Racun dari Barat dan isterinya yang bernama Tung Hay Nio-nio, sedangkan laki-laki berkepala gundul itu adalah anaknya yang ketolol-tololan yang bernama Kwan Kong Beng, laki-laki yang cukup lihai dan berbahaya!

Sebetulnya keluarga Kwan-tiong Tok-ong ini tidak ada minat untuk mengeroyok seorang wanita yang kelihatan lemah dan berlengan buntung itu, akan tetapi karena Bu-tek Sianli membujuknya, maka sekeluarnya dari rumah makan itu mereka mengejar Bwe Hwa. Kong Beng sengaja disuruhnya menunggang burung garuda peliharaannya untuk melihat dari atas sedangkan mereka bertiga berlari cepat mengikut, arah garuda yang terbang menuju ke luar kota.

Demikianlah, begitu mereka sampai dilihatnya garuda itu sudah bertempur melawan Bwe Hwa. Tentu saja dikeroyok oleh tokoh-tokoh tangguh, Bwe Hwa menjadi kewalahan setengah mati dan sebentar saja ia mulai terdesak hebat.

Bu-tek Sianli yang memang amat benci kepada perempuan yang lengannya buntung ini mendesaknya dengan pukulan-pukulan yang berbahaya. Bukan tidak beralasan Nenek ini membenci Bwe Hwa, karena ia mengingat suheng wanita ini yang paling dibencinya.

Ia sangat dendam kepada laki-laki lengan buntung yang bernama Sung Tiang Le, gara-gara laki-laki itulah ia kehilangan partai dan kelima murid-muridnya. Rencana yang semula diatur dengan sempurna musnah sudah akibat tindakan Pendekar Lengan Buntung yang menyerbu Sian-li-pay.

Untung saja di Sian-li-pay itu ia dapat meloloskan diri dan kemudian lari ke Barat dan bertemu dengan keluarga Kwan-tiong Tok-ong dan berhasil menghasutnya untuk dibawa ke selatan. Malah ia menggabungkan diri dengan tokoh-tokoh kaum hek-to di Barat dan mengakui seorang beng-cu di Barat yang bernama Thay-bengcu.

Kita kembali kepada Bwe Hwa yang dikeroyok oleh orang-orang yang berkepandaian lihai ini. Ia mainkan jurus-jurus Pek-hwa-kiam-sut dengan sengit.

Dan meskipun ia sudah kehilangan sebelah lengan, akan tetapi dengan pedang Pek-hwa-kiam di tangan kanannya membuat tidak gampang bagi Bu-tek Sianli merobohkan lawannya ini. Saking gemas dan marahnya hati si Nenek ini, ia mengeluarkan tongkatnya dan menerjang Bwe Hwa dengan gerakan-gerakan yang dahsyat.

Dikeroyok seperti ini biarpun Bwe Hwa sudah mewarisi kitab peninggalan Pek Moko dan mempunyai senjata ampuh seperti Pek-hwa-kiam, akan tetapi menghadapi Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong yang terkenal di Barat, sebentar saja Bwe Hwa terdesak hebat. Ia cuma dapat mainkan pedangnya menangkis dan mencelat menghindarkan cengkraman-cengkraman garuda yang menyambar dari atas.

Untung saja laki-laki botak yang duduk di atas punggung garuda itu tidak ikut-ikutan hanya sebentar-sebentar memerintah burungnya menyambar dari atas sehingga walaupun Bwe Hwa sudah dibuat sibuk dan terdesak oleh terjangan-terjangan tongkat Bu-tek Sianli dan pukulan-pukulan tangan kosong Kwan-tiong Tok-ong dan Tung Hay Nio-nio, Bwe Hwa dapat bertahan untuk beberapa lama.

“Bagus sekali, Bu-tek Sianli, Nenek bangsat...... Kalau kau gagah, hayo lawan aku...... jangan main keroyokan seperti ini. Pengecut!” Bwe Hwa memaki marah menghindarkan terjangan tongkat Bu-tek Sianli, dan memapaki pedangnya mengelebatkan ke arah tangan Kwan-tiong Tok-ong yang bermaksud mengirim totokan ke arah lehernya.

“Ahhh, musuhmu ini benar-benar mempunyai nyali naga dan semangat segede gajah,” tiba-tiba Kwan-tiong Tok-ong berkata kepada Bu-tek Sianli sambil mengirim terjangan kibasan lengan jubahnya dengan maksud membelit pedang Bwe Hwa, akan tetapi tentu saja Bwe Hwa tahu bahwa jubah lawannya ini mempunyai maksud untuk membelit pedangnya, maka ia menarik kembali tusukan pedang ke arah dada Tung Hay Nio-nio dan membalas menyerang Bu-tek Sianli.

“Orang tua, kau siapa, mengapa usil mengeroyokku?” Bwe Hwa bertanya kepada Kwan-tiong Tok-ong.

“Perempuan muda buntung, ketahuilah, aku adalah Kwan-tiong Tok-ong dan isteriku Tung Hay Nio-nio, bersama puteraku Kong Beng adalah sahabat Bu-tek Sianli. Kau begini muda telah menghina Bu-tek Sianli, benarkah? Sayang sekali, terutama engkau yang masih begini muda dan cantik sayang sekali kalau mendapat luka, lebih baik menyerahlah dan……”

“Benar ayah, suruh nona menyerah…… biar kutanggung Bu-tek Sianli tak mengganggunya. Aku suka sekali kepadanya ayah, tangkap dia jangan lukai hi-hik…… kalau dia suka....... aku kepingin kawin!” Kong Beng berseru dari punggung garuda.

“Dengarkah kau nona, anakku suka kepadamu. Dia minta kawin….... ha ha ah, Kong Beng benar-benar kau suka sama nona lengan buntung ini?” Kwan-tiong Tok-ong berseru girang.

Memang puteranya ini ku-koay sekali. Berpuluh-puluh gadis telah dikenalkannya namun Kong Beng selalu menolak tentang perjodohan. Belum mau kawin.

Sekarang begitu mendengar anaknya minta kawin dengan gadis yang begini lihay dan cantik, meskipun berlengan buntung Kwan-tiong Tok-ong sangat girang sekali, apabila didengarnya puteranya berkata,

“Aku suka kepadanya ayah, biar buntung akan tetapi dia gagah, lihat tapi bukankah pantas dia itu menjadi mantumu….... ha-ha!”

“Jangan ngaco, siapa sudah kawin dengan anakmu si tolol itu, kau orang tua pikun mampuslah!” tiba-tiba Bwe Hwa berseru keras dan maju menyerang mengelebatkan pedangnya dengan sengit dan penasaran.

Bu-tek Sianli tertawa menghina dan menyambut dengan tongkatnya. Tung Hay Nio-nio berseru keras dan menyerbu pula, membantu Bu-tek Sianli mengeroyok gadis yang hebat ini.

“Celaka Kong Beng, nona ini tajam mulutnya dan berbahaya....... lebih baik cari gadis lain saja, jangan dia…... aku tak setuju!” Tung Hay Nio-nio berseru ke arah anaknya mengirim terjangan hebat kepada Bwe Hwa.

“Ibu jangan kau lukai dia. Aku suka, biar galak tapi aku suka kepadanya.”

“Kau memang ku-koay (aneh) Kong Beng, puluhan gadis cantik dan terpandang kau tolak. Eh, di sini kau kecantol sama nona lengan buntung, gila kau!”

“Biarin pokoknya aku mau sama dia. Kalau ibu tidak setuju buat selamanya aku tidak akan kawin, uh........uh…. uuhh.”

“Anak gila, aneh…..!” Tung Hay Nio-nio menggerutu. Betapapun juga ia sayang sama Kong Beng. Maka ia kini mempercepat gerakan tongkatnya untuk merobohkan Bwe Hwa.

Tak kuat Bwe Hwa menghadapi terjangan yang aneh dan luar biasa dari Tung Hay Nio-nio, ia menangkis tongkat dan mencelat ke atas menghindarkan diri dari sebuah tongkat di tangan Bu-tek Sianli.

Pada saat itu selagi tubuhnya melayang di udara, tiba-tiba Kwan-tiong Tok-ong mencelat ke atas dan sebuah saputangan merah menyambar muka Bwe Hwa yang cepat berkelit ke kiri. Akan tetapi, tiba-tiba Bwe Hwa merasakan kepalanya menjadi pening dan berputar. Ternyata ia telah mencium bau yang memabokkan dari saputangan yang dikibaskan oleh Kwan-tiong Tok-ong, terasa sekali perutnya menjadi mual dan ia terhuyung-huyung roboh dan terus tak sadarkan diri.

