-->

Istana Hantu Jilid 01

Jilid 01

Sejauh mata memandang, hanya nampak lautan luas membentang biru berombak-ombak kecil oleh hembusan angin kering yang menghempas pantai. Ujung langit yang berwarna kelabu melengkung menyeruak masuk ke dalam hamparan gelombang membiru di ujung laut jauh di sebelah sana merupakan payung raksasa yang melingkupi batas-batas laut Po-hay. Sementara di sekeliling pantai hanyalah batu karang melulu yang menjulang tinggi menerima hamparan ombak yang menjerit-jerit, merupakan nyanyian abadi yang tak kunjung henti.

Angin kering mengusap permukaan laut biru membuat tarian kecil mengombak memecah pantai. Beberapa burung camar beterbangan di atasnya, merupakan titik-titik hitam yang kemudian lenyap dari pandangan mata. Suasana di tempat ini demikian hening, hanya terdengar suara angin membelai punggung laut dan menghempasnya ke sebuah batu karang hitam menimbulkan suara air yang mengercak dan mengalir kembali ke tengah lautan.

Di tepi pantai itu, matahari memandang dengan ganasnya. Mengusap pasir putih berkilau cahaya perak yang memantul ke atas dalam bayang-bayang air biru. Pada ketika itu ketenangan air bergelombang kecil oleh sepasang kaki manusia yang berjalan perlahan di tepi pantai.

Tapak-tapak bekas kaki membekas pada pasir putih, sementara usapan matahari pada punggung ke dua manusia itu membuat bayangan yang bergerak lambat di atas pasir. Dua sosok tubuh manusia, seorang wanita muda cantik dan seorang pemuda tampan yang buntung lengan kanannya.

Mereka berjalan amat perlahan dan sukar sekali. Si gadis memapah tubuh si pemuda lengan buntung, setengah memeluknya. Sementara isak tertahan dari gadis itu merupakan irama memilukan hati bagi siapa saja yang mendengar keluhannya.

“Koko....... kuatkanlah hatimu....... sebentar lagi kita akan sampai........ di sana, tidak jauh dari sini ada sebuah goa batu karang........ kita bisa beristirahat…… koko masih sakitkah dadamu?” tanya si gadis memandang ke arah dada si pemuda yang tertancap anak panah.

Amat menyeramkan sekali keadaan pemuda lengan buntung ini. Seluruh bajunya yang putih sudah penuh dengan bekas-bekas darah merah. Tiga batang anak panah masih menancap di dada dan punggungnya. Wajahnya amat pucat dan kelihatannya sudah begitu lemah.

Ia berjalan terhuyung-huyung dalam papahan pelukan tangan si gadis yang memeluknya. Waktu si gadis itu berkata tadi, pemuda itu menoleh. Akan tetapi tidak berkata-kata, hanya wajahnya dikerutkan menahan nyeri yang hebat pada dada dan punggung.

Mereka terus berjalan di tepi pantai laut Po-hay, meninggalkan bekas-bekas tapak kaki yang kemudian lenyap disapa ombak yang memecah pantai. Ke dua orang muda itu adalah Sung Tiang Le dan Cia Pei Pei. Mereka berusaha meninggalkan pulau Bidadari menyusuri tepian laut Po-hay dan karena saking banyaknya darah yang keluar dari luka-luka di punggung dan pundak Tiang Le membuat pemuda itu berjalan terhuyung-huyung saking lemasnya.

Sementara Pei Pei sambil mengucurkan air mata memapah Tiang Le, setengah berpelukan mereka berjalan lambat-lambat di tepi laut. Sebentar-sebentar mereka berhenti apabila pemuda itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Dan kalau sudah begitu, gugur bendungan air mata si gadis Pei Pei tak tahu apa yang mesti ia perbuat, hanya menangis dan memeluk pemuda itu!

Sungguh pemandangan yang amat mengenaskan hati. Siapakah orangnya yang tidak menaruh kasihan kepada pemuda yang sudah buntung lengannya, ditambah lagi dengan tiga buah anak panah yang masih menancap di tubuhnya.

Pemuda itu berkali-kali jatuh pingsan. Darah yang mengalir dari luka oleh anak panah sudah mengering dan membengkak membuat rasa sakit yang hebat. Tubuh itu letih lunglai. Tubuh itu terhuyung-huyung dan roboh berdua-dua dengan si gadis yang memeluknya dan dengan amat sukar sekali kemudian mengangkat tubuh Tiang Le dan memapahnya lagi.

Entah berapa kali mereka itu jatuh bangun. Tiada orang yang tahu. Tiada orang menaruh rasa kasihan kepada dua orang muda ini. Sesungguhnyalah, di tempat ini begitu sunyi.

Tiada seorangpun manusia, selain dari kedua orang muda yang berjalan menyusuri pantai lambat-lambat dan jatuh bangun. Dan terdengar tangisan dari si gadis. Menangisi nasib si pemuda lengan buntung yang begitu malang dan patut dikasihani!

Ada dua jam mereka menyusuri pantai, tiba-tiba Pei Pei berteriak girang, menampakkan wajahnya yang cerah dan berkata: “Tiang Le koko...... lihat, di sana itu terdapat goa, aku kenal baik keadaan di sini, cepat koko. Mari kita ke sana........”

Pei Pei menarik tangan Tiang Le. Pemuda itu agak sedikit limbung berjalan terhuyung dalam tarikan tangan si gadis.

“Pei-moay.......!” Tiang Le menyebut nama si gadis dengan panggilan mesra.

Dan Pei Pei menoleh. Seberkas senyum di balik air mata yang berderai-derai menghias wajahnya. Senyum itu menandakan kepiluan hati. Tidak berkata apa-apa gadis itu, hanya tangannya saja meraih tangan Tiang Le dan memapahnya sampai ke depan gua di depannya. 

Goa batu karang hitam. Di sinilah Pei Pei memapah tubuh Tiang Le masuk ke dalam goa. Baru di tempat inilah, ia merasakan tubuhnya menjadi kaku-kaku dan nyeri pada dada dan punggung. Tiba-tiba pemuda itu menjerit dan tubuhnya terhuyung roboh dalam pelukan si gadis. Di dalam goa batu karang ini, pemuda itu pingsan lagi!

Pei Pei terisak. Akan tetapi, setelah sampai di tempat ini hatinya menjadi lega, Pikirannya bekerja. Kemudian tangan halus yang cekatan itu mulai bekerja merawat luka Tiang Le yang cukup parah ini.

Di bagian lain, masih dalam lingkungan laut Po-hay berpuluh-puluh mayat manusia menggeletak di atas sebuah tebing batu karang yang amat tinggi. Mayat-mayat itu masih hangat. Baru tadi siang terjadinya pembunuhan besar-besaran ini.

Pada bagian terakhir cerita Pendekar Lengan Buntung, pemuda yang bernama Sung Tiang Le itu mengamuk, menghancurkan banyak perwira Mongol dan membunuh habis semua pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang, Hek-lian-pay dan gadis-gadis Sian-li-pay, murid-murid Bu-tek Sianli yang jahat dan licik ini!

Sebetulnya, pemuda lengan buntung Sung Tiang Le bukanlah seorang pemuda yang berhati kejam dan telengas, sehingga membunuh begitu banyak manusia. Akan tetapi, karena pemuda itu dikeroyok banyak sekali oleh pasukan Mongol dan para sekutu Bu-tek Sianli, tiada jalan lain baginya untuk meloloskan diri dan menyelamatkan Pei Pei yang ditawan oleh nenek Bu-tek Sianli!

Sepak terjang pemuda lengan buntung ini, mengemparkan tokoh dunia persilatan. Belum lama pemuda itu, dalam keadaan terluka meninggalkan tebing curam dan berjalan dengan terhuyung-huyung dalam papahan Pei Pei, muncul banyak tokoh-tokoh kang-ouw ke tempat itu. Dan alangkah kagetnya mereka karena semua murid nenek Bu-tek Sianli yang cantik-cantik itu telah kedapatan mati dan banyak lagi ditemui pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang dan ratusan tentara Mongol yang sudah menggeletak dalam keadaan sudah tak bernapas lagi!

Tentu saja, sebagai orang gagah dan mempunyai rasa kasihan dan berperikemanusiaan, mereka itu lalu mengubur mayat-mayat yang bergelimpangan di Pulau Bidadari! Tak terkecuali tentara Mongol sekalipun!

Sejak kejadian itu, nama pemuda lengan buntung menanjak tinggi, sederet dengan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya.

<>

Jauh di bawah tebing batu karang yang curam, air laut mengericak memberi irama pada gelombang-gelombang tipis. Sesosok tubuh manusia terapung-apung di permukaan air. Seorang gadis yang tengah pingsan dalam pelukan pada sebilah balok kayu yang mengambang. Gadis itu masih muda belia dan berusia sekitar duapuluh tahunan.

Pakaian dan rambutnya yang panjang sudah basah kuyup tersiram air laut yang menggelepar-gelepar memukul batu karang hitam yang menjulang tinggi. Perlahan-lahan balok kayu itu terdampar oleh ombak ke pinggir, membentur batu karang.

Sedikit agak keras benturan itu sehingga menyadarkan si gadis dari pingsannya. Ia agak terkejut sekali begitu melihat ke atas, pertama-tama dilihatnya langit luas membentang di atasnya dan di sampingnya terhampar lautan luas bergelombang-gelombang kecil menakutkan. Suara gemuruh itu adalah suara air laut yang bergelombang dari tengah lautan dan menghempas ke pantai. Untuk sesaat lamanya, teringatlah ia, bahwa dirinya bukanlah berada di alam neraka yang semula diingatnya!

Ia kini berada di pantai laut Po-hay. Tebing tinggi di sana itu mengingatkan dia dari kejadian-kejadian yang belum lama ini dialami. Ia sadar. Ia telah jatuh dari atas tebing batu karang itu dan rupanya balok kayu inilah yang menyelamatkan dirinya, sehingga ia tidak terbawa hanyut ke tengah lautan.

Memang pada saat itu laut sedang pasang, ombak menghempas pantai merupakan jeritan yang menakutkan. Ia sudah selamat kini, walaupun dirasakannya badannya terasa sakit bukan main! Akan tetapi, apabila pikirannya teringat kepada kejadian-kejadian di atas tebing sana itu, segera ia berjalan perlahan. Kedua lututnya terasa lemah sekali. Pakaiannya basah kuyup, akan tetapi ia tak memperdulikan. Ia terus berjalan terhuyung-huyung menaiki tebing di sebelah sana itu?

Akan tetapi apa yang didapatinya di sebelah sana itu? Oh, hanya puluhan gundukan tanah yang merupakan kuburan manusia yang masih baru. Mungkinkah Tiang Le juga sudah berdiam di dalam kuburan itu, sudah binasakah Tiang Le?

Betapa cemas hati gadis itu kini. Matanya memandang jauh ke bawah, mata itu kemudian menjadi basah. Teringat ia kepada Tiang Le. Entah bagaimana nasib pemuda malang itu, mudah-mudahan ia selamat, mudah-mudahan yang di dalam kuburan itu bukan Tiang Le di antaranya!

Sambil mengusap air matanya yang sudah mengering, karena terus-terusan menangis. Akhirnya gadis itu berjalan meninggalkan tebing. Tertunduk lunglai!

“Mudah-mudahan Tiang Le selamat.......yah. Tuhan....... lindungilah dia,” bisik gadis itu di dalam hati. Sementara pakaiannya yang tadi basah kini sudah mengering.

