-->

Ilmu Ulat sutera Jilid 01

Jilid 01

Angin barat menerbangkan dedaunan bagaikan sedang menari nari. Musim semi hampir berakhir.

Di bawah percikan air terjun, di samping rimba pohon yang lebat. Di atas sebuah batu besar yang terdapat di tengah sungai yang sedang mengalir, berdiri seorang laki-laki berpakaian putih.

Pakaiannya yang putih laksana salju yang menerpa. Rambut orang itu seluruhnya berwarna putih seolah ditutupi salju musim dingin. Bukan hanya rambutnya yang berwarna putih. Alisnya juga berwarna putih. Mestinya wajah seperti itu hanya dimiliki orang yang berusia lanjut, namun anehnya tidak ada sedikit pun kerutan pada wajah orang ini. Sulit menerka berapa usia orang itu sebenarnya.

Sepasang alisnya tinggi dan tebal. Mimik wajahnya dingin dan datar. Terasa sekali hawa pembunuhan yang memancar dalam sinar matanya. Warna kulitnya pucat seperti kulit ikan yang sudah mati. Tidak terlihat sedikit pun rona merah sebagaimana manusia yang mempunyai darah. Bibirnya juga demikian. Tidak beda dengan sesosok mayat hidup.

Yang paling mengerikan dan membuat hati bergetar justru sepasang matanya. Bentuknya sipit dan panjang. Bola matanya hanya berwarna putih secara keseluruhan. Tidak ada bola hitam di tengahnya. Di tangan kirinya tergenggam sebatang pedang panjang yang membuat penampilan orang itu semakin angker. Panjang pedang itu kira-kira satu setengah meter.

Nyata sekali pedang yang dibawanya bukan pedang sembarangan. Orang akan berpikir dalam hati, bagaimana cara menggunakan pedang sepanjang itu? Untuk menghunusnya saja pasti akan menemui kesulitan.

Orang ini menggunakan pedang sepanjang itu sebagai senjata. Apabila bukan untuk memamerkan diri, pasti ilmunya sangat tinggi. Kecepatannya juga tentu secepat kilat.

Pokoknya semua yang ada pada diri orang ini lain daripada yang lain.

*****

Air sungai yang deras itu bergerak-gerak menghantam batu tersebut. Butiran air memercik ke mana-mana. Angin masih bertiup dengan kencang. Daun-daunan rontok beterbangan dan menimbulkan suara menderu-deru.

Lengan baju orang itu melambai-lambai. Rambutnya yang putih beriap-riap. Benda-benda yang ada antara langit dan bumi seperti sedang berlomba saling bergerak. Hanya manusia berpakaian putih itu yang bergeming sedikit pun. Tubuhnya seolah telah bersatu dengan batu yang dipijaknya. Dari jauh tampaknya seperti gumpalan kabut yang menutupi sebuah arca.

Gumpalan kabut yang membisu ....

Angin bertiup menerpa alam sekeliling. Mata orang itu tiba-tiba terbelalak. Sinar matanya yang sedingin es tidak menampilkan perasaan apa-apa. Siapa pun tidak akan menyangka bola mata yang sedemikian rupa dapat menyorotkan sinar setajam belati. Matanya bergerak, demikian juga tubuhnya. Suasana mencekam jadi riuh seketika. Tubuhnya melesat bagaikan sebatang anak panah. Pedang dan sarungnya ikut berkelebat.

Sarung pedang itu patah dibuatnva. Hanya melesak ke dalam batu yang dipijaknya. Tubuh manusia berpakaian putih itu meloncat di udara. Pedangnya telah terhunus. Keduanya berkelebat di udara bagai sebaris pelangi dan mengarah ke sehelai daun yang sedang terbang ditiup angin.

Panjang pedang tersebut satu setengah meter. Dengan kecepatan yang sulit dijelaskan, dia menusuk ke arah daun merah yang sedang melayang itu.

"Crep!" pedang itu menembus daun tersebut. Mengagumkan! Daun itu sama seperti daun yang sering terlihat. Gerakan pedang yang kuat ternyata tidak membuat daun itu terempas. Hanya satu hal yang dapat dijelaskan dari keadaan itu.

Gerakan pedang itu terlalu cepat. Melebihi kecepatan daun tersebut. Belum sempat daun terempas oleh deruan angin yang ditimbulkan, pedang sudah menusuknya.

Tiba-tiba pedang itu ditarik kembali. Daun itu terlepas dan melayang kembali. Sebelum sempat mencapai tanah, manusia berpakaian putih itu sudah berdiri tegak di tempatnya semula. Kedua kakinya bergeming sedikit pun. Tangan kanannya masih menggenggam pedang seperti sebelumnya. Dan pedang itu juga masuk kembali ke dalam sarungnya.

Matanya tetap bersinar tajam. Tubuhnya tidak bergerak juga, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Angin tetap bertiup kencang. Daun merah tadi masih melayang-layang. Pada saat itu, sebuah suara mengumandang lewat semilir angin ....

"Belum mencapai tiga bulan ilmu pedang sute sudah mengalami kemajuan demikian pesat!"

Suara itu lembut menyeramkan. Kedengarannya berada di kejauhan, namun kata-katanya jelas sekali seperti berbicara di hadapan. Baru saja perkataannya selesai, tubuh orang itu melayang melalui hutan yang rimbun dan mendarat di tepi sungai. Ternyata jatuhnya persis bagai sehelai daun merah tadi. Sama sekali tidak menimbulkan suara.

Bentuk tubuhnya tinggi kurus. Pakaiannya berwarna abu-abu. Dari jauh tampak seperti sebatang bambu. Sebelum tubuhnya mendarat di tanah tadi, tangannya terulur dan membentuk cengkeraman. Daun merah yang sedang melayang tadi dijepitnya dengan dua buah jari. Ternyata daun merah yang sedang melayang itu juga tidak terempas oleh angin yang ditimbulkan oleh gerakan tubuhnya. Ketika mendarat di tanah, kakinya tidak memperdengarkan suara sedikit pun. Tidak beda dengan segumpal kabut yang melayang turun di tanah.

Sebelum mencapai tanah, setiap jengkal tubuhnya bagai bergerak semua. Sampai kakinya memijak baru semua gerakan itu berhenti.

Tampaknya manusia berpakaian abu-abu ini sudah berumur. Seluruh wajahnya penuh keriput. Rambut dan jenggotnya berwarna putih keabu-abuan. Tidak lebat sehingga dapat dihitung.

Manusia berpakaian putih tadi memperhatikannya.

"Tampaknya ginkang toako juga maju pesat!" hanya sepatah kata itu saja katanya.

Manusia berpakaian abu-abu tadi tertawa lebar. Tangannya dikibas. Selembar daun marah tadi tersentak dan melayang kembali dari jarinya. Dalam waktu yang bersamaan, berpuluh sinar berwarna keperakan meluncur ke arah daun tersebut kemudian menusuk di permukaannya dan tembus di atas batu besar di tengah sungai. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata sinar putih itu terdiri dari berpuluh-puluh batang jarum. Puluhan batang jarum itu begitu halus bagaikan bulu kerbau.

Tampak seorang wanita berpakaian mewah berjalan keluar dari hutan yang lebat. Pakaiannya berwarna-warni. Usianya tidak muda lagi. Namun sulit untuk menerka berapa usia wanita itu yang sebenarnya. Tubuhnya sedang.

Penampilannya mempesona. Alisnya lebat dan matanya jeli sekali. Siapa pun yang melihatnya pasti sukar mengalihkan pandangan.

Langkah kakinya tidak seberapa cepat. Pinggangnya melenggang-lenggok. Gerakan pinggulnya membuat orang menduga bahwa pinggang itu bisa patah dibuainya. Namun ternyata tidak. Kedua tangannya yang tersembul dari balik lengan baju demikian halus dan berseri. Apa lagi ketika dia mengangkat tangan kanannya dan merapikan rambutnya yang tergerai karena tiupan angin nakal. Gayanya begitu mempesona. Tidak beda dengan wajahnya yang cantik menggiurkan. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya bahwa tangan yang indah dapat menyebarkan jarum yang demikian beracun dan mematikan.

Begitu tangannya yang halus mengebas, jarum yang berjumlah empat puluh sembilan batang itu menghambur bagai hujan anak panah di angkasa. Kecepatannya sulit dilukiskan. Sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa ilmu menggunakan senjata rahasia wanita itu tidak dapat dipandang remeh.

Manusia berpakaian abu-abu itu menatap daun yang melayang jatuh di alas batu tadi. Dia menghela napas panjang.

"Sayang sekali "

"Apanya yang sayang sekali?" tanya wanita itu sambil tersenyum simpul. Senyum dan suaranya ternyata sama menggiurkan seperti orangnya sendiri.

