-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 33 (Tamat)

Jilid 33 (Tamat)

Kan Soat Cu tersenyum manis. Sepasang lesung pipit menghiasi kedua pipinya. Wajah yang memang cantik tampak semakin cantik.

"Kadang-kadang anak suka membayangkan betapa bahagianya apabila anak mempunyai kakak atau adik. Setidaknya ada teman yang dapat diajak bermain-main. Aih ... tapi tubuh anak sejak kecil lemah sekali. Kadang-kadang anak malah merasa menyesal telah dilahirkan sehingga ayah dan ibu selalu bercapai hati memikirkan kesehatan anak yang tidak kunjung pulih ini."

Kan taijin mengelus-elus rambut putrinya. “Soat ji, jangan berkata demikian. Tia merasa beruntung masih bisa mendapatkan seorang putri yang demikian cantik seperti dirimu, mengenai kesehatan tubuhmu itu, Tia yakin suatu hari Thian akan mengulurkan tangannya supaya kita dapat menemukan obat mujarab yang dapat membuat kesehatanmu membaik."

Kan Soat Cu seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba dua orang pengawal ayahnya masuk ke dalam halaman itu dengan tergopoh-gopoh. Kan taijin juga ikut terkejut. Ia langsung menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. "Ada apa? Apa yang lelah terjadi?" tanyanya gugup.

"Lapor, taijin! Kim suwi dan Long suwi yang ditugaskan mengantarkan surat ke selatan telah kembali. Namun mereka ingin menyampaikan suatu hal yang cukup genting," kata salah satu dari pengawal itu melaporkan.

Wajah Kan taijin semakin panik. "Hal apa? Di mana mereka sekarang? Cepat suruh mereka masuk!"

Kedua pengawal itu segera mengiakan dan mengundurkan diri. Tidak lama kemudian masuk lagi dua orang pengawal yang lainnya. Mereka langsung membungkuk hormat kepada Kan taijin.

"Bangun... bangun! Tidak usah banyak peradatan! Ada apa sebenarnya? Masalah genting apa yang ingin kalian sampaikan?"

"Laporan Taijin! Sebetulnya masalah in tidak ada hubungannya dengan Taijin, tapi kami tidak berani sembarangan bertindak sehingga memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada Taijin agra Taijin yang memutuskan

… “

Hati Kan taijin agak lega mendengar keterangan kedua orang itu. "Oh? Masalah apa sebetulnya yang kalian hadapi? Coba katakan, biaraku pertimbangkan baik-baik."

"Begini, Taijin. Ketika kapal kami sedang mengarungi lautan selatan, kami menemukan seorang gadis yang tersangkut di batu karang dalam keadaan sekarat. Kami mengangkatnya ke atas kapal. Ternyata gadis itu masih mempunyai harapan untuk hidup, tapi keadaannya memang gawat sekali. Sampai sekarang dia masih belum sadarkan diri juga, padahal kami menemukannya enam hari yang lalu. Kami menjadi bingung. Membiarkannya begitu saja, kami tidak tega. Dibawa pulang pasti akan menimbulkan masalah. Jadi ... "

Mata Kan Soat Cu membelalak mendengar kata-kata pengawal itu. "Tia, kasihan sekali gadis itu. Bawa saja kemari. Suruh Ong Taihu lihat bagaimana keadaannya."

Kan taijin menganggukkan kepalanya berulang kali. "Hm ... Entah siapa gadis itu. Memang kasihan sekali. Tindakan kalian sangat terpuji. Sekarang di mana gadis itu?"

"Di dalam kereta di luar gedung, kami tidak berani membawanya masuk kemari sebelum mendapat ijin dari Taijin."

"Bawa masuk sekarang juga. Tidurkan di kamar tamu. Sebentar kalau Ong taihu sudah datang, suruh dia memeriksa keadaannya dengan teliti!"

* * *

Gadis itu masih tidak sadarkan diri ketika diperiksa oleh Ong taihu. Kan taijin dan Kan Soat Cu berdiri di samping dengan hati tegang. Gadis itu masih muda sekali. Wajahnya sangat cantik. Pakaiannya koyak di sana sini, bagian ubun-ubun kepalanya ada darah sedikit. Mungkin karena terbentur batu karang. Justru hal inilah yang dikhawatirkan oleh Ong Taihu. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kesehatan gadis ini dapat pulih kembali, tapi luka di bagian kepalanya cukup parah. Cayhe takut bila dia tersadar nanti, dia akan terkena penyakit yang disebut lupa ingatan." kata Ong Taihu menjelaskan.

"Kalau benar demikian akhirnya, tentu kita akan kerepotan juga. Bagaimana kita bisa tahu siapa adanya gadis ini? Tentunya orang tuanya akan cemas memikirkan anak gadis mereka yang hilang." ujar Kan taijin kebingungan.

Kan Soat Cu malah mempunyai pendapat yang berbeda.

"Tia, jangan memikirkan hal yang lainnya dulu. Kita tolong dulu nyawa gadis ini. Nanti kalau dia sudah tersadar nanti, kita lihat lagi perkembangan selanjutnya."

Kan taijin termenung sejenak. Kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Harap Ong Taihu memberikan resep agar kesehatannya dapat cepat pulih!"

"Kan Taijin tidak usah khawatir. Cayhe akan memberikan sebuah resep. Obat itu harus dicekokkan kepadanya. Paling lambat besok siang dia sudah akan tersadar. Tetapi harap ingat baik-baik. Jangan membuatnya terlalu terkejut apabila sadar nanti, takut dia akan mengalami shock yang dalam dan otaknya tidak dapat berfungsi kembali untuk selamanya."

Kan taijin menganggukan kepalanya. “Aku akan menyuruh Cao popo menungguinya disini.”

* * *

Cao popo adalah pengasuh Kan Soat Cu sejak kecil. Sekarang gadis itu sudah dewasa. Dia lebih suka ditemani oleh Cing Cing, yaitu gadis seusianya yang selalu membimbingnya kemana-mana. Kan Soat Cu adalah seorang gadis yang lemah lembut. Apalagi dia mempunyai saudara.

Oleh karena itulah, ayahnya mengambil seorang anak yatim piatu untuk menjadi teman baginya.

Melihat gadis yang ditolong oleh kedua pengawal ayahnya. Kan Suat Cu langsung suka. Gadis itu sangat cantik tapi wajahnya menyiratkan kedukaan yang dalam. Dia bertanya- tanya dalam hati. Siapa gadis itu sebenarnya? Kan Soat Cu yang tubuhnya lemah memang tidak pernah diijinkan oleh ayahnya untuk melakukan pekerjaan apa pun. Ibunya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sebagai seorang gadis yang menginjak remaja, dia semakin kesepian. Sekarang dia tidak bisa lagi mengungkapkan perasaannya kepada Cing Cing. Dia memang akrab sekali dengan pelayannya itu, tapi Cing Cing juga tidak banyak pengalaman tentang dunia luar seperti dirinya. Sejak kecil Kan Soat Cu tidak pernah kemana-mana. Bukan ayah atau ibunya tidak mengajaknya, tapi kesehatannya yang tidak mengijinkan.

Sekarang, dengan gadis itu, dia jadi mempunyai kesibukan. Bukan kesibukan seperti yang dilakukan oleh orang lain, tapi otaknyalah yang sibuk bekerja. Dia terus memikirkan gadis tersebut. Kalau ditilik dari bahan pakaian yang dikenakannya, gadis itu bukan dari keluarga tidak mampu. Satu hal yang dapat dipastikan bahwa gadis itu juga bangsa Han seperti dirinya. Namun negara ini begini luas. Siapa yang dapat memberi tahu dari daerah mana gadis itu berasal. Memang tubuhnya ditemukan di bagian laut selatan. Tapi apa pula yang dapat memastikan dari mana dia mengalami kecelakaan sampai terdampar di tempat tersebut.

Tampaknya dia memang harus menunggu sampai gadis itu sadarkan diri. Tapi kalau mengingat kembali kata-kata Ong Taihu bahwa ada kemungkinan gadis itu akan mengalami lupa ingatan, pikirannya menjadi kalut lagi. Sekarang hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari ayahnya.

Dengan pikiran itu, Kan Soat Cu langsung menemui ayahnya yang berada di ruang perpustakaan. Ayahnya senang sekali membaca. Bila ada waktu senggang, dia pasti mengunci diri di dalam ruangan tersebut. Apalagi sejak ibunya meninggal.

Dugaan Kan Soat Cu memang tepat. Kan taijin sedang duduk di atas kursi di belakang sebuah meja yang besar. Dia sedang asyik membaca. Sampai-sampai putrinya itu sudah berada di belakangnya, dia masih belum menyadari. "Tia. " sapa Kan Soat Cu perlahan.

Kan taijin tersentak dari keasyikannya. Dia tersenyum melihat Kan Soat Cu yang masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Ada apa, Soat ji?"

"Ada satu hal yang ingin kubicarakan dengan Tia."

Kan taijin menutup buku di tangannya dan meletakkannya kembali ke rak besar yang ada di sampingnya. Di sana tersusun berbagai jenis buku. Tidak sedikit yang sudah langka sekali.

"Nah, apa yang ingin kau bicarakan dengan ayahmu ini?"

"Gadis yang ditolong oleh kedua pengawal Tia itu terus mengganggu pikiranku. Anak ingin meminta ijin dari Tia agar dia diperbolehkan menetap di rumah ini seandainya sadar nanti keadaannya persis yang dikatakan oleh Ong Taihu."

"Mengapa kau tiba-tiba mempunyai pertimbangan demikian?" Kan taijin tersenyum simpul. "Pasti ada kaitannya dengan ucapanmu tempo hari bukan?"

"Akh. Tia selalu menggoda. Anak bicara serius. Dia masih

begitu muda. Usianya paling-

paling terpaut satu dua tahun dengan anak. Apabila dia benar- benar lupa ingatan dan meninggalkan tempat ini, anak khawatir akan terjatuh ke tangan orang jahat dan dia tentu akan mengalami hal yang mengerikan."

Wajah Kan taijin berubah menjadi serius.

"Soat ji, kau tidak usah khawatir. Menolong orang adalah perbuatan yang baik. Kalau keadaannya memang seperti yang dikatakan oleh Ong Taihu, Tia tentu mengijinkan dia tinggal di sini sampai ingatannya pulih." Wajah Kan Soat Cu langsung berseri-seri mendengar permintaannya dikabulkan. "Terima kasih. Tia, anak sekarang ingin menengok keadaannya. Nanti baru anak ke sini lagi untuk menemani Tia."

Kan taijin menganggukkan kepalanya. Kan Soat Cu bergegas keluar dari kamar itu. Tapi baru saja sampai di depan pintu, dia menolehkan kepalanya kembali. "Tia, apa yang kau katakan memang benar. Permintaan anak memang ada kaitannya dengan ucapan anak di taman bunga kemarin," katanya sambil tersenyum.