Baru sekarang dirasakan perutnya begini lapar, baru sekarang ia merasakan dahaga yang mengeringkan tenggorokannya. Pandangannya nanar terlempar jauh ke tengah lautan luas. Akhirnya, saking lelahnya, dia, gadis itu menjatuhkan tubuhnya. Terduduk di atas batu karang yang hitam. Tenggelam dalam berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.

Siapakah gadis itu?

Dalam cerita Pendekar Lengan Buntung telah diceritakan betapa gadis yang bernama Bwe Lan ini terjungkal dari tebing yang amat curam oleh pukulan Bu-tek Sianli yang telah berlaku curang telah membokongnya. Dan saking hebatnya pukulan Bu-tek Sianli yang menggunakan Pukulan Dewa Tanpa Tandingan membuat gadis itu terjungkal dari atas tebing dan disambut oleh air laut di bawah yang bergelombang memecah batu karang.

Untunglah pada saat tubuhnya melayang itu Bwe Lan tidak begitu gugup dan segera ia menggunakan gin-kangnya mencelat ke samping untuk menghindarkan tubuhnya menimpah batu karang, dan tubuhnya itu terbanting ke dalam lautan. Untuk beberapa saat gadis itu gelagapan juga waktu tubuhnya terus meluncur ke dalam laut.

Cepat Bwe Lan menggerak-gerakkan tangannya dan secara kebetulan sekali, tangan itu mendapat pegangan sebatang balok. Cepat ia memeluk balok itu dan tanpa disadarinya, ia telah menjadi pingsan dalam ke dua tangan memeluk balok yang diombang-ambingkan oleh ombak yang datang dari tengah itu.

Apabila matahari telah naik tinggi, Bwe Lan bangkit dari duduknya. Sekali lagi ia memandang ke arah lautan Po-hay yang membentang luas. Kemudian pandangannya menyusuri gundukan tanah yang banyak di tempat itu.

Hatinya perih sekali, jangan-jangan Tiang Le sudah mati dan dikubur pula di tempat itu? Ditekannya perasaan yang bukan-bukan itu. Diyakinkan hatinya bahwa Tiang Le belum mati. Tak boleh ini terjadi, pikirnya!

Apabila ia memandang ke atas, matahari memandang kepadanya dengan ganas sekali. Dan dengan hati yang tidak keruan rasa, gadis yang bernama Liang Bwe Lan itu kemudian meninggalkan tempat itu, berjalan tergontai-gontai.

Jalannya tertunduk! Menyusuri laut Po-hay, melewati batu-batu karang yang menjulang tinggi. Banyak goa-goa yang terbuat dari batu karang di sepanjang pe¬sisir laut itu. Akan tetapi, gadis itu tak memperdulikan semuanya. Tak perduli lagi ia akan panas yang membakar tubuhnya. Ia harus cepat-cepat meninggalkan pulau ini mencari Tiang Le.

Ia tak pernah mengimpi bahwa pada saat ia berjalan melewati gua-gua batu karang di pinggir laut itu, tak jauh dari situ, yakni di sebuah goa, kurang lebih duapuluh tombak jauhnya, seorang lelaki tampan, dalam keadaan terluka parah didampingi oleh seorang perempuan cantik, lemah lembut dan yang tengah merawatnya dengan kasih sayang. Mereka itu adalah Cia Pei Pei dan Sung Tiang Le.

Dalam goa itu menjadi hening karena Tiang Le, entah pingsan, entah setengah pingsan tak bergerak di tempat itu. Sedangkan Pei Pei hanya memandang pemuda itu dengan air mata bercucuran sambil mengusap kain basah pada leher Tiang Le yang panas membara. Berkali-kali pemuda itu mengigau. Setiap kali pemuda itu tidak keruan rupa, setiap kali itu pula hati Pei Pei teriris pilu. Dan menangis dia dengan sedih.

Betapa tidak, kalau dalam pingsannya itu Tiang Le mengigau dan menyebut-nyebut nama seorang gadis lain. Aduhai, membuat pedih hati Pei Pei, akan tetapi Pei Pei dapat menekan perasaannya ini. Ia dapat memaklumi.

Kalau Bwe Hwa pada saat ini tengah menanti-nanti Tiang Le. Dan pemuda ini di sisi ini, tidak berdaya dalam luka-luka yang amat hebat membakar tubuhnya. Tiang Le terserang demam panas, akibat luka-lukanya dari ke tiga anak panah yang menancap di dada dan punggungnya!

Dan Pei Pei hanya bisa menangisi pemuda itu sambil membasahi kain basah pada leher dan kening si pemuda. Pei Pei tak tahu apa yang mesti ia lakukan. Ia sendiri tak mengerti sedikitpun tentang ilmu pengobatan! Andai kata mereka berada di kota atau dusun tentu sejak tadi ia sudah mengangkat kaki memanggil sin-she atau tabib. Akan tetapi di sini ia di tepi lautan Po-hay yang sepi mati! Hendak minta tolong kepada siapakah dia?

O, Pei Pei hanya bisa menitikkan air mata saja. Memandang ke arah dada yang tertancap anak panah itu. Ingin ia mencabutnya, akan tetapi belum lagi ia mencabut, baru saja menyentuh anak panah itu, Tiang Le sudah menjerit kesakitan. Tak tega Pei Pei. Sementara dilihatnya wajah Tiang Le semakin pucat seperti mayat!

Hari kedua, Tiang Le membuka matanya. Ia bergerak hendak bangun, akan tetapi sebuah tangan menyanggahnya dan terdengar suara halus merdu: “Koko....... masih sakitkah lukamu?”

“Pei Pei……. aku........ oo, aku........ di mana ini…... di tempat apa?” Tiang Le memandang ke sekelilingnya. Sebuah api unggun menerangi wajahnya. Sementara di luar gua gelap gulita. Suara ombak terdengar meriak di kegelapan.

“Koko........ kau syukurlah........ kau sudah sadar........ kita berada di dalam sebuah gua, di tepi pantai laut Po-hay........ koko bagaimana lukamu, baikkah?” Suara gadis itu terdengar penuh perhatian.

Terharu hati Tiang Le. Apalagi dalam keremangan cuaca yang hanya diterangi oleh api unggun itu, ia melihat gadis itu menitikkan air mata. “Untuk diakah Pei Pei menangis?”

Tiang Le meraba wajah Pei Pei dengan tangan kiri mengusapnya lembut, “Mengapa kau menangis Pei-moay…….?”

Sebuah senyum mencercah di bibir itu.

“Aku girang kau tidak kenapa-kenapa koko….. syukurlah kau sudah ingat kembali..... lukamu....... koko anak panah itu, bahaya sekali kalau dibiarkan....... kalau sudah tidak merasa sakit biarlah aku cabut, lihat....... koko, di pinggir lukamu sudah membengkak….. biar kucabut saja ya? Boleh kucabut ya?”

“Sakit…….!”

“Tahanlah! Koko biar kucabut. Kini kau sudah sadar. Kau tahan dong sakitnya, masa nggak tahan..... koko, biar kucabut ya?” tangan si gadis meraba anak panah yang masih menancap di dada yang bidang itu. Menyentuhnya, akan tetapi Tiang Le menggelinjang kesakitan.

“Sakit?” tanya Pei Pei.

“Pelan-pelan ya cabutnya….. adu, duh, jangan keras-keras dong, nah gitu….. sedikit demi sedikit.......” Tiang Le berkata setengah menggoda.

Sebenarnya, pemuda itu tak perlu merasa sakit. Ia dapat segera mengerahkan tenaga sin-kang di dada dan pundak. Akan tetapi, tak mau ia memperlihatkan bahwa ia sudah sembuh.

Memang Tiang Le ini luar biasa. Biarpun lukanya ia tidak diobati, akan tetapi berkat tenaga sin-kangnya yang sudah mendarah daging di tubuh itu. Perlahan, akan tetapi pasti, dengan hawa sin-kang ia sudah dapat menyembuhkan lukanya. Hanya tinggal mencabut anak panah yang menancap saja.

Bergetar tangan Pei Pei mencabut anak panah yang menancap di dada si pemuda. Apabila Tiang Le menyerengit seperti orang kesakitan, si gadis menunda pekerjaannya dan mengawasi wajah Tiang Le.

“Sakit ya?” tanya Pei Pei,

“Sakit dong.......” suara Tiang Le dibuat manja.

Girang hati si gadis. Getaran suara yang manja itu menandakan bahwa pemuda itu bukan merasakan sakit. Hanya kolokan!

“Kau berlagak ahh, enggak sakit juga bilang sakit……”

“Tentu, kamu enggak sakit, mana ngerasain....... nih, aku yang ngerasain sakitnya, aujubillah!”

“Allaaa bohong ahh, enggak sakit juga, coba kucabut lagi……. sakit enggak?” Tangan gadis itu menyentuh anak panah kedua. Perlahan mencabut. Darah hitam keluar dari bekas luka di ujung anak panah itu.

Segera Tiang Le mengerahkan sin-kangnya mendorong darah yang bercampur racun itu. Sehingga Pei Pei amat terkejut sekali melihat banyak darah hitam yang mengalir keluar dari bekas luka anak panah yang barusan dicabut.

“Hm… Aiii……. darahnya nggak mau berhenti, celaka!” Pei Pei berseru cemas. Dan siap dengan carikan bajunya yang sudah dirobek.

“Biarkan darah hitam itu keluar Pei-moay, sebentar lagi apabila kehitaman itu lenyap, terhindarlah aku dari racun yang menjalar di darah…….”

“Syukurlah koko....... kemarin aduuh aku kuatir bukan main. Seluruh tubuhmu panas seperti dibakar, kau terserang demam panas sehingga berkali-kali kau mengigau menyebutkan....... oh,” Pei Pei tidak meneruskan perkataannya. Mukanya untuk seketika menjadi merah sampai ke telinga, sementara batinnya terasa tak enak benar.

Tiang Le melap darah yang kehitam-hitaman itu dengan carikan kain. Sementara kepalanya tertunduk, ia berkata, “Aku mengigau…..? Masak, kok aku ndak tahu!”

“Tentu saja engkau tidak sadar, mana kau tahu? Oya, koko dalam....... dalam ngigaumu itu….. engkau menyebut nama Bwe Hwa. Engkau berkali-kali menangisi dia, aneh dalam keadaan tidak sadar itu engkau masih bisa menangis.......”

“Bwe Hwa........?” Untuk sesaat Tiang Le termenung. Tiba-tiba ia menarik tangan Pei Pei dan berkata dengan suara cemas, “Cilaka! Tentu ia akan menanti-nantiku, Pei-moay. Hayo sekarang juga kita berangkat ke Tai-hang-san. Aku sudah berjanji dengan Bwe Hwa untuk kembali ke sana. Mari kita pergi!”

“Koko........ begini tengah malam?” Pei Pei bertanya heran.

Memang hari telah jauh malam. Di luar hitam pekat, bagaimana mereka dapat berjalan? Tiang Le jadi termenung memandangi seonggok api unggun yang hendak padam.

“Pei Pei berapa lama aku pingsan di sini?”

“Koko, mengapa kau tanyakan itu. Kau memang pingsan dua hari lamanya, dengan besok tiga hari. Emangnya kenapa sih? Kok cemas betul…... Kalau mau berangkat besok saja pagi-pagi........ Oya apakah kau sudah kuat betul dan tidak sakit lukamu?”

