-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 32

Jilid 32

"Kau memanggilnya dengan begitu mesra, apakah kau lupa bahwa Yaya kita mati di tangannya?" tanya Fu Giok Su masih dengan nada membentak.

"Hal ini Yan gihu tidak dapat disalahkan sepenuhnya ... "

"Tutup mulutmu!" bentak Fu Giok Su kemudian menudingkan jari telunjuknya ke arah Fu Hiong Kun. "Kau adalah orang dari Siau Yau kok. Kau berasal dari keluarga Fu. mengapa ucapanmu selalu membela orang lain?"

Fu Hiong Kun menarik nafas panjang. "Toako ... "

"Cukup! Aku tidak pantas menerima sebutan yang mesra itu!" Fu Giok Su berusaha menenangkan hatinya. "Kalau kau masih menganggap aku seorang abang, seharusnya kau mendengar kata-kataku.”

Fu Hiong Kun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sesaat kemudian baru dia mengangkat kepalanya kembali. "Toako, apakah kau yang membayar Tian Sat untuk membunuh Yan?"

"Yan lo kui (Setan tua)!" tukas Fu Giok Su sambil tertawa terbahak-bahak.

Wajah Fu Hiong Kun berubah hebat. "Jadi benar kau yang meminta mereka membunuh Gihu?" desaknya penasaran.

"Tampaknya bergaul dengan murid Bu-tong-san membuat otakmu semakin tumpul. Mana mungkin orang Siau Yau kok mau meminta bantuan dari Tian Sat. Aneh sekali ... " Wajah Fu Giok Su hijau membesi. "Kalau orang-orang Bu-tong-pai yang menuduhku seperti itu, aku masih tidak heran. Tapi kau adalah adikku. Kau terlahir di Siau Yau kok. Apakah kau sudah berubah begitu jauh sehingga lupa bagaimana sikap orang-orang Siau Yau kok?"

"Kalau bukan Toako, siapa kira-kira orang nya?"

"Aku yakin Tok-ku Bu-ti. Dia adalah manusia yang tidak segan menggunakan cara apa saja untuk mencapai keinginan hatinya!"

Fu Hiong Kun menghela nafas lega.

"Aku tidak perduli siapa, asal bukan engkau toakoku!" "Apa maksud ucapanmu itu?"

Sekali lagi Fu Hiong Kun menarik nafas panjang.

"Aku tidak ingin Toako melakukan lagi perbuatan yang dapat mencelakakan orang banyak. Aku tidak ingin Toako menambah dosa. Persoalan Lun Wan Ji kami sudah tahu. Aku menganggap nasib Toako cukup malang. Tapi seandainya kau bisa melupakan semua kejadian yang lalu dan memulai suatu kehidupan yang baru, aku yakin Wan Toako akan melepaskanmu. Kalau pun tidak, aku akan memohon kepadanya. Dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar.

Aku yakin dia akan melepaskanmu."

Fu Giok Su tertawa dingin berulang kali. "Oh ya, kalau tidak salah aku melihat Toako sedang bergebrak dengan seseorang di tempat ini?" tanya Fu Hiong Kun yang teringat kembali akan tujuannya semula.

Fu Giok Su menganggukkan kepalanya dengan enggan.

"Siapa orang yang bergebrak melawan Toako tadi?" tanya Fu Hiong Kun dengan pandangan menyelidik.

"Tok-ku Hong!" kata Fu Giok Su berterus terang.

Wajah Fu HiongKun berubah hebat. "Hong cici? Mengapa dia bisa berjalan ke arah sini lagi?" Fu Hiong Kun mengedarkan pandangan matanya. "Di mana orangnya sekarang?"

"Tampaknya tidak ada orang yang tidak kau anggap sahabat, kecuali keluargamu sendiri,” sindir Fu Giok Su.

"Toako, jangan main-main. Di mana Hong cici sekarang?" tanya Fu Hiong Kun dengan wajah panik.

"Dia sudah terhajar olehku sehingga terjatuh ke dalam jurang di belakangmu." sahut Fu Giok Su dengan mata setengah terpejam. Tampangnya begitu tenang seakan terjatuhnya Tok- ku Hong ke dalam jurang bukan hal yang perlu dipersoalkan.

Fu Hiong Kun terkejut sekali. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan menghambur ke tepi jurang. Dia melongokkan kepalanya ke bawah. Wajahnya langsung menjadi pucat.

Sejenak kemudian dia menoleh lagi ke arah Fu Giok Su. Matanya menatap dengan pandangan menyelidik. "Toako, benarkah apa yang kau katakan?"

"Tentu saja benar. Buat apa aku harus mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan? Itu bukan kebiasaanku," sahut Fu Giok Su tenang. Air mata mulai mengembang di pelupuk Fu Hiong Kun. "Toako

... !" Dia menggelengkan kepalanya keras-keras. Mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dibatalkannya.

"Tok-ku Hong adalah adik Wan Fei Yang. Lagipula dia juga putri Ci Siong to jin. Mereka semua merupakan musuh besar kita. Apa salahnya kalau mereka semua bisa kubunuh?"

Fu Hiong Kun terus-terusan menggelengkan kepalanya. Dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Bagus sekali kita dapat berjumpa di tempat ini. Ayo, kau ikut denganku. Kita pikirkan cara yang baik untuk membunuh Wan Fei Yang!" kata Fu Giok Su selanjutnya. Dia maju satu langkah.

Fu Hiong Kun malah mundur lagi. Dia terkejut sekali mendengar ajakan Fu Giok Su. Ditatapnya abangnya itu dengan pandangan pilu. "Toako, aku mohon jangan lagi kau lakukan perbuatan yang mencelakakan orang lain. Pikirkanlah akibat yang akan kau terima."

"Apakah membalas dendam juga merupakan perbuatan yang jahat? Kami hanya mengembalikan apa yang pernah diberikannya kepada kami!"

"Kau sudah membunuh ayahnya. Sekarang malah adiknya juga mati akibat ulahmu. Toako, apakah kau tidak menganggap perbuatanmu ini sudah melewati batas?"

"Bagus!" Fu Giok Su mendelik ke arah Fu Hiong Kun. Dia tertawa dingin berulang kali. “Kalau kau memang begitu menyukai tempat ini, tinggallah di sini. Ikuti saja manusia she Wan itu. Aku ingin tahu apakah dia akan memperlakukan kau dengan baik?"

Fu Giok Su tidak memperdulikan Fu Hiong Kun lagi. Dia melangkahkan kakinya dengan perlahan. Tanpa sadar Fu Hiong Kun mengejarnya. "Toako ... !"

Mendengar suara panggilan itu, Fu Giok Su membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba dia melesat ke depan dan mencengkeram tangan Fu Hiong Kun. Gadis itu terkejut sekali. Dia berusaha memberontak, tapi mana mungkin kekuatan nya dapat menandingi tenaga Fu Giok Su. Apalagi kejadiannya begitu cepat. Dia sama sekali tidak menyangka Fu Giok Su akan berbuat demikian. "Toako ... " panggilnya sekali lagi.

"Kau harus ikut denganku!" bentak Fu Giok Su sambil menarik pergelangan tangan Fu Hiong Kun dan menghambur dari tempat itu.

"Toako, lepaskan tanganku ... !" teriak Fu Hiong Kun dengan suara memohon.

Tapi mana mungkin Fu Giok Su menghiraukannya. Dia terus menyeretnya sambil berlari sekencang-kencangnya. Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras. Dia tahu bagaimana kerasnya hati Fu Giok Su. Biarpun dia adalah adiknya sendiri, Fu Giok Su tidak segan menggunakannya untuk menekan Wan Fei Yang. Tadinya dia sengaja turun dari Bu-tong-san untuk mencari Fu Giok Su. Dia ingin menanyakan apakah Fu Giok Su yang meminta Tian Sat membunuh Yan Cong Tian. Tanpa disengaja dia dapat bertemu dengan abangnya itu di kaki gunung. Dan sekarang dia sudah yakin bahwa bukan Fu Giok Su yang minta tolong Tian Sat untuk membunuh Yan Cong Tian. Tapi dengan terjatuhnya dia dalam cengkeraman abangnya itu, apa yang akan dilakukannya mungkin tidak kalah mengerikan dengan pembunuhan terhadap ayah angkatnya itu. Bagaimana hatinya tidak menjadi sedih memikirkan semua itu? Apalagi Fu Giok Su telah mengakui bahwa dialah yang membunuh Tok-ku Hong. Apabila Wan Fei Yang sampai mengetahui kejadian tersebut, dia tidak berani berharap lagi kalau anak muda itu akan melepaskan abangnya begitu saja. Hal ini tidak berbeda dengan kematian Yan Cong Tian. Bagaimana dia harus menjelaskannya kepada Wan Fei Yang? Mengingat masalah yang akan dihadapinya ini, hatinya semakin tertekan. Akhirnya dia tidak memberontak lagi. Sia- sia saja dia mengerahkan tenaganya. Tidak mungkin dia dapat melepaskan diri dari Fu Giok Su. Dia juga tidak berkata apa- apa lagi. Dibiarkannya dirinya diseret pergi oleh abangnya itu. Air matanya terus mengalir seperti pancuran air yang deras.