Kan taijin menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang masih kekanak-kanakan itu. Dia sudah menduga bahwa kehadiran gadis itu pasti akan membuat hati putrinya semakin senang. Dia berulang kali mengatakan bahwa betapa berbahagianya dia apabila dia mempunyai seorang cici atau adik. Tampaknya sekarang dia sudah mendapatkan seorang cici yang muncul di rumahnya secara ajaib.

* * *

Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Hal ini pasti disebabkan oleh cahaya matahari yang menyorot lewat jendela. Cao popo yang bertugas menungguinya segera mendekat ke samping tempat tidur.

"Siocia, kau sudah sadar?" tanyanya lembut.

Gadis itu berusaha untuk bangun. Namun kepalanya terasa pening.

Cao popo cepat-cepat membantunya. "Siocia, jangan bangun dulu. Siocia baru tersadar setelah pingsan lebih dari satu minggu. Kesehatan Siocia belum pulih. Rebahlah kembali, Popo akan mengambilkan bubur untukmu." Bibir itu bergerak-gerak. Tampaknya gadis itu ingin mengatakan sesuatu, tapi tenggorokannya terasa kering, dia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Cao popo mengambil cangkir dan mengisinya dengan air teh hangat. Dibantunya gadis itu minum sedikit demi sedikit.

"Di ... mana ... aku?" tanya gadis itu dengan suara bergetar.

Belum lagi Cao popo sempat menjawabnya, Kan Soat Cu sudah melangkah ke dalam kamar. Dia senang sekali melihat gadis itu sudah sadar. Dia memberi isyarat kepada Cao popo agar menggeser sedikit. Dia ingin sekali menyapa gadis itu.

"Nona, kau sekarang ada di rumahku. Jangan takut. Lukamu cukup parah. Jangan banyak bergerak," kata Kan Soat Cu dengan penuh perhatian.

Gadis itu kembali mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak lama kemudian dia mulai bisa menyesuaikan diri dengan penerangan yang sudah sekian lama tidak dilihatnya.

"Bagaimana perasaan Kouwnio sekarang?" tanya Kan Soat Cu sekali lagi.

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit.

"Siapakah nama Kouwnio? Tentu saja kalau Kouwnio tidak keberatan memberitahukannya kepada siaumoay.”

Mata gadis itu menerawang. Sejenak kemudian dia menatap Kan Soat Cu lekat-lekat. Akhirnya dia menggelengkan kepalanya. "A ... aku tidak ... tahu. Pikiran … ku seakan kosong melompong.”

Ternyata apa yang diduga oleh Ong Taihu benar adanya. Tampaknya gadis itu benar-benar mengalami lupa ingatan. Kan Soat Cu tersenyum manis. "Tidak apa-apa. Kalau boleh Siaumoay akan memanggil kau cici saja. Siaumoay harap cici jangan memaksakan diri berpikir hal yang lain. Yang penting sekarang cici harus beristirahat agar kesehatanmu cepat pulih. Nanti perlahan-lahan Siaumoay akan membantu agar ingatanmu dapat kembali lagi seperti sebelumnya."

Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia memang ingin sekali mengajukan pertanyaan. Tapi keadaannya sekarang belum memungkinkan. Bahkan untuk menganggukkan kepalanya saja dia merasa berat sekali.

Kan Soat Cu menolehkan kepalanya kepada Cao popo.

"Cao popo, masakkan bubur buat Cici ini dan suapkan perlahan-lahan sampai habis. Perutnya sudah lama kosong. Nanti tubuhnya semakin lemah," kata gadis itu memesankan.

"Baik, Siocia," sahut Cao popo sambil mengundurkan diri.

Kan Soat Cu masih duduk di sisi tempat tidur untuk beberapa saat. Tapi gadis itu sudah memejamkan matanya kembali.

Akhirnya Kan Soat Cu mengambil keputusan untuk membiarkan gadis itu beristirahat.

* * *

Beberapa hari telah berlalu. Kesehatan gadis itu mulai pulih. Tubuhnya sudah agak kuat. Dia sudah bisa bangun sendiri dari tempat tidur dan berjalan-jalan di taman. Kan Soat Cu memperhatikannya secara diam-diam. Tampaknya gadis itu sedang memandangi permukaan salju dengan mata termenung.

‘Apa yang dipikirkan olehnya? Apakah dia hanya berpura-pura lupa ingatan padahal dia tahu siapa dirinya sesungguhnya?’

Pertanyaan itu terus berkecamuk di hati Kan Soat Cu. Tapi kalau melihat gadis itu suka merenung seorang diri kemudian seperti orang yang kebingungan, Kan Soat Cu malah merasa bahwa gadis itu berkata yang sesungguhnya. Perlahan-lahan dia berjalan menghampiri....

"Siapa?" bentak gadis itu sambil membalikkan tubuhnya secepat kilat.

Kan Soat Cu terkejut sekali. Melihat dari gerakannya gadis itu pasti mengerti ilmu silat.

"Cici, aku yang datang," sapa Kan Soat Cu sambil menenangkan hatinya.

Mata gadis itu yang tadi mendelik berubah lembut kembali. Bibirnya tersenyum. "Soat-moay.... Cici kira siapa. "

"Gerakan tubuh Cici cepat sekali. Sekarang keadaan Cici masih belum pulih sekali, tapi gerakannya sudah begitu hebat. Apalagi kalau sudah sehat nanti."

Gadis itu menundukkan wajahnya dengan tersipu-sipu. "Tampaknya Cici pernah mempelajari ilmu silat yang cukup tinggi," kata Kan Soat Cu kembali.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Cici benar-benar tidak tahu. Cici sudah berusaha untuk mengingat kembali siapa Cici ini sebetulnya, tapi tetap saja tidak berhasil."

"Jangan terlalu dipaksakan. Ong Taihu kan sudah mengatakan bahwa memang butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan ingatan itu."

"Soatmoay. Keberatankah kau kalau Cici tanyakan kembali

di mana pengawal Taijin nenemukan Cici?" tanya gadis itu.

"Menurut kedua pengawal itu. mereka menemukan tubuh Cici tersangkut di atas batu karang dekat laut selatan. Tapi apakah hanya sedikit petunjuk itu bisa memulihkan kembali ingatan Cici?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Cici tidak tahu. Tapi kalau mendengar keterangan Soatmoay, tampaknya Cici berasal dari pesisir pantai. Mungkin Cici ini anak seorang nelayan yang ikut orang tua pergi menangkap ikan. Mungkin perahu kami diterjang badai sehingga tubuh Cici terlempar ke dalam lautan."

Kan Soat Cu menggelengkan kepalanya. "Siaumoay mempunyai pendapat yang berbeda. Meskipun Siaumoay belum pernah berkelana di dunia kangouw. tapi sedikit banyaknya Siaumoay mendengar cerita dari Cao popo dan yang lainnya. Cici pasti bukan anak seorang nelayan. Coba pikirkan baik-baik, kalau Cici memang anak seorang nelayan, pasti kulit Cici hitam karena sering terbakar oleh matahari.

Lagipula bahan pakaian yang Cici kenakan ketika diketemukan bukan bahan yang sanggup dibeli oleh kaum nelayan. Cici pasti berasal dari keluarga yang cukup berada. Tapi dunia ini begitu luas, kemana kita harus mencari keterangan tentang asal-usul cici."

Gadis itu merasa apa yang dikatakan oleh Kan Soat Cu ada benarnya. Dia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi ketika dia melihat Kan taijin keluar dari dalam rumah. "Kan taijin. "

sapa gadis itu sambil menjura dengan sopan.

Kan taijin mengelus-elus jenggotnya. Dia menatap gadis itu sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. "Kouwnio, jangan panggil aku Kan taijin lagi. Kalau boleh, aku mempunyai usul yang lebih baik. "

Kan Soat Cu memandang ayahnya dengan tatapan bingung. "Tia, apa maksudmu?"

Kan taijin tersenyum lebar. "Soat ji, kau selalu mengatakan bahwa kau tidak mempunyai saudara. Kouwnio ini ditemukan oleh kedua pengawalku, berarti Tia memang ada jodoh dengannya. Bagaimana menurutmu kalau Tia memberinya nama dan mengangkatnya sebagai anak agar dia bisa menjadi cicimu?"

Mata Kan Soat Cu langsung bersinar terang, tapi Kan taijin mengedipkan matanya satu kali. "Kau jangan keburu senang dulu. Kita harus menghargai hak orang lain. Tanyakan dulu kepada kouwnio ini apakah dia bersedia menjadi anak angkat Tia?" kata Kan taijin selanjutnya.

Kan Soat Cu langsung menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat. "Cici, tentu kau bersedia bukan?"

Gadis itu terdiam beberapa saat. Dia merasa terharu sekali. Untuk saat ini dia juga tidak mempunyai tujuan pasti. Memang ada baiknya dia tinggal di rumah orang tua dan gadis yang baik hati itu. Selelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

Kan Soat Cu langsung memeluknya erat-erat. Kan taijin tersenyum simpul. "Kalau memang kau sudah setuju, sekarang juga aku akan memberimu sebuah nama. Tentu saja kau harus mengikuti she ayah angkatmu ini. Sedangkan peresmiannya, kita rayakan malam ini saja. Aku akan mengundang beberapa orang temanku agar suasananya bertambah meriah." Kan taijin menoleh kembali ke arah putrinya. "Soat ji, bagaimana kalau ayah memberi nama Kan Hai Li kepada kakakmu ini?"

"Hai Li (Gadis laut)? Bagus sekali. Tia. Tapi entah cici menyenanginya atau tidak."

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Pada dasarnya dia memang tidak perduli nama apa pun yang akan diberikan kepadanya. Toh, lebih baik dari pada tidak punya nama sama sekali. Tapi setelah mendengar nama yang dipilih oleh Kan taijin. dia merasa sangat suka.  "Nama itu bagus sekali. Aku sangat menyukainya."

"Sejak pagi Tia sudah memikirkan hal ini. Lalu Tia terbentur lagi ketika hendak memilihkan nama. namun Tia teringat bahwa dia ditemukan di tengah lautan. Maka gadis yang cantik ini paling sesuai apabila diberi nama Hai Li."

Mulut gadis itu bergerak-gerak. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi hatinya masih bimbang. Kan taijin sempat memperhatikan gerak-geriknya itu. "Hai Li. Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya lembut.

"Kalau bisa. jangan terlalu banyak tamu yang diundang. Aku takut aku masih belum bisa menghadapi keramaian," kata Hai Li yang akhirnya mengungkapkan juga apa yang terkandung di dalam hatinya.

* * *

Orang-orang yang diundang memang tidak seberapa banyak, tapi termasuk See Bun To. Dia datang dengan dua orang pengawalnya. Meskipun Kan taijin kurang menyukainya tapi dia juga tidak ingin menunjukkan secara terang-terangan.

Kalau sampai yang lain diundan, sedangkan orang ini tidak, tentunya akan menyolok sekali.

Tak henti- hentinya See bun To memuji kecantikan Kan Hai Li yang baru diangkat menjadi anak oleh Kan taijin. Sudah tiga kali dia mengangkat cawan araknya dan menghormati Kan taijin.

