-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 29

Jilid 29

Fu Hiong-kun tertegun sejenak. Kemudian dia tersentak sadar....

"Hong cici!" teriaknya panik. Tok-ku Hong dapat mendengar suara panggilan Fu Hiong- kun, namun dia tidak memperdulikannya. Dalam sekejap mata, dia sudah menghilang dalam kegelapan malam. Fu Hiong-kun mengejar beberapa tindak, kemudian dia menghentikan langkah kakinya. Dia memandang arah yang ditempuh oleh Tok-ku Hong, air matanya mengalir semakin deras.

Mengapa nasib mempermainkan mereka semua? Tadinya dia sudah rela Wan Fei-yang menikah dengan Tok-ku Hong. Setelah apa yang diperbuat Fu Giok-su dan Thian-ti terhadap Wan Fei-yang, dia sudah merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan anak muda itu. Namun mengapa takdir malah menentukan hal yang membuatnya lebih sakit lagi. Dia lebih rela melihat Wan Fei-yang menikahi Tok-ku Hong dari pada kenyataan yang demikian menyakitkan. Baik Wan Fei- yang ataupun Tok-ku Hong merupakan sahabat baiknya.

Hatinya tidak dapat menahan kepedihan melihat penderitaan yang terpaksa mereka hadapi. Mengapa mereka harus terlahir sebagai kakak beradik? Mengapa nasib bisa mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam cinta kasih yang kacau ini...? Untung Wan Fei-yang dan Tok-ku Hong belum sempat melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan aib seumur hidup itu. Untung? Apakah dalam masalah ini masih pantas diselipkan kata-kata 'untung'?

Dia teringat kata-kata yang diucapkan oleh Sen Man-cing ketika dia mengatakan bahwa Wan Toako adalah putra Ci Siong tojin. Itulah sebabnya maka wanita itu mengatakan bahwa Tok-ku Hong tidak bisa menikah dengan Wan Fei- yang. Kelak Wan Fei-yang hanya boleh menjadi miliknya.

Waktu itu dia sama sekali tidak mengerti. Dia mengira Sen Man-cing merasa kasihan terhadapnya karena memendam perasaan cinta secara diam-diam. Kalau saja dia tidak menceritakan kepada nyonya itu apa yang didengarnya di kota tempo hari, tentu Sen Man-cing tidak keburu datang mencegah pernikahan Wan Fei-yang dan Tok- ku Hong. Rupanya semua ini memang sudah ditentukan oleh takdir. Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang baik. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak memikirkan bahwa kemungkinan ialah kelak yang akan menjadi istri Wan Fei-yang. Satu- satunya hal yang terlintas dalam benaknya saat itu adalah menemukan Wan Fei-yang dan membujuknya agar jangan sampai melakukan perbuatan yang bodoh.

***

Lilin merah masih menyala. Air mata kepedihan sudah kering.

Air mata Wan Fei-yang memang sudah terkuras habis. Dia duduk termangu-mangu di depan meja dan memandangi sepasang lilin merah bergambar liong hong yang menjadi lambang pernikahan dengan Tok-ku Hong.

Malam panjang sudah berlalu. Hujan angin sudah reda.

Cahaya matahari sedikit demi sedikit menyembul di ufuk timur dan menerobos lewat jendela kamarnya. Cahaya matahari juga menyoroti wajah Wan Fei-yang. Tidak ada sedikit reaksi pun pada diri anak muda itu.

Dari atas genting masih menetes titik-titik sisa air hujan yang menggenang. Cahayanya berkilauan disorot sinar mentari pagi. Seperti butiran mutiara yang indah, juga laksana air mata yang pedih.

Pintu kamar terdorong dari luar. Fu Hiong-kun melangkah masuk dengan semangkok bubur di tangan.

"Wan toako sudah bangun?" Mulutnya bertanya demikian, tapi diam-diam dalam hati dia menarik nafas panjang. Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalau Wan Fei-yang tidak tidur sepanjang malam.

Wan Fei-yang tidak menyahut. Dia bahkan seperti tidak menyadari kehadiran Fu Hiong-kun. Juga tidak mendengar sapaan gadis itu. Fu Hiong-kun meletakkan mangkok berisi bubur di atas meja. Sekali lagi dia menarik nafas dalam- dalam.

"Wan Toako..."

Wan Fei-yang bagai tersentak dari lamunan. Dia memandang Fu Hiong-kun dengan wajah keheranan. "Kapan kau masuk ke mari?"

Pertanyaannya juga aneh. Fu Hiong-kun tertawa getir. "Barusan," sahutnya singkat.

Wan Fei-yang termenung kembali. Wajahnya semakin kelam. "Hong. Di mana adikku sekarang?" tanyanya lirih.

Fu Hiong-kun tidak langsung menjawab. Dia seperti sedang mempertimbangkan apakah dia harus mengatakan dengan terus terang. Akhirnya dia merasa harus mengatakan hal yang sebenarnya.

"Dia sudah pergi."

"Pergi?" Wan Fei-yang tampaknya masih ingin mengatakan sesuatu, namun dia membatalkan nya. "Dia baik-baik Saja. Kau tidak usah khawatir." Fu Hiong- kun memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. "Lebih baik kau makan dulu bubur ini. Mumpung masih hangat."

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu... aku taruh di atas meja. Terserah kau kapan baru mau makan, tapi kau harus makan ya?"

Tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, dia langsung membalikkan tubuhnya serta berkata: "Aku keluar dulu."

Baru saja Wan Fei-yang bermaksud memanggil Fu Hiong- kun agar membawa mangkok berisi bubur itu karena dia tidak berselera untuk makan, tapi gadis itu sudah melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

Sesampainya di koridor panjang, air mata Fu Hiong-kun tidak dapat tertahan lagi. Dia menangis tersedu-sedu.

Sesungguhnya dia tidak sanggup melihat keadaan Wan Fei- yang yang seperti orang kehilangan gairah hidup itu.

Tepat pada saat itu Yan Cong-tian muncul dari tikungan yang satunya. Dia menatap Fu Hiong-kun sekilas. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya penuh pengertian.

"Masih duduk termangu-mangu di samping meja. Dia tidak tidur sepanjang malam," sahut Fu Hiong-kun dengan suara tersendat-sendat.

Yan Cong-tian menatap Fu Hiong-kun sambil menarik nafas panjang.

"Hiong-kun, kami telah membuatmu menderita. "

Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tidak... aku tidak menderita. !" Air matanya mengalir semakin deras.

***

Tiga hari berlalu. Mayat Sen Man-cing dan Kongsun Hong telah dikuburkan secara layak. Yan Cong-tian memberi perintah kepada Yo Hong untuk mengatur segalanya. Upacara sembahyang berlangsung dengan sederhana. Sebagian tamu yang masih belum pulang mengikuti upacara sembahyang dengan khidmat. Dalam hati mereka tidak ada perasaan menghina Sen Man-cing, mereka malah merasa iba terhadap nasib wanita ini. Demikian pula kesan mereka terhadap Kongsun Hong. Laki-laki yang satu ini lebih patut dihargai daripada gurunya sendiri.

Dengan perasaan tulus, Fu Hiong-kun berlutut di depan peti mati Sen Man-cing bertindak sebagai wakilnya.

Sedangkan Yo Hong dan Yan Cong-tian berlaku sebagai pihak keluarga Tok-ku Hong dalam menyambut tamu yang memberikan penghormatan terakhir.

Sen Man-cing dan Tok-ku Hong sama-sama bernasib malang. Mereka adalah dua insan yang seumur hidupnya menderita karena cinta. Kematian Sen Man-cing mungkin masih dapat dimengerti oleh orang-orang yang hadir.

Sedangkan kematian Kongsun Hong memang patut disayangkan. Tok-ku Bu-ti tidak berhak mendapat pembelaan demikian tinggi dari muridnya. Namun apa yang harus dikatakan lagi. Nasi toh sudah menjadi bubur. Yang mati tidak mungkin dapat hidup kembali bukan?

***

Selama liga hari itu juga, keadaan Wan Fei-yang masih belum berubah. Jangan kata makan, setetes air pun tidak pernah membasahi bibirnya. Fu Hiong-kun tidak berputus asa. Tanpa mengenal kata lelah, dia terus membujuk Wan Fei- yang dan menasehatinya.

Meskipun dia mengerti perasaan Wan Fei-yang, lapi dia juga khawatir kalau keadaan demikian berlangsung terus, kesehatan Wan Fei-yang pasti akan terpengaruh.

Yan Cong-tian juga sama cemasnya. Sampai hari keempat dia masih juga melihat Fu Hiong-kun keluar dari kamar Wan Fei-yang dengan mangkok berisi bubur yang masih utuh.

Sepasang alisnya yang sudah berubah warna langsung terangkat ke atas.

Yan Cong-tian tidak mengajukan pertanyaan. Fu Hiong- kun juga tidak berkata apa-apa. Dia hanya lewat di samping Yan Cong-tian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Bibirnya mengembangkan senyuman pahit. Tanpa sadar Yan Cong-tian mengikuti dari belakang.