Pada saat itu Bu-tek Sianli menerjang dengan teriakan keras mengelebatkan tongkatnya menghantam kepala Bwe Hwa. Memang nenek ini begitu sangat benci sekali kepada Bwe Hwa ini, dan begitu melihat gadis lengan buntung itu sudah menggeletak tak berdaya segera menyerbu dengan tongkat di tangan.

“Ha-ha-ha betina liar, sayang sekali kau tidak ajak si buntung Sung Tiang Le menerima kematian, kalau dia sudah mampus, baru legalah hatiku!” Bu-tek Sianli berkata menyindir sambil mencelat ke atas dan turun dengan tusukan tongkat ke arah ulu hati si gadis.

Sungguh keji sekali nenek ini. Dapat dibayangkan betapa akan hancurnya tubuh Bwe Hwa apabila terhantam pukulan dahsyat tongkat itu.

“Bu-tek Sianli tahan!” tiba-tiba Kong Beng berseru keras dan menahan gerakan tongkat Bu-tek Sianli .

“Botak, mengapa kau menahanku membunuh dia?!” tanya Bu-tek Sianli penasaran dan menoleh ke arah Kwan-tiong Tok-ong, merupakan teguran atas kelancangan puteranya. Akan tetapi belum lagi si Raja Racun dapat menjawab. Dengan berani sekali Kong Beng melototkan matanya ke arah Bu-tek Sianli.

“Dia adalah isteriku siapapun tak boleh mencelakakannya!” kata Kong Beng tegas dan menantang.

“Betul Sianli, anakku yang bodoh ini tertarik kepada nona musuhmu itu. Sudahlah jangan kau ambil hati, habisi saja permusuhan dengannya sampai di sini. Ia bakal menjadi mantuku ha-ha-ha!” tertawa Kwan-tiong Tok-ong mengawasi Bu-tek Sianli dan katanya lagi, “Kau tentu tidak berkeberatan menyerahkan nona itu kepada anakku, bukan?”

Untuk beberapa lama Bu-tek Sianli tak dapat menjawab.

Ia jadi meragu. Sebetulnya ingin sekali ia membunuh wanita adik seperguruan dari Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, dan melampiaskan perasaan hatinya yang marah dan mendongkol atas perbuatan Tiang Le yang malah mengobrak-abrik Sian-li-pay. Akan tetapi tentu saja biarpun saat itu hati Bu-tek Sianli sedang mendongkol dan marah, ia tidak begitu bodoh untuk melampiaskan perasaan hatinya.

Ia tahu sekali kalau berkeras mendesak membunuh Bwe Hwa, tentu ia akan kehilangan tiga orang pembantu yang lihai ini dan ini sangat merugikan dirinya. Maka sambil tersenyum penuh arti kepada Kong Beng berkatalah Bu-tek Sianli: “Benar kau hendak mengambil nona ini menjadi isterimu?”

“Benar Sianli!”

“Kau cinta padanya?”

“Aku cinta padanya!”

“Dia lihai, bagaimana kalau dia menolak permintaanmu dan setelah sadar ia menerjangmu?”

“Dia pasti mau, siapa bilang dia menolak keinginanku. Dia cinta padaku, karena aku mencintainya!”

“Kalau dia tidak mencintaimu dan hendak membunuhmu?”

“Nenek sial! Mengapa tanya-tanya ke situ? Pokoknya urusanku dengannya, tak perlu kau campur. Orang tuaku sudah setuju dan tak banyak tanya-tanya, kau ini apa-apa menanya-nanya segala!” Kong Beng menjadi kheki bukan main.

Cepat ia menghampiri Bwe Hwa yang masih pingsan. Dan mengurut leher gadis itu, sehingga Bwe Hwa mengeluh perlahan dan begitu membuka matanya, melihat Kong Beng tengah memandangnya dengan kagum.

“Kau cantik, ha-ha-ha, beruntung sekali aku mempunyai isteri seperti engkau cantiknya. Puteri Kaisarpun kalah cantik olehmu tra-tra-la tra-la-la, batang hatiku gembira he-he-he, oh mama, saya pingin kawin....... kawin dengan siapa, kawin dengan…… eh, siapa namamu?”

Bwe Hwa diam. Celaka, ia terjatuh ke dalam tangan orang botak yang miring otaknya. Begitu ia melirik Bu-tek Sianli memandangnya dangan penuh kebencian.

Tahulah ia nenek ini tentu hendak membunuhnya dan kemudian dicegah oleh laki-laki botak yang bersikap kegila-gilaan ini. Maka ia tidak begitu bodoh untuk melawan mati-matian. Baginya, matipun tidak menjadi soal akan tetapi mengingat kandungannya, ia harus hidup.

“Nona, siapa dong namamu?” tanya Kong Beng lagi.

“Aku tak punya nama!” sahut Bwe Hwa ketus. Dan melotot ke arah Kong Beng yang nyengir kuda diplototi seperti itu.

“Namamu….. tanpa nama? O, jadi kau Bu-beng Siocia....... ha-ha-ha isteriku namanya Bu-beng Siocia.......” Kong Beng tertawa girang mengawasi Bwe Hwa.

Kwan-tiong Tok-ong terseyum girang melihat kelakuan puteranya dan berkata, “Kong Beng aku jalan duluan, kau pakailah garuda, isterimu boleh ajak terbang dengan garuda, akan tetapi hati-hati jangan sampai ia terjatuh!” berkata demikian Kwan-tiong Tok-ong berkelebat mengejar Bu-tek Sianli yang sudah mencelat pergi.

“Betul kata ayah, kita kawin di angkasa kawin piknik, ha….. ha…... eh, Bu-beng, Siocia........ mau kau jadi isteriku?”

“Keparat…… aku tidak sudi kawin denganmu, kau laki-laki botak gila, pergilah kau!” tiba-tiba Bwe Hwa mengangkat tangannya mendorong. Akan tetapi ia menjadi kaget begitu dirasakan tenaganya sudah lenyap.

Tahulah bahwa dirinya telah tertotok. Tentu saja mana mampu ia menghadapi laki-laki ini dalam keadaan tertotok?

“Kenapa kau marah-marah isteriku? Bilanglah mengapa kau marah….. aku...... pasti penuhi permintaanmu. O ya barangkali kau takut jatuh nunggang garuda, biar kita mengambil jalan darat saja?”

“Aku tidak takut Puki-ayam! Memang aku bangsa pengecut!”

“Bagus, bagus memang begitulah Bu-beng Siocia, aku senang sekali kau tidak mengenal arti takut. Barulah ia itu isteriku. Mari kita terbang!” Kong Beng bersuit dan burung garuda dengan jinaknya telah mendekam di samping Kong Beng,

“Berani kau naik ke punggung Hui-eng (garuda terbang).”

“Mengapa tidak berani?” sambil berkata demikian Bwe Hwa mencelat ke atas punggung garuda.

Saking lemasnya ia terhuyung-huyung hampir jatuh, akan tetapi tangannya dipegang oleh Kong Beng dan begitu terdengar suitan Kong Beng burung itu menggerakkan sayapnya terbang tinggi. Tentu saja Bwe Hwa yang tidak biasa naik burung, apalagi setinggi ini menjadi ngeri hatinya.

Tiba-tiba Kong Beng bersuit lagi, tahu-tahu burung itu sudah menggerakkan sayapnya, mengipas-ngipas cepat sekali! Dan Bwe Hwa rasa jantungnya berhenti berdetik ketika tubuhnya tiba-tiba meluncur cepat sekali. Hampir ia terengah-engah karena sukar bernapas ketika angin bertitip keras dari depan.

Dan begitu Bwe Hwa memandang ke bawah, semua nampak kecil sekali. Kepalanya pening, akan tetapi ia memiliki kekerasan hati. Sambil menggigit bibir ia menekan perasaannya. Masa ia harus kalah oleh laki-laki yang duduk di belakangnya?

“Bu-beng Siocia, ngerikah engkau?” Kong Beng berkata dari belakang.

Namun Bwe Hwa diam saja. Ia tengah tenggelam dalam pikirannya dan diam-diam ia mengerahkan hawa sin-kang untuk membebaskan totokan yang melumpuhkan tenaganya.

Setan! Laki-laki botak ini cukup cerdik. Kalau saja ia tidak tertotok seperti ini, ingin sekali ia menggerakkan tangannya dan mendorong tubuh Kong Beng, biar mampus! pikir Bwe Hwa.

Tentu saja Kong Beng, cukup cerdik. Siang-siang ia sudah menotok jalan darah Bu-beng Siocia ini, takut Bu-beng Siocianya kabur dan merepotkan dirinya. Maka tadi begitu mengurut leher Bwe Hwa menyadarkan, tangannya yang terlatih dan lihai itu telah menotok jalan darah di tubuh si gadis.

Semakin tinggi burung itu membumbung ke angkasa, semakin ngeri hati Bwe Hwa melihat ke bawah. Tak berani lagi ia memandang ke bawah, ia memegang leher garuda itu erat-erat.

