-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 28

Jilid 28

Malam sudah demikian larut. Tapi dengan pikiran yang bergejolak, mana mungkin dia dapat tidur dengan pulas.

Sambil meminum araknya dia membayangkan apa yang telah terjadi. Tanpa dapat menahan diri dia tertawa terbahak-bahak. "Ci Siong, Sen Man-cing, hari ini dua puluh tahun telah berlalu. Namun kalian tidak menyangka kalau aku masih sempat membalas dendam yang terpendam selama dua puluh tahun ini bukan?" Tentu saja semua ucapannya itu hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri.

"Wan Fei-yang! Tahu rasa kau!" Dengan mata berkobar- kobar dia mengeringkan isi cawannya. "Meskipun kau telah berhasil melatih Tian-can sinkang, dan tidak ada tandingannya lagi di dunia ini, namun mulai besok, jangan harap kau masih punya muka berhadapan dengan orang-orang dunia kangouw."

Tok-ku Bu-ti mulai mabuk. Dia berkata seorang diri sambil menganggukkan kepalanya.

"Malam ini kau boleh merasakan kepuasan dan kegembiraan sepenuhnya. Besok aku akan membeberkan kebejatan kalian yang menikah antara saudara kandung sendiri. Pada saat itu aku ingin lihat bagaimana kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh teman-teman dari dunia kangouw!" Dia mengisi cawannya lagi sampai penuh. Lagi diteguknya sekaligus.

Belum lagi dia sempat meletakkan cawannya di alas meja. Pintu ruang perpustakaan itu sudah didobrak oleh seseorang. Tok-ku Bu-ti langsung menoleh ke arah pintu tersebut.

"Siapa?" bentaknya dengan suara keras.

Kilat yang menyambar menyorotkan cahaya ke atas wajah orang itu. Sen Man-cing. Rambutnya acak-acakan. Matanya menyorotkan sinar kepedihan juga kemarahan. Tampangnya lebih mirip mayat yang baru bangkit kembali.

"Ternyata kau sudah datang," sapa Tok-ku Bu-ti sambil mengerutkan alisnya. Kemudian dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi, "Hari ini adalah hari baik. Kita berdua suami istri harus minum satu dua cawan untuk merayakannya!"

Bibir Sen Man-cing bergetar. "Apakah perbuatanmu ini masih dapat disebut kelakuan seorang manusia?" Akhirnya Sen Man-cing tidak dapat menahan diri lagi. Dia berteriak sekeras-kerasnya.

Ternyata Tok-ku Bu-ti masih bisa tertawa lebar. "Apa sebetulnya maksud perkataanmu itu?”

Sen Man-cing menatap Tok-ku Bu-ti lekat-lekat. Dia seakan malam ini baru melihat jelas siapa adanya manusia yang satu ini.

"Apa yang kau katakan tadi?" Tok-ku Bu-ti pura-pura terkejut.

"Oh? Rupanya kau sudah mendengar semuanya?"

"Aku sudah mendengar semuanya dengan jelas.

Semuanya. Tidak ada satu kata pun yang ketinggalan!"sahut

Sen Man-cing sepatah demi sepatah.

"Kalau begitu, aku malah harus mengundang kau masuk ke dalam," kata Tok-ku Bu-ti sambil bangkit dari duduknya.

Sen Man-cing justru sengaja masuk ke dalam. "Kalau kau memang membenci aku, kau boleh bunuh saja diriku.

Mengapa harus melakukan semua ini?" Tok-ku Bu-ti hanya tersenyum simpul. "Betul, aku memang bersalah terhadapmu. Aku mengkhianatimu. Tapi kau tidak perlu membalaskan sakit hati ini kepada putriku!"

Senyum Tok-ku Bu-ti semakin lebar. "Masa ini yang kau namakan balas dendam? Putri kita mencintai Wan Fei-yang, aku justru merestui mereka. Apa salahnya?"

"Kau masih berani membantah?" Sen Man-cing maju selangkah demi selangkah ke hadapan Tok-ku Bu-ti.

"Kau tahu putri siapa Tok-ku Hong sebenarnya. Kau juga tahu Wan Fei-yang adalah anak kandung Ci Siong. Mengapa kau membiarkan mereka menikah?"

"Dapatkah kau membiarkan aku mengatakan sesuatu yang bijaksana?" sikap Tok-ku Bu-ti tetap demikian tenang.

"Kau juga punya kata-kata yang bijaksana?"

"Dengar baik-baik. Semua ini adalah hasil perbuatanmu sendiri!"

Tok-ku Bu-ti menuding Sen Man-cing.

"Thianlah yang lelah mengatur segalanya sebagai hukum karma kepada kalian pasangan anjing ini!"

Sen Man-cing terhuyung-huyung mundur dua langkah.

Tok-ku Bu-ti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

Dia mengulurkan tangannya menarik Sen Man-cing ke dekatnya. Dia mendelik ke arah Sen Man-cing dengan tertawa lebar. "Tidak seharusnya kau datang ke mari. Tetapi karena kau sudah datang, aku tidak akan membiarkan engkau meninggalkan kamar ini dan menghancurkan apa yang telah kurencanakan!" Tangannya mencengkeram lengan Sen Man- cing semakin erat.

Sen Man-cing tertawa sumbang. "Dengan kecerdasan otakmu, seharusnya kau dapat berpikir bahwa sebelum menginjak tempat ini, aku pasti sudah singgah di tempat yang lain." "Kau sudah ke kamar pengantin Hong ji?" tanya Tok-ku Bu-ti yang wajahnya langsung berubah kelam.

"Untung saja belum terlambat."

Sen Man-cing menggelengkan kepalanya. "Meskipun hati mereka sangat sedih, tapi mereka toh

belum melakukan hal yang akan menghancurkan kehidupan mereka sendiri."

Wajah Tok-ku Bu-ti berubah hebat.

"Brak!" Cawan di tangannya diremasnya sampai hancur.

Dia melepaskan cengkeramannya pada Sen Man-cing. Tangan kanannya terkepal erat. Dadanya naik turun.

Wajahnya dari putih menjadi merah padam. Tampaknya dia akan menghantamkan tinjunya kepada Sen Man-cing.

Wanita itu memandangnya dengan tatapan dingin. Tidak ada sorot takut sedikit pun di matanya. Tinju Tok-ku Bu-ti tidak dihantamkan ke depan. Malah tangannya yang tadi terkepal kiri mengendur kembali.

Meskipun kau telah menggagalkan rencana yang aku jalankan, namun aku tetap tidak akan membunuhmu," katanya dengan suara berai. "Apa lagi yang kau tunggu?" Nada Sen Man-cing dingin dan datar.

“Kalau aku berniat membunuhmu, tentu sudah aku lakukan dua puluh tahun yang lalu. Tidak perlu menunggu sampai sekarang."

Sen Man-cing tidak berkata apa-apa.

"Aku rasa, terlalu enak kalau membunuhmu begitu saja," kata Tok-ku Bu-ti selanjutnya.

"Tanpa terasa air mata Sen Man-cing mengalir dengan deras. Tok-ku Bu-ti yang melihat keadaannya malah tertawa terbahak-bahak. "Tapi aku juga merasa heran, kau toh masih ada muka untuk hidup sampai hari ini."

Sen Man-cing tetap menangis tanpa menyahut. Tok-ku Bu-ti menepuk tangannya keras-keras. "Ternyata Wan Fei-

yang sudah mengetahui urusan ini. Mengapa dia masih belum mencari aku untuk membuat perhitungan?"

Baru saja ucapannya selesai, Wan Fei-yang sudah muncul di depan pintu. Tubuhnya basah kuyup. Dia mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti dengan pandangan sedih.

"Menantu yang baik. "

Tok-ku Bu-ti juga sudah melihat Wan Fei-yang. Dia malah terbawa terbahak-bahak. "Ini kan malam pengantinmu, mengapa kau tidak berdiam di kamar saja bermesraan dengan istrimu yang cantik jelita?"

"Tutup mulut!" bentak Wan Fei-yang dengan tubuh gemetar. Sepasang tangannya terkepal erat-erat sehingga berubah warna menjadi putih pucat. Tok-ku Bu-ti semakin senang melihat keadaannya. Seraya tertawa lebar dia menoleh kepada Sen Man-cing.

"Hujin, menantu kita ini lumayan juga. "

"Tok-ku Bu-ti, orang-orang boleh menganggap dirimu seekor burung rajawali, tapi aku memandangmu seperti seekor gagak!" tukas Sen Man-cing ketus.

Wan Fei-yang langsung mengulurkan jari tangannya menuding Tok-ku Bu-ti. "Tok-ku Bu-ti, keluar kau!" bentaknya.

Tok-ku Bu-ti menepuk-nepuk bajunya sen diri agar terlihat rapi. "Menantu yang baik, luka dalam mertuamu ini masih belum pulih betul."

"Tidak perduli. Pokoknya malam ini aku harus membunuhmu!" tukas Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. "Membunuhku? Demi Bu-tong- pai atau demi Ci Siong?"

"Terhadap manusia sesat dan keji seperti engkau, tidak perlu mengemukakan alasan kalau hanya untuk membunuhmu!"

"Kata katamu ini kedengarannya sangat berjiwa pendekar.

Sayangnya pribadi seseorang tidak dapat ditentukan dari pembicaraan saja. Apalagi murid Bu-tong," sindir Tok-ku Bu-ti tajam.

