-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 26

Jilid 26

Tok ku Bu ti mengibaskan lengan bajunya menyampok jarum beracun yang disebarkan oleh Hujan tadi. Dia tertawa dingin. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Tubuhnya melesat kembali dan melayang turun tepat di tengah-tengah ruangan tersebut. Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

"Manusia she Fu! Lari kocar-kacir seperti ini mana pantas disebut sebagai seorang kokcu dari Siau Yau kok yang terkenal?" Thian ti menongolkan dirinya dari balik bangku panjang. Dia tertawa dingin. "Buncu menggunakan senjata rahasia beracun dahsyat peninggalan tujuh bocah ajaib, bagaimana kami tidak cepat-cepat kabur?"

Tok ku Bu ti masih tertawa terbahak-bahak. "Tapi kabur bukan jalan keluar yang baik!" katanya. "Memang bukan!" sahut Thian ti dengan suara lantang. Gerakan tubuhnya seperti ingin menerjang ke depan.

Tok ku Bu ti tidak bergerak. Thian ti juga tidak benar-benar ingin menerjang. Tepat pada saat itu, Tok ku Bu ti mendadak merasakan tempat di mana kakinya berpijak seperti bergoyang. Dia terkejut sekali. Belum lagi dia sempat menghentakkan kakinya untuk mencelat ke atas. Hujan sudah menghamburkan jarum beracun ke arahnya. Dalam waktu yang bersamaan, Fu Giok Su memunculkan diri dan menimpukkan tujuh macam senjata rahasia di bagian atas tubuh Tok ku Bu ti.

Dengan panik Tok ku Bu ti menggeser tubuhnya menghindari serangan yang bertubi-tubi itu. Tidak tahunya bagian tanah di bawah kakinya langsung anjlok ke dalam. Rupanya lantai di sekelilingnya tiba-tiba membuka bagai sebuah lubang yang besar. Tentu saja tubuh Tok ku Bu ti terjatuh ke dalamnya.

Hal ini benar-benar membuat Tok ku Bu ti terperanjat. Sejak Tok ku Bu ti memakai gedung itu sebagai markas pusat, Tiong gi tong memang sudah ada. Sebagian besar waktu Tok ku Bu ti juga dihabiskan dalam ruangan ini. Selama puluhan tahun tidak jarang dia tertidur dalam ruangan ini juga. Boleh dibilang tidak ada seorang pun yang lebih jelas mengenal keadaan Tiong gi tong ini selain dirinya. Setiap sepuluh tahun sekali, dia selalu mengundang seorang ahli bangunan untuk memperbaiki dan memperbagus ruangan Tiong gi tong ini.

Namun dia tidak pernah tahu di tengah ruangan tersebut ada sebuah jebakan. Sekarang dirinya sendiri yang terperangkap dalam jebakan tersebut. Bagaimana perasaannya tidak meluap seketika saking marahnya?

Lubang jebakan ini juga dalam sekali. Di dasarnya terpasang puluhan golok tajam. Demikian juga tembok-tembok sekitarnya. Walaupun Tok ku Bu ti cepat tanggap akan situasi sekitarnya dan sempat berjungkir balik beberapa kali sebelum mendarat di atas sebatang golok, namun sekujur tubuhnya juga tidak terlepas dari sayatan golok sehingga kulitnya terkelupas dan darah mengalir dengan deras.

Pikirannya dengan cepat berputar. Tok ku Bu ti berjungkir balik lagi beberapa kali kemudian dengan bantuan sebilah golok di mana kakinya menutul dia cepat-cepat mencelat kembali ke atas. Namun dalam waktu yang bersamaan, lubang di atasnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar mulai menutup. Di sekeliling lubang itu meluncur keluar puluhan batangan pipa besi yang saling menancap dan menjadi penutup lubang tersebut. Sekarang jalan keluar bagi Tok ku Bu ti sudah tertutup oleh jeruji besi itu. Kepalanya hampir saja membentur batangan pipa besi itu kalau saja dia tidak cepat-cepat memberatkan bobot kakinya sehingga meluncur turun kembali. Tepai pada saat itu, Fu Giok Su meluncurkan ujung toyanya mengancam tenggorokan Tok ku Bu ti.

Dengan panik dia menggeser tubuhnya, namun tubuhnya masih selengah melayang di udara, meskipun tenggorokannya terlepas dari serangan toya Fu Giok Su, tapi sempat juga menyerempet ujung bahunya. Kulit dan daging di pundaknya itu langsung terkoyak. Darah mengucur bagai air ledeng.

Tubuh Tok ku Bu ti masih meluncur turun. Sebelum mendarat di dasar, kakinya lagi-lagi terserempet tiga batang golok.

Keadaannya mulai payah. Sekujur tubuhnya tidak ada yang luput dari luka. Meskipun tidak terlalu parah namun darah yang mengalir cukup banyak. Hal ini membuat kepala Tok ku Bu ti pusing tujuh keliling.

Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak. "Bu ti, kali ini aku ingin lihat kemana lagi kau dapat melarikan diri?"

Tok ku Bu ti mendengus dingin. "Menggunakan cara licik seperti ini tidak termasuk kepandaian yang mengagumkan!" Dia menotok beberapa jalan darah di sekitar bahunya agar darah berhenti mengalir. Hujan dan Angin juga sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Thian ti memunculkan kepalanya di atas lubang berjeruji dan tertawa lebar. "Apakah sahabat lama sudah melupakan caramu sendiri yang menggunakan jarum beracun tadi?" sindirnya tajam.

Wajah Tok ku Bu ti kaku seketika. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tadi dia sendiri juga menggunakan cara yang licik sehingga Kilat dan Geledek dapat terbunuh oleh sambitan jarum beracunnya.

"Mungkin kau sendiri tidak habis pikir bagaimana aku bisa membangun sebuah perangkap di tengah ruangan ini?"

Tok ku Bu ti memang tidak habis pikir. "Sebetulnya kami membual perangkap ini bukan untuk menghadapimu, lapi bukannya tidak boleh kalau digunakan untuk menghadapimu!" kata Thian ti selanjutnya.

Hujan juga memunculkan kepalanya. "Mengapa Buncu masih juga tidak mau membuang tabung berisi jarum beracun itu?" tanyanya dengan gaya kenes.

Tok ku Bu ti tertawa dingin. "Hampir saja aku lupa salah satu dari empat orang kepercayaan Thian ti yang bernama Hujan memang mengkhususkan diri dalam ilmu senjata rahasia.

Barang mainan seperti ini sudah pasti, dianggap kecil oleh Hujan," sindirnya kembali.

"Aku juga baru melihatnya ketika terdesak ke dalam ruangan ini," sahut Hujan tenang. Gayanya semakin dibuat-buat.

Pada saat itu, Kongsun Hong baru menyusul tiba. Melihat lubang perangkap itu, dia langsung termangu-mangu. Sesaat kemudian dia baru berteriak memanggil, "Suhu" Mendengar panggilan itu Hujan segera menolehkan kepalanya. "Suhumu hari ini pasti akan tamat riwayatnya!"

Kongsun Hong meraung murka. Sepasang tangannya berputar. Sepasang jit goat lun sudah tergenggam di tangan. Dia menerjang dengan kalap.

"Benar-benar sudah bosan hidup!" Hujan tertawa dingin.

"Geledek dan Kilat dua lembar nyawa. Di sini juga dua lembar nyawa!" tukas Angin, tubuhnya berkelebat. Dalam sekejap mala dia sudah mencapai di depan Kongsun Hong. Sepasang lengan bajunya dikibaskan. Menyapu ke arah wajah Kongsun Hong. "Plak! Plak! Plak!" 

Hujan tersenyum simpul. "Perlukah aku mengeluarkan sedikit tenaga untuk membantumu?" tanyanya genit.

"Tidak perlu!" teriak Angin sambil mengibaskan lengan bajunya beberapa kali berturut-turut. Kongsun Hong sampai terdesak mundur beberapa langkah.

Meskipun serangan sepasang jit goat lun dari tangan Kongsun Hong cukup gencar, namun tetap tidak berhasil menyentuh sepasang lengan baju Angin. Gerakan tubuhnya yang lamban dan kelincahan Angin memang merupakan perbandingan yang besar. Angin terus mengikuti gerakan Kongsun Hong.

Sepasang lengan bajunya menyapu terus menerus. Sasarannya tetap wajah Kongsun Hong. Lengan baju itu belum sampai, anginnya sudah terasa menyambar. Sepasang jit goat lun milik Kongsun Hong cepat-cepat dibentang di depan wajah untuk berjaga-jaga. Tidak tersangka-sangka, tiba-tiba Angin mengibaskan lengan bajunya ke pinggang Kongsun Hong.

"Plak!" Sasarannya kali ini tidak dapat dihindarkan lagi oleh murid Tok ku Bu ti itu. Sejak kecil Kongsun Hong sudah menjaga kesehatan tubuhnya dengan melatih ilmu silat, namun kibasan lengan baju Angin ini lelap saja membuat aliran darahnya bagai tersumbat. Bagian bawah tubuhnya terasa kebal seketika. Belum lagi dia sempat menenangkan hatinya, kebasan lengan baju Angin kembali menyerang ke arah matanya. Dia cepat- cepat menggeser kepalanya ke samping. Pinggangnya terkibas sekali lagi, tubuhnya sampai terpelintir dan memutar bagai gasing.

