-->

Istana Hantu Jilid 02

Jilid 02

“Hi-hi-hikk…... Sung Tiang Le…… ada apakah kau mencariku? Aku Bu-tek Sianli berada di sini!”

Habis suara itu selesai dan tinggal gemanya saja, tiba-tiba tanah di bawah Tiang Le meledak dan sesosok tubuh berkelebat ke atas dan tahu-tahu telah berdiri di depan pemuda lengan buntung Sung Tiang Le.

Tentu saja semua orang menjadi kaget bukan main. Wanita yang baru datang itu, sudah teramat tua sekali. Rambutnya yang hitam riap-riapan sebatas pundak dibiarkan berkibar-kibar tertiup angin gunung. Wajahnya sangat menyeramkan, penuh dengan keriput-keriput dan matanya yang cekung memancar seperti api.

Tubuh nenek tua itu kurus dan agak sedikit bongkok. Tiang Le mengerutkan alis nampak marah. Ia tentu saja mengenal wanita tua yang tengah dicari-carinya yakni Bu- tek Sianli!!

Akan tetapi ia tidak mengenal akan seorang laki-laki yang tengah menghampiri si nenek. Laki-laki itu tinggi besar, dilihat dari logat bicaranya waktu ia berkata dengan Bu-tek Sianli, menyatakan bahwa laki-laki tinggi besar itu bukan orang Han.

“Biar hamba yang menangkap si buntung!” Kata laki-laki tinggi besar itu dengan logat bahasa Han yang kaku.

Bu-tek Sianli tidak menyahut, hanya berdiri dengan angkuh dan pada ketika itulah rombongan pengemis yang memakai tanda teratai hitam di dadanya menghampiri Bu-tek Sianli dan berlutut.

Melihat munculnya Bu-tek Sianli dan Tiang Le si Pendekar Lengan Buntung yang pernah menggetarkan dunia persilatan beberapa tahun yang lalu, Sian Eng menjadi terkejut dan waktu pandangannya bertemu dengan Bu-tek Sianli, gurunya waktu di Sian-li-pay dulu, ia merasakan pandangannya yang dingin dan mengancam. Tahulah ia bahwa kedudukannya kini tidak lepas dari tangan Bu-tek Sianli yang tentu saja tidak mengampuni nyawanya!!!

“Pay-cu........!” Sian Eng memanggil untuk menyatakan perasaan hati yang tidak enak. Akan tetapi Bu-tek Sianli menatapnya tajam dan tersenyum mengejek:

“Sian Eng, anak murid murtad! Kau juga harus mampus dan semua anak buahmu harus tunduk kepadaku!” Suara Bu-tek Sianli terdengar bergelombang.

“Ha-ha-ha!” Tiang Le tertawa. Suara ketawanya menggeletar-geletar penuh dengan hawa khi-kang yang dikirim melalui suara sehingga bagi pengemis-pengemis Ang-kin-kay-pang yang tidak berapa tinggi lweekangnya mengangkat tangan dan menutup telinga menghindarkan serangan suara ketawa yang menusuk dan berbahaya:

“Bu-tek Sianli, nenek-nenek bangsat! Kebetulan sekali kau muncul mengantarkan kematian....... ha-ha-ha!”

“Tiang Le jangan tekebur, apa kau kira aku takut kepadamu?” Kata Bu-tek Sianli panas.

“Pay-cu, biar aku menghadapinya!” kata laki-laki tinggi besar bangsa asing itu.

Orang ini terus saja menghampiri Tiang Le dan mengirim pukulan jarak jauh yang bergelombang dan ia melihat betapa pemuda lengan buntung itu tidak menangkis atau mengelak. Ia menjadi tertawa mengakak dan menambah tenaga pukulan dari kedua lengan dengan tubuh agak sedikit jongkok.

“Dess!” Tubuh Tiang Le bergoyang-goyang, terhantam pukulan yang hebat itu.

Baju di lengan yang buntung itu berkibar-kibar seperti ditiup angin keras. Akan tetapi sebaliknya orang tinggi besar itu menjadi terbelalak dan tidak percaya akan pandangan matanya!

Baru pertama kali ini, ia menyaksikan betapa pukulannya yang terkenal di dunia Barat yang bernama Tin-tho-kang (pukulan menggetarkan pulau) tidak berdaya menghadapi pemuda buntung yang kelihatannya lemah, terlalu!

Dengan menggeram keras, orang tinggi besar ini melancarkan lagi pukulan-pukulannya bertubi-tubi, debu mengepul ke atas waktu pukulan-pukulan itu tidak mengenai sasaran dan menghantam tanah. Tentu saja Tiang Le tidak mau lagi tubuhnya digebuk seperti tadi. 

Sekali saja ia sudah merasai kelihaian pukulan lawannya ini, maka sekarang ia mengelak ke sana kemari memainkan jurus-jurus langkah-langkah ajaib sehingga pukulan-pukulan lawannya dengan mudah dapat dihindarkan. Akan tetapi, ia belum mau membalas mengingat orang tinggi besar yang menyerangnya ini sebetulnya tidak ada permusuhan apa-apa dengannya!

Melihat orang tinggi besar itu demikian lihai telah melancarkan serangan-serangan hebat ke arah seorang pemuda yang lengan kanannya buntung, Kiang Sun Hi hendak turun tangan mencegah perkelahian lebih lanjut, akan tetapi Sian Eng memberi isyarat dengan kedipan matanya.

“Biarkan saja, pemuda buntung itu tak akan kalah!” kata Sian Eng kepada Sun Hi yang sudah berdiri didekatnya.

Gadis ketua Ang-kin-kay-pang yang semenjak tadi diam saja, mempunyai penglihatan yang amat tajam dan awas sekali. Sekali pandang saja ia maklum bahwa pemuda lengan buntung yang pernah sekali ia kenal di pulau Bidadari itu dan telah menyaksikan kelihayannya yang sangat tinggi, malah telah berani menghadapi gurunya, ia memberi nasehat untuk membiarkan pemuda itu melawan orang besar yang kelihatannya amat ganas dan lihai pula!

Merasa bahwa pemuda lengan buntung ini demikian lihay, dan sudah limapuluh jurus ia belum juga dapat merobohkan pemuda ini, orang tinggi besar itu menjadi marah dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan dua buah senjata yang amat aneh. Senjata ini merupakan sepasang tangan manusia yang sudah dikeringkan dengan kuku-kuku panjang. Kedua tangan ini dalam keadaan mencengkram, seperti kuku-kuku burung garuda yang sedang menyerang.

Adapun kuku-kuku pada jari tangan itu berwana macam-macam, ada yang hitam, ada yang putih, kuning, merah dan hijau. Inilah sepasang senjata yang oleh pemiliknya dinamakan Cap-tok-mo-jiauw (Cakar Setan Berbisa Sepuluh), sepasang senjata yang amat lihai dan berbahaya!

Begitu sepasang senjata ini menyambar Tiang Le, pemuda itu mencium bau yang amat busuk dan ia cepat melompat ke belakang dan merasakan kepala menjadi pening karena bau yang keras itu. Akan tetapi, tiba-tiba sepasang tangan terbang mengejar, terlepas dari pegangan orang tinggi besar itu.

Terkejut sekali Tiang Le, maka merasa bahwa lawannya begini keji dan telah mengeluarkan senjata sepasang tangan yang penuh racun. Dengan gerakan kilat tangan kiri Tiang Le telah mencabut pedang bantung dan sebuah sinar perak berkelebat menyamhar sepasang tangan yang menyerangnya.

Tentu saja orang tinggi besar itu menjadi kaget dan terkejut sekali melihat gerakan yang demikian cepat itu, maka cepat ia menarik kembali sepasang senjatanya dan meloncat ke belakang.

“Sobat, aku tidak ada urusan denganmu harap kau tidak campur tangan dan biarlah Bu-tek Sianli menghadap untuk menerima kematian!”

“Ha-ha-ha Tiang Le, manusia sombong…... apa kau kira dapat lolos lagi dari tanganku? Kali ini kau harus mampus!” Teriak Bu-tek Sianli dengan gerengan keras, mengirim pukulan ke arah dada Tiang Le.

Amat luar biasa sekali pukulan ini, kalau saja bukan Tiang Le orangnya yang menerima pukulan sakti Bu-tek Sianli, tentu akan hancur tubuhnya. Akan tetapi Tiang Le yang sudah demikian sempurna tenaga sin-kangnya, memapaki pukulan tangan kanan lawan dengan tangan kirinya yang terbuka pula.

“Desss!!” Dua tenaga sakti yang tidak kelihatan bertemu di antara sepasang tangan yang penuh hawa sin-kang tingkat tinggi. Tubuh Tiang Le agaknya miring, dengan kedua tangan kiri menjurus ke depan sedangkan Bu-tek Sianli dengan kedua tangannya yang mendorong pula doyong ke belakang dengan tubuh yang sudah bongkok itu bertambah bongkok lagi.

Keduanya berkutetan mengerahkan tenaga.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gerengan keras dan tahu-tahu tubuh Tiang Le terhuyung-huyung ke belakang seakan-akan ia kena dorongan yang keras dari depan. Tubuh Bu-tek Sianli juga terdorong sampai bergulingan seperti seekor trenggiling. Bahkan orang yang terkena hawa pukulan yang tidak kelihatan, akan tetapi luar biasa itu, mereka yang berdiri di pinggir kepelanting terkena serempetan angin pukulan yang dahsyat sekali.

“Ayaa…....!” Kiang Sun Hi berseru terkejut. Ia melikat datangnya seorang kakek yang menyeramkan, berambut panjang dan bermata liar. Yang membuat Kiang Sun Hi terkejut adalah daya pukulan dari jarak jauh yang dilakukan oleh kakek ini.

Bagaimana sebuah pukulan dari jarak jauh mempunyai tenaga yang demikian dahsyat. Ini membuktikan bahwa orang yang baru datang adalah seorang ahli silat tinggi yang lihay sekali!

Sebaliknya, melihat datangnya kakek berambut panjang yang menakutkan ini, tiba-tiba Bu-tek Sianli, orang tinggi besar yang bersenjata sepasang tangan dan pengemis-pengemis yang berdiri di sebelah kiri berlutut, tak berani bergerak dan mengelnarkan suara. Suasana menjadi hening.

“He-he-he, Sianli, Kwan-tiong....... apa yang kau kerjakan di sini….., he?” kata kakek itu.

Ia melihat semua orang diam dan memandangnya dengan gentar, tertawa terkekeh, lagaknya memandang rendah sekali. Ketika ia memutar tubuh dan melihat seorang pemuda yang buntung lengan kanannya dan memandangnya dengan tatapan tajam, kakek itu menghentikan tawanya dan berkata,

“Heh, dia inikah yang telah mengobrak-abrik Sian-li-pay?” Suaranya berat dan parau.

