-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 08

Jilid 08

Matahari timbul di ufuk timur. Cahayanya menyinari dari puncak pegunungan. Tujuh orang tosu itu kini sudah berganti posisi, bergerak terus tanpa henti. Sinar matahari menyoroti pedang mereka. Cahayanya berkilauan.

Tok-ku Hong dan Kongsun Hong merasakan bayangan manusia dan pedang berkelebatan. Mereka tidak dapat lagi melihat jelas posisi ketujuh orang tosu tersebut, mata mulai berkunang-kunang.

Tepat pada saat itu, dari atas sebatang pohon berjarak tiga depa muncul Wan Fei-yang yang mengenakan pakaian hitam dan menutu[I wajahnya dengan kain hitam pula. Sepasang matanya yang tersembul memperlihatkan ketegangan hatinya. Dadanya berdebar-debaar, tangan menggenggam pedang erat-erat menonjolkan urat berwarna kehijauan.

Pek Ciok yang berada di luar barisan tersebut juga tegang sekali. Dia menarik napas dalam-dalam. Dan tiba-tiba berseru, “Yin-ho-lim-heng (sungai jernih meneguk kebencian)!”

Tujuh orang tosu itu bergerak cepat, tujuh batang pedang diputar ke atas. Tampak tujuh gulungan cahaya memijar.

“Hati-hati!” teriak Kongsun Hong. Jit-guat-lun tergenggam di kedua tangan dan mengadang di depan Tok-ku Hong.

Wan Fei-yang segera menghunus pedangnya. Tubuhnya melesat ke depan. Tepat pada saat itu pula terdengar bentakan yang memekakkan telinga, “Berhenti!”

Tanpa sadar Wan Fei-yang menghentikan gerakan kakinya. Tujuh orang tosu itu juga berhenti bergerak. Cahaya pedang perlahan memudar. Tok-ku Hong dan Kongsun Hong saling pandang sekilas. Wajah mereka menyiratkan perasaan tidak mengerti.

Orang lainnya juga sama. Serentak mereka menolehkan kepala. Ci Siong tojin berdiri di atas sebuah batu besar. Angin yang bertiup melambai-lambaikan lengan bajunya. Tubuhnya bagai akan terbang tertiup angin.

“Bubarkan barisan. Lepaskan mereka yang datang dan biarkan mereka turun gunung!” bentaknya menggelegar memekakkan telinga.

Wajah setiap orang menampilkan perasaan kebingungan. Wan Fei-yang hampir tidak dapat menahan dirinya dan ingin berteriak sekeras mungkin. Cang-song langsung mengelus jenggotnya sendiri.

“Biarkan mereka turun gunung?” tanyanya penasaran.

“Melepaskan harimau pulang ke kandang, kelak pasti menimbulkan masalah!” teriak Gi-song kesal.

Wajah Ci Siong tojin sedingin es. Dia mengibaskan lengan bajunya. Sekali melesat, tubuhnya hilang dari pandangan mata bagaikan para dewa di kayangan. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong tidak ingin membuang waktu. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menerobos keluar dari barisan Jit-sing-kiam-ceng. Tujuh orang tosu tersebut hanya memandangi mereka dengan mata mendelik. 

Kongsun Hong menarik tangan Tok-ku Hong dan menyeretnya meninggalkan tempat itu. “Cepat pergi!” katanya.

Para murid Bu-tong yang berkumpul di luar barisan semuanya tidak puas melihat keadaan itu, namun mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa. Mereka terpaksa memberi jalan kepada kedua orang itu.

Gi-song dan Cang-song hampir muntah darah karena jengkelnya. “Mari kita naik ke atas dan minta penjelasan!” teriaknya mengajak.

Dia mendahului mereka melesat ke atas. Sedangkan para murid Bu-tong lainnya terpaksa mengikuti di belakang.

*****

Suara lonceng berbunyi.

Di dalam ruangan pendopo sunyi mencekam. Yang terdengar hanya kumandang suara lonceng. Selain itu tidak terdengar lagi suara lainnya. Seluruh murid Bu-tong berkumpul di dalam ruangan tersebut. Sinar mata mereka terpusat pada Ci Siong tojin yang duduk di tengah ruangan. Ci Siong tojin tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Matanya setengah terpejam. Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Ci Siong tojin membuka matanya. Gi-song tidak dapat menahan kedongkolan hatinya.

“Ciangbun-suheng, kedua murid Bu-ti-bun sudah pasti akan mati dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng, mengapa kau malah membubarkan barisan itu dan melepaskan mereka?” tanyanya penasaran.

“Dengan berbuat demikian dan tersebar di luaran, teman- teman di dunia kangouw pasti akan menganggap kita bernyali kecil dan takut urusan. Kelak meskipun orang-orang Bu-ti-bun tidak datang menyerang kita, partai lainnya mungkin akan naik ke Bu-tong dan mencari masalah dengan kita,” sambung Cang-song.

“Seandainya kali ini suheng tidak mempunyai alasan yang tepat, para murid Bu-tong pasti tidak mau mengerti,” kata Gi- song sengaja membakar-bakar.

“Betul!” lanjut Cang-song sok serius.

Sinar mata Ci Siong tojin bercahaya bagai kilat. Dia menatap tajam kepada Gi-song dan Cang-song.

“Kali ini, toh tidak ada anak murid kita yang mati. Kita sudah memberikan pelajaran yang pahit kepada kedua bocah itu. Sudahlah... tidak usah diperpanjang lagi,” sahutnya.

Gi-song mendengus dingin, “Datang seenaknya, pergi sesukanya. Kelak mana ada orang lagi yang akan menghargai Bu-tong-pai kami? “Orang menghargai Bu-tong-pai bukan hanya karena ilmu silat kita, tapi juga pribadi kita yang bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan,” sahut Ci Siong tojin tenang.

Cang-song tertawa dingin, “Aku justru menganggap musuh akan melihat kelemahan kita.”

Gi-song menganggukkan kepalanya.

“Suheng, sejak kau menjadi Ciangbunjin, Bu-tong-pai tampaknya semakin lemah kian hari,” katanya.

“Kalau menurut liong-wi sute, apa yang seharusnya kita lakukan?” tanya Ci Siong tojin dengan wajah tidak berubah meskipun disindir secara terang-terangan.

“Seharusnya membiarkan kedua orang itu terbunuh di dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng,” kata Gi-song.

“Memang seharusnya begitu.” sahut Cang-song menyetujui.

“Keenam muridku belum sempurna ilmunya Apabila Tok-ku Bu-ti marah karena kematian putri dan muridnya lalu langsung menyerang dalam waktu dekat, coba liong-wi sute katakan bagaimana kita harus menghadapinya?” tanya Ci Siong tojin kembali.

Gi-song dan Cang-song tertegun.

“Kalau kita tidak dapat menahan diri dalam masalah kecil, maka masalah besar akan timbul.” Ci Siong menarik napas panjang. Tiba-tiba matanya mengedar, “Kemana perginya Kuan Tiong-liu?”

“Apakah suhu ingin tecu mencarinya untuk menanyakan letak duduk persoalan yang sebenarnya?” tanya Fu Giok-su.

Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya. Yo Hong yang berada di sudut ruangan segera berdiri. “Tidak perlu dicari lagi. Tadi aku melihat dia membawa dua pelayannya turun gunung dengan tergesa-gesa,” katanya menjelaskan.

Cang-song mendengus dingin, “Pergi tanpa pamit, orang ini benar-benar tidak tahu sopan santun!”

Sebuah ingatan melintas di benak Gi-song. “Mungkinkah dia turun gunung mengejar kedua murid Bu-ti-bun itu?” katanya dengan suara lirih.

Mata Cang-song bercahaya seketika. “Bisa jadi ”

gumamnya.

“Kedua orang itu sudah terkurung demikian lama di dalam barisan. Dan mereka juga sudah terluka. Pasti bukan tandingan bocah she Kuan itu.”

“Tidak salah!” suara Cang-song semakin rendah sehingga menyerupai bisikan. “Ci Siong tua bangka itu pasti sudah memperhitungkan segalanya.”

“Hm benar-benar siasat melempar batu sembunyi tangan

yang hebat.”

“Jangan dikira musang tua ini tidak lihai,” kata Cang-song sambil melirik sekilas kepada Ci Siong tojin. Sebelah tangannya menutup di samping bibir agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.

Ci Siong tojin tidak mempedulikan mereka sama sekali. Dia hanya tertawa datar.

*****

Angin bertiup kencang. Dua ekor kuda yang gagah melangkah perlahan di sebuah jalan kecil. Tok-ku Hong berusaha mempertahankan diri, dia tidak kuat lagi melarikan kudanya cepat-cepat.