Tiang Le menggelengkan kepala. Saat ia teringat akan perkataan Bwe Lan tiga hari yang lalu, demikian: “Koko, dalam tiga hari kau tak kembali, aku akan menyusulmu!” Itulah suara Bwe Hwa pada tiga hari yang lalu, pada saat ia hendak memenuhi undangan Bu-tek Sianli, di pulau Bidadari.

Sebetulnya gadis yang bernama Bwe Hwa itu akan ikut dengannya, akan tetapi karena ia menguatiri keselamatan gadis itu, maka Bwe Hwa hanya menanti di lembah Tai-hang-san. Siapa tahu justru ia mengalami luka dan pingsan hampir tiga hari ini. Jangan-jangan Bwe Hwa akan menyusulnya ke pulau bidadari. Ia tahu betul akan kekerasan gadis itu, ia yakin Bwe Hwa akan mencarinya.

Api unggun menjadi padam ditampar angin malam yang menerobos dari luar. Angin laut berhembus keras sekali. Tiang Le berkata kepada gadis itu.

“Pei-moay, kau istirahatlah……, besok pagi-pagi kita akan berangkat.”

“Koko, justru kau juga harus beristirahat. Kau juga harus tidur koko. Kalau kau tidak mau tidur, aku juga tidak ingin tidur,” sahut Pei Pei diantara tebasan angin malam yang menerpa dari luar. Dingin.

Tiang Le hanya tersenyum. Tidak menyahut akan perkataan Pei Pei. Ia melonjorkan ke dua kakinya. Sementara Pei Pei memandangnya, memandang dengan curahan cinta kasih, kemudian ia merebahkan kepalanya. Meramkan kedua matanya, dan sebentar itu pula, saking ngantuknya dia karena sudah dua hari ini ia menggadangi Tiang Le.

Terasa benar kantuk itu sekarang, terasa berat sekali matanya dan sebentar itu pula ia sudah tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak. Napas gadis itu perlahan sekali.

Tiang Le tersenyum sendiri mengenang gadis di depannya. Berhenti kemudian dengan bayangan Bwe Hwa yang mengoyak-ngoyak hatinya sekarang. Sampai lama ia tidak bisa tidur, kejadian-kejadian di lembah Tai-hang-san bersama Bwe Hwa membayang kini di depan matanya. Segera ia menekan perasaan hatinya dan kemudian ia bersemedi. Mengheningkan cipta, tak lama kemudian iapun sudah tenggelam dalam tidurnya meski dalam keadaan bersemedi!

Malam bertambah gulita. Suara angin laut terdengar dikesepian malam merupakan nyanyian abadi yang tak kunjung henti. Suara ombak memecah karang merupakan paduan lagu yang mengiringi perjalanan malam yang amat lambat merangkak menuju pagi.

Tiang Le tidak sadar, pada saat itu entah dari mana datangnya, seekor ular putih merangkak lambat-lambat menuju ke arah dua orang muda itu. Lidahnya yang kecil panjang menjulur ke depan.

Anehnya ular kecil yang berwarna putih itu hanya sekali saja menggigit lengan di tangan Pei Pei dan ia kemudian merayap menghampiri Tiang Le. Amat lembut sekali ular itu membelit kaki pemuda lengan buntung.

Dan kemudian, ia meninggalkan kedua orang muda itu. Merayap lagi keluar gua, sedangkan Pei Pei dan Tiang Le tidak menyadari apa sesungguhnya yang terjadi. Mereka tidak merasakan apa-apa. Ular putih yang aneh!

Baru setelah matahari membersit tinggi, Tiang Le membuka matanya, dan alangkah herannya dia begitu matanya terbentur oleh tatapan Pei Pei. Bagaikan ada besi semberani yang menariknya. Tangan kiri Tiang Le menarik tangan si gadis.

Dan anehnya Pei Pei terus saja memeluk pemuda itu dengan dengusan napas yang memburu! Menciumi pemuda itu! Dan yang aneh lagi bagaikan menemukan makanan yang lezat Tiang Le juga membalas memeluk gsdis itu. Membalas mengecup dengan ciuman-ciuman yang panjang.

Tiada kata-kata yang keluar dari mulut ke dua orang muda yang telah terangsang oleh tenaga dorongan yang aneh. Hanya napas ke duanya itu memburu, saling mendekap dan saling hendak meledakkan isi dada yang terasa amat berdenyar-denyar dengan amat kerasnya. 

Anehnya, pada kedua wajah orang muda itu tampak putih seperti salju. Darah di tubuh Tiang Le berdentum-dentum dengan amat kerasnya, sebaliknya Pei Pei pun demikian. Ia merasa ingin dijamah!

Dan memang tangan kiri Tiang Le menjamah sudah bagian tubuh Pei Pei. Satu persatu, pakaian yang melekat di tubuh gadis itu terlepas di dalam goa. Tiang Le memandangi gadis itu dalam keadaan yang polos. Dadanya semakin berdentum. Kepalanya semakin pening, dan matanya semakin pedas.

Seluruh tubuhnya kini semakin panas dan bagaikan ada tenaga gaib yang hendak mengajaknya ke sana. Pei Pei juga menyambut tubuh si pemuda. Sementara dari bibirnya yang kering itu menjerit memanggil nama si pemuda dengan jeritan histeris,

“Tiang Le....... koko!”

“Pei-moay….. kau….. kau cantik bukan main, bertambah jelita kini.......” suara Tiang Le terdengar perlahan sekali. Meraih tubuh polos ini. Keduanya saling menumpahkan perasaan yang aneh itu!

Keduanja kini terlena.

Keduanya itu tidak sadar. Kalau pada saat itu berkelebat sebuah bayangan dan terhenyak dia melihat pemandangan yang membuat seluruh tubuhnya menggigil keras.

Matanya menjadi pedas. Hati menjerit mengeluarkan kutukan sehabis-habisnya. Kemudian mata itu meneteskan air mata, tangannya merabah pedang di pinggang, akan tetapi, rasa malu membuat ia mencelat ke atas, dan berdiri di atas gua batu karang itu melepaskan pandangan ke laut nan bebas.

Wajahnya yang merah sampai ke telinga itu, membuat hatinya bertambah gemas dan marah. Dalam dada itu menyaingi deburan ombak yang berdenyar-denyar, mengeluarkan kutukan-kutukan yang tak terucapkan, ke dua kakinya menggigil. Didengarnya suara Tiang Le, suara yang amat dikenalnya itu berkata penuh penyesalan:

“Pei-moay, celaka! Kita telah keracunan ular putih lihat….... lihat wajahmu….. ahhh Pei Pei mengapa kita menjadi begini?”

“Aku tidak tahu apa yang terdjadi koko, aku….. koko kau lihat sendiri aku….. telah menyerahkan kehormatanku kepadamu meski itu kuberikan dengan tidak sadar, akan tetapi tak menyesal aku….. asal kau sudi menjadikan aku isterimu……, koko jangan kau kecewakan aku setelah kejadian ini…….!”

“Tidak Pei-moay! Tak bisa aku mengambil engkau sebagai isteriku. Tak boleh ini!”

“Koko!” Pei Pei memandang terbelalak kepada pemuda lengan buntung di depan nya, “Kau…... kau....... mengapa kau berkata begitu?”

Terdengar Tiang Le menghela napas panjang.

“Kau tahu Pei Pei, kita barusan, tadi malam itu telah keracunan pek-coa yang amat jahat....... lihat ular yang tadi kuhancurkan barusan....... ia masih menggeliat-geliat. Ular inilah yang menyebabkan kita dengan tak sadar telah melakukan hubungan gila ini....... Pei Pei, kau mengertilah….. sungguh kejadian ini sangat kusesalkan sekali.”

“Koko…… jadi...... jadi kau menyesal? Jadi kau tidak akan mengambilku sebagai isterimu....... begitu kejamkah hatimu koko, begitu tegakah engkau meninggalkanku setelah kejadian tadi malam, koko….... Tidak cintakah kau padaku?” Pandangan mata Pei Pei yang penuh linangan air mata hendak menembus dada si pemuda. Dan menyelidiki isi hati itu.

“Aku memang cinta padamu Pei Pei, tapi bukan begini caranya aku mengambil engkau sebagai isreriku. Tidak! Tidak boleh ini terjadi!”

Tiang Le menggunakan tangan kirinya mendekapkan mukanya dan terasa sekali kepalanya masih berkunang-kunang. Dan napasnya memburu apabila tatapan Pei Pei menyentuh matanya, napsu birahi masih menguasai jiwanya. Sehingga Tiang Le tak berani lagi memandang si gadis, ia hendak menangis, ia hendak menjerit-jerit penuh penyesalan atas kejadian-kejadian gila ini. Akan tetapi entah mengapa ia tak dapat menangis. Hatinya masih dikuasai oleh perasaan gelisah yang menggelora.

Pei Pei hanya menangis sedih. Dan ia menjatuhkan diri berlutut di kaki si pemuda.

“Koko…… kau ambilah aku sebagai istrimu…. kau kasihanilah aku koko…….. Tiada orang lagi yang boleh kupercayai. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Jangan kau mengecewakan mendiang ayah dan ibu, koko. Kalau...... kalau kau...... ahh, sebaiknya aku mati saja!”

“Pei Pei….. sudahlah, diamlah! Biar nanti kita pikirkan!”

“Koko!” Pei Pei hanya menangis kini.

Pada saat itu dari luar gua terdengar bentakan keras yang menggeledek nyaring.

“Tiang Le manusia biadab. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Hayo kau ambil Pei Pei sebagai istrimu dan bersumpah demi langit dan bumi bahwa kau sudah menjadi suami Pei Pei, kalau tidak aku akan memenggal lehermu! Tiang Le, hayo kau bersumpah, disaksikan oleh laut dan....... dan…….”

Bagaikan disambar petir yang menggeledek di atas kepalanya Tiang Le mencelat ke luar gua dan memandang ke arah seorang gadis muda yang berlengan buntung. Akan tetapi telah memegang pedang pendek di tangan kanannya!

“Bwe-moay.......!” Tiang Le memanggil nama gadis itu lirih, hatinya bagaikan diiris sembilu, ketika melihat dari bibir gadis yang bukan lain adalah Bwe Hwa mengeluarkan darah. Memang saking marahnya gadis ini sehingga ia muntahkan darah. Kasihan sekali Bwe Hwa ini.

Ia memang sudah menderita luka dalam dadanya, tubuhnya sudah soak. Teringat akan perkataan kakek kaki buntung beberapa hari yang lalu, Tiang Le menjadi lemas kedua kakinya dan menggigil. Hatinya saat itu seperti dikoyak-koyak mengeluarkan luka yang parah! 

“Bwe Hwa…... kau tidak boleh marah…... ahh kau terluka lagi…... Hwa-moay sabarlah, dengarlah dulu keteranganku...... Marilah hwa-moay!”

“Bangsat! Tak perlu mengasihaniku....... kau binatang!”

“Bwe Hwa-moay…… sabarlah!”

“Singg!” Suara pedang mendesing di tangan Bwe Hwa, Tiang Le cepat berkelit hindarkan sambaran pedang yang amat cepat itu. Tubuhnya dimiringkan ke kiri dan mencelat jauh.

“Hwa-moay, jangan begitu, jangan!”