Sesampainya di ruangan dalam, dia melihat Fu Hiong-kun menuangkan kembali bubur yang dibawanya ke dalam panci. Sekali lagi Yan Cong-tian menarik nafas panjang. "Apa sebetulnya yang memenuhi benak anak itu?" gerutu Yan Cong-tian kesal.

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya. "Dia hanya terlalu sedih. Sekarang apa yang harus kita perbuat adalah membantunya melupakan peristiwa yang terjadi malam itu. Kalau bisa biar dia tinggalkan tempat ini untuk sementara."

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku rasa tidak mudah baginya untuk melupakan peristiwa malam itu.”

"Nasib Wan Toako memang patut dikasihani!" "Hiong-kun, hatimu begitu baik, wajahmu juga cantik jelita.

Aku tidak mengerti mengapa Siau-fei. " Baru berkata

setengahnya saja, Yan Cong-tian tersadar bahwa dalam situasi seperti ini sebetulnya dia tidak boleh mengucapkan perkataan demikian. Cepat-cepat dia mengalihkan pokok pembicaraan. "Tidak boleh. Kalau begini terus, bukan saja

dia mencelakakan dirinya sendiri, orang lain juga ikut repot. Aku harus bersikap tegas kepadanya dan memarahinya habis- habisan biar pikirannya tersadar. Dia harus ingat perjalanannya masih panjang dan sama sekali tidak boleh kehilangan gairah hidup karena persoalan ini. Tentu Tok-ku Bu-ti semakin senang apabila dia mengetahuinya!"

Selesai berkata dia langsung membalikkan tubuhnya menghambur keluar.

Fu Hiong-kun bermaksud mencegahnya, namun sudah terlambat. Dia terpaksa menyusul di belakang Yan Cong-tian.

***

Pintu kamar tertutup rapat. Yan Cong-tian mendorong pintu dan masuk ke dalam. Tidak terlihat bayangan Wan Fei- yang. Hanya ada sepucuk surat yang tergeletak di atas meja di samping lilin merah yang telah padam.

Yan Cong-tian mengedarkan pandangannya. Cepat dia menghambur ke depan meja. Diambilnya surat yang tergeletak itu dan dibacanya sampai selesai. Matanya membelalak sebesar telur burung puyuh.

Fu Hiong-kun juga sudah menyusul tiba. Melihat Yan Cong-tian yang termangu-mangu dia segera menghampiri. "Ada apa dengan Wan Toako?" tanyanya panik. Yan Cong-tian menarik nafas dalam-dalam. Dia menyodorkan surat yang ditinggalkan Wan Fei-yang kepada Fu Hiong-kun. "Dia pergi ke luar perbatasan!"

Fu Hiong-kun tertegun. Dia menerima surat itu dengan membacanya berulang kali. Akhirnya dia jatuh terduduk di atas bangku dengan lemas. Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya dan menarik nafas sekali lagi.

"Kepergiannya mungkin ada baiknya. Jauh lebih baik daripada menyiksa diri sampai mati di tempat ini."

Fu Hiong-kun hanya mengangguk seperti orang linglung. Yan Cong-tian menolehkan kepalanya memandang Fu Hiong- kun. Dia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

"Usia Siau-fei sudah tidak kecil lagi. Ilmu silatnya tinggi sekali. Kau tidak usah khawatir akan terjadi apa-apa pada dirinya."

Fu Hiong-kun tetap mengangguk tanpa berkata apa-apa. "Kalau Siau-fei sudah pergi ke luar perbatasan, kita juga

tidak perlu berdiam di sini lagi," kata Yan Cong-tian selanjutnya.

Bibir Fu Hiong-kun bergerak, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, lapi Yan Cong-tian sudah menukasnya kembali. "Kau toh tidak punya tujuan yang pasti. Lebih baik kau ikut aku saja kembali ke Bu-tongsan."

Fu Hiong-kun mempertimbangkan sekilas kemudian dia menganggukkan kepalanya menyetujui usul Yan Cong-tian. Dengan langkah perlahan Yan Cong-tian keluar dari kamar itu. Matanya mengedar. "Nama Bu-ti-bun tinggal kenangan.

Tempat ini merupakan markas di mana setiap rencana kejahatan Bu-ti-bun dipersiapkan. Dibiarkan tentu tidak ada gunanya. Malah ada kemungkinan digunakan oleh golongan sesat yang lain. Lebih baik kita bakar saja sampai habis!" katanya tegas.

Sisa kehancuran Bu-ti-bun juga ditentukan oleh kata-kata Yan Cong-tian ini

** *

Kepergian Yan Cong-tian meninggalkan Bu-ti-bun juga dikarenakan peristiwa mengenaskan yang dialami oleh Wan Fei-yang. Seandainya semua berjalan dengan lancar tanpa adanya berbagai kejadian, mungkin Yan Cong-tian juga tidak tergesa-gesa kembali ke Bu-tong-san dan mengambil keputusan yang terakhir itu.

Angin yang kencang membantu berkobarnya api. Yan CongTian sudah memberi perintah agar tidak ada sedikit barang pun yang boleh tertinggal. Markas besar Bu-ti-bun itupun langsung menjadi lautan api dengan seluruh isinya.

Api menyala selama dua hari satu malam. Setelah turun hujan deras sepanjang malam, keesokan harinya api mulai padam dan berhenti perlahan-lahan. Tidak ada satu bagian pun dari markas pusat Bu-ti-bun yang masih utuh. Sejauh mata memandang, di mana pun hanya tinggal puing-puing yang berserakan. Reruntuhan tembok berwarna hitam pekat. Tampaknya menyayatkan hati apabila orang tidak tahu apa tempat itu sebelumnya dan mengapa Yan Cong-tian memberi perintah membumihanguskan semuanya sampai rata.

Sampai menjelang senja hari hujan masih turun terus. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. Sesosok bayangan bagai roh yang gentayangan muncul di depan bekas pintu gerbang Bu-ti-bun. Tembok batu yang tadinya merupakan batas pekarangan sudah retak dan hitam hangus. Sama sekali tak terlihat sepercik pun api, yang tinggal hanya sisanya saja. Namun di mata orang itu terlihat api yang berkobar-kobar.

Api kemarahan! Sepasang tinjunya terkepal erat. Rambut kepala, pakaiannya, dari atas ke bawah sudah basah kuyup di basahi air hujan. Punggungnya saja seperti tidak dapat ditegakkan lagi karena diterpa hujan yang turun terus menerus.

Dia seakan tidak dapat melupakan keperkasaan tempo dulu, di mana setiap orang merasa gentar hanya karena mendengar namanya saja. Tok-ku Bu-ti!

Sejak pagi dia sudah datang. Matanya memandang kobaran api yang melalap habis bekas markas Tok-ku Bu-ti itu. Dia tidak menemukan akal untuk menghentikannya.

Hatinya ikut tersayat melihat markas Bu-ti-bun itu hangus oleh kobaran api sedikit demi sedikit.

***

Pikirannya menerawang. Dendam membara dalam hatinya. Ketika Bu-ti-bun dihancurkan oleh Siau-yau-kok, setidaknya dia masih mempunyai Tok-ku Hong dan putrinya, Tok-ku Hong. Putrinya?

"Huh!" Dia tidak mempunyai putri. Bahkan dia tidak mempunyai siapa-siapa sekarang.

"Bu-ti-bun.... Bu-ti-bun " gumamnya berulang kali.

Dadanya bergemuruh. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya menyorotkan cahaya yang mengerikan. Kemudian dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu lebih mirip pekikan histeris manusia yang otaknya sudah tidak waras.

Suara tawa itu terpancar dari hatinya yang terlalu sakit.

Begitu kerasnya sehingga berkumandang sampai di kejauhan. Keadaan Tok-ku Bu-ti saat ini memang sudah hampir memasuki taraf abnormal

***

Tengah hari.

Hari ini keadaan Pek ka cik tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Di jalan raya yang terdapat di tengah-tengah dusun tersebut, terlihat orang berlalu lalang tiada hentinya.

Masih juga meriah seperti biasanya.

Pek ka cik adalah nama lama. Nama itu diambil karena penduduk yang tinggal di daerah itu tadinya memang terdiri dari seratus keluarga. Sekarang sudah mencapai ribuan.

Namun nama yang diberikan tetap dipakai sampai saat ini. Letak tempat itu sangat strategis. Para pedagang yang mondar-mandir di tempat ini juga banyak sekali. Hal tersebut juga merupakan salah satu sebab mengapa semakin hari tempat itu semakin banyak penduduknya.