“Betul, Thay-bengcu yang mulia. Pemuda inilah menyusahkan hamba sekeluarga. Hamba datang ke tempat ini bersama Kwan-tiong Tok-ong, locianpwee dari Barat dan sengaja mencari si buntung itu, sekalian hendak memberi hajaran kepada murid hamba yang telah murtad dan telah melarikan diri dari pulau!” sahut Bu-tek Sianli dengan suara merendah dan gentar.

Keruan saja Tiang Le jadi terbelalak dan heran. Ia mengenal baik Bu-tek Sianli ini, nenek siluman yang telah disegani oleh kaum datuk hitam, malah telah menguasai banyak orang-orang gagah dan menundukkan hatinya. Siapa kira di tempat ini, nenek sakti yang paling disegani dan ditakuti di selatan, kini merendahkan diri terhadap seorang kakek rambut panjang ini.

Siapakah orang ini?

Baru saja ia telah dikejutkan oleh pukulan jarak jauh kakek ini. Kalau saja dia tidak sedang mengerahkan sin-kang menempur Bu-tek Sianli sudah barang tentu ia tidak akan tergempur!

Tiang Le memperhatikan kakek rambut panjang yang tadi dipanggil Thay-bengcu oleh Bu-tek Sianli,

“Hemm, pemuda besar nyali….. dan tidak mengenal kematian, entah siapa dia?” tanya kakek itu perlahan. Suaranya terdengar perlahan saja namun di dalamnya mengandung pengaruh dan ancaman besar.

“Thay-bengcu, dia itulah Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le……!”

“Oho ho........!” Kakek ini mendengus dan mengangguk-anggukkan kepala. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa pemuda yang lengannya buntung ini, mempunyai pertahanan tubuh yang luar biasa.

Akan tetapi ia sendiri, mana mau meladeni pemuda ini? Merasa amat rendah dan dihina. Oleh sebab itu dengan suara berwibawa, berkatalah kakek itu kepada Kwan-tiong Tok-ong, si Raja Racun dari Barat.

“Kwan-tiong! Kau usirlah si buntung itu.......!”

“Baik Thay-bengcu yang mulia, hamba menjalankan perintah!” sahut Kwan-tiong Tok-ong.

“Sian-li, kau uruslah persoalanmu dengan muridmu itu dan setelah selesai urusanmu itu, kalian harap menghadap kepadaku di istana......... ha-ha-ha?” Belum lagi Bu-tek Sianli menyahut, tahu-tahu tubuh si kakek rambut panjang itu telah lenyap bagaikan ditelan setan!

Sementara itu, Kwan-tiong Tok-ong telah menghampiri Tiang Le, dan bersamaan dengan bergebraknya si Raja Racun ini, Bu-tek Sianli menghampiri Yap Sian Eng dan membentak keras,

“Sian Eng! Pilihlah satu diantara dua ini. Mengingat engkau adalah muridku maka aku tidak begitu gila untuk menjatuhi tangan maut kepadamu. Maka dari itulah, turutlah nasehatku dan mari ikut aku memimpin partai dan.........!”

“Pay-cu…….” sahut Sian Eng memotong. “Aku telah dewasa, dan dapat berdiri sendiri. Terima kasih untuk kebaikanmu. Ketahuilah, urusan ketua Ang-kin-kay-pang sudah kuserahkan kepada Can Lo-kay, pembantuku ini dan buat seterusnya, aku akan bersama dia ini, majikan pulau Kim-kong-tho. Bagaimana aku bisa ikut lagi denganmu kembali ke pulau?”

“Hemm, jadi kau menolak?”

“Begitulah kiranya Pay-cu!” sahut Sian Eng menantang.

“Bagus, kalau begitu biarlah kau mati di tanganku?” bentak Bu-tek Sianli dengan pandangan berapi.

Kiang Sun Hi belum pernah bertemu dengan nenek Bu-tek Sianli, akan tetapi tentu saja ia dulu pernah mendengar akan nama Pay-cu ketua Sian-li-pay yang terkenal itu. Kalau saja tidak karena urusan Sian Eng, tentunya Sun Hi merasa segan berurusan dengan nenek lihai ini. Akan tetapi melihat nenek ini hendak memaksa kekasihnya untuk kembali ke pulau, ia melompat ke depan dan kebutan di tangan kanannya tergetar.

“Pay-cu, telah sekali aku mendengar nama besar Bu-tek Sianli di pulau bidadari dan sebagai seorang ketua yang berilmu dan berwibawa seharusnya Pay-cu tidak mendesak seseorang untuk menjadi anggota, apalagi setelah ku dengar kabarnya Sian-li-pay sudah bangkrut. Jadi untuk apa Sian Eng mengikutimu kembali ke pulau, sudah seharusnya bukan kalau ia memilih jalan sendiri……”

Bu-tek Sianli memutar tumit kakinya dan menghadapi Kiang Sun Hi. Ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar hampir tigapuluh tahun, bersikap gagah dan tenang dengan alis dikerutkan tanda hati tak senang dan kebutan yang dipegang di tangan kanannya itu bergetar, tanda bahwa pemegangnya memiliki lweekang tinggi yang sudah dapat disalurkan ke arah bulu-bulu hud-tim yang bergerak seperti kawat baja.

“Setan alas kau ini siapa? Mengapa mencampuri urusanku?” tanya Bu-tek Sianli.

Bisanya nenek ini kalau menghadapi orang selalu tangannya dulu yang bicara, baru mulut, akan tetapi kini menghadapi laki-laki setengah baya itu, dapat melihat betapa orang ini tidak boleh dipandang enteng.

“Aku yang bodoh disebut Sian-hud-tim Kiang Sun Hi. Aku adalah sahabat baik dari Ang-kin-kay-pang. Urusan Ang-kin-kay-pang berarti urusanku juga!”

“Begitukah?” Pertanyaan ini hampir bersamaan dengan pukulan tangan kiri Bu-tek Sianli yang menggunakan lengan ujung baju dengan gerakan menampar ke arah Kiang Sun Hi.

Tentu saja Sun Hi tidak berani lengah. Ia tahu bahwa gerakan dari sepasang tangan nenek ini tidak boleh dipandang ringan. Benar saja, begitu kibasan ujung lengan baju bergerak menampar, meskipun hanya perlahan, akan tetapi tiba-tiba angin pukulannya menyambar, mengandung hawa panas dan bukan main kuatnya!

Kiang Sun Hi adalah majikan pulau Kim-kong-tho, memiliki ilmu silat keturunan yang amat lihai, sudah barang tentu menghadapi kibasan lengan baju yang mengeluarkan angin pukulan kuat ini, ia tidak berani mengadu tenaga. Ia sudah mendengar dari Sian Eng bahwa Pay-cu Sian-li-pay ini terkenal dengan ilmu pukulan Bu-tek-sin-kun yang hebat luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan waspada.

Begitu pukulan tamparan lengan baju dapat ia kelit, ia sudah menduga sebelumnya bahwa lengan si Nenek itu tidak akan tinggal diam. Maka benar saja, begitu tangan kanan Bu-tek Sianli menyambar mengirimkan jotosan ke arah iganya, segera ia menampar dengan kebutan hud-tim ke arah lawan dan langsung menyambar jalan darah di pundak Bu-tek Sianli.

“Bangsat, berani kau melawan Bu-tek Sianli?” bentak Bu-tek Sianli marah karena pukulannya tadi dapat terhindarkan dengan mudah dan malah kini balas menyerang dengan mengirimkan totokan ujung hud-tim ke arah pundak. Ia sama sekali tidak mengelak dari totokan ujung hud-tim, sebaliknya tangan kirinya memukul ke arah dada lawan.

Ujung hud-tim tepat sekali mengenai jalan darah di tubuh Bu-tek Sianli, akan tetapi Kiang Sun Hi menjadi terkejut dan heran merasakan totokannya tadi mengenai tempat yang keras dan licin, seperti bertemu dengan baja berlumur minyak, dan keruan saja ujung hud-timnya terpental ke belakang. Sebaliknya pukulan tangan kiri nenek ini telah menyerang dadanya, meskipun masih jauh dan baru angin pukulannya saja, dirasakannya dadanya sudah panas dan sesak napas.

“Celaka…….!” Kiang Sun Hi berseru dan cepat kebutan dewa ini memutar senjatanya sehingga kebutan itu menjadi segulungan sinar yang berbahaya.

Biarpun ujungnya hanya terdiri dari bulu-bulu halus akan tetapi di tangan majikan pulau kim-kong-tho ini telah menjadi kawat-kawat baja yang keras dan berbahaya. Dan totokan-totokan yang dilakukan dengan ujung hud-tim ini berbahaya sekali. Inilah kelihaian Kiang Sun Hi di dalam memainkan senjata hud-tim nya sehingga ia dijuluki orang si Kebutan Dewa yang lihai!”

Memang sukar menyerang seorang seperti Bu-tek Sianli yang telah memiliki ilmu kebal di bagian tubuhnya, sehingga berkali-kali ujung kebutan di tangan Kiang Sun Hi bergerak mengirimkan totokan-totokan yang lihai dan berbahaya. Namun segala totokan-totokannya terbentur oleh tubuh Bu-tek Sianli yang kebal.

Akan tetapi Sun Hi cukup cerdik, tiga kali sudah totokan-totokannya tidak mengenai sasaran, maka ia mengarahkan jalan darah Hay-yang-hiat di bagian mata dan Tong-cu-hiat di bagian dada yang tidak dapat dilindungi oleh ilmu kebal, maka kini serangan-serangannya tertuju ke arah mata dan dada.

Akan tetapi semua usahanya tidak berhasil banyak, karena sesungguhnya Nenek Bu-tek Sianli ini mempunyai tingkat kepandaian yang lebih tinggi darinya. Setiap serangan-serangan hud-tim selalu dapat ditangkis dan terpental oleh angin pukulan Bu-tek Sianli.

Sebaliknya, melihat betapa lawannya ini amat sukar dirobohkan, Bu-tek Sianli menjadi marah. Ia menjerit keras dan mulai mengeluarkan ilmu silat yang paling diandalkan yakni ilmu silat Bu-tek-sin-kun atau Kepalan Sakti Tanpa Tandingan!

Kiang Sun Hi menjadi terkejut. Dari sepasang tangan Nenek Bu-tek Sianli ini menyambar hawa pukulan yang luar biasa panas dan kuatnya.

Kini setelah Nenek itu mengeluarkan ilmu pukulan dengan gaya tubuh agak direndahkan dan setiap kali pukulan tangan itu menyambar, selalu membuat hud-tim di tangannya tergetar keras dan terpental ke belakang oleh sambaran angin pukulan yang amat dahsyat itu. Setelah Bu-tek Sianli mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat Bu-tek-sin-kun, Kiang Sun Hi nampak agak terdesak dan mulai bersilat dengan mundur-mundur.