Wan Fei-yang marah sekali. "Tidak usah banyak bicara!"

Tok-ku Bu-ti tidak memperdulikannya. "Umpamanya Ci Siong tojin, dia menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai, tetapi tindak-tanduknya sungguh memalukan. Berani merayu istri orang!" sindirnya kembali.

"Aku suruh kau keluar!" Suara Wan Fei-yang semakin menggelegar.

"Kok cuma kau sendiri? Mana pengantin perempuannya?" tanya Tok-ku Bu-ti mengalihkan pokok pembicaraan.

Wan Fei-yang tidak dapat menahan dirinya lagi. Seraya meraung murka, dia menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti. Telapak tangannya sudah bersiap-siap untuk dihantamkan ke depan. Angin yang terpancar dari sepasang telapak tangannya seperti badai yang siap mengamuk.

Tok-ku Bu-ti mengungkit kakinya. Tongkat kepala naganya melayang ke udara. Sepasang tangannya mendorong, tongkat kepala naga itu meluncur ke depan. Wan Fei-yang merangkapkan kedua telapak tangannya. Tenaga dalam dikerahkan. Tongkat kepala naga itu pun terpental kembali.

Setengah tubuh Tok-ku Bu-ti bagian atas melenggok sambil memutar tongkat kepala naganya seperti gasing. Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti memang berbentuk panjang.

Ujungnya yang berputaran menyerang Wan Fei-yang secara gencar.

Wan Fei-yang menghimpun hawa murninya. Dia mengkombinasikannya dengan jurus Pik lek ciang. Sepasang telapak tangannya tiba-tiba berubah kaku laksana lempengan baja. Hantaman telapak tangannya terus menyambut sapuan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti. Dua puluh sembilan kali berturut-turut tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti menyerang Wan Fei-yang dan semuanya berhasil disambut dengan baik. Namun seluruh perabotan dalam kamar seperti meja, kursi, jambangan bunga, kendir arak serta beberapa cawan pecah berkeping-keping akibat pertarungan mereka. Meskipun demikian, sepasang telapak tangan Wan Fei- yang sama sekali tidak tergores ataupun terluka akibat hancuran perabot-perabot tersebut. Melihat keadaan itu, Tok- ku Bu-ti terkejut sekali. Tongkat kepala naganya masih berputaran. Angin yang ditimbulkannya menerpa di sekitar.

Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti merubah gerakannya. Dia melancarkan sebuah jurus yang bernama 'Ular berbisa keluar dari goa'.

Serangannya kali ini tertuju ke arah ulu hati Wan Fei-yang.

Tubuh Wan Fei-yang menggeser ke samping menghindari serangannya. Tongkat kepala naga meluncur lewat di bahunya. Sepasang tangannya terulur secepat kilat. Dia mencengkeram tongkat kepala naga tersebut. Padahal Tok-ku Bu-ti telah mengukur dengan seksama.

Namun ternyata perkiraannya meleset juga. Bukan saja dia tidak berhasil melukai Wan Fei-yang, malah tongkat kepala naganya kena dicengkeram. Dengan demikian, terjadilah adu tenaga dalam tarik menarik. Bagaimana pun Tok-ku Bu-ti berusaha, dia tetap tidak berhasil menarik kembali tongkat kepala naganya dari cengkeraman Wan Fei-yang. Lengan baju keduanya menimbulkan bunyi keresekan dan sepasang kaki masing-masing amblas ke dalam tanah. Tok-ku Bu-ti sudah mengerahkan Mit-kip sinkangnya. Wan Fei-yang juga sudah menghimpun tenaga Tian-can sinkang. Dua pasang mata saling tatap dengan tajam seperti bilah pisau yang saling beradu. Suara keresekan lengan baju tidak terdengar lagi.

Lengan baju Tok-ku Bu-ti bagai balon yang ditiup sampai mengembang. Sedangkan lengan baju Wan Fei-yang perlahan-lahan lurus dan semakin lama semakin kaku. Mereka tidak bergeming sama sekali.

Sen Man-cing yang berdiri di sudut tanpa sadar telah mundur satu langkah. Sekarang dia mundur lagi satu langkah. Hal ini bukan atas kehendaknya sendiri. Tapi karena segulung demi segulung kekuatan yang tidak berbentuk maupun bersuara mendesaknya, sehingga mau tidak mau dia terpaksa mundur terus.

Nafasnya semakin lama semakin sesak. Seluruh udara dalam ruangan itu seakan tersedot oleh tenaga kedua orang itu. Kekuatan yang menyelimuti keadaan sekitar juga semakin lama semakin dahsyat. Sen Man-cing sampai terdesak mundur tujuh langkah berturut-turut. Setelah itu barulah perasaannya lebih lega.

Sementara itu, rambut Tok-ku Bu-ti dan jenggotnya tiba- tiba mengembang kaku. Demikian juga kuncir rambut Wan Fei-yang. Bedanya kalau rambut serta jenggot Tok-ku Bu-ti berdiri kaku, sedangkan rambut Wan Fei-yang berdiri namun lembut melambai-lambai bagaikan terapung di permukaan air.

Di tengah-tengah kedua orang itu, tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti mulai memperlihatkan perubahaan. Kadang- kadang menyapu ke atas, kadang-kadang menyapu ke bawah. Kadang-kadang meluncur ke depan kemudian ditarik kembali. Akhirnya yang terlihat hanya bayangan putih yang berkelebat. Terdengar suara

"Brak!" Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti terputus menjadi dua bagian. Tubuh kedua orang itu terpental ke belakang dalam waktu yang bersamaan. Kemudian terjatuh di atas tanah. Begitu kerasnya tenaga kedua orang itu sehingga melayang keluar dari kamar.

Wan Fei-yang bangkit dan mulai mengerahkan ilmu di koridor panjang tersebut. Tok-ku Bu-ti menerobos lewat sebuah jendela sehingga pecah berantukan. Dia juga terpental di tempa! yang sama. Tepai pada saat itu. di benaknya terlintas pikiran untuk melarikan diri. Pikiran ini datangnya begitu cepat dan sensitif. Tempo hari di Kuan-jit-hong, Tok- ku Bu-ti pernah dikurung oleh Thian-ti dan Fu Giok-su dan kawan-kawan dalam barisan Hujan. Angin, Kilat serta Geledek. Keadaannya waktu itu sangat berbahaya, namun dia tetap melangsungkan pertarungan. Dia menyadari bahwa keenam orang itu, seandainya berduel satu lawan satu sama sekali bukan tandingannya. Sekarang dia juga sudah menyadari bahwa kekuatan Wan Fei-yang seorang diri saja sudah jauh di atasnya. Boleh dikatakan bahwa sejak menjabat jadi ketua Bu-ti-bun atau seumur hidupnya baru kali ini dia menemui lawan setangguh Wan Fei-yang.

Seorang lawan yang dihadapinya berdasarkan dendam pribadi dan benar-benar mempunyai ilmu lebih tinggi daripadanya. Sampai di mana kehebatan Tian-can sinkang dia sama sekali tidak tahu. Dia hanya tahu ketua generasi pendahulu dari Bu-ti-bun yaitu Sia ho Tian cong pernah mengalami kekalahan. Justru kekalahannya terjadi karena lawannya menggunakan Tian-can sinkang. Sedangkan dia berhasil mengalahkan Ci Siong tojin sebanyak tiga kali adalah karena Ci Siong tojin sama sekali tidak menguasai Tian-can singkang.

Dalam soal adu tenaga dalam antara dia dan Wan Fei- yang tadi, paling tidak dia sudah dapat memastikan satu hal: yakni tenaga yang terpancar dari Tian-can singkang, sama sekali bukan kekuatan yang dapat ditandingi oleh Mit-kip sinkang. Meskipun tidak terluka, tapi kalau diteruskan, dia juga tidak mempunyai kemungkinan untuk memenangkan pertarungan tersebut.

Dia seorang yang penuh perhitungan. Dari caranya menggempur Go-bi-pai, sudah terlihat jelas bahwa dia adalah jenis manusia yang tidak akan melakukan suatu hal yang tidak dapat dipastikannya. Seandainya dia sudah sadar bahwa pertarungan ini tidak mungkin dimenangkannya, mana mungkin dia masih mempunyai gairah untuk melanjutkan pertarungan itu? Toh tidak ada orang yang akan memperdulikan menang atau kalahnya lagi, lalu mengapa tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri...?

Begitu pikirannya tergerak, tubuhnya langsung melesat ke atas. Pada saat itu juga Wan Fei-yang sudah menerjang tiba. Dia sama sekali tidak perduli apa yang dilakukan oleh Tok-ku Bu-ti. Orangnya sampai telapak tangannya langsung meluncurkan dua kali hantaman, Wan Fei-yang juga tidak bimbang sewaktu menghantamkan telapak tangannya. Tok- ku Bu-ti tidak bisa tidak menghalangi datangnya serangan itu. Telapak tangannya terulur dan menyambut dua kali serangan tersebut. Tubuhnya yang sedang melesat di udara terdesak melayang turun kembali. Wan Fei-yang memutar tubuhnya.

Dua hantaman diluncurkan kembali, namun begitu ia sampai di hadapan Tok-ku Bu-ti, serangan itu menjadi delapan belas kali hantaman. Setiap hantaman, telapak tangan Wan Fei Kang tampaknya demikian ringan. Kening Tok-ku Bu-ti berkerut. Sepasang telapak tangannya maju menyambut serangan delapan belas kali hantaman itu. Kakinya terdesak mundur dua langkah.