“Persetan! Kau hadapilah pedangku, lihat serangan!” Sambil menjerit mengisak tangis Bwe Hwa mengirimkan serangan tusukan pedang bertubi-tubi ke arah Tiang Le.

Hatinya semakin panas bukan main. Pemandangan barusan tadi dilihatnya itu membuat darahnya mendidih. Dua hari ia menanti-nantikan kedatangan pemuda itu ke Tai-hang-san. Tidak tahunya, di sini ini, pemuda itu bermain gila dengan Pei Pei, dan….... dan!

Ahh, betapa marahnya hati Bwe Hwa. Sambil menjerit-jerit itu pedangnya berkelebat ke arah leher Tiang Le. Kalau saja pemuda lengan buntung itu tidak mempunyai kepandaian yang tinggi, tentu sebentar saja pedang putih di tangan gadis itu akan menabas leher Tiang Le. Dahsyat sekali serangan gadis ini. Serangan-serangan begitu sengit dan ganas!

“Hwa-moay…... dengarlah dulu keteranganku....... sabarlah.........” Tiang Le mencoba menyabarkan Bwe Hwa. Akan tetapi mana ia mau bersabar lagi merasa dipermainkan oleh pemuda itu, telah ditipunya mentah-mentah. Bukankah pemuda itu hendak secepatnya kembali ke Tai-hang-san.

Setan, tidak tahunya....... ahh, panas hati Bwe Hwa. Entah mengapa perasaannya penuh dengan kemarahan yang memuncak dan inilah kesalahannya. Ia sebetulnya tak boleh marah, ia mengalami luka dalam yang parah sekali. Setiap kali rasa marah yang menyerang dadanya, setiap itu pula Bwe Hwa muntahkan darah segar.

Sudah tiga kali ia mengeluarkan darah, wajahnya semakin pucat. Gerakan-gerakannya semakin lemah. Terkejut sekali Tiang Le melihat keadaan gadis itu. Cepat ia mainkan jurus-jurus Tok-pik-kun-hoat dan sebentar saja Bwe Hwa sudah terdesak hebat. Akan tetapi Bwe Hwa malah menyerangnya dengan penasaran dan sengit.

“Hwa-moay, kau dengarlah kata-kataku dulu. Setelah itu, sekiranya kau menganggap aku bersalah…... mau bunuh aku, boleh bunuh akan tetapi jangan begini Hwa-moay, jangan kau menyerangku!”

“Jangan banyak cingcong, kau memang mata keranjang, hidung belang. Sudah berbuat tak berani bertanggung jawab. Jay-hoa-cat kau!” di antara gulungan sinar pedang Bwe Hwa memaki sengit.

“Hwa-moay jangan berkata begitu, aku…….”

“Keparat, sudah bersalah tidak berani mengaku, Tiang Le kau mampuslah!” Pedang pendek Pek-hwa-kiam meluncur deras.

Amat cepat sekali gerakan pedang di tangan gadis yang bernama Bwe Hwa ini. Itulah jurus Menusuk Jantung Mencabut Hati yang luar biasa hebatnya, sebuah jurus dari ilmu silat Pek-hwa-kiam-sut yang diterimanya dari mendiang Pek-mo. Pedang pendek putih di tangan gadis itu mendesing keras di dekat telinga Tiang Le yang sudah mencabut pedang buntungnya pula dan menangkis. Saking hebatnya gadis ini, terpaksa Tiang Le mengeluarkan pedangnya.

“Bagus Tiang Le kita tentukan di ujung pedang. Mari, sambut seranganku!” Bwe Hwa berteriak keras dan tiba-tiba dari samping pedang menyambar dan membabat ke arah pedang buntung lawan.

Mendengar seruan gadis itu, terkejutlah Tiang Le. Ia amat kenal sekali watak gadis yang keras hati ini. Maka dengan hati yang enggak keruan rasa, terpaksa, ia mengangkat pedang dan menangkis pedang Bwe Hwa.

“Traaang!!”

Bunga api yang banyak sekali berpijar menyambar ke sana ke mari ketika dua buah senjata itu bertemu, dan bunga-bunga api itu muncrat ke arah muka Bwe Hwa dan Tiang Le. Baik Bwe Hwa maupun Tiang Le kagum sekali akan keampuhan senjata lawannya.

Gadis itu merasakan kepalanya jadi pening. Tahulah ia bahwa luka dalam di dadanya membuat napasnya menjadi sesak. Ia memandang Tiang Le, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya, gadis itu berkelebat lenyap dan terdengar suara di antara isakan tangis:

“Tiang Le, aku tidak dapat menangkan dirimu, akan tetapi tunggulah, setelah anak kita lahir, dia itulah yang akan mencarimu dan menebus penghinaan ini!!!”

“Bwe Hwa!!!” Tiang Le berteriak. Pandangannya sayu menatap ke arah perginya gadis yang bernama Bwe Hwa itu. Kata-kata yang didengarnya barusan amat menusuk hatinya. Kedua kakinya menggigil.

“Bwe Hwa kau…… ya Tuhan mudah-mudahan itu tidak terjadi, mudah-mudahan dia……. ah!” Tiang Le merasakan hatinya sakit bukan main. Sedih, pilu dan ah, entah perasaan apa lagi yang mengoyakkan hati pemuda itu, dia jadi seperti orang linglung berdiri terus memandang kepergian Bwe Hwa. Sementara kaki yang menggigil itu menjadi lemas dan tak kuasa ia untuk berdiri lagi, dijatuhkannya dirinya di atas pasir putih. Tiang Le tertunduk menangis!

Bayangan-bayangan di lembah Tai-hang-san itu mengoyak-ngoyak hatinya. Teringat ia betapa di lembah itu ia telah melakukan hubungan yang seharusnya tak boleh ia lakukan terhadap Bwe Hwa. Akan tetapi entah iblis mana yang menguasai keduanya, Tiang Le lemah, ia lemah hati dan tak tega menyakiti Bwe Hwa pada waktu itu.

Apalagi setelah didengarnya perkataan kakek kaki buntung, “Tiang Le, ketahuilah olehmu bahwa sumoymu ini mengalami luka dalam yang amat parah, menyesal sekali aku hanya dapat menolongnya pada batas yang tertentu. Gadis itu telah mengalami tekanan bathin dan guncangan jantung yang cukup hebat.

“Ia menderita sakit jantung dan kanker dada yang sampai saat ini belum ada obatnya. Apabila jantungnya bergoyang, dan mengalami shok dalam hidupnya, ia pasti akan muntah darah lagi. Kau kasihanilah dia, hiburlah dia dan senangkanlah hatinya, karena ia hanya bertahan hidup untuk beberapa bulan lagi saja. Tiang Le jangan kau bikin sedih hatinya.”

“Bwe Hwa!” Teringat gadis itu Tiang Le menangis mendekapkan tangannya pada mukanya, air mata bercucuran lewat jari-jari tangan kiri itu.

Sementara angin menghempas lengan baju yang buntung itu, wajahnya pucat bukan main. Hatinya kuatir bukan main kalau apa yang dikatakan Bwe Hwa tadi menjadi kenyataan. Ia takut sungguh, kalau-kalau hubungannya dengan gadis itu membuat seorang anak manusia terlahir di dunia dan menuntut balas kepadanya.

“Ahh! Tidak boleh itu terjadi!” teriak Tiang Le keras-keras dalam hati.

Suara kaki pada pasir putih terdengar perlahan menghampiri Tiang Le dan Pei Pei sudah menyentuh pundak pemuda buntung itu.

“Koko……!” suara Pei Pei perlahan memanggil.

Tiang Le mengangkat wajahnya yang kusut masai.

“Pei Pei aku……. aku berdosa kepadamu dan Bwe Hwa….. aku manusia jahanam…..” Tiang Le mengeluh, memandang jauh ke laut yang luas.

“Koko…… mari kita pergi…..!” ajak Pei Pei kemudian.

“Pei-moy…… kau maafkanlah aku….. kata-kataku tadi……”

“Aku sudah melupakan koko…… marilah….. tak enak berada di sini….. anginnya sangat keras……” Pei Pei menarik tangan kiri Tiang Le.

Perlahan dan lesu Tiang Le bangkit dan memandang jauh-jauh dengan pandangan yang kusut dan kacau.

“Koko…… Tenangkanlah hatimu…... aku telah maklum apa yang terjadi antara engkau dan cici Bwe Hwa….... marilah koko, kita cari enci Bwe Hwa…… biarlah aku yang berbicara kepadanya.” Pei Pei menarik jari-jari tangan kiri Tiang Le dan berjalan perlahan.

Tiang Le termenung untuk sejenak,

“Dia marah kepadaku melihat kita tadi dia….. ahh, kasihan Bwe Hwa tak sanggup hatiku berpisah dengannya. Dia memang patut dikasihani, umurnya tidak akan berapa lama lagi aku….. aku jahat… aku melukai hatinya lagi.”

“Koko aku tak marah kepadamu. Juga kepada cici Bwe Hwa. Kau ceritakanlah apa yang sesungguhnya terjadi denganmu dan enci Bwe Hwa. Aku percaya, kau seorang pemuda yang baik, tidak untuk mempermainkan Bwe Hwa atau aku koko. Ceritakanlah! Kepingin sekali aku mendengar.......!”

Pei Pei menengadahkan wajahnya memandang ke arah Tiang Le yang kusut dan bingung. Ia melihat Tiang Le menundukkan wajahnya dan memandangnya dalam-dalam.

“Hatimu mulia Pei-moay…... terima kasih untuk kepercayaanmu kepadaku....... Memang sebetulnya, seperti kata Bwe Hwa tadi memang benar, patut aku ini disebut manusia hidung belang. Kau tahu Pei Pei pada mula pertama aku bertemu dengan sumoay Sian Hwa, kemudian kami saling bercinta. Tidak tahu kalau sumoay Bwe Hwa pun diam-diam telah mencintaiku padahal It-suheng Liok Kong In sangat mencintai Bwe Hwa akan tetapi rupa-rupanya Bwe Hwa lebih cinta kepadaku….. sayang pada waktu itu, hatiku lebih condong kepada Sian Hwa yang sudah meninggal.......”

“Mengenai halmu dengan Sian Hwa dan Enci Bwe Hwa, aku sudah mengetahuinya. Bukankah engkau pernah bercerita kepadaku? Oya gara-gara engkau bercinta dengan Sian Hwa itukan yang membuat Bwe Hwa marah dan....... dan membuntungi lengan kananmu, iya kan?” tanya Pei Pei.

“Memang demikian Pei-moay. Akan tetapi sedikitpun aku tidak menaruh dendam kepada sumoay Bwe Hwa. Malahan dengan bantuannya lengan kananku inilah justru secara kebetulan aku bertemu denganmu.......”

Kemudian dengan singkat Tiang Le menceritakan hubungan antara kedua sumoaynya itu. Diceritakan oleh Tiang Le betapa, sumoaynya yang bernama Bwe Hwa itu akhirnya menyesal karena telah membuntungi lengannya dan malah pada pertemuan belum lama ini Bwe Hwa masih menaruh harapan kepadanya.

Pada ketika itulah, di lembah Tai-hang-san, Tiang Le menolong gadis sumoaynya dan dibawanya ke sebuah pondok. Pada saat itu Bwe Hwa terluka hebat, bukan saja karena luka di lengan yang sengaja ia buntungi itu, akan tetapi pukulan Bu-tek Sianli yang luar biasa itu membuat Bwe Hwa terluka parah dan menderita penyakit kanker dada.