Kongsun Hong mengendarai kudanya di belakang Tok-ku Hong, tanpa sadar kepalanya berulang kali menoleh ke sekitarnya. Rasanya tidak ada orang yang mengejar. Setelah melalui jalan kecil tadi, Tok-ku Hong baru bisa bernapas lega. Pinggangnya diluruskan, dia menggigit bibir sendiri.

“Pada suatu hari nanti, aku akan mencuci Bu-tong-san dengan darah,” gerutunya.

Kongsun Hong menjalankan kudanya perlahan. “Dendam ini pasti harus dibalas. Lain kali apabila kita datang lagi ke Bu- tong-san jangan beri ampun. Ketemu satu bunuh satu. Kita gunakan api dan bakar habis seluruh Bu-tong!” sahutnya dengan amarah yang meluap di dada.

Tok-ku Hong mendengus dingin. Dia mengedarkan pandangannya, “Heran … mengapa tidak terlihat adanya orang kita yang menyambut?” Kongsun Hong tertawa datar, “Apakah kau lupa, kau sendiri yang menyuruh mereka menunggu di tepi sungai?”

Tok-ku Hong mendengus sekali lagi

*****

Setelah melintasi padang rumput, di kejauhan sudah tampak air sungai yang beriak-riak. Sebuah perahu besar berlabuh di tepi sungai dan ditambatkan pada sebatang pohon besar.

Kongsun Hong menjalankan kudanya menuju ke tempat itu.

Dia segera mengenali bahwa yang terlihat di sana memang perahu Bu-ti-bun. Tapi anehnya tidak ada yang berjaga-jaga. Juga tidak ada orang yang menyambut mereka. Kuda dilarikan ke tepi sungai. Mata Kongsun Hong mengedar sekelilingnya. Tanpa sadar dia tertegun.

Tok-ku Hong melarikan kudanya menyusul. Wajahnya merah padam karena marah. “Mereka benar-benar mencari mati.

Satu orang pun tidak ada yang menjaga di sini!” gerutunya.

Wajah Kongsun Hong malah sedingin es. Tiba-tiba dia menuding, “Sumoay ... lihat!”

Tok-ku Hong juga sudah melihat. Seorang anggota Bu-ti-bun tertelungkup di dalam sungai. Tubuhnya terombang-ambing oleh gerakan air dan membentur badan perahu.

Kongsun Hong segera turun dari kudanya dan menghambur ke sana. Sebuah titian kayu sudah terpasang sebagai landasan dari daratan untuk naik ke atas perahu. Sekarang terlihat beberapa mayat bergeletak di atas titian kayu tersebut. Darah masih menetes. Air di bawah titian kayu telah berubah warna menjadi merah. 

Di atas perahu tergantung beberapa sosok mayat. Tanpa ragu lagi, mereka adalah anggota Bu-ti-bun. Perasaan Kongsun Hong tergetar. Dia meloncat naik ke atas titian kayu. Tepat pada saat itu, terdengar suara harpa.

Suara itu berasal dari sebuah hutan kecil di ujung sungai. Di depan hutan itu sendiri tidak terlihat satu orang pun.

Kongsun Hong cepat-cepat mundur ke samping Tok-ku Hong.

“Siapa yang membunuh orang-orang dari Bu-ti-bun kita?” tanyanya marah.

Tidak ada yang menyahut. Suara harpa masih terus terdengar. Nadanya mengandung hawa pembunuhan yang tebal. Kongsun Hong celingak-celinguk. Tok-ku Hong perlahan turun dari kudanya. Dia mendengus dingin. Sepasang goloknya disiapkan di tangan.

“Hati-hati,” kata Kongsun Hong memperingatkan. Dia melindungi Tok-ku Hong dari depan.

Suara harpa semakin cepat.

“Cepat gelinding keluar!” bentak Tok-ku Hong sinis. Suara harpa meninggi satu kali, lalu berhenti. Dua orang bocah cilik, satu membawa harpa dan satunya lagi membawa pedang melangkah keluar dari dalam hutan. Mereka adalah Jit Po dan Liok An. Kuan Tiong-liu menampakkan diri di belakang. Kedua belah tangannya dipeluk di depan dada.

Sikapnya angkuh sekali. Dia menatap angkasa seakan tidak ada orang lain di tempat itu.

“Kau rupanya!” kata Kongsun Hong terkesiap.

“Tidak salah!” sahut Kuan Tiong-liu dengan wajah tetap mendongak ke atas.

“Sejak semula aku sudah menduga tentu semua ini hasil perbuatanmu,” kata Kongsun Hong sambil bersiap diri dengan sepasang Jit-guat-lun di tangannya.

“Bukankah kalian datang untuk menagih utang? Sekarang kita sudah jauh dari Bu-tong-san, utang piutang kita sudah dapat dihitung dengan tenang,” sahut Kuan Tiong-liu tenang.

Tok-ku Hong tertawa dingin.

“Menggunakan kesempatan ketika orang terluka, itukah tindakan yang dilakukan partai jurus dan ternama?”

“Untuk menghadapi manusia-manusia iblis seperti kalian, buat apa harus mematuhi peraturan dunia bu-lim?” sinar mata Kuan Tiong-liu menatap Tok-ku Hong lekat-lekat.

“Enak sekali kedengarannya.”

“Apa pun yang kalian katakan ” Kuan Tiong-liu merandek

sejenak, “hari ini, bagaimana pun aku tidak akan melepaskan kalian.”

Tok-ku Hong menggetarkan kedua bilah goloknya. “Kuan Tiong-liu, jangan dikira kau bisa meraih keuntungan besar hanya karena kami sedang terluka,” sahutnya sinis.

“Kalian boleh maju bersama,” Kuan Tiong-liu mengulurkan tangannya. “Pedang!” perintahnya kepada pelayannya.

Jit Po segera menyerahkan pedang ke tangan anak muda itu. Tok-ku Hong mendengus dingin.

“Untuk menghadapimu, aku seorang saja sudah cukup!?” katanya.

Baru saja tubuhnya bergerak, Kongsun Hong sudah mendahului dan melindungi di depannya. Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Tubuhnya melesat bagaikan terbang di angkasa, kemudian berjungkir balik dan mendarat di hadapan Kongsun Hong.

Jit-guat-lun di tangan Kongsun Hong segera dibenturkan oleh pemiliknya, “trang!”, terdengar suara sangat nyaring. Dia langsung menerjang ke arah Kuan Tiong-liu. Dengan gesit pemuda itu menggeserkan tubuhnya. Pedangnya yang panjang menyapu ke kiri dan kanan. Sembilan belas kali sabetan dilancarkannya sekaligus. Kongsun Hong terdesak mundur sepuluh langkah.

“Lebih baik kalian maju bersama!” katanya.

Dengan marah Tok-ku Hong tidak memikirkan gengsi lagi. Dia menerjang ke depan. Tangannya masing-masing menggenggam sebilah golok. Kongsun Hong takut terjadi apa- apa pada Tok-ku Hong. Jit-guat-lunnya menyerang Kuan Tiong-liu dengan kalap.

Seandainya mereka tidak terluka, dengan bergabung mereka pasti bisa mengalahkan Kuan Tiong-liu. Tapi keadaan mereka sekarang justru bertolak belakang. Luka yang mereka derita tidak ringan dan sangat lelah karena telah terkurung dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng selama sehari semalam. Keadaan mereka sekarang sudah kembang kempis.

Oleh karena itu, meskipun hanya dengan seorang diri, Kuan Tiong-liu dapat menghadapi kedua orang lawannya dengan tenang. Pedangnya bagai menari-nari, bayangan tubuh bagai kupu-kupu. Melayang ke kiri dan ke kanan. Tangan masih membalas serangan!

Belum sampai seratus jurus dia sudah berhasil mendesak Tok-ku Hong berdua sampai tidak dapat melancarkan serangan dan hanya bertahan saja. Pedangnya bergerak, jurus yang digunakan adalah Si-yang-sie-cao. Cia Peng saja tidak sanggup menerima jurus tersebut, apa lagi Tok-ku Hong yang sedang terluka parah. Melihat keadaan itu, Kongsun Hong panik sekali, tanpa memikirkan akibatnya dia segera menerjang ke depan.

“Crep!”, pedang Kuan Tiong-liu menusuk bahu Kongsun Hong sedalam tiga cun. Anak muda itu meraung murka, namun rasa sakit hampir tak tertahankan. Jit-goat-lun di tangan kanan terlepas jatuh, Jit-goat-lun di tangan kiri segera melancarkan sebuah serangan, tapi kecepatannya sudah jauh berkurang.

Dengan seenaknya Kuan Tiong-liu berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut. Telapak tangan anak muda itu bergerak secepat kilat. Dada Kongsun Hong terpukul telak, ia terdesak mundur beberapa langkah kemudian muntah darah.