Serangan Wan Fei-yang tidak berhenti di situ. Sambil meraung keras, dia terus meluncurkan serangan ke arah Tok- ku Bu-ti. Sepasang telapak tangannya kadang-kadang terkepal menjadi tinju dan terkadang membuka lagi serta menghantam. Sepasang kakinya juga menyepak serentak.

Tubuhnya bergerak kian ke mari. Serangannya menimbulkan angin keras bagai badai yang melanda.

Nafsu bertarung Tok-ku Bu-ti juga sudah terbangkit.

Sepasang tinjunya dikerahkan. Terjadilah pertarungan sengit dengan Wan Fei-yang. Kecepatannya dalam menyerang ataupun bergerak tidak di bawah anak muda itu. Hanya dalam hal tenaga dia terpaksa harus mengakui bahwa dia masih kalah satu tingkat. Semakin bertarung gerakan keduanya semakin cepat. Suara teriakan terdengar terus dari mulut Wan Fei-yang. Gerakannya sudah hampir mirip orang kalap. Mungkin karena kebencian yang memenuhi hatinya, maka dia tidak berpikir hal lainnya lagi kecuali membunuh Tok-ku Bu-ti. Hujan masih turun dengan lebat. Kilat terus menyambar. Suara benturan telapak tangan serta tinju berkecamuk dengan piara teriakan Wan Fei-yang dan suara siulan panjang yang keluar dari mulut Tok-ku Bu-ti.

Dua pasang telapak tangan berkali-kali beradu. Keduanya bagai dua ekor ulat perak yang pedang bergelut. Sama sekali tidak perduli hutan badai yang masih terus berlangsung.

Kecuali yang mabuk, para tamu lainnya yang mendengar suara pertarungan itu menjadi terkejut. Berbondong-bondong mereka keluar untuk melihat apa yang telah terjadi. Setelah berhasil melihat dengan jelas, mereka semua terbelalak dan melongo. Bagaimana mereka tidak terperanjat apabila melihat kedua orang Sang sedang bertarung mati-matian itu adalah mantu dan mertua yang masih terlihat baik-baik ketika pesta pernikahan berlangsung.

Kongsun Hong dan Fu Hiong-kun juga sudah menyusul tiba. Mereka melihat pertarungan antara Wan Fei-yang dan Tok-ku Bu-ti bukan hanya tidak main-main malah sudah menjurus ke arah menyabung nyawa masing-masing. Tentu saja Fu Hiong-kun dan Kongsun Hong menjadi tertegun seketika.

Yan Cong-tian yang baru sampai di tempat kejadian lebih bingung lagi. Dia segera menerjang ke hadapan kedua orang itu.

"Berhenti!" teriaknya sambil menghantam ke depan.

Dalam waktu yang bersamaan, air hujan yang sedang mencurah tampak terkuak oleh tenaga hantaman telapak tangan Yan Cong-tian. Kurang lebih tiga depa di sekitar kedua orang itu langsung melompong. Pada saat itu juga. Wan Fei- yang dan Tok-ku Bu-ti terpental mundur.

Begitu mundur, sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti terentang kembali. Dia mendengus dingin dua kali. Wan Fei- yang marah sekali. Kakinya segera memasang kuda-kuda siap menerjang lagi ke depan.

Yan Cong-tian menghantam lagi tiga kali berturut-turut.

Kemudian dia menghadang di depan Wan Fei-yang. "Siau-fei, apakah kau jadah gila?" bentaknya lantang.

"Aku ingin membunuhnya!" teriak Wan Fei-yang sambil bersiap menerjang lagi. Namun lagi-lagi dia dihadang oleh Yan Cong-tian.

"Siau-fei, tenangkan dirimu. Katakan dulu yang jelas, nanti turun tangan juga belum terlambat!" serunya.

Dihadang untuk kedua kalinya oleh Yan Cong-tian, perasaan Wan Fei-yang baru rada tenang. Dia berusaha keras menahan emosinya. Tapi matanya masih mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti dengan sinar kemarahan yang berkobar-kobar.

Sinar mata Yan Cong-tian menatap wajah Wan Fei-yang lalu beralih kepada Tok-ku Bu-ti.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanyanya dengan tampang angker.

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Seharusnya kau tanya saja pada Wan Fei-yang. Dia yang datang mencari aku dan mengajakku berkelahi."

Sinar mata Yan Cong-tian beralih kepada Wan Fei-yang. "Kalau memang ingin berkelahi, mengapa harus menunggu sampai sekarang? Kalian toh bukan orang luar lagi. Apakah tidak takut ditertawakan teman-teman yang hadir?"

Wajah Wan Fei-yang berkerut-kerut. Dia bermaksud membuka mulut mengatakan sesuatu, tapi dibatalkannya kembali. Tok-ku Bu-ti memandangnya dengan sinis. Dia juga yakin Wan Fei-yang tidak akan berani mengatakan apa-apa di hadapan para tamu yang hadir.

"Sejak semula aku sudah meminta agar kau mempertimbangkan segalanya dengan matang-matang. Sebelumnya tidak berkelahi, sekarang lebih lebih tidak boleh lagi," kata Yan Cong-tian selanjutnya.

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya. "Supek, ada masalah yang belum kau ketahui."

"Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Yan Cong-tian semakin tidak mengerti.

Wan Fei-yang tidak dapat mengatakannya.

Yan Cong-tian menyapu pandangannya ke sekitar tempat itu. "Di mana Hong ji?" tanya kembali.

Hati Wan Fei-yang pedih sekali. "Dia sudah pergi," sahutnya kelepasan.

Yan Cong-tian tertegun.

"Mana boleh begitu? Hari ini kan malam bahagia kalian!" Wan Fei-yang merasa sulit menjelaskannya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Yan Cong-tian memandangnya dengan lembut.

"Apakah Tok-ku Bu-ti memecah belah kalian agar kalian suami istri menjadi tidak akur?" tanyanya penuh perhatian.

Wan Fei-yang tidak menyahut. Mata Yan Cong-tian beralih lagi kepada Tok-ku Bu-ti.

"Bu-ti, kalau memang demikian, berarti kau yang bersalah!"

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. "Siapa yang salah atau benar, sebelum Yan heng tahu jelas masalahnya, lebih baik jangan sembarangan menduga!"

Sinar mata Yan Cong-tian berubah menjadi ingin seketika. "Kalau begitu maksudmu. "

Wan Fei Yang mengangkat tangannya. "Supek. "

Yan Cong-tian menghentak tangan Wan Fei-yang. "Benar atau salah, Supek mempunyai pertimbangan sendiri."

Mimik wajah Wan Fei-yang tambah sedih. Supek, kau masih belum mengerti masalahnya," kata anak muda itu dengan suara parau.

"Oleh karena itu, aku ingin menanyakan ampai jelas!" kata Yan Cong-tian sambil mengelus jenggotnya.

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. "Kalau begitu ku terpaksa mengatakan semuanya." Baru saja Wan Fei-yang bermaksud menegah, Yan Cong- tian sudah menukasnya: "Biar dia mengatakan. Bu-ti-bun memang aliran sesal. Masa apa yang dikatakannya bisa suatu hal yang masuk akal dan adil?"

Wan Fei-yang tertawa sumbang. Tok-ku Bu-ti maju selangkah ke depan.

"Peristiwa ini harus diceritakan mulai dari dua puluh tahun yang lalu." Tok-ku Bu-ti berhenti sejenak. Kemudian dia menarik natas panjang dan melanjutkan kembali.

"Pada waktu itu aku mengadakan pertarungan dengan Ci Siong tojin dari Bu-tong-pai di Kuan-jit-hong. Dengan Mil kip sinkang aku berhasil menghancurkan Bu-tong-liok-kiat yang dikerahkan oleh Ci Siong tojin. Akibatnya tosu tua itu terluka parah di bawah seranganku."

Berbicara sampai di situ, mata Tok-ku Bu-ti tanpa sadar menerawang. Dadanya dibusungkan tinggi-tinggi. Seakan kemenangan itu masih terbayang jelas, di pelupuk matanya.

Yan Cong-tian tertawa dingin.

"Urusan sudah lama berlalu, sampai sekarang masih juga dibanggakan. Apakah kau tidak takut ditertawakan para tamu yang hadir malam ini?"

Tok-ku Bu-ti tidak memperdulikannya.

"Dengan luka parah, Ci Siong berusaha melarikan diri.

Tanpa mengenal arah, ternyata dia lari ke tempat yang bernama Liong-hong-kek di Bu-ti-bun. Keberuntungan dan kemalangan pun terjadi!" Suaranya semakin lama semakin jelas. Kata-kata ini memang sengaja diucapkannya agar dapat terdengar oleh seluruh tamu yang hadir memenuhi undangan. "Ci Siong ditolong oleh seorang wanita, tapi kemudian dia merayu wanita itu sehingga jatuh cinta padanya. Wanita itu bernama Sen Man-cing. Itulah orangnya!" kata Tok-ku Bu-ti sambil menunjuk ke arah Sen Man-cing yang berdiri di depan pintu kamar.

Kilat menyambar. Wajah Sen Wan Cing pucat pasi.