Tak tega Tiang Le menyakiti hati gadis sumoaynya ini. Terjadilah tragedi yang rumit di lembah itu. Tiang Le membalas cinta Bwe Hwa dan melakukan hubungan yang di luar batas. Hubungan yang sebelumnya tak boleh mereka lakukan! Akan tetapi, entah mengapa Tiang Le....... lemah hati dan melayani si gadis. (baca Pendekar Lengan Buntung).

“Demikianlah Pei-moay….. aku berjanji dengan Bwe Hwa untuk kembali ke Tai¬hang-san. Akan tetapi siapa tahu terjadi peristiwa ini. Sungguh sangat memalukan sekali!” berkata Tiang Le mengakhiri ceritanya.

Pei Pei terdiam.

“Sayang sekali enci Bwe Hwa keras hati, koko. Kalau tidak marah, tentu aku mau membujuknya supaya ia hidup bersama-sama. Kasihan sekali enci Bwe Hwa,” kata Pei Pei perlahan.

Tiang Le tidak menyahut. Ia berjalan sambil tertunduk dan melangkahkan kakinya lambat-lambat di samping Pei Pei.

◄Y►

2

Berbulan-bulan lamanya Tiang Le dan Pei Pei mencari jejak Bwe Hwa, akan tetapi sampai saat ini mereka belum dapat bertemu dengan Bwe Hwa. Tiang Le menjadi putus asa sekali dan kuatir akan apa-apa yang terjadi di kemudian hari. Ia merasa sedih dan kasihan sekali terhadap gadis yang malang itu.

Andaikan ia bertemu dengan gadis itu, betapa ingin hatinya mengatakan kepada Bwe Hwa ia tak sanggup membiarkan gadis itu sendiri. Hendak ia katakan kepada Bwe Hwa bahwa sejak kejadian-kejadian di Tai-hang-san itu, ia merasa sangat pilu dan bersedih hati apabila mengenang Bwe Hwa, sumoaynya yang malang ini!

Sampai sekian lama itu, jejak Bwe Hwa belum juga diketemukan oleh Tiang Le dan Pei Pei. Mereka bertanya-tanya kepada penduduk dusun, atau orang yang diketemuinya, namun gadis yang lengan kirinya buntung tidak pernah mereka lihat. Oleh sebab itulah sampai begitu lama Tiang Le dan Pei Pei tidak pernah lagi menemui Bwe Hwa. Ke manakah gerangan perginya Bwe Hwa?

Tiang Le mulai berputus asa untuk menemui Bwe Hwa. Pada akhirnya karena tiada lagi tujuan bagi Tiang Le, maka Tiang Le mengajak Pei Pei untuk mengembara ke selatan.

Pada waktu itu, keadaan Tiongkok selatan makin bertambah parah. Kemiskinan merajalela di mana-mana akibat musim kemarau yang amat panjang itu dan kemudian ditambah lagi datang musim banjir yang telah banyak merusak daerah Tiongkok selatan.

Sawah-sawah dan rumah-rumah penduduk hanyut terbawa banjir yang tak mengenal ampun. Kesengsaraan rakyat pada waktu datangnya musim kering, ditambah lagi dengan datangnya musim hujan yang hebat, membuat rakyat daerah Tiongkok selatan dilanda kemiskinan dan kelaparan!

Bencana alam ini yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk dusun Pek-kui-ceng. Biarpun dusun ini agak tinggi letaknya sehingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, namun semua sawah ladang telah habis dilanda oleh banjir yang meluap-luap, merupakan danau yang lebar dan luas mengerikan.

Persediaan makanan telah habis dan tiap hari pasti ada orang yang mati kelaparan. Jeritan tangis terdengar di mana-mana, keluh kesah terdengar menyayat-nyayat hati!

Di dalam sebuah rumah yang amat jelek sekali, dan sudah hampir roboh itu, dari sana terdengar suara jeritan tangis seorang anak kecil yang demikian kurus kering tubuhnya. Tidak berapa jauh dari depannya menggeletak dua sosok tubuh manusia tua yang sudah tak bergerak lagi, membiarkan anak kecil itu menangisi mereka yang sudah berpulang ke alam baka.

Dilihat dari pakaian mereka yang compang camping dan kurus kering, amatlah menyayat hati akan kemiskinan dan kenelangsaan tiga orang manusia di dalam rumah itu, yang dua, dua sosok tubuh tua rapuh sudah rebah tak bergerak dan yang satunya lagi menangisi dua orang tuanya, memanggil-manggil ayah dan ibunya, akan tetapi ayah bundanya diam-diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak memperdulikan nasib putera tunggal mereka yang bernama Wang Ie.

“Ayah....... ibu....... bangunlah....... aku lapar, minta makan ibu.......” suara Wang Ie parau dan hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya sudah tak dapat mengeluarkan air mata lagi, sudah habis dikurasnya dalam tangisan-tangisan yang membawa keperihan yang nelangsa.

Anak kecil bernama Wang Ie itu, masih terlalu kecil untuk dapat memahami kehidupan yang ganas ini. Berjam-jam ia menangisi ayah bundanya yang tak pernah bergerak lagi. Sudah diam membisu tak menghiraukan akan panggilannya dan minta makan.

Bagi anak kecil itu, ia sendiri masih terlampau kecil dan tak mengerti mengapa sekarang ayah bundanya diam saja? Tentu saja Wang Ie belum mengerti akan kematian yang sudah menjemput ke dua orang tuanya.

Dan merasa berkali-kali ia menangisi ayah bundanya yang tidak mau lagi memperdulikan dirinya. Dengan langkah gontai, dia ke luar dari pondoknya dan berjalan perlahan. Sementara perutnya dirasakan perlu bukan main.

Kemudian rasa perih pada perutnya membuat timbul pikiran di hati Wang Ie untuk meminta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya. Ia bangun dan berdiri lagi dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar dan bergoyang-goyang bagaikan ada gempa yang mengguncangkan bumi ini.

“Aduh....... ibu....... ayah….. aduh....... perutku.......!” Wang Ie terhuyung-huyung, rasa perih di perutnya ditahannya dengan sebelah tangan yang kiri ia menekan ke arah perutnya sebagai ganjalan. Kemudian setelah rasa peningnya hilang ia bangkit lagi dan berjalan dengan tatapan kosong ke depan.

Akan tetapi begitu ia melewati pintu depan rumah tetangganya, alangkah terkejut begitu mendengar ratapan tangis dari para tetangganya yang riuh rendah. Ia membelalakkan matanya dan menjenguk ke dalam, ternyata seluruh tetangga itu sedang menangisi mayat yang membujur di atas tanah yang hanya bertilam sehelai tikar butut, mayat itu mati dalam keadaan lapar pula!

Wang Ie mundur ke belakang dengan hati kecut dan pedih, tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit hanya memakai kain lapuk yang menutupi sebagian badannya terseok-seok bergerak maju melangkahkan kakinya perlahan-lahan.

Teringat ia kepada hartawan Lie, ke sana lah kaki yang kurus kering itu melangkah. Ia tahu sekali hartawan Lie ini baik hati dan sering menolong penduduk memberi makanan dan tidak segan-segan menolong sesama manusia.

“Akan tetapi ketika dia sampai di sana alangkah terkejut dan ngeri hatinya melihat rumah hartawan Lie sudah dikerumun banyak orang dan beberapa belas orang yang tengah kelaparan itu, tengah berebutan memperebutkan gandum yang dikeluarkan secara paksa. Sedangkan tidak jauh dari situ, orang tua she Lie yang dikenalnya amat baik hati itu, sudah menggeletak mandi darah dengan tak bernyawa lagi!

Yang membuat hati Wang Ie begitu ngeri adalah betapa orang-orang yang kelaparan saling membunuh di tempat itu juga memperebutkan gandum di dalam rumah orang tua she Lie. Saling cakar-cakaran dan baku hantam sama sendiri.

Memang begitulah adanya. Pada jaman yang sulit dan susah makanan ini, membuat penduduk sudah tidak dapat mempertimbangkan lagi dengan pikiran sehat. Rasa lapar dan tak tega melihat anak bini kelaparan, membuat mereka nekat. Mereka datang ke rumah orang tua she Lie. Di sana itu, terjadilah keributan.

Tentu saja bagi Lie-wangwe tak rela gandumnya dirampas begitu saja, memang ia berhati dermawan dan telah banyak menyumbangkan gandumnya untuk penduduk, akan tetapi melihat orang-orang kasar ini yang telah begitu nekat merampas seluruh gandumnya, tentu saja orang tua ini tidak senang dan di sanalah terjadi pertengkaran mulut dan diakhiri oleh perbuatan nekat dari salah seorang penduduk yang tak sabar lagi telah mengelebatkan goloknya memenggal leher orang tua she Lie ini!

Pedih hati Wang Ie melihat kelakuan orang-orang ini. Dari mata anak kecil itu mengembang air mata yang hendak jatuh. Dengan langkah lunglai dia meninggalkan tempat itu dan berjalan tanpa arah, menengadah ke langit mengeluh melihat ketidak adilan dunia ini!

Saking laparnya dan lemas bukan main, kepalanya mulai terasa pening, pandangannya kabur hingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sedapat mungkin. Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan roboh di dekat pematang sawah yang tandus dan kering.

Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat ke dua lutut ke dada hingga perutnya tertekan oleh lutut itu. Ia meringkuk dalam keadaan seperti itu di pinggir jalan dekat pematang sawah. Apabila perutnya ditekan seperti itu, lenyaplah rasa pening.

Dan begitu ia membuka matanya, alangkah herannya hati anak kecil itu melihat seorang laki-laki yang berlengan buntung sedang jongkok di sampingnya. Dan terasa sekali mulutnya menyentuh sebuah pil yang disodorkan oleh laki-laki lengan buntung yang tengah jongkok di sampingnya.

“Anak yang malang….. kau makanlah pil ini, sekedar menghilangkan rasa perih di perutmu,” kata pemuda lengan buntung yang bukan lain adalah Tiang Le bersama Pei Pei.

Mereka memang sudah sampai ke tempat ini dan begitu melihat seorang anak kecil meringkuk di situ, hati Tiang Le dan Pei Pei merasa tertusuk dan kasihan sekali melihat anak malang ini, maka setelah Tiang Le mendekati anak itu, dan diberinya pil untuk penahan lapar, lalu bertanyalah ia kepada anak itu,

“Siapakah kau nak, mengapa berada di tempat ini?”

Merasa perutnya tidak lapar lagi, Wang Ie menatap Tiang Le dan Pei Pei dengan heran. Kemudian ia bangkit berdiri sambil katanya,

“Nama saya Wang Ie….. Saya… saya..... eh, yatim piatu, ayah dan ibu sudah meninggal, sudah mati kelaparan....... In-kong (tuan penolong) terimakasih atas pertolongan ini.......”

“Kasihan sekali kau nak, eh, namamu Wang Ie….. hem.......” Tiang Le memandang kepada anak ini. Matanya yang tajam dapat melihat bakat yang baik dari anak kecil ini untuk belajar silat, maka katanya kemudian, “Maukah kau ikut dengan kami Wang Ie?”

“Saya….. eh…. saya tidak berani untuk merepotkan In-kong berdua……” sahut Wang Ie merendah.

“Wang Ie....... kau sudah tidak punya orang tua, ikutlah kami….. dari pada di tempat minus ini, kau akan mati kelaparan…. mau bukan?”