"Empat puluh sembilan batang jarum sekaligus dilancarkan dan tepat mengenai daun tersebut. Siapa pun akan mengakui bahwa cara menggunakan senjata semacam ini termasuk kelas satu di dunia kangouw. Namun belum dapat disebut tidak terkalahkan," sahut manusia berpakaian abu-abu. "Bagaimana menutupi kekurangan tersebut?" tanya wanita itu kembali.

"Perubahan dalam gerakan," sahut manusia berpakaian abu- abu. "Untuk menyebarkan empat puluh sembilan batang jarum tersebut, setidaknya harus menggunakan tujuh perubahan."

"Apakah tujuh jurus perubahan tidak terlalu banyak?" "Tidak banyak " mata manusia berpakaian abu-abu itu

beralih kepada wajah wanita itu. "Sebelum senjata rahasiamu

mencapai sasaran, paling tidak aku dapat menjalankan lima jurus perubahan. Meskipun belum dapat disamakan dengan jurus Te-hun-cong dan Bu-tong-pai, namun sudah pasti dapat menghindarkan diri dari senjata rahasiamu. Mungkin aku masih sempat melancarkan sebuah serangan kepadamu."

"Untung saja manusia yang mempunyai ginkang setinggi toako sudah jarang di dunia ini. Menurut apa yang aku ketahui, ilmu Te-hun-cong dari Bu-tong-pai sudah kehilangan ahli warisnya," kata wanita itu.

"Kalau menurut apa yang aku ketahui, justru tidak " mata

manusia berpakaian abu-abu itu menyorot bagai seekor elang sedang menanti mangsanya. "Paling tidak, aku sudah melihat salah seorang murid Bu-tong-pai yang sanggup memainkan jurus tersebut."

"Mungkinkah yang kau maksudkan adalah Bu-tong Tiang Ceng?" tanya wanita itu penasaran.

"Benar memang Ci Siong tojin," lagi-lagi manusia

berpakaian abu-abu itu menarik napas panjang. "Te-hun-cong adalah salah satu dari tujuh ilmu pusaka Bu-tong-pai. Mana mungkin dibiarkan kehilangan ahli warisnya begitu saja?"

"It-ciu-jit-am-gi (sekali lempar tujuh senjata rahasia) juga termasuk salah satu di antaranya."

"Memang betul," sahut manusia berpakaian abu-abu.

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Moa-ti-hue-ho (hujan bunga di seluruh permukaan bumi)?" tanya wanita itu.

"Dapatkah kau melancarkan tujuh buah senjata rahasia yang jenisnya berlainan dan beratnya tidak sama serta harus mencapai sasaran dalam waktu yang bersamaan?" malah balas bertanya sewaktu ditanya.

"Apakah demikian cara memainkan jurus It-ciu-jit-am-gi?"

Manusia berpakaian abu-abu itu menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.

Wanita itu merenung sekian lama. Tidak terlihat lagi sedikit pun senyuman menghias bibirnya. Manusia berpakaian putih yang berdiri tegak di atas batu itu mengedarkan pandangan dengan sinar matanya yang tajam.

"Apakah kecepatan dan ketepatan Liong-gi-kiam-hoat dari Bu- tong-pai dapat menandingi ilmu pedangku tadi?" tanyanya tiba-tiba.

"Jauh lebih cepat dan tepat."

"Apakah semua yang dikatakan toako ini benar adanya?" tanya manusia berpakaian putih itu lagi sambil tertawa dingin.

Yang ditanya tidak menyahut lagi. Dia hanya tertawa lebar. Manusia berpakaian putih itu masih memandangnya.

Wajahnya berubah pucat. Pada saat itu juga terdengar sebuah suara berkumandang dari dalam hutan.

"Entah bagaimana kalau dibandingkan dengan Peng-lui-to aku ini?"

Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berjalan keluar dari dalam hutan.

"Maksudmu ... membandingkannya dengan Kui-soa-to dari Bu-tong-pai?" tanya si manusia berpakaian abu-abu.

Tubuhnya kekar. Gumpalan daging di dadanya sudah berotot. Pakaiannya berwarna merah seperti para pemburu yang mana sebelah lengannya telanjang. Namun dia menyandang sebuah golok yang besar.

Cahaya memijar, goloknya yang telah terhunus berkelebat, lalu melayang turun ke arah daun yang tertancap berpuluh batang jarum beracun tadi. Sebelum mata yang lain sempat melihat dengan jelas, batu besar yang terdapat di tengah sungai itu telah terbelah menjadi dua bagian. Manusia berpakaian merah tadi menarik goloknya kembali kemudian mengacungkannya ke atas langit dan berteriak nyaring. Suara teriakannya persis seperti petir yang menyambar, membuat hati yang lainnya tergetar dan jantung mereka berdegup kencang.

Pandangan mata manusia berpakaian abu-abu mengikuti gerakannya. "Bagus!" katanya.

Manusia berpakaian merah itu tertawa terbahak-bahak.

"Toako hanya berharap setiap musuh yang kau hadapi seperti batu itu adanya," rupanya perkataan manusia berpakaian abu- abu tadi belum selesai.

"Apa maksudnya?"

"Berdiri tegak di tempatnya dan menantikan kedatangan golokmu yang akan menebasnya menjadi dua bagian," jawaban selanjutnya.

Manusia berpakaian merah itu menggertakkan giginya. Dia langsung menerjang ke arah manusia berpakaian abu-abu dan menyerangnya sebanyak tiga belas kali. Manusia yang menyebut dirinya toako itu seperti tidak tahu. Namun begitu golok itu sudah berada dekat dengan dirinya, tubuhnya yang tinggi kurus mencelat ke atas seperti terbang di udara.

Dengan gesit dia menghindarkan semua serangan itu lalu melayang turun ke atas sebuah batu yang lain.

Manusia berpakaian merah itu tidak mengejarnya. Dengan kesal dia melemparkan goloknya di atas tanah.

*****

"Delapan belas tahun ...," gumam si manusia berpakaian abu- abu itu. Dia menarik napas panjang. Wajahnya seakan bertambah tua beberapa tahun. "Bagaimana kepandaian kami bila dibandingkan dengan delapan belas tahun yang lalu?" tanya si wanita berpakaian warna-warni penasaran.

"Jauh lebih baik. Namun menurut pendapatku, masih tetap terpaut cukup jauh. Misalnya sam-moay ...," pandangan mata manusia berpakaian abu-abu beralih kepada satu-satunya wanita yang ada di sana. "Kau masih belum mengubah kebiasaanmu mengenakan pakaian yang berwarna-wami itu."

"Aku memang menyukai pakaian yang indah," sahut wanita itu sambil mengembangkan sebuah senyuman yang dipaksakan.

"Toako lupa bahwa sam-moay adalah seorang wanita. Mencintai keindahan adalah sifat wanita pada umumnya," tukas manusia berpakaian merah.

"Lagipula, dengan pakaian warna-warni yang begitu mencolok, setiap musuh yang memandangnya mungkin akan menjadi silau dan lupa diri. Pada saat itu tepat sekali untuk melancarkan senjata rahasia," kata manusia berpakaian abu- abu yang kemudian menarik napas sekali lagi. "Namun, bisa jadi pihak musuh malah menjadi waspada sebelumnya."

Semua orang terdiam. Mata manusia berpakaian abu-abu itu beralih kepada yang lain lalu berpindah pada setiap orang.

"Seandainya kita gagal lagi kali ini, tampaknya kesempatan kita tidak akan ada lagi. Ada sedikit perkataan yang sebetulnya ingin kusimpan dalam hati ini. Namun seperti sesuatu yang mencekat di tenggorokan, rasanya tidak enak kalau belum dikeluarkan." "Kalau begitu, keluarkan saja."

"Selama beberapa tahun ini, aku percaya kalian sudah banyak menderita. Aku juga yakin orang yang dapat melawan kita di dunia kangouw sekarang sudah tidak banyak."

"Lalu ... apa lagi yang kita nantikan?" tanya si manusia berpakaian merah sambil membusungkan dadanya.

"Dengan mengandalkan kepandaian kita, rasanya masih belum cukup untuk menguasai dunia kangouw. Kita semua sudah berusaha sekuat tenaga, tampaknya kita tidak mungkin maju lebih jauh lagi. Meskipun kita berlatih dengan berat dan tanpa mengenal panas atau pun hujan. Kita tetap tidak bisa maju lebih banyak lagi," kata manusia berpakaian abu-abu itu dengan wajah tertunduk.

"Mungkin kita harus mempelajari ilmu orang lain "

Manusia berpakaian putih paling jarang membuka mulut. Tiba- tiba dia menukas "Bukankah tujuh ilmu pusaka dari Bu-tong- pai paling cocok sebagai pilihan?"

Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya tanpa menyahut.

Wanita dengan pakaian warna-warni itu tertawa lebar.

"Sayangnya usia kita semua sudah terlalu tua. Meskipun dengan kebulatan tekad ini, kita tidak segan-segan datang ke Bu-tong-san dan memohon diterima sebagai murid, namun aku yakin Ciangbunjin (ketua) Bu-tong-pai tidak akan menerima kita," sahutnya.

