-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 31

Jilid 31

Manusia she Li dan she Sun itu tertegun mendengar ada orang yang menukas kata-katanya. Pandangan mereka segera beralih kepada orang yang mengenakan pakaian biru itu. Dalam waktu yang bersamaan, orang yang mengenakan pakaian biru itu juga membalikkan tubuhnya. Wan Fei Yang!

Orang she Sun tampaknya tidak mengenal Wan Fei Yang. Dia menatap anak muda itu dengan pandangan curiga. Orang she Li juga memperhatikan Wan Fei Yang dari atas kepala sampai ke bawah kaki, kemudian perlahan-lahan dia berdiri. Matanya masih menatap Wan Fei Yang lekat-lekat.

Rambut Wan Fei Yang acak-acakan. Jenggotnya tumbuh dengan semrawutan di sekitar dagunya. Entah sudah berapa lama dia tidak berbenah diri. Matanya mendelik ke arah dua orang she Li dan she Sun itu. Mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya dibatalkan kembali.

Orang she Sun melirik ke arah rekannya yang she Li sekilas. "Li heng, orang ini ... " Mata orang she Li itu tiba-tiba membelalak. "Bukan ... kah ... Wan tai ... hiap adanya ...” Suaranya tersendat-sendat.

"Wan Fei Yang?" Orang she Sun langsung berdiri. Dia menatap Wan Fei Yang dengan pandangan kurang yakin.

"Wan taihiap ... kami berdua tidak tahu anda ... " kata orang she Li dengan nada agak gugup.

"Liongwi ... " Wan Fei Yang menjura dalam-dalam. “Apa yang kalian katakan tadi aku sudah mendengarnya dengan jelas. Aku sama sekali tidak menyalahkan kalian. Hanya Yan supekku itu ... "

"Wan taihiap sama sekali tidak tahu?" tanya orang she Li masih dengan suara gugup.

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya. "Siaute justru ingin memohon petunjuk dari liongwi ... "

"Apa yang Wan taihiap dengar tadi merupakan kenyataan." Orang she Li menari nafas panjang.

"Bukannya Siaute tidak percaya, tapi ... Yan Supek sudah berhasil melatih ilmu Tian can sinkang, sedangkan Tok-ku Bu- ti saja bukan tandingannya sekarang."

"Kekuatan Tian can sing kang ... cayhe sudah pernah membuktikannya." Wan Fei Yang memandang orang she Li dengan tatapan tajam. "Siaute tidak ada maksud menyombongkan ilmu silat golongan kami ... " katanya dengan nada rendah hati.

Orang she Li itu tertawa getir: "Cayhe adalah piausu dari Tian sai piaukiok. Ketika Wan taihiap melangsungkan pesta pernikahan, cayhe juga hadir bersama Cong piautau." Wan Fei Yang mana mungkin mengingat satu per satu tamu yang demikian banyak. Terpaksa dia tertawa getir.

"Silahkan diteruskan ... "

"Pada saat itu tamu yang hadir begitu banyak. Tentu Wan taihiap tidak mengingatnya satu per satu. Apalagi cayhe hanya seorang piauwsu yang tidak ternama."

"Li heng jangan berkata begitu!" Sekali lagi Wan Fei Yang menjura. "Harap Li heng jangan memanggil siaute dengan sebutan Taihiap. Siaute benar-benar tidak sanggup menerimanya. Oh ya ... kita kembali lagi pada pokok persoalan tadi. Kalau Li heng memang sudah pernah melihat kekuatan tenaga Tian can sin kang Yan Supek, tentunya Li heng tidak percaya begitu saja kalau Yan Supek-ku dapai dibunuh orang dengan mudah."

"Seandainya mereka adalah tukang-tukang biasa, jangan kata baru dua puluh atau tiga puluh orang, seandainya jumlah mereka tiga ratusan orang pun, belum tentu mereka sanggup mendekati diri Yan lo cianpwe, tapi mereka ... "

"Samaran siapa orang-orang itu sebenarnya?" desak Wan Fei Yang yang hatinya semakin tegang.

"Tian Sat," kata orang she Li dengan suara rendah. Wan Fei yang tertegun. "Apa artinya Tian Sat?"

"Tian Sat adalah sebuah organisasi yang menyediakan pembunuh bayaran. Tidak ada orang yang tahu di mana markas mereka. Orang yang pernah menggunakan jasa mereka tentu sudah mengerti bahwa mereka mempunyai sebuah peraturan, yaitu tidak boleh membocorkan rahasia mereka kecuali kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan mereka. Juga tidak ada orang yang tahu seberapa besarnya kekuatan organisasi tersebut sebenarnya. Orang hanya tahu bahwa di dunia ini ada organisasi yang bernama Tian Sat, dan mereka tidak pernah gagal dalam tugas yang dijalankan."

Wajah Wan Fei Yang berubah menjadi kelam.

"Kalau begitu, maksud Li heng tentunya ada orang yang membayar uang menggunakan jasa Tian Sat untuk membunuh Supekku?"

Orang she Li menganggukkan kepalanya. "Menurut selentingan yang tersebar di dunia kangouw, Tian Sat tidak pefnah memandang hal lain kecuali uang. Tanpa uang, Tian Sat tidak akan turun tangan membunuh siapa pun. Motto mereka tidak ada dendam pribadi."

"Jadi Yan Supek benar-benar sudah mati?" kembali Wan Fei Yang mengajukan pertanyaan itu. Dia benar-benar tidak dapat mempercayai keterangan semacam itu. Hanya dia yang paling jelas tentang siapa adanya Yan Cong Tian, dan sampai seberapa tinggi ilmu yang dimilikinya. Rasanya tidak mungkin Yan Cong Tian bisa dibunuh orang begitu saja, meskipun seandainya di dunia ini benar ada organisasi bernama Tian Sat seperti yang dikatakan oleh orang she Li di hadapannya ini.

Orang she Li menarik nafas panjang mendengar pertanyaan itu. "Rasanya aku tidak mempunyai alasan untuk membohongi Kongcu."

"Dari mana kau mendapatkan berita ini?" tanya Wan Fei Yang yang masih merasa penasaran.

"Dari mulut seorang murid Bu Tong." orang she Li itu malah menatap Wan Fei Yang dengan heran. Kemudian dia balik bertanya. "Apakah Wan Kongcu sampai saat ini masih belum menerima berita dari mereka?" Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Dengar kabar mereka sudah berpencaran keluar. Mereka mencarimu dan ingin mengajak kau kembali ke Bu-tong-san, sebab di sana tidak ada orang yang berani mengambil keputusan setelah Yan locianpwc meninggal."

"Herannya mengapa sampai sekarang mereka masih belum menemukan Wan kongcu?" tukas orang she Sun.

"Mungkin karena tempat ini agak terpencil," sahut orang she Li.

Wan Fei Yang mengelus jenggotnya yang tumbuh liar di dagunya. "Rasanya aku masih belum bisa menerima kenyataan ini," katanya dengan nada sendu.

"Kabar ini sudah tersebar di mana-mana. Coba Wan Kongcu menuju selatan dan menyelinap benar atau tidaknya keterangan kami ini." Orang she Sun tertawa getir. "Kalau Wan Kongcu tidak segera kembali, kami takut Bu-tong-san akan mengalami keruntuhan yang mengenaskan."

Wajah Wan Fei Yang agak berubah mendengar kata-katanya. "Apakah Li heng dan Sun heng berdua pernah mendengar siapa orangnya yang mau mengeluarkan uang untuk membunuh Yan Supek?" tanyanya kembali.

"Sebetulnya ini sebuah rahasia. Wan kongcu jangan sekali-kali mengatakan kepada orang lain bahwa kami yang memberitahu. Menurut selentingan yang tersebar, orang yang mengeluarkan uang kemungkinan besar bekas Buncu Bu-ti- bun, Tok-ku Bu-ti!" kata orang she Li dengan nada berbisik.

Wajah Wan Fei Yang berubah hebat mendengar kata-katanya. "Tok-ku Bu-ti?"

Orang she Li menganggukkan kepalanya. "Ada juga orang yang menduga bisa jadi Fu Giok Su," tukas orang she Sun.

"Kemungkinannya sama besar!" Wan Fei Yang mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Apa tindakan yang akan Wan kongcu ambil sekarang?" tanya orang she Li.

"Siaute ingin memohon diri sekarang. Terima kasih atas keterangan yang liongwi berikan."

Belum lagi orang she Li itu mengatakan sesuatu. Wan Fei Yang sudah meletakkan beberapa uang perak di atas meja dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Mata orang she Li dan she Sun itu mengantarkan kepergian Wan Fei Yang. Di bibir mereka terlihat seulas senyuman licik.

Orang she Sun malah menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu rekannya. "Penampilan Li heng benar-benar meyakinkan," katanya.

"Tentu saja. Karena apa yang aku katakan memang merupakan kenyataan. Coba kalau disuruh berdusta, pasti wajahku akan berubah sedikit banyaknya."

"Betul juga. Kita kan sudah membunuh Yan Cong Tian, setidaknya kita harus mengerahkan sedikit tenaga membantu murid Bu-tong-pai."

"Manusia she Wan itu menyembunyikan diri di tempat yang demikian terpencil. Kalau kita tidak mengerahkan sedikit tenaga membantunya, entah sampai kapan murid-murid Bu Tong baru bisa berhasil menemukannya?"