Bibirnya bergetar. Matanya menyorotkan sinar permohonan. Dia memandang ke arah Tok-ku Bu-ti dengan wajah sendu. Namun dia tidak sanggup membuka mulut melalap kepada laki-laki yang dibencinya itu.

Sepasang tinju Wan Fei-yang terkepal erat. Tubuhnya tidak henti bergetar. Tapi bahunya dirangkul oleh Yan Cong- tian. Melihat keadaan mereka, hati Tok-ku Bu-ti semakin kenang.

"Menolong nyawa orang melebihi tujuh amal lainnya.

Sebetulnya perbuatan ini tidak salah. Tapi selagi aku sedang tidak ada, sengaja melakukan hal yang busuk dan mengkhianatiku, bagaimana aku tidak menjadi marah?"

Yan Cong-tian marah sekali: "Mulutmu memang harus dicuci bersih! Ci Siong. "

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Seandainya Ci Siong orang yang jujur dan mematuhi peraturan keagamaan, dari mana datangnya seorang anak bernama Wan Fei-yang?"

Kata-kata ini menyusup di telinga, kecuali Wan Fei-yang sendiri, Yan Cong-tian, Fu Hiong-kun dan Sen Man-cing, orang-orang yang hadir tidak ada satu pun yang tidak terkejut. Wajah Yan Cong-tian merah padam. Berkali-kali dia mendengus dingin.

"Karena anak ini anak haram, karena Ci Siong tojin adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai, maka tidak dapat diakui secara terang-terangan. Dia terpaksa mengikuti marga ibunya, yakni marga Wan!" Sekali lagi Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Hal ini sebetulnya tidak perlu lagi disesali karena terjadi sebelum Ci Siong tojin menyucikan diri menjadi pendeta, tapi merayu istri orang, jangan kata seorang Ciangbunjin yang sudah memilih pintu Budha, sedangkan orang biasa pun merupakan hal yang paling hina."

Mata Yan Cong-tian mendelik lebar-lebar. Kejadian sudah begini kau masih berani mengatakannya."

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. "Meskipun hari ini Bu-ti-bun sudah hancur akibat perbuatan Siau-yau-kok, aku Tok-ku Bu-ti juga bukan orang yang tidak mempunyai nama di dunia persilatan. Seandainya peristiwa ini bukan benar-benar demikian jalan ceritanya, kau kira aku bersedia merusakkan namaku sen-diri?"

Hawa amarah Yan Cong-tian semakin meluap. Mata Tok- ku Bu-ti beredar.

"Bu-ti-bun memang sebuah partai beraliran sesat. Bu-tong- pai merupakan partai lurus yang menjunjung tinggi kebenaran. Tapi seumur hidup ini, aku Tok-ku Bu-ti tidak pernah melakukan hal yang demikian rendah. Malah Ciangbunjin Bu- tong-pai mengaku sebagai aliran lurus, seorang pendeta agama To, sang-gup melakukan perbuatan yang bahkan dipandang hina oleh aliran sesat!"

Tanpa terasa tangan Yan Cong-tian yang sedang menekan bahu Wan Fei-yang terlepas seketika. Tangan Wan Fei-yang sendiri terkulai ke bawah. Matanya pun tidak berani diangkat ke atas. Hampir seluruh mata dari orang-orang yang hadir terpusat pada dirinya. Tok-ku Bu-ti merasa bangga berhasil menarik perhatian mereka. Suaranya semakin lantang. "Pasangan laki-laki dan perempuan yang tidak tahu malu ini akhirnya melahirkan seorang putri. Mereka menganggap aku sebagai si tolol yang mudah dikelabui. Putri itu dikatakan sebagai anakku!"

"Apakah putri yang diceritakan itu Tok-ku Hong adanya?" Tiba-tiba salah seorang tamu tidak dapat menahan diri dan mengajukan pertanyaan itu.

"Tidak salah!" sahut Tok-ku Bu-ti dengan suara yakin dan tegas.

Terdengar suara bising berupa kejutan dari para hadirin.

Seluruh wajah Yan Cong-tian merah padam seketika.

"Maksudmu Wan Fei-yang dan Tok-ku Hong adalah saudara seayah lain ibu?"

Jawaban Tok-ku Bu-ti masih dua patah kata yang serupa.

Dada Yan Cong-tian hampir meledak mendengar keterangan itu. "Lalu, mengapa kau masih merestui mereka menikah menjadi suami istri?" bentaknya garang.

"Bukan aku yang sengaja melakukan hal itu. Mereka yang memohon do'a restu dariku," sahut Tok-ku Bu-ti dengan nada yang demikian tenang.

"Sebelumnya, kau sudah tahu tentang hal ini bukan?" tanya Yan Cong-tian dengan nada tajam.

"Sebetulnya, aku paling tidak suka menyulitkan cinta kasih orang lain. Lagipula seandainya aku tidak mengabulkan, mereka pasti marah sekali. Mereka tentu akan mengatakan kalau aku orang tua yang tidak berpengertian. Bukankah lebih baik merestui saja?" Begitu marahnya Yan Cong-tian sehingga urat-urat hijau di keningnya bertonjolan keluar. "Apakah kau masih mempunyai sedikit saja silat kemanusiaan?"

"Ini yang dinamakan hukum karma!"

Yan Cong-tian marah juga sedih. Dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa.

"Tapi kalian jangan khawatir. Perempuan busuk itu sampai di sini tepat pada waktunya. Sepasang pengantin baru itu belum sempat melakukan apa-apa."

Suara lega terdengar di sana sini. Yan Cong-tian seperti baru saja terlepas dari beban yang berat. Fu Hiong-kun yang sejak tadi berdiri di sudut baru berani melirik ke arah Wan Fei- yang. Sejak tadi dia diam saja. Mendengar ucapan Tok-ku Bu- ti yang terakhir, dia baru berani memandang ke arah Wan Fei- yang. Sinar matanya menyorotkan perasaan iba yang dalam. Terhadap nasib Wan Fei-yang yang demikian malang, dia hanya bisa merasa kasihan. Bagaimana keadaan Hong cici sekarang?

Teringat akan Tok-ku Hong, Fu Hiong-kun tambah khawatir lagi. Meskipun sifat Tok-ku Hong sangat keras, namun apakah dia dapat menahan pukulan batin yang demikian hebat, Fu Hiong-kun benar-benar tidak berani memastikan.

"Begini juga ada bagusnya...!" Sinar mata Tok-ku Bu-ti beralih ke arah Sen Man-cing. "Kalau tidak, para sahabat di dunia kangouw pasti mengira aku sengaja menutupi kebusukan ini, aku benar-benar tidak dapat menerimanya!"

Yan Cong-tian memperdengarkan suara tertawa dingin. "Aku yakin kata-kata itu bukan keluar dari hati kecilmu!" Sikap Tok-ku Bu-ti masih tenang-tenang saja. "Iya juga boleh, bukan juga tidak apa-apa. Semuanya sudah terlanjur terjadi, setidaknya harus ada yang berani mengemukakannya agar menjadi jelas."

Yan Cong-tian memperhatikan Tok-ku Bu-ti dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Dia seperti baru melihat jelas Tok-ku Bu-ti hari ini.

"Meskipun Bu-ti-bun adalah sebuah aliran sesat dalam dunia persilatan, tapi selama ini aku selalu mengagumi kau, Buncu yang satu ini. Aku selalu menganggap bahwa kau masih tidak terlalu licik kalau dibandingkan dengan orang- orang Siau-yau-kok. Sekarang aku baru menyadari, meskipun manusia-manusia dari Siau-yau-kok adalah golongan manusia rendah, tapi masih belum ada setengahnya kalau dibandingkan denganmu!"

"Yan heng terlalu memandang tinggi diriku," sahut Tok-ku Bu-ti benar-benar tidak tahu malu.

"Dengan melakukan semua ini, sebetulnya apa faedahnya bagi dirimu sendiri?"

Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya. Tidak ada," sahutnya mengakui.

Yan Cong-tian mendengus dingin. "Tapi kau tetap melakukannya!"

Tok-ku Bu-ti tersenyum simpul.

"Seandainya kau mencintai seorang wanita dengan sepenuh hati. Dan setelah berhasil menikahinya, sebagai istrimu dia menyeleweng dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya tenang. Yan Cong-tian tertegun. Seumur hidup dia tidak pernah mengenal apa arti kata asmara, tentu saja dia tidak tahu bagaimana perasaan hati orang yang cemburu."Aku tidak tahu!"

Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang. "Aku lupa bahwa kau adalah seorang tosu. Seumur hidup kau hanya tahu berlatih ilmu silat untuk mencapai tingkat tertinggi agar dapat mengharumkan nama Bu-tong-pai." Dia berhenti sejenak. "Kau sama sekali tidak mengerti apa yang dinamakan cinta kasih antara dua orang lawan jenis. Kau benar-benar seorang tosu sejati!" Sekali lagi Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang. "Biar aku katakan kepadamu. Per buatanku ini masih belum dapat dikatakan keterlaluan."

Yan Cong-tian terpaku di tempatnya.

"Dari awal sampai akhir, aku telah mengampuni jiwa Ci Siong sebanyak tiga kali. Aku juga tidak mencelakakan istriku yang jalang. Terhadap putri mereka aku juga selalu menyayangi

seperti anak kandungku sendiri. Tahukah kau apa sebabnya?" tanya Tok-ku Bu-ti selanjutnya.

Yan Cong-tian memandangnya dengan aneh. "Apakah demi pembalasan seperti hari ini?"

Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya. Kalau bukan manusia she Fu yang mengatakannya, aku sendiri tidak tahu Wan Fei-yang adalah anak kandung Ci Siong."

Yan Cong-tian merenung sejenak. "Lalu apa sebabnya?" "Karena aku tidak memasukkan semua ini dalam hati,"

kata Tok-ku Bu-ti dengan tegas. "Sebelum ini, aku hanya memikirkan satu hal, yaitu bagaimana caranya agar aku dapat menguasai dunia persilatan!"

Yan Cong-tian manggut-manggut. "Selama ni kau memang mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai maksud yang satu ini."

"Sekarang Bu-ti-bun sudah tidak ada lagi," kata Tok-ku Bu- ti sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. "Munculnya Tian-can sinkang yang sudah sekian lama menghilang, benar-benar merupakan suatu pukulan yang hebat bagiku. Tadi aku mengira tidak ada ilmu lain lagi yang dapat menandingi Mit-kip sinkang milikku."

"Dalam keadaan putus asa dan tiada harapan lagi kau merencanakan pembalasan seperti ini," akhirnya Yan Cong- tian mengerti perasaan hati Tok-ku Bu-ti.

"Semua ini bukan salahku sendiri," kata Tok-ku Bu-ti dengan suara tajam. "Juga kebetulan aku dapat menggunakan kesempatan ini untuk memberitahukan kepada para sahabat di dunia kangouw bahwa orang yang berasal dari sebuah partai lurus juga belum tentu seorang laki-laki sejati yang tidak pernah melakukan kesalahan!"

"Bocah tua Ci Siong ini..." gerutu Yan Cong-tian tanpa sadar.

"Sampai-sampai seorang Ciangbunjin juga dapat berbuat demikian, para murid yang diajarkannya juga belum tentu lebih baik dari para murid partai sesat seperti kami ini," kata Tok-ku Bu-ti melanjutkan kembali.

Para hadirin yang mendengarkan kata-kata ini, semuanya memperlihatkan wajah sendu. Tapi tidak ada seorang pun yang membuka suara. Selama ini mereka selalu mengagumi Ci Siong tojin sebagai seorang Cianpwe dari dunia persilatan. Sekarang kenyataannya orang yang mereka kagumi itu dapat melakukan hal seperti ini. Apa lagi yang dapat mereka katakan.

Melihat tampang mereka, hati Yan Cong-tian semakin tertekan, tapi di hatinya juga masih terselip sedikit harapan.

"Kau yakin Tok-ku Hong bukan putrimu?"

"Tentu saja aku yakin," sahut Tok-ku Bu-ti. kemudian dia malah balik bertanya.

"Tahukah kau lwekang apa yang aku pelajari?"

"Mit-kip sinkang," kata Yan Cong-tian tidak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Apa hubungannya? Apakah dengan berlatih ilmu itu kau tidak dapat mempunyai keturunan lagi barang seorangpun?"

"Memang demikian kenyataannya!" sahut Tok-ku Bu-ti mengaku terus terang.

Yan Cong-tian tertegun. Sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Tidak heran namanya Mit-kip (putus turunan) sinkang!"

Tok-ku Bu-ti tidak marah. Malah penampilan wajahnya semakin tenang. "Seseorang yang mabuk ilmu silat, meskipun pengorbanan yang dituntut tetap dapat dimaafkan."

Sekali lagi Yan Cong-tian tertegun. "Tidak, salah!" Dia sendiri terpaksa mengakui. Karena seperti dirinya sendiri yang begitu gila mempelajari ilmu silat sampai-sampai rela untuk tidak menikah seumur hidup.

"Terhadap perbuatan busuk yang dilakukan Ci Siong tojin, entah bagaimana pendapat para murid Bu-tong-pai?" tanya Tok-ku Bu-ti.

Wajah Yan Cong-tian juga tidak berubah. Hanya matanya saja yang menyorot lebih tajam. "Apa pun yang dilakukannya, kita tidak dapat menyelidiki lebih jauh lagi. Sekarang toh dia sudah menjadi sesosok mayat yang telah dikuburkan!" Yan Cong-tian berhenti sejenak.

"Lagipula masalah ini, aku rasa bukan keseluruhannya salah Ci Siong juga."

Tok-ku Bu-ti tertawa terkekeh-kekeh. "Maksudmu?"

Mata Yan Cong-tian beralih ke wajah Sen Man-cing, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dibatalkannya. Tiba- tiba dia menyadari, pada saat seperti ini, apabila dia masih menyalahkan Sen Man-cing, tindakannya malah akan membuat nasib wanita itu menjadi semakin tragis.

Sinar mata Tok-ku Bu-ti mengikuti pandangan Yan Cong- tian. Belum lagi dia mengatakan apa-apa, tubuh Sen Man-cing sudah terkulai di atas tanah. Sepasang tangannya mendekap di dada. Darah segar mengalir membasahi pakaiannya.

Dengan seruan terkejut, Fu Hiong-kun penghambur menghampiri. Cepat-cepat dia memapah tubuh wanita itu. "Hujin, kau...!" Mata Sen Man-cing masih membuka, dia tersenyum pilu. "Sejak dulu aku sudah ingin mati. Aku masih bertahan hidup sampai hari ini adalah karena masih banyaknya persoalan yang membuat hatiku tidak tenang. Sekarang biarpun masih ada yang aku khawatirkan, lapi terpaksa aku harus membiarkannya." Tangannya mengendur. Sebuah tusuk konde yang hanya terlihat ujungnya saja menancap di dada wanita itu.

Fu Hiong-kun terkejut sekali. Dengan panik Wan Fei-yang menerjang maju mendekati. Dia juga ikut memperhatikan posisi tikaman tusuk konde itu, tanpa sadar keningnya berkerut.

"Fei Yang. " Air mata Sen Man-cing mengalir dengan

deras. "Jaga baik-baik adikmu. Katakan kepadanya agar kelak jangan terlalu keras kepala lagi." ucapannya selesai, nyawanya pun melayang.

Perlahan-lahan Wan Fei-yang menjatuhkan dirinya berlutut di depan mayat wanita itu. Tok-ku Bu-ti yang memperhatikan semua itu dari tempatnya, tidak dapat tersenyum lagi. Bagaimana pun dia sebetulnya masih mencintai Sen Man-cing. Kalau tidak, dia tentu tidak akan membiarkan istrinya hidup sampai saat ini.

Sinar mata Yan Cong-tian berpendar ke sekeliling kemudian beralih kembali ke arah wajah Tok-ku Bu-ti. Dia tertawa dingin. "Tentunya kau senang sekali sekarang," sindirnya tajam.

Tok-ku Bu-ti memaksakan dirinya terbahak-bahak. "Senang bukan kepalang!"

Tiga kali berturut Yan Cong-tian memperhatikan Tok-ku Bu-ti dari atas kepala sampai ke bawah kaki, kemudian perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti mengusap air hujan yang membasahi wajahnya. Dia memandang Yan Cong-tian dengan tatapan penasaran. Yan Cong-tian berjalan ke depan beberapa langkah, tiba-tiba dia berhenti. Kepalanya menoleh ke arah Tok-ku Bu-ti. "Tadinya aku ingin menghajarmu sampai puas, sekarang malah keinginan itu sirna seketika!"

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin. "Yan Cong Tian, apabila ada kata-kata yang ingin kau ucapkan, katakan saja terus terang, tidak usah pemutar balik seperti kaum perempuan!"

Yan Cong-tian memandangnya dengan tatapan dingin. "Kau sendiri seharusnya mengerti!"

"Katakan!" teriak Tok-ku Bu-ti.

Yan Cong-tian mencibirkan mulutnya sekilas. Kemudian dia mendengus satu kali. "Membunuh manusia rendah seperti dirimu, hanya mengotor-kotorkan tanganku saja. Enyah kau dari sini!" bentaknya dengan mata mendelik.

Wajah Tok-ku Bu-ti berubah hebat.

"Makian yang bagus. Sayangnya meskipun aku kepingin enyah dari sini, belum tentu Wan Fei-yang mengijinkannya!"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya. "Urusan ini biar dia tangani sendiri!"

Di pihak sana. Wan Fei-yang sudah bangkit berdiri. Kematian Sen Man-cing bukannya pembuat dia semakin kalap, malah penampilannya jauh lebih tenang dari sebelumnya. Yan Cong-tian menoleh kepadanya.

"Siau-fei, apakah kau ingin menyelesaikan semua masalah yang ada malam ini juga?" tanyanya lembut.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. "Bagus juga kalau demikian," kata Yan Cong-tian

selanjutnya. Dia membalikkan tubuhnya dan berseru lantang.

"Nyalakan lentera!"

Terdengar sahutan serentak. Para murid Bu-tong-pai segera pergi menyiapkan lentera yang diperlukan. Bibir Tok ku Bu t'i bergerak-gerak, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Sementara itu Wan Fei-yang sudah duduk di atas undakan batu di ujung koridor panjang. Dia setiang menghimpun hawa murninya.

Mata para hadirin bertumpu pada diri Tok-ku Bu-ti. Entah apa yang terkandung dalam hati mereka. Tok-ku Bu-ti sendiri tetap tenang-tenang saja. Dia membalikkan tubuhnya dan duduk bersila di hadapan gunung-gunungan yang terdapat di sudut halaman. Dia juga menghimpun hawa murni serta mengatur tenaga dalamnya. Kongsun Hong yang sejak tadi diam saja maju beberapa langkah. Sampai di samping Tok-ku Bu-ti, dia menghentikan gerakan kakinya. Dia berdiri tegak melindungi Suhunya itu.