* * *

Akhirnya Yan Cong Tian diperabukan. Ai mata Wan Fei Yang masih mengalir terus. Saat ini dia masih menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dia tidak pergi, tentu Yan Supeknya tidak akan sampai terbunuh orang. Meskipun Yo Hong dan saudara seperguruannya yang lain terus menghiburnya dengan mengatakan, bahwa seandainya dia ada di Bu-tong-san, Tian Sat juga mempunyai cara yang lain untuk membunuh Supeknya itu.

Pada saat itu para murid Bu-tong-pai berlutut di belakangnya. Wajah mereka tidak satu pun yang tidak menunjukkan perasaan mereka yang sedih. Kesan mereka terhadap Wan Fei Yang sudah jauh berubah. Sekarang mereka baru sadar betapa mulianya hati anak muda ini.

Wan Fei Yang tidak pernah mempersoalkan siapa pun yang pernah menghinanya dulu. Bahkan dia tidak pernah mengungkitnya kembali. Pada dasarnya bagi Wan Fei Yang, semua hinaan yang pernah dialaminya di Bu-tong-san merupakan sebuah kenangan yang manis.

Setelah berlutut sekian lama, tiba-tiba Wan Fei Yang berdiri dan membalikkan tubuhnya. "Kapan Tok-ku Bu-ti menentukan waktu pertarungan?" tanyanya dengan dada bergemuruh.

"Bulan dua belas tanggal satu." Yo Hong menyerahkan kembali surat tantangan yang pernah diberikannya kepada Wan Fei Yang. Dia merasa agak aneh mengapa Wan Fei Yang bisa melupakan tanggal yang tertera dalam surat tersebut. Namun sekejap kemudian dia mulai mengerti. Pasti pada waktu itu hati Wan Fei Yang sedang panik mendengar berita kematian Yan Supek mereka.

Wan Fei Yang menerima surat tantangan itu dan membacanya sekali lagi dengan seksama. "Kematian Yan Supek kemungkinan merupakan ulah Fu Giok Su, tapi Tok-ku Bu-ti juga mempunyai kemungkinan yang sama besarnya."

"Siau Fei, bagaimana pendapatmu?"

"Kita selesaikan masalah tantangan ini. Jika waktunya telah tiba, aku akan menanyakan sampai jelas. Seandainya bukan perbuatan Tok-ku Bu-ti, pasti Fu Giok Su-lah yang melakukannya. Kalau benar, aku tidak akan melepaskan orang itu begitu saja!" kata Wan Fei Yang sambil mengepalkan sepasang tinjunya.

"Apakah kau akan menerima tantangan Tok-ku Bu-ti?" tanya Yo Hong kembali. Sekarang hubungannya dengan Wan Fei Yang akrab sekali. Bahkan dia memanggilnya dengan sebutan yang biasa digunakan oleh Yan Cong Tian.

"Tidak boleh tidak! Aku harus menerima tantangannya!" Wan Fei Yang meremas surat tantangan itu sampai hancur berantakan. "Pokoknya pada tanggal satu bulan dua belas, urusan hutang-piutang antara pihak kita dengan Tok-ku Bu-ti harus diselesaikan!" Selesai berkata. Wan Fei Yang membalikkan tubuhnya kembali. Dia menyembah sebanyak tiga kali di depan perabuan Yan Cong Tian.

Sinar mata para murid Bu-tong-pai terpusat pada Wan Fei Yang. Harapan mereka juga hanya terletak di tangan anak muda itu. Biar bagaimana pun, pada tanggal satu bulan dua belas yang akan datang, hutang-piutang antara Bu-ti-bun dengan Bu-tong-pai memang harus diselesaikan secara tuntas.

* * *

Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah selesai pembuatannya. Kedua tukang yang membantu mengerjakannya memandang Tok-ku Bu-ti dengan pandangan berharap. Orang tua itu tidak memperdulikan mereka. Dia membawa tongkat kepala naga itu ke bagian belakang rumah di mana terdapat sebuah taman yang tidak terlalu luas. Di sana dia menggerakkan tongkat kepala naga itu dengan kekuatan sepenuhnya. Tampak cahaya memijar dari sapuan tongkat tersebut. Suara angin yang ditimbulkannya menderu- deru. Kedua tukang yang mengintip di balik pintu memandang dengan tercengang. Mereka saling lirik sekilas. Tanpa bersepakat terlebih dahulu, mereka segera mengambil langkah seribu meninggalkan rumah tersebut. Sampai-sampai alat-alat yang biasa mereka gunakan untuk mencari nafkah pun ditinggalkan begitu saja. Mereka tidak dapat disalahkan.

Alat-alat itu masih dapal dibuat ataupun dibeli kapan saja, tapi nyawa mereka masing-masing hanya selembar.

Selama ini Tok-ku Bu-ti tidak pernah mengajak mereka bercakap-cakap, kecuali menanyakan hasil pekerjaan mereka. Keangkeran wajah orang tua itu membuat hati mereka bergidik apalagi tatapan matanya yang begitu dingin. Mereka bukan terdiri dari orang-orang dunia kangouw, mereka tidak mengenal siapa adanya Tok-ku Bu-ti. Kalau saja mereka tahu, tentu hati mereka lebih takut lagi.

Tok-ku Bu-ti sudah menghentikan gerakannya. Dia memandang tongkat kepala naganya dengan sinar mata yang mengandung kepuasan. Dia tahu kedua tukang itu sudah pergi. Tapi dia memang tidak berniat membunuh mereka. Dia kembali ke dalam kamar dan duduk bersila untuk menghimpun hawa murninya. Beberapa hari lagi dia harus mendaki Bu- tong-san guna memenuhi perjanjian pertarungan dengan Wan Fei Yang. Semangatnya harus dijaga agar staminanya berada dalam kondisi puncak dalam menghadapi pertarungan yang akan datang.

* * *

Pagi-pagi sekali. Bulan dua belas tanggal satu. Salju menghampiri seluruh permukaan tanah bagai selembar permadani putih.

Salju ini sudah melapisi seluruh Giok hong teng selama sehari semalam. Semakin lama lapisannya semakin tebal. Apabila mata memandang, di seluruh daerah itu hanya warna putih yang terlihat.

Angin bertiup dengan kencang. Salju turun dengan deras. Tapi tampaknya baik Tok-ku Bu-ti maupun Wan Fei Yang sama sekali tidak memperdulikan cuaca yang dingin itu. Mereka berdiri berhadapan dalam jarak tiga depa. Mereka bagaikan dua buah patung batu yang berdiri kokoh dan tidak tergoyahkan oleh badai salju.

Ketika Wan Fei Yang sampai di tempat itu, Tok-ku Bu-ti sudah cukup lama menunggu di sana. Dia mengenakan satul stel pakaian mantel berbulu. Sekali lihat saja sudah ketahuan bahwa pakaiannya masih baru. Warnanya merah menyala, rambutnya diikat dengan gelang emas, tangannya menggenggam tongkat kepala naga.

Dandanannya tidak berbeda sama sekali dengan dua tahun yang lalu ketika dia bertarung melawan Ci Siong to jin. Hanya kewibawaan yang ditampilkan pada jati dirinya sudah jauh berbeda.

Wan Fei Yang mengenakan pakaian berwarna hitam. Dia juga memakai sehelai mantel bagian luarnya yang warnanya hitam pula. Tidak terlihat adanya keistimewaan pada diri anak muda itu. Pada dasarnya Wan Fei Yang memang orang yang sederhana. Dia tidak pernah berpenampilan mewah meskipun dia sudah cukup mampu untuk membeli pakaian berharga mahal.

Biarpun demikian, kewibawaan yang terpancar pada dirinya tidak kalah dengan Tok-ku Bu-ti. Malah sinar matanya jauh lebih tajam dari sinar mata Tok-ku Bu-ti sendiri. Hanya ada kesedihan dan kemarahan yang terkandung di dalamnya.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dengan membisu. Seakan sedang menguji kekuatan mental masing-masing.

Kira-kira setengah kentungan kemudian. Akhirnya Tok-ku Bu-ti juga yang lebih dahulu membuka suara.

"Ci Siong dapat mempunyai putra sepertimu, di alam baka pasti kehidupannya tenang sekali!"

Reaksi Wan Fei Yang sangat datar. "Waktunya sudah tiba." "Kau tidak ingin menanyakan apa-apa?”

“Apakah kau ada hubungannya dengan kematian Yan Supek?"

"Aku yang meminta Tian Sat membunuhnya!" Tok-ku Bu-ti mengakui dengan terus terang.

Alis Wan Fei Yang berkerut. "Sebetulnya kau juga seorang laki-laki yang gagah."

"Seseorang yang sedang dalam puncak kemarahannya dapat melakukan apa saja. Hal ini patut dimaafkan."

Wan Fei Yang tertawa dingin.

"Apabila aku tidak mengatakan dengan terus terang, tidak lama kemudian kau pasti akan mengetahuinya juga." Ketenangan Tok-ku Bu-ti benar-benar mengagumkan. "Karena, walaupun aku yang meminta Tian Sat membunuh Yan Cong Tian, tapi aku tidak mempunyai uang untuk membayar tenaga yang telah mereka keluarkan. Terhadap orang-orang yang berhutang kepada mereka, Tian Sat mempunyai cara tersendiri untuk menghadapinya."