Angin masih tidak berhenti menyerangnya. Malah semakin lama semakin gencar. Kepala Kongsun Hong sudah terasa pusing tujuh keliling. Dalam jangka beberapa menit, entah sudah berapa kali dia terhajar bolak-balik oleh kibasan lengan baju Angin tersebut. Tubuhnya sampai bergelindingan di atas tanah.

Angin tertawa terbahak-bahak. Rasa amarahnya hampir terlampiaskan. Sekali lagi dia mengibas dengan keras sehingga tubuh Kongsun Hong terpental membentur dinding sebelah timur. Dalam waktu yang bersamaan. Hujan menyebarkan jarum beracunnya.

Kongsun Hong yang melihat tubuhnya hampir membentur dinding pekarangan itu, cepat-cepat menghentakkan kakinya dan berjungkir balik di udara. Akhirnya dia berhasil juga melayang turun dengan mantap tepai di depan dinding tersebut. Namun pada saat itu juga jarum beracun Hujan sudah meluncur tiga.. Datangnya jarum beracun itu tanpa suara sama sekali. Lagipula sebelumnya Angin sudah menegaskan bahwa dia tidak ingin Hujan ikut campur dalam pertarungan ini. Begitu lugunya Kongsun Hong sehingga percaya penuh dan tidak berjaga-jaga terhadap serangan yang lainnya. Ketika melihat jarum beracun Hujan meluncur tepat di hadapannya, dia tidak keburu menghindar lagi.

Pada saat yang genting itu, Kongsun Hong hanya dapat memejamkan matanya menanti ajal. Tapi jarum-jarum itu tidak mengenai tubuhnya, malah meluncur lewat di samping tubuhnya. Kongsun Hong hanya merasakan ada serangkum angin kencang yang menghembus melewatinya. Dalam waktu yang bersamaan.

seseorang melayang turun di sisi Kongsun Hong. Orang ini juga yang menghantamkan telapak tangannya menghempas jarum-jarum beracun tersebut. Bagi semua yang ada di tempat itu, orang ini tidak asing lagi.

"Wan Fei Yang!" seru mereka serentak.

Mata Wan Fei Yang menyapu ke arah wajah Thian ti kemudian Fu Giok Su. "Sudah lama tidak bertemu dengan saudara-saudara sekalian," katanya tenang.

Thian ti marah sekali. "Wan Fei Yang, apa maksudmu datang ke tempat ini?" bentaknya lantang.

Wan Fei Yang tidak menyahut. Matanya masih menatap Fu Giok Su lekat-lekat. "Harap Fu Toako dalam keadaan sehat- sehat saja!"

Wajah Fu Giok Su menampilkan kesan ingin tersenyum tapi tidak bisa. Mimiknya jadi aneh sekali. "Berkat doa Wan sute, keadaan Toako mu masih lumayan," sahutnya gugup.

Wan Fei Yang merasa hatinya sakit sekali. "Kali ini tentu Fu Toako tidak bisa mengelabui Siaute lagi."

Fu Giok Su menganggukkan kepalanya.

"Urusan sudah terlanjur sedemikian rupa. Rasanya juga. tidak perlu mengelabui engkau lagi"

"Sebetulnya siapa yang turun tangan keji terhadap Ciang bun jin?" tanya Wan Fei Yang selanjutnya. Fu Giok Su tertawa lebar. "Tentu saja Toakomu ini yang melakukannya!"

Mata Wan Fei Yang menyorot semakin tajam. "Tolong Toako katakan sekalian bagaimana Pek Giok suheng dan Cia Peng suheng menemui ajalnya?"

"Masa sute belum bisa membayangkannya?" Fu Giok Su malah berbalik bertanya.

Wan Fei Yang menarik nafas panjang.

"Bagaimana nasib Wan Ji sumoay?" tanyanya kembali. Fu Giok Su merenung sejenak.

"Aku tidak tahu," sahutnya kemudian.

Wan Fei Yang memandang Fu Giok Su dengan terpana.

"Aku rasa kau juga tidak sampai hati mencelakakannya."

Fu Giok Su hanya tertawa datar. "Biar bagaimana pun aku harus mengucapkan terima kasih atas perlakuanmu terhadapku selama ini," kata Wan Fei Yang kembali.

"Setelah berterima kasih, kau harus membalaskan dendam bagi kematian ayahmu bukan?" tanya Fu Giok Su.

"Dendam kematian ayah tidak boleh tidak dibalas!" sahut Wan Fei Yang.

Fu Giok Su menganggukkan kepalanya "Alasan ini saja sudah lebih dari cukup."

"Hutang darah para murid Bu Tong juga harus diperhitungkan sampai tuntas!" kati Wan Fei Yang. Fu Giok Su tertawa lebar. "Meskipun kau anak kandung Ci Siong to jin, tapi kau bukan murid resmi Bu tong pai. Untuk apa harus mengatakan soal balas dendam bagi murid Bt tong pai. Lebih baik tidak usah mengatakan apa-apa," sindirnya sinis.

Wan Fei Yang hanya mendengus dingin.

"Ketika baru naik ke Bu Tong, aku sama sekali tidak mengerti. Kalau dilihat dari bakatmu, mengapa Ci Siong si tua bangka itu tidak bersedia menerimamu sebagai murid. Rupanya bukan karena asal-usulmu yang tidak jelas. Ci Siong terpaksa memendam semuanya dalam hati.. Dia tidak berani secara terang-terangan mengaku engkau sebagai anaknya!" kata Fu Giok Su selanjutnya.

Tubuh Wan Fei Yang bergetar mendengar ucapannya.

"Tidak disangka, Ci Siong si hidung kerbau itu ternyata diam- diam seorang mata bong-sang. Pantasnya dibilang Hidung belang!" kata Thian ti sambil tertawa terbahak-bahak. "Kemerosotan Bu tong pai sebagian besar juga karena ulahnya."

Semua kata-kata itu terdengar jelas oleh Tok ku Bu ti. Hatinya yang terpukul dan tertekan tidak kalah oleh perasaan Wan Fei Yang. Wan Fei Yang adalah anak kandung Ci Siong to jin!

Kalau demikian, bukankah dia merupakan saudara seayah lain ibu dengan Tok ku Hong?

* **

Tok ku Bu ti langsung termenung dalam lubang di mana dia terperangkap. Tiba-tiba sebuah suara yang berat terdengar menyahut, "Bagaimana pun dan siapa pun Ci Siong, tetap bukan urusan orang lain, tetapi urusan Bu tong pai!"

Bagi Tok ku Bu ti suara ini asing sekali. Namun bagi orang orang Siau Yau kok, mereka bagai mendengar suara geledek bergemuruh di siang hari!

Yan Cong Tian berkata sambil melangkah dari luar. Suaranya penuh wibawa dan angker juga mengandung kekuatan penuh. Thian ti langsung mengerutkan keningnya. Tanpa sadar dia mundur beberapa langkah. Sedangkan sinar mata Fu Giok Su mengandung rasa penasaran yang dalam.

Tok ku Hong mengiringi di belakang Ya Cong Tian. Melihat Kongsun Hong dia langsung menghambur menghampiri.

"Suheng, di mana Tia?" tanyanya cemas.

Kongsun Hong tertegun sejenak. "Suhu terjebak oleh manusia- manusia licik itu sehingga terjatuh ke dalam lubang perangkap yang telah mereka sediakan."

Wajah Tok ku Hong berubah hebat. Dia menghentakkan kakinya keras-keras. "Mengapa kau masih termangu-mangu di situ?" teriaknya kesal.

Sekali lagi Kongsun Hong tertegun. Belum lagi dia memberi jawaban, Tok ku Hong sudah mencabut sepasang goloknya dan menerjang ke arah lubang perangkap.

"Hati-hati!" teriak Yan Cong Tian sambil menghambur mendahului. Dalam waktu yang bersamaan. Wan Fei Yang juga menerjang ke depan.

Tanpa bersepakat lagi, Thian ti, Fu Giok Su, Angin, Hujan langsung mengundurkan diri ke sudut ruangan. Tok ku Hong melongok ke bawah. Ternyata Tok ku Bu ti memang ada di sana. Dengan kesal Tok ku Hong membacokkan sepasang goloknya ke arah teruji besi dengan sekuat tenaga. Terlihat percikan api seperti bunga-bunga timbul dari hasil benturan golok dan jeruji tersebut. Ternyata hasil tebasan golok Tok ku Hong tidak dapat memutuskan jeruji besi tersebut, yang tampak hanya dua baris guratan putih.

Baru saja dia berminat menerjang ke arah Thian ti dan Fu Giok Su untuk menyuruh mereka membuka jeruji besi itu. Wan Fei Yang sudah menghalanginya. "Biar aku saja!"

Anak muda itu langsung mencengkeram jeruji besi dengan sepasang jari tangannya. Dia berteriak lantang, tenaga sepenuhnya dikerahkan pada sepasang tangan dan menarik sekuat-kuatnya. Dua batang jeruji besi itu perlahan lahan bergerak dan kemudian, “Brak!" Jeruji besi terangkai itu ke atas.