"Seharusnya kila juga beritahukan sekalian jejak Tok-ku Bu-ti sekarang." "Tidak perlu ... " Orang she Li tertawa dingin. "Tok-ku Bu-ti sudah mulai kewalahan menghadapi anggota-anggota kita yang ingin membunuhnya. Sekarang dia sudah mengirimkan surat tantangan ke Bu-tong-san dan mengajak Wan Fei Yang bertanding dengannya di Giok-hong-teng."

"Mengapa dia harus melakukan semua itu? Buat apa dia meminta kita membunuh Yan Cong Tian seandainya sekarang dia tetap ingin bertarung dengan Wan Fei Yang?"

"Dia membenci Yan Cong Tian karena orang tua itulah yang membakar markas Bu-ti-bun sehingga dia tidak mempunyai tempat untuk bernaung diri. Sedangkan apa yang dilakukannya belakangan disebabkan oleh pihak kita."

"Disebabkan oleh pihak kita?"

"Betul. Kita mendesaknya sampai dia tidak tenang sekejap pun. Di mana-mana dia menjumpai bahaya yang mungkin bisa merenggut nyawanya." Orang she Li itu kembali tertawa dingin. "Manusia seperti dia tentu tidak rela mati di tangan kita. Sengaja dia menantang Wan Fei Yang. Pertama untuk menghindarkan diri dari kejaran kita. Kedua, seandainya dia mati di tangan Wan Fei Yang, tentu kematiannya jauh lebih berharga daripada mati di tangan anggota kita."

"Dalam pertarungan di Giok-hong-teng nanti, bagaimana kalau yang mati bukan Tok-ku Bu-ti, tetapi Wan Fei Yang?"

"Hal itu kecil sekali kemungkinannya. Tapi seandainya dia bisa menang pun, kau kira dia tidak akan terluka parah? Setahuku, ilmu Wan Fei Yang sudah jauh lebih tinggi daripadanya." Senyuman di wajah orang she Li semakin dingin dan kaku.

"Aku juga tidak menganggap Tok-ku Bu-ti dapat meraih kemenangan. Apalagi kebencian Wan Fei Yang terhadapnya sudah terlanjur mendalam!" Orang she Sun menggelengkan kepalanya. "Sudah tentu paling bagus kalau dia benar-benar mati di tangan Wan Fei Yang. Dengan demikian, pihak kita bisa menghemat tenaga karena ada orang yang melakukan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan."

"Setidaknya tidak ada korban lagi yang jatuh di pihak kita. Untuk mengincarnya dalam beberapa hari belakangan ini, sudah lebih dari seratus anggota kita yang mati di bawah tangannya. Benar-benar sial ketua kita mendapatkan langganan seperti Tok-ku Bu-ti." 

"Siapa yang menyangka kalau dia bisa jatuh miskin seperti itu?"

"Tok-ku Bu-ti dapat memimpin Bu-ti-bun sehingga berkembang pesat seperti tempo hari, sebetulnya bukan hal yang mudah. Orang ini memang mempunyai otak yang cerdas dan hati yang licik. Dia tidak segan menggunakan cara apa saja untuk mencapai keinginannya."

"Tapi dia melakukan kesalahan besar. Seharusnya dia mengusahakan uang sejumlah sepuluh laksa lail itu untuk membayar hutang yang dijanjikannya kepada ketua kita."

Orang she Li tidak berkata apa-apa lagi. Dia mengangkat cawannya yang berisi arak dan meneguknya dengan perlahan. Demikian lambatnya dia meneguk arak itu sehingga orang yang melihatnya tentu mengira bahwa dia benar-benar menikmati arak tersebut. Ketika dia meletakkan cawannya kembali, seorang pemuda penjaja obat-obatan masuk ke dalam rumah makan dengan langkah tergesa-gesa mendekati kearahnya. “Burung merpati sudah dilepaskan,” bisiknya disamping telinga orang she Li.

“Dia sudah mendapatkan seekor kuda dan melarikannya dengan kecepatan tinggi.”

“Apakah dia tidak curiga mengapa di tempat terpencil ini dia bisa mendapatkan seekor kuda yang demikian baik dan dengan harga murah pula?”

“Tampaknya pikrinnya terus dipenuhi bayangan Yan Cong Tian yang sudah mati. Ia tidak curiga sama sekali.”

“Ternyata kematian Yang Cong Tian merubah haluan kesedihannya yang semula. Tampaknya meskipun dia sengaja berkelana di dunia kangouw, tapi hatinya masih memikirkan kepentingan Bu-ting-pai. Terhadap surat tantangan yang dikirimkan oleh Tok-ku Bu-ti, dia pasti akan menerimanya dengan sepenuh hati.” Orang she Li itu mengalihkan pokok pembicaraannya. “Apakah kalian sudah mendapatkan berita tentang Tok-ku Bu-ti?”

"Dia masih berdiam di rumah tukang pukul besi itu.”

Orang she Li tertawa lebar. “Kita juga sudah harus berangkat sekarang.” Dia menolehkan kepalanya dan berseru: “Laopan, hitung semuanya!”

Pemilik rumah makan itu sedang membersihkan meja yang ditempati Wan Fei Yang tadi. Mendengar panggilan orang she Li, dia mendatangi dengan tergopoh-gopoh. Mengenai tingkah laku kedua tamunya ini yang rada aneh. Dia memang merasa curiga. Tapi dia tidak ingin ambil perduli hal yang bukan merupakan urusannya. Demikian juga para tamu yang lain.

Desa ini memang agak terpencil dan jauh dari keramaian. Hanya ada ratusan penduduk yang tinggal di desa tersebut. Itulah sebabnya Wan Fei Yang memilih desa ini untuk tempat tinggal sementara. Namun tetap saja jejaknya dapat diketemukan oleh anggota Tian Sat. Hal ini membuktikan kebesaran organisasi yang satu ini. Dapat dibayangkan berapa banyaknya anggota yang tergabung di dalamnya. Dan entah siapa orang yang sanggup mengepalai sebuah organisasi seperti ini. Namun ketuanya belum pernah tersebar di dunia kangouw. * * *

Malam sudah larut. Hujan mulai turun rintik-rintik. Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini juga tidak berbintang. Langit gelap berawan. Angin bertiup dengan kencang.

Rasanya tidak ada seorang pun yang berminat keluar rumah pada saat seperti itu. Apalagi didalam hujan yang lebat.

Tapi dari kejauhan justru terlihat seekor kuda berpacu dengan kencang menembus kegelapan malam. Dia adalah Wan Fei Yang. Sudah sehari semalam dia melarikan kudanya seperti orang kesetanan. Kadang-kadang dia berhenti sejenak agar kudanya dapat makan dan minum atau beristirahat sekedarnya. Dia sendiri hampir lupa akan keperluan tubuhnya terhadap makanan dan minuman. Hanya satu hal yang memenuhi benaknya saat itu. Benarkah cerita yang disebarkan oleh orang she Li di rumah makan itu?

Satu hal lagi yang menjadi masalahnya sekarang. Ketika melarikan diri dari Bu-tong-san tempo hari, dia sama sekali tidak melihat arah yang diambilnya. Sekarang dia jadi agak bingung menentukan arah untuk kembali ke Bu-tong-san. Dia hanya mengambil jurusan selatan. Kudanya dilarikan tanpa membelok ke arah yang lain. Sekarang dia berada di tengah hutan. Dia tidak tahu apakah arah yang diambilnya benar atau tidak. Kudanya mulai melemah. Dia tidak ingin sampai kudanya itu jatuh sakit. Bagaimana dia bisa mendapatkan kuda yang lain di tengah hutan seperti ini?

Setelah memacu kudanya kurang lebih dua li. Wan Fei Yang menarik tali kendali kuda tersebut agar jalannya tidak begitu kencang. Matanya menerawang ke sekitar tempat itu. Hanya kegelapan yang ditemuinya. Dikeluarkannya sebuah tabung kecil dari dalam sakunya. Setelah digesekkan beberapa kali, tabung itu menyalakan api yang remang-remang, setidaknya ada sedikit penerangan yang membantu penglihatan matanya. Dengan cara itu dia menjalankan kudanya perlahan-lahan. Kurang lebih dua puluh depa kudanya berjalan, dia melihat sederetan lentera yang redup. Hal ini menandakan bahwa di depan sana ada sebuah desa kecil. Wan Fei Yang berjalan terus. Akhirnya dia melihat bahwa apa yang diduganya tidak salah memang ada beberapa rumah penduduk yang berjejer di sana.

Rumah penduduk itu kecil-kecil sekali. Kemungkinan kehidupan di desa ini sangat me larat sehingga penghuni yang lainnya sudal mengungsikan diri ke tempat lain. Mungkin tanah di sekitar daerah ini tidak sesuai untuk bercocok tanam. Sambil menduga-duga Wan Fei Yang terus menjalankan kudanya. Sekarang dia sudah berada di depan deretan rumah penduduk itu. Untuk sesaat dia ragu menentukan rumah mana yang harus di ketuknya. Bagaimanapun juga dia tidak dapat melanjutkan perjalanan malam ini. Hujan turun semakin deras, kudanya sudah lemas sekali dia harus menemukan rumah yang memungkinkan baginya untuk bermalam.

Tiba-tiba pintu sebuah rumah yang letaknya di tengah-tengah terbuka. Seorang kakek tua menyembulkan kepalanya dan mengangkat lentera di tangannya untuk melihat ke arah Wan Fei Yang.