"Lalu ... apa yang harus kita lakukan?" tanya manusia berpakaian merah dengan wajah cemas.

"Untuk mempelajari ilmu aliran orang lain, menurut pendapatku, paling tidak ada tujuh ratus cara untuk melakukannya," kata sang toako.

"Tidak salah. Kalau toako berani berkata demikian, aku yakin toako pasti sudah menemukan jalan yang dapat diandalkan," sahut si manusia berpakaian putih.

Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya bukan aku yang menemukan jalan ini.

Sebelumnya sudah ada orang lain yang pernah mencobanya

dan berhasil."

Ketiga orang yang lainnya seperti teringat sesuatu. Mimik wajah mereka berubah-ubah.

"Setelah mengalami kegagalan satu kali, rasanya kita tidak akan ceroboh lagi," kata si manusia berpakaian abu-abu.

"Tapi siapa di antara kita yang cocok mengemban tugas ini?" tiba-tiba si putih itu bertanya.

"Siapa pun tidak cocok," si putih kembali mengedarkan pandangannya. "Usia kita terlalu tinggi. Lagipula dengan nama besar yang pernah kita sandang, aku yakin tidak seorang pun di antara kita yang kuat menahan hinaan seperti ini," lanjutnya. Ia lalu mengerutkan keningnya, "Apakah toako menginginkan dia?" tanyanya seperti kepada diri sendiri.

"Coba katakan, bukankah 'dia' yang paling sesuai dan tepat untuk mengemban tugas ini?" manusia berpakaian abu-abu itu tersenyum lebar.

Kembali si putih manggut-manggut mengiakan. Wanita yang mengenakan pakaian warna-warni itu mengerling genit. Dia tertawa terkekeh-kekeh, "Sebenarnya 'dia' juga anak yang cerdas sekali," tukasnya.

"Setidaknya lebih cerdas dari aku," sahut rekannya yang berpakaian merah.

"Kalau kalian semua tidak ada yang merasa keberatan, maka kita putuskan begitu saja," selesai berkata tubuh toako mereka melesat ke atas bagaikan segumpal asap. Kemudian dia menutulkan kakinya di atas sebuah batu kerikil dan melayang pergi.

Ketika manusia berpakaian merah memungut goloknya yang dilempar tadi, bayangan si wanita berpakaian warna-warni sudah tidak terlihat lagi.

"Sungguh menyenangkan! Sungguh menyenangkan!" serunya lantang. Dia tertawa terbahak-bahak lalu berjalan ke arah dari mana dia datang tadi.

Si putih memandangi bayangan punggung laki-laki tinggi besar berpakaian merah itu sampai menghilang dari pandangannya. Dia memutar pergelangan tangannya dan mencabut sarung pedang yang amblas dalam batu besar tadi. Tubuhnya berkelebat, terbang melalui sungai yang mengalir deras, menghilang dalam hutan yang lebat.

Batu besar itu pecah berantakan. Kepingan-kepingannya jatuh ke dalam air dan menimbulkan percikan-percikan. Ketika bunga-bunga air tidak terlihat lagi, semuanya kembali seperti sedia kala. Angin barat bertiup makin kencang.

*****

Menjelang pagi ... kegelapan belum seluruhnya memudar. Kabut masih menebal.

Dua puluh tujuh bangunan besar kecil tertutup kabut. Begitu tebalnya sehingga atap bangunan itu pun tidak dapat terlihat jelas. Seluruh Bu-tong-san (Gunung Bu-tong) tampak bagai nirwana bagi manusia.

Lonceng nyaring berbunyi. Kumandangnya bergema melalui gunung yang tinggi. Bagi Bu-tong-san sendiri, suara lonceng itu menandakan bahwa hari yang baru sudah dimulai. Suara lonceng itu terdengar terus. Saling susul-menyusul. Kabut perlahan mulai menipis, seolah terpencar oleh suara lonceng tersebut.

Ketika suara bacaan ayat suci perlahan menghilang dari gedung yang beratap ungu, para murid Bu-tong-pai sudah bersiap di lapangan terbuka. Mereka mulai melatih ilmu yang mereka kuasai. Suara sentakan pasang surut. Sebagian besar murid Bu-tong-pai bertelanjang dada. Mereka adalah murid- murid yang berlatih ilmu tinju. Suara dan gerakan mereka sama teraturnya.

Beberapa depa dari tempat tersebut, di hadapan sebuah tembok tinggi, belasan murid Bu-tong-pai sedang melatih ilmu melemparkan senjata rahasia. Seseorang bertubuh tinggi kurus berdiri di belakang memperhatikan. Tangannya juga kurus sekali. Namun yang mengherankan justru telapak tangannya begitu besar dan jauh berbeda dengan biasanya. Dialah generasi muda dari Bu-tong-pai. Ilmu silat dan senjata rahasianya terlatih dengan baik. Dia bernama Yo Hong.

Di hadapan tembok terdapat sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia. Di sekitarnva sudah terdapat beberapa senjata rahasia yang dilemparkan. Yo Hong berjalan melalui salah seorang murid di situ. Tubuhnya bergerak ke samping. Secepat kilat tangannya diulurkan dan mengibas. Sebatang pisau terbang menancap di tengah dada papan kayu berbentuk tubuh manusia tadi.

Setiap murid Bu-tong-pai yang ada di tempat itu mengangkat wajahnya dan memandang dengan terkejut. Yang paling terkejut justru seseorang yang berdiri beberapa senti di samping papan kayu tersebut.

Pagi hari di atas gunung memang jauh lebih dingin dari pada di kaki gunung. Namun sekarang masih belum saatnya untuk memakai mantel berbulu yang tebal. Orang itu mengenakan beberapa helai mantel yang cukup tebal. Kelihatannya aneh sekali. Bahkan kaki dan lengannya juga tertutup oleh mantel yang tebal dan kepanjangan itu. Begitu pun bagian kepalanya. Hanya sepasang matanya yang kelihatan. Dan yang paling aneh justru di depan dan belakang tubuhnya dilapisi oleh selembar besi yang lebar.

Secara otomatis kepalanya menoleh ke arah suara pisau terbang yang menancap di atas papan kayu tadi. Matanya terbelalak dan ketakutan.

"Berlatih senjata rahasia bukan saja memerlukan kecepatan, tapi juga harus dapat mengukur dengan tepat dan memakai naluri," kata Yo Hong tenang. Matanya mengerling dan terhenti kepada orang yang memakai mantel tebal tersebut. "Sekarang giliranmu."

Tubuh orang itu gemetar. "Aku?" tanyanya gugup.

"Mengapa bengong-bengong di sana?" sentak Yo Hong.

Mata orang itu bersinar. Akhirnya dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia dan mengikatnya ke pinggang sendiri.

Yo Hong membalikkan sebagian tubuhnya dan berseru, "Pukul tambur!"

Di bawah pohon di ujung sana ada sebuah tambur yang terbuat dari kulit kerbau. Seorang murid Bu-tong-pai yang bertelanjang dada mendekati tambur tersebut dengan dua buah pentungan kayu di sepasang tangannya. Dia memukul tambur dengan sekuat tenaga. Suaranya yang memekakkan telinga membuat orang itu terkejut. Dia meloncat beberapa kali dan akhirnya berhenti di hadapan para anak murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih senjata rahasia.

"Mulai!" teriak Yo Hong.

Mendengar suara Yo Hong, kaki orang itu semakin lemas. Dia tidak sanggup berdiri tegak, apa lagi melarikan diri dari tempat itu. Sementara itu murid-murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu segera menimpukkan senjata rahasianya.

"Sret! Sret! Sret!" suara senjata rahasia segera terdengar susul-menyusul. Beberapa di antaranya mengenai papan kayu tadi. Dan sisanya persis menancap di samping bahu orang tersebut.

Senjata rahasia itu terdiri dari berbagai jenis. Keahlian mereka pun berbeda-beda, baik gerakan pinggang maupun kuatnya tenaga ketika menimpuk. Namun mereka belum seberapa pandai melakukannya. Tampaknya orang yang bersandar pada papan kayu itu kapan saja dapat menjadi sasaran empuk senjata rahasia tadi.

Untung saja pakaiannya tebal sekali. Sedangkan pada bagian yang berbahaya dilindungi oleh selembar besi yang lebar.

Tentu saja otaknya sama sekali tidak sinting. Dia sadar dirinya dijadikan sasaran hidup. Untuk berlatih senjata rahasia, tentu saja sasaran hidup lebih sukar daripada sasaran yang berbentuk benda mati. Setelah berhasil berlatih dengan benda mati. mereka baru boleh melanjutkan dengan benda hidup.

Para murid Bu-tong-pai sudah mempunyai kemampuan tersebut. Namun hari ini adalah untuk pertama kalinya mereka berlatih dengan sasaran hidup.