"Benar-benar merupakan rejeki yang tidak kepalang besarnya bahwa dalam usia setua ini Kan taijin dapat mengangkat seorang anak seperti Kan Hai Li Siocia ini."

"Akh ... See bun Cong-su bisa saja ... Tapi apa yang dikatakan See bun Cong-su memang tepat. Aku hanya mempunyai seorang putri saja. Dan dia ini ... " Kan taijin menunjuk ke arah Kan Soat Cu yang duduk di sebelah kirinya. "Terus menggerutu ingin mempunyai saudara. Kebetulan sekali kami berhasil menyelamatkan anak angkatku ini, sehingga dari sekarang mempunyai teman untuk berbincang.”

See bun To mengantuk tidak henti-hentinya. Pandangan matanya menatap Kan Hai Li berulang kali. Seakan tidak bosan-bosannya dia memandangi kecantikan gadis itu. Sementara itu kedua pengawalnya yang berdiri di sudut ruangan sejak tadi saling berbisik antara satu dengan yang lainnya.

Waktu dengan cepat berlalu. Malam sudah larut ketika para tamu memohon diri. Kan Hai

Li dan Kan Soat Cu juga sudah masuk ke dalam kamar. Kalau tubuh Kan Soat Cu memang lemah, maka kesehatan Kan Hai Li juga belum pulih. Sekarang kedua gadis itu menempati kamar yang sama. Hubungan mereka dengan cepat menjadi akrab.

* * *

Di dalam gedung See bun To yang megah Laki-laki itu

minum arak cukup banyak. Sinar matanya menyala-nyala. Orang yang biasa menemuinya di dalam istana sehari-hari, memang sudah pada tahu bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Tapi sampai di mana ketinggian ilmu silat yang dikuasainya, tidak ada seorang pun yang tahu.

Setelah kembali dari pesta yang diadakan oleh Kan taijin, dia langsung membanting dirinya di atas kursi panjang.

"Bedebah! Mengapa nasib si tua bangka itu demikian beruntung? Bagaimana anak buahnya bisa menemukan seorang gadis yang begitu cantik dan bersedia pula diangkat anak olehnya? Huh!" See bun To menggerutu panjang lebar. Kedua pengawal yang mengikutinya ke pesta tadi saling lirik sejenak.

"Cong-su. " panggil salah satunya yang berusia agak lanjut.

"Jangan ganggu aku! Hatiku sedang kesal!" bentak See bun To.

Kedua orang itu terdiam lagi. Namun mata mereka masih saling lirik terus menerus.

"Hm. Tua bangka itu sudah menjadi duda. Jangan-jangan

dia hanya berpura-pura mengangkat gadis itu sebagai anak, padahal … “

"Maaf Cong-su, setahu kami Kan taijin bukan pejabat yang berhidung belang. ”

"Kalian tahu apa? Manusia itu paling pandai berpura-pura. Di luarnya kelihatan suci, di dalamnya busuk! Lebih baik seperti aku ini yang suka melakukan hal secara terang-terangan!"

Kembali kedua pengawal itu terdiam. Dalam hati mereka sebetulnya membantah kata-kata See bun To. Mereka tahu sekali bahwa lebih banyak hal-hal yang diperbuat orang ini dengan rahasia. Bahkan banyak orang yang menganggapnya agak misterius.

Salah satu dari kedua pengawal itu berdehem satu kali. Dia memberanikan dirinya mengatakan apa yang tersirat dalam hatinya. “Meskipun seandainya Kan taijin bermaksud buruk, tapi kalau sasarannya gadis yang satu ini, maka dia melakukan kesalahan besar," katanya.

Mendengar kata-katanya, See bun To langsung menoleh ke arahnya. "Heh? Tampaknya kau mengetahui sesuatu, sehingga kau bisa mengucapkan kata-kata itu!" "Justru hal inilah yang ingin kami sampaikan kepada Cong-su sejak tadi. Ilmu silat yang

dimiiiki gadis yang sekarang bernama Kan Hai Li itu cukup tinggi.”

See bun To semakin penasaran. "Apa sebetulnya yang ingin kau sampaikan? Bicara langsung saja! Tidak usah plintat- plintutl seperti itu!" bentaknya kesal.

"Cong-su, kami pernah bertemu dengan gadis itu. Oleh karena itulah kami terkejut ketika Kan taijin memperkenalkan sebagai anak angkat. Gadis itu adalah Tok-ku Hong!"

"Tok-ku Hong? Putri Tok-ku Bu-ti? Apakan kalian tidak salah lihat?" See bun To semakin terkejut.

"Kalau salah satu dari kami salah lihat, mungkin masih bisa dimaklumi. Masa kami berdua bisa salah lihat dalam waktu yang bersamaan?"

"Mengapa dia bisa berada di dalam gedung Kan taijin? Apakah dia mempunyai maksud tertentu sehingga pura-pura tertimpa musibah agar dapat ditemukan oleh para pengawal pembesar itu?"

"Itulah yang kami curigai sejak tadi. Dan Cong-su jangan lupa. Dia juga adik ayah lain ibu dengan Wan Fei Yang."

Alis See bun To semakin mengerut. "Hm ... Kalau begitu kalian harus tingkatkan kewaspadaan. Jangan-jangan Wan Fei Yang juga sudah berada di kota raja dan sedang menyelidiki keadaan kita. Perhatikan juga gerak-gerik gadis itu. Jangan sampai dia meninggalkan gedung keluarga Kan tanpa sepengetahuan kita!"

Kedua pengawal itu segera mengiakan. "Suruh beberapa orang kita untuk memeriksa keadaan di sekitar sini. Lihat apakah gadis itu memang datang bersama Wan Fei Yang?" kata See bun To selanjutnya.

Rupanya mereka tidak tahu bahwa Kan Hai Li mengalami lupa ingatan. Bahkan gadis itu sendiri sudah lupa bahwa dirinya ternyata Tok-ku Kong. Benturan yang dialami oleh Tok-ku Hong ketika terombang ambing di lautan cukup keras, tulang kepalanya saja sampai berdarah.

Tapi, siapakah See bun To sebenarnya? Mengapa seorang kepala komandan pengawal istana bisa mengenal Wan Fei Yang bahkan Tok-ku Bu-ti? Kalau ditilik dari pembicaraan mereka tadi, kecurigaan Kan laijin terhadapnya memang beralasan. Bagaimana kedua pengawalnya bisa mengetahui siapa Tok-ku long kalau mereka bukan terdiri dari orang-orang dunia kangouw?

* * *

Bu-tong-san memang sudah aman dari segala macam gangguan. Sejak kepergian Wan Fei Yang, hati Fu Hiong Kun semakin gelisah. Dia mulai tidak kerasan tinggal di atas Bu- tong-san. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk berkelana kembali di dunia persilatan.

Yo Hong terkejut sekali ketika mendengar kata-kata Fu Hiong Kun. "Fu kouwnio, Siau Fei pasti akan dalang kembali dalam jangka waktu yang tidak lama lagi. Sebaiknya kau tetap menunggu di sini saja."

Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya. "Aku bukan hendak mencari Wan Toako, tapi aku merindukan kehidupan bebas di dunia kangouw. Di luar sana banyak orang yang Membutuhkan uluran tanganku. Aku harap Yok toako bisa mengerti. Suatu hari nanti aku pasti akan datang lagi.”

Yo Hong masih berusaha membujuknya tapi rupanya tekad gadis itu sudah bulat. Hari itu juga dia menyiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan dalam perjalanannya nanti. Setelah itu dia meminta ijin kepada Yo Hong agar diperbolehkan masuk ke tempat penyimpanan abu para tokoh Bu tong pai. Dia ingin menyembah di depan perabuan Yan Cong Tian yang merupakan ayah angkatnya. Kemudian dia juga menyembahyangi makam Fu Giok Su. Akhirnya dia turun dari Bu-tong-san dengan diiringi pandangan mata beratus- ratus murid Bu-tong-pai.

Fu Hiong Kun tidak melakukan perjalanan dengan tergesa- gesa. Dia memang tidak mempunyai tujuan yang pasti.

Meskipun dia mengatakan kepada Yo Hong bahwa dia bukan hendak mencari Wan Fei Yang, tapi dalam hatinya dia berharap sekali dapat bertemu dengan anak muda itu.

Mantel yang dikenakannya sudah cukup tebal namun hawa dingin masih saja menyusup. Setelah berada di kaki gunung Bu tong, dia kerahkan tenaganya untuk berlari. Dengan demikian tubuhnya menjadi berkeringat dan hawa dingin tidak terasa lagi. Kadang-kadang dia berhenti apabila tubuhnya merasa agak lelah.

ledengan Wan Fei Yang.

Desa di dekat kaki gunung Bu tong san baru saja dilaluinya. Di jalanan tidak banyak orang yang berlalu lalang. Fu Hiong Kun berhenti di sebuah kedai arak dan membeli beberapa butir bakpao. Melihat bakpao-bakpao tersebut, ingatannya kembali ke masa perkenalannya dengan Wan Fei Yang.

Saat-saat manis seperti itu tidak pernah dirasakan lagi. Sudah terlalu banyak kejadian yang menimpa mereka berdua. Kalau bisa, Fu Hiong Kun ingin memutar kembali saat yang telah berlalu. Dia sadar semua itu hanya harapan kosong. Kakinya terus melangkah sambil mengenang masa lalu. Tahu-tahu dia sudah berada di dalam sebuah hutan yang lebat. Dipilihnya sebuah batu besar yang agak terlindung dari hujan salju. Dia duduk di sana sambil memakan bakpao yang dibelinya tadi. Kemana perginya Wan Fei Yang? Urusan apa yang harus diselesaikan olehnya? Fu Hiong Kun sudah berusaha untuk menebaknya, namun sia-sia saja. Tok-ku Bu-ti sudah mati, begitu pula kakek dan abangnya. Sudah terlalu banyak kematian yang dilihatnya. Dan dia merasa Wan Fei Yang tidak mempunyai musuh lagi di dunia ini. Apakah urusan yang akan diselesaikannya ada hubungannya dengan kepergiannya tempo hari?

Kepala Fu Hiong Kun menjadi pusing memikirkan masalah itu. Dia juga tidak tahu bagaimana nasibnya kelak. Dia sudah sebatang kara di dunia ini. Tidak ada orang yang dapat dijadikan tempat perlindungan. Sedangkan dia merasa tidak enak hati menyusahkan Wan Fei Yang terus menerus, walaupun anak muda itu tampaknya tidak keberatan. Dia sadar tugas yang dibebankan pada bahu anak muda itu masih banyak. Wan Fei Yang tentu saja tidak dapat mengurusnya seumur hidup, kecuali ...

Wajah Fu Hiong Kun menjadi merah padam memikirkan hal itu meskipun tidak ada seorang pun di sisinya. Saat itu dia merasakan ketenangan yang menyelimuti sekitarnya. Di

mana-mana hanya terlihat hamparan salju yang pulih bersih. Pemandangan itu membuat hatinya menjadi tentram.