Kuan Tiong-liu tidak berhenti sampai di situ saja. Pedangnya masih berkelebat mengarah tenggorokan Tok-ku Hong.

Dengan panik gadis itu menggerakkan kedua bilah goloknya berputaran. Namun biar bagaimana dia berusaha, pedang Kuan Tiong-liu tetap mengejarnya ketat. Sekali lagi pedang meluncur bagai kilat mengancam tenggorokan Tok-ku Hong!

Kongsun Hong berniat menolong, namun tidak keburu lagi. Tok-ku Hong juga tampaknya tidak akan berhasil menghindarkan diri lagi. Keadaannya mengenaskan sekali. Rambutnya sudah acak-acakan. Pakaiannya kotor tidak karuan. Dia hanya dapat memejamkan mata menunggu kematian.

“Trang!”, benturan senjata terdengar memekakkan telinga. Sebatang pedang menangkis serangan Kuan Tiong-liu.

“Srettt!”, pedang pemuda itu terdorong ke samping. Dengan terkejut Kuan Tiong-liu menolehkan kepalanya. Dilihatnya seorang manusia berpakaian hitam dengan wajah tertutup berdiri di sana. Dia pernah melihat Wan Fei-yang, tapi mana pernah dia membayangkan bahwa manusia berpakaian hitam itu Wan Fei-yang adanya.

Hanya sepasang mata yang tersembul dari balik kain hitam tersebut. Mata itu menyorotkan sinar kemarahan yang sulit dilukiskan dan mendelik ke arah Kuang Tiong-liu. Pemuda berpakaian putih itu marah sekali. Dia memperhatikan Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki. “Siapa kau?” tanyanya garang.

Wan Fei-yang hampir saja menyebut namanya sendiri. Namun untung dia cepat tersadar dan membatalkannya. Dia sama sekali tidak menyahut.

“Katakan!” bentak Kuan Tiong-liu sekali lagi.

“Bu-beng-siau-cut (prajurit tanpa nama)! Aku katakan juga kau tidak kenal,” sahutnya dengan pada suara dibuat-buat.

“Menampakkan ekor menyembunyikan kepala, rasanya kau juga bukan manusia baik-baik!” kata Kuan Tiong-liu kemudian.

“Paling tidak aku tidak pernah menggunakan kesempatan ketika orang terluka untuk menyerang,” sahut Wan Fei-yang.

Kuan Tiong-liu semakin marah, pedangnya bergerak bagai kilat meluncur cepat ke arah Wan Fei-yang. Dengan mudah pemuda itu berhasil menghindarinya! Sementara itu Tok-ku Hong dan Kongsun Hong yang melihat keadaan itu menjadi terheran-heran. Mereka tidak habis pikir siapa orangnya yang akan membantu mereka dalam keadaan seperti ini.

“Apakah orang itu anggota Bu-ti-bun kita?” tanya Tok-ku Hong dengan suara rendah.

“Rasanya bukan” sahut Kongsun Hong setelah memperhatikan sejenak. “Lagi pula, kalau dia memang anggota Bu-ti-bun, buat apa di menutupi wajahnya?”

“Lalu, siapa dia?” tanya Tok-ku Hong dengan alis berkerut. “Kalau bukan orang yang kita kenal, dia pasti orang yang dikenal Kuan Tiong-liu. Itulah sebabnya dia takut dikenali sehingga menutupi wajahnya dengan kain hitam,” sahut Kongsun Hong.

“Lalu, mengapa dia harus menolong kita?” Tok-ku Hong masih tidak habis pikir.

Kongsun Hong juga tidak tahu, maka dia hanya dapat menggelengkan kepala. Pada saat itu, pertarungan antara Wan Fei-yang dengan Kuan Tiong-liu semakin seru. Mereka sudah bergebrak sebanyak seratus jurus lebih. Pada mulanya Wan Fei-yang masih agak gugup. Selama hidupnya dia belum pernah benar-benar bertarung dengan seseorang, namun lambat laun dia mulai bisa menguasai dirinya. Gerakannya semakin mantap dan tenang, tangan juga semakin cepat.

Setelah menyambut tiga puluh enam kali serangan Kuan Tiong-liu, akhirnya dia terdesak ke tepi sungai. Dengan kemarahan yang meluap Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Gerakannya berubah. Dia mulai menggunakan jurus Si-yang- sie-cao andalannya. Wan Fei-yang cepat-cepat menggeser kakinya. Ternyata jurus yang digunakan adalah Tian-liong-kia- ka, lalu tangannya memainkan Cao-yang-sut. Melihat gerakan itu, wajah Kuan Tiong-liu berubah hebat. Pedang di tangannya digerakkan, sebuah jurus Kim-ciau-si-yi langsung dikerahkan. Telapak tangan Wan Fei-yang ditarik kembali. Jari tengah dan telunjuknya langsung meluncur ke depan dan menotok pergelangan tangan Kuan Tiong-liu.

Kuan Tiong-liu menjerit lantang. Pedang di tangan kanannya terlepas. Namun kakinya segera menutul, dengan gesit tangan kirinya menyambut pedang yang masih meluncur di udara. Setelah berhasil, secepat kilat dia menyabet ke arah wajah Wan Fei-yang!

“Bret!”, kain penutup wajah Wan Fei-yang tersayat koyak. Di keningnya terdapat segaris luka kecil bekas tebasan pedang Kuan Tiong-liu. Pedang pemuda itu sendiri masih terus diluncurkan menyerang ke arah tenggorokan Kuan Tiong-liu.

Pemuda murid Go-bi-pai itu terkesiap. Gerakannya terhenti. Wajahnya berubah hebat. Dia mendelikkan matanya lebar- lebar.

“Kau rupanya!”

Pedang Wan Fei-yang tidak lagi menusuk tenggorokan anak muda itu. Dia memang hanya berniat menghentikan pertarungan antara Kuan Tiong-liu dengan kedua murid Bu-ti- bun. Sekarang kain penutupnya sudah terlepas. Wajahnya berubah pucat. Sejenak kemudian dia tertawa getir.

“Memang aku,” sahutnya sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung.

Seluruh tubuh Kuan Tiong-liu bergetar saking marahnya. Tiba- tiba dia tertawa terbahak-bahak. “Bu-tong-san memang tempat bersarangnya naga dan harimau. Tidak tersangka hari ini, aku Kuan Tiong-liu terjungkal di tangan seorang Bu-beng- siau-cut!” katanya.

Wan Fei-yang ikut tersenyum, “Hal ini hanya kebetulan saja.” Kuan Tiong-liu mendengus dingin. “Anggap saja aku sedang sial!” Tiba-tiba dia menggerakkan pedangnya dengan maksud menggorok lehernya sendiri.

Untung saja gerakan Wan Fei-yang cukup cepat. Dia segera merebut pedang di tangan Kuan Tiong-liu.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Kuan Tiong-liu marah.

Wan Fei-yang mengembangkan kedua tangannya, “Tidak apa- apa.”

“Apa urusanmu dengan mati hidupku?” bentak Kuan Tiong-liu kesal.

“Mana bisa tidak ada hubungannya. Selama ini aku belum pernah membunuh orang. Andai kata kau mati begitu saja, bagaimana aku bisa hidup tenang kelak?” sahut Wan Fei-yang sembarangan.

“Sebetulnya, kau pernah belajar pedang bukan?” tanya Kuan Tiong-liu marah. “Tentu pernah ”

“Kalau begitu, kau tentu mengerti bagaimana menderitanya perasaanku sekarang.”

Wan Fei-yang tertegun, “Apa yang kau derita? Kau kan tidak terluka?” Dia mengusap luka kecil di keningnya. “Malah aku yang menderita,” katanya.

Hampir saja Kuan Tiong-liu jatuh pingsan karena jengkel. “Cukup kau memang sudah mengalahkan aku, tidak perlu

mengucapkan kata-kata yang menghibur.” Wan Fei-yang tidak mengerti apa yang dikatakan Kuan Tiong- liu. Dia menatap anak muda itu lekat-lekat. “Aku sering mendengar orang mengatakan bahwa kalah menang dalam suatu pertarungan adalah hal yang umum. Mengapa pikiranmu begitu sempit?” tanyanya heran.

Akhirnya Kuang Tiong-liu dapat merasakan kalau Wan Fei- yang bukan sedang mengejeknya.

“Usiamu juga masih sangat muda. Belum tujuh atau delapan puluh tahun. Asal kau berlatih dengan giat, siapa tahu kelak kau akan berhasil mengalahkan aku,” kata Wan Fei-yang selanjutnya.