Girang sekali Wang Ie melihat dua orang penolongnya ini, maka tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berlutut. “Saya merasa bersyukur dan terima kasih untuk kebaikan cici dan twako, biarlah saya ikut kalian dan…… dan melayani kalian!”

“Bagus! Wang Ie........ eh, apa kau bilang? Menjadi pelayanku? Tidak! Kau malah akan kujadikan muridku. Sukakah kau mempelajari ilmu silat Wang Ie?” tanya Tiang Le.

“Tentu saya suka sekali........” berkata demikian Wang Ie berlutut dan menyebut “suhu” kepada Tiang Le dan memanggil “subo” (Ibu guru) kepada Pei Pei.

Dan Pei Pei tersenyum mendengar anak itu menyebutnya subo:

“Kami belum menjadi suami isteri Wang Ie, harap kau tidak menyebutku subo segala!” sahut Pei Pei pelan dan melirik kepada Tiang Le.

“Memang kami belum menjadi suami isteri dengan Pei-moay ini....... akan tetapi tidak apa kalau kau suka menyebut subo kepadanya.......”

“Ihhh....... kau genit ahhh.......”

Akan tetapi Pei Pei tidak membantah lagi waktu Wang Ie memanggilnya dengan sebutan subo, dan malah diam-diam hatinya menjadi girang. Ia menjadi isteri Tiang Le, aduhai betapa sangat menggembirakan hatinya!

“Marilah kau ikut kami Wang Ie!” berkata Tiang Le.

“Baik suhu!”

Demikianlah sejak saat itu, Wang Ie mengikuti Tiang Le dalam perantauannya. Mereka terus mengembara ke Barat.

Sebetulnya Tiang Le masih terlalu muda untuk mengambil murid dan menjadi seorang guru. Akan tetapi melihat keadaan Wang Ie yang amat menyedihkan ini, dia menjadi kasihan dan menolongnya, apalagi setelah melihat tulang yang baik dari bocah ini, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai muridnya.

Sebaliknya Pei Pei juga merasa senang sekali dengan anak ini. Bukan saja Wang Ie rajin dan tekun mempelajari ilmu silat akan tetapi juga anak ini tahu diri dan sangat menyenangkan sekali. Apalagi Wang Ie memanggilnya dengan sebutan subo yang berarti ibu guru, maka ia merasa seakan-akan dia sendiri telah menjadi isteri dari Tiang Le. Oooo, sungguh suatu hal yang menyenangkan!!

Sudah dua bulan Wang Ie ikut Tiang Le berkelana. Ia mulai menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Tiang Le. Dan disepanjang perantauan itu dia selalu melatih diri atas petunjuk Tiang Le, sehingga Tiang Le menjadi girang dan terharu melihat kerajinan anak ini!!

Sementara itu, meskipun tidak ada acara yang resmi. Akan tetapi hubungan Tiang Le dan Pei Pei seakan-akan sudah menjadi suami isteri yang rukun dan bahagia. Apalagi setelah Tiang Le mengetahui bahwa Pei Pei sudah mengandung dua bulan, hubungan mereka semakin romantis dan rukun!

◄Y►

3

Kurang lebih seratus orang pengemis sabuk merah, yakni anggota-anggota terpenting dari perkumpulan pengemis Ang-kin-kay-pang, berkumpul di luar kota Siang-thian-bun. Perlu kita ketahui bahwa perkumpulan Ang-kin-kay-pang adalah perkumpulan pengemis yang paling besar dan berpengaruh dan telah memiliki nama yang terkenal di dunia kang-ouw.

Sebagaimana pembaca tentu masih ingat, perkumpulan Ang-kin-kay-pang ini adalah sebuah perkumpulan pengemis yang tadinya bernama Hwa-ie-kay-pang akan tetapi setelah ketua perkumpulan pengemis baju kembang ini gugur di tangan Pendekar Lengan Buntung, maka sebagian pengemis baju kembang yang dapat meloloskan diri dan telah menyesal atas kesesatan mereka dalam hasutan Bu-tek Sianli.

Sejak itu mereka mendirikan sebuah perkumpulan pengemis lain yang bernama Ang-kin-kay-pang dan diketuai oleh seorang wanita cantik yang genit, akan tetapi pada dasarnya memiliki watak gagah dan baik. Wanita cantik itu adalah bekas murid Bu-tek Sianli, orang ketiga dari Sianli-sie-ci-moay yang bernama Yap Sian Eng.

Pada hari itu, dua tahun telah lewat dan hari itu mereka berkumpul di Siang-thian-bun untuk mengadakan rapat penyerbuan ke Gua Hantu yang kabarnya didesas-desuskan adanya penyimpanan pusaka peninggalan dari manusia setengah dewa yang bernama Sui-kek Siansu. Tentu saja berita ini menarik perhatian Sian Eng dan pada hari itu ia memanggil semua anggota-anggota Ang-kin-kay-pang untuk mengadakan rencana perjalanan ke gua Hantu! Sebuah gua yang dikabarkan tempat tinggal Sui-kek Siansu, si manusia sakti yang sudah lenyap dan kemungkinan sudah meninggal dunia saking tua usianya!

Demikianlah pada itu, mereka berkumpul di Siang-thian-bun. Sebuah kota kecil di puncak pegunungan Ta-pie-san yang sejuk hawanya dan indah sekali pemandangannya. Tempat ini memang sengaja oleh Sian Eng dijadikan markas besar Ang-kin-kay-pang. Pengemis sabuk yang diketuai oleh seorang wanita muda jang sangat cantik yang berkepandaian tinggi dan genit membuat dalam waktu kurang lebih dua tahun saja perkumpulan pengemis ini sudah dapat berkembang dengan baik dan dalam diri Sian Eng mereka mendapatkan seorang pemimpin yang baik dan tegas.

Gedung Ang-kin-kay-pang ini, pada pagi-pagi itu sudah penuh oleh pengemis-pengemis yang berikat pinggang dengan ang-kin merah. Mereka itu berjumlah sekitar hampir seratus orang. Nampak gagah dan karena dengan pakaian putih bersih dan ikat pinggang warna merah yang menyolok.

Meskipun mereka ini sebagai pengemis, akan tetapi dilihat dari pakaiannya yang bersih dan terbuat dari sutera putih tidaklah patut mereka ini dinamai pengemis. Apalagi dilihat dari ketuanya yang cantik dan genit, sesungguhnya kurang tepat akan sebutan Ang-kin-kay-pang itu. Akan tetapi memang demikianlah adanya. Mereka itu dikenal dengan nama Ang-kin-kay-pang atau perkumpulan pengemis sabuk merah!

Akan tetapi pertemuan yang terakhir ini merupakan berita yang mengejutkan dari anggauta-anggauta pengemis sabuk merah. Bukan saja pada pertemuan ini, mereka mendengar akan rencana penyerbuan ke Gua Hantu akan tetapi yang paling mengejutkan adalah berita tentang penyerahan kedudukan yang hendak diserahkan kepada seorang laki-laki muda dari pulau Kim-kong-tho (Pulau Sinar Emas) yang bernama Kiang Sun Hi, seorang pendekar muda yang bernama penghuni pulau Kim-kong-tho. Sebuah pulau kecil yang terdapat di dekat pantai timur laut Po-hay.

Ia hidup seorang diri di pulau itu, hanya dibantu oleh para murid-muridnya yang berjumlah limapuluh orang itu dan mendirikan sebuah partai persilatan yang bernama Kim-kong-pay. Tentu saja karena kepandaian Kiang Sun Hi ini amat tinggi dan terkenal dengan julukan Sian-hud-tim (Kebutan Dewata), maka nama Kim-kong-pay sebentar saja sudah sejajar dengan partai-partai persilatan lainnya.

Malahan pada waktu munculnya partai Sian-li-pay beberapa tahun yang lalu, partai Kim-kong-pay ini tidak kalah pengaruhnya. Akan tetapi, karena Kim-kong-pay ini jarang berurusan dengan dunia persilatan maka dalam cerita Pendekar Lengan Buntung, kita tidak mengenal partai ini.

Setelah hancurnya Sian-li-pay, Yap Sian Eng murid ketiga dari Bu-tek Sianli melarikan diri dari pulau itu dan memimpin anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang yang tercerai dan mendirikan partai Ang-kin-kay-pang. Dan dalam perantauannya itulah Sian Eng bertemu dengan Kiang Sun Hi dan ternyata olehnya ilmu silat yang dimiliki oleh Kiang Sun Hi jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri. Akhirnya, keduanya saling “jatuh hati” dan diam-diam mereka merencanakan penggabungan partai Ang-kin-kay-pang dengan Kim-kong-pay yang terkenal itu!

Banyak orang yang datang di Siang-thian-bun pada hari ini, ada yang datang untuk memenuhi undangan, ada pula yang sengaja datang untuk melihat-lihat saja dan tidak sedikit orang-orang kang-ouw yang datang hendak menyaksikan perjodohan antara Sian Eng dengan Sun Hi, majikan pulau Kim-kong-tho yang terkenal lihai kepandaian silatnya itu!

Tak lama setelah seratus lebih anggota-anggota Ang-kin-kay-pang berkumpul, datanglah Yap Sian Eng bersama Kiang Sun Hi. Memang sudah lama Sian Eng dengan Sun Hi, juga seringkali berkunjung ke Pulau Sinar Emas yang tidak jauh letaknya dari Siang-thian-bun! 

Semua mata memandang dan banyak yang kagum melihat Yap Sian Eng karena wanita ini masih saja memiliki bentuk tubuh yang langsing dan padat, wajahnya yang riang gembira dan senyumnya masih amat manis.

Kemudian orang mulai memperhatikan Kiang Sun Hi. Harus mereka akui laki-laki inipun gagah dan cocok berjalan bersama Sian Eng. Akan tetapi banyak pula diantara mereka yang iri hati dan cemburu, yakni mereka yang menginginkan kedudukan ketua dan terutama sekali mereka yang suka kepada Sian Eng.

Begitu munculnya Sian Eng dan Sun Hi para anggota Ang-kin-kay-pang menyambut kedatangan Sian Eng dengan penghormatan dan seruan,

“Hidup Yap-pangcu (ketua Yap) dari Ang-kin-kay-pang!”

Yap Sian Eng hanya tersenyum, mencabut keluar tongkat kecil hitam, yakni tongkat pusaka dari Ang-kin-kay-pang, mengangkat tongkat itu tinggi di atas kepala sambil berkata

“Hidup Ang-kin-kay-pang!!”

Kemudian Yap Sian Eng mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang sudah disediakan di situ. Kang Sun Hi berdiri di belakangnya memandang kepada para pengemis yang hadir dengan sikap tenang.

“Kawan-kawan sekalian,” Yap Sian Eng berkata dengan nada suara terharu. “Seperti pemberitahuanku pada hari kemarin itu, dimana kita merencanakan untuk mengunjungi Gua Hantu dan ikut dalam perebutan pusaka peninggalan Sui-kek Siansu, jikalau ada jodoh tentu kita akan mendapatkan pusaka yang selama ini sudah didesas-desuskan oleh orang-orang kang-ouw.

“Tentunya di sana banyak sekali orang-orang pandai yang juga menghendaki kitab yang ditulis oleh Sui-kek Siansu. Tugas kita untuk merebut pusaka itu tidak gampang saudara-saudara, maka setelah kupikir-pikir dan kupertimbangkan, dalam hal ini kita harus bekerja sama dengan saudara-saudara di pulau Kim-kong-tho. Bagaimana menurut pendapat saudara-saudara sekalian??”