Tiba-tiba terdengar suara dari Can Lo-kay dibarengi dengan berkelebatnya sinar hitam menyerang Bu-tek Sianli. Can Lo-kay yang sejak tadi berdiri saja menonton, kini melihat keadaan majikannya pulau Kim-kong-tho yang membela Ang-kin-kay-pang sudah terdesak hebat. Tentu saja pengemis tua ini menjadi marah dan sambil membentak keras ia melancarkan serangan tongkatnya bertubi-tubi ke arah Bu-tek Sianli.

Nenek itu cepat menyampok datangnya tongkat dengan lengan kirinya, akan tetapi begitu tangan kirinya menyampok tongkat sambil mengerahkan sin-kang pukulan pada tangan itu tiba-tiba tongkat hitam itu terpental dan menyeleweng ke samping dan mengirimkan totokan kilat ke arah iga lawan. Serangan ini disusul pula dengan pukulan-pukulan dahsyat dari tangan kiri pengemis tua itu dengan gerakan-gerakan yang aneh dan cukup hebat membuat Bu-tek Sianli mengeluarkan seruan tertahan.

“Ayaaa....... bukankah ini Fu-niu-san-tung-hoat? Pernah apa kau dengan Koay Lojin?” tiba-tiba Bu-tek Sianli berseru mengeluarkan suara kaget menyaksikan ilmu tongkat yang luar biasa anehnya ini.

Teringat ia bahwa Koay Lojin juga pernah menunjukkan kelihaian ilmu tongkatnya waktu orang tua aneh itu datang ke Sian-li-pay dan telah menyaksikan betapa hebatnya orang tua dari gunung Fu-niu itu. Kini pengemis tua yang memainkan ilmu tongkat yang luar biasa ini, hati Bu-tek Sianli menjadi tidak enak apabila Koay Lojin yang pernah ia rasai kelihaiannya!

“Nenek peot, Koay Lo-jin adalah suhengku....... kau mau apa?” Sambil menjawab demikian Can Lo-kay mengelebatkan tongkatnya menyerang lebih hebat lagi.

Dibarengi kemudian berkelebat sinar hitam dan tahu-tahu tongkat kecil di tangan Yap Sian Eng sudah merangsek nenek Bu-tek Sianli dengan hebat. Suara-suara samberan tongkat kecil yang berkepala ukiran kepala naga itu menciut saking kerasnya samberan tongkat itu.

Bu-tek Sianli marah sekali, “Sian Eng, gadis keras kepala, apa kau memilih jalan kematian?”

“Bu-tek Sianli, sudah kukatakan aku tak sudi mengikutmu lagi, habis kau mau apa?” Tantang Sian Eng ketus sambil mempercepat gerakan tongkatnya.

Melihat betapa Yap Sian Eng sudah turun tangan, anggota Ang-kin-kay-pang yang berkepandaian cukup tinggi berkelebat menyerbu Bu-tek Sianli dan melancarkan serangan-serangan maut!!!

“Peng Hay, kau tidak lekas menyuruh anak buahmu turun tangan mau tunggu apa lagi?” tanya Bu-tek Sianli membentak Sin-tung-mo-kay Peng Hay.

Mendengar seruan ini, Peng Hay segera memberi aba-aba pada ke limapuluh pengemis yang berdiri di sebelah kiri. Sebentar saja para pengemis yang tadinya adalah anggota Hek-lian-pay ini sudah menyerbu dan disambut oleh para anak buah Ang-kin-kay-pang. Segera terjadi perang tanding yang cukup seru.

Pihak Ang-kin-kay-pang jauh lebih banyak dari pada orang-orang bekas anggota Hek-lian-pay, maka melihat ini Bu-tek Sianli melancarkan serangan-serangan ke kanan dan ke kiri menggunakan jurus-jurus pukulan Bu-tek-sin-kun yang paling hebat. Terdengar teriakan mengerikan dan tubuh Sian Eng terlempar dan muntahkan darah segar.

Sun Hi cepat menggerakkan hud-timnya dan mencelat ke depan menubruk Sian Eng, menotok dada gadis dan berkata dengan cepat,

“Eng-moay……. Eng-moay!!!”

“Hi-koko.......!!” Habis berkata demikian Sian Eng roboh pingsan.

Cepat Sun Hi menyambar tubuh itu dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu. Hanya suaranya saja yang terdengar oleh Can Lo-kay yang masih bertempur dengan Bu-tek Sianli.

“Lo-kay........ tak guna melawan nenek itu...... jangan biarkan teman-teman mengorbankan diri kepada hal yang sia-sia, kau pimpinlah mereka, cari jalan keluar....... segera ke pulau menemui Sian Eng di tempat tinggalku!”

Setelah berkata demikian, Kiang Sun Hi sudah mencelat jauh dan melenyapkan diri. Mendengar ini Can Lo-kay memberi tanda dengan suitan ke arah anak buahnya. Dan sebentar itu pula, dengan rapih sekali barisan Ang-kin-kay-pang sudah melenyapkan diri dan menghilang di balik celah-celah batu gunung.

Bagi para anak buah Ang-kin-kay-pang yang terluka, dengan gerakan yang amat cepat dan teratur kawan-kawannya yang lain membawanya pergi sehingga tempat itu bersih dari rombongan Ang-kin-kay-pang. Sedangkan Can Lo-kay sendiri, melihat betapa anak buahnya sudah lenyap, segera mainkan tongkatnya dengan jurus-jurus yang terhebat dan begitu melihat Bu-tek Sianli mundur-mundur. Melihat kesempatan yang baik ini, segera ia melenyapkan diri pula!

Melihat Can Lo-kay sudah kabur, Bu-tek Sianli segan untuk mengejar. Bukan ia takut kepada pengemis itu, akan tetapi ia cukup cerdik untuk tidak melibatkan diri dengan Koay Lo-jin dari Fu-niu-san itu!! Maka ia kini menumplekkan kemarahannya pada si lengan buntung yang tengah melawan Kwan-tiong Tok-ong.

Sungguh hebat sekali pertandingan si raja racun ini dengan Tiang Le. Beberapa kali hampir saja Tiang Le roboh oleh semburan uap hitam beracun yang dikeluarkan oleh tokoh racun ini. Kalau saja tidak cukup kuat sin-kang di dada pemuda itu, tentu ia sudah mati di tangannya si raja racun dari Kwan-tiong ini!!

Memang Kwan-tiong Tok-ong ini bukan saja lihay ilmu silatnya akan tetapi sepasang senjata berupa tangan beracun itu sungguh sangat berbahaya dan licik. Sepasang tangan manusia yang penuh racun itu menyambar cepat.

Tiang Le pun cepat berkelit akan tetapi siapa sangka, seorang anggota Ang-kin-kay-pang yang berada tidak jauh di belakangnya berteriak ngeri dan roboh. Tubuhnya berubah hitam sekali dan ia berkelojotan terus mati.

Pengemis itu terkena hek-tok (racun hitam) dari kuku hitamnya Kwan-tiong Tok-ong, sedangkan seorang pengemis lagi tak sempat berkelit dan tangan kiri Kwan-tiong meluncur mencakar pundak pengemis itu terdengar lagi jeritan mengerikan ketika tubuh itu roboh dengan tubuh berubah kuning, terkena cakaran kuku yang mengandung Oey-tok (racun kuning). Kwan-tiong Tok-ong tertawa mengakak dan sepasang cakar setan itu tiba-tiba tersentak kembali kepadanya disambut oleh sepasang tangan!

Inilah kelihaian Kwan-tiong Tok-ong, orang akan mengira tentu sepasang senjata yang berupa tangan manusia itu dapat terbang dan kembali dengan amat cepatnya.

Sebenarnya, Kwan-tiong Tok-ong yang lihai ini sengaja memasang sepasang tangan yang diikat oleh sebuah tali pada pergelangan tangannya dan dapat dilempar menurut kehendak hati. Dengan tali ini ia dapat membuat sepasang tangan itu bergerak seakan-akan terbang.

Melihat betapa dua orang pengemis Ang-kin-kay-pang telah roboh dengan cara yang amat mengenaskan sekali, Tiang Le membentak marah dan terdengar kilatan pedang pusaka buntung berkelebat di depan dadanya.

“Manusia keji, orang seperti engkau ini jahatnya, patut dilenyapkan dari muka bumi. Nah, mampuslah kau!” Bentakan Tiang Le ini diiringi dengan berkelebatnya sinar pedang pusaka buntung yang sudah menyambar bagaikan guntur memecah bumi.

Kwan-tiong Tok-ong berseru kaget melihat kehebatan ilmu pedang yang hanya dimainkan oleh tangan kiri itu. Dalam beberapa jurus saja dia sudah terdesak hebat oleh terjangan-terjangan Tiang Le yang merupakan maut yang siap hendak merenggut nyawa.

Pada saat itu, terdengar bentakan keras dan tahu-tahu Bu-tek Sianli sudah menyerbu Tiang Le. Ia segera mengirimkan pukulan sakti dengan tubuh agak direndahkan hampir berjongkok. Inilah pukulan Bu-tek-sin-kun yang terlihai dengan jurus Tho-lui-thong-te (geledek musim semi menggetarkan pulau).

Tiang Le terkejut sekali, cepat ia mengerahkan hawa sin-kang ke arah pundak dan menerima pukulan Bu-tek Sianli, sedangkan tangan kirinya bergerak cepat merangsek Kwan-tiong Tok-ong dengan jurus Tok-pik-kiam-hoat bagian menyerang. Hebat sekali akibatnya. Kwan-tiong berteriak kesakitan ketika lengannya terbabat pedang Tiang Le sehingga mengeluarkan darah, dan ia mencelat mundur.

Sebaliknya Tiang Le sendiri hampir saja terjengkang ke depan, oleh dahsyatnya pukulan Bu-tek Sianli yang lihai itu, akan tetapi, untunglah Tiang Le sudah digembleng secara luar biasa oleh si kaki buntung yang bernama Sin-kun-bu-tek Lim Heng San dan telah dapat memindahkan hawa sin-kang dari kakek sakti itu. Kalau tidak tentu tubuhnya akan hancur lebur terhantam pukulan si nenek Bu-tek Sianli.

Diam-diam kagum sekali Bu-tek Sianli melihat tubuh Tiang Le yang luar biasa ini. Biasanya pukulannya barusan itu, akan dapat menghancurkan batu gunung. Dan dapat menahan gelombang laut.

Kini pemuda itu, hebat! Tadi begitu pukulannya tepat menyentuh pundak pemuda itu, ia merasakan hawa panas yang menyerangnya membalik dan kuda-kudanya tergetar hebat membuat ke dua kakinya menggigil!