Tok-ku Bu-ti memperhatikan sewaktu dia mendatangi. "Kepulanganmu memang tepat waktunya," sindirnya tajam

Kongsun Hong tertawa getir. "Sebetulnya Tecu bertemu dengan Subo di tengah perjalanan."

Tok-ku Bu-ti mendengus dingin. "Mungkin semua ini memang sudah takdir yang kuasa. Bagus juga. " Wajah Kongsun Hong jadi serba salah. "Suhu, masalah ini. "

"Semuanya memang telah kurencanakan," sahut Tok-ku Bu-ti tenang. Kemudian dia balik bertanya. "Apakah kau merasa tidak puas melihat keadaan ini dan menganggap Suhumu memang manusia rendah?"

Kongsun Hong menundukkan kepalanya. "Tecu tidak berani!"

Tok-ku Bu-ti mendelikkan matanya lebar-lebar ke arah Kongsun Hong. "Kalau kau ingin pergi, pergi saja. Bu-ti-bun sudah tidak ada lagi. Kau juga tidak perlu mengikuti aku selamanya!"

"Sehari mengangkat guru, seumur hidup tetap menjadi guru. Tecu bersumpah mengikuti dan mendampingi samping Suhu sampai kematian menjelang!"

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar. "Walau kebusukan apa pun yang telah dilakukan gurumu ini?"

Kongsun Hong menggertakkan giginya sambil menganggukkan kepala.

"Walaupun kau memang seorang murid yang baik, tapi kau juga orang paling tolol yang pernah aku temui!" Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

Kepala Kongsun Hong tertunduk semakin rendah. "Murid yang baik. Sekarang kau lindungi gurumu ini.

Sebentar lagi kau lihat bagaimana aku akan membunuh bocah itu!" kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar penuh keyakinan. Kongsun Hong hanya menganggukkan kepalanya.

"Kau tidak usah khawatir, dia pasti tidak sanggup membunuh gurumu ini," kata Tok-ku Bu-ti selanjutnya.

Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Kong sun Hong mendongakkan kepalanya. Pada saat itu dia baru melihat jelas. Meskipun Tok-ku Bu-ti berkata demikian, namun matanya menyorotkan sinar ketakutan.

***

Sinar matanya itu mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Tapi Kongsun Hong sudah terlalu mengenal diri Tok-ku Bu-ti. Sekali lirik saja, dia sudah dapat membaca isi hati gurunya itu. Apakah dia sedang marah, sedih, kecewa, senang atau ketakutan seperti sekarang.

Pengalaman menakutkan seperti sekarang hampir tidak pernah dirasakannya, tapi sekali ini saja sudah cukup bagi Tok-ku Bu-ti. Kongsun Hong hanya pernah melihat sinar itu sebanyak tiga kali dengan yang sekarang ini. pertama ketika Tok-ku Bu-ti sendiri melawan Thian-ti, Fu Giok-su, Hujan, Angin, Kilat dan Geledek. Kedua kali ketika Yan Cong-tian bersama Wan Fei-yang mengerahkan tenaga Tian-can sinkang untuk membunuh Thian-ti. Dan sekarang adalah ketiga kalinya dia melihat sinar ketakutan yang serupa tersorot dari mata Tok-ku Bu-ti.

Tempo hari ketika di Kuan-jit-hong, meskipun Kongsun Hong tidak melihat langsung sinar mata Tok-ku Bu-ti, tapi sebagai murid yang sangat paham akan diri gurunya, Kongsun Hong dapat merasakan ketakutan yang melanda gurunya itu. Bagi Tok-ku Bu-ti sendiri, penampilannya sekarang ini sudah menyiratkan perasaan hatinya yang sesungguhnya. Kongsun Hong menoleh ke arah Wan Fei-yang. Anak muda itu masih bersila di atas batu. Matanya terpejam.

Tampangnya demikian tenang sehingga di luar dugaan Kongsun Hong. Dia tidak tahu apakah dia masih membenci anak muda itu atau malah merasa iba kepadanya. Kongsun Hong menatapnya lekat lekat. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang Sesungguhnya nasib Wan Fei-yang malah lebih malang daripadanya. Namun kalau ditilik dan keadaannya sekarang, tampaknya Tok-ku Bu-ti sudah mengalami kekalahan sebanyak tiga bagian.

***

Satu demi satu lentera mulai dinyalakan. Seluruh gedung itu menjadi terang benderang" seketika. Hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal rintik-rintik kecil yang masih tersisa.

Kadang-kadang masih terdengar geledek bergemuruh. Kilat pun masih menyambar, tapi tidak begitu mengejutkan seperti sebelumnya.

Akhirnya Wan Fei-yang membuka mata. Penampilannya terlihat tenang sekali, namun matanya tetap memperhatikan sorot yang sedih. Perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah. Sementara itu, Tok-ku Bu-ti juga sudah membuka matanya. Dengan kesigapan yang dibuat- buat dia langsung berdiri.

Sambil berteriak lantang, tubuh Wan Fei-yang berkelebat cepat. Dia yang pertama-tama menerjang ke depan. Tok-ku Bu-ti tidak bersuara sama sekali. Dengan sendirinya dia juga maju menyambut. Empat pasang telapak tangan saling beradu. Suara benturannya memekakkan telinga. Kaki Tok-ku Bu-ti berubah-ubah gerakannya, kadang-kadang melangkah ke kanan, kadang-kadang ke kiri. Sepasang telapak tangannya membentuk bayangan cepat. Dalam sekejap mala, dia sudah menghantamkan telapak tangannya sebanyak dua puluh tujuh kali. Setiap serangannya selalu ditujukan ke bagian tubuh Wan Fei-yang yang paling mematikan.

Namun perubahan gerakan yang dilakukan oleh Wan Fei- yang lebih cepat lagi. Sepasang telapak tangannya bagai roda yang berputar cepat. Mata pun sulit menangkap dengan jelas. Hantaman demi hantaman saling susul menyusul membalas serangan Tok-ku Bu-ti.

Pik lek cang dari Bu-tong-liok-kiat tidak usah diragukan lagi kehebatannya. Apa lagi dipadu dengan tenaga Tian-can sinkang yang dahsyat. Sekali dilancarkan, tidak ada satu pun hadirin yang tidak tercengang. Serangan telapak tangan Wan Fei-yang semakin gencar. Seratus tujuh puluh kali hantaman telah dilancarkan. Tok-ku Bu-ti terdesak sampai bawah tembok pekarangan Tiba-tiba kakinya melangkah mundur, sepasang telapak ditarik kembali. Hawa murni dihimpun.

Dengan kekuatan yang mengerikan dia menerjang lagi ke depan.

Tubuh Tok-ku Bu-ti melesat ke atas. Ilmu Mit-kip sinkang dikerahkan sepenuh tenaga. Dia menyambut datangnya hantaman telapak tangan Wan Fei-yang dengan nekat.

"Blamm!"

Terdengar suara benturan yang bergemuruh. Tubuh Wan Fei-yang terpental mundur tiga langkah. Sedangkan tubuh Tok-ku Bu-ti amblas ke dalam tembok yang hancur seketika.

Debu-debu putih berhamburan ke mana-mana. Tembok pekarangan itu bagai terbelah-belah. Wajah Tok-ku Bu-ti pucat pasi.

Segumpal darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Sepasang tangannya tetap mendekap di depan dada. Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang memutar kembali.

Belum sempat dia melancarkan serangan. Di belakang tubuhnya terdengar desiran angin. Segulung tenaga yang cukup kuat menekan dari atas.

"Beraninya hanya membokong!"

Dia mendengar suara bentakan Yan Cong-tian.

Tanpa berpikir panjang lagi Wan Fei-yang menghantam telapak tangannya setelah membalikkan tubuh. Terdengar suara menggelegar terbit dari serangannya.

"Plak!" Tubuh Wan Fei-yang tidak bergerak. Malah orang yang diam-diam membokongnya terpental sampai jauh.

Orang itu tidak asing lagi. Dia adalah Kongsun Hong. Sepasang telapak tangannya beradu dengan hantaman telapak tangan Wan Fei-yang. Isi perutnya tergetar hebat. Darah segar muncrat dari mulutnya. Dia menggelinding di atas tanah. Dengan menahan sakit dia merangkak bangun dan menerjang lagi ke depan.

"Suhu, cepat lari!" teriaknya kalap.

***

Semua perbuatannya tidak luput dari perhatian Tok-ku Bu- ti. Hatinya tergetar. Sejenak dia merasa ragu. Kemudian dia menggertakkan giginya serta bangkit berdiri. Tanpa menunda waktu lagi dia langsung menerjang keluar. Seumur hidupnya dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Ujung matanya berkerut menandakan kepedihan hatinya. Tapi Tok ku Bu fi sekarang sudah jauh berbeda dengan Tok-ku Bu-ti yang dulu. Kewibawaannya sebagai seorang ketua sebuah perguruan sudah tidak ada lagi. Bu-ti-bun sudah hancur. Buncu dari Bu-ti-bun ini juga hanya tinggal kenangan. Dia tidak mempunyai keangkeran seperti sebelumnya. Tingkah lakunya juga tidak segagah dulu lagi. Namun dia tetap tidak menyadari bahwa semua ini adalah hasil perbuatannya sendiri.