Orang-orang yang hendak menuju ke utara ataupun ke selatan, memang harus melalui Pek ka cik. Dengan demikian mereka tidak perlu melintasi hutan yang lebat atau gunung yang masih banyak binatang buasnya. Sekalian merupakan tempat yang sesuai untuk menginap barang satu dua malam sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Di wilayah seperti ini, manusia model apa atau berprofesi apa pun yang datang, tentu tidak terlalu menarik perhatian. Sebagai daerah perlintasan, memang banyak orang yang singgah di dusun itu. Dengan hanya mengenakan topi pandan yang lebih rendah dari orang-orang umumnya, kecuali orang lain sengaja membungkukkan tubuh untuk melirik, wajah yang tertutup sebagian oleh topi pandan tersebut jadi lak mudah terlihat. Selain itu dia masih mengenakan sehelai kain hitam untuk menutupi bagian kiri kanan wajah dan mengikatnya di bawah dagu.

Orang ini berjalan merapat di tembok-tembok rumah orang. Tampaknya dia berusaha menghindar dari pandangan penduduk yang lalu lalang. Setiap langkah kakinya tidak berubah. Seperti sudah diukur dengan seksama.

***

Di dekat tikungan ujung jalan, ada seorang laki-laki peramal nasib. Di alas meja kecil di hadapannya terpapar berbagai macam benda yang diperlukan untuk meramal. Semuanya tersusun di atas sehelai kain putih yang sudah lusuh.

Rona wajahnya seperti orang yang kurang sehat.

Pucatnya hampir menyerupai kain di atas mejanya yang kumal. Sepasang biji matanya juga hampir putih semuanya. Sepertinya peramal itu juga buta matanya.

Orang yang mengenakan topi pandan serta wajahnya hampir tidak erlihat itu pun berhenti di depan meja peramal nasib tersebut. Tukang ramal itu tidak memperdulikan kehadirannya. Dia terus mengocok tabung bambu berisi kayu- kayu panjang. Cukup lama juga sampai tiba-tiba dia menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya.

Tangannya berhenti bergerak. Kepalanya dimiringkan sedikit. "Saudara datang untuk meramal nasib?" tanyanya kemudian.

"Betul." sahut orang bertopi pandan itu dengan suara berat.

"Meramal nasib sendiri atau orang lain?" "Seorang sahabat baik." "Tahu tanggal lahirnya?"

"Cia gwe ce-sa (Bulan satu tanggal tiga)." "Berapa usianya sekarang?"

"Di atas enam puluh tahun." "Apa yang ingin saudara lihat?"

"Masih berapa lama dia dapat hidup di dunia ini?"

"Oh?" Tukang ramal itu tertegun sejenak. Kemudian dia menggerakkan lagi tabung di tangannya lalu mengambilnya sebatang. Di atas permukaan kayu itu tertulis huruf 'Ketiga puluh delapan'. Mata tukang ramal itu melihat ke atas.

Sepasang jari tangannya meraba permukaan kayu itu lalu dia termenung sejenak. Setelah itu dia memasukkan kembali kayu panjang tadi ke dalam tabung. Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dia sudah mati, apa lagi yang perlu diramal?"

"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang "Lebih baik kau pergi ke toko alat-alat sembahyang di ujung jalan sana. Beli tujuh batang lilin dan sembahyangi sahabat baikmu itu," kata si tukang ramal menyarankan.

Orang yang mengenakan topi pandan itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membalikkan tubuhnya dan langsung meninggalkan tempat itu. Si tukang ramal juga tidak meminta uang pembayaran darinya. Dia meneruskan apa yang dilakukannya tadi, yakni menggerakkan tabung berisi kayu-kayu panjang. Sepasang matanya yang hampir memutir memancarkan cahaya yang berkilauan tersorot sinar matahari. Tiba-tiba terlihat sinar kekejian yang melintas di sepasang matanya itu. Tapi siapa yang sempat memperhatikan keadaannya?

***

Toko yang menjual alat-alat sembahyang itu tidak terlalu besar. Ketika orang yang mengenakan topi pandan itu melangkah ke dalam, di sana tidak ada seorang tamu pun yang berbelanja.

Seorang pelayan maju menghampirinya. "Apa yang ingin tuan beli?"

"Lilin. "

"Berapa batang?" "Tujuh. "

"Biasanya orang membeli lilin selalu berjumlah genap agar dapat menjadi sepasang. Tapi Tuan. "

"Aku hanya ingin membeli tujuh batang."

"Baik. Satu batang dua tail. Seluruhnya berjumlah empat belas tail."

Dengan uang sejumlah empat belas tail untuk membeli tujuh batang lilin, apabila terdengar oleh orang lain, tentu dia akan menganggap pendengarannya kurang beres. Tapi orang yang mengenakan topi pandan itu sama sekali tidak menganggap kemahalan. Dia mengeluarkan uang sejumlah empat belas tail dan meletakkannya di atas meja kasir.

Pelayan itu benar-benar menyodorkan tujuh batang lilin untuknya. Orang bertopi pandan itu menerimanya tanpa menghitung kembali. "Aku ingin menyembahyangi seorang sahabat baik. Bagaimana caranya menggunakan lilin-lilin ini?"

"Orang yang mati kembali ke tanah. Dengan demikian rohnya baru bisa tenang. Tuan sebaiknya pergi ke toko keluarga Tio untuk membeli sebuah peti mati yang mutunya baik. Di sana terdapat banyak pilihan."

"Toko keluarga Tio? Di mana itu?"

"Tuan tinggal menyusuri jalan ini. Di tengah-tengah nanti ada sebuah toko peti mati yang besar dan di atasnya ada papan merek yang bertuliskan "Keluarga Tio"

***

Toko keluarga Tio yang dikatakan itu ternyata tertutup rapat. Namun sekali dorong saja pintunya sudah terbuka. Biarpun saat itu masih siang, namun keadaan di dalam ruangan tersebut remang-remang. Seluruh jendela yang ada ditutup oleh sehelai tirai berwarna hitam. Suasananya begitu mencekam dan mengerikan.

Orang yang mengenakan topi pandan itu melangkah masuk ke dalam. Dia menutup kembali pintu toko itu.

"Apakah ada orang di dalam?" tanyanya dengan suara lantang.

Tidak terdengar sahutan. Orang bertopi pandan itu menyapa sekali lagi. Kali ini terdengar suara orang terbatuk- batuk. Anehnya, suara itu keluar dari salah satu peti mati yang berjajar di dalam ruangan itu. Orang bertopi pandan itu sama sekali tidak terkejut. Dia masih berdiri menunggu di tempatnya semula. Tiba-tiba terlihat cahaya memijar. Sebatang lilin telah dinyalakan dan dipegang oleh seseorang yang muncul dari samping peti mati di ujung ruangan. Dia berjalan menghampiri orang bertopi pandan dengan langkah perlahan-lahan.

"Siapa yang kau cari?"

"Aku ingin membeli peti mati!" "Yang berapa harganya?"

"Berapa harganya aku tidak perduli, yang penting mutunya bagus!" Orang bertopi pandan maju ke depan dan menyalakan tujuh batang lilin yang dibawanya.

Orang yang muncul dari samping peti mati itu sekarang baru terlihat jelas rupanya. Ternyata dia seorang yang punggungnya bungkuk karena cacat. Dia menatap si orang bertopi pandan dengan pandangan menyelidik.

"Siapa yang hendak kau bunuh?" tanyanya langsung. "Yan Cong-tian..." sahut orang bertopi pandan itu sepatah

demi sepatah.

Si bungkuk tertegun. "Yan Cong-tian dari Bu-tong-pai?" "Aku belum tahu ada Yan Cong-tian kedua yang patut

dibunuh."

Sekali lagi si bungkuk terdiam. "Berapa harganya?"

"Berapa harga yang sanggup kau keluarkan?" Si bungkuk balik bertanya. "Sepuluh laksa tail!" Tampaknya orang bertopi pandan itu cukup royal menghamburkan uangnya.

Kembali si bungkuk tertegun. "Kami setuju dengan harga yang kau berikan. Sekarang kau sudah boleh meninggalkan tempat ini," sahutnya kemudian.

Orang yang mengenakan topi pandan tetap tidak bergerak. Si bungkuk tertawa terkekeh-kekeh. "Kalau kau bisa menemukan tempat ini, tentunya kau juga sudah tahu peraturan yang berlaku di sini. Sebulan setelah kematian Yan Cong-tian, kau harus dalang lagi mengantarkan uang yang dijanjikan, setail pun tidak boleh berkurang.?

Orang yang mengenakan topi pandan itu menganggukkan kepalanya. "Tentu," katanya tenang.

"Lilin sudah kau nyalakan di tempat ini. Berarti transaksi di antara kami sudah berlangsung. Seandainya pada dirimu tidak ada uang sebanyak sepuluh laksa tail, lebih baik kau minta sedekah mulai sekarang. Jangan sampai menyesal nantinya!"

"Kalian tidak perlu khawatir...!"

Si bungkuk tertawa kering. "Selamanya kami tidak mengkhawatirkan masalah pembayaran. Tentunya Tuan jauh lebih mengerti dari kami sendiri."