Unluk sejenak, Wan Fei Yang masih bimbang, kemudian dia menjalankan kudanya mendekati rumah kakek itu. Setelah itu dia turun dan kudanya. “Lopek, maaf mengganggu, Cayhe ingin menumpang barang semalam. Apakah Lopek keberatan kalau cayhe menumpang di rumah Lopek?"

Kakek tua itu memperhatikannya dengan seksama. Mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi tersenyum ramah. “Mari masuk anak muda … Tambatkan saja kudamu di pinggir sumur itu,” katanya sambil menunjuk ke dalam.

Wan Fei Yan menganggukkan kepalanya. Cepat dia menarik tali kudanya masuk kedalam halaman rumah tersebut dan menambatkan kudanya ke sebuah tiang di samping sumur. Kakek tua itu menyodorkan lenteranya ke hadapan anak muda itu agar dia dapat melihat agak jelas.

"Cepat masuk ke dalam rumah. Bajumu basah kuyup semua. Kau bisa sakit nanti,” kata orang tua itu selanjutnya.

Hati Wan Fei Yang merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dirasakannya. “Terimakasih, lopek. Kau sendiri juga jangan berlama-lama diluar. Hujan semakin deras,” katanya dengan nada terharu.

Mereka pun segera melangkah ke dalam rumah. Ruangan depannya sederhana sekali. Ditengah-tengah hanya terdapat sebuah meja persegi dengan tiga buah bangku kayu yang mengelilinginya. Di sebelah kiri ada sebuah kamar yang hanya dibatasi dengan sehelai kain yang sudah penuh dengan tambalan. Wan Fei Yang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut. “Lopek tinggal seorang diri di tempat ini?”

"Tadinya dengan seorang istri, tapi nenek nenek itu sudah meninggalkan Lohu setahun yang lalu. Sekarang aku hanya sendirian."

"Cayhc she Wan, entah apa she Lopek yang mulia?"

"Lohu she Cia... panggil saja Cia lopek. Sekarang lebih baik Kongcu membasuh diri dan beristirahat di dalam kamar.

Setelah mengurus kuda Kongcu nanti, Lohu akan sediakan sedikit bubur untuk pengisi perut," kata kakek|tua itu

Wan Fei Yang terharu sekali. Itulah sebabnya dia menyukai kehidupan di desa kecil. Orang-orangnya masih polos dan lugu. Mereka tidak segan mengulurkan tangan memberi perolongan meskipun keadaan sendiri belum tentu mencukupi. Berbeda dengan kehidupan dunia kangouw yang selalu penuh dengan kekerasan.

Malam itu Wan Fei Yang menginap di rumah si kakek tua. Meskipun dia tidak dapat idur dengan pulas, tapi setidaknya dia bisa duduk bersila dan menghimpun hawa murninya agar kelelahannya pulih kembali.

Keesokan harinya pagi-pagi dia sudah keluar dari kamar. Kakek tua itu sudah menjerang air untuknya. Dia membasuh mukanya dan nenengok sebentar keadaan kudanya.

Tamlaknya kuda itu sudah kuat kembali karena dapat beristirahat sepanjang malam. Wan Fei Yang mengucapkan terima kasih yang sebesar-esarnya dan memberikan sedikit uang kepada si kakek.

Tadinya si kakek itu tidak mau menerimanya. Namun Wan Fei Yang tetap memaksa. Akhirnya dengan pandangan terharu kakek itu nenerimanya. "Lopek, aku ingin menanyakan arah mana yang harus cayhe tempuh untuk menuju Bu-tong-san?"

Kakek itu tertegun mendengar pertanyaannya. "Ada keperluan apa Kongcu pergi ke Bu-tong-san?"

"Cayhe memang murid Bu Tong. Sudah beberapa bulan cayhe berkelana di dunia kangouw. Tiba-tiba cayhe mendapat berita bahwa Supek cayhe mati karena dibokong oleh sejumlah penjahat, oleh karena itu cayhe ingin cepat-cepat pulang untuk mengetahui benar atau tidaknya berita tersebut," kata Wan Fei Yang terus terang.

Wajah kakek itu agak berubah mendengar keterangan tersebut. "Apakah Supekmu bernama Gi ban li?"

Sekarang Wan Fei Yang yang terpana mendengar pertanyaannya. "Bagaimana Lopek bisa mengetahui bahwa di Bu-tong-san ada yang bernama Gi Ban Li?" tanyanya penasaran. Kakek tua itu menarik nafas panjang.

"Lohu pernah bekerja menjadi pelayan di rumah keluarga Gi Ban Li. Dengan kata lain, Gi Ban li adalah Kongcu Lohu.

Ketika kedua orang tuanya meninggal, Kongsu lohu memilih berkelana di dunia persilatan untuk mencari ilmu. Belakangan lohu dengar dia masuk menjadi murid Bu-tong-pai. Mungkin Gi Kongcu juga pernah mencari berita Lohu, tapi Lohu sudah lama hidup di desa yang terpencil ini sehingga putuslah hubungan kami."

Wan Fei Yang terharu sekali. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua itu. "Cia kong kong, cayhe adalah putra Gi Ban Li. Sedangkan ayah, dia orang tua sudah berpulang beberapa bulan yang lalu."

Bibir kakek tua itu bergetar mendengar ucapan Wan Fei Yang. Dia cepat-cepat memapahnya berdiri. "Thian maha kuasa!

Ternyata di usia tua ini, lohu masih sempat bertemu dengan putra Kongcu. Tapi ... tadi Kongcu mengatakan bahwa Gi Kongcu Lohu itu sudah meninggal dunia? Benarkah?"

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya. "Tidak heran kalau Cia kong kong tidak tahu. Desa ini memang terpencil dan jauh dari Bu-tong-san. Tampaknya tidak banyak berita yang tersebar di daerah ini. Ayah sudah menjadi Ciang bun jin Bu- tong-san sejak dua puluh tahun yang lalu. Namun dia orang tua terbunuh oleh orang jahat."

Air mata mengalir di pipi Cia kong kong. Dia sedih sekali mendengar berita itu. Namun sekaligus hatinya juga senang dapat bertemu dengan Wan Fei Yang.

"Terima kasih kepada Thian, Kongcu mendapatkan putra yang demikian gagah," kata-katanya terhenti. Suatu ingatan seperti melintas di benaknya. "Tapi ... ada yang tidak benar Kongcu mengatakan bahwa Kongcu she Wan ... " Terpaksa Wan Fei Yang menceritakan garis besar riwayat hidupnya. Orang tua itu mendengarkan dengan mata terbelalak. Dia tidak menyangka Wan Fei Yang mempunyai riwayat hidup yang demikian malang. Dia memandang anak muda itu dengan sorot iba. "Kongcu, hari sudah mulai siang. Berangkatlah ke Bu tong san dan selesaikan semua urusan di sana. Apabila suatu hari Kongcu merasa jenuh hidup di dunia kangouw, pintu rumah Kong Kong yang reot ini siap menerimamu kapan saja,” katanya setelah Wan Fei Yang mengakhiri ceritanya.

Wan Fei Yang menjura sekali lagi kepadi orang tua itu. Dia keluar dari halaman rumah tersebut sambil memegang tali kendali kuda nya.

"Kongcu tinggal mendaki bukit yang ada di ujung desa ini kemudian ambil arah barat. Setelah menyeberangi sungai, beloklah ke ara timur. Kongcu tentu akan sampai di Bu-tong- san dalam jangka waktu kurang lebih tiga hari."

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya. Dia menjeblak ke atas kudanya sambil melambaikan tangan. Kemudian dia melarikan kudanya dengan kencang. Orang tua itu memandangi punggung Wan Fei Yang sampai menghilang di kejauhan. Dia menarik nafas sekali lagi sebelum masuk ke dalam rumah.

Banyak sekali kejadian di dunia ini yang tidak terduga. Bahkan semuanya begitu kebetulan karena telah diatur oleh Thian yang kuasa!

* * *

Api di tungku berkobar-kobar. Meskipun sebentar lagi akan masuk musim salju dan hawa di malam hari dingin menggigit, namun kedua orang tukang besi itu tetap mengucurkan keringat dengan deras. Mereka adalah tukang pukul besi yang paling terkenal dalam jarak seratus li. Keduanya tidak saling mengenal satu dengan lainnya sebelum ini. Tok-ku Bu-ti yang mengumpulkan keduanya di tempat itu. Tadinya mereka tidak bersedia menerima tawaran tersebut. Tapi mereka melihat dengan mata kepala sendiri sepasang kepalan tangan Tok-ku Bu-ti yang sekeras besi. Sekali hantam saja batu yang besar langsung hancur berantakan. Dengar sinar mata ketakutan mereka terpaksa menganggukkan kepalanya.

Di bawah pengalaman yang luas dan ilmu yang profesional dari kedua tukang itu, kurang lebih dalam jangka waktu tujuh hari, sebuah tongkat besi berkepala naga sudah hampir rampung dikerjakan. Panjang maupun beratnya hampir seimbang dengan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti yang sebelumnya.

Tok-ku Bu-ti justru tinggal di belakang rumah ini. Kecuali waktu makan, selebihnya dia lebih banyak berdiam di dalam kamar. Dia juga jarang berbicara. Sebetulnya kedua tukang itu dapat meninggalkan tempat itu setiap waktu. Tok-ku Bu-ti tidak pernah menjaga mereka. Tapi mereka sendiri yang tidak berani. Semacam ketakutan yang sulit diuraikan dengan kata- kata telah merasuki jiwa mereka.