Sebentar saja mereka telah tiba di atas hutan kecil di sebelah barat kota Tiang An. Tiba-tiba Kong Beng berseru dan mengeluarkan suitan tiga kali. Tahu-tahu burung garuda itu menukik ke bawah dengan kepala di bawah dan ekor di atas.

Hampir saja ia memegang erat-erat leher garuda itu. Tak berani ia membuka matanya. Suara angin berciutan di dekat telinganya.

“Bu-beng siocia, lihat pemandangan di bawah bagus sekali,” Kong Beng berkata lagi.

“Setan! Suruh burungmu turun, aku tak sudi seperti ini,” Bwe Hwa memaki, akan tetapi saking kerasnya suara angin sehingga suaranya hampir tenggelam.

Baiknya Kong Beng mempunyai pendengaran yang terlatih dan dapat mendengar kata-kata gadis di depannya ini. Maka ia berkata,

“Ha-ha, kau takut Bu-beng Siocia?”

“Siapa takut?”

“Mengapa kau suruh turun? Kan enak mengadakan perjalanan seperti ini, eh….. Bu-beng Siocia....... kita sedang indehoy (pacaran) di udara....... ha-ha-ha-ha orang lain tidak bisa indehoy seperti kita!”

“Bangsat rendah. Mulutmu kotor, siapa bilang aku sedang indehoy denganmu. Keparat!” Bwe Hwa membuka matanya dan saking marahnya dia sampai lupa bahwa saat itu ia sedang berada di tempat yang amat tinggi. Maka ia segera melepaskan pegangan tangannya dan mendorong Kong Beng mengirimkan pukulan yang biarpun tidak berbahaya, cukup membuat Kong Beng terkejut dan berteriak kaget.

Bukan karena pukulan itu yang membuat ia menjerit kaget, akan tetapi ia melihat tubuh Bu-beng Siocia itu meluncur ke bawah. Tadi begitu mengangkat tangannya dari pegangan leher garuda, Bwe Hwa terjungkal ke kiri dan menjerit ngeri waktu tubuhnya meluncur ke bawah dengan amat pesat sekali!

“Bu-beng Siocia……!” Kong Beng berteriak dan menyuruh burungnya mengejar tubuh Bwe Hwa yang melayang-layang di udara.

Ketika itu tubuh Bwe Hwa berputar dan hatinya sudah tidak keruan rasa semangatnya terbang, tiba-tiba tubuhnya dicengkeram oleh sebuah tangan yang kuat dan keras. Dan tahu-tahu tubuhnya tertahan dari luncuran dari atas, malahan melayang lagi naik ke udara. 

Suara kelepak sayap burung yang berwarna kuning emas menggelepar-gelepar. Cepat Bwe Hwa mendongak dan ternyata ia telah berada dalam cengkraman burung rajawali emas yang tidak kalah besarnya dengan burung peliharan Kwan-tiong Tok-ong.

“Kim-tiauw-heng, cepat lari ke selatan!” Bwe Hwa berteriak girang, ke dua tangannya memegang kaki rajawali itu dan aneh sekali ia merasakan totokannya telah terbebas dan tenaganya pulih kembali. Merasa bahwa dirinya sudah terbebas dari totokan, segera Bwe Hwa menggenjot tubuhnya melayang ke atas dan tepat hinggap di punggung rajawali.

Pada saat itu ia mendengar makian Kong Beng di belakangnya, “Burung sialan lepaskan Bu-beng siocia!”

Terdengar suitan lagi, tahu-tahu burung garuda yang ditunggangi oleh Kong Beng meluncur cepat mengejar burung rajawali yang mempunyai bulu kuning emas.

Bwe Hwa tahu bahwa dirinya dikejar, segera saja ia berseru kepada burung tunggangannya, “Kim-tiauw lekas lari, laki-laki botak itu jahat sekali dan hendak menawanku!”

Aneh sekali, seperti mengerti akan perkataan gadis itu, burung rajawali menggerakkan sayapnya lebih cepat dan terbang semakin tinggi sehingga sebentar saja Kim-tiauw itu sudah dapat meloloskan diri dari kejaran garuda.

Tahu bahwa burung rajawali ini mengerti perkataannya. Bwe Hwa menjadi girang dan senang sekali hatinya. Ia mendiamkan saja burung itu terbang tinggi melewati awan-awan dan semakin cepat burung itu meluncur semakin tidak takut hati Bwe Hwa.

Ia menepuk-nepuk leher rajawali sambil katanya, “Kau baik sekali Tiauw-heng, terima kasih atas pertolonganmu kau hendak membawa kemanakah aku?”

Tentu saja karena burung itu tidak bisa berbicara, Bwe Hwa tidak dapat menangkap maksud binatang yang ditungganginya ini, yang mencoet-coet berputar-putar di angkasa seperti orang kebingungan.

Kalau saja burung itu bisa berbicara tentu ia akan berbicara demikian, “Nona yang cantik, kemana sekarang aku harus membawamu?”

Akan tetapi bukan perkataan itu yang dikeluarkan oleh Kim-tiauw. Ia hanya bisa mencoet-coet saja berputar-putar di udara seakan-akan tengah menanti perintah ke mana ia harus menerbangkan gadis di punggungnya ini!

Merasa burung ini berputar-putar dan kebingungan, segera Bwe Hwa berkata, “Tiauw-ko aku tidak punya tempat tinggal yang tetap, terserah kepadamu ke mana engkau hendak membawaku!”

Terdengar Kim-tiauw itu menjerit girang, Ia sudah dapat menangkap maksud penunggangnya. Maka sambil mencoet keras merupakan jeritan yang panjang, burung itu menggerakkan sayapnya dan meluncur cepat ke arah utara.

“Bagus Kim-tiauw, bawalah aku ke mana saja kau suka. Kalau boleh kau bawalah aku ke sarangmu. Tentu kau punya tempat tinggal bukan?” Bwe Hwa berseru di dekat telinga Kim-tiauw. Burung itu mencoet girang.

Bwe Hwa menjadi girang dan waktu burung itu terbang lebih tinggi dan lebih cepat lagi, ia berpegangan pada kalung mutiara yang melingkar di leher Kim-tiauw.

Dan menyuruh burungnya terbang lebih cepat lagi.

◄Y►

Diantara begitu banyaknya puncak-puncak Himalaya di daerah Barat, jauh menjurus di sebelah utara terdapat puncak yang berbentuk seperti sayap burung dan dinamakan puncak Rajawali. Tidak banyak orang yang mengenal pegunungan Rajawali ini oleh sebab banyak orang menyangka bahwa pegunungan yang panjang dan tinggi ini masih termasuk daerah pegunungan Himalaya yang terkenal di Tibet.

Akan tetapi apabila kita perhatikan benar-benar, lembah Wie-ho yang terdapat di antara dua pegunungan yang besar itu, sesungguhnya adalah batas daerah yang memisahkan Himalaya dengan Rajawali. Namun dengan pegunungan besar ini berdekatan dengan pegunungan Himalaya dan dilihat sepintas lalu memang masih termasuk daerah Himalaya maka pegunungan rajawali yang terdapat di utara tidaklah banyak dikenal orang!

Di antara puncak-puncak yang tinggi dan bersalju di pegunungan Himalaya di Tibet terdapat pula puncak Anapurna, Hyang Adhidarma dan sederet dengan itu terdapat puncak yang bernama Rajawali. Puncak gunung yang berhadapan dengan Anapurna dan hanya dipisahkan oleh sebuah lembah yang bernama lembah Wie-ho.

Sebuah lembah yang terkenal dan pernah menjadi tempat peristirahatan pemimpin Mongol yang bernama Jenghis Khan dan dari atas kedua puncak ini dapat kita lihat perumahan-perumahan dan pemandangan yang indah sekali yang didirikan oleh Mongolia. Akan tetapi karena daerah itu tidak lagi diduduki oleh Mongol maka tempat itu boleh dikata menjadi tempat rekreaksi bagi suku bangsa Tibet dan sekitarnya.

Pada hari itu, puncak gunung Rajawali tengah diselimuti oleh halimun yang tebal dan bersalju. Hujan salju turun merenyai. Memang sudah dua bulan ini di daerah Tibet tengah mengalami musim salju dan di mana-mana terdapat hujan salju, terutama di daerah-daerah pegunungan.

Udara dingin sekali. Pohon-pohon diselimuti oleh salju dan berwarna putih laksana kapas. Binatang-binatang hutan dalam musim-musim salju seperti ini jarang sekali yang meninggalkan sarangnya, mereka lebih senang berlindung di sarang dan menghindarkan salju yang dingin itu.

Suasana begitu sepi dan hening. Hujan salju merenyai membawa butir-butiran es yang menutupi puncak!