Orang yang mengenakan topi pandan itu memperdengarkan suara tertawa dingin. "Harap kalian juga tidak akan membual aku kecewa."

"Bisnis seharga sepuluh laksa tail rasanya juga bukan usaha yang tidak menguntungkan. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Pokoknya selama ini kami belum pernah mengecewakan harapan para langganan kami!" sahut si bungkuk. Orang yang mengenakan topi pandan itu tertawa dingin sekali lagi. Si bungkuk maju satu langkah. Dia menudingkan jari telunjuknya. "Ingat! Satu bulan hanya ada tiga puluh hari! Waktu berlalu dengan cepat!"

Orang bertopi pandan mendengus satu kali. "Kalau ini bukan yang dikatakan khawatir, lalu apa namanya?"

Dengan tenang si bungkuk mengambil kembali lilin yang dinyalakan tadi. "Seandainya membunuh seorang Yan Cong- tian yang merupakan tokoh berilmu demikian tinggi masih tidak dapat menghasilkan uang, rasanya kami tidak segan- segan menambah wawasan dengan membunuh lagi seorang Tok-ku Bu-ti!"

Orang yang mengenakan topi pandan itu tetap tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. "Sayangnya Tuan bukan Tok- ku Bu-ti. Kalau tidak, kami tentu tidak perlu khawatir sama sekali," kata si bungkuk selanjutnya.

"Oh?" Orang bertopi pandan itu tampak agak penasaran. Si bungkuk hanya tertawa terkekeh-kekeh.

"Meskipun Bu-ti-bun sudah hancur, tapi seandainya Tok- ku Bu-ti mendengarkan ucapanmu ini, dia pasti akan menghormatimu dengan tiga cawan arak!" Selesai berkata, orang bertopi pandan itu langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.

Si bungkuk memandangi orang bertopi pandan itu meninggalkan ruangan tokonya. Diam-diam dia tersenyum licik. Dia meniup lilin di tangannya sampai padam. Keadaan di dalam toko keluarga Tio tidak gelap gulita. Tujuh batang lilin yang dinyalakan oleh orang bertopi pandan tadi masih menyala terang benderang. ***

Kurang lebih tiga li dibagian Utara Pek ka cik ada sebuah tempat peristirahatan berbentuk seperti pagoda.

Setelah meninggalkan Pek ka cik, orang bertopi pandan itu terus melangkah. Sesampainya di tempat peristirahatan itu dia baru menghentikan langkah kakinya. Tangannya membawa sekendi arak dan tiga buah cawan. Dia duduk di atas meja batu yang terdapat di tengah-tengah tempat peristirahatan tersebut. Dengan tenang dia meneguk tiga cawan arak berturut-turut. Setelah itu dia melepaskan topi pandannya dan menanggalkan kain hitam yang menutupi bagian bawah dagunya.

Tok-ku Bu-ti!

Setelah menghabiskan tiga cawan berturut-turut, dia melemparkan tiga buah cawan itu ke bawah bukit. Mengapa dia meneguk tiga cawan itu sampai kering, hanya dia sendiri yang tahu. Meskipun sudut bibirnya memperlihatkan tawa dingin, namun kelopak matanya tidak memperlihatkan sedikit pun senyuman.

"Tian Sat" adalah sebuah organisasi yang menyediakan pembunuh-pembunuh bayaran. Organisasi ini sudah terbentuk cukup lama. Organisasi ini besar sekali dan juga sangat misterius. Motto mereka tidak ada dendam pribadi. Yang mereka pandang hanya uang. Mereka juga tidak perduli siapa yang hendak dibunuh, asal harganya sesuai dengan keinginan mereka.

Sudah sejak lama Tok-ku Bu-ti berusaha mencaplok organisasi yang satu ini. Tadinya Bu-ti-bun juga menyediakan pembunuh bayaran. Namun sayap mereka kurang lebar kalau dibandingkan dengan Tian Sat. Meskipun sampai saat ini dia tidak berhasil mengetahui siapa kepala pemimpin organisasi ini, namun terhadap cara kerjanya yang misterius dan tidak pernah gagal itu, Tok-ku Bu-ti merasa tertarik sekali.

Demikian rahasianya organisasi yang satu ini sehingga siapa saja anggota yang mendukung di dalamnya tidak pernah terbocorkan. Kalau dilihat dari tokoh-tokoh yang berhasil mereka bunuh, tentunya anggota organisasi ini terdiri dari orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Tapi siapa tokoh kelas tinggi di dunia ini yang tidak dikenal oleh Tok-ku Bu-ti?

Satu per satu pernah ia pikirkan, namun dari seluruh orang- orang yang diketahuinya, rasanya tidak mungkin ada yang sudi menjadi anggota sebuah perkumpulan pembunuh bayaran seperti Tian Sat ini.

Setelah menghabiskan tiga cawan arak, tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyelinap di dalam hati Tok-ku Bu-ti.

Bu-ti-bun benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali!

Angin di atas bukit itu bertiup dengan kencang. Pohon- pohon tetap berdiri tegak, namun dedaunan melambai-lambai terhembus tiupan angin. Rambut Tok-ku Bu-ti mulai acak- acakan. Pikirannya bertambah kacau.

Sebagai seorang Buncu yang selama ini disegani dan ditakuti orang-orang dunia kangouw, pantaskah dia mengambil tindakan seperti ini sebagai pelampiasan dendamnya?

Dia mulai mempertimbangkan persoalan ini. Namun dia yakin pada saat ini ketujuh batang lilin tadi pasti sudah padam semuanya. Menyesal pun sudah terlambat. Mengapa dia tidak memikirkannya sejak awal?

*** Tentu saja Yan Cong-tian juga tidak dapat melupakan adanya manusia bernama Tok-ku Bu-ti di dunia ini. Namun dia justru tidak pernah menyuruh orang untuk menyelidiki di mana jejaknya sekarang. Di dalam hati kecilnya, saat ini Tok- ku Bu-ti hanya seorang manusia rendah yang tidak berarti banyak. Dia benar-benar tidak sudi menghabiskan waktunya memikirkan orang yang satu ini. Apalagi urusan di Bu-tong- san masih banyak yang harus diselesaikan.

Apabila ada waktu senggang, Yan Cong-tian sering mencari Fu Hiong-kun dan diajaknya berbincang-bincang. Sebagian besar waktunya kebanyakan dihabiskan dengan melatih Yo Hong serta murid Bu-tong lainnya dalam pelajaran ilmu silat. Dia juga membentuk lagi barisan Jit sing kiam ceng yang anggotanya sudah mati semua.

Fu Hiong-kun sekarang yang bertugas di dapur menyediakan makanan bagi para murid Bu-tong. Diam-diam dia masih suka duduk termenung di taman belakang. Siapa lagi yang dipikirkannya kalau bukan Wan Fei-yang. Ketika Yan Cong-tian sudah sampai di sampingnya dia masih belum sadar juga.

"Hiong-kun. "

Gadis itu tersentak. Dia menoleh ke arah Yan Cong-tian dengan wajah tersipu-sipu.

"Locianpwe. "

Yan Cong-tian menarik nafas panjang. "Hiong-kun, ada sesuatu yang ingin kurundingkan denganmu. "

Fu Hiong-kun menatapnya dengan heran. "Tentang apa?" Yan Cong-tian tidak langsung menjawab. Tampaknya dia mempertimbangkan sesuatu. Setelah agak lama, baru dia mengatakan maksud hatinya.

"Hiong-kun, kau sudah sebatang kara. Meskipun abangmu Giok-su masih hidup. Tapi kita tidak tahu di mana dia berada. Lagipula dia bukan manusia baik yang bisa kau ikuti. Dendam antara dia dengan pihak kami sangat dalam. Kita tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi kelak. Kalau kau bersedia, aku ingin mengangkatmu sebagai anakku. Tentu saja aku tidak memaksa, terserah bagaimana anggapanmu sendiri bersedia atau tidaknya."

Hiong-kun terpana mendengar ucapan Yan Cong-tian. Dia menatapnya dengan pandangan terharu. "Terima kasih, Lociapnwe. Aku senang sekali mendapat penghormatan

yang demikian tinggi!"

Wajah Yan Cong-tian langsung berseri-seri. Dia menerima Fu Hiong-kun setelah mempertimbangkannya baik-baik. Gadis itu baik sekali hatinya. Tanpa membedakan dendam di antara mereka, dia menjaga dan merawat Yan Cong-tian sepenuh hati. Dia pula yang mendapat Suat tian untuk Wan Fei-yang.

Lagipula dia memang sudah terlanjur menyayangi gadis itu dan selama ini pun dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Memang tidak lazim seorang tosu mempunyai anak angkat, apalagi dia seorang perempuan, tapi Yan Cong-tian yang adatnya memang keras tidak memperdulikan semua itu. Dia mengulurkan tangannya membelai kepala Fu Hiong-kun.