Kuan Tiong-liu menggertakkan giginya erat-erat, “Baik ... aku pasti akan berlatih dengan giat. Tapi, kau harus berhati-hati kelak.”

“Terima kasih,” sahut Wan Fei-yang lugu. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Kuan Tiong-liu yang sebenarnya.

“Kelak, apabila aku datang kembali mencarimu dan engkau tidak ada atau pendek usia, maka aku akan lebih menderita daripada sekarang,” kata Kuan Tiong-liu kembali.

Tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah dia kembali lagi untuk mengambil pedangnya yang ketinggalan. Kemudian dia melesat dan naik ke atas sebatang pohon.

“Jit Po, Liok An, mari kita pergi!” teriaknya. Pada saat itu, jarak mereka agak berjauhan dengan orang lainnya. Tanpa sadar mereka bertarung terus sehingga tubuh mereka bergeser sampai tepian sungai bagian hulu.

“Cara bicara orang ini aneh sekali,” gumam Wan Fei-yang seorang diri. Suara langkah kaki terdengar mendatangi. Wan Fei-yang cepat-cepat memungut kain hitam tadi dan menutup wajahnya kembali.

Orang yang mendatangi ternyata Kongsun Hong dan Tok-ku Hong. Tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung. Tampaknya tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Kongsun Hong menjura dalam-dalam kepada Wan Fei-yang.

“Sobat, terima kasih atas pertolonganmu,” katanya.

Kesan Wan Fei-yang kepada kedua orang ini memang kurang bagus. “Tidak perlu berterima kasih. Apa yang aku lakukan bukan kehendakku sendiri,” sahutnya datar.

“Kalau begitu ”

“Buat apa bertanya banyak-banyak?”

“Aku masih belum tahu nama besar tuan,” kata Kongsun Hong menahan sabar.

“Apakah kau tidak bisa kurangi pembicaraanmu?” “Sobat ”

“Jangan memanggilku demikian mesra. Aku tidak akan bersobat dengan manusia sepertimu!” kata-kata Wan Fei-yang sama sekali tidak sungkan-sungkan.

Tanpa sadar Kongsun Hong mendengus dingin. Dan pada saat itu juga, terdengar suara.

“Bruk!”, Tok-ku Hong yang berada di belakangnya jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Wan Fei-yang menghampiri dengan tergesa-gesa. Dia memeriksa gadis itu sejenak.

Kemudian dia menarik napas panjang.

“Rupanya keluar darah terlalu banyak.” Dia menoleh kepada Kongsun Hong. “Kemari kau!” teriaknya.

Sejak tadi Kongsun Hong memang berniat menghampiri, tapi kakinya sulit digerakkan. Sebetulnya luka yang dideritanya malah lebih parah daripada Tok-ku Hong, hanya saja tenaga dalamnya lebih tinggi, dia masih dapat memaksakan diri untuk bertahan. Mendengar panggilan Wan Fei-yang dia menyeret kakinya dengan susah payah untuk mendekati Tok-ku Hong.

Wan Fei-yang tidak sabar melihat kelambatannya. Dia menarik lengan baju Kongsun Hong dan merobeknya, lalu diikatnya luka Tok-ku Hong. Mulutnya malah menggerutu, “Sumoay sendiri saja tidak becus melindungi. Buat apa jadi suheng!”

Dada Kongsun Hong terasa hampir meledak. Langkah kakinya terhuyung-huyung. Segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya segera terkulai di atas tanah. Dia juga jatuh pingsan seketika.

***** Tengah hari, sebuah kereta bergerak perlahan di atas jalanan bebatuan.

Kongsun Hong sudah sadar. Dia duduk di sebelah kanan dalam kereta. Tok-ku Hong di sebelah kiri. Gadis itu masih pingsan. Sambil mendorong kereta, Wan Fei-yang bersenandung kecil. Tampangnya sungguh menyedihkan.

Kongsun Hong malah panik sekali. Tanpa sadar dia berteriak, “Sobat ... apakah kau tidak bisa mendorongnya lebih cepat?”

Senandung Wan Fei-yang berhenti seketika. Matanya mendelik ke arah Kongsun Hong. “Kalau mau cepat, doronglah sendiri!” sahutnya acuh tak acuh.

Kongsun Hong menahan sabar sebisanya, “Aku hanya mengkhawatirkan luka yang diderita sumoayku.”

“Apa yang harus dikhawatirkan?” tanya Wan Fei-yang seenaknya. Dia kembali bersenandung.

Di kejauhan sana tembok kota sudah terlihat. Beberapa puluh depa di ujung sana terlihat serombongan manusia berpakaian hitam keluar dari balik pepohonan. Mereka menyongsong kedatangan kereta Kongsun Hong. Yang paling depan memakai ikat kepala berwarna merah. Wan Fei-yang terpana melihat rang-orang itu. Kongsun Hong malah kegirangan.

“Bagus sekali! Orang yang menyambut kami sudah datang,” katanya tanpa sadar. Wan Fei-yang mendengus dingin. Dia menghentikan keretanya seketika. Rombongan manusia berpakaian hitam itu sudah sampai di hadapan Wan Fei-yang. Melihat keadaan Kongsun Hong dan Tok-ku Hong, mereka merasa sesuatu terjadi luar dugaan. Namun mereka tidak berani bertanya apa- apa. Laki-laki yang memakai ikat kepala berwarna merah segera menjura dalam-dalam. “Hiongcu cabang kedelapan, Ciang Ping menghadap Kongsun-tongcu dan Toa-siocia, katanya.

Belum lagi Kongsun Hong menyahut, Wan Fei-yang yang sudah berpindah ke belakang segera menukas, “Kebetulan orang-orang kalian sudah menyambut, aku mau pergi.”

Begitu mengatakan hendak pergi, dia benar-benar melangkah meninggalkan tempat itu.

“Harap tunggu sebentar!” panggil Kongsun Hong gugup.

Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh, “Ada apa?”

“Bolehkah sobat mengatakan nama besarmu?” “Untuk apa kau ingin mengetahuinya?”

“Kalau tidak tahu, bagaimana kelak aku bisa mencari sobat.”

“Oh ... kau ingin membalas budi ” Wan Fei-yang

menggoyang-goyangkan tangannya. “Ada pepatah yang mengatakan bantuan yang tulus tidak mengharapkan pembalasan budi.” “Budi menyelamatkan jiwa, bagaimana pun harus dibalas,” kata Kongsun Hong serius “Tapi, meskipun sobat tidak menghargai aku, budi ini tetap harus kubalas.”

Wan Fei-yang terpana.

“Kalau begitu, aku semakin tidak bisa mengatakannya!” Tubuhnya melesat. Dalam sekejap mata menghilang dari pandangan.

Kongsun Hong memandangi kepergian penolongnya dengan tatapan dingin. Dia juga tidak memanggilnya kembali.

*****

Warna kemerahan mulai tenggelam di ufuk barat. Senja hari hampir berlalu. Keringat membasahi tubuh Wan Fei-yang. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit. Dia agak terkejut.

“Celaka! Sudah hampir malam. Aku harus mengambil jalan kecil melintas kembali ke Bu-tong-san,” gumamnya.

Dia membelok ke sebuah jalan kecil. Tubuhnya berkelebat laksana terbang.

*****

Matahari sudah tenggelam secara keseluruhan. Malam pun tiba. Ruang makan di Bu-tong-san kalang kabut. Tidak ada Wan Fei-yang, tidak ada yang menanakkan nasi untuk mereka. Perut mereka sudah keroncongan dan menimbulkan bunyi keriyuk ... keriyuk ....

“Sudah sehari penuh kemana perginya si Wan Fei-yang

itu?”

“Mungkinkah karena sudah tidak tahan dipermainkan oleh kita, maka sekarang dia kabur dari Bu-tong-san?”

“Bisa jadi ”

“Kalau bocah itu ada di sini, kita tidak pernah merasakan apa- apa. Sekali tidak ada, kita malah jadi kelabakan.”

“Apa tidak. Lihat dia sebal, tidak ketemu malah rindu.” “Ha ... ha ... ha ”

“Masih sempat tertawa? Lebih baik kita ramai-ramai mencari dia.”

“Kalian saja yang pergi, hanya Thian yang tahu apakah dia masih hidup.”

“Jangan berpikiran jahat.”

“Seandainya mati, kita juga tidak perlu heran. Selama beberapa tahun ini, mana pernah dia tidak kelihatan sepanjang hari.”

“Oh ya biasanya dia paling sering ke mana?” yang

mengajukan pertanyaan ini adalah Fu Giok-su. “Dia paling suka pergi ke telaga menangkap ikan,” sahut Lun Wan-ji.

“Kalau begitu kita mencarinya di tempat itu.”