Terdengar suara celaan dan pernyataan kecewa di sana sini, disusul dengan suara, “Yap-pangcu tetap ketua kami, kami hanya tunduk kepadanya saja!!”

Sian Eng menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit: “Sebetulnya tak pantas bagiku seorang wanita memimpin kalian. Biarlah tugasku ini kuserahkan kepada Kiang-twako dan aku hanya memimpin dari belakang saja!!!”

“Mana bisa begitu!! Kalau pangcu hendak mengikat jodoh dengan Kiang-tayhiap serahkan saja tampuk pimpinan kepada orang-orang Ang-kin-kay-pang. Hanya anggota pengemislah yang berhak menggantikan kedudukan pangcu, bukan orang luar!!” Terdengar perkataan lantang dan nyaring dari kumpulan-kumpulan pengemis.

Sepasang mata Sian Eng menyapu orang yang berbicara tadi, akan tetapi karena begitu banyak pengemis yang masing-masing berbicara gaduh sehingga ia tidak mengetahui orang yang berbicara tadi.

“Begitu picikkah anggapan orang-orang?” Sian Eng berkata marah dan mengangkat tongkat kecil ke atas tinggi-tinggi. “Tongkat ini adalah tongkat pusaka Ang-kin-kay-pang, lambang dari ketua perkumpulan kita. Barang siapa yang cakap untuk memimpin perkumpulan kita dan pandai ilmu silatnya, dia itulah yang berhak memegang tongkat ini. Tidak perduli siapapun orangnya, dia berhak memimpin dan jadi ketua!!!

“Di dalam kang-ouw muncul banyak orang jahat yang lihai, maka perkumpulan kita perlu dipimpin oleh orang pandai. Aku sudah tidak sanggup lagi dan menyerahkan kepada Kiang-twako…....! Barang siapa yang tidak senang, boleh maju dan tidak perlu plintat-plintut mengeluarkan omongan yang bukan-bukan!” Sian Eng berdiri tegak, menyapu semua orang dengan mata yang menantang.

Keadaan sunyi untuk beberapa lama!

“Kami memilih Yap-pangcu, kalau Yap-pangcu memaksa mengundurkan diri dan menyerahkan pimpinan kepada orang lain, berarti penghianatan terhadap partai!” terdengar suara seorang pengemis.

Sian Eng menoleh ke arah suara itu.

“Apa yang menghianat? Aku menyerahkan pimpinan ini kepada Kiang-twako, karena kuanggap ia cakap untuk memimpin kita dan mengembangkan perkumpulan Ang-kin-kay-pang dalam gabungan saudara-saudara di pulau Kim-kong-tho. Dengan bergabungnya Ang-kin-kay-pang dan Kim-kong-pay bukankah kita akan menjadi kuat dan lebih banyak berkembang, dari pada kita harus memencil di sini....... dan….. akan mengalami kehancuran lagi seperti Sian-li-pay dan Ang-kin-kay-pang dulu!

“Kalau kalian tidak senang aku memilih Kiang-twako, baik! Sudah saja urusan ini. Aku tak akan turut campur dan aku mengundurkan diri dari partai Ang-kin-kay-pang! Dan kalian pilihlah sendiri seorang di antara kalian untuk menjadi ketua dan tongkat ini akan kuserahkan kepadanya!”

Mendengar ini Kiang Sun Hi menjura ke empat penjuru dan berkata dengan suara halus dan ramah: “Betul juga kata-kata pangcu. Urusan ketua seharusnya hanya orang-orang Ang-kin-kay-panglah yang berhak memilih dan menetapkan. Aku Kiang Sun Hi sebetulnya tidak tamak akan kedudukan ketua, hanya pangcu sendirilah yang berkehendak demikian.

“Harap saudara-saudara dari Ang-kin-kay-pang tidak menganggapku yang bukan-bukan. Aku sendiri sudah terlalu repot mengurus Kim-kong-pay, tak sanggup aku memimpin saudara-saudara di sini. Akan tetapi meskipun begitu, pihak kami Kim-kong-pay selalu memegang persahabatan dan bersedia bekerja sama dengan saudara-saudara dalam rencana Gua Hantu!”

“Akuuurrr!!”

“Sekarang tetapkan saja ketua baru dari untuk Ang-kin-kay-pang. Jikalau Yap-pangcu sudah tidak sudi lagi memegang pimpinan!” salah seorang pengemis berkata.

Akan tetapi perkataan pengemis itu disambut oleh banyak suara yang meneriaki kata-katanya,

“Biar bagaimana juga, kami mengharapkan pimpinan Yap-pangcu!”

“Kami tidak ingin memilih ketua baru!”

Kemudian terdengar jawaban simpang siur di sana sini.

“Aku tak setuju kalau Yap-pangcu mundur. Kalau mundur apa alasannya? Dan pula, aku mendengar desas desus tentang perjodohan! Inipun harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya.

“Seorang gagah tidak perlu menyembunyikan perasaan hati, apalagi ia itu kedudukan sebagai ketua, tidak baik menyembunyikan sesuatu. Kita di sini mempunyai lebih seratus anggota, kepada kami inilah pangcu harus memberikan penjelasan dan lagi, pimpinan ketua tidak boleh dipegang oleh orang luar!”

Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar ini melotot kepada Kiang Sun Hi dengan tatapan tidak senang.

Mendengar ini dan melihat sikap Kay Sek, wajah Sian Eng menjadi marah sekali. Ia maklum akan isi hati orang kasar ini dan tahu Kay Sek sudah lama jatuh hati kepadanya. Bahkan pada setiap kali ada kesempatan seringkali Kay Sek hendak mengambil hati kepadanya.

Akan tetapi melihat Sian Eng dihina blak-blakan oleh pengemis ini, Can Lo-kay, seorang pembantu Sian Eng menjadi tak senang. Ia menghampiri Kay Sek dan berkata.

“Kay Sek, mengapa kau begitu kurang ajar? Ingat, sebelum ada ketua baru, Yap¬pangcu masih ketua kita. Kalau kau tidak setuju akan pilihan pangcu, boleh kau ajukan calon…… atau….. apakah kau hendak mencalonkan diri?”

“Ha-ha-ha Pek Gay, mengapa kau yang marah-marah? Apa kau ingin dialem dan mengambil hati pangcu? Aku sih setuju saja akan pemilihan ketua, akan tetapi aku harus menguji dulu kepandaiannya. Ingat, seorang pemimpin harus dapat melebihi kepandaian kita!”

“Bagus, itulah seharusnya ucapan seorang laki-laki. Biar pangcu yang memilih. Seandainya kau tidak senang, boleh kau uji dia!” berkata Can Lo-kay mengundurkan diri dan memberikan kesempatan kepada Sian Eng untuk mengangkat bicara.

“Betul. Aku memang hendak memilih seorang ketua baru. Dan orang itu adalah Can Lo-kay. Siapa yang tidak setuju boleh bicara dan mengujinya.”

Keruan saja Can Lo-kay menjadi terheran, memandang Yap Sian Eng. Ia sungguh tak mengerti kalau ketuanya ini memilihnya. Seperti orang totol ia memandang Sian Eng seakan-akan kata-kata yang keluar dari pangcu itu seperti mimpi didengarnya.

“Yap-pangcu benar-benar membikin lo-kay menjadi malu,” kata Can lo-kay sambil membungkuk-bungkuk, akan tetapi lalu berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh: “Aku yang tua telah dapat mengerti akan semua alasan Yap-pangcu, maka apabila tidak ada yang mengajukan keberatan, demi menyelamatkan perkumpulan dari tangan orang jahat, aku bersedia menjadi ketua dan bekerja sama dengan para kawan yang setia!”

Yap Sian Eng kelihatan gembira sekali: “Bagaimana kawan-kawan? Setujukah kalian?”

“Yang tidak setuju harap angkat tangan! Pengangkatan ketua harus dengan suara bulat,” kata pula Sian Eng.

Akan tetapi begitu kata-katanya habis, terkejutlah Siang Eng melihat rombongan di sebelah kiri yang berjumlah kurang lebih limapuluh orang pada mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil mengeluarkan suara simpang siur. Dan yang aneh para pengemis yang mengangkat tangan, pada dada kiri mereka terhias sebuah teratai hitam.

Tentu saja bagi pandangan mata Sian Eng yang tajam, ia dapat mengenali orang-orang yang tadinya itu adalah anggota Hek-lian-pay (perkumpulan teratai hitam) yang pernah menggabungkan diri dengan Sian-li-pay, akan tetapi hancur di tangan Sung Tiang Le, si Pendekar Lengan Buntung yang perkasa (baca Pendekar Lengan Buntung).

Dari rombongan sebelah kiri yang mengangkat tangan tinggi, dua orang pengemis yang juga memakai tanda teratai hitam di dadanya meloncat ke depan. Yang seorang adalah pengemis tinggi besar yang terkenal dengan sebutan Tiat-ciang-eng (si tangan besi) dan bernama Kay Sek. Dia adalah anggota Ang-kin-kay-pang yang paling tinggi tingkatnya, pembantu Sian Eng yang setia dan menaruh hati kepada ketua itu.

Tentu saja melihat ketuanya hendak mengundurkan diri dan mengikat perjodohan dengan Kiang Sun Hi, majikan pulau Sinar Emas, membuat orang yang bernama Kay Sek itu merasa tidak senang dan cemburu. Sudah lama memang Kay Sek ini tergila-gila kepada ketuanya sendiri dan semenjak tadi ia sudah merasa cemburu dan iri hati melihat Kiang Sun Hi, maka sekarang ia melompat maju setelah mendapat kesempatan.

“Aku tak setuju kalau Yap-pangcu mundur!” Setelah berkata demikian pengemis tinggi besar itu memandang Sun Hi tak senang.

Melihat pandangan anak buahnya yang tidak mengesankan ini, Sian Eng menjadi marah dan membentak: “Kay Sek! Omongan apa yang kau keluarkan? Kau ini sebagai apakah hendak melarang kemauanku?”

“Bukan aku melarang Pangcu mengundurkan diri, akan tetapi kehendak Pangcu adalah hanya memikirkan pribadi sendiri, dan tidak memandang perkumpulan. Hemm, betapapun juga….. andaikata Pangcu hendak mengikat perjodohan dengan orang she Kiang itu. Pangcu tidak boleh mengundurkan diri begitu saja…... apa lagi kita sedang merencanakan untuk ke Gua Hantu, mengapa Pangcu hendak mengundurkan diri? Atau, apakah Pangcu sudah begitu gelap mata oleh bujukan-bujukan dan cumbu rayu manusia she Kiang sehingga dengan seenaknya saja mengundurkan diri?”

Mendengar ini dan melihat sikap Kay Sek, wajah Sian Eng menjadi merah sekali. Ia hendak maju ke depan, akan tetapi sebuah tangan meraih lengannya dan Sun Hi dengan senyum sabar berkata kepadanya: “Sabar Eng-moay, biarkan ia mengeluarkan isi hatinya.”