Bagi mereka, tentu saja latihan ini sangat menyenangkan. Namun bagi orang yang menjadi sasaran itu, sama sekali tidak menyenangkan, bahkan mengerikan. Entah apa maksud orang yang memukul tambur itu. Mungkin dia sengaja ingin menyulitkan orang yang menjadi sasaran hidup tersebut. Dia memukul tamburnya semakin keras saja. Diiringi suara desingan senjata rahasia. Bahu orang yang menjadi sasaran terkena lagi tiga batang senjata rahasia. Suara pukulan tambur dan desingan senjata masih terus berlangsung, namun senyum lebar orang yang memukul tambur sudah lenyap. Begitu juga dengan murid Bu-tong-pai yang lain. Pada saat itu, senjata rahasia yang ditimpukkan tidak mengarah pada papan kayu tadi lagi, tapi pada orangnya.

Orang itu juga dapat merasakan kesengajaan mereka. Matanya yang tersembul di balik kerudung memancarkan kemarahan. Kakinya berdiri tegak.

"Apa sebetulnya yang kalian inginkan?" teriaknya. Dalam waktu yang bersamaan, beberapa senjata rahasia sudah mengincar dirinya kembali. Kedua tangannya terangkat dan menangkis secara serabutan.

Dia dapat melihat sasaran mereka bukan lagi papan kayu tadi. melainkan dirinya. Suara yang memekakkan telinga tetap terdengar. Senjata rahasia yang ditimpukkan tidak satu pun yang mengenai papan kayu. Semuanya menancap di pakaiannya yang tebal.

Baru sekarang orang yang memukul tambur itu dapat tertawa kembali. Sebelumnya mereka begitu serius sehingga suasana menjadi hening.

"Siapa suruh kau berdiam diri di tempat itu? Kalau masih tidak mau lari, jangan salahkan kami kalau tubuhmu menjadi perkedel!" teriaknya lantang. Pukulan tamburnya semakin bergemuruh dan membisingkan. Kali ini, orang yang menjadi sasaran hidup itu segera lari kalang kabut. Dia tidak menentukan arah ke mana dia harus lari. Akibatnya, senjata rahasia tetap mengikutinya dan menancap di belakang tubuhnya. Untung saja pakaiannya begitu tebal sehingga tidak ada satu pun yang melukai dirinya. Tujuh orang murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu tiba- tiba saja menjadi bodoh. Timpukan senjata rahasia mereka semakin melenceng jauh. Hal ini tidak perlu diherankan.

Mereka biasa berlatih dengan papan kayu yang tidak bergerak, sedangkan sekarang sasaran mereka merupakan manusia hidup yang bergerak mengikuti kemauan hatinya. Suara tambur semakin keras, menenggelamkan suara tawa mereka.

Hanya suara Yo Hong yang terdengar jelas. Dia malah terpingkal-pingkal melihat kejadian tersebut. Mata orang yang dijadikan sasaran menyorot semakin berang. Tiba-tiba dia berteriak nyaring dan menerjang secepat kilat. Dia menerjang ke arah Yo Hong.

Namun sesampainya di hadapan pemuda itu, langkah kakinya berhenti. Dia masih belum mempunyai keberanian untuk melawan Yo Hong. Dengan kesal dia membuka papan kayu yang terikat di pinggangnya dan dilemparkan ke atas tanah.

Dia juga membuka kerudung kepalanya yang tebal. "Aku tidak mau melakukannya lagi?" katanya kesal.

Ketika kerudungnya dibuka, terlihatlah sebuah wajah yang masih muda belia. Dia tidak disebut tampan, namun kalau diperhatikan juga tidak terlalu jelek. Rambutnya sudah basah oleh keringat. Keningnya dipenuhi keringat sebesar-besar kacang kedelai. Mengenakan pakaian yang demikian tebal pada cuaca seperti ini sungguh tidak menyenangkan.

Wajahnya merah padam, pertanda bahwa dia marah sekali. Matanya menatap ke arah tujuh orang murid Bu-tong-pai lainnya secara bergantian, kemudian beralih kepada Yo Hong dengan dingin dan akhirnya berhenti pada kayu papan yang dilemparkannya tadi.

"Trang!" terdengar suara yang memekakkan telinga. Sasaran hidup itu terkejut setengah mati. Yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak. Yo Hong maju beberapa langkah. Tangannya menuding orang itu dengan mata mendelik.

"Wan Fei-yang! Apa maksudmu dengan tidak ingin melakukannya lagi?" tanyanya garang.

"Aku tidak mau menjadi sasaran senjata rahasia kalian lagi!" sahut pemuda yang rupanya bernama Wan Fei-yang itu.

"Kalau kau tidak mau, lalu siapa yang mau?" "Aku tidak peduli!"

"Kau lupa apa yang dipesan oleh ji-suheng?" tanya Yo Hong.

"Ji-suheng memang menyuruh aku memegangi kayu agar kalian dapat berlatih, tapi bukan meminta aku menjadi sasaran senjata rahasia kalian," sahut Wan Fei-yang.

"Manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Tanpa sengaja senjata rahasia mereka mengenai tubuhmu. Dalam latihan, hal ini memang tidak terelakkan," kata Yo Hong. "Kalian memang sengaja mengarahkan senjata rahasia itu kepada diriku. Jangan kira aku tidak tahu!" sahut Wan Fei- yang mendongkol.

"Baik! Kalau begitu, kau memang sudah bertekad tidak mau melakukannya lagi?" tanya Yo Hong dengan mata menyorotkan hawa amarah.

"Memang tidak!" sahut Wan Fei-yang sambil membalikkan tubuhnya dan berniat meninggalkan tempat itu.

Yo Hong maju lagi beberapa langkah. Para saudaranya yang lain segera mengikuti tindakannya. Mereka mengurung Wan Fei-yang. Pemuda itu mundur tiga langkah.

"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya.

"Baik ... anak haram ... kami ingin melihat apa yang kau andalkan sehingga begitu berani melawan kami?" kata salah seorang murid perguruan itu dengan maksud ingin mencengkeram pemuda itu.

Wajah Wan Fei-yang berubah hebat.

"Apa yang kau katakan?" teriaknya marah.

"Anak haram!" kata orang tadi sambil mencengkeram leher baju Wan Fei-yang. "Apakah kata-kataku salah?"

Wajah Wan Fei-yang semakin berubah. Dadanya hampir meledak. "Kalau kau tidak bersedia, semua tidak bisa melatih ilmu senjata rahasia lagi. Seandainya ji-suheng sampai menegur, jangan salahkan kami, kau yang memang memintanya," kata Yo Hong sebelum Wan Fei-yang sempat menyahut apa-apa.

"Sekarang juga aku akan menemui ji-suheng," sahut Wan Fei- yang.

"Pergilah ...!" kata orang yang mencengkeram leher baju pemuda itu.

Wan Fei-yang mengibaskan kedua tangannya, "Lepaskan dulu aku!" bentaknya.

Orang itu segera melepaskan cengkeramannya, namun tangan kanannya segera melayang dan menampar pipi Wan Fei-yang.

"Apa hakmu untuk membentak-bentak di sini?" tanyanya garang.

Pada saat itu, terdengar sebuah suara yang berat dan tegas, "Bukannya melatih ilmu silat senjata rahasia, kalian malah membuat keributan!"

Setiap orang menoleh ke arah datangnya suara. Seorang laki- laki bertubuh tinggi besar dan bertampang kasar berjalan menghampiri. Dia adalah Cia Peng, Ji-suheng yang ingin mereka temui.

Wan Fei-yang segera menyongsongnya, "Ji-suheng ...!" sapanya. Cia Peng melirik ke arahnya. Keningnya berkerut, "Lagi-lagi kau yang membuat keributan?" tegurnya sinis.

Tangan Wan Fei-yang menuding beberapa saudara seperguruannya, "Beberapa orang itu "

Belum juga perkataannya selesai, Cia Peng memukul jari tangannya yang sedang menuding.

"Sungguh tidak sopan!" bentaknya marah. Tangan Wan Fei- yang sampai kesakitan dibuatnya, namun dia menahannya dalam-dalam dan tidak berani memperlihatkan.

"Mereka ... mereka "

"Mereka menghina engkau lagi bukan?" tukas Cia Peng.

Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya. Belum sempat dia menjelaskan lebih lanjut, Cia Peng sudah melayangkan tangannya dan menambah sebuah tamparan di pipinya.

"Kau kira siapa dirimu itu? Mengapa mereka harus menghinamu?" bentaknya.

Mendapat tamparan yang tidak disangka-sangka itu, Wan Fei- yang sampai berdiri termangu-mangu. Cia Peng mendengus dingin. "Dalam satu hari, entah berapa kali aku harus mendengar perkataan yang sama Apakah seluruh murid

Bu-tong-pai memusuhimu semuanya?"

Wan Fei-yang tidak berani menyahut. Dia berdiri dengan kepala tertunduk. Cia Peng mengalihkan pandangannya kepada murid yang lain.