"Bagaimana?"

"Mereka akan meminta bayaran dengan nyawa orang itu sendiri!" Tidak disangka Tok-ku Bu-ti berani mengatakan semuanya dengan terang-terangan.

"Mereka sanggup membunuh Yan Supek tentunya mereka juga sanggup membunuhmu. Itulah sebabnya kau menantang aku bertarung di tempat ini," kata Wan Fei Yang.

"Tidak salah!" Tok-ku Bu-ti mengelus-elus jenggotnya. "Tiga kali berturut-turut aku bertarung dengan ayahmu, Ci Siong tojin di atas Giok-hong-teng ini. Semua pertarungan itu dilakukan dengan jujur. Kau tidak perlu khawatir aku akan menggunakan cara licik untuk menghadapimu."

Wan Fei Yang hanya tertawa dingin.

"Tapi kali ini jalan hidupku benar-benar sudah buntu. Aku pasti akan mengerahkan segenap tenaga untuk melawanmu.

Meskipun kau sudah berhasil melatih ilmu Tian can sin-kang, tapi sebaiknya kau berhati-hati sedikit."

"Aku tidak menyangka hatimu tiba-tiba bisa menjadi mulia." "Sekali-kali berbuat kebaikan toh tidak ada salahnya!"

"Terima kasih atas peringatanmu!" sahut Wan Fei Yang dengan nada yang luar biasa tenangnya.

Tok-ku Bu-ti menganggukkan kepalanya. "Bersediakah kau memberi jawaban apabila aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu?" tanyanya serius. Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya. “Silahkan bertanya.”

“Bagaimana keadaan Hong ji sekarang?"

Ujung mata Wan Fei Yang berkerut-kerut mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak tahu. Sejak malam itu aku tidak pernah berjumpa dengannya."

Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang. Dia mengangkat tongkat kepala naganya. "Silahkan!"

Wan Fei Yang segera menghunus pedangnya. Digetarkannya sarung pedang yang ditangan kirinya. Sarung pedang itu langsung berubah menjadi sebatang toya. Tok-ku Bu-ti mengeluarkan siulan panjang. Seperti kobaran api dia menyambar ke arah Wan Fei Yang. Salju yang menutupi permukaan tanah berhamburan oleh terjangannya yang dahsyat. Kekuatannya benar-benar mengejutkan.

Dalam waktu yang bersamaan, Wan Fei Yang juga bersiul nyaring. Dia menerjangan Tok-ku Bu-ti. Tongkat kepala naga dan pedang saling berbenturan. Sekilas cahaya memercik suara: "Trang! Trang! Trang!” benturan kedua senjata terdengar tidak putus-putusnya.

Tongkat kepala naga di tangan Tok-ku Bu-ti menyapu gencar. Suara angin yang ditimbul kannya berdesir-desir. Pedang di tangan Wan Fei Yang juga tidak kalah dahsyatnya. Sekali gerakan pedangnya menyambut serangan Tok-ku Bu-ti sebanyak sembilan kali. Kekuatannya tidak kalah hebat dengan Tok-ku Bu-ti.

Pada dasarnya ilmu silat Wan Fei Yang sudah lebih tinggi dari Tok-ku Bu-ti. Dia hanya kalah pengalaman. Hal ini dapat dimaklumi, di dunia kangouw Wan Fei Yang masih merupakan bocah ingusan sedangkan Tok-ku Bu-ti merupakan dedengkotnya. Entah sudah berapa banyak pertarungan antara hidup dan mati yang sudah pernah dilaluinya. Dia sudah dapat menguasai ajang pertarungan dengan baik.

Salju yang bertaburan di sekitar tempat itu memercik membasahi tubuh keduanya. Dari kejauhan tampak seperti binatang-binatang kecil yang sedang menari-nari. Tubuh kedua orang itu saling berkelebat. Semakin lama semakin cepat. Tampaknya seperti roh-roh yang bergentayangan mencari mangsa. Tubuh mereka berubah menjadi bayangan. Orang biasa yang menyaksikan pertarungan itu pasti mengira bahwa tubuh keduanya tidak lama kemudian juga akan mencair menjadi salju.

"Trang!" Terdengar suara benturan yang menggelegar memekakkan telinga. Tubuh keduanya langsung terpisah. Wajah Tok-ku Bu-ti pucat pasi bagai selembar kertas.

Ternyata tongkat kepala naganya sudah terputus menjadi dua bagian. Di pihak sana, Wan Fei Yang juga berdiri tegak dengan wajah memucat. Pedangnya juga terkutung menjadi tiga bagian.

Tanpa bersepakat terlebih dahulu, keduanyanya melemparkan senjata masing-masing yang telah terkutung ke atas salju.

Tubuh Tok-ku Bu-ti bergerak lagi. Sepasang telapak tangannya dirangkapkan di depan dada. Hawa murninya telah dihimpun. Pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku. Perlahan-lahan sepasang telapak tangannya berubah warna menjadi merah membara. Tidak diragukan lagi bahwa dia telah mengerahkan Mit kip sinkangnya yang hebat. Sebetulnya ilmu yang dipelajari oleh Tok-ku Bu-ti bernama Mit kip mokang (Ilmu iblis putus turunan) tapi karena nama itu berbau sesat, Tok-ku Bu-ti Mit kip sinkang (Tenaga sakti putus turunan).

Sepasang tangan Wan Fei Yang juga dirangkapkan. Wajahnya yang tadi pucat perlahan-lahan berona dadu. Dia juga sudah mengerahkan ilmu Tian can sinkangnya yang dahsyat. Terdengar teriakan lantang dari mulut keduanya. Tubuh mereka bergerak dalam waktu yang bersamaan.

Keduanya melesat di udara dan dua pasang telapak tangan pun saling berbenturan.

"Blammmm!!" Tepat pada saat itu juga terdengar suara benturan yang menggelegar.

Bumi seakan terguncang. Salju berhamburan ke mana-mana. Cuaca pun berubah seketika. Begitu hebatnya benturan antara kedua orang itu sampai-sampai suaranya yang menggelegar dapat terdengar oleh para murid Bu tong yang sedang menunggu di bawah dengan hati tegang. Mereka tahu keduanya sudah berada dalam puncak pertarungan. Menang atau kalah, saat inilah untuk menentukannya.

Baik Tok-ku Bu-ti maupun Wan Fei Yang terpental sejauh tiga depa. Tubuh mereka menggelinding di atas salju yang putih. Wajah Tok-ku Bu-ti sebentar putih sebentar lagi lagi berubah menjadi merah. Tampaknya darah segar akan muncrat dari seluruh panca inderanya. Mulutnya sudah memuntahkan segumpal darah yang kental.

Wajah Wan Fei Yang hijau membesi. Dadanya bergemuruh, nafasnya tersengal-sengal. Beberapa saat kemudian keadaannya baru normal kembali. Tok-ku Bu-ti kembali memuntahkan darah untuk kedua kalinya. Tubuhnya langsung berkelebat. Telapak tangannya menghantam ke depan.

Wan Fei Yang tidak menyangka dengan datangnya serangan itu. Dia melihat keadaan Tok-ku Bu-ti sudah payah. Dengan gugup dia mengulurkan telapak tangannya untuk menyambut serangan Tok-ku Bu-ti. Hidungnya mencium bau amis darah. Serangan Tok-ku Bu-ti lebih hebat dari sebelumnya. Tubuh Wan Fei Yang tergetar mundur satu langkah.

Mulut Tok-ku Bu-ti memuntahkan darah terus menerus. Tapi tampaknya orang itu benar-benar sudah nekat. Sepasang telapak tangannya secepat memutar menghantam ke depan. "Ilmu iblis menghancurkan tubuh!" seru Wan Fei Yang dalam hatinya. Dia terkejut sekali. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menyambut serangan Tok-ku Bu-ti yang mengerikan itu.

Tok-ku Bu-ti melancarkan serangan sebanyak tiga belas kali berturut-turut. Sepasang telapak tangannya menghantam secara bergantian. Sekali mereka saling mengadu kekuatan.

Dua pasang telapak tangan saling menekan. Darah terus mengalir dari mulut, hidung, mata dan telinga Tok-ku Bu-ti. Keadaannya sungguh menyeramkan. Sama sekali tidak berbentuk manusia lagi. Tulang belulang di seluruh tubuhnya memperdengarkan suara derakan yang menggidikkan hati.

Dugaan Wan Fei Yang tepat sekali. Tok-ku Bu-ti memang telah mengerahkan ilmu iblis menghancurkan tubuh yang merupakan jurus terakhir dari Mit kip sinkang. Ilmu itu sebetulnya merupakan ilmu yang hanya digunakan apabila orang yang mengerahkannya sudah nekat untuk mengajak lawannya mati bersama. Sebab begitu ilmu tersebut dikerahkan, orang itu pasti lambat laun akan mati dengan darah yang mengalir habis dari seluruh panca inderanya dan tulang belulang dalam tubuhnya akan berpatahan. Mana mungkin ada orang yang dapat hidup dalam keadaan seperti itu.

Tapi dengan mengerahkan ilmu yang satu ini, orang tersebut juga dapat melipatgandakan tenaga dalamnya menjadi dua kali dari biasanya. Hal ini membuktikan bahwa Tok-ku Bu-ti sudah bertekad untuk mengajak Wan Fei Yang mati bersama.