Dia menggigit lagi bakpaonya sedikit demi sedikit. Tiba-tiba telinganya mendengar suara isak tangis seseorang. Matanya celingak-celinguk memandang ke sekitarnya, tapi dia tidak melihat apa-apa. Dipertajamnya telinganya untuk mendengarkan dengan seksama. Akhirnya dia tahu bahwa suara isak tangis itu berasal dari balik sebalang pohon yang besar.

Fu Hiong Kun berdiri dan berjalan dengan perlahan-lahan. Dia tidak mengira bahwa suara isak tangis yang didengarnya adalah suara hantu yang gentayangan. Lagipula mana ada hantu di hari yang masih terang seperti ini. Dia hanya meningkatkan kewaspadaannya. Siapa tahu suara isak tangis itu merupakan semacam pancingan yang akan mencelakakan dirinya. Pengalaman Fu Hiong Kun di dunia kangouw memang sudah cukup luas. Maklum saja karena sejak kecil dia memang sudah tidak betah tinggal di Siau Yau kok dan selalu berkelana mencari ilmu pengobatan di dunia kangouw.

Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat secepat kilat. Tahu-tahu dia sudah berdiri di hadapan orang yang sedang menangis itu. Dia adalah seorang gadis yang masih remaja sekali. Pantas saja Fu Hiong Kun tidak bisa menemukannya tadi ketika melongok ke kanan dan kiri, karena dia mengenakan sehelai mantel berwarna pulih yang membuatnya tidak berbeda dengan hamparan salju yang melapisi tanah itu.

Gadis cilik itu terkejut melihat kemunculan Fu Hiong Kun yang tidak disangka-sangka itu. Dia memandangi Fu Hiong Kun dengan mata terbelalak. Otaknya langsung berpikir tentang siluman rase yang sering diceritakan oleh orang-orang.

"Jangan takut, adik kecil," sapa Fu Hiong Kun dengan ramah.

Gadis cilik itu semakin mengerutkan tubuhnya ke batang pohon di belakangnya.

"Aku bukan setan, tapi manusia juga seperti engkau. Tadi aku mendengar kau menangis dengan sedih. Ada apa?

Katakanlah, siapa tahu aku dapat membantu," kata Fu Hiong Kun kembali dengan nada suara yang lebih lembut.

Gadis cilik itu menggelengkan kepalanya berulang kali. Bibirnya bergetar. Demikian juga seluruh tubuhnya. Fu Hiong Kun yang mengerti ilmu pengobatan segera mengetahui bahwa gadis cilik itu tidak berpura-pura. Malah tampaknya dia baru saja mengalami sebuah kejadian yang membuat batinnya terpukul hebat. "Di mana rumahmu? Apakah kau tersesat?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan keras. Fu Hiong Kun menjadi kewalahan. Akhirnya dia duduk di samping gadis itu sambil berdiam diri. Berkali-kali gadis itu melirik ke arahnya. Fu Hiong Kun pura-pura tidak tahu. Dia mengeluarkan bakpao yang masih tersisa dua butir itu dan memakannya dengan lahap. Gadis itu terus memandanginya. Fu Hiong Kun merasa tidak tega juga akhirnya. Dia menyodorkan bakpao itu ke tangan si gadis cilik.

"Makanlah ... kau tentu sudah lapar."

Dengan tangan gemetar gadis itu menerima bakpao yang disodorkan oleh Fu Hiong Kun. Dia memakannya dengan perlahan-lahan. Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya melihat keadaan gadis cilik tersebut. Kalau ditilik dari pakaiannya, dia pasti bukan dari keluarga susah, tapi hal apa yang membuatnya demikian ketakutan dan sedih ... ?

"Bolehkah kau beritahukan siapa namamu?" tanya Fu Hiong Kun hati-hati.

Gadis cilik itu memandanginya sampai lama sekali. Mulutnya mulai bergerak-gerak. "Liu. Siau ... Ling ... " sahutnya tersendat-sendat.

Suaranya lirih sekali. Untung saja Fu Hiong duduk di sampingnya sehingga dapat menangkap kata-katanya dengan jelas.

"Aku bernama Fu Hiong Kun. Di mana rumahmu? Maukah

kau kalau Cici mengantar mu pulang?" tanya Fu Hiong Kun sekali lagi.

Liu Siau Ling menggelengkan kepalanya "Aku. takut…” “Takut? Kenapa?” Fu Hiong Kun senang sekaligus penasaran.senang karena gadis cilik itu mulai mau berkata- kata. Penasaran karena dia ingin tahu kejadian apa sebetulnya yang menimpa diri gadis cilik itu.

"Ayah ... ibu ... koko dibunuh orang jahat ... "

Fu Hiong Kun terkejut sekali. "Siapa yang melakukan hal yang begitu keji?" desaknya segera.

"Aku tidak tahu ... mereka mengenakan topeng yang aneh ... "

Fu Hiong Kun menatap gadis itu dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Seluruh tubuhnya masih bergetar. Tampaknya dia tidak berbohong. "Lalu. bagaimana kau dapat melarikan diri?"

"Aku ... sedang ... bermain di ... luar ... rumah ... dengan ... anak tetangga ... Ketika tahu ... ayah dan ibu... serta koko telah dibunuh... oleh orang ..., jahat... mereka menyuruh... aku melarikan diri... secepatnya. "

Fu Hiong Kun iba sekali melihat gadis itu. Tanpa sadar dia melingkarkan tangannya memeluk bahu gadis itu. Liu Siau Ling sudah tidak akut lagi kepadanya. Dia menangis tersedu- sedu dalam pelukan Fu Hiong Kun.

"Siau Ling, ternyata nasibmu juga malang sekali. Oh Thian, mengapa kau selalu membiarkan aku bertemu dengan orang- orang yang mempunyai kehidupan demikian tragis!" Pelukannya semakin erat. "Siau Ling, mari kau ikut dengan Cici." Dia menarik tangan gadis itu lalu menyeretnya berlari meninggalkan tempat itu.

* * *

Liu Siau Ling sudah tertidur dengan nyenyak. Gadis cilik berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun itu baru bisa pulas sejak kemarin. Fu Hiong Kun memberi semacam obat yang dapat memulihkan kekuatan tubuhnya. Tentunya gadis cilik itu berlari tanpa mengenal arah, tubuhnya memang sudah letih sekali.

Fu Hiong Kun keluar dari kamar secara diam-diam. Tidak lupa dia meniup lilin di dalam kamar sehingga keadaan di dalam menjadi gelap gulita. Dengan berbuat demikian, tentu tidak ada orang yang tahu kalau salah satu dari mereka tidak berada dalam kamar.

Angin bertiup dengan kencang. Fu Hiong Kun menaikkan mantelnya lebih tinggi supaya bagian lehernya tertutup rapat. Dia mengerahkan ginkangnya dan berlari sekuat tenaga.

Tujuannya melakukan perjalanan malam-malam adalah untuk menyelidiki kebenaran cerita Liu Siau Ling. Hatinya tidak ragu akan keterangan gadis cilik itu. Namun dia ingin tahu apa sebabnya sampai keluarga itu dibunuh oleh orang jahat.

Apakah mereka dirampok? Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, dia belum berani memastikan.

Fu Hiong Kun bukan jenis manusia yang suka mencampuri urusan orang lain. Tapi karena hatinya terlalu baik, dia selalu tidak tega melihat penderitaan yang berlangsung di depan matanya. Dia harus menyelidiki apakah gadis cilik itu masih mempunyai sanak saudara yang lain agar dia bisa menitipkan Liu Siau Ling cepada orang itu. Tidak mungkin baginya membawa gadis kecil itu berkelana di dunia kangouw yang penuh bahaya ini.

Malam belum terlalu larut, tapi desa yang cukup besar itu sudah sunyi senyap. Hal ini tidak seperti biasanya. Mungkin karena baru terjadi pembunuhan atas keluarga Liu Siau Ling itulah sehingga mereka menutup pintu himah rapat rapat. Fu Hiong Kun mengitari jalan raya yang dihiasi dengan rumah- rumah mewah. Dia yakin salah satu dari rumah itu adalah rumah keluarga Liu Siau Ling. Tapi dia tidak tahu yang mana. Cukup lama dia mondar-mandir sambil memutar olaknya.

Akhirnya pikiran gadis itu tergerak. Kalau seandainya seisi rumah Liu Siau Ling tidak ada yang hidup lagi, pasti rumah itu kosong sekarang. Rumah yang kosong tentu tidak ada penerangan sama sekali. Dia segera menyusuri jalan raya itu perlahan-lahan. Dia memperhatikan dengan seksama rumah mana yang tidak ada penerangannya sama sekali.

Kemudian dia pun melihat rumah tersebut. Rumah itu lebih besar dari rumah lainnya. Namun keadaan di dalam maupun di luar gelap sekali. Di rumah-rumah yang lain pasti tergantung sebuah lentera di depan pintu. Hanya rumah ini yang tidak. Fu Hiong Kun memperhatikan sekitarnya. Tidak terlihat bayangan seorang pun. Cepat dia melesat ke atas tembok rumah dan menyelinap ke dalam pekarangan.

Dengan mengendap-endap Fu Hiong Kun masuk ke ruangan depan. Gerakannya sangat berhati-hati. Dia tidak tahu apakah masih ada musuh yang menunggu di dalam rumah itu. Kalau ditilik dari kematian abang Sau Ling yang dibunuh sekalian.

Kemungkinan besar pembunuh itu memang berniat menghabisi seluruh keluarga Liu tersebut. Mereka pasti tahu bahwa masih ada seorang gadis yang luput. Liu Siau Ling mengatakan bahwa pembunuh itu lebih dari lima orang, mereka mengenakan topeng yang aneh. Padahal gadis cilik itu tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia juga hanya mendengar dari keterangan para tetangganya. Apakah kala-kata mereka dapat dipercaya?

"Bluk!" Hati Fu Hiong Kun tersentak. Kewaspadaannya ditingkatkan. Tapi sejenak kemudian dia menghela nafas lega karena matanya yang tajam melihat benda-benda kecil yang berlarian. Tikus! Fu Hiong Kun mengelilingi seluruh ruangan dalam rumah itu. Setelah yakin tidak ada apa-apa lagi. Dia keluar kembali.

Jalan raya masih sesunyi tadi. Fu Hiong Kun mempertimbangkan sejenak apa yang harus dilakukan olehnya selanjutnya. Kemudian dia berjalan ke gedung yang terdapat di sebelahnya. Dia harus pura-pura seperti gadis yang kemalaman di jalan. Diketuknya pintu rumah itu perlahan-lahan. Setelah itu dia menunggu sebentar.

Tidak lama kemudian seorang laki-laki berusia setengah baya yang dapat dipastikan merupakan tukang pukul bayaran melongokkan kepalanya lewat celah pintu yang dibukanya.

Melihat Fu Hiong Kun berdiri di depan pintu, dia agak terpana sesaat. Setelah kejadian yang menimpa keluarga Liu, mau tidak mau mereka meningkatkan kewaspadaannya. Laki-laki berusia setengah baya dengan cambang lebat itu menatap Fu Hiong Kun.