Melihat keadaan itu, Hujan, Angin, Thian ti dan Fu Giok Su segera mengucurkan keringat dingin. Hati mereka tergetar menyadari kekuatan tenaga Wan Fei Yang sekarang. Dalam waktu yang bersamaan, Tok ku Bu ti menghentakkan sepasang kakinya dan melesai ke atas. Tubuhnya melayang naik lalu mendarat di samping Tok ku Hong. Seluruh tubuhnya di penuhi bercak darah. Darah segar juga masih mengalir dari luka-lukanya. Matanya menatap ke arah Wan Fei Yang lekat- lekat. Sepatah kata pun tidak diucapkannya.

Yan Cong Tian mengibaskan lengan bajunya. Tampaknya seakan acuh tak acuh terhadap apa yang Wan Fei Yang lakukan "Minggir!" bentaknya lantang. "Kita selesaikan dulu urusan kita dengan Siau Yau kok. Nanti baru tiba bagianmu!"

Tok ku Bu ti hanya merasakan serangkum angin kencang menghempas di depannya. Segulung kekuatan yang sulit diuraikan terasa olehnya. Tanpa sadar, kakinya terhempas mundur tiga langkah.

Tok ku Hong sangat mencemaskan ayahnya.. Dia segera maju menghampiri. "Tia, bagaimana keadaanmu?" tanyanya khawatir. Tok ku Bu ti tertawa datar.

"Masih jauh dari kematian!" sahutnya ketus.

Kongsun Hong yang sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi cepat-cepat maju ke depan. "Suhu, Tecu. "

Tok ku Bu ti tertawa lebar. "Ilmu kita sih cukup tinggi. Sayangnya kemampuan kita kalah dengan orang. Buat apa kau bersedih?"

"Tapi. "

Kata-kata Kongsun Hong belum lagi diteruskan, Tok ku Bu ti sudah menukasnya kembali. "Apa lagi yang kau bicarakan?"

Kongsun Hong merobek ujung lengan bajunya dengan maksud ingin membalut luka yang diderita Tok ku Bu ti, tapi orang tua itu langsung bergeser ke samping. "Jangan membuat aku tambah marah!" bentaknya.

Kongsun Hong jadi tertegun. Akhirnya dia mengundurkan diri ke samping. Tok ku Hong tentu lebih paham lagi adat ayahnya. Dia tidak berani mengucapkan sepatah kala pun.

Sementara itu, mata Yan Cong Tian sedang menatap Thian ti dengan tajam. Setelah sekian lama, dia baru berkala, “Hutang piutang kita yang sudah begitu lama, bagaimana pun harus diperhitungkan sampai jelas hari ini!" katanya.

Thian ti tertawa terkekeh-kekeh. "Rupanya manusia she Yan selalu mempunyai umur yang panjang dan rejeki yang besar. Seharusnya dulu aku mematahkan sepasang kaki dan tanganmu.

Yan Cong Tian ikut tertawa lebar.

"Oleh karena itu, aku seharusnya berterima kasih kepadamu. Kalau bukan karena penderitaan yang kau berikan selama terkurung dalam telaga buatan di Siau Yau kok, sampai hari ini aku pasti belum berhasil melatih Tian can sinkang," sahut Yan Cong Tian sambil menjura dalam-dalam.

"Thian can sinkang?" seru Tok ku Bu ti tanpa sadar. Hatinya tergetar hebat mendengar keterangan Yan Cong Tian.

Thian ti dan Fu Giok Su saling lirik sekilas Meskipun tidak mengatakan apa-apa. tapi mimik wajah mereka sudah menunjukkan rasa khawatir yang dalam. Justru Hujan dan Angin yang tidak memperlihatkan reaksi apa-apa Pengetahuan mereka tentang Tian can sinkang memang tidak terlalu banyak.

Tiba-tiba Thian ti mendengus dingin.

"Meskipun kau, Yan Cong Tian sudah berhasil melatih Tian can sinkang, rasanya juga tidak perlu unjuk gigi serta sesumbar dihadapan kami!"

"Terserah apa yang akan kau katakan. Pokoknya, manusia she Fu hari ini harus mati semuanya!" Yan Cong Thian menarik nafas dalam-dalam. Dia maju dua langkah ke depan.

Thian ti juga maju satu langkah. Tangannya direntangkan. Hujan dan Angin segera berdiri di kedua sisinya. Wan Fei Yang juga langsung tampil di depan Yan Cong Thian.

"Apakah orang-orang Siau Yau kok hanya tahu bagaimana cara mengeroyok lawannya?" sindirnya tajam.

"Fei Yang, biarkan saja. Dengan demikian, waktu kita juga tidak terbuang dengan percuma," tukas Yang Cong Tian.

"Kalau begitu, biar Supek hadapi saja makhluk tua itu. Yang lainnya. " "Serahkan kepadamu!" Yan Cong Tian tersenyum simpul. Dia menoleh kepada Thian ti. "Manusia she Fu, kalau masih ada pesan yang ingin kau sampaikan, sekaranglah saatnya!"

"Omong kosong!" bentak Thian ti sambil mencelat ke udara lalu menukik turun dengan sepasang telapak tangan menghantam ke arah

Yan Cong Tian. Dia menyerang tiga kali berturut-turut.

Sepasang telapak tangan Yan Cong Tian langsung bergerak memutar. Tiga serangan Thian ti disambutnya dengan mudah, setelah itu ia balik menghantam sekali. Hantamannya ini diterima dengan baik oleh Thian ti. Sebagai permulaan, mereka tidak mengerahkan tenaga dalam, hanya menjajaki perubahan jurus masing-masing.

Dalam hal kedudukan, mereka berdua merupakan tokoh tinggi masing-masing partai. Pengetahuan tentang ilmu masing- masing partai juga sudah pasti lebih tinggi dari yang lainnya.

Tidak diragukan lagi ilmu kedua partai ini mempunyai banyak persamaan. Gerakan Angin dan Te Hun cong, jarum Hujan dengari Jit am-gi, golok Geledek dengan Pik lek cang, pedang Kilat dengan Liong gi kiam hoat, baik gerakan maupun perubahannya memiliki banyak persamaan. Selama terkurung dalam telaga dingin, Thian ti pasti mengkombinasikan keistimewaan Bu Tong liok kiat dengan ilmu Siau Yau kok sendiri. Sayangnya Bu Tong liok kiat yang dicurinya bukan kitab yang lengkap Meskipun dia mempelajari mati-matian, dibandingkan dengan murid Bu Tong sendiri tetap saja kalah satu tingkat. Tapi bukan berarti dalam waktu yang singkat dapat terlihat siapa yang akan menang dan siapa yang kalah.

Turun tangan kedua orang itu semakin lama semakin gencar. Meskipun mereka bertangan kosong, tapi jurus-jurus golok maupun pedang tetap dapat dikembangkan melalui gerakan mereka. Tok ku Bu ti menyaksikan pertarungan itu dengan terkesima.

Wan Fei Yang juga sudah mulai bergebrak dengan Fu Giok Su. Walaupun pada mulanya Fu Giok Su menantang Wan Fei Yang dengan cara yang sopan, tapi begitu dia turun tangan. Hujan dan Angin pun segera mengambil bagian mengeroyok Wan Fei Yang.

Kibasan lengan baju Angin selalu menutup jalan Wan Fei Yang, hamburan jarum berbisa dari Hujan mengacaukan pandangan mata anak muda itu. Sedangkan toya di tangan Fu Giok Su menyerang dengan gencar. Semua ini tentu sudah dipersiapkan dengan matang. Serangan yang paling mematikan justru berasal dari toya Fu Giok Su. Dia selalu mengancam daerah berbahaya di tubuh Wan Fei Yang.

Sejak semula Wan Fei Yang juga sudah berjaga-jaga terhadap bokongan Hujan dan Angin. Kibasan lengan baju Angin belum sampai, tubuhnya sudah bergerak mundur.

Dengan kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat demikian tinggi, ditambah lagi gerakannya yang lincah, tentu saja Angin tidak dapat berbuat banyak terhadap anak muda itu. Dalam waktu bersamaan, serangan Hujan dan Fu Giok Su juga tidak mengenai sasaran. Tubuh Wan Fei Yang segera memutar dan sepasang telapak tangannya langsung menghantam ketiga orang itu secara bergantian.

Ketiga orang itu cepat-cepat mencelat mundur, tapi mereka bagaikan terkurung dalam suatu kekuatan yang tidak terlihat. Mereka terpaksa menyambut hantaman telapak tangan Wan Fei Yang dengan kekerasan. Jarak mereka terlalu dekat.

Hujan khawatir dirinya akan terluka. Tangannya telah menggenggam serangkum jarum, namun tidak dapat disambitkan dengan leluasa. Terpaksa dia menyambut hantaman telapak tangan Wan Fei Yang dengan kekerasan. Hujan memang ahli dalam ilmu senjata rahasia, tetapi tenaga dalamnya sendiri tidak begitu kuat. Tubuhnya terhuyung- huyung dan terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Angin juga tidak berbeda. Dia terpaksa mundur tiga langkah. Hanya Fu Giok Su yang masih tetap berdiri di tempatnya. Tapi rasa terkejut dalam hatinya tentu saja tidak dapat dibayangkan oleh orang lain.