“Lihai……..!” Kwan-tiong Tok-ong tak terasa lagi berseru memuji sambil memegangi lengan kanannya yang terserempet pedang Tiang Le.

“Kalian memang manusia-manusia tak mempunyai liang-sim (perasaan), hari ini, aku Sung Tiang Le akan membasmi kalian!”

“Ha-ha-ha Tiang Le, manusia sombong! Kami belum kalah terhadapmu, mana bisa kau sombong itu?” kata Bu-tek Sianli mengejek. Ia amat yakin bahwa kali ini, pemuda itu tidak akan dapat lolos lagi. Dengan dibantu oleh Kwan-tiong Tok-ong, masakan ia tidak dapat mengalahkan si buntung ini!

Maka segera ia memberi tanda kepada Kwan-tiong Tok-ong untuk bersama-sama menyerbu lawannya, berbareng dengen gerakan si Raja Racun itu, Bu-tek Sianli bersuit dan sebentar itu pula anggota-anggota Ang-kin-kay-pang yang mempunyai tanda teratai hitam di dadanya sudah menyerbu Tiang Le.

Dalam keroyokan yang ketat ini Tiang Le bergerak hebat bagaikan harimau terluka. Sekali pedang pusaka buntungnya berkelebat, maka terdengar jeritan dari anak buah Ang-kin-kay-pang yang bertanda teratai hitam pada dadanya dan roboh dalam keadaan tubuh mandi darah!

Biarpun pemuda lengan buntung itu dikeroyok oleh banyak orang yang rata-rata memiliki ilmu silat cukup tinggi, Tiang Le tidak menjadi gentar. Malah ia masih sempat merangsek si Nenek Bu-tek Sianli dengan jurus-jurus maut dari ilmu pedang Tok-pik-kiam-hoat yang terlihai.

Sebetulnya ia segan untuk menjatuhi tangan maut kepada para pengemis ini, akan tetapi karena serangan-serangan Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong yang berbahaya, Tiang Le terpaksa tidak mengambil hati. Apalagi setelah diketahuinya bahwa pengemis-pengemis ini adalah bekas anggota Hek-lian-pay yang jahat, maka sekali mengelebatkan pedangnya, terdengar lagi jeritan seorang pengemis yang terluka lengannya terserempet pedang buntung Tiang Le!

Hebat sekali pertempuran di atas puncak gunung Ta-pie-san ini. Dan sepak terjang Tiang Le sungguh mengagumkan dan menggetarkan lawan. Setiap pedang buntung itu bergerak, setiap itu pula terdengar jeritan kaget dari lawannya yang telah terluka oleh tajamnya pedang buntung di tangan kiri lawan.

Dan baru sekarang pertempuran ini merupakan pertempuran yang benar-benar hebat, saling serang dan saling mempertahankan diri dan baru sekarang Kwan-tiong Tok-ong mendapat kenyataan bahwa pemuda lengan buntung ini benar-benar lihai. Pedang buntung yang dimainkan itu berubah menjadi segulung sinar perak yang amat kuat, mengurung dan menindih sehingga sebentar saja Kwan-tiong Tok-ong terdesak hebat. Merasakan bahwa lawannya ini benar-benar tangguh dan luar biasa, si Raja Racun itu mengeluarkan sesuatu benda dan menyambitkan ke arah Tiang Le dan disambut oleh tangkisan pedang buntung.

Terdengar ledakan keras dan asap berwarna kuning mengebul menyambar muka Tiang Le. Amat cepat sekali gerakan asap yang menyambar itu dan Tiang Le mencium bau yang amat amis dan menyesakkan dadanya.

Segera ia mengerahkan sin-kang di dada. Pada saat itulah sebuah pukulan tangan kiri Bu-tek Sianli menyentuh pundak Tiang Le!

“Dukk!” Tubuh Tiang Le terlempar tiga tombak jauhnya.

“Ha-ha-ha Tiang Le, bangsat buntung, hari ini kau harus mampus!” Sambil menggeram keras Nenek kosen ini mengangkat tangannya dan siap hendak dijatuhkan ke arah kepala Tiang Le yang pada ketika itu telah pingsan akibat racun kuning yang telah terhisapnya tadi.

Pada saat yang amat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar jeritan nyaring dari seorang perempuan muda berjalan bersama seorang anak lelaki yang berusia dua tahun. Perempuan muda itu adalah Pei Pei bersama Wang Ie yang telah tiba di atas puncak Ta-pie-san dan begitu melihat Tiang Le roboh dan dilihatnya Nenek itu mengangkat tangan, ia cepat menjerit sambil berlari:

“Tahan....!”

Bu-tek Sianli menoleh, melihat Pei Pei berlari menubruk Tiang Le dan mengguncang-guncangkan kepala pemuda yang telah pingsan itu. Seluruh tubuh Tiang Le sudah berwarna kekuning-kuningan. Inilah racun Oey-tok yang lihai dari si Raja Racun Kwan-tiong Tok-ong!

“Hemmm…… kau lagi, perempuan geladak!” maki Bu-tek Sianli gemas melihat datangnya Pei Pei.

Ia mengenal perempuan itu. Dan ia tahu bahwa perempuan lemah lambut ini tidak mengerti ilmu silat. Andaikan Pei Pei tahu ilmu silat tentu Bu-tek Sianli telah menerjang wanita itu!

“Tiang Le koko…….!” Pei Pei menjerit lirih memeluk Tiang Le. Menangis di dada pemuda itu.

“Perempuan sialan, minggir kau, biar aku cabut nyawa si buntung ini, minggir!” sekali tangan kiri Bu-tek Sianli merenggut baju Pei Pei, terdengar suara keras baju di bagian dada perempuan muda itu robek sebatas perut.

Pei Pei cepat menutupi bagian dada yang terbuka dengan tangannya dan menatap tajam kepada Bu-tek Sianli.

“Niocu….. jangan……. jangan kau celakakan Tiang Le….!” Pei Pei meratap menubruk kaki Bu-tek Sianli hendak berlutut. akan tetapi begitu kaki si nenek terangkat keruan saja tubuh Pei Pei terlempar jauh!

Melihat ini, Wang Ie menjadi panas hatinya. Dengan gerakan cepat ia sudah menerjang nenek itu, dan mengirim jotosan ke arah perut si Nenek. Meskipun hanya baru beberapa bulan ia melatih diri atas petunjuk suhunya, akan tetapi anak kecil yang bernyali segede gajah ini dengan berani sekali menerjang Bu-tek Sianli dengan bentakan nyaring,

“Nenek jahat, kau telah mencelakakan suhu dan subo, mampus kau!” Tangan yang kecil itu mengirimkan jotosan ke arah dada Bu-tek Sianli yang tidak menangkis dan mengerahkan sedikit hawa sin-kang di dada. Ia tertawa bergelak mengejek menerima pukulan anak kecil itu.

“Dukk!” Bukan si nenek itu yang berteriak kesakitan, melainkan tubuh Wang Ie sendiri yang terlempar jauh dan menjerit kaget merasakan seluruh tangannya menjadi nyeri seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Pada saat itulah, ia melihat subonya telah menghampiri Bu-tek Sianli dan dengan teriakan keras perempuan muda itu menerjang kaki Bu-tek Sianli dan menggunakan giginya yang runcing menggigit kaki Bu-tek Sianli sekuat-kuatnya ia menggigit!

Pei Pei memang cerdik. Ia tahu bahwa nenek ini sangat kebal sekali dan pikirannya yang cerdik dan penuh kemarahan itu ia menerjang Bu-tek Sianli dan menggunakan giginya menggigit betis si Nenek.

Keruan saja Bu-tek Sianli menjerit kesakitan dan mengibaskan kaki kanannya yang digigit dan sekali kakinya bergerak tubuh perempuan muda itu terlempar jauh dan menggelinding masuk jurang. Pei Pei menjerit ngeri dan suaranya tenggelam membawa tubuhnya yang meluncur ke jurang yang amat dalam itu.

Wang Ie terkesiap kaget melihat tubuh subonya telah meluncur masuk jurang. Untuk beberapa lama ia tersentak dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat, matanya basah sambil menggigit bibir. Ia berlari dan menerjang Bu-tek Sianli lagi, mengirimkan serangan tangan kiri yang cukup kuat itu!

Bu-tek Sianli menjadi marah, sekali meraba tongkatnya tiba-tiba ia menggerakkan tongkatnya memukul kepala anak kecil itu. Akan tetapi begitu tongkat itu meluncur hampir menyentuh kepala si anak, tiba-tiba terdengar suara keras dan sesosok tubuh berkelebat dan menggerakkan cambuk merah menyerang tongkat.

“Manusia rendah, nenek bangsat! Minggirlah!”

Bersamaan dengan luncuran sabuk sutera merah itu, seorang gadis manis telah berdiri di depan Bu-tek Sjanli dan menangkis tongkat dengan ujung sabuk sutera merah. Wang Ie cepat bergulingan ke kiri dan berdiri di samping wanita muda yang cantik jelita itu.

“Bwe Lan....... kau……?”

Liang Bwe Lan tersenyum mengejek. Menarik kembali sabuk suteranya dan digulungnya perlahan-lahan. Sementara bibirnya mengeluarkan sindiran,

“Kagetkah kau melihatku? Bu-tek Sianli, belum insafkah kau pada masa usiamu semakin tua ini? Hem, menyesal aku mempunyai bekas guru seperti engkau jahatnya, biarlah aku peringatkan sekali lagi supaya kau pergi dari sini!

“Segan hatiku bertempur denganmu yang sudah begini tua, apalagi mengingat bahwa aku pernah menjadi muridmu! Bu-tek Sianli…... carilah jalan terang, umur paling banyak beberapa tahun lagi. Bersiap-siaplah menghadapi Pengadilan Akhirat! Mudah-mudahan kau tidak masuk Neraka!”

Ucapan yang keluar dari mulut gadis ini sungguh berani sekali. Membuat Kwan-tiong Tok-ong melengak mendengarnya. Masakan ada seorang murid menasehati gurunya. Aneh!

Sementara itu bagaikan ditampar Bu-tek Sianli mendengus marah. Tongkatnya bergetar menahan gelombang hati yang berdentum-dentum penuh kemarahan di dada itu!

“Anak setan, murid durhaka, berani kau menasehati gurumu. Mampuslah!”

Saking marahnya Nenek ini, sampai ia lupa bahwa orang yang diserangnya itu adalah muridnya. Murid yang pernah ia kasihi dan turunkan kepandaian ilmu silat tinggi. Akan tetapi sungguh aneh sekali, menghadapi gadis ini, Bu-tek Sianli menjadi gemas setengah mati.