Tentu saja Wan-ji setuju. Murid yang lainnya juga mengikuti dari belakang. Ucapan mereka terdengar oleh Wan Fei-yang. Sebetulnya dia sudah sampai dan bersembunyi di luar ruang makan. Dia sedang kebingungan mencari alasan untuk masuk ke dalam dan menjawab pertanyaan mereka. Sekarang dia justru menemukan akal yang bagus.

*****

Air telaga itu sangat jernih. Wan Fei-yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Setelah yakin tidak ada orang, dia segera masuk ke dalam telaga. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki dan seruan orang ramai. Dia segera merendam seluruh tubuhnya ke dalam telaga tersebut.

Oleh karena itu, ketika orang ramai sampai di tepi telaga, tubuh bahkan kepalanya sudah basah kuyup. Dia malah berpura-pura terapung-apung di dalam air. Wan-ji merupakan orang pertama yang menemukannya.

“Hei! Kalian lihat!” serunya terkejut.

“Bocah ini sungguh keterlaluan. Berkali-kali dinasihati agar main di tempat lain. Sekali kurang hati-hati, nyawa taruhannya. Tapi dia tidak mau mendengar perkataanku,” sambung Yo Hong menggerutu.

“Coba kalian pikir, mungkinkah dia putus asa dan merasa tidak ingin hidup lagi maka bunuh diri di sini?” tanya salah seorang murid Bu-tong yang ikut dalam pencarian itu.

“Ngaco! Kalau dia benar-benar ingin bunuh diri pasti memilih tempat yang lain!” bentak Cia Peng marah.

“Siapa tahu setan air sedang mencari pengganti dirinya.”

“Jangan banyak mulut!” teriak Cia Peng semakin kesal. “Cepat bawa dia naik!”

Fu Giok-su segera turun ke dalam air. Dengan cepat dia menghampiri tubuh Wan Fei-yang dan menggendongnya naik.

“Apakah dia masih hidup?” teriak Cia Peng dari ujung sana.

“Napasnya masih ada.” sahut Fu Giok-su sambil tergesa-gesa menggendongnya ke atas. “Hanya keningnya saja yang terluka.”

Beramai-ramai mereka menghampiri tubuh Wan Fei-yang.

*****

Malam sudah mulai larut. Wan Fei-yang digotong oleh para murid Bu-tong ke dalam kamarnya. Pakaiannya sudah diganti. Dan tubuhnya terbaring di tempat tidur. Tapi dia masih pura- pura tidak sadarkan diri. Yang lainnya sudah pada keluar. Di dalam kamar hanya tersisa Fu Giok-su dan Lun Wan-ji. Giok-su menatap luka di kening Wan Fei-yang lekat-lekat. Sekilas kecurigaan tersirat di wajahnya. Aneh ... luka itu seperti tersayat pedang.

Fu Giok-su sudah tahu, tapi tidak mengatakan apa-apa. Lun Wan-ji yang melihat Fu Giok-su memandangi Wan Fei-yang dengan termangu-mangu malah merasa heran.

“Fu-toako ... kenapa kau?”

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.”

“Tampaknya kau juga sudah lapar,” kata Wan-ji dengan suara lembut. “Aku akan memasakkan sedikit makanan untukmu.”

“Aku ikut bersamamu,” sahut Giok-su. “Apakah kau bisa masak?”

“Tidak bisa kan ada engkau yang mengajari.”

Keduanya saling pandang sekilas. Lalu Giok-su bangkit dan bersama Wan-ji mereka meninggalkan kamar tersebut. Baru saja pintu tertutup, Wan Fei-yang sudah membuka matanya. Tadinya dia gembira sekali, sekarang perasaan hatinya seperti tertekan. Suara tawa dan canda Giok-su dan Wan-ji sayup- sayup tertangkap oleh telinganya. *****

Malam semakin larut.

Di hutan yang terpencil berdiri tegak si manusia berpakaian hitam. Dia mendengarkan dengan seksama laporan Wan Fei- yang tentang pertarungannya dengan Kuan Tiong-liu. Anak muda itu makin cerita makin bersemangat. Perasaannya yang tertekan sudah hilang sejak tadi.

Manusia berpakaian hitam menutupi wajahnya dengan kain. Tidak terlihat bagaimana perasaannya saat itu. Dia hanya mengangguk-angguk sekali-kali. Sampai Wan Fei-yang menyelesaikan ceritanya, baru dia membuka suara, “Rasa percaya dirimu sangat tinggi. Oleh karena itu juga kau berhasil mengalahkan Kuan Tiong-liu. Aku sangat gembira mendengarnya.”

Mendengar perkataan itu, hati Wan Fei-yang semakin senang. Manusia berpakaian hitam itu maju dua langkah kemudian dia menggelengkan kepalanya.

“Tapi kau juga mempunyai kelemahan. Lain kali kau harus mengubahnya.”

Wan Fei-yang tertegun seketika. “Eh?”

“Hatimu kurang kejam.”

“Bagaimana suhu bisa berkata demikian?” “Kalau hatimu cukup kejam, Kuan Tiong-liu pasti tidak mempunyai kesempatan merebut kembali pedangnya dan membuka kedokmu.”

“Hanya luka ringan, tidak apa-apa,” sahut Wan Fei-yang.

“Seandainya tenaga dalam Kuan Tiong-liu lebih tinggi dari sekarang, tebasan pedangnya itu pasti akan membelah kepalamu menjadi dua bagian.”

Wajah Wan Fei-yang berubah pucat.

“Ingat! Biar bagaimana, musuh adalah musuh. Turun tangan harus cepat, tepat dan keji. Hati dan pedang bersatu, jangan memencarkan perhatian,” kata manusia berpakaian hitam itu sepatah demi sepatah.

“Tecu akan mengingatnya dalam hati.”

“Bagus! Malam ini kau harus berlatih terus cara memecahkan Jit-sing-kiam-ceng yang aku ajarkan tadi malam.”

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. Mata manusia berpakaian hitam itu bersinar tajam. Dia membalikkan tubuhnya dan melesat meninggalkan tempat itu.

*****

Begitu masuk ke dalam hutan, mata manusia berpakaian hitam itu bersinar semakin tajam. Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, seakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Apakah aku salah dengar?” gumamnya seorang diri.

Tiba-tiba, “cittt!”, seekor kera melintas di hadapannya. “Rupanya hanya seekor kera,” katanya dalam hati.

Manusia berpakaian hitam itu kembali menggerakkan tubuhnya menuju luar hutan. Tubuhnya berkelebat melewati jalan bebatuan.

Sesaat kemudian, seseorang berjalan keluar dari balik pepohonan. Dia adalah Fu Giok-su! Anak muda tersebut menatap ke arah manusia berpakaian hitam itu menghilang. Wajahnya mengandung kecurigaan yang dalam. Matanya sama sekali tidak berkedip.

Siapakah orang ini sebetulnya? Mengapa dia harus bersembunyi di Bu-tong-san dan mengajarkan ilmu silat kepada Wan Fei-yang? Fu Giok-su benar-benar tidak habis pikir. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar, petir meyambar. Seluruh bumi bagai tergetar olehnya. Sekali lagi petir menunjukkan kekuasaannya. Mata Fu Giok-su bersinar. Dia membalikkan tubuh dan melesat ke arah yang berlawanan

*****

Petir menyambar saling susul-menyusul. Mereka seakan sedang mengadakan perlombaan. Jeritan yang histeris memekakkan telinga. Menggetarkan seluruh Bu-tong-san. Gerakan tubuh Fu Giok-su bagai anak panah. Dia melesat menuju bagian belakang gunung.

Di langit terlihat guratan putih melintas cepat. Petir menyambar sekali lagi. Suara jeritan yang mengenaskan kembali terdengar. Mendebarkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Gerakan tubuh Fu Giok-su tidak berhenti. Dia terus menerjang ke depan. Setelah melewati sebuah jalan kecil, dia sampai di tempat yang penuh dengan batu karang. Kemudian ia membelok ke kanan.

Setelah berlari puluhan depa, dia melintasi sebuah jembatan gantung yang bergoyang-goyang tertiup angin. Fu Giok-su menolehkan kepalanya memandang ke sekeliling. Kakinya lalu menutul dan melayang melalui jembatan gantung tersebut.

Di ujung sana terlihat pohon-pohon yang rimbun. Batu-batu kerikil memenuhi tanah. Fu Giok-su melambatkan langkah kakinya. Di berjalan perlahan melalui jalan kecil tadi. Terhadap keadaan sekitar itu, tampaknya dia sudah mengenal baik.

Apabila melangkah ke depan, terlihat gerombolan pohon di sana sini. Kabut tebal melayang-layang. Hawa dingin menggigilkan tubuh. Tidak terdengar suara serangga atau pun kicauan burung. Di dalam gerombolan pohon, suasana demikian sepi bagai alam orang mati.