Sampai di mana kekuatan Tian can sinkang, sebetulnya dia sendiri juga kurang paham. Kunci terakhir Tian can sinkang hanya diketahui oleh Ciang bun jin pendahulu. Hanya dengan kunci itulah Tian can sinkang baru dapat dipelajari dengan sempurna. Meskipun Fu Giok Su masih tetap berharap, namun melihat akibat yang diderita oleh Yan Cang Tian selama puluhan tahun dalam berlatih Tian can sinkang tanpa hasil, mana berani dia mempelajarinya tanpa kunci tersebut. Sampai-sampai jurus-jurus permulaan yang sederhana pun, dilatihnya dengan hati kebat-kebit.. Akhirnya dia malah menghentikannya, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan akibatnya seperti keadaan Yan Cong Tian yang tenaga dalamnya kadang-kadang tidak ada.

Apakah Wan Fei Yang juga mempelajari Tian can sinkang, dia tidak dapat memastikan. Namun sekarang hatinya menjadi bimbang.

Perbedaan tenaga antara sekarang dengan ketika anak muda itu menerobos ke Bu tong san sudah terpaut jauh. Diapun menyadari bahwa Wan Fei Yang belum mengerahkan tenaga sepenuhnya. Namun kekuatannya sudah demikian dahsyat.

Kecuali Wan Fei Yang sudah berhasil melatih Tian can sinkang, dia tidak dapat memikirkan kemungkinan yang lain.

Kenyataannya, Yan Cong Tian diselamatkan oleh Wan Fei Yang dari lembah Siau Yau kok. Walaupun adat orang ini agak keras, namun melihat keruntuhan Bu tong pai di depan mata dan apalagi melihat Wan Fei Yang berbakat tinggi dalam mempelajari ilmu silat tidak ada alasan bagi Yan Cong Tian untuk tidak mewariskan Tian can sinkang kepada anak muda tersebut.

Tentu saja Fu Giok Su tidak tahu bahwa berhasilnya Wan Fei Yang berlatih Tian can sinkang malah mengandung kisah yang panjang serta berbelit-belit, sama sekali tidak mengandalkan ajaran Yan Cong Tian. Meskipun hatinya terkejut, namun wajah Fu Giok Su sendiri tidak menampilkan perasaan apa-apa. Balikah dia tersenyum lebar.

"Selamat kepada Wan heng yang ternyata juga sudah berhasil melatih Tian can sinkang yang istimewa itu," katanya pura- pura tenang. Wan Fei Yang justru tertegun mendengar ucapannya.

"Bagi Fu Toako, hal ini tentu bukan kabar yang menyenangkan," sahutnya setelah terdiam sesaat. "Meskipun bukan hal yang menyenangkan, tapi melihat keberhasilan seorang sahabat lama, paling tidak hati ini agak terhibur juga," sahut Fu Giok Su dengan wajah serius.

"Rasanya Siaute hampir tidak percaya kata-kata ini terlontar dari mulut Fu Toako," kata Wan Fei Yang tiba-tiba.

Fu Giok Su tersenyum tipis. Dia mengalihkan bahan pembicaraan.

"Walaupun Siaute sendiri tidak mewarisi ilmu Tian can sinkang, tapi justru dari kitab itu Siaute berhasil mempelajari Coa tiau cap sa-sut yang merupakan warisan dari Cou su Tio Sam Hong. Di dalam kitab juga dijelaskan bahwa ilmu Coa tiau cap sa-sut ini tidak kalah hebatnya dengan Tian can sinkang!"

"Oh ya?" sahut Wan Fei Yang datar. "Tentang benar atau tidaknya keterangan itu, Siaute terpaksa membuktikannya dengan meminta pelajaran dari Wan heng!"

"Bagaimana caranya, satu lawan satu atau main keroyokan?" sindir Wan Fei Yang dengan tertawa dingin.

Sinar mata Fu Giok Su menyapu ke sekeliling. "Hujan dan Angin merupakan angkatan tua dalam Siau Yau kok. Apa yang ingin mereka lakukan tentu Siaute tidak dapat menghalangi."

Kembali Wan Fei Yang tertawa dingin beberapa kali.

"Bagaimana pribadi Fu Toako sebenarnya sampai saat ini Siaute masih belum paham."

Hati Fu Giok Su diam-diam tergetar. Namun wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa Sepasang tangannya memegang toya erat-erat Tiba-tiba dia berteriak lantang dan toyanya pun menerjang ke depan.

Wan Fei Yang melangkah mundur dengan gerakan bersilang. Sepasang telapak tangannya meluncur dengan cepat lalu menjepit toya Fu Giok Su di antara jantung telapak tangannya.

"Plok!" Toya tersebut terjepit ketat, kemudian terdengar suara, “Krekkk!” Toya itu terputus menjadi dua bagian akibat jepitan telapak tangan Wan Fei Yang..

Namun Wan Fei Yang terkejut sekali. Dia lupa bahwa senjata Fu Giok Su yang satu ini memang sangat unik. Putus bukan lantas tak berguna lagi, malah dari bagian tengah toya itu terulur seutas rantai panjang yang menyambung di kedua sisinya. Dengan gerakan kilat Fu Giok Su menarik Toya itu dan langsung menyabet pinggang Wan Fei Yang.

Dengan lincah Wan Fei Yang menggeser tubuhnya. Telapak tangannya menghantam ke arah ujung toya. Fu Giok Su tidak menunggu sampai serangan telapak itu tiba. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebilah pisau kecil dan menusukkannya ke dada Wan Fei Yang. Anak muda itu menggelinding tubuhnya di atas tanah untuk menghindari serangan tersebut.

Tiba-tiba Fu Giok Su melepaskan pisau di tangannya. Dari ujung toya yang satunya lagi dia menarik keluar sebilah golok yang tipis. Ditebasnya golok tersebut dari arah atas ke bawah. Sementara itu dari selipan rantai itu di bagian tengah toya meluncur beberapa batang senjata rahasia dalam waktu yang bersamaan.

Sepasang telapak tangan Wan Fei Yang langsung menghantam. Dia berhasil mendorong serangan pisau kecil tadi, kemudian digerakkannya gagang pedangnya untuk menangkis serangan golok yang datang dari belakang. Sekali lagi tubuhnya berkelebat dengan kecepatan yang sulit ditangkap pandangan mata, kembali dia berhasil menghindari senjata rahasia yang sedang meluncur tiba. Cara bergeraknya yang lincah, bahkan kegesitannya dalam menyambut setiap serangan, mungkin apabila masih hidup Ci Siong to jin sendiri akan terpana.

Kibasan lengan baju Angin semakin gencar menyerang. Wan Fei Yang membentak sekali kemudian pedangnya berputaran. Kibasan lengan baju Angin laksana seekor kupu-kupu yang sedang menari-nari di taman bunga Tentu saja mala Wan Fei Yang sejak tadi sudah memperhatikan baik-baik perubahan gerakan lengan baju Angin. Ditunggunya waktu yang tepat, lalu menyerang langsung. Pedangnya menerobos lewat kibasan lengan baju Angin Tubuh mereka saling berkelebat.

Akhirnya tampak lengan baju Angin terkoyak-koyak menjadi perca-perca kecil tertebas beberapa puluh kali oleh pedang di tangan Wan Fe Yang.

Tiba-tiba Angin merasakan ada rasa dingin menyusup di sepasang lengannya. Cepat-cepat dia memperhatikan tangannya. Ternyata sepasang lengan bajunya yang longgar telah terputus sampai ujungnya. Dia terkejut sekali. Kakinya mencelat mundur beberapa langkah. Tepat pada saat itu juga, pedang di tangan Wan Fei Yang sudah disambit ke arah angin.

***

Semua itu diperhatikan Tok ku Bu ti dengan seksama. Semakin dilihat, hatinya semakin tidak enak. Tingginya ilmu silat Wan Fei Yang dan Yan Cong Tian benar-benar di luar dugaannya.

Kongsun Hong juga dapat merasakan keadaan yang semakin tidak menguntungkan.

Dia menoleh kepada Tok ku Bu ti. "Suhu, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk pergi dari sini," katanya menganjurkan.

Tok ku Bu ti mengerutkan keningnya. Dia tidak menjawab sepatah kata pun..

Pada saat itu Yan Cong Tian memalingkan wajahnya ke arah mereka.

"Siapa pun jangan harap meninggalkan tempat ini!" bentaknya penuh wibawa.

Ternyata suara Kongsun Hong yang sudah menyerupai bisikan masih juga tertangkap oleh telinganya.

"Ayahku toh sedang terluka!" kata Tok ku Hong tanpa sadar.

Yan Cong Tian mendengus dingin. "Hanya luka ringan saja. Aku akan memberi waktu selama dua kentungan baginya untuk mengatur nafas dan menghimpun hawa murninya kembali!" Belum lagi Tok ku Hong menyahut. Tok ku Bu ti sudah menjatuhkan dirinya duduk bersila di atas tanah. Thian ti tertawa terbahak-bahak, "Tok ku Bu ti, bagaimana kalau kita bergabung?" tanyanya dengan maksud licik.

"Oh?" Sinar mala Tok ku Bu ti berpendar mendengar kata-kata itu.