Wan Fei-yang bermaksud mengejar. Tapi serangan telapak tangan Kongsun Hong sudah tidak di depan mata. Tentu saja dia tidak khawatir. Dengan mudah dia menyambut serangan tersebut. Keadaan Kongsun Hong sudah terluka.

Apabila dia menyambut lagi serangan balasan Wan Fei-yang, akibatnya tentu akan merugikan.

Sedangkan Wan Fei-yang tidak sempat lagi menghindarkan diri. Mau tidak mau dia harus menyambut serangan ini. Tubuh Kongsun Hong sekali lagi terpental ke belakang. Dadanya basah kuyup oleh darah yang kembali muncrat dari mulutnya. Tetapi murid Tok-ku Bu-ti itu memang keras kepala. Hampir tidak berbeda dengan Tok-ku Hong.

Dengan mati-matian dia terus menyerang Wan Fei-yang. Dia tidak mau memberi kesempatan bagi anak muda itu untuk mengejar Tok-ku Bu-ti. Tentang Yan Cong-tian, dia sama sekali tidak khawatir. Sebagai seorang Cianpwe, Yan Cong- tian pasti memegang perkataannya. Tadi dia sudah mengatakan bahwa dia tidak sudi membunuh Tok-ku Bu-ti. Kata-kata yang sudah dikeluarkannya pasti tidak akan ditariknya kembali. Meskipun ilmu silatnya jauh lebih rendah dari Wan Fei-yang, tapi apabila Wan Fei-yang hendak melepaskan diri darinya, juga bukan hal yang mudah. Apalagi keadaan Kongsun Hong yang sudah kalap begitu. Dia menerjang Wan Fei-yang tanpa memperdulikan mati hidupnya sendiri.

Kecepatan serangan Wan Fei-yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Perubahan gerakannya juga hebat sekali. Setelah berputaran beberapa kali. kembali telapak tangan nya menghantam tubuh Kongsun Hong Darah sudah membasahi seluruh pakaian Kongsun Hong.

Isi perutnya sudah tergelar sehingga hancur berantakan. Seandainya tabib sakti Hua To hidup kembali pun. kemungkinan baginya untuk hidup sudah tipis sekali. Dia sebenarnya sudah tidak kuat bertahan. Tubuhnya menggelinding di atas tanah. Darah dan debu membaur menjadi satu di seluruh tubuhnya. Namun sepasang tangannya tetap merangkul kaki Wan Fei-yang erat-erat.

Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang terangkat ke atas. Dia sudah siap menghantamkan batok kepala Kongsun Hong, namun hatinya tidak tega melakukan perbuatan yang begitu keji.

"Kau... apa sebetulnya yang kau lakukan? Dia meninggalkan engkau tanpa memperdulikan nasibmu, tapi kau malah membelanya mati-matian!" kata Wan Fei-yang dengan suara parau.

"Biar... bagaimana dia... adalah guru... ku!" Dengan susah payah Kongsun Hong mengucapkan kata-kata itu. Air menetes membasahi seluruh wajahnya. Entah air matanya yang berderai atau air hujan yang menetes dari atas.

Wan Fei-yang tertegun mendengar ucapannya. "Jaga.... Su... moayku... baik-baik!"

Selesai berkata, cengkeraman tangan Kongsun Hong pada kaki Wan Fei-yang pun mengendur. Nafasnya pun putus seketika.

Tanpa sadar Wan Fei-yang membungkukkan tubuhnya dan meraih Kongsun Hong yang hampir terkulai. Mulutnya bergerak-gerak, tetapi tenggorokannya seperti tersendat. Dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Air hujan masih terus turun membasahi tubuh Wan Fei- yang. Perasaannya saat itu seakan sudah hambar. Dia tetap termangu-mangu di tempat itu. Bergeming sedikit pun tidak. Yan Cong-tian berjalan menghampiri. Sinar matanya terpusat pada diri Kongsun Hong. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

"Tidak disangka seorang manusia rendah seperti Tok-ku Bu-ti bisa mempunyai seorang murid yang demikian berbakti."

Seluruh tamu yang hadir tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dalam hati mereka semua mengakui apa yang dikatakan Yan Cong Tian memang benar. Wan Fei-yang akhirnya membuka suara juga.

"Dia adalah seorang laki-laki sejati!" Kata-kata itu merupakan pujian pada Kongsun Hong.

Sinar mata Yan Cong-tian mengedar. Tembok di pekarangan telah hancur tidak karuan. Namun bayangan Tok- ku Bu-ti sudah tidak terlihat lagi.

"Sayangnya dia salah memilih Tok-ku Bu-ti sebagai guru." Sinar mata Yan Cong-tian kembali terpusat pada mayat

Kongsun Hong. Sekali lagi dia menarik nafas panjang.

Sinar mata Wan Fei-yang juga tidak beralih dari tubuh Kongsun Hong. Dia menggelengkan kepalanya dengan arti menyayangkan kematian laki-laki itu.

"Yan Supek tidak usah khawatir. Meskipun hari ini dia bisa melarikan diri, tapi kelak dia juga tidak mempunyai tempat lagi di dunia kangouw!"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya membenarkan pendapat Wan Fei-yang. Anak muda itu masih memegang mayat Kongsun Hong. Dia membopong tubuh itu dan berjalan ke ruangan ulama.

Tok-ku Bu-ti pasti tidak mempunyai muka lagi untuk berkecimpung di dunia kangouw. Bagaimana dengan Wan Fei-yang sendiri?

** *

Yan Cong-tian tidak mencegah Wan Fei-yang. Dia hanya melangkah perlahan mengikuti Wan Fei-yang dari belakang. Dia mengerti, perasaan Wan Fei-yang sekarang ini pasti sangat tertekan. Dia juga sadar, betapa hebat pukulan yang diterima Wan Fei-yang akibat kejadian hari ini.

Tapi apa yang dapat dilakukannya?

Sementara itu, Fu Hiong-kun juga menghampiri mayat Sen Man-cing dan membopongnya. Dia berdiri termangu-mangu.

Melihat Wan Fei-yang lewat di hadapannya, dia juga tidak memanggil. Sinar matanya mengikuti punggung Wan Fei-yang yang memasuki ruangan utama. Sepatah kata pun tidak terucap dari bibirnya.

Wan Fei-yang meletakkan mayat Kongsun Hong di tengah-tengah ruangan utama itu.

Kemudian dia balik kembali dan mengambil mayat Sen Man-cing dari bopongan Fu Hiong-kun. Wajahnya datar sekali. Dia seperti tidak melihat kehadiran Fu Hiong-kun.

"Wan Toako...!" panggil Fu Hiong-kun tanpa dapat menahan perasaan hatinya lagi.

Wan Fei-yang menoleh kepada Fu Hiong-kun. Bibirnya tersenyum. Tapi melihat senyuman itu, tanpa terasa tubuh Fu Hiong-kun menggidik. Senyumnya lebih mirip seringai orang yang pikirannya sudah tidak waras.

Setelah tersenyum, Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya sambil membopong mayat Sen Man-cing menuju ruangan utama. Fu Hiong-kun memandangi bayangan punggung Wan Fei-yang dengan termangu-mangu. Sampai Yan Cong-tian berjalan menghampiri dan menepuk bahunya dengan lembut, dia baru tersentak sadar.

"Hiong-kun. " Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Pergilah kau nasihati Siau-fei. "

"Aku?" Fu Hiong-kun tertawa getir.

"Saat ini hanya engkau seorang yang masih mempunyai kemungkinan untuk menyadarkan dia." Yan Cong-tian juga tersenyum pahit.

"Orang yang kaku dan tidak banyak bergaul seperti aku ini, benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk membujuk dirinya agar tabah menghadapi semua ini."

"Baiklah. aku akan mencoba."

Fu Hiong-kun sama sekali tidak mempunyai keyakinan. Meskipun sudah berkali-kali dia menghadapi marabahaya bersama Wan Fei-yang, dan hubungan mereka cukup akrab, namun pukulan batin yang diterima Wan Fei-yang kali ini Sesungguhnya terlalu berat. Juga terlalu hebat.

Fu Hiong-kun memandang Yan Cong-tian sekali lagi. Akhirnya dengan susah payah dia menggerakkan kakinya. Yan Cong-tian juga mengikuti langkah kaki Fu Hiong-kun. Dia sendiri tidak dapat tenang, juga tidak yakin bahwa Fu Hiong- kun akan berhasil. Setidaknya bujukan dua orang mungkin lebih baik dari pada satu orang saja. Di dalam ruangan utama hanya terlihat mayat Kongsun Hong dan Sen Man-cing yang tergeletak di atas tanah.

Sedangkan bayangan Wan Fei-yang pun tidak terlihat lagi. Fu Hiong-kun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

"Wan Toako...!" Tanpa sadar dia berteriak.

Pada saat itu Yan Cong-tian masih melangkah dengan lambat. Mendengar teriakan Fu Hiong-kun, dia menghambur ke dalam ruangan. Dia juga memandang ke sekeliling ruangan tersebut.

"Di mana Siau-fei?" tanyanya panik.

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya. "Entah ke mana perginya Wan Toako."

"Dalam keadaan seperti sekarang ini, apabila dia berlari tanpa tujuan, tentu mudah terperangkap bahaya. Kita harus menemukannya...!" kata Yan Cong-tian gugup. Dia langsung menghambur keluar dari ruangan itu.