"Terima kasih, Hiong-kun. Aku senang sekali. Kau membuat aku teringat akan Lun Wan-ji muridku.  " Yan Cong-

tian menarik nafas panjang. Wajahnya menjadi kelam. "Entah bagaimana nasibnya? Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada dan apakah dia masih hidup atau tidak?" "Harap Locianpwe jangan terlalu memikirkan keadaan Wan-ji cici. Setahuku, Giok-su koko benar-benar mencintainya, pasti dia tidak sampai hati membunuh gadis itu. Bagaimana kalau kita menyuruh orang menyelidiki keadaannya?"

Mata Yan Cong-tian langsung bersinar terang. Dia menganggukkan kepalanya. "Benar, Hiong-kun. Selama ini kita selalu disibukkan berbagai masalah. Sampai-sampai melupakan Wan-ji. Besok aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki di mana gadis itu sekarang. Tapi yang penting, besok aku akan mengumumkan pengangkatanmu sebagai anakku."

Fu Hiong-kun agak gembira mendengar nada suara Yan Cong-tian yang mulai bergairah.

***

Pagi-pagi sekali Yo Hong sudah dipanggil oleh Yan Cong- tian. Melihat wajah Supeknya yang bersemangat, dia menjadi heran. "Supek, Tecu Yo Hong menghadap."

Yan Cong-tian segera menghampiri dan menarik tangan Yo Hong. "Yo Hong, sebentar lagi kau kumpulkan para murid Bu-tong yang lainnya, di ruangan pendopo. Aku ingin mengumumkan suatu hal," katanya antusias.

"Urusan apa yang membuat Supek demikian bergairah?" tanya Yo Hong penasaran.

"Aku telah memutuskan untuk mengangkat Hiong-kun sebagai anak. Sayang sekali dia tidak begitu berminat dalam ilmu silat. Sedangkan Supek buta sama sekali masalah pengobatan. Kalau tidak, tentu Supek akan menerimanya sebagai murid." Yo Hong baru tersenyum mendengar ucapan Supeknya itu. "Selamat, Supek. Fu kouwnio memang seorang gadis yang baik. Supek tentu akan bahagia didampingi seorang putri seperti Fu kouwnio."

"Hm. Sekarang kau keluarlah dan persiapkan segalanya.

Setelah itu ada satu urusan lagi yang harus kau selesaikan," kata Yan Cong-tian sambil mengibaskan tangannya.

Yo Hong mengangguk dan memohon diri.

***

Upacara pengangkatan Fu Hiong-kun sebagai anak oleh Yan Cong-tian berlangsung sederhana, namun seluruh murid Bu-tong menyambut gembira berita itu. Mereka semua suka sekali terhadap Fu Hiong-kun yang lemah lembut dan baik budi. Gadis itu tidak segan-segan mengulurkan tangannya mengobati siapa saja apabila ada yang terkilir atau terluka ketika berlatih ilmu.

Yan Cong-tian memanggil Fu Hiong-kun agar duduk di sampingnya. "Yang lainnya boleh keluar sekarang. Yo Hong tetap di sini. Ada sesuatu yang ingin aku katakan!"

"Locianpwe. " Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu

tapi ditukas oleh Yan Cong-tian.

"Hiong-kun, masa sampai sekarang kau memanggil aku dengan sebulan itu?"

Wajah Fu Hiong-kun tersipu-sipu ditegur demikian. "Gihu. "

Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak. "Begitu baru betul. Nah, apa yang ingin kau katakan tadi?" "Tentunya Gihu memanggil Yo Toako untuk masalah Wan- ji bukan?"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya. "Kalau boleh, aku ingin memberikan sedikit saran."

"Jangan ragu-ragu Hiong-kun, kita bukan orang lain lagi, katakan saja."

Fu Hiong-kun mengangguk kecil.

"Sebelumnya aku ingin menanyakan dulu kepada Yo Toako, apakah Yo Toako sudah tahu tugas apa yang diberikan Gihu?"

Yo Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku belum tahu, tapi mendengar pembicaraan Fu kouwnio dengan Supek barusan, rasanya urusan ini menyangkut masalah Lun Wan-ji Sumoay."

"Benar..." Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya sambil menarik nafas panjang. "Sampai sekarang kita masih belum mendapat berita tentang Wan-ji. aku sungguh khawatir. Kau tentu tahu bahwa Wan-ji besar di tanganku. Bagiku, dia bukan saja seorang murid, tapi tidak beda dengan anakku sendiri. Bagaimana hatiku dapat tenang kalau belum tahu apa yang telah terjadi padanya."

"Maksud Gihu, agar kau membawa beberapa saudara seperguruan untuk menyelidiki di mana Wan-ji cici berada," tukas Fu Hiong-kun.

"Tapi... di mana kami harus mencarinya? Sedangkan dunia begini luas!" sahut Yo Hong sambil menggaruk-garuk kepalanya. Yan Cong Tian terpana. Benar juga!

Memang tidak mungkin asal seruduk saja untuk mencari kabar gadis itu. Setidaknya mereka harus mempunyai setitik petunjuk sebagai awal penyelidikan.

Fu Hiong-kun memandangi kedua orang itu bergantian. "Gihu, justru mengenal masalah inilah, tadi aku ingin memberi saran."

"Oh?" Yan Cong-tian tersentak dari lamunannya. "Teruskan. "

"Ketika Gihu dipancing oleh Giok-su koko ke Siau-yau-kok, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Wan-ji cici, maka dia ditinggalkan di Kian Wi piau kiok. Aku pernah mendengar ucapan antara Yaya dengan Giok-su koko yang mana Yaya memintanya untuk membunuh Wan-ji cici. Saat itu Giok-su koko menolaknya, namun Yaya mengancam akan membunuh diri apabila Giok-su koko tidak mengikuti kemauannya.

Dengan demikian Giok-su koko terpaksa pura-pura mengiakan. Aku yang belum tahu masalah yang sebenarnya marah sekali. Tapi Giok-su koko menyatakan bahwa dia tidak benar-benar ingin membunuh Wan-ji cici, hanya mengiakan di depan Yaya. Setelah itu Giok-su koko pergi ke Kian Wi piau kiok, sekembalinya dari sana wajahnya muram sekali.

Dia tidak bersedia mengatakan apa-apa ketika aku tanyakan. Namun dari tampangnya aku dapat menduga bahwa dia tidak berhasil menemukan Wan-ji cici. Tentunya Wan-ji cici itu sudah menemukan suatu hal yang sangat mengecewakan hatinya tentang Giok-su koko, sehingga ia pergi meninggalkan tempat itu. Kalau menurut pendapatku, Yo Hong toako sebaiknya memulai penyelidikan dari Kian Wi piau kiok."

Yan Cong-tian dan Yo Hong menganggukkan kepalanya. "Tapi Kian Wi piau kiok sudah tidak ada lagi. Ternyata Suma Tian yang menemuiku tempo hari palsu adanya.

Jangan-jangan setelah aku pergi Wan-ji menemukan rahasia mereka kemudian dibunuh oleh Suma Tian."

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin.

Aku tahu Suma Tian yang itu memang palsu. Dia memang anggota Siau-yau-kok. Tapi sebelum mendapat perintah dari Giok-su koko, bagaimana pun dia tidak akan berani membunuh Wan-ji cici. Jadi sebaiknya coba-coba saja selidiki daerah sekitar Kian Wi piau kiok. Kalau benar Wan-ji cici menemukan rahasia Giok-su koko, dalam keadaan sedih pasti dia bisa berjalan jauh."

"Benar, Supek. Biar Tocu bawa beberapa saudara kita untuk menyelidiki hal ini. Siapa tahu ada orang yang pernah melihat Wan-ji Sumoay dan dapat memberikan keterangan yang berharga."

Yan Cong-tian kembali menganggukkan kepalanya. "Baiklah... tidak ada salahnya mencoba.... Lagipula..." Yan Cong-tian seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi setelah melirik kc arah Fu Hiong-kun, dia membatalkannya.

Fu Hiong-kun tahu apa yang ingin dikatakannya mungkin ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri. Yan Cong-tian pasti takut dia akan tersinggung atau menjadi sedih. "Gihu, ada apa? Katakan saja... aku tidak apa-apa."

Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Setahuku, dulu Wan Fei-yang sangat menyukai Lun Wan- ji. Tapi gadis itu lebih memilih Giok-su. Seandainya kita dapat menemukan Wan-ji, siapa tahu mendengar kabar ini, Siau-fei akan tergugah dan kembali lagi ke Bu-tong-san. Maaf Hiong- kun, bukan maksudku menyakiti hatimu, tapi kita tidak dapat membiarkan Siau-fei terlunta-lunta di luar perbatasan tanpa kita ketahui nasibnya."

Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Aku mengerti. Maksud Gihu memang baik sekali. Semoga saja Wan-ji cici bisa menasehatinya agar melupakan kejadian yang lalu. Yang penting bagiku adalah kepulihan Wan Toako, Gihu jangan khawatir aku tidak akan sakit hati mengenai persoalan ini."