"Loheng, maaf mengganggu, Siau li kemalaman di perjalanan

... "

"Toako. siapa yang datang?" Tiba-tiba dari belakang laki laki itu terdengar suara langkah mendatangi.

Laki-laki bercambang lebat itu menolehkan kepalanya sedikit. "Seorang gadis yang kemalaman di jalan," sahutnya.

"Kalau boleh, Siau li ingin bertemu dengan tuan rumah dan menanyakan kalau-kalau Siau li boleh menumpang barang satu malam saja." Fu Hiong Kun melanjutkan kata-katanya.

Laki-laki bercambang lebat itu menguakkan pintu rumah lebar- lebar. Setelah itu dia menoleh ke arah iaki-laki yang ada di belakangnya.

"Ji te, kau tunggu di sini. Aku akan masuk dan laporkan kepada Song Laopan ... "

Laki-laki itu langsung masuk ke dalam. Sedangkan orang yang dipanggilnya Ji te itu juga memperhatikan Fu Hiong Kun dari atas kepala sampai ke ujung kaki.

"Siapa nona ini dan kemana tujuan nona sehingga kemalaman di jalan?" tanya laki-laki itu dengan nada menyelidik. "Siau li bernama Fu Hiong Kun. Dari Bu tong san ingin mencari seorang kawan yang sedang menetap di rumah pamannya di desa seberang bukit." Fu Hiong Kun mengatakan nama aslinya, tapi dia memberi keterangan palsu tentang tujuannya.

Laki-laki itu agak terkejut mendengar kata-kata itu. Maklum saja, desa itu memang tidak terlalu jauh dari Bu tong san. Mungkin mereka juga sudah pernah mendengar peristiwa yang berturut-turut terjadi di sana.

"Kau ... kau adik Fu Giok Su, bekas Ciang bun jin Bu-tong-pai itu?" tanyanya dengan mata terbelalak.

Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya. Dia merasa tidak ada perlunya menutupi siapa dirinya. Kalau dia berbohong dan kebetulan ada yang mengenalinya, urusan bisa bertambah runyam.

Baru saja laki-laki itu ingin bertanya lagi, dari belakang punggungnya terdengar suara langkah kaki beberapa orang. Seorang laki-laki berusia lanjut dengan warna rambut sudah memutih keluar dengan diiringi oleh laki-laki pertama kali.

Disampingnya juga ada seorang pemuda yang masih remaja. Usianya paling banter lima belas tahunan. Aneh rasanya melihat orang yang sudah tua tapi anaknya masih sekecil itu.

Laki-laki kedua yang dipanggil Ji te segera menggeser ke samping. Orang tua yang kemungkinan pemilik rumah itu memandangi Fu Hiong Kun dengan tatapan curiga.

“Lopek ... " sapa Fu Hiong Kun sopan.

Laki-laki yang kedua tadi segera maju ke depan. "Laopan, aku sudah tahu siapa gadis ini. Rasanya tidak apa-apa kalau dia menumpang barang semalaman saja." "Oh?" Orang tua itu yang dipanggil Song Laopan itu menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya.

"Dia adalah Fu Hiong Kun yang ramai dibicarakan orang- orang. Dialah yang berkali-kali menolong Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang!"

Mulut laki-laki tua itu langsung melongo mendengar keterangan tukang pukulnya, tapi sekejap kemudian mimik wajahnya normal kembali. "Mari masuk ... Lohu kira siapa orangnya yang ingin menumpang di sini, rupanya Fu kouwnio. Perlu Kouwnio ketahui, sejak dulu Lohu paling mengagumi Bu- tong-pai. Lohu selalu mencari tahu apa yang terjadi di sana," kata Song laopan sambil mengiringi Fu Hiong Kun masuk ke dalam rumah.

Diam-diam hati Fu Hiong Kun senang sekali. Ternyata dia menemukan alamat yang tepat. Dia dapat mengajukan berbagai pertanyaan tentang keluarga Liu kepada orang tua ini. Mereka masuk ke dalam ruang tamu yang luas. Fu Hiong Kun dipersilahkan duduk oleh orang tua tersebut.

"Terima kasih, Song Laopan. Di mana Song Hujin, kalau boleh boanpwe ingin berkenalan," kata Fu Hiong Kun dengan gaya sopan sekali.

Song laopan menarik nafas panjang. "Hujin Lohu sudah lama meninggal dunia sejak putra Lohu ini dilahirkan. Tubuhnya memang kurang sehat. Itulah sebabnya lama kami tidak mendapatkan anak. Siapa sangka begitu melahirkan ... "

Itulah sebabnya usia orang tua itu sudah cukup lanjut. Paling tidak di atas enam puluh tahun tapi putranya baru belasan. Fu Hiong Kun merasa tidak enak hati menimbulkan kembali kenangan sedih orang tua itu.

"Boanpwe minta maaf ... " "Fu Kouwnio jangan berkata demikian. Orang yang tidak tahu tidak dapat disalahkan."

Seorang pelayan keluar membawa sebuah nampan berisi teko dan dua buah cangkir teh. Dia meletakkannya di atas meja kecil yang terdapat di samping Fu Hiong Kun.

"Kouwnio, silahkan.'" kata Song laopan menawarkan.

Fu Hiong Kun mengangkat cawannya serta menganggukkan kepalanya sedikit. Dia minum teh itu barang beberapa teguk, kemudian diletakkannya cangkir tersebut kembali di atas meja.

"Kemana tujuan Fu kouwnio sehingga melakukan perjalanan malam-malam seperti ini?"

Fu Hiong Kun melirik ke bocah laki-laki yang berdiri di samping ayahnya. Song laopan segera mengerti bahwa Fu Hiong Kun tidak akan mengatakan di hadapan anak yang masih kecil itu. "Siang ji, masuklah ke dalam. Hari sudah larut malam," katanya.

Bocah laki-laki itu segera mengiakan dan mengundurkan diri ke dalam rumah.

"Aikh ... " Song laopan menarik nafas panjang. "Anak itu sudah kehilangan ibunya sejak bayi. Jadi dia manja sekali kepada Lohu ... "

Fu Hiong Kun tersenyum penuh pengertian. "Hal itu memang sudah lumrah. Song laopan tidak perlu ambil hati."

"Oh ya ... sampai di mana pembicaraan kita tadi?" tukas Song laopan.

Fu Hiong Kun menatap orang tua itu sejenak. Kemudian dia menarik nafas panjang. "Sebelumnya boanpwe ingin minta maaf dulu. Apakah Song Laopan mengenal Yan gihu almarhum?"

"Gihu? Oh ya, Lohu lupa ... kau tentunya gadis yang diangkat anak oleh Yan taihiap. Lohu tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi setiap kali Bu-tong-san mengadakan acara apa saja. Lohu termasuk orang yang diundang. Lohu bukan orang dunia persilatan, tapi karena lohu senang bergaul, maka banyak juga kenalan dari dunia kangouw."

"Tentunya Song laopan seorang yang dermawan sekali dan sering memberikan sumbangan untuk orang-orang yang miskin sehingga Song laopan dikenal baik oleh seluruh kalangan masyarakat sekitar," sahut Fu Hiong Kun.

Wajah Song laopan agak tersipu-sipu mendengar pujian Fu Hiong Kun.

"Kalau dengan Ci Siong to jin, Lohu cukup dekat. Beberapa kali Lohu naik ke Bu tongsan dan berbincang-bincang dengan almarhum Ciang hun jin Bu-tong-san itu." Sekali lagi Song laopan menarik nafas panjang. "Usia kami tidak terpaut jauh, dia malah sudah mendahului Lohu. Umur manusia memang tidak dapat diraba dengan mata hati. Hanya Thian yang tahu kapan saatnya tiba bagi kita untuk kembali menjadi tanah."

Hati Fu Hiong Kun sudah mulai mempercayai kata-kata orang tua ini. Tapi dia masih bertindak hati-hati. "Tadi boanpwe mengetuk pintu rumah di sebelah. Ternyata rumah itu kosong. Apakah penghuninya sedang pergi atau memang rumah itu sudah lama kosong?" tanya Fu Hiong Kun menyelidik.

Mata orang tua itu menerawang. Kembali dia menarik nafas panjang. "Tidak ... rumah itu baru kosong sejak kemarin.

Penghuninya tidak pergi kemana-mana, tapi sudah mati semua. Liu Loheng itu adalah sahabat karibku. Lohu sendiri tidak mengerti mengapa dia bisa bermusuhan dengan orang dunia kangouw. Dia adalah seorang hartawan yang sangat baik hati. Dia juga dermawan sekali. Namun dalam waktu kurang dari satu kentungan saja seluruh keluarganya habis dibantai. Hanya para pelayan saja yang tidak ... "

"Di mana para pelayan itu sekarang?" tanya Fu Hiong Kun tanpa sadar.

'Tentu saja kabur. Mereka sudah ketakutan setengah mati melihat kedua majikan dan seorang putranya dibantai habis- habisan. Namun ada satu hal yang Lohu tidak mengerti ..."

"Apa?" desak Fu Hiong Kun.

"Menurut para pelayan yang sempat menyaksikan orang- orang yang membunuh Liu loheng itu. mereka terdiri dari lima orang yang mengenakan topeng aneh-aneh dan berwarna warni. Kalau seandainya mereka merupakan orang-orang yang mempunyai dendam sedalam lautan dengan keluarga Liu, biasanya mereka membantai habis seisi rumah, bahkan sampai binatang pun tidak dibiarkan hidup. Tapi yang ini tidak. Mereka hanya membunuh pemilik rumah dan anaknya. Para pelayan dibiarkan hidup. Kalau dibilang tujuan mereka hanya merampok, tidak ada barang apa pun yang diambil. Para pelayan keluarga itu semua memastikan hal ini. Jadi siapa mereka sebenarnya?"

Hati Fu Hiong Kun tidak ragu lagi. Dia sudah tahu bahwa Song laopan ini orang yang bisa dipercaya. "Song laopan ... "

"Fu Kouwnio jangan memanggil Lohu dengan sebutan demikian. Lohu merasa tidak pantas menerimanya. Panggil saja Lopek ... "

Fu Hiong Kun tersenyum tipis. "Baiklah, Song lao ... Lopek ... Sebetulnya boanpwe datang ke sini bukan tanpa tujuan atau seperti yang boanpwe jelaskan tadi."

"Oh?" Song Laopan memandang Fu Hiong Kun dengan tatapan kurang mengerti. "Bukankah keluarga Liu masih mempunyai seorang putri cilik yang bernama Liu Siau Ling?" tanya Fu Hiong Kun.

Song laopan menganggukkan kepalanya. "Bagaimana Fu Kouwnio bisa tahu?" Dia balik bertanya kepada Fu Hiong Kun dengan pandangan heran.

"Gadis itu sekarang ada di penginapan di desa seberang bukit. Tadinya boanpwe menemukan dia sedang menangis seorang diri di tengah hutan. Kemudian dia menceritakan semuanya kepada boanpwe. Itulah sebabnya boanpwe datang ke dusun ini. Boanpwe ingin menyelidiki apakah ceritanya benar. Kalau memang apa yang dikatakannya merupakan kenyataan, boanpwe juga ingin menanyakan apakah dia masih memiliki sanak famili yang lain di mana dia bisa dititipkan untuk kemudian hari?"