Ia tadinya nggak menyangka bahwa semua murid-muridnya berbalik memusuhi dirinya. Juga Bwe Lan. Ia tahu benar bahwa gadis ini pernah menolong pemuda yang bernama Tiang Le itu waktu di Sian-li-pay. Dan telah terang-terangan mengaku bahwa ia cinta kepada Tiang Le.

Gila! Benar-benar dunia sudah mau kiamat. Kelima orang muridnya yang mulanya ia kasihi kini berbalik memusuhinya! Saking gemasnya nenek itu, ia mainkan ilmu tongkat yang digabungkan dengan jurus-jurus Bu-tek-sin-kun yang lihai.

Pada saat itu, berkat sin-kang yang sempurna di tubuh Tiang Le, hanya untuk beberapa lama saja pemuda lengan buntung itu pingsan dan ada kira-kira lima menit, dia sadar kembali. Dan begitu melihat kedatangan Bwe Lan yang telah menolong Wang Ie muridnya segera dia mengumpulkan hawa murni di perut dan mengembalikan tenaganya. Dan begitu ia lihat bahwa Bwe Lan telah terdesak oleh Bu-tek Sianli, segera dia mencelat dan menggunakan tangan kirinya mendorong Bu-tek Sianli sambil membentak,

“Bu-tek Sianli, jangan berlagak di sini, pergilah!” Tangan kiri Tiang Le bergerak cepat menggunakan gerakan tangan kilat yang luar biasa dahsyatnya itu.

Bagaikan petir menyambar Bu-tek Sianli merasakan datangnya serangkum tenaga dahsyat yang luar biasa, segera ia mengelak ke kiri dan berjumpalitan menghindarkan angin pukulan itu dan membalas mengirim serangan tongkat ke arah Tiang Le. Amat terkejut bukan main Nenek ini melihat yang melakukan serangan barusan adalah Tiang Le.

Ia menjadi heran. Bukankah barusan pemuda itu tak berdaya terkena racun kuning, masa sekarang sudah sadar kembali! Ia melirik ke arah Kwan-tiong Tok-ong yang sudah mengerahkan pula sepasang tangan buatan dan mengirim cengkeraman ke arah pundak Tiang Le.

Melihat datangnya cakar setan yang terkenal akan kelihaiannya ini, Tiang Le tak berani menyambut dengan pukulan, ia berkelit ke kiri dan mainkan langkah-langkah ajaib menghindarkan diri dari serangan-serangan sepasang tangan yang mengeluarkan bau anyir itu!

Melihat bahwa pemuda itu sudah menyerang Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok¬ong, Bwe Lan menjadi bersemangat dan tersenyum girang kepada Tiang Le,

“Tiang Le, mari kita basmi manusia-manusia keparat ini!”

“Suhu....... nenek bangsat itu jahat, mampusin saja suhu, hantam pantatnya…… hi-hi-hi,” Wang Ie yang menonton pertempuran itu menjadi girang sekali. Girang karena suhunya kini sudah sadar kembali dan menyerang musuh-musuhnya.

Dan apabila teringat kepada subonya yang telah terpelanting masuk jurang, maka dengan sengit ia berteriak lagi ke arah Tiang Le yang sudah mendesak Bu-tek Sianli.

“Suhu........ nenek jahat itu sudah mencelakakan subo, subo sudah ditendangnya masuk ke jurang. Suhu mampusin Nenek peot itu.......!”

Mendengar seruan Wang Ie ini, Tiang Le menoleh kepada muridnya dan berkata “Apa? Subomu masuk jurang?”

Bwe Lan menyahut sambil menangkis tongkat si Nenek Bu-tek Sianli, “Benar Tiang Le, Pei Pei sudah masuk ke jurang oleh tendangan nenek bangsat ini. Sayang aku datang terlambat.”

“Apa? Pei Pei telah.......?” Cepat sekali Tiang Le berkelit dari sambaran senjata tangan dari Kwan-tiong Tok-ong yang amat berbahaya itu.

Ia amat kaget sekali dan hampir saja pundaknya terserempet cakar setan yang digerakkan oleh Kwan-tiong Tok-ong dengan amat cepatnya. Baiknya pemuda ini cukup waspada dan cepat berkelit membalas serangan, tangan kiri mengelebatkan pedang yang segera dapat dikelit oleh si Raja Racun Kwan-tiong Tok-ong yang lihai.

“Bu-tek Sianli, benar kau telah mencelakakan Pei Pei?” tanya Tiang Le dengan suara menggeledek mengarahkan tamparan ke arah tongkat Bu-tek Sianli yang dengan senyum mengejek menangkis dengan tongkatnya sambil berkata,

“Memang aku yang telah membunuhnya kau mau apa? Sebentar lagi engkau juga harus mati!” Bentakan Bu-tek Sianli ini dibarengi dengan pukulan tongkat ke arah kepala Tiang Le.

Akan tetapi pada saat itu Bwe Lan sudah lantas menggerakkan tangan dan puluhan jarum beracun yang bernama Sian-li-tok-ciam menyambar ke arah Bu-tek Sianli. Tentu saja nenek ini mengenal akan kelihaian Sian-li-tok-ciam, jarum beracun ciptaannya sendiri, maka ia mengurungkan gerakan tongkatnya memukul kepala Tiang Le, sebaliknya ia menarik tongkatnya dan memutar memukul runtuh jarum-jarum beracun yang menyambarnya!

Perkelahian bertambah seru, orang-orang pengemis yang memakai tanda teratai hitam di dadanya tidak berani lagi bergerak karena ngeri menyaksikan sepak terjang pemuda lengan buntung yang lihai ini. Segera menyeret kawan-kawan yang sudah terluka dan membawanya ke belakang untuk dirawat. Sedangkan yang lainnya berdiri mengelilingi tempat itu menonton perkelahian yang berjalan dengan serunya.

Bagi Bu-tek Sianli adalah hal yang baru pertama kali ia benar-benar dipecundangi oleh seorang pemuda yang berlengan buntung. Ia sungguh amat malu sekali, ia yang sudah terkenal di dunia kang-ouw, dan telah menggemparkan dunia persilatan dengan jurus-jurus ilmu pukulan Bu-tek-sin-kun atau Kepalan Sakti Tanpa Tandingan, kini benar-benar ketemu tandingan!!

Ia menjadi sengit bukan main dan mainkan ilmu silat Bu-tek-sin-kun-hoat menggunakan jurus-jurus dahsyat dan siap merenggut nyawa lawan!

Kini setelah munculnya Tiang Le, perkelahian dibagi dua bagian. Kalau Tiang Le melayani nenek Bu-tek Sianli, adalah Bwe Lan, ia bertemu tanding pula oleh orang tinggi besar yang tidak dikenalnya ini.

Memang sesungguhnyalah bahwa Kwan-tiong Tok-ong ini bukan tidak terkenal, akan tetapi karena ia hanya malang melintang di dunia Barat sudah barang tentu tokoh-tokoh selatan tidak mengenalnya.

Akan tetapi sungguh kejadian yang menggemparkan karena tokoh dari Barat ini, mempunyai kepandaian selangit! Di barat ia terkenal sebagai Raja Racun karena senjatanya yang dijuluki Cap-tok-mo-jiauw atau sepuluh racun cakar setan yang luar biasa kejinya. Barang siapa yang terkena salah satu dari ke sepuluh racun itu tipislah harapan untuk dapat hidup kembali!

Tahu bahwa senjata yang terbuat dari tangan manusia yang dikeringkan itu sangat berbahaya sekali, maka Bwe Lan yang cerdik selalu menghindarkan diri dari cakaran setan yang mengerikan itu. Kalau tadi dia terus bertempur dengan Bu-tek Sianli hanya separuh hati, kini menghadapi orang tinggi besar yang bersenjata cap-tok-mo-jiauw itu ia benar-benar menyerang dalam arti kata sesungguhnya.

Ia mengerahkan seluruh tenaga lwekang bagian melemaskan yang disalurkan ke arah sabuk sutera merahnya, sehingga ujung sabuk itu menyambar-nyambar bagaikan ular, menerjang dengan totokan-totokan ke arah pundak kanan atau sambungan siku dan pergelangan tangan. Atau menyerang jari-jari tangan setan yang selalu terbuka dalam posisi mencengkeram. Ia tidak takut akan benturan-benturan tangan itu karena melalui sabuk suteranya, ia tidak terlalu kuatir untuk keracunan!

Permainan sabuk sutera gadis muda ini sungguh membuat kagum Kwan-tiong Tok-ong. Baru sekarang ia tahu bahwa di Selatan ini banyak sekali orang-orang muda yang berkepandaian tinggi. Baru saja beberapa bulan ini ia terjun ke selatan dan mengikut Bu-tek Sianli, eh, siapa tahu malah ia harus menghadapi orang-orang muda yang berkepandaian tinggi dan lihai!

Sialan, tahu begini gua nggak mau ikut-ikut Bu-tek Sianli. Kalau begini jadinya, sungguh memalukan, pikir Kwan-tiong Tok-ong mengeluh di dalam hatinya!

Si Raja Racun Kwan-tiong, kini benar-benar harus dibuat sibuk oleh gerakan-gerakan sabuk sutera si gadis yang lihai. Beberapa kali sepasang senjata tangan itu menyabet ke arah sabuk sutera akan tetapi karena sabuk sutera itu lemas dan kuat, serta dimainkan oleh Bwe Lan dengan pengerahan tenaga “Im” (lemas) hasilnya sia-sia saja, sabuk itu tidak mau putus.

Kini menghadapi gadis yang lihai ini, tiba-tiba tangan kiri Kwan-tiong Tok-ong merogoh sakunya dan sebuah benda hitam menyambar merupakan peluru menyambar ke arah si gadis. Melihat ini, Tiang Le cepat berseru kepada Bwe Lan: “Awas! Senjata rahasia itu penuh racun, jangan ditangkis. Hindarkan!”

Bwe Lan tersenyum ke arah Tiang Le. Tentu saja meskipun tidak diberi peringatan oleh pemuda lengan buntung itu, Bwe Lan cukup cerdik dan tidak sudi menangkis peluru itu, malah ia berkelit sambil membalas menyebarkan jarum-jarum beracun yang bernama Sian-li-tok-ciam. Senjata rahasia yang terbuat dari jarum yang telah direndam oleh racun dan pernah terkenal dulu di Sian-li-pay!

Datangnya senjata-senjata halus yang terbuat dari jarum-jarum ini, segera Kwan-tiong Tok-ong mengibaskan lengan bajunya dan memukul runtuh jarum-jarum itu. Kini melihat bahwa gadis itu cukup cerdik, ia segera bersuit keras.