Mereka hanya mengharapkan satu hal. Seandainya tongkat kepala naga itu telah selesai dibuat, mereka akan dibiarkan pergi oleh Tok-ku Bu-ti atau tamu yang aneh itulah yang akan meninggalkan mereka tanpa mendatangkan kesulitan apa-apa lagi.

Tentu saja Tok-ku Bu-ti dapat memahami isi hati mereka. Dia tidak memperdulikannya. Dia memang telah merencanakan bahwa dia akan segera meninggalkan tempat itu setelah tongkat kepala naganya selesai dirampungkan.

Sejak dia mengirim surat tantangan ke Bu-tong-san, orang- orang Tian Sat tidak pernah lagi mengganggunya. Apa sebabnya mereka menghentikan niat membunuhnya, Tok-ku Bu-ti paham sekali.

Dia yakin orang-orang Tian Sat pasti mempunyai akal untuk mengetahui apa isi surat yang dikirimkannya ke Bu-tong-san. Dia juga yakin surat itu pasti akan sampai di Bu-tong-san tanpa mengalami kesulitan. Orang yang membawa surat itu memang murid Bu-tong-pai. Sebetulnya dia mendapat tugas untuk mencari Wan Fei Yang. Tapi di perjalanan dia dihadang oleh Tok-ku Bu-ti. Tentu saja dia terkejut sekali. Dikiranya bahwa Tok-ku Bu-ti pasti akan membunuhnya.

Walau pun akhirnya dia sadar Tok-ku Bu-tidak akan melakukan hal itu, namun rasa terkejutnya tidak hilang sama sekali. Tok-ku Bu-ti menyatakan isi hatinya bahwa dia ingin murid Bu tong tersebut mengantarkan surat ke Bu tong san. Surat itu berisi tantangan kepada Wan Fei Yang untuk bertarung di atas Giok Hong teng. Bagaimana murid Bu tong itu tidak menjadi panik. Wan Fei Yang saja belum ditemukan, sedangkan waktu perjanjian yang ditentukan oleh Tok-ku Bu-ti tidak berapa lama lagi.

Murid Bu tong pai itu tidak berani menunda waktu lagi. Dia terpaksa membatalkan niatnya mencari Wan Fei Yang.

Karena dia berpikir bahwa bukan hanya dia seorang yang menjalankan lugas tersebut. Lebih baik dia segera membawa surat tersebut ke Bu tong san agar mereka bisa mempersiapkan diri seandainya waktunya tiba dan Wan Fei Yang belum berhasil ditemukan juga.

Setelah berhasil menitipkan surat itu kepada murid Bu tong pai tersebut, perasaan Tok-ku Bu-ti menjadi jauh lebih tenang.

Semacam ketenangan yang sudah lama tidak dirasakannya.

Dia menentukan waktu pertarungan jatuh pada tanggal satu bulan dua belas. Meskipun waktunya tidak seberapa lama lagi, namun Tok-ku Bu-ti yakin, sampai saatnya tentu apa yang direnvanakannya sudah dapat selesai. Apa yang hendak dilakukan tidak banyak. Tapi entah mengapa, tiba-tiba dia mempunyai perasaan bahwa dia ingin bertemu dengan Tok-ku Hong sekali lagi. Biar bagaimana, dia pernah membesarkan Tok-ku Hong seperti anaknya sendiri. Di antara mereka ada sejenis perasaan yang sulit diuraikan.

Mereka juga sudah menggunakan sebutan ayah dan anak selama belasan tahun.

Begitu teringat Tok-ku Hong, dia merasa dirinya agak menyesal atas apa yang telah dilakukannya kepada gadis itu. Dia sendiri merasa heran mengapa tiba-tiba hatinya bisa berubah menjadi lemah dan sentimentil.

Kemana perginya Tok-ku Hong? Apakah dia masih hidup di dunia ini? Tok-ku Bu-ti tidak tahu. Seandainya Bu-ti-bun masih berdiri, asal dia menurunkan perintah saja, dalam waktu beberapa hari para anggotanya pasti sudah kembali memberi laporan yang memuaskan. Sekarang dia sudah sebatang kara. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Tanpa terasa, kesepian menyelinap di hatinya.

Dia bagaikin seekor burung yang tersesat; Sebetulnya diri Tok-ku bu-ti juga patut dikasihani. Sayangnya rasa gengsi orang ini terlalu tinggi. Dia angkuh sekali. Seandainya! sejak dulu dia mau memaafkan Sen Man Cing, tentu dia tidak mengalami kesengsaraan seperti hari ini.

Selama ini dia tidak pernah bercermin diri. Dia tidak mau mengakui bahwa kesalahannya tidak sepenuhnya ada pada diri Sen Man Cing. Dia yang mulai lebih dahulu.

Keranjingannya akan ilmu silat membuat rumah tangganya yang harmonis hancur. Bukan Sen Man Cing tidak mencintainya. Wanita itu pernah mencintainya sepenuh hati, namun kekecewaan yang melanda seorang wanita memang kadang kadang berakibat mengerikan. Dia tidak mendapatkan kasih sayang yang selayaknya. Oleh karena itulah dia mencuri kasih sayang yang terlihat di hadapannya. Dia sengaja menolong Ci Siong tojin sebetulnya dengan niat menarik perhatian Tok-ku Bu-ti. Memancing kecemburuan hati laki-laki itu. Siapa sangka dari awal sampai akhir Tok-ku Bu-ti malah lidak pernah menjenguknya, bahkan tidak tahu kalau dia telah menolong musuhnya. 

Sampai Sen Man Cing hamil akibat hubungan gelapnya dengan Ci Siong tojin dan wanita itu sendiri yang mengaku semuanya, dia baru tahu. Tapi kembali dia membuat suatu kesalahan besar. Dia tidak mengoreksi siapa yang bersalah dalam hal ini. Bahkan dia sengaja membiarkan semuanya berlangsung dan mengaku Tok-ku Hong sebagai anak kandungnya. Sementara itu dendam dalam hatinya tetap berkobar. Sehari berlalu menjadi sebulan. Sebulan berlalu menjadi setahun. Dendam itu bagai lapisan es yang makin lama makin menumpuk. Sampai akhirnya ketika ia mengalami berbagai kejadian hebat seperti Bu-ti-bun digempur oleh Thian-ti dan Fu Giok Su, dendamnya langsung meledak. Dia menyalahkan Sen Man Cing sebagai pembawa sial dalam hidupnya. Dan dia membalaskan dendamnya kepada Tok-ku Hong. Maksudnya tentu saja agar Ci Siong tojin tidak dapat tenang di alam baka Sen Man Cing dibiarkan hidup semakin menderita.

Apa hasilnya? Hal inilah yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dia hanya tahu membalaskan dendamnya tanpa memikirkan apa akibatnya apabila maksudnya gagal.

Bukankah dia menghancurkan dirinya sendiri! Ternyata sekarang dia baru dapat merasakan bahwa luka yang memang sudah ada dalam hatinya malah semakin menganga.

Tok-ku Bu-ti membayangkan apa yang di lakukan Tok-ku Hong apabila bertemu dengannya. Dia tahu gadis itu pasti membencinya sekarang. Dia juga tahu tidak ada harapan lagi baginya untuk mengembalikan Tok-ku Hong yang dulu.

*** Pada hari keenam. Wan Fei Yang berhasil mencapai Bu-tong- san. Para murid Bu-tong-pai menyambutnya dengan gembira. Fu Hiong Kun berdiri di depan halaman melihat Wan Fei Yang turun dari kudanya. Yo Hong segera menghampiri.

"Wan sute, syukurlah akhirnya kau kembali juga!"

Wan Fei Yang tersenyum pahit. "Di perjalanan aku mendengar kabar kematian Yan Supek. Aku masih berharap kabar itu bohong adanya."

Yo Hong menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sedangkan air mata mengembang lagi di sudut bola mata Fu Hiong Kun. Wajah Wan Fei Yang berubah pucat seketika. "Jadi benar berita itu?" tanyanya dengan bibir bergetar.

Yo Hong dan Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya serentak.

"Mari Wan Sute, aku antarkan kau melihat peti jenasahnya. Kami meletakkannya di ruang perabuan para Ciang bunjin. Kami pikir sebaiknya menunggu kau kembali baru diperabukan."

Tubuh Wan Fei Yang terhuyung-huyung. Dan diiringi oleh Yo Hong dan Fu Hiong Kun, mereka berjalan ke belakang gedung di mana terdapat sebuah tempat yang khusus menyimpan abu jenasah para tokoh tingkat atas Bu-tong-pai.

Wan Fei Yang tidak dapat menahan dirinya lagi ketika melihat peti jenasah itu. Dia menangis tersedu-sedu. Setelah Ci Siong tojin meninggal, orang yang paling dekat dengannya memang tinggal Yan Cong Tian. Sekarang orang tua itu juga tiada lagi. Bagaimana hatinya tidak sedih memikirkan nasib Bu-tong-pai yang demikian tragis?

"Aku akan membalas dendam ini, Yan Supek. Tenanglah di alam baka!" katanya dengan sepasang tinju dikepalkan erat- erat.

"Wan sute, kami menerima surat tantangan dari Tok-ku Bu-ti yang ditujukan kepadamu.” Yo Hong segera mengambil surat tersebut dan memperlihatkannya kepada Wan Fei Yang.