"Kalau berduel satu lawan satu, siapa pun dari kita pasti bukan tandingan manusia she Yan ini. Hanya dengan bergabung kita masih ada harapan untuk menang!" kata Thian ti selanjutnya.

Sambil bertarung Yan Cong Tian terus ber bicara sebelumnya. Tampaknya hal itu tak berpengaruh apa-apa bagi dirinya.

Namun begitu Thian ti membuka suara sambil melancarkan serangan, berkali-kali dia terdesak mundur diserang oleh Yan Cong Tian. Hal ini saja sudah dapat membuktikan ilmu siapa yang lebih tinggi di antara keduanya. Melihat keadaan itu, Tok ku Bu ti tersenyum simpul.

"Seandainya kita bergabung dan dapat mengalahkan Yan Cong Tian. Bagaimana kelanjutannya?"

"Sejak saat ini, dunia Bulim terbagi menjadi dua bagian antara engkau dan aku!" sahut Thian ti.

"Kau dan aku sama-sama mengerti. Kita bukan jenis manusia yang dapat menerima adanya Bengcu lain kecuali diri kita sendiri," kata Tok ku Bu ti.

Thian ti tertawa dingin. "Masalahnya sekarang kita tidak punya pilihan. Lebih-lebih engkau! Kalau kau tidak bersedia bergabung, maka satu-satunya jalan yang dapat kau tempuh hanya kematian!"

Tok ku Bu ti masih tenang-tenang saja. "Laki-laki sejati mana takut  menghadapi kematian!" "Bagus! Tok ku Bu ti, anggaplah nyalimu cukup besar!"

Berturut-turut dia hantamkan telapak tangannya agar Yan Cong Tian tidak dapat maju mendekatinya.

Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya berulang kali. "Coba kau katakan, bagaimana caranya kita memperhitungkan hutang darah ketika orang Siau Yau kok menyerbu dan menghancurkan Bu ti bun?"

"Hutang piutang dapat diperhitungkan kapan saja. Tidak diharuskan hari ini bukan? sambil menyahut Thian ti terdesak mundur lagi beberapa langkah.

Sekali lagi Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya. "Manusia she Fu, tahukah kau mengapa sampai generasimu ini, Siau Yau kok semakin lama semakin payah?"

"Kenapa?" tanya Thian ti tanpa sadar.

Tok ku Bu ti tertawa terbahak-bahak. "Karena tingkah lakumu selama ini sama sekali tidak menunjukkan kewibawaan seorang pemimpin!"

Thian ti mendengus dingin. Tepat pada saat itu juga dia mendengar pekikan kesakitan Suara itu dikenalnya dengan baik. Suara Angin!

Thian ti melirik ke arah sana. Dia melihat Angin persis seperti seekor laba-laba yang tertancap sebatang pedang dan menembus sampai terpantek di tembok. Ginkang Angin tidak diragukan lagi lebih tinggi dari orang lainnya, namun bila dibandingkan dengan Hui hun cong dari Bu tong pai masih terpaut satu tingkat. Wan Fei Yang meragukan jurus Hui hun cong yang dipadu dengan ilmu pedangnya menikam Angin.

Tentu saja orang itu tidak mungkin sanggup menghindarinya. Wan Fei Yang menarik pedangnya kembali. Kakinya menutul di atas tanah dan tubuhnya melesat ke udara. Pada saat itu juga jarum beracun Hujan meluncur lewat di bawah kakinya. Tubuhnya berjungkir balik dua kali. Telapak tangannya langsung menghantam sekumpulan jarum beracun yang disambitkan oleh Hujan kembali. Jarum-jarum itu terhempas berhamburan oleh segulung kekuatan yang tidak berujud.

Kemudian Wan Fei Yang menerobos masuk lewat celah yang dibuatnya lalu menerjang ke arah Hujan dengan gerakan secepat anak panah.

Hujan terkejut sekali. Tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Terpaksa dia mengulurkan sepasang telapak tangannya untuk menyambut hantaman Wan Fei Yang dengan kekerasan. Tiga kali berturut-turut mereka mengadu telapak tangan. Tubuh Hujan sudah pendek sekali kelihatannya, kakinya melesak ke dalam tanah. Sekali lagi tubuh Wan Fei Yang berjungkir balik. Tenaganya disalurkan ke telapak tangan dan menghantam batok kepala Hujan dari atas. Dari ketujuh lubang panca indera Hujan seketika mengalir darah..

"Plak!" Dua kali berturut-turut. Ternyata hantaman itu demikian kerasnya sehingga urat syaraf Hujan tergetar putus. Tubuhnya terkulai di atas tanah dan nyawanya pun melayang pada saat itu juga.

Wan Fei Yang langsung melesat ke samping dengan demikian sekaligus dia berhasil menghindari serangan Coa tiau cap sa- sut yang, dikerahkan Fu Giok Su tubuh Fu Giok Su bergerak dengan gesit. Sepasang jari tangannya membentuk paruh bangau dan menyerang Wa Fei Yang dengan gencar.

Sasarannya selalu tenggorokan anak muda tersebut.

Perubahan gerakannya demikian cepat. Kadang seperti seekor bangau, kadangkala seper ti seekor ular. Baik kaki maupun tangan selalu menyerang bagian mematikan dari tubuh lawan. Wan Fei Yang sendiri bertarung dengan tenang. Setelah menyambut serangan Fu Giok Su, dia pun membalas menyerang. Kemudian secepat kilat dia menghindarkan diri kembali, sama sekali tidak berniat menyambut serangan Fu Giok Su dengan kekerasan.

Fu Giok Su mengira Wan Fei Yang tidak berani menghadapi Coa tiau cap sa-sut secara langsung. Dia semakin mendesak maju dan menyerang dengan gencar. Hampir seluruh jurus Coa tiau cap sa-sul telah dikerahkan. Mata Wan Fei Yang terbuka lebar-lebar. Dia memperhatikan setiap perubahan yang dilakukan oleh Fu Giok Su.

Dia memang sengaja tidak ingin mengadu kekerasan dengan Fu Giok Su, karena dia ingin anak muda itu mengerahkan seluruh jurus Coa tiau cap sa-sut. Fu Giok Su sendiri tidak sadar dirinya telah terpancing. Cara Wan Fei Yang menghindarkan diri dari serangan selalu menempuh bahaya. Setiap kali serangan Fu Giok Su sudah hampir mengenainya, baru dia menghindarkan diri. Fu Giok Su semakin yakin dengan dugaannya sendiri bahwa Wan Fei Yang mulai gentar menghadapinya. Dia semakin gencar melakukan serangan.

Semua perubahan dari jurus Coa tiau cap sa-sut dikerahkannya dengan hebat.

Akhirnya ketiga belas jurus itu selesai di kerahkan. Tubuh Fu Giok Su berkelebat. Dia mulai bergerak dari awal lagi. Kali ini Wan Fei Yang menghindari serangannya dengan tenang.

Tanpa sengaja Thian ti melirik ke arah mereka. Hatinya tergetar. Belum sempat dia meminta Fu Giok Su agar berhati- hati, Wan Fei Yang sudah mengerahkan Coa tiau cap sa-sut dengan serampangan. Meskipun gerakannya tidak tepat dan lancar seperti Fu Giok Su, tetapi dalam hal tenaga dalam sudah pasti kekuatannya jauh di atas pemuda tersebut.

Akhirnya Fu Giok Su sadar bahwa dirinya telah terpancing oleh pihak lawan. Dia mendengus dingin berulang kali. "Tidak disangka Wan heng berubah secerdas ini!" "Hal ini pasti berkat bimbingan Fu Toako selama ini!" sambil menyahut Wan Fei Yang terus menyerang Fu Giok Su.

Dengan Coa tiau cap sa-sut yang baru dipelajarinya tadi.

Jurus pertama yang digerakkannya lucu sekali. Tapi setiap gerakannya memperlihatkan manfaat yang besar. Pada jurus kedua, dia sudah mulai menguasainya lebih baik dari semula. Ketika dia mengulanginya lagi, dia mulai dapat mengerahkan tenaga dalam ketika memainkan jurus Coa tiau cap sa-sut tersebut.. Semakin lama bertarung, hati Fu Giok Su semakin kebat-kebit. Setiap gerakannya selalu berhasil ditutup oleh Wan Fei Yang. Coa tiau cap sa-sut miliknya semakin lama semakin tidak dapat dikerahkan.

Setelah selesai mengulangi untuk kedua kalinya, tiba- tiba Wan Fei Yang merubah gerakan tangannya. Fu Giok Su tahu anak muda itu sekarang sudah bisa mengkombinasikan antara tenaga dalam Tian can sin-kang dengan Coa tiau cap sa-sut. Tubuhnya mencelat ke atas dengan maksud menghalangi gerakan Wan Fei Yang. Tapi begitu bergerak, dia langsung merasakan seakan ada sehamparan jala yang menyelimuti tubuh anak muda itu. Dia sama sekali tidak sanggup menerobos masuk ke dalamnya. Sebaliknya justru jala itu yang mengurung dirinya sendiri, semakin lama semakin ketat.

Fu Giok Su cepat-cepat menyurutkan tubuhnya. Tapi ke mana pun dia bergerak, Wan Fei Yang selalu mengintilnya dengan ketat. Tubuh Fu Giok Su berkelebat beberapa kali, namun tetap saja dia tidak dapat melepaskan diri dari Wan Fei Yang. Jerat yang mengurungnya terasa semakin menyempit.