Yan Cong-tian memandangnya dengan perasaan berterima kasih. "Kau memang baik sekali. Hiong-kun."

Yo Hong segera maju menghampiri Yan Cong-tian serta menjura dalam-dalam. "Supek, Tecu akan berangkai sekarang juga."

***

Setelah diobrak-abrik oleh Thian-ti tempo hari. Bu-tong- san banyak mengalami kerusakan di sana sini. Yan Cong-tian memeriksa semuanya dengan teliti dan memerinci apa saja yang harus diperbaiki. Akhirnya ia menyuruh beberapa murid Bu-tong mencari tukang yang berasal dari daerah sekitar.

Sebenarnya para murid Bu-tong sendiri menganjurkan untuk tidak usah mencari tukang bangunan dari luar. Mereka bisa bekerja bergotong-royong memperbaiki semua kerusakan itu, tetapi Yan Cong-tian malah marah mendengar kata-kata mereka.

"Lebih baik keluar sedikit biaya untuk mengerjakan perbaikan itu. Kalian tidak usah ikut campur. Lebih penting bagi kalian untuk berlatih ilmu silat demi memajukan kembali nama baik Bu-tong-pai dari pada menghabis habiskan waktu mengerjakan hal yang bisa dilakukan oleh orang lain." Para murid Bu-tong terdiam semuanya. Sejak itu mereka tidak berani lagi mengemukakan pendapat apa-apa di hadapan Yan Cong-tian. Setelah mengalami berbagai musibah yang mengenaskan, banyak murid Bu-tong yang berbakat ikut berkorban. Sebagian besar yang dapat diandalkan sudah tewas terbunuh. Dari hari ke hari kemegahan Bu-tong-pai semakin merosot. Seandainya Wan Fei-yang yang pergi ke luar perbatasan tidak kembali lagi, Yan Cong-tian benar-benar sakit kepala memikirkan siapa yang dapat meneruskan kejayaan Bu-tong-pai.

Usianya sudah tinggi. Sedangkan di depan mata, hanya Wan Fei-yang yang ilmunya paling tinggi. Meskipun seandainya dia tidak mau menjabat sebagai Ciangbunjin Bu- tong-pai, namun dengan adanya anak muda itu yang membantu segala urusan di dalam, tentu Bu-tong-pai masih bisa bangkit kembali. Tetapi sekarang Wan Fei-yang sudah pergi. Akan kembali lagi atau tidak, Yan Cong-tian sendiri belum berani memastikan. Namun siapa yang mengerti keresahan hatinya kecuali Fu Hiong-kun.

**

Tengah hari kembali menjelang. Yan Cong-tian mengajarkan beberapa jurus ilmu tinju kepada para murid Bu- tong-pai. Dia memberi pesan agar mereka berlatih dengan giat. Setelah itu dia berjalan ke arah ruangan utama yang sedang diperbaiki. Hal ini sudah merupakan kebiasaannya akhir-akhir ini.

Beberapa tukang sedang sibuk bekerja. Dua orang yang usianya lebih lanjut berhenti dan menyapa Yan Cong-tian.

"Bagaimana pekerjaannya?" tanya Yan Cong-tian dengan wajah tersenyum. Hubungannya dengan para tukang memang cukup baik. Meskipun dia tidak pernah mengenal mereka sebelumnya, namun sifat Yan Cong-tian pada dasarnya memang tidak angkuh. Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Oleh karena itu, terkadang dia menghabiskan waktu berjam- jam untuk mengobrol dengan mereka.

Dua orang tukang yang usianya agak lanjut itu menganggukkan kepalanya.

"Kurang lebih sepuluh hari akan selesai secara keseluruhan," sahut salah satu dari kedua orang itu.

Karena perhatiannya terpencar sewaktu menjawab pertanyaan Yan Cong-tian, tukang itu jadi kurang berhati-hati, kakinya terpeleset dan dia tersuruk ke dalam papan kayu yang baru dipasang sebagai landasan lantai.

"Hati-hati!" seru Yan Cong-tian sambil melesat menghampiri dan mengulurkan tangannya mencengkeram pakaian tukang itu.

Begitu tangannya berhasil mencengkeram pakaian tukang itu, dia langsung merasakan ada yang tidak benar. Tubuh tukang itu jauh lebih ringan daripada orang biasa. Dia pasti mengerti ilmu silat bahkan ilmu ginkangnya cukup tinggi.

Setidaknya bagi seorang tukang!

Sambil mengelitkan tubuhnya, tangan tukang itu mengibas. Dua batang anak panah kecil meluncur ke tubuh Yan Cong-tian. Panah itu bentuknya kecil sekali, tapi kecepatan dan ketajamannya sukar diuraikan dengan kata- kata. Tanpa sadar pegangan Yan Cong-tian pada tukang itu terlepas. Dia berusaha menggeser tubuhnya menghindari serangan anak panah tersebut.

Meskipun dia sempat menghimpun hawa murninya, namun dua batang anak panah itu sudah menancap di dadanya. Yan Cong-tian tidak merasakan sakit di dadanya, hanya bagian yang tertancap anak panah itu rada kebal rasanya.

"Panah beracun!" seru Yan Cong-tian dalam hati. Dia tergetar. Diam-diam dia merasa khawatir. Di tangan tukang yang dicengkeramnya tadi sudah bertambah sebatang pensil baja. Dia menyerang bagian kanan ketiak Yan Cong-tian. Dia cepat, Yan Cong-tian lebih cepat lagi. Baru saja tangannya terangkat, kepalanya sudah kena dicengkeram oleh tangan Yan Cong-tian yang dengan kecepatan kilat langsung dibenturkan di atas lantai. Kepala tukang itu pecah berhamburan. Dan tanpa usah diperiksa lagi nyawanya pasti sudah melayang. Tanah di sekitar Yan Cong-tian tiba-tiba menguak lima buah lubang. Tanah dan pasir berhamburan. Lima orang manusia berpakaian hitam mencelat keluar dari lubang-lubang tersebut.

Lima batang pedang tipis panjang dan yang pasti tajam sekali langsung menyerang bagian tubuh Yan Cong-tian yang paling membahayakan. Sambil membentak keras, Yan Cong- tian mengembangkan telapak tangannya. Dia menghantam dengan tenaga sepenuhnya. Dua batang pedang patah seketika. Sedangkan dua batang lainnya terpental jauh.

Tangannya memutar dan tiga kali hantaman dikerahkannya berturut-turut. Tiga orang berpakaian hitam dibuatnya terpelanting kira-kira dua depa. Tubuhnya kembali melesat. Tangannya terulur. Kaki salah seorang manusia berpakaian hitam berhasil diraihnya. Ditariknya kaki orang itu dan diputarnya seperti sebuah gasing. Tubuh orang itu pun seperti komedi putar dijadikan senjata oleh Yan Cong-tian.

Bagian kepala orang yang diputar membentur kepala manusia berpakaian hitam lainnya.

"Brak!" Batok kepala keduanya hancur seketika dan nyawa mereka pun melayang. Begitu kuatnya tenaga yang dikerahkan oleh Yan Cong-tian sehingga kakinya amblas satu setengah cun ke dalam tanah.

Sebuah jala besar dengan tali berwarna kuning keemasan tiba-tiba membentang dari atas. Yan Cong-tian terkejut sekali. Dengan panik dia menghantamkan telapak tangannya dan jala tersebut pun terdorong kembali ke atas. Tubuhnya segera menggunakan kesempatan itu untuk melesat melalui celah yang terbuka.

Tiba-tiba puluhan titik sinar meluncur dari jala tersebut ke arah seluruh tubuh Yan Cong-tian. Ternyata para tukang bangunan yang bekerja di Bu-tong-san adalah anggota Tian Sat yang dibayar untuk membunuh Yan Cong-tian. Terhindar dari serangan senjata rahasia yang menyebar, orang- orangnya langsung menerjang. Sebelas orang dengan sebelas macam senjata yang berbeda-beda. Setiap senjata itu khusus untuk membuyarkan hawa murni dan semuanya mengandung racun yang keji.

Sepasang lengan baju Yan Cong-tian disapu dengan panik. Senjata rahasia yang masih meluncur seperti hujan berhasil dikibaskan oleh lengan bajunya. Sementara itu, jala yang terbentang dari atas melayang turun lagi. Tubuh Yan Cong-tian sudah bergeser menghindar, namun empat orang tukang yang ada di bawah langsung tertutup oleh jala itu.

Beribu jarum kecil yang terselip di seluruh jala itu langsung menancap di tubuh mereka. Ini yang dinamakan senjata makan tuan. Mereka langsung menjerit kesakitan. Tubuh mereka kejang-kejang dan menggelepar-gelepar sebelum jantung mereka benar-benar berhenti berdetak.