"Hm ... Tok-ku Bu-ti ... Hari kematianmu sudah tiba!" teriaknya marah.

***

Menjelang senja ...

Langit berawan, matahari masih memancarkan sinarnya dengan gagah. Namun karena terselimuti sebagian oleh awan tebal, maka sinarnya tidak begitu terik, malah membawa kehangatan di penghujung tahun. Angin juga bertiup semilir. Membawa kesejukan yang menyamankan perasaan.

Pakaian yang dikenakan Tok-ku Hong sangat tipis. Tapi berjalan di atas pegunungan yang menjulang tinggi, dia tidak merasakan hawa dingin sama sekali. Mungkin karena perasaannya sudah kebal terhadap alam sekitar.

Sudah sekian lama dia berjalan tanpa tujuan. Pikirannya selalu melayang-layang. Hatinya tidak dapat tenang. Dia sendiri tidak mengerti apalagi yang dipikirkannya. Namun perubahan pernikahannya kali ini memang memberikan pukulan yang berat baginya. Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan bahwa orang yang dicintainya dan akhirnya berhasil menikah dengannya serta menjadi suaminya adalah abangnya sendiri.

Mengapa hidup mempermainkannya? Bahkan dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya adalah putri Ci Siong to jin, bukan Tok-ku Bu-ti. Seumur hidup, apabila Tok-ku Bu-ti mengadakan pertarungan dengan Ci Siong to jin, dia selalu mendoakan agar Tok-ku Bu-ti yang akan meraih kemenangan. Malah setiap kali Tok-ku Bu-ti menang, dia selalu menanyakan mengapa Ci Siong tojin tidak dibunuh saja.

Tok-ku Hong tidak tahu apakah dia harus membenci ibunya yang telah menutupi hal ini sekian lama. Dia juga tidak dapat memastikan apakah ibunya yang bersalah dalam hal ini. Tapi ada satu hal yang benar-benar mengejutkan hatinya juga teramat menyakitkan hatinya. Meskipun Tok-ku Bu-ti bukan ayah kandungnya, tapi hubungan mereka selama ini sangat dekat. Mengapa dia tega melakukan semua ini terhadap dirinya? Apakah hanya untuk mencapai kepuasan dirinya dalam menyakiti ibunya? Apa yang akan ia lakukan apabila bertemu lagi dengan Tok-ku Bu-ti?

Baik Tok-ku Bu-ti maupun Tok-ku Hong tidak tahu bahwa mereka sama-sama mempunyai pikiran yang serupa. Hal ini membuktikan bahwa sebetulnya kedua orang itu sudah terikat hubungan batin yang kuat. Namun keduanya sama-sama tidak menyadari. Sebenarnya hubungan Tok-ku Hong memang lebih dekat dengan Tok-ku Bu-ti ketimbang Sen man Cing.

Sejak kecil Tok-ku Bu-ti sudah melarang Tok-ku Hong menjumpai Sen Man Cing. Pertemuan antara ibu dan anak itu dapat terhitung dengan jari tangan sepanjang tahun.

Bukannya Sen Man Cing tidak pernah mencoba menemui Tok-ku Hong, tapi Tok-ku Bu-ti mengancamnya dengan mengatakan bahwa dia akan memberitahukan kepada Tok-ku Hong siapa dirinya apabila Sen Man Cing berani menemui gadis itu tanpa sepengetahuannya. Namun biar bagaimana

pun, hubungan antara mereka adalah hubungan ibu dan anak. Setelah menginjak dewasa, malah Tok-ku Hong yang sering menemui Sen Man Cing secara sembunyi-sembunyi.

Setelah meninggalkan Bu-ti-bun, Tok-ku long selalu berjalan tanpa tujuan. Tanpa disadari dan tanpa disengaja, ternyata dia berjalan ke arah Bu-tong-san lagi. Nalurinya seakan tidak berfungsi lagi. Dia juga tidak pernah berhenti dan menanyakan kepada siapa pun di daerah apa dia berada. Kemudian di perjalanan ia mendengar selentingan kabar tentang kematian Yan Cong Tian. Saat itu dia baru sadar bahwa tempat di mana dia berada hanya berjarak satu hari perjalanan lagi ke Bu- tong-san.

Siapa yang membunuh orang tua yang dikenalannya galak tapi sebetulnya berhati penuh kasih itu? Siapakah yang tega melakukannya? Apakah Tok-ku Bu-ti? Memang di sepanjang perjalanan dia mendengar ucapan orang-orang yang menggosipkan kejadian tersebut. Kebanyakan dari mereka mencurigai Fu Giok Su yang melakukannya. Namun dia justru terpikir akan Tok-ku Bu-ti. Mengapa? Apakah dia lebih mengenal Tok-ku Bu-ti dari orang yang lainnya?

Sebenarnya bukan demikian. Sedikitnya pikiran Tok-ku Hong masih dapat bekerja. Berdasarkan kelicikan Tok-ku Bu-ti, hal apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang itu? Sekarang Tok- ku Hong sadar bahwa Tok-ku Bu-ti sanggup melakukan perbuatan yang paling rendah sekalipun.

Begitu teringat kembali kepada Tok-ku Bu-ti, serangkum perasaan sakit sekali lagi menyelinap di dalam hatinya. Dia sedih sekali. Hatinya bimbang. Sebetulnya dia ingin sekali naik ke atas Bu-tong-san dan menyembah di depan peli jenasah Yan Cong Tian. Namun dia tidak dapat mengambil keputusan yang baik.

Bukan karena dia takut bertemu dengan Wan Fei Yang. Mereka toh belum melakukan apa-apa. Setelah terjadi gelombang yang besar hatinya memang pernah kalut, namun sekarang semuanya telah berlalu. Perasaannya meskiput kebal tapi sudah jauh lebih tenang dari sebelum.

Setelan mengetahui bahwa dia masih mempunyai seorang saudara di dunia ini, bagi Tok-ku Hong malah harus disebut sebagai keberuntungan. Dia merasa bangga mempunyai abang seperti Wan Fei Yang. Tapi begitu mengingat mata- mata penuh ejekan yang akan memandanginya, hatinya kembali tertekan. Dapatkah mereka mengerti bahwa semua ini bukan kesalahannya atau pun kesalahan Wan Fei Yang?

Mereka justru dijebak oleh Tok-ku Bu-ti yang berhati binatang.

Dia tidak dapat memastikan apakah murid Bu tong akan menatapnya dengan pandangan seperti yang dikhawatirkannya, namun mau tidak mau dia harus memikirkannya baik-baik. Sebetulnya dia merupakan seorang gadis yang berhati hangat. Ibarat tungku api yang berkobar- kobar. Tapi setelah mengalami berbagai pukulan batin, dia sudah berubah jauh.

Tok-ku Hong berjalan mondar-mandir sekian lama di sekitar kaki gunung tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk naik ke atas untuk melihat kejadian sebenarnya. Meskipun berita itu sudah ramai dibicarakan orang. Tapi sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, hatinya masih kurang percaya. Walaupun dalam sanubarinya pernah terselip perasaan bahwa apa yang dikatakan orang itu adalah kenyataan, namun dia masih berusaha menghibur hatinya sendiri dengan mengatakan bahwa bisa saja orang-orang itu salah dengar.

Jalanan menuju ke puncak gunung berliku-liku. Cara jalan Tok-ku Hong juga lambat sekali. Tidak ada hal yang membuatnya harus tergesa-gesa. Seandainya Yan locianpwe itu memang sudah mati, bagaimana cepatnya pula dia sampai ke Bu-tong-san, tetap tidak dapat menghidupkan orang tua itu kembali.

Dia malah berjalan dengan kepala ditundukkan. Pikirannya melayang-layang. Sama sekali tidak mempertimbangkan apakah arah yang diambilnya ini betul akan mencapai Bu tong san. Asal di depan matanya masih ada jalai yang dapat ditempuh, dia tidak menghentikan langkah kakinya.

Ketika sedang berjalan itulah, tiba-tiba dia mempunyai firasat bahwa ada sepasang mata sedang menatapnya lekat-lekat. Tanpa sadar dia mendongakkan kepalanya. Pada saat itulah dia melihat seseorang.

Orang itu duduk di atas sebuah batu besar tempat ketinggian. Rambutnya acak-acakan jenggotnya begitu panjang sehingga sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa dia sudah lama sekali tidak pernah membenahi dirinya. Pakaiannya pun compang camping seperti pengemis di jalanan. Wajahnya kusut, bagaikan orang yang otaknya dibebani berbagai pikiran.

Namun sinar matanya tajam sekali laksana sebilah pedang yang baru diasah. Dia sedang menatap ke arah Tok-ku Hong dengan tidak berkedip sekejap pun.

Tok-ku Hong memperhatikannya sejenak. Kemudian dia segera dapat mengenali orang tersebut. "Fu Giok Su ... !" serunya tanpa sadar.

"Tidak salah, aku memang Fu Giok Su!"

Tok-ku Hong merasa bahwa orang itu berubah begitu banyak. Bahkan nada suaranya pun berubah menjadi parau seperti orang yang sudah lanjut usianya.

Fu Giok Su mencibirkan bibirnya. "Bagaimana aku harus menyapamu sekarang, Tok-ku kouwnio atau Gi Kouwnio atau mungkin Wan hujin?"

Wajah Tok-ku Hong berubah hebat mendengar sindirannya. Namun dia berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan perasaannya.

“Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" tanyanya ketus.

Fu Giok Su tertawa lebar. "Aku toh Ciang bunjin Bu-tong-pai. Kalau aku muncul di daerah sekitar Bu tong, apanya yang aneh?"

Tok-ku Hong menatapnya dengan pandangan mengejek. "Kulit wajahmu masih cukup tebal untuk menyebut diri sendiri sebagai Ciang bunjin Bu-tong pai!"

"Kedudukanku sebagai Ciang bunjin bukan aku sendiri yang mengangkatnya. Bahkan ayahmu ... Ci Siong to jin maupun ayahmu yang satu lagi, Tok-ku Bu-ti, juga mengakui aku sebagai Ciang bunjin Bu-tong-pai." ... |

Tubuh Tok-ku Hong tergetar saking marah nya. Sesaat kemudian suatu ingatan terlintas di benaknya. Dia tertawa dingin. "Kau yang menggunakan jasa Tian Sat untuk membunuh Yan Pep pek." Tuduhnya langsung.

Fu Giok Su malah tertegun.

"Yan Pek pek? Yan Cong Tian maksudmu?'' "Masih pura-pura bodoh ... !"

"Kematian Yan Cong Tian tidak ada hubungannya denganku."

"Kalau berani melakukan, jangan takut mengakuinya," sindir Tok-ku Hong.

"Untuk apa aku harus mendustaimu?" Fu Giok Su malah balik bertanya kepadanya.

Tok-ku Hong terpana. Dia merasa apa yang iikatakan oleh Fu Giok Su ada benarnya juga.

"Orang-orang Siau Yau kok mempunyai keistimewaan dari Siau Yau kok sendiri. Meskipun kami tahu bagaimana cara menghubungi organisasi Tian Sat, tetapi kami belum pernah mempunyai pikiran sejauh itu. Meskipun ingin, aku sekarang tidak sanggup mengeluarkan uang untuk membayar mereka lagi. Sedangkan kau tentunya mengerti bahwa untuk menggunakan jasa mereka demi membunuh sorang Yan Cong Tian, bukan uang sedikit yang harus disediakan." Fu Giok Su mengangkat kedua bahunya. "Paling tidak kau harus mempunyai uang sebanyak delapan atau sepuluh laksa tail. Sedangkan di mana kira-kira aku harus mencari uang sebanyak itu. Meskipun terus terang aku katakan kepadamu, sebenarnya aku ingin sekali dapat membunuh Yan Cong Tian. Tapi kalau aku yang melakukannya, aku akan menggunakan sepasang tanganku sendiri. Menyewa organisasi Tian Sat untuk membunuh orang yang kau benci, bagiku, Fu Giok Su, tetap tidak ikan mencapai kepuasan."

Tok-ku Hong menatap Fu Giok Su lekat-lekat.

"Tapi menurut selentingan yang tersebar di dunia kangouw, justru engkaulah orangnya yang menggunakan jasa organisasi tersebut."

"Hal itu disebabkan dendam permusuhan antara Siau Yau kok dan Bu-tong-pai sudah demikian dalam. Dan aku tidak malu mengakui bahwa cara turun kami selama ini memang menggunakan cara apa saja, termasuk cara yang dianggap rendah oleh orang-orang kangouw yang menganggap diri mereka lurus.”

Tok-ku Hong tertawa dingin. "Bagus sekali kalau kau mengakuinya!"

"Tapi ... " Fu Giok Su menghentikan kata katanya. Dia mengembangkan seulas senyum yang mengerikan. "Seandainya orang lain tidak tahu, namun seharusnya engkau yang paling memahami, bahwa selain diriku, di dunia ini masih ada satu orang lagi yang silatnya lebih rendah."

Sekali lagi Tok-ku Hong terpana.

"Tok-ku Bu-ti ... " Sepatah demi sepatah Giok Su mengucapkan keempat suku kata tersebut. Wajah Tok-ku Hong berubah semakin kelam. Dia tidak dapat melukiskan bagaimana perasaannya saat itu.

"Dia dihajar oleh Wan Fei Yang sampai kalang kabut. Seumur hidup Tok-ku Bu-ti belum pernah dikalahkan dengan cara demikian tragis. Seandainya timbul pikirannya untuk menggunakan jasa Tian Sat rasanya juga bukan hal yang tidak mungkin bukan?"

Tok-ku Hong tetap tidak menyahut.

"Apalagi markas Bu-ti-bun yang semestinya bisa kembali ke tangannya dibakar sampai musnah oleh Yan Cong Tian.

Kebencian terhadap kedua orang itu, rasanya kau sendiri juga mengerti."

Tanpa sadar Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya.

“Aku juga tidak takut berterus terang kepadamu. Sebenarnya aku sendiri pernah mempunyai pikiran untuk menggunakan tenaga organisasi Tian Sat. Sayangnya orang yang ingin aku bunuh terlalu banyak. Dan sudah pasti aku tidak sanggup mengeluarkan sebanyak itu. Lain halnya dengan Tok-ku Bu-ti yang kaya-raya. Lagipula aku selalu merasa bahwa ide yang terpikirkan olehku itu, bukan suatu ide yang baik."

"Sekarang Tok-ku Bu-ti juga tidak kalah miskin denganmu!" sahut Tok-ku Hong datar.

"Bisa jadi ... tapi siapa tahu apa yang menyelinap di otaknya yang sudah karatan itu?"

Tok-ku Hong tertawa dingin. "Bu tong pai hanya mengurung kakekmu di dalam telaga dingin selama dua puluh tahun.

Sedangkan dia sendiri yang melakukan kesalahan melanggar peraturan partai tersebut. Lagipula kalian sudah membunuh begitu banyak murid Bu tong pai. Seharusnya dendam itu tidak perlu diperpanjang lagi." Fu Giok Su menganggukkan kepalanya.

“Tadinya aku juga mempunyai pikiran bahwa apa yang kulakukan memang rada keterlaluan tapi sekarang, sebelum melihat kemalian Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang, rasanya aku masih belum puas."

"Yan Pek pek toh sudah mati ... “

"Aku tetap ingin menggali kuburnya pada suatu hari nanti. Aku akan menghancurkan mayatnya menjadi potongan-potongan kecil.” teriak Fu Giok Su sambil menggertakkan giginya.

Sepasang tinjunya juga terkepal erat-erat.

Melihat tampang orang itu, tanpa sadar Tok-ku Hong menggidik. "Mengapa kebencianmu semakin dalam kepadanya?”

Tubuh Fu Giok Su bergetar saking marahnya.

"Kalau dia tidak mengejarku mati-matian, anakku hari ini pasti masih hidup segar bugar!" teriaknya dengan mata mendelik.

Tok-ku Hong memandang Fu Giok Su dengan pandangan aneh. "Anakmu? Apakah kau tidak salah?"

"Tidak salah ... !" suara Fu Giok Su menjadi parau. "Yan Cong Tian yang mencelakakan anakku sampai mati!"

Tok-ku Hong semakin penasaran."Apa sebetulnya yang telah terjadi?" desaknya.

"Kau tidak perlu tahu ... "

"Kau tidak berani mengatakannya, karena perbuatanmu sendiri yang busuk bukan?"sindir Tok-ku Hong dengan tatapan tajam. "Setidaknya aku tidak berbuat hal yang maksiat dengan adik kandungku sendiri!"

"Fu Giok Su! Aku merasa iba melihat nasibmu. Aku hanya ingin meringankan beban hatimu. Tapi jangan kau kira ilmu silatmu sudah sedemikian tinggi sehingga semua orang takut menghadapimu!"

Fu Giok Su tertegun mendengar makiannya.

"Aku ... aku tidak bermaksud demikian. Hal ini aku sendiri ingin bisa melupakannya. Dengan menceritakan sekali lagi, berarti aku menggali kenanganku sendiri. Kau pasti sudah merasakan bagaimana sakitnya rasa di hati apabila cinta kasih kita gagal, padahal kami saling mencintai ... "

"Rasanya aku mulai mengerti siapa ibu dari anakmu itu," tukas Tok-ku Hong.

"Tidak perlu kau katakan. Dugaanmu sudah pasti benar ... tapi semuanya telah berlalu. Tidak ada yang perlu diingat lagi."

Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan dia meneruskan langkah kakinya.

"Berhenti!" bentak Fu Giok Su.

"Apa lagi yang ingin kau katakan?” tanya Tok-ku Hong. "Kau ingin pergi? Tidak semudah itu!”

“Tentunya kau bukan ingin membunuh aku sekalian sebagai pelampias amarahmu?”

Fu Giok Su menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak akan membunuhmu. Kau adalah adik dari Wan Fei Yang. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh untuk membunuhmu?”

Alis Tok-ku Hong langsung mengerut mendengar perkataannya. "Apa maksud ucapanmu itu?"

Fu Giok Su tersenyum licik.

"Kau tentu sudah merencanakan sesuatu," kata Tok-ku Hong kembali.

Sekali lagi Fu Giok Su tersenyum. Dia maju satu langkah. "Bukan saja aku tidak akan membunuhmu, aku malah akan menjagamu dengan baik sekali. Kau tidak usah khawatir."

Tok-ku Hong tidak dapat menerka. Dia hanya menatap Fu Giok Su dengan tajam. Fu Giok Su juga lidak merasa perlu menyembunyikan maksud hatinya kepada Tok-ku Hong. Dia bahkan sengaja mengatakannya dengan terus terang.