Fu Giok-su maju terus. Di depan sana malah jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Satu batang pohon pun tidak terlihat. Batu-batu besar berbentuk aneh justru banyak. Kabut semakin tebal. Di tengah batu-batu besar yang aneh itu ada sebuah gua. Langkah kaki Fu Giok-su tidak berhenti. Dia masuk ke dalam gua tersebut. Dari balik saku pakaiannya dia mengeuarkan sebuah benda yang dapat bercahaya di dalam gelap.

Cahaya api segera menerangi sekitarnya. Tembok sekitar gua itu sudah dilapisi es. Pantas saja kabut demikian tebal dan hawa begitu ingin. Malah ada beberapa gumpalan es batu yang bergelantungan sepanjang gua itu. Kurang lebih tiga depa di depan sana, terlihatlah sebuah telaga. Uap dingin mengepul-ngepul dari telaga itu. Seluruh telaga itu seolah baru dididihkan sehingga uapnya meninggi.

Fu Giok-su tahu bahwa uap yang terlihat itu justru menandakan dinginnya air di dalamnya puluh tahun. Hawa dingin semakin menusuk bagai ribuan jarum kecil yang ditancapkan ke dalam daging. Sekeliling tembok situ penuh luapan air telaga. Kira-kira beberapa meter dari tepian telaga tersebut ada sebuah batu aneh berwarna hijau. Meskipun demikian, seluruh gua dan permukaan telaga dapat terlihat jelas.

Seorang kakek yang sudah tua renta dengan pakaian compang-camping dan rambut panjang beriapan duduk di atas batu hijau yang aneh tadi. Rambut dan alisnya sudah memutih, bahkan terlihat bulu-hulu halus yang juga berwarna putih memenuhi keningnya. Wajahnya sendiri sudah penuh keriput. Demikian tuanya sehingga keriput di wajahnya tampak bagai guratan pisau.

Kaki tangannya terikat sebuah rantai pajang. Kakinya mengecil sehingga tinggal tulang belulang. Matanya menatap ke dalam telaga. Terlihat sinar ketakutan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dialah makhluk tua aneh yang dikatakan murid-murid Bu-tong. Dan dia sudah terkurung di tempat itu kurang lebih dua puluh tahun.

Setiap kali hujan turun dan kilat menyambar, air telaga itu akan meluap dan naik ke batu hijau yang didudukinya. Dan separo tubuh bagian bawah pun terendam dalam air yang dingin seperti es itu. Oleh karena itu, terhadap bunyi guntur atau kilat, dia mempunyai rasa takut yang tidak terkirakan. Dia selalu menjerit histeris. Hal ini disebabkan oleh penderitaan yang telah dirasakannya bertahun-tahun setiap hari hujan dan air telaga meluap.

*****

Fu Giok-su telah melihat makhluk aneh itu. Rasa perih di hatinya tidak terkirakan. Dia memadamkan penerangan di tangannya dan bermaksud mendekati. Tiba-tiba petir menyambar, kumandangnya bergema di dalam gua. Tubuh makhluk tua itu bergetar. Dia menjerit lagi. Tangannya mencakar ke kiri kanan batu dan tingkahnya sudah berubah kalap.

Suara jeritannya begitu menyayat hati. Orang yang mendengar dari luar pasti akan tergetar hatinya. Namun, tampaknya kilat tidak menaruh belas kasihan kepada orang tua itu. Sambarannya malah saling susul menyusul. Suara jeritan pun tidak berhenti. Tubuh tua itu bergulingan di atas batu. Rantai yang mengikat kaki dan tangannya bergerincing. Tentunya dia sangat menderita. Mendengar suara itu, air mata Fu Giok-su mengalir deras. Dia langsung melayang ke atas batu dan memeluk bahu orang tua itu erat-erat. Makhluk aneh itu terus menjerit. Dia mengerahkan tenaganya dan pelukan Fu Giok-su pun terlepas.

Tubuh Fu Giok-su menggelinding di atas batu, dengan kalap dia bangkit kembali dan memeluk lagi orang tua itu. Kali ini tenaganya ditambah. Makhluk aneh itu terus memberontak. Berulang kali dia berhasil melepaskan diri dari pelukan Fu Giok-su. Tapi anak muda itu pantang menyerah. Dia mencobanya lagi dan lagi. Akhirnya dia mengambil sebutir pil dari balik pakaiannya dan memasukkannya k dalam mulut makhluk aneh itu.

Setelah lewat sejenak, makhluk aneh tersebut tidak berontak lagi. Napasnya tersengal-sengal. Mulutnya terengah-engah dan mengeluarkan suara “krok! krok!”.

Sekian lama telah berlalu, akhirnya suara mengorok dari mulut makhluk aneh itu berhenti juga. Dia menarik napas dalam- dalam kemudian memandang Fu Giok-su.

“Akhirnya kau datang juga,” katanya lirih.

Orang tua itu mengulurkan tangannya mengelus wajah Fu Giok-su. “Kau jauh lebih kurus dari pada terakhir kalinya kau datang ke sini.”

“Sun-ji (cucu) datang terlambat, harap Yaya maafkan. Yaya sudah terlalu menderita,” kata Fu Giok-su dengan air mata berlinang. Ternyata mereka adalah kakek dan cucu. Siapa Fu Giok-su sebenarnya?

Fu Giok-su menggenggam tangan tua itu erat-erat. “Yaya... aku akan menjagamu. Jangan khawatir,” katanya sedih.

“Betul ... kau kan sudah tumbuh menjadi orang dewasa,” sahut orang tua itu tertawa getir.

“Waktu berlalu dengan cepat ”

“Cepat?” teriak orang tua itu marah. “Sama sekali tidak cepat. Setiap hari aku duduk terkurung di sini dan memandangi air telaga!”

Matanya menyorotkan kebencian hatinya. “Maling busuk Yan Cong-tian! Pada suatu hari nanti, aku akan menghancurleburkan tubuhnya.”

Fu Giok-su memeluk bahu orang tua itu, “Yaya hari itu pasti

akan tiba. Sebentar lagi kau sudah bisa meninggalkan tempat ini,” katanya menghibur.

“Keluar?” Sepasang mata orang tua itu beralih ke kakinya yang mengecil. “Apa gunanya keluar? Sepasang kakiku ini ”

Suara orang tua itu demikian menyayat. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu sungguh tidak enak didengar karena lebih mirip tangisan dan ratapan.

“Yaya aku mempunyai kabar yang baik,” kata Fu Giok-su

panik. “Kabar baik apa?”

“Kami sudah mendapatkan Ban-ni-sik-tuan (penyambung ampuh laksaan tahun)”

“Apa? Ban-ni-sik-tuan?” teriak orang tua itu. Dia mencengkeram tangan Fu Giok-su erat-erat. “Hah! Benarkah apa yang kau katakan?”

“Benar.”

“Kau tidak membohongi aku?”

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya dengan tegas.

“Ban-ni-sik-tuan segera akan dikirim ke sini, Pada saat itu, urat-urat Yaya yang terputus dapat tersambung kembali.”

Sembari mendengarkan bibir orang tua itu terus mengembangkan senyuman. Dia tertawa lebar kemudian tiba- tiba dia menangis. “Kalian tentunya berdusta. Kalian hanya ingin menghibur hatiku dan memberi harapan kepadaku!” ratapnya pilu.

“Tidak ... tidak bohong. Mereka mendapatkannya dalam sebuah gua terpencil di daerah Taili. Sekarang sedang dalam perjalanan,” kata Fu Giok-su panik.

Makhluk tua itu memandangi Fu Giok-su. Akhirnya dia percaya juga. Wajahnya berseri-seri seketika.

“Kami sudah mendapat berita bahwa tidak lama lagi Congkoan akan sampai di sini,” kata Fu Giok-su selanjutnya.

Makhluk tua itu tertawa terbahak-bahak. Kalau diperhatikan tingkahnya sudah mirip orang yang kurang waras. “Bagus! Yan Cong-tian, hari kematianmu sebentar lagi akan tiba!” teriaknya lantang.

“Yaya, bagaimanapun kau harus bersabar,” sahut Fu Giok-su mengingatkan.

“Aku ... aku pasti bisa bersabar.” Wajah makhluk tua itu berubah serius, seolah ada sesuatu yang teringat olehnya. “Oh ya. Giok-su, malam ini kilat sudah menyambar demikian

lama kau baru tiba. Apakah telah terjadi sesuatu di atas Bu- tong-san?”

“Aku tadi mengikuti seorang manusia aneh berpakaian hitam,” sahut Fu Giok-su. “Apanya yang aneh?