Akan tetapi di antara kekelaman malam, jalan yang tertutup oleh halimun dan salju, sayup-sayup dari atas puncak gunung terdengar suara nyanyian seperti orang membaca doa. Kadang-kadang nyanyian itu timbul tenggelam di halau oleh angin yang kencang menghembus. Dalam suasana hujan salju seperti ini, manusia manakah yang begitu gila berkeliaran di puncak dan membaca liam-kheng?

Memang suara itu kadang-kadang jelas, kadang-kadang tenggelam dalam hembusan angin dan salju. Akan tetapi apabila kita perhatikan, itulah suara seorang manusia yang tengah mengulang-ulang bait-bait dalam kitab Suci Dhamapada. Suara itu jelas terdengar,

“Namo Koan Si im Poo Sat,
Yang Maha Welas Asih dan Maha Balas kasihan,
Pencari suara ratap kesedihan.”

“Penolong bagi yang tengah dalam penderitaan dan kesukaran,
Yang Maha Keramat tiada taranya.”

“Aku memuja pada Buddha,
Aku memuja pada Dharma,
Aku memuja pada Sangha.
Malaikat langit, Malaikat bumi.

Semoga manusia terhindar dari penderitaan
Semoga penderitaan meninggalkan badan.
Semoga seluruh mala petaka berobah menjadi debu.
Namo Maha Prajanaparamita!

“Kim Poo Kim Poo Tee,
Too Loo Ni Tee,
Poo Thi Sao Poo Ho.”

Suara itu terus mengulangi kata-kata seperti itu tak henti-hentinya, kadang-kadang terdengar keluhannya seperti orang yang berdoa:

“Semoga Bodhisattya Mahasatiya melindungi diri teecu, agar dapat terbebas dari segala penderitaan dan kesukaran!”

Entah manusia manakah yang membaca ayat-ayat kitab suci Dharmapada dengan suara yang timbul tenggelam itu. Sementara hujan salju masih turun membawa gumpahan-gumpahan es dan angin bertiup kencang.

Pada saat itu, terdengar suara menggelepar keras dan dari atas menukik seekor burung rajawali emas dan hinggap di atas sebuah gundukan tanah di muka mulut gua. Suara burung itu mencicit-cicit nyaring seakan-akan tengah memanggil-manggil.

Seorang wanita muda cantik berlengan buntung telah mencelat dari punggung rajawali itu dan memandang ke sekeliling. Pakaian dan rambutnya penuh dengan salju yang menderai-derai menimpah tubuhnya. Hebat sekali wanita itu, dalam deraian hujan salju yang begitu dingin dan angin keras ia tidak merasa dingin hanya rada wajahnya nampak membiru.

Tiba-tiba dari mulut gua keluar sesosok tubuh. Tubuh yang sudah demikian tua dan ke dua kakinya buntung sebatas dengkul. Kakek ini memandang wanita di dekat rajawali.

“Ooo, kiranya nona Bwe Hwa yang berkunjung ke tempatku ini…... silahkan masuk.” Suara kakek kaki buntung itu halus dan ramah.

Tentu saja Bwe Hwa pernah melihat kakek kaki buntung ini. Pernah ia bertemu di lembah Tai-hang-san. Malah kakek kaki buntung inilah yang menolongnya dari luka-luka yang hebat!”

Mengenal kakek kaki buntung yang pernah menolongnya, buru-buru Bwe Hwa berlutut sambil katanya. “Locianpwe, teecu Bwe Hwa menghadap!”

“Ha-ha-ha, tidak disangka, kau jauh-jauh datang ke pondokku, Bwe Hwa…....” kakek kaki buntung itu tertawa senang.

“Teecu telah ditolong oleh Kim-tiauw-heng ini dari tangan puteranya Kwan-tiong Tok-ong yang bernama Kwan Kong Beng. Teecu tertawan oleh putranya yang miring otak itu. Untung ada Kim-tiauw yang keburu menolong teecu dan membawanya ke tempat ini. Kalau kedatangan teecu mengganggu locianpwe, maafkanlah!”

“Sudah kuduga, pasti tadi waktu aku membaca liam-keng hatiku tidak enak dan merasa ada seseorang yang mengunjungi puncak. Ah, tidak tahunya engkau…... Eh, kenapa kau tidak bersama-sama dengan Pendekar Lengan Buntung, apakah Tiang Le baik-baik saja?”

“Teecu tidak tahu tentang dia locianpwee……” tiba-tiba Bwe Hwa menangis teringat Tiang Le.

Hatinya merasa ditusuk oleh perkataan kakek tadi. Memang seharusnya ia tidak berpisah dengan Tiang Le, seharusnya dimana ada dia, di situ ada Tiang Le, akan tetapi ahh, susah! Bwe Hwa menangis semakin keras.

“Bwe Hwa, sudahlah....... kejadian yang sudah lewat itu, tidak akan kembali. Tenangkanlah hatimu, mari masuk, tidak baik di tempat ini dinginnya terlalu!”

Si kakek kaki buntung yang pada puluhan tahun yang lalu berjuluk Sin Kun Bu-tek ini mengajak Bwe Hwa masuk ke dalam. Dari pandangannya yang tajam, ia sudah dapat mengetahui akan penderitaan bathin yang dialami oleh gadis lengan buntung.

Sesampainya di ruang dalam, Bwe Hwa menghentikan tangisnya. Ia merasakan suatu ketenangan dan rasa damai dihatinya berada di tempat sesunyi ini. Ia menghapus air matanya dan memandang basah si kakek kaki buntung.

“Locianpwe, teecu mohon petunjuk atas kejadian ini, teecu telah mengandung….. akibat perbuatan teecu di lembah Tay-hang-san itu.......”

“Aku telah dapat menduganya Bwe Hwa. Entah betapa bulan kau mengandung sekarang?” tanya si kakek penuh perhatian.

“Jalan tiga bulan locianpwe.......!”

“Hmm….. kalau begitu kau beristirahatlah di tempatku ini. Dalam hal ini sebenarnya tidak boleh kau menyalahi Tiang Le orang muda itu lemah hati, dan…… ya susah dikata, Bwe Hwa….... aku yakin bahwa Tiang Le tidak akan mempermainkanmu!”

“Akan tetapi loocianpwe, mengapa kalau Tiang Le tidak mempermainkan teecu, dia dengan Pei Pei.......”

“Bukan begitu Bwe Hwa, tentu dia benar-benar keracunan ular putih di pantai laut Po-hay itu. Apakah kau tidak melihat wajah pada ketika itu. Orang yang keracunan ular putih wajahnya pucat dan putih, sinar matanya kuyu dan pokoknya pada ketika itu hanya satu keinginan saja yang menggelora di dalam hatinya!”

Bwe Hwa terdiam mengingat-ingat. Memang pada waktu itu ia melihat wajah Tiang Le dan Pei Pei tidak sewajarnya Akan tetapi pada waktu itu ia sudah merasa marah bukan main dan mendapat lagi mengambil langkah dengan pertimbangan yang sehat. Diam-diam Bwe Hwa menyesal sekali telah melarikan diri dari Tiang Le.

Si kakek kaki buntung menghela napas, “Hanya, kau masih berdarah panas Bwe Hwa. Kalau begitu kan masih ada harapan untuk kembali kepada Tiang Le. Nah, kau istirahatlah di tempatku ini untuk beberapa lama kau suka, kelak kalau sudah tiba waktunya boleh kau cari Tiang Le. Aku yakin dia akan mengakui anak dalam kandunganmu itu!”

Demikianlah sejak beberapa minggu itu, Bwe Hwa tinggal di puncak rajawali bersama kakek kaki buntung yang sakti, Sin Kun Bu-tek Lim Heng San. Selama di puncak rajawali itu ia mendapat ketenangan yang luar biasa dan sakit di dadanya yang tadinya mulai terasa, kini berangsur-angsur pulih kembali akibat buah-buah yang segar dan berkasiat yang terdapat di puncak.

Wajah Bwe Hwa kian hari semakin segar dan sehat kemerah-merahan. Girang sekali hati kakek ini melihat kesehatan Bwe Hwa yang kian hari kian bertambah sehat dan segar. Apalagi kini setelah beberapa lama tinggal di puncak, Bwe Hwa lebih senang memakai pakaian serba putih, nampak semakin jelita saja wajahnya dan perutnya pun semakin membuncit.

Selama di puncak itu kepandaian Bwe Hwa meningkat. Ia diberi pelajaran silat oleh kakek Sin Kun Bu-tek dengan jurus yang bernama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas)”

Pada suatu hari Bwe Hwa berpamit kepada Sin Kun Bu-tek untuk turun gunung mencari Tiang Le. Saat itu musim salju telah lewat, berganti dengan musim semi yang gemilang.