Melihat Sun Hi tidak menjadi marah oleh kata-kata Kay Sek tadi. Sian Eng menahan sabarnya dan duduk lagi di tempat semula. Akan tetapi Can Lo-kay menjadi tak senang mendengar kata-kata Kay Sek yang menghina Sian Eng. Ia maju dan menghampiri Kay Sek sambil berkata,

“Kay Sek! Perkataanmu terhadap ketua tidak menaruh hormat dan penuh tantangan. Kalau memang kau tidak senang akan pilihan Yap-pangcu, boleh kau maju dan mengujinya! Kalau memang aku kalah olehmu, biar sampai mati aku tidak mencampuri lagi urusan ini dan mengangkat kaki dari sini…… kalau kau masih penasaran hendak mengangkat diri jadi ketua! Terserah!”

Diserang begini oleh Can Lo-kay, Kay Sek menjadi gagap dan merah mukanya “Aku........ aku…… hemmm, betapapun juga kalau Can Lo-kay yang terpilih menjadi ketua, aku….. aku........ eh, hendak mengujinya…..” Akhirnya ia berkata untuk menutupi malunya.

“Bagus! Itulah ucapan seorang gagah!” Yang berkata itu adalah orang ke dua yang tadi meloncat maju. Dia ini adalah seorang pengemis tua, akan tetapi seperti rombongan pengemis tua inipun memakai simbul teratai hitam di dada sebelah kirinya, sikapnya angkuh dan mencercahkan sebuah senyum mengejek. Dia itu yang bernama Peng Hay berjuluk Sin-tung-mo-kay (setan pengemis tongkat sakti). tongkatnya meskipun bengkang bengkok dan berwarna hitam akan tetapi seperti setan lihainya. Setelah berkata demikian, ia mencelat mundur untuk menanti giliran.

Pada masa itu, sudah menjadi kebiasaan bagi setiap perkumpulan untuk menguji calon ketua baru dan karenanya semua anggota berhak untuk mencobanya kelihaian ketua baru, maka sudah tentu kata-kata Kay Sek barusan sangat menggembirakan para anggota.

“Kay Sek, dari dulu juga kau memang keras kepala dan mau menang sendiri saja. Nah, kalau kau masih penasaran baiklah lohu melayanimu dalam beberapa jurus!”

“Bagus, Can Lo-kay….. maafkan aku yang muda berlaku kurang ajar, lihat serangan!” Kay Sek berseru keras dan menggerakkan tongkatnya menyerang ke arah dada Can Lo-kay.

Pengemis tinggi besar yang berjuluk si tangan besi memiliki ilmu tongkat yang lihai dan kuat. Sian Eng tahu bahwa bekas pembantunya ini memiliki ilmu tongkat yang paling tinggi di antara pengemis-pengemis lainnya dan dapat mengatasi semua anggota Ang-kin-kay-pang, akan tetapi menghadapi Can Lo-kay, Kay Sek masih kalah jauh. Oleh sebab itu Sian Eng maklum bahwa Kay Sek tidak akan dapat menandingi Can Lo-kay, pengemis tua kurus yang berwajah ramah ini!

Dengan gerakan yang cepat luar biasa, Can Lo-kay membuktikan kelihayannya. Namun menghadapi Kay Sek yang bertenaga kuat dan cepat gerakan tongkatnya itu, namun dengan enak dan mudah Can Lo-kay dapat berkelit dari serangan-serangan tongkat yang mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya putaran tongkat di tangan Kay Sek. Tentu saja Kay Sek menjadi terkejut dan heran merasa tubuh Can Lo-kay seperti bayangan saja berkelebat ke sana kemari dengan gesitnya.

Dalam beberapa jurus saja ia terkena tepukan tangan kiri Can Lo-kay pada punggungnya, dan belum habis rasa pegal di pinggang itu, ia berteriak kesakitan ketika tongkat Can Lo-kay mencongkel kakinya sehingga tak ampun lagi ia terjengkang ke belakang mengeluarkan suara berdebuk membuat pinggang Kay Sek serasa patah!

Can Lo-kay dengan senyum ramah membantu Kay Sek bangun. Pengemis tinggi besar ini meringis kesakitan, lalu berkata pelan,

“Can Lo-kay benar-benar lihai, siauwte yang muda telah berlaku kurang ajar dan tidak mengeral tingginya gunung Thay-san, maaf, maaf! Biarlah urusan ketua…… terserah Yap-pangcu saja.......” Katanya sambil menyeret tongkatnya dan mengundurkan diri.

“Ha-ha-ha, tidak kusangka Tiat-ciang-heng demikian lemah! Dan nama besar Can Lo-kay tidak kosong belaka. Biarlah aku yang mencoba kepandaiannya!” Berkata Sin-tung-mo-kay Peng Hay dengan senyum mengejek melirik ke arah Sian Eng.

Yap Sian Eng mengerutkan kening. Pengemis di depannya ini belum lama masuk anggota, akan tetapi sombong sekali dan begitu ia melirik ke arah dada, sebuah simbul teratai hitam tersemat di dada pengemis itu. Hemm, orang-orang ini sungguh mencurigakan, pikir Sian Eng, dan melihat ke depan.

Adapun Can Lo-kay sendiri memandang pengemis yang berkata tadi. Ia merasa tidak pernah mengenal pengemis ini entah dari cabang mana, maka katanya, “Sahabat ini dari mana dan........ dan….. apakah anggota Ang-kin-kay-pang?”

“Ha-ha-ha! Can Lo-kay….... baru saja diangkat menjadi ketua sombongmu setengah mati. Apa matamu buta tidak mengenalku lagi, apakah kau sudah lupa dengan Hek-lian-pay?” Berkata demikian Sin-tung-mo-kay menggerakkan taagan kirinya memukul lawan tanpa memberi peringatan lagi.

Melihat cara pukulan ini, Can Lo-kay yang sudah berpengalaman dan kenyang akan asam garam di dunia persilatan menjadi terkejut dan terheran-heran. Inilah cara ilmu pukulan tangan kosong dari orang-orang Hek-lian-pay, yang berdasarkan dari ilmu silat Hek-lian-ciang-hoat atau ilmu silat teratai hitam yang amat ganas dan lihai!

“Apa? Kau…… kau orang Hek-lian-pay?” Tanyanya sambil membalas serangan lawan.

Peng Hay hanya tertawa mengejek dan pada saat itu limapuluh orang yang tadi mengangkat tangan, mendengar kata-kata Can Lo-kay barusan serentak bangun berdiri dan bersiap-siap. Sikap mereka angker sekali. Keadaan menjadi ribut dan orang-orang Ang-kin-kay-pang juga cepat memisahkan diri dari mereka.

“Peng Hay, apa kehendakmu?” tanya Can Lo-kay.

Akan tetapi Peng Hay tidak menyahut, malah sambil tertawa mengejek ia melancarkan serangan-serangan maut. Can Lo-kay yang mengalami kekagetan, tak dapat menjaga diri dan ia berseru kaget begitu tongkat di tangan Sin-tung-mo-kay dengan amat cepatnya menyerempet pundaknya. Terdengar suara keras kain Can Lo-kay hancur terserempet pukulan yang lihay itu. Baiknya begitu tongkat menyerempet pundak dan tak dapat dihindarkan lagi cepat-cepat Can Lo-kay mengerahkan hawa sin-kang di pundak dan ia hanya terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat dan terkejut!

“Peng Hay, betulkah kau orang Hek-lian-pay?” Sian Eng mencelat dan mengirim pukulan tongkat yang luar biasa lihaynya.

Perlu diketahui beberapa tahun yang lalu, gadis ini adalah murid kesayangan Bu-tek Sianli dan berjuluk Sianli-sin-tung-hoat, oleh karena itu tak heran kalau permainan tongkatnya telah mengejutkan Peng Hay yang dijuluki si setan tongkat sakti! Akan tetapi melihat datangnya serangan yang dahsyat bertubi-tubi, pengemis itu tidak menjadi gentar malah tertawa mengejek:

“Ha-ha-ha Yap-pangcu, Hek-lian-pay sekarang sudah tidak ada, sekarang akulah yang berhak menggantikanmu menjadi ketua Ang-kin-kay-pang……. ha-ha-ha! Aku telah dapat menangkan Can lo-kay, akulah kini pang-cu Ang-kin-kay-pang Sin-tung-mo-kay Peng Hay.......ha-ha!”

Sebelum menjawab, tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh dengan amat gesitnya dan melakukan serangan kilat ke arah Peng Hay yang cepat menangkis. Akan tetapi ia terhuyung-huyung dan memandang heran ke arah orang yang telah berdiri di depannya. Seorang pemuda tampan berlengan buntung, berusia hampir tigapuluhan, akan tetapi pada saat itu pemuda buntung itu berdiri dengan angker dan membentak ke arah Peng Hay dengan suara mengguntur,

“Sin-tung-mo-kay kalian adalah anggota Hek-lian-pay yang sesat dan sekutu si bangsat Bu-tek Sianli, hayo katakan ke mana minggatnya nenek keparat itu!”

Tentu saja melihat kedatangan pemuda yang buntung lengan kanannya ini, Sin-tung-mo-kay dan Peng Hay menjadi pucat setengah mati, ia seperti melihat setan di tengah hari bolong. Dan belum apa-apa, baru mendengar suaranya saja pengemis yang berjuluk Sin-tung-mo-kay itu sudah menggigil dan keringat dingin berloncatan pada dahinya.

“Orang Hek-lian-pay, hayo katakan di mana sembunyinya si nenek Bu-tek Sianli!” Kembali Tiang Le membentak.

Seperti telah diceritakan pada bagian depan, Tiang Le, Pei Pei dan bersama muridnya yang masih kecil Wang Ie merantau ke utara secara kebetulan sekali ia mendengar akan perkumpulan Ang-kin-kay-pang yang diketuai oleh seorang wanita bekas murid Bu-tek Sianli yang bernama Yap Sian Eng yang berjuluk Sianli-sin-tung-hoat. Tentu saja Tiang Le menjadi girang sekali mendengar kabar ini, pernah sekali ia bertemu dengan murid-murid Bu-tek Sianli, gadis aneh dan luar biasa, akan tetapi pada dasarnya mempunyai watak yang baik dan gagah.

Oleh sebab itu Tiang Le mengajak Pei Pei dan Wang Ie ke tempat markas Ang-kin-kay-pang dan baru saja ia sampai di sana alangkah girangnya ia mendengar pengemis yang berdiri angkuh menyebut-nyebut partai Hek-lian-pay, di mana pada beberapa tahun yang lalu, partai ini pernah bersekutu dengan Sian-li-pay dan hampir saja mencelakakan dirinya! (baca pendekar Lengan Buntung).

Dan dalam segebrakan itu, Tiang Le sudah dapat membikin Sin-tung-mo-kay yang lihay terluka dalam oleh pukulan gerak tangan kilatnya dan membuat pengemis yang sombong ini menjadi pucat dan terkejut.

“Bangsat! Kau tidak mengaku di mana adanya Bu-tek Sianli, baik, aku akan membuat kau mampus di sini!” kata Tiang Le sambil menggerakkan tangan kirinya dan sekali tangkap leher Sin-tung-mo-kay telah dicengkeram oleh tangan yang kuat dan panas itu.

Akan tetapi belum lagi Sin-tung-mo-kay Peng Hay menjawab tiba-tiba terdengar suara yang amat jauh sehingga hanya gemanya saja yang terdengar. Semua orang kaget dan maklum bahwa ini adalah suaranya orang yang memiliki lweekang tinggi dan yang dapat mengirim suara dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu Coam-im-jib-pit (mengirim suara dari jarak jauh).