"Sebetulnya apa yang terjadi?" baru dia membuka mulut untuk bertanya.

"Kami sedang berlatih ilmu am-gi (senjata rahasia). Bocah itu tiba-tiba ngambek dan melemparkan papan kayu yang kami pakai sebagai landasan. Dia mengatakan bahwa dia tidak bersedia melakukannya lagi," sahut orang yang mencengkeram leher baju Wan Fei-yang dan menampar pipinya satu kali tadi.

Mata Cia Peng melirik ke arah papan kayu yang tergeletak di atas tanah. Kemudian dia menoleh kepada Wan Fei-yang, "Kau yang melemparkan papan kayu itu?"

"Mereka sengaja menimpukkan senjata rahasia ke arah tubuhku, sama sekali tidak memerlukan papan kayu tersebut!" teriak Wan Fei-yang dengan rasa tidak puas.

"Oleh karena itu, kau melemparkannya ke atas tanah?" tanya Cia Peng galak.

Wan Fei-yang merasa sulit menjelaskan duduknya perkara. Sementara itu Cia Peng sudah melanjutkan perkataannya, "Seandainya mereka benar-benar sudah ahli menggunakan senjata rahasia tersebut dan sasarannya selalu jitu, mereka tentu tidak memerlukan papan kayu itu lagi!"

"Tepat sekali perkataan Ji-suheng!" tukas Yo Hong. "Tutup mulut!" bentak Cia Peng kepada Yo Hong. Dia

mengalihkan pandangannya kembali kepada Wan Fei-yang. "Sebetulnya apa yang kau inginkan? Disuruh begini tidak mau, disuruh begitu tidak mau!"

Wan Fei-yang menggigit bibirnya sendiri, "Tujuanku naik ke atas gunung ini tentu saja untuk mempelajari ilmu aliran Bu- tong-pai," sahutnya.

"Untuk mempelajari suatu ilmu, kita harus mempelajari dasarnya terlebih dahulu. Apa yang kau lakukan sekarang adalah pelajaran pertama untuk menggembleng dirimu menjadi murid Bu-tong-pai yang baik."

Wan Fei-yang tidak berkata apa-apa.

"Semua murid Bu-tong-pai pasti mengalami hal yang sama ketika baru belum lama naik ke gunung Bu-tong-pai ini."

"Mereka hanya digembleng dengan cara yang sama selama beberapa bulan, sedangkan aku sudah melakukannya bertahun-tahun," sahut Wan Fei-yang mendongkol.

"Apa sebabnya tidak sama? Kau harus mengerti, Bu-tong-pai adalah sebuah aliran lurus yang mempunyai nama besar di dunia kangouw. Kami tidak mungkin sembarangan menurunkan ilmu perguruan kami kepada orang yang asal- usulnya tidak jelas!" kata Cia Peng tegas.

Wajah Wan Fei-yang menunjukkan sikap serba salah.

"Anak haram! Apakah kau sudah mendengarkan dengan jelas?" tanya Yo Hong.

Hawa amarah seakan naik ke atas kepala Wan Fei-yang. Dia ingin sekali menerjang ke arah Yo Hong dan berduel dengannya. Namun akhirnya dia berhasil menahan emosi dalam hatinya. Kata-kata hinaan semacam itu bukan satu kali ini saja pernah didengarnya.

"Menurut pendapatku ... " Cia Peng melirik ke arah pemuda itu dan tertawa dingin. "Sebaiknya kau cari tahu dulu siapa ayahmu yang sebenarnya Kalau tidak, sampai tua pun, kau tetap tidak akan mempelajari apa-apa di Bu-tong-pai!"

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Cia Peng menatapnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang jarang.

"Kalau kau memang tidak suka menjadi sasaran hidup, dan kami terus memaksa, berarti kami memang menghinamu. Baiklah, kalau kau tidak mau, tentu tidak apa-apa."

"Tidak ada sasaran hidup, bagaimana caranya melanjutkan latihan kami?" teriak orang yang memukul tambur.

"Siapa bilang tidak ada?" "Dia toh ...!"

"Kau yang menggantikannya!" tukas Cia Peng. Dia melirik ke arah Yo Hong, "Bagaimana kalau kau yang memukul tambur?"

Yo Hong menganggukkan kepalanya. Wajah orang yang memukul tambur tadi berubah kelam. Dia tidak berani membantah. Melihat keadaan orang itu, diam-diam hati Wan Fei-yang melonjak gembira. Hampir saja dia tertawa lebar. Mata Cia Peng beralih kembali kepadanya, "Mengenai engkau

...."

"Aku juga bisa memberikan bantuan, misalnya memunguti senjata rahasia yang berserakan di atas tanah," kata Wan Fei- yang cepat.

Cia Peng tertawa lebar, "Bukankah kau mengatakannya tidak angin melakukannya lagi?"

Tawanya seakan mengandung maksud tertentu. Wan Fei- yang merasa hatinya berdebar-debar. Dia tahu betul arti senyum seperti itu. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali ditukas oleh Cia Peng, "Tukang urus babi yang di bukit sana kebetulan sedang hajatan. Dia harus turun gunung beberapa hari. Tadi aku sempat sakit kepala memikirkan siapa yang harus menggantikannya. Babi-babi itu toh harus diurus," kata Cia Peng sambil pura-pura merenung.

Mendengar perkataan itu setiap orang tertawa terbahak-bahak tanpa sadar Wan Fei-yang termangu-mangu.

"Aku " gumamnya.

"Jangan khawatir .…" kata Cia Peng sambil tertawa lebar. "Aku jamin di sana tidak ada senjata rahasia yang mengincar dirimu."

Seluruh wajah Wan Fei-yang merah padam mendengar sindiran itu. Warna merah bahkan menjalar sampai ke lehernya. Terlihat Cia Peng melambaikan tangannya, "Ikut aku!" katanya. Kakinya seakan enggan melangkah. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berkata, "Aku akan melaporkan hal ini kepada Cik-hoat-tianglo (ketua bagian hukuman)."

Sekarang Cia Peng yang menghentikan langkah kakinya. Alisnya bertaut ketat, "Oh ...?" reaksinya cepat.

Orang yang memukul tambur tadi segera menyiram minyak di atas api yang sudah menyala, "Ji-suheng ... dia sengaja membantah perkataanmu. Biar kita beri pelajaran agar tahu rasa!"

Cia Peng mengibaskan tangannya dengan wajah merah padam.

"Mundur!" bentaknya kemudian seraya menoleh kepada Wan Fei-yang. "Baik! Tapi kau jangan menyesal!"

Perkataan memang sudah diucapkan, untuk menyesal sudah terlambat bagi Wan Fei-yang. Bagaimana sifat Cia Peng, dia tentu tahu dengan jelas. Ji-suheng itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Langkah kakinya mantap maju ke depan.

Kepalanya tidak menoleh sama sekali. Wan Fei-yang merasa serba salah. Orang-orang yang mengerumuninya tadi memberi jalan kepadanya. Mereka bahkan mendorong punggungnya agar mengikuti Cia Peng.

*****

Cik-hoat-tong berada di gedung yang lain. Meskipun tempatnya sendiri tidak begitu besar, namun bawaannya sangat angker. Sepanjang hari tercium bau hio yang dibakar. Yang tidak berkepentingan dilarang keluar masuk tempat tersebut.

Di atas tembok yang berwarna putih pucat tertulis sepuluh peraturan Bu-tong-pai yang harus dituruti oleh semua murid di sana. Hanya memandang tulisan itu saja, para murid Bu-tong- pai sudah merasa kebat-kebit hatinya.

Kedua orang Cik-hoat-tianglo juga sangat berwibawa. Mereka adalah sute dari Ciangbunjin Bu-tong-pai. Usia Gi-song lebih tua, hampir mencapai lima puluh tahun. Kewibawaannya juga berada di atas Cang-song. Tubuhnya tidak terlalu tinggi.

Namun tidak termasuk pendek juga. Apabila batinnya sedang tenang, maka sepasang matanya bagaikan uang logam yang warnanya sudah pudar. Tapi begitu marah, sinarnya akan mengejutkan siapa pun yang memandangnya. Suaranya pun seperti guntur yang menyambar.

Cang-song lebih pendek sedikit daripada Gi-song. Tubuhnya juga lebih kurus. Matanya sipit. Suaranya jauh lebih lemah. Kalau tertawa seperti kuda meringkik, sama sekali tidak menakutkan, malah sering menjadi bahan pembicaraan murid- murid Bu-tong-pai.

Dia sendiri menyadari kekurangannya itu, karena itulah setiap kali ada masalah di ruangan Cik-hoat-tong, dia selalu membiarkan Gi-song yang berbicara. Apabila terpaksa baru dia mengucapkan sepatah dua kata.