Fu Hiong-kun segera menyusul dari belakang. Baru saja mereka menghambur keluar dari ruangan utama itu, terlihat seseorang menyongsong dari depan. Dia adalah murid Bu- tong-pai, Yo Hong. Melihat Yan Cong-tian, dia mempercepat langkah kakinya.

"Supek, Wan Fei-yang berlari ke arah sana. Aku sudah berteriak-teriak memanggilnya, namun dia tidak menggubris. Kau orang tua. "

"Arah mana yang diambilnya?" tukas Yan Cong-tian membentak.

Yo Hong mengangkat tangannya menunjuk. Tanpa menunggu dia berbicara, Yan Cong-tian sudah menghambur bagai seekor kuda yang terkena pecutan. Dengan panik Fu Hiong-kun mengejar. Tapi ilmu ginkangnya memang terpaut jauh dengan Yan Cong-tian. Dalam sekejap mata dia sudah tertinggal jauh di belakang.

** *

Di daerah pegunungan angin malah lebih kencang. Hujan juga rasanya lebih deras. Kilat masih menyambar memperlihatkan keperkasaannya. Alam tiba-tiba bercahaya tersorot sinarnya. Pemandangan di sekeliling dalam sekilas seperti dunia lain. Seperti planet-planet lain di angkasa luar yang asing sama sekali.

Tetes hujan sebesar kacang kedelai jatuh membasahi pepohonan. Tetesan air itu menimbulkan suara seperti musik yang indah, orang yang mendengarkannya tentu akan terlena. Tapi tidak demikian halnya dengan Wan Fei-yang.

Perasaannya sudah hambar sama sekali. Dengan terpaku dia berdiri di hadapan sebatang pohon yang besar. Dia biarkan angin menghembusi dirinya sehingga pakaiannya melambai- lambai. Dibiarkannya hujan membasahi tubuhnya sehingga basah kuyup. Mungkin dia sendiri tidak tahu di mana dia sekarang berada. Matanya menerawang ke kejauhan. Tapi tak ada pemandangan apa pun yang dilihatnya, hanya bayangan seorang gadis yang masih tetap terpantek dalam benaknya.

"Ternyata Tok-ku Hong adalah adikku sendiri..." gumamnya seorang diri. Sejak tadi, entah sudah berapa puluh kali dia menggumamkan kata-kata yang sama.

Sampai-sampai Yan Cong-tian yang sudah menemukan dirinya berdiri di sampingnya, Wan Fei-yang masih belum sadar. Dalam otaknya hanya terlintas bayangan Tok-ku Hong. Bagaimana pertama-tama ia mengenalnya, bagaimana mereka saling bermusuhan kemudian berbaikan kembali.

Bagaimana mereka saling memperhatikan dan merindukan satu dengan lainnya secara diam-diam. Bagaimana mereka melewati segala macam rintangan sehingga akhirnya dapat terikat menjadi suami istri.

Suami istri? Apakah mereka sekarang masih dapat dikatakan sebagai suami istri? Wan Fei

Kang tidak berani membayangkan seandainya semuanya sudah terlanjur terjadi. Haruskah dia membenci Sen Man-cing yang menggagalkan malam pengantin mereka. Atau dia harus berterima kasih kepadanya? Tiba-tiba dia teringat bahwa Sen Man-cing sudah menjadi sesosok mayat di dalam ruangan besar. Mayat? Siapa yang membunuhnya? Tok-ku Hong?

Tidak! Tidak mungkin... gadis itu begitu manis, begitu lembut....

Tanpa sadar pikirannya kembali lagi pada diri Tok-ku Hong yang ceria, nakal, keras kepala.

Seharusnya semua itu merupakan kenangan yang manis.

Sekarang malah berubah menjadi arak beracun yang menghancurkan hatinya. Rasa perih yang ditimbulkan tidak terkirakan. Mulutnya yang masih menggumam akhirnya tidak dapat bertahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya. Tinjunya terkepal erat-erat. Tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan meninju batang pohon yang besar itu. Kiri sekali, kanan sekali, terus menerus dia meninju dengan kalap.

Yan Cong-tian tidak mencegah. Melihat keadaan Wan Fei- yang yang mengenaskan itu, tanpa sadar air mata mengalir deras dari matanya yang tua. Peristiwa yang dialami Wan Fei- yang seumur hidupnya selalu menyedihkan, namun yang kali ini justru yang paling parah. Meskipun orang yang lebih keras lagi perangainya, tetap saja sulit menerima penderitaan ini.

Yan Cong-tian merasa nasib seakan terus menerus mempermainkan Wan Fei-yang. Tidakkah Thian bersedia memberikan sedikit saja kebahagiaan untuk anak muda yang malang ini?

"Brak!" Akhirnya pohon itu tumbang karena tidak kuat menerima pukulan Wan Fei-yang yang terus menerus.

Kepalan tangan anak muda itu masih terus meninju ke depan, hampir saja dia ngusruk karena pohon itu sudah roboh di atas tanah. Saat itulah, dia baru menghentikan gerakannya dan berdiri dengan termangu mangu.

Yan Cong-tian mengulurkan tangannya menekan pundak Wan Fei-yang. "Siau-fei, sudahlah. "

Perlahan-lahan Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya.

Lama sekali dia menatap Yan Cong-tian.

"Supek. " Akhirnya dia menyapa dengan suara parau.

"Pluk!" Dia menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah. Dipeluknya sepasang kaki Yan Cong-tian dan menangis tersedu-sedu. Angin masih bertiup, hujan juga masih turun. Sampai kapan semuanya baru berhenti?

***

Kesedihan Tok-ku Hong sudah dapat dibayangkan pasti tidak di bawah penderitaan Wan Fei-yang. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Dengan susah payah dan tanpa tujuan dia terus menyeret langkah kakinya menerjang ke depan.

Di bawah hujan badai dan kegelapan malam yang pekat, memang tidak mudah membedakan jalan yang ada di hadapannya. Dengan pikiran kacau seperti saat itu, Tok-ku Hong semakin tidak memperdulikannya.

Dunia begini luas, dari mana dia datang dan kemana tujuannya. Tok-ku Hong bahkan hampir tidak mengingat siapa dirinya. Saat itu dia seperti seorang anak bayi yang baru dilahirkan.

Dia seakan tidak tahu apa-apa. Juga tidak sadar bahwa dengan terus berjalan tanpa tujuan seperti saat itu, akhirnya dia kembali lagi ke tempat semula. Bukan tempat di mana Sen Man-cing bunuh diri tapi di daerah yang tidak jauh dari tempat itu.

Kilat terus menyambar. Tiba-tiba di hadapannya muncul seseorang. Air mata Tok-ku Hong masih menggenang di pelupuk mata, namun kesadarannya belum hilang sama sekali. Dia masih mengenali orang yang muncul di hadapannya ialah Fu Hiong-kun. Tanpa sadar, langkah kakinya berhenti.

Malah Fu Hiong-kun yang mempercepat langkahnya. Dengan panik dia menghambur kc depan Tok-ku Hong.

"Hong cici...!" serunya dengan bibir bergetar.

"Hiong-kun!" sahut Tok-ku Hong dengan tertegun. Sahutan itu seperti tercetus begitu saja dari mulutnya.

Fu Hiong-kun mengulurkan tangannya memapah Tok-ku Hong. "Hong cici Urusan ini aku sudah tahu semuanya. Aku

mengerti bagaimana perasaanmu saat ini."

Rasa pedih menyelimuti hati Tok-ku Hong. Dia terkulai lemas di pelukan Fu Hiong-kun. Air matanya mengalir dengan deras. Dia tidak merasa cemburu kepada Hiong-kun lagi. Dia juga masih sadar bahwa hati gadis yang satu ini tulus sekali. Fu Hiong-kun menarik nafas dengan pilu.

"Padahal sepanjang perjalanan aku terus berdoa demi kebahagiaan kalian berdua. Siapa sangka. " Belum lagi ucapannya selesai, Tok-ku Hong sudah menangis dengan suara meratap. Fu Hiong-kun tidak jadi meneruskan kata-katanya. Dia memeluk Tok-ku Hong erat- erat. Dia sama sekali tidak mencegah atau membujuk gadis itu agar diam. Dapat menangis dengan sepuas-puasnya, bagi Tok-ku Hong malah merupakan suatu hal yang dapat meringankan penderitaan hatinya.

Dia hanya merangkul Tok-ku Hong erat-erat. Akhirnya dia sendiri tidak dapat menahan kesedihan hatinya. Dia juga ikut menangis dengan terisak-isak. Kedua gadis itu saling berpelukan. Di bawah hembusan angin kencang dan curahan hujan lebat, mereka saling mengeluarkan kesedihan hatinya dengan tangisan pilu.

Entah berapa lama sudah berlalu. Tangisan Tok-ku Hong mulai reda. Dia menarik dirinya dari pelukan Fu Hiong-kun dan memegang pundak itu erat-erat.

"Hiong-kun, kabulkanlah permintaanku..." katanya dengan suara parau.

"Hong cici, jangan ragu-ragu. Katakan saja. "

"Harap kau bersedia menjaga Siau. Toako ku baik-

baik. " Tanpa menunggu jawaban dari Fu Hiong-kun, Tok-ku

Hong langsung membalikkan tubuhnya dan terus lari dengan kecepatan tinggi.