Tiba-tiba Yang Cong Tian juga mengerahkan gerakan yang serupa dengan Wan Fei Yang Perasaan aneh dan bingung Fu Giok Su juga sudah dirasakan oleh Thian ti sekarang.

Matanya bersinar dan mengerling keadaan sekitarnya. Akhirnya dia mengambil keputusan. Dia meraung keras. Dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya dia menerjang ke arah Fu Giok Su. Yan Cong Tian tertawa dingin. Dengan ketat dia mengintil di belakang Thian ti. Sekali lagi Thian ti meraung murka. Kelima jari tangannya bagai golok yang tajam menebas lurus di antara Fu Giok Su dan Wan Fei Yang yang tengah bertarung dengan sengit. Terdengarlah suara gemuruh yang timbul di antara kedua orang yang sedang bertarung itu. Ternyata lengan baju keduanya telah tertebas koyak oleh jari tangan Thian ti.

Fu Giok Su merasa jerat yang menyelimutinya mulai melonggar. Dia baru saja menghela nafas lega. Mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun Thian ti sudah membentaknya dengan suara keras.

"Cepat pergi!"

Fu Giok Su sampai tertegun mendengar kata-katanya. Belum lagi sempat dia menyahut, Thian ti mengangkat sebelah kakinya dan mendepak Fu Giok Su. Tepat pada saat itu dia sudah mengerti maksud hati Thian ti.

"Yaya...!" teriaknya tanpa sadar. "Pergi!" bentak Thian ti sekali lagi. Tangan kanannya menyambut serangan telapak tangan Wan Fei Yang yang meluncur tiba. Sedangkan telapak tangan kirinya menyambut serangan Yan Cong Tian yang juga sudah menyusul belakangan.

"Blammm!" Terdengar suara benturan telapak tangan mereka yang memekakkan telinga. Seluruh Tiong gi tong seakan tergetar hebat. Seperti baru saja terjadi gempa bumi di sekitar sana.

Tepat pada saat itu Fu Giok Su sudah menerobos lewat salah satu jendela dalam ruangan. Wajahnya merah padam, tapi dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meninggalkan tempat itu meskipun hatinya berat. Baru saja dia melesat beberapa depa, telingannya mendengar raungan murka Thian ti yang keras menggelegar. Hatinya bagai remuk redam dalam waktu sekejap mata. Giginya mengatup erat-erat.

Begitu kencangnya dia menggigit bibir sendiri sehingga terlihat darah mengalir dari ujungnya Tapi walau bagaimana meluapnya kemarahan yang ada dalam hatinya, dia tetap tidak berani kembali untuk melihat apa yang telah terjadi pada kakeknya. Dia terus menerjang ke depan. Kakinya berlari sekencang-kencangnya sehingga debu-debu berhamburan.

Gerakannya dibarengi rasa benci yang dalam. Tubuhnya seakan menjadi berat oleh rasa benci yang membara. Dia tidak sanggup mengerahkan tenaganya untuk berdiri lebih cepat lagi.

***

Dalam pertarungan satu lawan satu, Thian ti sudah pasti bukan tandingan Yan Cong Tian maupun Wan Fei Yang, apalagi sekarang dia sekaligus menyambut serangan kedua orang itu. Tetapi dia terpaksa menyambut serangan kedua orang itu dengan kekerasan, karena hanya dengan

cara demikian, salah satu di antara cucu dan kakek itu baru mempunyai kesempatan hidup lebih lama.

Usianya sudah demikian tua. Apalagi ia telah menderita selama terkurung dalam telaga dingin. Meskipun sepasang kakinya dapat pulih kembali, namun bagaimana pun sesuatu yang sudah pernah rusak tentu berbeda dengan yang utuh. Dia yakin ia tidak akan seberuntung Yan Cong Tiau maupun Wan Fei Yang yang dapat meraih keuntungan dari musibah yang mereka alami. Dia tidak mungkin mencapai tahap yang lebih tinggi lagi dalam mempelajari ilmu silat. Hanya Fu Giok Su yang masih mudalah yang masih mempunyai kesempatan tersebut. Oleh ka-rena itu, dia terpaksa mengorbankan diri.

Dengan cara demikian baru Fu Giok Su dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat. Begitu menerima kedua hantaman telapak tangan dari Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang, dia merasa isi perutnya tergetar demikian hebat sehingga seperti pecah menjadi kepingan- kepingan kecil. Penderitaan sehebat itu belum tentu dapat diterima setiap orang. Oleh karena itu pula, dia meraung murka. Suara raungan itu juga yang terdengar oleh Fu Giok Su seketika melarikan diri. Setelah itu, tubuhnya gemetar seakan seorang yang terserang penyakit demam. Wajahnya berkerut. Terdengar suara "Krek! Krek!" dari tulang belulang yang patah. Tubuh Thian ti semakin melemah dan perlahan- lahan terkulai. Wan Fei Yang terkejut sekali melihat keadaan itu. Cepat-cepat dia menarik kembali tenaga serangan di telapak tangannya. Dia tidak lupa bahwa dia sudah berjanji kepada Fu Hiong Kun untuk mengampuni jiwa Thian ti, namun tetap dia terlambat satu langkah.

Darah segar mengalir dari seluruh lubang panca indera orang tua itu. Tubuhnya masih menggelepar-gelepar bagai ayam disembelih. Pakaiannya ikut berkeresek-keresek seperti selembar daun yang diremas-remas. Perlahan-lahan gerakannya terhenti. Orang tua itu terkulai di tanah seperti sebuah patung dari tanah liat yang belum kering terjemur.

Tiba-tiba angin bertiup. Pakaian orang-orang yang ada di sana melambai-lambai seakan mengucapkan selamat jalan kepada Thian ti Mereka merasakan ada segulung rasa iba menyelimuti hati mereka. Semuanya memandang dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang sama-sama terpaku di tempat.

.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa gabungan tenaga mereka dapat menimbulkan kekuatan yang demikian dahsyat. Salah seorang dari mereka saja sebetulnya sudah cukup untuk menghancur leburkan tubuh Thian ti yang sudah uzur itu, apalagi gabungan tenaga mereka berdua.

Yan Cong Tian yang pertama-tama tersadar Jari keterkejutannya. "Fei Yang. Kau diam di sini! Aku akan mengejar murid murtad itu dan meringkusnya kembali ke sini!" katanya. Tanpa menunggu jawaban Wan Fei Yang, tubuhnya bergerak dan melesat ke arah Fu Giok Su pergi tadi.

Sinar mata Wan Fei Yang mengedar lalu berhenti pada wajah Tok ku Hong. Gadis itu menundukkan kepalanya rendah- rendah. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mata Tok ku Bu ti yang tadi terbuka lebar ikut-ikutan terpejam. Dia juga tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Kongsun Hong menatap Wan Fei Yang lekat-lekat. Matanya menyorotkan rasa panik yang tidak terkatakan. Dia juga merupakan satu- satunya orang yang paling tegang di tempat itu.

Wan Fei Yang tidak memperdulikan mereka. Dia menghampiri Tok ku Hong. "Hong moay, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyanya lembut.

Tok ku Hong menggelengkan kepala dalam keadaan tertunduk. Tanpa sengaja dia melirik ke arah Tok ku Bu ti. Tidak seorang pun yang mengucapkan sepatah kata.

** *

Meskipun ilmu ginkang Fu Giok Su masih terpaut satu tingkat dengan Angin, namun kemampuannya sudah tergolong kelas satu. Dia mengerahkan segenap tenaganya. Tubuhnya meluncur bagai sebatang anak panah. Setelah melintasi tembok pekarangan bekas markas Bu ti bun itu, dia memilih jalan kecil yang menuju daerah perbukitan.

Berapa lama Thian ti dapat menghadang Yan cong Tian dan Wan Fei Yang, dia sama sekali tidak dapat memastikan.

Namun dia yakin jangka waktu yang ada pasti terbatas sekali. Benar saja, belum seberapa jauh dia meninggalkan bekas markas Bu ti bu n itu. telinganya menangkap siulan panjang dari arah belakang.. Suara itu tidak syak lagi pasti keluar dari mulut Yan Cong Tian. Hati Fu Giok Su tergetar. Jantungnya berdegup degup. Tubuhnya berputar dan dia membelok ke dalam sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon rindang.

Meskipun pepohonan yang ada di dalam hutan itu cukup rimbun, namun luasnya hanya beberapa depa. Tampaknya tidak mudah mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Hati Fu Giok Su semakin tegang. Dia tidak tahu jalan mana yang harus dipilihnya. Pikirannya juga semakin kacau. Dia mengikuti langkah kakinya terus menerjang ke depan.

Setelah menerobos keluar dari hutan, terlihatlah beberapa rumah penduduk yang kecil-kecil. Fu Giok Su segera menyelinap ke bagian yang agak terlindung dari sebuah rumah, Yan Cong Tian juga sudah melesat keluar dari hutan. Dedaunan yang disibaknya menimbulkan suara gemirisik.

Belum lagi kelebatan tubuh Yan Cong Tian yang bergerak secepat angin.