Mata Song laopan membelalak mendengar keterangan itu.

"Syukur kepada Thian yang Kuasa. Lohu tidak bisa tidur sepanjang malam justru memikirkan nasib putri sahabat Lohu itu. Tidak tahunya Siau Ling sudah diketemukan oleh Fu kouwnio. Setahu Lohu, Liu loheng mempunyai seorang adik yang tinggal di Lok Yang. Dia adalah seorang pedagang besar. Dia mempunyai toko cita yang besar sekali di kota tersebut. Tentu tidak sulit menemukannya. Tapi entah Siau Ling akrab atau tidak dengan keluarga pamannya. Kasihan sekali gadis cilik itu, seandainya dia bersedia, Lohu tidak keberatan menampungnya." sahut Laopan itu sambil menarik nafas panjang berulang kali.

"Boanpwe hargai sekali tawaran Song lopek. Tapi untuk sementara lebih baik Siau Ling jangan tinggal di daerah ini. Seandainya pembunuh-pembunuh itu ingin membantai habis seluruh keluarga Liu, mereka tentu tidak akan membiarkan Siau Ling lolos. Biar nanti Boanpwe antar dia ke rumah Siok- sioknya Lok Yang." "Aih. Lohu benar-benar tidak mengerti. Orang seperti kami

justru ingin hidup dalam ketenangan. Tidak seperti orang kangouw yang setiap hari menghadapi bahaya. Nyatanya hidup memang bukan merupakan suatu ketenangan. Buktinya keluarga Liu yang tidak tahu menahu urusan dunia kangouw tetap terbunuh juga oleh orang jahat."

Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Dia sendiri pernah mempunyai keinginan untuk mengasingkan diri menjadi rakyat biasa. Tapi kalau melihat dari kenyataan yang dihadapinya sekarang. Omongan Song laopan memang tepat. Apabila takdir hidup kita telah menentukan, sebagai apa dan di manapun tetap saja ada orang yang mengganggu ketenangan kita.

"Song Lopek, siapakah Liu loheng itu sebenarnya? Maksud boanpwe, apa pekerjaannya? Mungkin dari sana kita bisa telusuri mengapa dia sampai dibunuh orang jahat?"

Song laopan menganggukkan kepala berulang kali. "Lohu juga beranggapan demikian. Tapi setelah dipikirkan kembali rasanya tidak masuk akal."

"Apa yang membuat Lopek berpikiran demikian?"

"Setahu Lohu, Liu loheng mempunyai sebuah perusahaan ekspedisi di kota Sen Hu. Tapi dia mempunyai wakil yang dipercayai sehingga dia sendiri hampir tidak pernah menginjak tempat itu. Kalau dia tidak pernah berhubungan langsung dengan langganannya, tentu mereka juga tidak tahu siapa pemilik piauw-kiok tersebut. Mengapa dia yang harus dibunuh? Seharusnya, apabila ada dendam antara langganan dengan pihak Piauwkiok itu, wakil Liu loheng yang mengurus segalanyalah yang harus dicari."

"Benar juga. Urusan ini semakin aneh. Siapa pula para

pembunuh yang menyatroni rumahnya itu?" Fu Hiong Kun semakin bingung memikirkan peristiwa yang tidak masuk akal itu.

"Entahlah... mereka mengenakan topeng. Mungkin mereka takut wajah mereka dikenali. Atau mereka adalah keluarga dekat Liu loheng?"

Wajah Fu Hiong Kun menjadi pucat. "Kalau benar dugaan Lopek, tentu tidak aman apabila kita menitipkan Siau Ling ke rumah Siok-sioknya. Lebih baik boanpwe bawa dulu ke Bu tong san dan nanti baru dipertimbangkan lagi setelah melihat perkembangan selanjutnya."

Tanpa menunda waktu lagi Fu Hiong Kun langsung memohon diri. Song laopan mengerti dia masih mempunyai urusan lain yang harus diselesaikan. Orang tua itu juga tidak menahan Fu Hiong Kun. Dia hanya berpesan agar gadis itu mampir lagi kapan-kapan.

* * *

Fu Hiong Kun seperti orang kalap. Sesampainya di penginapan, dia langsung membangunkan Siau Ling. Ditariknya anak itu berlari seakan kesetanan. Pagi hari mereka sudah sampai di Bu-tong-san.

Tentu saja Yo Hong bingung melihat Fu Hiong Kun balik lagi membawa seorang gadis cilik. Dia langsung menyambut kedatangan Fu Hiong Kun. "Fu kouwnio, mengapa kau balik lagi?" tanyanya gugup.

"Ceritanya panjang sekali, Yo Toako. Tapi nanti biar Siau Ling yang menjelaskannya. Aku harus segera berangkat lagi ... " Fu Hiong Kun menoleh kepada Liu Siau Ling dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia memang kasihan sekali terhadap anak gadis yang masih kecil ini. "Siau Ling ... kau tinggallah di sini bersama para siok siok ini. Cici akan menyelidiki apa yang telah terjadi sehingga musibah menimpa kedua orang tuamu. Tidak usah takut. Kau aman di sini."

"Cici, aku tidak takut lagi. Para Siok-siok ini kelihatannya baik- baik, tapi Cici jangan pergi lama-lama ... "

Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya dengan terharu, pandangan matanya beralih kepada Yo Hong. "Yo Toako. aku menitipkan anak ini di sini. Namanya Siau Ling. Nasibnya malang sekali, harap Yo Toako bersedia merawatnya baik- baik."

Meskipun banyak pertanyaan yang menyelimuti hati Yo Hong, tapi dia melihat Fu Hiong Kun sedang tergesa-gesa. Biarlah nanti perlahan-lahan dia akan menanyakan persoalannya Siau Ling.

"Jangan khawatir, Fu Kouwnio. Selesaikanlah urusanmu. Tapi harap kau berhati-hati. Di dunia kangouw banyak manusia yang licik. Kami akan menjaga Siau Ling baik-baik."

F'u Hiong Kun menganggukkan kepalanya. Setelah mengelus- elus rambut Siau Ling. dia langsung menghentakkan kakinya dan meninggalkan tempat itu. Siau Ling memandanginya dengan tatapan terpesona. Gadis itu bagai seorang bidadari baginya.

Yo Hong juga memandangi sampai bayangan gadis itu menghilang di kejauhan. Kemudian dia menarik nafas panjang. Dia menoleh kembali kepada Siau Ling. "Namamu Siau Ling bukan? Mari ikut Siok-siok ke dalam," ajaknya.

* * *

Kesehatan Kan Hai Li sudah sembuh secara keseluruhan. Hanya pikirannya saja yang masih belum kembali. Tapi kadang-kadang tanpa sadar dia melakukan pekerjaan yang sudah rutin dilakukannya setiap hari. Seperti sekarang ini. Dia duduk bersila di taman bunga sambil mengatur hawa murninya. Sejak kecil dia memang selalu berlatih ilmu silat setiap pagi hari. Hal ini seakan sudah mendarah daging baginya. Dia tidak tahu darimana dia mempelajari ilmu itu, tapi dia bisa melakukannya dengan baik tanpa perlu memakai pikirannya lagi. Itulah salah satu sebab mengapa kesehatannya cepat pulih.

Ong Taihu yang tadinya tidak tahu merasa heran melihat kekuatannya yang pulih dalam waktu yang singkat. Tapi setelah dia mengetahui bahwa sejak kecil ternyata gadis ini sudah melatih ilmu silat, dia tidak heran lagi. Tentu saja ketahanan tubuhnya melebihi orang biasa.

Setelah berlatih kurang lebih dua kentungan, Kan Hai Li duduk di atas sebuah batu sambil termenung. Kan Soat Cu yang baru bangun tidur mencarinya kemana-mana. Akhirnya dia ingat kalau cici angkatnya setiap pagi-pagi sekali selalu sudah berada di taman dan berlatih ilmu pernafasan.

"Hai Li Cici ... !"

Kan Hai Li tersentak dari lamunannya. Dia memandang Kan Soat Cu sambil mengembangkan seulas senyuman. "Soatmoay ... kau sudah bangun?"

Kan Soat Cu menganggukkan kepalanya. "Sioumoay lihat Cici sedang melamun, apa sebenarnya yang Cici pikirkan? Masih memusingkan riwayat hidup Cici?" tanya gadis itu dengan nada lembut.

Kan Hai Li alias Tok-ku Hong yang lupa akan masa lalunya itu segera menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang Cici pikirkan ... "

"Lalu apa?" tanya Kan Soat Cu sambil duduk di sampingnya.

"Cici sedang berpikir kalau Ong Taihu datang memeriksa Soatmoay, Cici ingin menanyakan suatu hal kepadanya ... " Kan Soat Cu memandangnya dengan heran. "Tentang apa?" Kan Hai Li tersenyum lebar.

"Lihat, belum apa-apa kau sudah cemas. Bukan apa-apa. Kau kan tahu Cici terluka cukup parah ketika ditemukan. Entah mengapa tanpa Cici sadari, Cici selalu keluar ke taman ini dan berlatih ilmu pernafasan. Ilmu itu bagai sudah tercetak di luar kepala Cici. Tapi setelah berlatih ilmu ini, kesehatan Cici jadi cepat pulih. Cici ingin menanyakan apakah ada manfaatnya bagi Soatmoay seandainya Cici menurunkan ilmu pernafasan ini kepada Soat-moay?" kata gadis itu menjelaskan.

Wajah Kan Soat Cu berseri-seri seketika. Betul Cici mau mengajarkan Soatmoay ilmu silat?"

Kan Hai Li tertawa terkekeh-kekeh. "Ilmu silatnya sih nanti dulu. Sebelum mempelajari ilmu silat, orang harus mempelajari lwekang lulu. Bagaimana bisa berkelahi kalau tidak apal mengerahkan tenaga dalam?"

Kan Soat Cu menjadi tersipu-sipu mendengar keterangannya. "Rupanya kesehatan Cici memang sudah pulih secara keseluruhan!" Dia nenarik nafas panjang. "Tapi tubuh Soatmoay ini memang lemah sejak kecil. Entah apakah ada faedahnya kalau Siau moay mempelajari mu pernafasan itu?"

"Itulah sebabnya Cici mengatakan bahwa nanti kita minta dulu penjelasan dari Ong taihu ..."

Kan Soat Cu bersemangat kembali. "Tidak usah menunggu nanti. Sekarang juga Soat Moay akan meminta Cing Cing mengundangnya kemari ... "

Kan Hai Li menggelengkan kepalanya. "Sifatmu tampaknya tidak sabaran," sahutnya sambil tersenyum. Kan Hai Li alias Tok-ku Hong tidak tahu bahwa adatnya sendiri jauh lebih keras lagi sebelumnya. Hanya karena dia terluka parah di kepala sehingga ingatannya hilang, maka ketika berhasil selamat dari bahaya, adatnya seperti orang yang baru dilahirkan. Gadis itu sudah kehilangan sifat keras kepalanya. Bahkan sekarang sikapnya lembut dan diam. Dia tidak perduli urusan orang lain. Bahkan dia juga tidak perduli ketika beberapa tamu ayah angkatnya memandangnya dengan tatapan aneh. Coba kalau dulu, dia pasti akan mencabut sepasang goloknya dan menantang orang yang menatapnya dengan pandangan sedemikian rupa.