Baru saja kakinya menginjak ruang Cik-hoat-tong, Wan Fei- yang merasa rada menyesal. Melihat kemuraman wajah ketua-tianglo, rasanya dia ingin menendang dirinya sendiri. Tapi Cia Peng sudah melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut, terpaksa ia menahan perasaannya mengikuti dari belakang. Para murid Bu-tong-pai yang mengiringi segera berbondong-bondong masuk ke dalam. Namun mereka mendapat teguran seketika.

"Apa yang kalian lakukan?" bentak Gi-song dengan suaranya yang seperti geledek.

Belum sempat satu pun dari mereka menyahut, Cang-song sudah memperdengarkan suara tertawanya yang seperti ringkikan kuda dan berkata, "Tentu saja untuk menyaksikan keramaian."

"Apa yang perlu disaksikan?" bentak Gi-song dengan mata mendelik. "Gelinding keluar semuanya!"

"Hayo! Gelinding keluar!" teriak Cang-song seperti burung beo.

Meskipun dalam hati mereka masing-masing merasa keberatan, namun tidak satu pun yang berani membantah. Dengan kalang kabut mereka keluar dari ruangan tersebut, kemudian memencarkan diri ke kiri dan kanan. Mereka tidak pergi jauh-jauh melainkan bersembunyi di sepanjang koridor panjang tersebut.

Gi-song tidak mempedulikan mereka lagi. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Cia Peng dengan mata bertanya, "Sebetulnya apa yang terjadi?"

Cia Peng mengulurkan tangannya menuding Wan Fei-yang, "Tecu meminta dia memegangi papan kayu agar saudara yang lain dapat berlatih am-gi. Ternyata ada beberapa senjata rahasia yang mengenai tubuhnya," sahutnya. Sinar mata Gi-song-tianglo beralih kepada Wan Fei-yang, "Oh?" bibirnya mengulum sebuah senyuman mengejek. "Kau lagi?"

"Aku ..." Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya tanpa tahu apa yang mau dikatakannya.

"Kau yang bernama Wan Fei-yang, bukan?" mata Gi-song membelalak makin lebar.

Baru saja dia bermaksud menyahut, Gi-song sudah menggebrak meja dengan wajah penuh amarah, "Mengapa kau senang sekali menimbulkan kesulitan bagi kami?" bentaknya.

Wan Fei-yang sampai termangu-mangu mendengar dampratan itu.

"Berlutut!" bentak Gi-song dengan suara semakin keras. Wan Fei-yang terpaksa menurut.

"Kami sudah cukup repot ..." sahut Cang-song.

"Betul sekali ... betul sekali," kata Cia Peng dengan menahan tawa.

Gi-song mengalihkan pandangannya kepada Cia Peng, "Sampai di mana ceritamu tadi?"

"Dia mengatakan bahwa ada beberapa senjata rahasia yang melenceng dari sasarannya dan mengenai tubuh Wan Fei- yang," sahut Cang-song menggantikan Cia Peng.

"Kenyataannya memang demikian," kata Cia Peng melanjutkan.

Wan Fei-yang masih mengenakan pakaiannya yang tebal. Beberapa senjata rahasia masih menancap di pakaiannya. Gi- song meliriknya sekilas.

"Manusia pasti bisa kesalahan tangan. Kuda saja bisa salah menyepak. Seandainya aku menggunakan senjata rahasia, kadang-kadang juga ..."

Cang-song cepat-cepat menjawil lengannya. Kata-kata Gi- song segera berhenti dan terdiam sejenak. Apa yang dikatakannya kemudian bukan kelanjutan dari ucapannya tadi lagi, "Dalam selaksa kali, mungkin akan kesalahan satu kali."

"Ciangbun-suheng sendiri tidak berani menyombongkan diri bahwa beliau tidak pernah melakukan kesalahan," sahut Cang-song.

"Benar sekali!" kata Gi-song sambil menepuk bahu Cang- song. "Kau sudah mendengar sendiri. Kami saja yang sudah tua dan jauh berpengalaman masih bisa melakukan kesalahan, apa lagi anak-anak ingusan macam mereka."

"Lagipula mereka baru menimpuk satu kali," sahut Cia Peng yang tidak mau kehilangan kesempatan bagus itu.

"Kalau demikian, lebih-lebih harus dimaklumi," kata Gi-song sambil memandang Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki. "Tampaknya kau sama sekali tidak terluka oleh senjata rahasia mereka ..."

Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya. Alis Gi- song semakin berkerut.

"Mengapa kau masih datang ke Cik-hoat-tong ini?" tanya Gi- song kembali.

"Dia yakin bahwa kami sengaja mencari perkara dengannya," tukas Cia Peng sebelum Wan Fei-yang sempat menyahut. "Ketika kami berusaha menjelaskannya, dia malah marah dan melemparkan papan kayu yang kami gunakan untuk berlatih."

"Sungguh besar nyalimu!" bentak Gi-song.

"Dia sudah mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan tugasnya, kami tidak berani memaksa. Apabila terdengar oleh Ciangbunjin, tentu kami disangka menghinanya. Sedangkan Lopek yang mengurus babi-babi di bukit sana sedang cuti, kita toh tidak dapat membiarkan babi-babi itu mati tanpa ada yang mengurus. Oleh karena itu, Tecu menyuruh dia yang menggantikan untuk beberapa hari," tukas Cia Peng sekali lagi.

"Bagus sekali saranmu itu!" kata Gi-song setelah mendengar keterangan Cia Peng tadi. Dia mengelus-elus jenggotnya sambil tertawa lebar.

"Tapi dia membantah dan malah mengancam akan datang ke Cik-hoat-tong ini," sahut Cia Peng.

Senyuman di wajah Gi-song sirna seketika. Dia melirik kepada Wan Fei-yang, "Tidak bersedia berlatih ilmu dengan giat " "Melanggar peraturan Bu-tong-pai yang kedua " sahut

Cang-song.

Cik-hoat-tianglo itu menunjuk ke arah tulisan yang tertera di atas tembok, "Melaporkan hal yang tidak benar "

"Melanggar peraturan yang keenam," tampaknya Cang-song sudah hafal luar kepala semua peraturan tersebut.

"Berani menyalahkan orang yang tingkatannya lebih tinggi "

"Melanggar peraturan nomor sembilan."

"Sekaligus melanggar tiga macam peraturan. Sebetulnya kau harus diusir dari Bu-tong-san " Gi-song merandek sejenak.

"Tapi kami mengingat usiamu yang masih terlalu muda sehingga belum terlalu mengerti."

Sejak tadi Wan Fei-yang memang sudah malas membantah. Dia hanya menarik napas panjang, "Tecu sudah tahu salah. Bersedia mengurus peternakan babi," sahutnya.

"Mengerti akan kesalahan sendiri masih bisa diubah. Asalkan ada tekad dalam hati dan tidak boleh mendendam," Gi-song mengibaskan lengan bajunya. "Pergilah!"

Wajah Wan Fei-yang kelam sekali. Dia menganggukkan kepalanya dan mengundurkan diri. Gi-song menoleh kepada Cia Peng, "Lain kali urusan tetek bengek begini jangan libatkan kami!" katanya.

"Baik! Baik!" sahut Cia Peng tergopoh-gopoh. "Urusan kami sendiri banyak sekali," kata Cang-song.

Cia Peng menganggukkan kepalanya berkali-kali. Dalam hatinya dia tertawa senang atas kemenangannya.

"Kembali ke tempatmu!" sekali lagi Gi-song mengibaskan lengan bajunya.

*****

Bagaimana baunya kandang babi, Wan Fei-yang sudah dapat membayangkan. Meskipun selama ini dia belum pernah masuk ke dalam kandang babi tapi entah sudah berapa puluh kali dia melewati tempat ini.

Tampaknya bau kandang babi itu hari ini lebih busuk dari sebelumnya. Beberapa kali dia memijit hidungnya, namun akhirnya dia harus melepas tangannya juga. Biasanya hidung Wan Fei-yang selalu menjadi masalah. Penciumannya kurang tajam. Tapi hari ini justru tajamnya kelewatan. Bahkan pendengarannya juga menjadi peka. Beberapa ekor babi itu seperti sengaja memberi kesulitan kepadanya. Atau memang menyambutnya dengan gembira. Wan Fei-yang tidak tahu.

Pokoknya babi-babi itu berteriak terus-menerus.

Bau yang begitu tajam dan suara yang memekakkan telinga membuat Wan Fei-yang hampir tidak dapat menahan diri.

Kalau ditilik dari wajahnya, siapa pun akan mengira dia akan jatuh pingsan sejenak lagi. Tapi rupanya dugaan itu tidak menjadi kenyataan. Hal ini malah membingungkan dirinya sendiri. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menggebah babi-babi tersebut masuk ke dalam sungai agar tubuh mereka lebih bersih.

Sebetulnya air sungai itu jernih dan bening. Namun begitu babi-babi tersebut masuk ke dalam, air yang jernih tadi berubah kotor seketika.