Tentu saja Bwe Lan tidak tahu apa arti suitan ini, maka dengan sengit merangsek orang tinggi besar itu. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suitan keras dari atas dan sesosok burung garuda menyambar ke arah Bwe Lan. Gerakan burung garuda ini sungguh luar biasa hebatnya, membuat sabuk sutera yang ditangkis oleh cakar garuda itu terpental ke samping dan bersamaan dengan munculnya burung raksasa itu, terdengar suara nyaring dari atas punggung garuda:

“Ayah, serahkan gadis cantik ini kepadaku, hi-hik ini dia cewe yang selama ini kuimpi-impikan. Ayah, aku suka gadis ini....... jangan serang dia ayah….. berikan kepadaku....... hi-hik-hik........ sekarang aku mau kawin!”

“Kong Beng, jangan ngaco, gadis ini lihai cepat panggil ibumu. Celaka, kau ini anak gila, bukan sekarang dia kenapa berdiri di situ?” Kwan-tiong Tok-ong berteriak marah ke arah seorang anak laki-laki gundul yang berdiri di atas punggung garuda.

Anak itu berusia sekitar duapuluh tahun lebih, akan tetapi melihat kepalanya yang botak dan roman muka yang seperti orang tolol, nampak sekali sikapnya seperti anak kecil memandang Bwe Lan seperti seorang anak kecil mengagumi barang permainan yang menarik hati.

Kwan-tiong Tok-ong segera memberi isyarat dengan suitan kepada burung garuda peliharaannya. Maka tiba-tiba saja terdengar suara menggelepar waktu sayap burung yang keras dan besar itu melancarkan pukulan-pukulan ke arah Bwe Lan!

Pada saat itu, Bwe Lan kaget setengah mati melihat burung raksasa yang begini besar dan hebat ditunggangi seorang anak laki-laki gundul dan bermuka bodoh menyeringai memandangnya. Belum hilang Bwe Lan dari kagetnya, tiba-tiba burung itu menyambar turun dan sekali mengulur kuku, sabuk sutera Bwe Lan sudah dicangkeram oleh burung garuda, dan burung itu menggeleparkan sayapnya menampar.

Bwe Lan cepat menangkis mengirim dorongan tangan kirinya ke arah dada burung itu. Akan tetapi siapa sangka justru sambaran sayap garuda ini demikian dahsyatnya sehingga ia menjadi terhuyung-huyung dan melepaskan pegangan sabuk suteranya! Cepat ia bergulingan ke kanan menghindarkan sambaran-sambaran cakar burung garuda yang menyerangnya dari atas.

“Brettt!” Baju di pundak Bwe Lan hancur terkena cengkraman kuku garuda. Gadis yang perkasa ini menjerit ngeri menghadapi burung yang begini besar dan ganas.

Pada saat itulah sebuah tangan bergerak menampar dada si burung dan terdengar suara keras bergedebuk dan bulu-bulu garuda rontok oleh tamparan tangan kiri Tiang Le, yang sudah mencelat menyambar tubuh Bwe Lan. Sedangkan Wang Ie sudah menggelendot di punggung Tiang Le. Dan sekali menggerakkan tubuhnya, ia berkelebat menarik tangan Bwe Lan.

“Mari kita pergi!” kata Tiang Le kepada Bwe Lan.

“Ha-ha-ha Tiang Le, hendak kabur ke mana kau?” Terdengar suara Bu-tek Sianli mengejar di belakangnya. Akan tetapi Tiang Le tak menghiraukan lagi dan berkata keras:

“Bu-tek Sianli, lain kali kita lanjutkan!”

“Ha-ha-ha Tiang Le kau tidak dapat lolos dari tempat ini,” terdengar suara Kwan-tiong Tok-ong dan bersuit lagi. Seekor burung garuda menyambar turun menggunakan cakarnya menyerang Bwe Lan yang berlari di samping Tiang Le.

“E, Hui-eng….. jangan serang gadis itu. Tolol tuh yang lelaki hantam kepalanya!” seru lelaki yang di punggung garuda itu.

Lelaki gundul itu bersuit keras dan mengeluarkan sulingnya, tahu-tahu serombongan ular merayap besar kecil menghampiri Tiang Le. Tentu saja pemuda lengan buntung ini jadi menghentikan larinya. Ia menoleh ke belakang.

“Bangsat bocah ini kurang ajar sekali, mampus kau!” Tangan kiri Tiang Le bergerak ke belakang dan menggunakan pukulan jarak jauh. Keruan saja tubuh lelaki gundul itu terpental oleh hantaman tangan kiri Tiang Le dan pada saat itulah Kwan-tiong Tok-ong sudah tiba di tempat itu dan menyambar tubuh anaknya yang terguling dari punggung garuda.

“Ayah……. lelaki buntung itu jahat, mampusin dia!” Kata anak lelaki gundul itu menunjuk Tiang Le.

“Bocah gila, siapa suruh kau main-main dengan dia, mana ibumu?” tanya Kwan-tiong Tok-ong.

Belum lagi lelaki gundul itu menyahut, tiba-tiba terdengar pekikan yang panjang menggeletar-geletar dan dibarengi dengan munculnya seorang wanita setengah tua. Umurnya sekitar empatpuluhan, wajahnya masih kelihatan cantik dan tidak menyeramkan, hanya pada dahi dan pipinya terdapat lekuk-lekuk dan keriput-keriput yang membuat wajah yang cantik itu menjadi aneh dan galak.

Sepasang matanya kecil dan tajam dan bergerak selalu. Dia inilah Thung Hay Nio-nio, wanita Han yang kawin dengan Kwan-tiong Tok-ong dan menetap di Barat sampai bertahun-tahun lamanya dan telah mempunjai putera yang cukup lihai kepandaiannya yang bernama Kwan Kong Beng.

Melihat datangnya wanita ini, Tiang Le cepat mempergunakan gin-kangnya berlompatan di atas pohon dengan dituruti oleh Liang Bwe Lan, karena jalan yang di depan itu sudah dikurung oleh ratusan ular besar kecil merayap naik. Tentu saja Tiang Le tidak takut akan ular-ular itu, akan tetapi sekiranya ia melawan gin-kangnya tubuhnya berkelebatan berloncatan dari pohon ke pohon.

Berkali-kali burung garuda itu menyambarnya, akan tetapi begitu tangan kiri Tiang Le memukul ke atas terdengar suara keras menggedebuk dan tubuh burung garuda itu terpental ke atas menghamburkan bulu-bulu yang rontok terhantam pukulan tangan kiri Tiang Le yang lihai.

Biarpun ia itu hanya sebagai burung, akan tetapi garuda ini cukup cerdik dan takut mati. Merasakan bahwa pemuda lengan buntung itu lihai sekali, dan telah membuat dadanya sakit terhantam pukulan tangan itu. Sambil mengeluarkan jeritan nyaring garuda peliharaan Kwan-tiong Tok-ong itu pada berterbangan menuju ke arah sebelah selatan.

Sudah barang tentu melihat burung itu terbang ke arah selatan Kwan-tiong Tok-ong anak isteri dan Bu-tek Sianli mengejarnya ke selatan pula, padahal sesungguhnya Tiang Le tidak mengambil jurusan ke selatan melainkan ia terus berlari ke utara! Sehingga ia terluput dari kejaran Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong sekeluarga!

◄Y►

4

“Sekali lagi terima kasih atas segala budimu, nona, sudah terlampau banyak aku berhutang budi kepadamu. Entah dengan apa kelak kudapat membalasnya,” berkata Tiang Le ketika mereka menghentikan larinya dan telah berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang. Angin siang berhembus menyejukkan.

Bwe Lan mengambil saputangannya dan mengusap keringat pada dahi dan lehernya. Terasa nikmat sekali berada di tempat terbuka seperti ini. Ia menundukkan mukanya dan dadanya berdebar mendengarkan suara halus Tiang Le barusan.

“Tiang Le, sayang sekali aku datang terlambat sehingga tidak keburu menolong Pei Pei…… Harap kau maafkan aku.” Suaranya merdu dan halus.

“Ah, tidak apa Nona. Eh! Wang Ie betul kau melihat subomu masuk ke jurang dan bagaimana?” Tanya Tiang Le menyimpang dan memandang ke arah muridnya.

Teringat subonya, Wang Ie tertunduk sedih.

“Subo memang telah masuk jurang oleh tendangan Nenek jahat itu suhu....... Teecu mendengar jeritan subo yang jauh di dasar jurang itu….. suhu, apakah kita tidak kembali ke puncak dan menyelidiki jurang itu?”

“Betul Tiang Le, kita harus ke sana. Kita harus mencari Pei Pei....... kasihan sekali dia.......” Sahut Bwe Lan memandang jauh ke muka.

Tiang Le menoleh gadis di sampingnya.

“Kalau memang Pei Pei telah jatuh ke dalam jurang sukar sekali untuk diharapkan hidup…....” Kata Tiang Le pelan.

“Suhu bagaimana kalau kita kembali ke puncak dan mencari subo…… kalau memang subo telah binasa, setidak-tidaknya kita dapat menemukan jenazahnya........” Menyelak Wang Ie sambil menarik tangan kiri gurunya.

Tiang Le memandang muridnya, melihat bola mata Wang Ie penuh genangan air yang hendak jatuh. Hati Tiang Le menjadi pilu dan berkata: “Mari. Wang Ie... kita kembali ke puncak!”

“Tiang Le...... aku ikut!” Kata Bwe Lan.

Tiang Le tidak menjahut, hanya tangan kirinya menyambar muridnya dan sekali menggerakkan tubuh bagaikan terbang mereka sudah berlari menaiki puncak mengambil jurusan dari barat daya.

Sepi sekali keadaan di puncak.

Tiang Le menurunkan Wang Ie dari gendongannya dan berkata kepada muridnya: “Wang Ie, dimana subomu terjatuh?”

Wang Ie berlarian ke depan dan berdiri di tepi jurang, tangannya yang kecil menunjuk ke bawah: “Di sinilah suhu!”

Tiang Le dan Bwe Lan segera melongok ke bawah dan terdengar jeritan lirih dari Bwe Lan kaget. Jurang itu demikian dalam. Tebing-tebingnya menjulang tinggi mengelilingi sekitar tempat itu.

Jauh di bawah sana tidak kelihatan dasarnya, tertutup oleh halimun yang berasap membubung ke atas. Jauh di sebelah kiri, pada bagian-bagian tepi yang tertutup oleh rumput-rumput hijau, terdapat air mancur yang menumpahkan airnya dari ketinggian. Sedangkan di sebelah kanan nampak batu-batu cadas yang runcing menjulang ke atas merupakan mata pedang yang tertutup oleh kabut-kabut putih yang menyelimuti.

Dengan pandangan matanya, Tiang Le dan Bwe Lan mencari-cari kalau-kalau di tempat itu terdapat sesosok tubuh. Akan tetapi mereka tidak melihat tubuh Pei Pei. Andaikan Pei Pei terjatuh ke tempat di sebelah kiri dan kanan, tentu mereka dapat melihat jenazah atau tubuh gadis itu. Di tempat itu, mereka tidak menemui Pei Pei.