Yan Cong-tian menghantam telapak tangannya dua kali lagi. Namun rasa kebal di dadanya makin terasa. Tenaganya sudah jauh melemah. Dirinya terkepung di antara tukang- tukang yang merupakan samaran anggota Tian Sat itu.

Sebuah jala yang lain mulai melayang turun dari atas. Dengan nekat Yan Cong-tian menghantam sekerasnya. Kali ini jala yang sedang melayang turun itu bukan hanya terdorong, tapi langsung pecah menjadi pecahan-pecahan kecil.

Sementara itu para tukang sudah menerjang ke arahnya kembali. Bahkan beberapa di antaranya menggerayangi tubuh Yan Cong-tian dengan nekat seperti monyet-monyet yang bergelayutan. Tentu saja Yan Cong-tian jadi kerepotan dibuatnya. Sepasang tangannya pun sulit direntangkan, sama sekali lak bisa menyerang dengan leluasa.

Akhirnya Yan Cong-tian mengambil keputusan untuk membuka jalan dengan pembunuhan besar-besaran.

Lengannya yang kekar menjepit dan memuntir leher orang- orang yang menggelayutinya. "Krek! Krek!" Terdengar beberapa kali suara tulang belulang mereka yang patah, beberapa orang dari mereka mati dengan tulang leher patah berantakan.

Keadaan Yan Cong-tian sendiri semakin payah. Dia mulai kewalahan. Seandainya dadanya tidak terkena panah beracun, tentu orang-orang itu bukan tandingannya sama sekali. Tapi hal ini memang sudah diperhitungkan secara matang-matang oleh pihak Tian Sal. Mereka tahu siapa adanya Yan Cong-tian. Di dunia ini sekarang mungkin sudah tidak ada lagi orang yang dapat menandinginya apabila berduel secara satu lawan satu. Hanya satu-satunya cara melumpuhkan orang tersebut yakni dengan cara membokongnya.

Dalam sekejap mata, lima macam senjata yang aneh telah berhasil melukai tubuhnya. Walaupun dari pihak lawan kembali dua orang harus mengorbankan nyawa di tangan Yan Cong-tian. Suara jeritan ngeri berkumandang di mana-mana. Yan Cong-tian tidak sempat memikirkan luka yang dideritanya. Berturut-turut dia menghantamkan telapak tangannya dengan kalang kabut. Setiap kali tubuhnya bergerak dan tangannya menghantam, pasti ada seorang pihak lawan yang jatuh bermandikan darah. Tapi jumlah mereka semakin banyak, seperti gerombolan semut yang menemukan tempat penyimpanan gula. Entah dari mana saja mereka berdatangan. Beberapa di antaranya langsung mencengkeram kaki dan tangan Yan Cong-tian.

Tiba-tiba setitik sinar pedang berkelebat dari atas dan menghunjam ke arahnya. Mata Yan Cong-tian yang awas tentu saja dapat melihat datangnya luncuran pedang tersebut. Ia berusaha memberontak sekuat tenaga, namun orang-orang yang memeganginya semakin banyak. Yan Cong-tian tidak dapat berbuat apa-apa. Segera dihimpunnya hawa murni dan dikerahkannya tenaga dalam pada pangkal lengan. Dua orang terpental mundur oleh kerahan tenaga dalamnya, namun pedang yang sedang meluncur itu tidak dapat dihindari lagi serta dengan telak menikam dada kirinya. Tikaman yang satu inilah yang benar-benar membahayakan nyawanya!

***

Orang yang menggunakan pedang itu adalah seorang laki- laki setengah baya bertubuh kurus seperti monyet dan berwajah tiris seperti tikus. Dia juga mengenakan pakaian yang sama dengan para tukang bangunan lainnya. Dari alas ke bawah hampir tidak banyak daging yang menempel di tubuhnya, lebih mirip kulit yang membungkus tulang belulang saja. Mungkin juga karena kurusnya orang ini, maka badannya menjadi ringan dan gerakannya sangat cepat.

Tadinya dia bersembunyi di atas genting. Tepat pada saat yang sudah diperhitungkan, tubuhnya melesat secepat angin dengan tangan memegang pedang, dia meluncur ke arah Yan Cong-tian.

Gerakannya ini bukan saja cepat tapi juga tepat. Yan Cong-tian dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia belum pernah melihat orang ini dan dia yakin tidak mengenalnya. Lalu ada dendam apa antara orang ini dengannya sehingga menggunakan cara yang demikian rendah untuk membunuhnya.

Yan Cong-tian tidak sempat memeras otaknya untuk memikirkan persoalan itu. Reaksinya juga tidak lambat. Begitu merasakan dadanya tertusuk oleh pedang itu, kakinya langsung menendang sekuat tenaga. Tubuh yang tertusuk pedang itu ikut meluncur ke depan, sedangkan tukang berwajah tikus itu tidak dapat menahan dirinya lagi. Tubuhnya terpental ke belakang. Rupanya tubuhnya tidak melayang melewati tembok, melainkan tepat membentur di tembok ruangan.

"Prak!" Tulang-tulang tubuhnya terbentur patah. Setelah menempel di tembok beberapa detik, tubuhnya melorot turun. Darah segar muncrat terus dari mulut orang itu.

Pada waktu yang bersamaan, darah mengucur deras dari dada Yan Cong-tian. Ia berusaha mendekap dadanya namun darah yang muncrat tidak terbendung. Wajahnya pucat pasi seperti kulit ikan mati, tubuhnya terhuyung-huyung. Para tukang yang masih hidup hanya tersisa empat orang.

Meskipun mereka memang telah mendapat pengarahan untuk tidak takut menghadapi kematian dalam tugas, dan selama ini mereka pun sudah banyak membunuh orang secara keji, namun mana pernah mereka melihat kewibawaan seorang pendekar yang begitu mengagumkan. Mereka belum pernah mendapat tugas untuk membunuh seseorang seperti Yan Cong-tian. Melihat keperkasaannya, tanpa sadar mereka tertegun di tempat.

Sementara itu, para murid Bu-tong yang mendapat suara keributan sudah menghambur keluar. Orang yang pertama sampai di tempat kejadian adalah Fu Hiong-kun. Keempat tukang yang tersisa saling lirik sekilas. Mereka tampaknya sepakat untuk mengundurkan diri. Mereka sudah melihat bahwa kemungkinan Yan Cong-tian untuk hidup terus tipis sekali. Berarti tugas mereka sudah selesai. Apa lagi yang harus dilakukan kecuali mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Mereka mengundurkan diri dengan cara berpencaran.

Namun keempat orang itu berhasil dihadang oleh para murid Bu-tong-pai yang berhamburan dari delapan penjuru angin. Sekali pandang saja, para murid Bu-tong-pai yang berlarian keluar itu sudah dapat menduga apa yang lelah terjadi.

Mereka terkejut juga marah sekali. Senjata-senjata langsung dicabut. Mereka meraung keras dan menerjang ke arah empat orang tukang yang masih tersisa.

Meskipun keempat orang yang menyamar sebagai tukang itu adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang sudah berpengalaman, namun menghadapi para murid Bu-tong yang sedang kalap itu bukan hal yang mudah. Apalagi mereka hanya empat orang. Sedangkan murid Bu-tong yang berhamburan jumlahnya mencapai hampir seratus orang.

Dalam waktu sekejap mata mereka sudah berlumuran darah terkena senjata para murid Bu-tong tersebut.

Walaupun Bu-tong-pai mengalami berbagai musibah dan banyak muridnya yang terbunuh di tangan Fu Giok-su dan Thian-ti cs. Namun yang tersisa adalah murid-murid yang berbakti penuh dan sadar akan kesetiaan mereka untuk memajukan kembali partai yang mulai merosot itu.

Sebelumnya mereka menghadapi tantangan untuk menggempur Bu-ti-bun. Sekarang tugas mereka adalah untuk membangkitkan kembali kejayaan Bu-tong-pai. Selama ini mereka berlatih dengan giat. Ilmu silat mereka telah mengalami kemajuan yang pesat. Masing-masing dari mereka sudah cukup untuk menghadapi keempat tukang yang merupakan samaran dari para pembunuh bayaran tersebut. Apalagi mereka sekarang dalam keadaan kalap. Cara turun tangan mereka juga menjadi keji. Untuk sesaat itu mereka tidak lagi mengingat peraturan dunia kangouw. Secara beramai-ramai mereka mengeroyok empat orang tukang yang masih tersisa.

Mata keempat tukang itu melihat wajah-wajah yang menampilkan kemarahan. Telinga mereka terasa pekak mendengar teriakan mereka yang mulai histeris. Kepala pun menjadi semakin pusing. Biasanya keadaan mereka dalam menghadapi setiap musuh selalu tenang. Sekarang mereka menjadi kalang kabut karena ketakutan.

Tapi sebelum mereka rubuh dengan tubuh tercincang- cincang, mereka tetap berhasil membunuh tiga orang murid Bu-tong-pai. Sedangkan para murid Bu-tong lainnya yang sudah berhasil membunuh keempat tukang itu langsung menghambur menghampiri Yan Cong-tian.