“Orang ini selain berpakaian hitam juga menutupi wajahnya dengan secarik kain hitam pula. Tampaknya setiap malam dia menyelinap ke dalam lembah yang terpencil dan mengajarkan ilmu silat kepada seorang pelayan,” kata Fu Giok-su menjelaskan.

“Bagaimana hasilnya?”

“Rasanya ilmu murid orang itu masih di atas sun-ji.” Makhluk tua itu terpana, “Hm siapa nama pelayan itu?”

“Wan Fei-yang,” Fu Giok-su merandek sejenak. “Dialah yang selalu mengantarkan makanan untuk Yaya.” Makhluk tua itu terkejut sekali. “Hah?”

“Manusia berpakaian hitam itu kemungkinan besar Ci Siong tojin sendiri,” kata Fu Giok-su dengan nada berat. “Hanya dia yang dapat mengajarkan ilmu demikian tinggi kepada Wan Fei-yang.”

“Ci Siong tojin adalah Ciangbunjin sebuah partai besar. Rasanya dia tidak perlu berbuat demikian,” sahut makhluk tua itu.

“Mungkinkan Yan Cong-tian?”

“Jangan sebut nama orang ini di hadapanku!” teriak makhluk tua itu marah.

“Baik ... baik. Sun-ji tidak akan menyebutnya lagi,” kata Fu Giok-su beruntun.

Hati makhluk tua itu tenang kembali. “Apakah dia mata-mata yang ditanamkan di sini oleh Bu-ti-bun?” gumamnya kemudian.

*****

Menjelang senja.

Laksaan li tidak terlihat awan. Air sungai tenang sekali. Sebuah kapal besar berlayar tiga berhenti di tengah sungai. Di tiang atas berkibar sebuah bendera berwarna putih. Di tengahnya tampak sebuah telapak darah. Tidak usah diragukan lagi, kapal tersebut pasti milik Bu-ti-bun.

Memang benar, salah satu dari empat Hu-hoat Bu-ti-bun, Han- ciang Tiau-siu duduk di dalam kapal. Tidak lama kemudian dia mengeluarkan pancingannya dan melemparkannya ke dalam sungai. Entah apa yang dipancingnya kali ini.

Di angkasa terlihat seekor merpati melintas. Tali pancing Han- ciang Tiau-siu segera dilontarkan. Kaki burung merpati itu terkait dan ditariknya. Dia segera membuka tabung yang terikat di kaki burung tersebut dan mengambil surat yang ada di dalamnya. Setelah itu dilepaskannya burung itu kembali..

Cepat dia membuka surat tersebut dan membaca isinya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Tergesa-gesa dia masuk ke dalam kabin kapal. Tok-ku Hong sedang beristirahat di dalam sebuah kabin. Lukanya hampir sembuh secara keseluruhan. Kongsun Hong malah masih duduk di atas tempat tidur. Dia masih belum bisa bergerak.

“Kabar apa yang dibawa oleh merpati pos kita?” tanya Tok-ku Hong.

Han-ciang Tiau-siu membeberkan surat tersebut di atas meja. “Orang kita sudah berhasil menyelidiki komplotan yang menyamar dan memalsukan kita serta melakukan berbagai pembunuhan.” sahutnya serius.

Tok-ku Hong melihat sekilas. Kemudian dia menyerahkan surat itu kepada Kongsun Hong.

“Tampaknya orang-orang kita harus disuruh ke Go-hok-kek- can dan menyelidiki semuanya.”

“Biar lohu saja yang pergi,” sahut Han-ciang Tiau-siu. “Aku juga,” kata Tok-ku Hong.

“Sumoay ” panggil Kongsun Hong.

“Lukamu belum sembuh, kau tinggal saja di kapal ini,” tukas Tok-ku Hong yang mengerti maksud hati suhengnya.

Kongsun Hong tertawa getir.

Han-ciang Tiau-siu mengerlingnya sekilas dan tersenyum. “Jangan khawatir. Aku akan menjaga Toa-siocia baik-baik,” katanya.

Kongsun Hong terpaksa menganggukkan kepalanya.

*****

Go-hok-kek-can adalah sebuah penginapan besar. Di bawahnya terdapat sebuah rumah makan yang mewah. Tamu berdatangan tiada hentinya.

Han-ciang Tiau-siu dan Tok-ku Hong tidak mencari tempat duduk. Mereka langsung menuju meja kasir. Han-ciang Tiau- siu mengeluarkan sebuah tanda pengenal bertuliskan ‘Bu-ti’ dan meletakkannya di atas meja. Dia menyebut “Wi-tian-wei- toa, Ju-jit-fang-tiong” dengan suara lirih. Ciangkuijin (pemilik penginapan) tertegun. “Huruf Thian kamar nomor tiga,” sahutnya dengan suara berbisik. Kemudian dia menolehkan kepalanya dan memanggil, “Cang Po!”

Seorang pelayan segera mendatangi dengan tergesa-gesa.

“Antar kedua tamu ke kamar nomor tiga dengan huruf Thian,” kata Ciangkui itu selanjutnya.

Cang Po membungkukkan tubuhnya dengan hormat. “Liongwi, silakan!” katanya.

*****

Kamar itu berada di tingkat dua. Dari jendela orang bisa melihat ke jalanan. Ruangannya besar sekali. Di dalamnya sudah menunggu dua orang laki-laki berpakaian mewah. Pintu kamar didorong. Kedua laki-laki berpakaian mewah itu segera menyongsong ke depan.

“Tancu cabang kedua belas Lim Seng dan Hu-tancu Cen Bu menghadap Toasiocia dan Hu-hoat,” kata mereka serentak.

Tok-ku Hong menyahut dengan datar.

“Bagaimana hasil penyelidikan kalian?” tanya Han-ciang Tiau- siu.

“Liongwi silakan duduk dulu,” kata Lim Seng ambil menarik dua buah bangku ke hadapan meja. Cen Bu segera mengeluarkan dua buah kertas gambar dan membentangnya di atas meja. Di atas gambar-gambar itu terlihat dua rang wanita dengan dandanan yang berlainan, keduanya berusia setengah baya.

“Setelah kejadian itu, kami menangkap dua ratus empat puluh tujuh orang dari sembilan puluh tujuh keluarga untuk ditanyai. Setelah melalui pemeriksaan yang panjang, kami menggunakan cara mengenali orang dengan lukisan. Akhirnya kami mendapatkan lukisan yang satu ini,” kata Lim Seng sambil mengunjuk ke gambar yang sebelah kiri.

“Siapa orang ini?”

Lim Seng menunjuk ke arah wajah di lukisan itu.

“Wanita ini adalah ibu kandung Fu Giok-su. Dialah Fu-hujin yang sebenarnya.”

“Lalu, yang ini ...?” tanya Tok-ku Hong.

“Dialah wanita yang terbunuh itu. Kami mengutus sejumlah anak buah untuk menggali kuburan sepanjang malam, setelah itu kami melukis wajah perempuan ini dan kami, perlihatkan kepada para tetangga yang kami tangkap itu. Mereka semua mengenalinya sebagai inang pengasuh keluarga Fu,” sahut Lim Seng.

Mata Tok-ku Hong beralih ke arah lukisan ibu kandung Fu Giok-su.

“Aku takut yang ini juga palsu,” gumamnya. “Tentang palsu atau benarnya, kami hanya tahu dari para penduduk sebelum Ci Siong tojin diajak masuk ke rumah itu,” sahut Lim Seng.

Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Memang Fu-hujin ini juga jadi masalah,” kata Lim Seng selanjutnya.

Cen Bu mengeluarkan lagi secarik kertas dan membebernya kembali di atas meja. Di atasnya tertera huruf-huruf kecil. Cen Bu segera membacanya.

“Menurut laporan dari pedagang Yu Tian, tahun lalu bulan enam tanggal enam, pernah terlihat orang-orang ini muncul di jalan raya di kota Hun Liong. Pada saat itu, mereka menggotong babi panggang dalam jumlah yang banyak, maka dari itu menarik perhatian orang.”

“Teruskan!” kata Tok-ku Hong.

“Menurut laporan pedagang Wang Kiat, tahun yang sama bulan delapan tanggal dua belas, orang-orang ini pernah muncul di Ceng-bwe-ceng dan membeli kain dalam jumlah yang besar. Menurut laporan pedagang Cai Sing, tahun kedua bulan tiga tanggal sembilan, orang-orang ini pernah muncul di Pek-ka-cik. Pada saat itu, mereka memesan berbagai senjata dalam jumlah yang besar pula.”