Wan Fei Yang tidak berani bergerak. Juga tidak dapat bergerak. Dia terus mengerahkan Tian can sinkang untuk menahan serangan Tok-ku Bu-ti yang nekat. Dia merasakan tenaga dalam yang dipancarkan oleh Tok-ku Bu-ti semakin lama semakin kuat. Tepat pada saat itu pula, salju yang menutupi sebuah batu besar berhamburan. Ternyata tanah di depan batu tersebut sudah terkuak lebar dan menimbulkan sebuah lubang yang besar. Tubuh Fu Giok Su melesat keluar dari lubang tersebut. Dia bagaikan seekor ular berbisa meluncur ke arah Wan Fei Yang. Sepasang telapak tangannya menghantam dengan kekuatan penuh.

Pada saat itu keadaan Wan Fei Yang sedang genting sekali. Dia tidak dapat mengulurkan tangannya menangkis serangan itu. Dia harus menghadapi serangan Tok-ku Bu-ti yang dahsyat. Tubuhnya juga tidak dapat digerakkan. Seandainya dia bergeser sedikit saja. Kerahan ilmu Tian can sinkangnya pasti akan terpencah dan pada waktu itu Tok-ku Bu-ti pasti akan menggunakan kesempatan yang baik untuk menghantamnya.

Seandainya Wan Fei Yang terhantam oleh serangan telapak tangan Fu Giok Su, akibatnya pasti sama mengerikannya.

Rupanya Fu Giok Su sejak dini sudah menanti di dalam lubang yang dibuatnya itu. Sudah kurang lebih tiga kentungan dia bersembunyi di sana. Justru kesempatan seperti inilah yang ditunggu-tunggunya.

Dia juga memperhitungkan kalau dalam keadaan seperti ini Wan Fei Yang pasti tidak akan mempunyai kesempatan untuk menghindari serangan. Oleh karena itulah, dia tidak menyia- nyiakan kesempatan emas ini untuk membokong Wan Fei Yang.

Tanpa sadar bibir Fu Giok Su mengembangkan seulas senyuman yang licik. Hatinya sudah berbunga-bunga membayangkan bahwa kali ini riwayat Wan Fei Yang pasti akan tamat. Namun tepat pada saat itu juga, mulutnya mengeluarkan suara jeritan ngeri. Sebatang pedang bagai kilat meluncur dan langsung menikam bagian belakang punggungnya. Dia sudah bertekad untuk membunuh Wan Fei Yang. Sejak semula dia tidak memperhiungkan akan adanya orang lain yang akan menghalangi perbuatannya. Pada dasarnya di atas Giok ho teng itu juga tidak ada orang keempat.

Tapi ternyata orang keempat itu muncul juga ...

Ketika telinganya menangkap suara teriakan lantang, pedang itu sudah menembus dari belakang punggung sampai ulu hatinya. Serangkum rasa sakit segera menyerangnya. Pada saat itulah dia menjerit ngeri. Tubuhnya terdorong ke depan. Sepasang telapak tangannya menghantam di atas salju yang tebal.

Salju berhamburan kemana-mana. Sepasang telapak tangan Fu Giok Su terbenam ke dalam salju. Jaraknya dengan Wan Fei Yang hanya tinggal dua cun. Dengan susah payah dia menggelindingkan tubuhnya. Dalam waktu yang bersamaan, matanya menangkap bayangan Fu Hiong Kun yang menerjang ke arahnya.

Dari tempat yang digalinya tadi ternyata sudah bertambah satu lubang lagi di samping kanan. Tidak usah diragukan lagi bahwa Fu Hiong Kun keluar dari lubang tersebut. Fu Giok Su sama sekali tidak menyangka bahwa Fu Hiong Kun malah sudah datang lebih awal daripadanya. Dia juga menggali sebuah lubang dan bersembunyi di dalamnya. Sedangkan Fu Giok Su yang datang belakangan rupanya juga mempunyai ide yang sama.

"Hiong Kun?" Mata Fu Giok Su menatapnya dengan pandangan kurang percaya.

Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat. Entah akibat hawa yang dingin atau kesedihan hatinya yang tidak teruraikan dengan kata-kata. Tubuhnya bergerak dengan hebat. "Meskipun kau sudah menotok jalan darahku, tapi kau lupa bahwa aku khusus mempelajari ilmu pengobatan.

Pengetahuanku tentang jalan darah manusia sudah cukup tinggi sehingga aku bisa melepaskan totokanmu itu.” Bahkan suaranya pun bergetar dengan hebat.

Fu Giok Su rasanya ingin tertawa terbahak-lahak. Namun dia benar-benar tidak sanggup tertawa lagi.

"Aku tahu kau pasti akan berjalan ke tempat ini dan membokong Wan Toako."

"Bagus sekali. Kau memang adikku yang baik ... " Kepala Fu Giok Su terkulai. Nafasnya pun berhenti pada waktu yang bersamaan.

"Toako ... !" Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras. Dia tidak sanggup menahan dirinya lagi. Dipeluknya mayat Fu Giok Su dan menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, pertarungan antara Tok-ku Bu-ti dengan Wan Fei Yang semakin menegangkan. Meskipun saat itu sedang musim salju, tapi keringat keduanya membasahi sekujur tubuh mereka. Keadaan Tok-ku Bu-ti jangan dikatakan lagi. Darah dan keringat seakan menyatu.

Tiba-tiba tubuh Tok-ku Bu-ti terhuyung huyung lalu terkulai jatuh. Mantel bulunya sudah penuh dengan bercak-bercak darah. Tenaga dalamnya sudah terkuras habis. Namun suara detakan tulang masih belum berhenti. Angin bertiup dengan kencang laksana mendendangkan lagu kematian. Sedangkan mata Tok-ku Bu-ti masih membelalak. Dia menggelepar- gelepar bagai ayam yang baru saja di potong lehernya.

Sesaat kemudian Wan Fei Yang juga terkulai jatuh. Dua kali berturut-turut dia memuntahkan darah segar. Seandainya Tok- ku Bi ti masih mempunyai sisa sedikit tenaga, tentu tidak sulit untuk membunuhnya. Sayangnya keadaan Tok-ku Bu-ti demikian parahnya sehingga tidak mempunyai kemungkinan melakukan hal itu.

Rona wajah Wan Fei Yang sungguh tidak sedap dipandang. Tapi dia berusaha mempertahankan diri untuk merangkak ke samping Fu Hiong Kun. Dia tidak berkata apa-apa. Juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Hujan salju semakin deras. Dalam sekejap mata pakaian mereka sudah dilapisi salju yang tebal. Suara tangisan Fu Hiong Kun masih terdengar.

Tok-ku Bu-ti di sebelah sana juga belum mati. Bibirnya bergerak-gerak. Jelas dia sedang menggumamkan sesuatu, namun suaranya demikian lirih sehingga tidak terdengar sama sekali. Tampaknya meskipun keadaan orang tua itu sudah sekarat, langit pun masih tidak menaruh sedikitpun belas kasihan kepadanya. Sampai nyawanya meninggalkan raganya, tetap saja tidak ada seorang pun yang mendengarkan kata-katanya yang terakhir.

* * *

Darah sudah berhenti mengalir. Namun air mata masih belum kering juga. Dengan bantuan bimbingan Fu Hiong Kun, akhirnya Wan Fei Yang dapat berdiri tegak. Air mata masih juga membasahi pipi gadis itu. Wan Fei Yang dapat merasakan bagaimana perasaan Fu Hiong Kun kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya. Perasaan semakin iba melihat keadaan gadis itu. Tanpa memperdulikan bahaya yang mungkin akan ditemuinya Fu Hiong Kun telah membela dirinya mati matian.

Wan Fei Yang tahu, pukulan batin yang diterima Fu Hiong Kun hari ini tidak kalah dengan penderitaan yang dialaminya tempo hari. Mungkin hatinya lebih sakit lagi. Fu Giok Su mati di tangan adiknya sendiri. Hal ini tidak terduga oleh siapa pun.

Bahkan oleh Tok-ku Bu-ti menjelang akhir hidupnya. Keduanya berdiri berdampingan dengan pakaian dipenuhi oleh butiran salju. Tidak ada seorang pun yang berkata apa- apa dalam keadaan seperti itu, rasanya memang tidak ada yang perlu dikatakan lagi.

Wan Fei Yang berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh kembali. Matanya melirik ke arah mayat Tok-ku Bu-ti yang sudah dilapisi salju. Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa suatu kelelahan yang tidak pernah dirasakannya seumur hidup. Apakah lelah menghadapi hidup yang berliku- liku? Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya, bahkan Wan Fei Yang sendiri.

Dendam antara Bu tong pai dengan Bu ti bun dan Siau Yau Yok sudah berakhir. Lalu bagaimana kelanjutannya bagi mereka yang masih hidup? Kelelahan yang dirasakan oleh Wan Fei Yang juga hanya suatu kehampaan.