Segala bunga-bunga bermekar indah di atas puncak. Daun-daun yang tadinya rontok oleh datangnya musim salju kini berganti mengeluarkan daun-daun yang hijau dan cerah. Halimun di atas hanya menipis menutupi puncak rajawali.

Si kakek Sin Kun Bu-tek Lim Heng San menghantarkan kepergian Bwe Hwa sampai di kaki bukit.

“Hati-hati Bwe Hwa, jagalah kandunganmu itu. Kalau kau mau, bawalah Kim-tiauw untuk menemanimu, mudah-mudahan engkau dapat segera bertemu dengan Tiang Le,” pesan kakek itu.

Sekali lagi Bwe Hwa menjura kepada si kakek. Kemudian dengan menunggang burung rajawali yang jinak terhadapnya itu, mulailah Bwe Hwa mengadakan perjalanan ke selatan dan mencari Tiang Le. Berhari-hari ia terbang di angkasa bersama Kim-tiauw karena ingin cepat-cepat bertemu dengan pemuda lengan buntung yang bernama Sung Tiang Le.

Dan seperti yang sudah diceritakan pada bagian depan, gadis ini mendatangi Tiang-pek-san dan alangkah kecewa hatinya melihat Tiang Le ternyata telah kawin dengan gadis bekas murid Bu-tek Sianli, yang bernama Liang Bwe Lan. Dan ia mendengar pula betapa Tiang Le telah menjadi ketua Tiang-pek-pay dan tidak mau mengikutya.

Alangkah kecewanya hati gadis lengan buntung itu. Sambil mengeluarkan suara tertawa penuh isak tangis, ia terbang tinggi dengan burung rajawali emas yang membawanya kembali ke puncak Rajawali dan tinggallah ia bersama-sama kakek Sin Kun Bu-tek sampai ia melahirkan.

Sungguh perih sekali hati gadis itu pada waktu kelahirannya tiada Tiang Le di dekatnya. Saking kecewanya hati gadis itu, diam-diam ia membenci Tiang Le dan isterinya. Kelak apabila anak itu telah dewasa, hendak ia tanamkan rasa sakit hati itu kepada keluarga Tiang-pek-pay.

Dengan pertolongan penduduk dusun, akhirnya Bwe Hwa melahirkan seorang puteri yang sehat dan manis. Anak perempuan itu diberinya nama Lie Lily, sengaja ia tidak memakai she (nama keturunan Sung) karena hatinya sudah begitu kecewa dan benci terhadap Tiang Le.

Puteri yang bernama Lie Lily ini sangat mungil dan manis, membuat kakek Sin-kun Bu-tek amat sayang sekali dan menganggapnya sebagai cucunya sendiri. Lepas beberapa tahun kemudian, anak yang mungil ini dididik langsung oleh kakek Sin-kun Bu-tek dengan menurunkan ilmu silat yang tinggi serta lihai, membuat hati Bwe Hwa menjadi girang sekali dan ia sendiri dengan giat menurunkan ilmu pedang yang dahsyat Pek-hwa-kiam-sut, ilmu yang pernah ia pelajari dari kitab peninggalan Pek-moko. Sudah barang tentu, Bwe Hwa sayang sekali kepada puterinya ini dan sangat memanjakannya.

Dalam usia hampir menanjak enambelas tahun, Lily menjadi seorang gadis yang sangat jelita, malah lebih cantik dari Bwe Hwa sendiri. Kepandaiannya pun malah lebih tinggi dari pada ibunya, karena gadis ini langsung di bawah bimbingan Sin-kun Bu-tek yang sakti, sehingga dalam usia yang sangat muda itu, Lily mempunyai kepandaian silat yang amat tinggi dan luar biasa.

Akan tetapi satu hal yang sangat disayangkan adalah berkat didikan Bwe Hwa yang terlalu memanja anak ini, sehingga ia menjadi seorang gadis yang keras hati dan selalu menuruti kemauannya sendiri. Lebih dari pada itu, mulai sejak kecil Lily ini dijejali filsafat untuk membenci Sung Tiang Le yang tinggal di puncak pegunungan Tiang-pek-san. Sehingga dalam dada gadis remaja itu tertanam kebencian hebat kepada keluarga Sung Tiang Le di puncak Tiang-pek-san dan ia berjanji suatu ketika kelak, ia akan membasmi Tiang-pek-san dan hendak membuntungi lengan Sung Tiang Le!

<>

Pada suatu hari kakek Sin-kun Bu-tek yang sudah sangat tua usia itu, menghembuskan napasnya yang penghabisan. Tentu saja biar bagaimana sakti kakek yang bernama Sin Kun Bu-tek ini, iapun tidak dapat menolak datangnya maut di hari tuanya. Ia meninggal dunia dalam usia hampir seratus tahun dan ini sangat menyedihkan hati Lily yang sudah menganggapnya sebapai kong-kong (kakek) nya sendiri.

Lily menangis sedih waktu kong-kongnya sehari sebelum meninggal dunia memesannya demikian:

“Lily, semua kepandaian silatku sudah kuturunkan kepadamu. Senang sekali hatiku melihat engkau yang masih begini muda telah memiliki kepandaian yang cukup tangguh, apalagi kulihat ibumu juga menurunkan ilmu pedang yang hebat dan ganas. Kepandaianmu kini boleh dikata sudah mendekati puncak kesempurnaan, tinggal hanya melatih diri saja!

“Akan tetapi ingat Lily, dalam hal ilmu di dunia ini tidak ada batasnya, jangan kau kira bahwa kepandaianmu sudah menjagoi dunia persilatan. Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi dan tak terbatas.

“Seperti tingginya gunung Tay-san, masih lebih tinggi awan di atasnya. Dan biarpun awan sudah kelihatannya begitu tinggi, akan tetapi di atasnya masih ada langit dan segala malaikatnya."

“Ingatlah ini Lily, hendaklah engkau bersemboyan kepada ilmu padi.

“Semakin ia berisi semakin ia itu merunduk dan merendahkan dirinya."

“Itulah yang benar, sebab hanya orang yang mengenal dirinya itulah yang sesungguhnya dapat melihat kesalahan-lahan dan kelemahannya.

“Kong-kong…… apakah aku sudah dapat menandingi Sung Tiang Le?” Tiba-tiba Lily bertanya menentang pandangan si kakek.

Sin-kun Bu-tek menghela napas panjang.

“Untuk apa kau hendak bertanding dengan Sung Tiang Le?” tanya kakek itu.

“Teecu hendak mengadu ilmu dengannya, kelak teecu hendak hancurkan Sung Tiang Le beserta anak istrinya!”

“Lily!” Sin Kun Bu-tek membentak, “Omongan apa yang kau keluarkan itu. Kau hendak bertanding dengan Sung Tiang Le?”

“Betul Kong kong, apakah kepandaian Sung Tiang Le sehebat kong-kong? Kata Ibu, kepandaian orang yang lengannya buntung itu lihai sekali, malah lebih sakti dari pada ibu. Benarkah kong-kong?”

“Gila! Kau…… kau hendak hertempur dengan ayahmu sendiri?”

“Dia bukan ayahku, kong-kong, Dia musuh besarku! Aku harus mengadu nyawa dengannya!

“Lily kau…… apakah kau tidak tahu bahwa Sung Tiang Le itu adalah ayahmu?”

“Dia bukan ayahku, ayahku sudah mati dan ibu menderita karena itu. Aku harus turun gunung dan mencari laki-laki yang lengannya buntung!” Suara Lily terdengar keras dan bersemangat.

Untuk seketika lamanya Sin Kun Bu-tek tak berkata apa-apa lagi. Ia memandang gadis cucunya di depannya. Celaka, inilah gara-gara Bwe Hwa yang telah menanamkan rasa kebencian di hati gadis ini sehingga Lily bertekad untuk membunuh ayah kandungnya sendiri!

“Lily, kau….. kau tidak boleh bertempur dengan ayahmu sendiri. Ingat Lily, ia itu adalah….. ayahmu…. Ayahmu…. ayah kandungmu. Tak baik kau menyerangnya, tidak boleh begitu Lily. Seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya. Kau seharusnya mencari Tiang Le dan membawanya kepada ibumu.”

“Akan tetapi ibu bilang ayah sudah mati di tangan Tiang Le, sehingga ibu menderita!”

Sin Kun Bu-tek menarik napas panjangnya, “Aii kau sudah diracuni ibumu Lily…… sebetulnya.......”

Belum lagi Sin Kun Bu-tek meneruskan kata-katanya, tiba-tiba Bwe Hwa muncul dan berkata kepada Lily, “Anak bengal, aku mencari-carimu setengah mati, nggak tahunya kau ada di sini. Hayo kau ikut aku menangkap kelinci buat kong-kongmu!”