"Habis Cici sih yang memberikan harapan buat Soatmoay,” Selesai berkata dia langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Setelah memberi pesan kepada Cing Cing, dia keluar lagi ke taman untuk menemani Kan Hai Li.

Gadis itu sudah termenung kembali.

"Hai Li Cici ... jangan selalu termenung begitu. Hati Soatmoay jadi tidak tenang melihatnya!"

Kan Hai Li menarik nafas panjang. "Kadang-kadang di benak Cici seperti ada sedikit ingatan yang terlintas, tapi selalu dalam bentuk berbeda-beda. Hujan yang deras, rumah yang kebakaran Apakah rumah Cici kebakaran sehingga orang

tua Cici semua mati dan Cici terlunta-lunta di dunia kangouw?" Dia menggelengkan kepala.

"Cici. Jangan terlalu dipaksakan. Soatmoay tahu persis

peristiwa ini sulit sekali bagimu. Tapi seandainya dugaan soat moay benar, mungkin lebih baik keadaan Cici seperti sekarang ini "

"Dugaan apa?" tanya Kan Hai Li.

"Soatmoay juga sering memikirkan peristiwa yang menimpa diri Cici. Jangan-jangan Cici memang membunuh diri dengan terjun ke dalam lautan. Kalau memang benar demikian, pasti Cici mengalami pukulan batin yang dalam sehingga Cici putus asa menghadapi kehidupan ini. Seandainya benar demikian, bukankah lebih baik keadaan Cici yang sekarang ini lebih baik, melupakan semua peristiwa yang telah menimpa Cici?”

Kan Hai Li tertegun. "Jadi kau mengira kejadiannya seperti itu?"

Kan Soat Cu mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu.

"Habis apa lagi penjelasannya. Kalau ditilik dari ilmu silat Cici yang tinggi. Cici ditemukan di tengah lautan, bukan karena perkelahian. Apabila Cici menghadapi musuh, mengapa di tubuh Cici tidak terdapat luka senjata tajam? Jadi satu-satunya penjelasan yang dapat diterima oleh akal sehat adalah Cici sengaja hendak membunuh diri karena mengalami kejadian yang tragis ... "

Hai Li semakin termangu-mangu. "Kata katamu itu tadi sempat membuat sebuah ingatan melintas, tapi terlalu cepat sehingga Cici tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Pasti ada hubungannya dengan kata-katamu."

"Kata-kata apa?" tukas seseorang yang ban masuk dari halaman depan. Dia adalah Ong Taihu yang diundang ke sana oleh Cing Cing.

Kedua gadis itu segera menolehkan ke palanya. "Ong Taihu ... Kami memang sedang menunggu kedatanganmu. Tidak apa- apa. Kami hanya mengobrol sepintas lalu," sahut Kan Soat Cu sambil mempersilahkan tabib itu masuk ke dalam rumah.

Kan Taijin juga baru keluar dari kamarnya. Dia heran melihat pagi-pagi Ong Taihu sudah berada di gedung kediamannya.

"Selamat pagi, Kan Taijin. Jangan menatap cayhe dengan pandangan seperti itu. Kedua putri Kan Taijin yang mengundang kemari pagi-pagi. Cayhe juga terkejut sekali. Cayhe kira penyakit Siocia kambuh lagi. Ternyata Cing Cing menjelaskan bahwa keadaan kedua Siocianya baik-baik saja. Mereka hanya ingin berbicara tentang suatu hal denganku ... "

"Oh ... Silahkan duduk Ong Taihu ... Kedua anak gadis Lohu ini semakin lama semakin banyak macamnya. Maklumlah ... terlalu dimanja ... " Kan Taijin terbahak-bahak.

Kan Hai Li ikut-ikutan tersenyum. Sedangkan Kan Soat Cu langsung merajuk. "Tia ... kau selalu menggoda kami. Kali ini kami mengundang Ong Taihu karena Hai Li Cici ingin menanyakan sesuatu hal yang serius ... "

Baik Ong Taihu maupun Kan Taijin langsung menolehkan kepalanya ke arah Kan Hai Li serentak. Mereka memandangnya dengan pandangan mengandung pertanyaan.

"Begini Ong Taihu ... mungkinkah ingatan yang hilang dapat melakukan hal-hal yang sudah terbiasa dilakukannya sejak kecil?"

"Bisa ... seperti makan saja. Biarpun orang yang hilang ingatan akibat kecelakaan maupun orang yang terlalu dalam mendapatkan tekanan batin, mereka masih tidak melupakan bagaimana cara memakan hidangan yang disajikan bukan? Mengapa Siocia menanyakan hal ini?"

Kan Hai Li menarik nafas panjang.

"Siau li sudah mencoba mengingat masa lalu Siau li, tapi tetap saja nihil hasilnya. Sebagaimana Ong Taihu ketahui, setiap pagi Siau li selalu bangun sebelum matahari terbit dan melatih ilmu silat di taman bunga. Siau li tidak tahu apa nama-nama jurus yang Siau li mainkan. Tapi Siau li dapat melakukannya dengan baik. Begitu juga dengan ilmu pernafasan. Siau li melakukannya setiap pagi. Lambat laun badan terasa segar dan luka Siau li pun cepat pulih. Yang ingin Siau li tanyakan, apakah ada manfaatnya bagi Soatmoay apabila Siau li mengajarkan ilmu pernafasan ini kepadanya?"

Tabib Ong termangu-mangu mendengar keterangan tersebut. Dia sendiri tidak pernah terpikir akan hal itu. Mengapa dia tidak mencobanya?

"Bagus sih bagus. Tapi setiap hari di dunia kangouw mempunyai variasi ilrnu Iwekang masing-masing. Cayhe harus mengetahui dahulu kunci ilmu pernafasan Siocia baru dapat menentukan kemudian ... "

Wajah Kan Taijin jadi berseri-seri. Seandainya usul yang dicetuskan oleh Kan Hai Li berhasil menguatkan tubuh anaknya, berarti dia benar-benar mempunyai rejeki besar sehingga bisa mengangkat seorang putri seperti Kan Hai Li.

"Baiklah ... " sahut Kan Hai Li. "Mari kita ke ruang perpustakaan. Siau li akan tunjukkan cara menjalankan ilmu pernafasan yang Siau li latih itu."

Kan Soat Cu dan Kan Taijin tidak ikut mereka masuk ke dalam kamar perpustakaan. Mereka mengerti keduanya tentu harus memusatkan perhatian dan tidak boleh diganggu sama sekali.

Mereka berdua menunggu dengan hati tegang. Menit-deini menit berlalu. Sampai menjelang tengah hari, keduanya baru keluar dari ruang perpustakaan. Wajah Kan Hai Li pucat sekali. Tentunya dia harus berusaha dengan susah payah untuk menjelaskan kepada Ong Taihu rumus ilmu pernafasan yang dipelajarinya. Bagaimana tidak susah kalau dia lupa nama setiap jalan darah yang ada di dalam tubuhnya. Setiap kali mengalirkan hawa murni ke suatu urat darah, dia terpaksa harus menggunakan waktu cukup lama untuk menjelaskan kepada Ong Taihu apa yang dimaksudkan olehnya.

Wajah Ong Taihu juga tampak letih. Tapi masih terlihat sedikit kegembiraan di wajahnya itu. Hati Kan Soat Cu langsung berharap agar dia mengatakan kabar yang baik.

"Bagus sekali! Ji Siocia, ilmu pernafasan yang dimiliki Cicimu ini tinggi sekali. Pasti bukan keluaran partai kelas kecoak," kata Ong Taihu sambil berseloroh. "Namun tidak mudah mempelajarinya. Tapi cayhe yakin dengan kecerdasan olak Ji Siocia, kalau saja Ji Siocia giat berlatih ilmu pernafasan ini, dalam jangka waktu tiga bulan saja manfaatnya sudah besar sekali!"

Wajah Kan Soat Cu dan Kan Taijin langsung berseri-seri. Kan Taijin langsung menghampiri putri angkatnya. "Hai Li, kau sudah letih sekali. Jaga kesehatanmu. Kau baru sembuh.

Jangan sampai terlalu capek. Terima kasih atas jerih payahmu memikirkan cara untuk menguatkan kesehatan adikmu. Tia kagum sekali kepadamu," katanya dengan nada terharu.

Kan Hai Li tersipu-sipu. "Tia jangan senang dulu ... Siau li memang menginginkan agar tubuh Soatmoay bisa sehat seperti orang biasa. Tapi jangan salahkan Siau li apabila sudah sehat kelak Siau li akan mengajaknya berkelana di dunia kangouw."

Kan taijin tertawa terbahak-bahak. "Oh ... Jadi ada udang di balik batu ... " katanya bergurau. Air matanya sampai mengembang di ujung pelupuk mata saking gelinya dia mendengar ucapan Kan Hai Li. Suara tawa pun memenuhi gedung tersebut.

Tentu saja Kan Soat Cu yang paling gembira. Belum apa-apa dia sudah membayangkan betapa asyiknya seandainya tubuhnya benar-benar sudah sehat dan dia dapat berkelana di dunia kangouw dengan Cici angkatnya.

* * *

Fu Hiong Kun sudah mendatangi rumah Siok-sioknya Siau Ling. Dia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Laki- laki itu berusia setengah baya. Belum terlalu tua. Wajahnya sangat welas asih dan enak dipandang. Tidak ada kesan jahat sedikit pun pada dirinya. Laki-laki itu bahkan menangis sedih mendengar kabar kematian keluarga abangnya. Namun dia juga bersyukur Siau Ling berhasil meloloskan diri dari maut.

Fu Hiong Kun berjanji akan mengantarkan Siau Ling ke tempat itu apabila urusannya sudah selesai. Dia juga tidak berlama-lama di rumah orang itu. Dia masih ingin menyelidiki Piauw kiok milik ayah Liu Siau Ling. Perjalanan ke tempat itu masih cukup jauh.

Gadis itu ingin segera sampai. Sudah beberapa hari dia melakukan perjalanan tanpa mengenal lelah. Dapat dibayangkan betapa mulianya hati gadis yang satu ini. Dia tidak perduli seandainya dia jatuh sakit sekalipun. Dia tetap ingin menyelidiki kematian orang tua Siau Ling sampai tuntas.

Fu Hiong Kun mempercepat langkah kakinya. Kadang-kadang dia berlari-lari. Sebisa mungkin, dia ingin melewati pegunungan di depan itu sebelum malam tiba. Salju sudah mulai menipis, tapi angin masih bertiup dengan kencang.

Beberapa kali Fu Hiong Kun terpaksa berhenti karena tubuhnya semakin menggigil.