“Orang-orang ini memang mencurigakan,” kata Tok-ku Hong. “Ada bukti apa lagi?” “Di sini juga terdapat beberapa kuitansi dari berbagai toko. Menurut laporan, keluarga Fu membeli peti mati sejumlah lima puluh sembilan buah. Namun ketika orang-orang kami menggali kuburan, jumlah mayat hanya ada lima puluh. Dan mereka bukan terdiri dari orang-orang yang sehari-harinya keluar masuk rumah keluarga Fu.”

“Ada lagi,” tukas Lim Seng. “Kami berhasil menyelidiki toko yang membuat panji telapak darah palsu. Kami memaksa pemiliknya berbicara. Dia mengatakan bahwa tiga bulan sebelumnya keluarga Fu memesan panji tersebut sebanyak tiga kodi.”

“Kemudian kami berhasil menemukan setengah kodi dalam kamar keluarga Fu. Dua kodi lainnya ditemukan tertanam di dalam tanah,” kata Cen Bu.

“Urusan ini kalian selidiki dengan baik. Pulang ke rumah nanti aku akan mengatakannya kepada ayah. Agar kalian menerima hadiah yang sesuai,” puji Tok-ku Hong.

Lim Seng dan Cen Bu senang sekali mendengar janji itu. Mereka segera berdiri dan menjura dalam-dalam.

“Terima kasih, Toa-siocia,” kata mereka serentak. “Di mana orang-orang itu sekarang?”

Di toko obat seberang jalan,” sahut Lim Seng sambil melangkah menuju jendela. Dia menyingkapkan tirai jendela tersebut. Han-ciang Tiau-siu dan Tok-ku Hong menghampiri. Tampak sebuah toko obat ada di seberang jalan. Toko itu tidak seberapa besar. Di atasnya terdapat sebuah papan merek bertulisan ‘Po-ci’ dua huruf.

“Kita sudah menyelidiki toko obat ini kurang lebih dua bulan lamanya,” kata Lim Seng menjelaskan.

“Apakah kau melihat adanya orang yang mencurigakan keluar masuk toko tersebut?” tanya Tok-ku Hong.

“Setiap tujuh hari sekali, pasti ada seseorang yang sangat misterius datang ke tempat ini.”

“Jelaskan.”

“Orang itu memakai topi pandan berbentuk aneh. Sebagian wajahnya tertutup oleh topi tersebut, seakan takut ada orang yang mengenali wajah aslinya. Setiap kali keluar masuk selalu bertangan kosong. Tampaknya dia serang tokoh penting dalam komplotan tersebut.”

“Apakah kalian ada melakukan gerakan apa-apa?” tanya Han- ciang Tiau-siu.

“Kami takut memukul rumput mengejutkan ular. Oleh karena itu, kami hanya mengutus dua orang anak buah kami yang menyamar dan mengawasi di depan toko tersebut.”

“Kapan orang misterius itu akan muncul kembali?” “Hari ini!” “Turunkan perintah agar mereka mengawasi lebih ketat,” kata Han-ciang Tiau-siu.

Lim Seng dan Cen Bu mengiakan kemudian mengundurkan diri.

*****

Keadaan di luar toko obat tenang sekali. Dekat tembok sebelah kiri ada seorang tukang ramal sedang meramalkan nasib seseorang tamu. Ujung tembok sebelah kanan ada seorang pedagang buah. Tanpa sengaja, kereta buah tersenggol oleh tangannya dan buah-buahan jatuh bergelimpangan di tanah.

Dia memungutnya cepat-cepat. Keadaan di dalam toko lebih sepi. Seorang laki-laki duduk di belakang meja sedang menyiapkan obat-obatan. Seorang laki-laki berpakaian abu- abu muncul dari jalan raya. Dengan langkah santai dia masuk ke dalam toko obat tersebut. Dia memakai sebuah topi pandan berbentuk aneh. Begitu rendahnya topi itu sehingga seluruh wajahnya hampir tidak terlihat.

Dialah orang misterius yang dikatakan oleh Lim Seng dan Cen Bu. Dia juga yang muncul belakangan di rumah keluarga Fu dan membunuh Ti Ciok dan Bok Ciok. Orang aneh tanpa wajah!

Orang tua yang duduk di belakang meja segera berdiri menyambut. “Silakan ... silakan masuk ke ruangan dalam,” katanya.

Orang itu tidak menyahut sama sekali. Masih dengan gerakan santai dia masuk ke ruangan dalam.

*****

“Orang itu yang kau maksudkan?” tanya Tok-ku Hong yang mengintip lewat celah jendela.

“Tidak salah ... dialah orangnya,” sahut Lim Seng cepat-cepat. “Apakah semuanya sudah siap?”

“Semuanya sudah siap,” sahut Lim Seng sambil mengepalkan tinjunya. “Kapan waktu saja kita bisa bergerak.”

“Tidak usah tergesa-gesa,” sahut Tok-ku Hong sambil tertawa dingin. “Mereka sudah terkepung oleh orang-orang kita. Lihat saja perkembangan selanjutnya.”

“Bagus!” Han-ciang Tiau-siu setuju dengan usul itu.

Apa lagi Lim Seng dan Cen Bun, mereka tidak berani mengatakan apa-apa. Kenyataannya di luar toko obat sudah bersembunyi banyak anggota Bu-ti-bun. Asalkan ada perintah dari atasan, mereka akan segera bergerak.

***** Ruangan dalam toko obat agak gelap. Belasan orang menunggu perintah di sekeliling situ. Mereka semua menatap ke arah manusia berpakaian abu-abu. Tidak ada seorang pun yang bersuara.

Manusia berpakaian abu-abu itu berjalan mondar-mandir. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Mata setiap orang mengikuti gerakan si manusia berpakaian abu-abu. Hati mereka tegang sekali.

“Kalian benar-benar ceroboh!” tiba-tiba manusia berpakaian abu-abu itu berkata. Langkah kakinya terhenti.

*****

Tepat pada saat itu, di depan toko obat berhenti sebuah tandu. Tandu itu sangat mewah. Empat laki-laki bertubuh tegap menggotong tandu tersebut dan langsung masuk ke dalam toko obat.

Orang tua yang duduk di belakang meja itu berubah hebat wajahnya melihat kedatangan tandu tersebut. Cepat ia berdiri untuk menyambut.

Siapakah sebetulnya orang yang berada dalam tandu itu?

***** “Kami ...” semua orang tertegun.

“Rahasia tempat ini sudah bocor. Kalian malah tidak ada yang tahu!” nada suara manusia berpakaian abu-abu itu terdengar marah sekali.

Semua orang yang ada dalam ruangan itu kembali tertegun. Mereka saling lirik satu sama lainnya.

“Sekarang tempat ini sudah berada di bawah pengawasan pihak musuh.”

“Tidak mungkin,” tukas seorang laki-laki berusia setengah baya. “Tindak-tanduk kita selama ini selalu dirahasiakan. Kami selalu berhati-hati.”

“Kalau sampai rahasia di sini bocor ...?” “Tidak mungkin.”

Manusia berpakaian abu-abu itu tertawa dingin, “Entah siapa yang melaporkan kepada Congkoan (petugas dari pusat).”

“Kalau yang dimaksudkan tukang ramai dan bocah penjual buah-buahan yang ada di luar toko ”

“Mereka sudah ada di sini sejak dua bulan yang lalu.”

“Apakah tidak terlihat apa-apa yang mencurigakan pada diri mereka?”

“Rasanya tidak ” “Justru aku merasa mereka terlalu istimewa,” kata manusia berpakaian abu-abu itu sambil tertawa dingin terus-menerus. “Peramal itu meramal berdasarkan dewa Cu-kek. Seharusnya dia menggunakan lima uang logam. Tapi tadi aku lihat dia hanya menggunakan empat mata uang logam saja. Dengan bukti ini, sudah terang dia itu peramal gadungan,” dia merandek sejenak, “mengenai bocah penjual buah-buahan itu, juga patut dicurigai. Tadi gerobaknya tersenggol. Aku sempat mendengar suara berdenting dari bawah gerobak tersebut.

Dapat dipastikan bahwa dia menyembunyikan beberapa buah senjata di bawah gerobaknya.”

“Lagi pula ” terdengar sahutan suara seorang wanita

berkumandang dari luar. “Di atas penginapan Go-hok-kek-can sudah ada yang mengawasi kita.”

*****

“Siapa lagi orang yang berada dalam tandu itu?” tanya Tok-ku Hong heran.

“Tidak tahu ” Lim Seng mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebelumnya belum pernah aku melihat adanya tandu semacam itu muncul di situ.”

“Kemungkinan orang yang kedudukannya lebih tinggi dan diutus oleh ketua mereka untuk mengontrol keadaan,” kata Han-ciang Tiau-siu dengan nada berat.

Tok-ku Hong juga mempunyai pendapat yang sama. Tapi dia diam saja.