"Kalau kau sudah terjatuh ke tanganku, masa Wan Fei Yang berani macam-macam. Permintaanku tidak banyak. Aku hanya ingin dia menyerahkan teori ilmu Tian can sinkangny yang menggemparkan dunia persilatan itu.”

“Tian can sinkang?" Tok-ku Hong terkejut sekali.

Tentu saja Tian can sinkang. Di antara Bu tong jit kiat, aku sudah menguasai enam macam ilmunya. Namun ilmu itu ternyata tidak begitu hebat. Seandainya dulu aku tahu, aku juga enggan mempelajarinya. Bahkan pengorbanan yaya-ku tidak ada artinya kalau dia hanya berhasil mencuri ilmu Bu tong liok kiat. Seorang Tok-ku Bu-ti saja tidak sanggup dikalahkan. Tapi apabila aku sudah berhasil melatih Tian can sinkang yang lalu dipadu lagi dengan Coa liau cap sa sut yang aku miliki, ditambah dengan ilmu Siau Yau kok yang beraneka ragam, saat itu aku tidak khawatir tidak dapat menguasai dunia persilatan ini. Pada saat itu pula, tidak ada seorang pun yang sanggup menandingiku lagi!" Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak. Semakin dibayangkan hatinya semakin bangga. Belum apa-apa dia sudah memikirkan bagaimana jati dirinya apabila sudah berhasil menyatu padukan semua ilmu itu.

Tok-ku Hong begitu terkejut melihat penampilan Fu Giok Su yang mirip orang yang sudah tidak waras. Tanpa sadar kakinya mudur dua langkah.

"Kau bermimpi!" teriaknyi marah.

"Mimpi? Pada saat itu, hal yang pertama-tama akan kulakukan adalah memusnahkan Bu tong pai sampai rata menjadi tanah. Setelah itu aku akan membangkitkan Siau Yau kok kembali.

Jadilah aku Bulim bengcu yang paling disegani di seluruh dunia kangouw!" Sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak.

Tok-ku Hong dapat mendengar ucapannya yang serius. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kalian semua begitu berambisi untuk menguasai dunia persilatan!"

"Kalian anak-anak perempuan mana mengerti hal semacam itu!"

Tok-ku Hong menarik nafas panjang. "Aku hanya tahu perbuatan semacam itu bisa mengorbankan jiwa orang banyak. Tidakkah kalian sadar bahwa perbuatan seperti itu adalah semacam dosa yang tidak terampunkan?"

"Dosa? Apa sih dosa itu? Bahkan aku tidak percaya adanya Thian yang disembah oleh orang-orang bodoh itu. Seandainya Thian benar ada, nasibku ataupun nasibmu tidak akan mengenaskan seperti sekarang!" teriak Fu Giok Su.

"Aku percaya semua yang kita terima merupakan akibat dari ulah kita sendiri. Pada dasarnya Thian mencintai semua umat di dunia ini. Aku akan mengatakan terus terang bahwa sebelumnya aku juga tidak pernah memasang hio atau bersembahyang di kuil mana pun.

Namun setelah berbagai kejadian yang ku alami, aku sudah dapat mengambil hikmahnya Coba kau bayangkan, seandainya Thian-tidak adil, tentu aku dan ... Wan Toako telah melakukan perbuatan yang akan kami sesali seumur hidup.

Hal ini membuktikan bahwa Buddha telah membuka hatinya bagi kami sebelum kami terlanjur melangkah. Sadarlah ... apa yang kau terima sudah cukup. Kau dapat memulai hidup baru dengan hati yang lebih bersih dan terbuka. Aku yakin Wan Toako juga tidak akan memperpanjang urusan ini. Apalagi dengan adanya Fu Kouwnio yang mendampinginya!" Tok-ku Hong sendiri merasa heran. Seumur hidupnya dia tidak pernah menasehati orang lain. Bahkan dia sendiri yang biasanya di nasehati oleh orang lain.

Wajah Fu Giok Su berubah hebat mendengar perkataannya. "Kau ingin mengikuti aku secara suka rela atau kau ingin aku turun tangan meringkusmu?" tanyanya dengan nada berat.

Tok-ku Hong memberikan jawaban dengan gerakan. Tangannya mencekal sepasang goloknya erat-erat. Fu Giok Su menatapnya lekat-lekat. Dia tertawa terbahak-bahak. “Dengan mengandalkan ilmu silatmu, aku yakin kau masih bukan tandinganku!"

"Kau boleh membunuh aku. tapi jangan harap dapat menggunakan diriku untuk memaksa Wan … toakoku menyerahkan Tian can sinkang kepadamu!" Sepasang tangan Tok-ku Hong langsung mencabut keluar goloknya.

Fu Giok Su kembali tertawa terbahak-bahak. “Sampai saat ini aku belum pernah bertemu orang yang benar-benar tidak takut menghadapi kematian!"

"Setidaknya sekarang kau sudah bertemu dengan satu di antaranya!" Sepasang golok Tok-ku Hong direntangkan di depan dadanya.

"Oh?" Fu Giok Su agak tertegun. Tubuhnya mencelat ke atas laksana seekor burung rajawali sakti yang mengembangkan sayapnya. Dia melesat dari atas batu dimana dia duduk sebelumnya.

Tubuhnya melayang turun dihadapan Tok-ku Hong. Gadis itu berteriak lantang kemudian menghentakkan kakinya.

Sepasang goloknya menerjang ke depan. Sinar golok memijar-pijar. Fu Giok Su berkelebat lagi. Sepasang telapak tangannya dikatupkan seperti paruh bangau. Dengan kecepatan kilat dia menyerang Tok-ku Hong. Keduanya saling bergebrak. Meskipun gerakan Fu Giok Su sangat cepat, tapi serangannya tidak ditujukan ke bagian tubuh Tok-ku Hong yang berbahaya. Tampaknya dia memang ingin meringkus gadis itu hidup-hidup agar dapat ditukar dengan Tian can sinkang milik Wan Fei Yang.

Walaupun demikian, Tok-ku Hong tetap kewalahan. Hatinya panik sekali. Dia benar-benar tidak takut lagi menghadapi kematian. Yang ditakutinya justru apabila Fu Giok Su berhasil meringkusnya dan menggunakan dirinya sebagai sandera untuk memaksa Wan Fei Yang.

Fu Giok Su pernah bergebrak dengan Tok-ku Hong secara langsung. Sekarang dia baru menyadari bahwa ilmu silat gadis ini juga tidak boleh dianggap remeh. Setidaknya dia mendapat didikan langsung dari Tok-ku Bu-ti. Untuk membunuhnya memang mudah, tapi untuk meringkusnya tanpa melukai dirinya sedikit pun, juga bukan pekerjaan yang gampang.

Sedangkan dia mengerti, sedikit saja Tok Hong terluka, Wan Fei Yang pasti tidak mengampuninya.

Tok-ku Hong tampaknya mulai mengerti isi hati Fu Giok Su. Serangannya semakin gencar. Dia tidak takut dirinya akan dilukai oleh Fu Giok Su. Sebab dia sudah dapat meraba, meskipun serangan Fu Giok Su dikerahkan dengan gencar namun kekuatan tenaganya tidak dikerahkan sepenuhnya.

Tubuh Fu Giok Su berkelebat ke sana kemari. Laksana seekor burung rajawali, dia terus mengintil ketat di belakang Tok-ku Hong. Sepasang tangannya terulur ke depan untuk mencengkeram gadis tersebut. Gerakan Tok-ku Hong cukup gesit. Sepasang goloknya disapukan bagai angin topan. Tapi dia tetap harus mundur dua langkah ke samping baru bisa menghindarkan diri dari cengkeraman Fu Giok Su.

Gerakan yang dilakukan Fu Giok Su semakin lama semakin aneh bagi penglihatan Tok-ku Hong. Kadang-kadang dia bergulingan di atas tanah bagai cacing yang kepanasan, kadang-kadang dia melayang di udara bagai seekor burung rajawali sakti. Tentu saja Tok-ku Hong tidak tahu bahwa Fu Giok Su sudah mengerahkan ilmu Coa tiau cap sa-sut miliknya yang hebat. Kecepatannya hampir tidak bisa ditangkap oleh Tok-ku Hong. Tapi dasar gadis itu memang sudah nekat, tanpa memperdulikan bahaya yang ada di depan dia menerobos ke dalam gerakan tangan Fu Giok Su. Anak muda itu terkejut sekali. Pada dasarnya dia hanya ingin menciutkan nyali gadis itu dengan mengerahkan Coa tiau cap sa-sut yang memang dahsyat. Sekarang dia menyadari bahwa gadis itu benar-benar nekat. Tindakannya lebih mirip bunuh diri daripada bertarung secara adil. Cepat-cepat Fu Giok Su menarik kembali tangannya. Golok Tok-ku Hong sudah di depan mata dan mengancam tenggorokannya. Fu Giok Su terpaksa membungkukkan tubuhnya untuk menghindari serangan sepasang golok tersebut. Meskipun serangannya gagal, Tok-ku Hong tetap tidak putus asa. Keringat mulai membasahi keningnya. Sebetulnya memang kekuatan gadis itu sudah melemah. Sudah berbulan-bulan dia berjalan tanpa arah tujuan. Makan, minum maupun tidur tidak teratur.