Seseorang apabila hidup di dunia ini hanya untuk dendam yang tidak ada habis-habisnya, bukanlah terlalu menggelikan bahkan terlalu menyedihkan? Kecuali dendam kesumat, apalagi yang mereka miliki? Wan Fei Yang tidak tahu. Bahkan Fu Hiong Kun yang ada di sampingnya juga terlihat semakin menjauh. Langit dan bumi menjadi saksi berakhirnya semua pertikaian itu, namun mengapa manusianya sendiri dapat benar-benar mengakhirinya dengan tuntas?

Rasa pening tiba-tiba menyerang kepala Wan Fei Yang, dia terhuyung-huyung. Fu Hiong Kun mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Melihat keadaan anak muda itu, cepat- cepat dia memapahnya. Sejenak kemudian tubuh Wan Fei Yang pun terkulai dalam pelukan Fu Hiong Kun.

* * *

Salju masih turun. Namun tidak sederas pagi tadi. Matahari baru muncul meskipun tengah hari baru saja berlalu. Awan yang gelap perlahan-lahan mulai terang. Kadang-kadang cuaca memang sulit ditafsirkan, apalagi hati manusia.

Wan Fei Yang baru tersadar dari pingsan nya. Bau obat- obatan memenuhi kamar di mana dia berbaring. Kepalanya tidak dapat diangkat. Karena begitu dia menggerakkannya sedikit saja. rasa pusing masih menyerangnya. Hanya matanya yang dapat mengedar dengan leluasa. Sejenak kemudian dia tahu bahwa dia bukan berada di dalam kamarnya sendiri, tetapi di kamar Yan Cong Tian.

Sebetulnya kamar di dalam gedung Bu tong pai itu banyak sekali. Tapi sejak kepulangannya ke Bu tong san. Wan Fei Yang menolak ditawarkan kamar yang lain. Dia memilih tidur di kamarnya yang dulu. Meskipun kamar itu kecil sekali, tapi dia mempunyai kenangan yang manis di sana. Setiap kali dia membaringkan tubuhnya di atas balai-balai tersebut.

Bayangan Ci Siong tojin dalam pakaian hitam dan kepala berkerudung melintas di depan pelupuk matanya.

Sekarang dia berbaring di kamar Yan Cong Tian, tentu saja Wan Fei Yang segera mengerti apa sebabnya. Pertama pasti karena jarak kamarnya terlalu jauh sehingga repot mengangkat tubuhnya ke tempat itu. Kedua, Fu Hiong Kun yang merawatnya pasti kurang leluasa mondar-mandir mengantarkan obat untuknya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yo Hong masuk dengan bibir tersenyum. "Siau Fei, bagaimana keadaanmu?" tanyanya ramah.

Wan Fei Yang berusaha bangun dari tempat tidur tersebut. Tapi dia terkulai kembali. Yo Hong panik melihatnya. Dengan cepat dia menghampiri tempat tidur itu dan memegang bahu Wan Fei Yang. Wajahnya tampak cemas sekali.

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa Yo Suheng. keadaanku sudah jauh lebih baik. Hanya agak pening sedikit," katanya.

"Perlukah aku panggilkan Fu Kouwnio untuk melihat keadaanmu?"

Sekali lagi Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. "Tidak usah ... Jangan menyusahkan Hiong Kun. Di mana dia sekarang?"

"Masih di ruangan utama. Fu kouwnio turun dari Giok-hong- teng dan meminta kami membawamu pulang. Melihat mayat Fu Giok Su dan Tok-ku Bu-ti tergeletak begitu saja, aku menyuruh saudara yang lain membawanya sekalian. Aku tidak tahu apakah tindakan itu benar atau tidak. Sekarang Fu kouwnio masih menangis terus di ruang utama. Mayat Fu Giok Su juga ada di dalam ruangan itu," sahut Yo Hong sambil menarik nafas panjang.

"Apa yang kau lakukan benar sekali, Yo Suheng. Baik Tok-ku Bu-ti maupun Fu Giok Su memang merupakan musuh besar kita. Tapi itu ketika mereka masih hidup. Sekarang mereka sudah mati, kita tidak boleh memandang mayat mereka sebagai musuh. Uruslah baik-baik. Adakan upacara sembahyang yang sederhana saja. Setelah itu kuburkan mereka di bagian belakang gunung."

Yo Hong menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... kau istirahat saja dulu, biar aku yang membereskan segalanya." Entah mengapa perasaannya semakin kagum saja terhadap Wan Fei Yang. Dia merasa anak muda itu bukan saja baik hati malah berjiwa besar.

Wan Fei Yang memandangi bayangan punggung Yo Hong sampai keluar dari kamar itu. Ia menarik nafas panjang.

Kehidupan manusia benar-benar bagai sebuah panggung sandiwara. Dia hanya berharap Fu Hiong Kun dapat menerima pukulan batin yang hebat ini. Dia tahu gadis itu tabah sekali. Sekaligus kehilangan semua keluarga dalam jangka waktu beberapa bulan memang merupakan penderitaan batin yang berat sekali.

Wan Fei Yang memejamkan matanya. Dia tidak ingin berpikir banyak saat ini. Dia ingin

Membiarkan otaknya beristirahat setelah berbagai kejadian yang dialaminya. Hatinya sendiri sudah tawar menghadapi hidup seperti ini. Namun tugas masih ada, dia tidak dapat meninggalkan semuanya begitu saja. Pernah terlintas di pikirannya untuk menyucikan diri menjadi pendeta seperti almarhum ayahnya. Tetapi dia tahu sekarang bukan saatnya yang tepat.

Dia sudah mengambil keputusan secara diam-diam. Kelak apabila urusannya sudah selesai, dia akan mengasingkan diri di tempat yang terpencil dan meninggalkan dunia kang-ouw untuk selama-lamanya.

* * *

Memandangi mayat Fu Giok Su yang tergeletak di hadapannya, hati Fu Hiong Kun bagai disayat-sayat oleh sembilu. Bagaimana hatinya tidak menjadi pedih memikirkan bahwa

tangannya sendiri yang terpaksa menghabiskan nyawa abangnya itu.

Isak tangisnya masih terdengar. Terkadang tangannya terulur dan meraba wajah Fu Giok Su yang sudah dingin itu. Dia ingm menjerit sekeras-kerasnya untuk memohon pengampunan dari abangnya. Dia tahu sampai mati pun Fu Giok Su belum dapat menerima apa yang diperbuatnya. Dan sekarang dia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menyadarkan abangnya dan menjelaskan mengapa dia berbuat demikian.

Dia terpaksa melakukannya. Dia tidak ingin dosa Fu Giok Su bertambah banyak dan menambah lagi dendam yang sudah ada antara Siau Yau kok dan Bu-tong-pai.

“Tidakkah Toako menyadari apabila dia dapat membunuh Wan Fei Yang sekalipun, dia tetap tidak dapat menguasai murid Bu tong lagi. Mereka akan nekad melihat kematian Wan Fei Yang dan akan memberontak sekuat tenaga, meski berapa banyak pun orang yang harus berkorban.

Air mata mengalir dengan deras. Mungkin bagi keluarganya Fu Hiong Kun merupakan anak yang tidak berbakti. Tapi semua orang tahu perbuatannya itu memerlukan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Dia melakukannya justru karena dia mencintai keluarganya. Seandainya Thian ti mau menyudahi urusan tempo dulu, pasti Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang juga tidak akan memperpanjangnya lagi. Tapi rupanya takdir telah menentukan garis hidup mereka harus berakhir dengan cara demikian.

Pernahkah Fu Hiong Kun membayangkan bahwa di akhir hidupnya, bahkan murid Bu tong pai juga yang mengurusi jenasahnya serta layonnya ... ? Pasti tidak. Dan sudah pasti Tok-ku Bu-ti juga tidak akan menduga begitu akhirnya.

Mungkin dia sudah dapat memastikan bahwa dia tidak akan meninggalkan Giok hong-teng dalam keadaan hidup. Tapi dia pasti mengira bahwa setelah dia mau murid Bu tong akan melemparkannya ke dalam jurang dan membiarkan mayatnya membusuk disanan.

Fu Hiong Kun menarik nafas panjang. Pikirannya melayang- layang. Ketika Yo Hong berjalan mendekatinya, dia masih belum sadar juga. “FU kouwnio ...” sapa Yo Hong dengan suara lirih. Dia tidak berani mengejutkan gadis yang sedang bersedih hati itu.

Fu Hiong Kun menolehkan kepalanya dengan perlahan. "Yo Toako ... "

Yo Hong menggelengkan kepalanya melihat keadaan gadis itu. Dia sendiri sudah jauh berubah, adatnya tidak begitu berangasan lagi. Setelah mengalami berbagai kejadian yang mengejutkan, dia memang baru menyadari bahwa tingkah lakunya tempo dulu sangat tidak terpuji. Dia menjadi malu hati sendiri. Sikapnya sekarang agak merendah. Adatnya juga tidak keras lagi seperti sebelumnya, namun pendiriannya masih kukuh. Memang dia seorang manusia yang tegas.

Bahkan terlalu tegas, sehingga kadang-kadang tidak dapat membedakan mana yang benar atau mana yang salah. Kalau menurut adat Yo Hong sebelumnya, dia tidak pernah meminta pendapat orang lain apabila melakukan sesuatu. Tetapi sekarang dia selalu menanyakan dahulu kepada Fu Hiong Kun ataupun Wan Fei Yang. Sebetulnya ini merupakan perubahan yang menggembirakan. Hanya saja dalam keadaan seperti saat itu. hati siapa yang dapat merasakan kegembiraan.