Air sungai yang mengalir membawa kesejukan dalam hati. Angin semilir membawa keharuman dedaunan yang lembab. Babi-babi itu tidak mengeluarkan suara yang memekakkan telinga lagi. Baunya juga tidak menusuk seperti sebelumnya. Semangat Wan Fei-yang menjadi terbangkit.

Dia menggeliatkan pinggangnya yang pegal. Dia membantu babi-babi itu membersihkan dirinya. Pada saat itulah dia melihat seseorang ... Seseorang yang paling suka dilihatnya.

Orang itu berada di seberang sungai di mana terdapat sebuah padang rumput yang luas. Dia mengenakan pakaian berwarna cokelat muda. Sulamannya berwarna hijau muda. Paduan yang sangat serasi. Dari jauh seperti sekuntum bunga krisan kuning yang sedang mekar. Ketika tubuhnya bergerak, dia seakan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sedang terbang.

Wan Fei-yang yang sedang duduk di tepi sungai membantu babi-babi tersebut mandi segera bangun. Wajahnya yang kelam berubah berseri-seri. Namun sebentar kemudian dia menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.

"Hush! Hayo ke sana! Hayo ke sana!" dihalaunya babi-babi tersebut agar menyeberangi sungai.

Dia tidak membentak-bentak bahkan suaranya terdengar lemah lembut. Seakan babi-babi itu tiba-tiba sangat menyenangkan baginya. Seandainya tidak ada babi-babi tersebut, tentu dia tidak menemukan alasan untuk menyeberangi sungai dan melihatnya dari dekat.

*****

Di bukit yang menghijau itu hanya ada Lun Wan-ji seorang.

Dia merupakan murid perempuan satu-satunya dari Bu-tong- pai. Juga merupakan kesayangan semua orang. Bukan hanya karena dia seorang gadis. Dia lincah dan cantik. Hatinya juga welas asih. Semua ini membuat dirinya disenangi setiap murid Bu-tong-pai yang lain.

Dalam hati Wan Fei-yang sendiri, dia merupakan orang satu- satunya yang baik hati di perguruan ini. Juga hanya gadis itu yang tidak pernah menghina ataupun memberi kesulitan kepadanya. Bahkan dia sering mengulurkan tangan membantunya ataupun membelanya di hadapan saudara seperguruan yang lain.

Usianya masih sangat muda. Mungkin belum mencapai tujuh belas tahun. Tapi ilmu silatnya sudah lumayan sebagai generasi muda Bu-tong-pai. Andai ia bertanding dengan Pek Ciok, Cia Peng, Ceng Fang-guan, Kim Can-peng, Yo Hong yang semuanya merupakan suhengnya, dia masih sanggup menandingi. Hal ini terjadi karena dia mempunyai guru yang pandai dan sabar. Sejak kecil dia sudah mulai belajar ilmu silat. Kemauannya pun sangat keras.

Wan-ji selalu giat berlatih. Tanpa mempedulikan hujan maupun angin. Apabila udara sedang cerah, kebanyakan dia berlatih di luar rumah. Seperti halnya hari ini. *****

Gerakan tubuhnya lincah. Kiam-hoat yang dimainkannya sudah cukup matang. Jurus-jurusnya mengandung keindahan. Pokoknya setiap gerakan gadis itu dapat memukau siapa pun yang melihatnya. Dia tidak seperti sedang berlatih ilmu pedang, tapi terlihat seperti sedang menarikan tarian pedang.

Angin bertiup lembut. Anak rambut di keningnya melambai- lambai. Lengan bajunya yang lebar berterbangan persis seperti sayap seekor kupu-kupu. Wan Fei-yang memandangnya sampai termangu-mangu. Tanpa disadarinya tubuh Lun Wan-ji berkelebat dan hanya dalam waktu lima detik, gadis itu sudah berada di belakangnya. Dengan bentakan lirih, pedangnya menusuk.

Wan Fei-yang terkejut sekali. Belum sempat dia berteriak, pedang itu berhenti tepat tiga cun di hadapannya. Serangkum hawa dingin seakan menyelinap di dalam hatinya. Tubuhnya gemetar, "Harap kasihani aku!" serunya.

Pedang Wan-ji masih menuding dada Wan Fei-yang, "Mengapa kau mengendap-endap seperti pencuri? Apa yang kau lakukan?"

Seperti biasa, dalam keadaan gugup Wan Fei-yang selalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Aku sedang melihat kau berlatih pedang," sahutnya.

Pedang di tangan Wan-ji digetarkan.

"Tahukah kau apa hukumannya mencuri belajar ilmu orang lain?" tanyanya.

"Aku tidak mencuri belajar ilmumu. Karena kau sedang memusatkan perhatian dengan serius, maka aku tidak berani mengganggu," sahut Wan Fei-yang.

"Masih tidak mau mengaku? Hayo ikut aku temui Cik-hoat- tianglo, biar mereka yang menanyakan persoalan ini," kata Wan-ji.

Wan Fei-yang menjadi panik seketika. Dia menggoyang- goyangkan tangannya berulang kali, "Keadaanku sudah cukup mengenaskan, andai kata Wan-ji kouwnio mengatakan masalah ini kepada mereka ..."

"Bagaimana mengenaskannya keadaanmu sekarang?" tanya Wan-ji.

Wan Fei-yang tertegun. Dia sulit mengatakan masalahnya, "Aku ... aku tidak apa-apa," sahutnya gugup.

Mata Wan-ji melirik ke arah babi-babi tersebut.

"Ada apa dengan babi-babi itu? Mengapa mereka kau halau ke tempat ini?"

"Aku memang sengaja," sahut Wan Fei-yang.

"Mengapa kau yang mengurus babi-babi itu sekarang? Ke mana lopek yang menangani tugas tersebut?"

"Lopek yang biasa mengurus babi-babi itu sedang ada urusan. Dia pergi ke kota beberapa hari. Dia menanyakan siapa yang bersedia menggantikannya. Siapa lagi kalau bukan aku?" sahut Wan Fei-yang.

Pemuda itu tidak biasa berdusta. Hanya berbohong beberapa patah kata saja, seluruh keningnya sudah basah oleh keringat.

Wan-ji tersenyum simpul, "Aku tidak menyangka persahabatan kalian begitu dalam," katanya.

"Lumayanlah," sahut Wan Fei-yang.

"Tampaknya kau ini pandai juga bergaul," kata Wan-ji. Tanpa sadar Wan Fei-yang membusungkan dadanya.

"Apakah tujuanmu datang ke Cik-hoat-tong tadi untuk merundingkan masalah ini dengan Gi-song dan Cang-song kedua tianglo tersebut?" tanya Wan-ji menyembunyikan senyumannya.

Mendengar pertanyaan itu, wajah Wan Fei-yang merah padam. Seandainya ada sebuah lubang di dekat sana, ingin rasanya dia menyusupkan kepala dalam-dalam. Wan-ji menatapnya dengan tajam. Wajahnya serius sekali, "Mulai kapan kau belajar berbohong?" tanyanya.

Wan Fei-yang tertawa tegir. Bola matanya mengerling gadis itu sekilas, "Aku ... lebih baik aku kembali saja ke sana ..." sahutnya gugup.

Baru saja dia berjalan beberapa langkah, Wan-ji sudah memanggilnya kembali, "Hai! Kau belum menjawab pertanyaanku!" "Aku ... aku " Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya

sekali lagi. Untuk sesaat dia tidak tahu harus mengatakan apa.

Wan Fei-yang menarik napas panjang, "Sekarang kau mengerti, apabila dustamu ketahuan, kau bisa malu sendiri. Maka lain kali jangan berbohong lagi," katanya.

Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana sikapmu selama ini?" Wan-ji menggeleng- gelengkan kepalanya. "Apabila kau berani sedikit, mereka tentu tidak berani menghinamu, benar tidak?"

Wan Fei-yang memaksakan sebuah senyuman.

"Sebetulnya tidak apa-apa. Ingatkah kau seorang yang bernama Han Sing yang terkenal jaman dahulu? Dia dihina oleh semua orang, namun akhirnya dia berhasil menjadi goan- swe (jenderal)."

"Kau selalu begitu," kata Wan-ji kembali menggelengkan kepalanya.

Wan Fei-yang tidak membusungkan dadanya lagi. Namun dia masih juga menggaruk-garuk rambut kepalanya, "Lebih baik aku pergi saja."

Wan-ji merasa kesal juga geli. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, lonceng di gedung pusat berbunyi sembilan kali.

Wan Fei-yang terpana. "Tanda bahaya!"

Mata Wan Fei-yang mengerling panik, "Entah apa yang terjadi?" gumamnya seorang diri.

"Ada orang menerjang Bu-tong-san!" kata Wan-ji. Tubuhnya membalik secepat kilat dan berlari menuruni bukit.

"Wan-ji kouwnio!" panggil Wan Fei-yang gugup. Wan-ji menolehkan kepalanya.