“Mungkin dia terjatuh ke tempat di tengah-tengah itu,” kata Tiang Le menunjuk ke tengah. “Kalau ia terjatuh di sekitar sini tentu akan dapat kita temui…... Wang Ie, entah mati atau hidup nasib subomu…..... sekiranya ia jatuh ke tengah-tengah entah bagaimana nasibnya……”

Wang Ie memandang jurang yang di tengah-tengah itu. Jurang yang dikelilingi tebing-tebing tinggi dan tak kelihatan dasarnya karena tertutup oleh halimun. Beberapa kali Bwe Lan menjambitkan batu ke mulut jurang itu, tiada mereka mendengar suara batu itu jatuh, mudah diduga betapa dalamnya jurang ini.

“Subo........” Wang Ia berbisik pelan. Air matanya bercucuran meleleh lewat ke dua pipinya.

Melihat muridnya menangis hati Tiang Le menjadi pilu. Ia memandang ke jurang dengan tatapan basah dan nanar.

“Pei-moay…….” bisik pula Tiang Le dengan hati perih.

Bwe Lan tertunduk dan menitikkan air mata.

Sampai lama mereka berdiri di tepi mulut jurang itu. Seakan-akan mereka bertiga itu sedang berdiri di tepi kuburan orang yang telah mati. Mereka menganggap Pei Pei sudah terkubur hidup-hidup di mulut jurang itu. Tipis sekali harapan mereka untuk dapat bertemu lagi dengan gadis malang itu.

Siapakah orangnya yang dapat menyelamatkan diri terjatuh ke jurang maut ini? Tipis sekali untuk hidup, besar kemungkinan tubuh itu akan hancur terbanting dari ketinggian tebing ini dan batu-batu cadas tentu akan menyambut kedatangan tubuh Pei Pei yang meluncur dari atas. Sungguh sangat mengerikan sekali.

Ada dua jam Tiang Le membuka matanya. Sekali lagi ia memandang sayu ke arah permukaan jurang yang tertutup oleh halimun tebal. Kemudian tangan kiri yang tinggal satu-satunya itu meraih tangan kecil muridnya sambil katanya: “Mari kita pergi Wang Ie……!”

Tiang Le menarik tangan muridnya untuk berlalu, akan tetapi begitu ia melihat Bwe Lan berdiri memandangnya seperti patung dan seperti orang kebingungan, ia berkata pelan, “Nona, sekarang hendak kemanakah tujuanmu?”

Ditanya begini Bwe Lan menjadi kikuk dan malu. Ia jadi tertunduk dengan muka merah. Dadanya berdebar-debar.

Sesungguhnya ia sendiri tidak tahu, hendak ke manakah ia kini? Ia adalah murid Bu-tek Sianli, tempat tinggalnya dulu adalah di pulau Bidadari, akan tetapi sejak terjadinya bentrokan dengan gurunya itu dan telah kabur dari pulau, malah secara terang-terangan sudah menolong pemuda di depannya ini dan sampai berbulan-bulan itu ia membuntuti Tiang Le.

Kini, bagaimana ini, apa yang harus ia katakan? Ia menjadi bingung. Sampai lama ia tertunduk dengan muka merah saking malunya, baru ia dapat berkata perlahan,

“Aku....... aku....... sengaja mengikutimu Tiang Le….. eh, anu……” Bwe Lan berkata gagap dan bingung. Ia terus tertunduk.

“Kau membututi aku....... ada apakah?” Hati Tiang Le berdebar. Ia memandang Bwe Lan yang tertunduk.

“Aku........ aku sengaja membuntutimu, pertama-tama karena....... aku tahu bahwa kau selalu dikejar-kejar oleh guruku Bu-tek Sianli dan senang sekali aku telah membuntutimu….. eh, sebetulnya.... aku sejak di Sian-li-pay....... hem....... aku sudah tertarik sekali kepadamu, aku suka sekali dekat denganmu.

“Tiang Le kau maafkanlah aku waktu…... waktu di lereng Fu-niu-san dulu, karena sikapku kasar sekali. Harap kau tidak marah…... dan........ dan lagi aku telah bersumpah di depan Bu-tek Sianli bahwa aku hanya menyintaimu seorang dan tidak ingin kawin dengan pria lain!” Tiba-tiba ia mengangkat mukanya memandang dan kini Tiang Le yang tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang menjadi pucat.

Teringat ia sekarang bahwa gadis ini telah mengaku terang-terangan di depan Bu-tek Sianli dan murid Sian-li-pay ini menyatakan cinta kepadanya. Malah telah beberapa kali gadis ini telah menolongnya. Pertama waktu di pulau Bidadari, dan di tebing pantai laut Po-hay. Betapa gadis ini telah membuktikan kesetiaannya (baca Pendekar Lengan Buntung).

Melihat Tiang Le tertunduk, Bwe Lan masih dapat melihat wajah pemuda itu amat pucat. Ia mengira bahwa pemuda ini masih menderita sakit bekas pukulan Bu-tek Sianli tadi pagi di puncak itu. Maka ia cepat-cepat berkata,

“Maafkan aku Tiang Le, seharusnya kita tidak perlu berbicara soal itu, eh, apakah kau masih sakit luka di dadamu itu…….? Tiang Le, kalau diriku ini tidak terlalu rendah untuk merawatmu, biarlah aku merawat luka-lukamu dan mari kita kembali ke pulau bidadari. Pulau itu sudah kosong dan tidak ditinggali lagi oleh guruku. Kalau tidak keberatan biar kita berdiam di sana, sambil merawatmu sampai kau sembuh betul, maukah kau Tiang Le?”

Debaran jantung pemuda lengan buntung itu bertambah keras dan tidak enak hati dia melihat kebaikan gadis bekas murid Bu-tek Sianli ini, maka untuk menghilangkan rasa tidak enak dalam hatinya cepat-cepat ia berkata,

“Terima kasih Nona, kau menunjukkan sikap yang baik kepadaku. Selalu menolongku, betapa besar budi ini, aku tak akan melupakannya. Terima kasih sekali lagi Nona, tak usah repot-repot, lukaku….. eh, sebetulnya aku tidak terluka….. dan……”

“Kau masih pucat Tiang Le. Marilah biar kau kurawat di pulauku…... Maaf Tiang Le aku hendak menolongmu dan…... dan ingin supaya kau sehat. Harap kau tidak salah mengerti.”

Mendengar kata-kata gadis ini, bukan main terharunya hati Tiang Le. Akan tetapi ia bingung juga kalau menolak, kerena ia tahu kalau ia menolak, tentu ia akan melukai hati gadis yang baik hati itu. Lagi, bukankah beberapa kali sudah gadis ini telah menolongnya.

Ia sungguh berhutang budi kepada gadis ini dan lagi, merah muka pemuda itu apabila teringat perkataan gadis ini, perkataan yang tegas menyatakan bahwa gadis itu menyintainya. Hemm, untuk beberapa lama dada Tiang Le berdebar keras. Dan segera ia menekan hatinya dan berkata,

“Terima kasih untuk kebaikanmu Nona. Sudah sering kali aku menerima budi baikmu, harap jangan kau tumpuki lagi agar tidak terlalu sukar bagiku untuk membalasnya kelak.

“Bukan sekali-kali aku menolak budi baikmu ini Nona, akan tetapi, pada saat ini kami hendak kembali ke gunung Tiang-pek-san yang sudah begitu lama aku tinggalkan. Dan aku akan meneruskan cita-cita mendiang suhu Swie It Tianglo, mendirikan partai Tiang-pek-pay yang sudah tercerai berai ini. Biarlah lain kali, kalau memang kau berada di pulau Bidadari kelak aku akan mengunjungimu.”

Mendengar ini Bwe Lan tampak berduka dan menundukkan mukanya.

“Kalau kau tidak mau ke sana, akupun tidak mau kembali ke pulau bidadari!” sahutnya sedih.

“Habis, hendak ke manakah kau sekarang Nona?”

“Entahlah……” Suara gadis itu terdengar halus dan pelan menandakan kekosongan hati dan ia memandang jauh ke depan.

Tiang Le dapat merasakan kepedihan hati gadis di sampingnya ini. Ia memang sangat kasihan sekali kepada gadis ini. Ia tahu bahwa setelah Bwe Lan dimusuhi olen Bu-tek Sianli tentu dia akan selalu terancam oleh bekas gurunya dan lagi ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.

Apalagi setelah tahu bahwa gadis ini sudah tidak mempunyai keluarga sanak famili, tak tega sebetulnya Tiang Le membiarkan gadis yang begini cantik jelita mengembara seorang diri tanpa arah tujuan. Akan tetapi tentu saja dia merasa tidak enak hati kalau mengeluarkan isi hatinya. Maka dia menjadi bingung, kemudian dengan suara sedih dia menjawab,

“Kalau kau memang tidak berkeberatan, boleh saja kau menetap di puncak Tiang-pek-san untuk membimbing muridku ini. Dia ini Wang Ie, muridku…… sekiranya kau suka, biarlah kau membimbingnya.”

Berseri wajah gadis itu, “Kau……. membolehkan aku ikut bersamamu, Tiang Le?”

“KaIau kau memang tidak keberatan, boleh saja kau tinggal bersama-sama kami. O ya, Wang Ie sukakah kau dididik oleh Nona ini?” Tanya Tiang Le kepada muridnya.

Tentu saja Wang Ie menjadi girang sekali. Cepat-cepat ia berkata dengan suara nyaring, “Tentu saja senang sekali hati teecu kalau enci ini mau mendidik teecu yang bodoh dan sebatang kara ini!”

Tiang Le mengelus kepala muridnya dengan kasih sayang, kemudian ia menoleh kepada Bwe Lan, “Nona, mari kita berangkat ke Tiang-pek-san!”

“Namaku Liang Bwe Lan, kau tak perlu menyebut Nona-nonaan segala!”

“Baiklah, kuulangi, Bwe Lan marilah kita berangkat ke Tiang-pek-san, mengunjungi pondokku yang jelek, kayak kandang kambing. Maklumlah keadaan di gunung...... tidak sama tentunya dengan di Pulau Bidadari yang serba mewah dan megah!”

“Ahh kau terlalu merendah Tiang Le. Kayak kandang kambing kek, apa kek, mending kau masih punya rumah, sedangkan aku....... Sudahlah, mari kita berangkat....... ah Wang Ie mari kugendong.”

“Terima kasih cici, biarlah aku digendong sama suhu saja,” sahut Wang Ie yang terus saja menggelendot di tangan suhunya.

Tiang Le menarik tangan muridnya dan sebentar itu pula ke tiganya telah menuruni puncak Ta-pie-san menggunakan gin-kang mereka yang tinggi sehingga bagi orang yang tidak mempunyai ilmu silat tinggi dan pandangan yang tajam hanya melihat dua sosok bayangan berkelebat dengan amat cepatnya laksana terbang!