Bwe Hwa menarik tangan puterinya, membuat Lily terpaksa mengikuti ibunya berlari-lari turun gunung dan menuju ke sebuah hutan kecil yang banyak terdapat binatang kelinci di situ.

“Ibu.......”

“He, ada apa Lily……?”

“Sebenarnya....... ayah dimana ibu, apakah ayah benar masih hidup?” tanya Lily mengawasi ibunya.

Untuk sejenak wajah Bwe Hwa menjadi murung.

Dia....... dia telah mati Lily. Pendekar Lengan Buntung itulah yang telah membunuhnya!”

“Ibu....... kong-kong bilang.......”

“He? Apa kata kong-kongmu……”

“Kong-kong bilang ayah masih ada, benarkah ibu?”

“Dia sudah mati, ahh kau cerewet benar, kau Lily….... hayo kita mencari kelinci buat kong-kongmu!

“Ibu, betul ayah sudah mati, tidak bohong?”

“Tentu saja, untuk apa aku membohongimu. Lihat ini, tanganku sebelah kiri buntung karena dia……” tiba-tiba Bwe Hwa menangis dan memperlihatkan lengan kirinya yang buntung kepadanya.

“Kau harus balas sakit hatiku ini, Lily. Kau buntungi lengan Pendekar Lengan Buntung, kau bunuh anak isterinya........ ugh…. ugh.......” tangisnya sedih.

Lily menubruk ibunya dan menangis sedih, “Ibu....... anak bersumpah untuk membalas sakit hati ibu…dan…… dan .. membuntungi lengannya.......”

Tiba-tiba Bwe Hwa mengusap air matanya dan berseri.

“Bagus Lily, barulah kau anak yang berbakti kepada ibu!” berkata Bwe Hwa sambil menarik tangan anaknya memasuki hutan kecil dan tidak lama kemudian mereka sudah menenteng telinga kelinci yang gemuk-gemuk dan sehat, langsung saja mereka terus menuju ke goa Sin Kun Bu-tek.

Akan tetapi alangkah kagetnya begitu dilihatnya si kakek tengah bertempur menghadapi maut. Lily segera menubruk kakek itu dan menangis tersedu-sedu,

“Kong-kong....... kong-kong.... mengapa kau begini?”

Dengan amat sayu si kakek membuka matanya dan membelai rambut Lily, “Lily…... aku....... aku....... aa……”

“Locianpwe!!” Bwe Hwa juga menjerit melihat kakek itu megap-megap napasnya sekarat hendak wafat. Cepat ia menotok pernapasan si kakek yang terasa sesak dan mengurutnya dada si kakek.

“Locianpwe, kau hendak meninggalkan pesan apakah?” tanya Bwe Hwa.

“Kong-kong….., kau bilanglah… bicaralah kong-kong…..” Lily memeluk tubuh si kakek yang sudah rapuh saking tuanya.

“Lily........ Kau....... kau ingatlah pesan ku.......” habis berkata demikian kakek yang sakti itu menghembuskan napasnya yang penghabisan.

“Kong-kong……. !!”

“Locianpwee.......!!”

Maka dikesunyian puncak itu terdengar tangisan dua orang wanita yang bersuara merdu seperti bidadari. Itulah tangisan Bwe Hwa dan puterinya.

Si mati terbujur kaku dengan tenang dan damai. Si hidup manggil-manggil si mati dengan suara yang mengiba dan penuh penyesalan.

Memang demikianlah adanya bagi yang mati, ia telah terbebas dari ikatan-ikatan duniawi. Ia sudah berpulang ke tempat asalnya dengan tenang dan tiada lagi tangis dan air mata di sana.

Sebaliknyi bagi mereka yang masih hidup, hukum dunia ini masih berlaku menuntut kepadanya, sehingga merupakan tekanan dan penderitaan yang tak kunjung habis-habisnya. Merupakan hidup ini menjadi beban bagi si hidup dan akan lenyaplah beban itu apabila nyawa, telah meninggalkan raga!

Sampai seminggu itu Bwe Hwa dan puterinya menetap di puncak Rajawali sebagai tanda berkabung. Jenazah kakek Sin Kun Bu-tek telah dikuburkannya di depan mulut gua, sehingga di situ terdapat sebuah makam yang baru merupakan, segundukan tanah!

Bwe Hwa dan Lily bersembahyang sekali lagi di depan makam kakek Sin Kun Bu-tek. Dan setelah itu, mereka berdua ibu dan anak meninggalkan tempat itu untuk mencari Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le. Mereka tidak berlari cepat menuruni puncak rajawali, karena Lily yang baru pertama kali ini turun gunung berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangah alam yang indah sekali di pegunungan Himalaya.

Kalau Bwe Hwa berpakaian putih-putih dengan pedang pendek terselip di pinggangnya adalah puterinya ini demikian jelita dan cantik dalam pakaian warna putih pula sehingga merupakan sekuntum bunga cilan yang harum dan segar. Pipi gadis itu kemerah-merahan oleh sebab hawa pegunungan yang dingin dan sejuk.

Pada pinggangnya terselip pula sebuah pedang yang tidak kalah ampuhnya oleh pedang Pek-hwa-kiam yang dipakai ibunya. Pedang ini adalah pemberian kakeknya bernama pedang Toat-beng-kiam. Pada waktu kakeknya memberikan pedang itu pernah kakeknya berkata,

“Lily pedang Toat-beng-kiam ini adalah sebuah pedang yang pada puluhan tahun telah banyak meminum darah manusia. Dan berhasil ku singkirkan dan kusimpan. Akan tetapi aku setelah menurunkan ilmu silat kepadamu maka pedang ini baik sekali kau bawa.

“Jahat baiknya pedang hanya tergantung bagi si pembawanya saja. Oleh sebab itu gunakanlah pedang ini untuk kebajikan dan kebaikan bagi sesama manusia. Jangan kau sembarang membunuh dengan pedang ini Lily!”

Dan yang membuat kakek Sin Kun Bu-tek maupun Bwe Hwa merasa sayang kepada gadis ini adalah karena Lily mempunyai wajah yang mirip dengan ayahnya, Sung Tiang Le. Hanya sepasang mata itu mengambil mata ibunya, bulat seperti mata burung Hong. Sehingga seringkali apabila memandang anaknya Bwe Hwa teringat kepada Tiang Le, dan kembali segala kenangannya bersama Tiang Le melekat di ruang matanya.

Dan kesudahannya timbul rasa sakit hati dan benci. Dan rasa penasaran itu ditanamkan kepada anaknya, sehingga gadis yang masih begini muda dan cantik telah mempunyai rasa benci yang luar biasa terhadap Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le!

◄Y►

Tiang Le dan Bwe Lan mengadakan perjalanan yang jauh menuju puncak Tay-san. Ia sengaja tidak membawa Wang Ie karena hendak mengadakan berjalan cepat dan amat berbahaya.

Berminggu-minggu ia berjalan melintasi hutan belukar lebat dan dusun-dusun tak berhenti-hentinya Kadang-kadang mereka mempergunakan ilmu lari cepat dan herkelebat bagaikan bayangan setan di tengah hari bolong, kadang-kadang pula mereka berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan yang indah.

Pada suatu hari mereka sampai di lereng gunung Tay-san yang tinggi itu. Karena udara sangat panas sekali dalam sebuah hutan kecil mereka berhenti dan duduk di bawah sebuah pohon yang rimbun daunnya melepaskan lelah.

“Kita sudah sampai di kaki gunung Tay-san, Lan-moay!” Kata Tiang Le memberi tahu isterinya.

Bwe Lan tersenyum dan memandang ke sekeliling hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun daunnya. Ia menyeka keringat pada dahinya kemudian duduknya di tanah di dekat Tiang Le.

Angin yang bertiup dari pepohonan terasa nikmat sekali. Sementara matahari siang telah berada di atas kepala memandangnya dengan garang.

Bwe Lan melonjorkan kakinya.

“Aii ngantuk bukan main aku koko…..?” setengah berbisik, Bwe Lan berkata di dekat Tiang Le.

Tiang Le menoleh dan memandangnya dengan mesra.

“Kalau ngantuk kau tidurlah Lan-moay, biar setengah hari ini kita istirahat di sini. Nanti sore kita lanjutkan perjalanan kita, dua jam lagi tentu kita akan sampai di puncak!”

“Masih begitu lamakah koko berjalan ke puncak?”

“Ya, kalau kita berlari cepat kira-kira dua jam!”

Bwe Lan tidak menyahut, ia mengatupkan kelopak matanya dan tidur-tidur ayam. Tiang Le memandang isterinya. Ia sendiri tadi tidak mengerti sikap isterinya ini.

Barusan setengah hari mereka tidur mengomong. Isterinya mendiamkan saja. Aneh, akhir-akhir ini sikap Bwe Lan aneh dan manja!