"Cepat halau babi-babi itu kembali ke kandang!" katanya tanpa menghentikan langkah. Tiga kali kakinya menutul dia sudah hampir sampai di bawah gunung. Gerakannya bagai seekor burung layang-layang.

*****

Angin musim semi nan lembut. Matahari pun bersinar setengah hati. Air sungai membasahi atas batu sudah mengering. Dedaunan masih menampakkan butiran embun yang bening.

Di bawah sinar mentari, patung yang menjadi tanda bagi Bu- tong-pai bagaikan manusia yang berdiri tegak dan angker. Di depan patung tersebut, tampak seseorang berdiri mematung. Usianya sekitar tiga puluh tahunan. Alisnya tebal, matanya sipit. Hidungnya pesek, bibirnya tebal. Raut wajahnya jelek sekali. Orang yang melihatnya akan berkesan seperti melihat seekor binatang buas.

***** Bentuk tubuhnya gemuk pendek, tapi bukan gemuk yang mengesankan kepandiran. Dia memakai mantel panjang. Tidak rapi sekali. Rambutnya pun rada acak-acakan. Sulit melukiskan kepribadian orang tersebut.

Serombongan murid Bu-tong-pai mengadang di depan orang ini. Empat orang tosu digotong beberapa rekannya yang lain. Di bahu mereka masing-masing terdapat segurat luka bekas sayatan pedang. Wajah murid-murid Bu-tong-pai menyorotkan kemarahan yang dalam. Sinar mata orang yang memakai mantel itu justru tampak meremehkan. Pakaiannya mewah sekali. Sungguh tidak sesuai dengan penampilannya. Gagang pedang di tangannya ditaburi dengan tujuh macam permata. Nilainya tentu tinggi sekali.

Seorang tosu berusia setengah baya menyibak kerumunan murid-murid Bu-tong. Pedang di tangannya digetarkan, "Giok Ciok dari Bu-tong minta pelajaran," katanya.

Sinar mata orang yang memakai mantel panjang itu melirik ke arahnya, "Generasi Bu-tong-pai dengan nama Ciok mungkin tidak akan membuat aku terlalu kecewa," sahutnya.

Giok Ciok tertawa dingin. Secepat kilat pedangnya ditusukkan. Terdengar suara "trang", pergelangan tangan orang yang memakai mantel panjang berputar. Dua jurus dimainkannya sekaligus. Baru setengah jalan, gerakannya berubah lagi. Dua jurus menjadi delapan jurus. Giok Ciok yang tidak menyangka akan diserang delapan jurus sekaligus, terpaksa mundur satu langkah.

Orang yang memakai mantel panjang itu tampaknya tidak ingin membuang-buang waktu. Sekali lagi dia membentak nyaring. Tiga puluh enam tusukan dilancarkannya berturut- turut. Giok Ciok terdesak mundur beberapa langkah. Kaki kanan dan kiri orang itu melangkah bersilangan. Tiba-tiba dia memutar dan gerakannya tubuhnya membalik seratus delapan puluh derajat. Langkah kakinya tidak kalah lincah dengan sabetan pedangnya.

Tiga puluh enam tusukan berhasil dilalui, tanpa menunda lebih lama tusukan ketiga puluh tujuh menyusul. Giok Ciok segera menangkisnya. Namun tusukan ketiga puluh delapan sudah di depan mata. Tidak sempat lagi dia memutar pedangnya, Giok Ciok terpaksa mencelat mundur beberapa langkah.

Kelebatan pedang dengan jurus yang berlainan menyerang silih berganti. Giok Ciok sendiri sudah mengeluarkan tujuh jurus andalannya. Meskipun dia berhasil meloloskan diri, namun serangan berikutnya membuat dia mati kutu. Ujung pedang yang tajam berhenti di pergelangan tangannya.

"Buang pedangmu!" bentak orang yang memakai mantel panjang.

Dia menggetarkan pergelangan tangan Giok Ciok. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, Giok Ciok terpaksa melemparkan pedangnya apabila pergelangan tangannya masih ingin utuh seperti sedia kala. "Trang!"

Orang yang memakai mantel itu tidak mendesaknya lebih lanjut. Dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

"Rupanya hanya begitu saja!" katanya angkuh. Giok Ciok marah dan malu. Para murid Bu-tong-pai yang lain sudah menghunus senjatanya masing-masing sejak tadi.

Mereka tidak dapat menahan kesabaran lagi. Serentak mereka maju menghampiri orang yang memakai mantel panjang itu.

"Tahan!" terdengar suara bentakan keras. Dua orang berlari secepat terbang dari atas gunung.

Yang satunya adalah Cia Peng, sedangkan yang mengiringinya adalah seorang tosu berusia setengah baya. Wajahnya berbentuk persegi, penampilannya berwibawa. Dia adalah murid pertama Ciangbunjin Bu-tong-pai yang sekarang yaitu Ci Siong tojin. Tosu itu sendiri bernama Pek Ciok.

Mata orang yang memakai mantel itu menatapnya tajam. "Kau adalah "

"Bu tong Pek Ciok."

"Murid pertama dari Ci Siong?" tanya orang itu. "Sicu (saudara) "

"Kongsun Hong!" sahut orang yang memakai mantel.

Tampaknya Pek Ciok merasa di luar dugaan. Wajahnya rada berubah mendengar keterangan orang itu.

"Pek Ho Tong tongcu dari Bu-ti-bun?" tanya Pek Ciok. "Betul!" Kongsun Hong tersenyum simpul. Sikapnya seakan bangga sekali.

Bu-ti-bun menggetarkan dunia kangouw. Ketenarannya hampir menyamai sembilan partai besar. Sedangkan Kongsun Hong adalah murid tertua dari Buncu (ketua) dari Bu-ti-bun yang mempunyai gelar Tok-ku Bu-ti (sendiri tanpa lawan).

Tentu saja dia patut menyombongkan dirinya.

"Kedatangan sicu sejauh berapa ribu li ini ..." tanya Pek Ciok selanjutnya.

"Mendapat perintah dari Suhu. Aku harus menyerahkan dua macam hadiah kepada Ci Siong dari Bu-tong-pai," kata Kongsun Hong. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari balik pakaiannya. Di atasnya terdapat sehelai amplop merah yang besar.

Dia menyebut Ciangbunjin Bu-tong-pai dengan gelarnya langsung. Hal ini membuat para murid Bu-tong-pai menjadi marah.

"Kurang ajar!" teriak Cia Peng tidak dapat menahan emosinya.

Pek Ciok membalikkan tubuhnya ke arah para murid Bu-tong- pai yang lain.

"Tamu datang untuk mengantarkan hadiah bagi Ciangbunjin. Mengapa kalian begitu tidak tahu sopan santun," Apa maksud perkataannya itu, tidak ada orang yang tahu. Mungkin dia menyindir Kongsun Hong.

Giok Ciok yang masih mendongkol cepat-cepat maju ke depan.

"Suheng tidak mengerti. Sicu ini berkeras membawa pedang ke atas gunung. Bagaimana mungkin kami tidak menghalanginya?" katanya menjelaskan.

"Oh?" Pek Ciok rada terpana mendengar keterangan tersebut. Dia menoleh kembali kepada Kongsun Hong. "Kalau memang benar, sicu yang bersalah dalam hal ini."

Kongsun Hong melirik ke arah patung yang berdiri tegak. Di sana memang terdapat tulisan yang mengatakan bahwa siapa pun yang bermaksud mengunjungi Bu-tong-pai harus meninggalkan pedangnya di sana.

"Tidak boleh membawa pedang ke atas gunung adalah peraturan Bu-tong-pai bukan?" kata Kongsun Hong.

"Sejak Cosu mendirikan Bu-tong-pai, peraturan itu memang sudah ada," sahut Pek Ciok tegas.

Kongsun Hong menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba dia tersenyum, "Sayangnya peraturan itu ditentukan oleh Bu-tong- pai sendiri."

"Apabila kita masuk ke daerah orang lain, kita harus mengikuti peraturannya," kata Pek Ciok kembali.

"Sejak usia tujuh tahun aku sudah belajar ilmu pedang. Pada waktu usia dua belas tahun aku sudah bisa membunuh orang dengan ilmu tersebut. Selama tujuh belas tahun malang melintang, aku selalu menggunakan pedang ini," kata Kongsun Hong sambil mendekapkan pedangnya di dada. "Pinto juga dapat merasakan bahwa pedang yang digunakan sicu adalah pedang yang sangat bagus," sahut Pek Ciok.

Kongsun Hong tertawa dingin.

"Selama berpuluh tahun ini, kecuali Suhu, siapa pun tidak bisa menyuruh aku melepaskan pedang ini. Kedatanganku kali ini ke Bu-tong adalah sebagai utusan Bu-ti-bun yang tiada tandingannya di dunia ini. Oleh karena itu, benda apa pun yang kubawa juga merupakan wakil dari Bu-ti-bun dan tidak boleh dilanggar."