◄Y►

5

Kita tinggalkan dahulu Tiang Le dan muridnya bersama Bwe Lan yang sedang menuju Tiang-pek-san yang letaknya limaratus lie jauhnya dari gunung Ta-pie-san, di sebelah Utara melewati sungai Sin-kiang yang terkenal di Tiongkok pada masa itu.

Dan sekarang marilah kita mengikuti pengalaman Pei Pei di jurang maut di puncak Ta-pie-san. Sungguhpun Tiang Le menduga bahwa gadis itu tidak bakal selamat jatuh ke jurang ini, namun sesungguhnyalah bahwa kehendak Thian itu tiada seorangpun yang dapat menduganya. Apalagi soal mati dan hidup seseorang hanya Thian Pencipta itulah yang memutuskannya. Karena hanya Dia-lah yang berhak atas mati hidup seseorang di dalam dunia ini! Demikianpun hal nya dengan Pei Pei.

Seperti telah diceritakan dalam bagian depan, betapa Pei Pei yang telah dibuat, marah atas kekerasan dan kekejaman Nenek Bu-tek Sianli menjadi nekat dan menjerit penuh kemarahan. Pei Pei menerjang maju dan menggigit betis si nenek.

Keruan saja digigit betisnya Bu-tek Sianli menjerit kesakitan dan mengibaskan kaki kanannya yang digigit dan sekali kakinya bergerak menendang tubuh Pei Pei terlempar jauh dan menggelinding masuk jurang. Amat keras sekali tubuhnya meluncur ke bawah, angin dingin mengiang di telinganya waktu tubuhnya meluncur dengan pesat ke bawah. Ia merasakan kepalanya pening bukan main, dalam kagetnya itu ia masih berteriak keras memanggil nama Tiang Le, akan tetapi suaranya lenyap ditelan dalamnya dasar jurang yang penuh halimun ini!

Tubuh Pei Pei terus meluncur ke bawah dan sungguhpun pengalaman ini membuat nyawanya seakan-akan terbang dan semangatnya melayang namun kesadaran perempuan muda ini masih penuh. Ia tidak mau pingsan malah menjerit keras memanggil-manggil Tiang Le, suara gemanya berpusing-pusing ke atas.

Saking kerasnya Pei Pei menjerit-jerit sampai habis rasanya suara dan tenggorokannya menjadi kering, ia memandang ke bawah. Ngeri bukan main memandang ke bawah.

Kalau tadinya ia memandang ke bawah tak melihat apa-apa karena dasarnya jurang itu ditutupi oleh kabut tebal, kini ia melihat betapa jauh di bawahnya mencuat batu-batu gunung yang runcing-runcing siap hendak menyate tubuhnya. Saking ngerinya pemandangan ini hampir pingsan rasanya karena sukar baginya untuk bernapas dan melihat pemandaugan yang mengerikan di bawah. Sebentar lagi tubuhnya akan hancur diterima batu-batu yang runcing laksana mata pedang itu.

Pei Pei meramkan matanya! Tak kuasa dia membayangkan kejadian apa yang bakal dialaminya nanti. Ia siap untuk mati sekarang dalam keadaan tubuhnya yang terbawa luncuran cepat sekali itu!

Tiba-tiba ia merasakan pundaknya sakit dan tubuhnya seakan-akan dirobek menjadi dua, tersentak keras akan tetapi ia kini tidak melayang ke bawah lagi. Ketika dia memandang, alangkah heran hatinya melihat seorang nenek tua renta telah berada di pinggiran tebing, dan telah mencengkeram pundaknya. Ia kaget akan tetapi berbareng girang sekali, karena ia mendapat harapan untuk hidup.

Kalau ia terbanting ke bawah, tak dapat di sangkal lagi bahwa tentu akan mati dengan tubuh hancur lebur. Kini di dalam cengkeraman nenek itu yang bersila di pinggir tebing ia mendapat harapan besar untuk hidup.

Terasa kini tangan yang kuat mencengkeramnya terangkat ke atas dan dengan mudahnya tubuhnya telah terlempar ke sebuah tempat tanah datar yang berukuran empat persegi. Tahu bahwa nenek tua renta ini yang menolongnya segera saja Pei Pei berlutut dan berkata:

“Saya Pei Pei, menyatakan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Popo (nenek) yang telah menyelamatkan saya.......” Terdengar suara Pei Pei halus dan tutur katanya begitu lancar dan sopan.

Si Nenek tertawa keras.

“Hayaa……. Niocu ini siapakah dan mengapa menerjunkan diri ke jurang maut ini, apakah kau sudah bosan hidup?”

“Po-po saya, tentu….. saya….. saya akan mati di bawah jurang di sana itu…..” Sambil berkata begitu Pei Pei berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bangunlah Niocu….. tak perlu kau menyembah-nyembah begitu. Aku hanya seorang pelayan saja, tak patut menerima penghormatan seperti ini……, duduklah di sini dan ceritakanlah apa yang terjadi denganmu.

“Ehh, Niocu ini kelihatannya sudah berbadan dua ya….. aii….. kalau kau jatuh ke bawah itu bukan saja kau yang mati, juga bayi di dalam perutmu itu akan mati pula hanya untung sekali aku dapat bergerak cepat menyambut tubuhmu. Kalau tidak, hemm….. kasihan sekali bayi di dalam perutmu itu. Eh sudah berapa bulan kau mengandung Niocu?”

“Sudah hampir jalan tiga bulan Popo…...” sahut Pei Pei yang menjadi kagum melihat ketajaman mata nenek tua renta ini.

Padahal kandungan yang baru berjalan tiga bulan itu belum kentara benar. Sungguh mengagumkan sekali nenek ini.

Ia memandang ke arah si nenek dan baru sekarang ia tahu bahwa nenek ini sudah begitu tua dan ke dua kakinya buntung sebatas dengkul. Dahi dan pipinya sudah penuh kerut merut, giginya sudah ompong dan bibirnya yang berkerisut berwarna merah. Tubuh nenek itu kurus kering, akan tetapi anehnya, berpakaian seperti seorang pelayan pembesar saja rapih dan bersih!

Sikapnya lemah lembut dan waktu berbicara dengan Pei Pei tadi sudah diduga bahwa dulunya nenek ini tahu akan tata bahasa yang tinggi. Dan cukup sopan.

“Niocu…….!” kata si nenek lagi ramah. “Bagaimana kau bisa terjatuh ke tempat ini?”

Melihat nenek tua renta ini sangat baik sekali dan amat ramah, Pei Pei tidak berlaku sungkan lagi. Ia menghampiri nenek itu dan duduk di atas rumput yang hijau dan tebal.

“Popo, saya..... saya terjatuh oleh tendangan Bu-tek Sianli di atas tebing sana itu, entah bagaimana nasib Tiang Le koko di tangan si nenek jahat itu.......!”

Berkata demikian, Pei Pei teringat akan Tiang Le yang masih terlena pingsan di atas tebing. Untuk sejenak ia memandang ke atas tebing. Amat tinggi sekali dilihat dari bawah ini. Akan tetapi ia tidak dapat menembusi tinggi tebing yang tertutup oleh kabut seperti awan biru yang menutupi ketinggian tebing di atas.

Dan waktu pandangannya melongok ke bawah, alangkah ngerinya pandangan di bawah ini. Penuh dengan batu-batu cadas yang runcing dan hitam. Akan tetapi di tempat ini bukan merupakan dasar jurang yang menyeramkan. Masih di tengah-tengah lereng gunung Ta-pie-san yang terpisah oleh dalamnya dasar jurang. Akan tetapi tempat ini merupakan tempat yang indah sekali.

Tidak berapa jauh dari tanah datar yang penuh dengan rumput hijau dan gemuk, terdapat sebuah mulut gua, agak gelap kelihatan dari tempat ini. Tempat di sini cukup terang karena mendapat sinar matahari dari jurang di atas itu, sedangkan di sana sini penuh dengan pohon-pohon yang mengandung buah-buahan.

Tempat ini ternyata merupakan sebuah lereng bukit Ta-pie-san yang tak dapat didatangi orang karena terpisah oleh jurang amat curam dan tebing yang begitu tinggi. Agaknya jalan satu-satunya untuk tiba di tempat itu hanyalah dari atas tebing itulah!

Untuk beberapa lama si nenek memandang perempuan muda yang bersimpuh di depannya. Dan katanya:

“Apa kau bilang tadi? Di atas itu terjadi pertempuran? Siapa?” Tanyanya mendongak ke atas.

“Benar popo, di atas tebing itu yang terus menembus ke puncak Ta-pie-san adalah markas Ang-kin-kay-pang. Saya bersama Tiang Le dan Wang Ie, pergi ke sana. Eh, siapa tahu kami dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang tinggi besar itu. Tiang Le saya lihat pingsan menghadapi orang tinggi besar. Saya berusaha mencegah Bu-tek Sianli membunuh Tiang Le, enggak tahunya nenek itu kejam dan telah melempar saya ke jurang ini…….!”

“Siapa Tiang Le……? Siapa Wang Ie…..? Hemm, Bu-tek Sianli, rasanya pernah kudengar nama itu adalah bekas kekasih Lim Heng San.......” sahut si nenek.

“Sung Tiang Le adalah ayah dari anak yang ada dalam kandungan ini Popo, dan Wang Ie itu adalah muridnya…... masih kecil, baru juga jalan tiga tahun umurnya…...”

Kemudian dengan singkat Pei Pei menceritakan pengalamannya bersama Tiang Le. Nenek tua renta itu mendengarnya dengan penuh perhatian dan tertarik akan nasib gadis perempuan muda ini.

Ia merasa kasihan sekali, apalagi melihat kandungan tiga bulan di perut perempuan yang kelihatannya lemah lembut ini. Maka diam-diam ia merasa bersyukur sekali kepada Tuhan yang telah memberikan seorang teman dalam kesunyian hidupnya seorang diri.

Berpuluh-puluh tahun ia menyendiri di tempat ini, tidak pernah bertemu dengan manusia. Kini munculnya perempuan muda yang bernama Cia Pei Pei itu menyalahi kembali semangat hidupnya yang hampir padam.

Selesai Pei Pei menceritakan keadaannya, ia memandang nenek yang ke dua kakinya sudah buntung sebatas dengkul itu. Lalu dengan suara iba bertanyalah dia, “Popo demikianlah riwayat hidup saya yang bernasib malang ini. Saya ceritakan sebenarnya kepada Popo yang saya anggap sebagai nenek saya dan sebagai penolong hidup. Saya mendengar cerita Popo, sehingga sampai Popo menetap di tempat ini, sunyi sendiri.......”