“Siau Fei sudah sadar. Dia meminta aku mengurusi janasah Toakomu dan jenasah Tok-ku Bu-ti. Fu kouwnio, istirahatlah dulu. Sudah sepanjang hari kau berada di dalam ruangan ini. Kau bahkan tidak menelan sebutir nasi pun. Bagaimana kalau kau jatuh sakit? Jagalah kesehatanmu," kata Yo Hong dengan maksud menasehati.

Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya, “Bagaimana keadaan Wan Toako?"

“Sudah jauh lebih baik. Hanya kepalanya saja yang masih pusing. Kau tidak perlu

mengkhawatirkannya. Fu kouwnio, Bu tong pai sudah terlalu banyak berhutang kepadamu Jangan membuat perasaan kami semakin tertekan seandainya terjadi apa-apa pada dirimu.

Fu Hiong Kun menarik nafas panjang. "Jangan berkata begitu, Yo Toako. Kami dari keluarga Fu-lah yang banyak berdosa terhada Bu-tong-pai. Meskipun Toako-ku ini merupakan musuh besar kalian, tapi setelah mati kalian masih sudi mengurusi jenasahnya, kami dari keluarga Fu entah harus berbuat apa sebagai tanda terima kasih kami." Yo Hong tidak tahu harus mengatakan apa.

"Yo Toako, tolong gantikan aku sebentar. Aku ingin melihat keadaan Wan Toako. Lagi

Pula sudah saatnya meminum obat. Lukanya cukup parah, tapi untung saja Wan Toako sudah berhasil menguasai Tian Can sinkang, sehingga daya tahan tubuhnya lebih tinggi dari pada orang lain. Namun dia harus beristirahat untuk jangka waktu yang cukup panjang.”

Yo Hong menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa lagi.

* * *

Ketika Fu Hiong Kun masuk ke dalam kamarnya, Wan Fei Yang sedang tertidur dengan pulas. Fu Hiong Kun tidak mau mengganggunya. Dia meletakkan mangkok berisi obat di atas meja kemudian bersiap-siap untuk keluar kembali.

"Hiong kun. " Tiba-tiba terdengar suara lirih Wan Fei Yang

yang menyapanya.

Fu Hiong Kun menolehkan kepalanya. “Wan Toako, kau sudah bangun?"

Wan Fei Yang melihat mata gadis itu yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia merasa iba sekali. “Hiong Kun, maafkan kalau semua terpaksa harus berakhir seperti ini. Sebetulnya aku … “

"Jangan berkata apa-apa, Wan Toako. Aku mengerti. Kau tidak bersalah. Semuanya sudah merupakan takdir. Hanya saja … “

"Hanya saja apa? Katakan Hiong Kun, seandainya aku dapat membantu … “ Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya. “Aku sedang berpikir, seandainya saja anak toako masih hidup … “

Wan Fei Yang menarik nafas panjang. Wajahnya berubah kelam. Hatinya masih tertekan setiap kali mengingat nasib Lun Wan Ji.

Dia pernah mencintai gadis itu. Walaupun mungkin cintanya pada saat itu merupakan cinta monyet yang terjadi pada dunia remaja yang belum tahu apa-apa. Tapi pada dasarnya dia memang menyayangi gadis itu. Lun Wan Ji adalah gadis pertama yang mengisi lubuk hatinya. Lun Wan Ji pula yang memperkenalkan kata cinta kepadanya.

"Apa yang kau katakan memang benar. Seandainya anak itu masih hidup, tentu aku akan merawatnya seperti anak kandungku sendiri.”

Fu Hiong Kun memandangnya dengan tertegun. Meskipun apa yang mereka bicarakan hanya merupakan perumpamaan yang tidak mungkin lagi menjadi kenyataan, tapi dia tetap tergugah oleh perasaan Wan Fei Yang yang tulus.

"Kau?"

"Kenapa? Anak itu adalah anak Sumoayku. Meskipun ayahnya adalah musuh kami, tapi anak itu tidak berdosa. Sayang sekali usianya begitu pendek. Bahkan dia tidak pernah tahu siapa dirinya dan siapa orang tuanya."

"Lupakanlah semua yang telah berlalu. Wan Toako, kau harus merawat luka dalammu baik baik. Sebelum menutup mata, Gihu sangat mengharapkan kau yang akan meneruskan partai Bu-tong-pai. Kaulah yang akan membangkitkan kembali kejayaan partai ini. Jangan kecewakan Gihu yang sudah berada di alam baka." Serangkum perasaan sakit kembali menyusup dalam hati Wan Fei Yang. Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dia tidak berminat lagi mencampuri urusan dunia kang-ouw ... ? Dia hanya ingin melakukan satu tugas lagi, tapi dia tidak menceritakannya kepada siapa pun. Dia tidak ingin mereka khawatir kalau tahu apa yang ia rencanakan dalam hatinya.

"Biarkanlah aku pikirkan hal ini baik-baik. Nanti apabila sudah sembuh akan kuberi jawaban kepada kalian."

Fu Hiong Kun tidak memaksanya. Dia mengangguk kecil. "Baiklah ... Wan Toako minum dulu obat yang ada di atas meja itu. Obat itu harus diminum sebelum makan. Nanti aku akan membawakan bubur untukmu."

"Terima kasih, Hiong Kun. Kami merasa tidak enak menyusahkan dirimu terus menerus."

Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dia keluar dari kamar itu dengan lergesa-gesa. Sampai di depan koridor panjang, air matanya tidak terbendung lagi. Dia menangis tersedu-sedu. Hatinya pedih sekali. Sebetulnya dia ingin menceritakan tentang Tok-ku Hong yang terjatuh ke dalam jurang akibat bergebrak dengan Fu Giok Su, abangnya. Namun dia tidak sanggup menyakiti hati Wan Fei Yang dalam keadaan seperti ini. Lebih baik dia mengatakan terlebih dahulu kepada Yo Hong. Nanti apabila luka Wan Fei Yang sudah sembuh, dia akan mencari kesempatan yang baik untuk mengatakannya.

* * *

Salju masih bertebaran menyelimuti jalan raya. Dalam cuaca seperti ini tidak banyak orang yang berlalu lalang. Padahal kota ini biasanya ramai dengan pengunjung baik pedagang maupun pelancong. Hang ciu memang merupakan pusat perdagangan yang selalu ramai. Namun pada musim dingin seperti ini, orang lebih memilih tinggal di rumah daripada bepergian. Tapi herannya kedai-kedai kopi maupun arak malah semakin laris di musim ini. Mungkin mereka menikmati kenikmatan tersendiri minum arak sambil berbincang-bincang dengan rekan kenalan ataupun sahabat yang hanya kebetulan bertemu di tempat tersebut.

Kain panjang yang berluliskan 'Kedai arak Yung Sing' melambai-lambai tertiup angin. Kedai arak yang tidak terlalu besar itu sudah penuh oleh pengunjung. Suara percakapan terdengar riuh rendah. Bahkan ada yang tertawa terbahak- bahak ketika seseorang menceritakan kejadian yang lucu.

Di sudut sebelah kanan duduk dua orang laki-laki berusia selengah baya. Di hadapan mereka terhidang satu kendi arak dan dua buah cawan. Juga ada sepiring kacang rebus yang masih mengepulkan asap. Mereka menikmati arak dan kacang di atas meja sambil berbincang-bincang dengan suara lirih.

"Bagaimana pendapat Li heng tentang kabar yang kita dengar tadi?"

"Kabar itu pasti benar adanya. Bu-tong-pai adalah sebuah partai besar. Mereka tidak mungkin menyiarkan kabar yang tidak nyata. Tok-ku Bu-ti pasti benar sudah mati. Hal ini tidak perlu diragukan lagi."

"Tapi mengapa mayatnya tidak dibawa turun gunung? Padahal orang-orang kita sudah tersebar di sekitar daerah itu dan menunggunya hampir satu minggu?"

"Kalau begitu Sun heng belum mendengar kabar yang kuterima tadi pagi. Mayat Tok-ku Bu-ti memang tidak dibawa turun. Mereka mengebumikan jenasahnya di atas Bu-tong- san.” Rekannya itu tampak tertegun. "Mengapa mereka mau melakukan hal itu, padahal Tok-ku Bu-ti adalah musuh besar partai tersebut?"

"Justru ini membuktikan kebesaran jiwa murid Bu-tong-pai. Menurut selentingan yang tersebar di luaran, memang banyak murid Bu-tong-pai yang tidak puas dengan keputusan itu, tapi mereka tidak berani membantah perintah Wan Fei Yang dan Yo Hong."

"Lalu bagaimana kita harus membuktikan kepada ketua kita bahwa Tok-ku Bu-ti memang benar-benar sudah mati?"

Orang she Li yang ternyata bernama Li Seng itu menarik nafas panjang. "Hal ini jugalah yang memusingkan kepalaku. Mana adat ketua kita sangat keras. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri mayat Tok-ku Bu-ti, dia pasti tidak akan percaya begitu saja."

Orang she Sun yang bernama Sun Po itu langsung ikut-ikutan menarik nafas panjang. "Entah bagaimana dengan keadaan Wan Fei Yang sendiri?"