Ketika sampai di daerah pegunungan yang sunyi. Hari sudah mulai gelap. Fu Hiong Kun tetap melanjutkan perjalanannya. Setelah berjalan lagi beberapa li. Di depannya terlihat hutan yang masih dipenuhi salju yang memutih. Fu Hiong Kun mengambil keputusan untuk mencari tempat untuk beristirahat. Di dalam hutan pasti gelap sekali. Tentunya sulit bagi gadis itu untuk berjalan di kegelapan dan hutan yang menyeramkan itu.

Setelah berputar-putar beberapa kali. Fu Hiong Kun menemukan sebuah goa yang tertutup oleh sernak semak yang rimbun. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam sakunya. Isinya bubuk berwarna kuning. Mungkin belerang. Ditaburkannya di sekitar goa tersebut. Malam semakin merayap. Fu Hiong Kun menemukan sebuah goa yang tertutup oleh sernak semak yang rimbun. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam sakunya. Isinya bubuk berwarna kuning. Mungkin belerang. Ditaburkannya di sekitar goa tersebut. Malam semakin merayap. Fu Hiong Kun menyelinap ke dalam goa dan duduk bersandar. Dia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun dia tidak bisa pulas. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam hatinya. Terutama bayangan Wan Fei Yang!

Kemana anak muda itu? Luka dalamnya belum sembuh betul. Fu Hiong Kun takut dia bergebrak dengan seorang tokoh berilmu tinggi. Dalam keadaan seperti sekarang, apabila dia bertarung lagi, luka dalamnya pasti akan kambuh kembali.

Namun anak muda itu kukuh sekali pendiriannya. Lagipula Fu Hiong Kun tidak tahu urusan apa yang akan diselesaikannya. Apakah urusan itu bisa berbuntut bahaya? Dia juga tidak tahu.

Fu Hiong Kun menarik nafas dalam-dalam. Dia harus menenangkan pikirannya dan berusaha untuk tidur. Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki berlari-lari mendatangi ke arahnya. Fu Hiong Kun terkejut sekali. Siapa yang malam-malam berjalan di tengah pegunungan seperti ini? Kalau para pemburu, rasanya tidak mungkin. Musim dingin begini paling sulit memburu binatang. Biasanya hewan- hewan liar sudah mengungsi ke tempat yang tidak turun salju sebelum musim dingin tiba.

Dia menyembunyikan kepalanya di dalam semak-semak dan mengintip. Dua orang laki-laki memanggul tiga buah karung berjalan dengan langkah berat. Tidak heran Fu Hiong Kun dapat mendengar suara langkah kaki mereka. Rupanya mereka memanggul beban sehingga kaki mereka menjadi berat dan menimbulkan suara bergesekan ketika berjalan di atas salju. Mereka berhenti di depan goa di mana Fu Hiong Kun berlindung. Wajah mereka tidak dapat dilihatnya dengan jelas. Tapi rupanya tujuan mereka memang tempat tersebut. Fu Hiong Kun curiga melihat keadaan mereka yang memanggul karung pada saat seperti ini.

Kedua orang itu duduk di atas salju. Karung karung yang mereka bawa dibanting begitu saja. Salah satunya yang mengenakan pakaian hitam dengan mantel hitam pula menghapus keringat yang mengucur di keningnya.

"Musim dingin saja bisa berkeringat begini. Gara-gara karung sialan itu. Kenapa orang kalau sudah mati kok bertambah berat?" gerutu orang itu.

Fu Hiong Kun yang mengintip dari balik semak semak terkejut sekali mendengar ucapannya. Jadi karung itu berisi mayat.

Tapi mayat siapa? Mengapa mereka membawanya ke tempat ini? Kecurigaan Fu Hiong Kun semakin dalam. Kalau yang mati merupakan sanak famili mereka, pasti akan dikuburkan secara baik-baik. Mungkin kedua orang ini habis merampok rumah orang dan membunuh penghuninya. Fu Hiong Kun semakin meningkatkan kewaspadaannya. Untuk bernafas saja dilakukannya dengan perlahan-lahan. Sementara itu terdengar orang kedua berkata: "Apa yang mau dikata lagi? Ini kan tugas kita. Siapa suruh ilmu silat kita tidak dapat menyamai yang lainnya sehingga selalu mendapat kebagian tugas membuang mayat."

"Kalau dipikir-pikir, memang tidak seberapa berat juga tugas kita ini. Lagipula imbalannya besar. Pantas saja Pangcu semakin hari semakin kaya raya. Tapi aku tidak mengerti ... Mengapa ada orang yang mau mengeluarkan uang menyewa anggota kita untuk membunuh keluarga Liu?"

Sekali lagi Fu Hiong Kun terkejut. Rupanya rekan-rekan orang ini yang membunuh keluarga Liu. Fu Hiong Kun mendengarkan dengan seksama. Dia ingin tahu siapa-siapa orang ini sebetulnya.

"Aku juga tidak tahu. Pangcu juga tidak perduli. Kalau ada orang yang meminta Pangcu membunuh kaisar sekalipun, asal imbalannnya cukup memadai, mana ada transaksi yang ditolak oleh Tian Sat?"

Tubuh Fu Hiong Kun bergetar hebat. Hampir saja dia mengeluarkan suara jeritan. Rupanya kedua orang ini merupakan anggota Tian Sat yang terkenal itu. Dan ternyata Tian Sat pula yang membunuh keluarga Liu. Fu Hiong Kun teringat akan Yan Cong Tian, orang tua yang baik hati dan sangat menyayanginya itu. Air mata mengembang di pelupuk matanya.

Setelah kematian Tok-ku Bu-ti dan Thian-ti yang berarti dua partai terkemuka yakni Bu-ti-bun dan Siau Yau kok sudah menghilang dari peredaran dunia kangouw, Tian Sat tentu semakin merajalela. Dunia ini bagai milik mereka. Fu Hiong Kun menggertakan giginya erat-erat. Tinjunya terkepal. Dia harus menemukan Wan Fei Yang dan merundingkan bagaimana caranya membasmi organisasi yang sudah banyak memakan korban demi memperkaya diri ini.

"Cepat kita kerjakan tugas kita. Tentu Pancu akan marah- marah apabila dalam waktu tiga hari kita masih belum sampai di kota raja," kata orang yang pertama. Dia langsung bangkit berdiri.

Rekannya juga lidak mau ketinggalan. Orang itu mengeluarkan sebuah pacul dari dalam karung sementara temannya mengeluarkan mayat-mayat tersebut. Hati Fu Hiong Kun yang sedang bersembunyi semakin bergidig melihat ketiga sosok mayat tersebut.

Meskipun dia tidak mengenal keluarga Liu, namun melihat liga sosok mayat yang terdiri dari seorang laki-laki berusia setengah baya, seorang wanita setengah tua dan seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih enam atau tujuh belas tahun, dia langsung dapat memastikan mereka adalah ayah ibu serta koko Liu Siang Ling. Hatinya semakin pilu. Hampir saja dia tidak dapat menahan kemarahan hatinya.

Namun setelah memikirkan kembali dengan kepala dingin. Dia memilih untuk tidak keluar memperlihatkan diri. Sekarang hanya dia satu-satunya saksi yang mengetahui di mana mayat keluarga Liu ditanam. Lagipula dia tidak berani memastikan sampai di mana ketinggian ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini. Kalau sampai dia bukan tandingan kedua orang ini, bukankah dia akan mati konyol tanpa seorang pun yang tahu siapa pelakunya dan apa sebabnya.

Kedua orang itu bekerja dengan cepat. Dalam sekejap mata sebuah lubang yang besar sudah tergali. Rupanya mereka sudah cukup profesional melakukan pekerjaan semacam ini. Mereka lebih tepat dipanggil sebagai si penggali kubur. Dari pembicaraan mereka. Fu Hiong Kun yakin bukan kedua orang inilah yang membunuh keluarga Liu. Mungkin mereka hanya kaum keroco di dalam organisasi Tian Sat.

Tiga sosok mayat keluarga Liu diangkat oleh kedua orang itu dan dilemparkan menjadi satu di dalam lubang yang besar tersebut. Setelah itu dengan gerakan cepat mereka mengayunkan paculnya kembali menutupi permukaan tanah sampai rata. Karung-karung yang berisi mayat tadi dilipatkan kembali dan diikat di atas bahu mereka. Setelah itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, keduanya menghentakkan kaki dan melesat pergi dari tempat itu.

Fu Hiong Kun menyandarkan tubuhnya di dinding goa. Dadanya bergemuruh. Hatinya terasa perih. Jantungnya berdebar-debar. Mungkinkah Thian memang telah membantunya menemukan para pembunuh keluarga Liu dengan cara yang demikian kebetulan? Dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Tapi yang sudah pasti bahwa dia benci sekali melihat cara kerja organisasi itu yang tidak segan- segan membunuh siapa saja demi mendapat imbalan yang layak.

Siapakah Pangeu yang disebut mereka? Tentunya seorang tokoh yang selama ini menyembunyikan diri dan ilmu silatnya pun sangat mengerikan. Fu Hiong Kun yakin akan hal itu.

Kalau tidak bagaimana pangcu tersebut bisa memimpin organisasi yang begitu besar dan kekuatannya tidak terkirakan itu. Tapi dapatkah dia dan Wan Fei Yang membongkar organisasi tersebut. Padahal mereka hanya berdua, sedangkan pihak lawan berjumlah banyak. Satu hal lagi yang membuat hatinya risau. Mereka berada di tempat yang terang dan lawan berada di tempat yang gelap. Kata-kata ini hanya sebuah kiasan. Artinya mereka tidak tahu siapa lawan-lawan yang mereka hadapi. Tapi seandainya mereka menyelidiki di mana markas Tian Sat dan siapa kepala mereka, dengan mengandalkan anggotanya yang banyak, sebentar saja maksud mereka sudah akan konangan.

Lalu, ada dendam apa antara orang yang menyewa tenaga Tian Sat dengan keluarga Liu yang bukan orang-orang kangouw itu ... ? Pikiran Fu Hiong Kun semakin bingung. Dia ingin melupakan semuanya sejenak. Matanya terpejam.

Kenangan masa lalu kembali menghantuinya. Kehidupan manusia memang penuh dengan gelombang, Seperti lautan yang tidak hentinya menggelora. Baru saja datang gelombang yang satu, gelombang lain sudah menyusul lagi di belakang, Fu Hiong Kun tidak tahu harus menangis atau tertawa membayangkan kehidupan yang telah dilaluinya selama dua puluh tahun ini.

Dia sudah jenuh menghadapi kelicikan manusia yang semakin hari semakin menghebat. Seandainya dia bisa hidup tenang dan mencuci otaknya agar segala persoalan dapat terlupakan. Fu Hiong Kun rela melakukannya. Mungkin Wan Fei Yang juga rela melakukannya. Mungkin sebaliknya dia melupakan semuanya yang telah berlalu dan membiarkan apa pun yang akan terjadi di hadapan matanya. Tapi sanggupkah Fu Hiong Kun melakukan hal seperti itu. Hanya Thian yang tahu.

TAMAT