Fu Giok Su tidak sempat berpikir panjang lagi. Dia langsung menyelinap ke dalam rumah yang kebetulannya pintunya hanya dirapatkan Di dalam rumah terdapat sepasang suami istri yang sedang duduk dengan santai. Tiba-tiba mereka melihat seseorang menerobos masuk ke dalam rumah, keduanya terperanjat sekali.

Perempuan tua itu segera menghambur dan melindungi sebuah keranjang ayunan. Di dalamnya ada seorang bayi laki- laki. Wajahnya gemuk dan montok. Bibirnya tersenyum- senyum meskipun matanya terpejam. Mata Fu Giok Su mengedar ke sekeliling. Kemudian dia menghambur ke arah perempuan tua itu.

"Apa... apa yang...?" Perempuan itu gugup sekali. Belum lagi ucapannya selesai, Fu Giok Su mendorongnya ke samping dan langsung mengangkat bayi yang sedang tertidur itu. "Kalau nanti ada seorang tosu tua yang mengetuk pintu dan menanyakan apakah kalian melihat seseorang melewati tempat ini kalian harus pura-pura tidak tahu. Kalau kalian berani mengatakan sedikit saja keterangan mengenai diriku atau memberi isyarat kepadanya, maka aku langsung akan membunuh anak ini!" ancamnya kepada kedua orang tua itu.

Perempuan tua tadi panik sekali. "Bayi itu masih kecil sekali. Harap jangan berbuat demikian," ratapnya sedih.

"Betul, Kongcu. Apa pun yang kau perintahkan akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya. Jangan mempersulit anak yang masih tidak berdosa itu," tukas suaminya.

Fu Giok Su tertawa dingin. "Semuanya tergantung dari kalian sendiri," kalanya tenang.

"Kami pasti akan menuruti permintaanmu," sahut perempuan itu dengan wajah melas.

Fu Giok Su tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung menyelinap ke dalam sebuah kamar yang terletak di bagian kanan ruangan. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu. Sepasang suami istri tua itu saling lirik sekilas. Laki-laki tua itu mengulurkan tangannya dan menepuk bahu istrinya dengan lembut. Dia menenangkan perasaannya sendiri dan berjalan ke arah pintu.

Pintu kamar tersebut ditariknya sedikit. Orang yang menongolkan diri di depan pintu sudah pasti Yan Cong Tian adanya.

Laki-laki tua itu pura-pura terkejut melihatnya. "Totiang ini...!"

Yan Cong Tian melongokkan kepalanya dan memandang ke dalam ruangan sekilas. "Maaf mengganggu kalian dua orang tua. Numpang tanya, apakah kalian melihat seorang anak muda melewati tempat ini?" Tepat pada saat itu, bayi dalam gendongan Fu Giok Su terjaga. Melihat yang menggendongnya adalah orang asing yang belum pernah dilihatnya, bibirnya langsung tertarik ingin menangis. Melihat keadaan itu, Fu Giok Su panik sekali.

Cepat-cepat dia mengulurkan tangan nya untuk mendekap mulut bayi tersebut. Telapak tangannya begitu besar. Sekali menekan, hidung bayi itu pun terdekap olehnya. Tapi dalam keadaan tegang, Fu Giok Su sama sekali tidak merasakan perbuatannya yang akan berakibat fatal bagi sang bayi.

Tentu saja bayi sekecil itu tidak sanggup memberontak. Rona wajahnya perlahan-lahan berubah. Dari biasa menjadi merah padam, dan merah menjadi pucat. Fu Giok Su masih belum memperhatikan.

Orang tua itu memandang Yan Cong Tian dengan termangu- mangu. Dia seperti tidak mengerti apa yang ditanyakan totiang dihadapannya.

"Aku tidak melihat apa-apa."

Tidak salah kalau dikatakan ilmu silat Yan Cong Tian sudah mencapai taraf tertinggi, tapi pengalamannya dalam dunia kangouw justru dangkal sekali. Seumur hidupnya dia lebih banyak berkurung di alas Bu tong san mempelajari Tian can sinkang daripada berkelana di dunia kangouw. Dia sama sekali tidak merasa curiga terhadap sepasang suami istri.

Malah dia mengira kedatangannya itulah yang membual orang tua itu terkejut. Dia merasa tidak enak hati.

"Maaf kalau kalian terkejut!"

Selesai berkata, dia langsung menyurutkan kepalanya dan berbalik meninggalkan tempat tersebut.

Laki-laki tua itu masih berdiri termangu-mangu. Pintu pun belum dirapatkan. Yan Cong Tian berjalan mengitari sekitar tempat tersebut, tiba-tiba kakinya menghentak dan tubuhnya melesat ke atap rumah yang lain. Melihat kehebatan Yan Cong Tian, orang tua itu terkejut. Cepat-cepat dia merapatkan kembali pintu rumahnya.

Yan Cong Tian menyapu pandangannya ke sekeliling tempat itu. Untuk sesaat dia juga tidak tahu arah mana yang harus diambilnya untuk mengejar Fu Giok Su. Dia berdiri termangu- mangu di atas genting itu. Kemudian dia berteriak memaki, “Fu Giok Su, kau bisa lari hari ini, tapi kau tidak mungkin bersembunyi seumur hidup!" Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan melesat dari arah mana dia datang tadi.

Suara teriakan Yan Cong Tian tidak terlalu keras, namun setiap patah katanya terdengar jelas oleh Fu Giok Su. Tanpa sadar keringat dingin menetes dari keningnya. Fu Giok Su tetap tidak bergerak. Telinganya dipertajam. Setelah mendengar kibasan lengan baju, barulah hatinya menjadi tenang dan dia dapat menghela nafas lega.

"Yan Cong Tian, hutang piutang ini akan kuperhitungkan sampai jelas pada suatu hari nanti," gumamnya sendiri.

Dia masih berdiri terpaku sesaat. Kemudian dia merasakan bahwa bayi dalam gendongannya tidak bergerak lagi sejak tadi. Dia menundukkan kepalanya memperhatikan bayi tersebut. Wajahnya sudah pucat pasi dan tidak sedikit pun kesan bahwa bayi itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.

"Mati?" Diam-diam hatinya terkejut sekali.

Tangannya cepat- cepat dilepaskan dari mulut bayi itu. Tanpa sadar kakinya melangkah ke depan.

Tepat pada saat itu, sepasang suami istri tadi juga maju menghampiri. Melihat tampang Fu Giok Su, mereka segera sadar telah terjadi sesuatu. Perempuan tua itu menghambur kehadapan Giok Su.

"Bagaimana keadaan anak itu?" tanyanya panik.

Terpaksa Fu Giok Su menyodorkan bayi itu ke tangan perempuan tua tadi. Serangkum perasaan tidak enak memenuhi hatinya. Selama bertahun-tahun belakangan, entah sudah berapa banyak orang yang dibunuhnya, tapi seumur hidupnya dia belum pernah membunuh seorang anak kecil apalagi bayi seperti yang digendongnya barusan.

Perempuan tua itu menyambut bayi dari tangan Fu Giok Su. Dia mendekatkan wajahnya ke hidung bayi, wajahnya langsung berubah hebat. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya membelakangi Fu Giok Su. Dia menangis tersedu-sedu.

"Mengapa kau bunuh bayi ini?" ratapnya sedih.

Wajah Fu Giok Su semakin kelam. "Jangan bersuara. Kalau tidak, aku akan membunuhmu sekalian!" ancamnya.

Perempuan tua itu tertegun. Belum lagi dia sempat menyahut sepatah kata pun, suaminya sudah menghampiri dan memeluk bahunya serta meminta agar dia jangan menyahut lagi Fu Giok Su menghampiri jendela dan melongok keluar.

Bayangan Yan Cong Tian tidak terlihat lagi. Dia baru menghela nafas lega.

Tiba-tiba perempuan tua itu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah dan meratap sekeras-kerasnya, “Lun kouwnio, kau yang sudah berada di alam baka. Apalagi melihat kejadian ini jangan sekali- kali menyalahi kami. Bayi ini sudah kami anggap sebagai keturunan kami sendiri.. Tentu kau juga tahu bagaimana kami menyayanginya. Sekarang dia sudah kembali ke sisimu, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi! Mendengar teriakan perempuan itu, Fu Giok Su sudah hampir mengamuk. Namun ketika telinganya menangkap kata-kata 'Lun kouwnio,' segulung firasat tidak enak kembali menyelimuti hatinya.

"Apakah bayi ini bukan anak kalian?" tanyanya tanpa sadar.

Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya dengan air mala berurai. "Nasib anak ini sungguh malang. Setelah melahirkan dia tidak berapa lama, ibunya sudah meninggal dunia, sebelumnya dia menitip anak ini kepada kami agar merawatnya dengan baik. Siapa sangka.... Aiikh. Siapa

sangka akan begini jadinya. !"

Kata-kata perempuan tua itu semakin lama semakin tersendat-sendat. Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya lagi. Laki-laki tua di sampingnya cepat-cepat membimbing istrinya duduk di atas kursi.

Wajah Fu Giok Su semakin tegang. "Lun kouwnio yang kau katakan itu, apa nama lengkapnya?" desaknya gugup. "Lun Wan Ji!" sahut laki-laki tua itu sepatah demi sepatah.