"Menurut kabar sih dia tidak terluka sama sekali. Tapi aku tidak percaya. Murid Bu-tong-pai pasti menutupi hal ini.

Mereka takut kalau seandainya ada orang jahat yang mengincar Bu-tong-pai, dan mereka mengetahui Wan Fei Yang sedang terluka parah pasti akibatnya, tidak dapat dibayangkan."

"Jadi menurut pendapat Li heng, sekarang Wan Fei Yang juga sedang sekarat?"

"Sekarat tidaknya aku tidak berani memastikan, tapi yang pasti Wan Fei Yang juga terluka cukup parah. Kalau tidak mengapa tidak ada orang kita yang berhasil melihatnya dalam beberapa hari terakhir ini." "Mungkin dia baik-baik saja tapi untuk sementara masih enggan turun dari Bu-tong-san," kata Sun Po mengemukakan pendapatnya.

"Tidak mungkin. Kita sudah telusuri riwayat Wan Fei Yang. Dan kita tahu apa yang telah dialaminya selama ini. Kalau dia sudah sehat atau tidak terluka sama sekali, dia pasti sudah turun gunung untuk berkelana kembali. Dia bukan jenis manusia yang dapat terkungkung dalam lingkungan seperti Bu tongsan. Apalagi di sana terlalu banyak kenangan pahit yang dialaminya," tukas Li Seng.

"Kata-kata Li heng ada benarnya juga. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Sementara ini, lebih baik kita kembali dulu ke markas dan melaporkan kejadian ini kepada Pangcu kita. Lihat bagaimana reaksinya nanti?"

"Memang saat ini hanya itu yang dapat kita perbuat. Sebaiknya Li heng jangan mengambil tindakan apa-apa sebelum mendapat perintah dari Pangcu, jangan-jangan kita yang akan kena hukuman apabila hati Pangcu sedang tidak senang."

"Sun heng jangan khawatir. Siaute dapat mempertimbangkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh.”

Keduanya berhenti berbicara. Arak yang masih tersisa di teguknya sampai kering. Setelah meletakkan uang perak di atas meja, mereka langsung meninggalkan kedai arak tersebut dengan tergesa-gesa.

* * *

Luka Wan Fei Yang berangsur-angsur sembuh. Dia sudah mulai keluar dari kamarnya. Jenasah Tok-ku Bu-ti dan Fu Giok Su sudah dikebumikan. Keadaan sudah pulih kembali seperti biasa. Fu Hiong Kun masih menetap di Bu-tong-san. Pada dasarnya dia memang tidak mempunyai tujuan yang lain. Dia sudah sebatang kara sekarang. Satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya hanya Wan Fei Yang.

Dengan hati-hati Fu Hiong Kun telah menceritakan kejadian yang dialami oleh Tok-ku Hong. Wan Fei Yang memang terkejut sekali, namun ketabahannya sangat mengagumkan. Mungkin karena perasaannya sudah mulai kebal terhadap apa yang dinamakan musibah. Tetapi dia tetap memerintahkan kepada murid Bu-tong-pai untuk mengikutinya ke tempat kejadian. Dia ingin berusaha menemukan mayat Tok-ku Hong walaupun dia kemungkinan itu kecil sekali.

Dari pagi sampai malam, mereka bergiliran turun ke dalam jurang dan mencari-cari. Tapi setiap batu karang sudah diperiksa, mayat Tok-ku Hong tetap tidak dapat ditemukan. Akhirnya Wan Fei Yang mengambil keputusan untuk menghentikan pencarian terhadap mayal adiknya itu.

Fu Hiong Kun berusaha menghiburnya. Tapi Wan Fei Yang hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

"Aku tidak apa-apa, Hiong Kun. Jangan khawatir. Kalau Hong moay masih hidup, suatu hari nanti dia pasti akan kembali ke Bu tong san. Tapi kalau dia memang sudah mati, berarti takdirnya memang hanya sampai saat itu saja."

"Wan Toako, apakah kau masih membenci Giok Su koko meskipun dia sudah mati?" Tiba-tiba Fu Hiong Kun mengajukan pertanyaan seperti itu.

Wan Fei Yang menatap gadis itu dengan sinar mata tajam.

"Tidak, Hiong Kun. Kau tahu apa yang terlintas dalam pikiranku?" Wan Fei Yang balik bertanya kepada gadis itu. Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

AKU tidak yakin Fu Giok Su membunuh Hong moay. Maksudku membunuh dengan tangannya sendiri. Bisa jadi memang penyebab kematian Hong moay, tapi itu berbeda bukan?”

Fu Hiong Kun tertegun mendengar perkataan Wan Fei Yang. "Wan Toako, apa maksud ucapanmu itu?"

Wan Fei Yang menarik nafas panjang. "Terus terang saja sejak kau menceritakan peristiwa itu tadi malam, aku tidak dapat tidur, sepanjang malam aku terus memikirkannya.

Aku tidak ragu akan ucapan Toakomu yang mengatakan Hong moay terjatuh ke dalam jurang. Masih hidupkah dia? Masih hidupkah dia? Siapa pun tidak berani memastikan. Aku tahu kemungkinannya hampir tidak ada kalau melihat jurang yang demikian dalam dan ombak laut yang begitu bergelora. Tapi yang kita bicarakan sekarang adalah masalahmu, bukan masalahku.”

Fu Hiong Kun semakin tidak mengerti. “Wan Toako, jangan berbelit-belit. Katakanlah terus terang. Kau membuat hatiku semakin penasaran.”

“Hiong Kun, aku tahu hatimu diselimuti perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan oleh Yaya dan toakomu.

Apalagi setelah mendengar ucapan Fu Giok Su yang mengatakan bahwa dia telah menghantam Hon moay ke dalam jurang. Tapi coba kau pikirkan baik-baik. Untuk apa Fu Giok Su melakukan hal itu. Dia tidak mempunyai dendam pribadi dengan Hong moay. Malah sebenarnya Hon moaylah yang harus membencinya karena dialah yang telah menggempur Bu ti bun sehingga hancur berantakan. Dia pula yang membunuh para murid Bu ti bun sehingga sebagian besar melarikan diri dengan kocar kacir. Nah, apakah ada hal yang membuat Fu Giok Su begitu membenci Hong moay sehingga harus membunuhnya?" Fu Hiong Kun termenung mendengar keterangan Wan Fei Yang. "Lalu penjelasa apa yang terpikir oleh Wan Toako sekaran ini?"

"Hiong Kun, aku sangat memahami adat Hong moay. Adatnya sangat keras. Itu merupakan pembawaan yang sulit diubah oleh siapa pun. Fu Giok Su juga sama. Aku mungkin tidak kalah denganmu dalam memahami sifat Fu Giok Su. Dia seorang manusia yang selalu memikirkan keuntungan. Jadi, aku yakin tadinya dia pasti bermaksud menyandera Hong moay untuk menekan diriku. Tapi seperti aku katakan tadi, adat Hong moay sangat keras. Apalagi kalau orang hendak menggunakan dirinya untuk memaksa diriku. Mungkin Fu Giok Su ingin membunuh aku atau mungkin. "

"Memaksamu menyerahkan rumus ilmu Tian can sinkang," tukas Fu Hiong Kun.

Wan Fei Yang tertawa getir. "Akhirnya pikiranmu tergugah juga. Dan apa yang akan dilakukan Hong moay apabila orang mendesaknya dalam keadaan seperti itu sedangkan ilmu silat yang dimilikinya bukan tandingan Fu Giok Su. Apa yang akan kau lakukan seandainya kau adalah Hong moay?"'

"Melihat cintanya yang besar terhadapmu, dia pasti tidak sudi membiarkan dirinya menjadi alat yang dapat digunakan untuk menekan dirimu. Kalau aku jadi Hong cici, lebih baik aku memilih jalan kematian," sahut Fu Hiong Kun dengan mata menerawang membayangkan seandainya dia yang menjadi Tok-ku Hong pada saat itu.

"Tepat! Begitulah adat Hong moay. Aku yakin ketika itu dia memang sudah bergebrak beberapa jurus dengan Fu Giok Su. Akibatnya dia terdesak mundur. Fu Giok Su tidak menduga dia akan berbuat nekat. Sedangkan Hong moay yang mendapatkan dirinya berada di tepi jurang, langsung memilih jalan terjun kedalamnya dari pada dijadikan sandera oleh Fu Gio Su."

Air mata Fu Hiong Kun mulai mengembang.

"Tapi, hal ini sama saja dengan Giok Su koko yang lelah membunuhnya. "

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak. tidak sama, Hiong Kun. Hal ini menandakan bahwa

Hong moay yang memilih jalannya sendiri. Aku mengatakan hal ini agar kau jangan merasa tertekan terus menerus. Kau tidak boleh selalu dibayangi oleh kesalahan yang telah dilakukan oleh keluargamu. Kau adalah kau. Mereka adalah mereka. Jangan samakan dirimu dengan mereka. Apalagi baik Yayamu ataupun Toakomu telah menebus dosanya dengan kematian. Biarkanlah mereka tenang. Jangan lagi kau menyia- nyiakan hidupmu dengan cara menyalahkan diri seperti ini."