Ia mendiamkan saja isterinya melenggut tidur ayam menyenderkan kepala dibahunya, hanya terasa napas isterinya lambat-lambat turun naik. Tiang Le merenung memandang wajah Bwe Lan.

Entah mengapa apabila dia memandang wajah Bwe Lan dia selalu terkenang akan Bwe Hwa. Dan apabila teringat itu, ia menarik napas dalam. Merasa bahu itu terguncang waktu menarik napas tadi, Bwe Lan tersentak kaget dan membuka matanya memandang suaminya.

“Koko kenapa kau menarik napas kesal?”

“Tidak Lan-moay, cuma saja. Ahh, entah kenapa hatiku tidak enak apabila teringat kepada Bwe Hwa!”

“Hem, itu saja yang kau katakan. Bosan aku! Koko kau setiap kali teringat perempuan siluman apakah kau mencintainya?” tiba-tiba Bwe Lan bertanya tajam. Ia memandang suaminya seperti orang menyelidiki, tatapannya yang tajam dan penuh perasaan tak senang seakan-akan hendak menembus dan membaca isi hati Tiang Le.

Tiang Le tertunduk tak kuasa menentang pandangan isterinya yang tajam: “Aku kuatir ancaman Bwe Hwa tempo hari itu menjadi kenyataan Lan-moay!”

Bwe Lan mendengus dan alisnya naik ke atas menyatakan perasaan hati tak senang: “Kau takut anakmu menuntut balas?”

“Begitulah kiranya Lan-moay. Siapakah orangnya yang tidak akan pedih hati melihat anak sendiri hendak membunuhnya…….” Suara Tiang Le terdengar perlahan dan kuatir.

“Itu salahmu, koko....... mengapa dulu kau begitu mudah saja mengobral napsu dan....... ah, kau memang mata keranjang. Sudah Pei Pei kau permainkan, kini Bwe Hwa lagi. Terlalu kau koko!”

“Aku tidak mempermainkan siapa-siapa, Lan-moay. Juga tidak bermaksud jelek terhadap Pei Pei dan Bwe Hwa....... akan tetapi itu sudah terjadi…... ya nasib!”

“Koko.......!!”

Tiang Le menoleh dan memandang istrinya.

Dua pandangan mata saling merenggut.

“Koko.... apakah kau…. kau lebih sayang Bwe Hwa daripadaku?” tiba-tiba Bwe Lan mengeluarkan air mata menangis.

Tiang Le mengusap pipi yang basah oleh air mata itu.

“Aku sayang kepadamu Lan-moay. Sudahlah jangan kau bicarakan itu lagi. Soal Bwe Hwa biarkanlah kita lihat saja nanti……..”

Akan tetapi Bwe Lan marah-marah dan membanting-bantingkan kaki sambil mencucurkan air mata yang deras meleleh pada kedua pipinya.

“Eh, mengapa kau marah-marah dan menangis. Ada apakah Lan-moay?” Tiang Le memegang lengan istrinya, membelai rambut yang panjang terurai itu dengan kasih sayang.

“Kau....... kau....... selalu menyakiti hatiku. Aku benci kepadamu….. benci…., benci….”

“Eh, eh…… eh, mengapa kau marah-marah seperti ini? Apa salahku, tidak hujan tidak angin kau ngambek seperti ini. Aneh!”

“Kau….. kau…. aku benci! Aku benci kau menyebut-nyebut Bwe Hwa, kau….. kau lebih sayang Bwe Hwa dari padaku…….”

“Ayaaa, jadi soal itu kau marah-marah. Ah, dasar cemburu buta, siapa yang sayang sama Bwe Hwa, aku cuma katakan kuatir kalau-kalau anakku di dalam kandungan Bwe Hwa mendapat didikan yang jelek dan memusuhi.”

“Takut apa! Biar dia memusuhiku…….”

“Akan tetapi ia adalah anakku, Lan-moay……. anak kandungku!”

Bwe Lan tidak menyahut. Ia hendak berdiri, akan tetapi Tiang Le menarik tangannya sehingga ia terduduk lagi. Dan terjatuh ke dalam bidang dada Tiang Le yang terus saja mengecupnya bibir sang isteri.

“Aku sayang padamu Lan-moay……. Jangan suka ngambek ah!”

“Kau....... kau….. berengsek ahhh!” tiba-tiba Bwe Lan memukul dada Tiang Le pelan dan dari balik air mata yang berderai-derai itu membersit sebuah senyuman yang manis. Dan Tiang Le mencuit bibir Bwe Lan dan membenamkannya dalam mulutnya!

Pada saat itu, entah dari mana datangnya tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek yang sudah sangat tua sekali usianya, ada seratus tahun lebih. Rambutnya semuanya sudah putih panjang sebatas pundak, berjenggot putih pula.

Akan tetapi wajahnya yang penuh dengan kerisut-kerisut hitam itu sama seperti pantat kuali, dan telinganya yang amat lebar seperti kuping gajah yang diberi anting-anting besar, tangannya yang hitam berbulu damikian kurus dan memakai gelang-gelang pula. Kakek itu memakai jubah kuning seperti seorang pertapa dan waktu ia berkata nampak semua giginya sudah ompong sehingga menampakkan gusi yang hitam pula.

“He-he-he, anak gila gendeng, isteri tengah mengandung diajak berkeliaran di hutan seperti ini. Benar-benar suami gila!” suara kakek itu besar dan parau membuat Tiang Le dan Bwe Lan tersentak kaget dan meloncat berdiri.

Baik Tiang Le maupun Bwe Lan tidak mengerti mengapa mereka tidak mendengar kedatangan kakek ini dan tahu-tahu telah berdiri di depannya. Sungguh luar biasa! Atau apakah mereka saking tenggelam dalam perasaan masing-masing sehingga tidak mendengar akan kedatangan kakek muka hitam ini?”

Sungguh tak masuk diakal dan begitu Tiang Le melirik kaki si kakek muka hitam yang telanjang, tahulah dia tentu kakek ini bukan orang sembarangan, kedatangannya tidak terdengar oleh mereka. Pada hal kalau seandainya ada semut yang merayap di tanah tentu Tiang Le dan Bwe Lan sudah mendengarnya, masa kakek ini begitu tiba telah berdiri di depannya dan memaki-makinya. Gila!

Mendengar kakek itu memaki suaminya keruan saja Bwe Lan hendak menerjang kakek yang dianggapnya telah mengganggu acaranya dengan suaminya tadi, akan tetapi Tiang Le yang mengenal kakek muka hitam ini, menjadi terkejut sekali dan memberi isyarat kepada isterinya untuk tidak sembarangan bergerak.

“Ahh tidak tahunya kami berhadapan dengan Locianpwe Nikayarinta dari puncak Anapurna. Siauwte yang muda dan bodoh Sung Tiang Le dan istri menghaturkan hormat,” kata Tiang Le menjura dengan tangan kirinya.

“Ho, ho sungguh Pendekar Lengan Buntung bukan nama kosong belaka. Aku Nakayarinta sungguh dibuat kagum dan penasaran melihat sepak terjangmu yang luar biasa di Pulau Bidadari tempo hari, orang muda lengan buntung kau hebat. Akan tetapi aku Nakayarinta kalau belum mencobanya, sangat penasaran…….” berkata damikian tahu-tahu Nakayarinta telah mengeluarkan sebuah tongkat yang terbuat dari ular cobra yang sudah dikeringkan.

Ular yang sudah kering itu panjangnya ada tiga meter sehingga merupakan tongkat yang berbahaya dan ampuh. Tongkat ular itu terus saja menyambar kepala Tiang Le dengan gerakan yang dahsyat dan aneh.

Ekornya meluncur merupakan totokan ke arah kepala, sedangkan tangan kiri kakek itu mendorong ke muka dengan tubuh agak doyong ke kiri seperti orang hendak jatuh. Sementara mulut si kakek muka hitam tertawa mengakak.

Menghadapi dua serangan sekaligus ini, Tiang Le cepat mendorong Bwe Lan dan ia sendiri dengan gerakan kaki menurut langkah-langkah ajaib mainkan jurus-jurus ji-cap-it-sin-po untuk menghindarkan serangan tongkat sedangkan tangannya bertangan kiri bergebrak menggunakan gerak tangan kilat yang menyambar dari samping. Memapaki dorongan tangan kiri Nakarayarinta.

“Desss!!” Serangkum tenaga yang bertemu di udara menjadi satu dan mengeluarkan suara keras. Tubuh Tiang Le bergoyang-goyang dengan tangan masih terangkat ke atas, sedangkan tubuh Nakayarinta semakin doyong ke kiri dan hendak jatuh.

Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti dari orang-orang yang sudah memiliki tenaga sin-kang sempurna. Kalau seandainya bukan Tiang Le yang terkena dorongan pakulan tangan kiri Nakayarinta tentu akan hancur lebur tubuh itu, sebaliknya gerak tangan kilat dari Tiang Le pun luar biasa.

Untung yang menerima pukulan ini adalah Nakayarinta, orang sakti dari puncak Anapurna. Kalau bukan si kakek Nakayarinta, entah bagaimana jadinya.

“Ha-ha-ha ho-ho-ho, kau hebat, patut menjadi Pendekar Lengan Buntung. Eh, aku harus cepat-cepat ke puncak. Thay-bengcu sedang menanti…... sampai kita bertemu di sana…… ho-ho-ho, ha-ha-ha…..!” berkata demikian kakek Nakayarinta berkelebat dan lenyap dari pandangan Tiang Le dan Bwe Lan.

“Celaka! Nakayarinta sudah berkeliaran di tempat ini…... jangan-jangan banyak pula tokoh-tokoh kang-ouw yang bakal bermunculan nanti…..!” seru Tiang Le memandang ke arah perginya kakek itu.

“Ah, mengapa kita mesti takut? Biar ada seribu manusia seperti kakek muka hitam itu. Aku tidak takut!” Bwe Lan menggerutu dan menguiskan kakinya menginjak rumput-rumput yang seketika menjadi layu terinjak kaki Bwe Lan yang bersepatu itu.

Tiang Le memandang kepada Bwe Lan. Menatap perut istrinya. Dan sang istri mengerutkan keningnya waktu dilihatnya Tiang Le menatap perutnya dengan tajam.

“Eh, mengapa kau ngeliatin perutku, emangnya ada apa sih?” tanya Bwe Lan.

“Lan-moay, benarkah kata kakek Nakayarinta tadi kau….. kau sedang hamil?”

“Memang iya! Kau suami tolol. Isteri mengandung tidak tahu dasar dungu,” Bwe Lan menggerutu.

Tiang Le menyambar lengan isterinya dan diputar-putar sambil tertawa senang, “Ha-ha-ha kau jempolan isteriku. Kau……. kau bisa hamil….. ha-ha-ha!”

“Emangnya mandul. T'entu saja Bwe Hwa bisa hamil, mengapa aku tidak?”

“Bagus Lan-moay….. aku kepingin anak laki-laki!”

“Tidak aku kepingin anak perempuan!”

“Jangan perempuan, sebaiknya laki-laki!”

“Perempuan!”

“Laki-laki!”

Bwe Lan membanting kaki dan marah-marah, “Kau memang laki-laki maunya menang sendiri. Pokoknya terserah Tuhan, laki-laki kek, perempuan kek……. pokoknya.......”

“Pokoknya apa Lan-moay?”

“Pokoknya ia adalah anakku!”

Tiang Le tertawa keras, sehingga suara ketawanya mengejutkan burung yang bertengger di atas pohon dan terbang tinggi.

“Ha-ha-ha, tentu saja setelah ia lahir, anak itu menjadi anakmu dan anakku juga. Eh, Lan-moay hendak kuberi nama anak ini Sung.......”

“Tolol, anak belum lahir sudah diberi nama. Belum tentu anaknya laki-laki atau perempuan.”

“Kalau banci bagaimana, Lan-moay?” Tiang Le menggoda.

“Plakk!” Pipi Tiang Le terkena tamparan Bwe Lan.

“Siapa sudi punya anak banci!”

“Ha-ha-ha........” Tiang Le menyambar tubuh isterinya dan membawanya lari cepat menaiki puncak gunung Tay-san.

Bayangan Tiang Le yang memondong tubuh Bwe Lan berkelebat laksana burung walet berlompat-lompatan dari jurang ke jurang dan jikalau ada yang melihat, tentu orang itu akan menduganya seekor burung yang sedang terbang rendah!

Dan sebentar saja Tiang Le sudah sampai di puncak, akan tetapi ia segera menyelinap batu gunung dan berbisik ke dekat telinga isterinya.

“Lan-moay, sudah banyak orang di puncak itu. Sebaiknya kita tidak memperlihatkan diri dan menonton dari sini!”

Bwe Lan merosot dari pondongan Tiang Le dan memandang ke puncak. Benar saja di atas tanah datar yang cukup luas dan diselimuti oleh rumput itu ada tiga orang kakek-kakek yang kelihatannya sudah tua dan kurus kering, kakek ini duduk di tiap pojok merupakan sebuah lingkaran segitiga.

Rata-rata kakek itu berkepala botak licin seperti kepala hwesio, akan tetapi melihat cara pakaian mereka yang sederhana terbuat dari kain putih yang kasar dan berpotongan seperti orang dusun, mudah saja diduga bahwa ketiga kakek itu bukanlah seorang hwesio. Usia mereka rata-rata hampir tujuhpuluh tahun.

Yang seorang kurus kering, wajahnya penuh kerut merut menandakan usia tua. sedangkan yang seorang lagi yang duduk meramkan mata di pojok sebelah kanan adalah kakek yang meskipun tidak kalah tuanya dengan kakek pertama tadi, akan tetapi dia mempunyai wajah bundar dan gemuk seperti wajah ji-lay-hud, pakaiannyapun seperti pakaian hwesio, berkepala botak, tubuhnya gemuk dan berjenggot putih.

Dan kakek yang terakhir, kelihatan seperti orang yang sudah tidak mempunyai cahaya kehidupan lagi matanya yang saking tuanya itu memancar pucat dan lesu setengah dikatupkan seperti orang mengantuk. Wajahnya kurus dan pucat, tangannya pun kurus kering, kepalanya botak akan tetapi pada telinganya memakai anting-anting besar seperti orang India, berpakaian jubah kuning dengan sebuah penggada terletak di dekatnya, mereka itu diam tak bergerak seperti patung.

Angin gunung meniup kencang mengibar-ngibarkan lengan baju dan jenggot mereka yang sudah pada putih. Mereka duduk bersila merupakan lingkaran segi tiga dengan tak bergerak.

Pada saat itu berkelebat banyak bayangan dan lima orang kakek yang dikepalai oleh seorang muka hitam membentak, “Sam-wi locianpwee penghuni puncak Tay-san, perkenankan kami utusan dari Thay-bengcu menghadap untuk menerima harta pusaka peninggalan Sui-kek Siansu yang mulia.”

“Siapa Thay-bengcu?” kakek muka pucat membuka matanya dan memandang tajam.

“Thay-bengcu adalah beng-cu (pimpinan) kami yang terbesar di Barat dan mengutus kami untuk menerima kitab dan pedang Sui-kek Siansu!”

Kakek muka hitam yang bukan lain adalah Nakayarinta itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk mengurung tempat itu. Empat orang kawannya yang bukan lain adalah Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo, Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong mengurung ke tiga orang kakek dengan sikap mengancam.

“Sie-wie (tuan-tuan berempat) ini hendak berbuat apakah di puncak ini, di sini tidak ada pedang dan kitab seperti kalian maksudkan. Harap sie-wi segera kembali saja turun gunung dan sampaikan salam hormat kami Tay-san Sam-lo-jin untuk beng-cu kalian di barat dan jangan mengganggu kami.”

“Sebelum pedang dan kitab kami dapatkan, kami tidak akan turun gunung!” Bu-tek Sianli berkata dan menggerakkan pedangnya melintang di depan dada.

“Begitukah?”

“Benar! Demi perintah Beng-cu kami yang mulia, kami tunaikan tugas walaupun dengan mempertaruhkan nyawa kami!” Nakayarinta si kakek muka hitam telah mengeluarkan tongkat ular kobranya.

“Aaaya....... bukankah cong-su ini Nakayarinta dari Anapurna. Celaka, kali ini puncak Tay-san akan merupakan bencana yang hebat. He, Nakayarinta....... di sini tidak ada pedang dan kitab, lebih baik kalian tidak susah-susah mencari-cari di sini!” Si kakek muka Ji-lay-hud menggoyang-goyangkan tangannya!

“Muka tebal, siapa bilang di sini tidak ada kitab dan pedang. Kalian kira kami tidak tahu, kitab dan pedang itu dititipkan oleh locianpwe Sui-kek Siansu kepada kalian. Cepat berikan, jangan sampai kami naik darah!”

“Ha-ha-ha, Thay-lek-hui-mo juga tidak ketinggalan mengunjungi puncak. Sahdu, sahdu, akan ramailah puncak ini nanti malam. Entah manusia mana yang mendesas-desuskan tentang pusaka Sui-kek Siansu sehingga iblis dari Barat dan Utara sampai ke tempat ini. Sahdu, sahdu, sahdu!”

Kakek yang bergelang anting-anting pada telinganya itu mengetuk-ngetukkan tangannya ke tanah. Kemudian merangkapkan kedua tangan ke dada, seperti orang berdoa.