Yan Cong-tian masih berdiri tegak di tempat semula.

Darah segar mengucur dengan deras. Matanya membelalak, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Sepasang tangan Fu Hiong-kun memapah lengan Yan Cong-tian. Dia juga tidak bergerak. Gadis itu khusus memperdalam ilmu pengobatan. Mana mungkin dia tidak melihat bahwa Yan Cong-tian tidak ada harapan lagi. Dengan bantuan beberapa murid Bu-tong, mereka memapah Yan Cong-tian kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba seseorang menyerbu ke dalam kamar. Dia adalah Yo Hong yang baru kembali dari mengemban lugas menyelidiki Lun Wan-ji. Dia berlutut di samping Yan Cong-tian. Melihat tampang Fu Hiong-kun, dia tidak berani sembarangan bergerak. "Siapa yang melakukan semua ini?" tanyanya dengan bibir bergetar. Fu Hiong-kun segera menenangkannya. "Jangan urus dulu hal itu. Kita lihat perkembangan Gihu. Dia tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi."

Tentu saja Yo Hong percaya penuh ilmu pengobatan yang dikuasai Fu Hiong-kun. Apalagi setelah melihat rona wajah Yan Cong-tian yang sudah pucat pasi itu, tanpa sadar hatinya bergetar.

Yan Cong-tian masih diam saja. Sejenak kemudian mulutnya bergerak-gerak. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Melihat keadaan itu, Yo Hong segera mendekatinya. "Supek, tentu kau ingin mengetahui nasib Wan-ji Sumoay bukan?"

Dengan susah payah Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya. Yo Hong sudah dapat menduga bahwa melihat kepulangannya Yan Cong-tian pasti ingin menanyakan keadaan Wan-ji meski dirinya sendiri sedang di ambang maut. Yo Hong menjadi bimbang sejenak. Dia melirik ke arah Fu Hiong-kun. Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Tecu sudah berhasil menemukan jejak Wan-ji Sumoay. Dia... sudah meninggal. "

Tubuh Yan Cong-tian bergetar mendengar ucapan Yo Hong. Fu Hiong-kun tidak menyangka kabar buruklah yang dibawa oleh Yo Hong. Dia mengedipkan matanya kepada laki- laki itu. "Gihu, biar aku periksa dulu keadaanmu. "

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. Matanya tetap menatap kc arah Yo Hong seakan memintanya meneruskan hasil penyelidikannya atas diri Lun Wan-ji.

"Wan-ji... Sumoay bukan mati terbunuh... tapi dia mati

setelah tidak lama... melahirkan anaknya. " kata Yo Hong

tersendat-sendat. Air mata Yan Cong-tian menetes dari sudut matanya.

Entah sedih atau kecewa. Tidak usah diceritakan lagi oleh Yo Hong, dia sudah dapat menduga anak siapa yang dilahirkan oleh Wan-ji. Bibirnya kembali bergerak-gerak.

"Gihu, pesan apa yang hendak kau tinggalkan?" tanya Fu Hiong-kun segera.

"Ca... ri... Wan... Fei Yang... suruh... dia bantu... Bu-tong-

pai.... Bawa... kembali... anak Wan-ji. "

"Tapi. " tukas Yo Hong. Fu Hiong-kun langsung

mencegahnya mengatakan apa-apa. Dia sudah melihat keadaan Yan Cong-tian yang sudah sekarat. Ada hal penting yang harus ditanyakan sebelum nafas orang tua itu berhenti. "Gihu, tahukah kau siapa yang menurunkan tangan keji ini?" tanyanya segera.

Para murid Bu-tong-pai yang berkerumun di dalam kamar dan di luar segera memusatkan perhatian mereka. Memang sejak tadi mereka sudah penasaran sekali ingin menanyakan hal ini.

"Tian Sat. " Dua kata itu selesai diucapkan, Yan Cong-tian

kembali memuntahkan segumpal darah segar. Nyawanya melayang ketika kepalanya terkulai.

"Supek. !" teriak Yo Hong sedih. Para murid Bu-tong yang

lainnya mengerti orang tua itu sudah berpulang. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di alas tanah. Ratap tangis berkumandang memecahkan kesunyian. Fu Hiong-kun juga menjatuhkan diri berlutut di samping Yo Hong. Air matanya mengalir dengan deras. Tubuhnya berguncang-guncang.

Beberapa hari belakangan ini hubungan mereka sudah melebihi ayah dan anak. Meskipun dia tahu Thian-ti mati di bawah gabungan ilmu Tian-can sinkang Yan Cong-tian dan Wan Fei-yang, tapi dia juga tahu mereka tidak sengaja melakukannya. Karena keadaan waktu itu memaksa mereka melakukan hal itu. Terhadap Yan Cong-tian maupun Wan Fei- yang, Fu Hiong-kun tidak menaruh dendam sama sekali.

Walaupun dia dilahirkan di Siau-yau-kok, namun hatinya baik sekali. Justru karena dia tidak puas terhadap tingkah laku ayah dan abangnya maka sepanjang tahun dia lebih banyak berkelana di dalam dunia kangouw daripada berdiam di dalam Siau-yau-kok.

Selama beberapa tahun ini, dia sudah bosan melihat kelicikan yang terjadi di dunia kangouw. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi alas diri Wan Fei-yang. Dia semakin jenuh. Itulah sebabnya dia mengikuti Yan Cong-tian dan tinggal di Bu-tong-san untuk sementara.

Fu Hiong-kun benar-benar mengharapkan suatu kehidupan yang tenang. Dia juga berharap dapat memberikan bantuan yang berarti bagi Bu-tong-pai. Dalam hatinya dia menganggap Fu Giok-su dan kakeknya sudah terlalu banyak merugikan Bu-tong-pai. Juga keluarga Fu sudah terlalu banyak berhutang kepada Bu-tong-pai. Tentu saja dia lebih mengharapkan lagi kalau dendam antara keluarga Fu dengan Bu-tong dapat berakhir selamanya. Siapa nyana, satu gelombang belum juga reda datang lagi gelombang lain yang lebih besar. Justru di saat genting ini Yan Cong-tian malah terbunuh. Apa arti Tian Sat yang dikatakan oleh Yan Cong-tian di saat akhir hidupnya, tentu dimengerti oleh Fu Hiong-kun.

Siau-yau-kok juga merupakan sebuah aliran yang sesat. Terhadap organisasi gelap lainnya, meskipun tidak pernah mengadakan hubungan namun mereka menaruh perhatian khusus. Apalagi sebelum Thian-ti berhasil diselamatkan dari telaga dingin di Bu-tong-san. Hujan, Angin, dan Geledek pernah memikirkan kemungkinan untuk membayar anggota Tian Sat untuk menghadapi Bu-tong-pai. Akhirnya mereka memang tidak jadi mengambil tindakan demikian. Hal ini bukan karena biaya yang dikeluarkan akan besar nilainya, namun karena Siau-yau-kok setidaknya pernah merupakan organisasi yang gemilang dan mempunyai nama besar di dunia kangouw. Sebelum Bu-ti-bun didirikan, dari golongan hitam, nama Siau-yau-kok yang paling disegani.

Tentu saja pada waktu itu mereka belum mengungsi ke Siau- yau-kok dan masih menggunakan nama Pit-lok-cik.

Seandainya mereka jadi menggunakan jasa Tian Sat dan diketahui oleh para sahabat dari dunia kangouw, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membangkitkan kembali kejayaan mereka tempo dulu. Setidaknya mereka akan ditertawakan karena untuk menghadapi sebuah Bu- tong-pai saja, mereka terpaksa mengandalkan tenaga dari 'Tian Sat'. Lagipula, mereka sepertinya yakin sekali bahwa pada suatu hari kelak mereka akan dapat memulihkan nama besar Siau-yau-kok dan dapat menghancurkan Bu-tong-pai dengan tenaga mereka sendiri. Apa yang mereka perkirakan itu benar-benar menjadi kenyataan. Satu hal yang tidak terpikirkan oleh mereka adalah kejayaan tidak dapat berlahan lama. Dan juga tidak terpikirkan akan munculnya seorang Wan Fei-yang yang akan bakal mengacaukan semua rencana mereka.

Siau-yau-kok sendiri pernah mempunyai rencana menggunakan tenaga Tian Sat, tentunya mereka juga pernah mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang organisasi ini. Mereka bahkan sudah mempertimbangkannya matang- matang sebelum membatalkannya. Meskipun Fu Hiong-kun tidak tertarik dengan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Siau-yau-kok, tapi sedikit banyaknya dia pernah juga mendengar cerita dari mulut Fu Giok-su tentang organisasi bernama Tian Sat tersebut. Pengetahuannya tentang organisasi ini memang tidak banyak. Dia juga tidak pernah memikirkannya selama ini. Sekarang dia baru menyadari betapa mengerikannya organisasi bernama Tian Sat ini.