Tubuh Fu Giok Su tergetar hebat. "Apa? Ibu anak ini bernama Lun Wan Ji?" Dia sangat berharap bahwa pendengarannya tiba-tiba saja menjadi kurang beres.

Orang tua itu menganggukkan kepalanya. "Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu. Lun kouwnio jatuh tidak sadarkan diri di depan pintu rumah kami. Untung saja kami cepat menolongnya. Keadaannya sudah lemah sekali.

Rupanya dia sudah cukup lama berjalan tanpa tujuan. Tidak lama kemudian dia melahirkan anak ini. Karena tubuhnya memang sudah lemah, apalagi setiap hari selalu bersedih, maka setelah melahirkan anak ini tidak berapa lama Lun kouwnio pun berpulang. " "Benarkah dia bernama Lun Wan Ji?" Fu Giok Su masih berharap terjadinya sebuah keajaiban.

Perempuan itu meratap semakin sedih.

"Kami memang sudah tua, tapi belum 1inglung. Mana mungkin orang setua kami masih bisa mempunyai anak. Lun kouwnio masih sempat menceritakan bahwa ayah bayi ini she Fu. Dia meminta kepada kami agar kelak bila ada kesempatan antarkan anak ini ke Bu tong san dan berikan kepada ayahnya yang bernama Fu Giok Su."

Fu Giok Su terhuyung-huyung. Wajahnya berubah semakin hebat.

"Lun kouwnio juga mengatakan bahwa keturunan keluarga Fu banyak yang pendek umur. Tidak disangka kata-katanya memang benar, ternyata anak ini juga sudah. "

Air mata Fu Giok Su mengalir dengan deras. Darah dalam tubuhnya seakan menggelegak. Hampir saja dia muntah darah karena pukulan batin yang demikian hebat. Tiba-tiba dia menghambur ke depan perempuan tua itu dan merebut bayi dalam gendongannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menerjang keluar dari rumah dan melesat secepat anak panah.

Sepasang suami istri tua tersebut berdiri dengan termangu- mangu memandangi keper-gian Fu Giok Su. Bagaimana pun mereka tidak menyangka bahwa anak muda di hadapannya dan yang telah membunuh bayi itu adalah ayah kandung bayi itu sendiri.

* **

Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan melambai-lambai. Fu Giok Su berlari seperti orang kesurupan setan. Mayat anaknya ia peluk erat-erat. Beberapa kali dia tersandung dan terjatuh di atas tanah. Dengan tidak memperdulikan keadaan dirinya, Fu Giok Su merangkak bangun dan berlari lagi. Kemudian dia terjatuh kembali. Begitulah berturut-turut apa yang terjadi pada dirinya.

Setelah beberapa kentungan, akhirnya dia tidak sanggup bertahan lagi. Dia jatuh terkulai di atas tanah. Air mata dan tanah memenuhi wajahnya. Kemudian dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam tanah.

***

Darah yang membasahi ruangan besar itu masih belum kering. Tok ku Bu ti masih tetap duduk bersila menyembuhkan luka-lukanya. Perasaan Kongsun Hong semakin lama semakin tegang. Dia memandang Wan Fei Yang dengan mata mendelik.

Sinar mata Wan Fei Yang malah tidak lepas-lepas dari wajah Tok ku Hong. Sedangkan Tok ku Hong tidak berani beradu pandang dengan anak muda itu. Hanya sekali-kali dia melirik ke arahnya.

Angin bertiup semakin kencang. Tiba-tiba Yan Cong Tian menerobos lewat  jendela.

Melihat keadaan Wan Fei Yang, dia sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali. Akhirnya Wan Fei Yang menoleh kepadanya. Pemuda itu menarik nafas panjang.

"Meskipun makhluk tua itu bukan orang baik-baik, tapi sampai akhir hidupnya dia rela berkorban demi menyelamatkan cucunya sendiri. Malah Fu Giok Su yang tidak memperdulikan mati hidupnya orang tua tersebut."

Yan Cong Tian tertawa dingin. "Apabila suatu hari nanti, bocah itu terjatuh ke dalam tanganku, aku akan membuatnya minta hidup tidak bisa, minta mati pun sulit!" katanya jengkel. Wan Fei Yang menarik nafas sekali lagi. "Mati dan hidup merupakan takdir."

Yan Cong Tian mendekati Wan Fei Yang dan berbisik di telinganya. "Manusia yang satu ini sanggup melakukan kejahatan apa pun. Membiarkan dia hidup, sama saja mendatangkan malapetaka bagi orang-orang sedunia!"

Wan Fei Yang tidak bisa tidak menganggukkan kepalanya membenarkan. Sinar mata Yang Cong Tian beralih kepada wajah Tok ku Bu ti. Pada saat itu juga Tok ku Bu ti membuka matanya dan menghembuskan nafas panjang.

"Kau tidak perlu panik," kata Yan Cong Tian dengan nada dingin. "Aku sudah mengatakan akan memberimu waktu untuk memulihkan kesehatan selama dua kentungan. Apabila waktu lunya belum sampai, aku tentu tidak akan turun tangan."

Tok ku Bu ti tertawa sumbang. "Kau tentu mengerti bahwa luka yang kuderita, apabila dikatakan parah memang tidak seberapa parah tapi apabila dikatakan ringan juga tidak.

Dalam waktu dua kentungan toh tidak mungkin pula seperti biasa. Lebih baik tidak usah menunggu sampai waktunya, bunuh saja aku sekarang!"

Yan Cong Tian mendengus marah. "Baik, apabila itu maumu!" Kakinya maju satu langkah. Telapak tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.

Dengan panik Tok ku Hong menghadang di depan Tok ku Bu ti. "Locianpwe, waktunya belum sampai. Lagipula luka yang ayahku derita cukup parah. "

"Hongji, biar mereka lakukan apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, seluruh Bulim juga akan tahu bahwa sebuah partai lurus seperti Bu tong pai juga bisa menggunakan kesempatan ketika lawannya sedang terluka!" tukas Tok ku Bu ti.

Yan Cong Tian tambah marah. "Menghadapi manusia sesat seperti engkau ini, sama sekali tidak perlu mematuhi peraturan dunia Bulim!"

Tangannya sudah bergerak dengan maksud menghantam ke depan, Tok ku Hong menghampiri Yan Cong Tian. "Locianpwe, aku mohon kau lepaskan ayahku!"

Yan Cong Tian memandang Tok ku Hong lekat-lekat. Dia menggelengkan kepalanya. "Tok ku Bu ti, seumur hidupmu kejahatan apa pun pernah kau lakukan!. Tidak disangka Thian masih memberi anak sebaik ini untukmu!"

Tok ku Bu ti merasa hatinya terpukul. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Dengan segala macam kejahatan yang pernah kau lakukan, sepuluh kali kematianpun masih belum cukup untuk menebusnya. Sekarang putrimu ini memohonkan pengampunan untukmu. Bagaimana kau harus menghargai apa yang dilakukannya untukmu?"

Tok ku Bu ti tidak menyahut sepatah kata pun. Air mata Tok ku Hong berderai semakin deras. "Locianpwe...!"

Yang Cong Tian sampai serba salah dibuatnya. Dia mengeraskan hati dan mengibaskan tangannya. "Kau minggirlah ke sudut sana. Biar aku membasmi manusia jahat ini demi kesejahteraan kaum Bulim!" katanya kemudian.

Tok ku hong tidak menepi. Dia tetap menghadang di depan Tok ku Bu ti. "Kalau locianpwe tetap ingin membunuh ayahku, bunuhlah aku terlebih dahulu!" sahutnya dengan pendirian kukuh. Yan Cong Tian menggelengkan kepalanya "Aku tidak ingin membunuhmu. Minggirlah!"

"Kecuali kalau kau berjanji melepaskan ayahku!" Tok ku Hong menoleh kepada Wan Fei Yang. "Siau Yang, hari itu ketika kau sudah terluka, ayahku juga tidak meneruskan niatnya membunuhmu. Aku harap kau mengingat hal itu dan memohon kepada Supekmu agar mengampuni jiwa ayahku!"

Dengan pikiran kacau Wan Fei Yang menatap Yan Cong Tian, kemudian sinar matanya beralih kembali kepada Tok ku Hong.

"Aku mohon padamu!" seru Tok ku Hong dengan nada meratap.

Wan Fei Yang membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun dia membatalkannya. Sinar mata Yang Cong Tian menyapu ke arahnya. "Siau Fei, bagaimana pendapatmu?

Wan Fei Yang menarik nafas panjang. "Demi Bu tong pai dan seluruh umat Bulim, kita memang harus membunuhnya.

Tetapi demi Hong kouwnio, aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan."

Kongsun Hong yang sejak tadi berdiam diri langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah. Dia berteriak dengan suara yang keras kepada Yan Cong Tian, "Harap Locianpwe membuka hati melepaskan Suhu, Kongsun Hong bersedia menggantikan Suhu menerima kematian!"

"Benar-benar laki-laki sejati!" puji Yan Cong Tian tanpa sadar. Dia menoleh ke arah Tok ku Bu ti. "Tok ku Bu ti. aku sungguh- sungguh merasa kasihan sekali padamu!"

"Kongsun Ji, Hong Ji!" bentak Tok ku Bu ti lantang.