Keadaan staminanya sedang menurun. Ditambah lagi sekarang dia dipermainkan oleh

Fu Giok Su. Sayangnya anak muda itu tidak menyadari keadaan dirinya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Wan Fei Yang yang terkejut apabila dia membawa Tok-ku Hong ke depannya. Dia terus mendesak gadis itu sampai melihat bahwa Tok-ku Hong sudah hampir tidak sanggup menghadapi serangannya. Padahal saat itu dia baru melancarkan jurus ketujuh dari Coa tiau cap sa-sut. Fu Giok Su segera menghentikan gerakannya.

Tok-ku Hong terpana. Sepasang goloknya masih dilinlangkan di depan dada untuk berjaga-jaga. Fu Giok Su tertawa dingin menatapnya. "Apakah kita perlu meneruskan pertarungan ini?"

"Mengapa kau menanyakan hal itu?"

"Coa tiau cap sa-sut belum kukerahkan semuanya, tapi tampaknya kau tidak sanggup lagi menahan diri dari seranganku!”

“Mengapa kita tidak meneruskannya supaya tahu benar tidaknya apa yang kau katakan itu?”

Tok-ku Hong memang keras kepala. Biar dia tahu dirinya bukan tandingan Fu Giok Su namun dia tetap ingin meneruskan pertarungan tersebut.

"Apakah kau masih tetap mempunyai tempat untuk mundur lagi?” Fu Giok Su malah bertanya kembali.

Tok-ku Hong tertegun sejenak. Sebuah ingatan melintas dibenaknya. Tanpa sadar dia menoleh ke belakang. Saat itu dia baru menyadari bahwa dirinya sudah berada di tepi jurang yang dalam. Jurang itu bukan saja dalam, di bawahnya malah membentang laut yang luas dengan gelombang ombak yang besar-besar. Apabila mundur lagi satu langkah, Tok-ku Hong pasti akan terjatuh ke dalam jurang tersebut. Sedangkan dalam keadaan seperti ini dia tidak mempunyai pilihan yang lain lagi.

"Bagaimana? Kalau kau terjatuh di tempat yang demikian dalam, aku yakin tulang di seluruh tubuhmu akan hancur tidak berbentuk!"

Tok-ku Hong menoleh sekali lagi ke belakang. Tanpa sadar bulu kuduk di seluruh tubuhnya bangun semua. Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak. "Lepaskan golokmu, ikutlah aku ke Bu-tong-san!"

Tok-ku Hong malah mencekal goloknya erat-erat. Sepasang bibirnya terkatup. Angin yang kencang membuat rambutnya menjadi berantakan. Tapi tetap saja tidak sanggup menghembuskan adatnya yang memang keras kepala sejak dulu.

"Kau masih demikian muda. bukan sayang kalau kau sampai mati dengan cara seperti ini?” kata Fu Giok Su selanjutnya.

"Seandainya kau sudah berhasil melatih ilmu Tian can sinkang. Orang yang pertama-tama akan kau bunuh pasti Wan Toako. Kalau aku menuruti keinginanmu demi mempertahankan selembar nyawaku sendiri, siapa yang dapat memaafkan apa yang telah aku lakukan?" tanya Tok-ku Hong sinis.

Wajah Fu Giok Su agak berubah mendengar perkataannya. Dia tidak begitu mendalami sifat gadis yang satu ini. Entah dia sanggup berbuat nekat atau tidak. Tapi dia tidak berani mencoba-coba.

"Mungkin aku bisa mempertimbangkan lagi untuk tidak membunuh Wan Fei Yang."

Tok-ku Hong tertawa dingin. "Kau kira aku akan mempercayai kata-katamu?"

Fu Giok Su juga tertawa lebar. "Sayangnya kau sekarang tidak mempunyai pilihan yang lain!" "Kalau mengandalkan ilmu silat yang aku miliki, aku memang bukan tandinganmu. Sebetulnya tidak perlu diragukan lagi, kau memang orang yang cerdas, tapi kali ini kau melakukan kesalahan besar!"

Alis Fu Giok Su berkerut mendengar kata-katanya. "Kau mendesak aku sampai ke tempat ini. Tahukah kau

bahwa sama artinya kau telah memberi aku sebuah pilihan yang lain?"

Fu Giok Su tertegun. "Pilihan yang lain?” Sebuah ingatan terlintas. Dia cepat menerjang ke depan.

"Jalan kematian!" teriak Tok-ku Hong sambil melempar sepasang goloknya ke arah Fu Giok Su. Kakinya mundur dua langkah. Tubuh nya langsung terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Tangan Fu Giok Su mengibas. Sepasana golok yang meluncur ke arahnya tersampok jatuh. Tubuhnya langsung melesat secepat kilat ke arah Tok-ku Hong. Gerakannya tidak dapat disebut lambat lagi, namun tetap saja tidak sempat meraih tubuh Tok-ku Hong yang sudah meluncur jatuh ke dalam jurang. Dia melongokkan kepalanya ke bawah. Tubuh Tok Hong dalam sekejap mata hanya tinggal titik dalam.

Sesaat kemudian, dia tidak terlihat lagi.

Fu Giok Su masih menatap ke dalam juran itu dengan pandangan termangu-mangu. Tanpa sadar hatinya menggidik. Jurang itu terlalu dalam dan laut di bawahnya demikian bergelora. Dia tidak percaya Tok-ku Hong tidak takut mati, tapi gadis itu malah membuktikan padanya.

Tanpa adanya Tok-ku Hong, bagaimana dia bisa memaksa Wan Fei Yang menyerahkan ilmu Tian Can sinkang yang sangat diinginkannya. Dada Fu Giok Su bergemuruh. Rasa amarah seakan meluap sampai ke atas kepalanya.

Dilemparkannya sepasang golok milik Tok-ku Hong ke dalam jurang sekalian. Selelah dia membuang sepasang golok tersebut, dia menyesal kembali. Mengapa sekarang otaknya seperti tidak bekerja. Dia telah membuang sebuah peluang yang bagus sekali. Apabila dia menunjukkan sepasang golok milik Tok-ku Hong kepada Wan Fei Yang dan mengatakan bahwa gadis itu berada dalam cengkeramannya, tentu Wan Fei Yang akan percaya serta dia dapat memaksa anak muda itu menyerahkan ilmu Tian can sinkang kepadanya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Benarkah bahwa Thian itu memang ada dan sekarang sedang menunjukkan kekuasaannya agar dia percaya? Rasanya dia ingin menampar wajahnya sendiri berkali-kali.

Tentu Wan Fei Yang dapat mengenali golok itu sebagai senjata yang digunakan oleh Tok-ku Hong sehari-harinya. Bukankah di dunia kang ouw terkenal pepatah yang mengatakan bahwa senjata yang digunakan adalah pengganti orang itu sendiri?

Biasanya dia sangat tenang dalam menghadapi segala persoalan. Kali ini dia bisa begitu emosi dan tidak berpikir panjang dalam menyelesaikan urusan. Dia sendiri menjadi terpaku di tempat itu.

Tepat pada saat itulah, dia mendengar desiran lengan baju yang berkibar. Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya. Dia melihat seseorang melesat datang dengan langkah tergesa- gesa. Bayangan orang itu tidak asing baginya. Pikirannya tergerak. Bayangan orang itu sudah melintas di depan hadapannya.

Alisnya semakin mengerut. Dia membalikkan tubuhnya dan memperhatikan dengan seksama. Bayangan itu berhenti di jalan setapak di atas pegunungan tersebut. Ternyata Fu Hiong Kun adanya. Dia baru saja turun dari Bu tong san. Dari kejauhan dia melihat dua orang sedang bertarung. Oleh karena itu dia cepat-cepat menghambur ke tempat itu untuk melihat siapa adanya kedua orang itu dan apa yang telah terjadi.

Bayangan Fu Giok Su juga seakan tidak asing baginya. Siapa? Tiba-tiba dia teringat akan Wan Fei Yang.

"Wan toako? Kaukah yang ada di sana?" teriaknya tanpa sadar.

"Toako sih sudah benar, tapi sayangnya bukan she Wan!" sahut Fu Giok Su sambil membalikkan tubuhnya.

Mendengar suara yang satu ini, wajah Fu Hiong Kun berubah hebat. Ketika dia melihat Fu Giok Su menghampiri, tanpa sadar kakinya mundur tiga langkah.

"Benar-benar di luar dugaanmu bukan?"

Fu Hiong Kun terkejut sekali. "Mengapa kau bisa berada di tempat ini?"

"Aku heran, mengapa kalian semua suka menanyakan pertanyaan yang serupa. Aku kan Ciang bunjin Bu-tong-pai. Masa aku tidak boleh kembali ke tempatku sendiri?"

"Fu Toako, mengapa pikiranmu tidak pernah terbuka?" tanya Fu Hiong Kun dengan hati pilu.

"Apakah yang toako katakan tadi salah? Ci Siong to jin sendiri yang memilih aku sebagai

Ciang bunjin. Jangan katakan bahwa aku Ciang bunjin yang satu ini palsu adanya."

Fu Hiong Kun menjadi tertegun mendengar ucapannya itu.

"Mengapa kau sendiri bisa ada di tempat ini?" tanya Fu Giok Su. "Tadinya aku mengikuti Yan gihu ke sini. Aku toh tidak mempunyai tempat tinggal lagi."

"Yan gihu? Kau mengangkat musuh itu sebagai ayahmu?" bentak Fu Giok Su.

"Giok Su koko. janganlah memperpanjang urusan ini."