Fu Hiong Kun terharu sekali. Air matanya mengalir dengan deras. Tapi perasaannya mendengar keterangan Wan Fei Yang. Meskipun anak muda tu juga hanya mengambil kesimpulan atas pemikirannya sendiri, tapi dia percaya memang begitulah kejadiannya. Apalagi kalau membayangkan kembali kekerasan hati Tok-ku Hong memang tidak mungkin dia bersedia dirinya dijadikan senjata untuk menekan Wan Fei Yang. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih. Wan Toako. Kau baik sekali. Meskipun yang mendapat musibah itu adikmu sendiri. tapi kau tetap berpikir panjang demi diriku, Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu yang sudah begitu banyak kami terima."

"Hiong Kun, apabila kita membicarakan soal budi semua urusan pasti tidak bisa diselesaikan. Hutangku kepadamu lebih banyak lagi. Kalau bukan kau yang berusaha mendapatkan Soat lian dari Ping san, pasti hari ini aku masih merupakan seorang manusia cacat yang tidak dapat melakukan apa-apa. Kadang-kadang aku malah berpikir keadaan seperti itu mungkin lebih baik. Kalau ilmu silatku belum pulih kembali, pasti Yaya-mu tidak akan mati di tanganku dan Yan Supek?"

“Tidak, Wan Toako," Fu Hiong Ku n menggelengkan kepalanya. "Semua ini sudah takdir. Kakekku itu memang sudah tersesat sekali. Kalau dia tidak mati di tanganmu, dia juga pasti akan mati di tangan orang lain akibat perbuatannya sendiri. Kita tidak usah memperpanjang masalah ini lagi. Yang penting adalah jawabanmu mengenai permintaan Gihu yang terakhir."

Wan Fei Yang menarik nafas panjang. "Sekarang aku belum sanggup memenuhi permintaannya. Biarlah untuk sementara Yo Hong Suheng yang menggantikan Yan Supek mengurus Bu-tong-pai. Aku ingin turun gunung beberapa bulan. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku harap kau bersedia membantu Yo Suheng di sini, Hiong Kun. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali lagi dan menentukan siapa yang berhak dan pantas menjadi Ciang bun jin generasi seterusnya."

Hiong Kun terkejut mendengar ucapan Wan Fei Yang. "Wan Toako, urusan apa lagi yang harus kau selesaikan?"

Wan Fei Yang tidak ingin mengatakannya terus terang. "Bukan apa-apa. Hanya urusan kecil. Kau tidak usah khawatir. Tolong sampaikan kepada Yo Suheng bahwa aku akan berangkat sekarang juga. Aku rasa sekarang tidak ada hal lagi yang akan membahayakan Bu-tong-pai. Setidaknya untuk sementara ini."

Wan Fei Yang menarik nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya beberapa tindak. Tiba-tiba dia menoleh sekali lagi. "Hiong Kun, jaga dirimu baik-baik!" Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya. Air matanya mengalir semakin deras. Dia tidak berani menanyakan urusan apa yang akan diselesaikan oleh Wan Fei Yang, tapi diam- diam hatinya khawatir. Dia takut urusan yang akan diselesaikan oleh Wan Fei Yang akan membuat luka dalamnya kambuh karena kesehatan pemuda itu belum pulih sekali. Tapi dia juga sadar bahwa tekad Wan Fei Yang tidak dapat diubah lagi. Terpaksa dia memandangi keper-gian Wan Fei Yang dengan air mata berlinang.

* * *

Gedung itu megah sekali. Letaknya di kota raja. Yang tinggal di dalamnya ternyata merupakan penasehat Kaisar pada saat itu. Para pengawal dengan seragam yang gagah berdiri berjajar di depan pintu.

Belum lagi para pelayan yang hilir mudik di dalam gedung itu. Tidak perlu dijelaskan lagi pemilik gedung ini pasti kaya sekali. Taman saja seluas rumah penduduk biasa. Dan ada kolam yang jernih dengan ikan-ikan yang berwarna warni berenang di dalamnya.

Pemilik gedung itu bernama Kan Han Beng, biasa dipanggil dengan sebutan Kan taijin. Dia adalah seorang pejabat yang sangat berkuasa di kota raja tersebut. Sikapnya sangat tegas. Wajahya berwibawa. Tapi hatinya baik sekali. Dia paling benci melihat sesuatu yang tidak adil. Oleh karena itu. secara diam- diam banyak pejabat yang korup tidak menyukainya. Kan taijin tentu saja tahu. tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia belum mendapat bukti yang jelas untuk mengungkapkan kejahatan mereka di depan Kaisar.

Kan taijin sudah menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki kasus orang-orang itu. Ada satu orang yang sangat dicurigainya. Dia adalah kepala komandan yang menangani pengawal-pengawal di ke rajaan. Hanya ada satu hal yang memberatkan hati Kan taijin. Orang yang bernama See bun To itu sangat disayang oleh Kaisar. Pekerjaannya memang dilaksanakan dengan baik. Yang membuat Kan taijin curiga justru sering keluar masuknya orang-orang dunia kangouw di rumah kediaman See bun To itu. Kalau dipancing oleh Kan taijin. dia selalu mengemukakan alasan bahwa dia memang seorang yang supel dalam pergaulan. Dia suka berteman dengan siapa saja. Yang menjadi persoalan justru Kan taijin dapat melihat bahwa orang dunia kangouw yang keluar masuk di rumah See bun To itu merupakan golongan manusia yang berwajah garang dan tidak sedap dipandang.

Sekali lihat saja, sudah dapat dipastikan bahwa mereka terdiri dari tokoh-tokoh golongan sesal. Apakah tidak aneh kalau seorang kepala komandan dalam istana bergaul dengan orang-orang semacam itu?

Itulah sebabnya kecurigaan Kan taijin semakin hari semakin dalam. Dia penasaran ingin mengetahui apa sebenarnya yang dilakukan oleh See bun To dengan orang-orang itu. Dia memerintahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk meningkatkan pengawasan di rumah kepala komandan tersebut.

Masih ada satu hal lagi yang menggangu pikiran Kan taijiu, yaitu kekayaan See bun To yang tidak masuk akal. Dia memang pernah mengakui bahwa orang tuanya adalah seorang hartawan yang sangat kaya raya dan ketika menionggal mewariskan seluruh hartanya kepadanya. Cerita ini juga tidak sepenuhnya dipercayai oleh Kan taijin. Dia curiga See bun to melakukan usaha gelap dengan orang-orang dunia kangouw tersebut. Mungkin itulah sebabnya mereka sering mondar-mandir di gedung rumahnya yang seperti istana itu.

Rasanya tidak masuk akal apabila seorang teman yang tinggalnya demikian jauh selalu mengunjunginya beberapa kali dalam setahun.

Kan taijin sendiri turun temurun merupakan pejabat kerajaan. Dia juga sangat kaya. Tapi kalau dibandingkan dengan See bun To, kekayaannya masih terpaut jauh. Padahal kedudukannya lebih tinggi. Sayangnya Kan taijin bukan orang dunia kangouw. Dia tidak mengenal tokoh-tokoh yang sering mengunjung See bun To. Dia hanya pernah bertemu dengan beberapa di antara mereka. Melihat sinar mata mereka yang tajam. Kan taijin yang sudah banyak makan asam garam itu langsung dapat memastikan bahwa ilmu silat yang mereka miliki cukup tinggi.

Hari ini, seperti biasanya Kan taijin duduk di halaman depan rumahnya yang merupakan taman yang luas. Salju yang putih menutupi pohon-pohon yang tinggi sehingga membuat pemandangan yang indah. Kan taijin memang paling suka menikmati teh yang harum sambil menikmati pemandangan seperti itu.

Seorang gadis cantik berjalan ke dekatnya dengan dibimbing oleh seorang pelayan. Mendengar suara langkah kaki mendatangi. Kan taijin menolehkan kepalanya. "Soat ji, bagaimana keadaanmu hari ini?" tanyanya lembut.

"Sudah agak kuat. Ayah. " sahut gadis itu lirih.

Kan taijin memandang gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Pelayan tadi memapah gadis yang bernama Kan Soat Cu duduk di samping Kan taijin. Gadis itu merupakan putri tunggal Kan taijin. Tubuhnya sakit-sakitan sejak kecil. Tapi baik Kan taijin maupun nyonyanya sangat menyayangi gadis itu.

Kan taijin melirik ke arah pelayan yang membimbing Kan Soat Cu itu. "Apakah Ong taihu (Tabib Ong) masih belum datang juga?”

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Mungkin hari ini Ong taihu banyak pasien sehingga datang agak lambat."

"Baiklah." Kan taijin mengibaskan lengan bajunya. "Kau boleh masuk sekarang." Pelayan itu segera mengiakan lalu mengundurkan diri. Kan Soat Cu memandang pemandangan di sekitarnya dengan terkesima.

"Tia, kau memberi nama Soatu Cu kepada anak, apakah karena anak dilahirkan pada musim salju?"

Kan taijin tertawa lebar. "Benar, Tia dan ibumu menikah delapan tahun lebih, baru mendapatkan engkau seorang anak. Kebetulan pada itu memang musim salju. Maka dari itu kau diberi nama Soat Cu (Mutiara pada musim salju).”